Friday, February 9, 2018

Kenapa tidak akan ada Perang Dunia III

Tokyo, setelah pemboman US, 1945  (Wikimedia)
Beberapa laporan analisa menudingkan sejak 20 tahun yang lampau, kalau Perang Dunia yang berikutnya, yang ketiga, akan dimulai di Israel, di Timur Tengah, eh, di Taiwan, dan sekarang... di semenanjung Korea.

Pada 23-Januari-2018 yang lampau, pemerintah Trump tiba-tiba mengumumkan kalau titik fokus keamanan nasional United States akan beralih ke Russia, dan PRC. Fokus mereka, katanya, bukan lagi ke terorisme.

Sayangnya, pandangan semacam ini hanya melihat ke arah yang keliru.

Artikel ini adalah bagian pertama dari analisa sederhana dari realita perubahan situasi konflik pasca 15-Agustus-1945, atau setelah berakhirnya Perang Dunia kedua. Kenapa tidak seperti ditakuti terlalu banyak orang, Perang Dunia yang berikutnya justru hampir tidak mungkin bisa terjadi lagi.


Realita 1: Perang Dunia II adalah perang kerajaan-kerajaan Imperialisme yang terakhir!

Yang tidak disadari banyak orang, sebenarnya nama "Perang Dunia" itu adalah suatu misnomer. Penamaan yang kurang akurat. Memang dalam konflik besar di tahun 1914, dan 1939, peperangan terjadi di semua benua, seluruh dunia, secara serempak, tetapi sebenarnya kedua konflik ini hanya terjadi antara beberapa pemeran utama negara imperialisme yang terakhir. 

United Kingdom, pada masa itu adalah kerajaan terbesar di dunia. Ada semacam pepatah, "Matahari tidak pernah terbenam di kerajaan Inggris", yang territorialnya sendiri membentang dari Canada, Afrika, India, sampai ke Australia. Sementara para imperialis masa lalu seperti Spanyol, dan Portugal, territorialnya sudah semakin menyusut, Perancis, Jerman, dan Italia adalah tiga negara imperialis baru yang sibuk mengoleksi wilayah di Afrika, dan di Asia.

United States of America, dan Jepang, adalah dua kerajaan imperialisme pemain baru yang terakhir, yang baru mulai bergabung dalam acara ini pada akhir tahun 1800-an. Jepang menaklukan Korea, dan kemudian merebut Manchuria dari PRC; sedangkan United States sibuk melucuti bekas wilayah imperialisme Spanyol, seperti di Karibia, dan di Filipina. 

Patut diingat kembali, kalau pada masa ini, belum ada negara-negara yang berdaulat seperti di masa sekarang terutama di kawasan Asia-Afrika. Bahkan negara-negara seperti Canada, Australia, dan New Zealand masih menganggap diri mereka sendiri sebagai koloni, bagian dari Kerajaan Inggris, bukan suatu negara yang independent seperti sekarang, yang bebas dari kontrol London.

Sebagai pengetahuan umum, sebenarnya sebelum misnormer Perang Dunia Pertama di tahun 1914, kerajaan-kerajaan imperialisme kuno di Eropa sudah sibuk berperang satu sama lain, hampir sekali setiap dua puluh, atau tiga puluh tahun. Seperti bisa dilihat dalam daftar konflik Eropa ini, sebenarnya keadaannya sudah memuncak antara tahun 1800 sampai 1900.

Kalau perang Napoleon (1800 - 1815) baru terjadi di tahun 1900-an, dengan sendirinya perang ini sendiri bisa dikategorikan menjadi salah satu Perang Dunia yang lain. Inilah kenapa penamaan Perang Dunia I dan II, sekali lagi adalah suatu misnomerPerang Dunia II (1939 - 1945) sebenarnya bisa dinamakan "Perang terakhir dalam masa imperialisme", yang juga turut dihadiri oleh kedua pemeran Imperialisme baru, Amerika Serikat, dan Jepang.

Inilah alasan pertama kenapa perang dunia ketiga sudah tidak akan bisa terjadi. Masa Imperialisme sudah berakhir, dan tidak ada lagi negara yang berambisi untuk menguasai sebanyak mungkin territorial lain di luar batas wilayah mereka sendiri. 



Realita 2: Cara berpikir masyarakat dunia sudah berubah sejak tahun 1945

Anak-anak muda yang mendaftarkan diri untuk wajib militer di New York City,
5-Juni-1917
(US Library of Conggres image, Wikimedia)
Di masa ini, cara berpikir dan pandangan pemerintah, dan rakyatnya berbeda dengan masa sekarang. 

Kerajaan-kerajaan imperialisme kuno masa lalu ini berpikir, kalau kejayaan negara mereka didapat dari menguasai sebanyak mungkin sumber daya alam yang tersebar di seluruh dunia. Semakin banyak, dan semakin besar wilayah / sumber daya alam yang mereka kuasai, maka ekonomi mereka akan semakin terjamin menjadi lebih digjaya.

Sebelum tahun 1945, rakyat justru cenderung mempunyai kepatuhan yang hampir tak berbatas kepada apapun yang dicelotehkan oleh "raja", atau "parlemen" mereka. Setiap negara di masa lalu memberlakukan dengan keras sistem wajib militer, atau conscription, dan secara umum tentu saja setiap warga biasanya akan patuh. Sampai tahun 1945, pemerintah, dan militer masing-masing negara juga dengan sendirinya lebih cenderung memperhatikan tentara yang mereka bisa rekrut secara cuma-cuma ini hanya sebagai JUMLAH....  angka dari jumlah pria berusia 18 - 40 tahun yang tersedia untuk bisa menjadi tentara.

Mencoba membangkang dari wajib militer, atau... kewajiban untuk membela negara mereka dalam perang imperialisme, hanya akan berbuntut hukuman tertentu.

Tentu saja, sekarang semua negara yang dahulu memberlakukan tindakan wajib militer dalam konteks imperialisme sudah menghentikan praktek ini. Apalagi sejak selesainya Perang Dingin di tahun 1991, dan semakin melajunya tingkat kemakmuran masyarakat secara umum. 

Di masa sekarang, sudah tidak ada lagi cara berpikir kemajuan ekonomi seperti tahun 1939. Kemajuan suatu negara akan lebih dinilai dari lajunya pendapatan per kapita setiap tahun, dan tingkat kemakmuran masyarakat secara umum, bukan lagi ditentukan oleh pemikiran kuno banyaknya sumber daya alam di "overseas territory" yang mereka punyai.

Kalau biasa bekerja di institusi perbankan, atau membuka usaha sendiri dan mengetok keuntungan puluhan juta, apakah anda masih mau dipanggil untuk mengikuti drafting, atau wajib militer untuk memerangi negara tetangganya?

Untuk apa?

Silahkan saja berkenalan, dan berbicara dengan beberapa, atau banyak warga negara dari United States (Amerika Serikat), Netherland (Belanda), UK (Inggris), Perancis, Jepang, atau semua pemeran-pemeran masa lalu lain di masa Perang Dunia II, dan pertanyakan saja sendiri,

"Apakah anda akan mendukung kalau negara anda mau mencoba menyerang, atau menduduki negara lain?"

Di negara manapun jawabannya akan selalu sama: T I D A K.

Tidak hanya masa imperialisme sudah berakhir,  dan cara pikir masyarakat dunia sudah mulai berubah, tetapi juga...


