Tuesday, July 3, 2018

Gripen-C/E Indonesia vs Su-35 Versi Export PLA-AF

Gripen 39-8 Testing   Gambar: Saab
Su-35 PLA-AF  Gambar: Chinese Military Aviation
Artikel tahun 2016 di dalam blog ini sebelumnya sudah memperbandingkan antara Saab Gripen-E dan Su-35 Versi Export, dari sudut pandang kedua model ini dioperasikan di Indonesia.

Seiring dengan melajunya perkembangan tehnologi militer semenjak tahun 2016, seperti kemajuan program Gripen-E, dan semakin berlimpah ruahnya banyak informasi baru, seperti bagaimana minimnya update di Su-35 Versi lokal, dan bagaimana BVR missile R-77 itu sebenarnya belum siap; semua artikel versus yang sebelumnya boleh dikatakan sudah mulai ketinggalan jaman.

Artikel perbandingan versi baru ini juga akan melihat dari sudut pandang berbeda dibandingkan sebelumnya, dengan mempertandingkan Saab Gripen-C, dan versi E Indonesia, dengan Su-35 Versi Export, yang dioperasikan, dan menjadi pesawat tempur andalan PLA-AF PRC.


Combat Readiness

Gambar: Jane's
Biaya operasional, dan training sebenarnya hanyalah salah satu lingkup komponen yang kecil dalam faktor Combat Readiness, atau kesiapan tempur suatu platform. Combat Readiness sepenuhnya lebih tergantung kepada komitmen, hasil kerja keras, dan investasi masing-masing penggunanya.

Charlie Gao menuliskan kenapa Sukhoi Flanker adalah
pesawat tempur favorit, dan andalan PLA-AF, yang juga membantu menjelaskan 
beberapa faktor pemberi keunggulan dibandingkan semua pengguna Flanker yang lain, bahkan termasuk Russia sendiri:
  • Basis Industrial yang jauh lebih matang. Tidak hanya basis industri pertahanan mereka jauh lebih siap, mereka juga tidak segan untuk melakukan praktek fotokopi spare part lepas dari ketergantungan akan Rostec / Rosoboronexport. Bahkan sampai mereka bisa memproduksi unlicensed copy, dalam bentuk Shenyang J-11.
  • Pengalaman. PLA-AF juga sudah berpengalaman mengoperasikan ratusan Sukhoi Flanker dalam berbagai versi sejak tahun 1992. Semakin terbiasa dengan tipe ini, tentu saja mereka juga semakin mahir.
  • Innovasi lokal. Versi J-11D adalah Su-27 Flanker pertama yang bisa membawa AESA radar, walaupun kemungkinan kemampuannya belum bisa menandingi Irbis-E PESA. Sedangkan pengembangan program J-20 sebenarnya masih berdasarkan penggunaan mesin AL-31F dari keluarga Flanker.
  • Persenjataan. Sudah bukan rahasia kalau PLA-AF sudah mulai beralih dari pengoperasikan koleksi missile versi export yang diproduksi JSC Tactical Missile Corporation. Semua Sukhoi, atau Shenyang J-11 mereka sudah mengoperasikan missile PL-8, atau PL-10 yang adalah produksi lokal, versi pengembangan dari beraneka ragam missile yang sebelumnya sempat mereka import masuk.
  • Anggaran Pertahanan yang kedua terbesar di dunia, atau dua kali lipat lebih besar dari Russia. Biaya operasional yang $100,000 / jam sekalipun tidak akan terasa mahal. Ini akan menjamin jumlah jam latihan yang mencukupi. Tentu saja biaya operasional Su-35 Versi Export PLA-AF dapat diprediksi hanya akan kurang dari $30,000 / jam dikarenakan kelebihan mereka dalam semua faktor di atas. 
Keenam faktor sederhana inilah yang memastikan kalau PLA-AF PRC adalah pengguna Flanker yang paling harus disegani. Dengan dukungan industri pertahanan yang tidak kekurangan modal, boleh dibilang PLA-AF masih mempunyai kemampuan untuk mengoperasikan Flanker sama seperti seharusnya dalam masa Soviet.

Artikel ini juga memperkenalkan variable baru dalam memperhitungkan biaya operasional: Proporsi Anggaran Pertahanan (PAP)

Pengertian PAP adalah berapa % proporsi biaya operasional per jam dibandingkan keseluruhan Anggaran Pertahanan negara pemakai.

Dengan variable baru ini, kita bisa menghitung kalau:
Dalam perhitungan PAP; anggaran pertahanan PRC yang melebihi $150 milyar per tahun, membuat proporsi anggaran untuk membayar biaya operasional untuk 200 Su-35 sekalipun akan MASIH JAUH LEBIH MURAH dibandingkan anggaran Indonesia yang harus dialokasikan.... bahkan untuk membayar biaya operasional hanya untuk 32 Gripen. 

Untungnya, Gripen masih memiliki dua keunggulan kelebihan yang sangat sederhana, yang belum dapat ditandingi pesawat tempur manapun:
Setiap Satu (1) Gripen akan dapat mengudara lebih sering setiap hari jika dibandingkan dengan empat (4) sampai enam (6) Su-35

Kelebihan ini tidak hanya berhenti disana:
.... jauh lebih murah untuk merawat, dan mengoperasikan satu skuadron (16 pesawat) Gripen dibandingkan satu (1) macan kertas Su-35, dengan segala pernak-pernik Thrust-Vectoring-nya.

Walaupun biaya operasional PAP Su-35 PLA-AF lebih unggul dibandingkan PAP untuk Gripen-Indonesia, sebenarnya tetap saja mereka harus bekerja jauh lebih keras.


Pemenang: Gripen

Gripen-C MS20 Flygvapnet Swedia dalam latihan udara reguler
Tactics, Techniques and Procedures Exercise (TTP16)
(Gambar: Forsvarsmakten)

Latihan TTP16 adalah Latihan-nya para pilot.

Menurut sistem TTP,
pilot harus dapat mengambil keputusan taktis secara independent dalam situasi konflik
Yang masih belum dimengerti kebanyakan penulis artikel versus, baik yang menyatakan diri "pengamat ahli", ataupun penulis awam, adalah perbedaan utama antara model buatan Barat, dan buatan Russia / PRC, terletak dalam sistem latihan mereka.

Robert Beckhusen, menuliskan untuk War-is-boring, kalau PLA-AF sebenarnya masih belum berhasil untuk bisa mengoperasikan pesawat-pesawat tempur mereka seperti sistem latihan yang sebanding dengan negara-negara Barat:
Sistem pelatihan PLA-AF, masih mengikuti warisan turun-temurun yang dikembangkan dari masa Soviet. Segala sesuatu harus dikontrol melalui Ground Control, yang bahkan tidak bisa melihat sendiri langsung kondisi di lapangan yang cenderung akan selalu lebih fluid, dan memperlukan kebebasan pilot untuk mengambil keputusan langsung untuk beradaptasi.
Dengan demikian terpaparlah sudah kelemahan utama PLA-AF PRC, yang walaupun sekilas kelihatan begitu hebat, anggarannya begitu tebal, dan jumlahnya begitu banyak. Pengguna Sukhoi akan selalu membutuhkan sekurangnya lima sampai enam kali lipat lebih banyak jumlah jam latihan untuk dapat mulai mengimbangi latihan yang bisa didapat dari Gripen System, dan tentu saja biaya operasional Gripen System jauh lebih murah.

Seperti bisa dilihat dari contoh latihan TTP16, Fully-Networked Gripen System tidak mempunyai kelemahan yang serupa. Sistem TTP justru menekankan kemampuan para pilot untuk mengambil keputusan taktis sesuai keadaan tempur yang fluid, bukan berdasarkan sistem textbook. Tanpa pengurangan spesifikasi seperti dalam model versi export downgrade, Gripen-System adalah pra-sarana yang ideal untuk membangun kedua fundamental dasar cara mengalahkan lawan, selain juga akan memulai pembangunan industri pertahanan lokal secara lebih insentif; melebihi CN-235, atau license production H225M.


SITUATIONAL AWARENESS

Gambar: Saab
Gripen adalah satu-satunya pesawat tempur modern yang sudah dirancang untuk beroperasi Fully-Networked,
bahkan sebelum prototype pertamanya mengudara
(Gambar: Saab)
Situational Awareness adalah persyaratan utama yang harus selalu dipenuhi terlebih dahulu, sebelum bisa memulai suatu pertempuran udara. Kalau pilot pesawat tempur tidak mengetahui dimana keberadaan lawan, bagaimana dia akan bisa menembak jatuh lawan?

Sebagaimana sudah pernah dibahas dalam artikel Radar vs RWR, hukum alam modern dalam pertempuran udara yang sudah terus berevolusi sejak tahun 1970-an adalah:
Tidak peduli pesawat tempur, atau SAM system
Perhatikan kembali contoh berikut yang dikutip dari Quora:
Dalam contoh ini, symbiology dalam layar RWR F-16 memberitahukan pilot keberadaan tiga obyek:
  • Tanda segitiga 15 pada posisi jam tujuh menunjuk emisi radar dari F-15 kawan.
  • Tanda (5) pada posisi beberapa derajat dari jam duabelas, menunjuk emisi radar dari SA-5 Gammon SAM -- yang dinilai sebagai salah satu ancaman
  • Tanda (6) dalam bentuk symbol diamond dinilai sistem sebagai Ancaman terbesar -- emisi radar dari SA-6 Gainful. SAM lawan.

Jarak antara dari tengah layar, ke masing-masing symbol menunjuk seberapa kuatnya / seberapa jauhnya emisi radar dari target itu ke pesawat induk.

(Sumber: Quora, via Forbes)
Untuk bisa menguasai Situational Awareness, sudah tidak bisa lagi setiap pilot hanya mengandalkan radar pesawatnya sendiri, dan kemudian bisa berharap bisa menang. Masa semacam ini sudah berakhir.

Saab Presentation Farnsborough 2014

Pedoman dasar dalam Gripen-System adalah bagaimana caranya bisa melihat lawan secara pasif. Bagaimana caranya bisa menembak tanpa pernah bisa terlihat lawan sampai terlambat.

Networking adalah fitur utama kelebihan dalam Gripen System, yang memungkinkan seamless real-time information transfer antar setiap asset yang terkoneksi, dan sistem TIDLS yang memadukan formasi empat Gripen, seolah-olah seperti dalam satu pesawat. Tentu saja, bukan berarti fitur radar yang menempati moncong Gripen-C, ataupun -E bukan dianggap kurang relevan, apalagi kalau Gripen dipaksa beroperasi diluar dari jaringan networked asset yang lain secara independent.

