Sunday, August 12, 2018

Pertualangan "kontrak" Su-35 Versi Export semakin menarik



Angkat tangan siapa saja yang mendukung kontrak pembelian Sukhoi?

Wah, ternyata banyak yang mendukung penuh, atau hanya “Yes, man”.

Nah, sekarang para laskar pendukung Sukhoi silahkan menyebut keuntungan nasional apa saja yang bisa didapat dari rencana akuisisi ini?

Apakah karena hanya ada transaksi barter, yang bisa diklaim sebagai 50% offset ekonomi, dan rencana membuat fasilitas MRO / pabrik spare part  berarti offset alih tehnologi 35% untuk memenuhi persyaratan UU no.16/2012?

Dalam beberapa hari terakhir, beberapa kenyataan manis sudah mulai mengetuk pintu: 

Semua lampu merah sekarang sudah menyala terang benderang untuk tidak lagi meneruskan kontrak yang merugikan negara ini.



Pelajaran PENTING dari Sukhoi Su-30MKM Malaysia


Pertama-tama, saksikan dahulu demonstrasi Su-30MKM pada Singapore Airshow, Febuari-2018; seperti dalam klip video youtube di atas!

Menarik, bukan?

Nah, sekarang, kapan terakhir kali pilot Indonesia bisa menunjukan demonstrasi airshow yang serupa dengan Sukhoi di Sku-11?

Tidak pernah, bukan?


Media massa di Indonesia senang membicarakan flypast Sukhoi dalam acara kemerdekaan, tetapi belum pernah memberitakan demonstrasi airshow yang sedemikian. Kalau mencoba mencari video di Youtube, kebanyakan hasilnya hanya link yang menunjukan Sukhoi yang dioperasikan negara lain, eh, tetapi entah sengaja bisa diplesetkan menjadi "katanya" punya Indonesia. 

Demonstrasi manuever dalam airshow sebenarnya menunjukan seberapa jauh pilot suatu Angkatan Udara bisa menguasai pesawat tempur mereka sendiri. Kenyataan ini menunjuk kesimpulan awam kalau ternyata... pilot Malaysia biar bagaimanapun terlihat lebih bisa menguasai pesawat MKM mereka dibandingkan pilot Indonesia, yang sejauh ini hanya memamerkan pesawat dalam acara flypast.

Ini tidak ada hubungannya dengan "...karena Sukhoi mereka lebih canggih". Demonstrasi manuever sedemikian hanya bisa dicapai melalui LATIHAN, LATIHAN, dan LATIHAN

Bagi yang bermimpi kalau Thrust-Vectoring itu "fitur unggulan", perhatikan video demonstrasi berikut:



AH-64D AU Belanda... ternyata dapat melakukan semua manuever kecepatan lambat Sukhoi TVC, bukan?

Nah, kenapa AH-64 tidak bisa menjadi pesawat tempur?

Yah, karena kecepatannya terlalu LAMBAT

Dalam manuever TVC, seperti diperlihatkan F-22, dan semua Sukhoi; pesawat akan selalu kehilangan terlalu banyak kecepatan, dan gaya LIFT dari sayap. Tidak semudah itu untuk pilot bisa mendapatkan kembali kecepatan, dan ketinggian pesawat. Bukan situasi yang ideal untuk berhadapan dengan "Energy fighter", seperti F-16, atau Eurocanards, yang juga dapat dipersenjatai missile jarak dekat yang dapat ditembakan ke belakang pesawat.

Pada 31-Juli-2018 ini, Malaysia baru mengungkapkan kenyataan lain yang lebih pahit, karena ternyata...



... dari 18 Su-30MKM yang baru selesai delivery di tahun 2008; hanya 4 yang masih bisa terbang

.... walaupun tentu saja, seperti sudah ditunjuk seorang komentator di blog ini, seperti dilaporkan website Malaysian Defense; Malaysia ternyata sudah membangun "Sukhoi Technical Centre", yang tidak hanya menjamin MRO, tetapi juga "upgrade" untuk MKM di masa depan, katanya

Kenapa Malaysia baru mendadak mengakui sekarang kalau Sukhoi mereka bermasalah?

Bagi yang mengikuti berita, tentu sudah mendengar kalau pemerintah lama Barisan Nasional Malaysia baru saja dilengserkan dalam Pemilu, dan ex-Perdana Menteri Rajib sekarang sudah mengalami gugatan korupsi skandal . Pemerintah baru Paketan Harapan, yang untuk sementara kembali dipimpin oleh pak Mahatir Muhammad paling tidak selama dua tahun, sebenarnya sedang mencoba membereskan semua yang salah dalam dua puluh tahun terakhir. 

AINOnline melaporkan kalau Menteri Pertahanan Mohamad Sabu melaporkan ke parlemen Malaysia pada 31-Juli-2018 yang lalu kalau:

Administrasi yang sebelumnya ternyata sudah membatalkan semua kontrak maintenance yang lama (dengan Rostec / Rosoboronexport), dan sekarang pemerintah baru sedang mencari kontraktor baru lokal untuk maintenance Sukhoi.

AINOnline melaporkan lebih lanjut kalau dikarenakan Su-30MKM sudah berumur 10 tahun sejak delivery, maka mereka WAJIB untuk dikirim balik ”Perbaikan mendalam” di pabrik asalnya. 

Sayangnya, Malaysia melaporkan tidak bisa mengalokasikan anggaran untuk membayar biaya mahal perawatan ”perbaikan mendalam” yang merugikan negara pengguna semacam ini. Dan mereka sedang mencari kontraktor industri lokal untuk mengurangi ketergantungan dari Russia.

Eh.... selamat berjuang!

Seperti sudah diketahui dari pengalaman India, Rosoboronexport adalah perusahaan yang siap menghukum customer yang bandel; yang mencoba menlangkahi ”jalur resmi via perantara” mereka untuk merawat alutsista buatan Russia:

AviationWeek, 4-Apr-2011:
India upset with Russian Military spare part supply

Untuk catatan akhir; dari 10 MiG-29N yang selesai delivery ke Malaysia di tahun 1995, tidak ada satupun yang sekarang masih bisa mengudara, sedangkan F-16 Block-15OCU TNI-AU yang sudah selesai delivery di tahun 1989, tetap masih asyik-asyik saja.

Secara tehnis, walaupun dari segi jumlah, kelihatannya banyak, kecuali 8 F-18D, sekarang RMAF Malaysia jadi tidak lagi mempunyai pesawat tempur yang masih bisa terbang.

Kekacauan yang terjadi dengan armada pesawat tempur made-in-Russia di Malaysia, sebenarnya sejalan dengan apa yang sudah dilaporkan India beberapa bulan yang lalu:
Defense News, 22-Maret-2017:
Tidak akan ada Alih tehnologi, atau bantuan dalam bentuk apapun juga.
TITIK
... dan juga membenarkan kesimpulan dari analyst IHS Mark Bobbi:
Sistem "Sekali pakai, buang!"
Link: The Moscow Times, 2015
Inilah yang menjelaskan kenapa "Sukhoi Technical Centre" yang sudah dibangun Malaysia, juga menjadi seperti pengeluaran yang sia-sia.
Apa kegunaannya Sukhoi Technical Centre ini?

Nasib yang sama tentu saja akan menanti dengan "fasilitas MRO", atau "pabrik suku cadang" untuk Su-35 favorit para agen sales alutsista.


Eh, bagaimana dengan nasib Sukhoi Indonesia?


Boleh dibilang report card Sukhoi Kommercheskiy GAGAL menjadi pengganti ideal A-4 Skyhawk ciptaan Ed Heinemann di Sku-11

Pengalaman Malaysia mengajarkan supaya mulai bertanya secara kritis:

Berapa jumlah Sukhoi di Sku-11 yang sekarang masih bisa terbang?

Pertanyaan kedua: Mengingat delivery batch terakhir 6 Su-30MK2 baru saja diselesaikan di tahun 2013; 

Kapankah  kesemua unit Sukhoi yang belum mengalami perbaikan mendalam, akhirnya akan harus dikirim balik ke Russia?

Dan berapa biayanya??

Dengan fitur GASAK (GAmpang ruSAK),  ini sudah menjadi takdir untuk semua pembelian Sukhoi Versi Export. Yang menjadi pengecualian sebenarnya hanya India, dan PRC.

Kita bisa memberi estimasi kasar kalau Sku-11 akan membutuhkan dana sekitar $200 - $300 juta hanya untuk membayar perbaikan mendalam, yang bisa memakan waktu 20 bulan per unit... dan tentu saja umurnya tidak akan bisa panjang. 

Apakah dananya sudah siap demi memelihara barang yang cinta sebelah tangan, dan sudah bau tanah?
"Sekali pakai, buang!"
Contoh Su-27SK ini hanya operasional dari tahun 1991 sampai 2009,
sebelum masuk liang kubur.
(Gambar: China-defense blog)

Pertanyaan ketiga: 

Kenapa mau mengambil Resiko dengan Su-35 Versi Export?

Pengalaman operasional sukhoi yang sudah ada saja sebenarnya jauh dari cemerlang; kelihatannya bahkan belum bisa menandingi Malaysia. Kenapa bisa yakin Su-35 bisa lebih baik?

Su-30MKM, yang dibuat berdasarkan desain Su-30MKI di tahun 1995, sebenarnya adalah desain yang jauh lebih matang, dan operationally-proven dengan ratusan ribu jam terbang di AU India, Russia, Algeria, dan Malaysia. Sedangkan Su-35, yang dibuat oleh pabrik yang berbeda, baru mulai operasional di tahun 2009, adalah produk yang jauh lebih riskan, dengan biaya operasional terjamin akan jauh lebih mahal daripada F-22

Indonesia tidak akan bertambah kuat dengan Su-35, yang hanya bisa dipersenjatai paket persenjataan ”lengkap” yang sama dengan Su-27SKM, dan Su-30MK2; melainkan kita hanya akan melihat tagihan yang luar biasa berat, yang lebih dari cukup untuk mengoperasikan 7 Skuadron F-16, atau 10 Skuadron Gripen, hanya demi kecintaan pada 11 barang downgrade "jaminan mutu".

How BVR Combat betwen F-18F and Su-35SK will play out:
Australian Super Hornets will easily trash any Sukhoi Kommercheskiy,
with better training, superior techniques, more advanced sensor suites, and weapons

Pada akhirnya sama saja. 

Fasilitas MRO, atau pabrik suku cadang manapun tidak akan bisa menyelamatkan fitur GASAK yang memang sudah built-in ke keluarga Sukhoi Flemon. Dalam 10 tahun, 11 pesawat Flemon-35, hanya akan menemui nasib yang sama dengan 18 Su-30MKM Malaysia.

Tolong para pejuang dari agen perantara PT Sukhoi Fanboyz tertutup juga turut menjelaskan:



Perjanjian Su-35 Edisi Anti-Komunis: Transaksi barter itu BUKAN OFFSET 


Perhatikan arah panah pembayaran dalam grafik ini!

Dalam transaksi alutsista dengan offset ekonomi, pengeluaran cash pembelian alutsista melalui anggaran pertahanan, sebenarnya dikembalikan oleh negara pembeli dalam bentuk pembelian komoditas export sesuai % nilai transaksi yang disepakati. Pengeluaran untuk alutsista berubah menjadi pemasukan untuk anggaran perdagangan komoditas export. 

