Sunday, January 7, 2018

Memahami Agen Sales Alutsista

Gripen 39-8  Credit: Saab
Kita sering mendengarkan istilah "agen sales" yang diumbar dalam terlalu banyak formil Indonesia.

Sebelum asal bunyi; memangnya apakah kita mengetahui pengertian dari kata "agen sales" dalam konteks alutsista?

Dasar pengertian agen sales adalah si penjual yang bekerja untuk suatu perusahaan, dan menerima komisi dari hasil penjualannya. Dalam konteks alutsista, agen sales bisa datang dalam bentuk, rupa, atau pangkat apapun. Yang menarik, setiap negara biasanya mempunyai agen sales yang bekerja untuk kepentingan negara lain, terlepas dari kontraknya G-to-G, atau bukan. Mereka dapat dimotivasi oleh keuntungan finansial (komisi), kalau memakai perantara, atau perhitungan pemerasan politik. 

Prioritas utama "agen sales" biasanya adalah pembelian produk import, secepat mungkin, dan tanpa perlu pusing membuat perhitungan apapun. Yang paling penting, prioritas utama si tukang obat adalah untuk menjual mimpi dengan obat yang pasti tokcer. Sekali tegak pasti sembuh!

Kebutuhan negara, dan rakyat? Tunggu dulu. 
Mari belajar mengenali beberapa ciri khas istimewa dari para agen sales dalam akusisi pesawat tempur, dan mari kembali memprioritaskan perhitungan "Indonesia First!"

Pertama: Kompetisi Alutsista harus selalu terbuka

Contoh Kriteria Evaluasi AU Swiss yang membandingkan Ketiga Eurocanards
(Gambar: AINonline)

Apakah pernah ada studi yang sama di Indonesia?
Indonesia First.

Bukan supplier asing.

Memilih single-sourcing supplier adalah mimpi indah dari setiap agen sales, dan semua antek-antek online mereka. 

Single-sourcing tanpa adanya kompetisi terbuka T I D A K  A D I L untuk seluruh rakyat setiap negara. Tanpa adanya kompetisi terbuka untuk memperbandingkan segala sesuatu, kita secara efektif akan memberikan H A K monopoly kepada single-sourcing supplier ini, apalagi kalau tanpa adanya partisipasi industri lokal yang jelas. Inilah yang dinamakan meng-korupsi kebutuhan negara, baik dalam nama alasan politik, ataupun kemungkinan juga... motivasi finansial.

Loh, memangnya kita berhutang apa ke si supplier asing hingga memberikan mereka hak monopoly istimewa?

Silahkan saja membuang sebanyak mungkin uang rakyat ke kantong si supplier tanpa perlu harus dikoreksi lebih lanjut!

Inilah kenapa kompetisi terbuka seperti dalam contoh Swiss di tahun 2008, harus menjadi prioritas utama. Setiap kompetitor harus belajar untuk lebih terbuka, tidak hanya dalam kemampuan tempur produk, melainkan juga dalam beberapa hal berikut:
  • Apakah pesawat tempur secara mendasar akan bisa memenuhi persyaratan kebutuhan negara?
  • Berapa biaya lifecycle cost untuk produk tersebut selama 30 tahun ke depan?
  • Seberapa jauh support yang akan ditawarkan 30 tahun ke depan? Bentuk upgrade apa saja yang sudah direncanakan?
  • Seberapa jauh si supplier akan menawarkan kerjasama dengan industri pertahanan lokal? 
  • Tidak kalah pentingnya, faktor politik, yang juga harus diperhitungkan.
Seperti dapat kita pelajari dari contoh kompetisi di Swiss; apa yang diperbandingkan disini bukan lagi terbatas ke pesawat tempur, melainkan juga..... 


Seberapa jauh Transparansi, dan Kemampuan Supplier untuk memenuhi kebutuhan?

Persyaratan pertama, tentu saja selalu jelas: Setiap supplier harus dapat mengajukan kontrak dalam bentuk Government-to-Government, atau mem-bypass kebutuhan finansial para perantara, dan antek-antek "agen sales" mereka. Sayangnya, dunia ini memang tidak adil, karena salah satu pilihan pesawat tempur Indonesia seharusnya sudah di-write off sejak lama.

Apalagi mengingat kalau kalau supplier favorit biased dalam pesawat tempur di Indonesia, adalah dari negara yang peringkat korupsi industri pertahanannya sangat tinggi, menurut Transparancy International, dan problem supply chain-nya akan terjamin bermasalah:
20% Anggaran pertahanan Russia dikorupsi
(US$ 10 milyar menurut angka tahun 2011);
Sumber: Reuters

Tentu saja, tidak ada perkembangan yang berarti dewasa ini

Transparancy.org.ru menggarisbawahi dalam PDF file tahun 2017 ini,
kalau korupsi tetap endemic di dalam anggaran pertahanan Russia
Tentu saja, kesemua faktor ini tidak dalam kepentingan para "agen sales". Seperti dalam pasal pertama pengertian "agen sales", produk asing pilihan mereka, dan menutup kontrak secepat mungkin, adalah prioritas utama. Memaksa memilih satu supplier tanpa perlu dipertanyakan akan menjadi sorga bagi keuntungan maksimal para "agen sales".

Seyogjanya, dalam rangka memberantas korupsi, semua negara supplier alutsista juga harus dituntut dari negara yang lebih terjamin dalam memberantas korupsi, bukan negara supplier yang pejabatnya sendiri saja sudah sibuk dengan berebut kickback, dan menulis kontrak palsu. 



Pemahanan konteks Keamanan Negara

Satu-satunya wilayah yang paling mungkin terjadi konflik dengan negara lain di Indonesia,
hanyalah di Laut Natuna Utara...
Terlebih dahulu kita harus memahami latar belakang regional, kalau kawasan Asia Tenggara ini sendiri adalah salah satu kawasan yang paling aman di dunia.

Semenjak tahun 1945 hingga sekarang, tidak pernah ada perang antar negara yang kemudian tidak pernah diakhiri dengan perjanjian damai, seperti halnya di Korea. Tidak pernah ada perseteruan territorial yang berlarut-larut, seperti halnya daerah Kashmir antara India - Pakistan.


Ancaman militer langsung ke Indonesia sebenarnya tidak ada.

Para agen sales menggarisbawahi kebutuhan produk favorit-nya, dengan mencoba menggambarkan skenario (fiktif) dimana suatu hari akan ada pihak luar yang luar biasa mengerikan, yang mencoba mengancam kedaulatan Indonesia. 

Nah, pertanyaannya, negara aggressor yang mana?

Kenyataannya, sepanjang sejarah tidak pernah ada negara di kawasan Asia Tenggara ini yang menyatakan perang ke Indonesia. Sebaliknya juga, tidak pernah ada kebutuhan politik untuk memerangi salah satu negara kita. Semua negara tetangga Indonesia, baik semua anggota ASEAN, ataupun Australia sudah memelihara hubungan yang semakin bersahabat dalam 70 tahun terakhir. 

"Proxy war" di Indonesia? 

Eh, sebenarnya tidak dalam kepentingan negara manapun untuk melihat Indonesia yang terpecah belah. Baik negara-negara ASEAN lain, ataupun Australia justru tidak akan mentoleransi justru kemungkinan terjadinya perang saudara di halaman depan mereka. Untuk apa pusing dan bersusah payah berperang, kalau sekarang ini kita bisa memelihara hubungan perekonomian, dan perdagangan yang erat?

Lantas, apakah negara adidaya, seperti Russia, ataupun United States bisa menjadi biang kerok? 

Sayangnya, perang dingin juga sudah usai. Ancaman komunis sudah tidak ada. Rakyat United States sendiri sudah lelah setelah pertualangan mereka belasan tahun yang kurang berhasil di Afganistan, Iraq, Libya, dan sekarang di Syria. Sedangkan Russia? Mereka sudah tidak lagi bisa membayar anggaran militer untuk memulai perang dingin babak kedua melawan United States, dan Uni Eropa, yang anggarannya saja puluhan kali lipat lebih tinggi dewasa ini.

