Friday, November 17, 2017

Memahami Konsep BVR Combat (Bagian 2)


Artikel ini adalah kelanjutan dari bagian pertama, yang sudah membahas tentang berbagai macam guidance yang tersedia dalam BVR missile.

Seandainya sang pilot sudah berhasil memenangkan pertempuran tidak terlihat pertama antara radar vs RWR, kemudian mendapatkan lock tanpa pernah terlihat lawan, lalu memencet tombol untuk meluncurkan BVR missile....?

Apakah berarti pertempuran BVR ini sudah selesai?

Hanya berhasil menembakkan BVR missile sebenarnya baru separuh dari perjuangan dalam pertempuran udara modern. 

Artikel ini akan membahas semua tantangan tahap selanjutnya dalam BVR combat, dari spektrum penggunaan AMRAAM, dan Meteor; dan BUKAN missile versi export haram seperti RVV-AE, yang hanya diperbolehkan untuk semua negara pembeli yang mengimport pesawat tempur dari Russia.


Tantangan Pertama: Waktu tempuh missile ke target

Live Firing Exercise 4 F-15C dalam latihan WSEP di Florida, tahun 2010
(Gambar: US Air Force)
Dalam artikel bagian pertama sudah menjelaskan kalau sejauh ini, Active Radar Guidance adalah seeker missile jarak jauh yang paling efektif. 

Kembali, disini BVR missile akan berhadapan dengan hukum fisika yang pertama. AMRAAM C-7 misalnya, mempunyai jarak tembak yang melebihi 100 kilometer. Dengan perkiraan cruise speed sekitar Mach 4, atau sekitar 5.556,60 km/jam, dan posisi target intercept di kisaran 75 kilometer, apakah ini artinya AMRAAM C-7 akan dapat mencapai target hanya dalam waktu 48.59 detik?

Kenyataannya tidak semudah itu. Perhatikan perhitungan sederhana berikut:

Faktor pertama yang harus diperhitungkan adalah adanya time delay dari waktu saat pilot menekan tombol, sampai saat AMRAAM meluncur dari launcher. Untuk pesawat tempur non stealth, yang missile-nya bisa langsung meluncur; kita akan memperkirakan time delay 0.15 detik.

Credit: Raytheon
Pilot F-35 stealth fighter akan harus bersabar menunggu penalty 2,5 detik,
dari semenjak menencet tombol merah,
HARUS SABAR MENUNGGU sampai pintu conformal weapons bay terbuka,
dan kemudian AMRAAM dijatuhkan dari dalam perut F-35
.... memberikan semua pesawat stealth dengan conformal weapon bay,
penalty 4,60% time delay vs pesawat tempur Konvensional dalam jarak tembak 75 km
Kedua, seperti semua missile jenis manapun juga, AMRAAM pada dasarnya memakai mesin roket. Mesin roket pendorong AMRAAM sebenarnya hanya mempunyai cukup bahan bakar untuk 5 - 7 detik pertama saja (angka sebenarnya dirahasiakan). Untuk menempuh jarak yang sedemikian jauh, missile ini akan melaju ke arah target seperti peluru yang ditembakan dari pistol. Walaupun dalam beberapa detik pertama ini, AMRAAM akan melaju jauh lebih cepat dibanding angka publikasi resmi-nya, yang ada di kisaran Mach-4, dengan sendirinya tergantung situasi cuaca, dan suhu atmosfer, AMRAAM ini sendiri akan menderita time delay sekitar 1.75 detik seperti dalam ilustrasi di atas.

Faktor terakhir yang harus diperhitungkan adalah perubahan arah missile, dan end manuever yang terjadi sejak missile ditembakkan. Dalam perhitungan interception sempurna ini, angkanya time delay-nya berkisar di 0.65 detik. Tentu saja, tergantung perubahan arah, dan kecepatan target, angka time delay ini sendiri bisa melompat sampai ke 5 detik.

Jadi seperti dalam ilustrasi interception sempurna ini, kita bisa melihat angka 51,14 detik untuk AMRAAM-C yang ditembakan dari jarak 75 kilometer. Di lain pihak, tentu saja ini artinya pilot lawan mempunyai waktu 51 detik untuk dapat mendeteksi, menghindar, atau mempersulit AMRAAM.

Bagaimana cara pesawat lawan dapat memanfaatkan KESULITAN WAKTU ini?

Pertama-tama, sebenarnya cara paling efektif untuk mendeteksi BVR missile, adalah dengan terlebih dahulu melihat pemancar radar lawan melalui RWR, dan kemudian mencoba menghindar. Tetapi artikel ini mengasumsikan kalau BVR missile sudah di-lock secara sempura, dan pilot sudah menekan tombol merah. Apakah missile masih tetap dapat terlihat lawan?

Patut diingat kalau RCS missile akan kurang dari 0,05 m2. Mencoba melihat missile dengan radar tidak akan pernah bisa memberikan response time yang cukup. IRST modern, seperti Thales OSF, atau Selex Skyward-G (yang bukan versi export) akan dapat melihat panasnya mesin missile dari jarak 50 kilometer+. Kedua cara ini membutuhkan arah moncong pesawat lawan menghadap ke arah missile yang sudah ditembakkan. 

