Friday, August 25, 2017

Kenapa Indonesia tidak membutuhkan Twin-Engine Fighter!

Gripen-C MS20  Gambar: Saab

Artikel ini akan menjawab tuntas argumen konyol.... "Oh, kita membutuhkan Heavy twin-engine untuk mengimbangi tetangga". 



MITOS 1: Situational Awareness, dan BVR Combat

QF-4 Phantom II Aerial Target di Holloman AFB
(Gambar: USAF - Wikimedia)
Semua mitos mengenai "keunggulan" twin-engine fighter, semuanya berpacu kepada model yang satu ini: F-4 Phantom II, sebagaimana sering diumbar berulang-ulang dalam semua analisa awam berikutnya.

Twin-engine fighter bisa membawa radome yang diameternya lebih besar, dan karena itu dapat membawa radar yang ukuran lebih besar. Radar yang lebih besar, jarak jangkaunya lebih jauh, dan karena itu akan bisa menembak target dari jarak yang lebih jauh. 

Sudah sering mendengar argumen yang sama?
Radar AN/APG-70 F-15E:
Tidak muat di dalam moncong F-16, berarti lebih unggul?
Sayangnya, argumen ini melupakan suatu hal. Ukuran fisik dari pesawat tempur twin-engine, apalagi yang ukurannya raksasa seperti F-15, dan semua variant dari Su-Flemon, juga jauh lebih besar, karena harus menenteng dua mesin besar. RCS kedua model ini sebesar lapangan sepak bola, atau di atas 20 meter persegi.
RCS untuk F-16C kurang dari 5% F-15C/E,
karena ukurannya yang lebih kecil.
Radar AN/APG-68v9 memang diameternya lebih kecil, dan kemampuan deteksinya lebih terbatas jika dibandingkan radar AN/APG-70, atau Irbis-E; tetapi karena refleksi gelombang radar dari F-15, atau Su-Flemon dengan sendirinya juga dua puluh kali lipat lebih besar; secara tehnis keunggulan jarak radar Irbis-E, atau AN/APG-70 menjadi tidak relevan

Logika fisika. Bukan mimpi, atau logika Hollywood.

Tentu saja seperti sudah dibahas dalam artikel pertama mengenai perkembangan radar dalam pesawat tempur; kesemua model radar ini adalah generasi tempo doeloe. Kecuali produsen Russia, di Abad ke-21 ini, semua pembuat pesawat tempur lain sudah mulai beralih secara bertahap ke... tehnologi AESA radar.
Radar Raven ES-05 dalam testing di Gripen-NG Demo unit 39-7
(Gambar: Saab)
Dengan AESA radar; perbedaan jarak jangkau antara radar AN/APG-77, AN/APG-63v3, dan Captor-E dengan 1,500 transmitter, dengan radar AN/APG-83, RBE-2AA, ataupun Raven ES-05 dengan 1,000 transmitter hanya akan menjadi semakin mengecil, seiring dengan semakin baiknya programming di belakang layar. Kembali patut diingat, kalau dalam konsep AESA radar, beberapa transmitter yang rusak, atau tidak lagi berfungsi sama sekali tidak mengurangi kemampuan deteksi

Bahkan untuk pesawat-pesawat twin-engine modern seperti Super Hornet, Typhoon, dan Rafale, yang tidak seperti Su-27/30/35, ataupun F-15E sudah mendapat optimalisasi pengurangan RCS yang lebih optimal; tetap saja secara keseluruhan ekuasi yang sama tidak berubah. RCS mereka masih 3 - 5 kali lebih besar dibandingkan Gripen-C, yang RCS-nya kurang dari sepersepuluh F-16.

Dengan semakin merebaknya AESA radar, pesawat tempur raksasa tempo doeloe seperti F-15, atau Sukhoi, sebenarnya sudah semakin menjadi liabilitas dalam pertempuran udara. F-16V Versi Export, atau Gripen-E akan selalu bisa mendapatkan lock dari jarak yang lebih jauh, dibandingkan kedua raksasa ini.
Gripen-C MS-20:
Jauh lebih murah baik dari harga, ataupun biaya operasional,

Dapat lebih sering mengudara,
Persenjataan BVR yang jauh lebih berat,
Jarak jangkau radar PS/05 Mk4 yang lebih unggul,
Sistem Electronic Defense yang sudah terus mendapat upgrade,
dan
RCS yang kurang dari 1%-nya Sukhoi

Dengan hanya dipersenjatai missile versi export RVV-AE,
Silahkan bermimpi kalau Su-35K bisa menembak jatuh Gripen dalam BVR Combat!


MITOS 2: Close Combat Visual Signature

Thrust-vectoring F-22 yang sudah di-lock dalam HUD non-TVC Rafale
(Gambar: French MoD, Youtube capture)
Bagaimana caranya memenangkan pertempuran jarak dekat?

Bukankah pihak yang lebih unggul adalah yang pesawatnya yang lebih sulit terlihat, dibandingkan pihak yang menerbangkan pesawat seukuran lapangan sepak bola?

Seperti dalam contoh stealthy F-22 dalam gambar di atas, ukuran yang raksasa twin-engine justru menjadi liabilitas Visual Signaturekarena justru menjadi mudah untuk diikuti radar Mk1: 
Mata pilot.

Seperti dicatat dalam pengalaman Hunggaria di tahun 2007 dalam latihan udara Spring Flag 2007 NATO, berikut cuplikan dari artikel ini sendiri mengenai keunggulan Visual Signature Gripen:
Dalam satu paragraf ini saja, Kolonel Nandor Kilian dari AU Hunggaria sudah mendeskripsikan beberapa kelebihan Gripen yang menarik, yang tidak bisa begitu saja dikompensasi dengan seberapa banyakpun jam latihan pilot:

  • Gripen ternyata sangat sulit untuk dideteksi, baik dari radar, ataupun secara visual.
  • ... lebih menarik lagi, ini juga tanpa bantuan jammer jenis apapun.
  • Dan karena tidak terlihat, pilot Hunggaria berhasil mempercundangi F-16 MLU NATO -- "....a  perfect shot".
Patut dicatat disini, kalau pengalaman ini sendiri dari tahun 2007. Semenjak itu, Gripen-C/D sudah menjalani dua paket upgrade MS per tiga tahun. Di lain pihak, di tahun 2007, pilot Hunggaria sendiri sebenarnya masih terhitung newbie dibanding pilot-pilot Angkatan Udara negara-negara Eropa Barat. Kelihatannya, Gripen dapat mengkompensasi kekurangan ini dan membuat Hunggaria berada di posisi yang seimbang, atau lebih baik dibandingkan yang terbaik dalam NATO.

Gripen NG Demo 39-7  Credit: Saab
Silahkan terus meremehkan Gripen!
Lightweight, dan terlalu kecil, katanya.

Favoritisme awam,
ataukah....
.... hanya demi menghindari G-to-G contract?

Sukhoi yang pilotnya sudah kurang jam training,
dan
hanya model downgrade,
100% PASTI AKAN DIBANTAI
Jangan pernah bermimpi kalau pesawat twin-engine raksasa di kelas F-15, dan Su-Flemon akan bisa mengungguli Single-Engine dalam pertempuran jarak dekat!

Dari sini semua hukum fisika akan terus semakin membebani pesawat yang ukurannya lebih besar, dan lebih berat.