Realita 3: Konektivitas sosial membuat pendapat, dan pandangan masyarakat umum juga semakin PINTAR, dan SEMAKIN BERPENGARUH

Altet senam Korea Selatan Lee Eun-Ju yang mengambil selfie dengan atlet senam Korea Utara, Hong Un-Jon dalam Olimpiade Rio 2016
(Reuters Image, Ronald Grant)
Internet, dan Handphone adalah dua prasarana untuk menjalin hubungan sosial dalam kedekatan yang tidak pernah bisa didapat di jaman dahulu kala. Suatu fenomena perubahan baru paska berakhirnya perang dingin, atau potensi terjadinya perang imperialisme yang terakhir. Ini membawa kita ke perubahan sosial lain yang sudah tidak bisa kembali ke masa lalu.

Kalaupun dua negara bermusuhan, seperti dalam gambar di atas, antara Korea Utara, dan Korea Selatan, ataupun antara India, dan Pakistan; tidak ada yang bisa mencegah kalau penduduknya bisa berkoneksi satu sama yang lain; berteman, bersahabat, atau bahkan sampai menikah.

Internet juga akan selalu sulit untuk dibendung oleh sensor oleh pemerintah yang masih mencoba mengontrol lajunya informasi. 

Dalam PRC, yang paling ketat memberlakukan kontrol sensor atas internet, masyarakatnya akan selalu dapat mencari jalan untuk melangkahi sensor negara (Link: Washington Post). Sama seperti PRC, Russia yang juga masih mengontrol semua state media, dan kebebasan Pers masih sangat terbatas, juga menghadapi masalah yang serupa; masyarakat Russia sendiri tidak mempercayai apapun yang mereka tonton di TV (Link: BBC News). 

Dewasa ini, karena terjadinya revolusi informasi bebas, semakin sulit pemerintah untuk bisa memprogram masyarakatnya agar dapat mengikuti kehendak mereka, seperti dalam masa imperialisme, yang serba berketutupan. Media propaganda cenderung hanya akan menjadi bahan tertawaan, yang tidak dipercayai siapapun.
Menurut media berita Russia dalam "gambar ini",
Su-25 Ukrania yang menembak jatuh MH17 (!!)
BBC News: Conspiracy theory: Who shot down MH17?
Demikian juga kemauan rakyat untuk mengikuti konflik yang tidak diperlukan, terlepas dari apapun yang dicelotehkan pemerintahnya cenderung semakin memudar. Perang Vietnam, yang diiklankan di masa itu sebagai upaya untuk membendung "domino effect" komunisme di Asia Tenggara, akhirnya berakhir bukan karena United States kalah perang melawan Vietnam, tetapi karena tekanan publik rakyat United States sendiri untuk menghentikan keterlibatan mereka disana.

Sekarang ini, Internet dan handphone sudah terus membuat penduduk negara manapun bisa berkenalan dengan penduduk dari negara yang pemerintahnya bilang mereka "musuh", dan kemudian melihat sendiri kalau ternyata mereka tidak jauh berbeda dari diri sendiri.


Realita 3: PBB, Uni Eropa, dan perdagangan Internasional yang mendamaikan 

Hasil kerja kampanye pemboman United States di Tokyo, 1945,
yang sebenarnya menimbulkan kerusakan yang jauh lebih berat dibanding bom nuklir di Hiroshima, dan Nagasaki
(Wikimedia, Public Image)
Pola pikir dasar setiap pemerintah pun sebenarnya sudah turut berubah sejak berakhirnya Perang Imperialisme terakhir di tahun 1945.  

Perang itu sangat mahal, tidak hanya memakan nyawa rakyat, tetapi juga seiring dengan semakin ampuhnya persenjataan yang mereka pakai, semakin banyak kerusakan yang dapat ditimbulkan, dan semakin mahal biaya restorasi. Kalau sampai tahun 1800-an, perang dengan menggunakan meriam kuno yang tidak mempunyai daya ledak besar, atau senapan yang hanya bisa menembak satu peluru, sebelum harus diisi kembali; kedua perang imperialisme terakhir sudah berhasil memperkenalkan bomb, artilery, dan senjata mesin yang dapat menimbulkan kerusakan yang jauh lebih parah.

Uni Eropa, atau EU, dibentuk bersama justru untuk menghilangkan ratusan tahun dendam kesumat antara trio kekuatan imperialisme United Kingdom, Perancis, dan Jerman. Sebelum tahun 1939, hampir setiap konflik global yah, lahirnya dari tiga negara ini, dengan Ottoman Turki, dan Russia sebagai pemeran tambahan, yang kerap ikut serta. Sekarang negara-negara Uni-Eropa menjadi lebih menghargai perdamaian, dan persahabatan yang dapat mereka petik bersama, yang sebelumnya tidak pernah bisa tercapai selama masing-masingnya hanya sibuk bertengkar setiap dua puluh tahun sekali.

Demikian juga pembentukan PBB sebagai badan perdamaian bersama, dimana setiap negara mulai wajib menghargai kedaulatan negara lain. PBB membuat masa imperialime kuno justru menjadi semakin tidak relevan. 



Realita 4: Perang Dingin sudah berakhir


Anggaran Pertahanan 1988 - 2012:
Garis Kuning
 membandingkan Anggaran Pertahanan Perancis vs Russia,
(Gambar: Washington Post)
Uni Soviet, dengan lingkup Pakta Warsawa-nya paska berakhirnya Perang Dunia II, boleh dibilang adalah kerajaan imperialisme yang terakhir, yang karena tekanan internalnya sendiri akhirnya harus membubarkan diri pada tahun 1991.

Dewasa ini, Russia bukan lagi Uni Soviet. Dengan ekonomi yang terlalu tergantung minyak, dan ukurannya tidak lebih besar dari Italia, negara anggota NATO, mereka tidak lagi mempunyai kemampuan untuk bisa membangun kemampuan militer seperti di masa Soviet dahulu kala. Sementara itu, dengan seribu satu macam alasan, US Senate terus menambah anggaran pertahanan mereka untuk mencapai titik tertinggi paska 1945.

Secara realita, sudah tidak ada lagi negara yang bisa menantang United States dalam konflik terbuka setelah tahun 1991.
Walaupun tentara US sendiri sekarang disibukkan dalam berbagai macam kepentingan di 177 negara lain, mereka juga tidak lagi mempunyai ambisi, kemauan ataupun uang untuk menjadi negara imperialisme baru. Pertualangan mereka di Afganistan yang sudah menghabiskan ratusan milyar dollar, dan sekarang akan memasuki tahun ketujuh belas, atau konflik paling lama yang pernah dinikmati Washington DC sudah memberi pelajaran untuk tidak menunggangi harimau. Kalau mau mundur tidak bisa, tetapi juga tidak akan bisa selesai dalam waktu dekat.

Negara-negara Asia Tenggara dalam organisasi ASEAN sendiri menikmati hubungan persahabatan erat dengan United States, ataupun European Union. Sekali lagi, Indonesia pada khususnya, juga tidak sedang menghadapi ancaman militer dari negara manapun. Bahkan boleh terbilang, negara-negara lain justru akan datang membantu kalau ada yang berani mengancam ASEAN.

Bagaimana dengan senjata nuklir?

Boleh dibilang senjata nuklir sebenarnya adalah senjata yang paling tidak efektif dalam realita konflik modern, tetapi mereka yang sudah berhasil mendapat, mau tidak mau akan harus menghamburkan milyaran untuk terus memelihara, atau memperbaru.... untuk senjata yang untuk selamanya tidak akan mereka bisa pakai dimanapun.

Tidak akan pernah ada yang berani memencet tombol merah itu, karena tidak hanya balasannya sudah pasti akan datang, tetapi juga siapa yang pertama menencet tombol hanya akan menjadi musuh dunia. 