Inilah kenapa penembak BVR yang baik, seperti pernah dituliskan dalam skenario pertahanan di Natuna, akan mencoba menembakkan BVR missile dari arah samping, atau dari arah belakang, dimana kemampuan lawan untuk mendeteksi missile yang ditembakkan menjadi lebih minimum.

Sedangkan bagi pihak yang sedang ditargetkan dalam BVR combat, dan tidak bisa mengambil posisi untuk menembak balik, tentu saja solusi yang terbaik juga.... memperhatikan baik-baik layar Radar Warning Receiver mereka, dan menjauhi ancaman sebisa mungkin.

Masalah utama kalau menembakkan BVR missile dari arah belakang pesawat lawan adalah J A R A K. Dari sejak pertama kali ditembakkan, BVR missile akan harus mengejar kecepatan pesawat lawan yang sebenarnya mencoba menjauh dari pesawat induk. 

Disinilah kembali keunggulan MBDA Meteor BVR missile mulai terlihat dibandingkan AMRAAM versi manapun:
Credits: MBDA Missile
Dalam gambar pertama MBDA ini, kita bisa melihat kalau AMRAAM akan kehabisan bahan bakar dalam beberapa detik pertama; sedangkan Meteor dengan ramjet propulsion akan dapat terus mempertahankan kecepatan secara konsisten dari sejak ditembakkan sampai menghantam target. Sementara itu, jarak tembak yang semula dikisaran 75 kilometer seperti dalam contoh di atas, masih bisa semakin terus melebar.
Credits: MBDA Missile
Akibatnya jelas.
Credits: MBDA Missile

Sementara pesawat lawan yang mencoba menghindari AMRAAM akan dapat mencoba untuk terbang lebih cepat daripada pesawat induk penembaknya, dan terus mempertahankan kecepatan untuk menghindar -- trick yang sama tidak akan berhasil dalam menghadapi Meteor, missile pembunuh Sukhoi, yang justru akan dapat melaju lebih cepat daripada target dalam detik-detik terakhir.



Tantangan Kedua: Midcourse Guidance

Dalam contoh ini, symbiology dalam layar RWR F-16 memberitahukan pilot keberadaan tiga obyek:
  • Tanda segitiga 15 pada posisi jam tujuh menunjuk emisi radar dari F-15 kawan.
  • Tanda (5) pada posisi beberapa derajat dari jam duabelas, menunjuk emisi radar dari SA-5 Gammon SAM -- yang dinilai sebagai salah satu ancaman
  • Tanda (6) dalam bentuk symbol diamond dinilai sistem sebagai Ancaman terbesar -- emisi radar dari SA-6 Gainful. SAM lawan.

Jarak antara dari tengah layar, ke masing-masing symbol menunjuk seberapa kuatnya / seberapa jauhnya emisi radar dari target itu ke pesawat induk.


(Sumber: Quora, via Forbes)

Midcourse Guidance adalah usaha pesawat penembak untuk mempertahankan missile lock ke arah target, dengan bantuan datalink dari pesawat induk ke missile. 

Tantangan terbesar disini, seberapa jauh Radar Warning Receiver lawan akan dapat mendeteksi pancaran gelombang radar dari pesawat induk? 

Kalaupun sewaktu mendapat lock, lawan belum bisa melihat pesawat induk, BVR missile akan membutuhkan panduan sampai jaraknya cukup dekat sampai Active Radar Guidance di kepala missile dapat mengambil alih tugasnya, dan menghantam target secara independent. Ini artinya radar pesawat induk akan harus menerangi target dalam waktu yang cukup lama, mempermudah deteksi dari RWR lawan, yang versinya se-downgrade apapun juga.


Bagaimana pesawat induk dapat mempertahankan Midcourse Guidance tanpa terdeteksi?

Sama seperti pernah dipraktekkan Gripen-Indonesia dalam artikel skenario pertahanan di Natuna, jawabannya untuk memenangkan BVR Combat Abad ke-21 adalah dengan mempergunakan AESA radar, yang dapat berpindah-pindah frequency dengan cepat, dan menyalakan radar setiap pesawat tempur dalam satu formasi secara bergantian.

Panduan radar ini bisa bervariasi, tidak hanya dari AESA radar, tetapi juga dari panduan radar pesawat AWACS, ataupun radar di darat. Kembali, ini akan menuntut pembangunan sistem pertahanan modern yang terkoneksi

Pihak pemenang harus dapat terus mengunci posisi lawan, tanpa pernah bisa terlihat lawan.

Kalau ini tidak bisa dilakukan, untuk selamanya Radar Warning Receiver lawan akan selalu berhasil mematahkan BVR combat dalam masa mid-course guidance ini. 



Tantangan Ketiga: End Manuever, dan menembus pertahanan akhir lawan

Realita: 
Gripen dapat membawa lebih banyak Chaff, dan Flares dibanding pesawat tempur manapun
(Gambar: Saab)
Kalaupun BVR missile berhasil menembus tantangan waktu, dan berhasil mengikuti panduan mid-course guidance dengan baik, saatnya kembali berhadapan dalam pertempuran missile vs pesawat tempur.