Grafik ini menjelaskan kalau untuk bisa terjadi paket Offset Ekonomi; harus ada pemasukan balik ke kantong negara pembeli. 
Menurut Vladimir Kozhin, seperti dikutip Tass:
OFFSET ternyata TIDAK PERNAH DIBAHAS
dalam negosiasi "cepat tutup kontrak sebelum Pemilu"
Pernyataan ini SANGAT BENAR! 

Dalam bentuk transaksi barter yang diiklankan ”menguntungkan”, sebenarnya anggaran perdagangan komoditas internasional pada prakteknya hanya mensubsidi pengeluaran dari anggaran pertahanan. Tidak seperti dalam transaksi offset, tidak akan ada pemasukan dalam transaksi barter. Ini hanyalah bentuk mekanisme pembayaran sebagai pengganti cash.

Bukan tanpa alasan sebenarnya sudah sejak ribuan tahun yang lalu, kita sudah menciptakan apa yang disebut UANG. Dalam transaksi barter, sekali lagi harus diketahui kalau harga tonnase komoditas itu akan selalu diketok rendah.... justru karena si pembeli tidak mempunyai uang untuk membayar cash.

Ini sama seperti pergi ke tukang gadai, kenapa barang yang digadaikan akan diketok dengan cash yang nilainya lebih rendah daripada seharusnya. 

Entah kenapa, yang berkeras untuk meneruskan transaksi Su-35 ini, seperti dilaporkan Jakarta Post, justru datang dari arah.... Departemen Perdagangan?

Yang lebih menarik lagi seperti dilaporkan dalam Jakarta Post ini, adalah pernyataan yang seperti mencoba menantang CAATSA dari pemerintah United States… semuanya dalam nama pembelian barang versi export downgrade, yang tidak akan bisa di-upgrade, hanya bisa dipersenjatai senjata versi export yang tidak dipakai pembuatnya, terjamin pasti GASAK, dan kontraknya tidak pernah bisa ditutup secara G-to-G, atau antar pemerintah yang memastikan bebas komisi .

Maaf, tetapi apa urusannya Departemen Perdagangan dengan pembelian alutsista? 

Bukan hanya Su-35 Versi Anti Komunis berefek gentar nihil, tetapi sempat ada rumor kalau PTPPI juga tertarik untuk terlibat dalam pembelian…. Airbus A400M?

Bagaimana sih?

Bukankah sebenarnya wewenang BUMN PTPPI cukup jelas tertulis dalam website mereka sendiri; seharusnya hanya mengurus penjualan komoditas untuk export, bukan?

Mengambil langkah berani menantang CAATSA bukanlah sesuatu tindakan yang bisa dianggap Nasionalis, atau membela martabat bangsa, melainkan seperti sudah digarisbawahi dalam artikel CNBC ini, justru mencoba mengambil resiko menghadapi rententan masalah berikut:
  1. CAATSA memberi wewenang ke pemerintah US untuk mengunci perusahaan yang mencoba melanggar untuk masih bisa berdagang dalam pasar internasional, yang berdominasi US$. Ini artinya…
  2. PTPPI, misalnya, terancam tidak akan boleh lagi memasarkan komoditas Indonesia melalui jalur-jalur resmi yang sekarang ini. Bukannya tidak bisa menjual, akan tetapi…
  3. … malah mendorong supaya kita menjual komoditas itu melalui pasar tertentu saja. Atau apakah mungkin PTPPI hanya bisa menjual komoditas ke PRC, atau ke Russia saja. Ini bukan ide yang baik, karena….
  4. Harga komoditas sudah pasti akan selalu diketok, karena dipasarkan di luar dari pasar internasional, dan...
  5. Karena tidak melalui jalur resmi pasar internasional, peran perantara komoditas akan semakin merajarela. Harga komoditas hanya akan semakin terpuruk, demi memberi ruangan ke perantara, dan tentu saja.... akhirnya kemungkinan komisi kickback untuk pejabat lokal, dari para perantara.

Apakah masih berharap Indonesia bisa mendapat pengecualian?



Pelajaran Terakhir: Ya, transaksi Alutsista TIDAK BISA NETRAL dari politik luar negeri

Hasil investigasi tim JIT untuk kasus MH17, seperti dikutip Reuters, dan BBC, menunjuk kalau Russia yang sudah menembak jatuh MH17
(Gambar: Reuters)
Kenapa United States bisa berani menerapkan CAATSA ke semua negara lain?

Sistem perekonomian United States sebenarnya fully-networked ke seluruh dunia. Semuanya ini sudah dibangun secara seksama, dan dengan begitu rapi sejak berakhirnya Perang Dunia II di tahun 1945.Setelah runtuhnya Uni Soviet, yang sebelumnya menyebarkan paham komunis sebagai pesaing sistem demokratis, sistem perekonomian United States sudah menjadi standard sistem perdagangan internasional semenjak tahun 1989. Hampir tidak mungkin bisa terjadi perdagangan internasional tanpa denominasi US$, bukan? 

Bukan tanpa alasan walaupun banyak yang sudah mengusahakan Euro, ataupun Yuan sebagai subsitusi US$ dalam currency international, sejauh ini masih belum banyak membuahkan hasil. 

CAATSA ini sendiri tidak diterapkan untuk menghalangi kebebasan Indonesia dalam memilih Alutsista, melainkan…. untuk menghukum persusahaan-perusahaan yang dikuasai oligarkhi Russia, akibat sepak terjang politik luar negeri mereka sendiri.
Membeli barang dari penjual, akan selalu membuahkan kewajiban politik luar negeri untuk si pembeli mendukung sepak terjang si penjual. 

Yang lebih mengerikan daripada ancaman sangsi CAATSA, adalah ancaman terhadap kedaulatan politik luar negeri bebas aktif Indonesia.
United Nation Assembly Vote 27-March-2014:

Tidak seperti banyak pelanggan senjata Russia; 
PRC, Vietnam, India, dan 53 negara lain yang menyatakan abstain,

Indonesia bergabung dengan US, Australia, dan 97 negara lain untuk menyatakan
TIDAK MENGAKUI referendum Russia di Crimea

(Gambar: Wikimedia)
Apakah Su-35 akan membuat Indonesia harus lebih mendukung sepak terjang Russia dalam ajang politik internasional, terlepas dari apapun juga yang mereka lakukan?

Kalau dahulu di tahun 2014 menentang Referendum Crimea, apakah lain kali kalau menghitung ulang; kita jadi harus abstain dalam voting yang serupa, sama seperti  India, atau Vietnam?

Kalau Russia lagi-lagi menampik kalau Assad sudah menggunakan senjata kimia terhadap rakyat Syria; walaupun kemudian OPCW men-sample, dan mendapat bukti nyata; apakah lantas kita juga harus wajib turut membenarkan?

Ini namanya bukan mandiri, malahan belajar lebih didikte negara lain. Konsekuensi politik yang nyata dari pembelian alutsista, yang seperti sengaja tidak mau dibahas, atau dianggap kurang penting.

Ya, Amerika Serikat di sisi lain memang bukanlah negara yang bisa bersih dari dosa. Terlepas dari sepak terjang administrasi Trump dewasa ini, paling tidak mereka tidak akan mengambil posisi yang membuat Indonesia, ataupun negara-negara lain menjadi merasa serba salah baik secara moral.

Negara penjual akan selalu memegang ekor dari alutsista yang mereka jual. Kalau tidak menurut, dengan mudahnya mereka hanya akan tinggal memotong jalur supply spare part, atau jasa tehnisi yang dibutuhkan untuk merawat pesawat ultra-complex, dengan mesin thrust-vectoring yang lebih rumit.

Kedaulatan politik luar negeri jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar mimpi, ataukah....??



Penutup: Kecuali India, hanya negara yang lebih korup, dan non-demokratis yang senang membeli Sukhoi

Tidak perlu G-to-G contract?
"Siip... pilihan favorit kami!"

Alih tehnologi?

Produksi dalam negeri?
Membangun kemampuan industri lokal?
Biaya operasional yang terjangkau?
Kedaulatan yang terjamin?
Apakah produk bukan model Versi Export Downgrade?
Apakah bisa terjamin panjang umur, dan... 
bisa terus di-upgrade?


"Huahahahahaha.....konyol banget ide-ide begituan!"
Kenyataan menunjuk kalau daftar customer lain untuk Sukhoi seperti Venezuela, Aljazair, Angola, Uganda, Myanmar, dan Vietnam, semuanya tidaklah menduduki peringkat tinggi dalam daftar persepsi korupsi Transparancy International 2017.

Sebagai fitur tambahan, tentu saja negara-negara ini juga biasanya mempunyai kekacauan laporan hak asasi manusia, dan dilarang untuk membeli pesawat tempur dari produsen Barat. Seberapapun kacaunya perawatan Sukhoi, seperti dilaporkan India, Malaysia, dan sudah seharusnya juga dilaporkan di Indonesia; menjadi tidak relevan.

Secara tehnis, Sukhoi sebenarnya hanyalah istilah yang lebih mewah dari kata KORUPSI.

SindoNews, yang mengutip dari artikel The Star Malaysia, mengenai kesulitan Su-30MKM memberikan paragraf penutup yang sedemikian:

Kita tidak perlu mencari siapa yang salah, atau siapa yang bertanggung jawab, karena asyiknya, kelihatannya akuisisi ini juga lebih diwarnai oleh mimpi warisan dari 20 tahun yang lampau. Satu pihak sudah membohongi diri sendiri, kemudian membohongi yang lain, dan mungkin hanya beberapa sadar untuk menarik keuntungan semaksimal mungkin. 

Sebenarnya akan sangat memalukan kalau kita sampai memerlukan bantuan Washington DC untuk bisa menjegal transaksi Sukhoi yang merugikan ini.

Sudah saatnya membatalkan kontrak ini dengan inisiatif sendiri, dan mempensiunkan semua Sukhoi di Sku-11 secepat mungkin. Terjamin, dengan mengambil kedua langkah ini, dengan sendirinya, para pejuang online dari agen perantara PT Sukhoi Fanboyz akan membubarkan diri!

Mari menyanyikan lagu kebangsaan para pendukung Sukhoi yang membabi-buta, "Abang Toekang Sukhoi" bait kedua:
Marilah kita belajar berpikir sehat!

Apakah yang perbedaan antara "Mencoba memenuhi kebutuhan", dan Agen Sales Alutsista?

Seperti sudah dibahas dalam artikel sebelumnya; 

Agen Sales akan selalu mengutamakan penutupan kontrak secepat mungkin, dan dengan demikian menomorduakan semua faktor lain; baik kelaikan, kebutuhsn, ekonomi, industri, kepentingan politik, atau yang lebih penting... pembangunan Indonesia.


77 comments:

  1. Bung gi..
    Baca komen d blok sebelah jd ketawa ngakak.. Mereka itu sebetulnya fansboy rusia ato agen sales ya, komennya itulho, isinya pembodohan semua.. :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perhatikan beberapa gejala2 fanboyz yg berikut:

      1. Ruski, dan presidennya selalu hebat; tidak pernah bikin salah

      2. Sukhoi stroonnnggg - tidak ada kelemahannya (!!)
      "Kita harus berkorban untuk Sukhoi!"

      3. Amerika tukang embargo!
      Akan mengontrol senjata boleh dipakai melawan siapa! Ruski yg sempurna tidak!

      4. Semua fakta tentu saja harus sedikit dimiringkan, atau fantasy baru disajikan seolah2 fakta agar ketiga tujuan diatas itu bisa tercapai.

      Perhatikan baik2 semua argumen mereka, dan sekarang bandingkan dengan tipikal artikel tass, rbth, sputnik, dan media2 berita milik pemerintah Ruski!