Radar PS/05 di versi-C sudah lama bisa menangkap refleksi gelombang radar lawan secara pasif, sebelum kemudian membagi readings ini melalui TIDLS Networking, bersama dengan radar PS/05 dari tiga Gripen yang lain, mentriangulasi posisi, arah, formasi, dan ketinggian lawan secara akurat.  Ya, radar Gripen-C adalah satu-satunya mempunyai kemampuan untuk merangkap sebagai Radar Warning Receiver.
Gambar: Saab
Kalau mau mengadu keras lawan keras; radar lawan radar, gelombang radar PS/05 Mark-4, yang sudah terus diupgrade semenjak pertama beroperasi di tahun 1996, tentu saja juga akan lebih cepat dapat menangkap refleksi radar pesawat raksasa twin-engine Su-35, yang RCS-nya akan sebesar lapangan sepak bola. Mungkin bisa dari jarak 300 - 400 km tergantung arah, dan posisi kedua belah pihak.

Super-Manueverable Su-35 belum pernah dilaporkan bisa beroperasi bersama A-50 Beriev, ataupun bisa berkerja dalam Networking Environment. Apalagi yang versi Export.

Radar Irbis-E akan kesulitan untuk mencari Gripen, yang RCS-nya kurang dari 0,1m2, dan akan beroperasi dengan Electronic Jammer untuk mengacaukan refleksi readings radar lawan, dan menyulitkan lock. SAP-518i Electronic Jammer, yang juga belum combat proven, kemungkinan hanya akan bisa melihat sekilas-sekilas kalau ada gelombang radar PS/05 yang datang, akan tetapi pilot Sukhoi hanya akan bisa menebak-nebak kira-kira Gripen dimana. Pilot untuk versi lokal, ataupun versi export tidak akan bisa mengalokasikan dengan tepatnya arah, dan posisi Gripen. 

Gripen-E tentu saja melaju beberapa langkah lebih modern lagi, tidak hanya karena diperlengkapi AESA radar, melainkan juga memperkenalkan fitur baru:
SENSOR FUSION
Dalam Sensor Fusion, korelasi data antara gelombang AESA radar, tangkapan refleksi dari RWR (Radar Warning Receiver), gambaran dari IRST (Infra Red Search-and-Track), dan IFF (Identification Friend-or-Foe), ataupun dari pemancar lain yang terkoneksi dalam satu network; semuanya dipresentasikan kepada pilot dalam satu gambaran dalam layar cockpit.

Pilot tidak lagi bingung membaca data dari sensor yang mana? Komputer pesawat sudah memperhitungkan semuanya. Mereka hanya perlu mempelajari informasi keberadaan, posisi, kecepatan, dan arah lawan, sembari terus meminimalisasi exposure terhadap sensor lawan, kemudian menyusun strategi untuk mengambil posisi paling optimal untuk menembakkan MBDA Meteor.

Dalam konsep WISCOM, yang akan lebih ditelusuri lebih mendalam setelah Gripen-E dinyatakan siap tempur oleh Flygvapnet Swedia, mempunyai suatu tambahan fitur yang lebih menarik lagi untuk mengecoh RWR lawan:
Sumber: Aviation Week

AESA radar Raven ES-05, yang sudah mempunyai kemampuan berpindah-pindah frequency dengan cepat per detik, akan dapat dinyalakan secara bergantian dalam formasi empat Gripen. Setiap Gripen dalam formasi empat pesawat dapat tetap terkoneksi dalam TIDLS Network dalam jarak terjauh antara Gripen terdekat mencapai 500 kilometer. Ini memungkinkan menciptakan kebingungan dalam layar RWR yang terbaik buatan manapun.


Pemenang: Gripen

Realita Tantangan Pertempuran Udara Modern:
Bagaimana dapat melihat, dan mengunci lawan, tanpa pernah terdeteksi terlebih dahulu
Complete Situational Awareness
(Gambar: Saab)
Pemenang dalam babak ini jelas. Perbedaan tehnologi antara kedua platform ini sudah terpisah terlampau jauh.

Situational Awareness berarti memudahkan pekerjaan pilot untuk memberitahukan presentasi informasi yang optimal untuk menganalisa posisi, arah, dan kecepatan lawan, kemudian mengambil keputusan taktis yang secepat mungkin sesuai keadaan. Inilah keunggulan utama Gripen System.

Sementara baik Gripen-C, ataupun -E akan terus mendapat upgrade bertahap tiga tahun sekali, Sukhoi relatif tidak pernah mendapat upgrade yang berarti sejak tahun 2005, dan tidak direncanakan akan bisa dioperasikan dengan AESA radar, menurut pembuatnya sendiri:

War-is-boring: Russia is upgrading its top fighter to fly from rough airfields
Penulis: Dave Majumdar
PLA-AF sudah mulai mengoperasikan AESA radar dalam versi J-11D, tetapi sejauh ini belum menunjukkan kalau AESA radar mereka mempunyai keunggulan lebih dari Irbis-E versi Export. Ini belum lagi membicarakan sensor Fusion. Semuanya membutuhkan jutaan baris code programming yang tidak terlihat, bukan semata bisa memproduksi AESA radar.




Beyond Visual Range

Kemudahan upgrade, dan mengeintegrasikan setiap jenis persenjataan baru, menjadikan Gripen sebagai platform utama dalam testing, dan development untuk MBDA Meteor, yang menurut publikasi resmi, mempunyai jarak jangkau melebihi 100 kilometer, dengan kemampuan kinematis yang optimal di detik akhir untuk bisa membunuh lawan.
Meteor High Attitude Testing, MBDA Link 2007:

Dalam testing awal, Meteor dapat beroperasi dengan baik pada ketinggian 13,000 meter,
kemudian bermanuever dengan optimal sesuai programming.

Tidak seperti hoax para agen sales Sukhoi
Pilot Gripen, yang sudah menguasai Situational Awareness, akan selalu dapat menembak Meteor dalam jarak yang lebih jauh tanpa pernah bisa terlihat, dan dari arah yang tidak terduga pilot lawan. Gripen-E yang dapat terbang supercruise, atau supersonic tanpa afterburner, akan dapat menambah momentum, dan jarak jangkau Meteor sampai 20% lebih jauh

Sebaliknya, Pilot Su-35K sudah akan terdesak terlebih dahulu. Mereka harus berharap instinct-nya sangat bagus, latihannya lebih dari cukup, SAP-518i Electronic Jammer-nya bekerja, mereka sempat menembakkan chaff standard, atau kemungkinan nyata kalau missile manapun, termasuk Meteor, masih bisa malfunctioned, atau break lock.

PLA-AF tidak lagi banyak mengoperasikan RVV-AE, atau missile versi export yang sebenarnya belum kelar development-nya, melainkan missile PL-12 sebagai BVR missile standard mereka yang baru, yang sebenarnya dibuat berdasarkan desain dasar yang mereka pelajari dari RVV-AE. 

Dengan asumsi PL-12 tidak malfunctioned, dan pilot Su-35 dapat menembakannya dengan sukses ke arah Gripen; setiap PL-12 ini akan berhadapan dengan pertahanan udara yang berlapis-lapis.

Pertama-tama, High Situational Awareness akan selalu lebih menjamin pilot Gripen-C/E akan dapat melihat BVR missile lawan yang melaju, jauh sebelum mendekati No-Escape-Zone, atau area kilometer persegi bagaimana pilot tidak lagi dapat menghidari missile lawan. Ini memungkinkan untuk pertama-tama, pilot Gripen mengambil posisi menghindar sejauh mungkin dari missile lawan untuk membuatnya kehilangan momentum kinematis untuk bisa mencapai target.

Bagaimana kalau missile berhasil mendekat dengan kemampuan kinematis yang mencukupi, dan daya tembaknya dianggap sebanding dengan... sekurangnya AMRAAM C-5?
  • Electronic Jammer di Gripen sudah akan mulai bekerja keras untuk mengecoh radar kecil di kepala missile untuk melihat berbagai bayangan tipuan, dan menyembunyikan pesawat induk. 
  • Versi-E akan mempergunakan Gallium-Nitride Jammer yang kemampuannya akan mencapai 60% lebih unggul dibanding versi-C. Tentu saja kemajuan programming di kedua macam versi akan terus di-upgrade seiring dengan kemajuan perkembangan tehnologi missile.
  • Britecloud Decoy adalah optional standard untuk Gripen, untuk menciptakan target palsu, dan dapat diintegrasikan dengan mudah dalam setiap chaff dispenser:
  • Pilot masih bisa melakukan manuever akhir. Semua BVR missile, kecuali Meteor, sebenarnya hanya mempunyai cukup bahan bakar untuk menyala selama beberapa detik. Setelahnya, BVR missile akan melaju seperti peluru, tanpa dorongan lebih lanjut dari mesinnya. Karena kecepatan missile akan selalu lebih cepat dibandingkan pesawat target (900 km/jam), lingkar beloknya juga akan jauh lebih besar: membutuhkan puluhan G untuk berbelok cukup cepat mengalahkan pesawat tempur yang menarik 5G pada kecepatan 900 km/jam.



Pemenang: Gripen

Pemenang dalam babak ini juga terlampau jelas.

Kedua Gripen boleh terbilang menduduki kursi terdepan dalam pengoperasikan BVR combat dewasa ini, dan antara keduanya, versi-E yang sudah mendapat Sensor Fusion



Close Combat

Perhatikan gaya G-force yang dirasakan pilot AndrΓ© dalam setiap manuever dalam video Saab ini! 

+9G, atau sembilan kali lipat gaya gravitasi bumi
adalah batasan maksimum gaya G yang masih dianggap aman terhadap tubuh manusia.
Lebih dari 9G membuka resiko G-Loc,
atau kehilangan kesadaran akibat G-Force

Pertama-tama, jangan lagi membayangkan kalau pertempuran jarak pendek antara pesawat tempur akan serupa seperti pertandingan di ring tinju, seperti dalam tipikal artikel "analisis" perbandingan antara kedua pesawat tempur yang lain: 

Kedua petinju datang dari arah yang depan, dan kemudian bisa saling bertarung di tengah-tengah ring.

