Saturday, May 12, 2018

Bagaimana JA-37 Viggen mencegat SR-71 Blackbird


SR-71 Blackbird.

Pesawat mata-mata siluman USAF, yang beroperasi antara tahun 1966 - 1998. Dengan kecepatan maksimum 3,540 kph (supercruise), dan beroperasi pada ketinggian 24,000 meter (atau 80,000 kaki), SR-71 diperuntukan sebagai pengganti U-2, untuk terbang lebih cepat, dan lebih tinggi dari jangkauan semua SAM buatan Soviet.

Sepanjang masa operasionalnya mengambil reconaissance foto wilayah Soviet, tidak pernah ada satupun SR-71 yang berhasil tertembak jatuh. Bukan berarti Uni Soviet tidak pernah mencoba.

Viktor Belenko, pilot MiG-25R Uni Soviet, yang membelot ke Jepang di tahun 1976, menjelaskan alasannya, seperti dikutip David Cenciotti, dalam website The Aviationist:

MiG-25 Foxbat, pesawat tempur Mach-3, yang dirancang justru untuk bisa mencegat SR-71, ternyata tidak berdaya. SR-71 terbang terlalu tinggi, dan terlalu cepat. Missile lock mustahil untuk bisa didapat, dan... tidak mungkin missile Soviet bisa menyentuh SR-71.

Sementara selama 32 tahun Soviet menghadapi kegagalan, tidak banyak yang tahu kalau sebenarnya JA-37 Viggen AU Swedia menjadi satu-satunya pesawat tempur di dunia, yang berhasil untuk terus mendapatkan simulasi missile lock atas SR-71

Loh, bagaimana bisa?

Berikut analisa dari laporan pengalaman beberapa pilot ex-AU Swedia.



Kenapa AU Swedia mengawasi, dan kemudian berusaha mencegat SR-71?

JA-37 Viggen yang membawa
2 Rb-71 variant dari SkyFlash Semi-Active Radar-Homing BVR missile
dan
2 Rb-74 variant dari AIM-9 Sidewinder
(Gambar: Flygvapnet)
Swedia adalah negara Netral. Mereka bukan negara anggota NATO, ataupun Pakta Warsawa.

Semasa puncak perang dingin, pesawat-pesawat tempur AU Swedia bisa melakukan antara 400 sampai 500 misi QRA (Quick Relation Alert) setiap tahunnya. QRA adalah misi penyergapan terhadap pesawat NATO, atau Pakta Warsawa, yang mengancam mendekati wilayah Swedia dari arah laut Baltik, atau teluk Bothnia.
(Google Map Image)

Realita tantangan pertahanan Swedia semasa Perang Dingin:
Bagaimana mempertahankan netralitas sementara dikelilingi negara-negara
NATO, dan Pakta Warsawa?

Apa yang akan terjadi kalau terjebak dalam konflik kedua pihak?

Estonia, Latvia, Lithuania, Belarus, dan Ukrania, seperti dalam peta,
pada waktu itu adalah bagian dari Uni Soviet
Kalau ada satu pesawat yang berhasil lolos dari QRA Flygvapnet, ini dapat dianggap kelalaian yang berakibat fatal dalam konflik terbuka antara NATO, dan Pakta Warsawa.

Mantan pilot AU Swedia Jan Jørgensen menceritakan secara mendetail dalam Combat Aircraft Magazine, Agustus-2016, tantangan terbesar AU Swedia sebenarnya justru datang dari memecahkan cara untuk bisa berhasil mencegat SR-71 Blackbird dengan sukses.

Akan tetapi, bukankah SR-71 tidak mengancam keamanan Swedia, melainkan memfoto jauh ke dalam territorial Uni Soviet?

Rute terbangnya saja, sebenarnya tidak melintas masuk wilayah udara Swedia, melainkan melewati wilayah Denmark, sebelum melintas dalam wilayah udara internasional, hanya beberapa kilometer dari garis batas Swedia, dan kemudian mengambil gambar ke arah samping, sembari berputar diluar wilayah udara Soviet.

Memang benar. 

Yang menjadi masalah, persaingan perkembangan desain pesawat antara NATO vs Soviet di masa itu memang sedang menitik-beratkan kepada pengembangan pesawat yang bisa terbang lebih cepat dari Mach-3, dan terbang semakin tinggi. Sistem Pertahanan Terintegrasi Swedia harus menghadapi kemungkinan kalau suatu saat, pesawat di kelas SR-71 ini justru adalah pesawat pembom yang membawa hulu ledak nuklir, yang bisa mengancam Stockholm.

