Sunday, August 12, 2018

Pertualangan "kontrak" Su-35 Versi Export semakin menarik



Angkat tangan siapa saja yang mendukung kontrak pembelian Sukhoi?

Wah, ternyata banyak yang mendukung penuh, atau hanya “Yes, man”.

Nah, sekarang para laskar pendukung Sukhoi silahkan menyebut keuntungan nasional apa saja yang bisa didapat dari rencana akuisisi ini?

Apakah karena hanya ada transaksi barter, yang bisa diklaim sebagai 50% offset ekonomi, dan rencana membuat fasilitas MRO / pabrik spare part  berarti offset alih tehnologi 35% untuk memenuhi persyaratan UU no.16/2012?

Dalam beberapa hari terakhir, beberapa kenyataan manis sudah mulai mengetuk pintu: 

Semua lampu merah sekarang sudah menyala terang benderang untuk tidak lagi meneruskan kontrak yang merugikan negara ini.



Pelajaran PENTING dari Sukhoi Su-30MKM Malaysia


Pertama-tama, saksikan dahulu demonstrasi Su-30MKM pada Singapore Airshow, Febuari-2018; seperti dalam klip video youtube di atas!

Menarik, bukan?

Nah, sekarang, kapan terakhir kali pilot Indonesia bisa menunjukan demonstrasi airshow yang serupa dengan Sukhoi di Sku-11?

Tidak pernah, bukan?


Media massa di Indonesia senang membicarakan flypast Sukhoi dalam acara kemerdekaan, tetapi belum pernah memberitakan demonstrasi airshow yang sedemikian. Kalau mencoba mencari video di Youtube, kebanyakan hasilnya hanya link yang menunjukan Sukhoi yang dioperasikan negara lain, eh, tetapi entah sengaja bisa diplesetkan menjadi "katanya" punya Indonesia. 

Demonstrasi manuever dalam airshow sebenarnya menunjukan seberapa jauh pilot suatu Angkatan Udara bisa menguasai pesawat tempur mereka sendiri. Kenyataan ini menunjuk kesimpulan awam kalau ternyata... pilot Malaysia biar bagaimanapun terlihat lebih bisa menguasai pesawat MKM mereka dibandingkan pilot Indonesia, yang sejauh ini hanya memamerkan pesawat dalam acara flypast.

Ini tidak ada hubungannya dengan "...karena Sukhoi mereka lebih canggih". Demonstrasi manuever sedemikian hanya bisa dicapai melalui LATIHAN, LATIHAN, dan LATIHAN

Bagi yang bermimpi kalau Thrust-Vectoring itu "fitur unggulan", perhatikan video demonstrasi berikut:



AH-64D AU Belanda... ternyata dapat melakukan semua manuever kecepatan lambat Sukhoi TVC, bukan?

Nah, kenapa AH-64 tidak bisa menjadi pesawat tempur?

Yah, karena kecepatannya terlalu LAMBAT

Dalam manuever TVC, seperti diperlihatkan F-22, dan semua Sukhoi; pesawat akan selalu kehilangan terlalu banyak kecepatan, dan gaya LIFT dari sayap. Tidak semudah itu untuk pilot bisa mendapatkan kembali kecepatan, dan ketinggian pesawat. Bukan situasi yang ideal untuk berhadapan dengan "Energy fighter", seperti F-16, atau Eurocanards, yang juga dapat dipersenjatai missile jarak dekat yang dapat ditembakan ke belakang pesawat.

Pada 31-Juli-2018 ini, Malaysia baru mengungkapkan kenyataan lain yang lebih pahit, karena ternyata...



... dari 18 Su-30MKM yang baru selesai delivery di tahun 2008; hanya 4 yang masih bisa terbang

.... walaupun tentu saja, seperti sudah ditunjuk seorang komentator di blog ini, seperti dilaporkan website Malaysian Defense; Malaysia ternyata sudah membangun "Sukhoi Technical Centre", yang tidak hanya menjamin MRO, tetapi juga "upgrade" untuk MKM di masa depan, katanya

Kenapa Malaysia baru mendadak mengakui sekarang kalau Sukhoi mereka bermasalah?