Credits: Saab
Gripen-E Integrated Electronic Defense Suite
memperkenalkan Missile Approach Warning Sensors,
dan sistem Jammer yang berbasiskan Gallium-Niitride

BUKAN seperti SAP-518i versi export downgrade
Secara basic, setiap pesawat tempur akan membawa chaff, untuk mengacaukan panduan radar guidance di kepala missile, atau flare, untuk mengecoh missile dengan panduan Infra Red seeker. Pesawat tempur modern akan mempunyai sistem Electronic Counter Measure, atau jammer untuk dapat mengacaukan guidance radar lawan, dan terakhir..... beberapa model juga dapat membawa decoy untuk benar-benar mengecoh semua tipe missile.
Credit: Leonardo
Britecloud Expandable Active Decoy:
Standard decoy system untuk Gripen-E;
mengecoh guidance radar lawan, dengan decoy system seukurang chaff biasa
Dalam pertempuran babak akhir ini, pilot yang sedang menghadapi BVR missile, tidak hanya harus bergantung kepada Electronic Defense Suite, decoy, chaff, dan semua flare-nya sendiri, melainkan juga.....


BERLATIH, BERLATIH, dan BERLATIH sebanyak mungkin

Picard578 menuliskan untuk blog defenseissues.net menjelaskan lebih lanjut kalau pesawat tempur yang bermanuever 5G dalam kecepatan 667 kilometer per jam saja; akan memaksa misalnya, IRIS-T yang berkecepatan Mach 3, untuk mempunyai lingkar manuever yang ukurannya 2,5 x lipat.

Semakin cepat missile melaju, semakin besar lingkar putarnya, dan semakin besar gaya G yang harus ditarik.

AMRAAM hanya mempunyai kemampuan manuever akhir sekitar 40G, dan mesin roketnya sudah kehabisan bahan bakar dalam detik-detik terakhir. Sedangkan Meteor dengan 2-way datalink..... justru akan dapat menambah kecepatan di saat akhir saat pilot tidak lagi mempunyai ruangan untuk bisa menghindar.

Ini kembali menggarisbawahi pentingnya memberhatikan... jumlah jam training pilot. Pilot yang sudah banyak menuai latihan menurut sistem training modern, akan mempunyai kemampuan untuk:

  • Memanfaatkan deteksi RWR, atau Electronic Defense Suite atas datangnya ancaman gelombang radar dari BVR missile
  • Mengalokasikan jarak, dan posisi missile lawan dengan akurat, terhadap pesawatnya sendiri, dan, terakhir....
  • Mengambil manuever akhir yang memungkinkan pesawatnya menghindari tembakan BVR missile.
Tentu saja, sebaliknya, pilot yang sudah berlatih intensif menurut sistem modern akan dapat mempunyai kemampuan untuk mengakali ketiga keterbatasan BVR missile modern ini dan mencetak kemenangan atas lawan manapun. Walaupun MBDA Meteor secara tehnis adalah missile BVR terbaik di dunia; ini bukan akan menjadi faktor yang utama kalau dalam pertempuran; si profesional akan berhadapan dengan si amatir bersenjatakan perlengkapan versi export.



Penutup

Credits: Flygvapnet

BVR Combat sebenarnya hanyalah salah satu spektrum baru dalam pertempuran udara. Pihak yang akan selalu menjadi pemenang harus memenuhi semua persyaratan sebagaimana sudah dibahas dalam artikel definisi ulang efek gentar:

  • Sistem Pertahanan Modern yang terkoneksi dengan baik, dan dapat terus berevolusi mengikuti perkembangan tehnologi, dan tantangan jaman.
  • Dukungan Penuh dari Industri Pertahanan Dalam Negeri, dalam support, dan pengembangan semua fasilitas, dan asset tempur
  • Latihan, latihan, latihan, menurut Sistem Modern seperti dalam point pertama.
  • Dan terakhir, tentu saja semua perangkat yang tidak hanya harus memenuhi ketiga persyaratan di atas, tetapi juga secara tehnologi up-to-date, dan dapat memakai semua yang terbaik menurut kebutuhan.

Kalau keempat persyaratan sederhana ini tidak dapat terpenuhi, tentu saja lawan manapun yang sudah melakukan semuanya ini akan selalu mengungguli pihak yang belum, atau menolak untuk belajar.
Tidak ada kesadaran, yah, selamanya hanya akan menghamburkan uang!
Sekali lagi, kita sebenarnya belum pernah menimba pengalaman dalam hal ini. Berkat sistem akuisisi "macan ompong", yang diadvokasikan oleh para agen sales Sukhoi, dan KF-X; pengalaman negara kita dalam BVR combat sejauh ini masih nihil. Learning Curve yang harus kita lampaui sebenarnya masih sangat jauh. 

Saat ini, para agen sales mencoba membuat kita terlena dengan menjual mimpi yang terlalu indahPadahal, mencoba mengadu gagah dengan asal membeli jenis pesawat tempur manapun, hanya akan membuat kita hanya dipercundangi lawan dalam konflik yang sebenarnya. 

Artikel BVR combat yang berikutnya akan melihat lebih jauh kenapa beberapa jenis pesawat tempur yang memakai BVR missile yang sama, seperti AMRAAM, atau Meteor untuk ketiga Eurocanards; belum tentu akan mempunyai kemampuan tembak yang sama dalam konflik.

Kita juga akan melihat dalam artikel mendatang kenapa BVR missile juga, seperti pesawat tempur, juga tidak bisa sembarang beli. Kredibilitas pembuat, dan hasil testing yang intensif harus menjadi faktor pertimbangan utama. 

