Friday, September 15, 2017

Memahami Arti "Kedaulatan atas Alutsista"

Gripen 39-08 Credit: Saab

Apakah perjuangan kemerdekaan itu baru dimulai dari 17-Agustus-1945? 

Ini keliru. 

Semuanya diawali dari bangkitnya kesadaran nasional sebagai titik pemersatu seluruh Indonesia. Perjuangan kemerdekaan kita sebenarnya dimulai dari  20-Mei-1908 dengan berdirinya organisasi Budi Oetomo. Inilah pertama kalinya kata "Indonesia" menjadi identitas bangsa kita yang satu. Tentu saja, sejak tahun 1908, dan kemudian 1945, perjuangan ini sendiri tidak pernah usai.

Berkaitan dengan ini, sekarang kita dihadapkan kepada dua pilihan sederhana antara Gripen vs pesawat tempur "favorit pejabat" Su-35K. Pertanyaan disini sebenarnya sangat sederhana.

Apakah masih mau terus menikmati penjajahan supplier asing? 

Ataukah.... apakah kita sudah siap untuk merdeka sendiri, dan memperoleh kedaulatan atas pertahanan udara kita sendiri?

Sudah saatnya kita membangkitkan kesadaran nasional yang sama dalam menjunjung kedaulatan pertahanan udara Indonesia yang mandiri, yang berada di tangan rakyat, dan bukan di tangan supplier asing, ataupun para perantara mereka. Masa depan pertahanan udara Indonesia untuk 50 tahun ke depan ada di tangan kita, dan jangan biarkan pihak lain mencoba merampasnya.



Persyaratan dasar Kedaulatan: TRANSPARANSI Supplier

Kenapa kita sebagai bangsa Indonesia mau merdeka?

Secara konsep, jawabannya kelihatan sederhana, bukan?

Karena kita tidak mau didikte orang negara lain. Kita ingin menentukan nasib kita sendiri lepas dari campur tangan negara lain. Kita ingin membangun Indonesia yang lebih baik, dengan tangan kita sendiri. Semua ini cita-cita yang mulia.

Pada prakteknya, sejauh ini kita masih harus terus berjuang menghadapi beraneka ragam tantangan yang tidak berkesudahan, mulai dari ketimpangan, atau ketidakadilan sosial ekonomi, pembangunan yang masih kurang merata, ataupun praktek korupsi yang berkelanjutan, alias praktek pengkhiatanatan atas kedaulatan Negara dengan menyalahgunakan jabatan.

Ini sama dengan alutsista. Biar bagaimanapun dalam dunia Abad ke-21 ini, kita tetap saja akan membutuhkan supplier luar untuk mempersenjatai diri. Sayangnya, sejauh ini kita masih lupa untuk terus melemparkan beberapa pertanyaan kritis kepada setiap agen sales / supplier untuk bisa mencapai kemerdekaan yang sama seperti dalam perjuangan bangsa. 

Berikut adalah dua pertanyaan sederhana yang harus terlebih dahulu terjawab, bahkan sebelum bahkan mempertimbangkan produk mereka, apakah laik pakai, atau tidak:
Dalam rangka terus menumpas praktek korupsi yang tidak kunjung berkesudahan, kontrak G-to-G seharusnya menjadi persyaratan utama dalam akuisisi semua alutsista. Inilah langkah utama untuk menjamin TRANSPARANSI atas nilai transaksi. 

Kontrak G-to-G akan menjamin tidak adanya penggelapan dana, ataupun adanya sepeserpun komisi yang akan dibayarkan untuk para pejabat lokal, ataupun untuk para web troller yang sibuk mengisi forum-forum dengan komentar tidak karuan.

Pertanyaan kedua untuk para supplier dalam rangka TRANSPARANSI ini, sebenarnya tidak kalah pentingnya.
Ada yang pernah menulis, kalau dunia transaksi senjata tidak sehitam-putih ini.

Kalau tidak percaya, silahkan saja mempertanyakan hal ini secara langsung kepada masing-masing supplier, dan lihat saja jawaban mereka apa!

Sudah menjadi pengetahuan umum kalau tehnologi persenjataan asal Washington DC, Moscow, ataupun Beijing akan selalu disertai embel-embel..... yah, Versi Export Downgrade, atau pengurangan spesifikasi atas versi export sesuai kebijaksanaan politik dari si penjual.

TRANSPARANSI atas spesifikasi dari produk yang mereka jual. Para penjual versi export sebenarnya sama sekali tidak merahasiakan kalau produk mereka hanyalah.... versi export.
Kret sebenarnya typo disini;
Knirti SAP-518 tidak compatible dengan Su-30MK2 versi export Indonesia,
melainkan untuk Su-30MKM Malaysia yang jauh lebih modern

Perhatikan yang digarisbawahi:
"An export version of this station..."
Versi Export, alias versi anak haram dari SAP-518 versi lokal
Kebanyakan dari downgrade ini tidak akan terlihat, atau mungkin tetap saja tertulis memakai jenis perlengkapan yang sama dengan versi lokal. Tetapi tergantung seberapa parahnya kebohongan supplier atas downgrade ini sendiri, barang versi downgrade ini seperti memasang taruhan di meja judi. Konsekuensinya adalah nyawa pilot, atau tentara kita, kalau sampai di tes dalam konflik yang sesungguhnya.

Tidak ada transparansi spesifikasi yang bisa didapat dari para penjual versi export. Dan berkaitan kembali ke pesawat tempur, bukankah pilihan kita sebenarnya semakin menciut?

Sama seperti pada akhir masa perang kemerdekaan, perjuangan tidak hanya berhenti pada Konferensi Meja Bundar, atau pengakuan kedaulatan Indonesia oleh pemerintah Belanda, bukan?

Sebaliknya, setelah milestone ketiga Kemerdekaan Indonesia ini, seluruh lapisan masyarakat masih harus terus berjuang untuk sampai mencapai titik dimana kita berada di hari ini. 

Demikian juga untuk mencapai kemandirian alutsista, tidak bisa berhenti hanya di Transparansi supplier untuk mereka yang memang doyannya beli import, sembari menginjak-nginjak industri lokal, seperti dalam contoh kasus AW101.



Mencapai Kedaulatan Alutsista: Prioritaskan alih tehnologi, dan partisipasi industri lokal 


Mari kita kembali dahulu ke pasal 43 (5) UU no.16/2016, dan menghilangkan ayat 6 yang memberi loophole "imbal dagang" yang merugikan:

Walaupun bahasanya memang sedikit berlubang re imbal dagang, tujuan ayat ini sendiri sebenarnya sangat mulia, bukan?

Seluruh Indonesia wajib untuk mendahulukan kepentingan industri pertahanan lokal dalam berurusan dengan supplier asing. Semua pasal lain dalam UU no.16/2012 sebenarnya mengatur tentang industri pertahanan lokal, dan bukan memprioritaskan import.

Saatnya berhenti salah menafsirkan untuk kepentingan, atau keinginan pribadi saja, dan melihat arti dari ayat ini secara lebih mendalam:
Tidak bisa disangkal kalau beberapa alutsista, apalagi missile, atau smart bomb, memang tetap harus di-import mentah tanpa bisa ditawar. Tetapi bukankah setelah transaksi pembelian berlangsung, terbuka banyak kesempatan untuk mengembalikan nilai transaksi itu kembali ke industri lokal?

Disinilah kembali, kita harus menuntut komitmen supplier asing yang mau menjual ke Indonesia: Seberapa jauh komitmen para supplier untuk memenuhi persyaratan UU no.16/2012?

Full Compliance With Law No.16/2012:
Sejauh ini Saab juga satu-satunya yang menyebut UU no.16/2012,
akan tetapi tetap saja ada favoritisme ke produk lemon pro-perantara

Untuk nilai transaksi $1,14 milyar, Saab sudah menawarkan kontrak G-to-G untuk 16 Gripen-C MS-20, atau satu Skuadron, dengan tawaran perakitan 6 unit untuk mempercepat proses alih tehnologi, dan penjajakan awal kerjasama jangka panjang dengan industri pertahanan Indonesia.

    Kelebihan Gripen:
    • Biaya operasional 16 Gripen lebih murah dari 1 Su-35K
    • Masih jauh lebih modern dalam segala hal
    • Tidak dipersenjatai dengan missile haram versi export
    • MRO terjamin bisa sendiri 
    • 85% Biaya operasional Gripen bisa dibayarkan kembali ke industri lokal
    • Diperbolehkan untuk perakitan, atau produksi lokal
    • Setiap upgrade di masa depan juga akan terjamin, atau boleh ikut berkontribusi
    • Kedaulatan akan terjamin di tangan sendiri
    Coba tebak: 
    Kenapa penjajahan Su-35K yang sangat merugikan tetap pilihan favorit?

