Monday, April 9, 2018

News Update Q1 2018

Sementara para resi durna sedang kembang kempis menunggu kontrak sebelum Pemilu 2019, mari kita melihat beberapa berita News Update dari seluruh dunia... yang semakin memperbesar kemungkinan dibatalkannya rencana merugikan Su-35 Versi Export Edisi anti-komunis.




22-Maret-2018: Konfirmasi: F-15 Saudi Arabia SELAMAT dari serangan missile Houthi

Demikian pengumuman AU Saudi Arabia, seperti dikutip IHS Janes, pada 22-Maret-2018 yang lalu.

Kejadian ini sendiri mempunyai beberapa konsekuensi yang menarik:

Pertama, untuk para pendukung pesawat twin-engine: Kejadian ini TIDAK MEMBUKTIKAN kalau pesawat twin-engine lebih mudah selamat daripada single-engine. 

Perhatikan kembali video Houthi di atas!

F-15 RSAF kelihatan sibuk menyalakan afterburner dari kedua mesin GE-nya. Infra-Red signature-nya akan naik berkali-kali lipat dibandingkan single-engined F-16, dan hampir puluhan kali lipat dibanding Gripen-C, yang pengurangan IR-signature-nya jauh lebih optimal. Dengan sendirinya, pesawat raksasa seperti F-15, atau Sukhoi Flemon sebenarnya seperti menjadi undangan umpan untuk missile pencari panas.

Ini kembali ke hukum alam yang sederhana:

Kedua, untuk para pendukung "persenjataan lengkap" missile versi export buatan Russia. 

Pihak Houthi kelihatannya mengoperasikan missile R-27T pencari panas, senjata BVR andalan AU Russia, yang sudah dikonversi sebagai missile surface-to-air, dengan bantuan Iran.
Youtube screen capture
Sayangnya, walaupun missile ini kelihatan mengena, kembali lagi kalau kill rate untuk missile jenis R-27 ini tetap saja NOL KOMA NOL. Tidak ada pesawat tempur yang sejauh ini berhasil tertembak jatuh dalam tiga puluh tahun terakhir.

Terakhir, penggunaan alat FLIR (Forward Looking Infra Red) untuk merekam video tersebut.
Youtube Screen Capture
The Aviationists menunjuk kalau Houthi kelihatannya menggunakan FLIR systems Ultra 8500

Ini bukanlah kelas high end performance seperti sistem IRST Eropa yang sekarang memperlengkapi ketiga Eurocanards, yang bisa melihat target dari jarak ratusan kilometer, melainkan produksi komersial dari FLIR Systems untuk keperluan basic law enforcement. Ini menunjuk ke konsekuensi yang tidak kalah menariknya.
Perusahaan komersial FLIR juga mengambil video infra-red F-35B ini dalam Farnsborough Air Show 2016.
(Gambar: FLIR)
Selamat berkenalan dengan realita perubahan konflik Abad ke-21! 

Pesawat tempur stealth luar biasa muahal seperti F-35, yang memang mesinnya mudah terbakar, akan semakin mudah terlihat dengan perlengkapan Infra Red komersial Abad ke-21. Kembali ingat, kalau gambar ini bukan diambil melalui sistem Infra Red Search and Track seperti Pirate IRST, Skyward-G, atau Thales OSF yang jauh lebih sensitif, dan diperuntukkan mencari pesawat tempur dari jarak puluhan kilometer.

Puluhan kali lipat lebih mahal daripada F-16, pesawat tempur terbaik United States, bukan berarti puluhan kali lipat lebih sulit tertembak jatuh.

Menarik, bukan?



08-April-2018: Kembali terjadi SERANGAN KIMIA di Douma, Syria

BBC image
Baru saja genap setahun setelah serangan kimia terakhir di bulan Maret 2017, yang lalu; BBC World News baru melaporkan terjadinya kembali serangan kimia oleh rezim Assad atas target sipil, bukan target militer, di Douma, Syria. 


Seperti biasa, Russia sebagai pendukung rezim Assad menyangkal terjadinya serangan kimia ini. Apa yang terjadi direkayasa media Barat, katanya.

Pengetahuan umum: Membeli alutsista sebenarnya adalah suatu pernyataan politik mendukung kebijaksanaan negara supplier. Seperti dalam artikel sebelumnya, inilah kenapa negara-negara Gulf Corporation Council terus membeli senjata-senjata buatan Barat.

Sumber: Defense News
Demikian juga rencana pembelian Su-35 Versi Export Downgrade, yang akan luar biasa merugikan.


