Monday, March 19, 2018

Kenapa biaya OP Su-35K jauh LEBIH MAHAL dari F-22

Perhatikan Grafik rangkuman Forbes tahun 2016 untuk biaya operasional aneka pesawat tempur United States, dari militer dengan anggaran terbesar, dari negara terkaya di seluruh dunia!

Sedangkan biaya operasional Sukhoi Kommercheskiy bertehnologi tahun 1980-an yang tidak bisa di-upgrade, dan dioperasikan oleh Angkatan Udara negara berkembang, yang anggarannya pas-pasan, sudah mencapai Rp 400 juta, menurut artikel Tempo di tahun 2014

Kita bisa menilik kembali dari grafik live dari Xe.com, kalau di tahun 2014, sebenarnya kurs tengah  US$ terhadap Rupiah masih bertengger di kisaran Rp 11,500.

Ini sudah menunjuk biaya operasional per jam di Sku-11 yang sudah menggapai $34,782, atau lebih mahal daripada biaya per jam F-22 USAF super stealth fighter di tahun 2016. Tentu saja, angka ini belum termasuk biaya perbaikan mendalam 20 bulan, yang kemudian sudah menghantam empat unit pertama yang dibeli dengan barter, dan sekurangnya dua unit lain.

Para agen sales alutsista, atau mereka yang dari dahulu mementingkan tutup kontrak secepat mungkin demi kepentingan asing, sebenarnya banyak alasan untuk bergembira.... karena biaya operasional untuk 11 Su-35 Versi Export... TERJAMIN JAUH LEBIH MAHAL LAGI.

Artikel ini akan menjelaskan sederhana mengapa biaya operasional para Flemon ini demikian muahal, dan kenapa Super Flemon berarti super mahal.


Penjelasan 1: Su-35 sudah terlampau rumit, tetapi KURANG RELEVAN

AFP Image
Masih ingat digembar-gemborkannya T-14 Armata Tank, yang dikatakan akan lebih unggul daripada semua tank Barat?

Loh, apa hubungannya Armada dengan Su-35 Versi Export?

Armata Tank, sama seperti S-400 missile System, PAK-FA, dan Su-35S, sebenarnya mewakili trendstyle produksi alutsista Russia dewasa ini, yang sebenarnya sudah dimulai sejak masa Soviet di tahun 1970-an akhir. Menciptakan persepsi tidak kalah modern, atau mungkin lebih unggul daripada semua yang sudah diproduksi di Barat.

Apakah Armata Tank ini begitu menakutkan?

Daniel Brown, menulis untuk Business Insider 6-Maret-2018, menginterview awak M1A2 Abrams di Fort Bliss, Texas, dalam kondisi anonim; Apa pendapat mereka tentang Armata Tank; apakah M1A2 masih bisa mengalahkan Armata?

M1A2 Abrams, sama seperti semua tank modern lain, mempunyai cannon conventional smothbore 120mm, dengan 4 awak, termasuk loader (pengisi amunisi secara manual), tank commander, pengemudi, dan penembak meriam utama. 

T-14 yang katanya lebih modern, mempunyai 125mm autoloader, dan hanya memerlukan tiga crew, dengan segala macam pernak-pernik lainnya.

Bagaimana jawaban para crew Abrams mengenai T-14?

Mereka langsung memfokuskan jawaban mereka ke auto-loader 125mm di Armata tank:

Auto-loader untuk Armata tank, sama seperti Thrust-Vectoring untuk Su-35, dan Su-30SM -- TIDAK RELEVAN. 

Crew pengisi amunisi biasa akan selalu dapat mengisi kembali amunisi Abrams lebih cepat dibandingkan fasilitas Auto-loader. Dan kalau sampai terjadi kerusakan, atau "misfire" dalam upaya penembakan, tank tersebut harus bisa diperbaiki sendiri dengan crew-nya di lapangan. Bagaimana caranya memperbaiki auto-loader yang rusak di lapangan?

Sementara itu, Kremlin juga sudah sempat mengumbar kalau T-14 Armata suatu hari akan menjadi fully-automated

Er... bahkan dalam tank konvensional modern, menurut para crew Abrams, beraneka ragam kesulitan tehnis akan selalu terjadi di lapangan. Salah satu crew ini bahkan menyatakan dengan gamblang kalau perkerjaannya sehari-hari hanya sibuk memastikan agar segala sesuatu harus bisa bekerja dengan baik.

Pertanyaan crew Abrams bagus; bagaimana caranya melakukan hal ini di Armata?

Kesimpulan mereka sendiri cukup lugas:

Semua senjata Soviet masa lalu, semuanya dibuat untuk sesederhana mungkin, agar tahan banting. AK-47, tank T-55, MiG-21, dan Su-7/20/22 semuanya dirancang untuk filosofi ini. Akan tetapi, dengan alutsista "generasi baru" yang harus bisa "bersaing dengan Barat", Soviet / Russia mulai mengkhianati filosofi mereka sendiri, dan memulai membuat barang-barang yang manja perawatan.

Su-35BM atau S, eh, salah versi.... yang benar adalah Su-35 Versi Export (HARUS downgradeEdisi Spesial untuk negara pro-Barat tukang tumpas komunis, juga menghadapi masalah yang sama dengan Armata. Sama seperti Armata, Su-35S secara tehnis adalah pesawat tempur baru, yang jauh lebih rumit, dan tidak akan memiliki kesamaan apapun dengan Su-27, walaupun sekilas terlihat mirip.

Sama seperti fasilitas keren autoloader untuk Armata, para agen sales Su-35K juga mengiklankan keunggulan yang satu ini: 

Mesin Thrust-Vectoring AL-41F1, yang bisa membuat Su-35 berdangdut sendiri ini saja sudah membuka segudang masalah maintenance baru dibandingkan mesin AL-31F, yang sudah termasyur cukup bermasalah, dan tidak bisa tahan lama. Membuat mesin yang bisa mengarahkan thrust ke arah yang berbeda saja, sudah membutuhkan puluhan aktuator baru yang tidak terdapat di mesin AL-31F. 
Semakin rumit, ya, semakin merepotkan, dan semakin mahal.
Berikut juga pendapat orang India mengenai mesin AL-41F1, yang adalah derivatif dari keluarga mesin kaput AL-31F, yang masih harus menjadi mesin utama PAK-FA / PGFA:
Indian Air Force wants out of Russian Fighter Program
Defense News, 20-Oktober-2017
Dengan kata lain, menurut orang India, mesin AL-41F1 tidaklah terlalu jauh berbeda dengan semua problem yang sudah mereka hadapi dengan mesin AL-31FP di Su-30MKI mereka.