    Sedangkan "janji Rostec" yang menawarkan pembuatan pabrik suku cadang sendiri, sebenarnya justru mengundang banyak pertanyaan:

    • Suku cadang yang mana yang akan diproduksi? 
    • Berapa % dari part Sukhoi?
    • Kapan penjajakan pembuatan pabrik baru itu dimulai? Semua persiapan, dan pelatihan saja bisa membutuhkan waktu 5 tahun.
    • Dan setelah, pabrik tersebut siap dibangun, berapa lama sampai selesai?
    • Semua perlengkapan untuk pabrik tersebut; apakah akan harus di-import dari Russia senilai beberapa milyar $$ ?
    • Pertanyaan terakhir: Kenapa tidak melalui jalur produksi PTDI, yang sebenarnya sudah lama memproduksi beberapa part untuk F-16?
    Tentu saja kita tahu, kalau pengalaman India kembali menunjuk kalau janji yang sedemikian adalah janji mimpi yang terlalu indah:
    Defense News, 22-Maret-2017
    Pengalaman India berurusan dengan Rostec / Rosoboronexport sudah menunjuk suatu kenyataan: ketergantungan penuh kepada supplier, dan prioritas utama adalah profit margin industri lokal Russia. Kita bisa melihat kepastian disini, kalau obsesi untuk mengakuisisi Su-35K hanya akan bukan main merugikan kepentingan nasional dalam jangka panjang.

    Sedangkan penawaran Saab, sebenarnya menjamin suatu kepastian:
    Antara News, 22-Juni-2016
    Kalau setiap sen dari biaya operasional Su-35K, sama seperti semua Sukhoi di Sku-11 dapat dipastikan 100% akan masuk kembali ke tangan military-industri complex di Russia, biaya operasional Gripen yang jauh lebih murah berbeda.

    Salah satu prioritas utama penawaran Saab adalah partisipasi lokal, dan memposisikan kita tidak sebagai customer, melainkan sebagai partner, dengan penawaran alih tehnologi penuh.
    Tawaran ini membuka banyak kemungkinan, yang tidak akan mungkin bisa dipenuhi oleh para penjual barang Versi Export Downgrade
    • Apakah kita mau men-setup fasilitas MRO penuh sendiri? Tidak perlu lagi ketergantungan akan supplier luar, kalau kita bisa mengurus segala sesuatu mandiri, bukan?
    • Seberapa banyak part Gripen yang mau kita produksi secara lokal
    • Kontrol atas Source Code, kitab suci pesawat tempur: yang memperbolehkan eberapa jauh customisasi made-in-Indonesia yang akan bisa dicangkokkan kelak?
    • Semua paket upgrade untuk Gripen terjamin akan tersedia untuk Indonesia. Tidak ada yang perlu dirahasiakan; bahkan kalau perlu kita boleh berkontribusi dalam pembuatan paket MS yang berikutnya.
    • Apakah di kemudian hari kita mau mulai belajar membuat alutsista sendiri, dengan bantuan Saab?
    Tentu saja, kembali kita tidak boleh memperkaya diri dengan terlalu banyak mimpi. Kalaupun kita mengambil tawaran Saab, ini barulah langkah awal dari perjuangan untuk mencapai kemandirian itu sendiri. Tetapi kalau di kemudian hari kita malas, dan tetap senang dengan pesta-pora membeli import tidak karuan, yah, sama saja kembali ke masa penjajahan para supplier; dimana profit margin industri lokal mereka adalah prioritas utama.



    Kedaulatan Alutsista #1: Sama seperti para atlet dalam bidang olah raga, kita juga membutuhkan guru, atau pelatih yang baik

    Saatnya berhenti bermimpi:
    Tidak ada penawaran lain yang tidak hanya lebih menguntungkan,
    tetapi juga lebih menjamin kemandirian.
    Kalau para penjual barang Versi Export Downgrade sampai kapanpun hanya akan memperlakukan kita sebagai sapi perah yang akan diperas habis-habisan, bukan berarti dalam mengambil langkah kemandirian, kita akan bisa memutuskan hubungan kerjasama dengan Saab di kemudian hari. Justru sebaliknya, kita justru harus mempupuk hubungan kerjasama ini agar semakin menguntungkan kedua belah pihak dalam jangka panjang.


    Pertama-tama, pengertian konsep Transfer-of-Technology itu bukan hanya memberi pelajaran satu-arah seperti dari guru ke murid, tetapi konteksnya secara industrial, adalah untuk menjalin partnership. 

    Tidak seperti proyek mercusuar KF-X, dimana segala sesuatu ditentukan secara sepihak oleh "partner" Korea; partnership dengan Saab akan menciptakan hubungan timbal-balik, yang sifatnya dua arah. Keuntungan dari pihak yang satu, akan selalu bisa menular kembali ke pihak yang lain.

    Semisal, kita dapat mengambil contoh pembuatan National Networkinguntuk mengintegrasikan semua Alutsista, baik radar, maupun semua di udara, darat, dan laut, dalam satu Network. Untuk menjalankan proyek ini, Saab akan berpartner dengan beberapa industri Indonesia. Partner utamanya, kemungkinan adalah PT LEN, dan beberapa sub-contractor lain. 

    Saab sebenarnya baru akan memetik keuntungan, kalau proyek pertama ini sukses:
    • Pertama adalah, bagian % profit dari hasil proyek, yang dibagi bersama antara Saab, dan perusahaan-perusahaan lokal. Ini sebenarnya sama seperti kalau TNI sekarang membeli CN-235; beberapa % profit akan masuk ke PT Dirgantara Indonesia, sedangkan sebagian tetap saja masuk ke partner EADS Casa.
    • Kedua, kesuksesan proyek ini akan menjadi kunci yang akan bisa direplikasi dalam lebih banyak proyek lain di masa depan. Lebih banyak pekerjaan untuk industri lokal lagi, bukan? Dan tentu saja, lebih banyak lagi pekerjaan untuk Saab dalam masing-masing proyek.
    • Terakhir, kesuksesan setiap proyek di Indonesia, akan menjadi marketing tool yang baik untuk Saab dapat menawarkan paket kerjasama yang serupa ke negara lain. 
    Jangan terlalu meremehkan kemampuan kita berinovasi sendiri!

    Kita adalah bangsa yang ulet. Tujuh puluh tahun merdeka sebagai negara kesatuan, dengan ribuan macam suku, dan ribuan bahasa, yang tersebar di ribuan pulau, adalah prestasi yang bahkan masih sukar untuk direplikasi banyak negara lain di dunia. 

    Inilah kenapa, Saab sendiri, dalam proses kerjasama kedua belah pihak, juga akan memupuk pengalaman, dan sekaligus mendapat kesempatan belajar dari kita yang pertama menjadi murid, dan kemudian bertumbuh sebagai partner.

    Keuntungan Indonesia?

    Tentu saja tidak hanya terbatas di Transfer-of-Technology: 
    • Ribuan pekerjaan lokal untuk beberapa generasi ke depan
    • Semakin banyak langkah kemajuan untuk menuju kemandirian
    • Beberapa hasil kerjasama dengan Saab, juga akan dapat di-export di kemudian hari.
    • Penghematan dari pola akuisisi gado-gado, yang lambat laun akan mulai menghilang dengan sendirinya.
    • Kedaulatan penuh 100% atas setiap Alutsista yang kita miliki, tanpa pernah bisa lagi didikte dari Washington DC, ataupun dari Moscow.
    Silahkan menunjuk kembali, siapa atlet favorit anda?

    Tanyakan saja sendiri, apakah atlet favorit anda ini bisa mencapai titik kesuksesannya yang sekarang, kalau tidak pernah mendapatkan pelatih yang baik?

    Untuk si pelatih, kesuksesannya adalah melihat anak didiknya bisa meraih gelar dunia. 

    Inilah dasar dari hubungan kerjasama yang perlu di tempa antara industri, dan militer Indonesia, dengan Saab.


    Kedaulatan Alutsista #2: BUKAN BERARTI memberi wewenang kita memerangi negara lain semaunya

    Ya, membeli Sukhoi juga bertentangan dengan Pancasila:
    "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?"

    Eh, keliru:
    "Kuntungan finansial yang maksimal bagi para perantara,
    dan industri lokal negara penjual.."

    Kedaulatan Republik Indonesia sifatnya tidak hanya satu arah dari kita sendiri, melainkan hubungan timbal balik dengan negara-negara tetangga di sekitar, dan sebagai anggota penduduk dunia. Negara-negara lain wajib menghormati kedaulatan Republik Indonesia, dan demikian juga, Indonesia wajib menghormati kedaulatan semua negara lain.

    Kita beruntung, karena sampai dimulainya kegaduhan di Laut Cina Selatan, atau laut Natuna Utara, sebenarnya kawasan Asia Tenggara - Australia adalah salah satu kawasan yang paling aman, dan paling stabil di seluruh dunia. Kawasan kita ini tidaklah seperti kerumitan di Korea, Timur Tengah, ataupun trifecta antara India-Pakistan-PRC. 

    Mempunyai kedaulatan atas alutsista tujuannya adalah untuk mempertahankan stabilitas regional ini dari ancaman luar, bukan untuk berencana memerangi negara lain di suatu hari. 