Pertempuran jarak dekat modern antara pesawat tempur dari kedua belah pihak akan cenderung memenuhi semua persyaratan berikut:
  • Melibatkan lebih banyak dari hanya satu pesawat dari masing-masing pihak.
  • Belum tentu kedua pihak akan bertemu head-on, atau dari arah depan. 
  • Pihak yang lebih menguasai Situational Awareness, dan lebih terlatih / berpengalaman, akan cenderung dapat memilih agenda pertempuran; mulai dari arah mana mereka akan menyergap lawan (tidak akan sebodoh itu dari arah depan!!), sampai beberapa langkah detail bagaimana bisa cepat menyelesaikan pihak lawan.
  • Yang paling penting: tidak seperti dalam pertunjukan di Airshow, setiap pertempuran jarak dekat tidak akan berlangsung lebih lama daripada satu menit, atau paling cepat bisa terselesaikan hanya dalam beberapa detik.
  • Dan terakhir, pertempuran jarak dekat akan cenderung lebih didominasi oleh missile WVR jarak dekat yang kemampuan Kill-nya jauh lebih tinggi dibandingkan BVR missile.
Kelima variable ini sendiri tidak akan pernah konsisten by-the-book, sebaliknya akan selalu fluid, dan selalu menuntut kesigapan flight leader, dan setiap pilot dalam formasi untuk mengambil keputusan terbaik. Kelima variable ini juga sekaligus menjelaskan kenapa:
Ya, sekali lagi, walaupun sekilas kelihatan keren dalam pertunjukan seperti Paris Airshow 2013, Thrust-Vectoring  TIDAK RELEVAN dalam pertempuran jarak dekat. Kehilangan kecepatan, dan ketinggian selama belasan detik, sudah lebih dari cukup untuk membuatnya terlalu rentan dalam jenis pertempuran yang cenderung akan terselesaikan dalam waktu kurang dari beberapa puluh detik. Apalagi mengingat ukuran Sukhoi yang sebesar lapangan sepak bola, dan dengan dua mesin panas tanpa pengurangan IR signature .

Seperti pengalaman pilot Hunggaria dalam latihan NATO, Gripen yang lebih kecil selalu lebih sulit terlihat di mata, ataupun di radar. Single-Engined Gripen juga sudah mendapat pengurangan IR signature yang optimal, dan membawa lebih banyak flares dibanding kebanyakan pesawat tempur lain.

Gripen-C/E keduanya sudah siap membawa lethal cocktail bermacam-macam jenis missile jarak dekat yang mempunyai kemampuan LOAL (Lock-On After-Launch), atau mengunci target secara independent setelah dilepas dari rail launcher-nya terlebih dahulu, diperlengkapi dengan Thrust-Vector-Control, dan mempunyai sudut tembak 360 derajat sekeliling pesawat. 

Pengguna Gripen dapat memilih bebas antara AIM-9X Block II, IRIS-T, combat-proven Phyton-5, dan A-Darter -- kesemuanya bahkan dapat ditembakkan ke arah belakang pesawat induk, dan menggunakan planar array seeker untuk lebih membedakan target.

PLA-AF sebaliknya hanya dapat mengandalkan PL-8 yang adalah replica dari Phyton-3, atau PL-10 yang masih sama sekali baru, belum memakai planar array seeker, dan belum dapat diklaim kalau sudah dites cukup intensif seperti halnya model-model Barat.

.... atau R-73E legacy versi export? Walaupun sudah di-slave ke Helmet Mounted Cueing System, sudut maksimum engagement-nya hanya terbatas ke 65 derajat dari arah moncong pesawat. 

Patut diingat kembali kalau versi R-73, yang masih dijual melalui agen broker Rostec, sebenarnya masih diproduksi berdasarkan basis tehnologi di tahun 1980-an. NATO juga sudah mempelajarinya habis-habisan dari sisa stock missile yang ditinggalkan untuk MiG-29 ex-Jerman Timur.



Pemenang: Gripen

Gambar: USAF
Masih merasa membutuhkan pesawat twin-Engine, yang lebih mudah terlihat di radar, ataupun di mata pilot, lebih draggylebih berat, lebih boros bensin tanpa keunggulan jarak jangkau yang berarti, maintenance-nya jauh lebih mahal, dan tidak bisa berakselerasi lebih cepat?

Silahkan print, dan kemudian menunjukan gambar di atas ke anak kecil berumur lima tahun! Tanyakan, antara kedua model ini, mana yang akan lebih mudah untuk tertembak?

Jawaban semua anak kecil selalu sama: Yah, yang ukurannya lebih besar!

Secara hukum fisika sederhana, dan bukan logika Hollywood, pertempuran jarak dekat akan selalu berpihak kepada pesawat tempur single-engine yang tidak hanya lebih sulit terlihat radar Mk.1, alias mata pilot, tetapi juga lebih ramping, dan drag rate-nya lebih kecil. Dalam hal ini, baik keluarga Sukhoi Flanker, ataupun F-15 sudah membawa segudang liabilitas kalau mencoba menghadapi F-16, atau Gripen dalam pertempuran jarak dekat. 

Lebih penting lagi, pertempuran jarak dekat juga akan selalu memihak kepada yang lebih menguasai Situational Awareness. Mereka akan mendapat gambaran yang lebih jelas posisi yang paling optimal untuk mengergap lawan dari posisi yang tidak tertuga. Menyerang pada saat lawan tidak siap. 

Kalau belum cukup disitu, Gripen lebih terjamin dapat membawa daftar persenjataan yang jauh lebih modern dibandingkan apa yang bisa dibawa Sukhoi yang digunakan negara manapun.
Bukan tanpa alasan, Saab merancang Gripen lebih kecil daripada Viggen.
Drag rate yang jauh lebih kecil memungkinkan keunggulan kinematis,
walaupun Thrust/Weight ratio Gripen lebih rendah vs Viggen.



Penutup

Bakal lawan di Abad ke-21?
Su-35 Versi Export PLA-AF sudah mulai beroperasi di Laut Cina Selatan,
dalam rangka mengkuatkan klaim PRC atas "9-dash-line"
(Gambar: PRC MoD)
Kalau antara guru, dan murid re Sukhoi Flanker, hanya masalah waktu kalau PRC akan melebihi kemampuan Russia sendiri. Baik perekonomian, ataupun anggaran pertahanan PRC dewasa ini adalah yang kedua terbesar di dunia, mereka boleh dibilang mempunyai kemampuan mengoperasikan Flanker, seperti seharusnya pada masa Soviet. Setiap part akan selalu ready stock, atau bisa di fotocopy sendiri lepas dari ketergantungan akan Rostec. Fitur "gampang rusak" seperti yang sering dikeluhkan India, atau "perbaikan mendalam" seperti favorit-nya Sku-11 Indonesia, menjadi sangat tidak relevan.

Kemajuan tehnologi PRC sendiri yang diperoleh dari berbagai macam cara, cenderung akan melaju lebih cepat dibandingkan Russia, yang dewasa ini sudah semakin terkucilkan (Link: BBC) akibat antagonisme dengan pemerintah negara-negara Barat.


Inilah kenapa Skenario Neraka di atas laut Natuna Utara adalah realita yang memang bisa terjadi seandainya Indonesia mencoba mengoperasikan Su-35 Versi Anti-Komunis untuk "mengimbangi" PLA-AF. Tidak hanya biaya operasional mereka jauh lebih murah, tetapi untuk PRC, Sukhoi Flanker adalah pesawat tempur yang memenuhi semua persyaratan kedaulatan alutsista.

Kembali ke pihak Indonesia, sayangnya kita masih terbelenggu dalam penjajahan para penjual barang versi export, dan juga pola pemikiran kalau "beli banyak = kuat", dengan prioritas "diversifikasi supplier" dalam rangka menghindari embargo, yang sudah tidak mungkin bisa terjadi lagi, seiring dengan semakin demokratisnya Indonesia. Kesemua pola pikir ini justru semakin memperlemah kemampuan pertahanan udara kita dari tahun ke tahun.

Sementara di tahun 2003, TNI-AU masih berhasil mengudarakan dua F-16 bersenjata lengkap untuk menghadang 5 F-18 Hornet US Navy dalam Insiden Pulau Bawean, bahkan meragukan kalau dua puluh tahun kemudian ini, kalau TNI-AU masih akan bisa mereplikasi prestasi yang sama. Ya, bahkan tanpa diberlakukannya embargo militer.

Kita hanya perlu mempertanyakan dua pertanyaan sederhana terlebih dahulu:

Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian. Kita harus bisa membuat komitmen untuk menjawab kedua pertanyaan ini terlebih dahulu, sekaligus membangun kemampuan industri pertahanan lokal, sebelum akhirnya bisa mendapatkan "Efek gentar" yang nyata.

Sayangnya, semua ini sekarang masih jauh dari kenyataan, karena kita terlalu sibuk mengejar mimpi versi export downgrade Su-35K, atau IF-X, yang selain memboroskan anggaran yang terbatas, tidak akan mungkin membuat kita bisa menjadi lebih kuat.
Flight Testing Gripen-E 39-8
(Gambar: Saab)
Gripen-C, atau Gripen-E?

Gripen-C sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pertahanan udara yang mendasar, atau "mengimbangi" tetangga. Bahkan Fully-networked satu skuadron Gripen MS-20 (16 pesawat) saja, yang biaya operasionalnya lebih murah, sudah dapat melakukan lebih banyak hal dibandingkan seluruh TNI-AU yang sekarang. Empat Gripen-C saja sudah dapat beroperasi seperti mini-AWACS; prestasi yang tidak bisa direplikasi pesawat tempur TNI-AU manapun dewasa ini..

Perbedaan utama antara Gripen-C, dan Gripen-E adalah expandability dalam jangka panjang. Versi-C masih mempunyai tempat dalam sistem pertahanan modern, dan masih bisa terus di-upgrade, tetapi akhirnya keterbatasan hardware yang akan membatasinya dalam jangka panjang. Versi-E sudah dirancang justru untuk menembus batasan-batasan versi-C, yang sudah dirancang sejak 30 tahun lalu.

Kedua-dua model tentu saja akan memenuhi persyaratan untuk membangun industri pertahanan lokal, sesuai dengan amanat UU no.16/2012, yang saat ini seperti sudah dituliskan untuk dilanggar:

Entah kenapa, model ini justru yang terlalu difavoritkan. Aneh, bukan?

Atau mungkin tidak terlalu aneh?



64 comments:

  1. Min itu dari Saab promo RBS-15 Mk.IV Gungnir katanya dimensinya lebih ringan daripada RBS-15 Mk.III dengan jarak tembak lebih jauh. Itu anti-ship missile apaan lagi ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejauh ini belum ada publikasi lebih lanjut mengenai RBS-15 Mk IV.

      Badan FMV Swedia sudah mengajukan pemesanan ke Saab, dan Diehl System untuk development-nya dari tahun 2017 lalu.

      Secara tehnis, RBS-15 sebenarnya bukan hanya anti-ship missile, tapi cruise missile yang sudah khusus dirancang untuk bisa menembus sistem pertahanan terintegrasi, seperti AEGIS system, atau S-400.

      Sama seperti prinsip kerja Stormshadow / Scalp EP, atau Taurus; RBS-15 akan terbang serendah mungkin mengikuti terrain untuk menghindari deteksi dini dari radar di darat.

      Target dikunci melalui GPS, dan inertial navigation.

      Perbedaannya, selain jarak jangkaunya lebih kecil, untuk manuever akhir, dua RBS-15 yang ditembakan bersamaan dari platform sama, akan mencoba mengambil arah serang manuver akhir dari arah yg berbeda-beda.