      Sama persis, bukan?

      Jadi kita melihat kemungkinannya hanya dua:

      Entah apakah Ruski itu memang diem2 ahli sihir; fanboyz bisa kepincut...

      ... ataukah....

      Memang ada yang mempekerjakan mereka sebagai public relation support untuk operasional Sukhoi.

      Mengingat Ruski adalah negara, yg dinilai Transparancy International, lebih korup daripada Indonesia; kemungkinan kedua ini cukup besar.

      Untuk mengetes teori ini; seperti diatas!
      Coba pensiunkan semua Sukhoi; sehabisnya mereka masih berkotek atau tidak?

      Delete
  2. kabar terbaru KFX/IFX kembali ditunda. Alasan ekonomi tdk stabil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alasan yang lebih tepat:

      Kenapa mau menghamburkan uang untuk proyek beresiko tinggi, yang keuntungan nasionalnya tidak bisa terjamin?

      Inilah realita program KF-X.

      Dana yang tersedia terbatas - dan masih harus dialokasikan tidak hanya ke pembangunan infrastruktur, tapi juga menanggulangi bencana alam seperti gempa di Lombok... sedang dilain pihak; Jakarta perlahan-lahan semakin tenggelam ke bawah permukaan laut.

      Tidak ada dana untuk dihamburkan ke proyek yg tidak karuan.

      Tentu saja, argumen ini juga akan mulai mengigit kontrak rugi Su-35, dan tagihan untuk "perbaikan mendalam" Sku-11.

      Delete
    2. Awal mula itu KFX dan IFX saya dukung penuh, tapi sekarang Saya sudah Lost in Faith dengan Proyek Ambisius itu setelah melihat Kabar Terbarunya dan Kondisi Keuangan Negara Sekarang (Rasio Utang Semakin meningkat)

      Delete
    3. Kita memang harus mulai belajar berpikir sehat, dan lebih memihak ke negara kita sendiri terlebih dahulu.

      Sangat mudah untuk semua mimpi membelokan kita menjadi... eh, kok malah jadi memihak perusahaan negara asing, dan menomorduakan kebutuhan nasional?

      Re: KF-X

      Apakah definisi dari "partnership"?

      Seharusnya ada timbal-balik, bukan?
      Bukan berarti pihak yang satu bebas mendikte seenak perut, kemudian masih berani coba nagih uang!

      Pertama2nya, kelihatannya Korea berusaha membuat pespur ringan berbasiskan T-50.

      Bukan ide yg jelek; tetapi kemudian proyek ini semakin lama semakin ambisius targetnya.... dan kemudian mereka mengambil keputusan sepihak menentukan kalau Lockheed-Martin adalah partner TOT mereka yg utama.

      Habislah sudah!

      Jangankan ke Indonesia, ke Korea-pun, Lockheed tidak akan berani men-transfer pengetahuan tanpa ijin Pentagon.

      Dengan kata lain; tidak akan diperbolehkan.

      Delete
  3. Akhirnya Bung GI men-upload artikel terbaru dan artikel ini sangat bagus dan menarik.
    Menurut saya pribadi artikel terbaik bung GI adalah konsep BVR, source code dan radar vs rwr (kalau menurut Bung GI apa ya?).
    Saya setuju dengan pemikiran anda tentang missile idealnya membawa dual seeker yaitu active guidance dengan IR yang memiliki kemampuan IRCCM, IFF manuever 60 G ramjet mach 4 tetapi saran saya menambah seeker electro optical, dan juga menanamkan sensor fusion di missile untuk pelengkap.
    Radar sebagai penglihatan jarak jauh dan Infra red sebagai penambah akurasi serta electro optical sebagai penarget vital pesawat seperti kokpit.
    Saya juga ingin pendapat anda, bagaimana jika active guidance di missile itu diganti dari radar aktif biasa yang rentan jamming diganti menjadi aesa radar yang tahan jamming untuk missile air to air. (MESKIPUN INI HAMPIR MUSTAHIL UNTUK DITERAPKAN, MUNGKIN SUATU HARI NANTI MBDA MUNGKIN BISA).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Missile AAM-4 buatan Jepang sebenarnya sudah menjadi yg pertama yang memakai AESA seeker.

      MBDA sebenarnya sudah membicarakan tahap awal untuk mengintegrasikan AESA seeker ini ke Meteor Block-2 nantinya.

      Sy juga sedang menulis artikel lain ttg Electronic Warfare dengan topik lebih melihat ke arah kelebihan Gripen. Seperti biasa jadi tertunda karena berita2 buruk re Sukhoi terus menumpuk.

      Pada pokok permasalahannya begini:
      Kita tahu kalau active seeker adalah guidance yg paling ideal untuk BVR Combat -- tetapi sebenarnya ada pertarungan jenis baru dewasa ini.

      Contoh case study:

      ECM, yg adalah bagian dari Electronic Warfare, adalah satu spektrum baru untuk menangkal / mengacaukan tidak hanya radar pesawat lawan; tetapi juga untuk membutakan radar di BVR missile.

      AMRAAM-C7 mempunyai kemampuan homing-on-jamming yg justru akan mengunci ke arah jamming sistem ECM.

      Meteor juga dikabarkan mempunyai kemampuan yg sama; keduanya juga sudah dirancang untuk lebih kebal terhadap serangan ECM lawan.

      Di lain pihak; semua missile, walaupun dengan AESA seeker memiliki beberapa keterbatasan:
      + Ruangan yg tersedia dalam moncong kecil
      + Sifatnya harus automatis, atau pada saat akhir harus bisa bekerja independent dari pesawat induk; dan...
      + Harganya juga tidak bisa terlalu mahal

      Sebaliknya, ECM juga tidak akan membuat permainan lebih mudah:
      + Programming mode-nya semakin luas, dan cara menangkal akan semakin banyak.
      + ECM secara tehnis juga akan lebih mudah di-upgrade dibanding missile yg sifatnya lebih "sekali pakai buang".
      + Saab menunjuk ke arah masa depan dengan memulai menerapkan hardware AESA transmitter untuk EW.
      + ECM modern tentu saja terintegrasi dalam Sensor Fusion, dan yang lebih penting...
      + ... akan harus bisa melihat, dan cepat mempresentasikan berbagai macam cara untuk menangkal missile yg datang ke pilot.

      Ini baru ringkasan singkat re apa yg akan dibahas. ECM hanyalah salah satu bagian dari ELectronic Warfare.

      Delete
    2. Pertempuran udara modern, semakin hari semakin meluas spektrum-nya. Semakin banyak perubahan yg tidak terlihat.

      Semakin cepat untuk para langganan barang versi export downgrade untuk semakin ketinggalan jaman -- kalau mereka tidak meluangkan waktu untuk berpikir, dan bekerja.

      Sayangnya seperti dalam artikel ini, permasalahan kita adalah terlalu terobsesi dengan bermimpi, akibat kolotnya cara berpikir dari masa lalu... sewaktu membayangkan seolah2 pertempuran udara itu tidak berubah sejak tahun 1980-an.

      ... dan demi mengejar mimpi ini, beberapa pihak menginginkan kita memghamburkan jauh lebih banyak uang.... untuk tidak akan ada hasilnya.

      Kelihatannya para pemimpi hanya sibuk membayangkan su-35, dan IF-X bisa dipamerkan dalam acara "flypast".

      "Jerih payah guwe tuh dua pesawat bisa terbang (kebeli) hari ini!"

      Sayangnya, baik Su-35K, atau IF-X secara tehnis sudah ketinggalan jaman dari sewaktu pertama mengudara. Ya, ini walaupun prototype KF-X saja belum ada.

      Keduanya sekali lagi... tidak akan bisa lebih unggul dari F-16 Block-25+ hibah Obama.

      Ini juga walaupun Block-25 kita termasuk yg agak ketinggalan dibanding semua F-16C/D yg lain.

      Delete
  4. Bung apakah gripen bisa terbang membawa missile iris t, phyton V, dan meteor dalam sekali jalan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa, tetapi Phyton-5 dan IRIS-T hanya memenuhi fungsi yg sama: missile-IR jarak dekat dngn kemampuan manuever optimal.

      Combo yg lebih baik untuk Gripen-E:

      2 IRIS-T atau AIM-9X atau Phyton-5
      2 MBDA ASRAAM
      3 MBDA Meteor

      Kenapa lebih baik membawa 2 ASRAAM, dan berkurang 1 Meteor?

      ASRAAM adalah missile IR yg dapat ditembakan dari jarak BVR (sekitar 50 km). Lebih sulit untuk ditangkal, dan membuat Gripen menjadi lebih berbahaya, krn membawa 4 missile-IR, atau 5 missile BVR.

      Delete
  5. Min..

    Missile R37 itu udah dipakai rusia belum min ? Para sukhoi fansboy merasa jumawa dengan R37 yang katanya jarak nya bisa mencapai 400 km..

    ReplyDelete
    Replies
    1. R-37 dikabarkan baru mulai operasional, masih dalam jumlah kecil. Seperti semua proyek Russia yang lain; development-nya juga cukup bermasalah.

      Pertama2, ini adalah missile ukuran raksasa seberat 600kg (!!)

      Jarak jangkaunya memang jauh, tetapi tidak diperuntukan bisa menghantam pesawat tempur yang kecil, dan gesit....

      ... melainkan untuk pesawat tanker, atau AWACS; bayangkan KC-135, atau E-3 Sentry.

      Beberapa fakta selanjutnya untuk membuat para fanboyz yg malang lebih gigit jari:

      1. R-37 hanya bisa dioperasikan MiG-31 Foxhound; bukan untuk Sukhoi manapun.

      2. Tentu saja fakta berikut tidak mengherankan:
      Versi Export Downgrade dari R-37 juga belum tersedia untuk dijual.

      Delete
  6. Profilerasi AESA radar yang berlanjut

    Radar Irbis-E versi export idaman kaum PKI (Persekongkolan Kommercheskiy Indonesia) sebentar lagi akan menobatkan diri sebagai salah satu radar yg paling ketinggalan jaman.

    US Marine skrg sedang mempersiapkan AESA radar upgrade ke 100 F-18C/D mereka.

    Pilihannya mirip dengan para pengguna F-16:

    Paket RACR dari Raytheon, berupa AN/APG-79X, yang menurut Raytheon dapat dilakukan dalam sejam untuk mengganti antena untuk AN/APG-73;

    Atau

    Paket SABR dari Northrop-Grumman dalam bentuk AN/APG-83; sama seperti F-16V.

    APG-83 akan lebih sulit dipasang di F-18; akan tetapi akan mengambil manfaat commonality hardware, dan source code dengan APG-81 untuk F-35.

    Singapore, Korea Selatan, dan Taiwan.. sementara itu sudah menandatangani kontrak untuk paket upgrade F-16V dengan APG-83.

    Source Code untuk AESA radar sudah terus di-upgrade semenjak F-22 dahulu mulai beroperasi dengan F-22.

    Nah, apakah RWR versi export, seperti Knirti-518i, yang tidak pernah di-upgrade; akan masih bisa melihat gelombang radar AESA generasi ketiga?

    Meragukan.

    Sama seperti mencoba menembakan RVV-AE dalam pertempuran BVR modern; ini seperti memasang taruhan di meja judi, tetapi kartu yang kita pegang saja tidak bisa diketahui.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ralat:
      AN/APG-77 adalah AESA radar pertama yg operasional di F-22.