Ini membawa kita ke dalam topik berikutnya, dalam realita perubahan konflik modern di dunia, dan kenapa terlalu banyak alutsista modern, termasuk dua dinosaurus kuno F-35 dan Su-35 sebenarnya adalah dua alutsista yang sudah tidak lagi relevan dengan perubahan jaman.



59 comments:

  1. Apakah Perang Asimetris dan Perang Proxy lebih berbahaya dari senjata Nuklir?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Logika mudahnya:

      Pihak yang lebih kuat tidak akan selalu bisa menjadi pemenang dalam perang asimetris, seperti pengalaman US di Vietnam, dan US/Soviet di Afganistan.

      Sekuat apapun tidak ada bedanya, karena pihak yg lemah menolak untuk menyerah kalah, tidak seperti pada masa perang Imperialisme.

      Jaman sudah berubah.

      Perang proxy sekarang ini sudah terjadi di Syria -- semua pihak saling bertentangan, dan masing2nya punya pendukungnya sendiri.

      Yang perlu digarisbawahi dalam perang proxy: Pihak yang mensponsori, atau mendukung proxy mereka HARUS mempunyai kepentingan politik/strategisnya sendiri.

      Skrg istilah "perang proxy" yang sering disebut2 akan terjadi di Indonesia itu sangat TIDAK relevan.

      Logika sederhana: Negara / pihak yang mau jadi sponsor proxy di Indonesia itu sudah tidak ada.

      Ancaman keamanan kita lebih menyorot ke ancaman internal -- antara upaya radikalisme, atau yang lebih parah lagi adalah Identity politics.

      Politik identitas ini berarti mengelompokan masyarakat dalam grup tertentu -- satu agama, atau satu suku, atau satu grup pendapatan yang sama.

      Semuanya tidak ada bedanya, krn tujuan politik identitas ini adalah untuk memecah belah, dengan memusuhi kelompok "lain".

      Inilah ancaman terbesar tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di semua negara lain di seluruh dunia.

      Padahal para instigator politik identitas ini tidak pernah peduli dengan kepentingan kelompok kita, mereka hanya lahir dari egoisme, dan ambisi pribadi saja.

      Delete
  2. Suriah Tembak Jatuh Jet Tempur Israel http://kom.ps/AFyQu3

    Ini betulan min?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syria tidak pernah berhasil menembak jatuh pesawat Israel sejak tahun 1982, tetapi sepandai-pandai tupai meloncat, sekali-kali jatuh juga.

      Israel sendiri tidak mengakui resmi kalau pesawat mereka tertembak jatuh, tetapi kelihatannya Anti-aircraft battery Syria sudah mengambil peran.

      IMHO, Syria hanya mengundang masalah.

      Israel mempunyai kemampuan untuk menyapu bersih pertahanan udara Syria yang masih tersisa tanpa perlawanan, dan Russia tidak akan dapat melakukan apa-apa.

      Berita terakhir:
      Israel sudah memulai serangan udara terbesar ke Syria sejak tahun 1982.

      Delete
  3. Ketika Drone Buatan Sendiri Jadi Ancaman Militer http://kom.ps/AFyQtS

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, iya, memang ini adalah masalah baru dalam realita konflik modern.

      Kita akan membahas topik baru ini dalam artikel lain.

      Kelihatannya mau tidak mau memang drone akan mendapat peranan dalam medan tempur, dan terintegrasi dengan tentara reguler.
      Tetapi seberapa jauh?

      Kita akan melihat beberapa kemungkinan pemakaian drone, dan berkaitan dengan topik Realita perubahan konflik paska-1945 ini:

      kenapa Lockheed-Martin F-35 ataupun Sukhoi Su-35/PAK-FA sudah kadaluarsa sebelum terbang.

      Delete
  4. Klo skrg kurdi didukung USS, SDF di dukung Rusia, China ingin menguasai LCS, apa maksud sebenarnya mereka bung, krn bisa memicu konflik...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita akan menjelaskan sedikit tentang perang proxy di Syria, dan kenapa mustahil bisa terjadi di Indonesia:

      - US dan NATO mendukung kaum pejuang Syria yang moderat, dan khususnya Kurdistan sebagai sekutu mereka yang paling bisa diandalkan

      - Negara-negara GCC (Saudi Arabia, UAE, Yordania) mendukung pejuang Syria dari suku Sunni.

      - Turki mendukung pejuang Syria moderat, khususnya hanya dari suku Turksmen.

      Baik negara-negara GCC, ataupun Turki tidak menginginkan kalau Kurdistan di Syria / Iraq menjadi terlalu kuat, sampai berpotensi membentuk negara sendiri.

      - Iran mendukung Hezbollah (ya, mereka juga turut mengambil peran), dan semua Shia milita untuk mendukung Al-Assad.

      - Russia hanya peduli untuk menjaga kestabilan pemerintah Al-Assad, tetapi juga tidak mau ikut campur re Hezbollah, dan Shia milita dukungan Iran.

      Seperti kita lihat, semua pihak sponsor yang mendukung setiap proxy mereka, harus mempunyai kepentingan politik / strategis tertentu.

      Tidak ada pihak yang mempunyai kepentingan yang serupa untuk mencoba memecah-belah Indonesia seperti di Syria.

      Perang itu hanya memusingkan, dan memakan biaya.
      Indonesia yang terpecah-belah, sekali lagi, tidak hanya akan mengancam stabilitas dan mengancam keamanan seluruh Asia Tenggara, Australia, dan secara tidak langsung juga United States.

      Inilah kenapa semua negara lain justru akan lebih mendukung Indonesia yang terintegrasi, dibandingkan sebaliknya.

      Tantangan internal kita yah, seperti komentar di atas: Kita harus terus berupaya menumpas ancaman internal "politik identitas", dan radikalisme untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

      Delete
    2. PRC dalam menghadapi kemungkinan konflik LCS, kelihatannya justru sudah mengambil pelajaran yang terbaik dari realita perubahan konflik Abad ke-21.

      Konflik attritional jangka panjang.

      Mereka membangun sedikit demi sedikit pertahanan mereka di LCS, dan mulai mengancam sedikit demi sedikit kedaulatan semua claimant di LCS.

      Kita lihat dalam topik berikutnya penjelasan konflik attritional semacam ini.

      Kenapa terlalu banyak negara sebenarnya masih terpaku kepada mental pola pertahanan perang dingin, dan bukannya beradaptasi untuk menghadapi realita perubahan konflik modern.

      Delete
  5. Bung, kapan artikel bvr dan 64 gripen diposting?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Logika para agen sales Sukhoi -- kita butuh buanyak pespur.

      180 pesawat, atau 10 skuadron, katanya.

      Sepertinya semua ini juga tanpa perlu memperhitungkan:
      # Anggaran yang tersedia,
      # Partisipasi penuh industri lokal,
      # Kalau berencana mengoperasikan beragam tipe yg tidak compatible, dengan sendirinya biaya OP akan meloncat lebih mahal 50 - 80%.
      # Biaya operasional Sukhoi bisa membiayai 6 F-16, atau 10 Gripen.... nah, loh...

      Mimpi jumlah 180 pesawat, dan mimpi mengoperasikan Sukhoi itu adalah DUA MIMPI YANG BERLAWANAN.

      ## Terakhir, seperti sedang dibahas dalam topik ini -- persepsi ancaman untuk armada yg sedemikian buanyak itu tidak ada.

      Kita tidak bisa menghamburkan uang ke anggaran pertahanan seperti United States.