MITOS 3: Akselerasi, dan Manuever

F-15E on FULL afterburner
Dua mesin berarti bisa terbang jauh lebih cepat?????
(Youtube capture from US Military Update)
Mitos yang sangat menarik disini adalah berpikir kalau mempergunakan dua mesin, berarti bisa berakselerasi jauh lebih cepat dibandingkan single-engine fighter. 

Berikut pengalaman Kolonel "Spanky" Clifton, yang sudah mengumpulkan ribuan jam terbang di F-16, F-15, dan beberapa ratus jam terbang di MiG-29 Ex-Jerman Timur:
Link:
Foxtrot Alpha: How to win in Dogfight
F-15C dengan mesin PW-220 mempunyai T/W ratio 1.07, dan Wing-loading 358 kg/m2,
masih lebih unggul dibandingkan Su-35

Berikut penjelasan dari pengalaman Kolonel "Spanky" Clifton di atas: 

Pesawat tempur twin-engine, walaupun seperti F-15, membawa dua mesin yang equivalent dengan F-16, tidak akan mampu berakselerasi lebih cepat dibandingkan F-16. Lupakan saja juga semua mitos kalau pesawat twin-engine dapat menggapai Mach-2 -- kecepatan ini juga theoretical, dan hampir tidak mungkin dicapai kalau tangki bensinnya juga sudah mau habis. Nasib Sukhoi dengan mesin yang bisa meleduk sendiri setelah 500 jam operasional, tidak akan bisa jauh berbeda.

Bagaimana perbandingannya dengan F-16?

Demikianlah. Menurut pengalaman Kolonel "Spanky", kemampuan akselerasi F-16 dengan mesin GE TIDAK ADA BANDINGANNYA. Malahan sebenarnya masih bisa berakselerasi lebih cepat lagi, kalau canopy-nya tidak akan mulai meleleh. Yah, dengan kata lain, akselerasi F-16 jauh lebih unggul dibanding twin-engine F-15, dan sudah tentu masih jauh lebih unggul dibanding Su-35 yang Thrust-to-Weight ratio-nya hanya 0,92. Untuk Versi Export dengan mesin downgrade, kemungkinan AL41F1-K daya dorongnya akan 10% lebih rendah dibanding versi-S.

Kenapa F-16 bisa lebih unggul dibandingkan F-15, ataupun Sukhoi?

Semuanya kembali ke penjelasan gambar ini.

Perhatikan kembali empat gaya yang mengatur bagaimana setiap pesawat bisa mengudara, seperti dalam gambar di atas!

Pesawat twin-engine ukuran gajah, dengan sendirinya mempunyai dua gaya penghambat yang lebih besar: Lebih berat, dan Lebih draggy, atau hambatan udaranya jauh lebih besar. Melipatgandakan daya dorong dengan dua mesin, sebenarnya bertabrakan dengan hukum fisika, yang dengan sendirinya menghilangkan kelebihan teoritis membawa dua mesin ini.
Credits to website Fighter SweepComparing F-16 vs F-18


Rahasia Umum:
F-16 Block-30, dan F-18A sebenarnya dapat supercruise in clean configuration,
mengalahkan performa si Twin-Engine bongsor F-15,
yang terpaksa menyalakan afterburner untuk bisa mengikuti!
Bagaimana dengan manuever? 

Kembali pesawat yang lebih besar, lebih berat, dan lebih draggy akan memulai pertempuran udara jarak dekat dengan mencoba melawan begitu banyak hukum fisika yang sudah menumpuk. Hasilnya tidak mengherankan:

Yah, ternyata GE F-16 dapat mengambil sustained turn rate yang lebih kecil, dan dapat berakselerasi jauh lebih cepat dibandingkan F-15C.

Ekuasi yang sama tidak akan berbeda jauh dengan Gripen-C/E, yang berkat bentuk sayap close-coupled delta canard, dan luas penampang yang lebih kecil, mempunyai drag rate yang lebih rendah dibandingkan F-16. Sedangkan di lain pihak, Sukhoi bongsor penampang depannya lebih luas, lebih berat, mesinnya lebih cepat meletup, dan jauh lebih boros bahan bakar dibandingkan dengan F-15.

Sekali lagi tidak perlu heran. Memang sudah terbukti sepanjang sejarah pertempuran udara sejak tahun 1914, kalau single-engine design yang lebih ramping, akan selalu lebih efektif dalam pertempuran jarak dekat. Tidak seperti twin-engine, single-engine tidak perlu menenteng dua mesin besar disamping fuselage, yang sebenarnya tidak diperlukan, dan hanya menambah beban, drag, dan menuntut tangki bahan bakar yang jauh lebih besar.


Sayangnya, F-16 Versi Export untuk Indonesia harus menderita memakai Block-25 dengan mesin yang lebih tua dari versi PW-200, yang daya dorongnya 20% lebih rendah dibanding mesin PW-229, ataupun mesin GE. F-16 downgrade vs Sukhoi downgrade; mana yang bisa menjaga nusantara dengan serius?


MITOS 4: Jarak Jangkau



Indonesia membutuhkan twin-engine, karena jarak jangkaunya lebih unggul?

Kenyataannya, seperti sudah disinggung dalam beberapa point sebelumnya, pesawat twin-engine, yang lebih berar, dan lebih draggy, seperti F-15SG, atau F-18F akan selalu membutuhkan sekurangnya dua kali lipat kapasitas tangki bahan bakar dibandingkan Gripen, atau F-16 -- ini untuk jarak jangkau yang hampir sebanding.

Su-35, baik versi S, ataupun versi export sebenarnya justru yang paling memalukan disini. Walaupun kapasitas internal bahan bakarnya empat kali lipat dari Gripen, atau F-16, dan lebih parah lagi dua kali lipat dibandingkan F-15E, atau F-18SH, jarak jangkaunya ternyata tetap melempem di 4,500 kilometer... itu juga masih harus membawa drop tank.

Mesin buatan Russia selain sudah memupuk reputasi GASAK - GAmpang ruSAK, memang tidak pernah dikenal dengan faktor efesiensi pemakaian bahan bakar yang bersaing. Jangan heran kalau biaya operasional F-16, atau Gripen masih lebih murah dibandingkan konsumsi bahan bakar Sukhoi!
Artikel lengkap di The Tribune India, 20-Juli-2014:

Kenapa kita perlu menjelek-jelekan Sukhoi dengan iklan palsu?

Bukankah semua ini FAKTA?

Laporan dari Indian Express, 6-Mei-2016, menunjuk kalau IAF sudah mengalami 34 insiden mesin mati di udara antara 1-April-2014, sampai 31-Maret-2016.

17 insiden per tahun

Jangan berharap kalau Su-35K yang belum teruji secara operasional seperti Su-30MKI, performanya akan bisa jauh lebih baik!  Apalagi kalau dioperasikan negara yang belum mempunyai pengalaman full maintenance Sukhoi seperti India!

Itu sih namanya... bermimpi.