Menurut artikel TASS, Vladimir Kozhin, yang adalah asisten presiden untuk kerjasama Militer, dan Tehnis, sudah menjanjikan satu pemanis:
Tidak akan ada discount, atau offset macam apapun juga dari Su-35 Versi Downgrade Indonesia. Semua ini hanya bisnis. Kita tidak mau berdagang rugi.

Sekarang, dalam konteks sepak terjang si supplier, masih mencoba membeli dari negara yang sudah dicap sebagai international pariah ini tidak hanya akan mulai mempengaruhi politik luar negeri kita, melainkan juga.... MELANGGAR PANCASILA.



06-April-2018: United States menerapkan lebih banyak sangsi ke Russia

United Nation Assembly Vote 27-March-2014:

Tidak seperti banyak pelanggan senjata Russia; 
PRC, Vietnam, India, dan 53 negara lain yang menyatakan abstain,

Indonesia bergabung dengan US, Australia, dan 97 negara lain untuk menyatakan
TIDAK MENGAKUI referendum Russia di Crimea

(Gambar: Wikimedia)

Tentu saja pembelian barang downgrade-35 akan membuat pemerintah Russia berada dalam posisi lebih mudah untuk menekan kita agar abstain dalam vote semacam ini yang berikutnya
Seperti dilaporkan CNN, pemerintah Trump sudah memberlakukan sangsi baru sebagai tindakan lanjut atas sepak terjang Russia berkaitan dengan sepak terjang mereka di Ukrania, Crimea, dan di Syria, keterlibatan mereka dalam mencoba mencampuri Pemilu di negara-negara Barat, dan juga kecurigaan keterlibatan mereka dalam skandal "spy poisoning" di Inggris. 

Termasuk ke dalam daftar sangsi ini adalah Rosoboronexport, anak perusahaan Rostec, yang adalah agen perantara tunggal penjualan alutsista versi export.

Apakah konsekuensi dari sangsi ini?

Siapapun yang mencoba melakukan transaksi dalam US Dollar dengan perusahaan, atau siapapun yang berada dalam daftar sangsi Washington DC, akan turut mendapatkan hukuman yang setimpal, atau turut masuk ke dalam blacklist yang dikucilkan dari pasar market internasional dalam denomisasi US Dollar.
Anda membeli, bersiaplah terkena sangsi!
CNN, 6-Apr-2018
Bloomberg melaporkan pada 9-April-2018 kalau index MOEX pasar saham Russia sudah terpukul 8,7% akibat dari sangsi ekonomi baru ini, sedangkan nilai tukar mata uang Rubel mengalami penurunan nilai tukar 4,5% dalam waktu 3 hari.

Ini adalah kabar gembira untuk rakyat Indonesia dibanding "terpaksa" membeli pesawat berefek gentar nihil, dan kemudian menghamburkan terlalu banyak upeti ke perusahaan asing, untuk semua daftar alasan pembelian yang tidak relevan

Akhirnya pintu sudah mulai tertutup. Secara politik luar negeri, ataupun ekonomi rencana merugikan ini sudah semakin tidak memungkinkan.



22-Maret-2018: Mari mulai memahami pengertian "ALIH TEHNOLOGI"secara nyata, seperti pengalaman Brazil


FAB image
Presiden Jokowi sudah mengingatkan kita sejak 20-Juli-2016 yang lalu untuk mengubah pola belanja Alutsista menjadi investasi
Sudah saatnya berhenti berpikir kalau membeli alutsista hanya sebagai pengguna semata, yang tidak perlu tahu apa-apa, sebagaimana diamanatkan oleh para penjual rongsokan versi export downgrade. Setiap alutsista harus menjadi investasi dalam membangun kemampuan tehnologi, dan industri pertahanan dalam negeri, sebagaimana sudah diamanatkan dalam tujuan mulia dari UU no.16/2012.

Website resmi Gripenblog sudah mencatat kalau sebagai bagian dalam paket alih tehnologi kontrak 36 Gripen-E/F Brazil, kedua negara sudah menyepakati pengadaan 50 macam proyek mulai dari training teoritis, program Research and Technology, dan pengembangan produksi perusahaan-perusahaan dalam negeri di Brazil.

Inilah contoh kerjasama yang selama ini... masih belum pernah kita lihat pernah terjadi terutama untuk alutsista udara di negara kita.

Apakah pengertian alih tehnologi?


