Thursday, February 22, 2018

Penipuan sandiwara Su-35 Bagian 1


Alias upaya transaksi merugikan total untuk menjual kedaulatan negara ke tangan perusahaan asing ini sebenarnya mempunyai empat pemeran.

Pemeran pertama adalah  the ignorant majority, mayoritas masyarakat yang tidak mau ambil pusing, atau kurang peduli. Berapa anggaran yang harus dibayarkan, atau seberapa jauh kedaulatan atas alutsista itu dari tangan kita, jauh dari benak pikirannya. Ah, hanya membeli alutsista itu tidak penting! Seperti kita bisa mengikuti di media berita, inilah kira-kira pandangan umum masyarakat Indonesia.

Pemeran kedua adalah the naive follower. Mereka yang terlalu naif untuk sembarang menganggukkan kepala kepada apapun yang dikatakan oleh si pemeran utama keempat nanti. Mungkin juga hanya karena lebih mengikuti arus, atau karena alasan politik. "Kita percayakan saja kepada pihak yang memang lebih mengerti daripada kami!"

Pemeran ketiga adalah the dreamer. Mereka yang terlalu terbuai mimpi-mimpi indah, dan juga merasa pintar mendukung Su-, atau IF-X, karena membaca terlalu banyak informasi re Su-35, dari sumber-sumber yang salah, seperti Ausairpower, atau media propaganda you-know-who. 

"Banyak kok yang bilang Su-35 hebat!", argumen mereka. 

Pemeran terakhir adalah si Resi Durna, atau si biang keladi kelicikan dalam pewayangan. Mereka sudah mengarang begitu banyak cerita, seolah-olah barang kuno versi export, "bersenjatakan lengkap" dengan missile versi export ini bisa memenuhi UU no.16/2012. 

Si Durna tentu saja menginginkan kelompok terbesar ignorant mayoritas, agar dapat bersalin rupa untuk bisa dibodohin menjadi the dreamer, atau the follower

Sudah saatnya sandiwara ini berhenti disini, dan menterjemahkan kembali semua kebohongan para durna!


Kebohongan 1: Su-35 BUKAN pesawat yang terbaik 


Iklan UAC di media cetak yang sudah menggambarkan kalau persenjataan utama Su-35 hanyalah
"Missile rongsokan R-27" seperti dituliskan Dave Majumdar.
Seumpama kita mempunyai uang sejumlah sekian, dan kemudian mau membeli misalnya, kendaraan, handphone, atau TV baru, bukankah seharusnya kita membanding-bandingkan untung rugi-nya terlebih dahulu, baru kemudian mengambil keputusan untuk mengambil model yang terbaik?

Sayangnya, mau diputarbalikkan bagaimanapun dengan silat lidah yang sebagaimanapun lihainya, sampai kapanpun Su-35 berefek gentar nihil (Link) ini BUKAN pilihan terbaik Indonesia:

Inilah kenyataan pertama:


Sejauh ini pertanyaan ini belum pernah bisa dijawab oleh para anggota PKI versi-2 (Persengkongkolan Kommercheskiy Indonesia), dan antek-antek mereka:
Link:
TribunNews 30-Oktober-2017
 Tetapi kita sudah bisa menjawabnya secara sederhana dari pengetahuan umum:
National Interest, 28-Desember-2016.
"Russia tidak akan begitu saja menyerahkan "crown jewel"; harta karun tehnologi mereka yang paling beharga ke tangan PRC, tanpa mengambil precaution: penjagaan atas hak cipta mereka. Versi Su-35 untuk Chinatidak akan sama dengan versi AU Russia."

Kami memproduksi versi export, dan mempunyai versi yang kami pakai sendiri”, menurut Buzhinsky. 


Versi Downgrade, yang lebih sederhana untuk export. Tentu saja edisi spesial khusus untuk tukang hibah anti komunis, yang dianggap sebagai negara sekutu US, dan Australia, sudah tersedia.

Mau "persenjataan lengkap untuk Su-35 versi export"?
Website resmi Tactical Missiles Corporation JSC
Link:
http://eng.ktrv.ru/production_eng/323/503/


Yah, mau membeli persenjataan selengkap apapun sih boleh, asalkan pesyaratannya seperti digariskan oleh Tactical Missile Corporation JSC:
Tentu saja, kenyataannya lebih parah lagi:
Su-30SM at Hmeymim AB, Syria -- Russian MoD photo
Su-30SM AU Russia di Syria, 2016
Hanya negara pengguna senjata versi export yang memakai missile keluarga R-77
Kenyataannya, boleh memilih Sukhoi model manapun juga, tetapi mereka semua tidak mempunyai persenjataan BVR modern yang sebanding dengan standard AMRAAM. Missile Amraamski sendiri BUKAN missile yang pernah operasional dengan AU Russia, apalagi versi export haram RVV-AE-nya.
    Masih merasa Sukhoi "huebat"?

    Silahkan saja para fanboyz, termasuk sesepuh Carlos Kopp, dan Peter Goon,
    mencoba menantang F-16MLU standard NATO dalam pertempuran BVR! 
Silahkan mencari: Upgrade apa saja yang sudah diaplikasikan ke Su-35 versi kommersial, atau versi export, dan bukan versi-S, sejak tahun 2005?

Apakah suatu saat, versi export dari pesawat untuk selamanya, ini akan iperlengkapi dengan AESA radar, IRST dengan planar array, In-flight Networking kelas satu, yang tidak tertandingi?

Kita sudah tahu kalau tidak akan pernah ada AESA radar:
War-is-boring: Russia is upgrading its top fighter to fly from rough airfields
Penulis: Dave Majumdar

Pendapat professional yang dikutip disini adalah dari Vasily Kashin, seorang Guru Senior dalam Center for Comprehensive European and International Studies di Higher School of Economics, Moscow.

Dan dengan demikian, pesawat yang memang masih terpaku dengan tehnologi 2005, secara garis besar tetap saja hanya akan berlari di tempat. Sementara itu, semua Angkatan Udara lain di dunia, sedang berlomba-lomba untuk memulai profilerasi AESA radar, standar baru Abad ke-21.

Tidak seperti ramalan auntie Ausairpower, ternyata PESA radar Irbis-E saja sudah cukup. 

Nah, kalau bukan model terbaik kita masih berkeras mau membeli?

Oh, alasan lain para durna; dikarenakan di media Barat, Su-35 seperti dikutip dalam artikel National Interest ini, adalah pesawat tempur yang paling ditakuti? Makanya kita juga harus mempunyai beberapa unit agar ditakuti orang lain?

Masuk akal?

Motivasi artikel ini harus dimengerti terlebih dahulu: Negara manapun yang pembuat pesawat tempur akan selalu membutuhkan BAKAL LAWAN yang mengerikan. Tentu saja, Su-35 harus diangkat sebagai pesawat tempur yang tidak terkalahkan, agar dapat dimanfaatkan untuk mendorong pemerintah masing-masing agar membeli senjata yang lebih huebat lagi.

Artikel National Interest ini yang sama, yang sebelumnya sudah mengelu-ngelukan betapa mengerikannya Su-35, paling tidak masih tetap menutup cerita dengan paragraf akhir yang berlogika sehat:
Yah, pesawat tempur itu bukan segala-galanya. Pesawat tempur hanyalah salah satu komponen kecil dari suatu Angkatan Udara.  Tanpa bisa memadukannya ke dalam suatu angkatan yang terintegrasi, tanpa dukungan asset lain, dan tanpa investasi (yang lebih mahal dari harga beli) ke dalam training, pesawat tempur itu hanyalah pajangan... untuk upacara kemerdekan?

Pemikiran awam yang sekarang ini marak berkumandang adalah kalau kita bisa bertumpu satu jenis pesawat tempur, kemudian bisa merasa huebat sendiri. 

Maaf, itu sih namanya membohongi diri sendiri. 


Kebohongan 2: TIDAK AKAN ADA kontrak G-to-G

Tanpa Agen perantara: Kontrak Rafale di India
Syarat mutlak transparansi pembelian Alutsista di Abad ke-21
(Gambar: Indian Ministry of Defense)
Siapapun yang bisa mengklaim kalau kontrak dengan Rostec, bisa diartikan sebagai G-to-G contract, memang tidak mengerti mekanisme transaksi alutsista Russia, memang sudah dikelabuhi, atau sudah sengaja berbohong.

Rostec memang BUMN, tetapi juga sudah ditunjuk sebagai perusahaan makelar resmi yang sedang sibuk mengkonsolidasi seluruh industri pertahanan Russia agar semuanya berada dibawah naungannya. Semua transaksi persenjataan dengan Russia, dengan demikian diharuskan untuk melalui perusahaan Rostec, dan bukan ditangani langsung oleh pemerintah Russia. 

Seperti baru dilaporkan Defense News, 1-Februari-2018, yang lalu: 
... Rostec baru saja mendapat persetujuan lebih lanjut untuk mencoba mengakuisisi United Aircraft Company, yang sendirinya sudah mengkonsolidasi semua pabrik pesawat Soviet masa lalu, seperti Tupolev, Sukhoi, dan MiG.