MITOS 5: Payload

Kalau mengenai payload, terutama untuk Air-to-air, masih ingat mitos hoax yang disebarluaskan oleh kedua penulis "jenius" dalam Ausairpower:
"Fantastic Flankers, and where to find them"
Science Fiction Novel
by Ausairpower.net

TONG KOSONG NYARING BUNYINYA!
Konfigurasi yang paling optimal untuk Air-Combat, adalah 4 BVR missile, dan 2 WVR missile, atau beberapa F-15C terkadang terlihat membawa 4 - 6 BVR missile, dan 2 - 4 WVR missile. Dan dalam hal ini, tidak akan ada bedanya antara twin-engine, ataupun single-engine --- karena kedua tipe akan dapat membawa jumlah missile yang sama.
AU Russia sendiri cukup pintar untuk tidak mempercayai bualan Ausairpower
4 BVR missile, dan 2 WVR sudah cukup

Percobaan bunuh diri - Sukhoi style:
BVR missile-nya juga hanya versi R-27 pula, yang masih semi-active homing
(Gambar: RAF photo, Wikimedia)
Penjelasannya sangat sederhana dalam hal ini. Membawa terlalu banyak missile di satu pesawat adalah liabilitas besar:

  • Belum tentu pesawat yang membawa 10 - 12 missile bisa menembakkan semuanya, sebelum sendirinya tertembak jatuh dalam konflik
  • Kalau sampai terjadi kecelakaan, atau kerusakan tehnis, terbuka kemungkinan 10 - 12 missile itu terpaksa harus dibuang.
  • Mencantoli 10 - 12 missile ke satu pesawat, berarti menghabiskan terlalu banyak stock missile di gudang. Kenapa 12 missile ke satu pesawat, kalau dua pesawat yang masing-masingnya membawa 6 missile akan dapat memberi hasil yang lebih optimal?
Tentu saja mitos efek gentar Sukhoi dengan 10 - 12 missile ini sudah terbukti tidak compatible dengan.....
Sepertinya tujuan membeli pesawat tempur di Indonesia,
hanya untuk dekorasi di Airport, atau flypast di hari perayaan
Ataukah.... mungkin argumen keunggulan payload twin-engine disini untuk Air-to-Ground attack?

Yah, sayangnya, Indonesia tidak perlu menjalani misi serangan udara ke darat yang berkelanjutan seperti sekarang dipraktekkan di Syria, atau di Yaman. Selain itu, Sukhoi akuisisi barter, sebenarnya masih menabrak satu masalah:
War-is-boring: Russia is upgrading its top fighter to fly from rough airfields
Penulis: Dave Majumdar

Betul. Semenjak Soviet runtuh di tahun 1991, Russia tidak pernah mempunyai cukup anggaran untuk mengembangkan targeting pod-nya tersendiri. Akibatnya jelas.
Gripen-C MS-20  Credit: Saab
Gripen, yang dapat membawa 8 Boeing GBU-39 Small diameter bomb, dan targeting pod seperti dalam gambar Saab ini, akan dapat menghantam lebih banyak target, dengan jauh lebih akurat dibanding twin-engine Sukhoi kalaupun bisa membawa seratus bomb sekalipun.



Kenyataan: Gripen, dan F-16 maintenance akan selalu lebih murah, dan lebih sering bisa mengudara



Grafik dari hasil research IHS Jane's ini sebenarnya mempunyai arti yang ganda. Tidak hanya seperti dalam trend, pesawat tempur twin-engine akan mempunyai biaya operasional sekurangnya dua kali lipat dibandingkan single-engine; tetapi pesawat tempur single engine akan selalu dapat mengudara lebih sering dibandingkan twin-engine.
Dalam grafik Saab di atas, F-16 akan dapat mengudara 24,6 jam dalam setiap periode 48 jam, sedangkan Gripen yang memang sudah dirancang dari awal untuk perawatan mudah, dan kesiapan terbang yang lebih tinggi... dapat menghabiskan waktu 38 jam di udara dalam setiap 48 jam.

Inilah dua tolok ukur yang tidak akan bisa dilampaui twin-engine manapun.

Untuk bisa mempertahankan patroli udara 24 jam, USAF membutuhkan 16 F-15 untuk di rotasi per empat pesawat per enam jam. Sortie rate untuk F-15 yang sudah combat proven saja menunjuk sekitar 1,5 sortie per hari. Sedangkan F-16 dapat mengudara sekurangnya 4x sehari, dan kalau mau digeber, dapat mengudara sampai 6x.

Gripen tentu saja sudah dirancang untuk lebih unggul dari awal.

Bagaimana kalau seandainya kita harus mencegat 4 penyusup yang berselang waktu setiap dua jam, tetapi kita hanya mempunyai empat Sukhoi? 

Setelah menyergap dua penyusup yang pertama, Sukhoi tidak akan lagi bisa mengudara untuk menghadang penyusup ketiga, dan keempat... hanya karena masalah maintenance. 

Saat ini, hanya dengan anggaran pertahanan yang US$7 milyar per tahun, Indonesia sudah menghamburkan terlalu banyak biaya operasional untuk pengeluaran yang tidak perlu:
Efek gentar yang mana?
Hanya 10 pesawat di Sku-11 saja sudah menghisap anggaran lebih banyak
dibanding 5 Skuadron tempur yang lain.

Dan hanya bisa dipersenjatai Missile Versi Export tehnologi 1980-an,
yang tidak pernah di-upgrade.
Tentu saja rencana akuisisi Su-35K, yang kelihatannya lebih diprioritaskan untuk menutup kontrak, dibandingkan mendahulukan kepentingan nasional, hanya akan memperburuk keadaan:
Para perantara, dan penerima "kickback" akan sangat senang
dengan akuisisi keinginan anak kecil untuk Su-35K
Pertanyaan yang sejauh ini belum terjawab di Indonesia: Bagaimana kita bisa membayar biaya operasional untuk dua Skuadron Sukhoi yang akan menghisap anggaran?



Penutup: Indonesia TIDAK MEMBUTUHKAN twin-engine fighter

Gripen-D with RBS-15  Credits: Saab
Oh, iya?
Untuk Angkatan Udara yang tugasnya mempertahankan Negara Kepulauan,
Tampaknya Anti-Ship Missile bukan prioritas utama
Seperti di atas penjelasannya sudah cukup jelas. Artikel ini sebenarnya hanya membicarakan hukum fisika, kenapa twin-engine yang ukurannya lebih besar, akan lebih berat, lebih draggy, lebih mudah terlihat radar lawan, lebih high-maintenance, biaya operasionalnya lebih mahal, dan.... tidak akan bisa sering terbang.

Kebutuhan twin-engine-nya dari mana?
Korea, Singapore, Saudi Arabia, India, ataupun Australia membeli twin-engine, bukanlah sesuatu prestasi yang "perlu ditandingi". Kesemua negara ini, tidak seperti Indonesia, mempunyai anggaran yang cukup tebal, dan / atau menghadapi tantangan militer regional yang jauh lebih pelik dibandingkan dalam kawasan Asia Tenggara, yang dewasa ini termasuk yang paling damai, dan paling stabil di seluruh dunia.

Sudah saatnya menghentikan negosiasi untuk keinginan anak kecil seperti Su-35K, dan kembali ke jalan yang benar.... Memperhatikan kebutuhan nasional, dan memprioritaskan Kerjasama industrial, dan Alih tehnologi, seperti diamanatkan dalam UU no.16/2012.

Bagaimana caranya bisa ada perubahan harga Su-35 dari harga $150 juta per unit, bisa dinegosiasi menjadi $90 juta per unit tanpa ada perubahan apapun secara spesifikasi?

