Thursday, January 24, 2019

Membangun Sistem Pertahanan untuk Negara Kepulauan


Gambar dari Wikipedia di atas melukiskan rencana operasi militer Sekutu terbesar dalam Perang Dunia II, yang dijadwalkan pada November-1945: Operation Downfall, untuk menaklukan kepulauan Jepang. 

Kenapa sekutu tidak pernah perlu menyerang kepulauan Jepang?

Kenapa Jepang bisa menyerah pada tanggal 14-Agustus-1945?

Apakah karena semata bom nuklir sudah dijatuhkan di Hiroshima, dan Nagasaki, sedangkan Uni Soviet baru saja membuka front baru di Manchuria?

Sudah saatnya kita membuka kembali lembaran sejarah, dan melihat bagaimana pengalaman Jepang ini sudah seharusnya menjadi dasar pembangunan sistem pertahanan di Indonesia.




Hiroshima, dan Nagasaki, ataupun serangan Uni Soviet ke Manchuria BUKAN alasan utama kenapa Jepang menyerah

Operation Ten GO
Sebenarnya menggarisbawahi kelemahan Jepang di tahun 1945:

Kenapa mereka mengirim kapal tempur Yamato (bobot kosong 68,000 ton) dalam misi bunuh diri ke Okinawa?

Ini sebenarnya teori umum seperti dibahas dalam Wikipedia sebagai referensi dasar, bahwa Jepang menyerah dikarenakan oleh kombinasi antara Serangan bom nuklir di Hiroshima, dan Nagasaki, DAN karena Uni Soviet menyatakan perang terhadap Jepang, dan mulai menyerbu masuk ke Manchuria.

Sebenarnya ada faktor lain yang sering dilupakan kenapa Jepang mau tidak mau akan harus menyatakan menyerah kalah, bahkan tanpa terjadinya serangan bom nuklir, ataupun serangan Uni Soviet di Manchuria, yang membuatnya semakin terjepit.
From Wikipedia

Antara tahun 1941 sampai dengan 1945, sebenarnya serangan kapal selam US Navy sebenarnya sudah melumpuhkan armada kapal barang Jepang. Dari Net tonanse 6,4 juta ton di tahun 1941, armada dagang Jepang sudah menyusut ke hanya 1,5 juta ton di tahun 1945, dan dengan sudah ditaklukannya kepulauan Mariana, dan mulai direbutnya Filipina mulai pertengahan tahun 1944, tidak ada lagi kapal Jepang yang bisa mengantarkan minyak.... dari Indonesia.

But for a nail, the war is lost: Supply Chain untuk mendukung kemampuan perang Jepang sebenarnya sangat rentan.

Kepulauan Jepang sebenarnya membutuhkan terlalu banyak import bahan baku dari luar, bahkan untuk bahan pangan. Semasa perang, mereka membutuhkan supply chain dari wilayah jajahan mereka; seperti bahan pangan dari Formosa, dan minyak dari Indonesia. Kapal-kapal selam US Navy sudah memutuskan garis supply chain di tahun 1945. Hampir tidak ada kapal barang Jepang yang masih bisa belayar di laut lepas tanpa pernah diserang. Tidak ada kapal yang mengantar bahan, kemampuan tempur Jepang tentu saja semakin berkurang.

Pada awal tahun 1945, Jepang sudah mengalami kesulitan untuk bisa mengisi bahan bakar untuk kapal-kapal perang, ataupun pesawat tempur mereka. Dalam Operation Ten Go, sebenarnya Yamato hanya diisi cukup bahan bakarnya untuk sekali jalan ke Okinawa. Misi bunuh diri, hanya k arena kehabisan bensin. Tidak ada lagi bahan bakar untuk bisa berlayar balik kembali ke Jepang. 

Jumlah tonnase material yang masih tersedia untuk membuat senjata, kapal, atau pesawat saja juga sudah menyusut. Lebih parah lagi, Jepang juga bukan negara yang berswasembada pangan, ration atau penjatahan makanan untuk rakyat Jepang sudah semakin menyusut sejak tahun 1944

Semasa awal kejayaaan Jepang antara Desember-1941 sampai dengan Mei-1942, ternyata mereka tidak pernah bisa menimbun cukup banyak bahan baku, pangan, dan minyak untuk terus memberlangsungkan perang setelah serangan counter-attack sekutu dimulai.

Supply Chain: Inilah kelemahan utama Jepang semasa perang Pasifik. Tanpa perlu dijatuhnya bom nuklir di Hiroshima, dan Nagasaki, ataupun keterlibatan Soviet di Manchuria, secara tehnis Sekutu sebenarnya dapat lebih mengisolasi Jepang, yang sudah kelaparan, mempuyai cukup bahan bakar, dan tidak lagi bisa membuat senjata, lebih lanjut untuk memaksanya menyerah.

Negara Kepulauan Indonesia sebenarnya berbagi kelemahan yang sama dalam hal Supply Chain



Pelajaran 1: Indonesia perlu belajar mengamankan Supply Chain Strategis 



(Google Map)

Apakah kita akan mengulangi kesalahan yang sama dengan Jepang?
Sama seperti Jepang, Indonesia adalah negara kepulauan,
yang juga berbagi kerentanan yang sama.

Pangkalan Udara Soewondo, Medan, tahun 202x.

"Ayo!" Jendral Mau-Berjuang memerintah. "Musuh mengirim 4 pesawat! Ayo kita mengudarakan Sukhoi!"

"Maaf, pak!" Kolonel ApaBolehBuat menjawab. "Empat Sukhoi ini tidak ada yang bisa terbang."

"Loh, kok nggak bisa terbang?"

"Kebanyakan perlengkapan maintenance berat disimpan di Makassar, kita tidak bawa kemari, dan....."