39 comments:

  1. Latihan menembak udara ke udara, objek sasarannya berupa apa bung...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Kalau untuk mengetes kelaikan missile untuk live-test: memakai Target drone.

      Ini sbnrnya sudah dipraktekan semenjak tahun 1960-an. Sekarang, prosedur, dan skenario yg di-tes semakin rumit, spt misalnya, di-tes dalam keadaan jamming berat.

      ## Kalau dalam latihan manca negara seperti Red Flag, atau Pitch Black, masing2 pihak akan membawa dummy missile, dan ACMI pod.

      Delete
    2. TNI AU blm pernah sama sekali ya bung latihan nembak air to air...

      Delete
    3. Mungkin kalau latihan WVR bisa, karena F-16A/B, dan F-5E keduanya sudah dirancang dari awal untuk pertempuran jarak dekat.

      Tetapi kalau kita membicarakan BVR, perlengkapannya saja tidak ada.
      Boleh dibilang kita sudah menyia-nyiakan waktu selama 20 tahun terakhir ini dalam nama mengejar mimpi.

      Delete
    4. Bung, ada yg mengatakan, siapa yg menembak dulu, dia yg akan memulai perang. Mgknkah krn ada pendapat ini RI tdk beli rudal BVR? jadi pespurnya hanya bisa dibuat dogfight....

      Delete
    5. Bukan begitu artinya.

      Dewasa ini, AU yang tidak mempunyai kemampuan BVR artinya memang kurang modal, atau memang manajemennya kurang kompeten.

      Sejak serangan mendadak Israel di tahun 1967 dalam Perang 7 hari, memang menjadi aturan tidak tertulis -- barangsiapa menembakan peluru terlebih dahulu, dia akan menjadi musuh dunia.

      Di tahun 1973, walaupun beberapa lampu kuning kemudian sudah menyala, US memperingatkan Israel tidak boleh menyerang terlebih dahulu seperti di tahun 1967.

      Untuk contoh skenario modern, seperri artikel Skenario Pertahanan Natuna.

      Pihak "lawan" disini menjatuhkan bom terlebih dahulu, tetapi pihak kita sudah lebih siap untuk menyerap kerugian awal terlebih dahulu, dan kemudian menghantam balik.

      Dalam skenario konflik manapun, AU yang tanpa kemampuan BVR, atau hanya mengandalkan missile versi expioet yg tidak dipakai pembuatnya sendiri, hanya akan disapu dari langit dari langit dalam tempo 15 menit.

      Delete
    6. Bung, kecepatan rudal harus melebihi kecepatan pesawat tempur spy bisa mengenai pespur, katanya S 400 kecepatannya 6 mach bung...

      Delete
    7. Sebenarnya pertanyaan anda mengungkap sesuatu yang menarik.

      Kemungkinan menembak jatuh dengan BVR missile pesawat tempur sebenarnya jauh lebih efektif dibandingkan SAM system.

      Ini dikarenakan berberapa faktor:

      Pertama, selalu diingat kalau SAM system raksasa, seperti S-400 itu letaknya akan selalu fixed, atau tidak mudah dipindah-pindahkan.

      Dahulu kala di Serbia, tim SA-2, atau S-175 Dvina yang berhasil menembak jatuh F-117A dikarenakan mereka berhasil menyalakan radarnya hanya sesekali, dan memakai guess work; dilain pihak SA-2 tidak membutuhkan waktu yang lama untuk di-setup.

      S-400 jauh lebih rumit, mempunyai berbagai macam jenis radar, dan berbagai macam jenis missile, dan membutuhkan sekurangnya 20 truk ukuran raksasa yang sulit disembunyikan. S-400 yang ditempatkan Russia di Latakia, Syria, sekarang contohnya, sudah diawasi lewat satelit, dan posisinya tidak pernah berubah sejak pertama kali ditanam 2 tahun yg lalu.

      Sekali lagi ini membuat SAM system akan selalu menjadi target pesawat tempur, dan bukan sebaliknya.

      Bandingkan dengan pesawat tempur yang menembak BVR missile.

      Mereka terbang dengan kecepatan 950 kph, dan kalaupun missile mereka meleset, mereka juga mempunyai kemampuan untuk terbang supersonic, atau bermanuever untuk menghindari missile lawan.

      SAM system tidak bisa melakukan hal yg sama.

      Delete
    8. (lanjut)

      Kedua, SAM system seperti S-400 akan terlalu mengandalkan pemancar radarnya sendiri untuk bisa menghancurkan target.

      Dan kita sudah tahu kalau barangsiapa menyalakan radar, dia akan menjadi umpan sasaran untuk missile lawan.

      Radar Warning Receiver kemajuan tehnologinya sudah maju terlalu jauh sejak tahun 1982. Dipadukan dengan AESA radar yang sekarang dapat melihat target secara pasif, alias ikut berubah menjadi RWR, siapapun yg menyalakan radar tempo doeloe (non AESA) hanya akan menjadi seperti mau bunuh diri.

      BVR missile modern akan dapat di-guide tidak hanya dari pesawat induknya sendiri, tetapi juga dapat mengandalkan sensor feed dari pesawat tempur lain, dari radar di darat, atau dari pesawat AWACS.

      Kebanyakan SAM system, dan terutama S-400, belum dapat memanfaatkan fleksibilitas yang sama.

