Sunday, September 3, 2017

Kasus Su-22 Syria menunjuk pentingnya diversifikasi jenis Missile

F-18E firing flares over Afganistan   Wikimedia: USAF Photo

Masih ingat kasus penembakan Su-22 AU Syria (versi export dari Su-17) oleh F-18E Super Hornet pada 19-Juni-2017 yang lampau?

Su-22 versi export ini memang tertembak jatuh dengan missile AMRAAM-C; akan tetapi ternyata.... Sukhoi Syria ini sempat berhasil mengecoh AIM-9X yang ditembakan pada jarak 800 meter, dengan melepaskan flares....?

Eh, bukankah seeker AIM-9X seharusnya bisa mencuekin flare?

Missile jarak dekat (WVR) AIM-9X seharusnya mempunyai probability Kill yang jauh lebih tinggi dibandingkan AMRAAM; sedangkan missile AMRAAM dalam kasus ini sendiri ternyata ditembakan dari jarak dekat (WVR), sama seperti prosedur F-4C/D/E Phantom II dengan Sparrow missile dalam perang Vietnam.

Apa yang terjadi?

Artikel ini akan sekaligus menjawab kenapa jauh lebih penting untuk mengutamakan diversifikasi missile, dibanding mengutamakan armada gado-gado berantakan dengan jenis persenjataan yang terkunci dari satu supplier doang.



19-Juni-2017 UPDATE: AIM-9X bisa meleset, AMRAAM mengena!

Gambar: Raytheon
Dengan planar array seeker yang sulit dikecoh flare,
Dapat ditembakkan menurut arah pandang pilot,
bisa men-lock dari 180 derajat dari arah moncong pesawat,
dan dipandu dengan datalink dari wingman,
AIM-9X seharusnya tidak bisa dihindari
Pertama-tama terlepas dari semua masalah tehnis; kejadian ini kembali menggarisbawahi kalau jenis missile manapun tidak akan bisa menjamin 100% probability kill rate. 

Kejadian ini juga sebenarnya juga peringatan halus bagi....
Maaf; tetapi apakah ini:
Obsesi gila, ataukah kebodohan total?

Belajarlah berpikir sehat!
Artikell dari Popular Mechanics menjelaskan beberapa point bagaimana pesawat kuno berumur 30 tahun bisa menghindari AIM-9X, missile buatan US yang paling modern dewasa ini.

Teori pertama adalah karena AIM-9X dibuat untuk menghindari flare yang diproduksi sendiri oleh United States. Flare buatan US kualitasnya "bersih"; seeker dari AIM-9P model lama, bisa dengan tenang menghindari flare buatan US, dan langsung mengunci target.

Seperti dilaporkan dalam AviationWeek, menurut hasil research 4477th Testing Squadron, yang juga sudah pernah mengetes beraneka ragam MiG hibah ex-AURI Indonesia, flare buatan Soviet berbeda. Kualitasnya "kotor", dan tidak ada satupun bentuk flare-nya yang sama. Seeker untuk AIM-9P kelihatannya menyukai flare buatan Soviet, walaupun dapat menghindari flare buatan US.

Yah, dalam hal ini kesederhanaan versi Soviet tempo doeloe mengalahkan kerumitan tehnologi United States terkini.

Di lain pihak, kalaupun Su-22 Fitter versi export masih membawa flare, pesawat ini tidak bisa mempunyai kemampuan untuk bisa menangkal AMRAAM. Pilot Super Hornet mendapat lock-on, dan dapat melibasnya dengan mudah tanpa perlawanan; dalam jarak visual (WVR).

Seperti bisa dilihat dari konsekuensi dari kasus ini; F-35 Lemon II yang tidak dipersenjatai AIM-9X dalam keadaan stealth, tentu saja akan dapat mereplikasi pengunaan AMRAAM dalam pertempuran jarak dekat melawan Su-35 Flemon.

Tetapi apakah ini berarti AMRAAM sekarang sudah menobatkan diri sebagai premier persenjataan udara yang bisa di andalkan?


Kegagalan AIM-9X: Seeker untuk Block-2B hanya akan mendapat update

Jangan bermimpi R-73E versi export untuk Sukhoi performanya akan lebih baik!
(Gambar: WIkimedia)

Di belakang layar, tentu saja Pentagon, US Miltary dan Raytheon sendiri akan mempelajari kejadian ini secara seksama. AIM-9X Block-II B dapat dipastikan akan mendapat update untuk semakin mahir menghindari flare buatan Soviet / Russia. 

BOL Countermeasure pod buatan Saab,
yang dipasang ke RAAF F/A-18 Hornet
(Gambar: Australian Aviation)
Di lain pihak, para pembuat countermeasure juga tidak akan tinggal diam. Northrop-Grumman, dan Saab yang masing-masingnya memproduksi flare system generasi terbaru, juga akan melihat kelemahan AIM-9X ini, dan di belakang layar, juga akan terus memproduksi flare generasi baru untuk bisa mengalahkan missile WVR modern.