Pertama-tama, pengertian konsep Transfer-of-Technology itu bukan hanya memberi pelajaran satu-arah seperti dari guru ke murid, tetapi konteksnya secara industrial, adalah untuk menjalin partnership secara jangka panjang. 

Tidak seperti proyek rongsokan mercusuar KF-X, dimana segala sesuatu ditentukan secara sepihak oleh "partner" Korea; partnership dengan Saab akan menciptakan hubungan timbal-balik, yang sifatnya dua arah. Keuntungan dari pihak yang satu, akan selalu bisa menular kembali ke pihak yang lain.

Kita akan mulai melihat topik alih tehnologi ini secara lebih mendetail sepanjang tahun ini, khususnya pengalaman Brazil dari kontrak investasi 36 Gripen-E/F.

34 comments:

  1. Korsel menginginkan S-3 Viking bekas yang sudah dipensiunkan US Navy,Bagaimana pendapat anda?

    ReplyDelete
    Replies
    1. S-3 Viking sebenarnya salah satu desain sukses untuk Anti-submarine (ASW), tanker K-3, dan derivatif pesawat angkut C-6.

      Biaya operasional murah, dan hemat bahan bakar.

      K-3 tanker sebenarnya jauh lebih efektif dibanding buddy tanker F-18 Super Hornet, yg jauh lebih boros.

      Sayang. Model ini sudah dipensiunkan dalam nama "multi-role F-18".
      Part-nya juga sudah tidak diproduksi lagi.

      Ini kenapa sebagus apapun, S-3 bekas sudah tidak memungkinkan.

      Siapapun yg mengoperasikan harus bisa sustain sendiri 30 tahun ke depan tanpa bisa dapat banyak bantuan luar.

      USN sudah tidak lagi antusias.

      Mereka juga harus membayar sendiri biaya upgrade, atau integrasi perlengkapan baru. S-3 akan membutuhkan investasi ratusan juta $$ dalam hal ini.

      Delete
  2. Bung, apakah rudal rbs 23 bisa dipasang pada chassis tank seperti rudal roland pd amx 30 dan marder?
    Lumayan lagipula kita sdg mengerjakan program tank medium. Minimal bisa jadi spaag model flakpanzer gepard atau k-30 biho

    Trims

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berikut video Youtube dari Bamse system

      =====
      https://youtu.be/xMzqACmpqS8
      =====

      Jawabannya, tergantung kebutuhan untuk integrasi sistem ke platform yg mana.

      Peluncur RBS-23 hanyalah bagian dari Bamse system, dan pemancar radarnya sendiri; tidak bisa beroperasi sendirian.

      Pertanyaannya, apakah memasang peluncur RBS-23 ke chasis tank akan bisa menjanjikan platform yg lebih efektif daripada truk standard Saab?

      Biaya integrasinya tidak murah untuk memasang ke platform baru.

      Keunggulannya harus diperjelas dahulu.

      Delete
  3. Sebenarnya brp lama membuat pesawat tempur mulai dari perencanaanhibg bisa bertempur? Apakah KFX/IFX sdh kelewat batas apalagi sdh 7 thn proto type nya blm muncul

    ReplyDelete
    Replies
    1. Korea boleh banyak cincong dalam setiap Air Show, tapi secara tehnis proyek KF-X sudah bisa dinyatakan gagal.

      Mereka tidak berhasil mendapat tehnologi yg dibutuhkan, kemampuan produksi industri yg tidak siap, dan juga yang paling penting tidak ada kemampuan menulis jutaan baris source code untuk mengintegrasikan setiap part, dan senjata.

      Jangankan prototype, sejauh ini proyek ini hanya lari di tempat sudah hampir 10 tahun.

      Mereka hanya sibuk mengemis, katanya Indonesia belum bayar (!!)

      Mereka boleh ngebacot katanya KF-X akan mengoperasikan MBDA Meteor misalnya.

      Bagaimana caranya?

      Typhoon, dan Rafale saja belum berhasil mengintegrasikan Meteor sampai sekurangnya tahun depan -- justru karena masalah mengintegrasikan code missile ke radar, dan semua perlengkapan pesawat.

      Proyek tidak jadi dari anak bau kencur, yg mengandalkan bantuan pabrik pesaing Lockheed-Martin, tidak akan bisa berjalan jauh.

