Wednesday, August 9, 2017

MoU barter Su-35K... irasional, dan memalukan!

Betapa malang nasibmu!  Credits: PTDI
PT Dirgantara Indonesia (Indonesian Aerospace)
Hari kemenangan besar untuk para oknum pro-perantara, yang memang senangnya beli import, tanpa memperhatikan industri lokal!

Seperti baru diumumkan di BBC Indonesia, pada 8-Agustus-2017 ini, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, dan Rostec, Perseroan agen perantara "state intermediaries" untuk pemerintah Russia, baru saja menandatangani MoU yang menyepakati transaksi barter untuk membeli 11 Su-35 "monkey model" atau variant export downgrade

Panglima Besar Jendral Sudirman, dan para pahlawan perang Kemerdekaan Era 1945 - 1949 akan menangis dalam kubur mereka kalau mendengarkan berita ini. Ironis, karena menjelang perayaan 17-Agustus-2017, untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ketujuh puluh dua tahun, ternyata negara kita tercinta ini masih begitu bodoh untuk mau mengabdi ke penjajahan supplier asing.



Transaksi Barter adalah bentuk transaksi yang MERUGIKAN NEGARA 

Memang, transaksi barter sebenarnya mendapat restu dari UU no.16/2012 pasal 43 (5) (e):

Memang maksud penulisan UU ini sendiri baik; tujuannya untuk melindungi kemampuan industri pertahanan lokal. Dalam seluruh UU ini sendiri, hanya 1 pasal (43) yang mengatur skema pembelian senjata via import. Sayangnya satu sub-ayat yang sederhana ini saja sudah meracuni, atau boleh dibilang menghancurkan relevansi dari seluruh UU, karena memberikan celah untuk transaksi yang sekilas terlihat "sangat menguntungkan".

Kembali ke pertanyaan yang sederhana: Kenapa uang diciptakan?

Uang, menurut kamus besar bahasa Indonesia, pengertiannya adalah alat tukar yang dapat diterima secara umum sebagai alat pembayaran untuk penyedia jasa, ataupun barang.

Nah, sekarang bayangkan kalau tidak ada uang, dan kita semua harus bertransaksi barter?

Taruh kata, anda mempunyai sepuluh ayam, dan anda membutuhkan sekarung beras. Kebetulan, pak Lalim adalah satu-satunya yang memproduksi beras di seluruh kampung anda. Karena pak Lalim mengetahui anda mempunyai sepuluh ayam, dia akan meminta sepuluh ayam anda harus diberikan semua, untuk setengah karung beras saja! Oh, mungkin pak Lalim bisa menambah satu-dua kursi, dan sepeda juga.

Kelihatannya tidak adil? Atau kemahalan?

Bagaimana caranya menentukan value atas nilai barter, kalau tidak ada uang? Di desa sebelah, karena penjual berasnya banyak, mungkin dua kantung beras bisa ditukar dengan satu ayam. Silahkan mengigit jari, tetapi di desa anda, pak Lalim berhak menentukan harga transaksi.

Inilah kenapa masyarakat di dunia menciptakan apa yang disebut sebagai... uang. Dengan demikian transparansi atas transaksi, menciptakan harga pasar yang dapat dinilai secara moneter.

Defense News sudah dengan cepat mencatat kelemahan ini. 
From Defense News, 09-August-2017
Rostec, seperti pak Lalim di desa anda, BERHAK menentukan barang barter yang dimaui sesuai keinginan sendiri. Tentu saja, pak Rostec juga akan bebas mendikte harga per kg untuk setiap komoditas yang mereka inginkan. 

Taruh kata minyak kelapa sawit, dengan asumsi kalau ini yang diinginkan pak perantara Rostec:

... harga per tonnase-nya $613, menurut Index Mundi, 10-Agustus-2017.

Dalam transaksi barter, harga pasar ini menjadi tidak relevan, karena sama seperti pak Lalim, pak Rostec akan bisa, dan boleh mendikte harga tonnase yang mereka inginkan. Bagaimana kalau $100 per ton saja, atau perbedaan $513 di bawah harga pasar sudah cukup? 

Untuk satu juta ton minyak kelapa sawit saja, kerugian atas harga pasar sudah mencapai US$513 juta, bukan? Tapi ini baru membayar hanya $100 juta dari harga barter untuk 11 Sukhoi.

Siapa yang harus membayar para pengusaha, atau para petani, yang mengharapkan keuntungan dari jerih payah mereka? 

Sukhoi yang dibeli, tidak bisa memberi makan mereka, bukan?

Selamat datang di bagian pertama dari masa penjajahan Abad ke-21, yang sayangnya, diciptakan oleh kita sendiri, hanya demi keinginan semu membeli barang versi downgrade, yang hanya akan gelabakan untuk menghadapi pesawat tempur manapun di Asia Tenggara!

Bukan tanpa alasan baik pemerintah United States, dan pemerintah Swedia, walaupun keduanya sudah membaca UU no.16/2012, tidak ada satupun yang mau menawarkan transaksi barter, alias pemerasan kedaulatan ekonomi Indonesia ini.
Hanya dengan dipersenjatai missile versi export RVV-AE,
kemampuan Kill Su-35K tidak akan jauh berbeda dengan Su-27SKM,
hanya bulan-bulanan pesawat tempur standard NATO

Menghamburkan uang demi mengejar Efek gentar nihil.


Transaksi Rostec/Rosoboronexport BUKAN Government-to-Government Contract!

Menarik kalau beberapa berita seperti menunjuk kalau seolah-olah MoU ini G-to-G, karena ditandatangani via BUMN kedua negara..... Ehh, tunggu dulu??????

Mari ulangi lagi kalimat ini: BUMN dari kedua negara.

PT Perusahaan Perdagangan Indonesia seharusnya tidak pernah bisa menyatakan diri mewakili pemerintah Indonesia untuk kontrak yang akan sangat merugikan negara. Itu sih namanya Perseroan ini sudah bersalin rupa untuk menjadi agen perantara. Sebenarnya kebetulan, karena.....
Dari Website Resmi Rostec
Rosoboronexport, anak perusahaan Rostec, sesuai dekrit presiden Russia tahun 2000, adalah agen perantara resmi transaksi alutsista Russia. Sepanjang sejarah, mana pernah ada Government-to-Government deal yang langsung untuk transaksi pembelian senjata buatan Russia?

Ini sih hanya membohongi diri sendiri, atau upaya membohongi rakyat.
Rosobornexport HARUS menjadi "state intermediaries" (Perantara)
untuk semua penjualan export senjata Ruski.

Tentu saja "komisi perantara" disini sifatnya relatif.
Tidak akan terjamin dibawah 5%.
Defence Aerospace Link
Russia tidak pernah membuat pengecualian ke India, ataupun ke PRC, yang keduanya adalah customer yang bisa menghamburkan puluhan milyar cash sekali pukul. Kenapa harus membuat pengecualian ke Indonesia, negara anti-komunis, yang tukang hibah senjata ex-Soviet?
Defense News, 22-Maret-2017
Profit Margin adalah prioritas utama transaksi via Rostec / Rosoboronexport
Belum cukup disana, Rosoboronexport, sama seperti di India, tidak akan dapat menjamin supply spare part:
Link: Indian Express, 8-Agustus-2016
... apalagi untuk pesawat yang masih langka seperti Su-35K, dan jumlah produksi part-nya masih sedikit.