      Delete
  2. Bang coba dong jangan bahas artikel matra udaranya aj..mungkin di matra udara kita berharap pemerintah bisa lebih memilih gripen dr pada sukoi..tp di matra darat dan laut juga di buat artikel mana yang lebih baik untuk nkri versi analisa lu bang ...thaks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tahun ini semoga kadang lebih bisa menyorot ke alutsista darat, atau laut.

      Sebelumnya kita sempat membahas masalah re kapal selam.

      Pertama, mayoritas perairan Indonesia Barat tetutama, adalah perairan laut dangkal berkedalaman kurang dari 50 meter. Ini saja sudah menyulitkan perang kapal selam di Indonesia, yang memgharuskan bisa menyelam 100 meter untuk menghindari lawan setelah selesai menembak kapal lawan.

      Kedua, kelihatannya kita juga sudah mengakusisi jenis kapal selam yg salah re keterbatasan di atas.
      Changbogo hanyalah versi dari Type-209, yang tidak diperlengkapi AIP (Air Independent Propulsion) untuk menyembunyikan kapal selam.

      Hal lain, untuk menanggulangi keterbatasan laut dangkal, seyogyanya kapal selam Indonesia juga bisa menhoperasikan anti-ship missile dengan jarak jangkau lebih dari 100 km. Ini akan memperlebar pilihan strategi yang tersedia dibanding hanya mengandalkan torpedo.

      Tetapi secara keluruhan memang topik utama blog ini lebih menyorot ke kebutuhan mantra udara, bukan mensponsori akuisisi Gripen.

      Kebetulan Gripen adalah jawaban yang tepat untuk mulai membangun lagi dari awal sistem pertahanan yang modern.

      Masalah kedua, selain Gripen, tidak ada lagi pilihan lain yang lebih ideal dalam rangka juga turut membangun industri pertahanan lokal.

      Kita tidak mempunyai cukup anggaran untuk mengoperasikan twin-engine fighter seperti pilihan Eropa lain: Typhoon, dan Rafale.

      Kita bukan seperti Swiss, tetapi merekapun juga mendapat kesimpulan kalau Gripen adalah pilihan yang lebih ekonomis, dan ideal.

      Sedangkan satu2nya single-engine yang lain, F-16, juga hanya tersedia dalam versi export, walau terjamin jauh lebih modern dibandingkan Flemon, atau IF-X.

      Delete
    2. Admin kemaren ada berita berita tentang PT.Persada Husada mau bikin pabrik baterai ion lithium dengan Ultracharge Australia emang beda AIP dengan baterai lithium ion itu apaan sih ?

      Delete
    3. Ultracharge Australia baru saja menandatangani kontrak kerjasama dngn PT Garda Persada untuk produksi solusi baterai lithium ion untuk menggantikan baterai lead-acid yg sekarang. Kelihatannya lebih diperuntukan ke keperluan sistem komunikasi, seperti misalnya, pemancar radio AD di lapangan.

      Ini bukan diperuntukan ke baterai, atau sistem AIP kapal selam.

      Kapal selam standard memakai mesin diesel-electric. Mesin diesel tidak terhubung langsung ke baling2 propulsi, melainkan untuk menghasilkan listrik yang menjalankan mesin listrik utk menjalankan propulsi kapal selam.

      Untuk menyelam, kapal selam akan beralih dari mesin diesel psebagai enghasil listrik ke simpanan baterai, yg sebelumnya sudah di-charge oleh mesin diesel tadi.

      Tehnologi ini sudah ada semenjak 1910-an akhir, dan terus disempurnakan.

      Sistem AIP (ada beberapa jenis) menggantikan / menyempurnakan fungsi tugas baterai konvensional dalam kapal selam diesel elektrik.

      Kelebihan pertama, kapal selam AIP tidak lagi tergantung battery charge. Dapat menyelam berminggu-minggu tanpa perlu naik ke permukaan.

      Kedua, tentu saja acoustic noise (suara akustik) yg dihasilkan AIP jauh lebih minimal dibandingkan ks konvensional. Tetapi kecepatannya akan jauh lebih lambat untuk meminimalisasi suara.

      Kapal selam Swedia, misalnya, menggunakan mesin Sterling untuk menghasilkan listrik di bawah laut.

      Sistem AIP di Type-214 menggunakan fuel cell sebagai pengganti baterai, yg membutuhkan hydrogen, dan oksigen sebagai sumber bahan bakar.


      Delete
  3. Bang dalam dunia militer jikalau beli alutsista lebih baik terbuka di publik apa secara diam2 ya...contoh seperti singapura yang lebih banyak diam dalam hal pembelian alutsista tp yg dibeli bisa si bilang wau. Dari pada di tanah air baru rencana aj tapi udah heboh..tanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini bukan lagi masa perang dingin, dimana segala sesuatu bisa dirahasiakan dalam nama "keamanan negara".

      Kita juga sudah menjadi negara demokratis, dimana kedaulatan seharusnya sudah berada di tangan rakyat.

      Dalam rangka ini, secara ideal seharusnya semua akuisisi alutsista berlangsung secara transparan, melalui skema G-to-G, dan hanya boleh dilakukan sesuai kebutuhan.

      Sayangnya, kita tahu sejauh ini praktek akuisisi kita masih jauh dari harapan. Seperti contoh kasus AW101 yang mencuat, banyak yang mendadak bisa menjadi agen sales perusahaan asing, transparansi kurang, dan kebutuhan nasional menjadi tidak relevan.

      Kalau kita melihat sejarah Sukhoi Indonesia, ini malah sebenarnya sudah.... JAUH lebih merugikan rakyat, dan negara daripada kasus AW101.

      Contoh seserhana dari akibatnya:

      Saat ini kita adalah satu2nya Angkatan Udara di dunia, yang mengoperasikan lebih banyak pesawat tempur daripada missile yamg dibutuhkan.

      Seperti dalam penutup artikel:
      Bahkan meragukan kalau TNI-AU masih bisa mereplikasi insiden pulau Bawean 2003:

      F-16 sekarang senjatanya saja tidak ada!

      Sedangkan Sukhoi?

      Mencegat pesawat baling2 bambu (300 km / jam) yang terbang lurus dari laut Timor ke arah Filipina saja tidak becus. Masakan baru bisa mencegat sampai Manado, yang sekitar satu jam terbang ke arah Timur Laut dari pangkalannya?

      Inilah yang menunjukkan kekacauan dewasa ini.

      Entah kenapa, agar merasa "lebih kuat", malah kesengsem lebih banyak lagi pespur versi export yang justru sudah sangat memalukan.

      Terlepas dari motivasi pembelian (Sukhoi satu-satunya yang tidak dijual melalui skema G-to-G bebas komisi), secara logika saja langkah semacam ini tidak menunjukan upaya untuk menyelesaikan masalah.

      ... justru hanya akan memperbanyak segudang masalah baru.

      Delete
    2. Untuk Singapore, perlu diingat terlebih dahulu walau secara index demokrasi lebih rendah, akan tetapi dari index persepsi korupsi, mereka jauh lebih unggul dibandingkan Indonesia.

      Singapore sejauh ini belum pernah membeli alutsista via para perantara. Mereka justru sengaja menjauh dari supplier Rusia, dan PRC, yang keduanya tidak mengenal skema G-to-G.

      Kedua, jangan lupakan juga kalau perekonomian Singapore, sama seperti Australia, juga sudah jauh lebih maju. Berapapun besarnya anggaran pertahanan kita, jauh lebih mudah untuk mereka ikut mendongkrak agar tetap lebih besar.

      Terakhir, kembali ke masalah kerahasiaan.

      Mereka bukan merahasiakan jenis apa yang mereka beli, melainkan berapa jumlah yang sudah mereka beli.

      Ini juga tidak berlaku untuk semua alutsista.

      Hanya F-15SG, yang menurut pernyataan resmi, Singapore hanya membeli 24 pesawat, walaupun seperti dilaporkan beberapa website dari laporan registrasi pesawat sipil di US; kelihatannya Singapore sudah mengakuisisi 40 F-15SG.

      Lebih dari itu, mereka juga cukup transparan ke publik re Sistem Pertahanan mereka yang sudah terintegrasi, dan terjamin dapat bergerak samgat cepat dalam konflik.

      Perbedaanya ke Indonesia terlalu jauh, bagaikan bumi dengan langit.

      Delete
  4. Kita perlu ato tdk LHD (Landing Helicopter Deck) sbg negara kepulauan....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, ini kebutuhan yang lebih nyata, dan sebenarnya lebih harus mendapat prioritas dibandingkan kapal selam.

      Saat ini kebutuhan ini hanya terpenuhi oleh keempat kapal Makassar LPD, dgn kapasitas 5 helikopter.

      LHD akan menjadi versi yang lebih besar, yang dapat mengoperasikan lebih banyak helikopter sekaligus (12 pesawat), dan 8 - 12 Landing craft, agar dapat mempunyai kemampuan untuk bisa mendaratkan 1000 marinir dalam beberapa menit.

      Dalam masa damai, kapal LHD juga akan bisa memimpin dalam operasi kemanusiaan, misalnya untuk paska-bencana alam, seperti Tsunami 2005 di Aceh.

      Jebakan akuisisi disini:
      Kebanyakan desain yg skrg ada cenderung terlalu mahal dibandingkan anggaran kita yg terbatas.

      Ukuran juga akan menjadi masalah. Terlalu besar, selain semakin mahal, juga akan selalu mudah menjadikannya target di masa konflik.

      Terlalu kecil kemampuan akan terkompromikan dari hasil yang diharapkan.

      Terakhir, helikopter yg akan dioperasikan juga sudah harus ditentukan dahulu sebelum desain kapal dimulai.
      Tidak bisa produksi kapal dulu, kemudian asal mencangkokan helikopter asing yang tidak compatible, spt contoh Mi-17 "perbaikan mendalam".

      Delete
  5. wedeww diulang ulang lagi. okeh dech kali jd tertarik mo nanya2 haha!🀠🀠🀠

    pertanyaan: om raden tolong jelasken:

    1. radar AESA mana di maksud sebut tipe dan pabrikannya dan asal negara pembuatnya apakah dr swedia?

    2. mesin apa yg terpasang di gripen & asal negara mana, apakah dr swedia?

    3. kursi pespur gripen siapa yg supplai dari negara mana, apakah dr swedia?

    4. persenjataan apa yg gripen miliki dari mana saja asal pabrikannya, apakah dr swedia?

    5. tot apa yg akan dikasi pihak gripen, tlng sebut detail barang yg diproduksi & nama produsennya, apakah dr swedia?

    sekian & trims haha!🀝🀝🀝

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih untuk tipikal komentar berpola agen sales perusahaan asing, yang sifatnya hanya mau mengetes satu2nya pilihan yang jauh lebih berdaulat.

      Mari kita memahami sekali lagi beberapa point yang lebih penting:

      1. Pertama, Saab Gripen BUKANLAH model versi export downgrade.

      Saab menjanjikan kedaulatan penuh negara pembeli atas pemakaian; alih tehnologi, dan kustomisasi platform sesuai kebutuhan.