      Terakhir, ini sebenarnya juga menjawab pertanyaan anda mengenai missile Mach-6 dari S-400.

      Radar S-400 yang letaknya fixed di darat, akan baru dapat men-lock F-18E/F, atau Rafale sampai jaraknya turun ke 100 kilometer.

      Missile Mach-6 akan membutuhkan waktu 60 detik untuk dapat menghantam target, dan sementara itu, target bisa berputar balik, dan terbang rendah sehingga menghilang dari radar.

      Nah, kalau kita mengasumsikan taruh kata missile Mach-6 ini bisa ditembakkan sempurna, dan mencapai target.

      Ini seperti sudah dibahas oleh defenseissues.net – semakin cepat missile tersebut melaju, semakin sulit kemampuannya untuk bermanuever.

      Untuk menghantam pesawat yang bermanuever 0,5g dengan kecepatan 700 kph, missile Mach-6 harus dapat menarik gaya 400g --- dan lingkaran putarnya akan terlalu besar. Ini jelas tidak mungkin, karena tidak ada missile yang bisa menahan gaya 400g --- missilenya akan hancur sendiri.

      Inilah kenapa sekali lagi kita kembali ke awal,

      BVR missile sebenarnya akan jauh lebih efektif dibandingkan SAM system manapun.

      Tentu saja, kita tidak berbicara tentang dua missile kadaluarsa RVV-AE, atau R-27.

      Delete
  2. Admin,Pasukan Koalisi menemukan pesawat MiG-25 Foxbat yang terkubur milik Iraq Air Force dan dibawa ke Museum USAF di Dayton Ohio.Bagaimana pendapat anda?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau secara strategis, menemukan MiG-25 yang dikubur Iraq di tahun 2003 sudah tidak lagi relevan.

      MiG-25 dinilai sudah terlalu ketinggalan jaman..... sejak tahun 1976.

      Viktor Belenko, pilot AU Soviet, sewaktu itu membelot, dan mendarat di Jepang dengan MiG-25R, bukan yg versi export spt Iraq.

      Yang menarik, sewaktu itu NATO membayangkan MiG-25 tidak hanya cepat, tapi luar biasa manueverable. Keberadaan MiG-25 adalah yg mendorong lahirnya pespur Generasi Keempat.

      Padahal.... MiG-25 Belenko didapati sudah terlalu kuno di kala itu. Desainnya mendorong melebihi batas industri Soviet di masa itu. Semisal, sayap MiG-25 besar, bukan berarti wing loading-nya rendah, tetapi krn desain pswt ini begitu berat, MiG-25 membutuhkan sayap yg sedemikian besar justru untuk bisa mengudara.

      Nah, kalau Su-35 Versi Export Indonesia... akan menjadi kado intelijen yg menarik.

      Delete
  3. Panglima TNI: Indonesia Akan Diperebutkan... http://regional.kompas.com/read/2017/11/18/17411981/panglima-tni-indonesia-akan-diperebutkan

    Pendapat admin tentang artikel ini bagaimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau pendapat kita harus lebih serius meningkatkan kemampuan pertahanan memang benar.

      Tetapi kita harus memfokuskan pembangunan sistem pertahanan modern, dan industri dalam negeri, bukan semata hanya mengejar jumlah dengan beli import.

      Kalau membicarakan lagi2.... "proxy war" ?

      Pihak mana yg sekarang sedang melakukan proxy war di Indonesia?

      Apakah kita mau menunjuk ke negara asing yg mensponsori?
      Ataukah kita harus melihat ke dalam, kemudian berjuang untuk melawan radikalisme?

      IMHO, ancaman terbesar yg menghadapi setiap negara di dunia ini bukan lagi negara lain,
      .... melainkan apa yang disebut Identity Politics.

      Identity Politics ini biasanya mengiring kelompok2 tertentu dengan berbasiskan misalnya, golongan pendapatan yg sama, strata sosial yg sama, suku yg sama, atau agama yg sama, dan kemudian memanipulasi mereka untuk menyebut "kelompok kita benar! Kelompok kita menderita gara2 kelompok itu!"

      Jadi kelompok kita harus bisa mengalahkan kelompok yg lain!

      Mau alasannya sosial, agama, atau suku, itu tidak relevan, karena tujuan utama politik semacam ini adalah untuk menyulut konflik internal.

      Kalau kita membicarakan ancaman militer dari negara lain, konflik dewasa ini sudah berbeda sejak Perang Dunia II tahun 1939 -1945.

      Nanti kita akan membahas dalam topik pelajaran Sejarah, kenapa tidak akan mungkin bisa lagi terjadi Perang Dunia III.

      Delete
  4. bung apakah taktik BVR menghadapi pespur stealth sama dgn tktik menghadapi pespur konvensional?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Pertama-tama, kita menghadapi pesawat stealth, seperti misalnya, F-35, atau pesawat tempur lain, kita akan memakai model mana?

      Semua Versi Export edisi spesial Indonesia, mulai dari IF-X, F-16ID, atau Su-35KI sih dari awalnya tidak akan pernah bisa ada harapan. Downgrade kemampuannya terlalu banyak, dan para pembuat tidak akan mengijinkan modifikasi yg berarti.