    Saat ini dalam jangka pendek-menengah, ancaman terbesar terhadap kedaulatan Indonesia berada di laut Cina Selatan. Tetapi ancaman ini sendiri sebenarnya ancaman regional seluruh Asia Tenggara, dimana Australia-pun sepihak dengan ASEAN.

    Kementrian Luar Negeri PRC baru saja mengajukan surat protes resmi yang mengecam penamaan laut Natuna Utara. Loh? Bukankah lautan ini sebenarnya teritorial kita sendiri, dan sesuai keputusan pengadilan Den Haag, memang bukan wilayah PRC?

    Seandainya kita mengoperasikan Sukhoi di Natuna, dan kemudian berhadapan dengan pihak Sukhoi expert, yang sekarang mungkin sudah lebih ahli dibandingkan Russia sendiri, tidak memakai missile versi export buatan Russia, dan anggarannya  juga tiga kali lipat lebih besar; berapa kemungkinannya kita akan dibantai disana?
    Gambar: US DoD, via Wikimedia
    Mimpi buruk di Natuna:
    Kalau kita mulai berhadapan dengan Su-35 dan J-11 PLA-AF,
    yang pilotnya lebih terlatih,
    dan pesawatnya bukan "macan ompong"



    Penutup: Dimanakah Kesadaran Nasional Indonesia?

    Gripen-C MS20   Credit: Saab
    Satu-satunya pilihan berdaulat, yang memenuhi semua Kebutuhan:
    Dengan mudah akan melibas semua Sukhoi Versi Export
    Dalam setiap akuisisi alutsista dalam 10 tahun terakhir, pernahkah kita mendengar pernyataan sebagai berikut ini di media massa:

    "Kita berencana membeli alutsista jenis A, karena pembuatnya menjamin kedaulatan penuh atas semua operasionalnya."

    Tidak pernah, bukan?


    Yang sering kita dengarkan seperti dalam contoh kasus AW101, adalah seruan iklan sales "kebutuhan" helikopter VVIP di tahun 2015, eh, kemudian bersalin rupa ke "kebutuhan" helikopter SAR di tahun 2016. Demikian juga dalam kasus akusisi "barter" Su-35, yang tidak hanya sangat memalukan, tetapi juga akan jauh lebih merugikan dibandingkan polemik AW101.

    Dalam kedua kasus korupsi ini, baik AW101, maupun Su-35 versi export, prioritas utama negosiasi, dan iklan para agen sales di media massa, kelihatannya hanya untuk cepat menutup kontrak, dan memaksa negara untuk membayar.... yah, para agen perantara.

    Kedaulatan atas penggunaan alutsista, sebaliknya, tidak kelihatan sebagai prioritas utama akuisisi.
    Indonesia adalah bangsa yang berdaulat; sudah saatnya kita instrospeksi diri, dan terus melanjutkan perjuangan dari kemerdekaan selama tujuhpuluh dua tahun tersebut. Sudah saatnya, kita belajar untuk mengurangi ketergantungan kepada supplier asing, dan menitik beratkan proporsi terbesar dari pengeluaran anggaran pertahanan kembali ke industri pertahanan lokal. 

    Apakah sudah lebih mengerti arti dari gambar ini sekarang?
    ... dan....
    Kenapa produsen F-16, ataupun Su-Gasak tidak akan pernah bisa memenuhi hal yang sama?


    70 comments:

    1. Yg menjadi persoalan, setiap ganti pimpinan ganti acara. Spt yg saya sampaikan di TNI AU DARI MASA KE MASA, mau dibawa ke mana negeri ini. Apalagi di medsos sering diberitakan tawaran kerjasama, entah bgmn hasil dan kesimpulannya.Malahan Panglima TNI di medsos ingin turki bangun pabrik alutsista di RI. Drpd sibuk bekerja sama lebih baik pakai hasil industri dalam negeri dan hargailah karya anak bangsa. Klopun ada kekurangan dari hasil industri dalam negeri carilah kerjasama yg sesuai dgn kebutuhan dalam negeri. Dan bisa mendukung kemandirian bangsa.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Yah, inilah masalah terbesar Indonesia, tidak hanya Kemenhan.

        Semua kementrian cenderung hanya punya rencana jangka pendek yg umurnya hanya tahan selama masa jabatan.

        Aji mumpung? Tidak juga.

        Kalaupun pejabat masa yg sekarang jujur, dan perencanaan jangka panjangnya sudah sangat baik, tidak ada jaminan pejabat yang berikutnya akan merobek semua rencana itu dngn.... kembali praktek "mengakomodasi semua", alias.... segala sesuatu bisa dinegosiasikan kembali.

        Konsistensi tidak ada.

        Kejujuran hari ini bisa sembarang diinjak2 lagi di kemudian hari.

        Delete
    2. Russia memberikan sukhoi versi export sedangkan indonesia membarter barang terbaik untuknya... Merugikan!

      ReplyDelete
      Replies
      1. ... dan harganya sudah pasti diketok.

        Dua artikel berkaitan akuisisi "untung" sebelumnya sudah di update dgn grafik utk kasus ini.

        # PT Perdagangan sbnrnya mensubsidi anggaran belanja alutsista Kemenhan senilai sekurangnya $1 milyar.

        # Krn tidak ada perjanjian Kemenhan membayar balik PT Perdagangan, maka BUMN ini akan harus menjual $10 milyar dngn asumsi profit 10% untuk menutup kerugian ini.

        Kacau, bukan?

        Kita akan kembali ke topik ini lain waktu.

        Delete
    3. Sebenernya unik lho cara Saab memasarkan produknya. Mereka tu bukan kayak sales jualan dengan segala " bonus " insentifnya. Yang mereka tawarkan tu kerjasama lewat BPPT, Balitbang, BUMN negara. Mereka tuh jujur gitu dan berorientasi ke kerjasama.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Begitulah.

        Kecuali dalam benak mimpi para fanboyz, satu2nya marketing tool hanya memperlihatkan komitmen dan kerja keras mrk dalam setiap proyek.

        Semoga akhirnya ini berbuah Kesadaran Nasional dalam jangka panjang... jangan seperti sekarang.... mencari import mentah via perantara terus.

        Delete
    4. Kenapa tidak memakai Logika Ace Combat saja bung kan sesuai dengan sejarah didunia nyata?

      ReplyDelete
      Replies
      1. Oke, masalahnya logika game2 semacam ini.... semua tipe pesawat disana dapat 100% bekerja sesuai iklannya dengan konsisten.

        Dalam game, tidak perlu memperhatikan logistic, maintenance, dan jumlah jam pekerjaan yg dibutuhkan setiap jam terbang.

        Setiap model terjamin 100% tokcer, dan reliabilitas pasti terjamin.

        Kenyataannya tidak akan bisa begitu.

        Sukhoi terutama, sudah pasti terjamin belum tentu bisa siap terbang saat dibutuhkan. Beban maintenance-nya terlalu berat.

        Kalau sudah mengudara yah, tidak akan ada yg bisa menjamin kalau beberapa sub-system-nya, mulia dari komputer, radar, ataupun mesinnya bisa tiba2 kaput sendiri tanpa peringatan.

        Untuk logika Hollywood versi US:
        F-22, dan F-35 yang hampir terjamin kado kerepotan maintenance-nya akan mengimbangi reputasi Su-27 dan MiG-29.

        Delete
    5. Satu ciri khas unik yang saya bisa bangga tiap video alutsista di CNN TNI-AL & TNI-AD selalu sebut transfer teknologi dan sebut PT.PAL, PINDAD dan LEN kapan TNI AU akan sebut PT.DI

      ReplyDelete
      Replies
      1. Singkat cerita, yah sebenarnya Sukhoi penghisap anggaran di Sku-11, yang dipadukan sistem akuisisi "import first" akan terus mensabotase setiap kemungkinan PTDI bisa merambah lebih jauh ke dunia iptek militer.

        Tentu saja, lebih bodoh lagi karena kita juga mewarisi proyek macet berujung buntu alias KFX.

        Sejauh ini, kita tidak dapat apa2, dan tidak akan bisa dapat apa2 kecuali diperah Korea.

        Delete
    6. Kalau Gripen C TNI pake ECM pod yang dipake di F-16, kemampuan EWnya apa bertambah?

      ReplyDelete
      Replies
      1. Kalau kemampuan ECM -- mulai dari radar warning, atau jammer;
        perlengkapan Gripen biasanya sudah di-built-in.

        Gripen tidak memerlukan seperti sistem ALQ-214 pod spt yg dipakai Super Hornet Australia, tapi belum tersedia di F-16 Indonesia.

        Ijinnya tidak bisa keluar.

        Lebih lanjut, sistem ECM buatan Saab Swedia kelihatannya sangat bersaing, atau bisa mengejutkan negara lain dalam latihan2 NATO.

        Kembali, belum tentu semua kemampuannya sudah pernah dipertunjukkan.