Mesin AL Saturn BUKAN MODULAR DESAIN. Sama seperti yang sudah dipertanyakan oleh crew Abrams dari observasi logika sederhana, dengan demikian, mereka sudah menganalisa dan menyimpulkan kalau mesin ini tidak hanya akan gampang rusak, tetapi kalau sudah rusak.... ya, cilaka.... harus dikirim balik ke pabriknya untuk diperbaiki.

Tidak ada fasilitas MRO manapun yang akan dapat menyelamatkan pengguna dari fakta ini. Selalu ingat, kalau India adalah negara yang paling berpengalaman dengan Thrust-vectoring Sukhoi, dan bukan seperti anak bau kencur yang hanya mengoperasikan belasan unit, tetapi lebih dari 240 pesawat. 

Kembali patut dicatat disini, kalau Russia bukanlah pelopor dalam hal tehnologi TVC. Demonstration model F-16 VISTA dari tahun 1988 juga sudah bisa berjoget di udara seperti Su-35, atau Su-30MKI:

Loh, lantas kenapa tidak ada pesawat tempur Barat yang memasang TVC?

Jawabannya sederhana.

Masa sih?

Rich Wells, pemimpin RAF skuadron IX menuliskan pengalamannya menggunakan Eurofighter Typhoon, waktu itu masih model Tranche-2, untuk berhadapan dengan Thrust-Vectoring F-22, dan Su-30MKI:

Dalam posisi "netral", "defensif", atau "offensif" manapun, TVC akan selalu membuat pesawat kehilangan kecepatan dan ketinggian. Dengan demikian, menjadikannya liabilitas dalam pertempuran jarak dekat, karena memberikan ruang kesempatan untuk Energy Fighter, tidak hanya Typhoon, tetapi juga semua model konvensional lain seperti F-16, dan Gripen, justru untuk bisa membantai pesawat yang sibuk Thrust-Vectoring.

Rick Wells masih mencatat dua kelemahan lain:

Wells berbicara tentang pesawat dengan twin-tail, secara umum, seperti F-15, F-18, F-22, dan keluarga Sukhoi Flemon. Kondisi drag dalam AoA melebihi 35 derajat justru akan mulai merusak roll rate, dan kemampuan manuever untuk mempertahankan lock ke target. Bukan masalah pelik untuk single-tailed fighter seperti Typhoon, Rafale, Gripen, dan F-16.
Terakhir, kenapa Thrust Vectoring yang MUAHAL tidak relevan; dimulainya profilerasi off-boresight missile, seperti IRIS-T, AIM-9X, Phyton-5, dan A-Darter, yang semuanya mempunyai sudut tembak 360 derajat dari arah moncong pesawat induk. Mau berjoget sebagaimana mungkin, dan kemudian kehilangan kecepatan menjadi tidak relevan, bukan?

Kemenangan dalam pertempuran jarak dekat akan lebih ditentukan oleh pesawat yang dapat mengambil posisi tembak secepat mungkin, bukan lawan thrust-vectoring yang sibuk kehilangan kecepatan, dan kemudian menghabiskan terlalu banyak bahan bakar untuk bisa mendapatkan kecepatan kembali.

Typhoon Tranche-2, Wells mencatat lebih lanjut, sudah bertahun-tahun terus membantai "eastern-produced fighters", baca: Su-30MKI, dalam latihan bersama secara konsisten.


Penjelasan 2: Su-35 Versi Export itu termasuk species LANGKA


Hukum alam: Semakin langka suatu barang, tentu saja semakin mahal harganya, bukan?

Ini tentu saja juga berlaku ke semua barang mass production. Semakin sedikit produksinya, semakin mahal harganya.

Pengetahuan umum terlebih dahulu:
Sudah terlalu kuno:
Secara tehnis sudah ketinggalan jaman 30 tahun
Keluarga Su-27, dan Su-30 basic, tanpa thrust-vectoring, atau pernak-pernik Flemon generasi kedua, sudah diproduksi hampir 40 tahun, dengan jumlah produksi yang mencapai 800 unit. Yah, pesawat yang biaya operasionalnya $34,782 seharusnya biaya operasionalnya paling murah dibandingkan semua versi Sukhoi yang lain. 
Keluarga Su-30 canard, dengan thrust-vectoring buatan pabrik Irkut, yang pertama dibuat untuk memenuhi order Su-30MKI India di tahun 1999, sudah mendapatkan pesanan hampir 500 unit, dan dari jumlah ini sudah 400 pesawat sudah selesai diproduksi. 

Bahkan untuk jumlah produksi yang sudah mencapai 240 unit, India juga masih mengatakan dengan gamblang, seperti dikutip DefenseNews, lagu yang lama sudah mulai mengalun.
Defense News, 22-Maret-2017
Mari berhadapan dengan satu kenyataan lain yang para durna tidak ingin kita tahu:

Yah, sejauh ini, pabrik Knaapo baru memproduksi 68 unit untuk AU Russia, dan 14 unit untuk Export PRC. Ini memastikan kalau jumlah spare part yang sudah diproduksi juga belum bisa sebanyak keluarga Su-30 Canard buatan Irkut, atau Sukhoi classic seperti di Sku-11. 

Hampir semua spare part untuk Su-35 akan berbeda dengan semua variant Sukhoi yang lain. Dan yang lebih parahnya, spare part untuk versi export AKAN BERBEDA dengan versi lokal.
Baca: Jauh lebih mahal
Berapapun biaya operasional standard untuk Su-30MKI, yang terbilang mahal untuk orang India, yang anggarannya melebihi $50 milyar per tahun, ini masih akan terasa murah dibandingkan harga spare part untuk Su-35 Versi Export.

Kita juga masih akan berhadapan dengan suatu kenyataan lain:
Sekali lagi, jangan terlalu banyak menjual mimpi!