Dengan kata lain, kejadian ini hanya akan memulai perlombaan baru antara WVR missile modern, dengan countermeasure. Disinilah kembali menggarisbawahi perbedaan antara persenjataan buatan Barat, dan buatan Russia yang sekarang.

Setiap alutsista, persenjataan, dan perlengkapan buatan Barat, akan jauh lebih fleksibel untuk dapat menyerap update baru untuk terus meningkatkan kemampuan. Sebaliknya, alutsista Russia tidak pernah dikenal untuk mendapat upgrade yang berkelanjutan.

R-73E / R-73EL yang adalah versi export dari missile R-73, tidak pernah mendapat upgrade yang berarti sejak di-tes secara intensif dalam latihan NATO, setelah reunifikasi Jerman, dan masih mempersenjatai banyak MiG-29 yang dioperasikan AU NATO, seperti Polandia.
Link:New York Times, 1997  

RAHASIA UMUM:
F-16C dengan mesin GE, atau PW-229
selalu LEBIH EFEKTIF
daripada F-15C



PENUTUP: Pentingnya Diversifikasi missile, BUKAN kebodohan diversifikasi pesawat tempur

Credit: Saab
Gripen-C Swedia dahulu juga dipersenjatai AMRAAM-B, dan AIM-9M.
Sekarang mereka sudah beralih ke MBDA Meteor, dan IRIS-T

Kegagalan AIM-9X dalam satu insiden ini tidaklah mewakili kegagalan semua WVR modern dalam nama BVR missile, yang harga per unitnya tiga kali lebih mahal, melainkan peringatan kalau sehebat apapun produknya, supplier manapun bisa melakukan kesalahan.

Raytheon tentu akan belajar memperbaiki kesalahan ini, dan memperkecil kemungkinan melesetnya AIM-9X Block-II, tetapi kenapa harus terus mengandalkan hasil kerja mereka seperti USAF, USN, dan USMC?

Para supplier Russia sampai selamanya hanya akan menjual missile versi export, yang resiko-nya tanggung sendiri. Kenapa lantas mempercayakan semua kunci pertahanan ke si supplier yang belum tentu bisa diandalkan?

Apakah kita masih mau terus dibodohi supplier, atau mau belajar berdaulat sendiri?

Di masa depan, Indonesia masih mempunyai pilihan untuk tidak tergantung ke satu supplier persenjataan.
Credit: Saab
Kedaulatan atas pertahanan Sendiri.
tanpa tergantung belas kasihan penjajahan single-sourcing supplier asing
Israel sudah berpengalaman puluhan tahun mencobai semua flare buatan Soviet / Russia dengan AU Syria; dan karenanya mereka memproduksi Phyton-5 missile, dengan planar seeker, dan Thrust-Vectoring.

Diehl Systems IRIS-T mengambil semua pelajaran dari Vympel R-73 pasca-reunifikasi Jerman; memberikan kemampuan resistance atas flare, atau countermeasure lain yang lebih unggul dibandingkan AIM-9; dan kemampuan thrust-vectoring untuk menghantam target dibelakang pesawat penembak. 

Denel System di Afrika Selatan, memetik pengalaman dari tolok ukur IRIS-T, dan dalam rangka memproduksi A-Darter, dengan kemampuan manuever, dan akurasi yang diklaim lebih akurat.

Ataukah kenapa tidak mulai berpikir untuk pengembangan tehnologi industri dalam negeri, untuk mulai berpartisipasi dalam produksi planar seeker generasi yang berikutnya?

Sudah saatnya berhenti berpikir dalam pengaruh mimpi, dan mulai bercita-cita membangun pertahanan Indonesia yang berdaulat. 
Tolong angkat tangan!
Apakah ada supplier lain yang mau menjamin 
Sovereign Air Power?
Kedaulatan atas Kekuatan Udara Indonesia?

Kalau tidak ada, 
tapi masih memilih yang lain, selamat!
Anda memilih penjajahan supplier
atas Kedaulatan Indonesia

Masakan setiap 5 tahun masa jabatan, harus ada kecenderungan untuk mengejar target untuk mencapai satu proyek cepat, atau membeli suatu Alutsista? 

Bukankah lebih baik mulai belajar berpikir, dalam masa 5 tahun jabatan ini, pekerjaan baik apa yang hasilnya akan terasa selama 50 tahun mendatang?
First Flight Gripen-E    Credit: Saab
Kedaulatan di tangan rakyat,
dan Industri Pertahanan Lokal,
bukan di tangan perantara, dan supplier asing
Disclaimer: 
Penulis hanya pengamat awam, yang tidak mempunyai affliasi apapun dengan:
- Instansi pemerintah Republik Indonesia manapun
- Saab, atau pemerintah Swedia

49 comments:

  1. Gripen mampu membawa amraam c y d bli f 16 25+ tak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gripen sudah mengintegrasikan semua senjata, atau perlengkapan apapun yg bisa dibawa F-16 versi lokal.