Website  Crime Russia, yang dituliskan oleh Citadel Media Group, dengan Chief Editor Elena Vavilova, sudah menuliskan tentang bagaimana perusahaan raksasa perantara Rostec ini terus dilanda berbagai macam kasus korupsi berkelanjutanLaporan dari tahun 2016 ini, sebagai contoh, menuliskan bagaimana 800 juta Ruble sudah disapu bersih, dan kekacauan internal dalam Rostec sendiri.  Belum kalah hebat, kasus ini masih berlanjut sampai tahun 2018, dan kerugian akibat korupsi dalam kasus ini ternyata sudah mencapai 3,5 milyar Rubel, atau $61,2 juta.

Ini sekali lagi tidak mengherankan.

India sendiri sudah lama melaporkan masalah berkepanjangan dengan Rosoboronexport, yang adalah anak perusahaan Rostec untuk menangani penjualan barang versi export ke luar negeri:
AviationWeek, 4-Apr-2011:
India upset with Russian Military spare part supply
Sampai 2016 sekalipun, tetap saja tidak berubah, atau mungkin malah bertambah kacau:

Link: Indian Express, 8-Agustus-2016

Komisi penjualan, seperti yang dikhawatirkan, dan sudah pernah diangkat oleh Centre of Budget of Analysis sejak tahun 2015, ini sih bukan lagi mungkin, melainkan suatu kepastian. Mekanisme transaksinya memang sudah dirancang dari awal untuk memungkinkan para makelar mengambil untung di kiri - kanan. Tentu saja, komisi ini tidak hanya berlaku sekali pukul selesai, melainkan seumur hidup pesawat untuk setiap part, atau biaya jasa service Sukhoi yang dibutuhkan.



Kebohongan 3: TIDAK AKAN ADA pesawat yang bisa diproduksi dalam waktu kurang dari 6 - 8 bulan (!!)

Pertanyaan berikutnya untuk para agen sales:
Silahkan menunjuk Case study dimana pesawat baru bisa delivery dalam waktu 6 - 8 bulan?

Regenerasi F-16 Block-25+ saja, yang airframe-nya sudah siap,
membutuhkan waktu 2 tahun sampai delivery pertama 
Semakin serakah, dan ingin cepat delivery, seperti misalnya, agar bisa datang Agustus-2018, semakin besar kemungkinan yang diantar hanya akan menjadi model bekas dari Su-35S dari batch pertama produksi untuk AU Russia, yang sudah dimodifikasi (strip-down) sebanyak mungkin untuk export.

Ini juga bukan menuduh yang tidak-tidak. Russia sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya dalam skandal MiG-29 Algeria di tahun 2013:
"The Fatal Shame of Russia"
Strategy Page, 2013
Ya, apa yang mereka bilang baru, ternyata hanya dirakit dari part bekas, atau yang sudah kadaluarsa. Ini juga tidak mengherankan, mengingat Russia sejauh ini sudah memupuk reputasi untuk berkata suatu hal, kemudian mengerjakan hal yang lain, atau menyangkal kebenaran dengan alasan apapun juga.
Bersama kawan-kawannya,
adalah sumber berita yang menyangkal apa yang terjadi di Idlib
Charles Lister, pengamat dari Middle East Institute, seperti dilaporkan CNN, menyatakan kalau klaim Ruski ini tidak bisa dipercaya; menggelikan, atau dengan kata lain, absurd
  • Selama bertahun-tahun konflik, tidak pernah ada bukti kalau kelompok pemberontak di daerah tersebut bahkan pernah mempunyai akses ke senjata kimia. 
  • Tidak ada yang begitu bodoh untuk menyimpan kedua jenis komponen untuk Sarin dalam satu gedung.
  • Terakhir, bahkan kalaupun kedua  jenis komponen tersebut disimpan dalam satu tempat, dan lantas dibom dari atas, MUSTAHIL lantas bisa berubah menjadi senjata kimia aktif, yang kemudian meracuni lingkungan disekitarnya. Sekali lagi, kasus ini chemically impossible. Tidak akan bisa terjadi. 
Tentu saja kita sudah sering mendengar argumen "bukan salah kami", yang nadanya sama, seperti dalam kasus tertembak jatuhnya MH17 ("Itu salah Ukrania!"), dimana 12 orang Indonesia sudah turut menjadi korban.


Paling tidak, dalam kasus MiG-29 ini, Algeria berani menuntut balik, dan meminta 28 MiG-29 ini dikembalikan, dan kemudian ditukarkan dengan Su-30MKA. Sedangkan pejabat Ruski yang tertangkap sendiri hanya mendapat hukuman suspended sentence, atau pengertiannya adalah mendapat hukuman, tetapi dalam masa probation, atau masa pengawasan agar tidak melanggar lain, bukan benar-benar mendapat hukuman.

Pertanyaannya: Apakah di Indonesia akan ada keberanian, dan kejujuran untuk melakukan yang sama?

Ini sekaligus menjawab pertanyaan DPR sebelumnya, apakah Sukhoi bisa bersih KKN?

Jawabannya, transaksi ini akan bisa menjadi lahan yang subur untuk memungkinkan korupsi yang sulit diusut, dan bahkan bisa mendapat dukungan publik, berkat jasa para durna pembohong, terutama web troller di dunia maya.



Penutup: Lebih baik para durna korupsi eKTP, dibandingkan Sukhoi


Apakah anda ignorant majority, the follower, the dreamer, atau mungkin tanpa sengaja sudah menjadi pembantu para durna pembohong? 

Belum terlambat untuk bertobat, dan mengembalikan kedaualatan bangsa. Tidak sembarang menyia-nyiakan perjuangan bangsa, dan melemparnya ke pangkuan orang asing!

Kalau memang para durna tidak berdusta, kenapa kemudian mereka tidak pernah berani menjelaskan secara transparan detail rencana transaksi ini?

Apakah keuntungan nasional yang nyata dari memilih untuk membeli Su-35 model kuno downgrade?

Oh, kita sebenarnya sudah tahu jawabannya.
Kenyataan: 
Transaksi alutsista sebenarnya adalah bentuk transaksi yang paling kotor sepanjang sejarah dunia
(Link: The Guardian, 2013)
 
Buku dosa rencana merugikan Su-35 sendiri ini sendiri masih cukup panjang dan bersambung ke bagian kedua:
  • Kenapa MUSTAHIL ada alih tehnologi?
  • Kenapa transaksi barter itu BUKAN offset
  • Bagaimama dengam pertanggungjawaban secara biaya operasional, dan kemampuan training pilot?
  • Dan kenapa transaksi ini berpotensi mengkompromikan posisi politik luar negeri kita?
Dalam nama "pengorbanan" untuk membeli barang kuno versi downgrade, dengan biaya operasional lebih mahal dari F-22, dan menyerahkan kedaulatan ke tangan perusahaan asing, mari kita menolak tawaran yang paling baik, dan memenuhi kebutuhan nasional dalam semua hal!

Mari kita menyanyikan ulang bait pertama dari lagu "Abang Tukang Sukhoi":





58 comments:

  1. kok tdk spt India dan Perancis spt gambar diatas, penandatanganannya selalu diberitakan di medsos, media elektronik dan media cetak, biasanya oleh penggemar sukoi, demi menjaga kerahasiaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Menjaga kerahasiaan" ini adalah kata kunci yg sering diobral, untuk menghalangi transparansi penuh ke rakyat.

      Semasa perang dingin, kata "rahasia negara" ini semacam kata keramat yg tidak noleh diganggu-gugat.

      Kalau di negara Komunis, mempertanyakan "rahasia" bisa dituduh antek Barat; sedangkan di negara Barat, dan di Indonesia, bisa dituduh antek komunis.

      Masa ini sudah selesai.
      Dewasa ini adalah era keterbukaan dimana kita tahu, kalau semakin banyak yg disembunyikan, sebenarnya semakin banyak penipuan di belakang layar.

      Kemenhan India, dan Perancis mempublikasikan gambar penandatanganan kontrak Rafale dalam nama transparansi -- untuk memperlihatkan ke seluruh dunia, kalau kontrak terbuka ini tidak ada yg disembunyikan, dan akan bebas komisi "kickback".

      Tentu saja tidak mengherankan para web troller fanboyz masih senang kata "rahasia", karena....

      Delete
    2. ... kecuali India yg adalah customer Russia karena sejarah masa Perang Dingin,
      menurut daftar Transparancy Internasional, HAMPIR SEMUA negara pembeli Sukhoi adalah negara yang LEBIH KORUP, dan/atau NON-DEMOKRATIS.

      Perhatikan saja daftar berikut:

      Vietnam, Myanmar, Venezuela, Algeria, Sudan, Ethiopia, Erithea, Uganda, Angolia, dan... pemerintah Al-Assad di Syria.

      Tidak ada satupun negara demokratis yg sedang aktif memberantas korupsi lantas akan "asal pilih" beli Sukhoi.

      Transparansi tidak ada, dan rakyat tidak boleh tahu apa yg terjadi.

      Jangan lupa juga, kemungkinannya cukup besar kalau para fanboyz ini hanyalah bagian dari proxy war untuk mempengaruhi kita agar menandatangani secepat mungkin transaksi beli-rugi ini.