Bagi yang mengikuti berita, tentu sudah mendengar kalau pemerintah lama Barisan Nasional Malaysia baru saja dilengserkan dalam Pemilu, dan ex-Perdana Menteri Rajib sekarang sudah mengalami gugatan korupsi skandal . Pemerintah baru Paketan Harapan, yang untuk sementara kembali dipimpin oleh pak Mahatir Muhammad paling tidak selama dua tahun, sebenarnya sedang mencoba membereskan semua yang salah dalam dua puluh tahun terakhir. 

AINOnline melaporkan kalau Menteri Pertahanan Mohamad Sabu melaporkan ke parlemen Malaysia pada 31-Juli-2018 yang lalu kalau:

Administrasi yang sebelumnya ternyata sudah membatalkan semua kontrak maintenance yang lama (dengan Rostec / Rosoboronexport), dan sekarang pemerintah baru sedang mencari kontraktor baru lokal untuk maintenance Sukhoi.

AINOnline melaporkan lebih lanjut kalau dikarenakan Su-30MKM sudah berumur 10 tahun sejak delivery, maka mereka WAJIB untuk dikirim balik ”Perbaikan mendalam” di pabrik asalnya. 

Sayangnya, Malaysia melaporkan tidak bisa mengalokasikan anggaran untuk membayar biaya mahal perawatan ”perbaikan mendalam” yang merugikan negara pengguna semacam ini. Dan mereka sedang mencari kontraktor industri lokal untuk mengurangi ketergantungan dari Russia.

Eh.... selamat berjuang!

Seperti sudah diketahui dari pengalaman India, Rosoboronexport adalah perusahaan yang siap menghukum customer yang bandel; yang mencoba menlangkahi ”jalur resmi via perantara” mereka untuk merawat alutsista buatan Russia:

AviationWeek, 4-Apr-2011:
India upset with Russian Military spare part supply

Untuk catatan akhir; dari 10 MiG-29N yang selesai delivery ke Malaysia di tahun 1995, tidak ada satupun yang sekarang masih bisa mengudara, sedangkan F-16 Block-15OCU TNI-AU yang sudah selesai delivery di tahun 1989, tetap masih asyik-asyik saja.

Secara tehnis, walaupun dari segi jumlah, kelihatannya banyak, kecuali 8 F-18D, sekarang RMAF Malaysia jadi tidak lagi mempunyai pesawat tempur yang masih bisa terbang.

Kekacauan yang terjadi dengan armada pesawat tempur made-in-Russia di Malaysia, sebenarnya sejalan dengan apa yang sudah dilaporkan India beberapa bulan yang lalu:
Defense News, 22-Maret-2017:
Tidak akan ada Alih tehnologi, atau bantuan dalam bentuk apapun juga.
TITIK
... dan juga membenarkan kesimpulan dari analyst IHS Mark Bobbi:
Sistem "Sekali pakai, buang!"
Link: The Moscow Times, 2015
Inilah yang menjelaskan kenapa "Sukhoi Technical Centre" yang sudah dibangun Malaysia, juga menjadi seperti pengeluaran yang sia-sia.
Apa kegunaannya Sukhoi Technical Centre ini?

Nasib yang sama tentu saja akan menanti dengan "fasilitas MRO", atau "pabrik suku cadang" untuk Su-35 favorit para agen sales alutsista.


Eh, bagaimana dengan nasib Sukhoi Indonesia?


Boleh dibilang report card Sukhoi Kommercheskiy GAGAL menjadi pengganti ideal A-4 Skyhawk ciptaan Ed Heinemann di Sku-11

Pengalaman Malaysia mengajarkan supaya mulai bertanya secara kritis:

Berapa jumlah Sukhoi di Sku-11 yang sekarang masih bisa terbang?

Pertanyaan kedua: Mengingat delivery batch terakhir 6 Su-30MK2 baru saja diselesaikan di tahun 2013; 

Kapankah  kesemua unit Sukhoi yang belum mengalami perbaikan mendalam, akhirnya akan harus dikirim balik ke Russia?

Dan berapa biayanya??