      Delete
  7. SALAM MERDEKA BUNG, besok yang Flypass di Hari Kemerdekaan 6 Sukhoi, 4 F16 dan 7 T50i Golden Eagle, Semoga semakin Jaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. =====
      http://www.tribunnews.com/nasional/2018/08/13/tiba-di-halim-perdanakusuma-17-pesawat-tempur-tni-au-akan-meriahkan-hut-ke-73-ri
      =====

      Menarik.
      Kita lihat saja.

      Delete
    2. Analisa singkat dari "deployment" 17 pesawat ini:

      Mengoperasikan 6 Sukhoi, dgn estimasi biaya OP Rp 600 juta/jam, untuk acara Kemerdekaan besok sudah akan memakan biaya sekurangnya Rp 18 milyar.

      4 F-16 @Rp100jut/jam, dan 7 T-50i @Rp70jut/jam; secara total hanya menghabiskan kurang dari Rp 5 milyar.

      Ini dengan asumsi masing2 unit harus terbang 5 jam; mulai dari ongkos mudik dari markas, dan persiapan gladi resik.

      Biaya operasional dihitung dalam US$, karena para supplier men-charge spare part dalam mata uang US$.

      Nah, kalau begitu kenapa mengirim lebih banyak Sukhoi vs F-16?

      Jawaban mudah: favoritisme; sekaligus untuk "menyambut Su-35".

      Menarik, bukan?

      Delete
    3. Tambahan:
      =========

      Bayangkan misalnya apa yang dikirim untuk upacara kemerdekaan ini 25 F-16, 10 BAe Hawk, dan 10 T-50i.

      Total 45 pesawat sebagai simbol tahun 1945.

      Berapa biayanya:
      25 x Rp100jt untuk F-16 × 5 jam = Rp 12 Milyar

      10 x Rp40jt untuk Hawk x 5 jam = Rp 2 milyar

      10 x Rp70jt untuk T-50 × 5 jam = Rp 3,5 milyar.

      Total biaya deployment hanya Rp17,5 milyar, atau lebih murah dibanding mengirim hanya 6 Sukhoi untuk formasi 17 pesawat.

      Masih ada cukup kembalian, bukan, untuk paling tidak memeragakan atraksi udara singkat dengan 2 atau 4 F-16?

      Inilah kenapa bagaimanapun argumennya, efek gentar sukhoi itu 100% NIHIL.

      Untuk biaya yg sama, lebih banyak pilot bisa berlatih, dan lebih banyak pesawat bisa mengudara.

      Inilah juga salah satu alasan kenapa Diversifikasi Supplier "Barat-Timur" adalah ide yang JELEK.

      Kita bisa melihat dari contoh peragaan ini, tentu saja barang yang hanya bisa dibeli via Perantara, dari negara yg lebih korup drpd Indonesia, akan menjadi barang favorit.

      Favoritisme ke satu skuadron; dengan sendirinya akan menghisap anggaran dan perhatian dari semua Skuadron lain.

      Dan karena anggaran pertahanan kita, sama seperti Malaysia, sebenarnya sangat terbatas:

      Inilah juga kenapa kita jadi mengoperasikan Angkatan Udara yang tidak bersenjata.

      Delete
  8. Entah kenapa ya Indonesia Hobi Kirim F-16 buat latihan Pitchblack 2018. Sementara Thailand Kirim Gripen mereka utk Pitchblack 2018.

    Oh iya utk IR Missile, US sebenarnya hampir Membeli ASRAAM dari inggris, karena Akhirnya Raytheon memutuskan utk mengembangkan AIM-9X

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa kita selalu mengirim F-16 untuk latihan multi-nasional seperti Pitch Black?

      Dua alasan.

      Pertama, jauh lebih murah.
      Mengoperasikan 6 F-16 masih lebih murah dibandingkan 1 Sukhoi "favorit".

      Kedua, kompatibilitas dengan pesawat, dan perlengkapan negara2 lain.

      Secara operasional, jauh lebih mudah untuk mengintegrasikan F-16 Indonesia dalam setiap jenis latihan bersama dengan F-18, F-16, Gripen, dan tamu Pitch Black 2018; Rafale.

      Toh semuanya berbagi sistem komunikasi, sensor reading, dan persenjataan yg sama (Rafale compatible).

      Sukhoi tidak dirancang untuk bisa mudah mengikuti latihan sistem Barat, yang sifatnya lebih mengutamakan kemandirian taktis, melainkan sebagai pemanjangan tangan dari ground control.

      Operasional tempo-nya juga akan sangat sulit; mengingat pesawat ini manja perawatan.

      Delete
  9. Sub-Artikel Singkat: Membedakan jenis janji POLITIK.

    Kita sudah menjelang Pemilu 2019, dan masing2 Partai / Kandidat sudah mulai ricuh menjual janji-janji untuk bisa memotivasi agar kita bisa memilih mereka.

    Ada baiknya kita memakan sedikit garam terlebih dahulu untuk bisa membedakan jenis2 janji ini:

    1. Janji yang lebih mudah bisa ditepati.

    Janji yang seperti ini kandidat harus siap, fasilitas harus siap, dan tidak ada rintangan luar.

    Janji semacam ini sbrnrnya sangat langka, ttp tergabtung sejarah kandidat, dan upayanya selama ini beberapa janji semacam ini bisa dipercaya.

    2. Janji yang akan dihalangi rintangan luat.

    Kandidat siap, dan fasilitas / infrastruktur pendukungnya juga sudah siap.

    Yang menjadi masalah; biasanya rintangan alamiah, atau resistance dari beberapa pihak luar(yang korup) akhirnya bisa menjegal janji in agar batal.... dan akhirnya mengecewakan kita sendiri.

    Semisal: yang paling mudah adalah andaikata kandidat menjanjikan mengurangi korupsi dibanding periode 5 tahun yg sebelumnya.

    Janji semacam ini repot, krn apa yg namanya korupsi itu selalu bisa mencari celah lain; seperti contoh dalam artikel: mengklaim transaksi barter itu sebagai offset.

    3.Janji yang terlalu muluk, sehingga LEBIH PASTI tidak akan bisa ditepati!

    Misalnya, kalau ada yang berjanji bisa membuat Jakarta bebas banjir.

    FYI, dari jaman penjajahan Belanda saja sebenarnya sudah tercatat kalau Batavia memang rawan banjir, dan sudah beberapa kali kejadian.

    Dengan Jakarta modern sudah semakin padat sesak, dan jalur2 air yang tidak lagi seefesien masa lampau;

    Jangankan rintangan luar, atau tukang sabotase;
    Si penjanji juga sebenarnya tidak siap untuk bisa memenuhi janjinya sendiri. Fasilitas yg ada juga tidak siap.

    Tetapi kalau dalam contoh kasus menangani banjir Jakarta ini, kandidat bisa mengubah posisinya dengan target yang lebih moderat; seperti misalnya melancarkan lajur2 air, dan mengurangi titik banjir; maka janji ini menjadi yg modelnya lebih mendekati tipe pertama, atau sekurangnya tipe kedua.

    4. Tipe terakhir adalah yang paling berbahaya: MENJUAL MIMPI.

    Ini yang namanya mengumbar sesuatu yang mustahil hanya dalan kepentingan sales saja, dan menomorduakan semua kepentingan nasional seperti pada tiga jenis janji diatas.

    Kandidat tidak siap, infrastruktur tidak siap, malah memihak rintangan yg diciptakan pihak luar, dan motivasinya pun salah

    Seperti yang sudah kita bahas disini: Su-35K, dan IF-X adalah contoh murni dari upaya menjual mimpi; tetapi memang sudah diplesetkan untuk memenuhi janji seperti ketiga tipe janji sebelumnya.

    Kalau diteruskan, semua janji keuntungan nasional terjamin nihil, sedang biayanya terlalu muahal sehingga akan terasa sangat pahit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Min,apakah Indonesia akan terbecah seperti Timur Tengah karena ancaman radikalisme?

      Delete
    2. tepat bung dark. Su 35-ifx ini adalah kekecewaan kita yg mendukung kemandirian inhand kita ... Bahkan pancasila pun dimanfaatkan untk kepentingan partai untk hantam lawan politik

      Delete
    3. @Bung Ikhsan
      =======
      apakah Indonesia akan terbecah seperti Timur Tengah karena ancaman radikalisme?
      =======

      Untuk saat ini, jawabannya adalah TIDAK.

      Adalah tanggung jawab kita bersama untuk turut menjaga persatuan Indonesia, dan belajar menerima kalau biarpun orang dari suku, atau agama lain berbeda dengan kita, mereka tetaplah saudara satu negara.

      Kita harus menolak untuk mendengarkan suara2 sumbang yg lebih menjagokan "suku kami", atau "agama kami" lebih hebat dari yang lain.

      Itu namanya hanya mempraktekan Politik Identitas.

      Ini sebenarnya hanya memanipulasi kesamaan suku, atau ras biasanya hanya akan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi, atau beberapa gruo kecil saja.

      Pelajaran lain dari Timur Tengah, dan pengalaman kita sendiri di Aceh, Maluku, dan Papua:

      Senjata itu tidak pernah bisa memecahkan masalah segregasi!

      Paska-1945: Pihak yang lebih kuat, dan hanya mau berbicara dengan senjata; sudah tidak bisa lagi menang.

      Pihak yang menjadi pemenang dewasa ini adalah pihak yang bisa merangkul lawan lamanya, dan menjadikannya sahabat, atau saudara.

      Ini bukan mengalah, tetapi sama2 memenangkan kedua pihak.

      Contoh lain:
      Perhatikan saja Uni Eropa dewasa ini!

      Sebelum tahun 1945; selama ratusan tahun; UK, Perancis, Jerman, dan Russia gemar untuk saling membentuk aliansi, dan kemudian berperang satu sama yang lain.

      Setelah membentuk Uni Eropa; sekarang berapa kemungkinannya Perancis masih bisa berperang dengan Jerman dewasa ini?

      Nihil, bukan?

      Sebelum tahun 1939; mereka bisa berperang setiap 30 - 50 tahun sekali.

      Jerman memang kalah dalam Perang Dunia II, atau konflik imperialisme terakhir, tetapi tidak seperti dalam penyelesaian konflik2 sebelumnya dimana pihak yg kalah terus diperlakukan sebagai lawan; kali ini dalam prosesnya semua negara2 lain malah merangkul dan menjadikannya saudara.

      Inilah pelajaran dari sejarah dunia, dan kenapa kuta harus teguh memelihara, dan menjaga Persatuan Indonesia.

      Delete
  10. Min, kabarnya Kita mau mewajibkan pespur2 nanti yang akan diakuisi agar bisa menggunakan biofuel, apa Gripen bisa pake biofuel ? sama berapa sih unitcost Erieye & Globaleye, kabarnya TNI AU lagi riset untuk pengadaan 4 unit AEWC sejak event Singapore Airshow 2018

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terus terang, kalau melihat keadaan yang sekarang ini;
      Kelihatannya TNI-AU jauh lebih kuat di tahun 1980-1990an dibanding sekarang.

      Di masa itu lebih ada kesadaran kalau anggaran yang tersedia itu sangat terbatas, dan apa yg dimiliki harus bisa dioptimalkan.

      Tidak seperti sekarang: tentu saja semua pesawat tempur bisa dipersenjatai dengan apa yg terbaik dimasa itu.

      Masa dimana belum ada BVR missile, atau offbore-sight WVR missile spt AIM-9X.