Inilah kenapa bukan tanpa alasan kalau selama 32 tahun, pemerintah Orde Baru tidaklah mengambil tindakan serius dalam membangun kekuatan TNI-AU. Besok saja juga tidak apa-apa. Kebutuhan untuk AU super kuat, dengan 180 pesawat tempur, sebenarnya tidak ada. 

Kenyataan lain yang sudah berubah: Sejak tahun 1945, mulai dari perang Vietnam (1955 - 1975), perang Arab - Israel (1948 - 1982), sampai Afganistan (2001 - sekarang), sebenarnya sudah berubah bentuk menjadi attritional warfare; konflik yang terjadi antara kedua pihak akan berlangsung dalam banyak pertempuran skala kecil, tetapi sifatnya akan berkepanjangan, dan tidak ada usai.

Pihak yang akan menjadi pemenang dalam attritional warfare modern adalah pihak yang dapat bertahan dalam konflik paling lama, bukan lagi pihak yang lebih kuat, atau lebih digjaya yang dapat merebut ibukota negara lawan. 

Dalam konteks atrtritional warfare, dan pertahanan Indonesia, kemungkinannya ada negara aggressor yang berani menginjakan kaki di salah satu dari kelima pulau besar kita sendiri secara tehnis HAMPIR NIHIL. Kemungkinan yang paling besar adalah... negara aggressor karena kepentingan ekonomis di suatu wilayah, justru akan memprioritaskan mencaplok beberapa pulau kecil di perbatasan... dan berhenti disana saja!

Sayangnya, satu-satunya ancaman nyata yang mengancam kedaulatan Indonesia ada di Laut Natuna Utara, dimana kita akan dipaksa berhadapan dengan negara yang jauh lebih profesional dalam memakai produk pilihan para agen sales:
Su-35 Versi Export PLA-AF
(Gambar: Chinese Military Aviation)

Maaf, para agen sales:
Dengan anggaran pertahanan yang mendekati US$200 milyar per tahun,
kemampuan fotocopy beraneka ragam perangkat Russia,
pengalaman mengoperasikan ratusan Sukhoi sejak tahun 1991,
kemudian mengembangkan persenjataan buatan sendiri (non-Versi Export),
PLA-AF terjamin akan jauh lebih unggul dari semua pengguna Sukhoi yang lain,

....dan berpotensi menjadi ancaman terbesar Indonesia di Natuna Utara
Perubahan konsep konflik inilah yang sebenarnya membuat banyak negara, sebenarnya sudah memilih untuk membeli alutsista yang salah untuk menghadapi kenyataan, seperti F-35 Lemon II, ataupun Sukhoi Su-35K Flemon, yang adalah dua dinosaurus masa lalu yang diperuntukan masa perang dingin.... di mainland Eropa, dan bukan untuk kebutuhan pertahanan negara kepulauan! 

Para Agen sales tentu saja tidak akan ambil pusing, atau mempelajari buku sejarah, karena prioritasnya adalah alutsista merk favorit mereka.


Kita akan membahas dalam topik lain secara lebih mendetail, kenapa setelah perang dunia II, bentuk konflik militer sebenarnya sudah berubah. 



Kriteria #3: Membeli Alutsista HARUS sesuai keterbatasan finansial Indonesia


Di lain pihak, walaupun secara umum pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia terhitung yang paling besar di ASEAN, kalau PDB ini sendiri diperhitungkan ke per kapita; angka kita tidaklah terlalu bagus:
Sumber: Wikipedia
Agen sales senang mengumbar kalau "...perekonomian kita terbesar di Asia Tenggara, kenapa militer kita masih kekurangan alutsista...?"

Jawabannya, karena secara per kapita, baik dihitung dari angka nominal US Dollar, ataupun dari PPP -- daya beli masyarakat secara umum, PDB individual kita nilainya masih 30% lebih rendah dibandingkan Thailand, sedangkan pendapatan per kapita Malaysia dua kali lipat lebih tinggi, sedangkan di Singapore -- hampir sepuluh kali lipat.

Secara realita, sebagai salah satu negara yang pendapatan per kapita nominalnya masih jauh dibawah $10,000; kita masih terhitung negara berkembang, yang menuntut konsentrasi alokasi keuangan negara untuk pembangunan, dan bukan menghamburkan uang ke alutsista, apalagi untuk tuntutan pertahanan yang tidak realistis.

Nah, kebutuhan strategis beli sebanyak mungkin TIDAK ADA,
Kemampuan ekonomis TERBATAS;
bagaimana memberikan justifikasi kalau kita membutuhkan pesawat tempur twin-engine untuk Indonesia?

Sistem "Sekali pakai, buang!"

Meragukan kalau Su-35 Versi Export bisa tahan 30 tahun
Mengingat kedua faktor ini; Keamanan, dan Keterbatasan keuangan negara, kita sudah membuahkan beberapa persyaratan untuk pesawat tempur Nasional, yang berikutnya:
  • Biaya operasionalnya harus bisa terjangkau -- secara tehnis, persyaratan ini membuat semua pesawat twin-engine yang biaya operasionalnya fantastis menjadi tidak relevan.
  • Dan faktor kedua, semaksimal mungkin, supplier asing harus dapat menunjukkan bukti nyata partisipasi industri lokal
Sahabat kita, si agen sales, tentu saja tidak menyukai kedua kenyataan ini. Kembali patut diingat, kalau prioritas utama agen sales adalah untuk mengedepankan produk asing, berapapun harganya, ataupun biaya operasionalnya. 

Oh, salah satu argumen lain yang tidak kalah menariknya adalah, katanya harga pesawat tempur buatan Russia lebih murah dibandingkan buatan Barat??

Eh, sebenarnya pernyataan ini tidak pernah menceritakan semua fakta yang sebenarnya. Untuk lebih jelas, mari kita memperbandingkan F-15SG yang dibeli Singapore dengan harga $100 juta per unit, dengan pesawat favorit di TNI-AU, barang kuno Su-30MK2:

Kalau dihitung ke biaya per tahunan, kita yang sepuluh kali lebih miskin per kapita, sudah membayar biaya 40% lebih mahal dibandingkan Singapore, yang anggaran pertahannya juga memang sudah diperhitungkan agar lebih tinggi daripada semua negara ASEAN yang lain. Untuk menghidupi biaya mesin AL-31F yang bisa hancur sendiri secara prematur saja, para pengguna Su-30 akan harus mengganti kedua mesin seharga $3,5 juta ini minimal 4 kali sepanjang hidupnya.

"Ah", para agen sales tertawa terbahak-bahak. "Tenang! Lihat saja, berapa banyak negara yang pernah protes mengopeasikan pesawat berefek gentar tinggi ini?"

Maaf, pak agen sales. Ini dikarenakan mayoritas negara yang memang membeli Su-30 dari agen perantara BUMN Rostec, menurut Transparancy International, semuanya adalah negara yang peringkat korupsinya lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Lebih parah lagi, karena tidak seperti Indonesia, kesemua negara ini tidak ada yang demokratis, ataupun mempunyai pers yang cukup bebas.

Lebih lanjut, Singapore akan menabung jauh lebih banyak jam terbang per tahun, dan mengingat mereka sudah mengoperasikan 40 unit, dengan sebagian dipangkalkan di Nevada, United States; untuk sekalian bisa membonceng supply chain F-15E USAF, biaya operasional mereka sudah bisa diketok lebih murah daripada angka $25,000 seperti dalam perhitungan ini.


Keempat: Sudah saatnya melakukan studi kelaikan 


Sebelum kita mengumbar soal stealth, atau supermanueverablility; alias dua konsep yang sebenarnya kurang relevan dalam pertempuran udara modern yang seharusnya lebih mengutamakan SITUATIONAL AWARENESS; mari kita melihat suatu tes sederhana menurut kebutuhan, yang tanpa sengaja sudah disebut beberapa perwira tinggi TNI-AU.