"Apa lagi?"

"Dua unit saja butuh service berat; kita masih butuh bantuan tehnisi dari Rosoboronexport."

"Ya, sudah kirim F-16 saja! Tuh, mereka di parkir disono! Pasti bisa terbang kan?"

"Bisa sih, akan tetapi....."

"Kenapa lagi?"

"Kita hanya mempunyai 10 AMRAAM, dan 8 AIM-9X. Nggak cukup untuk semua F-16 kita."

"Ya, sudah! Persenjatai aja beberapa pesawat terus terbangkan yang itu!"

"Stock missile yang di Pekanbaru itu sudah habis, pak! Missile yang masih ada semuanya hanya di-stock di Madiun."

"Loh? Jadi F-16 Sku-16 nggak bisa terbang bersenjata?"

"Yah, kita perlu kirim F-16 bersenjata lengkap dari Madiun!"

Demikianlah skenario pendek yang mungkin bisa terjadi berdasarkan situasi kondisi yang sudah dibangun sejak berakhirnya Embargo Militer Amerika Serikat di tahun 2005.

Kenapa bisa begini?

Ini semua kembali ke ide Diversifikasi Supplier, yang membawa kita ke beberapa kelemahan fundamental yang belum ada sebelum tahun 1999:

Kelemahan Pertama, dewasa ini kita jadi mengoperasikan alutsista yang tidak pernah dirancang untuk bisa beroperasi bersama secara kesatuan. Ini ibaratnya seperti memaksa seluruh negara Indonesia ini untuk harus bisa berjalan, tanpa adanya bahasa Indonesia, dan Pancasila sebagai pemersatu yang diakui bersama. 

Perbandingan kemampuan antara F-16, dan Sukhoi, misalnya, juga menjadi tidak relevan, karena tercipta keharusan untuk mengakusisi keduanya dalam nama diversifikasi.

Perbandingan kualitas menjadi tidak dianggap relevan.

Pengetahuan Umum:
Kewajiban membeli berdasarkan Diversifikasi, akan memaksa Indonesia untuk membeli
RVV-AE, atau versi export dari.....

R-77 yang tidak pernah selesai dibuat

.... padahal AMRAAM C-7 akan jauh lebih modern dalam segala hal dibandingkan RVV-AE, dan kemampuan kill-nya juga akan jauh lebih terjamin dalam konflik.

Akibatnya berbuntut kepada kelemahan kedua....

Kelamahan Kedua, untuk anggaran yang terbatas, negara kita harus memilah anggaran itu separuh untuk alutsista Barat, dan separuh untuk alutsista Timur. Tentu saja, seperti hukum alam di pasar, kalau membeli lebih banyak harga satuan menjadi lebih murah:

Spare part untuk Su-27SK, SKM, Su-30MK, dan MK2 saja sudah cukup banyak yang unik untuk masing-masing subtype. Sementara jumlah jenis yang diperlukan menjadi lebih banyak, kemampuan daya beli untuk men-stock jumlah yang dibutuhkan juga menjadi berkurang karena harga satuannya lebih mahal.
Kenapa Indonesia justru harus mengurangi jumlah tipe pesawat tempur yang operasional?
Mengoperasikan terlalu banyak tipe,
justru menciptakan liabilitas finansial yang jauh lebih besar,
dan malah akan mengurangi jumlah jam latihan, atau....
Kebutuhan untuk membeli Persenjataan Modern

Tentu saja anggaran juga harus menyediakan provisi untuk pesawat yang "lebih bandel" dan bisa lebih sering terbang seperti BAe Hawk-209, F-16A/B, dan F-16C/D.... ini lima tipe / sub-type Barat yang juga tidak berbagi terlalu banyak jenis spare part yang sama. 

Daya beli part yang sudah lemah, menjadi semakin melemah lagi dengan semakin banyak jumlah tipe yang dioperasikan, apalagi dari tipe yang tidak kompatible seperti Sukhoi vs semua pesawat tempur Barat yang lain.

Kelemahan Ketiga, kalau sebelum tahun 2003, Indonesia hanya perlu berurusan dengan General-Dynamics, dan BAe Systems, beserta kesemua sub-contractor mereka untuk merawat F-16, dan BAe Hawk-209, sekarang malah menambah ketergantungan ke biro agen sales Rosoboronexport, dan membuka segudang subcontractor lain.



Dengan sudah membeli Sukhoi di tahun 2003, sebenarnya malah membuat kita lebih rentan 50% lagi dibandingkan sebelumnya, dan membuat kita menghamburkan terlalu banyak anggaran yang justru mencapai hasil sebaliknya dalam hal Supply Chain. Ini berkaitan dengan masalah berikutnya...

Kelemahan Keempat. Ide Diversifikasi Supplier itu malah menciptakan KEHARUSAN untuk memperbanyak jumlah supplier dari sumber yang disengaja berbeda, dan dengan demikian semakin sulit kemampuan menawar untuk membangun industri lokal. Di lain pihak, malah semakin besar kemampuan supplier luar untuk menawar agar tidak perlu men-transfer know-how ke industri pertahanan Indonesia, atau personil maintenance TNI.

"Bukankah anda membutuhkan barang buatan kami untuk mengimbangi supplier Barat? Yah, kalau barang kami tidak perlu Transfer-of-Technology, yah? Tidak bisa. Negara lain toh juga tidak ada yang menerima kok."

"Nah! Itu kan tergantung anda! Butuh barang alutsista buatan kami tidak, untuk mengimbangi jumlah alutsista buatan Timur yang sudah anda beli?"

