Friday, March 9, 2018

Re-Post: Kenapa Indonesia tidak membutuhkan Twin-Engine Fighter!

Gripen-C MS20  Gambar: Saab

Artikel ini sebelumnya sudah di-post 25-Agustus-2018, tetapi sudah saatnya diangkat kembali mengingat konteks sandiwara penipuan Su-35 Versi Export yang sedang merebak akhir-akhir ini.

Argumen konyol yang sering dijual pemeran Resi Durna penipu adalah, "Oh, kita membutuhkan Heavy twin-engine untuk mengimbangi tetangga". 

Tentu saja golongan the dreamers, alias para pemimpi kemudian memakan argumen ini, dan mulai mengembangkan fantasy yang tidak ketulungan, seperti bagaimana huebatnya suatu hari kalau kita mengoperasikan pesawat efek gentar nihil Su-35 Versi Export downgrade abish, dan IF-X Block-1 dari produsen bau kencur -- sama sekali tanpa memperhitungkan kemampuan kedua platform ini, ataupun perhitungan jumlah anggaran yang dibutuhkan.

Artikel ini akan memperkenalkan realita penjelasan hukum fisika: Kenapa sepanjang sejarah, pesawat tempur twin-engine tidak pernah terbukti lebih efektif dibandingkan pesawat single-engine fighters.



MITOS 1: Situational Awareness, dan BVR Combat

QF-4 Phantom II Aerial Target di Holloman AFB
(Gambar: USAF - Wikimedia)
Semua mitos mengenai "keunggulan" twin-engine fighter, semuanya berpacu kepada model yang satu ini: F-4 Phantom II, sebagaimana sering diumbar berulang-ulang dalam semua analisa awam berikutnya.

Twin-engine fighter bisa membawa radome yang diameternya lebih besar, dan karena itu dapat membawa radar yang ukuran lebih besar. Radar yang lebih besar, jarak jangkaunya lebih jauh, dan karena itu akan bisa menembak target dari jarak yang lebih jauh. 

Sudah sering mendengar argumen yang sama?
Radar AN/APG-70 F-15E:
Tidak muat di dalam moncong F-16, berarti lebih unggul?
Sayangnya, argumen ini melupakan suatu hal. Ukuran fisik dari pesawat tempur twin-engine, apalagi yang berukuran raksasa seperti F-15, ataupun semua variant dari Su-Flemon, juga jauh lebih besar, karena harus menenteng dua mesin besar, dan tangki bahan bakar yang lebih berat. RCS kedua model ini sebesar lapangan sepak bola, atau di atas 20 meter persegi, alias seperti berteriak dari jarak jauh:


TEMBAKLAH SAYA!
RCS untuk F-16C kurang dari 5% F-15C/E,
karena ukurannya yang lebih kecil.
Radar AN/APG-68v9 memang diameternya lebih kecil, dan kemampuan deteksinya lebih terbatas jika dibandingkan radar AN/APG-70, atau Irbis-E; tetapi karena refleksi gelombang radar dari F-15, atau Su-Flemon dengan sendirinya juga dua puluh kali lipat lebih besar; secara tehnis keunggulan jarak radar Irbis-E, atau AN/APG-70 menjadi tidak relevan

Logika fisika. Bukan mimpi, atau logika Hollywood.

Tentu saja seperti sudah dibahas dalam artikel pertama mengenai perkembangan radar dalam pesawat tempur; kesemua model radar ini adalah generasi tempo doeloe. Kecuali produsen Russia, di Abad ke-21 ini, semua pembuat pesawat tempur lain sudah mulai beralih secara bertahap ke... tehnologi AESA radar.
Radar Raven ES-05 dalam testing di Gripen-NG Demo unit 39-7
(Gambar: Saab)
Dengan AESA radar; perbedaan jarak jangkau antara radar AN/APG-77, AN/APG-63v3, dan Captor-E dengan 1,500 transmitter, dengan radar AN/APG-83, RBE-2AA, ataupun Raven ES-05 dengan 1,000 transmitter hanya akan menjadi semakin mengecil, seiring dengan semakin baiknya programming di belakang layar. Kembali patut diingat, kalau dalam konsep AESA radar, beberapa transmitter yang rusak, atau tidak lagi berfungsi sama sekali tidak mengurangi kemampuan deteksi