      Delete
  4. bung, menurut berita S-400 baru menguji coba rudal jarak jauhnya, 40N6, bulan april 2018....

    yg jadi masalah rusia klaim (baca di rbth) bisa sampai 580 Km.

    kok berita nya agak canggung ya, klaim bisa sampai 580 Km, tapi rudalnya masih diuji coba. bahkan menurut klaimnya rusia juga, 40N6 akan menjadi rudal utama di S-500.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang sebelumnya missile 40N6 ini diklaim sudah operasional, dan sebagai salah satu "keunggulan utama" sistem S-400.... padahal ternyata tidak pernah siap.

      Seperti disebut dalam artikel Guy Plopsky sebagaimana dimuat dalam News Update 2017:

      Missile 40N6 kelihatannya bahkan tidak siap karena memang.... belum selesai produksi.

      Inilah memang kebiasaan semua pengumunan re alutsista Russia.

      Mereka sengaja mengiklankan sesuatu "lebih hebat dari versi Barat", eh, padahal barangnya tidak pernah ada.

      Perhatikan lagi semua video Sukhoi Flanker yang memukau itu!

      .... kesemua Flanker itu sampai sekarang TIDAK mempunyai BVR missile modern.

      R-27 sudah kadaluarsa.

      R-77 Amraamski secara tehnis TIDAK ADA, karena tidak pernah selesai development.

      Tentu saja, negara pembeli lain hanya bisa memakai versi downgrade dari kedua jenis missile tsb.

      Untuk pertempuran jarak dekat juga tidak lebih baik.

      Hanya ada R-73E versi export dengan sudut tembak maksimum 65 derajat dari arah moncong pesawat.

      Terlampau kuno mengingat standard AIM-9x, IRIS-T, dan Phyton mempunyai sudut tembak 360 derajat sekeliling pesawat.

      Ditembakkan ke belakangpun bisa.

      Si raja dangdut Su-35K hanya akan dihabisi dengan mudah tanpa perlawanan, selagi kehilangan kecepatan / ketinggian berkat fitur TVC.

      Delete
  5. Maaf keluar dari topic,
    Bung gi, apakah boikot cpo dari uni eropa dan us akan mempengaruhi pembelian alutsista dari negara2 tersebut.?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini tidak ada hubungannya dengan transaksi alutsista.

      Pengelolaan minyak kelapa sawit di Indonesia, seperti kita bisa lihat sendiri dari pembakaran lahan setiap tahun yg kemudian menjadi musibah kebakaran yg sulit dikontrol, dinilai terlalu merusak lingkungan.

      US dan Uni Eropa menolak membeli CPO Indonesia selama tidak ada perubahaan berarti dari tata pengelolaan semacam ini.

      IMHO, demi kepentingan nasional, memang kita harus mengubah tata kelola CPO ini. Sekarang semuanya enak. Banyak yang suka lempar batu sembunyi tangan.

      Delete
  6. Bagi yang mengikuti berita, perang rhetorisme antara Twitter Presiden Trump vs Russia re masalah Syria sekarang semakin meruncing.

    US, UK, dan Perancis sedang mempertimbangkan opsi serangan missile, atau yang lain untuk mematahkan "Chemical Assad".

    Reuters melaporkan kalau Dubes Russia untuk Lebanon, mengumumkan melalui channel Tv Hizbullah kalau missile US akan mereka tembak jatuh.

    Pernyataan menarik.

    Terlepas dari masalah tehnis fisika sederhana menembak jatuh missile itu seperti mencoba menembak jatuh peluru dengan peluru lain;

    Logika sederhana lain:
    NATO mempunyai ratusan Tomahawk, JASSM, dan Black Shadow Cruise missile.

    Dengan asumsi kalau S-400 memang bisa menembak jatuh missie, berapa stock missile dari tipe yang bisa menembak jatuh missile lain ini?

    Seberapa cepat mereka bisa melihat cruise missile Bara?

    Kesemuanya akan terbangnya mengikuti terrain, atau hanya beberapa meter dari tanah, atau puncak pohon -- menyulitkan deteksi dini dari radar darat.

    Seberapa cepat reaksi mereka kalau berhasil melihat?

    Dan berapa banyak yang mereka bisa ditembakkan dalam sepersekian detik sebelum harus reload?

    Menarik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Artikel mengenai S-400 sudah dibahas sebelumnya:

      Analisa S-400

      Kebanyakan orang mengasumsikan kalau... begitu S-400 menyala, ini artinya ada 100% Area Denial. Pespur Barat tidak bisa masuk.

      Padahal, hukum alam yg sederhana... begitu S-400 menyalakan radar, dengan sendirinya seluruh sistem ini menjadi mudah terlihat di penerima Radar Warning Receiver Barat, dan dengan sendirinya berubah menjadi target.