      Realitanya, perubahan konflik masa kini sebenarnya menuntut militer yang lebih kecil agar tidak memakan APBN, tetapi jauh harus lebih fleksibel, lebih gesit, dan mempunyai ketahanan dalam konflik attritional jangka panjang.

      Kita kemudian akan melihat kembali kenapa 64 Gripen saja sudah belasan kali lebih banyak daripada armada gado2 Versi Export yang sekarang.

      Delete
  6. Admin,Kenapa Fansboy maupun netizen suka Suudzon sama Singapore dan Australia padahal berbaik sangka kepada teman Russia spt Vietnam aja enggak pernah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang mengherankan.

      Australia adalah salah satu negara pertama yg mendukung kemerdekaan Indonesia dalam masa Perang Kemerdekaan.

      Karena alasan politik strategis, tidak banyak diketahui orang, Australia adalah satu2nya negara yg mengakui kedaulatan Indonesia atas Timor Timur.

      Sedangkan Singapore?
      Indonesia adalah salah satu pendukung awal Singapore utk memisahkan diri dari Federasi Malaysia. Tentu saja, konteksnya dalam era konfrontasi, sewaktu itu kita menentang berdirinya Federasi Malaysia.

      Dewasa ini, kita sama2 menikmati perdagangan internasional, dan kerjasama ekonomi yg luas dngn kedua negara, dan jangan lupa juga...... banyak orang Indonesia juga menginginkan mendapat pendidikan, atau bea siswa di Singapore, dan Australia.

      Mungkin kita kadang kurang sepaham, terapi tidak ada alasan untuk membenci kedua negara ini.

      Terus terang, ada kemungkinan kalau para famboys ini sebenarnya troller yg mendapat upah dari Russia.

      Ini hanya prosedur standard, dan bukan rahasia umum kalau Ruski sudah lama menggunakan internet troller sebagai pasukan garis depan mengacaukan kedaulatan negara lain.

      Misalnya, seperti dilaporkan Business Insiders, Russia menyewa armada troller untuk berpura2 menjadi pendukung Trump selama Pemilu US 2016.

      =======
      Russia’s troll factories were, at one point, likely being paid by the Kremlin to spread pro-Trump propaganda on social media.

      That is what freelance journalist Adrian Chen, now a staff writer at The New Yorker, discovered as he was researching Russia’s “army of well-paid trolls” for an explosive New York Times Magazine exposé published in June 2015.
      =======

      Kemungkinan juga web troller famboyz yang sama juga sudah berkerja keras di Indonesia untuk menambah ketergantungan kita terhadap pesawat versi export downgrade bertehnologi kuno, yg biaya operasionalnya hadus bayar komisi perantara... dan komisi para troller.

      Ada yg bilang... mau potong nasi tumpeng setelah model downgrade terbeli!

      Ya, uang buat bayar nasi tumpengnya dari uang negara.

      Delete
  7. berita tentang menhan akan teken kontrak su 35 di awal februari, ternyata palsu , itu dibantah oleh petukhov dari rostec , menurt ihs jane batu sandunganya pada komoditas yg hendak diberikan, dan ternyata rusia keberatan membangun MRO di indonesia alasan mereka masih diembargo US, tp mereka Rusia bangun MRO helikopter di thailand

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang rencana kontrak barang kuno versi export ini suatu KEBOHONGAN BESAR dari awal sampai akhir:

      ## Mana ada yang namanya kontrak barter itu bisa menguntungkan?!?

      Karena kita tidak punya alat tukar yang sah - UANG - ya, tentu saja si penjual berhak menentukan apa yg mereka maui untuk ditukar. Tidak ada batasannya.

      ## Kontrak dengan Rostec BUKAN G-to-G... eh, tapi kok masih coba klaim kalau kontraknya G-to-G?!?

      Rostec sendiri adalah perusahaan makelar yg sedang mencoba menguasai sisa2 industri pertahanan ex-Soviet ke dalam satu badan, dengan orientasi untuk memvitalisasi industri Ruski, dan keuntungan yg maksimal.

      ## Tentu saja, perusahaan ini juga dirudung banyak kasus korupsi. Crime Russia mencatat kalau kasus yg tertangkap baru2 ini, kelihatannya hanya "tip of the iceberg" -- yang kelihatan saja, padahal masih banyak yg belum ketahuan.

      ## Tidak akan ada alih tehnologi seperti yg diklaim para agen sales "memenuhi persyaratan 30% offset".

      Tanyakan saja ke India yg mengakusisi 270 Su-30MKI, dan kemudian berinvesasti di PAK-FA:

      Menurut Times of India:

      =======
      Defence ministry sources say this decision has been taken at the "highest levels" in order to "not repeat the mistakes" of the entire Sukhoi-30MKI jet acquisition programme from Russia, which cost India Rs 55,717 crore without any tangible help in developing indigenous fighter-manufacturing capabilities.

      "Though bulk of the 272 Sukhois (240 inducted till now) contracted from Russia have been made by Hindustan Aeronautics (HAL), they have been basically assembled here with imported knocked-down kits. HAL still cannot manufacture the Sukhois on its own," said a source. A HAL-made Sukhoi (around Rs 450 crore) also costs Rs 100 crore more than the price of the same jet imported from Russia.
      =======

      India akhirnya mengakui kalau skrg tetnyata mereka sudah dibodohin dalam kontrak MKI.

      Tidak ada ToT, dan harga Su-MKI rakitan HAL ternyata 25% lebih mahal dibanding import mentah dari Irkut.

      Skrf kita mendengwar omong kosong akan bikin MRO di Indonesia.

      Serigala tidak akan mendadak bisa beranak domba, apalagi untuk satu2nya negara pembenci komunis di dunia.

      Sudah saatnya berhenti membayangkan kalau seolah2 membeli dari Russia itu bisa dengan tulus memenuhi perayaratan UU no.16/2012!

      Tidak akan bisa terjadi, dan tentu saja semua ini adalah penipuan.

      Delete
  8. Di Lancercell diberitakan Honeywell akan upgrade F16, utk 24 F 16 yg baru datang, pemilihan pabrik yg mengupgrade ditentukan US ato kita bung, krn Korea memilih Lockheed Martin yg mengupgrade F16 nya, bgmdgn kualitas meskipun tetap downgrade..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, kita boleh memilih kontraktor yg sudah disetujui Lockheed, dan pemerintah US, tetapi tetap saja mereka berhak menentukan siapa yg boleh, dan apa yg diperbolehkan.

      Untuk upgrade KF-16 Korea ke Versi-V; dahulu mereka sebenarnya memilih BAe Systems.... kontrak sudah jalan, sebelum kemudian US menaikkan biaya ke BAe System agar tidak bisa memenuhi persyaratan biaya kontrak.

      Akibatnya kontrak batal, dan coba tebak siapa yg mengerjakan kontrak?

      Lockheed-Martin, dengan biaya yg sbnrnya tetap jauh lebih mahal dibanding kontrak dgn BAe System semula.

      Korea sebenarnya sudah dipermainkan disini, ttp krn begitu tergangungnya kepada belas kasihan Washington DC, yah, monggo saja.

      Itulah nasib mengoperasikan barang versi export downgrade.

      Kita hanya mendapat ijin pakai seperti menyewa, tetapi HARUS bayar harga beli.

      Semua pesawat TNI-AU yg skrg diparkir itu, sekali lagi BUKAN milik kita.

      Jangan pernah mimpi kalau beli barang downgrade itu bisa "menguntungkan" seperti klaim para agen sales!

      Delete
  9. https://nasional.sindonews.com/read/1282400/14/kontrak-pengadaan-diteken-sukhoi-su-35-tiba-di-indonesia-oktober-1518679179

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hm, menarik.