Bukan tanpa alasan, kalau walaupun bentuk luarnya sekilas mirip, Xenia 1000cc manual harganya jauh lebih murah dibandingkan Avanza Veloz 1500cc Automatic, bukan?
Satu-satunya yang Memenuhi Kebutuhan Indonesia,
bukan Keinginan semata
Sudah saatnya kembali mempertandingkan setiap penjual dalam tender terbuka, bukan single sourcing. Bukankah ini sesuai yang dengan sudah pernah dijanjikan dari Kemenhan sendiri sejak 13-April-2015 yang lalu?

Oh, jangan lupa, kontrak ini seharusnya sifatnya jangka panjang, karena dalam tempo dekat sebenarnya dengan anggaran yang terbatas, kita belum memerlukan pengganti untuk F-5E.



67 comments:

  1. Kasus korupsi itu sudah sangat keji bung...
    Tapi perihal kickback jauh lebih keji karena mereka merasa tidak korupsi...
    Hanya untuk kepentingan pribadinya saja...


    Coba bung buat tulisan tentang sistem pertahanan yg cocok di mulai udara laut dan darat... Saya masih blm bisa mesti banyak belajar...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah.

      Kickback sebenarnya hanya bentuk lain dari korupsi.

      Harga beli unit, atau harga spare part, dan biaya kontrak akan sengaja digelembungkan dahulu. Profitnya yg dipakai utk bayar kickback.

      Praktek seperti ini masih luas terjadi tidak hanya dalam alutsista.

      Perihal membangun sistem.. nanti kita urai pelahan2, tetapi selama para pejabat kelihatan tidak tertarik dgn G-to-G kontrak sih prospeknya runyam.

      Dalam keadaan skrg, kalau dites dengan AU Singapore saja, AU kita tidak akan tahan lebih lama dari beberapa menit.

      Seperti Kanker Stadium 4, Su-35K justru akan semakin memperlemah kita, karena semakin sedikit uang yg masih tersisa untuk training, senjata, atau upaya membangun sistem yg berati.

      Delete
  2. Bung sistem pertahanan indonesia saat ini itu seperti apa sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, kita lihat saja.

      # Tidak ada Networking
      # Radar darat tidak terintegrasi satu sama lain, dan koordinasi dngn TNI-AU juga masih kurang
      # Tidak ada pesawat AEW&C
      # Dua jenis pespur utama Versi Export downgrade yang tidak compatible, dan tidak ada IFF
      # Jumlah persenjataan bahkan dibawah minimal, alias "macan ompong"
      # AU negara kepulauan yang tidak mempunyai Anti Ship Missile
      # Jumlah jam latihan juga kelihatannya berantakan krn dikorupsi biaya operasional pesawat favorit di Sku-11, yg jarang bisa terbang.

      Pesawat capung Cessna saja bisa terbang dengan tenang dari laut Timor sampai ke Manado tanpa bisa dicegat.

      Eh, malah kebelet mau beli tambahan Sukhoi "Xenia downgrade" yg tidak akan memberi keunggulan, atau keuntungan nasional apapun, selain menghabiskan lebih banyak anggaran!

      Inilah kenapa kita justru membutuhkan Gripen, yang saru squadron saja sudah memperkenalkan sistem tersendiri.

      Delete
  3. F16 RI apabila dogfight dgn F 18 Malaysia, apakah selalu bisa dibelakang , kemudian menembak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dalam keadaan skrg, F-18D Malaysia yang akan lebih unggul.

      Alasannya sederhana.

      Walau armada mereka juga gado2 yg kacau, mereka tidak menerapkan akuisisi "macan ompong" tanpa senjata. Sekarang Malaysia sudah punya pengalaman latihan BVR lebih dari 20 tahun.

      Indonesia masih nihil.

      Sudah membeli pespur dngn kemampuan BVR (F-16 Block-25+), eh, tetapi tidak pernah mau investasi lebih jauh dalam persenjataan, atau latihan BVR.

      ... eh, malah terobsesi dengan pepsur yg kemampuan BVR-nya nyaris NIHIL.

      Delete
  4. Gerry soejatman pengamat pesawat tempur mengatakan klo beli dari barat itu mahal... Harganya bisa 200jt dolar sedangkan kelebihan pesawat rusia itu murah walau operasinya tidak murah nyatanya gripen ms 2 mungkin ga sampe harganya sama atau d bawah 90jt dolar...

    Pengamatnya aja ga faham apalagi pemerintah yaa jelas... Liat aja di metro... Yutub

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kita berbicara harga pespur, di Indonesia kita masih mikirnya beli "harga kosong".

      Ini saja sudah salah konsep dari awal, atau kebodohan total.

      Lihat saja kembali seperti k
      Kontrak Rafale di India.

      Nilai kontrak US$8,9 milyar untuk 36 pesawat, jadi berarti harga pesawatnya $250juta???

      Bodoh betul!

      Harga kosongnya hanya $100 juta, atau lebih murah dari tawaran awal Su-35K.

      Untuk sisanya seperti sudah di-breakdown,

      ## Initial Provision Cost -- investasi awal untuk mempersiapkan infrastruktur, latihan, dan fasilitas --$2 milyar.

      Ini kelihatannya belum termasuk dalam harga Sukhoi.

      Lihat saja nanti tagihan akhirnya bisa lompat 40%!

      ## Persenjataan, termasuk MICA, dan Meteor $800 juta

      ## Biaya customisasi Rafale yg diminta India -- sptnya termasuk Helmet Mounted Display -- $2 milyar

      ## Kontrak logistic untuk support 10 tahun $400 juta.

      Inilah sekali lagi, harga beli itu tidak boleh melihat harga kosong agar kelihatannya murah.

      Kebiasaan buruk akuisisi "macan ompong".

      Delete
    2. .... dan lebih bodoh lagi, umur pesawat Russia itu tidak akan bisa panjang, dan spare partnya kualitasnya tidak bisa tahan lama.

      ## Sudah menjadi pengetahuan umum kalau biaya maintenance Sukhoi seperti di Sku-11 saja hampir dua kali lipat lebih mahal dibanding Super Hornet Australia, atau F-15 Singapore.

      Untuk Su-35 yang jumlah produksinya belum banyak, bisa diestimasi sekurangnya 2 - 3 kali lipat lebih mahal daripada Sukhoi Sku-11.

      ## Umur maksimum Sukhoi Kommercheskiy hanya 4,000 jam.

      Su-35 "katanya 6,000 jam".

      Semua pespur Barat dewasa ini mempunyai airframe lifetime 8,000 jam, dan semuanya masih dapat terus mendapat pemanjangan umur.

      F-15, dan F-16 sudah mendapat rating 30,000 jam terbang.

      Pespur Russia sih, bye2!

      ## Mesin... Ruski masih belum bisa membuat mesin pespur yg bisa tahan operasional lebih dari 1,500 jam... ini juga hanya di atas kertas, krn prakteknya gampang rusak sendiri setrlah lewat 500 jam.

      Semua mesin Barat, mau buatan PW, GE, Rolls Royce, Snecma, atau Eurojet, semuanya bisa tahan operasional 8,000 jam, dan masih bisa di-overhaul.

      Beli Russia untuk alasan "menghemat" sih sama seperti percobaan bunuh diri.