      Jauh lebih murah menembakkan 4 cruise missile per pesawat x 1 skuadron 16 pesawat menjadikan saturasi tembakan 64 missile dengan harga $1 juta per missile.

      ...dibandingkan...

      Harga dari seluruh sistem S-400 yg mencapai $2 milyar per sistem.

      Logika sederhana.

      Air Supremacy tidak bisa didapat dengan semata mengandalkan satu sistem SAM saja, melainkan memadukan setiap komponen termasuk AEW&C, pespur, SAM, dan Shorad dalam satu sistem yg terintegrasi.

      Delete
    2. Min, perbedaan dari S-400 dan S-500 itu apa saja?

      Delete
    3. Menurut Sputnik, S-500 "seharusnya" mempunyai kemampuan anti-ballistic missile, jarak jangkau lebih jauh, dsb.

      Tetapi fakta di atas tetap tidak berubah.

      Missile 40N6 saja masih belum ada.

      Missile terbaik untuk S-400, seperti dilaporkan Plopsky, ternyata hanya tipe 9M82MD, atau versi modernisasi dari Novator 9M82 yang sudah operasional di S-300V sejak tahun 1984.

      Nah, bagaimana jarak jangkau S-500 bisa lebih jauh dari S-400?

      Kesimpulannya, sejauh ini perbedaan antara S-400 dan S-500 hanya dalam bahasa marketing.

      Delete
  7. Update Terakhir (BBC link):
    Serangan militer US, UK, dan Perancis sudah dimulai terhadap rezim Assad.

    Sasaran adalah semua fasilitas pemerintah Assad yg berhubungan dengan produksi senjata kimia.

    Kelihatannya, kali ini serangannya tidak akan terjadi hanya satu kali seperti 7-April-2017 yang lampau.

    Kita tunggu update berikutnya.

    ReplyDelete
  8. Di lancercell, menurut dubes rusia, SU 35 sdh diteken Menhan, tapi tdk cukup dgn satu tanda tangan saja, msh harus dibahas detail yg akan disepakati. Aneh, kontrak sdh diteken tapi bln ada detail yg disepakati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang seperti sudah dibahas dalam artikel Apakah Su-35 downgrade sudah kontrak?

      ...memang masih banyak persyaratan yg harus disetujui dahulu sebelum kontraknya menjadi final, dan mengikat kedua belah pihak.

      Pihak Rostec sebenarnya juga sudah cukup frustasi.

      Kita maunya barang versi export "crown jewel" yang paling mahal, eh, tapi maunya coba 50% transaksi barter...?!?

      Terlepas dari kegilaan ini, sekarang hubungan Barat - Russia sudah mencapai titik terendah... dan Rosoboron sudah berada dalam daftar sangsi Washington DC.

      European Union kemungkinan akan segera menyusul dengan rangkaian sangsi ekonomi yg sama.

      Harga Su-35 Versi Anti-Komunis, dengan demikian juga sudah naik belasan kali lipat.

      Kalau masih mau mengejar mimpi, atau mendengar hasutan para Durna, ya, liabilitas konsekuensi politik, dan ekonominya terlalu besar.

      Kita jadi membeli dari negara supplier pendukung serangan kimia.

      Ini akan membuat kita mengkhianati Pancasila (!)

      Sepertinya, Rostec juga sudah mulai sadar... lebih menguntungkan untuk mencari langganan negara lain seperti Myanmar dibanding terus mencoba mengejar Su-35 untuk negara sahabat US, dan Australia.

      Resiko bocornya rahasia Su-35 di Asia Tenggara juga sudah naik berkali-kali lipat.

      Tidak akan heran kalau mereka akan mencoba nego ulang harga akhir.

      Kedua belah pihak akan sama2 untung dari batalnya kontrak ini.

      Delete
  9. https://www.independent.co.uk/voices/syria-chemical-attack-gas-douma-robert-fisk-ghouta-damascus-a8307726.html?amp

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rep dari badan Pengawasan Kimia PBB baru akan masuk ke Douma hari Rabu ini untuk mengambil sample.

      Sejauh ini memang belum ada bukti yg konklusif.

      Akan tetapi... sebenarnya rezim Assad sudah sekurangnya 6 kali kedapatan dengan bukti konklusif kalau menggunakan senjata Kimia terhadap rakyat Syria, sampai bulan April-2017 yg lampau.

