Tuesday, October 10, 2017

Memahami Konsep BVR Combat (Bagian 1)

Meteor development test on Gripen   Credit: Saab

BVR combat bukanlah konsep yang mudah, ataupun murah yang bisa didapat dari sembarang membeli pesawat tempur.

Setiap pesawat tempur modern HARUS mempunyai kemampuan BVR, tetapi belum tentu dua jenis pesawat yang berbeda, performanya akan sebanding walaupun menembakkan satu jenis missile yang sama.

Setiap jenis BVR missile sendiri mempunyai guidance system yang berbeda, jarak jangkau, dan kemampuan efektif yang berbeda. Misalnya, membandingkan R-77, atau RVV-AE versi export sebagai equivalent dari missile AMRAAM adalah suatu pemahaman yang sangat keliru.

Artikel bagian pertama ini akan membahas terlebih dahulu semua jenis guidance dalam BVR combat. Artikel berikutnya akan mendalami lebih lanjut kesulitan, dan tantangan dalam pertempuran BVR, dan artikel terakhir akan membahas kenapa performa setiap pesawat tempur akan berbeda, walaupun memakai BVR missile jenis yang sama. 


Semi-Active Radar Homing dalam Beyond Visual Range 

Website GeekSwipe mempertunjukkan keberadaan tiga jenis missile guidance
Secara mendasar, pertempuran BVR sebenarnya ditentukan oleh seberapa jauh ketergantungan missile dari pesawat induk.

Seperti dalam gambar ilustrasi di atas, untuk mengoperasikan missile Semi-Active Radar Homing (SARH) seperti AIM-7 Sparrow, atau Vympel R-27, radar pesawat induk harus terus-menerus mengunci target. Konsep SARH ini sudah terbukti tidak efektif selama perang Vietnam, dikarenakan beberapa masalah mendasar:
  • Pesawat induk tidak akan bisa menembak ke lebih dari satu target.
  • Arah, dan posisi pesawat induk menjadi predictable; membuatnya sangat rentan untuk diserang balik oleh lawan.
  • Mulai diperkenalkannya Radar-Warning-Receiver dari tahun 1970-an, berarti pesawat target juga dapat mengetahui kalau dia ditargetkan lawan, dan dengan demikian, akan berusaha untuk mem-break lock.
AIM-7 Sparrow mempunyai nilai efektif kurang dari 8%, dan kebanyakan ditembakan dalam jarak visual. Ini untuk menghadapi armada MiG Vietnam Utara, yang sama sekali tidak membawa RWR.

R-27 hanya pernah di-tes dalam konflik Ethiopia - Erithea di tahun 1999, dimana kedua belah pihak mengoperasikan Su-27, dan MiG-29, yang masing-masingnya dioperasikan mercenary, atau pilot bayaran asal Russia, atau Ukrania. 24 missile R-27 yang ditembakkan kedua belah pihak, hanya membuahkan satu korban, MiG-29, yang juga baru di-write off setelah mendarat darurat.

Singkat cerita, missile dengan SARH guidance boleh terbilang sekarang sudah tidak relevan dalam pertempuran BVR.

... tetapi masih menjadi persenjataan standard AU Russia,
seperti di Su-30SM AU Russia di Syria, 2016
(Gambar: Sputnik News)

Logika akal sehat:
Kenapa AU Russia tidak mengoperasikan R-77?

Tom Cooper sudah memberitahukan jawabannya



IR Seeker dalam Beyond Visual Range 

Masih ingat oleh cerita dongeng yang dituliskan blog fantastis Ausairpower, dan sering di-copas oleh para "pakar" Sukhoi di Indonesia tanpa pemikiran lebih lanjut?

Credits: Fantastic Flankers & where to find them
"Wow.... Dongeng happy ending...."

... jenis missile harus bermacam-macam seeker, katanya, agar lebih sulit dikecoh?

Pertama-tama, mari melirik Infra-Red (IR) seeker dalam BVR missile.

Semua missile jarak dekat sejak AIM-9 generasi pertama, sebaliknya, selalu mengandalkan basis IR seeker, atau passive homing. Tidak perlu radar, melainkan mengikuti infra-red signature, yang dipancarkan dari panasnya mesin pesawat lawan. 

Kalau terbukti efektif dalam pertempuran jarak dekat, dalam pertempuran BVR, missile IR seeker hasilnya akan kurang optimal dibandingkan Active Radar.

Kenapa demikian?

Infra Red Seeker tidak akan bisa men-lock target dari jarak puluhan kilometer secara independent seperti halnya active seeker, melainkan hanya dari jarak kurang dari 20 kilometer maksimum. Inilah kenapa hanya ada dua jenis IR missile industri Barat yang bisa dipergunakan dalam jarak BVR, hanyalah turun ke ASRAAM buatan Inggris, ataupun MICA-IR buatan Perancis, yang masing-masingnya berjarak jangkau maksimum 50 kilometer. 

Secara tehnis, missile dengan infra red seeker akan selalu lebih sulit dihindari dibandingkan missile dengan Active Radar, seperti akan dibahas dibawah. Akan tetapi, walaupun ASRAAM, dan MICA-IR memperkenalkan jarak tembak missile IR yang lebih jauh dibandingkan A-Darter, AIM-9X, atau IRIS-T, keduanya sebenarnya menabrak dua kelemahan baru. 
Rafale Armee De'l Air yang membawa 4 MICA EM / IR
(Gambar: MoD Perancis)
Karena keterbatasan jarak akuisisi seeker, MICA-IR, dan ASRAAM boleh terbilang akan membutuhkan lebih banyak bimbingan dari radar utama pesawat induk dibandingkan AMRAAM. Dalam jarak tembak BVR; secara tehnis keduanya sudah hampir menyerupai missile SARH, walaupun perbedaannya keduanya akan lebih sulit terdeteksi di RWR lawan, dan manuever akhirnya akan jauh lebih unggul.

Kelemahan kedua, karena secara desain menuntut jarak jangkau yang lebih jauh, dan membawa lebih banyak bahan bakar, MICA-IR, dan ASRAAM dinilai mempunyai kemampuan manuever yang lebih rendah  (50G) dibandingkan WVR missile Phyton, IRIS-T, atau AIM-9X, yang sudah dirancang dari awal untuk kemampuan manuever yang optimum untuk pertempuran jarak dekat.

Sedangkan R-27T versi infra-red seeker, yang sampai sekarang masih dipergunakan oleh AU Russia?
Proven damage rate 4% -- hanya bisa merusakan satu MiG-29 versi downgrade,
akan tetapi AU Russia lebih mempercayai R-27 dibandingkan R-77??
Dengan berat 253 kg, dan sudut engagement yang terbatas 15 derajat ke sisi kiri-kanan seeker, akan sangat sulit untuk R-27T, apalagi yang versi export, untuk bisa bersaing dengan ASRAAM, atau MICA-IR. Tidak hanya kedua missile Barat dibuat dari basis industri yang jauh lebih tinggi, tetapi juga sudah mendapat testing yang lebih intensif sejak tahun 1989.




Anti-Radiation Seeker dalam Beyond Visual Range???


Argumen ini sangat tidak relevan. 

Saatnya kita mengaplikasikan logika sehat yang sama dengan anti-radiation seeker.

Pentagon, DepHan US, dan Raytheon, perusahaan terbesar pembuat missile di US, tidaklah bodoh, atau kekurangan modal untuk mengetes teori ini. Kalau IR-seeker begitu efektif dalam BVR seperti dalam klaim kedua penulis fiksi ilmiah Australia ini, sekarangpun semua AMRAAM juga sudah mempunyai opsi infra red seeker.