Inilah salah satu dasar kenapa FMV pemerintah Swedia, dan Saab kemudian membuat keluarga J-37 Viggen. Ketika SR-71 Blackbird memulai overflight mereka di tahun 1960-an, sistem pertahanan Swedia mendapati kalau J-35F Draken tidak mempunyai kemampuan kinematis yang mencukupi untuk dapat melakukan penyergapan.



Keluarga Saab 37 Viggen

Close-coupled Delta Canard Saab 37 Viggen
dioperasikan Swedish Air Force Heritage Flight,
dalam acara Waddington Airshow, 2013
(Alan Wilson, via Wikimedia)
Saab memproduksi 329 Viggen untuk Flygvapnet Swedia antara tahun 1970 - 1990, untuk menggantikan sebagian armada Draken. 

Viggen pesawat mass-production pertama yang mengoperasikan konfigurasi sayap canard. Sebelumnya, canard hanya dioperasikan dalam bentuk berbagai macam konsep studi, tetapi tidak pernah memasuki mass production. Boleh dibilang Viggen adalah sesepuh dari generasi ketiga Eurocanards modern dewasa ini.
Mesin Volvo RM8B adalah versi license production dari mesin JT-8D, yang ukurannya cukup besar, karena diperuntukan ke pesawat penumpang Boeing 727, yang sudah dimodifikasi dengan afterburner produksi Swedia.

Seperti bisa dilihat dari tampilan table pertama ini, walaupun daya dorong mesin Volvo RM08B mempunyai daya dorong yang jauh lebih besar dibanding mesin RM12 di Gripen-C, patut diingat juga kalau Viggen adalah pesawat yang jauh lebih besar daripada Gripen, ataupun pendahulunya, Draken. Lebih berat, dan luas penampang depannya juga dengan sendirinya jauh lebih besar.

Saab mengikuti 7 prinsip desain yang sederhana dalam rancang bangun pesawat tempur, yang tidak pernah berubah sejak Draken di tahun 1950-an, sampai dengan Gripen-E yang sekarang:
  • Single-Engine design; untuk mendahulukan kemudahan maintenance, dan sortie rate yang lebih tinggi
  • Harga, dan biaya operasional yang nilai ekonomisnya optimal
  • Kemampuan kinematis yang bersaing, atau lebih unggul daripada semua desain pesawat tempur lain
  • Dapat dipersenjatai, dan diperlengkapi dengan apapun yang terbaik
  • Network-Centric Warfare, dan dapat dioperasikan dalam Sistem Pertahanan Terintegrasi.
  • Mempunyai kemampuan STOL, atau beroperasi dalam landasan darurat dengan panjang maksimum 800 meter.
  • Terakhir, akan terus-menerus bisa mendapat upgrade sepanjang umur hidup setiap airframe.
Demikianlah tujuh prinsip sederhana yang tidak pernah ketinggalan jaman sejak tahun 1950, hingga sekarang. Tidak seperti dalam konsep F-35 yang begitu memusingkan, ataupun konsep untuk "mencoba bisa mengimbangi" desain pesawat tempur lain, seperti keluarga Su-27, atau KF-X.
Ya, Viggen dapat beroperasi dari jalan raya, 
hanya membutuhkan 6 orang terlatih untuk mempersenjatai kembali,
dan mengisi bahan bakarnya.

Pada puncaknya semasa perang dingin, berkat biaya akuisisi, dan operasional Viggen, dan Draken yang murah, walaupun anggarannya lebih kecil dibandingkan keempat besar Eropa (UK, Perancis, Jerman, dan Italy), Flygvapnet Swedia mengoperasikan angkatan udara keempat terbesar di dunia.

Berkat keunggulan desain close-coupled delta-canard, kemampuan manuever Viggen sering disebut lebih unggul daripada banyak pesawat tempur di tahun 1980-an. Salah satu incident yang menarik dalam perang dingin terjadi pada 07-Juli-1985. SH-17 Viggen photo-reconnaissance tanpa sengaja membuat Su-15 Flagon-F yang mengejarnya jatuh menabrak permukaan laut.
Link: Aviation Safety Network
Kekurangan utama Viggen adalah hanya mempunyai 4 hardpoint untuk membawa missile; 2 Rb-74, dan 2 Rb-71 Skyflash. 

Walaupun Service Ceiling, atau ketinggian maksimum Viggen, seperti dicatat dalam Wikipedia, berada dalam kisaran 18,000 meter; seperti kita akan melihat di bawah, ternyata Viggen akan dapat dioperasikan pada ketinggian yang kira-kira hampir sama untuk mencegat SR-71, yang terbang pada ketinggian 22,000 - 24,000 meter.

Bagaimana pesawat yang performa kinematis ketinggian, dan kecepatannya lebih rendah dibandingkan MiG-25 Foxbat, ataupun kemudian MiG-31 Foxhound, bisa berhasil mencegat SR-71 Blackbird?