        Untuk Gripen-E; semua sistem ECM-nya akan sama sekali baru, dan dirancang untuk lebih modern dari yg terbaik di dunia.

        Gripen-F akan menjadi variant dedicated EW fighter. Perbedaan kemampuannya belum dipublikasikan lebih detail.

        Delete
    7. Admin,Bukannya Alutsista kita gado2 sejak operasi Trikora kan Pesawat barat WWII juga dipakai pas kampanye Trikora?

      ReplyDelete
      Replies
      1. Tahun 1960-an adalah masa yang berbeda dari sekarang.

        Di masa itu, hampir semua AU yang sudah matang bisa mengoperasikan belasan tipe yang berbeda, kadang dari negara pembuat yang berbeda.

        USAF di tahun 1960-an saja mengoperasikan 3 jenis Interceptor bersayap delta; F-101, F-102, dan F-106, yg kemampuan manuever-nya ompong, krn tugasnya hanya untuk mencegat pesawat pembom Soviet.

        Baik harga, ataupun biaya operasional pespur di kala itu jauh lebih murah dibanding sekarang; krn hampir semua pespur juga jauh lebih sederhana, akan tetapi....

        # Semua pespur Gen-2 & 3 masih memakai mesin afterburning turbojet yang lebih memboroskan bensin, mengepulkan asap (membuatnya lebih gampang terlihat dari jauh), dan lebih berisik.

        # Jarak jangkau pespur di tahun 1960-an, kecuali F-4 Phantom II, juga sangat pendek -- hanya 100 - 300km.

        # Semua pesawat juga hampir 100% mengandalkan fasilitas radar di darat; kalaupun ada beberapa model yg membawa radar, kebanyakan tidak akan bisa memberikan situational awareness yg sebanding dngn skrg.

        # Dari segi kemampuan tempur juga adalah masa yg jauh lebih sederhana. Di masa ini belum ada misalnya, BVR missile.

        # Tidak ada komputer di pesawat seperti sekarang.

        # Hampir semua pespur baru tahun 1960-an, secara efektif masih seperti pesawat baling2 dari jaman perang dunia II, yang sudah memakai mesin jet. Praktis, dan lebih murah, tetapi kemampuannya jauh lebih terbatas dibandingkan pesawat generasi Source Code modern.

        Delete
      2. Di masa AURI tahun 1960-an, sebenarnya untuk pespur AURI mengandalkan hanya empat jenis pespur jet buatan Soviet; Mig-15, MiG-17, MiG-19, dan MiG-21.

        Kemudian masih ditambah koleksi Tu-16, An-12, dan Il-28.

        Tentu saja seperti kita tahu, belum sampai 10 tahun, semua armada ex-Soviet ini kemudian menjadi non-aktif. Sebagian besar dijual ke Pakistan, sisanya dihibahkan ke United States untuk beroperasi bersama 4477th Testing Squadron.

        ## Pelajaran yang kita lupakan disini: Armada yang sekilas kelihatan besar nilainya sama sekali NIHIL, karena kita terlalu tergantung kepada supplier Soviet.

        Begitu kita membubarkan PKI, dan dengan demikian dalam konteks Perang Dingin sudah menyatakan diri 100% berada di pihak Washington DC, yah, habislah sudah!

        Eh, sekarang kita mau mengulangi kesalahan yang sama -- terlalu tergantung ke supplier asing, dan menginjak-nginjak industri pertahanan lokal

        Sedangkan gado-gado dari pihak Barat.... jenis yang paling utama dioperasikan semuanya masih peninggalan Jaman PD II: F-51 Mustang, B-25, B-26, dan C-47.

        Dari segi biaya operasional -- armada Barat AURI masa itu masih lebih murah dibanding 1 Skuadron MiG-21, dan ternyata juga... masih bisa dioperasikan lebih lama setelah MiG terakhir kehabisan part.

        Delete

      3. ## Masalah armada gado2 TNI-AU dewasa ini mudah:
        Sukhoi di Sku-11 saja sudah menghamburkan terlalu banyak anggaran.

        Kelihatannya tidak ada uang yang tersisa... bahkan untuk membeli senjata, apalagi untuk berbicara soal modernisasi.

        Sampai TNI-AU berbesar hati untuk bisa mempensiunkan Sukhoi, atau lebih baik... hibahkan saja ke United States... yah, untuk selamanya kita akan begitu2 doang.

        Kenyataan: Dalam keadaan sekarang; TNI-AU tidak akan bisa menembak satupun pesawat tempur lawan dalam konflik.

        Bagaimana caranya?
        Semua negara lain sudah lebih terlatih, lebih siap, menekuni pengembangan tehnologi / Network, dan tentu saja tidak ada satupun yang mempraktekan akuisisi "macan ompong".

        Tentu saja, rencana akuisisi Su-35K yg hanya akan menghisap lebih banyak uang akan jauh memperparah keadaan.

        Delete
    8. Kepada seluruh pengunjung blog ini. Mohon doanya supaya para pemimipin TNI diberikan hidayah supaya bisa menciptakan sistem pertahanan yg baik, terlebih untuk TNI-AU

      ReplyDelete
      Replies
      1. mereka sendiri yg memegang kewenangan sebenernya tau , tp entah knp mereka ngotot beli barang yg mereka sendiri dah tau bgtu boros

        Delete
      2. Perhatikan saja 10 tahun terakhir contoh kasus C-27, AW101, dan semua alustsista asal PRC, atau Russia!

        Para pejabat selalu terlihat sangat bersemangat, bukan?

        Ini dikarenakan kontraknya BUKAN G-to-G, melainkan via perantara.

        Pepatah sudah berkata "...dimana ada perantara, disitu selalu ada komisi kickback untuk pejabat lokal."

        Delete
    9. AURI skrg lebh sering pake F16 daripada sukhoi sku 11

      ReplyDelete
      Replies
      1. Memang F-16 akan bisa terbang terus sampai sekurangnya 2035 tanpa banyak masalah.

        F-16 bisa mengudara sampai 4x sehari, Sukhoi belum tentu bisa mengudara setiap hari.

        Kalau kita masih mau terus mengoperasikan Su di Sku-11 untuk 5 tahun ke depan, kemungkinan akan memakan biaya $500 juta.

        Delete
    10. https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3650405/jenderal-gatot-jangan-beli-pesawat-yang-senjatanya-hanya-pura-pura

      LOL mungkin yg dimaksud alutista versi export

      ReplyDelete
      Replies
      1. Ini contoh pernyataan yg sebenarnya kontradiktif dengan prakteknya:

        Seluruh dunia sebenarnya sudah tahu kalau (15 tahun terakhir) TNI doyan beli alutsista, tetapi hampir tidak pernah beli persenjataan.

        Ini karena prioritas utama "modernisasi", katanya, hanya utk menambah jumlah.

        Tetapi kalau ditanya, apakah kita bisa mengoperasikannya sebaik negara lain?

        Eh...... tunggu dulu!

        Hal ini bukan prioritas.

        Nah, kalau sudah tahu kenyataan ini, kenapa masih membahas mencoba menambah "macan ompong" Su-35 versi export?

        Logikanya ora nyambung.

        Mbok ya, persenjatai dulu yg ada, baru kelak mempertimbangkan kembali masih butuh tambah pespur atau tidak.

        FYI -- AIM-9X, dan AMRAAM C7 untuk F-16 saja, walaupun sudah mengajukan permintaan, sbnrnya masih belum tutup kontrak.

        Masalah disini bagaimana mengubah pola pikir kita?

        Dalam keadaan sekarang, kalaupun kita membeli Gripen juga tidak akan bisa menyelamatkan TNI-AU.

        Delete
    11. Typhoon sama rafale sudah bisa mengoperasikan meteor di yutub bung

      ReplyDelete
      Replies
      1. Meteor belum operasional di Rafale atau Typhoon.

        Kelihatannya paling cepat 2018, atau masih bisa molor sampai 2019.

        Mengintegrasikan persenjataan baru sebenarnya sulit, bisa molor, cukup mahal, dan tentu saja, semakin molor semakin mahal.

        Video di Youtube yg menunjukkan Rafale atau Typhoon menembakkan Meteor itu hanya dalam testing.

        Sejauh ini, hanya Gripen-C/D MS-20 yang sudah secara resmi sudah mulai mengoperasikan Meteor.

        Gripen juga adalah test platform resmi selama development Meteor.

        Delete
    12. Di medsos, kontrak SU 35 akan diteken november 2017, kita lihat saja diteken ato tdk bung.. semoga pimpinan kita diberi petunjuk dari Tuhan, utk bisa membedakan mana yg baik dan buruk

      ReplyDelete
      Replies
      1. Sejak ttd MoU "menguntungkan" memang sudah ada rumor demikian.

        Tapi masih ada alasan untuk tetap optimis:
        Hampir mustahil rongsokan Su-35 downgrade bisa tutup kontrak.

        Angin sudah mulai bertiup ke arah lain.

        Kita lihat saja.

        Kemungkinan besar, kita tidak akan membuka tender utk pespur baru sampai 2021.