Cara kerja Anti-radiation seeker adalah dengan mencoba mengikuti pancaran gelombang radar lawan. Agar dapat terus mengunci target, seeker missile AR akan membutuhkan radar pesawat target untuk terus melihat ke arah missile ini sendiri. SAM system, seperti S-400 yang terpaku di tempat, dengan sendirinya harus terus-menerus memancarkan gelombang radar, yang hanya akan menjadikannya magnet pemandu untuk HARM missile EA-18G Growler.
Mimpi buruk semua SAM, atau fasilitas radar di darat:
EA-18G Growler akan terlebih dahulu membungkam semua sistem komunikasi, dan elektronik lawan dengan ALQ-99 pod (sebentar lagi sudah akan diganti),
sebelum menghadiahi setiap pemancar radar yang nakal dengan HARM missile
(US Navy Photo)
Mencoba menggunakan AR missile adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi dalam pertempuran BVR, karena dengan active guidance, seperti kita akan dibahas dibawah, prioritas utama adalah minimalisasi panduan gelombang radar pesawat induk. Kembali kalau ide ini demikian cemerlang, US, dan Israel yang sudah puluhan tahun mengoperasikan AR missile untuk membungkam SAM system buatan Soviet, sudah lama memigrasikan AR seeker ke AMRAAM.

Tentu saja, untuk kembali memecahkan mitos "pakar Sukhoi" di Ausairpower, kembali harus diingatkan, kalau semua pilihan dalam gambar di atas, tidak hanya tidak tersedia untuk versi export, tetapi juga kebanyakan proyeknya juga sudah dibatalkan karena kekurangan modal.



Active Radar Guidance dalam Beyond Visual Range


Credits: DID

Dewasa ini, BVR missile dengan active radar, atau active guidance, sebenarnya adalah tolok ukur untuk guidance semua BVR missile.

Kenapa demikian?

Mari menilik kembali konsep dasar dari BVR combat:

  • Pesawat induk harus selalu dapat melihat target terlebih dahulu
  • Untuk keamanan, pesawat induk harus dapat mengunci target dengan cepat, dan meminimalisasi kemungkinan radar exposure terhadap serangan balik lawan
  • ... akan tetapi semua BVR missile sendiri tidak bisa terbang sendirian tanpa bimbingan mid-course guidance, dari missile datalink yang dihubungkan ke sensor feed pesawat induk.
  • Missile Seeker yang baik yang dapat cepat mengunci target sendirian tanpa lagi memerlukan bantuan pesawat induk dari jarak yang sejauh mungkin. 
  • Lebih jauh missile tersebut dapat mengunci target, lebih mudah untuk pesawat induk menghindar.
Dewasa ini, active radar guidance dalam kepala BVR missile adalah satu-satunya opsi seeker yang dapat memenuhi kedua persyaratan terakhir di atas. 

Ya, seeker head dari semua BVR modern seperti AMRAAM, MICA-EM, Derby, dan Meteor akan dapat mengunci target secara independent dari jarak puluhan kilometer. Angka sesungguhnya tentu saja dirahasiakan oleh produsen, dan tidak tersedia untuk umum. 

Waaah, seruan argumen blog fantastis Ausairpower. Akan tetapi active radar dalam kepala AMRAAM -- lihat saja ukurannya! Kecil, bukan? AMRAAM seeker head sangat rentan terhadap RF Jamming, dan Russia sangat ahli men-jammng!

Memang benar BVR missile dengan active guidance akan rentan terhadap jamming. Dan karena itu kembali, baik Pentagon, ataupun Raytheon tidak sebodoh itu. AMRAAM sendiri sejauh ini adalah tolok ukur missile yang belum berhenti berevolusi.


Di tahun 1991, United States, dan negara-negara NATO masih berkutat untuk memproduksi BVR missile pertama yang mempergunakan active seeker-guidance, yang kemudian lahir dalam bentuk AMRAAM-A. Jarak jangkau maksimum 50 km, dan jarak efektifnya waktu itu diperkirakan kurang dari 25 km.

Pada tahun 1994, evolusi AMRAAM kemudian berlanjut ke versi-B, dengan improved seeker guidance dibandingkan versi-A, jarak jangkau meningkat ke angka 75 km, dan jarak efektif sekitar 20 - 40 km. Negara-negara yang memproduksi Eurocanards; UK, Italy, Spanyol, Jerman, dan Swedia tidak pernah membeli versi yang lebih modern daripada AMRAAM-B, karena pada masa ini, mereka sedang bersiap untuk memulai development MBDA Meteor.

Kemudian evolusi AMRAAM-C sampai dengan versi C5 terus melaju lebih jauh lagi. Jarak jangkaunya mulai dirahasiakan, dan dapat diperkirakan lebih unggul 30 - 50% dibandingkan versi-B, dan kembali, datang dengan improved seeker. 

Development untuk versi C-7, yang baik kemampuan seeker, dan jarak jangkaunya lebih unggul lagi, dimulai di tahun 1998, dan mulai memasuki fase operasional di tahun 2000-an akhir. Versi ini juga memperkenalkan fitur Homing-on-Jamming. Kalau processor controller dalam AMRAAM C-7 mendeteksi percobaan jamming terhadap seeker-nya; missile ini dapat menjadikan arah pemancar jamming itu sebagai pemandu arah untuk menghantam target.

Secara tehnis, ini membuat mulai dari generasi AMRAAM C7 ke atas relatif kebal jamming, tetapi bukan berarti tidak bisa dikalahkan.

AMRAAM-D kemudian melangkah lebih maju lagi dengan dual-datalink untuk meningkatkan akurasi arahan missile, active seeker yang lebih unggul, dan jarak jangkau 50% lebih baik dibanding versi C-7. Versi-D ini baru memulai development di tahun 2008. Agak terlambat memang, tetapi diperkirakan akan segera mencapai IOC dalam rentang waktu sebelum 2020.

MBDA Meteor dibuat berdasarkan active guidance seeker dari ASTER missile, dan MICA-EM missile, dengan target melebihi kemampuan AMRAAM-C di tahun 2000-an. Sama seperti AMRAAM-D, Meteor juga menambah kemampuan dual-datalink; mid-course guidance dari pesawat induk, dan telemetry feedback dari missile; keduanya saling meng-update untuk meningkatkan akurasi arah, dan posisi missile mendekati target. 

Tentu saja, baik AMRAAM, MICA-EM, ataupun Meteor tidak lagi memerlukan mid-course guidance hanya dari pesawat penembaknya saja, tetapi dewasa ini juga dapat memperoleh guidance dari pesawat tempur lain, bahkan kalau perlu dari pesawat AWACS. 

Missile R-77 AMRAAMski, sebenarnya tidak pernah selesai development, dan testing di tahun 1991, sewaktu Uni Soviet mendadak ambruk, dan anggaran pertahanan Russia dipangkas ke kurang dari 10%-nya. Inilah kenapa AU Russia tidak membeli R-77. Missile ini tidak pernah selesai development.

"That is weird - Russia's best fighters in Syria are still using crappy missile"
Penulis: Dave Majumdar - National Interest
"Aneh?!? Kenapa pesawat tempur terbaik Russia di Syria, masih menggunakan missile rongsokan?
Sekarang bagaimana caranya RVV-AE, dengan Agat 9B-1348E seeker versi exportdari missile yang tidak pernah selesai development, kemudian bisa bermimpi mengalahkan pesawat tempur lain dalam BVR combat?

Bahkan boleh dibilang, sebenarnya tidak akan ada perbedaan antara versi RVV-AE yang dijual ke PRC, dan India di akhir tahun 1990-an, Malaysia, dan Venezuela di awal tahun 2000-an, dan versi yang dijual ke Indonesia di tahun 2012. Tidak akan ada upgrade apapun juga.