After-sales service yang buyar dengan sendirinya, ini sekali lagi tidak mengherankan, karena yah, industri militer Russia sendiri sebenarnya mendera masalah korupsi berkelanjutan, dengan praktek "kickback" yang sudah lumrah, dan birokrasi yang berlapis-lapis. 

Dalam interview dengan penuntut umum militier Russia, seperti dikutip Financial Times di tahun 2011, 20% anggaran pertahanan Russia sendiri sudah raib dalam berbagai macam kasus korupsi yang tak terselesaikan. 

Jangan heran kenapa biaya operasional Sukhoi mahal! 
Jangan biarkan korupsi dari Russia turut di-Export ke Indonesia:
Menduduki peringkat ke-131, menurut Transparency International,
persepsi tingkat korupsi di Russia,
LEBIH PARAH 41 PERINGKAT
dibandingkan Indonesia, yang menduduki peringkat ke-90



Harga beli pesawat itu murah, kurang dari 25% biaya total untuk 30 tahun operasional

Tentu saja ini berlaku hanya untuk F-16 single-engine fighter, bukan pesawat high-maintenance yang gampang rusak seperti Su-35.
Komisi Perantara melebihi 2 jam terbang Gripen / F-16
Beberapa lapis perantara Rostec / Rosoboronexport, dan perantara lokal "bukan broker Sukhoi" akan mengetok komisi, ditambah perhitungan faktor korupsi dalam industri Russia; bisa diperkirakan akan menambah biaya 20 - 30% total dalam harga spare part, atau biaya perbaikan tehnisi outsourcing dari Russia. Semua ini pada akhirnya akan harus dibayar dalam US$ cash, bukan dengan kopi, kelapa sawit atau karet ketokan setengah harga pasar.

Estimasi disini, dengan memilih hanya 11 Su-35, yang sebenarnya hanya barang sewaan ini, kita bisa melihat estimasi kasar biaya operasional yang bisa mencapai $15 - $25 milyar hanya dalam 20 tahun. Atau, bisa menghemat kalau Su-35 tidak perlu sering-sering terbang. Kan efek gentarnya sudah gahar?

Akuisisi Su-35 berpotensi memberikan keuntungan yang luar biasa tinggi.... hanya untuk supplier, karena semua spare part buatan negeri ini tidak pernah dikenal bisa tahan lama, seperti pengalaman India, yang sudah mengoperasikan 270 pesawat buatan Irkut, yang jauh lebih mature dibandingkan Su-35 buatan Knaapo.


Ayo ! Mengaku!
Siapa yang akan menerima komisi kickback dari penjual?
Tentu saja... seperti biasa, para pendukung Sukhoi, yang memang senangnya beli import mentah, tidak ada yang berani menyinggung bagaimana komitmen Rostec untuk memenuhi persyaratan UU no.16/2012, khususnya dalam partisipasi kerjasama industrial.

Selamat datang ke kemungkinan realita kita harus mengabdi kepada para perantara!


PTDI, mulai sekarang partisipasi dikau tidak lagi relevan: Para pejabat akan mempunyai barang favorit (downgrade) baru!

Gambar DispenAU ini saja sudah memberitahukan secara halus:
Model mana yang sebenarnya menjadi FAVORIT
Akan tercipta sesuatu suasana FAVORITISME, yang tidak akan bisa dihindari!

Mari kita bertanya, berapa proporsi anggaran TNI-AU yang masih tersedia, setelah membayar biaya operasional dua skuadron Sukhoi favorit?

Untuk apa masih mengoperasikan F-16, atau BAe Hawk? Jual saja semua, toh tidak akan mendapat funding lagi.

Apakah masih akan ada yang tersisa untuk, misalnya, membeli persenjataan?
Mempersenjatai pesawat tempur yang sudah dibeli pun kurang relevan,
demi mengejar MEF 180 pesawat
Di lain pihak, mungkin memang sudah saatnya PTDI, yang lagi-lagi dicuekin sama seperti dalam skandal AW101, diminta untuk berkonsentrasi membuat pesawat-pesawat sipil saja. Tidak perlu terlibat lagi, yah, dalam support operasional TNI-AU? Jasamu tidak lagi dibutuhkan!

Tidak akan ada satu pakupun untuk Su-35 yang akan diproduksi di Indonesia, dan seperti mabuk menghirup ganja, mereka yang memegang aji mumpung tidak akan ada yang peduli.

"Kita harus rela berkorban demi Su-35". 

Tentu saja, seperti sudah pernah dicatat dalam blog ini, cinta pro-Su-35, sebenarnya ibarat bertepuk sebelah tangan:



Memorandum dari tahun 1972 seperti di catat dalam Office of Historian, pemerintah United States, memperlihatkan bagaimana dahulu kala, Indonesia pernah menghibahkan MiG-17, Mig-19, MiG-21, dan segala macam persenjataan ex-Soviet ke United States dengan harga hibah, hanya $250,000.

Memang, mungkin inilah satu-satunya harapan untuk mengeruk keuntungan dari akuisisi Su-35K; kita hibahkan saja ke United States!

National Interest, 28-Desember-2016.

Edisi downgrade spesial akan tersedia untuk Indonesia,
dengan biaya komisi 500% 
Para agen sales di Rosoboronexport, tentu saja sudah mencatat hal ini dengan seksama, dan dengan demikian akan memastikan agar negara anti-komunis ini, mendapat versi downgrade, yang.... serendah-rendahnya.
Mau pesawat tempur,
tetapi SENGAJA melangkahi industri pesawat terbang Nasional?

Demikianlah, nasib Indonesia yang seharusnya sudah merdeka.
(Gambar: PT Dirgantara Indonesia)



Penutup: Untungnya, MoU belum menjadi kontrak resmi


Rencana kolaboritas Mafia Sukhoi untuk akuisisi Su-35 model downgrade, dengan salah satu tujuan-nya untuk mem-bypass semua persyaratan lain dari pasal 43 UU no.16/2012, dan memangkas habis kemungkinan pengembangan industri pertahanan Indonesia, untungnya masih berupa MoU, yang tidak hanya sifatnya tidak mengikat, tetapi juga ditandatangani dalam bentuk kontrak B-to-B antara dua BUMN perantara; bukan, dan tidak akan bisa ditandatangani antar pemerintah.

Kontrak resmi tetap tidak akan turun sampai pemerintah, dan DPR menjatuhkan keputusan final.

Bentuk kontrak akhir, yah, tentu saja akan menjadi G-to-B, dengan Rosboronexport / Rostec.

Artikel dari TribunNews pada 27-Juli-2017 ini berjudul: "Pemerintah beli 11 Su-35" sebenarnya justru sudah memperlihatkan posisi pernyataan Presiden Jokowi sendiri:
Dalam artikel ini,
Presiden kembali menggariskan beberapa point penting re kebutuhan Indonesia,
BUKAN 

menyinggung akuisisi penghisap uang pro-perantara
Memakai perantara, atau tidak? Memenuhi kebutuhan, atau tidak?
F A K T A:
Tidak akan pernah ada kerjasama industrial baik dari United States, ataupun Russia


Rencana ngaco-belo untuk mengakuisisi Su-35K akan kembali, mengetes integritas, dan kedaulatan kita sebagai seluruh bangsa, kebulatan tekad pemerintah yang sekarang, dan komitmen kita untuk memberantas... korupsi, yang sudah pasti akan menular dari Moscow kembali ke Indonesia.