      Mempersenjatai F-16 seperti mempersenjatai Gripen.

      AMRAAM adalah persenjataan BVR standard untuk Gripen Swedia, sewaktu itu sembari menunggu development untuk Meteor selesai.

      Dengan perpaduan sensor sharing dari TIDLS, dan kemampuan radar / RWR yg satu generasi lebih modern, Gripen-C akan dapat menembakan AMRAAM dari jarak yang lebih jauh, dan lebih akurat dibanding F-16 Block-25+, ataupun F-16V yang ditawarkan Lockheed.

      Delete
  2. AIM P Sidewinder F5 E TNI AU, msh bisa dipasang di F16 ABCD TNI AU....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masalahnya, AIM-9P sekarang sudah terlalu kadaluarsa.

      Masalah kedua, memakai AIM-9X juga agak mubazir, krn F-16 B25+ belum diperlengkapi Helmet Mounted Display.

      Delete
    2. Oiya, lupa menambahkan.

      Setiap missile itu juga mempunyai Expiry date, dan membutuhkan maintenance ringan.

      AIM-9L/P dari stock tahun 1980-an TNI-AU kemungkinan sudah lewat masa pakai.

      Sedangkan RVV-AE, dan R-73E sudah dikenal cepat rusak sendiri dalam penyimpanan, walaupun tidak pernah dipasang.

      Inilah kenapa akhir2 ini, Sukhoi Sku-11 semakin jarang terlihat membawa missile.

      Missile Barat generasi baru spt IRIS-T, MiCA, dan Meteor semuanya dirancang untuk maintenance minimal, dan sekitar 20 tahun shelf life.

      Seperti bisa dilihat, missile itu mahal, dan peelu lebih diperhatikan dibanding obsesi membeli Su-35 downgrade yg memakai missile-pun tetap ompong.

      Delete
  3. Saya baca Angkasa Sewaktu intersep hornet F16 AB dipasang AIM P sidewinder bung....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan kejadian ini sudah 14 tahun yg lalu.

      AIM-9P memang adalah persenjataan standard untuk F-16A/B.

      Kembali, kemungkinan stock AIM-9P sekarang sudah habis masa pakainya, sedangkan F-16A/B belum bisa mengoperasikan AIM-9X.

      Langkah logis disini seharusnya:

      # Mengubur semua mimpi Su-35K, dan menelusuri G-to-G contract untuk meng-upgrade 10 F-16A/B ke versi C/D.

      Kalau sudah di-upgrade dan pemanjangan umur ke-10 unit ini masih bisa operasional sampai tahun 2045.

      # Menambah kemampuan Link-16, dan Helmet Mounted Display ke semua F-16 (termasuk Block-25).

      # Membeli lebih banyak stock AIM-9X, dan AMRAAM untuk mempersenjatai F-16.

      Sampai disini, estimasi biaya sekitar $400 juta.

      ## Langkah berikutnya: Pensiunkan Su-27/30, toh sebentar lagi juga harus pensiun!

      Kalau perlu hibahkan saja ke US, agar peringkat export kita naik pangkat. Toh, selama ini kita sudah terus diperas selama mengoperasikan Sukhoi.

      ## Tahun 2021 -- baru saatnya menelusuri akuisisi Gripen & Erieye, dan membuka kerjasama industrial penuh dengan Saab.

      Apakah mau versi C, atau E; untuk menggantikan salah satu Skuadron BAe Hawk, dan mengisi kembali Sku-11.

      Logika: Kita tidak memerlukan 180 pesawat seperti dalam MEF kok!

      Delete
    2. persis kyk yg dilakukan malaysia memilih upgrade F 18 Hornet mereka ,

      Delete
  4. AL India menenggelamkan kapal selam kilo mereka , alasanya tidak layak diteruskan , tahun 2013 kapal selam kilo mereka meledak dan terbakar , india kehilangan 18 pelaut wkt itu

    ReplyDelete
  5. akhrnya seorang dri ISESS khairul fahmi angkat bicara tentang su 35 , orang itu mengingatkan kemhan bhwa mslah overhaul, maintenance, biaya operasional kudu diperhitungkan cermat , kemhan amat yakin dgn janji rusia yg akan beri ToT Brupa upgrade peningkatan jg membngun MRO di indonesia . Membngun MRO tdk gampang. Duit TNI AU amat terbatas, bgt menurut dia

    ReplyDelete
    Replies
    1. =====
      ... janji Rusia untuk MRO...
      =====

      Beberapa pertanyaan yang mudah:

      ## Kalau komitmen mereka begitu tinggi, kenapa TS-3001, dan TS-3002 masih harus dikirim balik awal tahun inim, re mudik untuk MRO?