Link: Antara News, 25-April-2016
Demikianlah pernyataan yang menarik dari ex-KSAU Agus Surpiatna di tahun 2016, mengenai kebutuhan mendasar dari pesawat tempur Indonesia.

"Kekuatan udara yang bisa hadir cepat dimana saja!" untuk bisa mengawasi ketiga ALKI.
"Kami tidak membutuhkan landasan mewah!
Cukup jalan lurus 800 meter x 16 meter, dengan minimal logistic support."
Tanpa sengaja, pernyataan ini sudah menunjukkan ke satu-satunya tipe pesawat tempur yang memang memenuhi persyaratan di atas. Tetapi, dalam konteks keterbukaan bebas dari iklan para agen sales; bagaimana kalau kita mengadakan tes untuk kompetisi terbuka?

Bagaimana kalau masing-masing supplier, yang seharusnya beradu tender pesawat tempur, mengirim dua pesawatnya kemari, dengan persyaratan sederhana -- Masing-masing supplier harus menyediakan pesawat menurut spesifikasi yang akan dijual di Indonesia; tidak boleh asal mengirim produk Angkatan Udara lokal yang berbeda dengan versi yang akan dijual untuk export dong!
  • Untuk mewakili Rostec; dua Su-35 versi Kommercheskiy Indonesia (barangnya belum ada), 
  • Untuk mewakili Lockheed-Martin; dua F-16V Block-52ID versi export (barangnya juga belum ada), dan 
  • Untuk mewakili Saab; 2 Gripen-C MS-20 non versi export downgrade
Link:
TribunNews 30-Oktober-2017
Kalau korupsi sih, lihat kembali di atas!
Anggaran Russia sendiri saja sudah dikorup, boro-boro anggaran orang lain.

Kalau Versi pesawat, dan persenjataan apa?
Ya, sudah jelas jelas.

Lebih lanjut, keenam pesawat ini dipersilahkan melakukan tes lintas Nusantara, dari Sabang sampai Merauke, dengan stopover di Medan, Pekanbaru, Jakarta, Pontianak, Banjarmasin, Madiun, Makassar, Manado, Biak, sebelum akhirnya tiba di Merauke. Dalam setiap penghentian, masing-masing pesawat tidak hanya harus mengisi bahan bakar, tetapi juga mensimulasikan mempersenjatai pesawat.
Prinsip Gripen:
Untuk bisa menjaga wilayah udara, kita harus selalu siap setiap saat!

Prinsip yang sederhana?
Kebanyakan pesawat tempur modern belum tentu bisa.
Kemudian baru Indonesia akan dapat menilai dengan seksama dari laporan yang transparan, seberapa cepat masing-masing tim akan dapat menyelesaikan lintas nusantara ini, dan berapa perhitungan biayanya? Kesulitan apa saja yang akan ditemui masing-masing tim?

Tipe pesawat yang lulus tes lintas nusantara ini, sudah tentu akan dapat mengawasi ALKI dan memenuhi persyaratan "Kekuatan udara yang bisa hadir cepat dimana saja!"

Apakah produk para agen sales asing mampu memenuhi persyaratan tersebut?



Point paling penting: Sejauh mana industri pertahanan lokal akan diijinkan untuk berpartisipasi? 

PTDI -- anak tiri yang diasingkan dalam akusisi pesawat tempur Indonesia,
walaupun seharusnya mendapat perlindungan UU no.16/2012

Wah, partsipasi industri pertahanan lokal... biasanya adalah sesuatu yang sangat jauh dari lubuk hati para agen sales.

Kenapa pusing? Biarkan saja PTDI sibuk membangun pesawat-pesawat sipil, demikian komentar salah satu agen sales dalam blog ini. Industri pertahanan lokal tidak perlu ikut campur dalam investasi pengembangan alutsista pesawat tempur!

Atau... PTDI pergi sono ke proyek macet KF-X, yang sudah 10 tahun juga tidak ada perkembangan yang berarti, hanya didikte Korea, dan sejak lengsernya Presiden Park di akhir tahun 2016 yang lampau, secara tehnis proyeknya sudah mati suri.

Kenapa para agen sales sangat membenci partisipasi industri lokal?

Ya, jawabannya jelas. Membuat kontrak palsu, atau mengelembungkan harga, seperti praktek korupsi di negara pembuatnya, menjadi lebih sulit. BUMN seperti PTDI, yang produk license production-nya selalu dimusuhi dalam nama import mentah, tidak bisa membayar "kickback".
Eurocopter H225M partial production PTDI
(Gambar: PTDI)
Bukannya berbicara untuk meningkatkan content lokal ke H225M,
"PTDI cuman kebagian tugas mengecat," katanya.

Alasan apapun menjadi halal dalam nama mengutamakan pembelian import rongsokan korup AW101
Kembali karena tidak seperti di Swiss, kita tidak memperbandingkan kedua Eurocanards yang lain, melainkan Gripen vs dua jenis rongsokan versi export downgrade edisi spesial Indonesia; disini jawabannya jelas, satu-satunya pilihan yang sebenarnya paling menguntungkan, tidak hanya industri pertahanan Indonesia, melainkan juga kedaulatan rakyat Indonesia atas Alutsista.

Kalau sekarang ini tidak ada para agen sales, kita seharusnya memperbandingkan pilihan mana yang lebih sesuai untuk menggantikan tiga skuadron tempur TNI-AU di rentang tahun 2025 - 2030: Sku-01 dan Sku-12 dengan BAe Hawk-209, dan juga Sukhoi Kommercheskiy di Sku-11:

Gripen-C, atau Gripen-E?

Saingan Saab hanyalah keinginan beli import mentah dari negara yang lebih korup daripada Indonesia.
  

Penutup: Sudah saatnya para agen sales bertobat 


Pers media massa Indonesia sendiri sebenarnya cukup bersalah dalam membiarkan para agen sales beranak pinak.

Salah satu pertanyaan yang paling sering diutarakan wartawan dalam hampir semua acara peragaan Militer TNI biasanya: "Alutsista apa yang rencananya akan dibeli tahun ini?"

Loh? Kok enak betul?

Memangnya membeli alutsista, seperti membeli motor. Tinggal beli kredit bayar Rp 100 ribu saja sudah bisa bawa pulang, habisnya tidak perlu ambil pusing, karena semuanya akan tokcer?

Pertanyaan yang seharusnya lebih tepat untuk diajukan para wartawan adalah:

"Produk alusista apa lagi yang masih dibutuhkan, dan sudah ditawarkan untuk alih tehnologi, produksi, dan kerjasama lokal?"

Seperti kita bisa melihat pada akhirnya, setiap agen sales alutsista mempunyai beberapa ciri khas tersendiri: 
  • Agen sales akan selalu lebih mengutamakan akuisisi produk asing, dibandingkan kebutuhan Nasional.
  • Agen sales tidak memperdulikan APBN, atau keterbatasan finansial negara, dan biasanya menginginkan kontrak harus ditutup secepat mungkin.
  • Agen sales tidak merasa perlu untuk membuat perhitungan biaya operasional untuk 30 tahun ke depan.
  • Agen sales tidak merasa perlu untuk memperhitungkan apakah alutsista tersebut hanya barang versi export downgrade. Seberapa banyak di-downgrade untuk Edisi Indonesia jauh dari pikiran si agen.
  • Agen sales tidak akan merasa perlu pusing dengan Government-to-Government contract. 
  • Agen sales biasanya tidak merasa perlu untuk mengedepankan kebutuhan industri pertahanan lokal. "UU no.16/2012? Undang-Undang apaan tuh?"
  • Tentu saja, si Agen sales tidak akan merasa perlu berapa % alutsista tersebut akan bisa diproduksi lokal.
  • Agen sales tidak merasa keberatan kalau sebanyak mungkin uang negara dihamburkan untuk kebutuhan industri negara supplier asing.
  • Agen sales tidak merasa perlu membuat perhitungan untuk upgrade, atau perlengkapan apa saja yang akan diperbolehkan untuk alutsista tersebut.
  • Kalau bisa mbok, ya, transaksinya tidak perlu transparan. Barter "menguntungkan" juga tidak apa-apa.
Kalau dari ribuan tahun yang lampau,
transaksi barter itu bisa "menguntungkan",
Buat apa manusia repot-repot menciptakan uang?
Nah, dari semua ciri khas di atas, pertanyakan saja sendiri: apakah kita sekarang sudah memenuhi semua persyaratan untuk menjadi agen sales, atau apakah kita tanpa sengaja sudah menjadi pembantu dari para oknum agen sales?