Saab Viggen vs Blackbird

The Blackbird:
Tidak bisa terkejar, dan tidak bisa tertangkap
(USAF image)
Sebenarnya judul artikel ini sendiri sedikit meleset.

Viggen tidak berhasil mencegat SR-71 hanya karena dengan usahanya sendiri, melainkan sekali lagi, sebagai salah satu komponen sistem pertahanan Swedia yang terintegrasi.

Menurut Paul F. Clickmore, dalam bukunya,  Lockheed Blackbird: Beyond the Secret Missions; kunci dari kesuksesan Viggen, pertama-tama bersumber dari sistem network STRIL-60 Swedia, yang mengintegrasikan readings dari semua radar darat, ke dalam symbiology di layar MFD (Multi-Function Display) dalam cockpit Viggen. Command-and-control melalui sistem STRIL-60 di masa itu, memungkian Viggen untuk mengisi bahan bakar, dipersenjatai kembali, lepas landas, dan menghantam target tanpa perlu komunikasi melalui radio sama sekali.

Flygvapnet Swedia adalah salah satu pelopor networking, yang sudah berpengalaman dengan sistem networking semenjak mengintegrasikan J-35 Draken di tahun 1958. Sistem yang dipergunakan di Viggen, jauh lebih modern dibandingkan Draken; memungkinkan data download ke empat Viggen secara terintegrasi. Inilah sistem yang menjadi pendahulu TIDLS dalam Gripen modern dewasa ini.

"Sepanjang tahun 1980-an," menurut Rolf Jonsson, mantan Fighter Controller untuk Svenska Flygvapnet. "Baltic Express (SR-71 overflight) bisa terjadi seminggu sekali. Ini sangat memusingkan, karena J-35F Draken tidak mempunyai kemampuan kinematis yang mencukupi untuk melakukan pencegatan."

Saab 37 Viggen adalah enabler terakhir yang memungkinkan interception, walaupun dari sebelumnya radar-radar darat Swedia sudah dapat melihat Baltic Express.

"Metode pencegatan yang paling berhasil," menurut Jonsson. "Adalah dengan frontal attack, mencegat SR-71 head-on, muka menghadap muka! Ini juga dengan asumsi kalau SR-71 tidak berbelok sedikitpun!"

Patut diketahui kalau dalam ketinggian di atas 20,000 meter semacam ini, tekanan udara di atmosfir sudah semakin menipis, menyulitkan, atau tidak memungkinan manuever ketat, baik oleh pesawat tempur, ataupun missile. Dalam ketinggian ini, masing-masing pihak hanya bisa menarik garis lurus. Inilah kenapa pertempuran udara sepanjang sejarah, selalu terjadi jauh dibawah ketinggian 10,000 meter, dimana kemampuan manuever pesawat, ataupun missile, jauh lebih optimal.
Radar di darat, STRIL-60, akhirnya Viggen, kemampuan yang didapat dari latihan pilot, dan teamwork dalam satu sistem yang terintegrasi adalah faktor utama dalam menentukan pencegatan yang sukses. Data yang diterima dalam komputer Viggen memungkinkan pilot mendapat timing yang tepat untuk menarik pull up pesawat ke ketinggian yang tepat untuk bisa mencapai lock-on. 

Tantangan terbesar untuk pilot Svenska Flygvapnet adalah bagaimana melakukan climb secepat mungkin, tetapi dalam batasan tehnis mesin Volvo RM-08B. Mereka kemudian harus membelokan arah pancaran radar PS-46 beberapa derajat ke bawah, dimana hanya ada ruangan sepersekian detik untuk bisa mendapatkan lock ke SR-71; dan menguncinya dengan SkyFlash missile, apalagi mengingat kalau kedua pesawat akan saling menutup jarak dengan kecepatan Mach-5.

Tantangan lain adalah.... SR-71 biasanya akan selalu terbang dalam keadaan heavy jamming dari perlengkapan Electronic Counter-Measure-nya. Tetapi perpaduan radar tactical sharing Swedia, sistem networking, dan Electronic Counter-Countermeasure di Viggen dapat menembus sistem ECM SR-71.

"Semenjak tahun 1981," menurut pilot Per-Olof Eldh. "Kami dapat melihat peta dalam MFD Viggen semua posisi kawan, lawan, SAM missile, atau target di darat, yang sudah di-upload melalui sistem networking. Ini memberikan semua pilot level Situational Awareness yang tidak tertandingi!"

"Sistemnya begitu baik, kami dapat membentuk, dan menjalankan taktik formasi 'Line abreast, box formations or scissors' siang, ataupun malam, dalam kondisi apapun!"