Dengan fitur GASAK (GAmpang ruSAK),  ini sudah menjadi takdir untuk semua pembelian Sukhoi Versi Export. Yang menjadi pengecualian sebenarnya hanya India, dan PRC.

Kita bisa memberi estimasi kasar kalau Sku-11 akan membutuhkan dana sekitar $200 - $300 juta hanya untuk membayar perbaikan mendalam, yang bisa memakan waktu 20 bulan per unit... dan tentu saja umurnya tidak akan bisa panjang. 

Apakah dananya sudah siap demi memelihara barang yang cinta sebelah tangan, dan sudah bau tanah?
"Sekali pakai, buang!"
Contoh Su-27SK ini hanya operasional dari tahun 1991 sampai 2009,
sebelum masuk liang kubur.
(Gambar: China-defense blog)

Pertanyaan ketiga: 

Kenapa mau mengambil Resiko dengan Su-35 Versi Export?

Pengalaman operasional sukhoi yang sudah ada saja sebenarnya jauh dari cemerlang; kelihatannya bahkan belum bisa menandingi Malaysia. Kenapa bisa yakin Su-35 bisa lebih baik?

Su-30MKM, yang dibuat berdasarkan desain Su-30MKI di tahun 1995, sebenarnya adalah desain yang jauh lebih matang, dan operationally-proven dengan ratusan ribu jam terbang di AU India, Russia, Algeria, dan Malaysia. Sedangkan Su-35, yang dibuat oleh pabrik yang berbeda, baru mulai operasional di tahun 2009, adalah produk yang jauh lebih riskan, dengan biaya operasional terjamin akan jauh lebih mahal daripada F-22

Indonesia tidak akan bertambah kuat dengan Su-35, yang hanya bisa dipersenjatai paket persenjataan ”lengkap” yang sama dengan Su-27SKM, dan Su-30MK2; melainkan kita hanya akan melihat tagihan yang luar biasa berat, yang lebih dari cukup untuk mengoperasikan 7 Skuadron F-16, atau 10 Skuadron Gripen, hanya demi kecintaan pada 11 barang downgrade "jaminan mutu".

How BVR Combat betwen F-18F and Su-35SK will play out:
Australian Super Hornets will easily trash any Sukhoi Kommercheskiy,
with better training, superior techniques, more advanced sensor suites, and weapons

Pada akhirnya sama saja. 

Fasilitas MRO, atau pabrik suku cadang manapun tidak akan bisa menyelamatkan fitur GASAK yang memang sudah built-in ke keluarga Sukhoi Flemon. Dalam 10 tahun, 11 pesawat Flemon-35, hanya akan menemui nasib yang sama dengan 18 Su-30MKM Malaysia.

Tolong para pejuang dari agen perantara PT Sukhoi Fanboyz tertutup juga turut menjelaskan:



Perjanjian Su-35 Edisi Anti-Komunis: Transaksi barter itu BUKAN OFFSET 


Perhatikan arah panah pembayaran dalam grafik ini!

Dalam transaksi alutsista dengan offset ekonomi, pengeluaran cash pembelian alutsista melalui anggaran pertahanan, sebenarnya dikembalikan oleh negara pembeli dalam bentuk pembelian komoditas export sesuai % nilai transaksi yang disepakati. Pengeluaran untuk alutsista berubah menjadi pemasukan untuk anggaran perdagangan komoditas export. 

Grafik ini menjelaskan kalau untuk bisa terjadi paket Offset Ekonomi; harus ada pemasukan balik ke kantong negara pembeli. 
Menurut Vladimir Kozhin, seperti dikutip Tass:
tidak ada discount; tidak akan ada OFFSET

Pernyataan ini SANGAT BENAR! 

Dalam bentuk transaksi barter yang diiklankan ”menguntungkan”, sebenarnya anggaran perdagangan komoditas internasional pada prakteknya hanya mensubsidi pengeluaran dari anggaran pertahanan. Tidak seperti dalam transaksi offset, tidak akan ada pemasukan dalam transaksi barter. Ini hanyalah bentuk mekanisme pembayaran sebagai pengganti cash.