        Delete
    13. pihak rusia trnyata hnya mau 35 persen beri ofset , rusia dptkan hasil brg kita yg terbaik tp kita dapat brg downgrade..

      ReplyDelete
      Replies
      1. Kita berhadapan pada tiga kenyataan disini:

        ## Pertama, kalaupun kita bisa mengeluarkan $100 milyar cash untuk membeli 500 Su-35 sekalipun, sampai kapanpun barangnya akan versi export downgrade.

        Versi Export adalah suatu kepastian, kecuali kalau "hell freeze over" -- neraka mendadak bisa berubah jadi sedingin es.

        Baca: Mustahil Ruski bisa menjual versi lokal untuk export.

        ## Kita juga sedang ramai membahas peringatan G30S/PKI.

        "Terima kasih", Moscow akan berpikir. "...untuk kembali mengingatkan kalau Indonesia adalah satu2nya negara yg kemundian membubarkan, dan menumpas habis partai komunis."

        ## Terakhir, seperti kita sudah ketahui dari semua berita 15 tahun terakhir:

        Ruski sudah memupuk reputasi berkata suatu hal, kemudian mengerjakan hal yg sebaliknya.

        Seberapa besar kita bisa percaya dengan "janji" mereka?

        Kesimpulan mudah saja, seperti pengalaman di India, tidak akan ada satu persen-pun offset dari sono.

        Delete
      2. semoga pejabat berwenang tak menyesali kelak, usia 72 thn msh polos negara kita

        Delete
      3. memang tepat kata orang2 sepuh, mau sukses tergantung pola pikir trlebih dulu

        Delete
      4. Perubahan pola pikir yang diperlukan disini:

        Kita harus berhenti berpikir kalau asal membeli alutsista manapun, mau A400M, Mi-26, Su-35, Leopard, atau apapun juga bisa mendadak membuat kita hebat.

        Kalaupun dalihnya untuk menambah jumlah; jumlah yang sebesar apapun juga sebenarnya berarti kosong.

        Ini dunia nyata.

        # Bisa sembarang membeli, dan barangnya sudah sampai; bukan berarti kita akan bisa menggunakan alutsista tersebut se-optimal apa yang sudah diiklankan.

        Kalau kita membeli misalnya, kapal selam U-209.
        Seberapa efektif kita dapat mengoperasikannya?
        Apakah bisa memastikan, paling tidak 75% kill rate untuk setiap torpedo yang ditembakan?

        Investasi semacam ini biasanya masih terlalu minimal, eh.... tetapi tetap ada obsesi untuk terus membeli tambah.

        # Kita harus memperlakukan alutsista sebagai asset investasi jangka panjang, yang bisa terus-menerus dikembangkan sendiri, walau dengan bantuan luar.

        Barang yang tidak bisa di-upgrade seperti Sukhoi sih sudah seharusnya dicoret dari awal. Lihat dibawah!

        # Berkaitan dengan ini, kenapa kita terus melupakan industri dalam negeri dalam rangka "mengejar jumlah"?

        Dalam masa perang kemerdekaan; Presiden Soekarno, dan para pemimpin yg lain, walaupun sampai sempat tertangkap NICA Belanda, sebenarnya tidak pernah berhenti berjuang melalui negosiasi diplomatis.

        Sebaliknya, Panglima Besar Jendral Sudirman, dan para pejuang di TRI juga tidak pernah berhenti berjuang melalui perang gerilya berkelanjutan melawan NICA.

        Kedua perjuangan ini juga mengukuhkan hati rakyat di masa itu; kalau kita ingin merdeka sendiri. Masa penjajahan Belanda sudah selesai.

        Tanpa ada yang satu, dua yang lain tidak bisa berhasil sendirian; inilah cara kita memperoleh kemerdekaan.

        Kenapa sekarang dalam berjuang mencapai kemandirian, kita malah menolak belajar dari pengalaman?

        ## Lelucon yang bernama Su-35 ini, sebenarnya dapat dipastikan tidak akan mampu melawan F-5S Singapore, ataupun F-5 Thailand yg skrng sudah di-upgrade habis2an dengan digital cockpit, kemampuan Networking, Helmet Mounted Display; countermeasure system, dan persenjataan buatan Israel; Phyton-4/5, dan Derby BVR missile.

        Pilot F-5 Singapore / Thailand akan jauh lebih terlatih dan lebih menguasai tunggangan mereka dibanding pilot Sukhoi; dan persenjataaan / perlengkapan buatan Israel sudah termasyur mempunyai reputasi utk dapat menghabisi segala sesuatu buatan Moscow tanpa perlawanan.

        Delete
    14. mulai hari ini saya berhenti percaya Tni Au ..

      ReplyDelete
    15. kalo misal su 35 terbeli, smga penguasa skrg tdk terpilih di 2019, sulit untk percaya

      ReplyDelete
      Replies
      1. Kan memang ini gebrakan akhir para perantara.

        Kalau sampai Su-35K terbeli, yah, memang cilakalah karena seluruh pertahanan udara kita jadi dijajah Moscow, tanpa akan ada hasil yang berarti.

        Segala sesuatu akan didikte dari sononya.

        Tetapi seperti kita lihat, kita tidak akan perlu terlalu khawatir.

        IMHO, kita seharusnya lebih pesimis sewaktu gembar-gembor Su-35 di tahun 2016.

        Untuk tahun 2017 ini, hanya seperti ujian akhir perguruan tinggi atas kedaulatan Indonesia. Walaupun banyak alasan untuk pesimis, dan perjuangannya akan berat; kelihatannya kita akan lulus kok.

        Delete
    16. Di medsos kontan.co.id, pemerintah akan re negoisasi SU 35. Karena dgn nilai $US 1,14 milyar terlalu sedikit harusnya dpt 15-17 unit, spt apa downgradenya klo sampe dpt 17 unit...

      ReplyDelete
    17. Kemahalan, Pemerintah Nego Ulang Harga Barter 11 Sukhoi http://ekonomi.kompas.com/read/2017/09/22/063000426/kemahalan-pemerintah-nego-ulang-harga-barter-11-

      ReplyDelete
      Replies
      1. "Kemahalan" disini sebenarnya mempunyai beberapa arti yang berbeda dari artikel.

        # Harga komoditas memang sudah pasti harus diketok lebih rendah daripada harga pasar.

        Logika: Rostec, atau Rosoboronexport bukanlah pedagang komoditas, bukan?
        Mereka sudah tentu harus menjual kembali hasil komoditas itu ke agen penjual lain agar bisa mengetok profit %.

        ## Kedua, kemahalan disini di belakang layar juga sudah mempertanyakan hal yang sama:

        Kalau pespur yang sudah ada saja masih belum bisa dipersenjatai, kenapa sudah ingin beli lagi?

        Berita2 semacam ini akan terus berdatangan, sebelum akhirnya negosiasinya tumpur.

        Kalaupun ada kesepatakan harga, sudah pasti negosiasi tahap berikutnya akan bertabrakan dengan paket offset / ToT sesuai UU no.16/2012.

        Singkat cerita, kalaupun skrg belum terlihat nyata; negosiasi pembelian Su-35 sebenarnya sudah tamat.

        Delete
    18. Heli Aw101 baiknya dilelang aja......
      Itukan barang hasil korupsi..

      ReplyDelete
      Replies
      1. Ini seperti sudah dibahas:

        Pemerintah harus menuntut REFUND atas transaksi illegal ini ke Leonardo Helicopter.

        Kalau dilelang sih mengingat harganya overpriced, karena beli lewat perantara, tidak akan bisa balik modal.
        Mungkin bisa rugi $300 juta.

        Mumpung barangnya masih disegel di Halim, belum pernah dipergunakan, dan sebenarnya pembeliannya tidak pernah disetujui negara; memangnya Leonardo Helicopter ini menjual AW101 ke siapa?

        Pembayaran pembeliannya kan lewat korupsi, mengatasnamakan Indonesia?

        Kalau mereka tidak mau terima, bawa saja ke pengadilan tinggi European Union!

        Ini hanya pengamatan pribadi secara awam, bukan dari pakar hukum, tetapi basis hukum kita cukup kuat kok untuk mengembalikan AW101 ke pabriknya.

        Delete
    19. sukhoi ska 11 ada baiknya dibesi tua aja

      ReplyDelete
      Replies
      1. Memang benar; kita harus mempensiunkan Sukhoi Sku-11.

        # Biaya operasionalnya untuk jumlah jam terbang yg sama saja sekurangnya 6x lipat daripada F-16.

        Kalau Sukhoi pensiun, kita jadi mempunyai lebih dari cukup dana untuk mengoperasikan dua Skuadron Gripen, atau F-16, dan menabung lebih banyak jam latihan dari sekarang.

        ## Selama kita terus mengoperasikan Sukhoi, yah, anggaean operasional terus tersedot. Tidak akan ada uang untuk beli senjata...

        ##.... atau membahas integrasi fitur / kemampuan modern sepeeti BVR combat, drone combat, Networking, atau Electronic Warfare.