      Delete
  2. bung, pembelian Su-35 melibatkan imbal dagang 50%, 35% adalah offset.

    untuk memenuhi offset yg berlaku maka minimal ada 1 point yg terpenuhi dari 3 point yaitu
    -Transfer Teknologi
    -Investasi
    -Konten lokal, atau dukungan pemasaran produk industri hankam Rusia.

    berita terakhir Rusia memutuskan untuk melatih, memberikan kursus perawatan.

    tapi melihat beberapa kasus yang sudah terjadi, ternyata rusia sering gagal dalam after salesnya.

    jadi bagaimana ini bung, main kontraknya sudah dittd.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertama2, belum, kelihatannya kontraknya belum di-ttd.

      Perusahaan makelar Rostec biasanya akan selalu cepat mengumumkan, bahkan seringkali mendahului kontrak. Tetapi sejauh ini, belum ada pernyataan apa2.

      Beberapa media berita juga sudah cepat menunjuk:

      "Kelihatannya skema pembayarannya belum jelas."

      Delete
    2. Yang kedua, transaksi barter itu BUKAN offset, melainkan ALAT PEMBAYARAN.

      Offset, dan alat pembayaran memang sekilas mirip, tetapi berbeda jauh.

      Dalam skema offset, penjual seharusnya melakukan investasi balik dari berapa % nilai total harga pembayaran yang sudah disetujui.

      Seperti contoh artikel lama disini:
      Seandainya dahulu kita membeli Mirage 2000.

      Perancis menawarkan alih produksi sampai 30% komponen Mirage bisa diproduksi di Indonesia -- ini artinya mereka mengajarkan cara produksi, dan menginvestasikan kembali 30% harga beli Mirage ke industri Indonesia.

      Kemudian, mereka juga menawarkan menambah kuota total import barang dari Indonesia sebesar 75% dari nilai kontrak Mirage.

      Perhatikan kedua point ini!
      Artinya, kita membayar harga penuh untuk 12 Mirage 2000, mungkin dngn bantuan paket financing dari Perancis.

      Sebaliknya, Perancis menhinvestasikan kembali kemampuan produksi 30% Mirage ke jalur produksi IPTN (waktu itu), dan industri lokal.

      Kedua, Perancis juga akan membayar pembelian import 75% produk Indonesia ini, juga dengan uang.

      Ini yang dinamakan offset.
      Indonesia keluar uang untuk membeli, Perancis menimpali balik dengan investasi offset.

      Kita tidak melihat ada skema yg sama dalam kasus sandiwara Sukhoi.

      Dalam era keterbukaan Abad ke-21 ini, coba saja kita mencari sendiri:

      Sejak kapan Russia pernah memberikan offset transaksi ke negara lain?

      Ini bahkan tidak pernah terjadi di India.

      Mereka justru dipaksa membayar 25% lebih mahal untuk merakit Su-30MKI dibanding mengimport mentah dari pabrik Irkutsk. Mereka juga hanya memperoleh kemampuan merakit dari knock down parts yg sudah disediakan.

      Tidak ada Alih tehnologi, walaupun total pembelanjaan India untuk alutsista buatan Russia nilainya puluhan milyar $$, dan seharusnya sudah menjalin hubungan kerjasama erat sejak tahun 1962.

      Mana mungkin kita yg negara pembantai komunis, yg nilai transaksinya kecil, dan dianggap sekutu dekat US bisa mendapat tawaran yg lebih baik?

      Kelihatannya, ada yg berbohong, atau sudah ditipu, bukan?

      Delete
    3. Maaf, sedikit ralat utk diatas:

      Perancis menawarkan produksi 25% komponen Mirage, dan membeli senilai export Indonesia senilai 80% dari nilai kontrak.

      Total 105% offset, atau sudah melebihi kewajiban UU no.16/2012.... di tahun 1986.

      Delete
    4. Dalam transaksi barter, seperti sudah dijelaskan dalam artikel sebelumnya, sebenarnya BUKANLAH alat pembayaran yg baik.

      Sekarang bayangkan saja sendiri:

      Anda hanya mempunyai uang Rp 50 juta, tetapi ingin membeli Rp 100 juta, dan sisanya mau barter.

      Si penjual, sama seperti Rostec yg hanya berurusan dalam bisnis alutsista, tidak akan menginginkan barang untuk ditukar, tetapi uang.

      Si penjual akan menunjuk anda ke tukang gadai, bukan?

      Kita sudah tahu kalau nilai gadai barang apapun, ya, sudah pasti diketok murah. Harga menebus nanti juga sudah pasti lebih mahal.

      Tetapi apa boleh buat, bukan?
      Anda akan harus menanggung rugi, mungkin bisa mencapai tambahan 50 juta diatas harga 100 juta.

      Dalam transaksi barter, sama seperti contoh si pak tukang gadai:
      Mereka akan mempunyai HAK PENUH untuk menentukan harga barang yg mau ditukarkan!

      Dalam kasus Su-, tentu saja Rostec BERHAK memilih komoditas yg mereka maui, dengan harga yg mereka patok sendiri.

      Ini bukan offset, melainkan cara pembayaran orang bokek.

      Nilai offset dari transaksi ini akan 0%, malah seperti di India, kita hanya akan dipaksa membayar semakin mahal, dan terus semakin mahal lagi.

      Bukan tanpa alasan, bukan, kalau sebelum tragedi barter yg pertama di tahun 2003, belum pernah ada penjual yg menawarkan transaksi barter?

      Kenapa Lockheed-Martin, Saab, Eurofighter, dan Dassault sudah menjawab RFP pespur TNI-AU, tetapi tidak ada yg mau menawarkan transaksi barter?

      Karena keempatnya MENGHORMATI Indonesia. Mereka tidak mau memulai kontrak dengan memoroti kita. Bukan karena mereka tidak bisa.

      Mana ada dewasa ini transaksi ratusan juta $$ dengan barter?

      Seharusnya menggunakan skema offset seperti tawaran Perancis, dimana uang yang menjadi mekanisme pembayaran resmi, bukan pemerasan harga barter.

      Delete
  3. bung DR.

    untuk main kontrak sudah di ttd, sisanya tinggal kesepakatan antara rostec dgn pt ppi.

    sedangkan rostec sendiri masuk dalam blacklist, daftar perusahaan yg as beri sanksi.

    kalau menurut saya tdk ada manfaatnya mau ttd kontrak atau tidak, toh sama saja.

    lalu side deal yg senilai 35% dari $1140 juta adalah ... $399 juta, jika dilihat dengan uang $399 juta indonesia akan mendapat pelatihan mekanik, disini rusia tidak menjelaskan akan membangun sistem perbaikan pespur, MRO.
    1. uang sebanyak itu hanya utk pelatihan mekanik, apa tidak korupsi ?
    2. rusia hanya berjanji melatih mekanik dan memberi perawatan (mungkin maksudnya garansi)......tidak ada tulisan MRO, yg jadi masalah kenapa fansboy rusiyah malah sering bilang MRO, fansboy rusia sepertinya bingung, kepala sukunya juga bingung, menulis MRO tapi tdk ada janji rusia memberikan MRO.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja.

      Sebelumnya hanya ada MoU, bukan kontrak resmi yg sudah mengikat.
      Sekali lagi, makelar Rostec belum membuat pengumuman resmi.

      Mengenai janji MRO... Ini tidak akan menjadi offset,
      Karena kalau mau, kita akan harus membayar tambah, seperti fasilitas MRO di India, Vietnam, dan Malaysia.

      Jangan lupa, supplier ini senang mengobral janji, tetapi hampir tidak pernah menepati!
      Tentu saja, kecuali India, mayoritas negara yg pemerintahnya non-demokratis, dan lebih korup tidak akan ada yg protes.

      Sekali lagi offset transaksi ini nilainya 0%, dan akan membuka pintu lebar untuk setiap transaksi alutsista berikutnya H A R U S melalui perantara.

      Yang menjadi pertanyaan, nilai offset kita ke Russia akan menjadi minus berapa ratus persen?

      Setelah, misalnya fasilitas MRO itu, taruh kata selesai, tetap saja tidak ada alih tehnologi, dan kita mungkin sudah kecolongan hampir $3 milyar, dengan persentase terbesar akan membayar komisi.

      Tentu saja, semua negara lain sudah tertawa sendiri.
      Mereka melihat kalau kita mengoperasikan pesawat yg diluar kemampuan finansial sendiri.

      Efek gentar nihil kalau punya barang, tidak ada uang untuk mengoperasikan.
      Tidak hanya itu, secara tehnologi, AU kita hanya akan tertinggal puluhan tahun ke belakang, krn uang yg sedikit akan dihamburkan untuk membayar perantara.

      Delete
  4. Pemberitahuan Ulangan
    ====================


    Sejauh ini, website resmi Rostec, ataupun semua media berita propaganda Kremlin BELUM ADA yg meng-konfirmasi pernyataan sepihak kita kalau kontrak sudah ditandatangani 15-Februari-2018 yang lampau.

    Kelihatannya, kebiasaan mengumumkan kontrak ini adalah peninggalan kebiasaan buruk "asal beli alutsista" dalam 15 tahun terakhir.

    Tentu saja, bukan tidak mungkin, tragedi AW101 akan terulang kembali disini, dan kontraknya memang sudah di-ttd di bawah meja.