Bahkan untuk pesawat-pesawat twin-engine modern seperti Super Hornet, Typhoon, dan Rafale, yang tidak seperti Su-27/30/35, ataupun F-15E sudah mendapat optimalisasi pengurangan RCS yang lebih optimal; tetap saja secara keseluruhan ekuasi yang sama tidak berubah. RCS mereka masih 3 - 5 kali lebih besar dibandingkan Gripen-C, yang RCS-nya kurang dari sepersepuluh F-16.
JAUH LEBIH EFEKTIF dibanding Irbis-E Versi Export:
Jangankan AESA radar, bahkan radar  PS/05 Mk.4 Gripen-C;
yang dapat melihat target seukuran 0,1 m2 dari jarak 150 kilometer.
TERJAMIN
  AKAN SELALU MELIHAT 
Su-35K terlebih dahulu,
dibandingkan sebaliknya.
Dengan semakin merebaknya AESA radar, pesawat tempur raksasa tempo doeloe seperti F-15, atau Sukhoi, sebenarnya sudah semakin menjadi liabilitas dalam pertempuran udara. F-16V Versi Export, atau Gripen-E akan selalu bisa mendapatkan lock dari jarak yang lebih jauh, dibandingkan kedua raksasa ini.
Gripen-C MS-20:
Jauh lebih murah baik dari harga, ataupun biaya operasional,

Dapat lebih sering mengudara,
Persenjataan BVR yang jauh lebih berat,
Jarak jangkau radar PS/05 Mk4 yang lebih unggul,
Sistem Electronic Defense yang sudah terus mendapat upgrade,
dan
RCS yang kurang dari 1%-nya Sukhoi

Dengan hanya dipersenjatai missile versi export RVV-AE,
Silahkan bermimpi kalau Su-35K bisa menembak jatuh Gripen dalam BVR Combat!


MITOS 2: Close Combat Visual Signature

Thrust-vectoring F-22 yang sudah di-lock dalam HUD non-TVC Rafale
(Gambar: French MoD, Youtube capture)
Bagaimana caranya memenangkan pertempuran jarak dekat?

Bukankah pihak yang lebih unggul adalah yang pesawatnya yang lebih sulit terlihat, dibandingkan pihak yang menerbangkan pesawat seukuran lapangan sepak bola?

Seperti dalam contoh stealthy F-22 dalam gambar di atas, ukuran yang raksasa twin-engine justru menjadi liabilitas Visual Signaturekarena justru menjadi mudah untuk diikuti radar Mk1: 
Mata pilot.

Seperti dicatat dalam pengalaman Hunggaria di tahun 2007 dalam latihan udara Spring Flag 2007 NATO, berikut cuplikan dari artikel ini sendiri mengenai keunggulan Visual Signature Gripen:
Dalam satu paragraf ini saja, Kolonel Nandor Kilian dari AU Hunggaria sudah mendeskripsikan beberapa kelebihan Gripen yang menarik, yang tidak bisa begitu saja dikompensasi dengan seberapa banyakpun jam latihan pilot:
  • Gripen ternyata sangat sulit untuk dideteksi, baik dari radar, ataupun secara visual.
  • ... lebih menarik lagi, ini juga tanpa bantuan jammer jenis apapun.
  • Dan karena tidak terlihatpilot Hunggaria berhasil mempercundangi F-16 MLU NATO -- "....a  perfect shot".
Patut dicatat disini, kalau pengalaman ini sendiri dari tahun 2007. Semenjak itu, Gripen-C/D sudah menjalani dua paket upgrade MS per tiga tahun. Di lain pihak, di tahun 2007, pilot Hunggaria sendiri sebenarnya masih terhitung newbie dibanding pilot-pilot Angkatan Udara negara-negara Eropa Barat, yang sudah berlatih puluhan tahun. Kelihatannya, Gripen dapat mengkompensasi kekurangan ini dan membuat Hunggaria berada di posisi yang seimbang, atau lebih baik dibandingkan yang terbaik dalam NATO.

Gripen NG Demo 39-7  Credit: Saab
Silahkan terus meremehkan Gripen!
Lightweight, dan terlalu kecil, katanya.

Favoritisme awam,
ataukah....
.... hanya demi menghindari G-to-G contract?

Sukhoi yang pilotnya sudah kurang jam training,
dan
hanya model downgrade,
100% PASTI AKAN DIBANTAI
Jangan pernah bermimpi kalau pesawat twin-engine raksasa di kelas F-15, dan Su-Flemon akan bisa mengungguli Single-Engine dalam pertempuran jarak dekat!