      Dan dari antara ketiga model ini, tidak hanya Su-35 yg paling mahal biaya operasionalnya, tetapi dengan masih diperlengkapi missile cacad RVV-AE, atau R-27 versi export --- tidak akan mempunyai peluang untuk menembak lawan manapun dalam BVR combat.

      ## Kalau kita berbicara menggunakan salah satu dari ketiga Eurocanards, barulah posisinya mulai lebih seimbang.

      Semua pespur buatan US belum ada yang bisa memakai MBDA Meteor.
      Secara politik, kemungkinan mempersenjatai F-35 dengan Meteor saja, walaupun banyak dibicarakan akan dilakukan, sebenarnya juga akan sangat sulit.

      Karena itu, secara tehnis skrg keunggulan missile ada di tangan Eropa.

      Kalau kita berbicara soal sensor, stealth vs Eurocanards akan terbilang seimbang.

      F-35 akan bisa melihat Eurocanards terlebih dahulu, tetapi Electronic Defense Eurocanards juga akan bisa melihat gelombang radar F-35.
      Kecil kemungkinannya F-35 akan dapat menembak jatuh Eurocanards manapun dengan 4 AMRAAM.

      Sebaliknya, tergantung Networking, posisi, dan jarak antara kedua belah pihak, IRST Eurocanards beberapa generasi lebih modern vs F-35, sedang F-22 tidak membawa IRST.

      Kalau Eurocanards dapat melihat F-22, dan F-35 dengan layar IRST, yg terpadu sebagai satu bagian dalam Sensor Fusion, yah, habislah sudah!

      Keunggulan stealth menjadi tidak relevan.
      Ini memungkinkan Meteor untuk dapat dipandu secara pasif sampai detik terakhir stealth tidak lagi bisa menghindar.

      Dari antara ketiga Eurocanards, Gripen-E yg akan lebih unggul.

      Kenapa?
      Karena Sensor Fusion di Gripen-E akan dapat dibagi dalam TIDLS Gripen-inter-network.
      Korelasi data akan jauh lebih seamless untuk dapat mengunci target manapun, karena data dari 4 pswt bisa di-cross secara real time.

      Tidak ada equivalent yg sama dalam pespur jenis manapun juga.

      Delete
  5. Admin ini kalau menurut saya KFX/IFX itu riskan karena level ketergantungan terhadap US sangat tinggi mungkin 90% komponen US made atau US based sedangkan F-16 jangan ditanya. Menurut saya sih Gripen itu kurang lebih ada yang bilang 60-70% komponen bisa disuplai sendiri jadi level ketergantungan terhadap US jauh lebih rendah dan sisanya malah bisa dicari sendiri ke partner2 di Eropa nah yang 100% bener2 independen itu Dassault Rafale memang pure 100% Perancis. Tapi kan mengingat harga yang mahal banget kayaknya gak mungkin kita akuisisi Dassault Rafale, menurut admin gimana

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Komponen paling penting dalam pesawat tempur sebenarnya bukan mesin, airframe, radar atau persersenjataan, melainkan Source Code.

      Dalam hal ini, F-16 dan IF-X tidak akan ada bedanya, karena siapa yg menulis source code (Lockheed) akan mempunyai wewenang untuk menentukan apa yg diperbolehkan.

      Radar kemampuannya mau diturunkan 40%?
      Gampang; tinggal merubah beberapa ratus code.

      Mesin F414 digital engine mau di-downgrade sedikit? Mudah, ubah code-nya, agar akselerasi awalnya sedikit lebih jelek dari F-16 dgn mesin GE-129.

      ## Untuk Gripen, pemakaian komponen buatan US bukan masalah pelik, krn tidak ada satupun yg bisa mempengaruhi kemampuan tempur, atau bisa diutak-atik seenak perut spt F-16, dan IF-X.

      Source Code Gripen 100% proprietary Saab, dan mereka siap mengajarkan ke Indonesia.

      Dengan mesin F414 yg sama dengan KF-X, F-18E/F, dan Tejas -- Gripen akan dapat memanfaatkan kemampuan mesin ini 20% lebih baik dari yg lain.

      ## Rafale v Gripen
      Memang secara murni kalau mau 100% anti-buatan US, produk Dassault kelihatan lebih baik.

      Perancis mempunyai reputasi tidak ambil pusing soal urusan dalam negeri negara lain spt Washington DC.

      Kelemahan Pertama:
      Sama seperti F-16, dan Flemon, pembeli menjadi harus 100% tergantung kepada industri dalam negeri Perancis.

      Rafale belum mengintegrasikan AIM-9, atau AMRAAM, misalnya, dan hanya bisa memakai 1-way datalink dengan missile Eropa, MBDA Meteor.

      Kelemahan kedua: Benar, harga, dan biaya op Rafale akan terlalu mahal vs F-16, dan Gripen.

      Entah kenapa, Perancis di tahun 1980-an memilih desain twin-engine untuk menggantikan Mirage 2000. Padahal, semua model single engine buatan Perancis yg sebelumnya sudah dipesan negara lain bahkan sebelum mulai mengudara.

      Sedangkan Rafale harus menunggu hampir 20 tahun sebelum ada negara yg mau tutup kontrak.

      Kalau Rafale adalah tipe single engine Perancis modern, perbandingannya dengan Gripen akan lebih seru.