    Di lain pihak, Rostec akan jauh lebih berhati-hati dibanding Augusta-Westland.

    Secara tehnologi, AW101 bisa dianggap kurang relevan; sedangkan Su-35K, walaupun seberapa banyaknyapun downgrade-nya, akan menjadi tambang emas untuk intelijen Barat.

    Kalau Su-35K tiba2 bisa delivery tanpa kontrak resmi, dan seperti AW101 MSN-50248 lantas dikurung di Halim; kemungkinannya cukup besar kalau pemerintah US akan menawarkan membeli kedua unit ini dari tangan kita... dengan harga premium.

    Tidak seperti di berita tempo hari, US dan Australia tidak akan khawatir dengan akuisisi Su-35K, melainkan mereka akan SENANG SEKALI.

    Inilah salah satu faktor lain kenapa alih tehnologi hanya akan menjadi seperti katak merindukan.... matahari.

    Untung tak bisa dapat, kalau tidak ya, terbakar sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Logika sederhana disini yang belum bisa dipecahkan para Durna, dan para fanboyz:

      Letak geografis Indonesia TIDAK MEMUNGKINKAN untuk bisa menjadi negara sekutu Russia.

      Mau Sok Kenal Sok Dekat sebagaimanapun, bahkan dengan asumsi pembantaian PKI di tahun 1965 tidak pernah terjadi, dan kalau kita sudah menjalin hubungan persahabatan erat sejak masa Orde Baru; ini tetap saja tidak bisa terjadi.

      Letak geografis kita dikelilingi oleh semua negara sekutu US.

      Bahkan di tahun 1960-an saja, Uni Soviet sudah melihat kenyataan ini, dan sebenarnya sungkan untuk memberi kredit ke Indonesia, seperti ke Mesir, yg mendapat ratusan MiG-21.

      Apa yg terjadi kalau misalnya, Indonesia benar menjadi negara sekutu Russia, s3perti mimpi "anti-embargo" para durna?

      Kalau sampai terjadi konflik, setiap negara tetangga dengan mudah akan bisa memblokir supply spare part dari Russia.

      Cukup 1 kapal induk US di LCS, dan 1 lagi di Samudera India, sudah cukup untuk memberlakukan embargo militer spare part Russia ke Indonesia, walaupun Rostec-nya tidak keberatan menjual.

      Untungnya, semenjak dahulu, kita bisa selalu menganggap diri sebagai sahabat US, Australia, Jepang, Korsel, negara2 Timur Tengah, ASEAN, yang semuanya selalu lebih dekat ke Washington DC, daripada ke Moscow.

      Delete
  5. nampaknya agak semrawut bung dark, rusia mash belum memilih produk jadi , sementara pihak kemendag tak mau serahkan bhan mentah ke rusia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus kalau begitu.

      Kelihatannya, Kemendag tidak akan menyangka kalau harga barang komoditas yg hendak ditukar, harganya akan dipukul jauh di bawah harga pasar.

      Ingat, Rostec bukan perusahaan jual komoditas(!!!!)

      Bayangkan kalau kita di posisi Rostec, dan orang mau membeli dengan menukar barang!

      Apa yang anda akan lakukan?

      Anda akan menghubungi perusahaan lain yg memang mengurus komoditas, bukan?

      Rostec akan mau mengetok profit margin atas komoditas yg mereka oper ke perusahaan agen Ruski yg lain ini.

      Si Agen komoditas Ruski juga harus menjual kembali komoditas ini ke market Russia, bukan?

      Mereka juga perlu mengetok keuntungan dong.

      Jadi harga komoditas yg mau ditukarkan harus diketok terlebih dahulu, agar bisa mengakomodasi jasa penjualan / profit Rostec, dan agen penjual komoditas di Russia.

      Tentu saja, ada kemungkinan komoditas ini kemudian dijual lagi ke pasar internasional... dengan profit, yg seharusnya masuk ke kantong Kemendag RI.

      Transaksi barter itu hanya nama lain dari transaksi penipuan. Salah satu pihak sudah pasti akan harus menaggung rugi berat, karena barangnya tidak akan dinilai secara adil.

      Inilah kenapa masyarakat umum, semenjak ribuan tahun yg lalu sudah memperkenalkan alat tukar yang SAH, untuk mencegah transaksi barter.....

      ....namanya U-A-N-G !!!

      Delete
  6. Pendapat admin soal YF-23 Black Widow II dan Boeing X-32?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini sebenarnya 2 kompetisi yg berbeda untuk konsep pespur masa perang dingin, jadi secara tehnis, karena dunia dan situasi konflik sudah berubah, bahkan F-22, dan F-35 sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman.

      ## Kompetisi Advanced Tactical Fighter (ATF) memperbandingkan Lockheed / Boeing / GD YF-22, dan Northrop / McDonnell-Douglas YF-23 untuk pespur superior, katanya, "pengganti F-15".

      YF-23 disebut dapat terbang supercruise lebih cepat, dan lebih stealthy vs YF-22; tetapi kemampuan manuever YF-22 sedikit lebih unggul -- keduanya sama memakai TVC.

      Kalau kompetisi ATF boleh dibilang lebih sebanding antara dua kontraktor utama yg memang berpengalaman dengan desain stealth...

      ## Kompetisi JSF antara Boeing X-32, dan Lockheed X-35 sudah berat sebelah dari awal.

      Boeing tidak pernah membuat desain stealth, sedang Lockheed sudah memetik pengalaman dari begitu banyak "black projects" di Skunks Work, yg dilakukan secara rahasia di Area 51 -- mulai dari SR-71, F-117A, dan tentu saja... semua konsep studi awal untuk membuat pespur V/STOL yang bisa terbang supersonic.

      Dengan kata lain, Lockheed mempunyai lebih dari 30 tahun pengalaman, dan investasi pemerintah US vs Boeing.

      X-32 tidak pernah punya banyak harapan vs X-35.
      Desainnya, disebut kurang matang vs desain Lockheed -- yg memang sudah memperhitungkan konsep F-35B V/STOL sejak tahun 1980-an.

      Delete
    2. Admin,Kalo seandainya YF-23 Menang dalam komptetisi ATF seperti apa nantinya?

      Delete
    3. Imho, sama saja.

      Semua masalah yang sudah melanda F-22 tidak akan bisa dihindari F-23:

      ## Harganya akan terlampau mahal, dan karenanya jumlah produksi akan dipotong
      ## Biaya operasional tetap saja akan 2 x lipat F-15, karena stealth coating akan membutuhkan perawatan khusus
      ## Tidak diperlengkapi dengan IRST
      ## Semakin lama, akan semakin sulit di-upgrade, karena core architecture-nya masih bertumpu ke processor 25MHz.

      Perbedaanya akan dari segi prosedural.
      Mungkin F-23 akan lebih mengoptimalkan strategi untuk mencoba menyerang dari sudut yang tidak terduga, untuk memanfaatkan kelebihan lebih sulit terlihat radar.

      ..... tetapi IRST modern, seperti Pirate captor, Spectra OSF, dan Skyward-G akan mempunyai sudut pandang luas untuk bisa mencari raksasa seukuran F-22 / F-23 dari jarak 60 - 70 km.

      Dan seiring perkembangan signal processing, kemungkinannya IRST Eropa akan terus bisa melihat semakin jauh, dan semakin jelas.

      IMHO, stealth fighter tidak akan relevan kalau tidak didampingi non-stealth F-15, dan F-16 untuk "memikat" radar lawan, dan memungkinkan pesawat stealth bersembunyi.

      Kalau semua AU NATO sudah memakai F-35, ini hanya akan mengajarkan semua negara lain untuk terus memajukan tehnologi sensor pasif untuk bisa melihat stealth.

      Inilah kenapa secara tehnis, terlalu mengandalkan stealth adalah konsep yang sudah kadaluarsa dari pertama dicetuskan.

      Delete
  7. Gimana jadinya andai benar kita beli su35 kalo benar nih pespur boros ampun. Spt bung bilang skuadron sukhoi sudah sama biayanya dg 5 skadron yg lain. Dulu ada pejabat tni blg kedepan militer kita hrs sesuai connected centric warfare. Knapa ini gak diteruskan?? Gak guna kita cari efek gentar wong bentar lg para tetangga mi beli f35. Turut sedih bila nanti akhirnya anggaran kita goyah karna pny su35. Andai ulasan bung GI siperhatikan dan jadi pertimbangan para pejabat kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita harus kembali pada dasarnya terlebih dahulu:

      Dalam jangka pendek, kita TIDAK MEMBUTUHKAN pesawat tempur baru.

      Mana ada Angkatan Udara di dunia yang baru saja mendapat delivery 23 F-16 Block-25+, kemudian melalaikan mempersenjatai, dan memperlengkapi kedua skuadron ini sampai siap tempur, hanya demi sebisa mungkin membeli satu skuadron pespur baru lagi?

      Padahal uangnya tidak ada, makanya mau ngemis beli barter??

      Itu namanya yang ngakunya renstra, lebih dimotivasi oleh KESERAKAHAN, daripada kebutuhan.

      Tindakan ini saja sebenarnya sudah menjadi bentuk KORUPSI pertama untuk melalaikan kebutuhan pertahanan kita.