      ## Seberapa jauh selama ini "pengetahuan" dan "skill" yang sudah diajarkan para tehnisi Sukhoi untuk Su-27/30 Kommercheskiy (Versi Export), yang modelnya jauh lebih sederhana dibanding Su-35K ?

      ## Kalau selama ini ternyata memang tidak diajarkan sesuatu yang berarti, kembali, seberapa jauh komitmen mereka untuk bisa "menepati janji" kelak, dengan model "crown jewel"?

      Su-27/30K di Sku-11 adalah cerminan masa depan operasional Su-35K.

      Oh, Sukhoi mau membuat pabrik untuk spare part?

      Boleh-boleh saja.

      Beberapa pertanyaan logika mudah yang bahkan lupa dipertanyakan para wartawan media massa:

      ## Kapan pabrik itu akan mulai dibuat? Penjajakan lokasi, dan untuk me-rekrut talenta dari nol akan membutuhkan waktu 5 tahun.

      ## Kapan pabrik itu akan selesai?
      Kalau membuat dari nol, setelah semua persiapan sudah matang, akan membutuhkan waktu 5 - 10 tahun lagi.

      ## Berapa biaya produksi pabrik?
      Apakah Rostec akan men-subsidi balik dalam bentuk offset?
      Ataukah kita dipaksa membayar beberapa milyar $$ untuk meng-import perlengkapan dari Russia + biaya delivery dari Antonov?

      ## .... dan, oh, yah.... Selalu kelupaan.

      Part mana yang akan diproduksi di pabrik ini?
      Berapa % Sukhoi yang akan bisa diproduksi lokal?

      ## Fakta: India yang mengakuisisi 277 Su-30MKI, sejauh ini belum mendapat ijin untuk memproduksi spare part.

      Alasannya karena untuk melindungi profit margin di Russia.

      Kenapa sekarang mereka mau berubah halauan hanya untuk akuisisi 11 unit Su-35K, model yg lebih sensitif dibanding Su-30SME?

      ... dan untuk negara anti-komunis, yang tukang hibah MiG.

      Logika, bukan mimpi.

      Delete
  6. Admin baca2 katanya proyek kapal selam midget BPPT bakal dapat input teknologi dari SAAB terus SAAB menawarkan kapal selam Kelas A26 tapi versi " Pelagic " dengan tonase dibawah 1000 ton & cocok buat littoral warfare sama mengadopsi AIP Stirling selain itu juga AEWC Erieye. Sebenernya kita tuh kenapa sih kayak gerak ditempat padahal peluang luas ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jawabannya mudah.

      ## Aji mumpung; tidak perlu memikirkan lebih lama dari 5 tahun masa jabatan.

      ## Kickback; bukan tanpa alasan kelihatannya para pejabat tidak menyukai tawaran Saab, atau Lockheed-Martin.

      Keduanya harus melalui G-to-G contract, bukan negosiasi melalui agen perantara BUMN.

      FYI - Tidak seperti di Swedia, atau di US; Kementrian Pertahanan Russia tidak berurusan dengan BUMN Rostec.

      Delete
  7. Turki menawarkan kerja sama buat kapal selam ke kita, dah mulai dari Swedia, Denmark, Perancis ,Polandia tak satupun pemerintah antusias

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kembali, melihat situasi kondisi keterbatasan perekonomian, ataupun strategis;
      Kita sebenarnya belum membutuhkan kapal selam baru.

      Masalah berikutnya, tawaran akan selalu banyak; karena pasar alutsista kita dianggap salah satu yang paling mudah masuk di dunia.

      Australia, dan Singapore miskin tawaran kecuali pemerintahnya membuka tender.

      Lihat hasilnya, bukan?
      Mereka jauh lebih maju dalam segala hal.

      Delete
  8. Di medsos ada "upgrade" avionik F16 TNI AU, ini "upgrade" kecil kecilan, dan sdh diijinkan USA?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua upgrade yg sedang, atau akan di kerjakan ke versi Indonesia artinya selalu sudah mendapat persetujuan.

      Perbedaan disini:
      Semisal, F-16 versi lokal mendapat 10 macam update, pemerintah US hanya akan menawarkan 7 - 8 update ke negara2 NATO. Tentu saja utk versi NATO, update-nya akan mendapat pengurangan dibanding versi lokal.

      Untuk customer jauh pengguna Sukhoi, seperti Indonesia, ya belum tentu mereka menawarkan 2 - 3 update versi downgrade.

      ## Untuk Sukhoi Ruski tentu saja nasibnya jauh lebih parah.

      Ruski tidak mempunyai kebiasaan untuk meng-upgrade alutsista secara reguler, kecuali dewasa ini, seperti versi BM untuk Su-24, itu lebih karena terpaksa, dan upgrade-nya sebenarnya terlalu rendah.