Logika "transaksi barter menguntungkan" menjadi ora nyambung, bukan? Er... kecuali kalau memang tujuannya hanya untuk menghamburkan uang.



Penutup: Kesimpulan Sejauh ini

Gripen 39-7 Testing  Credit: Saab

Missile Fire-and-Forget yang sesungguhnya; alias tembak, dan tidak perlu lagi ambil pusing, pasti mengena; sebenarnya belum ada. Semua BVR missile, tidak peduli apapun jenis guidance-nya tentu saja akan selalu membutuhkan bimbingan dari pesawat tempur induk penembaknya. 

Perbedaan disini dari segi guidance:
  • SARH akan sangat tergantung kepada pesawat induk, dan justru membuatnya rentan ditembak jatuh.
  • IR-homing akan semi-tergantung kepada pesawat induk, dan jaraknya tidak bisa terlalu jauh, tetapi dari segi seeker sebenarnya paling unggul dibanding yang lain.
  • Active Radar Guidance adalah yang paling mengurangi ketergantungan kepada pesawat induk.
Memang idealnya disini untuk meningkatkan kemampuan, dan mengurangi kemungkinan penangkal missile, setiap missile seharusnya membawa dual-seeker, antara active guidance, dan IR, dengan kemampuan IFF untuk membedakan mana kawan, dan mana lawan. Active guidance seharusnya bisa melihat dari jarak 100 kilometer+, dan plannar seeker yang tidak bisa dikecoh flare, seharusnya mengambil alih dalam manuever akhir. Tetapi ini belum bisa terjadi. Keterbatasan ruangan di yang tersedia dalam missile belum memungkinkan.

Topik berikutnya akan membahas lebih banyak tentang semua tantangan dalam BVR combat, dan kemungkinan apa yang terjadi dalam duel antara BVR missile melawan defense suite modern. Bukan! Jawabannya bukan EW versi export seperti yang sekarang dijual para penjual barang haram dari versi lokal.
Kalau kedaulatan di tangan penjual, seperti dalam table sebelah kiri:
SIlahkan bertaruh dengan nyawa pilot dalam konflik sesungguhnya!

Mudah, bukan?


Semakin hari, kita tertinggal semakin jauhhhhhhhhh.......

RSAF F-15SG yang mendarat di Lim Chu Kang Rd
Dalam latihan ini membawa 2 AMRAAM, dan 2 AIM-9X:

Secara sistem RSAF jauh lebih modern,
Training jauh lebih intensif,
dan persenjataan jauh lebih lengkap

Masih mau "mengimbangi negara tetangga?"
Kita seharusnya Mengejar Ketinggalan
Mulailah dahulu dengan mempersenjatai apa yang ada!
Sebelum membahas lebih lanjut dalam artikel selanjutnya, kembali harus dipahami dahulu kalau untuk mendapatkan kemampuan BVR yang nyata di abad ke-21 ini, tidaklah murah.

AMRAAM-C, yang sekarang diakui adalah tolok ukur BVR missile, mempunyai harga unit price senilai $1,2 juta.

MBDA Meteor, dan AMRAAM-D mempunyai harga unit price yang sebanding, atau kira-kira sedikit melebihi $ 2 juta per unit.

Setiap pesawat tempur modern dewasa ini, harus bisa membawa 4 BVR missile sebagai perlengkapan standard. Dari segi perhitungan finansial, setiap pesawat tempur saja akan membutuhkan investasi $10 - $20 juta per pesawat, hanya untuk semua perlengkapan, dan persenjataan tambahan.

Mari mempertanyakan kembali kenapa sejauh ini, setelah hampir dua puluh tahun berselang, Kemenhan, dan TNI-AU masih terus memberlakukan....
Ya, tidak ada senjata, tidak bisa menembak pesawat lain.
Tidak ada senjata, juga tidak bisa latihan.

Di tahun 2017 ini kemampuan Indonesia dalam BVR combat hampir sama sekali NIHIL,
tetapi kelihatannya ini tidak dianggap masalah yang pelik

Silahkan mempertanyakan:
Kenapa transaksi barter yang "menguntungkan"  masih dinilai lebih penting?
Mungkin dewasa ini kita memegang rekor dalam mengoperasikan begitu banyak "macan ompong", yang jumlahnya melebihi jumlah missile yang tersedia.

Sayangnya, tidak ada satupun Angkatan Udara negara lain, yang sependapat dengan konsep akuisisi modern kita untuk bisa "mengimbangi tetangga". Dengan mengoperasikan 24 F-16 C/D Block-25+, yang bisa mengoperasikan AMRAAM, tetapi dibiarkan telanjang, dan 10 F-16A/B Block-15OCU yang masih daytime fighter tanpa pernah mendapat prioritas untuk di-upgrade, sayangnya kita masih sangat jauh sebelum bahkan bisa mendekati kemampuan Singapore, ataupun Australia.
Jauh Lebih Efektif dibandingkan Indonesia:
AU Hunggaria memang hanya menyewa 12 Gripen-C/D,
tetapi mereka tidak kelupaan mempersenjatai Gripen mereka,
dan kemudian berlatih secara intensif menurut sistem NATO.

"Gengsi" menyewa tidak relevan

AU Hunggaria yang mungil, sebagai bagian dari NATO,
sudah mempersiapkan diri untuk bisa menghadapi AU Russia,
yang jauh lebih besar dan lebih kuat
Dalam keadaan sekarang,
TNI-AU mustahil bisa menandingi!
Selama kita belum bisa merdeka dari konsep pikir bunuh diri ini, maka kita tidak akan pernah bisa mengambil langkah lebih lanjut untuk mencapai modernisasi. Kata modernisasi ini sekali lagi, juga tidak bisa terus diambil hanya dengan import mentah beli baru, tanpa memperhatikan pembangunan industri pertahanan lokal.

Untuk selamanya, kita hanya mengutuki diri dalam belenggu penjajahan para penjual barang versi export, dan sibuk membayangkan kalau suatu hari kita akan hebat.
Menjadikannya satu-satunya Angkatan Udara di dunia yang tidak bersenjata.

Yang lebih menggelikan lagi, kalau kita membayangkan Su-35 versi export downgrade, dengan pilot yang jam terbangnya akan kurang, karena biaya operasional muahal, dipersenjatai hanya dengan missile versi export RVV-AE, yang tidak pernah mendapat upgrade, dan sudah diharamkan sendiri oleh AU Russia...... lantas akan bisa mengalahkan pesawat tempur lain dalam BVR combat??


Logikanya ora nyambung!

55 comments:

  1. https://news.detik.com/berita/d-3678519/aturan-tunggal-pengadaan-senjata-segera-dibahas

    semoga bisa menata karut marut pengadaan alutista dindonesia yg sudah masuk katgori akut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah.

      Jangankan bicara modernisasi, atau membeli tambahan alutsista;

      Seperti dalam artikel ini: apa yg sudah dibeli saja tidak merasa perlu dipersenjatai.

      Delete
  2. Admin Kenapa Russia tidak bisa membuat UAV Drone yg sebanding dengan MQ-1/MQ-9?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, penjelasannya sama kenapa sampai sekarang Russia masih belum bisa membuat versi R-77 yg mereka inginkan: izdeliye-170-1, atau R-77-1.

      Secara tehnologi industri Russia sudah tertinggal, dan pasca ambruknya anggaran setelah Soviet bubar, tidak akan ada cukup modal untuk bisa mengejar.

      Tehnologi drone militer ini sendiri tidaklah mudah.

      Saat ini hanya Israel, dan US yg menguasai bidang ini. Bahkan Eropa-pun masih bermain "catch up" untuk mengejar ketinggalan.