      23 F-16 Block-25+, sebagaimana sudah dibahas disini, sebenarnya termasuk F-16 modern yang spesifikasinya paling rendah dibanding milik negara lain.

      Sayangnya, ini juga karena dimotivasi oleh KESERAKAHAN: bagaimana bisa mengakusisi jumlah yg sebanyak mungkin dengan jumlah aung yang sangat terbatas?

      Nah, sekarang, untuk mempersenjatai F-16 masing2nya dengan Sniper pod, 2 AIM-9X, 4 AMRAAM C-7, dan belasan smart bomb (JDAM), dan kemudian melatih kemampuan pilot, dan mempersiapkan organsisasi AU agar dapat mengoperasikannya dengan baik -- akan membutuhkan dana senilai $500 juta sampai $700 juta, dan waktu antara 5 - 10 tahun.

      Ini masih sengaja tidak mau diurus, bukan?

      Kenapa sebabnya?

      Karena semua kontrak untuk F-16, tidak seperti Sukhoi, HARUS melalui G-to-G contract; tidak ada komisi tambahan kickback untuk para Durna!

      Kalau TNI-AU masih complain anggaran kurang, kita harus melihat terlebih dahulu gajah yang didepan mata:

      Pensiunkan Sukhoi di Sku-11 (dan buang mimpi Su-35K) yang sudah mencekak anggaran, dan tiba-tiba TNI-AU akan menjadi kaya raya!

      Delete
    2. Untuk konsep Network-centric warfare, sebenarnya untuk sementara masih terlalu jauh dari kemyataan.

      Sukhoi versi export manapun tidak akan bisa di-network -- krn dari awal tidak akan compatible dengan networking modern Barat, dan... tidak pernah dirancang untuk beroperasi dalam NCW modern, melainkan sebagai pemanjangan tangan ground control Soviet.

      F-16 Block-25+ sudah melewatkan MIDS-LVT terminal untuk Link-16 -- akan tetapi, Link-16 tidak akan bisa menjadi pilihan networking ideal untuk Indonesia.

      Lagi2 masalahnya... Ketergantungan ke penjual barang versi export. Meragukan kalau pemerintah US akan mengijinkan modifikasi ke protocol Link-16 agar lebih sesuai dengan kebutuhan Indonesia.

      Dan kita kembali ke satu-satunya solusi yang saat ini tersedia: paket lengkap dari Saab

      Kalau memang kita benar2 mau pesawat tempur baru secepat mungkin; solusi yang seharusnya paling ideal adalah:
      1. Mempensiunkan dahulu penghisap uang / pemberi makan perantara bertehnologi tahun 1980-an di Sku-11

      2. Mengambil opsi untuk menyewa 12 Gripen-C/D dari Swedia, sekaligus merencanakan jangka panjang untuk mengakuisi dua skuadron Gripen produksi baru, dan 4 pesawat Erieye-ER.


      Mempensiunkan Sukhoi, sekali lagi akan membebaskan anggaran pertahanan yg terbatas untuk diinvestasikan kembali ke kebutuhan yang lebih nyata,
      Sedangkan rencana mengakusisi 11 tambahan barang kuno, hanya akan memuntut anggaran yang besarnya DUA KALI LIPAT, tanpa ada hasil kemajuan apapun.

      Kenyataan:
      Gripen adalah satu2nya pespur NCW yang ada di market dewasa ini.

      Semua pespur lain, sekali lagi SEMUA, tidak pernah dirancang dari awal untuk dapat beroperasi fully-networked.
      Networking, biasanya hanya tambahan belakangan, setelah pesawatnya selesai development.

      Gripen dirancang dari awal untuk terlebih dahulu bisa beroperasi dalam sistem networking tersendiri (berbeda, dan lebih baik dibanding Link-16 NATO), bahkan sebelum prototype pertama selesai diproduksi.

      Apa kelemahan utama Gripen?
      Sama seperti F-16, kontraknya HARUS G-to-G!!

      Delete
  8. Iya maka itu sbbbya su35 yg bakal dikirim nanti versi downgred karna Rusia udah belajar dari pengalaman silam kasus mig21 yg dihibahkan satu skuadran kpd US demi skyhawk rongsokan Israel.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perihal versi export downgrade, sebenarnya kita hanya berhadapan pada suatu kenyataan sederhana:

      Sejak tahun 1945, sampai sekarang, Soviet, kemudian Russia TIDAK PERNAH menjual alutsista versi lokal untuk di-export.

      Tidak pernah ada pengecualian ke negara manapun.

      Mau beli barang apapun boleh, asalkan BUKAN versi yang dipergunakan Russia sendiri.

      Yang menjadi pertanyaan untuk negara tukang hibah MiG / aneka ragam perangkat Soviet lain, dan satu2nya tukang tumpas komunis:

      Seberapa jauh downgrade-nya???

      Versi Su-35 PRC sudah pasti di-strip-down cukup jauh untuk mencegah pencurian tehnologi, tetapi logika sederhana menunjuk kalau versi Indoneski akan di-downgrade jauh lebih rendah lagi.

      Belum lagi menghitung biaya perantara, dan kenapa biaya operasional Sukhoi mahal (warisan cara produksi jaman Soviet)

      "Inilah pilihan terbaik Indonesia," hanya menurut manipulasi para durna, atau yang sudah tertipu durna.

      Delete
  9. Perhatian untuk para komentaror web troller pro-Sukhoi, yang kelihatannya sudah mempunyai kewajiban untuk tidak boleh menjelek-jelekan Sukhoi, ataupun Kebjiaksanaan Moscow!

    Seperti sudah dilaporkan BBC, dalam artikel 16-Februari-2018 :The Tactics of Russian Troll Farms

    Praktek membuat komentar yang sepintas terlihat spontan, dan kelihatannnya "memperdulikan" Indonesia, adalah praktek yang serupa yang sudah dilakukan di negara lain, dalam rangka mendorong kepentingan politik Moscow.

    Inilah contoh dari proxy war abad ke-21, yang sepintas terlalu mudah diremehkan, atau tidak terlihat, padahal sebenarnya cukup efektif!

    ReplyDelete
  10. Bung, kira" berapa lama waktu yg dibutuhkan utk melengkapi f16 dgn iff,jhmcs,aim-9x,aim-120c,dll?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Untuk memasang JHMCS, dan IFF, harus terlebih dahulu mengajukan permintaan ke DepHan US; setelahnya pekerjaannya bisa memakan waktu beberapa bulan. Mungkin bisa dikerjakan lokal, tergantung negosiasi persyaratan kontrak.

      Dengan menambah kedua perlengkapan ini saja, sistem latihan pilot F-16 sudah berbeda jauh dengan apa yg dimungkinkan sekarang.

      ## DSCA sebelumnya sudah memberi ijin untuk kita mengakuisisi AIM-9X Block-2, dan AMRAAM C-7, tetapi selain jumlah yg dipesan terlalu sedikit, kontraknya belum di-eksekusi!

      Kalau kontraknya sudah berjalan, mungkin delivery bisa dalam beberapa minggu, tergantung jumlah yg dipesan.

      Yang menjadi masalah disini bukan hanya sekadar membeli, atau meng-upgrade, tetapi harus ada sistem pelatihan untuk bisa menguasai F-16.

      Kelihatannya, miskonsepsi yg sedang dijual ke kita adalah.... Asalkan kita membeli produk A, kita akan kuat!

      Wah, sepanjang sejarah mana ada kalau bisa punya mendadak bisa kuat?

      Pertanyaannya justru, bisa menguasai secara optimal kemampuan barang yang ada, atau tidak?

      Kalau seperti sekarang sih, boleh dibilang hanya menghamburkan uang, tanpa pernah ada hasil yang berarti.

      Mau membeli apapun juga sebenarnya mubazir.

      Delete
    2. Bung, dlm latihan" seperti elang ausindo dll apa yg biasanya diajarkan dlm latihan tsb?
      Trims

      Delete
    3. Nah, pertanyaan yang bagus.

      F-16 Block-25+ belum mempunyai targeting pod, atau Captive training missile untuk misalnya mensimulasikan operasional AIM-9X, dan AMRAAM dalam latihan.

      Pilot Australia tentu saja sudah menguasai semua kemampuan ini selama puluhan tahun.
      Kalaupun mereka mau mengajarkan juga..... Jadi tidak ada yang bisa diajarkan, karena kita tidak mempunyai perlengkapan untuk bisa belajar.

      Inilah juga kenapa artikel tempo hari "Australia gundah dengan modernisasi TNI-AU" paska mengirim Sukhoi untuk latihan Pitch Black itu juga kurang masuk akal.

      Bagaimana caranya pilot Sukhoi, yang terbang telanjang tanpa senjata, tanpa simulator, dan juga belum mengumpulkan cukup banyak jam terbang -- bisa menandingi kemampuan pilot Hornet, dan SH Australia yang sudah lama menikmati kemampuan State-of-the-art?

      Masf, tetapi apa yang namanya Renstra itu kelihatannya lebih didasari menjual mimpi belaka,
      Bukan berdasarkan realita.