      Tidak akan ada update apapun juga untuk versi export.

      Para fanboys membayangkan TS-2701 & 2702 mendapat upgrade ke versi Su-27SM lokal, setelah proses MRO sederhana.

      Mimpi.

      Versi SM tidak diijinkan untuk export.

      Upgrade untuk barang kuno spt versi SK harganya akan hampir sama seperti membeli baru.

      ## Tentu saja, paket upgrade untuk Gripen tidak aakn pernah menemui masalah yg sama.

      Semua update, dan semua kemampuan yg tersedia di versi Swedia akan tersedia untuk diaplikasikan ke Indonesia.

      Delete
  9. Material update dari USA ato RI, dan hasilya spt apa dibandingkan dgn yg skrg...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentu saja 100% dari US.

      Untuk para penjual versi export, yang paling utama adalah kontrol mereka atas pembeli, sekaligus merangkap untuk "melindungi industri dalam negeri" mereka sendiri.

      Inilah kenapa ide "pabrik spare part Sukhoi" itu hanya bahasa agen sales.
      Tidak akan bisa terjadi, seberapa kuatpun mimpinya.

      Delete
    2. Kita akan membahas re Kedaulatan atas Pesawat tempur,
      dan pentingnya alih tehnologi / kerjasama industrial dalam topik berikutnya.

      Sangat miris melihat kurangnya kesadaran nasional dalam hal ini, dan gencarnya kampanye para agen sales Sukhoi, yg hanya mencoba menjual kedaulatan pertahanan kita ke Moscow.

      Delete
  10. ternyata bnyak orang d formil fb belum tau barang versi export , lucunya mereka marah kalo dibilang rusia tkang downgrade senjata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal Sukhoi di Sku-11 saja tidak dirahasiakan kok.

      Semuanya dari tipe Kommercheskiy, versi komersial, atau versi export yang sudah diharamkan sendiri oleh AU Russia lokal.

      Mereka mana pernah akan mengoperasikan Su-27SKM, atau Su-30MK2?

      Su-27SM2/3, atau Su-30M2/3 adalah khusus versi lokal, dgb mesin (AL-31FM2/3), radar, dan komputer yg lebih unggul dibanding barang K.

      Kalau sampai sekarang masih menolak percaya, hanya ada 2 kemungkinan:

      Terlalu jauh dalam mimpi di awang-awang, atau memang sudah tahu, tapi sengaja berlagak bodoh.

      Versi yang kedua ini yang sebenarnya membahayakan kepentingan, dan kebutuhan Nasional.

      Delete
  11. Kenapa Pakistan masih menggunakan Mirage III?
    Logika Hollywood yg artikal anda buat apakah admin suka nonton Hollywood?
    Dulu Insinyur IPTN juga bisa buat suku cadang F-16 sendiri jadi kita pernah merencanakan F-16 Made in Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Pakistan mengoperasikan semua jenis Mirage III, dan Mirage 5; mayoritas bekas, termasuk Mirage IIIO ex-Australia dengan berbagai macam upgrade yg tidak seragam.

      Kenapa? Tidak ada pilihan lain kalau mau mengoperasikan pespur dalam jumlah banyak, dan murah.

      Mirage III jauh lebih murah dibandingkan F-16, dan no strings attached, bebas customisasi krn tidak tergantung Washington DC. Jangka panjang mereka berencana menggantikan Shenyang J-6, dan Mirage dengan JF-17; kita lihat saja.

      ## Logika Hollywood itu ketika para Jendral, atau politisi yang duduk jauh di singgasana mereka mulai membayangkan konsep pertempuran masa depan itu dicampuradukkan dengan fantasy yg terlalu mewah.

      Realita kenyataan sudah pasti akan mengigit.

      - Stealth berarti pasti lebih unggul.
      - BVR combat, tidak perlu lagi pusing manuever.
      - Biaya operasional F-35 bisa lebih murah
      - Su-35 (versi downgrade) yg sudah ketinggalan jaman, dan berbiaya op terlalu mahal, eh, tapi efek gentarnya akan "terasa".
      - Membayangkan kalau Washington DC akan murah hati dgn ToT F-35; atau untuk Kf-X Korea
      - Membayangkan kalau Ruski akan memperbolehkan produksi spare part Sukhoi di Indonesia.

      ## Produksi spare part F-16 Indonesia
      PTDI sudah lama memproduksi berbagai macam part, tetapi ini bukan berarti mendapat ToT.

      Sekali lagi, penjual versi export tidak akan pernah menawarkan ToT, atau kerjasama industrial.

      Seperti di atas, logika Hollywood.

      Perbedaannnya dengan Rostec: mereka memilih "membuat pabrik baru" daripada menghampiri PTDI.

      Kenapa demikian?
      Kelihatannya lebih untuk sengaja membuat molor waktu untuk janji yang tidak akan bisa ditepati.