Di tahun 2012, dengan hanya mengoperasikan 24 unit, Australia melaporkan biaya operasional armada Super Hornet mereka di angka $24,400, atau sekitar dua kali lipat lebih mahal daripada biaya yang dilaporkan US Navy, yang mengoperasikan ratusan pesawat.
Dengan memilih hanya mengoperasikan 11 unit, tentu saja ini sudah seperti sial dirudung malang, dengan memilih pesawat yang juga tidak dirancang untuk biaya operasional murah.



Penutup: Biaya operasional Su-35K $100,000 per jam adalah Estimasi TERMURAH


Dari sini saja, bisa dilihat kalau biaya operasional Su-35 Versi Export akan sekurangnya dua kali lipat lebih mahal daripada Sukhoi-Kommercheskiy di Sku-11, hanya karena faktor kerumitan saja. Ini hanya estimasi minimal.

Bukan tidak mungkin kita bisa melihat biaya operasional yang menembus $200,000/jam, apalagi setelah beroperasi beberapa tahun, dan seperti biasa, akan mulai menunjukkan umurnya.

Inilah salah satu alasan kenapa "transaksi barter" diiklankan "menguntungkan", atau sebagai "offset". Masih banyak pengeluaran operasional lain, yang tidak akan bisa dibayar "murah" dalam tanda kutip dengan barter karet, alias petani mensubsidi Sukhoi. Pesawat ini hanya akan menjadi pra-sarana prima untuk memeras keuangan negara.

Tentu saja, semakin tergantung kita kepada supplier luar, yah, semakin kecil kemandirian untuk bisa mengoperasikan sendiri sebebas mungkin. Dan semakin kita tergantung kepada supplier luar, semakin banyak transaksi melalui para agen perantara, dan semakin mahal biaya operasional.

Coba tebak, memangnya kenapa G-to-G contract untuk Single-engine F-16, atau Gripen sudah sangat sulit mendapat dukungan? 

Ini walaupun selisih biaya operasionalnya sudah lebih dari cukup untuk membangun ratusan rumah untuk personil TNI sendiri, membangun ratusan kilometer jalan, dan belasan rumah sakit, atau sekolah baru di tempat yang belum mencukupi.

Inilah mimpi indah para resi durnia agen sales Sukhoi, dikarenakan....
Ya, semakin mahal biaya operasional Sukhoi, semakin besar keuntungan yang bisa didapat oleh para durna.
"Kami sudah bulat menentukan pilihan kami."

Baca:
"Bukan dalam kepentingan kami untuk mendahulukan pilihan biaya operasional yang terjangkau,
dan sudah terbukti bisa mendukung partisipasi industri lokal, dan kemandirian Nasional

Logika sehat disini. 

Kalau kita mengasumsikan tingkat korupsi di tubuh TNI mencapai, taruh kata 10%. Dengan biaya operasional hanya Rp 70 juta, seperti F-16, atau lebih murah lagi untuk Gripen, keuntungannya akan sedikit, bukan?

Tetapi dengan biaya operasional Rp 500 juga untuk barang ketinggalan jaman di Sku-11, ataupun yang jauh lebih mahal untuk versi downgrade-35 yang akan menjadi barang kesayangan, angka yang dibicarakan disini bisa mencapai ratusan juta. Per jam.


Jangan heran kalau dari dahulu para anggota dari agen perantara PT Sukhoi Fanboyz senang sibuk berkicau di setiap formil, dan kenapa berdebat dengan mereka menjadi percuma!

Kita akan membahas mengenai para fanboyz online ini dalam topik berikutnya!







53 comments:

  1. Biasanya penggemar sukoi tdk peduli dgn biaya operasional, tahuntz paksi TVC, 12 csntelan rudal, Pesa 400 km, tdk downgrade

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena mereka hanya pemanjangan tangan dari para perantara, yg akan meraup banyak keuntungan.

      Diskusi dengan fanboyz, kecuali beberapa yg memang hanya pemimpi, menjadi tidak relevan.

      Segala ucapan, dan tindakan mereka akan selalu untuk kepentingan supplier asing, walaupun seolah2 mengatasnamakan Indonesia.

      Sekarang kita tahu kalau Ruski memang senang mensponsori kampanye semacam ini.

      US, dan Eropa sekarang sedang cukup heboh menghadapi proxy war Abad ke-21 ini.

      Kita akan melihat ini lebih mendetail dalam topik selanjutnya.

      Delete
  2. sukhoi 24 ditembak jatuh lagi oleh MANPADS milik kelompok militan syiria 2 hari lalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ====
      Wikipedia: Semua pesawat / helikopter yg tertembak jatuh di Syria sejak 2014
      =====

      Dengan demikian, Russia sudah kehilangan 13 pesawat, atau kerugian yg jauh lebih besar, dari armada udara yang jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan NATO.

      Tidak hanya itu, kabarnya sekitar 100 tentara Russia pendukung Assad, yg secara resmi hanya diakui sebagai kontraktor privat, juga baru saja ditewaskan ketika mereka mencoba menyerang fasilitas minyak yg dijaga pihak Kurdistan.

      Kurdistan kemudian meminta bantuan serangan artilery, dan pemboman dari NATO.

      Inilah yang dinamakan Attritional Warfare paska Petang Dunia II.

      Siapa yang mau bertahan paling lama, adalah pihak yg bisa menyerap kerugian paling banyak dalam jangka panjang... agar akhirnya bisa menentukan persyaratan perdamaian.

      Untuk saat ini, semua pihak di Syria boleh dibilang sudah dalam kondisi menunggangi harimau. Turun salah, tetap menunggangi juga salah.

      Delete
    2. Penggemar sukoi biasanya menilai SU 24 pesawat jadul, sama spt SU 24 sewaktu ditembak F16. Sebaliknya mereka menilai pesawat barat hanya bisa menembak pesawat verdi kuno spt SU 24, SU 22

      Delete
    3. Semasa konflik Syria, Su-24 justru terbukti pesawat yang paling tahan banting, dan paling bisa diandalkan.

      Tanpa Su-24, dan Su-25, sortie rate AU Russia tidak akan bisa mencapai 100 per hari. Tidak heran kalau mereka kelihatannya mendapat tugas utk menyerang target di daerah yg lebih berbahaya.