      Delete
  11. Kita main tebak-tebakan bung, sewaktu Indonesia Air Show 1986, Presiden Suharto sdh duduk di kokpit Mirage sambil mengacungkan jempol. Kabarnya Mirage wktu itu bisa "terjun bebas" kemudian terbang lagi, sementara F16 tdk bisa waktu itu. Secanggih apapun Mirage dan apapun alasannya F16 lah yg akhirnya hadir.
    Sekarang, sewaktu latihan perang di Natuna Presiden Jokowi sempat duduk di kokpit Sukoi, sptnya juga sempat mengacungkan jempol, bahkan Panhlima TNI dan para Kepala Staf sempat mencicipi terbang dgn sukoi. SU 35 sdh diteken, mskpn samar samar dan kementrian perdagangan tidak mau menjual bahan mentahan untuk dijadikan barang barter. Di lain pihak Mattis sdh menawarkan 48 F 16, ini lebih realistis.
    Sama sama mengacungkan jempol dan blm pernah ada yg duduk di kokpit F 16.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Sekali lagi, semua "berita kontrak" hanya menunjuk ke pernyataan sepihak dari pembicara Kemenhan, Totok Sugiharto, 16-Februari yang lalu.

      Sejauh ini masih belum ada konfirmasi dari website resmi perusahaan makelar G-to-B Rostec, anak perusahaan mereka, Rosoboronexport, yang menangani semua penjualan barang versi export, ataupun satu juga media berita pro-Kremlin.

      Semua sumber ini hanya menunjuk ke memorandum memalukan tahun lalu.

      Kita lihat saja: kemungkinan mungkin memang ada kontrak bawah meja seperti AW-101, atau mungkin dorongan politik agar cepat ttd sebelum pemilu.

      Sekali lagi, kalau memang pesawat cepat tiba Oktober-2018... Seperti dalam artikel sudah pasti akan ada PENIPUAN.

      Kita lihat saja.
      Perjuangan kemerdekaan RI belum selesai, bukan?

      Delete
    2. Secara realita, sebenarnya kita menunjuk ke penipuan tahap berikutnya.

      ## Jumlah 11 unit itu TERLALU SEDIKIT untuk nilai biaya operasional yang optimal.
      Dalam jumlah ini, biaya OP akan melompat sekurangnya 200% lebih mahal dibanding biaya operasional yang dibayar AU Russia.

      ## Point kedua, sekali lagi, orang India yang sudah pengalaman dengan mengoperasikan ratusan Sukhoi sejak tahun 2002 sudah menunjuk satu kelemahan utama:
      Desain Sukhoi tidaklah modular, atau dalam blok komponen yang bisa dilepas, untuk diperbaiki terpisah tanpa mempengaruhi yang lain.

      Satu rusak -- semuanya rusak.
      Bahkan India saja masih melaporkan kalau mereka terpaksa harus mengirim balik mesin AL-31FP, yang sudah diproduksi ratusan unit, untuk bisa diperbaiki di Russia.

      Inilah kenapa fasilitas MRO untuk Sukhoi itu hanya mimpi yang tidak bisa tercapai.

      Untuk 11 Su-35KI, yang jumlah part-nya jauh lebih langka daripada keluarga Su-30MKI buatan Irkut, dan desainnya belum operationally-proven, biaya OP akan bisa melebihi $100,000 per jam, dan bukan tidak mungkin bisa menembus $200,000 setelah beberapa tahun.

      Ini memang hanya estimasi kasar, tetapi...

      Coba saja tanyakan biaya OP berapa?

      Resi Durna sudah pasti akan mungkir.

      Delete
    3. ## Mirage vs F-16 di tahun 1986 ??

      Sekali lagi, F-16 sebenarnya terpilih karena keputusan politik, walaupun memang benar argumennya waktu itu, toh Singapore, dan Thailand juga akan sama2 memakai F-16; lebih compatible, dan bisa lebih mudah dari segi perawatan.

      Pemerintah Orde Baru sebenarnya merasa "berhutang budi" dengan dukungan United States, dan Australia waktu itu, yang tidak keberatan menoleh ke arah lain, daripada ambil pusing Timor Timur, atau sepak terjang mereka sejak tahun 1965.

      Selama anda anti-komunis, kami akan menyingkirkan masalah HAM, dsb ke arah lain!

      Alhasil, dalam pemilihan senjata, Mirage 2000 yang tidak bisa memberikan dukungan politik yang sama sudah hampir tidak mungkin menang, walaupun sekarang kita tahu, pilihan ini akan jauh lebih menguntungkan kita, dan.... TIDAK tersedia dalam bentuk versi export!!

      Tambahan:
      Membeli Mirage di tahun 1989, sebenarnya akan memperkenalkan Magic II BVR missile, dengan Semi-Active Seeker, menjadikan TNI-AU angkatan udara kedua yang dapat mengoperasikan BVR missile di Asia Tenggara, setelah Australia.

      AIM-120A AMRAAM belum diperkenalkan sampai tahun 1992,
      AIM-7 Sparrow SARH adalah persenjataan BVR paling modern saat itu, equivalent dari Matra Magic II untuk Mirage, dan hanya bisa dioperasikan F-15, dan F-18.

      Ya, F-16 juga belum mempunyai kemampuan BVR sampai pertengahan tahun 1990-an.

      Sekarang, karena alasan kickback, para durna memilih unproven rongsokan versi export, yang biaya OP-nya terjamin lebih mahal dari F-22.

      Delete
  12. Masih canggih typhoon, rafale Dan gripen. Su35 kalah dari Radar AESA Dan sistem elektronik seperti Dass Eurofighter atau thales Spectra yg jauh lebih maju Dan canggih. Dua itu faktor dan kunci utama sesebuah pesawat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, Su-35 memang sudah ketinggalan jaman,
      karena secara tehnologi sudah dikunci sejak tahun 2005, dan selama ini industri Russia tidak terlihat bisa cukup gesit untuk mengaplikasikan upgrade secara bertahap seperti para pembuat Barat.

      Ini juga untuk versi yang lokal.

      Versi Export sudah pasti akan mendapat pengurangan kemampuan, dibanding versi S tahun 2005.

      Delete
    2. Kelemahan semua pesawat tempur buatan Soviet / Russia bukan hanya berpacu pada tehnologi, tetapi desain cockpit yang mengutamakan Situational awareness, dan kemudahan operasional pilot.

      Di tahun 1990-an, pilot2 NATO mengetes MiG-29 Versi Export ex-Jerman Timur, mereka kaget karena apa yang bisa dilakukan hanya dengan memencet satu tombol di F-16, membutukan tangan octopus untuk mengerjakan yang sama di MiG-29.

      Russia baru mulai belajar untuk membuat desain cockpit yang lebih bersaing, di tahun 2000-an awal, ketika merancang Su-30MKI dengan avionic buatan Perancis.

      Tentu saja, seperti nanti akan kita lihat dari pengalaman orang India:
      Tidak mungkin cockpit MKI bisa memberikan kemampuan memberikan informasi ke pilot, dan kemudahan operasional seoptimal cockpit Rafale.

      Inilah buah simalakamanya.
      Bukan tidak mungkin misalnya, mungkin kemampuan pilot Su-35K pada akhirnya bisa menyamai kemampuan pilot Gripen-C.

      Tetapi pilot Sukhoi akan membutuhkan sekurangnya empat sampai lima kali lipat jumlah jam latihan dibanding pilot Gripen.

      Tentu saja, biaya operasional Sukhoi paling murah 10 kali lipat Gripen.

      Biaya operasional untuk 11 rongsokan-35 downgrade sudah lebih dari cukup untuk membiayai 120 Gripen, dan 10 Erieye.

      Delete
  13. Sah sudah pembelian. Rostec dah kasi official rasmi ttng 11 su35.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hm, website Rostec berita terakhir re Indonesia menunjuk tanggal 21-Februari-2018, dan tidak ada hubungannya dengan Su-35 Versi Export:

      =====
      https://rostec.ru/en/search/?TYPE=34&q=Indonesia
      =====

      Sekali lagi juga sama.
      RBTH, dkk juga masih bungkam soal kontrak.

      Kalau memang sudah di-ttd, ya sudah!
      Kemenangan untuk para resi Durna, para majikan perantara mereka, dan semua yang memang mendapat kickback!

      Dengan demikian 80% anggaran operasional pespur TNI-AU akan disumbangkan ke Moscow.
      .... dan untuk pertama kalinya, UU no.16/2012 boleh dikatakan sudah tidak lagi relevan.

      Kita lihat saja; seperti kebiasaan para penjual versi export, mereka akan mulai menekan posisi politik luar negeri kita agar lebih mendukung kebijaksanaan Moscow.

      ....ini walaupun mayoritas persenjataan kita sebenarnya tetap saja... buatan US, atau Eropa;
      Tetapi barang kuno ini akan menjadi harta karun kesayangan.

      Misalnya, mungkin Indonesia mau mengubah posisinya agar mendukung pencaplokan semenanjung Crimea?

      Aneh, bukan?

      Saab menawarkan Gripen Made-In-Indonesia, tanpa pengurangan spesifikasi, dan jaminan kedaulatan penuh,
      .... Eh, yang terpilih malah rongsokan versi downgrade import mentah?