Dengan demikian sampailah kepada kesimpulan pertama:

Diversifikasi Supplier Militer justru akan membuat Indonesia JAUH LEBIH RENTAN secara strategis geografis

Bukanlah ketakutan akan embargo yang harus menjadi prioritas utama akusisi alutsista, akan tetapi bagaimana caranya membangun kemandirian terlepas dari ketergantungan akan supplier luar, dan kerentanan supply chain dalam hal spare part dan support. Sebaliknya dari semakin lebih mandiri, Indonesia malah menciptakan ketergantungan ke kontraktor asing.


Pesawat tempur SIMBOLIS yang manja perawatan semacam ini,
tidak hanya JAUH LEBIH RENTAN ke gangguan supply chain,
tetapi juga akan menyita terlalu banyak perhatian dibanding berjuang dalam konflik


Tanpa perlu embargo-pun juga sudah akan sulit bisa terbang


Pelajaran 2: Tidak akan ada aggressor yang mau menyerang salah satu lima pulau besar di Indonesia 



Kembali ke peta di Perang Pasifik tahun 1941 - 1945; bukan tanpa alasan kalau sebenarnya negara-negara Sekutu, terutama Amerika Serikat sengaja melompati hampir seluruh Indonesia, tetapi berkonsentrasi untuk menyerang poros tengah di Pasifik, dengan bertujuan ke Filipina, dan Kepulauan Mariana.


Kampanya Sekutu ini tidak hanya mereka memby-pass Indonesia, tetapi juga dua pangkalan besar Jepang di Truk, dan di Rabaul. Ratusan ribu tentara Jepang terdampar di kedua pangkalan ini tanpa pernah bertemu dengan tentara Serikat. Kelaparan, dan malah menyulitkan supply chain Jepang untuk menghidupi mereka. 

Tujuan militer Sekutu adalah memutuskan garis supply chain Jepang, dan mengisolasi mereka. Kapal-kapal selam US Navy kemudian mencekik supply chain yang sudah terpotong ini lebih lanjut agar tidak ada lagi kapal yang bisa berlayar ke arah Jepang.

Secara tehnis, seperti disebut sebelumnya, kepulauan Jepang yang tidak bisa mendapat bahan baku apapun, atau minyak untuk bisa melanjutkan perang, mau tidak mau akan harus menyerah, dengan atau tanpa adanya serangan bom nuklir. 

Inilah kenapa Operation Downfall sebenarnya tidak pernah diperlukan di tahun 1945. Dalam konteks negara kepulauan Indonesia, sama seperti dilemma Jepang pada pengunjung perang di tahun 1945:

Sama seperti Jepang, Negara Kepulauan Indonesia adalah kekuatannya sendiri. Tidak akan ada lagi tentara asing yang mau mendarat di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, atau Papua Barat. 
  • Jumlah korban jiwa yang akan ditimbulkan akan terlalu besar, 
  • Biaya operasi akan terlalu mahal, dan 
  • Berpotensi menimbulkan konflik Attritional Warfare, atau terjebak dalam ribuan pertempuran skala kecil yang tidak bisa berhenti, seperti sekarang terus terjadi di Syria, dan di Afganistan.
Realita konflik modern adalah... tidak akan ada lagi perang yang bersifat total war, atau perang habis-habisan seperti Perang Dunia Kedua, atau sebenarnya perang Imperialisme terakhir. Masa ini sudah berakhir, dan penduduk seluruh dunia dewasa ini sudah semakin enggan untuk berperang terus-menerus seperti sebelum tahun 1945.

Negara manapun yang mau bersengketa dengan Indonesia tidak akan mau untuk mengambil resiko, misalnya, untuk menduduki pulau Jawa, hanya karena ibukota Jakarta berada disana. Sebaliknya, pihak lawan akan lebih mudah melakukan operasi untuk mengisolasi pulau Jawa dalam konlfik, dalam artian memutuskan hubungan Jawa baik dari laut, maupun dari udara.

Kalau pulau Jawa sudah terisolasi, bukankah dengan demikian, pihak lawan akan bisa menuntut perjanjian damai dengan Indonesia menurut persyaratan mereka?



Penutup: Sudah saatnya bergeser dari ide diversifikasi supplier, dan mulai mendahulukan Kebutuhan / Kepentingan Indonesia 

First flight Gripen-E 39-9, 26-November-2018
atau test model kedua dalam program Gripen-E
(Gambar: Saab)


Satu-satunya jenis pesawat tempur yang memenuhi kebutuhan pertahanan Nasional Indonesia

Diversifikasi supplier militer bukanlah kebutuhan Nasional, melainkan hanya membuka terlalu banyak lapangan pekerjaan baru untuk para agen sales alutsista, yang hanya akan membantu menggerogoti anggaran pertahanan yang memang... tidak bisa diketok terlalu tinggi relatif dengan ukuran Ekonomi, dan kondisi situasi geografis politik Asia Tenggara yang relatif aman tenteram.

Tidak. 

Tidak seperti mimpi buruk yang dijual para agen sales Alutsista ini, yang sebenarnya hanya berjuang untuk kepentingan produk mereka sendiri saja, sampai kapanpun sebenarnya baik Amerika Serikat, ataupun Australia (dua "musuh" alutsista buatan Timur), tidak akan pernah tertarik untuk memulai konflik dengan Indonesia.

Peristiwa pembubaran PKI di tahun 1966, sudah mendudukan kita sepenuhnya berada di kubu Barat, sama seperti negara-negara tetangga ASEAN terdekat; Singapore, Malaysia, Filipina, Thailand, dan di sebelah selatan kita, Australia.