Semuanya menjadi mudah. 
Terus menerus mendapat upgrade:
JA-37D di tahun 1990-an mulai mengoperasikan AMRAAM.
(Gambar: Wikimedia)



Penutup


Perbandingan Ukuran:
JAS-39C Gripen, JA-37 Viggen, dan J-35F Draken dalam acara NATO Day 2014
(Gambar: panoramy)

Gripen memang sudah dirancang supaya lebih kecil dibandingkan kedua pendahulunya.

Lebih sulit terlihat di radar maupun di mata pilot,
Lebih sulit untuk tertembak jatuh,
Kemampuan manuever lebih baik,
Dan jauh lebih modern
Kesuksesan pencegatan SR-71 dengan Viggen, sekali lagi, tidak hanya semata mengandalkan pesawat tempur doang, seperti dalam konsep akuisisi negara kita dewasa ini. Bahkan lebih huebat lagi, karena sampai sejauh ini juga.... masih tidak merasa perlu untuk mengutamakan akusisi persenjataan, wah, apalagi perlatihan.
BUKAN!

Bukan untuk membeli missile versi export kadaluarsa versi Rostec,
melainkan mempersenjatai F-16 Block-25+ terlebih dahulu dong!
Bukan berarti artikel ini menunjuk kita memerlukan Viggen, yang sekarang sudah dipensiunkan. Tanpa investasi dalam sistem pendukung, industri dalam negeri, dan training; negara manapun yang mengoperasikan pesawat yang sama, kemungkinannya terlalu kecil untuk dapat mereplikasi kesuksesan Flygvapnet Swedia. 

Inilah peraturan paling mendasar dalam memilih pesawat tempur. 

Sekali lagi, pesawat tempur hanyalah  20%, atau bagian terkecil dari suatu "Efek Gentar". Setiap skenario pencegatan SR-71 dalam tahun 1980-an kembali menunjuk, kalau yang komponen paling penting adalah membentuk suatu sistem yang terintegrasi, dan bukan hanya semata mengutamakan akusisi pesawat tempur. 

Akusisi pesawat tempur, justru akan selalu menjadi masalah besar, selama kita terus kesengsem dengan.....

Betul. 

Barang versi export downgrade, dimana versi yang dijual ke negara lain adalah versi yang sudah diharamkan oleh angkatan udara mereka sendiri. Sayangnya, semua pesawat tempur kita dewasa ini yah, hanya versi export.

Mau sampai kapan?

Sering membaca artikel tentang, misalnya, bagaimana Russia sedang mencoba hypersonic missile jenis baru?

Lupakan saja! Toh, apa yang akan mereka jual hanyalah versi export, yang kemampuan sudah dikurangi, entah seberapa besar. 

Sudah saatnya kita melupakan praktek menjual mimpi seperti IF-X Block-1, ataupun Su-35 Edisi Tukang Hibah Anti Komunis!

Kita hanya akan menghamburkan uang untuk hasil yang pasti mengecewakan.  

Apakah benar kita mau membangun konsep Network Centric-Warfare, seperti dikutip dalam Tempo, 6-Desember-2017 yang lalu?

Ini adalah langkah yang paling tepat sebagai dasar awal untuk membangun sistem pertahanan Indonesia.

Untuk mudahnya, apakah sekarang kita sudah mempertanyakan kembali ke para supplier, apakah mereka mau memenuhi kewajiban ini?




28 comments:

  1. Apa yang akan terjadi kalau Viggen menembak jatuh sebuah Blackbird?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini tidak akan terjadi, krn pihak kontroller Swedia sudah mengetahui siapa yg datang.

      Peristiwa tembak jatuh harus disengaja. Ini biasanya terjadi ke pesawat komersial, seperti KAL007 Korea yg tertembak jatuh Su-15 Soviet sewaktu tanpa sengaja melanggar wilayah Soviet.

      Ini terjadi karena kontroller tidak mengenali pesawat pelanggar. Mereka menarik asumsi kalau pelanggar sudah pasti pesawat mata2, tanpa mengumpulkan bukti lebih lanjut.

      Dalam peristiwa SR-71 vs Viggen, pihak Swedia sudah mengetahui dari flight pattern, kecepatan, dan ketinggiannya, kalau SR-71 tidak akan mengancam Swedia.

      Yang menjadi masalah; US sering membuat misi semacam ini dalam perang dingin kapan saja. Tentu tanpa perlu pemberitahuan.

      Mau tidak mau, Swedia harus menunjukkan kemampuan untuk bisa menjaga wilayah udara mereka sendiri.

      Seandainya Blackbird kebiasaan melanggar wilayah Swedia, ini bisa diartikan sebagai pelanggaran kedaulatan, dan netralitas mereka.

      Di lain pihak, ini juga menjadi insentif Uni Soviet bisa menarik kesimpulan kalau ternyata Swedia tidaklah netral.