      Delete
    2. Jadi ini sdh sah bung? Mgkn USA juga akan bertindak, misalnya otak atik mslh HAM , up grade F16 dlsb, USA mgkn juga tdk ingin kehilangan pasar bung...

      Delete
    3. Website Rostec belum menyebut apa2.

      Delete
  14. Beritanya tanggal 27 Feb 2018, bukan tanggal 21. Pengesahan pembelian 11 unit su35 oleh Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk yang kesekian kalinya -- sejauh ini SEMUA sumber berita Ruski belum ada yng mengumumkan ttd kontrak.

      Kelihatannya strategi durna adalah membuat kebingungan dahulu.

      Sekali lagi,
      Sebenarnya Russia SANGAT SUNGKAN untuk menjual Su-35K ke Indonesia

      Kenapa demikian?

      1. Hutang politik masa lalu -- membubarkan PKI, menghibahkan bermacam perangkat Soviet ke US -- semuanya ini masih menghantui.

      2. Russia juga sebenarnya tidak mempercayai, misalnya, PRC, setelah pencurian tehnologi Sukhoi, tetapi paling tidak kepentingan politik keduanya masih cukup sejalan -- menantang dominasi US di ajang politik, militer, ekonomi, dan sosial.

      Indonesia tidak pernah berada dalam posisi yang sama. Semenjak tahun 1967, keadaanya tidak pernah berubah.
      Kita adalah negara sahabat US, dan Australia -- bukan Russia, atau Vietnam.

      3. Ok, kalaupun skrg kita tidak akan menghibahkan Sukhoi...... Biar bagaimana security risk untuk Cy-35 di Indonesia tetap saja akan TERLAMPAU BESAR dibandingkan di India, Malaysia, ataupun PRC.

      Tidak hanya persahabatan regional kita, tetapi letak geografis kita juga terlalu jauh.

      Intelijen Barat sudah pasti akan mendapat kesempatan utk mempelajari model export ini Cy-35 dari dekat. Ini akan membuat Russia merasa diri sangat rentan.

      Bahkan di tahun 2003, bahwasanya mereka hanya menawarkan model yg terlalu kuno -- Su-27SK, dan Su-30MK juga memperlihatkan betapa mereka tidak mempercayai kita.

      4. Terakhir, masih ada rintangan Alih tehnologi.

      Kenapa Ruski mau "berkorban" berpikir alih tehnlogi, offset, dsb ke Indonesia?

      Padahal Myanmar saja baru saja menadatangani kontrak untuk 6 Sukhoi, tanpa perlu pusing masalah yg sama, dan tanpa perlu transaksi barter.

      Ini kenyataan terakhir:
      Negara kita sudah tidak sesuai dengan profile tipikal pelanggan negara pembeli Sukhoi

      Dalam hal ini, bahkan India saja sudah menyadari kalau Su-30MKI hanyalah suatu kesalahan.
      Mereka hanya diporoti Russia, tanpa pernah bisa mendapat apapun yg berarti.

      Tidak ada alih tehnologi di India; kalau bisa ada di Indonesia itu namanya..... B O H O N G

      Delete
    2. Contoh kontrak Myanmar:

      ======
      https://www.defensenews.com/global/asia-pacific/2018/01/23/russias-flanker-jet-sales-prosper-with-myanmar-buy/
      ======

      Baik Russia, atau Myanmar sama2 sudah membuat pengumuman resmi, walaupun detail kontrak belum jelas.

      Kita belum melihat sesuatu serupa terjadi disini.

      Tetapi kalau memang terbeli, ya, sudah.
      Sayang kerugian negara yg luar biasa hebat, tapi apa boleh buat?

      Delete
  15. Banyak yg tertipu dgn radar su35 irbis e ini. Memang benar bisa deteksi 400km. Ops.. tunggu dulu, jgn silap. 400km itu untuk deteksi kapal kapal besar tanker seperti kontena dan minyak Dan psawat komersial kaya aibus an Boeing. Tapi klu pesawat kaya gripen, f16 dan rafale yg punya rcsnya kecil. Radar su35 baru bisa deteksi keberadaan nya pada jarak 90-100km. Sedang Kan pesawat seperti gripen, rafale, tyhpoon dan f16 yg mengunakan radar ASEA yg tiga Kali lebih baik Dan canggih bisa mendeteksi keberadaan su35 pada jarak 150-200km. Missile meteor menjadi ancaman bagi Su35 Dan 60km no escape zone.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua angka yang dipublikasikan, atau sering disebut para durna fanboyz, adalah untuk estimasi kemampuan radar Irbis-E versi lokal, bukan radar Irbis-E versi export, yang kemampuannya sudah dikurangi.

      Biasanya penjual versi export akan mengurangi kemampuan radar untuk versi export antara 30 - 40%.

      Irbis-E versi lokal bisa melihat target seukuran 3 m2 dari jarak 400km -- tetapi tentu saja, gelombang radarnya akan terlihat di layar Defense Suite modern, yang akan bisa mengalokasikan posisi Su-35 dengan akurat.

      Versi export akan memotong angka ini ke maksimum 300 km untuk target 3 m2.

      F-16 tidak akan terlihat sampai jaraknya kurang dari 100km;

      Gripen, yang RCS-nya 1/10 dari F-16 tidak akan terlihat sampai jaraknya kurang dari 60 km.

      Sebaliknya, Gripen-C akan dapat melihat Su-35K berukuran RCS raksasa, dari jarak 400km, atau kalau pilot lawan cukup bodoh utk menyalakan radarnya twrlebih dahulu; akan dapat mentriangulasi posisi Sukhoi dari gelombang feedback yg dibava radar PS/05, dan RWR suite -- yang terkoneksi dalam TILDS Network untuk meningkatkan akurasi.

      RVV-AE, karena tidak pernah di-tes, atau dipakai AU Russia, kemampuan kill-nya seperti satu banding puluhan juta. Dan jarak jangkau efektifnya hanya 30km, atau sebanding dengan AMRAAM-A tahun 1992.

      AMRAAM C-7 adalah generasi ketiga BVRAAM dengan homing-on-jammer, dan jarak jangkau melebihi 100km.

      MBDA Meteor mempunyai No Escape Zone tiga kali lipat dibanding AMRAAM-B, dan jarak jangkaunya dirahasiakan, tetapi bisa melebihi 200 km.

      Pilot Sukhoi yang kurang latihan berkat biaya OP mahal, tampa ada simulator, dan dengan perlengkapan "jaminan mutu" MUSTAHIL bisa mengungguli... jangankan Gripen-C; F-16 Block-25+ saja akan jauh lebih unggul.

      Delete
  16. Emang bener2 susah ya ngasih tau orang yg udah kena "racun" su-35. Meskipun memang saya masih belum bisa menjelaskan kekurangan sukhoi dengan baik, tapi emang terlihat fanboyz sukhoi emang kebanyakan alesannya. Gak jarang di IG saya bales komen2 mengenai su-35 dengan logika yg sekiranya cukup mudah dipahami. Tapi ya begitu lah.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dalam Internet, kita tidak tahu pasti siapa yang posting, bukan?

      Kalau melihat tingkah laku tipikal Sukhoi fanboyz, sebenarnya ini menunjuk ke gejala web troller, yg mungkin hanya pemanjangan tangan para agen perantara yg akan meraup keuntungan besar dari kontrak Sukhoi.

      Perhatikan saja tipikal argumen pro-Sukhoi troller:
      # Memakai bumbu perasa "NKRI", atau "Insya-Allah!"
      # Anti-Embargo
      # Efek gentarnya akan "terasa", dan membuat kita "ditakuti"
      # Kalau negara Barat, akan mendikte HAM; nanti kita tidak bisa pakai membom pemberontakan daerah.

      Nah, kemudian perhatikan strategi2 berikut:
      # Caci-maki untuk siapapun yang tidak mendukung Sukhoi
      # Sebisanya sabotase setiap diskusi factual, dengan komentar picisan "Sukhoi stronggggg...."
      # Tidak pernah, dan tidak akan berani membahas kelemahan2 Sukhoi, atau kejelekan Russia
      # G-to-G contract, atau UU no.16/2012???

      (Haahahahahahahaha......)
      :D

      Nah, sekarang kita bisa menebak:
      sebenarnya para fanboyz ini berpihak ke siapa?

      Seperti sudah dibahas dalam artikel BBC ini:
      The practice of Russian Troll farm

      .... Boleh dibilang tingkah laku para Sukhoi fanboyz, mirip dengan praktek seperti "beberapa pendukung Trump" di US... yang ternyata disponsori langsung dari Moscow.

      Dalam hal ini, fungsi fanboyz adalah untuk menekan kita agar cepat ttd kontrak.... yang akan jauh lebih menguntungkan dari segi biaya operasional, bukan harga beli.

      Sama seperti di US, mereka akan berlaku seolah2 "peduli" dengan kebutuhan lokal, padahal tujuannya hanya untuk sebisa mungkin merubah, atau meracuni opini umum.

      Inilah yang dimaksudkan dengan Proxy War Abad ke-21.

      Kita tidak perlu lagi bertempur dengan senjata; melainkan di dunia maya untuk bisa menekuk opini awam agar mengikuti kemauan kita.