Dengan demikian, apakah kita ini sebenarnya bekerja untuk kepentingan perusahaan asing, atau kebutuhan nasional?

Para agen sales memang senangnya menghambat kemajuan.
TS-1629 yang sedang melakukan high speed pass di Hills AB, Utah, US
(USAF Photo)

Masih jauh lebih unggul dalam segala hal vs Su-35K

Sekali lagi, pesawat tempur untuk pengganti F-5E sebenarnya sudah tidak lagi dibutuhkan. Ditengah hiruk pikuk kampanye para agen sales, keenam unit F-16 Block-25+ terakhir, yang sudah menggantikan F-5E, baru saja menyelesaikan flight delivery dari Lockheed-Martin.

Block-25+ bukanlah pilihan yang ideal, melainkan stopgap yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan sementara. Kalau ke-23 unit sudah dipersenjatai dengan AIM-9X, dan AMRAAM C-7, dengan sendirinya akan jauh lebih berbahaya dibandingkan Su-35K Flemon, yang hanya bisa dipersenjatai RVV-AE, atau missile kadaluarsa R-27.
"Aku cinta padamu, R-27!"
(Gambar: Vitaly S Kuzmin)
Sudah saatnya membubarkan fraksi baru PKI versi-2, alias Persengkongkolan Kommercheskiy Indonesia, yang sudah menimbulkan kerugian finansial berat setiap tahun. Sementara dua model kuno dengan cockpit analog bertehnologi tahun 1980-an; TS-2701, dan TS-2702 memakan waktu 20 bulan untuk melakukan "perbaikan mendalam", yang entah memakan uang rakyat beberapa juta $$, melanggar UU no.16/2012, tetapi juga memalukan martabat Indonesia....

Masih ingat kecelakaan mendarat darurat Gripen-C single-seater Hunggaria pada 10-Juni-2015 yang lampau?
Gripen-30 Hunggaria setelah kecelakaan
(Gambar: Kemhenhan Hunggaria)

Kemenhan Hunggaria sudah mengumumkan pada 17-Desember-2016, kalau Gripen-C (sewaan) ini sudah selesai diperbaiki, dan kembali operasional. Hanya membutuhkan 18 bulan untuk memperbaiki pesawat yang rusak berat. Bandingkan dengan ulah para oknum PKI versi-2, yang tidak merasa perlu protes, kalau pekerjaan maintenance yang seharusnya dikerjakan dalam negeri ini, eh, tapi malah harus dikerjakan diluar bisa memakan waktu 20 bulan
Gripen-30  Hunggaria yang kembali operasional 17-Desember-2016, setelah kecelakaan 10-Juni-2015
(Gambar: Kemenhan Hunggaria)
Untuk di Indonesia, bagaimana kalau mulai memikirkan membangun kemampuan untuk memperbaiki Gripen sendiri di kemudian hari kalau terjadi kecelakaan yang sama?

Dari segi bisnis alutsista, ini juga membuka potensi peluang PTDI untuk bisa menjadi "Repair and Service Centre" untuk semua Gripen di Asia Tenggara.

Itu baru namanya membangun kemandirian, dan kedaulatan alutsista. Bukan terus mempertahankan ketergantungan ke supplier asing tanpa henti.

Dalam jangka panjang, sudah saatnya kita mengembalikan kedaulatan bangsa, dan mengamalkan amanat UU no.16/2012. Sudah saatnya menghentikan penjajahan para perantara, para agen sales, dan produk-produk versi export downgrade, dan mengembalikan kedaulatan alutsista ke rakyat Indonesia.
Satu-satunya pilihan yang berdaulat, dan sesuai dengan kebutuhan, dan keterbatasan
(Gambar: Saab)


55 comments:

  1. Admin katanya Kohahudnas mau ngehidupin lagi Wing 300 isinya 2 skuadron interceptor dengan kriteria generasi 4.5 & kecepatan tinggi berikut 2 unit AEWC terlepas dari Koopsau. Malah katanya FA-50 dicoret dan kandidatnya Gripen C/D MS20 atau Gripen E/F sama Erieye AEWC. Katanya juga rumor ngomong 4 pesawat AEWC Koopsau itu pesawat C-295 dengan radar IAI Phalcon buatan Israel

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Setelah pengumuman Trump: "... mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel!"

      ... kemungkinan pembelian perangkat militer dari Israel, dengan sendirinya sudah mengecil.

      Jangankan radar Elta EL/W-2090 untuk C-295; seperti kita bisa melihat, untuk targeting pod F-16 saja, sama seperti banyak negara Arab yang lain, pemerintah sebenarnya sudah memilih Sniper pod buatan Lockheed-Martin, dan bukan Litening pod, yang partially buatan Israel.

      Lagipula, biar bagaimanapun radar Erieye akan lebih compatible untuk hasil yang lebih optimal dalam membagi informasi / target feed ke Gripen-C, atau Gripen-E.

      ## Perihal Kohudnas akan mengoperasikan pespur sendiri, kelihatannya akan terlalu sulit.

      Kohudnas tidak mempunyai kesiapan untuk melatih pilot, ataupun mempunyai infrastruktur, dan landasan sendiri.

      Mengingat berita-berita ini semakin marak, kemungkinan Kohudnas akan mulai lebih menekankan pendapat mereka dalam pemilihan pespur generasi berikutnya.

      Bukan!

      Bukan untuk menggantikan F-5E, melainkan untuk menggantikan Hawk-209, Sukhoi, sekaligus untuk memperbaiki sistem prosedural yang ada agar jauh lebih optimal.

      IMHO, sudah seharusnya dalam memilih setiap alutsista, TNI juga turut melibatkan industri pertahanan lokal. Kalau tidak, untuk apa? Bubarkan saja industri lokal, ayo beli import!
      Dan bertekuk lutut ke para supplier asing!

      Delete
    2. Min apa ini sebenernya cara halus Kohahudnas untuk mengutarakan opini institusi tentang sistem akuisisi kita sekaligus protes tentang apa apa yg ada selama ini

      Delete
    3. Ya, kelihatannya begitu.

      Memang TNI-AU dan Kohahudnas jadi kelihatan kurang kompak -- padahal seharusnya kedua ini satu entitas yang terpadu.

      Delete
    4. Min, apa cuman kita saja yg doktrin AU nya begini?

      :- Su-27/30 digunakan sbg Pemukul
      - F-16 hanya utk Patroli
      Kenapa tdk pake 1 jenis pesawat yg serba bisa spt jas 39c/d atau e/f
      Mungkin ini yg menyebabkan kohahudnas kurang kompak dgn AU
      Kelihatanya au kita kurang efisien

      Delete
    5. Pemukul bagaimana?

      Dengan jumlah latihan yg kurang berkst biaya OP muahal, tehnologi kuno, sering mudik / gampang rusak, dan dipersenjatai missile versi export, Sukhoi Indonesia tidak bisa menembak jatuh pesawat tempur manapun.

      Saat ini, boleh dibilang satu2nya pesawat tempur Indonesia yg paling efektif saat ini hanyalah... F-16.

      Delete
  2. kmrn di berita head line military, pangkalan rusia di kheimim diserang lagi, kali ini s 400 yg kena dan dilaporkan rusak, dah 3 x diserang trnyata tgl 31, jumat tgl 5 januari, dan kemrin. Knpa bisa begitu bung dark

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada link-nya?

      Kelihatannya berita ini belum dikonfirmasi kebanyakan sumber berita independent.

      Peristiwa 7 -10 pespur Russia yg rusak, terkena serangan mortar tempo hari sebenarnya sudah menunjuk kalau seberapapun ketatnya penjagaan di sekitar lanud Hmyemim, kalau posisi mereka sudah diketahui lawan, yah, posisi mereka menjadi rentan.