Bukan tanpa alasan sebenarnya sudah sejak ribuan tahun yang lalu, kita sudah menciptakan apa yang disebut UANG. Dalam transaksi barter, sekali lagi harus diketahui kalau harga tonnase komoditas itu akan selalu diketok rendah.... justru karena si pembeli tidak mempunyai uang untuk membayar cash.

Ini sama seperti pergi ke tukang gadai, kenapa barang yang digadaikan akan diketok dengan cash yang nilainya lebih rendah daripada seharusnya. 

Entah kenapa, yang berkeras untuk meneruskan transaksi Su-35 ini, seperti dilaporkan Jakarta Post, justru datang dari arah.... Departemen Perdagangan?

Yang lebih menarik lagi seperti dilaporkan dalam Jakarta Post ini, adalah pernyataan yang seperti mencoba menantang CAATSA dari pemerintah United States… semuanya dalam nama pembelian barang versi export downgrade, yang tidak akan bisa di-upgrade, hanya bisa dipersenjatai senjata versi export yang tidak dipakai pembuatnya, terjamin pasti GASAK, dan kontraknya tidak pernah bisa ditutup secara G-to-G, atau antar pemerintah yang memastikan bebas komisi .

Maaf, tetapi apa urusannya Departemen Perdagangan dengan pembelian alutsista? 

Bukan hanya Su-35 Versi Anti Komunis berefek gentar nihil, tetapi sempat ada rumor kalau PTPPI juga tertarik untuk terlibat dalam pembelian…. Airbus A400M?

Bagaimana sih?

Bukankah sebenarnya wewenang BUMN PTPPI cukup jelas tertulis dalam website mereka sendiri; seharusnya hanya mengurus penjualan komoditas untuk export, bukan?

Mengambil langkah berani menantang CAATSA bukanlah sesuatu tindakan yang bisa dianggap Nasionalis, atau membela martabat bangsa, melainkan seperti sudah digarisbawahi dalam artikel CNBC ini, justru mencoba mengambil resiko menghadapi rententan masalah berikut:
  1. CAATSA memberi wewenang ke pemerintah US untuk mengunci perusahaan yang mencoba melanggar untuk masih bisa berdagang dalam pasar internasional, yang berdominasi US$. Ini artinya…
  2. PTPPI, misalnya, terancam tidak akan boleh lagi memasarkan komoditas Indonesia melalui jalur-jalur resmi yang sekarang ini. Bukannya tidak bisa menjual, akan tetapi…
  3. … malah mendorong supaya kita menjual komoditas itu melalui pasar tertentu saja. Atau apakah mungkin PTPPI hanya bisa menjual komoditas ke PRC, atau ke Russia saja. Ini bukan ide yang baik, karena….
  4. Harga komoditas sudah pasti akan selalu diketok, karena dipasarkan di luar dari pasar internasional, dan...
  5. Karena tidak melalui jalur resmi pasar internasional, peran perantara komoditas akan semakin merajarela. Harga komoditas hanya akan semakin terpuruk, demi memberi ruangan ke perantara, dan tentu saja.... akhirnya kemungkinan komisi kickback untuk pejabat lokal, dari para perantara.

Apakah masih berharap Indonesia bisa mendapat pengecualian?



Pelajaran Terakhir: Ya, transaksi Alutsista TIDAK BISA NETRAL dari politik luar negeri

Hasil investigasi tim JIT untuk kasus MH17, seperti dikutip Reuters, dan BBC, menunjuk kalau Russia yang sudah menembak jatuh MH17
(Gambar: Reuters)
Kenapa United States bisa berani menerapkan CAATSA ke semua negara lain?

Sistem perekonomian United States sebenarnya fully-networked ke seluruh dunia. Semuanya ini sudah dibangun secara seksama, dan dengan begitu rapi sejak berakhirnya Perang Dunia II di tahun 1945.Setelah runtuhnya Uni Soviet, yang sebelumnya menyebarkan paham komunis sebagai pesaing sistem demokratis, sistem perekonomian United States sudah menjadi standard sistem perdagangan internasional semenjak tahun 1989. Hampir tidak mungkin bisa terjadi perdagangan internasional tanpa denominasi US$, bukan? 