Di tahun 1986, karena keputusan politik pemerintah masa Orde Baru, negara kita memilih untuk mengakusisi 12 F-16 A/B Block-15OCU, sebagai semacam "ucapan tanda terima kasih" atas dukungan Washington DC sejak tahun 1967. Sayangnya, di kala itu, kita jadi melewatkan kesempatan akuisisi Mirage 2000, yang akan memperkenalkan Magic II SARH BVR missile, dan Exocet anti-ship missile ke jajaran pesawat tempur TNI-AU.
New Strait Times
Terlebih parah lagi, keputusan untuk mengakusisi F-16, juga memotong kemungkinan IPTN (bentuk PTDI waktu itu) untuk bisa berpartisipasi dalam pengembangan tehnologi pesawat tempur selama 30 tahun. Sampai sekarang kita masih menuai konsekuensi pahit akibat keputusan politik ini. Kita menjadi luar biasa kuper, dan menderita penjajahan Rosoboronexport, dan mengejar proyek semu KF-X, yang sekarang juga... sedang dihantam penyelidikan kasus korupsi oleh Penuntut Umum Korea sendiri.
Satu keputusan politik konsekuensinya puluhan tahun kerugian:
Seharusnya di tahun 1986, kita membeli Mirage 2000
Betapa menyedihkannya.

Nah, lantas kalau Su-35K terbeli, bagaimana?

Ya, tidak apa-apa. Mungkin lebih baik sekalian saja, pensiunkan semua pesawat tempur lain, demi mengoperasikan Sukhoi-Sukhoi Flemon yang gahar. 
Eh, padahal AU Russia sendiri tidak memakai R-77,
tapi bebas menjual RVV-AE untuk export!

Su-30SM di Hyemim AB, Syria, Mei-2016,
yang bersenjatakan 4 R-73, dan sepasang R-27 SARH ex-Soviet
(Gambar: CNN)
Sewaktu kita masih anak kecil, sewaktu diberitahu orang tua, jangan bermain api, atau jangan asal main panjat pohon, kita mendengarkan, atau tidak? Seringkali, kita nekad, bukan?

Setelah mengalami musibah, baru setelahnya kapok. Mungkin tanpa melalui pengalaman pahit terlebih dahulu, kita tidak akan pernah bisa belajar.

Semoga pemerintah Indonesia mengambil keputusan yang tepat untuk masa depan bangsa, lima puluh tahun ke depan!

Semoga seyogyanya, kita bisa lepas dari masa penjajahan para koruptor, dan barang-barang versi export downgrade. Jangan membiarkan perjuangan kita untuk melawan para penjajah sejauh ini menjadi sia-sia!


Selamat dirgahayu Republik Indonesia, 17-Agustus-2017! 

47 comments:

  1. Mohon maaf,

    Karena terlalu banyak spamming iklan, dan komentar hoax dari beberapa user, mulai dari sekarang setiap komentar akan terlebih dahulu di-moderasi sebelum bisa terlihat.

    Kalau ada yg mau mengadu argumen pro-Sukhoi, silahkan!

    Selama bahasanya santun, dan mengikuti etika yang baik, maka saya dengan senang hati akan publish komentar anda, dan menjawabnya.

    Terima kasih, dan sekali lagi, mohon maaf atas gangguan karena perubahan ini.

    ReplyDelete
  2. Berarti pembelian su35 sudah final min ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum.

      MoU sifatnya tidak mengikat secara kontrak.
      Sifatnya hanya seperti perjanjian kesepakatan awal, dan masih bisa dibatalkan.

      Delete
  3. Sangat disayangkan jika keputusanny sudah final..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang.

      Kalau sampai kontrak, yah, yah kemungkinan perkembangan tehnologi pertahanan udara Indonesia hanya akan terpukul 40 tahun ke belakang. sementara Australia, dan Singapore sebagai tolok ukur, terus melompat maju semakin jauh.

      Kita hanya akan meng-korupsi masa depan untuk generasi berikutnya,
      sama seperti dahulu kontrak F-16A/B membuat kita kehilangan kesempatan mempelajari nikmatnya ToT, belajar memakai BVR missile, dan Exocet Antiship missile dari Perancis.

      Boleh dibilang, skrg ini jadi begitu berantakan krn kita tidak membeli Mirage di tahun 1986.

      Su-35 versi downgrade, akan menjadi jauh lebih parah.
      Kenapa demikian?

      Biaya Op-nya saja sudah tidak sepadan dengan keterbatasan anggaran kita,
      dan krn pesawat pemakai perantara ini dengan sendirinya menjadi pesawat favorit,
      Yah, dalam 20 tahun, kita akan kesulitan bahkan utk bisa mempertahankan kualifikasi pilot pesawat tempur.

      Kurang latihan sih sudah pasti.
      Efek gentar? Yah, pasti juga akan nihil.

      Delete
  4. Saya bingung Inhan kita mau dibawa kemana. Padahal tanggal 20 Desember 2016 udah diTTD kesepakatan defence industries cooperation antara Swedia & Indonesia, antara Menhan Peter Hulqvist dengan Menhan Ryamizard Ryacudu. Kerja sama yang ditawarkan SAAB itu padahal bisa ngegoalkan banyak multi-proyek nasional kalau proyek Rudal nasional bisa tembus lewat RBS-15, proyek radar nasional bisa lewat Giraffe malah ini radar AESA lagi dibandingin Weibel yang masih Doppler, proyek misil arhanud lewat RBS-70 & RBS-15 BAMSE, proyek data link nasional lewat TIDLS, proyek pespur generasi 4.5 lewat Gripen, proyek pesawat AEWC lewat Erieye & Globaleye, proyek korvet nasional lewat Trimaran dan malah ada gosip SAAB lewat tawaran kapal Mine counter measure & Gotland Class juga disodorkan underwater surveillance system. Emang pertahanan nasional terpadu yang ideal ini bakal makan waktu dan yang menikmati generasi yang akan datang, tapi apa salahnya kita berpikir panjang dan berinvestasi yang tepat. Apalah itu Su-35 sama Kilo, itu tu pemikiran praktis tanpa berpikir untuk menjadi mandiri & tanpa mendukung kemajuan inhan. Kalaupun kita pilih Su-35 sekaligus Gripen maka Indonesia cuma jadi " India " kedua yang harus hambur anggaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah, bung Thomas

      Membicarakan modernisasi, networking, kerjasama industrial, kemudian mengirim studi ke Thailand, Swedia, atau ke negara lain.... yah, semuanya sebenarnya hanya tindakan melempem.

      Tidak ada yang serius, dan tidak ada yang mau berencana komitmen jangka panjang.

      Kenapa demikian?

      Kelihatannya, kembali ke masa jabatan yang hanya 5 - 10 tahun.

      Masalah ini sendiri sih sudah mendarah daging sejak dari pertama kali merdeka tahun 1945, jaman Orde Baru, hingga sekarang.