      Delete
  5. Btw. Pespur Saab Gripen pernah Tampil Dalam Film Hollywood.

    ReplyDelete
  6. Dan juga 10 F-16A/B TNI AU juga sedang menjalani Upgrade ke Standar Block 52ID

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh tahu berita dr mana, pernah baca medsos sdh dianggarkan, tapi sdh diupgrade ato blm saya blm tahu, klo sdh ya syukurlah

      Delete
    2. Sepertinya kalau kata "dianggarkan" di media berita, arti yg sebenarnya bukannnya dananya sudah tersedia, dan anggarannya sudah dikunci.

      Tetapi pengertiannya lebih sebagai "....wishlist.."

      Kalau 10 F-16A/B sudah confirm akan memasuki MLU upgrade, DSCA pemerintah US akan mem-post beritanya, dan mendeskripsikan apa saja yg akan dikerjakan.

      G-to-G contract, tidak akan diperbolehkan main gila lewat BUMN.

      Delete
  7. kurasa indonesia hancur kena politik mulu..akuisi su 35 neh kurasa tdk lepas pengaruh politik , dibelokkan ke blok rusia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari sisi politik strategis, Ruski sudah lebih tahu, kalau Indonesia letak geografisnya saja sudah terlalu ke Selatan, diapit terlalu banyak negara sekutu US, dan dianggap sebagai "cordial friendship" dgn Washington DC.

      Sekali lagi, mereka sebenarnya sangat enggan untuk menjual Su-35K ke Indonesia.

      Kalau mau beli lebih banyak Su-27SKM, atau Su-30MK2 sih boleh.

      Inilah kenapa mereka ketok harga $150 juta untuk Su-35K edisi Indonesia.

      ## Kenapa masih ada kecenderungan beli Ruski, atau dari PRC?

      Jawabannya hanya satu:
      Tidak akan ada G-to-G contract!.

      Kalau tanpa G-to-G, berarti akan selalu ada.... Kickback.

      Delete
    2. aneh nya kok tak seorang pejabat atau anggota komisi 1 yg memprotes seperti beli sukhoi jaman menhan pak purnomo dulu, nampaknya rusia sengaja menciptakan ketergantungan tingkat tinggi kpd kita ,

      Delete
    3. Lobi2 perantara sudah kencang!

      Kita lihat saja.
      Sebenarnya rencana akuisisi Su-35K ini, sama seperti proyek KF-X, akhirnya akan tertembak jatuh sendiri oleh realita.

      Kita tidak akan bisa membayar harga mimpi yg terlalu indah.

      Delete
  8. Saya lahir di madiun, dari jaman F5 sampe F16 setiap hari ada pespur yg terbang, apakah di makassar juga sama dgn di madiun 😁😁

    ReplyDelete
  9. polandia menawarkan kerja sama inhan dgn RI.

    ReplyDelete
  10. Berita baik berkaitan dgn masalah Freeport yg pernah disinggung sblmnya
    ======
    Link: Detik News
    ======

    Akhirnya, kesepakatan yang sudah seharusnya diusahakan secepatnya sejak tahun 1998.

    Berita yg paling penting: Freeport akan melepas 51% sahamnya ke Indonesia.

    Sejauh ini, yang belum mendapat klarifikasi apakah pemerintah Indonesia akan membeli saham Freeport, atau apakah saham ini akan dilepas ke publik?

    Sebaiknya, mengingat usaha pertambangan Freeport berkaitan dengan SDA, pemerintah Indonesia yg mengambil alih kepemilikan ini, paling tidak untuk sementara waktu.

    Dalam jangka menengah panjang, sebaiknya, PT Freeport melepas sisa 49% saham yg masih dimilikinya, kali ini untuk dilepas penuh ke publik.

    Dgn demikian ex-Freeport, akan menjadi salah satu BUMN go public, spt Bank Mandiri, PGN, atau Telekom.

    Dengan demikian, lupakan semua gosip hoax yg menyangkutpautkan penjualan senjata Barat vs Freeport!

    ... dan entah darimana alasannya, bisa jadi argumen kenapa kita harus beli dari Rusia.

    Sekali lagi, Freeport bukan urusan pemerintah US! Mereka tidak peduli, dan sudah sibuk sendiri dgn Trump.

    ReplyDelete
  11. Rusia menawarkan teknoligi nuklir pembangkit listrik katanya bung?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita sebenarnya harus mulai mempertanyakan, kenapa sedikit2 dewasa ini, nama Ruski, atau PRC kerap kali nongol.

      Sekali lagi, pokok permasalahan disini, karena tidak akan ada G-to-G contract.

      Indonesia sudah lama mengoperasikan reaearch Batan semasa perang dingin, tanpa bantuan Soviet, atau PRC kok, kenapa tiba2 keduanya bisa menyalip masuk?

      Seberapa besar komitmen mrk bisa terjamin ke Indonesia?

      Ini sudah k3mbali ke permasalahan yg sama dengan Sukhoi, Kilo, dsb.

      Siapa perantaranya?
      Dan siapa yg menerima "kickback"?

      Kalau kita mau menjajaki pembangkit listrik tenaga nuklir, langkah terbaik untuk kepentingan nasional adalah untuk membuka dialog dengan pemerintah Perancis.

      Ini sekaligus untuk membahas Tehnologi Transfer.

      Delete
  12. Admin ada artikel cerita tentang proyek kerjasama BPPT & Saab untuk pengembangan kapal selam mini terus ada artikel berbahasa Inggris nyebut kapal selam Type-209 ke-4, ke-5, ke-6 bakal dibangun di fasilitas PT.PAL Surabaya. Menurut admin juga gimana sih tentang state credit dari Russia bernilai 5.6 milyar USD ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Kredit Russia bernilai $5,6 milyar??

      Nah, inilah yang tidak dimengerti banyak orang.
      Kalau penjual barang versi export menawarkan kredit, maka mereka yang HARUS mendikte SEMUA persyaratan.

      Seperti pernah dibahas dalam artikel Mitos Kekuatan Udara Indonesia di tahun 1960-an;

      Dari sumber TNI-AU sendiri, diwaktu itu pemerintah Soekarno membeli dengan state credit Uni Soviet, bukan?

      Maka Soviet memaksa AURI untuk mengambil MiG-19, walaupun sewaktu itu mereka menginginkan lebih banyak MiG-21 F-13.

      Ini tidak bisa ditawar.

      Kalau dengan state credit Russia, yah, siap membayar harga Su-35 versi export downgrade seharga $150 juta.

      Dengan "transaksi barter", harga turun ke $90 juta.

      Betul, akan tetapi:
      - $600 juta separuh transaksi akan harus dibayar CASH
      - Harga barter sudah pasti diketok
      - Dan tentu saja, spesifikasinya akan diturunkan lebih jauh dibanding versi yang $150 juta menurut state credit Russia.

      Nanti kita akan melihat kembali kenapa rencana akuisisi Su-35K ini akhirnya akan gagal.

      Delete
    2. Re kontrak kapal selam mini Saab Kockums, sy jawab di bawah.