Bukan tanpa alasan walaupun banyak yang sudah mengusahakan Euro, ataupun Yuan sebagai subsitusi US$ dalam currency international, sejauh ini masih belum banyak membuahkan hasil. 

CAATSA ini sendiri tidak diterapkan untuk menghalangi kebebasan Indonesia dalam memilih Alutsista, melainkan…. untuk menghukum persusahaan-perusahaan yang dikuasai oligarkhi Russia, akibat sepak terjang politik luar negeri mereka sendiri.
Membeli barang dari penjual, akan selalu membuahkan kewajiban politik luar negeri untuk si pembeli mendukung sepak terjang si penjual. 

Yang lebih mengerikan daripada ancaman sangsi CAATSA, adalah ancaman terhadap kedaulatan politik luar negeri bebas aktif Indonesia.
United Nation Assembly Vote 27-March-2014:

Tidak seperti banyak pelanggan senjata Russia; 
PRC, Vietnam, India, dan 53 negara lain yang menyatakan abstain,

Indonesia bergabung dengan US, Australia, dan 97 negara lain untuk menyatakan
TIDAK MENGAKUI referendum Russia di Crimea

(Gambar: Wikimedia)
Apakah Su-35 akan membuat Indonesia harus lebih mendukung sepak terjang Russia dalam ajang politik internasional, terlepas dari apapun juga yang mereka lakukan?

Kalau dahulu di tahun 2014 menentang Referendum Crimea, apakah lain kali kalau menghitung ulang; kita jadi harus abstain dalam voting yang serupa, sama seperti  India, atau Vietnam?

Kalau Russia lagi-lagi menampik kalau Assad sudah menggunakan senjata kimia terhadap rakyat Syria; walaupun kemudian OPCW men-sample, dan mendapat bukti nyata; apakah lantas kita juga harus wajib turut membenarkan?

Ini namanya bukan mandiri, malahan belajar lebih didikte negara lain. Konsekuensi politik yang nyata dari pembelian alutsista, yang seperti sengaja tidak mau dibahas, atau dianggap kurang penting.

Ya, Amerika Serikat di sisi lain memang bukanlah negara yang bisa bersih dari dosa. Terlepas dari sepak terjang administrasi Trump dewasa ini, paling tidak mereka tidak akan mengambil posisi yang membuat Indonesia, ataupun negara-negara lain menjadi merasa serba salah baik secara moral.

Negara penjual akan selalu memegang ekor dari alutsista yang mereka jual. Kalau tidak menurut, dengan mudahnya mereka hanya akan tinggal memotong jalur supply spare part, atau jasa tehnisi yang dibutuhkan untuk merawat pesawat ultra-complex, dengan mesin thrust-vectoring yang lebih rumit.

Kedaulatan politik luar negeri jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar mimpi, ataukah....??



Penutup: Kecuali India, hanya negara yang lebih korup, dan non-demokratis yang senang membeli Sukhoi

Tidak perlu G-to-G contract?
"Siip... pilihan favorit kami!"

Alih tehnologi?

Produksi dalam negeri?
Membangun kemampuan industri lokal?
Biaya operasional yang terjangkau?
Kedaulatan yang terjamin?
Apakah produk bukan model Versi Export Downgrade?
Apakah bisa terjamin panjang umur, dan... 
bisa terus di-upgrade?


"Huahahahahaha.....konyol banget ide-ide begituan!"
Kenyataan menunjuk kalau daftar customer lain untuk Sukhoi seperti Venezuela, Aljazair, Angola, Uganda, Myanmar, dan Vietnam, semuanya tidaklah menduduki peringkat tinggi dalam daftar persepsi korupsi Transparancy International 2017.

Sebagai fitur tambahan, tentu saja negara-negara ini juga biasanya mempunyai kekacauan laporan hak asasi manusia, dan dilarang untuk membeli pesawat tempur dari produsen Barat. Seberapapun kacaunya perawatan Sukhoi, seperti dilaporkan India, Malaysia, dan sudah seharusnya juga dilaporkan di Indonesia; menjadi tidak relevan.

Secara tehnis, Sukhoi sebenarnya hanyalah istilah yang lebih mewah dari kata KORUPSI.