Dari sini semua hukum fisika akan terus semakin membebani pesawat yang ukurannya lebih besar, dan lebih berat.




MITOS 3: Akselerasi, dan Manuever

F-15E on FULL afterburner
Dua mesin berarti bisa terbang jauh lebih cepat?????
(Youtube capture from US Military Update)
Mitos yang sangat menarik disini adalah berpikir kalau mempergunakan dua mesin, berarti bisa berakselerasi jauh lebih cepat dibandingkan single-engine fighter. 

Berikut pengalaman Kolonel "Spanky" Clifton, yang sudah mengumpulkan ribuan jam terbang di F-16, F-15, dan beberapa ratus jam terbang di MiG-29 Ex-Jerman Timur:
Link:
Foxtrot Alpha: How to win in Dogfight
F-15C dengan mesin PW-220 mempunyai T/W ratio 1.07, dan Wing-loading 358 kg/m2,
masih lebih unggul dibandingkan Su-35

Berikut penjelasan dari pengalaman Kolonel "Spanky" Clifton di atas: 

Pesawat tempur twin-engine, walaupun seperti F-15, membawa dua mesin yang equivalent dengan F-16, tidak akan mampu berakselerasi lebih cepat dibandingkan F-16. Lupakan saja juga semua mitos kalau pesawat twin-engine akan dapat menggapai Mach-2, dan terbang pada ketinggian 65 ribu kaki.  -- Kecepatan Mach-2 ini sebenarnya theoretical, dan hampir tidak mungkin dicapai kecuali kalau tangki bensinnya juga sudah mau habis. Nasib Sukhoi dengan mesin yang bisa meleduk sendiri setelah 500 jam operasional, tidak akan bisa jauh berbeda.

Bagaimana perbandingannya dengan F-16?
Demikianlah. 

Menurut pengalaman Kolonel "Spanky", kemampuan akselerasi F-16 dengan mesin GE TIDAK ADA BANDINGANNYAMalahan sebenarnya masih bisa berakselerasi lebih cepat lagi, kalau canopy-nya tidak akan mulai meleleh. Yah, dengan kata lain, akselerasi F-16 jauh lebih unggul dibanding twin-engine F-15, dan sudah tentu masih jauh lebih unggul dibanding Su-35 yang Thrust-to-Weight ratio-nya hanya 0,92. Untuk Versi Export dengan mesin downgrade, kemungkinan AL41F1-K daya dorongnya akan 10% lebih rendah dibanding versi-S.

Kenapa F-16 bisa lebih unggul dibandingkan F-15, ataupun Su-27/30/35?

Semuanya kembali ke penjelasan gambar ini.

Perhatikan kembali empat gaya yang mengatur bagaimana setiap pesawat bisa mengudara, seperti dalam gambar di atas!

Pesawat twin-engine ukuran gajah, dengan sendirinya mempunyai dua gaya penghambat yang lebih besar: Lebih berat, dan Lebih draggy, atau hambatan udaranya jauh lebih besar. Melipatgandakan daya dorong dengan dua mesin, sebenarnya bertabrakan dengan hukum fisika, yang dengan sendirinya menghilangkan kelebihan teoritis membawa dua mesin ini.

Credits to website Fighter SweepComparing F-16 vs F-18

Rahasia Umum:
F-16 Block-30, dan F-18A sebenarnya dapat supercruise in clean configuration,
mengalahkan performa si Twin-Engine bongsor F-15,
yang terpaksa menyalakan afterburner untuk bisa mengikuti!
Bagaimana dengan manuever? 

Kembali pesawat yang lebih besar, lebih berat, dan lebih draggy akan memulai pertempuran udara jarak dekat dengan mencoba melawan begitu banyak hukum fisika yang sudah menumpuk. Hasilnya tidak mengherankan:

Yah, ternyata GE F-16 dapat mengambil sustained turn rate yang lebih kecil, dan dapat berakselerasi jauh lebih cepat dibandingkan F-15C.

Ekuasi yang sama tidak akan berbeda jauh dengan Gripen-C/E, yang berkat bentuk sayap close-coupled delta canard, dan luas penampang yang lebih kecil, mempunyai drag rate yang lebih rendah dibandingkan F-16. Sedangkan di lain pihak, Sukhoi bongsor penampang depannya lebih luas, lebih berat, mesinnya lebih cepat meletup, dan jauh lebih boros bahan bakar dibandingkan dengan F-15.