      Delete
  13. Saab kockum menawarkan kapal selam A26 mereka kepada TNI AL plus kerja sama produksi ,ToT , dan rusia kembli memberitakan sepihak bhwa Tni AL mau beli kapal selam non nuklir Varsyanka .kekek

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sumber Artikel:
      =========
      Antara News: Indonesia kembangkan kapal selam mini
      =========

      A26 sepertinya belum ditawarkan; modelnya sendiri sebenarnya juga belum selesai dibuat untuk AL Swedia.

      Langkah rencana pembuatan kapal selam mini ini baru melalui jalur yang benar: kontraknya G-to-G dan melibatkan berbagai lapisan industri pertahanan lokal, tidak seperti B-to-B MoU pemerasan ala Su-35 Versi Export.

      Secara strategis, walaupun kapal selam mini tidak akan bisa terlalu high-tech seperti A26, ini sebenarnya sangat sesuai dengan keterbatasan geografis Indonesia.

      Ingat, kembali, mayoritas perairan Indonesia adalah perairan laut dangkal.

      Type-209 Changobogo itu rencananya akan dipangkalkan di daerah Sulawesi, dimana memang lautnya lebih dalam; tetapi bukankah wilayah perairan vital yang perlu dijaga justru di kawasan Indonesia Barat, khususnya Selat Malaka, dan perairan di sekitar Natuna?

      Disinilah kapal selam mini bisa masuk.

      Karena kontraknya dengan Saab; kemngkinan kita juga bisa menelusuri kalau kapal selam mini ini akhirnya akan dibuat tanpa awak.

      Bayangkan formasi 3 kapal selam mini; 1 KS controller yg berawak, dan 2 KS tanpa awak?

      Delete
  14. Kalau saya imajinasikan klo kerja sama bersama swedia kita benar benar serius memperbaiki sistem pertahanan hasilnya sangat luar biasa walau dana nya pun luar biasa... Tapi keuntungannya jauh lebih maksimal d banding ruski dan nato...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah.

      Keuntungan utama kerjasama dengan Swedia bukan hanya terbatas di Gripen - Erieye - RBS-15 saja!

      Mereka satu2nya yang menawarkan paket kerjasama lengkap!
      Disini kita membicarakan keuntungan nasional jangka panjang, bukan hanya kesenangan sesaat untuk memenangkan "model favorit", baik itu Su-35K, atau KF-X.

      Laporan di DetikNews menunjuk kalau 24 BUMN tahun ini masih merugi, termasuk Bulog, PTDI, dan PT PAL.

      Masakan BUMN Perusahaan Perdagangan kemudian diminta men-subsidi akuisisi Su-35K dengan transaksi barter?

      Ini kan bukan main aneh?!?

      Kalau kita memilih paket kerjasama Saab, bukankah kita akan bisa mengalihkan mulai dari 30%, sampai 85% anggaran belanja alutsista ke industri pertahanan lokal?

      Ini akan mengubah pola akuisisi yang ugal2an sekarang ini, dan memaksimalkan kemampuan industri lokal, agar lebih bersaing.

      Belum kapok kena kasus AW101, eh, masih nyoba lagi beli Su-35 model downgrade,
      yg masih mewarisi kasus penggelembungan harga dari 6 Su-30MK2 di tahun 2011 saja masih sengaja dicuekin.

      Inilah yang seharusnya kita kejar, bukan mengikuti keinginan anak kecil untuk membeli mainan tahun ini.

      Kesadaran Nasional.

      Delete
  15. Bung apakah usaf masih mengoperasikan f 16?

    Usaf itu mengoperasikan viper ndak sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. USAF masih mengoperasikan lebih dari 1,200 F-16 saat ini.

      Yang menggelikan disini,
      mereka berpikir F-35 yang 4X lebih mahal baik harga, ataupun biaya operasionalnya, dan sampai sekarang masih terlalu bermasalah, dan belum siap tempur -- akan menggantikan F-16.

      F-35 sebenarnya tidak layak menggantikan F-16.

      Kita lihat saja kelanjutan F-35 akan menjadi bagaimana.
      Perahu yang sudah bocor parah dari pertama dibuat, mau ditambal seberapapun tidak akan bisa mengapung.

      Kalau problem terus merebak,
      hanya masalah waktu mereka akan terpaksa membeli F-15, dan F-16 baru.

      Delete
  16. andai kohudnas ngotot bentuk armada perang terpisah dr TNI AU , kira2, apa itu akan sehat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak,
      karena hanya membuat kita punya dua Angkatan Udara, yang seperti "saling bersaing".
      Masing-masing hanya akan meminta anggaran sendiri, dan kemungkinannya kecil pespurnya akan compatible dalam keadaan sekarang.

      Langkah terbaik disini seharusnya lebih mengintegrasikan TNI-AU dengan Kohudnas.
      Tapi tanpa networking, dan usaha keras, untuk saat ini mustahil untuk terjadi.

      Makanya kembali ke lingkaran setan awal.

      Kita harus mempensiunkan Sukhoi kuno dahulu, untuk reorganisasi, dan membenahi anggaran; bukan beli tambah Sukhoi downgrade pemboros anggaran, yang bermasalah, dan tidak compatible.

      Logika memang sedang dibuang ke laut.

      Delete
  17. Di medsos F16 RI mendapat program engineering and technical service, maksudnya apa bung ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini seperti biasa, kayaknya kita yang jadi ge-er sendiri.

      "Engineering and technical service" disini, menurut US DoD, sebenarnya kontrak untuk pekerjaan maintenance untuk F-16, yang diberikan kepada Lockheed-Martin.
      Perincian tidak disebut secara pasti.

      Ini berlaku kelihatannya untuk semua pengguna F-16, tidak hanya untuk Indonesia.

      Arti dari kontrak ini sendiri sederhana:
      "Kalian memakai F-16, karena itu beberapa pekerjaan contracting tetap harus dikerjakan melalui Lockheed. Ini tidak bisa ditawar. Titik."

      Yah, inilah akibatnya kalau mau mengoperasikan barang2 versi export.
      Sampai selamanya kedaulatan akan ada di tangan penjual.

      Sukhoi yg harus "mudik" keluar negeri nasibnya masih jauh lebih parah.
      Dan tidak seperti pemerintah US, tidak akan ada transparansi apa saja yg sudah dikerjakan.

      Inilah kenapa, walaupun ngomongnya "membeli", untuk Sukhoi, atau F-16 itu hanya barang sewaaan.

      Segala sesuatu akan selalu didikte dari supplier.

      Delete
    2. Setahu saya, mgkn hrs diboyong ke USA, berarti baru kali ini bung, pemeliharaannya hrs ke USA...

      Delete
    3. Tidak, pekerjaan contracting ini tidak ada hubungannya.

      F-16 A/B belum pernah mudik balik seperti rongsokan Sukhoi, yang bisa 5 tahun sudah tidak bisa terbang.

      Semasa embargo spare oart dahulu, hampir semua F-16 di-strip down spare part-nya oleh para pahlawan di Sku-03, untuk bisa menjaga sekurangnya 2 pesawat yg siap tempur. Setetelah embargo di angkat, semua F-16A/B perlahan2 balik kembali operasional. Tidak pernah perlu mudik.

      Inilah kebodohan argumen "takut embargo US, makanya HARUS beli Sukhoi (Gasak)".

      ## Pekerjaan contracting sebagaimana dimaksud dalam agreement di atas mengharuskan negara pemakai F-16 untuk memakai kontraktor outsourcing dari Lockheed untuk beberapa lapis maintenance. Sekali lagi, ini tidak bisa ditawar. Tetapi pekerjaannya sendiri akan dilakukan secara lokal.