SindoNews, yang mengutip dari artikel The Star Malaysia, mengenai kesulitan Su-30MKM memberikan paragraf penutup yang sedemikian:

Kita tidak perlu mencari siapa yang salah, atau siapa yang bertanggung jawab, karena asyiknya, kelihatannya akuisisi ini juga lebih diwarnai oleh mimpi warisan dari 20 tahun yang lampau. Satu pihak sudah membohongi diri sendiri, kemudian membohongi yang lain, dan mungkin hanya beberapa sadar untuk menarik keuntungan semaksimal mungkin. 

Sebenarnya akan sangat memalukan kalau kita sampai memerlukan bantuan Washington DC untuk bisa menjegal transaksi Sukhoi yang merugikan ini.

Sudah saatnya membatalkan kontrak ini dengan inisiatif sendiri, dan mempensiunkan semua Sukhoi di Sku-11 secepat mungkin. Terjamin, dengan mengambil kedua langkah ini, dengan sendirinya, para pejuang online dari agen perantara PT Sukhoi Fanboyz akan membubarkan diri!

Mari menyanyikan lagu kebangsaan para pendukung Sukhoi yang membabi-buta, "Abang Toekang Sukhoi" bait kedua:


13 comments:

  1. Bung gi..
    Baca komen d blok sebelah jd ketawa ngakak.. Mereka itu sebetulnya fansboy rusia ato agen sales ya, komennya itulho, isinya pembodohan semua.. :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perhatikan beberapa gejala2 fanboyz yg berikut:

      1. Ruski, dan presidennya selalu hebat; tidak pernah bikin salah

      2. Sukhoi stroonnnggg - tidak ada kelemahannya (!!)
      "Kita harus berkorban untuk Sukhoi!"

      3. Amerika tukang embargo!
      Akan mengontrol senjata boleh dipakai melawan siapa! Ruski yg sempurna tidak!

      4. Semua fakta tentu saja harus sedikit dimiringkan, atau fantasy baru disajikan seolah2 fakta agar ketiga tujuan diatas itu bisa tercapai.

      Perhatikan baik2 semua argumen mereka, dan sekarang bandingkan dengan tipikal artikel tass, rbth, sputnik, dan media2 berita milik pemerintah Ruski!

      Sama persis, bukan?

      Jadi kita melihat kemungkinannya hanya dua:

      Entah apakah Ruski itu memang diem2 ahli sihir; fanboyz bisa kepincut...

      ... ataukah....

      Memang ada yang mempekerjakan mereka sebagai public relation support untuk operasional Sukhoi.

      Mengingat Ruski adalah negara, yg dinilai Transparancy International, lebih korup daripada Indonesia; kemungkinan kedua ini cukup besar.

      Untuk mengetes teori ini; seperti diatas!
      Coba pensiunkan semua Sukhoi; sehabisnya mereka masih berkotek atau tidak?

      Delete
  2. kabar terbaru KFX/IFX kembali ditunda. Alasan ekonomi tdk stabil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alasan yang lebih tepat:

      Kenapa mau menghamburkan uang untuk proyek beresiko tinggi, yang keuntungan nasionalnya tidak bisa terjamin?

      Inilah realita program KF-X.

      Dana yang tersedia terbatas - dan masih harus dialokasikan tidak hanya ke pembangunan infrastruktur, tapi juga menanggulangi bencana alam seperti gempa di Lombok... sedang dilain pihak; Jakarta perlahan-lahan semakin tenggelam ke bawah permukaan laut.

      Tidak ada dana untuk dihamburkan ke proyek yg tidak karuan.

      Tentu saja, argumen ini juga akan mulai mengigit kontrak rugi Su-35, dan tagihan untuk "perbaikan mendalam" Sku-11.