      Cukup satu-dua serangan berani mati untuk menimbulkan kerusakan yg cukup berat.

      Kalau ini terjadi dngn S-400 yg juga menjaga lanud ini, yah menunjukan seberapa rentannya mereka.

      Kejadian2 ini dalam beberapa hal, seperti mengulangi sejarah, seperti dalam Perang Arab - Israel 1967; Israel sudah mempelajari semua posisi AU Mesir yg terpampang jelas, dengan seksama, dan kemudian melakukan serangan fatal yg tidak bisa dihentikan.

      Perbedaannya, entah para militant Syria, ISIS, atau siapapun juga yg berani menyerang Lanud Ruski ini, yah, tidak se-profesional operasi Israel di tahun 1967. Kalau lebih teroganisir, kerusakan yg ditimbulkan bisa jauh lebih berat.

      Inilah kenapa prinsip pertahanan Swedia semasa Perang Dingin kelihatan lebih cemerlang.

      Dimanapun lawan menyerang, belum tentu pasukan kami ada disana.

      Delete
    2. di jejak tapak bung dark. Tp di bwahnya ada youtube dan sreenshot komentar twitter tentang hal tsb

      Delete
    3. https://www.jejaktapak.com/2018/01/07/pangkalan-rusia-diserang-drone-s-400-dilaporkan-rusak-dihantam-bom/

      https://www.youtube.com/watch?v=tw8an6SCVcA

      https://youtu.be/2_waTfRJ3FQ

      Delete
    4. Sejauh ini kalau berita yg S-400 belum bisa dikonfirmasi lebih lanjut oleh media berita yg lain.

      Video Youtube, atau Twitter ini juga kembali... sulit diverifikasi.

      Kalau yang 7 - 10 pespur Russia rusak akibat serangan mortar memang kelihatannya benar sudah terjadi.

      31-Des-2017 lalu, Kemenhan Ruski memang melaporkan 2 personilnya tewas akibat serangan mortar di Hmyemim, walaupun mereka tutup mulut soal kerusakan yg terjadi.

      Delete
  3. utk menjadi agen sales caranya gmn bung spy dpt komisi, krn menurut anda pangkat apa saja bisa jadi agen sales....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, kalau agen sales internal tidak perlu bekerja untuk perusahaan asing secara resmi.

      Penjual langsung, atau agen perantara non-Pemerintah, akan menawarkan Kickback, atau Komisi ke pejabat yang mempunyai pangkat tinggi, atau paling tidak bisa mempengaruhi akuisisi alutsista, dengan syarat kalau produknya terbeli.

      Agen sales disini menjadi internal -- mereka akan mengiklankan produk asing ke parlemen (DPR), atau ke media massa -- untuk mendorong pembelian produk dari si penjual.

      Upahnya Kickback.

      Ini adalah kebiasaan umum dalam transaksi alutsista.

      Sebelum US membentuk program FMS (Foreign Military Sales) yg G-to-G,
      Perusahaan2 militer US menjual langsung ke negara2 sahabat.
      Skandal yg paling besar adalah sistem "kickback" untuk penjualan F-104 Starfighter di tahun 1960-an, sampai 1970-an.

      Saab juga sempat membentuk agen perantara Gripen-International bersama BAe System,
      dan sama seperti Lockheed di tahun 1960an, yah, terlibat skandal di Afrika Selatan.

      Sekarang setiap order Saab akan masuk lewat badan sipil pemerintah Swedia, FMV, yg tidak seperti Rostec, tidak lagi mempunyai kepentingan komersial.

      Delete
  4. india resmi tolak Gripen M, apa tidak cocok kah untk kapal induk india , ada yg berpendapat krn Gripen bermesin single.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sea Gripen masih konsep studi awal, prototype saja masih belum direncanakan.

      Berita terakhir, AL India hanya mengajukan tender ke dua pesawat AL yg memang sudah diproduksi; Dassault Rafale-M, atau Boeing F-18 E/F.

      Yang menarik disini, baik Rafale-M, atau F-18E/F tidak dirancang untuk beroperasi dari kapal induk dengan deck ramp seperti kapal2 induk India, melainkan dengan sistem CATOBAR.

      CATOBAR -- memakai catapel bertenaga uap untuk mendorong kecepatan awal pespur untuk lepas landas Short take off.

      Tehnologi CATOBAR hanya dikuasai pembuat kapal induk untuk US Navy;
      kapal induk Perancis menggunakan tehnologi yg sama dari hasil perjanjian ToT.

      Baik UK, ataupun Russia masih memakai kapal induk dengan deck ramp -- desain ujung landasan mempunyai sudut naik landai untuk membantu take off.
      Tidak ada lagi bantuan mekanisme seperti CATOBAR.

      Kelemahan sistem deck ramp -- pespur harus seringan mungkin agar bisa mengudara.

      Sementara Rafale-M, atau F-18E/F dapat mengudara full-load,
      MiG-29K, atau Su-33 tidak akan dapat membawa banyak bahan bakar, atau banyak senjata untuk bisa take off. Jarak jangkau menjadi terbatas, dan daya pukulnya juga sangat berkurang.

      Delete
    2. su 33 pernah kecebur laut di kapal induk rusia

      Delete
  5. Bung, badan sipil seperti fmv itu bagaimana cara kerjanya?
    Apakah setiap tawaran alutsista yg masuk akan dianalisa oleh badan sipil tsb dan jika produk tersebut dinyatakan layak pakai dan sesuai kebutuhan maka pembelian produk tsb akan disetujui oleh pemerintah.
    Atau ada fungsi lain dari badan sipil tsb?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Badan seperti FMV akan bertanggung jawab penuh untuk inisiatif mengajukan tender alutsista menurut kebutuhan nasional, dengan prioritas terbesar ke partisipasi industri, dan tehnologi lokal.

      Seperti contoh,
      FMV Swedia baru saja mengajukan tender ke Saab untuk membuat RBS-15 Mk4; yang jarak jangkaunya lebih jauh, dan kemampuan kill-nya lebih unggul dr versi Mk3.

      Dana untuk pengajuan tender dari FMV akan membutuhkan persetujuan pemerintah, dan DPR terlebih dahulu sebelum tendernya bisa turun.

      Badan seperti FMV akan menganalisa kebutuhan dahulu, apakah perlu sesuatu yg baru, sebelum mengajukan tender ke supplier, yg biasanya akan lebih prioritas ke partnership industri lokal.

      Tidak bisa lagi seperti sekarang, agen perantara, atau perusahaan penjual bisa melakukan kampanye terbuka... "Eh, kamu sebenarnya butuh alutsista yang model ini!"

      Akibatnya, muncullah para agen sales seperti dalam kasus AW101, atau Sukhoi.

      Delete
  6. bung admin, apa pendapat anda mengenai FIR yang masih dikontrol oleh singapura?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Flight Information Region (FIR)?

      Yah, apa hendak dikata?
      Perlengkapan Singapore untuk mengawasi FIR jauh lebih mdoern, dan mereka sudah jauh lebih berpengalaman.

      IMHO, dari segi ancaman strategis relatif nihil, kecuali kita berencana berperang dengan Singapore... Eh, tapi untuk apa?

      kita harus berhenti melihat negara tetangga yg jauh lebih kuat seperti Singapore, ataupun Australia sebagai bakal lawan, tetapi sebenarnya adalah sekutu dekat yg saling membutuhkan.

      Fantasy para agen sales / fanboys suatu hari kita konflik dengan Australia, makanya harus beli dari Ruski?

      Kenyataan: mrk akan dengan senang hati terus mempersenjatai PRC, yg kemudian akan mempergunakannya di Laut Cina Selatan.

      Kedua, kalau kita mengajak ribut negara tetangga dalam konflik, sangat mudah justru untuk semua negara tetangga melakukan embargo militer. Tidak ada delivery yg bisa masuk darimanapun asalnya.