      Ada kecenderungan setiap pejabat ingin mengerjakan satu proyek cepat, yang harus bisa selesai sebelum masa jabatan mereka berakhir.

      Aji mumpung.

      Delete
  5. Betul buat apa beli pesawat yg mungkin hanya "hiasan hanggar" lebih baik dana nya buat mempersenjatai pesawat yg sdh ada ato untuk mensejahterahkan prajurit tni.
    Lebih parah kemundurannya dibanding tawaran mirage dulu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Su-27/30 yang sekarang sudah ada saja, biaya operasional per jam-nya sudah lebih dari cukup untuk dipergunakan membangun rumah untuk satu keluarga personil TNI.

      Angka Rp 400 juta dari tahun 2014, sebenarnya belum menghitung biaya "perbaikan mendalam". Setelah kita menghitung ulang, spt misalnya TS-2701, dan TS-2702 yg harus menginap... 20 bulan di negara asalnya, tambah biaya delivery dengan AN-124-150 yang bisa mencapai $1 juta bolak-balik.... angka sebenarnya akan mendekati Rp 600 juta/jam.

      Ini saja sudah menjadi skandal sendiri, hanya memang sengaja tidak mau disorot.

      Su-35K tentu saja akan jauh lebih parah.

      TNI-AU tidak mempunyai anggaran untuk mengoperasikan lebih banyak pemberi makan perantara ini.

      Delete
  6. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3594455/apa-untung-rugi-barter-sawit-hingga-kopi-dengan-pesawat-sukhoi

    su-35 jarang yg mau beli sedang komoditas indonesia yg mau dibarter seperti kopi,karet dll justru laris di pasaran dunia

    ReplyDelete
  7. Su 35 sekali terbang menghabiskan dana berapa gan. 500 juta bukan kayaj su 30

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @fatoni,

      ## Dengan memilih "hanya" membeli 11 unit karena alasan anggaran seret, dan sebagainya... ini sebenarnya seperti tindakan bunuh diri.

      Biaya operasional kurang dari 32 pesawat jenis yang sama, akan terdongkrak naik antara 80% - 150%.

      Kalau mau perencanaan strategis, seharusnya harus memperhitungkan faktor ekonomis:
      beli borongan 32 pesawat untuk menggantikan lebih banyak tipe ke hanya satu tipe, akan jauh lebih murah dalam jangka panjang.

      Tentu saja, seperti bisa dilihat, kelihatannya harga per unit juga sudah didongkrak 200%. Lebih mahal lagi karena faktor transaksi barter.

      ## Su-35 tidak akan berbagi satu spare part-pun dengan Su-27/Su-30.
      Segala sesuatu, sampai semua sekrup dalam model ini sama sekali baru. Mayoritas baru mulai diproduksi setelah tahun 2005, sedangkan Su-27/30 masih memakai banyak part yang sudah diproduksi sejak tahun 1980-an.

      ## Faktor terakhir, jumlah produksi Knaapo Su-35 sendiri masih belum banyak. Sejauh ini produksi hanya 48 pswt batch-1 (baru selesai diproduksi sejak 2008), 24 untuk PRC, dan 48 pesawat lagi untuk Batch-2.

      Sebagai pembanding, Su-30MKI / SM buatan Irkut sudah diproduksi sampai 500 unit sejak tahun 1990-an akhir -- 270 unit untuk India, 18 untuk Malaysia, 44 untuk Algeria, 88 Su-30SM untuk AU Russia, dan 50 SM untuk AL Russia.

      Jumlah spare part untuk keluarga Su-30 Irkut, yah, dengan sendirinya sudah jauh lebih ekonomis dibandingkan Su-35.
      Kembali, sangat sedikit part untuk produk buatan Irkut akan bisa di-share dengan Su-35 buatan pabrik saingannya, Knaapo.

      Jadi berapa biaya operasional Su-35?

      Estimasi paling murah untuk hanya 11 unit, seperti dalam artikel, US$100,000 / jam.

      Kalau 16 unit, paling murah hanya akan turun ke rantauan $70,000 - $80,000.

      Tentu saja, biaya operasional Su-35 semakin tahun hanya akan semakin mahal, karena pesawat buatan Ruski tidak dibuat untuk bisa tahan lama. Ini bukan masalah pelik di negara asalnya.

      Delete
  8. astaga, ini memprihatinkan , sulit untuk percaya kepada era pem sekarang jika itu kelak terjadi .

    ReplyDelete
  9. Bung GI, Tiba2 kepikiran aja kenapa australia apalagi singapur membangun kekuatan sedemikian kuat kalau memang kita gak pernah punya masalah serius dengan mereka?? Apalagi kita kan sama singapur satu organisasi, asean

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertanyaan yg bagus.

      Alasan keduanya kenapa terus membangun kemampuan tempur sbnrnya hampir mirip, tetapi kita harus melihat dari perspektif masing2 negara.

      Persamaan Utama, Keduanya memang bukan membangun militer untuk mengancam Indonesia.

      Australia termasuk negara pertama yg mendukung kemerdekaan Indonesia. Dilain pihak, Indonesia termasuk yg pertama mendukung terpisahnya Singapore dari Federasi Malaysia.

      Mari melihat dari sudut pandang Australia terlebih dahulu:

      ## Kita harus belajar kembali melihat sejarah.

      Pada awalnya, Australia hanyalah koloni UK, dan setiap rakyatnya adalah warga negara UK.

      Perang Dunia Pertama (1915-1918), dan kedua (1939 -1945) adalah dasar dari perkembangan militer Australia.

      ## Dalam PD I, orang2 Australia sudah mulai bertanya, kenapa meteka wajib untuk membantu perang UK melawan kekuatan Imperialisme Eropa yg lain?

      Di Galipoli, misalnya, puluhan ribu nyawa orang Australia seperti dihamburkan hanya untuk memperjuangkan maksud politik London, yg letaknya belasan ribu kilometer. Untuk apa?

      Ini adalah dasar awal dari rasa nasionalisme Australia.

      ## Dalam PD II, kembali Australia wajib membantu UK dalam berperang melawan Jerman. Semua tentara Australia yg terbaik, dikirim ke Afrika.

      Bayangkan betapa mirisnya mereka ketika Jepang tiba2 membom Pearl Harbour, 8-Desember-1941?

      Astaga! Semua asset militer terbaik mereka di Afrika(!).

      Bagaimana mereka bisa mempertahankan diri dari serangan Jepang?

      Kemudian mereka minta tolong ke London; apa hasilnya?

      Selain mengirim HMS Prince of Wales, dan Repulse, yg kemudian ditenggelamkan pesawat Jepang dalam beberapa jam, London tidak bisa lagi berkontribusi untuk pertahanan Australia.

      Sejak itu, Canberra berpaling dari London, ke Washington DC:

      Australia harus membangun kemampuan tempur tangguh, yg tidak boleh lagi terancam negara Asia manapun, seperti di tahun 1941.

      Australia merasa sendirian, jauh dari Eropa. Dan karenanya, pada awalnya, strategi pertahanan mereka masih berdasarkan pada Alliansi dengan United States.

      ## Namun sejak 2001, apalagi melihat sepak terjang PRC di laut Cina Selatan, kelihatannya Australia mulai memasuki tahap baru.