        Sukhoi memang penghambat kemajuan.

        Delete
    20. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3654510/wiranto-ingin-barter-sukhoi-dengan-hasil-kebun-selesai-desember

      kandungan lokal 85%?
      pabrik suku cadang dan pusat pemasran shukoi di Asia?
      dan semuanya sudah disetujui Rusia?

      ko kaya mimpi y

      ReplyDelete
      Replies
      1. Silahkan saja mencoba "mengharuskan" salah satu negara penjual barang versi export memenuhi persyaratan2 tsb!

        Kalau sudah belajar dari pengetahuan umum,
        kita sudah tahu kok jawabannya.

        Delete
    21. http://nasional.kontan.co.id/news/pemerintah-kecele-harga-sukhoi-kemahalan

      KONTAN.CO.ID - Pemerintah nampaknya masih belum puas dengan rencana pembelian 11 pesawat tempur Sukhoi. Rupanya ada keinginan untuk menambah lagi jet tempur buatan Rusia tersebut.

      Tapi, pemerintah tidak ingin mengeluarkan uang lebih untuk mendapatkan tambahan Sukhoi tersebut. Mereka ingin, dengan imbal dagang senilai US$ 1,14 miliar yang awalnya akan digunakan untuk mendapatkan 11 Sukhoi SU- 35, bisa mendapatkan pesawat lebih dari yang direncanakan.

      Maklum saja, berdasarkan data Wikipedia, harga satu unit Pesawat Sukhoi SU-35 diperkirakan antara US$ 40 juta- US$ 65 juta. Artinya, dengan imbal dagang US$ 1,14 miliar, harusnya jumlah pesawat yang bisa didapat sekitar 15 unit - 17 unit.

      Mardiasmo, Wakil Menteri Keuangan mengatakan, untuk mewujudkan keinginan tersebut pemerintah akan merenegosiasikan rencana pembelian Sukhoi tersebut. Renegoisasi dilakukan atas perintah Presiden Jokowi

      "Presiden hanya ingin harga dinegoisasikan supaya lengkap dapatnya, dinegoisasikan supaya dapat lebih banyak," katanya di Jakarta, Rabu (20/9).

      Mardiasmo mengatakan, negoisasi akan dilakukan oleh Ryamizard Ryacudu, Menteri Pertahanan dan Gatot Nurmantyo, Panglima TNI. Pemerintah berencana melakukan imbal dagang dengan Rusia untuk mendapatkan Pesawat Tempur Sukhoi SU- 35.

      Ryamizard mengatakan, dari imbal dagang tersebut pemerintah bisa mendapatkan 11 pesawat. Direktur Fasilitasi Ekspor dan Impor Kementerian Perdagangan mengatakan, dari sisi Indonesia, nantinya ada 16 komoditas yang akan dimasukkan ke dalam kesepatan imbal dagang dalam pengadaan Sukhoi tersebut.

      Produk tersebut antara lain CPO beserta turunannya, tekstil dan furnitur. Selain itu, produk pertahanan buatan Indonesia juga akan masuk dalam komoditas yang diimbaldagangkan.

      Ke-16 produk tersebut merupakan permintaan dari Rusia. "Dan saat ini kami sedang koordinasi dengan eksportir untuk memenuhi itu,"katanya.

      belum apa apa dah kecele kita

      ReplyDelete
    22. Alutsista merupakan sumber utang paling jumbo
      Senin, 11 September 2017 / 20:36 WIB
      115
      SHARES
      INDEKS BERITA
      Alutsista merupakan sumber utang paling jumbo
      BERITA TERKAIT
      Rating naik, multifinance incar utang luar negeri
      Utang luar negeri naik, Menkeu ingin genjot pajak
      Utang Luar Negeri RI kuartal I 2017 naik 2,9%
      Utang luar negeri swasta melambat, positifkah?
      KONTAN.CO.ID - Pemerintah menganggarkan pinjaman luar negeri sebesar negatif Rp 18,62 triliun. Jumlah itu merupakan bagian dari pembiayaan utang untuk menutup defisit anggaran yang dipatok dalam RAPBN 2018 sebesar Rp 325,9 triliun atau 2,19% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

      Dalam RAPBN 2018, pinjaman luar negeri bersifat negatif. Sebab, pemerintah lebih banyak membayar pokok pinjaman dibanding menarik pinjaman baru.

      Dari jumlah pinjaman luar negeri tersebut, terdiri dari penarikan pinjaman luar negeri bruto sebesar Rp 51,46 triliun. Selain itu, pinjaman luar negeri tersebut juga terdiri dari pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri sebesar Rp 70,08 triliun.

      Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemkeu) Robert Pakpahan mengatakan, dari anggaran penarikan pinjaman luar negeri bruto sebesar Rp 51,46 triliun, yang Rp 27,21 triliun diantaranya merupakan pinjaman kegiatan kementerian atau lembaga (K/L).

      BACA JUGA :
      Lampu kuning untuk utang luar negeri
      Pertumbuhan utang luar negeri Indonesia melambat
      Ia menyebut, ada lima K/L yang menjadi pengguna terbesar pinjaman luar negeri. "Pertama, untuk alutsista (alat utama sistem persenjataan) sebesar Rp 11,7 triliun untuk Kementerian Pertahanan," papar Robert saat rapat kerja antara pemerintah dengan Komisi XI di Gedung DPR, Senin (9/11).

      Kedua, untuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPera) sebesar Rp 6,4 triliun. Ketiga untuk Kepolisian RI sebesar Rp 3,3 triliun. Keempat untuk Kementerian Perhubungan Rp 2,4 triliun. Kelima, untuk Kementerian Riset Teknologi Dan Pendidikan Tinggi sebesar Rp 1,5 triliun.

      "Kelima K/L ini sudah menyerap 90% untuk proyek," tambah dia.

      http://nasional.kontan.co.id/news/alutstita-merupakan-sumber-utang-paling-jumbo

      ReplyDelete
    23. Kalo negara2 Muslim kaya Arab Saudi,Qatar,Bahrain,kan tidak boleh beli senjata buatan Israel tetapi kenapa Turki membeli senjata dari Israel dan F-4E Punya turki menggunakan Radar Elta buatan Israel?

      ReplyDelete
      Replies
      1. turki pnya hub diplomatik ma israel, turki jg anggota nato

        Delete
      2. Patut diketahui dahulu, kalau dari sejarah, Turki di jaman dahulu adalah Kerajaan Imperialisme Ottoman, yg menguasai hampir seluruh Timur Tengah, dan juga sibuk berperang melawan kerajaan2 imperialisme Eropa.

        Turki modern baru dibentuk setelah selesainya Perang Dunia I, dan Ottoman dipecah.

        Pada masa paska Perang Dunia II, Israel, Turki, dan (waktu itu) Iran mendapati kalau mereka berada dalam posisi yg sama: Sekutu dekat.

        Turki, walaupun negara mayoritas Muslim, tentu saja tidak pernah merasa harus memusuhi Israel.

        Bahkan sampai sekarang sekalipun, hubungan Turki, yg ex-Ottoman, dngn negara2 Arab yg lain, yg seperti negara2 ex-jajahan Ottoman, tidaklah terlalu nyaman.

        Delete
    24. Halo bung DR, lama tak bersua...

      Sampai bbrp hari yang sdh lewat, saya berpikir progres negosiasi su-35 ini berperan sbg aksi counter atas boikot minyak sawit oleh negara2 eropa.

      Tapi saya kok gak terlalu yakin, negara2 eropa akan sekaku itu. Norwegia misalnya...meskipun parlemennya menyetujui aksi boikot tsb, tapi pemerintah dan pihak swasta tidak akan menutup mata thd potensi perdagangan&kerjasama ekonomi dg RI.

      CMS MSI-90U misal yang mjd standar bg kasel U-209&Imp.CBG, Hugin-1000, nasams, simulator kapal utk sekolah pelayaran, potensi disektor kelautan&perikanan serta energi baru&terbarukan adalah sebagian diantaranya.

      Tapi entah angin darimana, kok saya merasakan getaran2 lain yang sgt halus dr sebuah permainan tingkat dewa.

      Jadi teringat sekelumit cuplikan percakapan seputar kasus AW-101:
      T: Pak kira2 berapa kerugian negara/mark up dlm kasus ini?
      J: Sekian Pak...
      T: Hmmm,tapi kalo menurut itungan saya, angkanya lebih dari itu (kira2 hampir 2x lipatnya)
      J: Waduuuuh, malu kan saya...

      Seperti dejavu...nilai transaksi su-35 yang diberitakan sdh hampir deal ini, mentah lagi karena menurut Presiden harganya masih kemahalan!!

      Mungkin om DR bisa menerawang "getaran2 halus ini"...tapi kalo masih gelap, bisa ditanyakan sama @Nobita Sableng, heeeeee

      ReplyDelete
      Replies
      1. Sebenarnya hal ini lucu.

        Kenapa mengkaitkan permasalahan hubungan perdagangan internasional dngn transaksi alutsista?