      Kebutuhan paling mendasar dewasa ini bukanlah terus menerus membeli platform baru, melainkan:

      1. Merancang bangun Sistem Pertahanan Modern

      Dalam hal ini saja, kita sudah tertinggal 40 tahun vs Singapore, dan Australia.

      Perencanaan ini harus dirumuskan dahulu di atas kertas; menyeimbangkan keterbatasan anggaran, dan kebutuhan bagaimana bisa mengawasi teritorial 2 juta km persegi seoptimal mungkin.

      2. Lebih memprioritaskan jumlah, dan sistem perlatihan pilot / staff pendukung.

      Ini tidak bisa digarisbawahi lebih mendesak lagi: Sumber daya manusia itu JAUH LEBIH PENTING daripada benda mati alutsista.

      SDM tidak bisa menguasai platform, atau lapangan - mau pakai alutsista kualitas sebaik apapun akan mubazir.

      Dan ini kembali ke nol. Apa yang kita sudah miliki saja; kelihatannya penguasaannya masih kurang dibanding semua negara lain.

      3. Tidak kalah pentingnya; kita membutuhkan ratusan AIM-9X, dan AMRAAM C7.

      Mana ada negara yg mengoperasikan F-16 tidak bersenjata, kemudian eh, malah masih mau beli tambah pesawat tempur lagi?

      Bahkan kalau masih mau beli F-16 sekalipun terasa janggal melihat sikon ini!

      Apalagi kalau masih berpikir mau membeli model downgrade yang konsumsi bahan bakarnya 4x lipat lebih boros, dan biaya operasinya bisa 20x lipat, dengan persenjataan versi export yang tak teruji, tidak bisa di-upgrade, dan diprioritaskan dibeli dari BUMN agen perantara negara yg lebih kourp daripada Indonesia.

      Demikianlah kenapa sebenarnya kenapa kita masih belum siap membeli platform manapun; sampai ketiga hal ini terpenuhi terlebih dahulu.

      Kenapa tidak bisa?

      Masakan tidak punya uang?

      Punya cukup 18 milyar kok untuk mengirim 6 Sukhoi untuk melakukan peragaan udara Kemerdekaan(!)

      Ataukah semuanya sedang disisihkan demi kontrak rugi barang downgrade GASAK seperti diatas?

      Seperti kita lihat: ini justru jurus jitu membuat bangkrut, sekaligus jauh memperlemah kemampuan pertahanan udara negara ini.

      Delete
  11. Bung maaf OOT

    Belakangan ini Thailand membeli beberapa alutsista dari China spt tank Vt-4,Yuan class submarine,KS-1c dll
    Pertanyaanya adalah mengapa mereka membeli alutsista dari China? apakah ada kepentingan politik dibalik pembelian tsb atau ada oknum dan apakah aset arhanud yg mereka beli (ks-1c) dapat terintergrasi dgn network yg mereka punya?

    Trims.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertama patut diingat dahulu kalau Thailand dewasa ini tidak lagi bisa dianggap negara yg demokratis, sejak kudeta militer tahun 2014:

      ======
      https://www.economist.com/asia/2018/05/17/thailands-ruling-junta-is-preparing-to-hold-an-election-and-to-win-it
      ======

      Dengan demikian Thailand boleh terbilang sudah memenuhi salah satu dari dua persyaratan utama menjadi customer alutsista Russia, atau PRC, yg tidak mempunyai kebiasaan G-to-G contract:

      Tidak / kurang demokratis, dan / atau negara korup berperingkat tinggi menurut Transparancy International.

      Tetapi tidak seperti Indonesia; paling tidak Thailand tidak mempunyai kepentingan politik yg bertabrakan dengan PRC di laut cina selatan (LCS), atau laut Natuna Utara.

      ========
      Apakah alutsista buatan PRC akan bisa di-Network di Thailand?
      ========

      Hampir bisa dipastikan tidak akan bisa.

      Alutsista versi export buatan Russia, dan PRC tidak dirancang menurut standard default NATO. Programming source code untuk alutsista PRC, atau Russia tidak akan compatible untuk membaca Networking buatan Barat.

      Delete
  12. Di Medsos, 12 unit chinook dtg thn 2019. Tanpa gembar gembor pasokan dari Barat datang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semenjak tahun 2016, sempat ada pembicaraan dengan Boeing mengenai kemungkinan akuisisi CH-47, akan tetapi...

      ======
      http://www.dsca.mil/tags/indonesia
      ======

      Seperti bisa dilihat dari link diatas; jauh ini DSCA belum membuat pengumuman resmi persetujuan akuisisi CH-47.

      Yang menjadi masalah disini re CH-47, lagi2 kita menciptakan duplikasi kompetisi sendiri yang tidak diperlukan untuk kebutuhan helikopter angkut sedang.

      PTDI sudah mendapat ijin license production untuk H225M dimana sampai 65% biaya akuisisi sebenarnya dikembalikan ke ekonomi lokal.

      Eh, masih belum puas... kita sudah kecolongan harus membeli Mi-17, dan Mi-35 import mentah, yang doyan "perbaikan mendalam" di negara asalnya.

      Tentu saja, jangan lupa akan skandal AW101 -- helikopter keempat import mentah yang lagi2 berusaha memenuhi kebutuhan yg sama.

      CH-47 hanya akan menjadi pemain kelima yg tidak dibutuhkan.

      Lebih baik Mi-17, dan Mi-35 juga cepat dipensiunkan, dan digantikan dengan lebih banyak H225M Caracal.

      Ini saja sudah akan menghemat anggaran operasional bisa sampai 80% dibandingkan sekarang.

      Delete
  13. Om DR,

    Seandainya AU beli globalaeye minus radar seaspray (mengingat kita sdh punya banyak pesawat mpa), kira-kira berapa harganya?

    Atau mengikuti langkah uae yg mengupgrade erieye berbasis saab-340 dengan radar berteknokogi GaN, seperti yg dipakai pada globlaeye...berapa estimasi harganya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf, agak sibuk akhir2 ini.

      Semua radar Erieye ER generasi terbaru sekarang sudah standard dengan radar AESA dengan GaN transmitter.

      Kalau kita membeli baru, dan ini memang kebutuhan yg sengaja dikesampingkan dalam nama "Abang Makelar sukhoi GASAK", maka inilah produk standard yg akan ditawarkan Saab.

      Untuk estimasi harga; sekali lagi tergantung paket yg dinegosiasikan.

      Kalau 2 Erieye ER dngn platform Saab-340 (second hand) yg lebih murah, dipadukan dengan pembelian / produksi lokal 16 Gripen-C MS-20:

      Estimasi kasar: harga paket bisa jatuh antara $1,8 milyar - $2 milyar.

      Jangan lupakan juga kalau mengingat kurs tengah US$ terhadap Rupiah sudah melonjak menembus Rp15000; paket Saab harganya justru akan semakin murah.

      Kontrak dengan Saab Swedia, sama seperti di Brazil, sebenarnya bisa di-ttd dalam mata uang SEK, yg nilai tukarnya lebih bersahabat.

      Delete
    2. Om, kalau misal budgetnya bisa diexten...

      Erieye-ER pake platform EMB-145 kira2, kena berapa harganya (16 gripen+2 erieye-er)

      Btw, ini kosongan belum termasuk rudal dan asesoris? Dan TOT nya dapat apa om?

      Delete
    3. UAE meneken kontrak untuk 2 Globaleye berbasiskan Bombardier Global 6000 senilai $1,2 milyar.

      AEWC berbasiskan pesawat jet, baik Global6000, atau EMB-145 yah, harganya akan jauh lebih mahal.

      Bukan tidak perlu, tetapi tidak seperti para oknum PKI pro-Sukhoi, kita harus realistis dengan keterbatasan anggaran yang tersedia.

      ## Untuk paket ToT ini sepenuhnya tergantung kesepakatan, dan perencanaan yang menyeluruh dari awal hingga seterusnya.

      Sejauh mana kita mau belajar?

      Sejauh mana tehnologi yang mau kita serap?

      Dan sejauh mana komitmen kita?

      Mereka yang membenci kontrak G-to-G berporensi akan menjadi penghalang utama disini.

      Delete
    4. Kontrak persenjataan harus dinegosiasikan terpisah.

      Masalah utama kita; 23 F-16 Block-25+ masih belum dipersenjatai.

      Sedangkan 10 Block-15 tahun 1980-an sudah tidak lagi compatible dengan persenjataan generasi terbaru -- kalau tidak melalui program MLU Upgrade terlebih dahulu.

      Logika disini memaksa kita untuk terlebih dahulu membeli ratusan, ya, sekali lagi RATUSAN AIM-9X dan AMRAAM C7 terlebih dahulu.

      Kemudian kita HARUS meng-upgrade 10 F-16 Block-15 untuk memberikan kemampuan modern.

      Kenapa Gripen menjadi pilihan baik masa depan?

      Apapun juga yg bisa dipasang ke F-16 sudah compatible ke Gripen dari awalnya; dan karena Gripen bukan model downgrade, sedang US tidak seperti Russia tidak pernah menjual missile versi export;

      Gripen yg dipersenjatai AIM-9X dan AMRAAM akan bisa dua - tiga kali lipat lebih efektif dalam segala hal dibanding F-16 Block-25+

      Lebih menjunjung kedaulatan negara;

      Dan lebih murah untuk dioperasikan.

      Delete
  14. bung dark ,beberapa hari lalu ,pilot Tni Au mencoba Rafale di halim . Menurt pilot Tni Au , salah satu kelebihan rafale lebih hemat bbm dngan 3 tangki dibandingkan su 35 , sejauh 3700 km.tanpa henti dari darwin ke jakarta bhkan bila perlu sampai malaysia..tentu bisa ditebak fansboy su 35 rame rame tidak terima

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, inilah kenyataan selanjutnya:

      Sukhoi GASAK sebenarnya pespur yang paling BOROS bahan bakar!

      Tidak ada tandingannya;
      internal tangki Flemon-35 (11,500kg) saja kapasitasnya hampir 2x lipat dari F-15 (6,150kg), untuk jarak jangkau yg sebanding.

      Untuk kapasitas bbm yg sama (berapa liter sekalipun), jarak jangkau F-16, dan Gripen akan EMPAT KALI LIPAT Su-35 Gasak!

      Tentu saja seperti kita bisa lihat sendiri:

      ... para Sukhoi Fanboyz mempunyai kewajiban untuk tidak mencela produk para atasan mereka, dan membela sebisa mungkin produk downgrade yg sudah bisa dipastikan GASAK.

      Delete
  15. https://jakartagreater.com/china-sesumbar-j-10c-unggul-dari-su-35sk/

    "Testimoni cina tampaknya sanggup mematahkan mitos kesaktian sukhoi 35...dan cina kelihatan telah memetik manfaat yg sangat besar ketika berlatih dg gripen rtaf dg melakukan pembenahan sektor avionik dan hmd pd pespur su-27 KW mereka"

    Btw, apakah nilai penawaran bundling gorden+erieye er sudah diserahkan ke kemhan om?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sistem perlatihan dan operasional Gripen sebenarnya tidak compatible dengan sistem ground control PRC atau Russia.

      Meragukan kalau PRC bisa belajar banyak dari latihan dengan Gripen RTAF, yang hanya sekali.

      Kalau membandingkan antara avionic PRC vs Su-35 Versi Export yg mereka baru beli:

      Ya, memang kelihatannya avionic dalam negeri PRC kualitasnya sudah lebih unggul dibanding versi Kommercheskiy.

      Sudah pengetahuan umum kalau Sukhoi manapun yg dioperasikan PRC sebenarnya sudah diobrak-abrik luar-dalamnya dan dipasangi berbagai perangkat lokal.