      Australia harus bisa melakukan kampanye militer secara independent, tanpa harus mengandalkan bantuan dari United States.

      Masa Pemerintah Trump memperkeruh suasana. Skrg Canberra sudah semakin tidak yakin akan komitmen US untuk membantu pertahanan Australia, dari misalnya, persepsi ancaman PRC.

      Delete
    2. Singapore, dilain pihak berbeda.

      Sebenarnya, ada ketegangan politik dengan Malaysia yg masih kunjung meredup. Malaysia tidak menyukai berpisahnya Singapore, sedangkan Singapore tidak sudi diatur dari Kuala Lumpur.

      Walaupun krn keduanya ex-koloni UK yg tidak akan diperbolehkan saling berperang, sejak itu ada semacam kompetisi halus secara militer.

      Pemikiran di Singapore: walau negata kita kecil, tidak boleh kalah dari Malaysia, dan secara tak langsung, Indonesia.

      Yang menarik disini, kelihatannya mereka memetik banyak sekali pelajaran dari pengalaman Israel melawan Mesir, dan Syria. Kemudian bagaimana misalnya, dalam Operation Opera, Israel bisa membom reaktor nuklir Iraq di Osirak, ribuan kilometer dari Israel.

      Wilayah yg kecil tidak bisa dianggap sebagai liabilitas: kita harus bisa memukul lawan dari sejauh mungkin, seefektif mungkin.

      Semua Alutsista mereka sifatnya sangat offensif.

      F-15SG, misalnya, kalau mau, akan dapat memukul semua landasan RMAF, atau TNI-AU tanpa ada perlawanan yg berarti.

      Tank Leopard, dan heli Apache Singapore, akan dapat meluncur ke Kuala Lumpur hanya dalam beberapa jam. Dalam keadaan skrg, mungkin juga hampir tanpa perlawanan.

      Sekali lagi, ini bukan berarti Singapore bersiap memerangi Malaysia. Efek gentar mereka adalah mempunyai kemampuan tempur yg jauh lebih efektif dari Malaysia, atau Indonesia, untuk bisa melakukan semuanya kalau perlu.

      Itu baru namanya efek gentar, bukan spt di Indonesia, yg hanya spt terobsesi membeli jumlah, tetapi tidak ada upaya meningkatkan kemampuan sistem. Warisan ilmu aji mumpung, dan terlalu banyak mimpi indah!

      ## Terakhir, sama seperti Australia, mereka juga skrg melihat realita yg sama.

      Di tengah2 sepak terjang PRC di LCS, pemerintah Trump, yang sukar ditebak maunya apa, belum tentu dapat diandalkan dalam konflik, dan karenanya, mereka harus terus membangun kemampuan tempur lepas secara independent.

      Inilah kenapa semakin hari, Indonesia hanya semakin ketinggalan jaman.

      Selama kita belum mempunyai kesadaran nasional yg sama dengan Australia, atau Singapore, yah, sampai kapanpun, kita akan melempem.

      Mau beli pespur atau helikopter saja, sengaja melangkahi PTDI, sembari menginjak2 UU no.16/2012.

      Delete
  10. Mereka fanboy yg akhir akhir ini komen gara gara saya share k grup militer bung...
    Ternyata berat menghadapi komentar komentar pedas para fanboys...
    Heuheu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak apa2, bung taufiq

      Kebanyakan fanboyz, begitu berargumen logika, juga sudah tidak bisa menjawab.

      Jangankan fanboyz, sensei besar mereka, Dr Carlo Kopp dari Ausairpower juga sudah pernah sy skakmat di forum bahasa Inggris; Jangan menganggap remeh Super Hornet!

      "F-18SH sudah unggul dalam segala hal vs Sukhoi manapun, termasuk PAK-FA"

      Dr Kopp juga akibatnya bungkam.

      Kalau fanboys edisi spesial seperti @Choko tempo hari, memang tugasnya berbeda.
      Hanya untuk membuat onar sebisanya.

      Tidak peduli seburuk apapun Su-Flemon secara fakta, yg satu ini tidak akan berhenti berceloteh sebaliknya.
      Yang penting sih hanya untuk memancing argumen kotor, agar diskusi jadi kacau.

      Kepentingan Nasional tentu hanya akan mendapat nomor buntut, krn yg penting "sukhoi stronggg... Perantara oke..."

      Delete
  11. Bung mengenai kapasitas avtur saya tidak mengerti pesawat seperti sukhoi bisa menampung 400jt avtur.. itu berapa liter bung...
    Apalagi saya pernah baca b 2 spirit us itu mampu menampubg 40 ton avtur itu kira kira beraparupiah yah hanya untuk 6 jam terbang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Su-35 kapasitas tangkinya 11,500 kg.
      Kapasitas bahan bakar yang terbesar yg dibawa pespur manapun di dunia.

      Tetapi apa hasilnya?
      Jarak jangkaunya hanya 4,500 km maksimum, ini juga masih membutuhkan 3 external tank.

      Gripen-E dapat mencapai 4,000 km, hanya dengan kapasitas tangki 3,360 kg, dan 3 external tank.

      Bisa melihat dari fakta saja, bukan?
      Mesin AL-41F1 ini nilai efesiensi-nya luar biasa buruk. Sub-standard dalam konsumsi bahan bakar dibanding mesin PW, atau mesin GE.

      Untuk mencapai jarak yg sama dengan Gripen-E, Sukhoi akan meminum 4x lipat lebih banyak bensin. Dan ini hanya untuk dalam keadaan damai.

      Dalam keadaan konflik, dgn membawa payload, dan sering menyalakan afterburner;
      Tentu saja perhitungannya jadi berubah.
      Jarak jangkau automatis sudah pasti menyusut, dan hasilnya:
      Estimasi kasar: Dalam keadaan konflik, jarak jangkau supercruising Gripen-E akan lebih unggul 20% dibanding Su-35

      Gripen drag ratio-nya lebih rendah, mesinnya lebih hemat, dan supercruise menghemat bensin vs afterburner.

      Kita lebih baik menghitung berat karena akan ber-efek ke T/W ratio.

      Delete
  12. Bung GI CHINA PASTI TAU kelemahan sukhoi 35 tapi kenapa mereka tetap beli padahal secara industri mereka lebih mampu membuat lebih dari rusia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahwa PRC tetap membeli Su-35 Versi Export, justru memperlihatkan kelemahan mereka.

      ## Walaupun J-11D (versi copy dari Su-27SK) membawa AESA radar buatan lokal, kelihatannya kemampuannya belum bisa bersaing dengan radar Irbis-E versi export.

      ## Walaupun sudah membuat prototype stealth J-20, dan J-31; keduanya masih memakai mesin buatan Ruski; RD-33 untuk J-31, dan AL-31F untuk J-20.

      Industri PRC masih belum berhasil membuat mesin afterburning turbofan yg bahkan bisa bersaing dngn kualitas Ruski. Versi Ruski ini saja skrg kita sudah tahu, standard-nya masih jauh lebih inferior dibanding mesin PW, GE, Eurojet, atau Snecma.

      PRC memang ahli foto copy, tp ilmu yg mayoritas dapatnya dari mencuri , seperti hukum karma, ya, balik makan tuan.