      Ini walaupun Syria sudah turut menandatangani perjanjian bersama untuk melarang pemakaian Senjata Kimia di tahun 1993.

      Dan ini juga walaupun seharusnya, Russia bertanggung jawab turut mengawasi penghancuran semua stock senjata kimia Syria di tahun 2013.

      Kita lihat saja.

      Senjata kimia sebenarnya sejak Perang Dunia I di tahun 1914 - 1918 sudah terbukti bukanlah jenis senjata yg efektif dalam pertempuran. Mememang selalu menimbulkan kesengsaraan, dan korban jiwa tetapi tidak bisa membunuh secara cepat, dan efektif sebagaimana halnya bom biasa. Jadi faktor menyiksa korban semaksimal mungkin akan selalu lebih besar.

      Delete
  10. Admin apakah kita membutuhkan Swordfish MPA?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jawabannya, tergantung.

      Kita sudah mengoperasikan CN-235MPA.

      Pertama-tama harus ada perbandingan obyektif terlebih dahulu antara keunggulan / kekurangan masing2 sistem.

      Swordfish memakai AESA radar, dan secara sistem lebih baru, dan lebih modern. Tetapi CN-235MPA juga belum ketinggalan jaman. Kalau bisa di-upgrade agar kemampuannya lebih mendekati, kenapa tidak?

      IMHO, kita lebih membutuhkan Erieye ER untuk pengawasan wilayah udara Nasional yang lebih optimal, atau Globaleye, yang memadukan sistem Erieye, dan MPA dalam satu platform.

      Entah kenapa, kita sudah merasa "sedemikian kuat" hingga membeli pesawat dangdut yg mudah ditembak jatuh adalah prioritas utama.

      Oh, sebenarnya kita bisa menebak... karena kontrak si dangdut tidak akan bisa G-to-G.

      Seperti kita lihat, semua produk dari kontrak G-to-G biasanya selalu sulit mendapat dukungan.

      Perhatikan saja F-16, AMRAAM, C-295, C-130H hibah Australia, dan helikopter H225M!

      Selalu ada upaya sabotase, atau komemtar "kurang bagus".

      Delete
  11. Min, jika T-14 Armata berhadapan dengan K2 Black Panther dan Type 10, kira-kira akan lebih unggul yg mana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. T-14 Armata belum siap tempur.

      Seperti dalam Artikel sebelumnya, menurut pendapat crew M1A2 Abrams, Armata yang terlalu rumit, kemungkinan justru akan sibuk mengatasi kerusakan tehnis di lapangan.

      Semua tank rata2 menghadapi tiga masalah sederhana:

      - Firepower. Persenjataan utamanya apa, dan kemampuan penetrasinya terhadap armor lawan akan seberapa?
      Berapa banyak amunisi yg bisa dibawa?

      - Proteksi. Semakin tebal armor, dan semakin banyak fitur keamanan lain tentu saja membuatnya semakin berat, dan karenanya...

      - Mobilitas. Tank yg semakin berat karena meriam yg terlalu besar, atau proteksi yang terlalu tebal, maka mobilitas, jarak jangkau, dan kecepatannya berkurang.

      Setiap tank biasanya memprioritaskan satu atau dua fitur, dan mengurangi kemampuan fitur yang lain.

      Kalau memprioritaskan armor, misalnya, maka mobilitas akan berkurang. Persenjataan utama mungkin akan terjadi kompromi.

      Kalau memprioritaskan mobilitas, trntu armor atau firepower akan menjadi berkurang.

      Kalau terlalu memprioritaskan firepower, tank ini bisa berubah menjadi artillery 155mm. Tidak bisa bertempur jarak dekat.

      Kelemahan Armata, sama seperti F-35, mencoba bisa semua tanpa merasa perlu mengkompromikan hal yg lain.

      Paling tidak di atas kertas.
      Di lapangan akan berbeda.

      Delete
  12. Admin itu kok baca di Janes.com Indonesia mempertimbangkan mundur dari proyek KFX/IFX gara2 faktor geopolitik kayak keberatan dari pihak US mengenai keikutsertaan Indonesia. Itu gimana min klau kita mundur dari KFX/IFX ? sebagai perbandingan gimana sih proyek Embraer SAAB ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, itu justru kabar yang sangat menggembirakan!

      Ada beberapa alasan seserhana kenapa kita harus mundur dari proyek KF-X:.

      1. Si partner Korea masih bau kencur, dan tidak pernah bisa membuat pesawat tempur sendiri.

      Tidak ada pengalaman, tehnologi, atau kemampuan. Ini hanya proyek mimpi. Sederhana.