      Mana ada F-16 bolak-balik ke US hanya untuk maintenance?

      US juga sudah berpikir panjang.

      Walau menguntungkan secara finansial spt program Abang Tukang Sukhoi; pesawat yg GASAK hanya akan memakan kapasitas angkut C-17, dan C-5M.

      ## F-16A/B hanya akan harua dikirim ke US untuk menjalani program MLU (Mid Life Upgrade), untuk perpanjangan umur 30 tahun jam terbang, dan menambah kemampuan ke Versi-C/D Block-25+, dengan komputer baru, redesigned cockpit, berbagai perlengkapan, dan paling penting.... menambah kemampuan mengoperasikan AIM-9X, dan AMRAAM C7 -- dua jenis missile yg jauh lebih unggul dalam segala hal dibanding missile abal2 versi export untuk Sukhoi.

      Ini kebutuhan yg lebih nyata dibanding mengusahakan beli lebih banyak sampah.

      Delete
    4. Program semacam ini bisa dikatakan, service biasa ya bung. Klo tdk dirinci apa yg akan dikerjakan, bisa bisa tdk diservice ato bahkan mgkn di downgrade lagi bung...

      Delete
    5. Ada beberapa hal yang harus diluruskan disini:

      ## Perihal Downgrade
      Sekali lagi, untuk downgrade semua spesifikasi sebenarnya sudah ditentukan dari sebelum barangnya delivery. Bukan berarti bisa dirubah selama maintenance.

      Untuk pembelian dari US, Russia, dan PRC, ini memang sudah takdirnya hanya mau menjual barang downgrade untuk export.

      Kalau kita sudah tahu hal ini, masih aneh kan kalau masih mencoba membela2in setengah mati, sampai mau transaksi barter, hanya untuk beli barang rongsokan downgrade?

      ## Perihal Service, dan Maintenance
      Kembali patut diingat, kalau maintenance pesawat tempur itu bukan seperti maintenance mobil / motor.

      Mobil/motor di rumah, tinggal putar kunci nyala; kemudian tidak perlu di-service sampai 5000 km, atau 6 bulan.

      Pesawat tempur --- untuk menyalakan saja tidak bisa memutar kunci, tetapi membutuhkan Power Unit.

      Kemudian re Maintenance;
      Maintenance pesawat tempur itu sendiri terbagi antara bermacam-macam subsystem; bukan seperti kendaraan hanya cek mesin, suspensi, dan AC -- sekali tepuk beres.

      Radar perlu perawatan sendiri.
      Airframe perlu perawatan sendiri.
      Sistem komputer harus di-cek.
      Semua interface utk pylon, external / internal sensor, IFF, dll....

      Semua subsystem di pespur akan membutuhkan pekerjaan maintenance-nya sendiri.

      Perihal berat, atau ringannya maintenance, sendiri bisa terbagi berberapa kelas:

      ada maintenance, dan system check level ringan, yang harus dilakukan setiap kali sebelum pespur siap mengudara. Ini sih semua AU seharusnya sudah bisa; tetapi beberapa AU bahkan bisa kontrak keluar untuk pekerjaan sederhana seperti ini saja.

      Ada perhitungan MTBF (Mean Time Between Failure) untuk setiap part. Semisal, radar pulse doppler itu harus di-service habis setiap belasan jam operasional, atau beberapa puluh jam, tergantung modelnya.

      Untuk model Ruski, kalau MTBF sudah habis, biasanya harus dibuang. Ini seperti pengalaman di India, kelihatannya lebih baik pembeli membeli barang baru untuk profit margin yang lebih besar industri lokal Ruski, daripada mengijinkan field maintenance -- profit tipis.

      Kemudian masih ada pekerjaan maintenance kelas berat -- mungkin baru dihitung setiap beberapa ratus jam terbang, tergantung model.
      Level maintenance ini, kalau untuk barang downgrade, sudah pasti akan harus di-kontrakan keluar.

      Untuk F-16, berarti memanggil tehnisi Lockheed-Martin untuk mengerjakan.

      Sedangkan untuk Sukhoi Gasak, yah, sudah saatnya MUDIK, pakai Antonov.

      Delete
  18. Bung AMRAAM c untuk f 16 sudah d tanda tanganikan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Satu-satunya kontrak yang diajukan hanya di 10-Maret-2016

      Link DSCA Departemen Pertahanan US.

      Kontrak hanya men-cover 36 AMRAAM C-7 ---- untuk mempersenjatai 24 F-16 Block-25+

      Angkanya saja sudah cukup membuat kita menjadi bahan tertawaan semua negara lain.

      Kebutuhan minimal itu 4 AMRAAM per pesawat + stock di gudang, tetapi kita hanya membeli kurang dari 2 missile per pesawat.

      ... eh, sudah begitu masih malah mau beli tambahan Sukhoi gasak, yang sejarah pemakaiannya 14 tahun di Indonesia saja amburadul "sudah terbiasa".

      Kembali lagi ke lingkaran setan yang awal,
      siapa yang sebenarnya bisa menjaga langit Indonesia?

      Tidak ada senjata, tapi pesawat tempur asal bisa nampang, kelihatannya sudah gahar.

      Delete
  19. Klo ga salah itu USA sendiri yg tidak mengijinkan lebih dr 36 .. Itupun ada syarat yg ketat tapi setidaknya bkn versi downgrade kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dokumen DSCA memberi signal kalau kita sudah diijinkan membeli versi C-7, karena mereka sudah mulai beralih ke versi D.

      Dahulu di tahun 2005, Polandia yg anggota NATO hanya diijinkan versi C-5, karena C-7 adalah yang top model.

      Downgrade versi US itu hanya masalah ijin versi apa yang diperbolehkan.

      Kalau dari segi jumlah,ini jadi ada 2 kemungkinan:

      ## Kalau US hanya mengijinkan 36 unit C-7, dan kalau kita memang serius, kenapa tidak lantas membeli lebih banyak versi C-5?

      AMRAAM C-5 lebih murah dari C-7, masih lebih modern dari rata2 AU NATO, dan masih dipergunakan luas oleh USAF / USMC / USN.
      Tentu saja, masih jauh lebih unggul dalam segala hal dibanding RVV-AE versi export.

      ## Kemungkinan kedua, memang kita yang tidak serius.
      Pemerintah US mengjinkan membeli seberapa banyak terserah, tetapi krn alasan "berhemat" sengaja kita belinya hanya segelintir.

      Tetap saja, kebodohan total disini; kalau pespur yang sudah ada saja belum dipersenjatai, eh, kenapa masih berambisi membeli lebih banyak lagi "macan ompong".

      Uangnya darimana?
      Efek gentarnya bisa jatuh dari mana?
      Beli senjata tidak bisa, kok masih mau beli pesawat?

      Bukankah lebih baik kalau begitu kita membeli saja CN-235, yang memang tidak perlu dipersenjatai?

      Delete
    2. Klo menurut bung DR, sebenarnya knp beli pespur tapi tdk ada rudalnya, apakah krn tdk ada ancaman, tdk ada duit, ato mgkn anda bisa menjelaskan ancaman mana yg bisa menjadi kenyataan...