      Demikian juga di Indonesia.
      Orang yg kaya dapat dari korupsi, suatu hari akan merasakan akibatnya. Tidak perlu tertangkap KPK juga, harta curian itu suatu hari akan makan tuan.

      Delete
  13. selamat buat bro admin...

    sy peminat blog ini dari malaysia..cuma sy lebih memilih menjadi silent reader..kali ini sy terpanggil utk bertanya berkaitan isu hubungan malaysia-singapore..

    bagi saya..asumsi bahawa pihak malaysia tidak senang hati dengan keluarnya singapore dari malaysia itu kurang tepat..kerna sudah jadi pengetahuan umum bahwa,malaysialah yg sebenarnya yg mengeluarkan singapore dari federasi bukan sebaliknya..

    setiap asumsi berdasarkan perspektif politik adalah kurang tepat..kerana sekiranya pemerintah malaysia tidak menyukai keluarnya singapore dari federasi..mana mungkin malaysia terus terusan mensupply air ke singapore dgn harga yg sangat murah..murah yg tak masuk dek akal...ini adalah 1 persoalan besar yg tidak boleh di abaikan kerana bekalan air ke singapore adalah kunci survival mereka..ini adalah keputusan sepihak pemerintah malaysia sejak merdeka dan tanpa restu rakyat..saya pasti bahawa dipihak indonesia juga ada melakukan sedemikian..ini adalah 1 hal yg aneh mengenangkan singapore sering beralasan kebijakan defensivenya yg berlebihan itu disebabkan singapore terkepung oleh 2 negara besar bermajoriti islam..

    apa pandangan bro admin tentang ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebelumnya maaf kalau mungkin ada kekeliruan re isu berdirinya Singapore.

      Sy membaca topik ini sendiri sudah lama, kalau tidak salah sumbernya memang menyorot lebih dari perspektif Singapore. Tulisan sy lebih dari memori.

      Terima kasih menyorot perspektifnya juga dari pihak Malaysia.

      ## Soal supply air -- yah, ini memang salah satu yg mengganjal hubungan politik Malaysia / Singapore.

      Singapore juga sbnrnya sadar posisi mereka terjepit. Negara pulau ini tidak punya supply air sendiri. Krn itu mrk juga cukup sadar utk terus mengurangi supply dari Malaysia; saat ini hanya 50% supply-nya masih dari Malaysia.

      30% sudah disanitasi sendiri, dan mnrt rencana mrk, kalau kontrak ini expire tahun 2061, supply air mereka seharusnya tidak lagi tergantung ke Malaysia.

      =====
      http://edition.cnn.com/2014/09/23/living/newater-singapore/index.html
      =====

      Re kontrak air ini sendiri, jangan lupa kalau sbnrnya diatur dibawah pengawasan Inggris (UK) sebelum mereka menghentikan kolonisasi Malaysia / Singapore di tahun 1960-an.

      ## Re Kenapa Singapore membangun kemampuan tempur sedemikian hebat?

      Seperti diatas, bukan berarti mereka berencana menghantam Malaysia, ataupun Indonesia. Malah sekarang, boleh dibilang Singapore perekonomiannya semakin tergantung investasi industri mereka di Johor, dan di Batam.

      Mereka berpikir negara pulau kecil, dgn letak yg strategis sbnrnya sangat sulit dipertahankan dalam konflik sesungguhnya.

      Kembali ke tahun 1942, masih ingat seberapa cepat tentara Jepang menggulung tentara Inggris / Australia di Singapore?

      Padahal waktu itu, Singapore disebut sebagai "Gilbraltar of the East" -- benteng terkuat UK di Asia, yg seharusnya dapat bertahan sendirian bertahum2.

      Para perencana strategis Singapore belajar dari pengalaman ini. Siapa tahu di kemudian hari ada tentara asing, spt Jepang di tahun 1942, yg kemudian membokong Singapore dari arah Malaysia?

      Seberapapun kecilnya kemungkinannya Singapore bisa diserbu negara lain, mrk berpikir lebih baik harus selalu siap, daripada kedodoran spt di tahun 1942.

      Untuk skrg, yah, hasilnya Singapore mempunyai militer yg jauh lebih kuat daripada Malaysia / Indonesia digabung.

      Pelajaran dari sini:
      Bukan hanya dari sisi uang,atau perencanaan strategis mereka lebih unggul...

      Tetapi juga komitmen jangka panjang, dan disiplin yg sangat tinggi utk terus membangun kemampuan sendiri.

      Untuk kedua faktor ini, baik Indonesia, ataupun Malaysia tertinggal terlalu jauh.

      Delete
  14. ok bro thanks dgn penjelasannya..soal gripen vs sukhoi..saya setuju sama bro..baik malaysia atau indonesia...akusisi pesawat tempurnya aneh..kalau di malaysia,mungkin kerana politik ikut campur dlm hal pertahanan...kerana yg saya dengar..pilot tudm sndiri lebih mendambakan pesawat2 yg lebih reliable dari barat..tapi anda faham-faham sajalah..mungkin juga disebabkan isu reliable itu,program mrca tiada lagi produk sukhoi..malangnya,ditunda terus..hahaha..well..gudluck dengan usaha anda..semoga sukses bro...

    ReplyDelete
  15. Beda sukoi knapoo dan irkut apa bung, vietnam bisa overhoul di dlm negeri RI tdk. Berita service sukhoi RI di luar negeri semakin terdengar, saya yakin sukoi akan hbis krn pejabat mesti mengkritisi kebijakan ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Knaapo, dan Irkut adalah dua pabrik manufacturing Sukhoi yang berbeda. Masing2 mempunyai intellectual property sendiri, membuat model sendiri (Su-30MKI / SM untuk Irkut, dan Su-35, dan Su-30MKK /MK2 untuk Knaapo), dan lebih penting lagi dua pabrik ini saling bersaing.

      Masih ada lagi pabrik MAPO, yg spesialis hanya memproduksi Su-34/Su-32.

      Kesemuanya mempunyai kemampuan untuk memproduksi Su-27 basic, atau Su-27SK spt yg "disewa" Indonesia, Vietnam, atau dibajak PRC.

      ## Kita lihat saja re masalah maintenance Sukhoi.

      Seharusnya kalau kita pernah beli mobil merk A, belum berapa lama pakai sudah "rusak berat", dan kemudian oleh dealer disuruh menginap berbulan2 dgn biaya perbaikan yg luar biasa;

      Nah, berapa kemungkinannya kita masih mau beli merk A lagi untuk mobil berikutnya?

      Logika Mafia Sukhoi.

      Delete
  16. Klo menurut admin jammer pod apa yg terpasang di sukhoi yg baru pulang mudik ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak ada, kecuali RWR basic versi export peninggalan jaman Soviet.

      Ada rumor Knirti SAP-518, seperti biasa versi export baru diantar ke Indonesia tahun 2014.

      Sayangnya, Knirti SAP-518 baru mulai diproduksi tahun 2009 dan ditujukan untuk keluarga Su-30SM buatan Irkut. Tidak akan compatible ke Su-27SKM, dan Su-30MK/MK2.

      Berita delivery 2014 ini, sptnya menunjuk ke Su-30MKM TUDM Malaysia, tapi salah typo ke Indonesia.