      Kontrak 48 Su-35S untuk AU Russia saja dari 2008 tidak selesai delivery sampai 2015.

      Kontrak Su-35K untuk PRC, butuh 2 tahun sblm delivery unit pertama.

      Ini hanya butuh 8 bulan??

      Bersiap saja kita melihat penipuan berikutnya.

      IMHO, kemungkinan ini unit Su-35S dari batch pertama ex-Russia yang sudah di-modifikasi untuk versi export.

      Sekali lagi, kita tidak perlu khawatir kalaupun kontrak penipuan ini benar ditutup -- dari dulu klaim ttf kontrak sudah sering.

      Sudah pasti kita akan menyesal di kemudian hari, dan.... pada akhirnya kita akan tetap membutuhkan pengganti utk 2 skuadron Hawk-209, dan Sukhoi Sku-11.

      Kita lihat saja.

      Delete
    2. Ya sudah lah bung, saya juga sudah pasrah. Tapi saya mau berterima kasih kepada anda yang sudah ber"gerilya" memperjuangkan pilihan yg terbaik bagi indonesia.

      Delete
    3. Bicara lh dgn data min.. Import su27sk/30mk 4 unit thn 2003 saja dtg di tahun yg sama

      Delete
    4. su 27 /30 mk datang di tahun yg sama , soalnya pespur beli bekas ,

      Delete
    5. kalo beli bekas ya masuk akal brangnya datang di tahun yg sama kyk su 27/su 30 kita. China saja pesan su 35 datang nya gak tahun yg sama itupun gak semua datang.

      Delete
    6. Begitulah bung @felix,

      Semua pesawat tempur baru dewasa ini akan membutuhkan waktu 2 tahun produksi sebelum delivery.

      Regenerasi F-16 Block-25+ saja membutuhkan waktu 3 tahun sebelum delivery pertama, dan 5 tahun sampai 24 unit selesai delivery.

      F-15SA Saudi walau sudah dipesan dari 2014, sampai sekarang masih belum delivery karena harus mengetes beberapa fitur baru, spt Fly-by-wire yg belum pernah dipakai F-15 lain sebelumnya.

      Hanya Saab Gripen-C yang dewasa ini dapat diproduksi paling cepat, hanya 11 bulan.

      Kalau kita begitu serakah mau delivery cepat -- yah, itu namanya mengundang masalah, apalagi kalau supplier-nya dari negara yang lebih korup daripada Indonesia.

      Su-27SK dan Su-30MK2 yang delivery dari tahun 2003 itu memang kemungkinan dari airframe bekas yg dipugar "cepat" agar bisa cepat delivery. Tentu saja di tahun 2003 saja, kedua model ini sudah ketinggalan jaman 20 tahun. Sebagaimana kita tahu juga, keempatnya tidak bisa terbang lagi sejak 2009.

      @Eko Aji ini salah satu penjabat web troller dari Moscow, jadi mempunyai kewajiban tidak akan menjelekan Rusia.

      Delete
    7. Bung @Arkan,

      Adalah salah satu kesalahan besar kalau perjuangan kemerdekaan 1945 itu hanya pekerjaan angkatan pejoeang '45 saja.

      Perjuangan kemerdekaan itu tidak pernah usai.

      Kalau dahulu kita dijajah kekuatan imperialisme kuno masa Belanda, dan Jepang; sampai sekarang juga kita masih dijajah korupsi.

      Nama, dan orangnya berbeda, tetapi kita sbnrnya hanya berganti tuan.

      Delete
  10. image su35 adalah pespur canggih tandingan f22, mungkin image itu yang jadi pertimbangan petinggi militer, indonesia negara ketiga di dunia pengguna su35 pespur tercanggih diluar produk usa.., walaupun cuma gagah waktu parade toh kita tidak punya musuh tdk akan berperang juga.,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah.

      Sama seperti program pembelian Apache, dan Leopard -- dua senjata yg tidak relevan -- yang penting terlihat kalau kita bisa beli.

      Ini sebenarnya praktek korupsi dari kebutuhan yg nyata.

      Tetapi kalau sumbernya dari negara2 non-demokratis yg cenderung lebih korup, dan tanpa kontrak G-to-G bebas komisi... yah, salah satu keuntungan lain adalah mendapat pembayaran kickback.

      Delete
  11. Dtg di bulan oktober mgkn utk HUT TNI bung, rasanya ngebet sekali ingin beli pespur baru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, seperti diatas.

      Ini suatu kebodohan besar.

      Mana ada pespur baru bisa selesai produksi 8 bulan?

      Versi lokal buat Ruski, dan versi export utk PRC akan berbeda dengan versi export ID.

      Kemungkinan kalau kontraknya bisa delivery cepat, dan aar harganya lebih murah, yah, dari batch pertama Su-35S bekas AU Russia yang sudah di-modifikasi (strip-down) utk export.

      Semua pesawat Block-1 sih terjamin lebih bermasalah, tidak compatible dngn part yg diproduksi utk Block-2.

      Biaya operasional terjamin menembus $150,000 / jam, termasuk komisi perantara dan komisi kickback.

      Kita menungggu konfirmasi perjanjian G-to-B dari perusahaan makelar Rostec.

      Delete
  12. Lebih bagus mana bung,MIG jaman Sukarno dgn Sukoi yg sekarang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. MiG-21 F-13 tahun 1960-an lebih bagus.

      Di tahun 1960-an, barang2 versi export spesifikasinya tidak bisa berbeda jauh dengan versi lokal.

      Misalnya, radar pespur di masa itu saja boleh dibilang tergolong hampir tak berguna.

      Israel saja memilih membeli Mirage V (Nesher), atau versi strip down dari Mirage III tanpa perlengkapan avionic, atau radarnya.

      Kemajuan tehnologi pespur di masa itu sudah jauh melebihi kemajuan evolusi elektronik. Sekarang justru yg terjadi sebaliknya.

      Software untuk source code pespur perkembangannya jauh lebih cepat dibanding upgrade fisik pespur itu sendiri, atau pengembangan pespur baru dari nol.

      Su-35S versi lokal saja boleh terbilang sudah ketinggalan jaman sejak pertama kali dibuat di tahun 2005.

      BVR missile modern saja masih belum ada kok.

      ... dan sejak itu, belum ada upgrade yg berarti karena yah, mengupgrade airframe lama secara bertahap seperti model Barat bukan kebiasaan Ruski.

      Su-35K yah, hanya model strip down dari Su-35S tahun 2005. Jauh ketinggalan jaman bahkan dibandingkan regenerasi F-16 Block-25+.

      Delete
  13. ternyata awal berhembus berita teken kontrak su 35 awalnya dari RBTH rusia, tadi pg mereka mencabut berita tsb alasanya menghormati pem RI , ternyata di rilis kemenhan tidak ada berita tentang kontrak su 35 , diberitakan td di salah satu formil TSM ,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kan memang sudah biasa berita "fake news" mengenai akuisisi alutsista kita.

      Dahulu katanya mau beli Beriev, atau artikel disini re Airbus A400M?

      Tidak ada kontrak, bukan?

      Kita lihat saja.
      Biasanya Rostec dkk justru paling cepat mengumumkan kontrak.

      Mengingat fokus utama adalah proyek pembangunan infrastruktur ratusan triliun... kenapa kita mau meluangkan uang untuk membayar harga beli barang downgrade, dan komisi perantara?

      Mereka tidak bisa membuat Indonesia tambah maju, malahan kemunduran 30 tahun.