      Makelar resmi Rostec dan biro penjualan Rosoboron tidak bisa berbuat apa2, walaupun seharusnya modifikasi semacam ini tidak diperbolehkan untuk negara lain.

      Kelihatannya pernyataan kalau J-10C bisa lebih unggul dari Su-35KK mereka mulai menunjuk ketidakpuasan.

      Tidak akan lama sebelum mereka juga memodifikasi Su-35K mereka menjadi versi PRC.

      Jangan heran kalau dalam beberapa tahun, kita bisa melihat J-19, atau produksi lokal tanpa ijin dari Su-35.

      Delete
    2. Pada 27-Juni-2016 yang lampau, pemerintah Swedia sudah menawarkan dalam kontrak G-to-G untuk:

      16 Gripen-C MS20 dengan jaminan ToT dan ijin perakitan lokal; senilai $1,14 milyar.

      Nah, tetapi seperti kita bisa lihat sendiri:

      Kita kelihatannya lebih memilih transaksi dengan "Abang makelar Sukhoi" non G-to-G, tanpa ToT, dengan transaksi barter yang "menguntungkan", dan hanya untuk jumlah.... 11 unit yg akan menjamin biaya OP sekurangnya 400% lebih mahal daripada di PRC, atau di motherland Ruski.

      Transaksi dengan negara yg lebih korup daripada Indonesia, dibanding dengan supplier dari negara yang paling bersih dari korupsi -- menurut Transparancy International.

      Delete
  16. menurut tim pilot TNI AU yang ikut pitchblack di darwin. Rafale sangat superior . TNI AU sendiri mengirim F16 ,knpa gak ngirim sukhoi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus kembali diingat, kalau F-16 Block-25+ TNI-AU secara spesifikasi memang sudah jauh lebih inferior dibandingkan F-16 RSAF, F-18D RMAF, atau F-18A/F Australia.

      Mesin masih PW200, radar versi pertama dari APG-68, tidak ada Nerworking, tidak ada Helmet Mounted Display, dan tentu saja.. masih belum pernah berlatih dengan AMRAAM, atau Sniper targeting pod.

      Jumlah jam latihan-pun sudah berkurang karena semua kasih cinta diberikan kepada Sku-11.

      Pesawat tempur Barat manapun akan selalu menjadi terasa lebih unggul.

      Kenapa kita sudah tidak bisa lagi mengirim Sukhoi semenjak 2012?

      Di tahun 2012 sewaktu itu, semua unit Sukhoi yg dikirim masih bau pabrik. Masih baru. Masih sehat walafiat.

      Sekarang... kalau masih mengirim, yah, bisa2 pulangnya mesti dijemput pakai Antonov.... langsung ke motherland Ruski.

      Biaya operasionalnya, kalaupun tidak rusak sekalipun terlalu mahal.

      Lebih murah mengirim 7 F-16 ke Australia, dibandingkan hanya 1 Sukhoi. Tentu saja, terjamin tidak akan mogok sewaktu latihan.

      Terakhir, biar bagaimanapun juga F-16 Block-25+ masih jauh lebih unggul dibandingkan Sukhoi SKu-11.

      Situational Awareness ke pilot, jam latihan, kemudahan operasional, dan tidak tersedianya persenjataan versi export -- memastikan keunggulan F-16.

      Kita hanya akan kehilangan muka kalau masih berpikir untuk mengirim Sukhoi ke Australia.

      Delete
  17. Utk chinook, apabila dsca blm memberi persetujuan, apakah msh ada masalah? Khawatirnya spt AW 101

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masalahnya disini: Kita tidak membutuhkan Chinook.

      1. Jumlah tipe helikopter angkut kita sudah terlalu banyak, dan masalah utamanya:

      2. Seharusnya kita memprioritaskan produk yang PALING memberikan keuntungan nasional: Airbus Helicopter H225M. Produksi lokal, pengalaman kerjasama puluhan tahun, dan mengembalikan nilai harga beli kembali ke ekonomi lokal.

      Perbedaan Chinook vs AW101:

      Pemerintah US justru mau menjauhi skandal "agen sales" seperti di tahun 1950-1970an. Karena itu semua kontrak dengan industri pertahanan US harus dinegosiasikan dalam skema G-to-G.

      DSCA adalah cabang sipil Pentagon yang mengurus kontrak G-to-G untuk semua negara importir.

      Sedangkan penjualan AW101.....yah, sama seperti Sukhoi GASAK, dilakukan melalui para agen sales perantara.

      Jadi yah, kecuali pemerintah mengambil keputusan tidak cukup puas dengan H225M produksi lokal, para agen sales tidak bisa main gila seperti AW101.

      Delete
  18. Om, langit suriah kembali dibobol oleh pesawat f-16 israel, padahal sudah dijaga ketat oleh trio senjata pamungkas andalan rusia yaitu SU-35, S-400 dan pantsyr....dimana lagi ini masalahnya, sampe2 pesawat teman sendiripun dibabat oleh tentara suriah?

    ReplyDelete
  19. News Update, seperti disinggung @smilinghari di atas:

    Pesawat ELINT (Electronic Intelligence) Il-20 AU Russia baru saja jatuh 17-Sept-2018... lebih tepatnya tertembak jatuh SA-200 Syria sendiri, 35 km dari Hymemim AB

    .... dan Russia menyalahkan keterlibatan 4 F-16 Israel yang sedang menyerang target di daerah Latakia.... dan juga sempat menyalahkan fregat Perancis, Auverne, yang juga beroperasi dekat daerah yg sama.

    Link: BBC News, 17-Sept-18

    Dan The Aviationist

    Yang menarik disini, kelihatannya Russia pertama2nya tidak menyadari kalau Il-20 mereka tertembak jatuh sendiri oleh kawan baik mereka.

    Justru sebaliknya, US Centcom justru sudah terlebih dahulu memberitahukan kalau yg menembak jatuh adalah SAM dari arah Syria.

    Ini seperti iklan terbalik - kelihatan kalau Russia belum menguasai Situational Awareness sebaik sistem Barat yang sekarang sudah ditempa pengalaman puluhan tahun.

    Berkaitan dengan ini -- fracticide, atau menembak kawan sendiri -- sbnrnya memang kejadian yg sering terjadi dalam konflik.

    Sebelumnya, salah satu kill AMRAAM F-15C adalah terhadap UH-60 Blackhawk.

    NATO sudah, dan terus belajar dari pengalaman semacam ini. IFF system mereka semakin baik, dan sejak insiden UH-60 tadi, mereka belum menembak jatuh pesawat sendiri.

    Terakhir, untuk pesawat ELINT di daerah konflik terbuka... kelihatannya Il-20 ini juga tidak menyadari kalau sudah di-lock hostile missile.

    S-200 Syria memang sedang mencoba menembak F-16 Israel, dan entah apakah missile ini kemudian salah kunci, dan mem-lock Il-20, ataukah Ground Control Syria memang "salah target".

    Untuk rata2 pesawat NATO yg beroperasi di sana, layar RWR, dan proximity missile warning mereka akan memberitahukan pilot kalau sampai terjebak dalam kondisi yg sama.

    Seperti dicatat Aviationist, AU Russia sudah kehilangan 58 awak mereka yg berpengalaman... sejauh ini di tahun 2018; termasuk 2 crew Su-30SM yang jatuh ke laut karena kerusakan tehnis tempo hari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Update:

      BBC Link: Jawaban Israel: "Itu adalah kesalahan Syria sendiri."

      Keempat F-16 Israel sudah kembali memasuki wilayah udara Israel ketika Il-20 itu tertembak jatuh.

      Pihak Russia sendiri juga kelihatannya sedikit menarik diri dari pernyataan sebelumnya.

      =====
      Russia initially blamed "irresponsible" Israeli actions, but President Vladimir Putin said on Tuesday it was "a chain of tragic accidental circumstances".
      =====

      Pendapat analisis dari BBC:
      Ada perbedaan besar antara RCS Ilyushin raksasa dengan 4 baling2 yg terbang lambat; dengan F-16 yang jauh lebih cepat, dan lebih kecil.

      Ini seharusnya mudah dilihat di radar.

      Kedua, bukankah Syria seharusnya tahu kalau Il-20 sedang terbang di daerah sana?

      Sekali lagi, ini menggarisbawahi kurangnya situational awareness.

      Delete
  20. Bagi yang masih mengagungkan alutsista buatan Russia, kita patut memahami terlebih dahulu, kalau:

    Russia BUKAN LAGI Uni Soviet, dan dengan demikian tidak lagi mempunyai kemampuan yg sebanding dengan masa Soviet.

    Uni Soviet mengambil peran politik luar negeri sebagai guru besar paham komunisme yg menjadi pesaing paham demokrasi, sedangkan...

    ....Russia bukan lagi komunis, atau demokrasi; melainkan menganut pemerintahsn bergaya "Orde baru Indonesia".

    Pada puncaknya, ukuran PDB Soviet masih bisa bersaing dengan PDB Amerika Serikat. Mereka juga mengalokasikan 25% dari PDB mereka untuk pengeluaran militer.

    Russia mewarisi 85% wilayah Soviet, tapi kurang dari setengah populasinya, dengan ukuran ekonomi PDB yg masih lebih kecil daripada Italia, dan Canada. Hanya 5% APBN mereka bisa dialokasikan untuk anggaran pertahanan, dan masih terus berkurang tahun ke tahun, semenjak diberlakukannya sangsi ekonomi Barat setelah Krimea (2014), dan anjloknya harga minyak dari titik puncak $100 / barrel.

    Russia juga menduduki peringkat 141 dalam index korupsi CPI dari Transparancy International, dan dengan demikian dapat dinyatakan lebih korup dibandingkan Indonesia.

    Akibatnya, yah, anggaran pertahanan yg sudah smkn menciut semakin termakan korupsi juga.

    Akibatnya, yah, mereka juga tidak punya cukup anggaran bahkan untuk menyelesaikan proyek / memproduksi PAK-FA atau Armata: dua proyek yg sbnrnya tidak sesuai dengan keterbatasan dana mereka sendiri paska masa Soviet.

    Jangankan berbicara proyek2 lain; Russia juga masih belum berhasil memproduksi AESA radar, atau BVR missile yg kualitasnya bisa bersaing dengan AMRAAM, yg skrg keduanya sudah memasuki generasi keempat.

    Embargo kerjasama industri militer Barat justru akan semakin memupus kemungkinannya industri Russia masih bisa membuat "tehnologi yg bersaing".

    Semua kesulitan Russia di Syria, seperti kehilangan lebih banyak alutsista, dan personil dibandingkan NATO; hanyalah cerminan dari semua kesulitan internal mereka sendiri.

    Jadi sekali lagi jangan bermimpi:
    Sukhoi Su-35 Versi Export, yg sudah ketinggalan jaman, tidak bisa di-upgrade, dan biaya operasional selangit....

    .... tidak akan bisa mengalahkan F-16 Block-25+ hibah Obama, KALAU dipersenjatai AIM-9X dan AMRAAM C-7. Apalagi kalau mendapat beberapa upgrade lain yg entah kenapa... terlewatkan dahulu kala.

    Perbedaannya saja sudah terlalu jauh.