      ## Kita harus berhenti berpikir kalau pespur Russia itu mudah untuk di-upgrade, atau tinggal mudah pasang jammer / perlengkapan baru.

      Ini tidak akan bisa terjadi.

      Sepanjang sejarah, bahkan untuk serial produksi model yg sama, misalnya Su-34, atau Su-30MK2 dari pabrik yg sama saja; standardnya bisa berbeda2 dari batch produksi pertama, ke yg berikutnya. Nanti akan sy perlihatkan bbrp contoh nyata (dengan link) di artikel lain.

      Kebiasaan buruk lain, Ruski gemar membuat bermacam2 variant senjata; Sukhoi saja bisa ada hampir 10 macam, dan masing2nya seringkali jenis part yg dipakai saja sudah berubah.

      Mereka saja sudah pusing sendiri
      Inilah kenapa India selalu complain "kualitas barang Russia tidak bagus".

      Kembali, seharusnya Uni Soviet dahulu kala tidak boleh memproduksi Su-27, dan MiG-29; melainkan mengejar single-engine fighter baru untuk menggantikan MiG-21, dan MiG-23.

      Delete
  17. kemaren di formil ada yg posting rusia membantah dan uring2 an gara2 india mengatakan kecewa dgn MiG 29 yg gampang rusak padahal itu thn 2011 beroperasi di AU India

    ReplyDelete
    Replies
    1. =====
      http://www.janes.com/article/73018/russia-refutes-claim-india-unhappy-with-mig-29k-fighters
      =====

      RSK MiG mengirim berkas ke IHS Jane's, katanya pernyataan MiG-29K India itu bermasalah "tidak benar".

      Padahal, Jane's, dan Defence News sbnrnya hanya melaporkan kembali apa yg ada:

      National Auditor India sendiri yg menarik kesimpulan 50% mesin MiG rusak, wear & tear dari landing di Vikramadiya terlalu banyak

      =====
      http://m.ndtv.com/india-news/10000-crore-mistake-auditor-fails-navys-main-fighter-jet-mig-29-1437329
      =====

      Jane's kemudian hanya mendapat info tambahan dari ex-pimpinan AL India.

      Selamat berkenalan dengan realita beli barang dari Russia:

      Kalau ada yg bermasalah, itu BUKAN salah kami!

      Mau dicecar bagaimanapun, mrk akan menolak bertanggung jawab.

      Delete
  18. Apakah keadaan ekonomi kita sama dengan tahun 2000an lalu... waktu itu kalau tidak salah, indonesia membeli sukhoi 27 dan 30 sebanyak 4 pesawat melalui barter.. dan ada banyak artikel yang mengatakan kita rugi.. iya kalau komoditas kita dihargai mahal , karna katanya rusia lagi kena embargo negara2 nato.. hehe

    Lantas bagaimana dengan anggaran yg katanya sampai $1,14 milyard usd tersebut ? Dimanakah dan buat apakah ?

    Makasih bung admin

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Yang namanya beli barter, sudah pasti yg membeli akan selalu rugi, krn penjual akan selalu ketok harga.

      Ini sama kalau kita pergi ke tukang gadai.
      Nilai gadai TV, atau motor kita kecil, bukan?

      Tetapi ongkos penebusan nanti lebih mahal.

      Namanya beli barter untuk transaksi ratusan juta US $$$ namanya..... membodohi diri sendiri.

      Ini hanya dari logika sehat saja memang sudah tidak nyambung.

      ## Harga Su-35K.
      Kelihatannya, Ruski menuntut harga "premium" tambahan untuk penjualan Su-35 ke Indonesia.

      Kenapa demikian?
      Karena kita dalam sejarah tukang hibah, dan secara politik, kita dianghap sahabat baik US, Australia, Jepang, Korea Selatan, negara2 ASEAN, dan Timur Tengah yg semuanya lebih pro-US.

      $1,14 milyar, sebelum membicarakan barter hanya bisa beli 8 pesawat, hampir $150 juta / unit.

      Setelah MoU B-to-B antara dua BUMN perantara, angkanya jadi naik ke 11 unit.

      Ini bukan berarti transaksinya lebih "good deal".

      "Barter" memberikan keleluasan untuk penjual meminta harga premium tanpa transparansi.

      Transaksi 11 unit, nilai realnya akan melebihi US$2 milyar.

      Delete
    2. Tentu saja, jangan lupa!

      Untuk harga $1,14 milyar ini, pemerintah Swedia sudah menawarkan secara resmi tahun 2016 yg lalu; 16 Gripen-C/D MS-20, dengan 6 unit boleh dirakit sendiri; jauh lebih modern, dan lebih murah dibanding Su-35 Versi Export.

      ## Tidak boleh transaksi via BUMN; kontrak harus G-to-G, dan order-nya akan diajukan melalui badan akuisisi sipil pemerintah Swedia, FMV.

      Tidak ada komisi penjual, atau penggelembungan harga.

      ## Tidak ada transaksi barter. Tetapi Swedia menawarkan paket kerjasama jangka panjang, 100% ToT, dan nilai offset baik secara penyerapan tehnologi, ataupun trading senilai 85% dari nilai transaksi awal.

      Delete
  19. Nah loh... liat angkanya aja bikin ngiler... 11 unit setara US$2 milyar...

    Pak presiden sudah menginstrusikan untuk pembelian alutsita harus lewat G to G , tapi ini G to B ... ini aja udah nyleweng, apakah ada yg main2 disini " namanya juga lewat broker . Kita liat disini yg sangat ngotot beli adalah panglima TNI , dan melihat foto yg diatas bahwa armada tempur kita cuma segitu . Miris lihatnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Pertama-tama, MoU ini saja sebenarnya B-to-B, antara dua agen perantara BUMN.

      Untuk pertama kalinya di dunia, Departemen Perdagangan masakan bisa ikut campur pembayaran akuisisi alutista?

      Dari sini saja sudah kacau, bukan?

      ## Biaya $2 milyar untuk 11 pesawat ini hanya estimasi kasar, dari potensi kerugian krn mencoba transaksi barter ratusan juta $$.

      Sekali lagi, semenjak jaman purbakala sampai sekarang transaksi barter itu MERUGIKAN.

      Kata "transparan", dan "barter" itu tidak sejalan.

      Sebaliknya "pemerasan", dan kemungkinan "penggelapan dana / stock barter" itu sudah pasti.


      ## Karena transaksi barter juga akan jauh lebih sulit untuk bisa di-audit, disinilah para agen sales Rosoboron akan dapat menyembunyikan komisi, dan wajib pembayaran "kickback" ke siapapun yg mendukung lancarnya transaksi.

      Delete
  20. bung saya pernah melihat satu tulisan (nama websitenya lupa) kalau alutitsta uni soviet(bukan rusia) dulu punya reputasi harga murah kualitas bersaing apa itu benar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul,

      Memang inilah yg seharusnya menjadi titik keunggulan buatan Soviet di masa lalu.

      Sebelum ada Su-27, dan MiG-29; Uni Soviet bisa mengandalkan MiG-21, MiG-23, dan keluarga Su-7/20 sebagai tulang punggung armada udara, sekaligus penjualan versi export mereka.