      ## Sekali lagi, keluarga Su-27 belum tertembak jatuh, bukan berarti tidak bisa!

      Kita harus melihat faktor Public Relatio, dan Marketing material untuk para agen sales Sukhoi disini.

      Kalau sampai 1 Su-30SM, Su-32, atau Su-35S versi lokal sampai tertembak jatuh tidak hanya akan sangat memalukan untuk Moscow, tetapi juga akan membuat semua mitos marketing mereka buyar lenyap.

      Persenjataan Air-to-Air NATO jauh lebih modern, lebih banyak, dan jauh lebih berbahaya daripada yg bisa dikerahkan Russia. Mereka tidak akan berani mengambil resiko kehilangan barang dagangan mereka.

      Delete
  3. dari bincang wawancara jawa pos dngan komisi 1 . Anggaran perawatan senjata sangat minim dan memprihatinkan .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini tidak mengherankan.

      Fokus utama Renstra BUKAN untuk melakukan kewajiban memajukan pertahanan negara.

      ... melainkan hanya DAFTAR BELANJA seperti para nyonya yang sibuk memburu barang obralan.

      Setiap 5 tahun, serasa ada kewajiban untuk... membeli sesuatu. Apapun juga. Kalau bisa, tidak perlu lewat G-to-G.

      Delete
    2. menurut bung dark. Sejatinya sebuah negara yg diperkuat itu sejatinya apakah angkatan bersenjata atau polisi saja

      Delete
    3. Seharusnya kedua2nya.

      ...akan tetapi, baik Polisi, ataupun AB harus siap beradaptasi menghadapi perubahan realita konflik dewasa ini.

      Pertama, ada masalah cyberwarfare.

      Ini bisa berupa injeksi virus, atau menyewa web troller untuk proxy war Abad ke-21, seperti para "pendukung Trump", atau para anggota PT Sukhoi Fanboyz.

      Kedua, lihat contoh profilerasi drone, yg menjadi titik fokus dewasa ini.

      Bukan UAV, tetapi drone komersial, yg bisa dipersenjatai dengan murah, dan mudah. Bagaimana menanggulanginya?

      Missile untuk menembak jatuh drone, kebanyakan lebih mahal dari drone-nya sendiri.

      Abad ke-21 akan memperkenalkan beraneka ragam cara praktis semacam ini untuk menyulitkan sistem militer tempo doeloe.

      Inilah contoh kenapa Alutsista mahal seperti F-35, dan Su-35 tidak lagi relevan di masa sekarang.

      Hanya akan banyak cara praktis baru yg diciptakan, yg belum terpikirkan 20 tahun yg lalu. Kalau uang hanya dihabiskan untuk merawat alutsista manja perawatan, bagaimana bisa siap??

      Ketiga, baik militer maupun polisi harus siap untuk menghadapi kemungkinan... Attritional Warfare, seperti sekarang terjadi di Syria.

      Lihat contoh diatas!

      Konflik dewasa ini tidak lagi seperti masa PD II.. setelah menumbangkan pemerintah lawan, dan merebut ibukotanya, konflik akan selesai.

      Seperti kita lihat di Iraq... masalahnya juga masih berlarut2 sejak tahun 2003. Merebut Baghdad, dan menumbangkan Saddam Hussein, ternyata hanya memulai konflik berkepanjangan, yg belum kunjung tuntas selesai 100%.

      Kebanyakan militer, atau polisi modern di masing2 negara, sebenarnya belum siap untuk menghadapi konflik semacam ini.

      Delete
  4. mayjen .m .herindra mengatakan kepada jawa pos, dngan personel bnyak dan senjata canggih kyk MBT.Kapal perang canggih , sukhoi otomatis musuh akan takut tak berani macam2 ganggu kita, menurt saya ternyata kita ketinggalan jauh bung dark berfikir kyk thn 60 an dahulu. Sementara negara lain berlomba bngun sistem hankam , teknologi industri pertahanan dll

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan hanya pola pikir tahun 1960-an, tetapi ini seperti pola pikir yang tidak pernah mempelajari sejarah konflik dunia semenjak ribuan tahun yang lampau.

      Hanya ada dua kunci memenangkan setiap konflik:

      Pertama, Situational Awareness.

      Sun Tzu berkata, "Barangsiapa memahami penuh kemampuan sendiri, dan kemampuan lawan, maka dia tidak akan kesulitan menghadapi 1000 pertempuran sekalipun."

      Inilah hukum paling mendasar yang menentukan jalannya konflik.

      Pihak pemenang akan selalu bisa menguasai gambaran yang sejelas mungkin untuk dari semua posisi lawan, arah, dan kemampuan masing2 unit, baik pihak sendiri, maupun pihak lawan.

      Semakin unggul pihak pemenang dalam pemahaman Situational Awareness ini, semakin mudah memenangkan jalannya suatu konflik.

      Yang kedua, strategi mendasar.

      Bukan jumlah yang lebih besar, tetapi dalam setiap titik strategis suatu konflik, kemampuan kita harus selalu lebih unggul daripada lawan.

      Pihak pememang yg sudah menguasai Situational Awareness tadi harus bisa bergerak lebih cepat daripada lawan, dan melipatgandakan jumlah sendiri di titik strategis yang paling diperlukan.

      Beberapa contoh:

      Dalam pertempuran Midway 4-Juni-1942, Jepang sebenarnya mempunyai 6 kapal induk, dan 164 kapal, sedang US Navy hanya mempunyai 3 kapal induk, dan 35 kapal.

      US Navy menang telak menenggelamkan 4 kapal induk Jepang, dan memaksa ratusan kapal lain berputar balik tanpa pernah bisa berbuat apa2.

      Bagaimana bisa demikian?

      + USN sudah terlebih dahulu tahu dari laporan intelijen mereka, dimana, dan kapan posisi kapal induk Jepang akan muncul, karena itu mereka sudah lebih siap.

      + Kedua, keunggulan jumlah Jepang juga tidak relevan, karena mereka sebenarnya menyebar armada mereka dalam gugus2 yg terpisah, dan tidak bisa segera saling membantu.