      Delete
  3. Min, itu 2 tentara AS yg ketangkep pas HUT TNI kira-kira ngapain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita tidak tahu duduk masalahnya.

      Berita juga cukup sporadic, tetapi kabarnya keduanya sudah dikembalikan ke Kedutaan US.

      Melihat tidak adanya protes resmi secara diplomatis dari Kemenlu, kelihatannya ini bukan masalah yg dianggap serius.

      Delete
  4. Bisa dijelaskan pespur RI yg dipasang model SAHR, active guidence dan IR homing pespur mana saja...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beberapa foto dari tahun 2011/2012 menunjuk Sukhoi membawa 2 RVV-AE, dan 2 R-73.

      Ada satu foto juga memperlihatkan R-27.

      SIPRI memang mencatat akuisisi missile versi export dilakukan di tahun 2011, akan tetapi seperti kebiasaan sistem "macan ompong", jumlahnya hanya sekitar 25 missile per tipe.

      Kemudian, sejak 2015, sangat jarang Sukhoi terlihat membawa missile, dan kalaupun bawa, paling hanya 2 missile.

      Tahun 2017 ini, sy belum melihat foto Sukhoi membawa missile.

      Kenapa?
      ... kemungkinan seperti dilaporkan India; missile buatan Ruski ini sudah tidak bisa lagi bekerja.

      ## Di pihak lain, sejak 2015 kita juga sudah mengajukan permohonan ke DSCA dalam program FMS (Foreign Military Sales) untuk akuisisi AIM-9X Block-2, dan AIM-120C7.

      Ini sudah disetujui, walaupun lagi2 dalam jumlah "macan ompong".

      Lebih parah lagi, walaupun missile buatan US tidak hanya jauh lebih modern, tapi juga BUKAN versi export spt buatan Ruski, tetap saja tidak ada transaksi lebih lanjut untuk menyelesaikan akuisisi.

      Seperti dalam artikel, mau jenis missile BVR apapun juga sama saja bohong.

      Kemampuan kita sudah 20 tahun berselang, masih saja Nihil total.

      Sekarang diberi kesempatan mengakusisi Gripen, yg dapat dipersenjatai BVR missile terbaik di dunia, MBDA Meteor, tapi apa yg terjadi?

      Bodohnya, kita masih rindu dengan rongsokan versi export downgrade demi membeli leqat perantara, lengkap dgn persenjataan versi haram yg tidak dipakai pembiatnya sendiri.

      Delete
  5. Di JKGR BPK audit alutsista, tapi sayang tidak dipublikasikan bung..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini tidak mengherankan.

      kata "Transparansi", dan TNI tidak berbicara dalam bahasa yg sama.

      Semua akuisisi alutsista, kalau tidak melalui G-to-G, sudah pasti akan berbau korupsi.

      Ini sudah hukum alam.

      Delete
  6. logika saja, menang mana antara preman berbadan kekar membawa pisau vs orang biasa yg mahir dengan menggunakan pedang katana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya kondisi dewasa ini jauh lebih parah lagi.

      Si preman kekar, sudah datangnya harus lewat makelar, tidak hanya kaki-tangannya sudah timpang, tapi juga sudah menderita Kanker stadium-4, menuntut milyaran biaya BPJS, dan masih menuntut tambah biaya dokter negara asing.

      Kalau belum cukup parah... pisaunya tumpul, karena hanya versi export.


      Bruce Lee pernah menyebut:
      Saya lebih takut kepada orang yang sudah belajar mengulang SATU JENIS tendangan yang sama SERIBU KALI, dibandingkan dengan orang yang sudah belajar SERIBU MACAM tendangan.

      Inilah pola pikir yang kita butuhkan kalau memang mau maju.

      Delete
  7. F-35 Lightning II gak bisa menggunakan Canonnya pada dogfight jarak dekat dengan F-16 dan tidak bisa membawa rudal AIM-9X Block II dalam keadaan stealth itu sama seperti tentara mau terjunkan di medan perang tapi enggak bawa Bayonet dan Pistol

    F-4 Phantom enggak bawa canon pada perang Vietnam dan malas mempelajari Dogfight itu sama seperti tentara enggak bisa bela diri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inilah yang bisa kita namakan Logika Hollywood, alias membayangkan mimpi yang hanya di awang-awang bisa automatis berubah menjadi kenyataan.

      Untuk semua pemimpi:

      - Stealth pada prakteknya akan selalu selalu mengkrompromikan desain aerodinamis, dan menambah penalty berat, dan maintenance.

      - Stealth bukan berarti tidak terlihat. Semua pesawat stealth dewasa ini relatif bongsor, dan justru mudah terlihat secara visual.

      - Seperti akan dibahas dalam topik berikutnya, tidak akan mungkin BVR combat bisa menjamin 100% kill.

      - Perhatikan saja gambar F-15, dan F-16 yang terbang berdampingan, dan memperlihatkan perbedaan ukuran antara keduanya!

      Kemudian perlihatkan gambar ini ke anak 5 tahun, dan tanyakan:
      "Pesawat mana yang akan lebih gampang tertembak?"

      Anak umur 5 tahun juga sudah pintar, dan tidak perlu mengikuti Logika Hollywood.

      Jawabannya pasti, "Yang lebih besar."

      Seperti kita tahu, Gripen dirancang supaya lebih kecil dari F-16, baik secara visual, IR signature, dan Radar Cross Section (kurang dari 10%-nya F-16).

      Biaya operaaionalnya juga 40% lebih murah.

      Sedangkan Sukhoi Flemon lebih besar, lebih berat, lebih gampang rusak, lebih kuno, dan lebih boros mesin / bahan bakar dibandingkan F-15.

      Biaya operasionalnya juga 3x lipat, dan senjatanya versi haram dari barang lokal.

      Delete
    2. And Pesawat Stealth Bisa Dilibas pake Rudal Infrared High Off Boresight Seperti AIM-9X sidewinder

      Delete
  8. bung DR, cba sekali2 buat artikel mengenai misile yg pespur yg ad d dunia d jkgr, tp menggunakan nick name yg blm d kenal, sya pengen tau gmna reaksi dan analisis warganet dsna...pasti seru sekali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu sudah pernah menulis di JKGR.

      Seperti biasa reaksinya bisa ditebak:
      "agen sales", "antek Barat", dll.

      Tetapi sama spt semua Fanboys, atau troller di forum2 bhs Inggris:

      Tidak ada satupun yg berani, atau bisa berdebat dengan FAKTA.

      Pertanyaan paling mudah:

      Kita tahu biaya operasional Sukhoi kelewat mahal, dan semua transaksi harus lewat perantara.

      Kenapa kita mau terus menghidupi para perantara?

      Untuk apa mengoperasikan Sukhoi, kalau utk jumlah uang yg sama, kita bisa mengoperasikan 48 Gripen, atau 36 F-16, sekaligus menabung lebih banyak jumlah latihan?

      Untuk apa membayar biaya OP demikian mahal, kalau jadinya seperti sekarang, kita yg mengoperasikan satu2nya AU yg..... tidak bersenjata?

      Sebaliknya dari menjawab satu juga pertanyaan ini, fanboyz akan berdebat balik.

      Kita butuh "diversifikasi".

      (Perantara, dan versi export tidak apa2)

      Efek gentar Sukhoi kan gahar.

      (Walaupun pilotnya kurang training, hanya versi downgrade, dan persenjataannya tidak karuan. Bukan masalah!)

      Lebih penting, peduli amat UU no.16/2012, dan biarkan saja PTDI hanya membuat pesawat sipil.

      Tidak perlu ikut campur militer.

      Dengan demikian kita sudah bisa melihat kesetiaan mereka sebenarnya dimana, bukan?

      Ke Indonesia, atau ke Supplier asing?