      Delete
  14. Su-35 punya RCS 1 meter persegi.
    Radar Irbis E pada Su-35 baru bisa deteksi target dengan RCS 0,01 meter persegi pada jarak 90 km.

    Padahal F35 hanya punya RCS separuh dari 0,01 yaitu 0,005 meter persegi.

    Dengan hitungan ala ngawurisasi maka Irbis E baru bisa deteksi F35 pada jarak 90 km dibagi 2 = 90 / 2 = 45 km.

    Radar AN/APG 81 pada F35 sudah bisa deteksi target dengan RCS 1 meter persegi seperti RCS Su-35 pada jarak 150 km sehingga F35 bisa lihat Su-35 terlebih dulu dan juga lepaskan rudal AIM 120C7 AMRAAM terlebih dulu lalu kabur jauh-jauh.

    AIM120C7 bisa menempuh jarak 180 km, jadi jika ditembakkan dari jarak 150 km, Su-35 pasti kena terlebih dulu.

    Bagaimana pun juga 11 unit Su-35 pasti keok jika harus lawan 72 unit F35 yang akan dimiliki grup tetangga.

    Bagaimana pun juga 11 unit Su-35 pasti keok jika harus lawan 24 unit Su-35 China.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Ikhsan,

      Industri Ruski sebenarnya belum menguasai tehnologi precision engineering, dan advanced material composite seperti industri Barat.

      RCS Su-35S yang 1 m2 itu hanya mitos.

      PAK-FA saja yg seharusnya stealth hanya mempunyai RCS 0,5m2, atau lebih besar dibandingkan ketiga Eurocanards, dan Super Hornet, walaupun tidak mencantolkan senjata diluar.

      RCS Gripen kurang dari 0,1m2.

      Estimasi RCS Su-35S kemungkinan akan jatuh di kisaran di atas 10 m2. Untuk versi export tambahkan 10 - 20% lagi lebih besar.

      Jangankan F-35 yang RCS-nya 0,0001m2...

      F-16 Block-25+ saja akan dapat mengunci Su-35IF (InFerior) dari jarak 150km, dan AMRAAM C-7 mempunyai jarak maksimum di atas 100km, dan jarak efektif estimasi antara 10 - 70km.

      Radar Irbis-E versi export juga tidak akan dapat melihat F-16 (RCS 1,6m2) sampai jaraknya kurang dari 80km, sedang missile versi export RVV-AE hanya mempunyai jarak efektif 30km, dan belum tentu bisa mengena karena tidak permah diuji secara intensif, tidak mendapat upgrade, dan versi lokal R-77-nya saja tidak pernah dioperasikan resmi oleh AU Russia.

      Karena pilot F-16 Block-25 akan selalu bisa melihat Sukhoi terlebih dahulu, maka mereka akan dapat mengambil posisi untuk mendekati Sukhoi tanpa terlihat sampau terlambat.

      RWR versi export Sukhoi juga... belum tenru mempunyai kemampuan untuk mendeteksi, dan kemudian mengalokasikan pemancar radar APG-68 dengan akurat.

      Jadi Sukhoi tidak mempunyai kemampuan menembak balik F-16,dan sebaiknya berdoa saja agar selamat dari missile yg sudah mendapat milyaran dollar investasi, dan puluhan tahun pemgalaman operasional.

      Delete
    2. PLA-AF China tidak bodoh.

      Mereka sudah lama membedah RVV-AE dan R-27 versi export, dan kemudian membuat missile PL-12, dan PL-15.

      Tidak seperti RVV-AE, dan R-27; missile PRC mendapat investasi pengembangan dari kocek yg jauh lebih tebal.

      Lebih lanjut.. jangankan Su-30MKK, J-11, atau Su-35K PLA-AF....

      Su-35 Indonesia terjamin tidak akan bisa mengalahkan pespur lain manapun di seluruh Asia Tenggara, malahan akan mudah dibantai.

      Bahkan F-5S Singapore yg fully networked, dan rumornya dapat mengoperasikan Derby BVR missile, akan dapat membantai Su-35 dengan mudah.

      Efek gentar nihil.

      Sukhoi tidak dirancang untuk bisa dioperasikan intensif untuk latihan berat 200 jam setahun. Biaya operasionalnya akan meledak jauh menjebol anggaran.

      Ini artinya pilot Indonesia tidak akan pernah bisa mendapat cukup banyak training.

      Ini hanya salah satu bentuk korupsi lain dari obsesi Sukhoi --- kita hanya mengkorupsi kemampuan pilot.

      Delete
  15. Setelah 7 Tahun, Thailand Tuntaskan Program EMLU F-16 A/B Fighting Falcon

    Sebagian F-16 A/B Block15 Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi kini tengah menjalani proses MLU (Mid Life Upgrade), menjadikan jet tempur yang dibeli dalam kondisi baru pada 1989/1990 ini mampu terbang hingga 10 ribu jam lagi. Dengan nilai mencapai US$50 juta, 10 unit F-16 A/B TNI AU juga bakal bertambah sakti dengan peningatan hardware dan sistem avionik. Dan hampir mirip dengan Indonesia, Thailand belum lama ini diwartakan telah merampungkan seluruh tahapan dalam eMLU (enhanced Mid-Life Upgrade).

    Setidaknya butuh waktu tujuh tahun bagi AU Kerajaan Thailand (RTAF) untuk merampungkan proses eMLU untuk 18 unit F-16 A/B. RTAF pertama kali memasukan F-16 dalam program eMLU pada tahun 2012. Sebagai mitra pelaksana upgrade adalah Thai Aviation Industries (TAI), yang proses pelaksanannya dibawa supervisi langsung Lockheed Martin. Dua unit F-16 yang telah selesai menjalani eMLU diluncurkan pada 24 Januari 2014, dan ditempatkan di Skadron 403. Menurut rencana, Lockheed Martin akan mengumumkan kelarnya eMLU seluruh F-16 Thailand pada ajang Singapore AirShow 2018 (6-11 Februari 2018).

    Diantara yang dipasang pada program eMLU F-16 Thailand adalah pemasangan radar multimode pengendali tembakan Northrop Grumman AN/APG-68(V)9, modular mission computer, APX-113 combined interrogator and transponder, ALE-47 countermeasures dispenser system, ALQ-213 electronic warfare management system dan Link 16 tactical data link serta Joint Helmet-Mounted Cueing System (JHMCS). Dengan eMLU, F-16 Thailand kini juga punya kapabilitas untuk melepaskan rudal udara ke udara jarak menengah AIM-120C AMRAAM dan IRIS-T. Dikutip dari f-16.net, pada prinsipinya poin-poin utama dalam MLU mencakup peningkatan pada sisi avionik seperti Mission Modular Computer, Fire Control Radar, dan Advanced IFF (Identification Friend or Foe)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang spesifikasi MLU F-16 Thailand akhirnya sudah menyamai standard Block-52+, bukan Block-52ID abal2 versi DPR.

      Patut dicatat disini, kalau upgrade ini sebelumnya sangat sungkan untuk diberikan pemerintah US. Hanya setelah RTAF Thailand mengakuisisi 12 fully-networked Gripen, mau tidak mau, mereka jadi merasa tersaingi, dan akhirnya memperbolehkan upgrade ini ke Thailand.

      Sekarang semua F-16 RTAF sudah mempunyai fitur untuk terkoneksi ke T-Link, atau Networking ekslusif RTAF.

      Delete
  16. Bung, apa semua rudal wvr jaman skrg sdh mempunyai "full sphere capability"
    Spt python 5,a darter, dll?

    ReplyDelete
    Replies
    1. "full sphere capability" - maksudnya kemampuan untuk menyerang target 360 derajat?