      Delete
  12. Padahal dari namanya juga udah jelas... Su 30 mK2 dan 27 sKOMERCHESKEYm

    ReplyDelete
  13. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3638322/pemerintah-tarik-utang-rp-117-triliun-untuk-belanja-alutsista

    tanda2 pengganti f5 akan segera tutup kontrak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rp 117 Triliun atau kira2 $900 juta untuk Kemenhan, bukan berarti semua proporsinya untuk TNI-AU.

      Agen sales BUMN Rostec ingin $600 juta cash, dan sejauh ini belum ada kesepakatan harga barter (pasti rugi), bukan?

      Belum cukup disana,
      Angkatan yang lain tentu saja akan protes kalau tidak mendapat bagian.

      Saat ini, sbnrnya TNI-AL yang nempunyai paling banyak proyek besar yg masih terbuka.
      Kapal selam Changbogo ketiga, dan PKR 10514 kedua, misalnya, masih belum mendapat funding utk tahap berikutnya.

      Seperti biasa, hampir 80% alutsista yang baru dibeli 10 tahun terakhir... juga masih belum dipersenjatai. Ini saja bisa memakan dana $1 milyar.

      Mempersenjatai F-16 Block-25+ saja akan memakan sekurangnya $100 juta, walaupun idealnya $200 juta.

      Upgrade 10 F-16A/B akan memakan dana $200 juta, dan adalah langkah yg paling ekonomis untuk mendapat extra 10 pesawat dgn kemampuan BVR, dan Targeting pod -- dalam keduanya F-16 masih lebih unggul dari Sukhoi versi manapun.

      Kita lihat saja.

      Delete
  14. Maaf bung itu bukan 117 triliun... Tapi 11,7 triliun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul.

      Sy typo di atas. Besok akan diperbaiki.

      Rp 11,7 triliun memang senilai kira2 US$850 - $900 juta.

      Terlalu sedikit bahkan kalau untuk beli harga kosong 1 Sku pespur --> tentu saja masih coba beli kosong adalah suatu kebodohan besar.

      Delete
  15. TNI AU DARI MASA KE MASA
    1. ORDE LAMA: Ke Timur, beragam MIG dan TU 16
    2. ORDE BARU: Ke Barat, F86 Sabre, F5E, Skyhawk, Hawk, F16 Pernah memilih Sukhoi krn diembargo tetapi batal karena krismon'98
    3. Reformasi: Masih pikir-pikir, ke timur ato Barat, di medsos Panglima TNI merasa gundah, krn SU 35 belum datang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti kita lihat -- selama ini kita sbnrnya hanya dipermainkan seperti bola pingpong antara Moscow, dan Washington DC.

      Tentu saja, keduanya sama2 tidak pernah mau menganggap Indonesia sebagai megara sekutu dekat secara strategis. Serba salah.

      Kita tidak bisa bermimpi menjadi Vietnam atau Venezuela untuk Russia, apalagi Syria.
      Russia masih mencatat seberapa anti-komunis-nya kita, bagaikan menghina "agama" mereka,
      dan bagaimana kita sering vote vs kepentingan Ruski di PBB.

      Demikian juga, kita tidak bisa bermimpi menjadi mirip dengan Korsel, Singapore, atau Australia ke United States.

      Walaupun sejak 1967, kita selalu lebih condong ke US, sayangnya kita masih dianggap terlalu ugal2an, kurang dewasa, dan terlalu pasif secara diplomatis.

      Anak tiri yg tidak diinginkan kedua belah pihak secara strategis.

      Delete
  16. Min, Singapura punya kemampuan Electronic Warfare tdk?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kelihatannya Singapore belum mempunyai dedicated platform khusus untuk EW, seperti EA-18G Growler Australia, ataupun pesawat SIGINT.

      Ini bukan berarti mereka masih newbie.
      F-15, dan F-16 mereka sudah berlatih dalam kondisi jamming berat, dan dikabarkan performanya sangat baik dalam latihan Red Flag.

      Langkah modernisasi mereka yg berikutnya, dapat diprediksi akan untuk meningkatkan kemampuan EW.

      Delete
  17. Su 30 mkm malaysia ko boleh d modifikasi , bahkan SAAB campur tangan sekarang mampu mrngintegerasikan gbu 12... Jauh d banding su 30 mk2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kelihatannya bukan Saab yg memodifikasi Su-30 MKM.

      Patut diketahui dahulu, Su-30MKM buatan Irkut sebenarnya memakai avionic buatan Perancis.
      Ini tidak seperti Su-30MK2, atau Su-35K yang 100% produk Russia.

      Lewat jalan belakang ini, kelihatannya MKM bisa mengoperasikan GBU-12, yang dipadukan dengan... Thales Damocles targeting pod buatan Perancis.

      Modifikasi lebih lanjut yg diperlukan hanya untuk memastikan pylon-nya compatible.