      Dilain pihak, kalau ASEAN sampai berperang dengan PRC dalam kasus LCS ini juga.... PRC akan mempunyai kemampuan untuk melobi Russia agar tidak mengirim supply senjata ke Vietnam, Malaysia, dan Indonesia.

      Delete
  7. bung dark, jika misal perang tank di kurks rusia diulang di jaman sekarang , jerman vs rusia kira2 bagaimana ulasanya bung dark

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dewasa ini, perang antara tank vs rank sebenanrya sudah menjadi semakin langka, tidak seperti dahulu kala.

      Yang lebih mengerikan adalah peetempuran antara tank, dan infrantry dengan anti-tank missile, yang bekerja sama dengan helikopter tempur.

      AD Turki kehilangan 8 Leopard sewaktu tentara mereka menerobos perbatasan Syria Utara, dihabisi Kornet anti-tank missile, yg sudah banyak diselundupkan masuk ke sana.

      Di Yaman, Saudi juga kehilangan beberapa tank M1A2 versi export, yg memang armornya berbeda dan lebih tipis dibanding versi lokal... Lagi2 terhantam anti-tank missile buatan Ruski, atau PRC.

      Delete
  8. Coba bung DR jelasin adakah negara atau pemberontak yang pernah nembak jatuh variant flaker su 27/30/34/35 di belahan bumi ini?

    Yang sering kita dengar hanya f16/f18 dan yang terbaru f15 yang di tembak jatuh oleh pemberontak houti..

    Dan untuk produk saab gripen, pernah kan terlibat langsung di daerah konflik seperti yang ada di timur tengah sekarang ini..

    Karna pesawat yang battle provent adalah pesawat pernah terlibat langsung dalam situasi konflik/perang..

    Swry ane bukan fansboy barat/rusky apalagi seles..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dahulu kala, sebelum tahun 1940, di jaman perlombaan setiap negara2 berlomba membuat battleship seberat 45 ribu ton, dengan 9 meriam kalivber 45 cm;
      apakah ada yg mengira kalau ternyata battleship terlalu mudah dihancurkan oleh single-engine bomber, dan torpedo bomber yg jauh lebih murah?

      Kalau belum pernah tertembak jatuh, bukan berarti produknya pasti sukses kalau di tes dalam keadaan yg sebenarnya.

      "Combat proven", sih secara tehnis tidak ada satupun pespur modern yg bisa mengklaim hal ini.

      Konflik terakhir dimana ada dua belah pihak yg kemampuan udaranya seimbang, hanya dalam perang Iran - Irak 1980 - 1988. Semenjak itu tidak ada lagi konflik yg serupa.

      Kembali kita mlirik beberapa fakta kenapa "efek gentar Sukhoi itu terjamin 100% nihil"?

      - Baik pesawat, atau persenjataan hanya tersedia dalam Versi Export Downgrade.

      Jangan mungkir dari fakta ini: sepanjang sejarah, Moscow tidak pernah menjual versi lokal ke negara lain; senjata apapun juga!

      ## Kalau belum cukup parah, secara tehnologi sudah dikunci sejak tahun 2005, dan tidak pernah mendapat upgrade yg berarti dalam 10 tahun terakhir.

      Jadi kita mendapat model downgrade dari barang kuno.

      ## Ketiga, Russia bukan lagi Uni Soviet (!)
      Mereka tidak lagi dapat mempertahankan anggaran, sistem perlatihan, atau investasi alutsista seperti di jaman Soviet.

      Bahkan di masa Soviet saja, sebenarnya tehnologi Soviet sudah tertinggal jauh dari tehnologi Barat, dan semenjaknua tentu saja perbedaannya juga semakin jauh.

      Kalau dari segi pelatihan dewasa ini, yah, belum tentu pilot AU Russia saja masih bisa menandingi misalnya, pilot Australia, Korea Selatan, atau Singapore.

      ## Terakhir, biaya OP-nya akan terlalu mahal. Akibat warisan ilmu produksi jaman Soviet, dan korupsi internal mereka sendiri.

      Logika mudah toh: biaya OP mahal, tidak ada uang untuk latihan, bukan?

      Pilot Gripen / F-16 akan dapat menabung 10 kali lipat lebih banyak latihan dari pilot Sukhoi.
      Mana ada pilot newbie bisa ngalahin pilot yg sudah profesional?

      Delete
    2. Untuk argumen yg sama, sbnrnya bisa di aplikasikan ke Sukhoi di Sku-11.

      Lebih kuno lagi dari Su-35, tetapi daftar persenjataan yang tersedia dari JSC Missile Corp sama persis.

      Pilih untuk air-to-air antara:
      - R-73E versi export untuk jarak dekat,
      - RVV-AE versi export downgrade dari R-77 tahun 1980an akhir yg tidak pernah selesai development, ataupun diuji coba secara intensif.
      - Missile kadaluarsa R-27 dengan Semi-active, atau heat seeking.

      Semuanya sudah jauh tertinggal dibandingkan AIM-9X Block II, dan AMRAAM C7 untuk F-16 Block-25+ Versi Export Obama.

      Untuk apa kita terus menghamburkan uang re Sukhoi, kalau jumlah yg sama bisa diaplikasikan lebih efektif... Pertama2 ke F-16 dahulu yg masih bisa operasional 20 - 30 tahun lagi dengan biaya jauh lebih murah,

      ... Dan kedua untuk ke Gripen yang akan harus menggantikan dua Skuadron Hawk-209, dan Sukhoi Sku-11...

      Biaya operasional, dan ongkos perantara Satu Skuadron Su-35 bisa membiayai sepuluh Skuadron Gripen, dengan 85% uangnya dikembalikan ke industri pertahanan / prasarana pendukung lokal.

      Logika Hollywood.

      Delete
    3. su 24 fencer rusia ditembak jatuh AU Turki

      Delete
    4. ... dan kalaupun tempo hari pesawat yg melanggar wilayah udara Turki itu Su-30SM, tetap saja tidak akan ada bedanya.

      Tetap saja akan tertembak jatuh F-16C Turki.

      Pilot Turki jauh lebih terlatih, dan leboh siap tempur dibanding pilot Ruski,
      Baik perlengkapan, ataupun persenjataannya kembali, jauh lebih modern.

      Delete
    5. Su 24 itu notabene nya pesawat bomber bung tidak memiliki kemampuan superioritas udara..

      Su 24 itu pesawat peninggalan era soviet bung, yang di pertanyakan disini su 27/30/35

      Tidak adil mebandingkan biaya OP pesawat antara heavy fighter dan light fighter single engine yang dimana kebutuhan avtur yang berbeda, jarak tempur berbeda dan muatan persenjataan yang berbeda..

      Delete
    6. Nah, ini contoh pernyataan dari aplikasi ayat ke-3 pengertian agen sales:

      Agen Sales tidak merasa perlu untuk membuat perhitungan biaya hidup alutsista 30 tahun ke depan.

      Tidak relevan toh yg penting produk favoritnya menang.

      Ketahuilah bung peraturan yg paling mendasar dalam pertempuran udara:

      Missile, atau peluru itu LUAR BIASA BODOH!

      Keduanya tidak bisa membedakan pespur single engine vs twin;
      Biaya operasional mahal, atau tidak.

      Akan tetapi....

      Target yang ukurannya lebih besar, dengn dua pantat mesin yg panas akan selalu lebih mudah tertembak jatuh!

      Delete
    7. Bagi para agen sales pro rongsokan versi export, silahkan menilik kembali artikel ini;

      Kenapa Indonesia TIDAK membutuhkan Twin-Engine figher.

      Delete
  9. Di lancercell, panglima TNI secara bertahap akan mempersiapkan pengganti pesawat sokoi bukan sukoi, bahkan katanya bulan bulan ini. Mgkn bung bisa jelaskan pesawat sokoi itu spt apa, ato salah cetak hurufnya bung...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja berita resminya bagaimana.

      Sudah seharusnya renstra ijin beli sebanyak-banyaknya ini harus dikaji ulang agar lebih sesuai dengan kebutuhan.