      Delete
  3. Akhirnya Bung GI men-upload artikel terbaru dan artikel ini sangat bagus dan menarik.
    Menurut saya pribadi artikel terbaik bung GI adalah konsep BVR, source code dan radar vs rwr (kalau menurut Bung GI apa ya?).
    Saya setuju dengan pemikiran anda tentang missile idealnya membawa dual seeker yaitu active guidance dengan IR yang memiliki kemampuan IRCCM, IFF manuever 60 G ramjet mach 4 tetapi saran saya menambah seeker electro optical, dan juga menanamkan sensor fusion di missile untuk pelengkap.
    Radar sebagai penglihatan jarak jauh dan Infra red sebagai penambah akurasi serta electro optical sebagai penarget vital pesawat seperti kokpit.
    Saya juga ingin pendapat anda, bagaimana jika active guidance di missile itu diganti dari radar aktif biasa yang rentan jamming diganti menjadi aesa radar yang tahan jamming untuk missile air to air. (MESKIPUN INI HAMPIR MUSTAHIL UNTUK DITERAPKAN, MUNGKIN SUATU HARI NANTI MBDA MUNGKIN BISA).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Missile AAM-4 buatan Jepang sebenarnya sudah menjadi yg pertama yang memakai AESA seeker.

      MBDA sebenarnya sudah membicarakan tahap awal untuk mengintegrasikan AESA seeker ini ke Meteor Block-2 nantinya.

      Sy juga sedang menulis artikel lain ttg Electronic Warfare dengan topik lebih melihat ke arah kelebihan Gripen. Seperti biasa jadi tertunda karena berita2 buruk re Sukhoi terus menumpuk.

      Pada pokok permasalahannya begini:
      Kita tahu kalau active seeker adalah guidance yg paling ideal untuk BVR Combat -- tetapi sebenarnya ada pertarungan jenis baru dewasa ini.

      Contoh case study:

      ECM, yg adalah bagian dari Electronic Warfare, adalah satu spektrum baru untuk menangkal / mengacaukan tidak hanya radar pesawat lawan; tetapi juga untuk membutakan radar di BVR missile.

      AMRAAM-C7 mempunyai kemampuan homing-on-jamming yg justru akan mengunci ke arah jamming sistem ECM.

      Meteor juga dikabarkan mempunyai kemampuan yg sama; keduanya juga sudah dirancang untuk lebih kebal terhadap serangan ECM lawan.

      Di lain pihak; semua missile, walaupun dengan AESA seeker memiliki beberapa keterbatasan:
      + Ruangan yg tersedia dalam moncong kecil
      + Sifatnya harus automatis, atau pada saat akhir harus bisa bekerja independent dari pesawat induk; dan...
      + Harganya juga tidak bisa terlalu mahal

      Sebaliknya, ECM juga tidak akan membuat permainan lebih mudah:
      + Programming mode-nya semakin luas, dan cara menangkal akan semakin banyak.
      + ECM secara tehnis juga akan lebih mudah di-upgrade dibanding missile yg sifatnya lebih "sekali pakai buang".
      + Saab menunjuk ke arah masa depan dengan memulai menerapkan hardware AESA transmitter untuk EW.
      + ECM modern tentu saja terintegrasi dalam Sensor Fusion, dan yang lebih penting...
      + ... akan harus bisa melihat, dan cepat mempresentasikan berbagai macam cara untuk menangkal missile yg datang ke pilot.

      Ini baru ringkasan singkat re apa yg akan dibahas. ECM hanyalah salah satu bagian dari ELectronic Warfare.

      Delete
    2. Pertempuran udara modern, semakin hari semakin meluas spektrum-nya. Semakin banyak perubahan yg tidak terlihat.

      Semakin cepat untuk para langganan barang versi export downgrade untuk semakin ketinggalan jaman -- kalau mereka tidak meluangkan waktu untuk berpikir, dan bekerja.

      Sayangnya seperti dalam artikel ini, permasalahan kita adalah terlalu terobsesi dengan bermimpi, akibat kolotnya cara berpikir dari masa lalu... sewaktu membayangkan seolah2 pertempuran udara itu tidak berubah sejak tahun 1980-an.

      ... dan demi mengejar mimpi ini, beberapa pihak menginginkan kita memghamburkan jauh lebih banyak uang.... untuk tidak akan ada hasilnya.

      Kelihatannya para pemimpi hanya sibuk membayangkan su-35, dan IF-X bisa dipamerkan dalam acara "flypast".

      "Jerih payah guwe tuh dua pesawat bisa terbang (kebeli) hari ini!"