      Ya, terkecuali missile kuno R-73 / R-74 buatan Ruski, yang sudut engagament-nya hanya terbatas 65 derajat dari moncong depan pesawat (lebih rendah untuk versi export) , semua WVR missile modern mempunyai sudut engagement 360 derajat.

      Ini artinya, IRIS-T, Phyton, Darter, dan AIM-9X bahkan dapat ditembakkan ke arah belakang 180 derajat dari arah moncong pesawat induk.

      Kesemua missile ini juga mempunyai fitur LOAL (Lock-On After-Launch), artinya seeker baru mengunci target setelah ditembakan dari pesawat induk; dengan feedback dari data networking yang dihubungkan ke Helmet Mounted Display pilot.

      Sayangnya, tidak ada satupun pesawat tempur versi downgrade Indonesia yang dapat memanfaatkan kedua kelebihan ini:

      ## F-16 Block-25+ Indonesia tidak bisa memanfaatkan fitur LOAL ke AIM-9X.... karena tidak ada JHMCS.

      ## Sedangkan Su-27/30/35 para agen sales -- hanya bisa dipersenjatai dengan R-73E versi Export Downgrade -- sudut tembak maksimum hanya 60 derajat dari arah moncong pesawat, dan tidak ada fitur LOAL.

      Mari sekali lagi mengulangi:

      Bahkan 11 Gripen-C/D RTAF Thailand saja akan dapat menyapu bersih seluruh TNI-AU tanpa perlawanan.

      Delete
  17. Maaf admin,saya hanya nyalin dari website sebelah.

    ReplyDelete
  18. halo mas DR,bisa dijelaskan alur pengadaan alutsista di tubuh TNI spesifik untuk pesawat tempur. saya masayarakat awam biar tahu siapa yang bertanggung bila ada kesalahan pembelian pesawat. thanks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kelemahan sistem akuisisi alutsista kita sebenarnya ada 3 tahapan:

      ## Pertama, apa yang menjadi dasar akuisisi itu Renstra, dan Renstra ini sendiri hanya berupa daftar belanja yanh diinginkan, tanpa ada gambaran jelas bagaimana bisa memajukan kemampuan pertahanan Indonesia.

      Tujuan Renstra ini sangat jelas hanya untuk menambah jumlah sebanyak mungkin. Seolah2 tidak ada batasan, atau tanggung jawab secara finansial.

      ## Kelemahan kedua, masalah HUKUM; kita kelihatannya kurang menghargai HUKUM hitam di atas putih, dan sayangnya penulisan hukum kita, seperti tipikal hukum Indonesia mudah dibelokan oleh siapapun yg pintar silat lidah.

      Mana ada penjual versi export yang mau memenuhi persyaratan Alih tehnologi?

      Tetapi para agen sales bisa mengklaim alih tehnologi bisa memenuhi persyaratan 30% offset??

      Padahal mereka pernah membuka dialog dengan BPTN, atau industri lokal saja tidak pernah.

      ## Kelemahan terakhir, secara hukum, kontrak yang BUKAN G-to-G alias melalui perantara masih diperbolehkan.

      Ya, kontrak G-to-B sebenarnya belum dilarang dalam UU no.16/2012.

      Inilah kenapa kita akan terus menghalalkan segala cara untuk memberi makan para makelar perantara asing, ataupun lokal.

      Tentu saja, pembelian melalui perantara sudah pasti akan memberikan KICKBACK ke beberapa pejabat akuisisi.

      Ini bukan menuduh yang tidak2, tetapi sudah hukum alam dalam setiap akuisisi alutsista di dunia, yg melalui agen perantara, dan bukan G-to-G.

      Inilah kenapa seperti kita bisa lihat di media massa, bbrp pejabat kelihatan sangat bersemangat mendukung akuisisi barang2 yg pembeliannya bukan G-to-G, tetapi sama sekali tidak antusias dengan.. misalnya membeli persenjataan untuk F-16, yg kontraknya terjamin bersih bebas komisi kickback.

      Pada pokok dasarnya, sebelum ada perubahan dalam 3 hal pokok ini, hampir semua pembelian alutsista hanya akan selalu merugikan negara, dan menguntungkan beberapa oknum tertentu.

      Karena kita membeli tidak sesuai kebutuhan, melainkan seperti membeli barang mewah merk Gucci, atau Porsche untuk bisa dipamerkan... yah, jangan harap bisa tahan banting kalau mendapat ujian sekecil apapun.

      Delete
  19. Klo seandainya mmg benar sdh diteken kintrak SU 35, yg hrs ngomong siapa bung Presiden, Menhan, pejabat militer, Rostec..... apalagi di CNN Indonesia diberitakan sdh diteken tetapi dtgnya agst 2019 bukan oktober 2018

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja.

      Kelihatannya sih belum, karena perusahaan penjualan G-to-B Rostec belum mengumumkan kontrak.

      Yang mengkhawatirkan adanya kemungkinan terulangnya kasus seperti AW101... kontraknya sudah ditandatangani diam2, dan tiba2 barangnya bisa muncul sendiri.

      Sama seperti kasus AW101, tujuannya cukup jelas -- memaksakan pembelian (illegal) unit pertama itu agar masuk operasional, dan dengan demikian memaksa penandatangan kontrak yg lebih besar kemudian.

      Kemungkinan 2 Su- yg disebut memang sudah di-ttd terpisah dengan pembayaran entah darimana.

      Apa yg terjadi disini lempar batu sembunyi tangan.

      Mereka berharap armada web troller PT Sukhoi Fanboyz akan memuluskan transaksi yg lebih besar di tahun 2019... setelah 2 unit (bekas) pertama muncul di Oktober-2018.

      Boleh dibilang sbnrnya, para Sukhoi Fanboyz ini hanya semacam proxy untuk pemulus kontrak.

      Secara prosedural tingkah laku mereka sama persis dengan banyak skandal web troller di US, dan Eropa yg mendorong agenda Moscow tertentu.

      Contoh komentar beberapa tahun lalu:
      "Walau saya hanya rakyat kecil, saya rela mendukung pembelian Su-35!"

      Komentar semacam ini sbnrnya tipikal trolling untuk mempengaruhi opini umum.

      Delete
    2. presiden , menhan .panglima tentara gak memberitahukan , yg ada nama pak totok salah seorang pejabat kemenhan dicatut namanya yg mengatakan udah memastikan teken , dari rbth ke sindonews, lalu cnn , antaranews kagak beritakan

      Delete
    3. Berita ini sebelumnya sudah sempat di-copy + paste ke IHS Jane's, dan Arabian News.

      Sepertinya Jane's belum terbiasa kebiasaan di Indonesia, kalau ngomong "sudah kontrak", belum tentu sudah terjadi kalau belum ada konfirmasi resmi.

      Berita dahulu "Indonesia membeli A400M" juga datang dari Jane's, yg mendahului semua media massa Indonesia.

      Kemungkinan berita2 semacam ini, atau klaim sepihak tiba2 seperti tempo hari, adalah kebiasaan warisan dari masa pemerintah sebelumnya, yg sepertinya mengijinkan hampir semua transaksi alutsista.

      Kita lihat saja perkembangan lebih lanjut.

      Kalau sampai 2 barang versi export kuno ini bisa nongol di Oktober ini, perusahan makelar Rostec juga akan menjadi serba salah, krn transaksinya bisa dianggap illegal seperti AW101.

      Kalau mereka tidak mau refund, yah... lebih baik kita tukar-tambahkan saja ke pemerintah United States, dengan upgrade utk F-16, dan persenjataan lengkap non-versi export.