Sekali lagi tidak perlu heran. Sekali lagi, sepanjang sejarah pertempuran udara sejak tahun 1914, kalau single-engine design yang lebih ramping, akan selalu lebih efektif dalam pertempuran jarak dekat. Tidak seperti twin-engine, single-engine tidak perlu menenteng dua mesin besar disamping fuselage, yang sebenarnya tidak diperlukan, dan hanya menambah beban, drag, dan menuntut tangki bahan bakar yang jauh lebih besar.

Sayangnya, F-16 Versi Export untuk Indonesia harus menderita memakai Block-25 dengan mesin yang lebih tua dari versi F100 PW-100, yang daya dorongnya 20% lebih rendah dibanding mesin PW-229, ataupun mesin GE F110. Kita tidak bisa menikmati keunggulan yang serupa seperti yang sudah diceritakan Kolonel Clifton.
Turku Airshow 2015,  From: Wikimedia
Lebih kecil, Lebih sulit terlihat, dan Drag Rate yang lebih kecil
Semuanya adalah Realita Keunggulan dalam Pertempuran Udara
Formasi F-18, F-16, dan Gripen-C dalam Turku Airshow 2015
(Wikimedia Image)
Seperti bisa dilihat,
Gripen lebih kecil dibandingkan Hornet-Classic, atau F-16


MITOS 4: Jarak Jangkau



Indonesia membutuhkan twin-engine, karena jarak jangkaunya lebih unggul?

Pernyataan yang sangat menggelikan.

Kenyataannya, pesawat twin-engine, yang lebih berar, dan lebih draggy, seperti F-15SG, atau F-18F akan selalu membutuhkan sekurangnya dua kali lipat kapasitas tangki bahan bakar dibandingkan Gripen, atau F-16 -- ini untuk jarak jangkau yang hampir sebanding.

Su-35 versi lokal model yang paling memalukan disini. Walaupun kapasitas internal bahan bakarnya empat kali lipat dari Gripen, atau F-16, dan lebih parah lagi dua kali lipat dibandingkan F-15E, atau F-18SH, jarak jangkaunya ternyata tetap melempem di 4,500 kilometer... itu juga masih harus membawa drop tank. Untuk Versi Export mungkin jarak jangkaunya akan lebih melempem lagi.

Mesin buatan Russia selain sudah memupuk reputasi GASAK - GAmpang ruSAK, memang tidak pernah dikenal dengan faktor efesiensi pemakaian bahan bakar yang bersaing. Jangan heran kalau biaya operasional F-16, atau Gripen masih lebih murah dibandingkan konsumsi bahan bakar Sukhoi!
Artikel lengkap di The Tribune India, 20-Juli-2014:

Kenapa kita perlu menjelek-jelekan Sukhoi dengan iklan palsu?

Bukankah semua ini FAKTA?

Laporan dari Indian Express, 6-Mei-2016, menunjuk kalau IAF sudah mengalami 34 insiden mesin mati di udara antara 1-April-2014, sampai 31-Maret-2016.

17 insiden per tahun

Jangan berharap kalau Su-35K yang belum teruji secara operasional seperti Su-30MKI, performanya akan bisa jauh lebih baik!  Apalagi kalau dioperasikan negara yang belum mempunyai pengalaman full maintenance Sukhoi seperti India!

Itu sih namanya... bermimpi.



MITOS 5: Payload

Kalau mengenai payload, terutama untuk Air-to-air, masih ingat mitos hoax yang disebarluaskan oleh kedua penulis "jenius" dalam Ausairpower:
"Fantastic Flankers, and where to find them"
by Ausairpower.net

TONG KOSONG NYARING BUNYINYA!
Konfigurasi yang paling optimal untuk Air-Combat, adalah 4 BVR missile, dan 2 WVR missile, atau beberapa F-15C terkadang terlihat membawa 4 - 6 BVR missile, dan 2 - 4 WVR missile. Dan dalam hal ini, tidak akan ada bedanya antara twin-engine, ataupun single-engine --- karena kedua tipe akan dapat membawa jumlah missile yang sama.
AU Russia sendiri cukup pintar untuk tidak mempercayai bualan Ausairpower
4 BVR missile, dan 2 WVR sudah cukup