Sudah saatnya Indonesia mendahulukan pembangunan Sistem Pertahanan yang sesuai dengan realita geografis strategis negara kepulauan:
  • Kemandirian Operasional secara lokal harus menjadi prioritas utama. Satu pulau yang sedang diblokade tidak boleh mengurangi kemampuan operasional setiap alutsista dari luar, ataupun didalam pulau itu sendiri.
  • Tranfer of Technology, dan tawaran kerjasama industrial adalah prioritas yang tidak kalah penting untuk membangun kemandirian nasional
  • Setiap Alusista juga harus mempunyai mobilitas yang tinggi untuk dapat dipindah-pindahkan cepat antar pulau.
  • Pembangunan infrastruktur, seperti cadangan minyak, atau stock persenjataan dalam setiap pulau untuk menjamin kemandirian operasional dalam masa konflik
  • Setiap alutsista juga harus dapat beroperasi bersama bahu-membahu dalam konflik seoptimal mungkin, terlepas dari jenis / pembuatnya 
  • Tidak kalah pentingnya, perlunya menjalin hubungan kerjasama militer-strategis dengan negara-negara tetangga yang semakin erat.

Point terakhir???  Apa hubungannya kemandirian dengan negara-negara tetangga?

Kedaulatan Indonesia sebenarnya juga tergantung kepada pengakuan atas kedaulatan negara lain, sebagai warga negara dunia yang turut bertanggung jawab.

Jepang kalah perang di tahun 1945 karena menjadi terisolasi. Tidak hanya kesulitan supply chain, tetapi sebagai "negara musuh dunia", tidak ada lagi teman yang juga mau, atau bisa membantu. Dalam membangun kemandirian, Indonesia juga tidak bisa berpikir tidak akan memerlukan negara lain. Justru sebaliknya, Indonesia membutuhkan ASEAN, Australia, dan secara tidak langsung juga, Amerika Serikat untuk turut menjaga perdamaian di seluruh Asia Tenggara.

Semua yang ditulis ini membutuhkan perubahan konsep pikir, dan tidak akan bisa terwujudkan sehari semalam. 

33 comments:

  1. Min, apakah lama kelamaan Rusia akan merasa terancam oleh China yang semakin lama semakin kuat kekuatan militernya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. PRC vs Russia:

      Perekonomian PRC jauh lebih besar daripada Russia.

      Anggaran pertahanan PRC juga hampir 4x lipat Russia.

      Dari segi industri militer, Russia masih lebih menang secara pengalaman dan kemampuan, akan tetapi..... secara tehnologi, akhirnya PRC akan mulai melaju lebih unggul.

      Kondisi industri pertahanan Russia melaporkan banyak kesulitan paska runtuhnya Soviet, dan ambruknya anggaran pertahanan masa itu.

      Industri PRC yg disokong perekonomian terbesar kedua masih terus bertumbuh dari injeksi dana pemerintahnya.

      Terancam atau tidak?

      Hanya PRC yang masih berpotensi menjadi customer besar senjata buatan Russia.

      Di lain pihak, PRC sudah dikenal akan mempraktekan reverse enginneering apapun yg mereka beli.

      Boleh dibilang biar bagaimanapun, Russia yg akan lebih tergantung kepada PRC dibandingkan sebaliknya.

      Delete
    2. Gw sih heran sama artikel ini kok terlalu condong ke Norwegia dan malah nyudutin blok Timur ama Barat

      Delete
    3. Norwegia adalah negara Skandinavia anggota NATO, yang tidak pernah membuat pesawat tempur sendiri.

      Swedia adalah salah satu negara netral (tidak pernah punya jajahan di Asia/Afrika), pelopor pembuat pesawat tempur jet sejak tahun 1940an akhir, dan negara pertama yg menerapkan sistem Networking ke pespur di tahun 1958.

      Judul Blog ini adalah "Gripen Indonesia" bukan untuk mengajarkan agar kita harus jadi pro-Swedia, er.... yang sebenarnya juga negara netral yang tidak pernah mencampuri urusan negara lain, akan tetapi.....

      ... karena penawaran Gripen Swedia memenuhi kebutuhan pertahanan Indonesia, tidak hanya untuk sebagai pengguna, tetapi sebagai partner.

      Gripen juga BUKAN barang rongsokan Versi Export Downgrade.

      ...dan adalah pilihan pesawat tempur yang paling berdaulat.

      Delete
  2. Halo Bung, ada kabar klo SU-35 tdk jd dtg thn ini, apa bner klo SU-35 tdk jd dibeli? Dpt sumber dr website ini --> http://www.angkasareview.com/2019/01/24/tidak-ada-su-35-dalam-daftar-proyeksi-penerimaan-alutsista-tni-tahun-2019/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti sudah diberitakan Jane's re transaksi ini:

      =====
      https://www.janes.com/article/84427/indo-defence-2018-indonesia-s-su-35-procurement-faces-caatsa-hurdle
      =====

      Mau beli Su-35 Versi Export sih, silahkan saja!

      Silahkan menikmati hukuman dari sangsi CAATSA Amerika Serikat!

      Kalau kita memperhatikan, alasan pembelian pswt yg sangat tidak sesuai dengan kebutuhan Nasional ini, yg harus dibeli lewat agen perantara, dari negara yg mempunyai index CPI (persepsi korupsi) 50 peringkat lebih rendah ini diatasnamakan ....

      ... pentingnya diversifikasi supplier agar bisa mengurangi resiko embargo

      Nah, pemikiran semacam ini ternyata tertembak jatuh sendiri oleh realita CAATSA:

      Pemerintah Amerika Serikat ternyata bisa menghentikan transaksi alutsista dengan Russia, kalau mereka mau.

      Biar bagaimana AS masih tetap mendominasi perekonomian global. Bukan tanpa alasan kalau US$ adalah mata perdagangan internasional.

      Sedangkan disisi lain diversifikasi ini bukan hanya negara non-demokratis yg lebih korup daripada Indonesia.... tapi juga PDB-nya menurun karena telibas semua sangsi Barat sejak tahun 2014.

      Delete
    2. Pelajaran disini BUKAN berarti
      "Oh, masakan jadi kita mau didikte pemerintah Amerika Serikat?"