      Secara keseluruhan bukanlah modifikasi yang terlalu rumit.
      Dan kebetulan versi blaster MKI/MKM memang lebih fleksibel untuk modifikasi dengan perlengkapan Barat.

      Tetapi kelihatannya, karena kedua senjata ini tidak compatible, dan tidak dirancang untuk beroperasi bersama; ironisnya F-18D Malaysia akan dapat mengoperasikan GBU-12 dengan jauh lebih optimal.

      Nah, sekarang kalau berbicara Su-30MKI akan mengintegrasikan Meteor, itu baru masalah yang berbeda.

      Meteor tidak akan compatible ke sistem radar, ataupun missile datalink buatan Ruski.
      Akan membutuhkan milyaran $$$, dan kemungkinan gagal terlalu besar.
      Kalaupun bisa, tidak akan bisa menyamai. Eurocanards.

      Delete
  18. Admin,kenapa gak pake Logika Ace Combat saja?
    Lebih Baik Harrier atau F-35B?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, inilah lagi contoh logika Hollywood dari tahun 1950-an.

      Pesawat V/STOL itu secara fisika sudah pasti menghasilkan model lemon.

      Untuk bisa lepas landas vertikal, spt dalam film Hollywood, daya dorong mesin pesawat harus lebih besar dari berat airframe.

      Mesin memberi dorongan ke bawah untuk takeoff -- tanpa bisa dibantu gaya LIFT dari sayap pesawat.

      Dengan demikian airframe harus dirancang seringan mungkin, dngn safety margin yg lebih kecil; sedangkan mesinnya harus bisa mengubah arah dorong, alias TVC di Harrier, atau Lift fan ukuran raksasa di pundak F-35B.

      F-35B, dan Harrier jarak jangkaunya menjadi sangat terbatas, sedang kapasitas bom yg dibawa jauh lebih kecil dibanding pesawat tempur konvensional. Tentu saja, kemampuan manuever, dan akselerasi akan dikompromikan.

      Mesin dorong F-35B sudah terkenal juga -- mudah untuk melelehkan aspal, dan akan merusak geladak kapal induk.
      Akan memerlukan landasan khusus untuk bisa terbang V/STOL.

      Kalau butuh pesawat utk kapal induk, memang minimalnya perlu Rafale-M, atau F-18.

      Tentu saja, kapal induk sendiri sebenarnya sudah semakin tidak relevan di Abad ke-21.

      Delete
  19. Armada sukhoi malaysia jauh lebih canggih.... Padahal anggaran lebih mahal indonesia saya ga abis pikir sama pejabat pejabat... Hadeuhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kelihatannya, Russia tidak mengijinkan penjualan variant dari Su-30MKI buatan Irkut ke Indonesia di tahun 2003.

      Mau beli barter, silahkan!
      Tetapi kami yang akan menentukan apa yang anda boleh beli.

      Inilah hukum alam berurusan dengan penjual versi export.
      Mereka yang mendikte persyaratan, dan spesifikasi yang boleh dijual, dan bukan sebaliknya.

      Alhasil, Su-27SK, dan Su-30MK, yang secara tehnis sudah kuno bahkan dari pertama dibeli.

      Delete
  20. Admin ada gosip yang bilang habis indo airshow 2018 kita bakal buka tender buat 1 skuadron besar trainer fighter 28 unit kohahudnas berikut AEWC & data link sama 3 skuadron medium single engine 4.5th buat koapsau. Katanya buat kohahudnas fiks 28 unit FA-50 nah 50 unit buat 3 skuadron baru chance nya tinggal F-16 Viper vs Gripen NG. Bakal aneh gak min satu sisi ngoperasiin standar NATO sedang satu sisi standar Russia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya ini menunjuk kekacauan antara Kohudnas, dan TNI-AU.

      Kelihatannya argumen Kohudnas menunjuk TNI-AU bergeraknya lambat. Radar bisa melihat, reaksi pelan; makanya mulai ada pikiran Kohudnas harus punya pespur sendiri.

      Ini seperti contoh kasus pesawat capung yg bisa enaknya terbang dengan tenang dari Australia ke Filipina tanpa ijin ---> mencegatnya membutuhkan biaya Rp 3 milyar, dan tidak bisa di-stop sampai ke Manado.

      Sekali lagi, memang sudah saatnya rasionalisasi armada, dan mengintegrasikan operasional antara Kohudnas, dan TNI-AU.

      Sukhoi yg sudah terbukti mengecewakan, kalau dipensiunkan saja memberi ruangan finansial untuk mengoperasikan 4 Skuadron Gripen, dan 2 - 4 Erieye.

      Tentu saja, biaya operasional Gripen, kemungkinan bisa dari 35%, sampai 85% membayar balik industri pertahanan lokal.