      Kalau mereka yg memang sudah menganut agama fanboyz, atau pro-Moscow, yah, mau didebat sampai kapanpun juga, ya, memang programming-nya tidak bisa diubah.

      Yang paling penting disini adalah membangkitkan Kesadaran Nasional, bukan melayani para troller fanboy yg tujuannya hanya utk memenangkan penjajahan supplier asing, dan mensabotase semua diskusi sehat.

      Delete
  9. Kenapa Desain Sayap X-29 dan SU-47 Berkut dengan Forward Swept wing lebih riskan?
    Jenis Pesawat Tempur yg digunakan Perang India-Pakistan Unik ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Forward swept wing -- pertama2, kemampuan manuever-nya dianggap tidak memberikan keunggulan berarti vs desain konvensional.

      Unstable design spt F-16, atau Eurocanards yg dikontrol melalui Fly-by-wire, boleh dibilang sudah mendekati batas apa yg bisa dicapai.

      Atau kalau mau lebih extrim, TVC bisa memberi krmampuan manuever yg lebih baik.

      Tentu saja TVC tidak relevan dalam pertempuran dekat, krn pesawat akan kehilangan kecepatan, dan ketinggian, menjadikannya sasaran empuk.

      Kedua, desain sayap Fsw lebih sulit untuk diproduksi vs sayap desain biasa. Airflow-nya memberi tekanan yg lebih berat ke pangkal sayap, menuntut desain yg lebih kuat, dan dengan sendirinya.... lebih berat.

      Kita tahu kalau berat adalah musuh desain pespur yg baik.

      Delete
  10. Pendapat Admin tentang proyek Future Vertical Lift seperti Helicopter V-280 Valor?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entah apakah ini kebiasaan negara-negara adidaya, khususnya US, dan Russia?

      Keduanya selalu berambisi untuk menggantikan apa yang... sebenarnya sudah bekerja tokcer, dengan sesuatu konsep yang "lebih unggul dalam segala hal dibanding model lama", tetapi tentu saja akan jauh lebih mahal, dan jauh lebih merepotkan.

      US Army sekarang berencana V-280 tiltrotor akan menggantikan UH-60 Blackhawk.

      Sama seperti dalam konsep F-35 Flemon II, dan V-22 Osprey, yah, seperti biasa, mereka berkata V-280 jarak jangkaunya akan lebih jauh, terbangnya lebih cepat, kapasitas angkutnya lebih besar, dll.

      Tentu saja, harga dan biaya maintenance-nya juga akan beberapa kali lipat dibandingkan UH-60.

      Kemungkinan seperti juga V-22 Osprey, akan terbang terlalu cepat untuk bisa dikawal helikopter tempur AH-1W Super Cobra USMC, atau AH-64E US Army; tetapi terbangnya terlalu lambat untuk bisa dikawal F-18, atau F-16.

      Ini akan kembali seperti di atas; Logika Hollywood

      Delete
  11. Min, setelah ms 20 msh ada ga upgrade lagi buat gripen c?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Paket MS-21 yang berikutnya diperuntukan ke Gripen-E.

      Menurut presentasi Saab di Farnsborough 2014, upgrade untuk versi-C akan tetap terjamin, karena kedua generasi ini akan terus berevolusi secara berdampingan. Penambahan kemampuan yang didapat dalam versi-C akan menular ke versi-E, dan demikian pula sebaliknya.

      Keterbatasan upgrade untuk Gripen-C/D hanya akan menabrak di masalah hardware.

      Pertama, ada 40 komputer di Gripen-E, dan masing2nya akan mempunyai kemampuan processing yang jauh lebih unggul, dan dalam jangka panjang dapat diupgrade sampai ratusan milyar kali (ini tidak salah tulis) lebih cepat dari batas maksimum di versi-C.

      Pada akhirnya suatu hari, versi-C akan menabrak masalah yang sama dengan F-22 yang masih menggunakan processor kuno 25MHz.

      Kedua, Sensor Fusion di Versi-E, dengan AESA radar, IRST, dan IFF yang sudah terintegrasi.

      Versi-C masih memakai mechanical doppler.
      Kebanyakan programming baru yang tersedia untuk Sensor Fusion versi-E, tidak akan didapat di versi-C.

      Kelemahan terakhir, Electronic Warfare.
      Versi-E akan memakai versi hardware terbaru, dengan jammer Gallium Nitride, pertama kali di dunia.

      Apa yang bisa dilakukan EW system V2 di versi-E, kembali, tidak akan tersedia di versi-C.

      Delete
  12. Admin,Lebih Bagus S-97 Raider atau V-280 Valor?

    ReplyDelete
    Replies
    1. S-97 Raider boleh dibilang faktor resiko-nya lebih rendah secara tehnis dibanding model tiltrotor seperti V-280, atau V-22.

      Akan tetapi keduanya sebenarnya menduduki fungsi yang berbeda.

      Sama seperti V-22, V-280 fungsinya lebih untuk menggantikan helikopter angkut medium UH-60 Blackhawk.

      Sedangkan S-97 Raider fungsi utamanya lebih menjadi semacam "Scouting Copter" alias berfungsi sebagai pengintai, penyusup, sekaligus fire support.

      Kapasitas angkutnya tentu saja juga jauh lebih ringan; hanya 6 tentara maksimal.

      Delete
  13. Btw. Rudal Aster 30 Memiliki Kemampuan Mencegat dan Menghancurkan Cruise missile yang terbang dari ketinggian yang cukup rendah. Dan Lebih Efektif Dibanding S-300, S-400, dan Patriot PAC-2/3.

    ReplyDelete
  14. Hmm Bagaimana Dengan Rudal Aster 30 yang memiliki kemampuan yang jauh lebih efektif dibanding S-400 dan Patriot?

    ReplyDelete
    Replies
    1. S-300/S-400 sekali lagi, berbeda dengan Patriot, atau Aster.

      Sistem S-300/400 Russia ini seperti "complete air defence" untuk menangkal semua ancaman. Pernyataan ini sebenarnya menipu, karena pokok pikiran disini seolah-olah pesawat tempur tidak lagi dibutuhkan untuk mencapai Air Superiority.

      Ini dikarenakan sejak tahun 1970-an dalam perang Arab-Israel, apalagi setelah Operasi Rimon 20 boleh dibilang Soviet sudah menyerah untuk mencoba bersaing dalam kontes Air Superiority melawan AU Israel.

      Pertempuran Yom-Kippur 1973 seperti menjanjikan kalau ternyata... SAM sistem Soviet adalah satu-satunya solusi untuk menangkal Air Superiority AU Barat.

      Dalam Operasi Mole Cricket 1982 di Libya, Syria sebelumnya mengerahkan terlebih dahulu 19 SAM system ke lembah Beqaa untuk menghalau pespur Israel.

      Kita bisa melihat disini -- 19 SAM system untuk "Area denial", hanya kata lain dari Air Supremacy melalui SAM.

      Setelah perpaduan Electronic Warfare untuk mengacaukan radar Syria, dengan serangan F-4 Phantom II Israel mulai menghadiahi masing2 launcher dengan Anti-Ratiation missile; barulah Syria mengerahkan ratusan MiG-21, dan MiG-23 untuk mencoba menjaga SAM launcher mereka.

      Apa hasilnya? 82 - 86 pesawat tertembak jatuh tanpa kerusakan apapun di pihak Israel.

      Disini kita bisa melihat kalau pesawat tempur AU Syria, dan SAM system mereka bukanlah suatu kesatuan. Kalau yang satu kalah, baru yang lain maju. Yah, sudah terlambat!