      Kesemuanya adalah model single engine, yg seserhana, praktis, dan dapat diproduksi cepat / murah.

      Jumlah produksi MiG-21 totalnya mendekati 15,000 unit. Selama Perang Dingin, NATO sampai menghitung kalau pespur Soviet jumlahnya akan sekurangnya 3:2 lebih banyak.

      Kemudian di tahun 1970-an, sbnrya mulai disokong Su-24, dan Su-25 -- lebih rumit daripada ketiga model diatas, tapi masih jauh lebih sederhana dibanding Su-27.

      ## Keluarga Su-27, dan MiG-29 twin-engine "menandingi F-15", yg jauh lebih rumit, tentu saja akibatnya mengambil reputasi maintenance berat, dan gampang rusak.

      Secara desain, kembali Su-27, dan MiG-29 itu sudah menkhianati sendiri filosofi dasar desain Soviet yg menutamakan keseserhanaan, dan produksi cepat.

      Build quality pas2an, bukanlah masalah besar di MiG-21, atau Su-20; tetapi tentu saja hanya menjadi permasalahan berkelanjutan dngn Su-27 / MiG-29, yg menuntut standard produksi, dan kualitas yg masih belum bisa dicapai industri pertahanan Russia skrg, yg modalnya sudah sangat berkurang dibanding di masa perang dingin.

      Prestigius sih iya, fungsionalitas hanya mimpi buruk.

      Skrg AU Russia yg anggarannya hanya 20% dari anggaran masa Soviet, terpaksa mengoperasikan pespur yg biaya operasionalnya 20x lipat lebih mahal dari MiG-21 & MiG-23, harganya juga 4-5x lipat lebih mahal, dan jauh lebih merepotkan.

      Delete
  21. Kenapa china tetap beli su 35.saya yakin mereka tahu kelemahannya dan industri mereka sekrang ini lebih maju dari rusia????

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena selain dari Russia, China satu satunya yang punya sistem pengoperasian Sukhoi atau J-11 dan bahkan lebih baik dari Russia sendiri & juga kebiasaan reverse engineering mereka mungkin bisa ngelahirin Sukhoi versi RRC yang bisa jadi lebih baik dari Russia tapi itu kan RRC kalau Indonesia bisa habis-habisan modal buat ngurusin Sukhoi

      Delete
    2. "Industri PRC sekarang lebih maju dari Russia"

      Lebih tepatnya, sekarang PRC jauh lebih kaya vs Russia.

      Biar bagaimana Uni Soviet dahulu kala, bisa dianggap salah satu negara pelopor yang mengikuti perkembangan pesawat tempur dari masa baling-baling. Industri PRC secara keseluruhan memang lebih modern, tetapi tetap saja, pengalaman, dan kemampuan untuk membuat pesawat tempur tidak bisa direplikasi dengan mudah, seperti mesin foto copy mereka.

      Sekali lagi, PRC masih belum bisa bahkan mem-foto copy mesin AL-31F, yang 500 jam operasional saja bisa meleduk sendiri, seperti di TS-3009, bulan April yang lalu. Mesin WS-10 yang selama ini digembar-gemborkan "lebih unggul" daripada mesin Ruski, sejauh ini masih belum juga selesai development.

      Kenapa PRC membeli Su-35K Versi Export? Karena mereka sepertinya mengharap beberapa tehnologi Su-35, akan kembali, dapat di-fotocopy. Tentu saja hanya belajar memfoto-copy tidak akan bisa menghasilkan innovasi untuk bisa membuat sendiri dengan dasar pondasi yang kuat.

      Sama dengan Korea. Secara tehnis, perindustrian Korea jauh lebih modern dibanding PRC; akan tetapi industri pesawat terbang PRC, biar bagaimana jauh lebih berpengalaman untuk membuat pesawat dibanding industri pesawat Korea.

      PRC sudah bisa membuat pesawat tempur J-10, kemudian prototype untuk J-20, dan J-31.

      Korea paling mentok sebenarnya hanya bisa membuat KT-1 baling-baling; sedangkan T-50 buatan Lockheed-Martin.

      Delete
    3. Berbicara soal PRC,

      Kalau Indonesia mengoperasikan Su-35K, dan mengirimnya ke Natuna, ini sama saja bunuh diri, karena disana kita akan berhadapan dengan negara yang sudah jauh lebih berpengalaman mengoperasikan ratusan Sukhoi.

      ## Tidak seperti Indonesia, PRC punya uang untuk membayar biaya operasional Sukhoi, dan dengan sendirinya akan bisa menabung jauh lebih banyak jam latihan.

      ## Faktor kedua, kembali, hanya dengan dipersenjatai RVV-AE, dan R-73E dari daftar koleksi missile versi export yang dijual Russia; Su-35K Indonesia sebenarnya tidak akan ada harapan banyak bahkan untuk mengalahkan F-16 Block-25+ versi hibah Obama.

      Sukhoi dan J-11 PRC tidak menghadapi masalah pelik yg sama.

      Mereka sudah mulai memproduksi missile buatan sendiri, dan kelihatannya berhasil mengintegrasikannya ke Sukhoi, tanpa perlu ijin Moscow.

      Inilah sepertinya salah satu alasan, kenapa PRC mulai membuat J-11, atau unlicensed copy dari Su-27SK.

      Reliabilitas, atau kemampuan missile PRC tidak diketahui; tetapi mengingat RVV-AE tidak pernah di-tes, atau selesai development, yah sekurangnya akan 20 - 30% lebih unggul.

      Delete
  22. bung saya punya usul bagaimana kalau membuat artikel evolusi pespur dari jaman gen 1 sampai gen 5 itung2 nambah wawasan

    ReplyDelete
  23. dari mana asal muasal nya pihan kemendag bisa campur tangan pembelian alutsista, kalo bgtu yg untung cuma mereka pihak perdagangan krn barter

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, inilah kenapa kita harus mulai belajar berpikir secara logis, dan kritis.

      Apa urusannya Kemendag dengan transaksi Alutsista?

      Atau lebih tepatnya lagi,
      Apakah ada keuntungan yang mungkin bisa mereka dapat dengan transaksi barter Sukhoi?

      Yang mendapat hasil ganti dari komoditasnya, bukankah masuk ke jajaran TNI?

      Lantas Kemendag dapat apa?
      Bagaimana caranya membayar para petani / pengusaha?
      Atau, siapa yg akan membayar?

      Transaksi barter ini kan berarti harus menanggung rugi sekurangnya $1 milyar dalam bentuk harga ketokan dari agen perantara asing.

      Bagaimana dengan skema pembayaran kembali dari kerugian yang akan harus ditanggung rakyat, dan negara ini?

      Menjelang hari perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia dari masa penjajahan jaman Imperialisme,
      Apakah keuntungan Nasional yang bisa didapat dari transaksi barter Sukhoi?

      Seperti dalam artikel, sepertinya sih transaksi ini seperti memberi kesempatan untuk mengkhianati semua persyaratan lain dari pasal 43 UU no.16/2012.

      Bagaimanapun "kebijaksanaan" para negosiator, kenapa juga seperti sengaja melewatkan peran serta industri pertahanan dalam negeri, tapi..... Eh, tapi malah menggandeng Kemendag?

      Delete