      Tidak seperti sekarang, biaya operasional model downgrade tinggal transfer terus ke Moscow, atau ke Washington DC.

      Delete
    2. Menurut bung DR yg membuat TNI AU pelan bereaksi apa bung..

      Delete
    3. Seperti kita bisa lihat sendiri dari pengetahuan umum di Media Massa:

      Kelemahan terbesar TNI-AU sekarang adalah karena mengoperasikan Sukhoi.

      Sukhoi tidak bisa, dan tidak akan bisa beraksi cepat seperti F-16, atau BAe Hawk; dan sebenarnya sudah 14 tahun mengoperasikan juga... masih belum compatible dengan semua asset pertahanan Indonesia.

      Eh, tetapi... "entah kenapa" mendapat perlindungan politik sebagai model favorit.

      Sebagai bonus, hanya bisa memakai missile versi export yang kemampuannya.... pembuatnya saja tidak tahu, karena tidak pernah di-tes, atau di-upgrade sejak development model lokalnya berhenti di tahun 1989.


      Delete
  21. Klo utk mengawasi perbatasan sehrsnya pulau2 terluar dibangun lanud, pespur yg sdh ada diupgrade klo mmg perlu ditambah ya ditambah. Klo sukhoi vs capung, sukhoinya kesulitan nangkap ya hrs diganti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul,

      Seperti diatas; saat ini Sukhoi adalah kelemahan terbesar TNI-AU, walaupun tentu saja tidak ada yg mau mengaku.

      Kalau kita mendengarkan pembicaraan KSAU sejak Mei-2016, atau diskusi2 umum lainnya yang tidak menyebut model; selalu pembicaraannya membahas:

      # pespur yang bisa dipindah2kan cepat,
      # fully-networked
      # Dapat mengawasi teritorial Indonesia dengan lebih maksimal.

      Kebutuhan disini selalu jelas kok: Kita membutuhkan Saab Gripen.

      Sayangnya, Gripen hanya boleh dibeli lewat G-to-G contract, dan tidak lagi dijual melalui badan perantara Gripen-International.

      Di lain pihak, kita tahu kalau Sukhoi adalah satu2nya produk pespur yang masih ditawarkan lewat BUMN badan perantara.

      Delete
  22. Berita dari bung thomas, sdh ada di JKGR thn 2016. Wkt itu beritanya FA 50 utk mengganti Hawk, Viper dan Gripen silahkan bersaing. Yg saya heran begitu mudah dan cepat memilih FA 50 sbg pengganti Hawk.
    Ramai diberitakan wkt itu krn RI ikut KFX/IFX. Menurut saya sptnya Korsel sdh menekan kita, dan akan menambah jenis dan jumlah pswt yg versi downgrade. Lbh baik kita akuisisi Hawk versi baru, krn TNI AU sdh terbiasa dgn perawatannya.
    Dan sebelum kita menentukan FA 50 sbg pengganti lbh baik Uji nyali dgn korsel. Klo T50 tdk diupgrade lebih dulu tdk beli FA 50, sekalian bubar saja IFX dan changgobo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Improved Changbogo kapalnya sudah selesai diproduksi dan sedang trial -- yang masih mengambang hanya unit ketiga, yang "katanya" harus dirakit sendiri di PT PAL.

      Ternyata, ini juga semacam senjata makan tuan; karena meng-upgrade fasilitas PAL untuk bisa merakit kapal selam tidak semudah itu.

      Di lain pihak, pihak Korea sendiri sbnrnya terlihat sangat pelit untuk pengajian alih tehnologi. Ini tidak mengherankan. Mereka juga sebenarnya masih minim pengalaman, dan kelihatannya memang kurang berminat.

      ## FA-50; yah, memang benar... mungkin lebih baik membeli BAe Hawk baru, atau versi militer dari M-346; yang bukan model export.

      Tentu saja seperti sudah dibahas sebelumnya;

      Gripen-C adalah pespur yang jauh lebih unggul dalam segala hal, walaupun memang harga akuisisinya akan lebih mahal.

      Kesemua model di atas tidak dirancang untuk bisa selamat dalam pertempuran udara sesungguhnya melawan, misalnya, F-16 standard NATO.

      ## Proyek KF-X.... ini sih skrng memang sudah menghitung hari sebelum masuk kubur.

      Delete
    2. Yang FA-50 buat kohahudnas ya itu udah agak lama dan emang katanya ada rencana buat 1 skuadron besar berisi 28 unit katanya buat dispersed base sama kohahudnas mau radar sendiri, arhanud sendiri sama pesawat AEWC tapi juga ada rumor tentang 3 skuadron ( 50 unit ) single engine baru buat di Manado, Biak sama Kupang katanya sih chance nya tinggal F-16 Viper vs Gripen NG

      Delete
  23. Andaikan memang terjadi di RI 'dogfight' gripen vs viper lbh berpeluang mana bung DR...

    ReplyDelete