      Bahwa Russia sekarang memangkalkan S-400 di Latakia, Syria, justru memperlihatkan kalau mereka kelihatannya belum bisa berubah banyak dari pola pikir di tahun 1982.

      ## Patriot, AEGIS sistem, atau Aster System berbeda.

      Ketiga sistem ini tidak dibuat untuk menggantikan pesawat tempur, seperti S-300/S-400, melainkan saling melengkapi dalam pertahanan udara bersama pesawat tempur.

      Air Superiority harus tetap diperjuangkan melalui pesawat tempur.

      SAM system hanyalah sebagai pelengkap dari pesawat tempur. Apapun yang lolos dari sergapan pesawat tempur, semisalnya, cruise missile, atau supersonic anti-ship missile yang keburu sudah ditembakkan, itu baru akan menjadi tugas SAM system.

      Pesawat tempur dianggap sebagai pemukul utama untuk mematahkan kemampuan udara lawan.

      Memangkalkan Patriot, atau ASTER system tidak diperuntukan supaya mandri seperti S-300/S-400, melainkan agar dapat bekerja sama bahu membahu untuk menangkal lawan.

      Misalnya, bisa juga pespur Barat memancing pesawat lawan yg sedang mengejar agar masuk ke dalam engagement area SAM system mereka.

      Delete
    2. Kalau untuk Indonesia, kalau memang membutuhkan top of the line SAM system, kenapa justru HARUS ASTER, dan bukan Patriot, atau S-400.

      Sama seperti F-16, dan Sukhoi, kalau segala sesuatu yang dijual akan membutuhkan persetujuan dari Washington DC, atau Moscow, makan apa yang diijinkan adalah...???

      Versi Export Downgrade.

      Apapun yang mereka iklankan di brosur mereka, sudah tentu mendapat pengurangan spesifikasi untuk dijual ke negara lain.

      Selain dari itu, tentu saja, kita harus berpikir lebih modern mengenai SAM system.

      SAM tidak bisa menggantikan pesawat tempur, justru sebaliknya, harus dipersiapkan agar saling melengkapi dengan pesawat tempur.

      Delete
  15. Min ada gak sih pengalaman TNI AU kita menembak dengan WVR/BVR missile?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagaimana bisa ada pengalaman kalau tidak ada kemauan untuk memenuhi kewajiban membeli missile?

      Tidak ada missile-nya, tidak akan bisa latihan, bukan?

      Kita lihat saja pespur TNI-AU yang dikirim ke, misalnya latihan udara Pitch Black Australia.

      ## Tahun 2012 -- mengirim 2 Su-27SKM, dan 2 Su-30MK2.

      Dari sejak membeli dari 2003 sampai waktu itu, Sku-11 tidak mempunyai satupun missile, eeh... tetapi entah kenapa sudah ge-er sendiri bilangnya di media massa, "Australia gundah dengan modernisasi TNI-AU."

      Gundah bagaimana?

      Mereka juga sudah tahu kok kalau pespur Indonesia sampai waktu itu tidak ada yang bersenjata. Mungkin kalau mereka membaca berita semacam ini, hanya akan tertawa sendiri.

      ## Pitch Black tahun 2016 -- mengirim 4 F-16A/B dari tahun 1988/1989 daytime WVR fighter, yang belum di-upgrade, dan lagi2.... tidak ada senjata.

      Bagaimana bisa mencoba berlatih BVR dengan negara tetangga?
      Kalau mau berlatih WVR juga, bagaimana?
      Helmet Mounted Display juga tidak ada?

      Inilah makanya seperti sy sudah tekankan berulang-ulang dalam beberapa artikel terakhir:

      Kenapa masih mau beli tambahan Sukhoi, kalau yang F-16C/D yang jauh lebih modern saja masih belum dipersenjatai?

      Bisa membeli pesawat tidak membuat kita kuat, apalagi kalau persenjataannya versi export, dan biaya operasionalnya sedemikian mahal dapat dipastikan jumlah latihan hanya kurang dari 10% dari apa yg bisa dikerjakan Australia, dan Singapore.

      Kalaupun akhirnya... kita mulai membeli AMRAAM C-7, dan AIM-9X Block-2, yah, ini saja berarti perjuangan baru dimulai!

      Semua negara tetangga sudah memupuk pengalaman lebih dari 20 tahun, sementara kita terus menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar.

      Delete
  16. Hmm Bagaimana Dengan F-18A/B+ HUG 2.2 (Versi Upgrade baru Australia ) RAAF yang katanya Paling Ditakuti di Jajaran Skuadron ARDU?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Upgrade untuk F-18A/B classic boleh dibilang sudah semakin terbatas.

      Model ini sudah di-discontinued; tidak lagi diproduksi.
      Tidak seperti untuk F-16; tidak ada rencana untuk semua penggunanya mengupgrade ke AESA radar.

      Sayang, karena F-18 classic adalah dogfighter yang lebih handal dibandingkan F-18 Super Hornet.

      Basis original model-nya adalah Northrop F-17, yang masih berbasiskan pengembangan dari keluarga F-5, yang dipasangangi mesin sepasang mesin GE F404, yang daya dorongnya jauh lebih kuat.

      Dahulu kala, F-17 adalah pesaing F-16 dalam kontes Lightweight Daytime Fighter -- kemampuan manuever adalah prioritas utama.

      Ketika Konggres US menunjuk ke US Navy untuk memilih salah satu dari kontestan lightweight fighter USAF dibanding membeli terlalu banyak F-14A yang super mahal, USN memilih Northrop F-17.

      Northrop tidak ada pengalaman membuat pesawat untuk kapal induk, karena itu mereka berpartner dengan McDonnell Douglas, untuk membuat F-18. Airframe, dan roda-nya harus diperkuat untuk bisa beroperasi dari kapal induk. USN kemudian menuntut modifikasi agar F-18 dapat membawa bom, dan tidak seperti F-16 A/B, harus mempunyai kemampuan BVR.

      Alhasil, F-18A/B -- model yang lebih berat, lebih rumit, dan lebih mahal dioperasikan vs F-16A/B.

      ... padahal di tahun 1980-an juga, kemampuan BVR masih terbatas di missile lemon AIM-7 Sparrow SARH, sedangkan di kemudian hari, F-16C/D juga akhirnya mendapat kemampuan BVR.

      Seperti dicatat dalam kutipan di artikel Kenapa Indonesia tidak membutuhkan Twin Engine Fighter; paling tidak F-18A sebenarnya dapat "supercruise" dengan lebih baik dibandingkan F-16C dalam "clean configuration".

      ## Kembali ke F-18 HUG Australia;
      Versi A/B tidak lagi dioperasikan US Navy, atau negara manapun, kecuali Canada, dan Australia.

      Program HUG sampai ke versi 2.4 menambah JHMCS (Joint Helmet Mounted Display), Link-16, dan ALR-67 RWR, dan Litening pod.

      Program HUG juga mempersenjatai F-18 RAAF dengan ASRAAM, dan bukan AIM-9X.

      Missile ASRAAM kemampuan manuever-nya dinilai kurang optimal dibanding AIM-9X, tetapi jarak jangkaunya mencapai 50 km, memungkinkannya dipergunakan dalam BVR combat.

      AMRAAM sudah diperkenalkan ke F-18 RAAF sejak tahun 2002.

      Program HUG 3.1 dan 3.2 adalah program memperbaiki struktur pesawat agar menambah umur, sekurangnya 15 tahun operasional lagi.

      ## Sekali lagi, hampir mustahil Sukhoi Versi Export model manapun yg dioperasikan Indonesia akan dapat mengalahkan F-18A HUG.

      Walaupun upgrade-nya terbatas, baik dari segi sistem, pemeliharaan, training, dan kesiapan tempur Australia jauh lebih unggul.