      Bahwa mereka menarik masuk Lockheed-Martin, dan keterlibatan pemerintah US sebenarnya dikarenakan faktor ini.

      Bayi masih menyusui dari Washington DC, eh, sudah bilang mau ikut olimpiade.


      2. Korea tidak akan bisa menjamin Alih tehnologi, atau kerjasama industrial yang berarti.

      Korea sudah pelit dalam alih tehnologi Changbogo, yg sebenarnya hanya ijin produksi dari HDW Jerman.

      Apalagi yang ini, yang semuanya akan tergantung belas kasihan Washington DC, yg tidak pernah memberi ToT ke siapapun juga.

      3. Karena didasari mimpi, anggaran proyek ini tidak pernah realistis.

      Perhitungan kasar -- akan membutuhkan $50 - $60 milyar untuk menghasilkan pespur yang tidak akan mungkin bisa lebih hebat dari F-16, atau Eurocanards.

      Proyek Hambalang II versi neraka.

      4. Korea sudah menyatakan terus terang, Indonesia hanya diperbolehkan untuk membeli KF-X Block-1 (IF-X) alias versi prematur dari program ini.

      Dengan kata lain, kita hanya dijadikan keranjang sampah untuk mengurangi resiko proyek Korea. Silahkan ambil versi paling inferior dari KF-X!

      Sama seperti rencana Su-35K, ini semua sudah berbau penipuan ke rakyat dari awalnya.

      F-16 juga masih jauh lebih unggul daripada Su-35K, atau IF-X Block-1.

      Delete
    2. Kabar gembira Link Janes: Indonesia akan mundur dari proyek KF-X

      Akhirnya, keputusan yang sangat tepat.

      "Russia, US, dan Korea", artikel ini mengutip. Katanya karena faktor Russia, dua yg lain menjadi khawatir.

      Ini sebenarnya seperti dua bilah muka uang logam; angka, atau gambar??

      Sama seperti US khawatir dngn Russia re proyek semacam ini,
      Russia juga seharusnya khawatir dengan US re Su-35K ke Indonesia.

      Pemerintah Trump bisa menawarkan $2 - $3 milyar untuk membeli Su-35K dari tangan kita!

      Terakhir, artikel ini juga mencatat kalau kita sudah menunggak 40% dari komitmen kita, atau sekitar $120 juta.

      Memang sudah seharusnya.

      Toh, parlemen Korea juga tidak pernah membuka full funding untuk proyek kertas ini kok!

      Kenapa mereka berani menagih komitmen kita??

      Apa bedanya dengan membayar upeti ke Seoul untuk secarik mimpi kertas?

      Hidup Indonesia!

      Delete
    3. Admin saya baca tentang program Gripen NG antara SAAB & Embraer yang mana berbiaya 5 milyar US$ dengan 60% assembly di Brazil, 40% muatan lokal, 70% test dilakukan di Brazil, beasiswa magister & doktoral serta riset peneliti lokal di Swedia malah kemaren Gripen NG pasang avionik buatan Embraer. Saya ngeliatnya kok itu tuh opsi paling murah dan masuk akal dalam pengembangan industri aviasi nasional.Apa kita terlalu telat untuk mencontoh Brazil ?

      Delete
    4. Sebenarnya kontrak Gripen Brazil ditandatangani dalam mata uang SEK Swedia, bukan dalam US$.

      Sewaktu kontrak di ttd di tahun 2013, nilai tukar US$ terhadap SEK lebih tinggi dibandingkan sekarang.

      Nilai kontrak ini sekitar US $4,7 milyar sekarang. Ini tidak relevan karena kontraknya dalam SEK.

      Inilah kenapa tempo hari Swedia bisa menawarkan 16 Gripen-C MS-20 senilai $1,14 milyar

      Jauh lebih murah vs F-16, atau Su-35 Versi Downgrade, karena kurang dari 30% komponen Gripen-C yang harus dibeli dalam US$. Nilainya hanya akan mencapai kurang dari 20% nilai total penawaran.

      Kontraktor utama Gripen adalah Saab, mata uang SEK.

      Kalau kita mengadopsi penawaran yang serupa dengan Brazil, dan mengakuisisi, misalnya 36 Gripen-E MS-21, kita bisa mengestimasi nilai kontraknya sekitar $3,5 milyar.

      Apakah sudah terlambat?

      Belum.