      Sayangnya, baik Su-35K, atau IF-X secara tehnis sudah ketinggalan jaman dari sewaktu pertama mengudara. Ya, ini walaupun prototype KF-X saja belum ada.

      Keduanya sekali lagi... tidak akan bisa lebih unggul dari F-16 Block-25+ hibah Obama.

      Ini juga walaupun Block-25 kita termasuk yg agak ketinggalan dibanding semua F-16C/D yg lain.

      Delete
  4. Bung apakah gripen bisa terbang membawa missile iris t, phyton V, dan meteor dalam sekali jalan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa, tetapi Phyton-5 dan IRIS-T hanya memenuhi fungsi yg sama: missile-IR jarak dekat dngn kemampuan manuever optimal.

      Combo yg lebih baik untuk Gripen-E:

      2 IRIS-T atau AIM-9X atau Phyton-5
      2 MBDA ASRAAM
      3 MBDA Meteor

      Kenapa lebih baik membawa 2 ASRAAM, dan berkurang 1 Meteor?

      ASRAAM adalah missile IR yg dapat ditembakan dari jarak BVR (sekitar 50 km). Lebih sulit untuk ditangkal, dan membuat Gripen menjadi lebih berbahaya, krn membawa 4 missile-IR, atau 5 missile BVR.

      Delete
  5. Min..

    Missile R37 itu udah dipakai rusia belum min ? Para sukhoi fansboy merasa jumawa dengan R37 yang katanya jarak nya bisa mencapai 400 km..

    ReplyDelete
    Replies
    1. R-37 dikabarkan baru mulai operasional, masih dalam jumlah kecil. Seperti semua proyek Russia yang lain; development-nya juga cukup bermasalah.

      Pertama2, ini adalah missile ukuran raksasa seberat 600kg (!!)

      Jarak jangkaunya memang jauh, tetapi tidak diperuntukan bisa menghantam pesawat tempur yang kecil, dan gesit....

      ... melainkan untuk pesawat tanker, atau AWACS; bayangkan KC-135, atau E-3 Sentry.

      Beberapa fakta selanjutnya untuk membuat para fanboyz yg malang lebih gigit jari:

      1. R-37 hanya bisa dioperasikan MiG-31 Foxhound; bukan untuk Sukhoi manapun.

      2. Tentu saja fakta berikut tidak mengherankan:
      Versi Export Downgrade dari R-37 juga belum tersedia untuk dijual.

      Delete
  6. Profilerasi AESA radar yang berlanjut

    Radar Irbis-E versi export idaman kaum PKI (Persekongkolan Kommercheskiy Indonesia) sebentar lagi akan menobatkan diri sebagai salah satu radar yg paling ketinggalan jaman.

    US Marine skrg sedang mempersiapkan AESA radar upgrade ke 100 F-18C/D mereka.

    Pilihannya mirip dengan para pengguna F-16:

    Paket RACR dari Raytheon, berupa AN/APG-79X, yang menurut Raytheon dapat dilakukan dalam sejam untuk mengganti antena untuk AN/APG-73;

    Atau

    Paket SABR dari Northrop-Grumman dalam bentuk AN/APG-83; sama seperti F-16V.

    APG-83 akan lebih sulit dipasang di F-18; akan tetapi akan mengambil manfaat commonality hardware, dan source code dengan APG-81 untuk F-35.

    Singapore, Korea Selatan, dan Taiwan.. sementara itu sudah menandatangani kontrak untuk paket upgrade F-16V dengan APG-83.

    Source Code untuk AESA radar sudah terus di-upgrade semenjak F-22 dahulu mulai beroperasi dengan F-22.

    Nah, apakah RWR versi export, seperti Knirti-518i, yang tidak pernah di-upgrade; akan masih bisa melihat gelombang radar AESA generasi ketiga?

    Meragukan.

    Sama seperti mencoba menembakan RVV-AE dalam pertempuran BVR modern; ini seperti memasang taruhan di meja judi, tetapi kartu yang kita pegang saja tidak bisa diketahui.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ralat:
      AN/APG-77 adalah AESA radar pertama yg operasional di F-22.

      Delete