      Inilah kenapa penyergapan ini harus selalu terjadi kalau Baltic Express lewat.

      Delete
  2. Admin apa pernah Gripen diadukan dengan F-35 atau F-22 waktu exercise redflag ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. F-35 masih belum siap terakhir kali Swedia mengirim Gripen ke Red Flag di tahun 2013.

      Ada beberapa berita rumor kalau F-22 sudah beroperasi bersama Gripen, dan pernah menjadi lawan tanding, tetapi tentu saja tidak akan ada konfirmasi resmi.

      Berita rumor re F-22 ini menyebut kalau performa Gripen di Red Flag sangat baik.

      Delete
  3. Admin ada artikel yang bilang kalau pengadaan pesawat intai strategis tidak diprioritaskan pada periode MEF-II maka 10 taun lagi Indonesia bahaya. Emang beda antara pesawat intai strategis dan pesawat intai taktis apaan ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa membedakan antara taktis, dan strategis ini saja cukup aneh.

      Untuk lebih sederhananya, kita sangat membutuhkan pesawat AEW&C untuk meningkatkan pengawasan territorial udara seluas mungkin, dan seoptimal mungkin.

      AEW&C tugasnya sudah merangkap; mengawasi, atau tergantung fungsi tugasnya; misalnya dikirim ke perbatasan untuk melihat ke dalam wilayah negara lain... yah, ini juga sudah merangkap tugas pesawat mata2.

      Tugas utama lain adalah sebagai fighter controller -- mengarahkan dan mengkoordinasi pespur ke arah threat.

      Ini kebutuhan mendasar, yg sampai sejauh ini masih terbengkalai karena berpikir, "pesawat tempur lebih penting!"

      Kesalahan besar.

      Delete
  4. Admin itu Su-35 PLAAF dkrim balik ke Russia. Itu perbaikan atau upgrade ? perasaan bukannya masih baru ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf belum membalas.

      Sejauh ini tidak ada konfirmasi berita tsb.

      Apakah ada Link?

      Untuk negara pengguna Su-Flemon yang sudah jauh lebih berpengalaman seperti PRC, dan India; meragukan kalau keduanya akan mempraktekkan ide "perbaikan mendalam" seperti di negara anti-komunis kita ini.

      Untuk PLA-AF hanya masalah waktu sebelum versi lokal dari Su-35K akan mulai diproduksi.

      Dan ya, Su-35 PLA-AF sudah dikonfirmasi mulai beroperasi di laut cina selatan. Sejauh ini tidak ada negara2 Asean yang mempunyai kepentingan di LCS akan bisa menandingi.

      Delete
  5. Min, Hobart-class destroyer itu termasuk air-defense destroyer ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hobart-class secara tehnis adalah versi Eropa (produksi Spanyol) dari Arleigh-Burke destroyer USN.

      Ukuran, persenjataan, dan terutama AEGIS SPY-1 radarnya kira2 sebanding.

      Harganya juga sama mahalnya.
      US $3 milyar per unit.

      Delete
    2. Pelajaran dari Hobart-class:

      Proyek ini sebenarnya sempat masuk ke daftar "mengkhawatirkan" oleh pemerintah Australia.

      Cost overrun.

      Walaupun pada awalnya dianggarkan hanya senilai A$8 milyar; kesulitan proyek untuk membuat desain FF105 Spanyol untuk lebih mendekati spesifikasi Arleigh-Burke menimbulkan cost overrun senilai A$1,2 milyar.

      Secara tehnis, resiko proyek ini dengan proven technology, dan berbasiskan desain yang sudah ada termasuk cukup rendah.

      Nah, bisa membayangkan kembali proyek resiko tinggi dari KF-X, dari partner bau kencur, yg mencoba membuat desain sendiri dari nol?

      Mustahil bisa selesai $8 milyar, seperti dianggarkan.

      Minimal $20 milyar sampai 40 pesawat pertama selesai, dan belum akan siap tempur.

      Delete
    3. Min, di Asia Tenggara sendiri apakah hanya Australia sendiri yg mengoperasikan AWD?

      Delete
    4. Hanya Korea (Sejong-class), dan Jepang (Atago-class) yg mengoperasikan AEGIS destroyer di seluruh Asia.

      Kenapa tidak populer di Asia Tenggara?

      Mudah. Harganya terlalu mahal.

      Secara tehnis, para Aegis destroyer ini sudah seperti battleship, atau seperti simbol status di masa lampau, tanpa diperlengkapi armour belt yg sama tebalnya.

      Perlengkapannya memang mewah, terutama untuk Air Defense, akan tetapi...

      ... mereka menghadapi masalah yg sama seperti S-400 Russia.

      4 pesawat tempur saja dapat menembakan 12 Cruise missile dari arah yg berbeda, dan dari luar jangkauan radar Aegis kalau terbang rendah.