    ReplyDelete
  21. News Update 21-September-2018:
    Amerika Serikat menerapkan SANGSI terhadap militer PRC atas pembelian alutsista dari Russia (CNN)

    Seperti sudah disebut sebelumnya dalam artikel ini:
    ======
    The US imposed sanctions Thursday against China's military for its purchases of Russian military equipment in a move US officials said is meant to punish Moscow for its "malign activities," including attacks on American elections.
    "Today's actions are not intended to undermine the military capabilities or combat readiness of any country," the State Department said in a statement, "but rather to impose costs on Russia in response to its interference in the United States election process, its unacceptable behavior in eastern Ukraine, and other malign activities."
    =====

    Amerika Serikat sedang menghukum Russia dengan CAATSA, bukan menghukum negara lain.

    Tidak akan ada pengecualian kalau kita meneruskan "kontrak (rugi)" untuk 11 barang downgrade versi export.... yg sudah kuno, dan dalam waktu kurang dari 10 tahun TERJAMIN akan harus dikirim balik perbaikan mendalam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lagipula... kalau kita berpikir melalui "otak dagang" untuk perdagangan internasional; mengambil resiko untuk sangsi Amerika Serikat hanya demi beli 11 barang versi haram.... semakin tidak masuk akal!

      Nikai perdagangan internasional kita dengan Russia bahkan tidak bisa mencapai $200 juta per tahun.

      Sedangkan dengan US, Jepang, dan Australia nilainya milyaran $$$ per tahun.

      Tentu saja neraca perdagangan luar negeri kita masih surplus.

      Nah, sekarang logika Departemen Perdagangan seperti dalam artikel:

      "Kita akan mencoba mendapat pengecualian CAATSA, dan merelakan komoditas untuk dibarter "50% nilai transaksi" 11 barang dagangan downgrade untuk export."

      50% ini sendiri dalam tanda kutip karena nilai barang /kg harus diketok LEBIH RENDAH dari harga pasar!.

      Buat apa merelakan komoditas untuk partner dagang yg nilainya kecil, dan mengambil resiko sangsi CAATSA?

      Sedangkan nilai perdagangan dgn Amerika Serikat, Australia, dan Jepang nilainya ratusan kali lebih besar, dan jauh lebih mempengaruhi ekonomi kita.

      Hayo, apa motivasi dan imbalannya untuk cara pikir mendukung barter?

      Logika dagang sih, ora nyambung.

      Delete
    2. Tambahan: Kenapa transaksi barter rugi utk 11 barang versi haram harus dibatalkan!

      Nilai tukar US Dollar terhadap semua mata uang (tidak hanya Rupiah)... sedang melonjak naik.

      Insentifnya seharusnya lebih besar justru untuk menjual barang export dalam nilai jual US Dollar; selagi import mentah nilainya akan menurun karena harga semakin mahal.

      Dalam transaksi barter;
      komoditas bernilai $1 milyar (harga ketokan) itu akan dihargai dengan nilai NIHIL.

      Dan... jangan lupa proporsi cash yang juga dalam US Dollar untuk 50% nilai transaksi.... yg tentu saja juga akan berbuntut sangsi CAATSA yg lain.

      Seperti bisa dilihat "kontrak" ini sudah siap merugikan negara dari awal.

      Jauh lebih rugi lagi kalau tagihan biaya operasional, dan "perbaikan mendalam" dalam US Dollar + Komisi agen perantara mulai mengetuk pintu.

      Logika.

      Delete
  22. Min, Korsel kan juga punya beberapa alusista buatan Rusia. Jika dilihat dari kemampuaanya apakah kemampuan mereka sama atau lebih baik daripada produk Korsel sendiri?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, tetapi hanya AD Korea yg memakai alutsista buatan Russia.

      Ini sebenarnya untuk pembayaran hutang masa Soviet. Jumlahnya sendiri terlalu sedikit, dan kecil kemungkinannya akan ditaruh di garis depan; kemungkinan lebih dipakai dalam latihan.

      =====
      https://en.m.wikipedia.org/wiki/List_of_equipment_of_the_Republic_of_Korea_Army
      =====

      Untuk alutsista laut mereka sudah memproduksi kapal sendiri dengan perlengkapan /persenjataan dari US / Eropa.


      Sedangkan untuk Alutsista Udara, mustahil untuk Korea membeli dari negara manapun kecuali dari Amerika Serikat.

      Delete
  23. Kabarnya F22 di lock SU 35 bung..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini sebenarnya keterlanjutan dari yg sudah pernah dibahas disini:

      =====
      Klaim Su-35 "mengusir" F-22 di Syria
      =====

      Tentu saja klaim ini sendiri.... sama sekali tidak ada kebenarannya.

      Seperti dilaporkan Business Insiders:

      Hal ini tidak pernah terjadi.

      Pilot F-22 sudah dapat melihat Su-35 dari sejak lepas landas dari Hymemim AB.

      Logika sederhana.
      Kalau kita bisa melihat lawan jauh sebelum lawan bisa melihat kita, dan kita bisa menembak jatuh lawan itu; kenapa lantas mendekat untuk memberi kesempatan lawan "melihat" kita?

      Tidak masuk akal, bukan?

      Gambar ini sendiri... kemungkinan juga tidaklah asli.

      Terakhir, tanpa sengaja ini juga memberitahukan lagi satu kelemahan su-35:

      OLS-35 IRST, kalaupun bisa melihat target, tidak mempunyai kemampuan untuk mengunci target dengan missile.

      Ya, OLS-35 bukanlah bagian dari Sensor Fusion, seperti di F-35, atau ketiga Eurocanards. Keempatnya dapat mengunci target secara pasif. Su-35 tidak bisa.

      Jarak jangkau OLS ini juga terbatas... hanya 25 km dari arah depan untuk target raksasa seukuran Su-30 yang tidak mempunyai pengurangan IR signature.

      Keterbatasan hardware saja sudah tidak memungkinkan kalau su-35 versi lokal dapst melihat F-22 di IRST, kecuali jaraknya luar biasa dekat.

      .... apalagi yg versi export downgrade, dengan OLS versi haram.

      Delete
    2. Tambahan re Pertempuran jarak dekat.

      Pada masa Perang dunia II, dalam pertempuran udara di Eropa -- biasanya pesawat tempur baru akan menyerang dari arah belakang, atau dari atas formasi pesawat lawan.

      Ini terus berulang kali terjadi... pesawat tempur yg menyergap...sangat jarang untuk mencoba mencegat lawan dari depan. Selalu dari arah yg tak terduga agar lawan tidak sempat bereaksi.

      Bagaimana caranya bisa menyerang dari belakang, atau atas formasi lawan?

      Situational Awareness.

      Radar sudah memberitahukan ketinggian, posisi, dan arah lawan; kemudian dapat memandu pespur untuk menyergap dari awarh yg tak terduga untuk kerusakan yg maksimal.

      Setiap artikel skenario yg dibayangkan bagaimana su-35 "bisa menandingi" F-22, selalu membayangkan seolah2 kedua pesawat datang berhadapan dari arah depan, dan kemudian mengadu manuever.

      Ini asumsi salah yang berbahaya.

      Angkatan Udara Modern yang baik, dengan pilot yg terlatih akan selalu memprioritaskan Situational Awareness untuk bisa menempatkan pesawat tempur mereka dalam posisi yang paling optimal untuk menembak jatuh lawan.

      Dari belakang, atau dari samping.

      Ini bukan tindakan pengecut, melainkan prosedur standard untuk memenangkan pertempuran udara.

      Nyawa pilot jauh lebih berharga dibanding "unjuk gigi" lawan keras lawan keras.

      Tembak lawan dahulu sebelum mereka mempunyai kesempatan untuk menembak kita.

      Delete
  24. Russia ngotot israel bertanggung jawab atas tertembakny pesawat IL 20 rusia , mereka beraalasan punya data dari s400 di syiria , mereka mengatakan israel sengaja menjadikan IL 20 sebagai tameng, dan jg rudal yg ditembakan s200 lgsung mengubah arah ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya.

      Jawaban Centcom dan Israel: biasanya SAM Syria menembak membabi buta setelah serangan udara lawan selesai.

      Masih ingat sewaktu Trump mengirim hujan cruise missile, dan Syria / Ruski mengklaim banyak cruise missile tertembak jatuh?

      Ini tidak pernah terjadi. Selain secara tehnis mencoba menembak jatuh cruise missile yg terbang rendah itu hampir mustahil;

      ...semua SAM Syria sebenarnya menembak target kosong setelah serangan selesai.

      Israel sudah menjelaskan kalau ternyata SAM operator Syria menghujankan sekurangnya 20 missile terhadap Il-20.... setelah F-16 sudah menyelesaikan serangan mereka.

      Tidak bisa menguasai situational awareness; tetapi mereka harus kelihatan seperti seolah2 sudah berbuat sesuatu.

      Delete
  25. Satu lagi perbedaan antara Sistem Barat vs sistem tradisional spt dipraktekan Ruski:

    Pihak yg lebih unggul akan selalu lebih cenderung untuk bisa mengakui kesalahan sendiri terlebih dahulu.

    Ini sebenarnya pelajaran yg sangat sulit, walau sekilas terdengar sederhana.

    Kalau diri sendiri tidak pernah mengakui kalau sudah berbuat kesalahan, berarti sudah 100% sempurna, bukan?

    Tidak ada yg perlu diperbaiki!
    Kita sudah 100% terjamin huebat!

    Semua salah orang lain!

    Ini cara berpikir yg salah. Tidak ada dalam dunia yg sempurna, kecuali kalau dalam benak mimpi kita sendiri.

    Justru sebaliknya: Kita seharusnya tidak pernah berhenti instrospeksi, dan kemudian terus mengkoreksi diri sendiri.

    Kesalahan yg sudah terjadi kemarin justru harus dipelajari / dipahami, dan kemudian mengkoreksi prosedur yg sama di masa depan.

    Kalau tidak ada self-check, kita hanya akan terjebak dalam "lingkaran setan" mengulangi kesalahan2 yg sama berulang kali, bukan?

    Israel mengambil pelajaran pahit antara tahun 1969 - 1973; kesulitan untuk menghadapi SAM system buatan soviet.

    Di tahun 1982, mereka dapat membalikan permainan dan memporak-porandakan sistem Soviet ini... yg justru sudah merasa sudah huebat sejak tahun 1969.

    Sejak tahun 1982, tidak ada pespur Israel yg bisa tertembak jatuh SAM Soviet, sampai F-16I yg terjebak tahun lalu.

    Ini juga, kembali, Israel mempelajari kesalahan2 mereka; bagaimana Block-52+ yg ultra-modern bisa sampai rusak oleh SAM tahun 1970-an.

    Sebaliknya, Ruski / Syria malah sibuk mengklaim kalau dengan SAM system tahun 1970-an / 1980-an malah bisa menembak jatuh cruise missile yg terbang rendah hanya beberapa meter dari permukaan laut... dan dengan RCS yg juga sangat kecil, hampir tidak akan bisa terlihat radar darat sampai sudah terlambat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, kembali ke topik....

      Inilah kenapa warisan kebiasaan dari jaman Soviet:

      ... sama seperti Su-30MKM, TERJAMIN TIDAK AKAN ADA UPGRADE sepanjang hidup semua sukhoi Gasak edisi anti-komunis Indonesia.

      Untuk apa?

      Dengarkan saja argumen para juru bicara agen sales mereka: para fanboyz!

      su-35 versi export.... sudah perfectttt....

      F-22, F-35 semuanya gampang bisa dikalahkan... dengan tehnologi 2005 versi export, dan fitur gasak utk biaya OP yg muahal.

      Kita akan menjadi HUEBAT sepanjang masa!

      Tidak perlu pusing hari esok!