Percobaan bunuh diri - Sukhoi style:
BVR missile-nya juga hanya versi R-27 pula, yang masih semi-active homing
(Gambar: RAF photo, Wikimedia)
Penjelasannya sangat sederhana dalam hal ini. Kenapa membawa terlalu banyak missile di satu pesawat adalah liabilitas besar:
  • Belum tentu pesawat yang membawa 10 - 12 missile bisa menembakkan semuanya, sebelum sendirinya tertembak jatuh dalam konflik
  • Kalau sampai terjadi kecelakaan, atau kerusakan tehnis, terbuka kemungkinan 10 - 12 missile itu terpaksa harus dibuang.
  • Mencantoli 10 - 12 missile ke satu pesawat, berarti menghabiskan terlalu banyak stock missile di gudang. Kenapa 12 missile ke satu pesawat, kalau dua pesawat yang masing-masingnya membawa 6 missile akan dapat memberi hasil yang lebih optimal?
Tentu saja mitos efek gentar Sukhoi dengan 10 - 12 missile ini sudah terbukti tidak compatible dengan.....
Sepertinya tujuan membeli pesawat tempur di Indonesia,
hanya untuk dekorasi di Airport, atau flypast di hari perayaan
Jangan melupakan juga untuk semua negara pembeli Sukhoi:
Ataukah.... mungkin argumen keunggulan payload twin-engine disini untuk Air-to-Ground attack?

Yah, sayangnya, Indonesia tidak perlu menjalani misi serangan udara ke darat yang berkelanjutan seperti sekarang dipraktekkan di Syria, atau di Yaman. Selain itu, Sukhoi akuisisi barter, sebenarnya masih menabrak satu masalah:
War-is-boring: Russia is upgrading its top fighter to fly from rough airfields
Penulis: Dave Majumdar

Betul. Semenjak Soviet runtuh di tahun 1991, Russia tidak pernah mempunyai cukup anggaran untuk mengembangkan targeting pod-nya tersendiri. Akibatnya jelas.
Gripen-C MS-20  Credit: Saab
Gripen, yang dapat membawa 8 Boeing GBU-39 Small diameter bomb, dan targeting pod seperti dalam gambar Saab ini, akan dapat menghantam lebih banyak target, dengan jauh lebih akurat dibanding twin-engine Sukhoi kalaupun bisa membawa seratus bomb sekalipun.



Kenyataan: Gripen, dan F-16 maintenance akan selalu lebih murah, dan lebih sering bisa mengudara



Grafik dari hasil research IHS Jane's ini sebenarnya mempunyai arti yang ganda. Tidak hanya seperti dalam trend, pesawat tempur twin-engine akan mempunyai biaya operasional sekurangnya dua kali lipat dibandingkan single-engine; tetapi pesawat tempur single engine akan selalu dapat mengudara lebih sering dibandingkan twin-engine.
Dalam grafik Saab di atas, F-16 akan dapat mengudara 24,6 jam dalam setiap periode 48 jam, sedangkan Gripen yang memang sudah dirancang dari awal untuk perawatan mudah, dan kesiapan terbang yang lebih tinggi... dapat menghabiskan waktu 38 jam di udara dalam setiap 48 jam.

Inilah dua tolok ukur yang tidak akan bisa dilampaui twin-engine manapun.

Untuk bisa mempertahankan patroli udara 24 jam, USAF membutuhkan 16 F-15 untuk di rotasi per empat pesawat per enam jam. Sortie rate untuk F-15 yang sudah combat proven saja menunjuk sekitar 1,5 sortie per hari. Sedangkan F-16 dapat mengudara sekurangnya 4x sehari, dan kalau mau digeber, dapat mengudara sampai 6x.

Gripen tentu saja sudah dirancang untuk lebih unggul dari awal.

Bagaimana kalau seandainya kita harus mencegat 4 penyusup yang berselang waktu setiap dua jam, tetapi kita hanya mempunyai empat Sukhoi? 

Setelah menyergap dua penyusup yang pertama, Sukhoi tidak akan lagi bisa mengudara untuk menghadang penyusup ketiga, dan keempat... hanya karena masalah maintenance. 