        Hanya di Indonesia.

        Kembali ke masalah barter yg katanya "menguntungkan.."

        Barter itu adalah cara membayar pembeli yang tidak punya uang.

        Karena si pembeli tidak bisa membayar harga yg diminta penjual dengan uang, maka si penjual barang adalah raja.

        Hanya di Indonesia transaksi nilai ratusan juta $$ masih berani lewat barter.

        Terakhir, bukankah sbnrnya dengan transaksi barter ini, PT Perdagangan Indonesia sbnrnya men-subsidi anggaran belanja Kemenhan?

        Kemenhan sejauh ini tidak ada obligasi utk membayar balik "sumbangan" dari Kemendag, bukan?

        Berarti PT Perdagangan yg harud menanggung ruginya.

        Kalaupun asumsi profit margin BUMN ini bisa mencapai 10%, untuk menutup kerugian "barter", PT Perdagangan akan harus bisa menjual sampai $10 milyar.

        Kerugian ini bisa puluhan tahun baru tertutup kembali.

        Hanya di Indonesia.

        Delete
    25. Bung anggran militer kita rp 100triliun setahun...

      Klo saya kira kira uang segitu mampu membeli 2 skuadron gripen bersenjata lengkap... Tapi kenapa kayanya beli sukhoi aja sampe barter yaa? Apa karena perhitunfan saya salah?

      ReplyDelete
      Replies
      1. Anggaran Pertahanan per tahun itu tidak menyisihkan dana untuk akuisisi, tetapi hampir 75%-nya saja sudah teralih untuk kesejahteraan personil, dan biaya pemeliharaan infrastruktur / fasilitas. Sisanya baru membayar biaya operasional.

        Akuisisi alutisista biasanya harus didanai dengan anggaran tersendiri.

        Delete
    26. kemahalan harga su 35, mana dpt brang kelas 3 pula

      ReplyDelete
      Replies
      1. Mari kita mengulang beberapa fakta re Su-35 yang terlalu sering dilupakan dewasa ini:

        # Su-27S original model dibuat sewaktu anggaran pertahanan Soviet masih melebihi $300 milyar per tahun.

        Su-35 dibuat dari latar belakang anggaran hanya kurang dari $70 milyar.

        # Tidak akan ada incremental upgrade seperti pespur Barat. Tehnologi utk Su-35S sudah dikunci dari sejak 2005, dan sejak itu hanya berlari di tempat.

        Tidak akan ada AESA radar, sedang radar Irbis PESA sudah kuno dari sejak pertama dibuat.

        # Segala sesuatu untuk versi export; mulai dari mesin, komputer, radar, EW, missile, semuanya... sudah mendapat pengurangan spesifikasi dari versi lokal.

        Jadi sudah kuno, masih di-downgrade pula utk Export.

        # Su-35 bisa tahan operasional 6,000 jam, dan mesin AL41F1 bisa tahan 4,000 jam?

        Silahkan saja kalau mau percaya!
        Tetapi Ruski belum pernah membuat Su-27/MiG-29 yang bisa tahan dari kerusakan prematur -- alias jebol sendiri sebelum jadwal service.

        Mesin AL41F1 hanyalah derivatif dari mesin AL-31F yg sudah terkenal... bisa mati sendiri di udara, hanya tahan 1,000 jam terbang, dan harganya sama dengan mesin PW atau mesin GE buatan US, yg tidak hanya jauh lebih reliable, ttp juga berumur panjang sampai mengimbangi usia airframe yg minimum 8,000 jam, dan.... masih bisa diperpanjang.

        # Kemudian.... training.

        Semua "keunggulan" Su-35, seperti dituliskan dalam website "Fantastic Flankers and how to find them" semuanya hanya ada di atas kertas.

        Pada kenyataannya, sejauh ini belum ada pilot Su-35 yg akan berani mengklaim,"Ya, saya bisa mengalahkan F-16 standard NATO, yg jauh lebih modern dalam segala hal, dan pilotnya akan jauh lebih terlatih.

        Dengan missile versi export RVV-AE, dan R-73E yg sudah diharamkan sendiri oleh AU Russia; akan membutuhkan sangat banyak keajaiban untuk bisa mengalahkan F-16.

        ## Tentu saja, Thrust Vectoring tidak akan relevan dalam pertempuran jarak dekat.
        Pilot Barat sudah mengetahui hal ini; t3tapi pilot Russia belum.

        Tentu saja mesin TVC, berarti perawatannya jauh lebih ribet, dan akan lebih gampang rusak dari mesin AL-31F, yg sudah gampang kaput.

        ## Kemudian seperti dalam artikel:
        Kedaulatan akan 100% di tangan supplier asing, dan bukan di Indonesia.

        Biaya operasional Su-35K dapat dipastikan akan mencekik anggaran operasional TNI-AU; tidak akan ada lagi yg tersisa untuk... PTDI yg selalu dilupakan.

        ## Terakhir.... tamatlah semua mimpi menambah jumlah.

        Setelah membayar biaya op Sukhoi, tidak akan ada yg tersisa untuk membiayai pesawat lain.... semuanya dalam nama komisi perantara.

        Delete
      2. PT.Di tak seberuntung senasib Pindad dan PAL....

        Delete
    27. http://www.antikorupsi.org/id/content/juwono-khawatir-ada-bawahannya-paksakan-beli-sukhoi

      pada masa menhan pak juwono
      Juwono Khawatir Ada Bawahannya Paksakan Beli Sukhoi

      bagaimana menurut bung dark atas hal itu

      Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengaku khawatir masih ada oknum-oknum di Departemen Pertahanan, Markas Besar TNI, maupun markas-markas besar angkatan yang memaksakan pembelian pesawat tempur Sukhoi buatan Rusia tanpa persetujuan Departemen Pertahanan.

      Menurut dia, masih banyak oknum di kalangan departemennya dan TNI yang berkepentingan terhadap pembelian Sukhoi. Mereka ingin mendapatkan komisinya, kata Juwono kepada Tempo di kantornya.

      Itu sebabnya Juwono menganggap perlu mewaspadai setiap simpul dalam proses pengajuan anggaran pengadaan alat utama sistem senjata di departemennya, Markas Besar TNI, markas-markas besar angkatan, DPR, Departemen Keuangan, sampai Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Itu saya cek ulang terus. Kami lihat siapa orang-orang yang mengajukan (pembelian Sukhoi).

      Ia membenarkan, moratorium utang dari luar negeri kepada pemerintah kemungkinan ada kelebihan anggaran 2005 di tiap departemen. Maka ia mewaspadai oknum yang memanfaatkan moratorium untuk membeli pesawat-pesawat tempur yang mahal.

      Pada 29 Desember 2004 Menteri Pertahanan telah mencabut usulan pembelian satu skuadron Sukhoi (16 unit) dan 24 unit helikopter jenis Mi buatan Rusia bernilai total sekitar Rp 8 triliun yang diajukan ke Komisi I DPR. Alasannya, pemerintah membutuhkan anggaran besar untuk rehabilitasi setelah bencana alam di Nanggroe Aceh Darussalam.

      Kata Juwono, ia sudah memerintahkan Direktur Jenderal Perencanaan Sistem Pertahanan untuk menahan dulu setiap rencana pembelian alat utama sistem senjata. Terutama yang berhubungan dengan kredit ekspor atau mitra kerja di dalam dan luar negeri. Semua harus di-clear-kan dulu dengan saya dan Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan, ujarnya.

      Ia dan Menteri Keuangan pun sepakat membicarakan cara-cara memperketat proses pengajuan pengadaan pembelian persenjataan agar terhindar dari selonongan. Terutama di Direktorat Jenderal Perencanaan Sistem Pertahanan dan Direktorat Jenderal Sarana Pertahanan masih ada unsur-unsur yang kami waspadai, kata Juwono.

      Mengenai kekhawatiran Juwono, Direktur Jenderal Perencanaan Sistem Pertahanan Mas Widjaja mengatakan, direktorat yang dipimpinnya patuh pada keputusan menteri. Siapa pun tak bisa selonong-selonong, ujarnya.

      Menurut dia, mestinya menteri tak perlu khawatir karena usul pembelian Sukhoi sudah dicabut. Jadi kalau beliau berpikir kami masih selonong-selonong, ya saya tak tahu (itu) informasi dari mana. dimas adityo

      Sumber: Koran Tempo, 14 Januari 2005

      ReplyDelete
      Replies
      1. Kita bisa melihat sebenarnya ada dua kenyataan disini:

        ## Negara-negara yang membeli alutsista dari Ruski, atau PRC biasanya mempunyai kecenderungan lebih korupsi dibanding yang membeli senjata Barat.

        Kalau kita memperhatikan kembali Corruption Perception Index (CPI) dari sumber Transparancy International; ini sebenarnya adalah suatu trend global.

        Perhatikan saja ranking para negara pembeli India (79), Indonesia (90), Algeria (108), Vietnam (113), Angola (162), dan Venezuela (166).