      Pemenuhan semua persyataran UU no.16/2012 adalah kriteria utama, dan sebenarnya apa yang ditawarkan Saab sudah jauh melebihi persyaratan Undang2 kita!

      2. Reputasi Swedia juga sangat baik dalam hal ini.

      Belum pernah ada yg complain re alih tehnologi, atau kerjasama industrial.

      Tidak mengherankan, karena Swedia adalah negara netral berpenduduk 7 juta orang, tanpa pernah mengikuti sejarah kelam kolonisasi negara Asia-Afrika, dan sekarang ini menduduki peringkat tertinggi dalam Anti-Korupsi.

      Ya, relatif kata korupsi itu tidak dikenal orang Swedia.

      3. Berapa % komponen buatan US di Gripen tidak relevan dalam konteks pemakaian, ataupun alih tehnologi.

      Semua komponen, terlepas dari asal muasalnya, sudah dipilih untuk kemampuan performa yang optimal.

      Aneh, kalau anda khawatir dengan sebagian komponen buatan AS, tetapi malah seperti menganjurkan kita beralih ke barang yang 100% buatan Russia?

      Komponen Russia sudah memupuk reputasi CEPAT RUSAK, om raden!

      Tidak pernah dirancang untuk tahan lama, karena masih terjebak produksi masal jaman Soviet; setiap pabrik harus memproduksi part setiap hari, hingga kalau ada yg rusak, bisa langsung diganti dari produksi baru.

      Sayangnya, dengan anggaran kurang dari $60 milyar per tahun, Ruski skrg tidak lagi punya cukup uang untuk produksi masal seperti jaman Soviet.

      Bicara sudah pasti gampang rusak.....

      4. Tentu saja, Sukhoi adalah pra-sarana ideal untuk memudahkan KORUPSI.

      Bayangkan kalau setiap beberapa bulan, daftar stock spare part yang dibutuhkan... hanya untuk merawat Flemon jumlahnya sampai ratusan part!

      Nah, sekarang bayangkan lagi:
      Untuk setiap part yang harus dibeli, anda bisa menyematkan beberapa % "biaya tambahan", alias harga setiap part menjadi harga ketokan.

      Alhasil, kalau misalnya harga part dari pabrik semisal hanya US$100, tagihan anda ke TNI-AU bisa menjadi $125 (!!)

      Tentu anda bisa beralih fluktuasi nilai tukar valas, atau karena produksi pabrik musiman / stock di Rostec sedang sedikit, harga beberapa part bisa lebih mahal tahun ini, dibandingkan tahun lalu.

      Asyik, kan, om raden, kalau anda mau memperjuangkan kontribusi korupsi melalui Sukhoi?

      Bukalah mata anda!
      Dan mulailah belajar memperjuangkan pilihan terbaik untuk kepentingan, dan kebutuhan Nasional!

      Delete
    2. Tentu saja, sebagai fitur bonus, sekali lagi:

      Sukhoi adalah satu2nya pesawat tempur yang TIDAK DITAWARKAN MELALUI SKEMA G-to-G!

      Sesuai dekrit Presiden Ruski sendiri, setiap transaksi harus dilakukan via perusahaan agen perantara Rosoboronexport, dan secara tak langsung induk perusahaannya, makelar Rostec.

      Seperti yang sudah dilaporkan Transparancy International, org:

      Russia (141) juga dinilai sebagai negara yang peringkat persepsi korupsinya lebih parah dibandingkan Indonesia (95).

      Bahkan di Russia saja, kita tahu kalau tingkat korupsi dalam anggaran pertahanan mereka cukup tinggi.

      Perhatikan saja laporan umum seperti dalam link Transparancy.RU ini!

      Korupsi, atau istilah sopannya, harga markup, ataupun kickback, bukan lagi suatu kemungkinan, tetapi suatu kepastian.

      Delete
    3. Berarti dalam bentuk apa swedia akan memberi tot kepada indonesia (aslinya udah tau gambarannya, cuman mau mengingatkan bung GI sepertinya ada poin pertanyaan yg belum terjawab dengan baik)

      Delete
    4. Betul,

      Topik ToT ini memang belum sempat dibahas terlalu mendetail.

      Sebagai bagian dari ToT, yang paling menarik adalah penguasaan dari Source Code Gripen misalnya, yang boleh terbilang adalah yg paling modern dewasa ini, dan mustahil bisa didapat dari model lain manapun.

      Kita akan mengupas lebih lanjut perlahan2.

      Topik berikutnya membahas AESA radar, dan kelebihan GaN AESA yang akan dipasang ke Gripen-E, mungkin setelah update MS-22.

      Kelihatannya Saab berencana mengganti transmitter di Raven ES-05 menjadi GaN transmitter. Versi ini akan disebut radar EP-05.

      .... sementara AU Ruski sudah puas dengan Irbis-E tehnolohi tahun 2005, "yang tak tertandingi".

      Pada hakekatnya sejauh mana keuntungan nasional dari alih tehnologi Saab akan sepenuhnya tergantung kepada komitmen kita sendiri!

      Sejauh mana kita mau bekerja keras?

      Seperti contoh Source Code, atau GaN AESA radar, misalnya, peluang emas disini adalah ikut mengambil peran dalam tehnologi pespur dunia!

      Apakah juga dengan alih tehnologi semakin tahun juga biaya operasional Gripen akan semakin besar yang lebih dibayarkan ke industri dalam negeri?

      Sekali lagi semuanya akan tergantung kita.

      Dengan IF-X, kita hanya akan menjadi pengemis ke KAI, atau ke majikan mereka, Lockheed.

      Dengan Rostec.... tidak perlu dibahas lebih jauh.

      Delete
  6. Menari ... ternyata Saab Grippen kalah telak dengn F16 Viper dalam kompetisi pengadaan pesawat tempur Republi Cheko ..

    https://www.facebook.com/Maxdefense/posts/754468988057094

    ReplyDelete
    Replies
    1. Slovak.

      Czech Republic sudah dari tahun 2008 menyewa 14 Gripen-C/D, dan sudah merencanakan upgrade ke MS-20.

      Sebenarnya tidak hanya Gripen, tetapi juga Rafale, atau Typhoon sulit untuk bersaing dalam rata2 kompetisi pespur negara2 NATO.

      Kenapa demikian?

      United States of America... adalah negara anggota terbesar, dan terkuat NATO.

      Insentif untuk membeli produk US, walaupun hanya versi export, jauh lebih baik dibandingkan membeli Eurocanards.

      Dimulai dari dukungan secara politik, nilai offset ekonomi, ataupun dalih, seperti misalnya.. kompatibilitas untuk bisa mengoperasikan B-61 bom nuklir yang masih di-stock NATO di Eropa.

      Alasan B-61 inilah yg menjelaskan kenapa Jerman-pun masih sibuk membahas kemungkinan mengakusisi F-35A Lemon II versi export, kalau sampai Panavia Tornado mereka mulai dipensiunkan di tahun 2025.

      Inilah juga salah satu alasan di belakang layar, kenapa FMV pemerintah Swedia menolak untuk mengikuti kompetisi pespur Belgia, yg skrg sudah mulai bermasalah sendiri akibat komplikasi politik.

      Kemenangan Block-70 di Slovak tidak membuktikan apa2 selain insentif membeli produk US akan selalu lebih unggul dibanding membeli produk Eropa sendiri, yg seharusnya jauh lebih menguntungkan secara tehnologi atau industrial.

      Gripen-C MS-20 ataupun Gripen-E adalah dua jenis pesawat tempur yg jauh lebih unggul dibanding F-16 Block-70 Versi Export, yang tentu saja sudah mendapat pengurangan kemampuan, dan paket upgrade-nya hanya akan semakin sulit di masa depan.

      Jangan lupa juga, tanpa adanya order F-16 baru, lini produksi pesawat yg seharusnya jauh lebih unggul dari F-35 ini, sudah terancam akan tertutup!

      Insentif untuk negara2 yg tidak mampu membayar, atau tidak diijinkan membeli F-35 Lemon II akan menjadi lebih baik.

      Sekarang order dari Bahrain, dan Slovak sudah menyelamatkan lini produksi F-16 paling tidak untuk 4 tahun ke depan.

      Delete
  7. Catatan perihal Alih Tehnologi

    Jangan berpikir alih tehnologi itu sifatnya satu arah seperti bayi yang menyusui!

    Tinggal menangis, semuanya bisa masuk ke dalam mulut tanpa perlu bekerja.

    Ini kebiasaan buruk membahas analisis2 militer di Indonesia: Terlalu banyak bermimpi, seolah2 kemampuan, atau efek gentar bisa begitu saja jatuh dari langit asalkan membeli suatu produk.

    Analogi sederhana: Apel.

    Dengan terus-menerus membeli produk versi export, si penjual berharap selamanya kita tergantung terus membeli apel dari sumber yang sama ini.

    Kita harus siap nerimo kalau apel yang mereka jual itu sudah banyak ulatnya, atau sudah busuk.

    Penjual berharap kita mengkonsumsi apel busuk itu dengan senang hati!

    Dalam alih tehnologi, kita justru harus belajar bisa menanam sendiri perkebunan apel itu dari nol.

    Hari ini mulai ditanam, bukan berarti besok langsung panen.

    Kalau sudah mulai bertumbuh, belum tentu tidak akan ada rintangan, seperti misalnya serbuan hama korupsi.

    Mendapat keuntungan maksimal dari alih tehnologi akan menuntut komitmen, displin, kemauan untuk maju dan investasi serius baik dalam keringat, ataupun secara finansial.

    Kalau kita rajin menanam, dan merawatnya dengan baik, akhirnya akan buah2 ranum alih tehnologi akan terus memberi keuntungan nasional secara jangka panjang.

    ReplyDelete
  8. http://www.businessinsider.com/russia-admits-defeat-su-57-not-going-into-mass-production-2018-7

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, ini baru saja mau dibuatkan update komentar.

      Delete
  9. Artikel Business Insiders, seperti sudah di-post-kan bung Haykal di atas.

    Penulis: Alex Lockie

    Wakil Menhan Russia, Bosirov baru membuat pengumuman:
    "Kita sudah membuat Su-57 sebagai pespur terbaik di dunia. Oleh karena itu, tidak masuk akal untuk terlalu cepat memproduksi secara massal pespur generasi kelima ini."

    Nah, loh?

    Pernyataan ini saja sudah terlihat sangat kontrakdiktif, alias menembak kaki sendiri, bukan?

    Pertanyaan logika:
    Kalau Su-57 begitu bagus, bukankah seharusnya diproduksi secepat mungkin untuk menggantikan legacy fighters, spt Su-27/30/35?

    Tentu saja kita sudah tahu sekarang kalau Su-57 BUKAN pesawat stealth, dan masalahnya seabrek.