      12 cruise missile saja sudah melebihi jumlah salvo VLS launcher untuk SM-2 Standard missile.

      Itu juga kalau radar Aegis dapat cepat melihat, dan kemudian men-track 12 cruise missile lawan.

      Inilah kembali menunjuk beberapa point:

      1. Tidak ada SAM system yg dapat dioperasikan independent tanpa bantuan asset lain yg terintegrasi dalam satu sistem, khususnya pesawat tempur, dan AEW&C.

      2. Alutsista manapun, semakin besar ukurannya, dan semakin mahal harganya hanya akan selalu menjadi liabilitas dalam konflik.

      Realita konflik Abad ke-21 menunjuk kalau semakin banyak cara yg kebih murah untuk mematahkan semua anak2 emas alutsista.

      Delete
  6. Min sy punya pertanyaan ini sejak lama.. Body pesawat kan katanya kuat banget, kalau diketok palu yg kenceng penyok ga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Body pesawat tempur sebenarnya dirancang untuk bisa menyerap kerusakan, misalnya, dari tertembak peluru.

      Ini contoh sederhana dari mobil polisi, yg tanpa sengaja menubruk bagian bawah F-15:

      ======
      https://www.strategypage.com/military_photos/military_photos_200531423.aspx
      ======

      Seperti bisa dilihat dalam foto, mobil sih hancur, tetapi kerusakan ke F-15 cukup minor.

      Delete
  7. Min, itu ada berita MICA VLS sm Exocet MM40 udh dateng di Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mica VLS Exocet adalah perlengkapan standar yang sudah dipilih untuk PKR 10514.

      Walaupun sudah mulai di-tes, sebelumnya masih dalam keadaan tanpa senjata.

      Kegilaan disini, kita juga mengoperasikan C-705 missile versi export PRC, dan....

      ...sejauh ini tetap saja tidak ada Anti-Ship Missile untuk pespur TNI-AU.

      Aneh, bukan?
      Padahal AU negara kepulauan.

      Inilah kembali kita harus melihat topik "diversifikasi supplier: ide yang sangat jelek!"

      Delete
  8. Kira kira F16 CD TNI AU bisa atau tidak menandungi SU 35 PLAAF, kalau tidak perlu ditambah apalagi bung untuk bisa menandingi? Latihannya ditambah, avionik persenjataannya, radar atau apa lagi?
    Mungkinkah Sukoi RI bisa menandingi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sukhoi Indonesia, versi manapun juga, dapat dipastikan akan di-babat habis oleh Sukhoi PRC.

      Kita sudah melihat dalam skenario artikel Neraka di Natuna Utara; bagaimana performa Su-35 Versi Anti-Komunis akan dihabisi dalam konflik modern.

      + PRC boleh dibilang lebih rajin mengumpulkan pengalaman, dan inovasi sendiri untuk Su- mereka, bahkan dibanding Russia.

      + Dengan anggaran pertahanan yang dua kali lipat lebih besar dari Russia, pilot PRC juga tidak akan kekurangan jam latihan.

      + Terakhir sudah menjadi pengetahuan umum kalau PRC membuat persenjataan sendiri.

      Di tahun 1990-an akhir, mereka sempat mengimport RVV-AE, dan R-27; tetapi sejak itu mereka sudah mulai membuat versi missile lokal yg kualitasnya lebih terjamin.

      Sukhoi PRC vs Sukhoi RI?

      Ini seperti si profesional yg berhadapan dengan si amatir.

      Delete
    2. Dalam keadaan sekarang:

      F-16 Block-25+ adalah pespur andalan Indonesia, yg masih bisa menantang Su-35 PLA-AF.

      Yang menjadi masalah, berkat ide beracun "diversifikasi supplier", sekarang ini F-16 adalah anak tiri yang kurang disayang.

      Tentu saja kita tahu, perihal latar belakang yang lain, semua kontrak F-16; perlengkapan, ataupun persenjataan, harus dinegosiasikan G-to-G, melalui badan FMS Dephan US.

      Maaf, tidak ada komisi pembelian "kickback".

      Untuk bisa menantang Su-35 PLA-AF, kalaupun ada kemauan, juga tidaklah mudah.

      + Pertama2 harus ada investasi $500 juta untuk membeli persenjataan, dan meningkatkan kualitas latihan pilot, dan staff pendukung F-16.

      AMRAAM C-7, dan AIM-9X adalah persenjataan yg jauh lebih berbahaya dari apapun yg dibuat, atau dijual Russia / PRC.

      + Kedua, kita juga memerlukan beberapa upgrade tambahan untuk F-16:

      = JHMCS agar dapat mengoperasikan AIM-9X Block-2.