        Sedangkan ranking kedua supplier juga tidak kalah mencengangkan:

        PRC (79 - sama spt India), dan Russia menduduki peringkat 131; atau lebih parah 41 peringkat dibandingkan Indonesia.

        Tentu saja, seperti kita bisa melihat di Indonesia; kalau pejabat korup bertemu dengan pejabat korup yang lain, apa yang akan terjadi?

        Korupsi jadi berbunga berkali-kali lipat, bukan?

        Sekali lagi, belum tentu semua pejabat yang mendukung pembelian Sukhoi terlibat korupsi alutsista; sebagian mungkin memang tidak tahu menahu.

        Tetapi apakah akan ada oknum yang bisa memetik keuntungan finansial maksimal dari potensi akuisisi lebih banyak Sukhoi GaSak?

        Ya, tentu saja.
        Ini sebenarnya tugas KPK -- patut diingat kembali kalau semua transaksi Sukhoi untuk Sku-11 sebenarnya juga masih kasus yang terbuka, atau sengaja dikesampingkan.

        Kenapa sebaiknya kita secara bertahap mulai beralih ke transaksi alutsista dengan Swedia:

        Swedia menduduki peringkat 4; atau hanya kalau 2 point dibanding ranking pertama Denmark, dan NZ.

        Tidak mengherankan kalau beberapa oknum akan berusaha sebisa mungkin untuk menjauhi kemungkinan Indonesia mulai beralih ke Swedia.

        Kemungkinan memperkaya diri dari setiap transaksi Indonesia-Swedia akan nihil.

        Delete
      2. edan edan.. Menhan wkt itu ja udah bicara begitu.

        Delete
    28. Bersyukurlah kita punya Jokowi, yg masih mau menghitung harga sukhoi, klo tdk apalah jadinya. Renegoisasi setidaknya menunda ato bahkan mgkn membatalkan pembelian Sukhoi. Disini faktor pemimpin sangat berpengaruh.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Sekali lagi, perhitungan akuisisi, dan biaya operasional Su-35K versi export untuk 30 tahun ini, tidak pernah dijabarkan dengan mendetail, bukan?

        Para pejabat sudah mengakui sendiri kok, kalau biaya operasional Su-35 akan sekurangnya sepuluh kali lipat lebih mahal daripada Gripen (Link: Antara News).

        Tentu saja ini bukan angka tepat, karena biaya operasional Su-35 di negara lokalnya, akan selalu antara 50% - 80% lebih murah dibanding versi export Indonesia.

        Kenapa demikian?

        ## Pertama2, DepHan Russia tidak perlu membayar komisi Rosoboronexport; atau para lapisan perantara lokal seperti di Indonesia.

        ## Patut diingat pula, spare part Sukhoi Ruski juga tidak perlu didatangkan dengan Antonov, atau pesawat angkut lain puluhan ribu kilometer ke Indonesia.

        Ya, Russia sendiri adalah negara yg luas; tp mereka masih mewarisi sistem warehousing warisan dari Soviet untuk mengurangi liabilitas ini.

        ## Ketiga, spare part untuk Su-35 versi export akan berbeda dengan versi lokal; alias versi downgrade.

        Jadi segala sesuatu akan harus diproduksi lagi oleh pabrik2 Ruski, dalam jumlah batch produksi yang lebih sedikit dibandingkan untuk versi Su-35S.

        Akibatnya, yah, harga setiap paku untuk Su-35K dengan sendirinya akan lebih mahal daripada Su-35S.

        ## Terakhir, jangan mimpi kalau biaya operasional jumlah irit 11 Su-35 akan bisa ekonomis!

        Justru sebaliknya, harga berapapun yang di-quote; akan bisa melompat sampai 50% lagi lebih mahal, karena kebutuhan spare part-nya lebih sedikit daripada untuk 32 pesawat.

        Perhitungan kasar biaya operasional Su-35K akan $100,000/jam. Ini jumlah minimum, dan karena pesawatnya gampang rusak; semakin tahun hanya akan semakin mahal.

        Inilah bertabrakan dengan kenyataan lain.

        Siapapun presiden, ataupun Menteri Keuangan Indonesia; akan sangat sulit memasukan biaya operasional Su-35 ke dalam anggaran TNI-AU.

        Tentu saja, TNI-AD, dan TNI-AL dengan sendirinya juga akan protes kalau mendadak TNI-AU bisa mendapat banyak ketiban rejeki akibat biaya operasional Su-35.

        Di tahun 2006, bukan tanpa alasan Presiden SBY sewaktu itu memutuskan hanya membeli 6 unit Sukhoi, dan bukan 12 unit; eh, tapi beberapa tahun kemudian malah mengalihkan dana untuk mengakuisi 24 F-16 Block-25+.

        Biaya operasional 16 Sukhoi di Sku-11 saja tidak pernah bisa masuk budget, bukan?

        Patut diketahui kalau 14 tahun operasional, Indonesia TIDAK PERNAH mengoperasikan 16 Sukhoi sekaligus.

        Selalu ada beberapa unit yang rusak, atau tidak bisa terbang.

        6 Su-30MK2 dari batch tahun 2011, misalnya, baru mulai operasional setelah 4 Su-27SK/Su-30MK dari tahun 2003 tidak lagi bisa terbang sejak 2008/9.

        Eh, kemudian juga TS-3006 (dan kalau tidak salah 1 unit lagi) dari batch tahun 2011 ini kemudian belum 5 tahun sudah "rusak berat", dan harus mudik.

        Delete
      2. padahal jaman SBY udah pengalaman beli sukhoi dah bgtu, skrg malah diulangi

        Delete
    29. misal saya di posisi pak jokowi, saya pilih Gripen kalo pun kudu doub engine pilih rafale ,

      ReplyDelete
      Replies
      1. Rafale sekarang sangat sulit masuk, karena kita dahulu batal membeli Mirage 2000. Bahkan kalaupun ini terjadi, tetap saja Rafale akan sulit masuk.

        Tetapi sayangnya, yang dilupakan Perancis, dan seperti kita bisa lihat dari trend global penjualan Rafale:

        Hampir semua negara yang membeli Mirage III, 5, F1, dan 2000; tidak akan membutuhkan twin-engine Rafale.
        Singkat cerita, biaya operasionalnya akan terpukul terlalu mahal.

        Seperti bisa kita lihat di Swiss, dan Brazil; single-engine Gripen-NG sudah berhasil menyalip Rafale -- walaupun keduanya adalah ex-pengguna Mirage III, yang industrinya sudah mempunyai keakraban dengan industri Perancis.

        Trend yang sama kelihatannya akan terulang kembali di Indonesia, walaupun kalau di tahun 1986 kita membeli Mirage 2000.

        Delete
      2. Klo mmg rafale tdk bisa masuk ke RI, knp dulu sempat promo di Halim bung...

        Delete
      3. Apa salahnya Perancis mencoba?

        Mereka marketing-nya termasuk yang paling aggresif dibanding semua pemain yang lain.

        Kelemahan tawaran Rafale, seperti di semua negara lain, adalah biaya operasional.

        Jane's mencatat estimasi biaya op Rafale $16,500 di Perancis.
        Kalau dioperasikan di Indonesia, kita bisa melihat biaya operasional mendekati angka $28,000/jam, atau sekitar Rp 350 - Rp 370 juta/jam.

        Ironisnya, biaya operasional Rafale sebenarnya masih lebih murah dibanding biaya operasional Sukhoi Sku-11 versi export tehnologi tahun 1980-an.

        Angka untuk Sukhoi sudah mencapai Rp400 juta di tahun 2014; atau kalau sudah menghitung biaya "perbaikan mendalam", alias mudik pulang kampung 20 bulan, bisa terdongkrak ke Rp600 juta/jam.

        Ini bertabrakan dengan kelemahan tawaran Rafale yang kedua:
        tidak seperti Sukhoi, Rafale sekarang hanya bisa ditawarkan lewat G-to-G.

        Delete
    30. Entah sih Fansboy Ruski sama Netizen Indo mencari kesalahan F-16 Bekas dari US dikaitkan dengan Freeport?
      Pendapat Admin soal F-16XL Bersayap Delta ?

      ReplyDelete
      Replies
      1. ## Tidak ada hubungannya Freeport dngn keputusan Pemerintah US untuk menawarkan F-16 Block-25+.

        Sekali lagi, dalam ekonomi US, Freeport itu hanya plankton dibandingkan McDonnald's, Apple, Amazon, Walmart, atau Lockheed-Martin.

        Ini sih hanya ciri khas hoaxer untuk menyebar cerita karangan yg tidak karuan.

        ## F-16XL -- akan dibahas lebih mendetail lain waktu, bersamaan dengan F-20 Tigershark.

        Singkat cerita, F-16XL adalah salah satu pespur yg potensi kemampuannya lebih baik dibandingkan F-15E, tetapi malah digugurkan dalam nama politik Jendral US yg memang cinta mati ke "Twin Engine" yg lebih besar, dan lebih mahal.

        Delete