      Bahkan kalaupun mereka masih mengoperasikan Mirage III sekalipun, kita masih tertinggal jauh.

      Delete
  17. admin saya ngebaca Jerman ngebuat misil air to air WVR Iris-T dijadiin misil SR-SAM dengan jarak efektif 20 km, apa mereka mau bikin Iris-T mirip Aim-9x yg bisa jadi SR-SAM buat NASAMS-2 ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Perencanaan membuat IRIS-T ini sebenarnya cukup licin.

      Untuk melingkari batas restriksi dari versi export Washington DC, IRIS-T sebenarnya sudah dirancang untuk 100% compatible ke pesawat manapun yang bisa mengoperasikan AIM-9 Sidewinder.

      IRIS-T dirancang berdasarkan pengalaman, dan hasil analisa Jerman atas missile R-73E versi export ex-MiG-29 Jerman Timur di tahun 1990-an.

      IRIS-T juga mempunyai fitur LOAL (Lock On After Launch) --- bisa ditembakkan terlebih dahulu, sebelum pesawat induk berhasil mengunci target; dan meng-update informasinya melalui datalink (F-16 Block-25 TNI-AU tidak akan bisa). Ini juga memungkinkannya dilepas untuk mencegat BVR missile, atau SAM missile lawan yang mengancam pesawat induk.


      Sudut engagement-nya sendiri 360 derajat; tidak seperti batasan hanya 60 derajat di R-73. Ini juga memungkinkan IRIS-T untuk dapat ditembakkan ke belakang pesawat induk.


      ## IRIS-T sebagai SAM?
      Missile ini memang akan jauh lebih sulit dihindari dibanding missile SHORAD standard.

      Norwegia berencana menambah kemampuan NASAM mereka, yang berbasiskan missile AMRAAM, dengan IRIS-T.

      Swedia juga sudah menjajaki kemungkinan mengoperasikan IRIS-T sebagai pengganti RBS-70.

      Delete
  18. di formil tadi ada diberitakan RI bakalan mendapat pespur IFX versi downgrade , dimuat oleh flight global ,setidaknya itu peringatan buat indonesia

    ReplyDelete
  19. di formil tadi ada diberitakan RI bakalan mendapat pespur IFX versi downgrade . Beberapa hal Korea tak mau berbagi kepada indonesia , itu dimuat oleh flight global ,setidaknya itu peringatan buat indonesia

    ReplyDelete
  20. Admin ada yang bilang IFX Indonesia itu downgrade dari KFX. Katanya versi Indonesia gak pake radar absorbent material ( ram ) sama juga gak pake internal weapon bay ( iwb ). kok bisa sih IFX untuk Indonesia beda dengan KFX Korea ? ini kita partner atau Korea cuma uang kontribusi kita aja sama diem2 ngejadiin potensi pasar monopoli barang korea ? gak bener kayak gini nih kita harus liat program Embraer-SAAB coba, ini gimana menurut admin ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @don jovan, @Thomas,

      Memang IF-X hanya akan menjadi model versi export downgrade dari KF-X, sedangkan....

      KF-X sendiri hanyalah model versi export downgrade dari F-16/F-18


      Link Flightglobal yang dimaksud:
      Flightglobal: Program KF-X "melaju terus"

      =============
      Still, the South Korean and Indonesian examples are likely to be different. Previously, officials have said that a Block I configuration without stealth coatings and the ability to carry weapons internally will go to Indonesia. South Korea will have a Block II aircraft, with stealth coatings and weapons bays.
      ========

      Sekali lagi, ini sama sekali tidak mengherankan.

      Tidak perlu punya gelar Professor doktor, atau "pengamat ahli" untuk bisa menyadari hal ini dari beberapa tahun yg lalu.

      Memang sejak Korea memutuskan untuk memilih "kerjasama" (baca: diporotin) dengan Lockheed-Martin, tanpa merasa perlu meminta persetujuan kita sebagai "negara partner" dalam tanda kutip, nasib IF-X sudah dikunci... sudah pasti 100% APES.

      Sy sudah pernah menuliskan dalam dua artikel sebelumnya re versi export, dan IF-X:

      Memahami Versi Export Downgrade

      dan...

      4 alasan kenapa KF-X adalah proyek gagal

      Delete
    2. Tambahan Link re KF-X:

      Kenapa proyek KF-X sudah mendekati ajal

      KAI, kontraktor utama KF-X sendiri sudah tertangkap dalam perkara kasus korupsi penggelapan dana. Proyek KF-X sendiri sekarang sedang di-audit oleh Penuntut Umum Korea.

      Ex-CEO KAI Ha Seong Yong baru saja ditangkap dalam perkara korupsi $440 juta.

      Apanya yang "melaju terus"?

      Proyek ini ambruk sih sudah di depan mata.

      Ini belum memperhitungkan faktor Korea Utara, dan senjata Nuklir yg sekarang, yg akan membutuhkan pemerintah Korea Selatan untuk mengahlihkan dana ke sektor pertahanan lain, dan bukan mengejar proyek mercusuar yang tidak perlukan.

      Kita lihat saja.

      Delete
    3. menurut flight global yg mewawancarai official KAI mengatakan mendetail bhwa IFX versi downgrade , korea hnya memberikan desaign KFX blok 1 , sementara versi KFX desaign blok 2 yg jauh lebih lengkap.

      Delete
    4. Seperti di atas, Versi Export Downgrade.

      Percaya atau tidak, jangan lupa kalau Washington DC akan mengontrol arah proyek ini, dan Korea tidak akan bisa berbuat banyak kecuali menurut, dan menghamburkan uang.

      Sama seperti untuk F-16, ataupun Sukhoi GaSak boros bensin, akhirnya sama saja.

      Versi Downgrade bukan sesuatu yang bisa ditawar.

      KF-X hanya akan menjadi versi downgrade dari F-16 / F-18 versi export,

      sedang IF-X hanya menjadi versi downgrade dari KF-X, alias versi downgrade, dari versi downgrade, dan versi downgrade.

      Delete
  21. Klo seandainya sudah terjadi ngeri saya melihatnya, sptnya kita sudah dibodohi dan diakali. Apakah itu bisa di upgrade bung di kemudian hari IFXnya? Apabila RI membandel mengupgrade sendiri tanpa ijin Korsel apa yg akan terjadi dengan RI bung? Dan seandainya RI dulu lebih memilih Joint dengan Turkiapakah mungkin hasilnya akan sama ato lebih baik bung dibandingkan dengan Korsel?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang bodoh.

      Bukan kita dibodohin Korea disini, tetapi kita sebenarnya sudah membodohi diri sendiri; lebih tepatnya memperbodoh diri sendiri.

      ## Apakah IF-X bisa di-upgrade sendiri?

      Pertanyaan baliknya mudah:
      Pertama-tama, Apakah kita akan bisa menguasai Source Code untuk IF-X?

      Tidak menguasai Source Code, yah, tidak akan bisa memodifikasi sedikitpun juga.

      Jangankan sampai disana, kita mempunyai kemampuan secuilpun mengenai source code saja tidak.

      Dalam hal ini, sebenarnya Korea jauh lebih bodoh lagi.
      Mau membuat pespur.... eh, tetapi tidak seperti Turki, tidak pernah memprioritaskan penguasaan Source Code, sebelum memulai proyek.

      Memang proyek KF-X ini memang hanya proyek mimpi, yang kemungkinan memang di motivasi untuk korupsi.

      ## Kedua, taruh kata kita "diperbolehkan" menguasai Source Code IF-X untuk modifikasi.

      Baik, nah, sekarang tehnologi apa yang kita punya yg kita bisa tambahkan sendiri untuk "modernisasi" IF-X?