      Ini pandangan yg salah.

      Pelajaran disini justru seharusnya mengkaji ulang setiap rencana pembelian alutsista yg didasarkan ide diversifikasi.

      Kalau alasannya menghindari embargo, ternyata secara faktual tidak benar, bukan?

      Sangsi ekonomi Amerika Serikat, yg bahkan bisa mentargetkan individual penanggung jawab transaksi, ternyata jauh lebih mengerikan dibandingkan embargo militer!

      Kalau semisal, kejadian seperti di tahun 1999 terulang lagi, yah, sama saja, semua alutsista buatan Barat ataupun Timur akan sama2 terkena embargo!

      Pelajaran disini seharusnya adalah:

      Mengkaji setiap pembelian alutsista menurut kebutuhan, kepentingan, dan keterbatasan Nasional!

      Alutsista mana yg kemampuannya paling sesuai untuk realita negara kepulauan NKRI?

      Yang paling menjamin kemandirian?

      Dapat dioperasikan dengan anggaran yg terbatas, atau lebih rendah daripada Singapore, atau Australia?

      Dan yang paling banyak memberikan keuntungan Nasional baik hari ini, maupun di masa datang?

      Memilih alutsista tidak boleh dikaitkan dengan alasan "harus mengimbangi antara supplier Barat - Timur".

      Diversifikasi sih justru hanya semakin mengurangi kemampuan kita agar bisa lebih berdikari.

      Delete
  3. Min itu artikel2 banyak ngebahas renegosiasi IFX sama kontrak Su-35 yang gak kunjung diteken. Kayaknya ga bakal ada procurement pespur sampe seenggaknya 2021 sama baik IFX & Su-35 potensi kandas atau batal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita tahu kalau secara faktual kedua program ini sebenarnya......

      .... sangat MERUGIKAN negara.

      Yang satu mencoba membuat pesawat dngn partner yg tidak punya pengalaman, atau tehnologi, dan karenanya juga tidak bisa menjamin partisipasi lokal.

      Tentu saja, kemungkinan proyek ini bisa sukses sih hampir nihil. Apalagi maaih dibayangi oleh Export Policy Washington DC.

      Sedangkan Su-35 Versi Export Downgrade edisi anti-komunis... biaya operasionalnya saja tidak akan bisa muat dalam anggaran tahunan, dngn semua senjata versi export yg sudah diharamkan pembuatnya sendiri, tidak bisa di-upgrade, GAmpang-ruSAK, tehnologi kuno, dan harus datang via agen perantara pula.

      Yang lebih membingungkan (dan merugikan) lagi....

      Delete
    2. Tidak ada negara yg lain bisa menjalankan 2 program procurement, dan proyek "buat sendiri" secara terpisah, untuk dua pesawat yg berbeda, dan tidak akan bisa compatible untuk beroperaso bersama!

      Kita sebenarnya seperti melakukan bunuh diri sendiri, dngn membagi anggaran yg sudah kecil, untuk hasil yg akan sia2.

      Seperti kita melihat di Finlandia, Singapore, Kanada, India, dan Swiss; kesemuanya menyatukan program semacam ini dalam tender terbuka -- untuk memilih hanya SATU JENIS pesawat tempur, dengan prioritas partisipasi industri lokal.

      Indonesia dengan modal yg lebih kecil, dan pengalaman yg lebih minimal dalam hal semacam ini, merasa bisa melakukan semua di atas, dan merasa akan bisa tambah hebat.

      Ini namanya bermimpi.

      Delete
  4. Apakah pasukan AS pernah bertempur melawan pasukan Rusia di Syria? Baik special forces maupun regular forces

    ReplyDelete
    Replies
    1. ======
      Link Business Insiders
      ======

      Sebenarnya sudah terjadi beberapa kali.

      Pihak Russia sebenarnya mengerahkan banyak mercenary (tentara sewaan) daripada Regular dari militer Russia sendiri.

      Ini sbnrnya mirip dengan praktek AS juga, yg mengerahkan banyak "Security contractor" di Iraq, dan Afganistan.

      Ini sebenarnya praktek mengalihkan tanggung jawab dari regular militer, dengan biaya yg lebih mahal.

      Militer akan wajib melaporkan misalnya, berapa jumlah tentara yg mereka kerahkan, dan berapa banyak korban jiwa (casualty) mereka sendiri. Ini semua biasanya menjadi topik berita internasional yg bisa memalukan pemerintah sendiri.

      Mercenary, atau security contractor krn mrk bekerja dalam perusahaan tidak memerlukan sekrunitas yang sama.

      Russia jadi bisa menyangkal kalau mereka mengerahkan tentara ke Syria, tapi... tentara Russia itu ADA di sana dalam bentuk lain.

      Insiden terbesar antara US Special Force melawan Russian mercenary terjadi di Khusham.

      200 mercenary Russia, dan tentara pro-Assad ditewaskan setelah US Special Force memanggil bantuan serangan udara, dan artilery.

      Tidak ada korban jiwa di pihak AS.

      Delete
    2. Tp mengapa tdk hubungan AS-Rusia tdk menjadi sangat memanas?

      Delete
    3. Bermacam2 faktor:

      1. Pencaplokan Krimea dari Ukrania di tahun 2014

      2. "Bantuan" Russia atas kelompok Separatis Donetsk Peoples Republic di Ukrania Timur... yg juga berbuntut tertembak jatuhnya MH17 Malaysia.

      3. Campur tangan Russia di Syria untuk menyokong Assad.

      ... dan kesengajaan untuk menyangkal terjadinya serangan kimia Assad terhadap warganya sendiri.

      4. Campur tangan Russia dalam Pemilu 2016 di Amerika Serikat, yg skrg masih terus dalam tahap penyelidikan tim Robert Mueller.