    Pengumuman Bosirov lebih lanjut menyatakan kalau Russia hanya akan memproduksi 12 Su-57, sementara akan terus mengandalkan Su-30SM, atau Su-35S.

    Yah, seperti dicatat Alex Lockie, sebenarnya pernyataan ini justru bisa diartikan pernyataan menyerah kalah: Kami gagal membuat pesawat Stealth sekelas F-22

    Yang lebih menarik disini adalah pola penyampaian komentar-nya.

    Sama seperti pernyataan Kenapa Su-35S "tidak perlu" membawa AESA radar, karena Irbis-E PESA sudah lebih dari cukup..

    "Kami sudah sangat puas dengan single-frequency PESA radar"

    ..... dengan resolusi, dan jarak jangkau yg lebih terbatas dibanding AESA, dan akan mudah terlihat di layar RWR pespur modern, dan justru akan mengumumkan posisi Su-35 kepada lawan dengan begitu mudah.

    Yang lebih menarik lagi, kita juga bisa melihat pola yang sama dari para laskar pendukung Sukhoi di Indonesia.

    "Su-35 akan membuat kita ditakuti di kawasan ini!"

    Supaya pernyataan ini benar:

    Biaya operasional yang terlalu mahal,
    tidak adanya jaminan ToT dari penjual,
    tehnologi yg sudah ketinggalan jaman,
    dan kepastian akan adanya pengurangan spesifikasi Versi Export Downgrade,
    tidak adanya combat-proven sistem operasional,
    Atau kenyataan kalau semua senjata versi export yg tidak pernah dipakai sendiri oleh pembuat, tapi diharapkan bisa mengena,
    Dan negara2 tetangga itu juga harus begitu bodoh agar bisa takut,

    .... semuanya HARUS dianggap tidak relevan
    .

    ReplyDelete
  10. Admin kalau yang saya baca dari Janes.com sama aviationweek itu contoh production line Gripen di Sao Bernardo do Campo Brazil buat produksi 6 items plus avionik; 1) Tail cone, 2) aerodynamics brake, 3) wing box, 4) & 5) front fuselage buat single seat dan double seat, 6) rear fuselage buat single seat. Selain 6 item tadi ada transfer of technology buat avionic dan source code dari Saab ke Embraer.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Re Source Code
      Semua pembeli Gripen mendapatkan untuk kontrol atas source code.

      Kelebihan utamanya - kedaulatan mutlak. Semua kemampuan optimal Gripen tersedia untuk pembeli. Tidak ada yg ditutup2i seperti rongsokan versi export.

      Pertanyaannya seberapa jauh negara pembeli dapat memanfaatkan kelebihan ini?

      Afrika Selatan misalnya, berhasil mengembangkan A-Darter WVR, dan sekarang sedang sibuk mengembangkan Marlin BVR missile.

      Dengan pespur lain; mereka tidak akan bisa mendapat kebebasan yang sama untuk mengembangkan, mengetes,dan mengintegrasikan senjata buatan sendiri.

      Untuk Brazil:
      Kembali, ini salah satu contoh penyerapan Alih tehnologi dari Saab.

      Alih tehnologi itu seperti menabur benih. Brazil harus turut bekerja keras untuk memupuk, dan mengembangkan setiap benih yg mereka dapat.

      Prestasi setiap negara akan berbeda dalam hal ini. Tergantung tidak hanya pada komitmen, dan investasi, tetapi perencanaan jangka panjang.

      Delete
  11. Admin ada yang bilang platform datalink yang dipengen AU & AL itu Link Y buatan Thales malah ada yang bilang F-16 Viper bakal dual datalink selain Link 16 yaitu Link Y. Itu gimana admin ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk National Networking.... sekarang ini masalahnya ruwet.

      Link-Y sebenarnya perangkat standard untuk Sigma-class.

      Link-16 adalah datalink perangkat standard untuk F-16, dan juga... Rafale / Typhoon.

      Sekarang yang menjadi masalah -- berkat ide diversifikasi; jumlah supplier TNI itu sudah meledak terlalu banyak sejak tahun 2000-an.

      TNI menjadi terpaksa mengoperasikan berbagai macam perangkat yg tidak mempunyai operational procedure yg sama, seperti contoh F-16 v Sukhoi.

      Efek negatif tahap selanjutnya:

      Alutsista yang buatan PRC, dan Ruski tidak akan diperbolehkan / tidak akan bisa di-network dengan alutsista Barat.

      Jangankan begitu, dari dua supplier Barat ug gado2 kuga belum tentu bisa diintegrasikan bersama.

      Masalah kedua: kalau kita tidak ada upaya untuk membangun national networking sendiri, tp mencoba membeli off-the-shelf seperti Link-16;

      Coba tebak masalahnya?

      Versi Export Downgrade.
      Link-16 membutuhkan persetujuan Pentagon, pengurangan spesifikasi sudah hampir pasti, sedang customisasi yg diijinkan akan sangat terbatas.

      Delete
    2. Tambahan sedikit:

      Yang paling menjadi masalah re Networking, sebenarnya justru adalah alutsista yg paling membutuhkan Networking: pesawat tempur.

      Sukhoi (versi manapun) tidak akan diperbolehkan di network dngn pespur Barat.

      Networking memerlukan kontrol atas source code terutama re sistem komunikasi.

      Asalkan bisa mendapat ijin, kontraktor US akan dapat mengintegrasikannnya ke F-16.

      Sukhoi, yah, begitu saja. Tidak bisa diapa2kan.

      Delete
  12. Ternyata si Pak cik upil ini mengkonfirmasi kalau dirinya pemain lama pro-makelar perusahaan asing, yg sudah pernah berdebat sebelumnya.

    Komentar Upil tidak akan di-post agar menggangu thread sebelumnya, tapi akan disajikan disini untuk memperlihatkan cara kerja anggota PT Fanboyz ini:

    =======
    Jawaban nya ngalor ngidul bung Gi,saya hanya minta jabarkan part mana saja yang di gunakan saab dalam pespur gripen
    =======

    "Bung Gi" adalah nickname lama penulis yg sudah tidak dipakai hampir 3 tahun sejak berkonsentrasi ke blog ini.

    "Jawaban ngalor-ngidul..."

    Bukan ngalor-ngidul, tetapi sebenarnya mengarahkan topik ke arah yang benar dari pertanyaan yang salah.

    Kita harus lebih memperhitungkan Kedaulatan atas alutsista, memperhatikan kebutuhan nasional, dan mempertimbangkan kemungkinan korupsi terlebih dahulu, sebelum memperhatikan topik pertanyaan:

    "saya hanya minta jabarkan part mana saja yang di gunakan saab dalam pespur gripen"

    Ini walaupun sudah dijelaskan di atas, beberapa komponen Gripen memang berasal dari AS.

    Tujuan fanboyz ini adalah untuk menimbulkan keraguan berdasarkan formula2 lama, seperti takut embargo, dsb.

    ... dan dengan demikian menanam ide kalau "produk alternatif" berkualitas GASAK (GAmpang ruSAK) dari negara yang lebih korup "pilihan" mereka faktor resiko-nya lebih rendah.

    Inilah contoh bagaimana caranya menuliskan hoax, tanpa perlu menuliskannya secara jelas.

    Mereka hanya memancing supaya kita berpikir lebih negatif dahulu ke Gripen, dan dengan demikian mulai MELUPAKAN segala kelemahan Sukhoi Flemon.

    Entah kenapa, sejak 2012 sampai sekarang juga, belum satupun anggota PKI (Persengkongkolan Kommercheskiy Indonesia), atau Laskar Pelindung Sukhoi, yang bisa memberikan presentasi manis yang faktual;

    Kenapa mereka berpikir produk Versi Export Downgrade mereka yang sudah kuno, tanpa alih tehnologi, dengan biaya OP mahal yg menjamin kemudahan korupsi, dan kurangnya latihan.... beserta jalur transaksi non-G-to-G mereka...

    .... entah bagaimana bisa memajukan pertahanan Indonesia?

    ReplyDelete
  13. dEnGan Su-35,MaLaYsIa,SiNgApOrE,DaN AuStRaLiA aKan TaKuT

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah,

      Hanya di dalam mimpi ini bisa terjadi.

      Semua Angkatan Udara negara lain tahu kalau kita bermimpi akan mengoperasikan pespur yang kemampuan biaya operasionalnya yg menggentarkan, dan diluar keterbatasan anggaran yg terbatas.

      ... hanya barang downgrade,

      ... tanpa sistem operasional, atau pelatihan yg jelas pula.

      Membeli Su-35 memang akan masuk berita, menciptakan persepsi bangga.

      Tentu saja ... di belakang layar, semua negara lain hanya akan menertawakan kita.

      Delete
  14. Admin,itu di berita2 katanya ada 1 CN-295 MPA/ASW siap diserahkan ke TNI-AU November 2018, dibandingin CN-235 MPA atau platform yg lebih besar P-3 Orion & P-8 Poseidon gimana perbandingan CN-295 MPA/ASW

    ReplyDelete
    Replies
    1. P-3 Orion sudah tidak lagi diproduksi, sekarang P-8 Poseidon adalah standard ASW USN.

      Perbedaan vs C-295MPA:
      P-8 yg berbasiskan Boeing 737-800/900 tentu saja lebih mahal (sekitar $400 juta) dengan biaya operasional di kisaran $4000.

      Persuader yg pesawat baling2 terbang lebih lambat, tapi juga lebih murah untuk dioperasikan ($1000 / jam).

      Biaya untuk satu Sukhoi di Sku-11 saja sudah cukup untuk 35 C-295 Persuader.

      Dari segi system, Poseidon akan lebih modern, dan krn berbasiskan operationally proven system di Orion, kemungkinan kemampuannya lebih tinggi.

      Tetapi disini permasalahannya kembali; Cost benefit vs Performance.

      Kembali, mengingat perairan kawasan strategis Indonesia di wilayah Barat adalah perairan laut dangkal (kedalaman sekitar 45 meter), C-295 jauh lebih masuk di akal.

      Yamg membingungkan disini:
      Kenapa TNI-AU juga membeli pesawat MPA, sedang TNI-AL mengoperasikan armada CN-235 MPA-nya sendiri?

      Ini terjadi replikasi tugas yg sama, dalam dua angkatan yg berbeda.

      Di UK, tugas MPA jatuh ke tangan RAF (Angkatan Udara), sedangkan di US, tugas ini jatuh ke tangan USN.

      Hal yg menarik lainnya:
      Seperti biasa, kalau barangnya produksi PTDI, tidak terlihat pernyataan semangat gegap gempita, seperti kalau membeli barang2 lewat perantara, seperti Sukhoi, dan AW-101.

      Delete
  15. Update: Saab memperlihatkan RBS-15 Mk4 / Gungnir

    Link Naval Today.