      Delete
    2. Mgkn pengganti SU 27/30, diganti SU 35 bung. Minggu depan katanya mau teken kontrak, beritanya di lancercell bung..

      Delete
    3. Kita lihat saja apakah perjuangan para oknum PKI v2.0 (Persengkongkolan Kommercheskiy Indonesia) ini dalam terus merampok kedaulatan bangsa dengan membeli barang downgrade dari negara asal komunis, yg jauh lebih korup dari Indonesia.

      Delete
  10. Detik-detik Jet Tempur Saudi Dihantam Misil Houthi Terekam Kamera http://kom.ps/AFyNL1

    Apakah ini betul?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berita ini agak kabur.

      Video Youtube memang menunjuk kelihatannya siluet F-15 tertembak missile,
      Tetapi......

      ..... Pesawatnya tidak kelihatan tertembak jatuh, melainkan terus terbang,

      Kelihatannya, paling tidak F-15 ini rusak terkena heat-seeking missile.

      Ini kembali menunjuk kelemahan terbesar twin-engine kuno seperti Su-Flemon, atau F-15:
      Dua mesin besar yg panas akan selalu menjadi umpan heat-seeking missile.

      Satu lagi yg aneh dari video ini:
      Kenapa pilot Saudi tidak mencoba mengambil evasive manuever?

      Pilotnya melepas flare, kelihatannya tahu kalau pespurnya terkunci heat-seeking missile.

      Delete
  11. Agen sales selalu mengunggulkan sukhoi dengan istilah heavy fighter twin engine, sedangkan single engine mereka kategorikan medium/light weight fighter., mungkin dalam benak mereka sang heavy figter itu super kuat super cepat, lupa kalau heavy fighter itu super berat super besar super boros dan super panas, ä
    coba bung dark kasih ulasan perbandingan heavy fighter super berat sukhoi vs medium fighter si ringan gripen, bandingkan kecepatannya, daya jelajahnya, total jumlah senjata,, apakah keduanya berbeda jauh? Saya rasa gak akan jauh beda,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sudah menuliskan sebelumnya dalam artikel ini:

      Kenapa Indonesia tidak membutuhkan twin-engine fighter.

      Beberapa rangkuman singkat:

      ## .... dalam pertempuran udara; oh, ya, Twin-engine akan selalu menjadi liabilitas, karena (kecuali F-22) akan selalu lebih mudah terlihat di layar radar, dan tidak terkecuali F-22, juga dalam pertempuran jarak dekat akan mudah diikuti mata pilot.

      Gripen dapat bersembunyi mudah dalam pertempuran jarak dekat --- hanya karena ukurannya yang lebih mungil.

      Lebih kecil itu indah dalam pertempuran udara, sedang lebih bongsor berarti hanya menjadi umpan missile / peluru yang memang bodoh!


      ## Akselerasi, dan manuever dalam pertempuran udara untuk pespur single-engine akan selalu lebih baik dibanding draggy twin-engine, yang juga lebih berat.

      ## Jarak jangkau: Super Hornet dan F-15 membutuhkan dua kali lipat kapasitas bahan bakar untuk mencapai jarak yang sama dengan Gripen / F-16.

      Yah, dua mesin berarti dua kali lebih boros. Walaupun daya dorong dua kali lipat lebih besar; pesawatnya juga menjadi lebih berat, dan lebih draggy (tahanan udara lebih besar).

      Su-35 Flemon sebenarnya yang paling memalukan disini!
      Dengan kapasitas tangki yang dua kali lipat lebih besar daripada F-18SH, atau F-15, masih ditambah 3 drop tank -- jarak jangkaunya inferior hanya di 4,500 km.

      Biaya konsumsi bbm Su-Flemon otomatis akan lebih mahal daripada biaya operasional Gripen, atau F-16; masih tambah komisi perantara, dan biaya korupsi.

      ## Payload: Nah, ini juga menggelikan.
      Kalau untuk pertempuran udara -- konfigurasi paling optimal adalah 4 BVR missile, dan 2 WVR missile.
      Dalam hal ini tidak ada bedanya antara Single-engine, atau twin-engine -- keduanya dapat melakukan yg sama.

      Kalau untuk mengembom target di darat --- lebih lucu lagi.
      Ruski belum mempunyai targeting pod yang sebanding dengan Litening, atau Sniper. Ini tidak mengherankan -- anggarannya sudah tidak ada, dan masih dikorup pula.

      Sukhoi boleh saja bisa membawa 100 dumb bomb, tetap saja, Gripen / F-16 dengan targeting pod, yg membawa 8 smart bomb jenis baru GBU-39 SDB, akan dapat menghantam lebih banyak target dengan lebih akurat -- tanpa perlu membuat kerusakan kolateral yang besar.

      ## Terakhir Kesiapan Tempur:

      Tidak hanya Gripen / F-16 biaya OP-nya jauh lebih murah, tetapi karena secara praktis keduanya lebih sederhana, dan maintenance-nya mudah -- keduanya juga jauh lebih tahan banting, dan reliable.

      Mereka dapat mengudara berkali-kali dalam sehari -- Gripen sudah dirancang untuk mengungguli F-16.

      Twin-Engine Eropa, dan Super Hornet dapet mengudara lebih sering daripada F-15, atau Su-Flemon -- tetapi tetap saja tidak bisa menandingi single-engines.

      "Kekuatan udara yang siap hadir dimana saja"?

      Jawabannya: Hanya Gripen.

      Delete
  12. Om DR, ttg tabel evaluasi AU swiss...bagaimana menginterpretasikan nilai yg diperoleh oleh masing-masing kontestan untuk tiap parameter (air policing, defensive counter air, offensive counter air, strike & reccon) yg diujikan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua parameter tersebut dipertandingkan dengan F/A-18C/D AU Swiss, dengan catatan perbandingannya dilakukan di tahun 2007/2008.

      Sewaktu itu, Gripen yang diperbandingkan adalah Gripen-C.

      Yang menarik disini, kelihatannya Saab mengambil pelajaran dari nilai testing ini, dan kemudian mengembangkan keluarga Gripen-C/D lebih lanjut, sekaligus menjadi dasar dari pengembangan konsep Gripen-NG waktu itu.

      Catatan disini -- Gripen-NG 39-7 test model (sebenarnya Gripen-D yang dikonversi) baru memulai testing setelah testing AU Swiss ini berakhir.

      Dewasa ini, kalau perbandingan AU Swiss ini dilakukan ulang dengan Gripen-C MS20, hasilnya akan lebih menarik.

      Gripen MS20 sampai saat ini terbukti justru masih jauh lebih mudah, dan lebih murah di-upgrade dibandingkan Rafale, atau Typhoon. Sebentar lagi Gripen-C akan genap 2 tahun mendahului keduanya dalam mengoperasikan Meteor.

      Delete
  13. ternyata bnyak yg belum tau di fp saab kalo mereka bilang Gripen hanya bisa bwa senjata AS, dan ada yg berargumen embargo , mrka praktis jd bhan tertawaan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pilihan persenjataan untuk Gripen justru adalah salah satu kunci dari Kedaulatan atas alutsista.

      Gripen sudah terbukti paling sukses dalam mengintegrasikan A2A, atau A2G missile, smart bomb, targeting pod, atau perlengkapan manapun.

      Negara pembeli bebas untuk memilih senjata mana, dari negara supplier manapun.

      Senjata untuk Gripen terserah pembeli --- Mau bikin sendiri kalau bisa juga boleh, karena mengintegrasikan senjata baru akan jauh lebih murah, dan prosedurnya jauh lebih mudah.

      Tidak seperti supplier barang downgrade tradisional seperti US, dan Russia, yang secara praktis mengunci pilihan hanya boleh memakai buatan mereka.

      (Lanjut dibawah)

      Delete
    2. ... dan kalau memilih antara senjata buatan US, atau Russia?

      Jangan mendengarkan "iklan takut embargo" dari para agen sales seperti diatas!

      Biar bagaimanapun, senjata buatan US adalah pilihan yang jauh lebih baik, dan beresiko rendah.