      = Link-16 Terminal

      = Perlengkapan EW yang lebih modern

      Tentu saja, hasilnya tidak akan bisa se-optimal kalau kita mengoperasikan Gripen-C, atau Gripen-E.

      Lebih murah, lebih modern, dan lebih unggul dalam segala hal.

      Delete
  9. Min, dari investigasi sdh menyimpulkan bahwa yg menembak jatuh MH17 betul Rusia ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul.

      Kesimpulannya sudah konklusif skrg.

      Pemerintah Belanda, dan Australia akan mengajukan gugatan atas Federasi Russia.

      Tentu saja, Russia akan terus menyangkal semuanya.

      Kalau mengakui kesalahan, mereka akan terpaksa mengakui kalau tentara Russia berada di dalam wilayah Ukrania.

      Dengan demikian, maka konflik Ukrania Timur tidak lagi bisa terhitung hanya perang saudara, melainkan invasi terbatas Russia atas territorial Ukrania.

      Kita lihat dalam News Update berikutnya.

      Kelihatannya akan semakin banyak sangsi ekonomi yg mengarah ke Russia, dan kenapa akan semakin sulit mereka bisa menjual senjata.

      Delete
    2. Bagaimana sikap pemerintah Malaysia dan Indonesia terhadap hal ini?

      Delete
    3. Pemerintah kita, dan Malaysia belum membuat komentar apa2, bukan?

      Yah, inilah contoh dari akibat politik alutsista.

      Karena kedua negara sudah mengoperasikan Sukhoi sebagai pespur andalan, katanya, maka mau tidak mau tidak akan berani segera mengambil posisi.

      Kalau dalam vote untuk resolusi PBB 68/262, mengenai referendum Crimea 2014 yang lalu, paling tidak kita, dan Malaysia masih berani menyatakan diri menentang, bersama 150 negara lain.

      Sedangkan, para customer alutsista yg lebih tergantung ke Russia, seperti India, Vietnam, dan PRC menyatakan diri abstain.

      Kasus MH17 lebih menunjuk secara spesifik lagi:

      Hasil investigasi menunjuk kalau Boeing ini ditembak jatuh Buk-M SAM militer Russia.

      Russia harus bertanggung jawab.

      Inilah kenapa sebelum membeli alutsista, sudah seharusnya kita memperhatikan dahulu posisi politik si supplier.

      Kalau kita terlalu banyak tidak setuju, yah, si supplier akan dengan halus memperingatkan, "kami akan mempersulit supply spare part, anda, yah?"

      Dalam hal ini, posisi United States juga tidak jauh lebih baik, bukan?

      Karena alasan politik inilah kenapa kita justru lebih baik semakin mendekat ke supplier2 dari negara2 Eropa, terutana yg secara politik relatif netral, dan tidak mencampuri urusan negara lain.

      Dalam hal ini, supplier alutsista berhalauan netral, yg juga tidak mempunyai sejarah imperialisme di Asia, seperti Swedia, adalah contoh negara supplier alutsista yg paling ideal.

      Delete
  10. Di Lancercell F16 CD menjalani program falcon star, apa lagi bung yg diupgrade...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejauh ini kelihatannya belum ada rencana resmi pasti re armada anak tiri F-16.

      DSCA belum mengumumkan apa2.

      Kesemua unit F-16 sudah pasti HARUS di-upgrade.

      Yang paling penting sebenarnya adalab meng-upgrade versi A/B ke versi C/D, agar dapat mengoperasikan AIM-9X, AMRAAM, dan Sniper pod.

      Kalau kesemua unit sudah mendapat upgrade JHMCS, Link-16, APG-68v9, dan Electronic warfare package baru:

      Secara tehnis kita akan mengoperasikan 33 pesawat tempur yang jauh lebih unggul dalam segala hal dibandingkan Su-35 Versi Export, dengan missile kadaluarsa.

      Biaya upgrade, persenjataan, dan perlatihan -- semuanya juga masih jauh lebih murah dibanding rencana akusisi barter beresiko sangsi ekonomi karena masih berurusan dengan perusahaan2 blacklist pemerintah US.

      Delete
  11. Komentar Umum Penangkal Sukhoi Fanboyz
    Komentar Umum 1

    Selamat datang komentar para Sukhoi Fanboyz, yang kerap mencoba mengalihkan perhatian, dan merusak diskusi dengan menggarisbawahi "keunggulan"-nya, tetapi seperti biasa menolak untuk membahas kekurangan2nya.

    Kalau komentar2 anda mau di-post disini, mari kita membahas hal2 berikut:

    - Memangnya Versi Export Downgrade, yg sebagus apa yang sedang anda jual?

    - Missile Versi Export, yang sudah kadaluarsa semenjak 20 tahun yg lampau.