      Delete
  20. berita di koran jawa pos ,su 35 datang bulan oktober 2018 dua buah ,

    ReplyDelete
  21. wedeweee mencurigakan klo datang 8 bulan awal meski cuman 2 buah

    ReplyDelete
  22. Di berbagai medsos Menhankam dan Menkopolhukam mengatakan kontrsk SU 35 sdh diteken, mskpn "hanya" menjawab pertanyaan wartawan, sementara rostec blm buka suara, apakah ini bisa dikatakan belum resmi juga... shg bisa timhul masalah di kemufian hari..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekali lagi pada pokoknya, rencana transaksi ini adalah PENIPUAN BESAR baik ke negara, atau ke rakyat.

      Semua yg terucap berlawanan dengan kenyataan, hanya dalam nama menutup kontrak.

      Terus terang, bahkan korupsi eKTP saja masih jauh lebih menguntungkan negara vs percobaan menambah lebih banyak barang downgrade dgn biaya op lebih mahal dari F-22.

      "Pengorbanan" yg dibutuhkan terlalu berat tidak hanya secara finansial, ttp juga kemajuan tehnologi, kemampuan pilot, dan pertahanan negara.

      Tentu saja, para makelar asing akan dapat meraup keuntungan yg jauh lebih besar dibanding korupsi eKTP, karena mereka bisaenuai upahnya 20 - 30 tahun.

      Delete
    2. isi perjanjianya juga tdk disebut kan ,apa saja, mungkn bakal melayang janji2 MRO nya. Rostec belum mengatakan resmi, rusia masih belum menunjuk produk apa saja yg akan di barter , $1,14 juta

      Delete
    3. Kan memang skema pembayarannya tidak pernah disebut, bukan?

      Tidak tertutup kemungkinan ini akan menjadi kasus AW101 Kedua. Kontrak batal saja, barangnya masih bisa datang, bukan?

      Entah uangnya darimana?

      Delete
  23. Min, katanya anggaran pertahanan Jerman semakin sedikit sehingga kesiapan tempurnya menurun. Apakah hal seperti ini jg dialami negara NATO yg lain?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berikut dari Defense News:

      Menurut Kemenhan Jerman, anggaran pertahanan mereka akan mulai dinaikan kembali ke arah target 2% dari PDB. Ini menunjuk ke anhka sekitar €60 milyar, atau akan lebih tinggi vs anggaran Russia.

      Tetapi ini sulit dilakukan, karena beberapa faktor:
      ## APBN Jerman biar bagaimana lebih dioptimalkan untuk tunjangan sosial, dan Kesehatan, bukan militer.

      ## BBC menjelaskan kalau masih ada perasaan negatif di kalangan penduduk Jerman thd militer mrk, yg masih terlalu diasosiasikan dengan masa Nazi dahulu kala.

      # Lebih lanjut, dengan anggaran militer €60 milyar, masih ada kekhawatiran regional masa lalu di jaman Nazi.

      Kalau masalah kesiapan tempur militer Jerman menurun, seperti misalnya tidak ada satupun U-212 mereka yg aktif dalam jangka pendek, ini bukan krn masalah anggaran, ttp karena mismanagement.

      Kalau kembali melihat ke TNI, kita juga seharusnya melihat kekhawatiran yg sama:

      Dari jumlah 75 pesawat tempur saja, memangnya berapa jumlah yg detik ini juga bisa siap terbang, dan lebih penting lagi bisa dipersenjatai lengkap?

      Terus terang, kelihatannya sih memenuhi 2 persyaratan ini saja tidak ada yg bisa.

      Delete
    2. Maaf, sy masih berhutang banyak artikel.

      IMHO, menambah anggaran, atau hanya sekadar melihat jumlah adalah dua pandangan yg salah dalam konteks konflik modern.

      Anggaran yg sebesar apapun menjadi tidak relevan kalau apa yg dioperasikan semakin mahal, dan dengan sendirinya akan harus mengkompromikan jumlah yg tersedia.

      Jumlah yg terlalu besar juga menjadi tidak relevan, kalau tidak memperhitungkan keterbatasan anggaran, atau kesiapan tempur / pelatihan / persenjataan untuk semua unit yg tersedia.

      Yang lebih penting adalah mengoptimalkan manajemen, dan seberapa efektifnya alutsista yang ada.

      Anggaran pertahanan seharusnya tidak boleh meroket seperti anggaran US, yg rencana kenaikannya saja melebihi seluruh anggaran UK / Russia; eh, padahal jumlah F-35 yg akan mereka beli.... hanya akan terlampau sedikit dibanding jaman keemasan F-15/F-16.

      Buah simalakama Indonesia kita sebenarnya lebih parah:

      Untuk selamanya anggaran pertahanan kita tidak akan bisa lebih tinggi dari Singapore, atau Australia, karena kebutuhannya sendiri tidak ada, eh, tetapi memimpikan jumlah 180 pesawat, sekaligus twin-engine Sukhoi, dan IF-X versi downgrade.

      Mengingat 1 Sukhoi & biaya perantaranya dapat menghidupi 7 F-16, atau 10 Gripen;

      ... sedangkan setiap IG-X akan sekurangnya 3 - 4x lipat lebih mahal dioperasikan vs F-16, atau 5 - 7 kali lebih mahal dari Gripen..

      ... kita sebenarnya dibuai mimpi untuk melihat ke arah yg salah.

      Mimpi 180 pesawat, dan mimpi Sukhoi/IF-X adalah 2 mimpi yg BERLAWANAN dan SALING MEMBENCI satu sama lain.

      Delete
  24. Sewaktu insiden bawean pilot F16 mengatakan, ketika posisi terkunci ada sinyal berbunyi tit....tit...tit.....tit tetapi
    Klo berbunyi tiiiiiiiiiiiiiit berarti rudal sdh diluncurkan. Dibandingkan dgn F16 yg ditembak jatuh suria dan F15 yg ditembak jatuh pejuang houti, apakah tdk ada sinyal spt itu, ato krn dilock dgn rudal panggul shg tdk sempat berbunyi kode spt itu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Kalau dalam insiden Bawean, Cockpit F-16 membunyikan alarm.. itu dari RWR, yg melihat gelombang radar F-18 USN.

      Sayangnya, sama spt insiden Su-Kommercheskiy di Sku-11 bbrp tahun yg lalu; sistem RWR kedua model downgrade ini terlalu basic, tidak bisa mengalokasikan kembali arahnya pemancar radar.

      Dalam pertempuran sesungguhnya, opsi pilot menjadi sederhana; kabur, atau menunggu dihancurkan oleh AMRAAM.

      ## F-15 RSAF tidak berhasil tertembak jatuh Houthi. Hanya kerusakan ringan, kabarnya.

      Tornado RSAF jatuh karena kerusakan tehnis dalam insiden yg berbeda.

      Delete
    2. ## F-16I Israel berhasil dikejutkan dengan salvo 20 missile SA-5 dan SA-17. Salah satunya meledak terlalu dekat shg menimbulkan kerusakan yg cukup parah.

      Ya, RWR-nya tentu saja bekerja, tetapi dalam hal ini element of surprise berada dipihak Syria.

      Kasus ini kembali menggariskan pentingnya Situational Awareness; kemampuan untuk mengamati semua posisi, arah, dan lingkup tembak lawan, kemudian mencegah agar tidak "kecolongan", sebaiknya terus memegang inisiatif untuk menentukan lajunya konflik.

      Pespur yg mau semahal apapun tidak akan relevan kalau Situational Awareness berada dipihak lawan.

      Delete