    Saab akan memperlihatkan Gungnir untuk pertama kalinya dalam acara Farnsborough 2018.

    Beberapa detail baru mulai terlihat disini.

    Perbedaan antara land-attack cruise missile, dan Anti-shipping missile terlihat semakin menipis disini.

    Gungnir boleh dianggap sebagai versi yg lebih modern dibandingkan Tomahawk, dengan jarak jangkau melebihi 300 km, dengan target seeker generasi baru.

    Gungnir juga akan backwards compatible, dalam artian semua platform yg bisa menembakan versi RBS-15 pendahulunya akan dapat mengintegrasikan versi baru ini tanpa perlu investasi lebih lanjut.

    Setiap Gripen-E akan dapat membawa 4 Gungnir, dan satu skuadron serbu dengan 64 Gungnir akan dapat melumpuhkan total SAM system di kelas S-400.

    Salah satu topik yg belum dibahas lebih lanjut:
    Sebenarnya hampir mustahil untuk bisa mencegat hujan cruise missile.

    Singkat cerita, kenapa tehnologi anti-missile sebenarnya masih belum siap.

    ReplyDelete
  16. Admin itu di naval today ada artikel mengenai proyek bersama Damen Schelde dengan Saab untuk proyek korvet Tammandare Brazil, apa fregat Martadinata Class kelak bisa upgrade dengan angkut RBS-15 Mk.III & radar Sea Giraffe ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa harus pake sea giraffe....dinegara yg beriklim tropis?

      Delete
    2. Semua perangkat radar, EW, persenjataan, dan Networking di Sigma-class (Martadinata) buatan Damen; semuanya buatan Perancis.

      Secara tehnis, kalau mau mengintegrasikan perlengkapan buatan Swedia, ini akan menjadi perombakan total (major retrofit), dan hasilnya belum tentu akan bisa optimal.

      Lebih baik mendesain kapal baru, yang dari awalnya sudah direncanakan akan diperlengkapi semua buatan Swedia, dibandingkan mencoba retrofit Sigma-class.

      Mengintegrasikan keduanya dalam satu network di kemudian hari juga tidak akan banyak masalah.

      Lebih menarik kalau kita mulai merencanakan KCR bertaring harimau, yg membawa AESA radar, 4 Cruise Missile / Anti-ship missile, dan 4 Air-to-Air missile, yg fully networked agar dapat memandu targeting KCR lain, atau di kemudian hari bisa menjadi control ship, dari Unmanned combat boat.

      Delete
    3. Kayaknya kurang tepat kalo dikatakan semua sewaco-nya PKR adalah buatan perancis...

      Kalo diurutkan dr atas kebawah, justru perangkat buatan perancis terbatas pd datalink, sonar, rudal (mica+exocet), mesin diesel pielhstick/man, sistim navigasi inersia.

      Semantara sewaco lainnya : surveillance radar, fire control radar, cms adalah buatan thales-belanda, esm/ecm buatan thales-uk/racal.

      Kustomisasi menggunakan berbagai merek adalah hal yg lazim sepanjang memiliki basis teknologi yg sepadan....dan bukankah visby juga menggunakan ASW suite dan ESM buatan edo corporation/exelis-usa?

      Delete
    4. Sea Giraffe bukannya operasional ya di AL Singapura buat Victory Class sama setau aku ada yg dipake Hamilton Class nya AL Filipina, emang kenapa dengan iklim tropis ? Bukannya dia tuh macam Versi Saab nya Smart-S radar

      Delete
    5. Bung @smilinghari,

      Thales adalah supplier utama Damen Sigma-class untuk interface, radar, networking, dan persenjataan.

      Hanya OTO Melara cannon buatan Italia, tetapi fire control radarnya tetap saja Thales.

      Semuanya sudah terintegrasi dari awal, dan sudah terpasang.

      Bukan masalah memang kustomisasi yang berbeda2 untuk jenis kapal yang sama, tetapi semuanya harus direncanakan dari awal untuk bisa beroperasi satu kesatuan terlebih dahulu.

      Sistem radar Thales tidak akan bisa mengoperasikan RBS-23, atau RBS-15; karena keduanya belum pernah terintegrasikan ke perangkat radar, atau fire guidance buatan Perancis.

      Sistem integratornya harus bisa memastikan setiap sensor dapat saling memberi feedback balik ke Networking, ataupun persenjataan dalam satu kesatuan.

      Untuk Sigma-class, default integratornya adalah Thales.

      Kalau mau mengganti dengan sistem Saab, semuanya juga akan harus diganti satu per satu.

      Delete
    6. Versi akhir dari Sea Giraffe sudah melompat ke tipe AESA radar.

      Terlepas dari bandwidth gelombang-nya, performanya akan tetap bekerja optimal di semua cuaca / iklim.

      Andaikata, KRI ada yg direncanakan mengintegrasikan Sea Giraffe, Saab akan terlebih dahulu mengetes kelaikan sistem sebelum bisa dinyatakan operasional.

      Delete
    7. Re persenjataan / perlengkapan yg terintegrasi dalam satu platform.

      Beberapa contoh lain;

      AEGIS system di Hobart-class, hanya akan dapat beroperasi dengan berbagai jenis SM-class missile.

      Australia tidak bisa mengubahnya ke Aster missile, misalnya.

      Pesawat tempur juga sama.

      Sejauh ini, semua pespur buatan US tidak akan bisa mengoperasikan MBDA Meteor, bukan karena tidak bisa fit, ttp krn sistemnya belum bisa.

      Demikian juga, misalnya ALQ-99 Jammer yg dibawa EA-18G Growler; ini tidak bisa dioperasikan F-18E/F biasa, karena sistem kustomisasinya sudah berbeda.

      Dasault Rafale belum mengintegrasikan, dan karena itu tidak bisa mengoperasikan AIM-9X, atau AMRAAM.

      Delete
    8. @DR

      Ooh....begitu yaπŸ˜…

      Lalu kenapa korvet K-130 milik jerman bisa memadukan SEWACO buatan thales-belanda dengan rudal rbs-15?

      Delete
    9. Bung , bagaimana dgn KCR-60 apa mereka dapat menggantikan C-705 dgn RBS-15 mk.3/4
      Jika bisa apa yg harus dilakukan supaya Rudal tsb dpt terintergrasi dgn platform KCR-60 ?

      Trims

      Delete
  17. Kenapa KF-X sudah pasti GAGAL.

    Berikut ulasan singkat dari artikel Defense News ini:
    KF-X akan dipersenjatai IRIS-T dan Meteor.

    Ya, sekilas ini kabar gembira, tetapi justru sebaliknya, ini memperlihatkan kekacauan proyek ini dari awalnya:

    Negara "Partner kita" TIDAK PERNAH memprioritaskan kontrol Source Code untuk proyek.

    Seperti sudah diprediksi penulis semenjak 2014 yang lampau, dengan memilih Lockheed sebagai sumber ToT,
    pemerintah US tidak mengijinkan transfer code... bahkan untuk mengoperasikan AMRAAM, dan AIM-9X.

    Demikian dilaporkan berita ini, dan karenanya mereka sekarang berkata... akan memasang missile dari Eropa.

    ..... akan tetapi.... bukankah Lockheed tetap menjadi partner utama ToT proyek?

    .. dan radarnya darimana? Elta?

    BVR missile modern, khususnya, sangat sulit untuk diintegrasikan ke pesawat tempur.

    Lead integrator harus bisa mem-fuse komputer, sensor pesawat, datalink dengan BVR missile guidance, dan targeting menjadi satu kesatuan.

    Dalam hal ini, akan hampir mustahil KAI bisa mengintegrasikan Meteor dengan radar Elta, ataupun mungkin radar manapun juga.

    Secara tehnis, perusahaan2 Eropa, US, dan Israel tetap saja saling bersaing. Masing2nya harus membuka kartu kerahasiaan source code.

    Saab adalah lead integrator yg paling berhasil dalam hal ini, memadukan radar buatan UK/Italia, dengan EW mereka sendiri, mesin buatan US, dan persenjataan BVR manapun terlepas dari siapapun yg membuat.

    Untuk bisa mempersenjatai KF-X, maka KAI membutuhkan kompetensi yg sama dengan Saab.

    Tetapi tidak seperti Saab, KAI belum pernah menulis code sendiri, dan masih sangat tergantung dengan bimbingan tehnologi dari induk semang Lockheed-Martin, yg tentu saja sesuai peraturan export persenjataan buatan US, akan selalu menutup semua kartu.

    Kembali disini peran politik yang akan mendikte keberlangsungan proyek.

    Meragukan kalau Washington DC akan mengijinkan penulisan code missile Eropa ke radar Elta, krn dngn demikian seperti meresmikan produk saingan dari radar Northrop-Grumann, dan Raytheon.

    Di lain pihak, jenis radar alternatif manapun yg lain, peraturan export Washington DC tetap akan menghalangi kemungkinan mengintegrasikan tehnologi US manapun yg dipakai dalam KF-X... dengan tehnologi Eropa.

    Bahkan F-35 sekalipun, belum tentu akhirnya akan bisa mengoperasikan Meteor.

    Dengan demikian, pilihannya semakin sederhana.

    Antara KF-X mulai memilih radar APG-83, yg sudah bisa mengintegrasikan AMRAAM, dan AIM-9X, dan dengan pengurangan kontrol, sepsifikasi yg akan memastikannya sbg pespur yg lebih inferior dari F-16V...

    ..atau....

    Silahkan mencoba sendiri dengan rute sekarang, dan kemungkinan berakhir dengan pesawat yg tanpa senjata.

    Inilah akibat salah pilih partner... yg sebenarnya juga karena faktor politik.

    Dan kembali ke lingkaran setan, sama seperti Su-35AK (Anti Komunis), proyek ini terlalu didasari mimpi dari awalnya.

    ReplyDelete
  18. Selain korvet K-130 yg memadukan radar trs-3d, cms sewaco/thales-belanda dengan rudal rbs-15 dan ram....ada juga frigat halifax class milik kanada yg memadukan radar smart-s dan fire control saab ceros dengan rudal harpoon

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sy jawab disini saja termasuk utk komentar anda sebelumnya.

      Untuk contoh K-130, dan Halifax-class; ini tergantung siapa Lead Integrator-nya, bukan berarti pilihan perlengkapan gado2 sudah pasti bisa lancar.

      Untuk Halifax yg kelihatannya sangat gado2, sebenarnya baru di-refit di tahun 2007, oleh konsortium yg termasuk Lockheed, dan Saab AB.

      K-130 dengan radar trs-3d kelihatan lebih sederhana, memang sudah dioptimalkan utk mengoperasikan RBS-15 dari awalnya.
      Tentu saja, perpaduan Sea Giraffe dan RBS-15 akan lebih optimal.