      Sy sudah melihat dari lama -- untuk para hardcore Sukhoi troller; mereka TIDAK AKAN PERNAH mau mendengar logika, atau membuat diskusi sehat.

      Tangan mereka selalu terikat ke belakang, karena mereka TIDAK AKAN PERNAH MAU membahas kelemahan2 Sukhoi.

      "NKRI harga mati! Sukhoi stroonggggggg!"

      Tujuan merka hanya sebagai pemulus kontrak semata. Titik.

      Delete
  17. Sebelum kita membahas Alih tehnologi, dsb, yang tidak akan mungkin terjadi;

    Artikel berikutnya akan membahas
    kenapa biaya operasional Sukhoi mahal,
    Kenapa Su-35 akan lebih mahal dari Sukhoi Sku-11,
    Kenapa su-35 hanya akan merobek anggaran yg tersedia,

    ReplyDelete
  18. trans barter su 35 ,trnyata diprotes netizen rusia. Mereka beranggapan su 35 tdk pantas di beli dngan cara barter, lg lg kita di rendahkan org rusia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang yang namanya transaksi barter itu SANGAT MEMALUKAN!.

      Untuk kita seperti menjual kedaulatan, sekaligus minta dikerjain oleh para agen perantara.

      Untuk pihak penjual Ruski, yah, memang menghina harga diri mereka juga.

      Masakan pespur versi export terbaik mereka hanya akan dihargai dgn transaksi barter??

      Kontrak yang lebih besar dgn PRC, Venezuela, Vietnam, dan Aljazair tidak pernah diperlakukan sama kok.

      Myanmar saja masih pakai kontrak financing biasa utk beli 6 Sukhoi.

      Semuanya nggak ada yang ngelunjak masih minta ToT pula!

      Kelihatannya ada perselisihan internal di Russia juga:

      Antara potensi mengeruk keuntungan sebesar mungkin (memoroti kekayaan Indonesia) vs harga diri nasional, dan resiko politik.

      Ya, penjualan ke negara demokratis Indonesia akan jauh lebih beresiko tinggi dibanding ke Myanmar, atau ke Vietnam.

      Delete
  19. Pendapat admin soal Wajib Militer?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini sudah dibahas dalam artikel sebelumnya.

      Untuk kebanyakan negara, boleh dibilang sudah tidak relevan dengan perkembangan jaman.

      Hanya untuk Israel, Taiwan, dan Korea Selatan -- boleh dibilang wajib militer masih menjadi kebutuhan nasional.

      Delete
  20. Well, Untuk Pesawat Tempur Swiss

    Switzerland Memilih F/A-18C/D ketimbang Mirage 2000 karena Strukturnya Kuat sehingga membuatnya bisa Melakukan Pendaratan di Jalan raya seperti halnya Gripen dan Viggen

    Mirage IIIS dan Mirage IIIRS yang Strukturnya Cocok utk fighter Carrier based juga demikian, yang juga sering diterbangkan dan landing di Jalan biasa

    Sebenarnya Switzerland Ingin Membeli Gripen utk pengganti F-5E, sayangnya dibatalkan karena tidak disetujui, padahal sebenarnya Utk AU Swiss Gripen C/D cocok mengingat Pilot AU Swiss Suka Berlatih Take Off dan landing di jalan dekat perkampungan bahkan jalan raya, dan juga cocok utk dipakai dalam waktu jangka panjang.

    Dan satu hal lagi utk Indonesia :

    Indonesia seharusnya belajar dari Singapura dan Swiss, yaitu harus mencari pesawat tempur yang paling cocok untuk tugas yang akan diemban, dapat diandalkan dan tidak memberatkan dalam jangka panjang

    ReplyDelete
    Replies
    1. ... dan kita sudah tahu, kalau Gripen adalah satu2nya pesawat tempur, yang tidak hanya lebih baik / modern daripada F-16, tetapi juga satu2nya yang memenuhi kebutuhan, pilihan yang berdaulat, dan ditawarkan untuk produksi lokal.

      Kita sudah berceloteh tentang Network-Centric-Warfare, kebutuhan menjaga setiap ALKI dengan pesawat tempur yang "bisa hadir dimana saja".

      Para agen sales Resi Durna masih belum berhasil membuktikan produk favorit kesayangan mereka, yg diperjuangkan lewat transaksi barter memalukan.... bisa mengerjakan semua di atas.

      Gripen bisa mengerjakan semua dengan biaya yg jauh lebih murah, dengan kemampuan yg jauh lebih unggul dalam segala hal.

      Apalagi jika dibanding rongsokan versi export downgradre abish.

      Delete
  21. Admin,apakah Vietnam Utara didukung oleh Swedia?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pendukung utama Vietnam Utara adalah Uni Soviet, dan PRC.

      Dalam masa perang dingin, komunisme dinilai sebagai iblis besar pengancam keamanan, dan kestabilan dunia.

      Pandangan perang dingin ini masih mirip dengan pandangan masyarakat kita thd komunisme dewasa ini.

      Tentu saja, orang Russia masih terus mengenang masa kejayaan di era komunis Soviet.

      Delete
  22. bung dark , jika dibndingkan missile/rudal MBDA Meteor vs Rudal rusia versi lokal kira2 mana kah yg unggul menurt speknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, inilah yg menggelikan.

      Seperti bisa dilihat dari semua foto Sukhoi AU Russia; baik di atas laut Baltic, ataupun di Syria:

      Missile BVR andalan AU Russia hanyalah "missile rongsokan R-27"(artikel War-is-boring)

      Tidak ada BVR missile pilihan lain.

      Kecuali untuk prop dalam acara MAKS airshow, missile Amraamski R-77 itu <b>sebenarnya BELUM ADA</b> , alias hanya proyek gagal.

      Kenapa R-77 disebut AMRAAMski?

      Pengetahuan umum:
      Di tahun 1990-an, AMRAAM masih sama sekali baru, dan seperti biasa US tidak menjual bebas versi-A, atau -B ke sembarang negara.

      Russia, yang ekonominya waktu itu terpuruk post-bubarnya Soviet, kemudian menjual RVV-AE atau versi export dari R-77, ke India, dan PRC -- mengiklankannya sebagai "amraamski".

      PRC, dan India senang.. karena waktu itu mereka berpikir bisa memperoleh missile yg bisa "menandingi" AMRAAM.

      Tentu saja ini sudah 20 tahun yg lalu, dan skrg AMRAAM sudah berevolusi jauh sejak tahun 1990-an, dan dibeli banyak negara, sedangkan RVV-AE?

      Ya, sama saja seperti versi yg dijual ke PRC, dan India.

      Para pendukung Su-35K sebenarnya kesengsem membeli versi export dari missile kuno tehnologi 1980-an, yang development-nya tidak pernah selesai.

      Dengan anggaran pertahanan yg kurang dari 10% anggaran US, atau tidak jauh lebih besar daripada UK, Perancis, atau Jerman, secara realita Russia sudah tidak lagi mempunyai dana untuk membuat BVR missile baru... yang bisa menandingi AMRAAM.

      Belum lagi menghitung kalau korupsi anggaran Russia bisa mencapai 10%, dan mereka masih harus mengalokasikan dana untuk memelihara, dan meng-upgrade ribuan hulu ledak senjata nuklir mereka.

      Tehnologi guidance Meteor BVRAAM boleh dibilang sebanding dengan AMRAAM-D, dengan keunggulan propulsion ramjet untuk meningkatkan No-Escape-Zone tiga kali lipat vs solid rocket AMRAAM.

      Inilah kenapa.... Sukhoi versi manapun hanya akan dibantai dalam pertempuran BVR modern.

      Oh, ya... kita juga belum lagi menghitung kalau pilot Russia manapun paska berakhirnya perang dingin, juga.....tidak lagi mempunyai pengalaman latihan BVR yg memadai, apalagi pernah mencoba berlatih melawan AMRAAM standard NATO.
      Mereka sama sekali tidak tahu kemampuan AMRAAM.

      Boleh dibilang pilot Su-35S AU Russia sekalipun akan berkeringat dingin kalau dalam konflik terbuka dipaksa menghadapi pilot F-16 MLU AU Belanda, atau pilot F-18F Australia.

      Tunggangan, ataupun persenjataan mereka sudah tidak lagi memadai.

      Untuk versi export haram, mimpi buruk ini tinggal dikalikan puluhan juta.

      Kita hanya akan menghamburkan triliunan Rupiah untuk memborong efek gentar terjamin nihil.

      Delete
    2. Inilah kenapa seperti sudah dijelaskan dalam artikel

      Kenapa banyak Negara membeli Alutsista versi export.

      Siapa yang masih memasok senjata dari Russia?

      ## Sejarah masa lalu seperti India

      ## Faktor pernyataan politik, terutama oleh negara2 Timur Tengah

      ## ... atau karena tidak ada pilihan lain, seperti Vietnam, Venezuela, atau PRC.

      Dewasa ini, kita bisa mihat dari daftar Transparancy International:

      Rata2 negara pembeli senjata buatan Russia / PRC adalah negara yang lebih korup daripada Indonesia, dengan pemerintahan yg non-demokratis.

      Kita tidak perlu mengulangi kesalahan yg sama.

      Delete