      ...tanpa perlu investasi pembangunan sistem yg bisa beradaptasi sesuai perkembangan jaman, AEW&C, Networking, investasi jam latihan mnrt sistem modern, atau pembangunan industri lokal utk kemandirian.

      Logika: masuk akal, atau tidak?

      su-35 stronnnggggg

      Delete
  26. Untuk informasi anda, perangkat yg anda bahas ini bukan perangkat mandiri. Baik OEPS-27 dan OLS itu sendiri terhubung dengan radar. Fungsi perangkat ini hanya sebagai pembidik sasaran menggantikan HUD berdasarkan emisi panas yang di hasilkan saat dog-fight. Sedangkan untuk mengetahui posisi pesawat lawan pesawat apapun masih tetap mengandalkan radar karena Jarak terjauh objek yang dapat di tangkap/di sapu mata manusia adalah 3.1 mil atau 5 kilometer. Adalah mustahil untuk mengandalkan OEPS 27 atau OLS untuk memindai posisi rinci suatu pesawat di langit yg luas. Karena itu perangkat ini hanya berguna untuk penggunaan senjata jarak dekat seperti canon dan rudal pencari panas. Tolong di koreksi. untuk sumber informasi anda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari artikel Business Insiders:
      =========
      https://amp.businessinsider.com/photos-russian-su-35-pilot-f-22-dogfight-2018-9
      =====
      Russia has long mocked the US's stealth jets and claimed an ability to defeat them in combat. But while Russia can spot US stealth jets by looking for heat and not radar signature, that's very different from being able to shoot them down.

      Even if the images are genuine, "it doesn't alone suggest that the Su-35S is reliably capable of detecting and intercepting the F-22," Justin Bronk, an air-combat expert at the Royal United Services Institute, told Business Insider.

      "Furthermore, the F-22 will have been aware of the Su-35's presence since the latter took off, so it isn't really any indication of a diminishment of the F-22's combat advantage," he said.

      "IRST systems can be used to detect and potentially track stealth aircraft under specific conditions," Bronk said. But that "doesn't mean that they are anything approaching a satisfactory solution to the problem of fighting against such targets, as they have limited range compared to radar and are vulnerable to environmental disruption and degradation," he added.

      In essence, he said, an F-22 would have seen the Su-35 long before the Russians saw the American, and the S-35 most likely spotted the F-22 only because it flew up close in the first place.
      ======

      Tambahan:

      IRST di semua pespur Russia BUKAN bagian dari Sensor Fusion.

      Pembuatnya sendiri tidak pernah mengklaim kalau pak-fa, atau Su-Flanker manapun mempunyai sensor fusion sebagaimana Eurocanards, F-35, atau nantinya, F-18SH Block-3 dengan Legion Pod IRST.

      Dalam Sensor Fusion: radar, IRST, RWR, dan IFF terintegrasi untuk dapat membuat gambaran target yg jelas ke pilot.

      Sensor Fusion tidak hanya semata mengandalkan IRST sebagai pemandu utama. Justru sebaliknya, IRST adalah bagian dari sarana input deteksi dalam sensor fusion. Pesawat dengan Sensor Fusion memungkinkan untuk mengunci pesawat stealth dari jarak yg lebih jauh, dan dengan tingkat akurasi yang jauh lebih tinggi.

      Seperti bisa dilihat dari komentar Justin Bronk:

      IRST ruski tidak bisa bekerja seperti bagian dari sensor fusion, tetapi sifatnya adalah perangkat deteksi yg independent.

      F-14 Tomcat-pun sebenarnya membawa AN/ASN-130 IRST dibawah moncongnya. Tetapi ini bukan Sensor Fusion, melainkan perangkat untuk melihat target secara independent lepas dari bantuan radar.

      Delete
    2. Apa perbedaan utama pesawat yg bisa membawa IRST vs pespur modern dngn Sensor Fusion?

      Jutaan baris programming Source Code di belakang layar.

      Taruh kata, misalnya, KF-X membawa juga membawa IRST.... Pirate-E dari Eurofighter Typhoon:

      Apakah kemampuan deteksi KF-X akan bisa menandingi Typhoon?

      Jawabannya, yah, tidak akan bisa. Typhoon akan tetap jauh lebih unggul.

      Perbedaan disini adalah kemampuan menulis code untuk mengintegrasikan semua sarana input tersebut.

      Sensor Fusion itu sama seperti kita manusia yg misalnya, merasakan harumnya makanan, tekstur makanan tsb, dan kemudian saat memakannya; merasakan betapa gurih atau berbagai macam rasanya.

      Tanpa sensor fusion: seperti hidung mencium bau harum, tetapi kita tidak bisa punya kemampuan untuk merasakan enaknya makanan.

      Atau bisa merasa manis-asin, tetapi tidak mencium bau apapun.

      Delete
    3. Sewaktu tehnologi untuk Su-35S dikunci sebelum tahun 2015;

      Sensor Fusion itu masih dalam tahap perkenalan dalam pespur Barat.

      Salah satu persyaratan Fusion adalah AESA radar yg kemampuannya jutaan kali lebih efektif vs radar doppler / PESA.

      Tentu saja, IRST buatan Selex atau Thales kemampuannya juga.... jauh lebih unggul vs OLS-35. Jarak jangkau mencapai 90 km head-on, atau 165 km dari belakang -- dengan planar array yg lebih sensitif. Tentu saja, programming-nya juga lebih baik.

      Delete
  27. Sebagaimana sudah diprediksi sebelumnya;

    USAF baru saja mengumunkan kalau Boeing /Saab T-X memenangkan kompetisi trainer pengganti T-38

    =====
    https://www.defensenews.com/breaking-news/2018/09/27/reuters-air-force-awards-9b-contract-to-boeing-for-next-training-jet/
    =====

    Nilai kontrak $9,2 milyar.

    Ini tidak mengherankan.

    Boeing T-X adalah satu2nya yg clean sheet design, dan bukan pesawat import yg sudah diproduksi di luar negeri; seperti T-50 di Korea, atau T-100 (M346) di Italia.

    Boeing mendapat keunggulan utk menyerap banyak masukan Saab, yg memang adalah produsen yang terdepan dalam merancang sistem pespur untuk biaya development / maintenance, dan juga bisa menjamin kemudahan maintenance.

    .... tentu saja, di kemudian hari; Boeing T-X seharusnya adalah pesawat trainer yg ideal utk kelak menggantikan T-50, yg tanpa radar, dan Hawk-109 di Indonesia.

    ReplyDelete
  28. Admin ada yang bilang megaproyek KFX/IFX itu overambisius & berpeluang kandas dari pihak Indonesia tapi ada juga yang bilang Exit plan buat industri dirgantara Indonesia harusnya dimulai dari fighter trainer yang lebih sederhana kayak KAI & LM T-50 atau Boeing SAAB T-X kalau perlu sampe 5 - 6 skuadron beragam varian. Itu menurut admin, bagaimana ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. KF-X tidak hanya terlalu ambisius untuk Indonesia, tetapi juga untuk Korea.

      Ambisi tanpa kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman, yah, sudah pasti menggali kubur sendiri.

      Pembangunan industri pertahanan Indonesia, khususnya PTDI, sudah saatnya mengikuti jalur yg sudah dipelopori banyak negara lain.

      License production pesawat tempur modern, sekaligus menyerap alih tehnologi, dan membangun kerjasama mendalam dgn pembuat.

      Saab Gripen ada dalam posisi terdepan dalam hal ini.

      Delete
  29. Besok HUT TNI, tdk ada fly pass 2 SU 35 Bung. ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kontrak Su-35 Versi downgrade edisi anti komunis... memang sudah bisa dinyatakan sudah wafat.

      Selain kita harus lebih memperhatikan menolong, dan restorasi akibat bencana alam di Lombok, dan di Palu...

      ... ancaman sangsi CAATSA...

      ... kekacuan yg pasti terjadi akibat transaksi barter,

      Abang tukang Sukhoi juga mulai menimbang kalau resiko penjualan semakin tinggi semakin mendekati pemilu. Apa yg disetujui skrg, bisa dipertanyakan lagi stlh pemilu.

      Delete
  30. Bung di merdeka.com ada pespur asing masuk, mgknkah dari china....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurutku itu f-18 milik us navy yg berpangkalan di kapal induk yg sedang berlatih di LCS bersama unsur FPDA...

      Pesawat tempur milik negara tetangga yg potensial melakukan pelanggaran batas udara di natuna adalah malaysia...dan itupun pergerakannya ketika masih berada diruang udara malaysia bisa terpantau sejak dini oleh radar thompson dan radar weibel yg ada di natuna.

      Selama ini negara2 tetangga kita, bahkan cina memiliki etiket yg baik ketika melintas ruang udara kita...justru militer amerika yg negara super power inilah yg paling sering kedapatan melakukan black flight diruang udara kita

      Delete
    2. Pengawasan akan selalu sulit, dikarenakan beberapa hal:

      1. Black flight tidak akan menyalakan transponder. Kita hanya bisa menebak itu siapa?

      2. Fasilitas radar kita juga tidak mempunyai kekebalan terhadap serangan elektronik, dan tidak tekoneksi dalam network.

      Tehnik paling mudah yg tanpa merusak, adalah menciptakan beberapa false ping, membuat seolah2 ada yg masuk padahal mungkin tidak.

      3. Masalah pengawasan; kalaupun ada pespur, response time dan mencari targetnya juga akan sulit.

      Ketiganya bukan masalah krn kekurangan jumlah... tetapi krn tidak ada investasi dalam membangun infrastruktur system modern. Eh, malah mencoba menghabiskan dana utk beli yg tidak karuan, spt contoh dalam artikel ini.

      Delete
  31. Ada kabar mengejutkan dari MBDA bahwa rudal udara ke udara MBDA meteor memiliki jangkauan maksimum 320 km.
    1. https://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=https://en.wikipedia.org/wiki/Meteor_(missile)&prev=search
    2. https://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=https://exoatmospheric.wordpress.com/2018/04/16/mbdas-meteor-the-most-advanced-beyond-visual-range-air-to-air-missile-in-the-world/&prev=search
    3. https://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://www.deagel.com/Defensive-Weapons/Meteor_a001122001.aspx&prev=search

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jarak jangkau maksimum Meteor sbnrnya sengaja tidak dipublikasikan dalam figur resmi.

      Kemungkinan besar memang akan melebihi AIM-54 Phoenix, dan AMRAAM-D.

      Tantangan disini adalah bagaimana radar pesawat induk dapat mengunci target dari jarak yg sedemikian jauh.

      Utk menghadapi pesawat stealth membutuhkan vectoring dari beberapa radar yg terkoneksi satu network agar bisa mendapat firing solution.

      Pesawat jumbo jet spt F-15, atau su-Flemon akan jauh lebih mudah utk dikunci berkat RCS sebesar lapangan sepak bola.

      ... tetapi menyalakan radar... berarti jua memancing serangan balik dari lawan.

      Eskalasi masalah pertempuran BVR jarak jauh ini menjadi meningkat lagi ke tantangan berikut:

      1. Bagaimana bisa mengunci lawan secara pasif, agar tidak terlihat RWR lawan?

      2. Bagaimana caranya mengambil posisi agar menembak dari arah belakang, atau samping agar menyulitkan lawan utk "melihat" atau menghindar dari serangan.

      Delete
  32. bung gi kapan mempublikasikan artikel terbarunya? sudah 2 bulan ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru saja publish. News Update.

      Topik selanjutnya EW... memang sulit utk menulisnya.

      Delete