      Mereka tidak menyangka akan langsung berhadapan dngn 3 kapal induk USN pada 4-Juni-1942. Mereka mengira US belum sadar kalau Midway diserang, dan karena itu hanya akan bereaksi.

      + Dalam konflik kapal induk vs kapal induk di Midway, kekuatan USN lebih terfokus.

      Jumlah yang kurang menjadi tidak relevan, karena mereka bisa menyerang di saat yang tepat.

      Itu sedikit ringkasan pendek.

      Terus terang, dalam keadaan sekarang sih, kita boleh saja merasa kiat seperti Jepang yg akan menghadapi Midway di tahum 1942.

      Pada kenyataannya, saat ini sih kita membuat terlalu banyak istana dari pasir. Disapu ombak kecilpun akan runtuh tak berbekas.

      Delete
  5. di formil diberitakan. Pemerintah india sangat kecewa dngan jet tempur generasi 5 rusia su 57, india bilang teknologi yg dimiliki su 57 ternyata inferior jauh dbwah f 35 dan f 22 raptor.. India dikabrkan bisa mundur dari proyek su 57

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini bukan kabar formil, melainkan pengumuman resmi dari AU India sendiri, dan sudah dibahas disini sebelumnya.

      =======
      Defense News Link: India mau keluar dari program PAK-FA
      =======

      Masalahnya buanyak.

      ++ Mesinnya hanya AL41F-1, yg mereka sudah bilang sendiri... GAmpang ruSAK
      ++ RCS-nya hanya 0,5m2, atau jauh lebih besar dari Gripen-C non-stealth
      ++ Semua perangkat sensor juga belum kunjung siap
      ++ Terakhir, tidak akan ada ToT

      Seperti diatas, dalam nama "kickback", dan agar bisa dipamerkan dalam perayaan, kita akan memilih pespur PALING INFERIOR, dan PALING MAHAL di Asia Tenggara

      Delete
  6. Sedikit untuk MBT Russia vs MBT Barat.

    M1 Abrams, Chieftain, Vickers Mk.7, Challenger 2, K1, dan Leopard 2, lebih Quick Fire, plus penembakannya stabil(tidak ada Guncangan pada tank) yang membuat Akurasinya lebih bagus. karena tetap mempertahankan Peran Kru Pengisi. Serta memperkecil resiko meledak pada bagian Kubah Tank yang menjadi neraka bagi krunya saat menerima serangan

    MBT Russia, seperti T-64, T-72 dan T-80, akurasinya kadang kurang bagus, walaupun weaponnya High Velocity, tetapi apabila diserang, kemungkinan Resiko kematian yang besar Terhadap krunya karena selain ruang kubahnya sempit, dan amunisinya banyak disimpan pada sistem Autoloader

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua tank Soviet sebelum Armata, memang selalu ketinggalan dibanding MBT standard Barat.

      Ini dikarenakan satu kelebihan, atau kelemahan:
      MBT Soviet jauh lebih mudah, dan lebih murah untuk diproduksi.

      Keunggulan JUMLAH, dan kemampuan menyerap kerugian yang lebih besar menyelamatkan Soviet dari Nazi Jerman di tahun 1941.

      Seandaikan T-72, misalnya, dibuat serumit Leopard, pabrik masa Soviet tidak akan bisa memproduksi superioritas jumlah yang diinginkan.

      Satu lagi keunggulan tank Soviet:
      Ukuran lebarnya sudah disesuaikan agar dua tank dapat menyeberangi semua jembatan di Eropa Timur dengan bersebelahan.

      Ini memastikan mobilitas yang lebih tinggi vs Tank2 Barat, yg ukurannya lebih besar.

      Sayangnya, para perencana Soviet juga merasa minder dengan superioritas produk Barat.

      Sejak tahun 1970-an, produk mereka mulai semakin rumit dalam nama "mengejar ketinggalan".

      Alhasil, kita melihat Armata, S-400, dan PAK-FA seperti sekarang.

      Jauh lebih rumit, jauh lebih high maintenance, jauh lebih mahal, dan.... tetap saja TIDAK LEBIH UNGGUL dari produk Barat.

      Kepraktisan masa Soviet dahulu sudah hilang lenyap.

      Hanya ada produk2 tak teruji, yang jauh lebih gila maintenance.

      Delete
  7. Admin, menurut admin apakah Indonesia butuh double engine fighter & long range dengan konsekuensi jumlah sedikit dan biaya perawatan mahal atau single engine fighter & medium range dengan nilai plus jumlah banyak dan siap berada di pangkalan2 udara serta biaya perawatan ekonomis ? kenapa sih kita gak pernah mikir selogis itu ? sama lama2 jenuh dan makin pudar konsep kemandirian industri dirgantara nasional lewat skema ToT, joint & licence produce sama konsep network centric warfare kalau yang dipengen itu aja ? sebenernya apa penjualan Su-35 itu pake makelar dan ada komisi2 untuk pejabat2 korup trus kalau melacak overprice Su-27 & Su-30 dulu apa mungkin ada pola2 KKN dalam pengadaan alutsista kita ini ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Topik ini baru saja diangkat kembali beberapa minggu yang lalu;

      Kenapa Indonesia TIDAK membutuhkan Twin-Engine Fighter

      Kalau alasannya untuk jarak jangkau.... yah, sbnrnya Su-35K favorit para durna akan sangat memalukan.

      Jarak jangkaunya tidak lebih jauh vs single engine F-16C/D atau Gripen-E, tetapi membutuhkan kapasitas bahan bakar EMPAT KALI LIPAT, dan masih harus membawa drop tank.

      Delete
    2. Kedua, kalau kita berbicara menginginkan JUMLAH, semua mimpi Twin-Engine menjadi tidak masuk akal.

      Biaya untuk mengoperasikan 1 Skuadron Su-35 Versi Export Downgrade lebih dari cukup untuk membiayai 10 Skuadron Gripen, dan 4 Erieye.

      Biaya untuk mengoperasikan 50 IF-X Versi Export Batch-1, yg akan sulit di-upgrade, akan mempunyai estimasi biaya OP mencapai $40,000 / jam; atau lebih dari cukup untuk membiayai 300 F-16, atau 400 Gripen.