      Sayangnya, kita tahu kalau Gripen biaya OP-nya akan kurang dsri 30% Rafale Twin-Engine, lebih fleksibel dalam pilihan persenjataan, atau customisasi, dan akan dapat melakukan 2-way datalink dgn Meteor.

      Satu Rafale, sehebat apapun, tidak akan bisa menandingi fleksibilitas yg bisa didapat dari 2 Gripen, yg biayanya masih lebih murah.

      Delete
  6. Replies
    1. UAV yang membawa persenjataan?

      Belum.

      Semuanya butuh waktu, dan komitmen jangka panjang.

      Sejauh ini, pengalaman kita mengoperasikan UAV untuk recon saja kelihatannya masih belum mencukupi.

      Delete
  7. Admin,bisa enggak kita beli UCAV seperti BAE Taranis dan Dassault nEUROn?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baik Taranis, ataupun Neuron statusnya masih untuk experiment atau untuk study concept, bukan production model.

      Kembali, seperti diatas, sebaiknya kita terlebih dahulu menulusuri penggunaan UAV recoinasance seperti IAI Hermes, dan kemudian mengintegrasikannya ke National Network, yg juga.... masih belum ada.

      Kalau kita mulai berpikir ingin segala sesuatu yg serba wah, sayangnya... sekali lagi kita belum siap.

      Kembali ke awal, inilah kenapa seperti kata Presiden Jokowi, kita harus mulai merubah pola akuisisi alutsista kita.

      Prioritas utama adalah membangun industri lokal, dan mulai mengarahkan akuisisi ke produk yg sudah terlebih dahulu ditawarkan untuk license production.

      Antara 30 - 90% dari nilai akuisisi akan bisa di-transfer balik ke perekonomian Indonesia.

      Kalau industri kita sudah menjadi semakin maju, barulah saatnya mulai berpikir pengembangan UCAV modern, atau mungkin BVR missile?

      Tentu saja ini akan selalu membutuhkan partner.

      Delete
  8. Bung, apakah alutsista Turki bisa bersaing dgn alutsista buatan EU dan AS ?,mereka udh macam2 produknya mulai dari SAM,drone,Air to air missile dll

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini sama seperti mimpi orang2 Korea.

      Tidak akan bisa terjadi.

      Sekali lagi, perbedaan basis industri, tehnologi, pengalaman, infrastruktur antara para pemain lama seperti di US, dan EU, dibandingkan semua negara lain sebenarnya terlalu jauh.

      Industri2 para pemain lama sudah menimba pengetahuan, dan pengalaman selama puluhan tahun.

      Kalaupun Turki, atau Korea bisa mendapat kejatuhan dana $100 milyar sekalipun, tidak akan bisa mengejar ketinggalan.

      Jangankan berbicara tentang industri US, ataupun EU;
      Industri militer Israel, yang modalnya lebih terbatas saja, masih jauh lebih modern dibandingkan Turki.

      Delete
    2. tapi mereka terus berkembang bung gi daripada indonesia jalan ditempat

      Delete
    3. tapi turki terus brkembang daripada indonesia jalan ditempat

      Delete
    4. Demikian juga dengan Brazil, India, Afrika Selatan, dan Singapore.

      Perbedaannya dengan di Indonesia:
      Industri dalam negeri di semua negara tersebut selalu diikutsertakan, baik dalam akuisisi, ataupu pengembangan tehnologi militer.

      Sedangkan di Indonesia, kita tahu kalau para pejabat cenderung "sebodo amat" dengan industri lokal, dan yang penting beli import mentah secepat mungkin sebelum "masa jabatan guwe habis."

      Delete
  9. Trump Kembali Pamer Jet Tempur "Siluman" Milik AS http://internasional.kompas.com/read/2017/11/24/13242421/trump-kembali-pamer-jet-tempur-siluman-mili

    Di artikel itu dikutip kl Trump bilang F-35 tdk akan terlihat wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya Stealth itu adalah flawed concept!

      Konsep cacat, atau Logika Hollywood.


      F-35 "tidak terlihat" --- er, sbnrnya kalau diadu dengan sistem pertahannya seperti Indonesia -- tidak ada senjata, networking, atau AESA radar, dan masih ngebet membeli rongsokan versi downgrade, yah pernyataan ini akan benar.

      Stealth sejauh ini kelihatan baik, seperti F-22, atau B-2 bomber, justru karena dioperasikan bersama2 pesawat2 konvensional sebagai pelengkap, bukan pemain utama.

      Kemudian perhatikan beberapa hal berikut:

      ## F-15 dan F-16 non-stealth Israel saja dapat membom semua target di Syria, tanpa bisa disentuh sistem pertahanan produksi Russia.

      Apa bedanya kekebalan seperti ini dengan F-35?

      Dan sehubungan dengan ini....

      ## Pespur konvensional akan selalu lebih murah diproduksi, dan dirawat dibanding stealth.

      Lihat saja di Syria, atau di Afganistan skrg!

      Yang menjadi target bomb NATO adalah ISIS, atau Taliban, yg sama sekali tidak mempunyai pertahanan udara apapun.

      Dalam logika Hollywood Stealth; para pengguna F-35 akan membayar biaya 5x lebih mahal dari F-16 untuk melakukan pekerjaan yg sama, tanpa ada keunggulan yg berarti.