Saat ini, hanya dengan anggaran pertahanan yang US$7 milyar per tahun, Indonesia sudah menghamburkan terlalu banyak biaya operasional untuk pengeluaran yang tidak perlu:
Efek gentar yang mana?
Dengan asumsi jumlah jam terbang yang sama,

hanya 10 pesawat di Sku-11 saja sudah menghisap anggaran lebih banyak
dibanding 5 Skuadron tempur yang lain.

Dan hanya bisa dipersenjatai Missile Versi Export tehnologi 1980-an,
yang tidak pernah di-upgrade.
Tentu saja rencana akuisisi Su-35K, yang kelihatannya lebih diprioritaskan untuk menutup kontrak, dibandingkan mendahulukan kepentingan nasional, hanya akan memperburuk keadaan:
Para perantara, dan penerima "kickback" akan sangat senang
dengan akuisisi keinginan anak kecil untuk Su-35K
Pertanyaan yang sejauh ini belum terjawab di Indonesia: Bagaimana kita bisa membayar biaya operasional untuk dua Skuadron Sukhoi yang akan menghisap anggaran?



Penutup: Indonesia TIDAK MEMBUTUHKAN twin-engine fighter

Gripen-D with RBS-15  Credits: Saab
Oh, iya?
Untuk Angkatan Udara yang tugasnya mempertahankan Negara Kepulauan,
Tampaknya Anti-Ship Missile bukan prioritas utama
Penjelasan disini sudah cukup jelas. Artikel ini sebenarnya hanya membicarakan hukum fisika, kenapa twin-engine yang ukurannya lebih besar, akan lebih berat, lebih draggy, lebih mudah terlihat radar lawan, lebih high-maintenance, biaya operasionalnya lebih mahal, dan.... tidak akan bisa sering terbang.

Kebutuhan pesawat twin-engine-nya dari mana?
Ini adalah hukum alam yang tidak bisa ditawar!
Korea, Singapore, Saudi Arabia, India, ataupun Australia membeli twin-engine, bukanlah sesuatu prestasi yang "perlu ditandingi". Kesemua negara ini, tidak seperti Indonesia, mempunyai anggaran yang cukup tebal, dan / atau menghadapi tantangan militer regional yang jauh lebih pelik dibandingkan dalam kawasan Asia Tenggara, yang dewasa ini termasuk yang paling damai, dan paling stabil di seluruh dunia.

Sudah saatnya menghentikan negosiasi untuk keinginan anak kecil seperti Su-35K, dan kembali ke jalan yang benar.... Memperhatikan kebutuhan nasional, dan memprioritaskan Kerjasama industrial, dan Alih tehnologi, seperti diamanatkan dalam UU no.16/2012.

Bagaimana caranya bisa ada perubahan harga Su-35 dari harga $150 juta per unit, bisa dinegosiasi menjadi $90 juta per unit tanpa ada perubahan apapun secara spesifikasi?

Bukan tanpa alasan, kalau walaupun bentuk luarnya sekilas mirip, Xenia 1000cc manual harganya jauh lebih murah dibandingkan Avanza Veloz 1500cc Automatic, bukan?
Satu-satunya yang Memenuhi Kebutuhan Indonesia,
bukan Keinginan semata
Sudah saatnya kembali mempertandingkan setiap penjual dalam tender terbuka, bukan single sourcing. Bukankah ini sesuai yang dengan sudah pernah dijanjikan dari Kemenhan sendiri sejak 13-April-2015 yang lalu?

Oh, jangan lupa, kontrak ini seharusnya sifatnya jangka panjang, karena dalam tempo dekat sebenarnya dengan anggaran yang terbatas, kita belum memerlukan pengganti untuk F-5E.




13 comments:

  1. Rafale, Thypoon sepintas spt pswt single egine, bahkan bentuknya tidak lebarcspt F15 ato sukoi, dibuat spt itu apakah utk mebdukung kelincahan.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Typhoon, Rafale, dan MiG-29 mengikuti filosofi desain yang sama.

      Ukuran, dan berat harus seminimum mungkin untuk mengurangi faktor resiko drag rate, dan menambah T/W ratio untuk daya dorong mesin yg lebih kecil vs F-15 dan Su-27.

      Hasilnya -- perpaduan keunggulan dan kelemahan twin engine vs single engine.

      Ya, ketiganya akan selalu lebih lincah, dan bisa berakselerasi lebih cepat vs F-15 dan Su-35; atau menandingi/melebihi F-16 atau Gripen....