      5. Ini berita lain yg baru disorot -- kemungkinan Russia sudah melanggar perjanjian masa perang dingin untuk tidak mengembangkan intermediate-range cruise missile (jarak 500km - 5000km) yg bisa membawa nuclear warhead.

      Alhasil, terjadilah beraneka ragam sangsi ekonomi, dan terciptalah Undang2 CAATSA untuk menjegal semua penjualan senjata Russia.

      Delete
  5. https://www.channelnewsasia.com/news/world/germany-drops-f-35-from-fighter-tender--boeing-f-a-18-and-eurofighter-to-battle-on-11192826

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini memang sudah seharusnya.

      Kepala Staff AU Jerman yg sebelumnya sempat membuat pernyataan mereka sudah memilih F-35.... sudah diberhentikan dari pekerjaannya.

      Kita akan melihat dalam News Update berikutnya.

      Terlepas dari semua "berita baik" re F-35, pada kenyataannya:
      =====
      https://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-6658797/amp/US-F35-fighter-jets-fly-QUARTER-expected-life-structural-issues.html
      =====

      ..F-35 tetap laik menyandang gelar Lemon II.

      Delete
  6. Case Study: Perkembangan Geopolitik di Venezuela

    BBC topik: Venezuela

    Semasa presiden Hugo Chavez, Venezuela adalah salah satu negara client terbesar alutsista Ruski, setelah PRC, dan India.

    Sekarang..... dalam beberapa tahun terakhir, tiba2 Venezuela, yg adalah negaea dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia, tiba2 sudah menjadi titik krisis politik baru.

    Pertama-tama, inflasi yg bisa mencapai jutaan persen.

    Dalam krisis internal politik Venezuela sendiri, Presiden Maduro (pengganti Chavez) ternyata berhasil mengagalkan upaya oposisi untuk mengganti pemerintah, dan tetap bercokol di tahtanya.

    Seperti bisa ditebak, negara2 dengan pemerintahan yg tidak mempunyai index demokrasi yg tinggi; Ruski, PRC, Turki memihak Maduro.

    Sedangkan AS, Australia, Canada, dan mayoritas negara Amerika Selatan mengakui pihak opisisi Guado sebagai pemerintah baru Venezuela.

    European Union memanggil Pemilu baru di Venezuela sampai hari minggu, 3-Februari-18 ini, atau mereka juga akan mulai mendukung Guado.

    Tanpa sengaja kasus ini juga menjadi case study lain... kenapa diversifikasi supplier alutsista bukanlah ide yg baik.

    Biar bagaimanapun lokasi geografis Venezuela berada di halaman belakang Amerika Serikat, dan 40% hasil minyak Venezuela di-export atau harus di-refine disana.

    Dan hampir seluruh Amerika Selatan, yg berada di sekeliling Venezuela, dan juga harus menangani krisis pengungsi dari Venezuela, juga menginginkan Maduro hengkang

    Kita akan bahas lebih mendalam dalam artikel lain.

    Untuk sementara, perhatikan terus berita2 dari Venezuela.

    ReplyDelete
  7. Min, aspek apa saja yg perlu dipenuhi agar suatu alusista dpt dibilang berhasil selain dari kemampuan diatas kertas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini melihat secara umum:

      Pertama, yang harus diperhatikan adalah Biaya Operasional, dan Maintenance.

      Untuk apa alutsista mahahebat kalau dalam 1 bulan misalnya, hanya bisa beroperasi 10 hari? Sedangkan sisa waktunya sibuk maintenance.

      Berkaitan dengan ini, tidak kalah pentingnya, operator harus bisa menguasai operasional alutsista itu seoptimal mungkin dengan waktu yang sesingkat mungkin.

      Semakin mudah maintenance, semakin banyak waktu latihan. Semakin baik alutsista itu user-friendly, semakin mudah menuai kemampuan yg nyata.

      Kedua, Sistem operasional.

      Alutsista itu bukan seperti Superman, begitu hebat sampai bisa mengerjakan semua seorang diri.

      Sebaliknya, alutsista itu harus selalu dilihat seperti bagian dari The Avengers team. Seperti kita lihat di film, masing2 anggota tim harus memenuhi kebutuhan / kemampuan unik yg tidak bisa diisi oleh yg lain, dan harus dapat bekerja sama dengan baik dengan yg lain.

      Ketiga, harus bisa di-upgrade sepanjang daur hidupnya.

      Perkembangan tehnologi industri pertahanan terus melaju setiap hari. Alutsista harus sudah dirancang untuk bisa menyerap tehnologi baru secepat mungkin agar tidak ketinggalan jaman.

      Delete
    2. Apakah aspek logistik juga harus diperhitungkan?

      Delete
    3. Logistik termasuk dalam bagian dari perhitungan maintenance di atas.

      Alutsista yg baik seharusnya tidak merongrong logistik di lapangan; sibuk terus2an minta spare part karena terlalu banyak yg rusak.

      Sering ganti spare part berarti operator menjadi selalu dituntut untuk siap mengirim part dari warehouse ke lapangan secepat mungkin.

      Semakin rakus part, semakin berat pekerjaan logistik operator.

      Dan semakin banyak yg harus diperbaiki, berarti waktu downtime, atau tidak bisa beroperasi karena pekerjaan maintenance juga akan cenderung semakin molor.

      Lihat contoh skenario pendek dalam artikel di atas!

      Inilah kenapa kalau memperbandingkan Gripen-C vs Sukhoi Su-35 Versi Export saja sudah menjadi... sangat tidak relevan.

      Gripen dapat mengudara berkali-kali dalam sehari, krn sudah dirancang dengan logistic cost minimal, dan kemudahan maintenance.