      Super Hornet yg sudah operationally proven saja, dengan 24 unit Australia melaporkan $24,000 per jam.

      Sedangkan IF-X Batch-1, kalau mimpi buruk Korea kesampaian, hanya akan menjadi problematic unproven design yg terjamin bermasalah sepamjang hidupnya. Batch-1 hanya pespur kelinci percobaan.

      Delete
  8. Admin apa perlu kita itu AH-64E Apache ? kenapa gak Fennec AS550 & Fennec AS555 aja yang dibuat banyak lewak skema joint production PT.DI & Airbus helicopter ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. AH-64E Apache tidak diperlukan untuk negara kepulauan.

      Sama seperti MBT berat Leopard, keduanya dirancang untuk bertempur di Eropa -- medan tempur daratan yang luasnya ribuan kilometer persegi, bukan yang dijembati banyak selat laut puluhan kilometer.

      Memang benar. Daripada membeli 8 Apache, lebih baik membeli license production 20 AS550 & 555 Fennec, yg sudah dirancang untuk bertempur di laut.

      Delete
  9. Pendapat admin soal MiG 1.44 dan F-15 S/MTD?

    ReplyDelete
    Replies
    1. MiG 1.44 hanya prototype utk program yg kemudian batal.
      Ruski memilih pengembangan Sukhoi PAK-FA.

      F-15 S/MTD adalah pesawat konsep untuk menguji fitur canards, dan TVC, sama seperti NF-16 Vista dalam clip Youtube di atas.

      Delete
  10. Ketimbang Apache, bagi saya sendiri, indonesia lebih baik memodifikasi Heli SA330 Puma menjadi Attack Helicopter seperti IAR-330 SOCAT romania yang lebih praktis.

    Dan btw, di masa cold war, Romania yang Pakta Warsawa waktu itu lebih memilih Membeli Lisensi SA-330 Puma ketimbang membeli Mi-24 Hind

    ReplyDelete
    Replies
    1. NAS-332 Super Puma sekarang produksinya sudah berganti ke EC H225M Caracal, atau versi modernisasi penuh berdasarkan basis desain Super Puma.

      Patut diingat disini, fungsi utama Caracal adalah Medium Lift, dan SAR, bukan diperuntukan Helikopter Serang.

      H235M yang dipersenjatai ringan seperti produksi PTDI di tahun 2017 sudah mencukupi untuk troop support.

      H225M yang dimodifikasi HeliBras di Brazil, misalnya, juga bisa membawa Excocet ASM.

      Lebih baik kita mempensiunkan semua Mi-35, dan Mi-17 "hobi perbaikan mendalam", dan menggantikannya dengan Caracal.

      Untuk mengisi tugas helikopter serang, lebih baik kita melihat ke basis desain AS565. Tidak perlu Apache, atau sibuk membayar upeti ke Rostec.

      Delete
    2. Bagaimana pendapat admin tentang AH-2 Rooivalk? Konon katanya heli tsb berasal dari super puma yg dimodif jd heli tempur.

      Trims

      Delete
    3. AH-2 Rooivalk adalah program khusus di Afrika Selatan untuk mencoba membuat helikopter serang sendiri.

      Mencoba membuat semuanya dari nol tidak memungkinkan (terlalu sulit dan mahal), karena itu mereka memilih platform Super Puma sebagai pondasi awal. Tentu saja, mereka tergantung kepada tehnologi Perancis.

      Kabarnya, keunggulan AH-2 ini adalah maintenance support-nya luar biasa mudah.

      Hanya saja, program ini sebenarnya jadi serba salah.

      Afrika Selatan skrg sudah tidak lagi menghadapi ancaman luar seperti sebelum tahun 1990-an. Anggaran Pertahanannya sudah dipangkas habis2an.

      AfSel bahkan tidak lagi mempunyai cukup dana untuk menerbangkan semua 26 Gripen mereka.

      Delete
  11. Bung selain RBS-15 Mk.III dari Swedia sama C-705 dari China ada gak yang nawarin lisensi produksi misil ke Indonesia ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. C-705... lagi2 hanyalah model versi export downgrade dari PRC.

      Dan mengingat kepentingan politik strategis yg berlawanan di LCS, kenapa kita bisa mempertimbangkan opsi ini??

      Ini sama seperti kebodohan total rencana Su-35 Versi Export, yang kelihatannya diiklankan hanya untuk "menakut-nakuti" Australia.

      Pertama, kita sebenarnya melihat ke arah yang salah secara strategis.

      Australia adalah salah satu negara pertama yg mendukung kedaulatan kemerdekaan Indonesia. Tidak pernah ada alasan strategis kenapa kedua negara akan pernah bertengkar.

      Baru2 ini, Presiden Jokowi baru saja mengundang Australia untuk bergabung dalam ASEAN.

      Kedua, lebih penting lagi: apapun yang kita beli tidak akan pernah membuat Australia "gundah".

      Perbedaan kemampuan tempur strategis, latihan, perlengkapan, dan pengalaman antara kedua negara sudah terlampau jauh.

      Mereka justru akan sangat senang kalau kita mau mulai mengejar ketinggalan, dan lebih meningkatkan kerjasama pertahanan.

      Delete
    2. Tawaran lisensi produksi RBS-15 adalah pemanis untuk meningkatkan kerjasama industri dengan Swedia, sehubungan dengan kontrak Gripen.

      Penjelasan sederhananya - para penjual versi export tidak akan pernah mau menawarkan pemanis ToT yang sama.

      Ini tidak pernah terjadi sepanjang sejarah.

      Russia, dan PRC sebenarnya lebih parah drpd US dalam hal ini, karena semua missile mereka versi export.

      Delete
  12. Bung diJKGR Kasau Yuyu Sutisna, ingin pilot mahir terbang malam krn pespur sdh dilengkapi night vission googgles (nvg), pespur yg mana bung...
    Di sindo news Kasau juga menyerahkan ke bawahannya utk menyelesaikan BVR, tanker,suku cadang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, inilah salah satu contoh pernyataan yang bertolak-belakang dengan Su-35 model export downgrade.

      Fakta:
      Kita sudah tahu kalau perlengkapan NVG optional dalam pespur versi export. Ini tergantung kebijaksanaan penjual untuk menawarkan apa yg diperbolehkan.