      Sekali lagi ini semua akan tergantung lead integrator kesemua perlengkapan / persenjataan tsb. Terlalu gado2, maka hasilnya cenderung kurang optimal, dan biayanya akan selalu lebih mahal.

      Kembali ke Sigma-class; ini jelas. Kelihatannya Thales adalah kontraktor utama untuk integrasi sensor, dan persenjataan.

      Kalau mau menambah, misalkan RBS-15, bukan tidak bisa dengan radar Thales, tetapi coding-nya akan harus ditulis tambah lagi.

      Seperti diatas, hasilnya tidak akan seoptimal kalau sudah dengan default setup seperti di Visby-class.

      Delete
    2. ... dan kembali ke pesawat tempur, kenapa tehnologi Saab yg memungkinkan Gripen untuk mengintegrasikan persenjataan / perlengkapan manapun tanpa perlu banyak investasi adalah salah satu dari tiga kelebihan utama Gripen vs semua model lain.

      Di tahun 1990-an, misalnya, AU Swedia sebenarnya pernah mengejutkan NATO ketika memperlihatkan kemampuan Viggen untuk dapat:

      # Memandu AMRAAM yang ditembakan Viggen lain melalui datalink

      # .. dan melalukan panduan itu melalui sensor feedback pasif (radar tidak memancar), yang di-triangulasi melalui pendahulu sistem TIDLS networking.

      Typhoon, Tornado ADV, F-15, F-16, dan F-18 kesemuanya belum bisa melakukan hal yg sama sampai beberapa tahun kemudian.

      Sampai sekarang, bahkan data networking di F-35 sekalipun, dari publikasi umum ug ada, masih belum bisa menunjukkan kelebihan yg sama dengan TIDLS, yang sudah terus menerus di-upgrade.

      Delete
  19. Admin tdi liat video ttg Alexis electronic warfare jammer pod, apa SAAB sekarang mau bikin Gripen versi Growler ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alexis EW pod dibuat berdasarkan sistem EW39 untuk Gripen-E.

      Ya, sistem EW ini akan dapat dipergunakan men-jamming komunikasi, ataupun menciptakan radar clutter membuat pesawat induk sulit ditargetkan lawan.

      Yg menarik disini; EW Saab akan menggunakan ECM berbasiskan AESA antena (Gallium Nitride), yg belum pernah dipakai pembuat lain. Seharusnya jaih lebih efektif dari generasi sebelumnya dalam mempermainkan lawan di arena ECM / ECCM.

      AN/ALQ-99 Jammer pod untuk Growler secara tehnis sudah cukup berumur, sebelum Next Generation Jammer diperkenalkan. Tetapi ALQ-99 sudah dibuat dari awal untuk menghadapi SAM system, dan pemancarnya sangat kuat.

      Kita belum tahu apakah Alexis yg lebih modern akan bisa melakukan hal yg sama, seperti dedicated EW di kelas Growler. Seiring dengan pengembangan Gripen-F, kemungkinan ini cukup besar di masa depan.

      Delete
    2. Bung apakah Gripen-F dapat melakukan misi SEAD spt EF-111 atau EA-6 Prowler? mungkin kalau pakai AGM-88 HARM ga bakal dapat izin dari kongres tetapi mungkin bisa memakai rudal anti radiasi "MAR-1" buatan Brazil.

      Trims

      Delete
    3. Spesifikasi Gripen-F sejauh ini belum jelas. Kita lihat saja apakah versi-F akan membawa perlengkapan di atas EWS-39 yg sudah standard.

      AGM-88 adalah standard missile untuk Anti-Radiasi, artinya untuk membungkam pemancar radar lawan.

      Tetapi ini bukan satu2nya senjata untuk menghantam SAM.

      Dengan kombinasi radar, ECM, dan TIDLS networking; Gripen-C saja sudah lama dapat memandu missile secara pasif melalui feedback dari pancaran gelombang radar lawan.

      Secara tehnis, ini juga akan bisa dimanfaatkan utk memandu Taurus KEPD, atau RBS-15, yg jarak jangkaunya juga lebih jauh daripada HARM.

      Karena keduanya cruise missile yg terbang sangat rendah, radar SAM tidak akan bisa melihatnya sampai sudah terlambat.

      Demikian juga Su-35K, yang sibuk menyalakan Irbis-E, hanya akan menjadi magnet untuk AMRAAM, atau Meteor yg bisa dipandu secara pasif.

      Spektrum pertempuran udara memang sudah terus berubah drastis dari tahun ke tahun.

      Delete
  20. Dan dengan melihat contoh pd korvet K-130, berarti saat ini rudal rbs-15 sudah menjadi default di sistim cms SEWACO buatan belanda....sama dg cms SEWACO yg terpasang di PKR kan om?

    ReplyDelete
    Replies
    1. CMS - Combat Management System - adalah interface control untuk mengatur semua yg sudah di-install di kapal tsb.

      =====
      https://www.thalesgroup.com/en/tacticos-combat-management-system
      =====

      Secara tehnis setiap kelas kapal akan berbeda krn tergantung instalasi sistem secara keseluruhan.

      Kalau kapal lain memakai perlengkapan yg serupa dngn Sigma-class, tp bisa mengopersikan RBS-15, belum tentu Sigma-class juga bisa.

      Kita tidak tahu seberapa open system ug disediakan dalam Sigma-class, untuk misalnya, menjamin kemudahan upgrade, arau customisasi dngn produk lain.

      Delete
  21. Di militermeter PT. PAL akan membangun LHD, 12 helikopter, 1800 marinir,design berbasis korsel, knp tdk langsung 20 heli bung angkutnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja.

      Pembatasan spesifikasi akan diperlukan untuk mencegah biaya development menjadi terlalu mahal.

      Seperti di atas, kapal yg terlalu besar juga hanya akan lebih sulit disembunyikan, dan dapat dipastikan akan menjadi target pertama yg harus dilumpuhkan lawan.

      Delete
  22. bung dark...di forum militer diberitakan sumber IDF Israel mereka menembak jatuh SU 24 AU syiria dengan Patriot

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf, akhir2 ini lebih sibuk.

      Memang benar.

      Ini sudah masuk berita resmi.

      ====
      https://www.bbc.com/news/world-middle-east-44940599
      ====

      Perang saudara Syria sekarang membuat tentara pemerintah Assad semakin mendekati dataran tinggi Golan, dimana kedua belah pihak sbnrnya sudah menyepakati "buffer zone", atau zona aman tanpa militer sesuai perjanjian di tahun 1974.

      Su-24 ini melanggar zona tersebut, dan Israel menembakkan 2 Patriot missile untuk mencegat.

      Nasib pilot tidak diketahui.

      Pengamatan awam disini:
      Sistem Pertahanan Terintegrasi Israel kelihatannya dapat mengawasi gerak-gerik setiap pespur Syria sampai sejauh ratusan kilometer dari perbatasan.

      Su-24 ini tentu sudah di-tracking jauh sebelum memasuki ruangan tembak Patriot. Terlepas ada, atau tidaknya RWR di Su-24 Versi Export ini, kalau mencoba nekad, pilotnya tidak pernah punya kesempatan menghindar.

      Delete
    2. klo menurut kabar IDF , pilot AU syiria dilaporkan hancur

      Delete
    3. sangat mengerikan rapuhnya sukhoi

      Delete
    4. Bukan masalah rapuh, tetapi betapa mengerikannya kekurangan Situational Awareness Sukhoi.

      Kelihatannya, sama seperti dahulu Su-24M2 versi lokal yg tertembak jatuh F-16 Turki; pilotnya sama sekali tidak mengetahui kalau ada missile yg datang!

      Tahun lalu, pilot Super Hornet USN pernah memfoto 2 Su-35S melalui FLIR.
      Seperti biasa, kelihatannya pilot Sukhoi lagi2 tidak tahu ada Super Hornet di belakangnya.

      Sukhoi Kommercheskiy di Sku-11, ataupun "rencana" Su-35K tidak akan bisa menunjukan semua kelebihan dari semua kasus di atas.

      Russia bukan lagi seperti Uni Soviet.

      Hampir semua alutsista udara mereka sudah kekurangan investasi, dan tehnologi utk upgrade. Apalagi utk yg versi export.

      Delete
  23. Gripen belum pernah terlibat dalam operasi militer apapun dalam perang modern saat ini... semua hanya berupa analisa dan retorika diatas kertas...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Er.... keliru.

      Gripen sudah di-tes terus-menerus dalam latihan regional untuk mengadu tanding dengan semua yg terbaik dari NATO.

      Kemampuan manuevernya dinilai sebanding, atau sedikit lebih baik vs F-16, yang adalah tolok ukur modern.

      Oiya, jangan lupa kalau kehilangan kecepatan / ketinggian akibat bermain fitur TVC dalam pertempuran jarak dekat = bye bye!

      Kemampuan fully networked Gripen System mulai dari TIDLS bukanlah "mimpi kertas" seperti Su-35; tetapi memberikan Situational Awareness yang tidak tertandingi:

      Melawan 1 Gripen akan seperti berhadapan dengan 4 Gripen; sedangkan formasi 4 Gripen ini akan terintegrasi dengan sistem pertahanan udara yg terpadu; termasuk AEW&C, radar di darat/laut, ataupun semua formasi Gripen yg lain.

      Masanya bertempur 1 vs 1 seperti di masa lalu itu sudah selesai.

      Kita juga masih belum membahas kelebihan lain yg belum kurang disorot --- Electronic Warfare Gripen, yg tidak seperti barang2 versi export, terjamin akan memberikan perlindungan / kemampuan serang yg jauh lebih unggul.

      Delete
  24. Kenapa Gripen lebih baik dari semua mimpi

    Bayangkan kalau ada pesawat tempur yang terjamin.... tidak akan pernah ketinggalan jaman.

    Di masa depan, terutama untuk versi-E, Gripen yang hari ini sudah menambah lebih banyak kemampuan dibanding hanya seminggu yang lalu.

    Sekarang bayangkan lagi kalau.... semua kemampuan Gripen tersedia penuh dari awalnya, dan kita akan mempunyai kedaulatan untuk men-setup Gripen sesuai kebutuhan?

    Semisal, apakah Gripen harus dioperasikan di daerah yg cenderung bercuaca buruk, atau kurang bersahabat; para ahli kita sendiri akan dapat menyetel Gripen-Indonesia untuk mempunyai kemampuan optimal dalam medan itu... hanya dengan beberapa baris programming... memberikan hadiah yg terbaik utk para pilot yg menerbangkan.

    Bayangkan lagi... kalau misalnya pelanggaran wilayah udara nasional bisa terjadi ratusan kali setahun di beberapa titik sekaligus yang selama ini sukar dijaga?

    Gripen bisa dioperasikan di garis depan, dan terjamin bisa mengudara berkali-kali dalam sehari.

    1 Gripen akan dapat mengerjakan lebih banyak dari 16 Sukhoi dalam seminggu.

    ReplyDelete