      .... akan tetapi.....

      Tetap saja, Rafale dan Typhoon dengan sendirinya perawatannya akan lebih sulit, lebih mahal, dan tidak akan bisa menandingi kemudahan operasional / sortie rate F-16, dan Gripen; yang jauh lebih sederhana.

      Jarak jangkau keduanya juga tidak bisa lebih unggul, karena kapasitas bahan bakarnya terbatas, tetapi kedua mesin ini akan lebih boros bensin vs F-16 / Gripen.

      Delete
  2. bung dark betulkah nilai kontrak keseluruhan 35 % sebagai uang muka kudu dibayar Ri ,dan Russia belum mau membuat su 35 sebelum uang muka itu dibayar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penipuan skema barter "menguntungkan" ini kelihatannya banyak TETAPI-nya.

      Masih ingat tempo hari sempat ada pembicaraan kalau Russia bersedia memberikan "pinjaman lunak" untuk pembelian alutsista versi export mereka.

      Nah, pinjaman ini sendiri ada persyaratannya.

      $1,14 milyar hanya boleh 8 barang kuno-35 versi export spesial untuk negara anti-komunis.

      Dalam skema barter, bagaimana bisa jumlahnya naik ke 11 Sukhoi??

      Pertama, downgrade-nya sudah pasti LEBIH BANYAK.

      Kedua,
      Proporsi pembayaran cash yg 50% lainnya tidak akan diperbolehkan lagi dari "pinjaman lunak" penawaran sebelumnya.

      Kan persyaratan mekanisme pembelian sudah berubah, bukan?

      Kelihatannya kalau 50% cash ini bisa dari kredit Ruski lagi.... asalkan membayar bunga yang LEBIH TINGGI.

      Jangan lupa kalau kita berurusan dengan negara yg, menurut Transparancy Internasional, lebih korup daripada Indonesia.

      Kata "demokrasi" juga masih jauh dari kebijaksanaan sistem pemerintahan di sana.

      Delete
    2. Nah, skrg entah darimana para pendukung pembelian barang kuno downgrade, yg biaya operasionalnya lebih mahal dari F-22 ini bisa mengumpulkan kas untuk membayar proporsi yg sudah disetujui.

      Entah apa yg terjadi dib3lakang layar saat ini.

      Bisa saja memang terjadi kenekadan... tiba2 Su-35K muncul Agustus ini... dari sistem produksi "super kilat" kurang dari 2 tahun seperti kontrak Su-35S untuk Russia, atau versi Su-35K untuk PRC.

      Kita masih belum mendengar ada konfirmasi kontrak dari satupun website berita milik Kremlin, spt RBTH, Sputnik, atau Tass.

      Di Indonesia sendiri, kelihatannya belum ada pihak lain yg mengkonfirmasi kontrak selain dari pernyataan 15-Februari lalu, bukan?

      Entah kenapa, tidak seperti pemberitahuan pembelian alutsista di semua negara lain, semuanya tutup mulut.

      Kita lihat saja.

      Beritanya akan menarik.

      Delete
    3. sempat diberitakan di salah satu formil fb, RRC Ternyata tidak minat su 35 , china awalnya ingin membeli mesin buatan rusia untk proyek jet tmpur mrka. Tp rusia sengaja mempersulit dngan syarat china kudu beli su 35 jika mau dpt mesin buatan rusia ,

      Delete
    4. Memang bukan rahasia kalau PRC ingin menjiplak tehnologi Su-35. Terutama mereka tertarik dengan mesin AL-41F1, dan radar Irbis-E.

      Pada awalnya, mereka hanya ingin beli 12 pesawat. Negosiasinya menjadi berlarut2, karena Russia ingin menjamin dahulu mereka bisa menjual cukup banyak utk menutup kerugian kemungkinan pencurian tehnologi.

      Pada awalnya, Ruski berkeras PRC membeli sekurangnya 32 pesawat. Jumlah akhirnya 24 pesawat setelah 3 - 4 tahun tarik ulur.

      Skrg kabarnya, PRC tertarik membeli lebih banyak, dengan persyaratan perakitan lokal.

      Sebenarnya, PRC sudah bertahun2 mencoba menjiplak AL-31F versi tahun 1980-an, dan sejauh ini masih belum berhasil. Walaupun mesin buatan Ruski dinilai tidak bisa bersaing dengan buatan Barat, ternyata PRC juga mendapati tidak semudah itu membuat mesin yg bahkan bisa sebanding dengan buatan Ruski.