      Untuk edisi spesial khusus Indonesia, baik Washington DC, ataupun Moscow akan sangat enggan untuk menawarkan perlengkapan ini.

      Kalau belum cukup parah, kalau bisa dapat, keduanya hanya akan menawarkan perlengkapan NVG versi export.

      Resolusi berkurang, dan jarak jangkau lebih terbatas vs Versi Lokal.

      Kalau belum cukup parah #2, versi Russia akan selalu lebih ketinggalan jaman vs industri Barat.

      Untuk BVR kita bebas kok boleh memilih:

      # Missile Versi export yang tidak dipakai sendiri oleh AU lokal

      # AMRAAM C-7 untuk Block-25

      # Arau, kebebasan untuk memilih BVR missile mana untuk kebutuhan negara, dari satu2nya pespur yg sejauh ini juga sudah mengintegrasikan MBDA Meteor berjarak jangkau terjauh dngn dual-datalink.

      Keduanya bukan masalah untuk Gripen-C atau -E.

      Delete
  13. Pengganti Hawk 100/200 pada tahun 2020.

    Hmm.. In all Memang Hawk 109/209 Memang sudah harus diganti, karena BAe Sendiri sepertinya kurang peduli sama lini Produksi Sucad Hawk 200 karena Usernya sedikit dan tidak signifikan, utk Hawk 100 masih kemungkinan bisa bertahan hidup, karena masih ada india memegang lisensi hawk T.2 versi ekspor yang sucadnya mirip sama hawk 100

    Jadi ya Pengganti Hawk 100/200 menurut saya, jatuhnya ke Gripen C/D MS-20.

    FA-50 bisa juga jadi opsi karena bakal ada commonality ke T-50i yang sekarang beroperasi, Namun ya, Gripen C/D MS-20 rasanya jauh lebih tepat untuk pengganti hawk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jauh lebih ekonomis, dan menjamin kemandirian kalau kita memulai perencanaan untuk menggantikan semua pespur TNI-AU dewasa ini, dan IF-X Block-1 sampah Korea dengan Gripen-C, dan Gripen-E.

      Keduanya jauh lebih modern dalam segala hal, lebih murah, dan dapat terbang jauh lebih sering.

      Mencoba diversifikasi supplier hanya menciptakan ketergantungan ke lebih banyak perusahaan asing yg akan melanggar UU no.16/2012.

      Delete
    2. FA-50 juga hanya akan menjadi sampah versi export lain yg tidak mempunyai kemampuan BVR, offboresight seperti AIM-9X, mengoperasikan smart bomb, atau targeting pod.

      F-16 Block-25+ adalah pespur yg jauh lebih baik daripada FA-50, yg sudah dirancang Lockheed untuk tidak bisa menandingi F-16.

      Gripen-C MS20 akan jauh lebih efektif dalam segala hal.

      Kalau uang kendala utama, kenapa tidak menyewa G-to-G contract?

      Delete
  14. bung dark, TNI AU akan mengganti hawk 100/200 untk ditempatkan di pekanbaru , kandidat terkuat Gripen dan Viper

    ReplyDelete
    Replies
    1. ... dan sambungan dari di atas...

      Selama kita terus m3ngoperasikan Sukhoi, pesawat ini akan selalu menjadi FAVORIT.

      Biaya operasional semakin mahal, semakin kinclong.

      Sekarang saja sudah terlihat banyak pilih kasih kok.

      Membeli Gripen, atau pespur G-to-G manapun tidak akan bisa menyelamatkan kita dari ancaman bisnis P-to-B.

      Pejabat ke Perusahaan Asing.

      Delete
    2. "pilih kasih" ke model tertentu akan selalu terjadi ke setiap AU yg mengoperasikan dua model yg memenuhi peranan yg sama.

      Kalau di Indonesia yg menjadi favorit adalah rongsokan ketinggalan jaman twin engine berbiaya OP lebih mahal dari F-22;

      USAF juga menjadi contoh yg menarik.

      Sudah menjadi pengetahuan umum kalau keluarga F-15 adalah model kesayangan para jendral, walaupun F-16 adalah pespur yg jauh lebih efektif, dan satu2nya yg di-desain 100% untuk memenangkan dogfight.

      F-15 lebih jago BVR, argumen mereka, krn bisa membawa radar yg lebih besar.

      Kita sudah tahu kalau
      Ukuran lebih besar, berarti juga lebih mudah terlihat di layar radar lawan
      .

      Keunggulan radar F-15 menjadi kurang relevan vs F-16C/D, yg RCS-nya kurang dari seperduapuluh kali lipat lebih kecil.

      Apa yg dilakukan USAF?
      Mereka mulai memotong jam latihan F-16 untuk air-to-air, dan mengubahnya menjadi pesawat pembom. Sedangkan secara prosedural, tugas utk menghadapi pespur lawan jatuh ke tampuk F-15, dan F-22.

      Sukhoi pespur andalan Indonesia, katanya.

      Satu klaim yg tidak didukung fakta manapun. Mulai dari radar legacy N001 yg sudah terlampau kuno, versi export.. RWR versi export, dan missile versi export.

      Biaya OP juga sedemikian mahal, gampang rusak (tidak bisa maintenance sendiri), dan tanpa simulator; memastikan secinta apapun juga pilot akan selalu kurang latihan.

      Melawan pespur negara manapun sudah pasti hanya akan dibantai.

      Delete
  15. Admin coba bikin artikel tentang pesawat prototype seperti F-15 ACTIVE,F/A-18HARV,SU-47,YF-23,X-32,MiG 1.44,F-16X;,F-20 dan lain lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. F-20 dan F-16XL adalah dua jenis pespur yg paling menarik untuk dibahas lain waktu. Keduanya memenuhi semua kebutuhan USAF, dan semua AU lain.

      Sayang, politik mensabotase kedua model ini.

      Delete
  16. Spek pengganti hawk yg disampaikan Kasau Yuyu: generasi 4,5 , mesin lebih tahan lama. Lbh lanjut dikatakan F16 tdk dihapus tetapi terus di upgrade.Jadi peluangnya lbh ke Gripen dan F16. Tapi menurut saya peluangnya lebih ke Gripen, krn tdk mungkin utk menghadapi Singapura menumpuk pespur downgrade

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya, cepat atau lambat, pada akhirnya kita akan mulai mengoperasikan Gripen.