      Apakah kita mempunyai kemampuan untuk, misalnya, mengintegrasikan MBDA Meteor?

      Eurofighter, dan Dassault saja masih membutuhkan ratusan juta $$, dan bertahun-tahun, walaupun Meteor dirancang untuk dioperasikan ketiga Eurocanards dari awal.

      Berkaitan dengan topik Flightglobal di atas?
      Apakah kita juga sedemikian pandai sudah menguasai bagaimana caranya membuat stealth coating?

      FYI -- Stealth coating untuk KF-X tidak akan sebanding dengan F-35 versi export.

      Bahkan orang2 Eropa, Russia, dan PRC -- belum ada yang benar-benar mahir menguasai pembuatan stealth coating seperti orang US.

      Inilah yang sy sudah ulang-ulang dari 4 tahun yang lampau:
      Proyek IF-X hanyalah proyek macet, yang tidak akan membuahkan suatu apapun.

      Sekali lagi sama seperti sudah di-highlight dalam topik sebelumnya:
      Gripen adalah pespur yang jauh lebih unggul dalam segala hal dibanding IF-X, bukan barang downgrade, lebih murah untuk diproduksi / dioperasikan, dan tehnologi sharing akan lebih terjamin.

      Kelemahan Gripen: tidak seperti Sukhoi GaSak, Kontraknya harus G-to-G.

      Kontrak G-to-G adalah musuh dalam akuisisi alutsista.

      Delete
  22. Apa sih bedanya Rudal BVR milik NATO dengan milik Rusia ?
    Lalu bagaimana jaringan data yang terhubung antara Rudal dengan Pesawat Tempur ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Perbedaan Missile NATO vs Russia

      Mudah.
      Missile buatan US, Eropa, dan Israel-- semuanya sudah di-tes secara intensif sebelum masuk produksi.

      Kemudian setiap beberapa tahun, masing2nya akan membuat versi terbaru yang sudah mendapat upgrade -- seperti contoh evolusi dari AMRAAM-A ke versi-D dalam artikel.

      Sedangkan Russia... ini sebenarnya mau pesawat tempur, ataupun missile sama saja.

      Upgrade bukanlah kebiasaan industri pertahanan Russia.

      RVV-AE adalah missile yang dijual bebas ke semua negara lain oleh Tactical Missile JSC -- tetapi tidak pernah mendapat upgrade apapun juga sejak pertama dibuat, dan adalah versi downgrade dari R-77 yang tidak pernah selesai testing.

      Demikian juga "legenda" Su-35.

      Pesawat ini relatif tidak pernah mendapat upgrade incremental yang berarti seperti pesawat tempur Barat.

      Sejak spesifikasinya dikunci di tahun 2005, hanya terus berlari di tempat. Tentu saja, tidak seperti Gripen-E, dan F-16V; tidak akan pernah ada AESA radar.

      Delete
    2. ## Missile Datalink

      Ini adalah datalink antara pesawat induk, atau bisa juga dari sumber lain, dengan missile yang sudah ditembakkan.

      Fungsinya adalah untuk memberikan "mid-course update" -- atau data perubahan lokasi target ke processor di dalam missile; missile kemudian akan mengubah arah, dan posisi agar lebih akurat menghantam target.

      Data untuk "mid-course guidance" ini sendiri didapat dari sensor pesawat -- bisa dari radar secara aktif, panduan pasif dari RWR / IRST, ataupun bisa juga dari radar / sensor dari sumber lain.

      Kalau kita menggunakan versi downgrade (termasuk IF-X) -- yah, sudah tentu missile datalink ini akan dikutak-katik.

      ... kemungkinannya terlalu kecil hasilnya bisa se-optimal Australia, misalnya.

      Delete
  23. R-77 dikabarkan akan menggunakan rudal berpropulsi Ramjet, bagaimana komentar anda ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Proyeknya sudah batal dari sejak tahun 1990-an.

      Jangankan membicarakan R-77 dengan mesin ramjet; AU Russia sebenarnya menginginkan versi R-77-1 -- yang jarak jangkaunya lebih jauh, dengan improved guidance.

      Sayangnya, tidak ada funding untuk proyek R-77-1 ini berjalan.

      Untuk R-77-PD Ramjet --- ini hanya proyek mimpi.

      Tidak hanya anggaran pertahanan Russia sekarang tidak mencukupi, dan masih dikorupsi (Russia lebih korup daripada Indonesia), tehnologinya juga belum sampai.

      Ini sebenarnya sudah di-cover dalam artikel:
      Memahami R-77, BVR missile andalan Russia

      Beberapa fakta lain seperti dalam artikel:

      ## AU Russia tidak mengoperasikan, atau pernah membeli R-77 dalam jumlah besar, melainkan missile tempo doeloe R-27.

      ## Tehnology equivalent dari R-77 adalah AMRAAM-A yang sekarang sudah tidak lagi dioperasikan negara2 NATO, tetapi.... proyeknya sendiri tidak pernah selesai

      AU Russia sendiri menganggap R-77 sudah ketinggalan jaman.

      RVV-AE adalah versi export downgrade dari R-77, yang tidak pernah mendapat update apapun juga.

      Delete
  24. Untuk yang mem-post "bagaimana kita harus bekerja keras untuk meng-upgrade IF-X tanpa bantuan Korea":

    Ini tidak akan bisa terjadi TITIK.

    Seperti sy sudah tuliskan di atas:

    Pertama, tidak ada kontrol Source Code, MUSTAHIL bisa ada upgrade, atau modifikasi

    Kedua, kita tidak mempunyai basis tehnologi, atau industri untuk melakukan modifikasi apapun terhadap pesawat tempur modern

    IF-X sama seperti Su-35 didasari hukum mimpi.

    Kenyataan sudah mengigit.

    Pilihannya hanya hengkang dari proyek mercusuar korupsi ini, atau terus menunduk dan "nerimo" dari si "partner" tanda kutip, Korea yang baik.

    ReplyDelete
  25. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  26. Bung GI, saya kurang paham ketika membaca pembahasan tentang anti radiation missiel untuk bvr. Bisa dijelaskan lagi gak? Kok tiba2 nyambung ke S400?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anti-radiation (AR) missile, seperti HARM mempunyai guidance seeker yang justru mengejar pancaran gelombang lawan.

      Kalau menghadapi pespur, missile AR tidak akan bisa efektif, karena membutuhkan pespur tersebut terus-menerus memancarkan gelombang radarnya ke arah seeker missile AR.

      Sedang SAM system seperti S-400, sebearnya mau tidak mau, akan terpaksa harus terus memancarkan radarnya dari posisi yg sudah FIXED di darat.

      Kalau radar tidak menyala, S-400 tidak akan bisa mencari, atau menembak jatuh pesawat lawan, bukan?

      Inilah kenapa semua radar S-400, atau SAM system manapun akan sangat rentan untuk menjadi makanan AR missile.

      Delete
    2. Ohh berarti klo target mematikan radarnya berarti ar seeker gak bisa ngejar lagi, kan?

      Delete
    3. Betul.

      Pada dasarnya, Radar Warning Receiver (RWR) yang bisa mendeteksi gelombang radar adalah musuh terbesar semua pemancar radar.

      Barangsiapa menyalakan radar dia akan selalu memberitahukan posisinya sendiri ke lawan.

      AR misile didesain secara spesifik untuk mencari, dan menghancurkan radar.

      Jadi bagaimana caranya dalam konflik dewasa ini?

      Idealnya, semua pemancar radar harus dari tipe AESA, dan semuanya harus terkoneksi dalam satu network.

      Kedua, setiap pemancar harus bisa menyalakannya secara bergantian, dan dalam waktu sesingkat mungkin sebelum dapat terkunci di layar RWR lawan.

      Delete