      ## Pertama-tama, tidak seperti agen sales / perantara Rostec, bentuk kontrak untuk persenjataan dari pemerintah United States harus selalu ditandatangani dalam bentuk kontrak G-to-G.

      Tidak akan ada KKN.

      ## Kedua, tidak seperti kebiasaan Moscow; pemerintah United States TIDAK PERNAH memproduksi / menjual senjata versi export.

      Apa yang biasanya mereka lakukan adalah menurunkan spesifikasi alutsista yang mereka jual (seperti contoh F-16 Block-25+), atau hanya mengijinkan penjualan senjata tertentu, dari versi yang sebelumnya.

      Sampai kapanpun, misalnya, Indonesia tidak akan pernah bisa mendapat persetujuan untuk membeli HARM, atau AMRAAM-D.

      ## Terakhir, semua senjata buatan Barat mempunyai perlindungan garansi yang lebih pasti daripada persenjataan versi export Ruski, dan PRC.

      Semuanya sudah dites secara intensif terlebih dahulu agar lebih terjamin bisa bekerja. Tentu saja failure rate (%) adalah salah satu faktor yang tidak pernah bisa benar2 dihilangkan.

      Sedangkan senjata versi export favorit para agen sales, seperti R-73E, atau RVV-AE.....

      .... hanya seperti memasang taruhan di meja judi, dengan kemungkinan menang 1 dibanding 1 triliun.

      Resiko tanggung sendiri.

      Delete
  14. https://www.youtube.com/watch?v=6oAByK_nq10

    bagi yang agan2 yang ngotot dukung sukhoi coba saksikan video youtube

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sukhoi pujaan para oknum, fanboys, dan simpatisan PKI Versi-2 ini sebenarnya kanker alutsista Indonesia.

      Akibat memuja supplier asing, dan antek2 perantara mereka, sekarang ini:

      ## Kita menjadi satu2nya negara yang mengoperasikan... Angkatan Udara yang tidak bersenjata.

      ## Kemudian.... eh, masih juga merasa kepingin tambahan macan ompong pengganti F-5E.... dari supplier, dan perantara yg sama.

      ## Bukan tanpa alasan biaya op Sukhoi mahal;
      Desainnya tidak modular, sulit diperbaiki, dan expiry date-nya cenderung prematur. Pesawat keluarga Flemon tidak dieancang untuk bisa tahan lama.

      Tentu saja masalahnya lebih gawat, karena...

      ## Para atasan oknum PKI tidak mengijinkan pekerjaan maintenance berat di Indonesia, entah apapun alasannya.

      Yah, jangan heran kalau penjajahan biaya OP Sukhoi Sku-11 mencekik anggaran, dan biayanya mungkin bisa dua kali lipat lebih mahal dari yg dibayarkan Malaysia.

      Berkat PKI, kita juga jadi "nerimo aja" malahan masih mau beli tambah.

      Demikianlah kanker Sukhoi di Indonesia.

      Oiya, Sukhoi kalau tanpa KKN itu seperti berkata, "Ikan bisa hidup tanpa air", atau "Harimau tidak perlu lagi makan daging".

      Delete
  15. Good News

    F-16 Block 15 OCU indonesia Di Upgrade menjadi F-16AM/BM Block 20 MLU, agar bisa membawa Rudal Maverick AGM-65 And Sniper ATP. dan F-16 Block 20 MLU bisa lebih unggul dibanding F-16 Block 25/32+ (52ID)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita tunggu konfirmasi dari website resmi DSCA.

      Argumen agen sales bukankah "...jumlah kurang"?

      Padahal dari sekian banyak pespur TNI-AU, hanya 23 unit yg sekarang ini mempunyai kemampuan BVR, dan mengoperasikan targeting pod.

      Sisanya memang tidak bisa, atau hanya bisa memakai missile versi export edisi tahun 1980an.

      10 F-16 Block-15 OCU ini sebenarnya dari produksi yg masih LEBIH BARU dari Block-25+.

      33 F-16 Versi Export yg dapat dipersentajai missile kelas satu; AMRAAM C-7, dan AIM-9X akan jauh lebih berbahaya daripada 100 Sukhoi versi export dengan missile versi export.

      Delete
  16. Bung bisa dijelaskan helm apache yg barusan dtg, ktanya canggih dan buatan Israel...

    ReplyDelete
    Replies
    1. .... dan kemungkinan besar juga akan mendapat pengurangan spesifikasi untuk Apache versi export Indonesia.

      Ingat hukum alam:
      Semua alutsista utuh kalau harus di import dari USA, Russia, atau PRC akan selalu menjadi model versi export downgrade.

      Kalau dari segi kemampuan, sy kurang tahu banyak, apalagi kalau harus memperhitungkan faktor downgrade di atas.

      Masalahnya, sama seperti Leopard -- Apache ini sebenarnya kurang relevan dengan realita tuntutan pertahanan negara kepulauan.

      Delete
  17. Bung, kelihatanya kabar kontrak su 35 yg "akan ditandatangani minggu depan"sekali lagi cuman false alarm
    ga tau kapan selesainya masalah ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau masalah "Su-35 fake news" memang sudah marak dari tahun 2025.

      Masalahnya selama para pejabat terus terobsesi untuk mengejar tutup kontrak dengan pilihan yg sudah pasti akan merugikan negara dan rakyat ini.

      Memenuhi UU no.16/2012?

      Err..... Rostec tidak pernah janji kok.
      Ini hanya klaim para agen sales.

      Dan sepanjang jaman juga tidak akan pernah ada ToT, bahkan untuk pelanggan setianya, India, yang bisa keluar uang puluhan kali lebih banyak drpd negara anti komunis Indonesia.

      Kok seperti membayangkan serigala bisa beranak domba?

      Kembali ke masalah "perbaikan mendalam";
      Kalau TS-2701 & 2702 yang kuno saja bisa butuh 20 bulan, dan tidak ada complain;

      Kenapa mereka akan merasa perlu mengubah tindak-tanduk mereka?

      Atau.....

      Kenapa kita masih juga mau beli dari mereka setelah mendapat perlakuan demikian?

      Apa kita cuma mau jadi budak Moscow?

      Delete
  18. Lihat saja poster tni dan polri bersatu, pesawat yang dipakai para jendral adalah.... Sukhoi!!
    Bung dark apakah disini ada pilot tni yang bisa ngasih pendapatnya soal sukhoi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf, sy belum sempat menjawab ini sebelumnya krn disibukan artikel berikutnya.

      Jawabannya, tidak.

      Pilot TNI tidak akan diijinkan untuk menyuarakan pendapat mereka di medsos. Ini hanya prosedur standar setiap militer, antara untuk menjaga rahasia, dan juga biasanya tidak akan diperkenankan untuk mengkritik keputusan.

      Delete
  19. Bung seandainya RI konflik dgn China, apakah USA akan bantu RI, misalnya up grade F 16....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya dalam potensi konflik "9-dash-line" LCS ini, Vietnam, dan Filipina yang berada di posisi terdepan, dengan Indonesia-Malaysia di posisi kedua.

      Kalau status quo yg sekarang dilanggar, sebenarnya konfliknya akan terjadi antara ASEAN vs PRC, bukan hanya Indonesia vs PRC.

      Dalam konteks ini, ya, kemungkinan F-16 Indonesia misalnya, bisa mendapat lebih banyak upgrade... agar bisa beroperasi bersama asset2 alutsista US, Australia, dan Singapore.

      Malah terbuka kemungkinan, Vietnam juga bisa mulai mendapat F-16 bekas.

      Dalam konteks ini juga, kenapa terus mengoperasikan Sukhoi penghambur uang bukan ide yg baik.

      Kalau dengan Sukhoi Kommercheskiy, kita mau mencoba berhadapan dengan negara ahlinya memakai Sukhoi, yg tehnolohinya jauh lebih modern, armadanya ratusan unit, pengalamannya puluhan tahun, dan anggarannya juga puluhan kali lipat,

      ...kita hanya akan bunuh diri di Natuna Utara.

      Delete