      Logika sehat saja disini.
      Kita tidak akan mempunyai uang untuk mengoperasikan 3 skuadron IF-X Block-1, dan 2 skuadron Sukhoi penghisap uang.

      Perencanaan ini seperti membayangkan Anggaran TNI-AU sendiri bisa mencapai $10 milyar per tahun. Pada akhirnya uang yg akan berbicara.

      Tidak mungkin bisa mengoperasikan jumlah yg mencukupi, kalau kesengsemnya hanya pada produk yg biaya operasionalnya sepuluh kali lipat F-16.

      Logikanya kan tidak masuk akal.
      Anak SD juga bisa menghitung sendiri.

      Biaya OP Gripen hanya 60% dari F-16, dan proporsinya bisa masuk kembali ke industri lokal.

      Kalau mau membicarakan tahan lama, yah, lagi2... hindari produk buatan Ruski yg terjamin jauh lebih cepat kadaluarsa.

      India sudah berkata para Sukhoi ini seperti lubang hitam penghisap uang yg tak ada batasnya.

      Delete
  17. Sukhoi mungkin bagi Netizen cuma dipake buat efek gentar alakadarnya. Toh nyatanya F-16 Malah sering dipake buat latihan ngebom, dan sering dipake buat latihan Pitchblack, Cope west, dan Elang Thainesia.

    In my mind sih, Indonesia tinggal perlu membeli lebih banyak rudal, bomb presisi, Air Launch Cruise Missile, plus set target pod dan ECM Pod utk mempersenjatai F-16. Jadi kalau Gripen C/D dibeli, mau pake rudal AMRAAM, dan Sidewinder, atau Bom Paveway, Sans aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Efek gentar Sukhoi:
      Merebut jumlah dana yg seharusnya disediakan ke semua sku tempur lain, dan ke industri pertahanan lokal.

      Sederhana.

      Sekarang semua mimpi cruise missile, NCW, dll yah, untuk selamanya hanya tinggal mimpi yg tidak akan pernah bisa tercapai.

      Membeli Su-35K hanya akan membuat kita semakin lemah, dan ketinggalan jaman 30 tahun.

      Delete
  18. Min, F-5 vs F-16. Lebih unggul mana ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. F-16.

      Ini adalah satu2nya tipe pespur US yg dibuat untuk memenangkan dogfight tanpa kompromi. Akselerasi, jarak jangkau, dan kapasitas persenjataannya lebih unggul vs F-5E.

      F-20 Tigershark, yg dirancang dari airframe F-5E, dengan mesin F404 baru perbedaannya menipis.

      Kenapa F-20 dibatalkan?
      Krn potensi persaingan dengan F-16 tidak bagus utk market.

      Delete
  19. menurut pemberitaan berbagai formil , dubes rusia yg baru mengatakan 2 su 35 telah didatangkan ke RI 2018, dan 3 unit dijadwalkan agustus 2018.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau benar bisa datang 2018, yah seperti dalam artikel sebelumnya bisa dipastikan yg datang hanya barang bekas dari Batch-1 ex-Su-35S yg sudah di-downgrade untuk export.

      Semua pesawat Block-1 sekali lagi, hanyalah pesawat sampah yg bermasalah.

      Dan sekali lagi, tidak ada satupun pespur baru yg dewasa ini bisa diproduksi dalam waktu kurang dari 24 bulan.

      Pabrik Knaapo saja membutuhkan waktu 7 tahun utk memenuhi order pertama Su-35S Block-1 / Block-2 untuk AU Russia.

      Seperti bisa dilihat, sejauh ini Korea, US, dan Russia hanya mau menjual sampah ke negara kita.

      Eh, entah kenapa masih belum kunjung ada rasa kapok!!

      Delete
  20. Sewaktu menlu Marti natalegawa vs jhon kerry, US pernah menawarkan F18 bekas yg akan ditempatkan di Ambon. Tetapi tdk ada perkembangannya, yg saya ikuti di medsos mgkn akan diisi dgn F16, menurut anda gmn bung..

    ReplyDelete
    Replies
    1. F-18 Classic, atau versi akhirnya C/D sudah tidak lagi diproduksi sejak tahun 2000, atau hampir 18 tahun yg lalu; ketika McDonnell Douglas, kemudian Boeing kemudian mengalihkan produksi ke Super Hornet.

      Negara pengguna Hornet Classic juga tidak sebanyak pengguna F-16.

      Tidak seperti F-16, F-18 adalah pespur twin-engine dgn biaya OP hampir 2x lipat.

      Ini membuat Hornet classic menjadi kartu merah pespur bekas.

      Spare part lebih mahal, upgrade terbatas, dan juga lebih mahal.

      Untuk apa?

      F-16 bekas jauh lebih menguntungkan dalam segala hal.

      Atau kalau memang kekurangan jumlah, tapi tidak ada modal, kembali, menyewa Gripen-C/D jauh lebih murah daripada membeli, dan mempertahankan sustainment cost F-16 bekas.

      Keuntungan secara tehnologi juga jauh lebih unggul.

      Delete
  21. Min, kira-kira lbh unggul Zumwalt-class atau Arleigh Burke-class Fligh IIA/Flight III?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Zummwalt dirancang di sekitar desain stealth, dan dua meriam 155mm yg bisa menembak target di darat dari jarak 100 km.

      Itu saja.

      Perlengkapan anti kapal selamnya terbatas, dan untuk menghemat biaya, tidak diperlengkapi AEGIS system untuk pertahanan udara, jadi akan membutuhkan pengawalan kapal AEGIS seperti Arleigh Burke.

      Delete
    2. Oiya, amunisi jarak jauh untuk meriam Zummwalt... development ataupun produksinya sudah dihentikan.

      Biaya sekali tembak dengan jumlah amunisi yg tersedia hanya $900 ribu per peluru. Dan setelah stock habis tidak ada gantinya.

      USN secara efektif sudah menghabiskan $4,5 milyar untuk kapal perang tanpa senjata.

      Delete