      Tentu saja, Vought A-7 Corsair akan dapat mengerjakan pekerjaan yg sama juga, dengan lebih akurat, membawa lebih banyak bom, dan lebih murah dibanding F-16.

      Kita bisa menarik kesimpulan awam disini, kalau siapa yg mau membeli F-35 sebenarnya....??

      Delete
  10. Menurut mimin, apakah KKB yg kemaren ditumpas sm TNI-Polri itu didukung asing?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau memang benar, negara mana yg punya kepentingan?

      Kenyataannya dewasa ini, semua negara tetangga, baik ASEAN, maupun Australia akan selalu lebih memilih negara kita yg stabil dan SATU, agar tidak ada konflik baru di halaman belakang mereka.

      Demikian juga United States, Jepang, dan negara2 Eropa.
      Konflik tidak akan bagus untuk perdagangan internasional.

      Ya, seluruh dunia tidak akan mau melihat adanya potensi konflik dalam negeri yg kacau seperti di Syria.

      Kenyataan lain: tidak ada negara lain yg sekarang ini mencoba mengklaim territorial darat kita.

      Delete
    2. kerjanya KKB kebanyakan rampok, nyulik minta tebusan dll keknya motifnya murni ekonomi nyari duid instant

      Delete
  11. berita tentang pembelian sukhoi 35 nyaris redup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak mengherankan.

      Memang proposal akusisi rongsokan versi export ini sudah saatnya dikandaskan.

      Kita tahu kalau biaya operasionalnya saja tidak akan terjangkau dgn anggaran yg akan selalu terbatas. Kita bukan, dan tidak perlu menjadi seperti India.

      Kita juga sudah tahu, bahwa si pembuat tidak akan bisa menjamin MRO secara independent, setelah pengalaman memakai produk tahun 1980-an selama belasan tahun yg ketar-ketir.

      Kita juga tahu, walau para agen sales pada mungkir, barang yg dijual hanya versi downgrade, yg tidak pernah dipakai sendiri oleh si pembuat.

      Kita juga tahu kalau Rostec tidak pernah menyatakan siap memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012.

      Terlebih lagi, kita tahu kalau Rostec adalah badan perantara resmi yg ditunjuk pemerintah Russia. Tidak pernah, dan tidak akan pernah ada G-to-G contract.

      Delete
    2. sebaliknya, kita menunggu dgn pasti pengiriman terakhir F 16 CD refurbish, sdh ada kabar bung mengenai F 16 CD..

      Delete
    3. Pengiriman unit terakhir paling lambat awal tahun 2018.

      Ke-24 F-16 C/D Block-25+ sekali lagi sebenarnya sudah memenuhi kebutuhan jangka pendek menggantikan F-5E.

      Pembentukan Sku-16 di Pekanbaru sebenarnya hanya manuever dalam rangka mencoba menambah jumlah.

      Pemerintah Obama sewaktu itu sebenarnya cukup lihai untuk membuahkan kita banyak pekerjaan rumah. F-16 ini saja masih belum dipersenjatai, dan lebih penting lagi, daripada membeli pespur baru, kita seharusnya meng-upgrade 10 F-16 A/B Block-15 OCU ke versi C/D.

      ... dengan demikian kita akan mempunyai 34 pesawat tempur dengan kemampuan BVR, yg dapat dipersenjatai AMRAAM C-7, dan bukan missile kuno versi export.

      Sekali lagi, kebutuhan pespur baru itu belum ada, sampai BAe Hawk, dan Sukhoi dipensiunkan di tahun 2020-an.

      Delete
  12. sebenarnya kewenangan pengadaan alutsista ada ditangan mana menhan atw menkopolhukam , menkopolhukam wiranto mengadakan kerja sama alutsista dengan spanyol terutama pesawat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Imho, seperti sudah kita bahas, sudah saatnya membentuk badan koordinator alutsista sipil yang berfungsi merangkap untuk mengkoordinasi semua industri pertahanan dalam negeri, menentukan kebutuhan akuisisi import, dan merancang bangun setiap proyek militer.

      Proposal akuisisi yang diajukan dari badan sipil ini kemudian harus diajukan ke Presiden, dan DPR sebelum mendapat persetujuan akhir.

      Nah, dengan demikian pekerjaan perantara jadi semakin sulit, karena daftar yg harus diberi komisi penjualan menjadi semakin ribet. Tidak ada lagi satu-dua orang yg bisa "dibujuk" untuk menjadi agen sales internal.

      Inilah prosedur standard seperti di negara2 Eropa Barat yg sudah kapok dngn skandal sogok Lockheed di tahun 1960-an, dan juga sudah mulai direplikasi di Singapore, Korea, dan India.

      Delete
  13. Admin tau MiG SKAT UCAV?
    Negara2 lain berlomba2 membuat UCAV sedangkan Russia belum bisa buat UCAV?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya sudah menjadi pengetahuan umum kalau US, dan Israel berada dalam posisi terdepan dalam tehnologi UAV.

      Eropa saja dalam hal ini masih bermain "catch up"; kebanyakan negara sudah memilih mengoperasikan UAV produksi dari kedua negara tsb.

      Ruski tentu saja salah satu yg sudah tertinggal cukup jauh.

      Sebelum Crimea, mereka sempat mengimport ratusan UAV dari Israel sebelum kemudian kontraknya harus dibatalkan akibat embargo militer.

      Delete