      Mesin dapat diganti dalam waktu 1 jam -- walaupun dalam 200,000 jam terbang, brlum pernah ada Gripen yg melaporkan pernah mengalamami kerusakan tehnis mesin.

      Su-27/30/35 tidak pernah dirancang untuk operasional tempo yg tinggi seperti MiG-21 atau Su-7. Kompleksitas twin-engine memberinya "prestige" untuk "bisa mengimbangi F-15", sayangnya juga membawa kado kesulitan maintenance yg seabrek.

      Mengganti mesin yg dikerjakan sistem tehnisi yg sudah terlatih di India saja membutuhkan waktu 5 hari.

      Secara tehnis, sekali lagi, operator Gripen tidak perlu membuang2 MBDA Meteor untuk merontokan Su-35.

      Pilot Gripen hanya perlu melakukan operasi gertak sambal dengan mengunci Su- dari luar jarak tembak RVV-AE, untuk membuat pilotnya berkeringat dingin, sementara Electronic Warfare Gripen mengacaukan semua sensor Su-.

      Setelah beberapa hari toh, semua Su- sudah akan menghabiskan semua jam terbang mereka dan perlu maintenance.

      2 Gripen yg masing2nya membawa 8 small diameter bomb tinggal menghampiri lapangan udara Su-, dan menghancurkan semuanya sewaktu tidak berdaya di landasan.

      Biaya hanya 16 × $50,000, dibandingkan 1 Meteor yg harganya melebihi $2 juta per unit.

      Delete
  8. Admin saya ngeliat dari berita Saab Indonesia tentang beasiswa singkat 20 perwira menengah & tinggi dengan tema Defence Planning : Technology & Scenario kayaknya lebih penting penting untuk merubah pola pikir dan konsep berpikir strategi para perwira2 TNI sebelum ke urusan pembelian alutsista dan implentasi triple helix. Pembelian Su-35 terancam sanksi CAATSA & bank2 ga ada yng mau mediasi sama IFX juga lagi renegosiasi ulang terancam batal. Lebih penting mengubah pola berpikir perwira2 TNI sebelum masuk 2020/2021 nanti yang kayaknya pembelian pespur baru mulai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pada pokoknya, memang kita harus mengubah pola akuisisi alutsista agar lebih... memberi keuntungan yang seoptimal mungkin bagi kebutuhan nasional.

      Dewasa ini, pemikiran kita cenderung terkurung dalam konsep:

      "Alutsista ini akan menjamin kalau kita akan disegani negara lain!"

      Konsep fatal yang sangat keliru.

      Mau (asal) membeli alutsista itu sebenarnya sangat mudah.

      Yang menjadi pertanyaan mendasar justru jauh lebih luas:

      Seberapa jauh kita, sebagai operator, dapat menguasai seluruh kemampuan alutsista tersebut secara optimal?

      Ini sama dengan analogi: pengemudi kendaraan biasa tidak akan bisa diharapkan untuk mendadak bisa menjadi pembalap, bukan?

      Atau lebih kasarnya: Bocah 3 tahun, tidak bisa diharapkan dapat menyetir mobil.

      Seberapa baiknya sistem pertahanan nasional?

      Apakah alutsista tersebut compatible dengan semua alutsista lain dan dapat beroperasi sebagai satu kesatuan?

      Sama seperti di atas, kalau seluruh rakyat Indonesia tidak bisa mengidentifikasi diri sebagai bagian dari NKRI, maka kesatuan itu akan menjadi rapuh, bukan?

      Seperti dalam artikel, ini sama dengan alutsista.

      Terlalu banyak perlengkapan yg tidak compatible seperti sekarang, dalam nama "diversifikasi" itu hanya seperti menembak kaki-tangan sendiri... bahkan sebelum mulai bertempur.

      Delete
  9. http://www.businessinsider.com/sweden-built-a-russian-fighter-jet-killer-and-stealth-is-irrelevant-2019-2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya baru saja mau mem-post link ini :)

      Ya, Gripen adalah pesawat tempur pembunuh Sukhoi!

      "Gripen, especially the E-model, is designed to kill Sukhois. There we have a black belt", demikian pernyataan Mats Helgesson, kepala AU Swedia.

      Kuncinya adalah keunggulan Electronic Warfare yang sudah menjadi fitur standard Gripen.

      Selama ini pilot Swedia sudah dilatih untuk sengaja.... tidak memperlihatkan kemampuan EW Gripen yg sesungguhnya.

      Dalam sekali dimana mereka diijinkan untuk menjajal; yakni dalam latihan udara melawan Typhoon Jerman, Gripen dapat mudah mengendap sampai ke samping sayap Typhoon -- tanpa pernah bisa terlihat!

      Sukhoi, apalagi yg versi export, seperti pernah dibahas sebelumnya... tidak akan ada harapan untuk pernah bisa mendeteksi Gripen.

      Artikel ini sendiri kurang menyorot kalau keunggulan Gripen yg juga melebihi tipe2 NATO yang lain adalah.... Networking.

      Tiga Gripen yang men-jamming habis2an, dipadukan oleh satu Gripen yg bisa mengunci target, sekaligus memandu semua Meteor yg ditembakan keempatnya -- inilah mimpi buruk para pilot Sukhoi.

      Gripen-E tentu saja akan memajukan semua tolok ukur ini beberapa langkah lebih maju lagi dengan Sensor Fusion berbasiskan AESA/IRST, dan Gallium-Nitride transmitter untuk EW -- semua fitur yg belum tersedia di versi-C.

      Ini sih sudah seperti tikus mencoba melawan malaikat.

      Tidak, manuever dalam pertempuran udara sudah tidak lagi relevan....

      .... karena pertempuran jarak dekat akan selalu dimenangkan oleh pihak yg menguasai Situational Awareness.