      AL-41F1 versi export sudah tentu jauh lebih rumit.

      Delete
  3. Di JKGR, AS memblokir pembelian rafale, krn kawatir penyebaran teknologi rudal scalp krn ada material buatan AS. Apakah MBDA Meteor juga ada unsur material dari AS..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Er... US tidak bisa memblokir penjualan Rafale, Typhoon, ataupun Gripen.

      Pertama2, negara yg berniat membeli Eurocanards biasanya adalah negara yg dianggap sahabat US. Jadi faktor resiko politik bisa dianggap nihil.

      Kedua, ada faktor perjanjian perdagangan internasional.

      US tidak mengentikan penjualan Gripen ke Afrika Selatan, Thailand, atau Brazil, bukan?

      Ini walaupun di Brazil, salah satu kompetitor yg digugurkan adalah Boeing F-18E/F Superhornet.

      Demikian juga, pemerintah Trump tidak akan keberatan kalau kita mengakuisisi Gripen. Paket penjualan F-16V belum bisa bersaing dengan tingkat alih tehnologi, dan keterlibatan kerjasama industrial spt yg ditawarkan Saab.

      Dan karena faktor nilai tukar US Dollar versus Krona Swedia, harga Gripen juga akan jauh lebih murah vs F-16V.

      ## Missile buatan Eropa, spt SCALP-EP, Taurus KEPD, dan MBDA Meteor sebenarnya dibuat orang2 Eropa justru untuk melingkari pembatasan export DSCA Dephan US!!

      Contoh case study baru2 ini:

      Korea Selatan meminta pembelian JASSM long range cruise missile untuk mempersenjatai F-15K, tetapi permohonan mereka ditolak.

      Solusinya, mereka kemudian mengakuisisi Taurus KEPD, yg GPS programming-nya sudah disengaja utk plug-n-play ke pespur buatan US.

      IRIS-T juga sudah dirancang untuk bisa dioperasikan pespur manapun yg bisa mengoperasikan versi AIM-9M ke atas.

      Delete
  4. Pendapat mimin tentang kapan TNI AD yg kemarin tenggelam di kepulauan Seribu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kecelakaan ini masih diselidiki.

      Kita belum tahu sampai banyak fakta sudah selesai dikumpulkan.

      Delete
  5. Bung di Lancercell pernah diberitakan, Rusia bingung karena Indonesia beli sukoi utk latihan dan demo, klo di Rusia sukoi disiapkan utk perang, tdk spt pespur barat bisa di upgrade, jadi "sekali pakai", menurut anda gmn....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sukhoi memang tidak dirancang untuk operasional seperti pespur Barat.

      RBTH mengkritik pemakaian Sukhoi MKI di India, katanya "terlalu cepat rusak, padahal di PRC, Indonesia, Vietnam, dan Russia tidak apa-apa."

      Salah satu penyebabnya kata media milik Kremlin ini:
      "...India terlalu mementingkan jumlah jam latihan dibanding nyawa pilot..."

      Oh-oh-oh!
      Tanpa sengaja, RBTH juga mengungkapkan satu kelemahan utama Sukhoi:
      Sukhoi tidak dirancang untuk operasional tempo latihan yang tinggi, seperti halnya pespur Barat!

      Bukan tidak bisa, tetapi kalau mau digeber, yah, sudah pasti biaya maintenance akan melompat naik.

      Ini dikarenakan kesalahan desain Sukhoi, yang adalah warisan dari sistem produksi Soviet tempo doeloe. Pesawat ini tidak dirancang dalam modular desain... kalau satu part rusak; tidak bisa hanya mengganti part itu saja, tetapi seluruh komponen harus diangkat keluar.... dan diperbaiki.

      Ini bukan masalah pelik untuk MiG-21, atau Su-22; tetapi mimpi buruk untuk pesawat twin-engine yang luar biasa kompleks seperti Su-27/30/35.

      Inilah kenapa India terus complain.
      Mereka sepertinya membayangkan Su-30MKI bisa dioperasikan seperti F-15E. Tidak bisa begitu.

      "You only get what you pay for."

      Kita akan membahas lebih mendalam dalam artikel
      "kenapa biaya operasional Sukhoi lebih mahal dari F-22".

      Delete