      Karena kita akan mendahului India, atau semua negara Asia yang lain dalam mengakuisisi Sistem yang jauh lebih efektif, dan lebih modern dibandingkan F-35 Versi Export.

      Re Kontrak Brazil akan dibahas lebih detail lain waktu.

      Delete
  13. Klo mmg benar Indonesia keluar:
    1. Apakah Korea akan melenggang dengan mudah meneruskan KFX...
    2. Berapa besar uang yg sdh dikeluarkan RI, dan apabila berjalan normal, harusnya sdh progres dimana pembuatannya..
    3. Apakah karena memang faktor Rusia yg menyebabkan RI keluar, karena baca di medsos, setelah kunjungan Mattis ke Indonesia dan menyampaikan ke Trump, AS tidak setuju RI beli SU 35

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Faktor Indonesia tidak ada hubungannya dengan KF-X.
      Proyek mimpi ini sudah pasti akan gagal, atau lebih baik dibatalkan sendiri

      2. Kalau dari artikel Janes menunjuk kita sudah menunggak $120 juta, atau 40% dari yang disetujui di tahun 2015.

      Kelihatannya kita sudah menyumbang upeti cuma2 sekitar $160 juta.

      3. Tidak.
      Ini sepertinya hanya dalih dua belah pihak.

      Kelihatannya sudah ada kesadaran dalam pemerintah sekarang kalau kita hanya akan membayar ratusan juta $$ untuk proyek kertas yang tidak pernah maju sejak 10 tahun yg lalu.

      KF-X, sama seperti Sukhoi, tidak akan turut berkontribusi industri dalam negeri, membangun infrastruktur, atau meningkatkan kemakmuran rakyat.

      Delete
    2. Sy rasa perihal Su-35K Versi Anti-Komunis, dan Indonesia tidak akan ada hubungannya dengan SecDef Mattis.

      Kedubes US, dan beberapa negara lain sekarang sudah memberitahukan dengan sopan kalau Situasi Kondisi politik luar negeri sudah tidak memungkinkan untuk transaksi alutsista dengan Russia.

      Sekarang bukan lagi seperti sebelum tahun 2014.

      Hubungan negara2 Barat dan Russia sudah mencapai titik terendah.

      Masih mencoba membeli dari Russia, adalah pernyataan politik mendukung sepak terjang mereka di Crimea, Ukrania Timur, Syria, dan dalam perang Cyberwarfare vs US, dan Eropa.

      Perang Dingin Versi 2 sudah dimulai kembali.

      Perbedaannya sekarang, Russia bukan lagi Uni Soviet.

      Dengan anggaran pertahanan kurang dari 10% dari US, tanpa adanya perjuangan untuk ideologi komunisme, dan perekonomian yang sebenarnya lebih tergantung kepada pasar modal internasional, menunjuk ke jenis konflik Abad ke-21 yang berbeda.

      Delete
  14. kabarnya kontrak su 35 terkatung2 gk jelas bung dark...Russia masih menyimpulkan masih belum ada yg deal...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang sudah seharusnya.

      Sekali lagi, transaksi barter bukanlah jenis transaksi yang menguntungkan.

      Jauh lebih mudah kalau Rostec mencari negara lain seperti Myanmar yg akan bayar melalui paket financing.

      Myanmar juga memenuhi syarat ideal pelanggan senjata Rosoboronexport:

      Masih sangat kurnag demokratis, kebebasan pers terbatas, tidak diperbolehkan import dari Barat, pemenuhan HAM rakyatnya sendiri belepotan, dan secara politik luar negeri relatif lebih terkucilkan sendiri.

      Indonesia yang demokratis, berdasarkan Pancasila, anti-komunis, berjuang anti-korupsi, dan bersahabat dengan USA, EU, Jepang, dan Australia tidak memenuhi syarat.

      Kembali seperti komentar sebelumnya.

      Perang Dingin Versi-2 sekarang sudah dimulai kembali.

      Semua pemerintah negara2 sahabat kita juga tentu sudah memperingatkan kita untuk tidak meneruskan kontrak ini.

      Faktor liabilitas resiko untuk menjual "crown jewel" tehnologi Russia dengan demikian sudah naik belasan kali lipat.

      Russia sudah sangat enggan menjual Su-35, walaupun dalam versi strip down Anti-Komunis, ke Indonesia.

      Pembatalan Su-35K akan menguntungkan kedua belah pihak.

      Delete
  15. dubes korea mengatakan proyek kfx/ifx tetap lanjut anehnya pejabat kita gak ada respon

    ReplyDelete