      Siapa yg bisa mengambil posisi tembak terlebih dahulu tanpa terlihat lawan, akan selalu memenangkan setiap pertempuran.

      Sepintar apapun berjoget, Sukhoi juga adalah target yang lebih dari dua kali lipat lebih besar dibandingkan Gripen, dengan dua mesin besar yg jauh lebih panas pula!

      Dalam hal ini tidak ada bedanya baik dalam BVR, ataupun jarak dekat.

      EW Gripen akan selalu dapat melumpuhkan semua sensor / komunikasi Sukhoi, dan Networking / Sensor-Sharing akan memberikan masing2 Gripen "position advantage" untuk dapat mengalahkan Sukhoi tanpa perlawanan.

      Setiap hari perbedaannya akan semakin jauh..... karena Gripen akan terus mendapat upgrade per 2 - 3 tahun.

      Sedangkan Su-35 favorit tim sukses agen sales alutsista.... masih belum mendapat upgrade yg berarti sejak desainnya dikunci di tahun 2005.

      Delete
    2. Lupa menambahkan seperti dikutip artikel ini dari Justin Bronks:

      Seandainya Russia (atau PRC) terlibat dalam konflik langsung melawan NATO; prioritas utama mereka adalah untuk memecahkan Electronic Warfare buatan Amerika Serikat, yg menjadi lawan utama mereka.

      Electronic Warfare Swedia akan berada di kelasnya sendiri - boleh dibilang tanpa tandingan. Russia atau PRC tidak akan bisa meluangkan waktu / usaha / uang untuk bisa memecahkan EW Swedia.

      Coding, dan cara kerja EW Gripen berbeda dengan standard NATO.

      EW Swedia selama ini sudah operationally proven utk melawan yg terbaik yg bisa memperlengkapi yg terbaik dari NATO.

      Delete
  10. Ngeliat berita di Brazil kadang pikiran juga. Biaya 5.44 milyar US$ untuk 36 unit Gripen NG udh termasuk biaya riset dan akuisisi. 28 kursi tunggal (E) & 8 kursi ganda (F) tapi 200an ilmuwan Brazil dilibatkan ke Linkopping, 60% uji coba di Brazil, fasilitas industri & assembly di Brazil malah pengembangan kursi ganda semua di Brazil. Nah IFX itu 20% alias dana riset aja 1.8 - 2 milyar US$, akuisisi kewajiban 50 unit ambilah satunya 100 - 120 juta US$ aja nyampe 5 - 6 milyar US$. Transfer of technology cuma pylon sama wing paling2 airframe.Itupun kita gak megang seluruh akses karena kita lebih kayak junior partner Korea Selatan. Apalagi F-35 yang edan puluhan Milyar US$.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terus terang, semua tipe pesawat tempur lain, mau IF-X, atau Su-35K sebenarnya TIDAK LAYAK diperbandingkan dengan tawaran Saab.

      Pertama2, yah, keduanya ini sudah mendapat kutukan hanya barang..... Versi Export Downgrade.

      Mau melihatnya dengan kacamata yg seindah apapun "efek gentar terasa", atau "bisa mengimbangi F-35", "bisa membuat sendiri".... semuanya yah, hanya mimpi.

      Yg namanya barang downgrade itu, yah, segala sesuatu sudah mendapat pengurangan kemampuan sesuai kebijakan pemerintah negara penjual.

      Negara pembeli tidak punya hak untuk bisa menawar.

      Penjual yg mempunyai wewenang untuk menentukan sejauh apa pengurangan untuk versi Indonesia TITIK.

      Sebelum menulis blog ini, sy sudah melihat kalau mau mengadu argumen dengan barisan pelindung IF-X, atau Su-Anti Komunis itu seperti mengadu argumen fakta vs mimpi di awang2.

      Sudah ditantang bertahun2 juga, tidak ada yg bisa menjelaskan keduanya bisa memberi keuntungan nasional yg optimal.

      Mustahil mimpi dongeng semacam ini bisa menjadi kenyataan.

      Negara kita sebenarnya malah hanya menjadi bahan tertawaan para Agen Sales Alutsista.

      Karena keduanya hanya barang downgrade, yah, untuk selamanya mau memelas pun tidak akan pernah bisa ada keuntungan nasional yg berarti.

      Negara penjual barang downgrade tidak pernah memberi alih tehnologi.

      Tujuan mereka lebih untuk mendikte kemauan politik mereka ke negara pembeli.

      Ini sudah hukum alam.

      Delete
  11. Replies
    1. Banyak pekerjaan akhir2 ini.

      Tapi akan diusahakan minimal 1 artikel per bulan.

      Delete
    2. Kirain gara2 sering update artikel terdahulu hehe... :)

      Btw, kalo lagi gak ada ide mau tulis artikel apa, coba buat komparasi thypoon vs gripen atau lanjutin materi ttg perang bvr part 3 (kalo gak salah ini utang artikel yg udah dari jaman baheula blom ditunaikan wkwkwk)

      Delete
  12. Min,apakah PMC-PMC rusia yg beroperasi di Syria dan Ukraina adalah betul-betul mercenaries atau unit dari AB Rusia?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mengenai mercenary Russia dapat dibaca dalam artikel BBC ini:

      ======
      https://www.bbc.com/news/world-europe-43167697
      ====

      Mengenai siapa anggota PWC:
      ====
      https://www.bbc.com/news/world-europe-43114312
      ====

      Kelihatannya PMC mempunyai pusat pelatihannya sendiri.

      Mengingat mayoritas militer Russia sebenarnya masih tetap ditarik dari drafting - atau peraturan wajib militer selama 1 tahun, ya, tidak akan mengherankan kalau PMC, yang bayarannya jauh lebih baik, tidak akan kekurangan recruit.

      Delete