    - Biaya Operasional yang terlalu mahal, yang karena memang warisan keterbatasan industri warisan jaman Soviet!

    - Bagaimana untuk jumlah konsumsi bahan bakar yang sama, jarak jangkau Sukboi sebenarnya hanya SEPEREMPAT, yah 1/4 dari F-16, atau Gripen?

    Ini seperti kalau Polisi harus mulai mengoperasikan truk 12000cc dengan konsumsi BBM 1,8km/liter, untuk pekerjaan sehari-hari!

    - Bagaimana Su-35 yang masih pakai radar Irbis PESA, tanpa Sensor Fusion, juga sudah ketinggalan jaman?

    - Tidak akan ada upgrade.

    - Bagaimana peran perantara dalam transaksi Su-Flemon?

    - Hayo, mari membahas apakah para atasan anda akan memberi offset, atau Alih tehnologi.... yang India saja, walau sudah transaksi puluhan milyar, tidak pernah mendapat!

    Lagunya sperti burung beo, yah, ngocehnya hanya mengulang2 kata2 yang sama.

    Anda sebenarnya hanya berargumen kalau kita seolah-olah lebih pintar, atau lebih diistimewakan daripada orang India, yang sudah lama mengoperasikan 200 Su-30MKI, berpengalaman memakai alutsista Soviet/Russia puluhan tahun, tidak pernah main hibah, dan tidak pernah menyatakan diri anti-komunis!

    Silahkan terus mem-post komentar pro-Moscow, pro-Perantara, anti-UU no.16/2012, dan anti-pembangunan industri pertahanan lokal anda!

    Belajarlah perpikir lebih cerah, dan lebih mengutamakan keuntungan nasional Indonesia terlebih dahulu sebelum mulai berkomentar!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tambahan:

      Sebenarnya ada tiga macam pendukung Sukhoi, seperti sudah pernah dibahas dalam artikel ini.

      Apakah kalian ini:

      1. Hanya ikut-ikutan doang??

      "Oh, si pengamat, atau si pejabat yang itu bilang Su-35 itu luar biasa huebat!"

      Makanya anda jadi merasa harus mendukung.

      Padahal kalimat "Sukhoi hebat: ini bisa dikategorikan HOAX, karena tidak disertai FAKTA pendukung yang JELAS.

      2. Mungkin menjadi PEMIMPI?

      Merasa sudah membaca cukup referensi, tetapi sayangnya dari sumber2 yang sama saja -- referensi fakta-nya tidak jelas.

      "Oh, artikel media Barat ini menunjuk kalau Su-35 'bisa' menandingi F-22!"

      Kita bisa mengambil contoh dari website terkenal Australia, Ausairpower.org -- sumber referensi "efek gentar sukhoi".

      Semua artikel disono sudah ketinggalan jaman, dan tidak pernah di-update. Sayangnya juga seperti menggambarkan versi Sukhoi yang luar biasa fantastis modern-nya, mudah di-upgrade, dapst dioperasikan menurut sistem NATO, dan dengan kualitas pilot standard NATO.

      Kita tahu dari fakta, kalau semua ini tidak benar.

      Dengan anggaran pertahanan hanya 10% dari US, atau hanya sebanding dengan UK, atau Perancis; dan masih harus memelihara ribuan hulu ledak nuklir, kita sudah tahu kalau semakin sulit untuk industri Russia masih bisa mempunyai kemampuan bersaing dengan industri Barat, yang modalnya puluhan kali lebih besar, dan sudah menuai puluhan tahun pengalaman dengan tehnologi yg jauh lebih modern.

      Maaf, Russia bukan lagi Uni Soviet.

      Su-35 versi lokal hanya dipersenjatai missile R-27 peninggalan masa Soviet, dan tidak pernah di-upgrade sejak 2005.

      Barang gampang rusak? India, Vietnam, dan Indonesia s3ndiri sudah melaporkan berita yg serupa dalam 10 tahun terakhir.

      3. Terakhir, apakah menjadi Resi Durna?

      Kalau anda tidak berani menghadapi fakta, dan terus menyebar rumor tanpa mau mengindahkan fakta2 Efek gentar NIHiL Su-35 Versi Export;

      Andalah yang sebenarnya sudah menjadi agen sales?

      Tugas agen sales hanya memastikan produknya terbeli. Dengan sendirinya yah, mana mau membahas kelemahan produk dong!

      Entar dagangannya tidak terbeli!

      Secara kasarnya, kalau menjual racun sebagai makanan-pun, agen sales hanya mau melihat penjualan. Bukan perlu ambil pusing konsekuensi dari transaksi si pembeli.

      Anda menjadi berpihak, dan bekerja untuk supplier, dan BUKAN lagi memikirkan negara sendiri!

      Delete