      Delete
    3. Kalau dari yang kita lihat, kenapa kita malas beli persenjataan,

      Ini dikarenakan prioritas utama akuisisi adalah mengejar JUMLAH pesawat tempur yg lebih banyak.

      Itu saja.
      Tidak ada perhitungan kemampuan, atau kesiapan tempur.

      Lupakan saja industri pertahanan lokal! Mendingan beli import mentah.

      Yang lebih bodoh lagi, kalau memang prioritas utama hanya "mengejar jumlah", baik Sukhoi, atau KF-X sebenarnya dua model yg terlalu mahal untuk anggaran operasional yh tersedia.

      Kita bisa melihat contoh Swedia vs Australia

      Anggaran Swedia kurang dari $6 milyar per tahun, krn pemangkasan pasca perang dingin, tetapi masih bisa mengoperasikan 100 Gripen-C/D, dan 2 Erieye.

      Anggaran Pertahanan Australia $35 milyar FY2017, hampir 30%-nya untuk RAAF.

      Tetap saja, dengan anggaran yg hampir 7 x lipat dari Flygvapnet Swedia, mereka "hanya" mengoperasikan 71 F-18A/B, 24 F-18F, dan 12 Growler.

      Untuk memenuhi mimpi mengejar target MEF yg sekarang, misalnya mengoperasikan 50 IF-X downgrade, dan 50 Sukhoi downgrade -- kita akan memerlukan anggaran yang 2x lipat lebih besar dari RAAF Australia.

      Kembali lagi ke lingkaran setan yg sama:

      Darimana kita yg negara berkembang yg tidak menghadapi ancaman militer langsunv seperti Korea Selatan, atau India-Pakistan, bisa mengalokasikan uang sebanyak itu?

      Inilah kenapa mimpi indah akan selalu terbakar oleh kenyataan.

      Delete
    4. mungkin ini efek negara yg tidak pernah perang jadi menyepelekan inhan .

      Delete
    5. Begitulah.

      Persepsi umum sepertinya bilang "kita kuat".

      Kuat bagaimana?

      Pengalaman tempur kita sejauh ini hanya melawan pemberontakan2 daerah dngn senjata ringan... justru krn ini negara kepulauan. Sulit menyelundupkan senjata masuk selama kita menguasai perairan.

      Tidak seperti di Syria, misalkan, perhatikan saja foto2 Leopard Tank Turki AD yang di-KO dengan Anti Tank missile.

      Masalah kedua, sudah kurang pengalaman, kita juga kelihatannya menolak untuk belajar lebih mendalam.

      Singapore juga tidak ada pengalaman, tp bagaimana caranya mrk bisa lebih kuat, dan lebih siap daripada Indonesia-Malaysia digabung sekalipun?

      Singapore tahu, krn negara mereka rentan, mrk juga sbnrnya harus memetik banyak pelajaran dr negara lain. Ini menabrak masalah terakhir.

      Kesadaran Nasional kita masih sangat minim.

      Ngapain bersorak-sorai mau beli Sukhoi pecinta perantara, yg gampang rusak, sudah kuno dari sejak pertama dibuat, dan hanya tersedia dalam versi export downgrade?

      Memangnya, seperti topik sebelumnya, apa keuntungan nasional yg bisa didapat?

      Inilah akibat akhirnya; kebanyakan kita hidup terlalu jauh dalam mimpi yg di awang-awang, sampai lupa menginjak tanah.

      Cukup 1 jarum realita kecil, dan mimpi itu akan kandas mencium tanah.

      Delete
    6. Kpan bung RI perang, sehingga tidak mengakuisisi macan ompong....

      Delete
    7. Ini juga sepertinya salah satu alasan mengakusisi macan ompong.

      Seperti di atas, kita tidak pernah menghadapi ancaman militer langsung seperti Korea Selatan, India-Pakistan, atau di Timur Tengah.

      Telepas dari mimpi basah para Sukhoi fanboys, "kita dikepung negara2 sekutu US", seolah-olah konflik itu sudah mengancam di ambang pintu; kenyataannya kemungkinan Australia, atau Singapore bisa berperang dengan Indonesia itu nyaris nihil.

      Tetapi karena argumen yg sama, Indonesia tidak menghadapi ancaman militer, makanya akusisi senjata bisa ditawar;

      ..... Kalau begitu ngapain berkeras mengoperasikan Sukhoi, dalam nama mengejar "efek gentarnya terasa", yang sudah kita ketahui biaya operasionalnya tidak akan terjangkau?

      Boleh dibilang, Sukhoi sebenarnya biang kerok akusisi "macan ompong".

      Dana terbatas yang tersedia, terus dihambur2kan untuk pesawat yg jarang bisa tebang, dan membengkalaikan kebutuhan yg lebih nyata... seperti Targeting pod, persenjataan, pesawat AEW&C, dan National Networking,

      Delete
    8. Di medsos diberitakan China kirim surat ke kedubes RI di beijing utk membatalkan penamaan Laut Natuna Utara, mgkn ini bisa menjadi ancaman yg nyata bung....

      Delete
    9. PRC berani di LCS karena ASEAN sejauh ini tidak bisa kompak.

      semua problem di LCS sebenarnya adalah masalah bersama.

      PRC memang sejauh ini negara satu2nya yg pernah mencoba mengancam kedaulatan teritorial Indonesia.

      Dan dalam konteks Natuna, kenapa kita masih sibuk beli C-705, atau C-802?

      Kenapa juga sibuk mencoba beli Su-35 downgrade?

      Di Natuna, kalau tidak hancur sendiri gara2 maintenance, Su-35KI hanya akan menjadi bulan-bulanan PLA-AF.

      Delete
  20. Jarak jangkau c 7 itu 70 km...
    Versi d klo ga salah 180km versi c 5 berapa bung?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti kita akan cover dalam topik BVR combat.

      Sekarang masih mengumpulkan material :)

      Delete
  21. kelihatanya yg nampak serius mandiri kyknya BPPT , dan BUMN INHAN.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tujuan pendirian BPPT, dan demikian juga semua lapisan industri pertahanan lokal memang sudah jelas dari awalnya:

      Untuk mengejar swasembada pertahanan lokal yg semaksimal mungkin.

      Sayangnya, skema belanja alutsista setelah masa Embargo jadi men-sabotase semua rencana semacam ini.

      Kelihatannya lebih penting beli alutsista setiap 5 tahun masa jabatan. Tidak perlu perencanaan jangka pankang, atau membuat perhitungan keuntungan / kerugian 30 tahun ke depan.

      Itu urusan pejabat masa 5 tahun yg berikutnya.

      Delete
    2. alias kepentingan pencitraan bwt 2019

      Delete
  22. Andaikan dulu RI beli F16 baru yg jumlahnya hanya 6bh semasa SBY, apakah akan dipasang IFF? dan knp akhirnya membeli yg hibah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Apakah kalau tempo hari membeli 6 F-16 Block-52 baru akan dipasangi IFF?

      Belum tentu.
      IFF untuk F-16, seperti APX-111, -113, dan -125 sebenarnya optional module.

      Dan karena F-16, sama seperti Su-Gasak, hanya tersedia dalam Versi Export Downgrade, kemungkinan besar sih pemerintah US waktu itu belum mengijinkan pemasangan IFF ke F-16 Indonesia.

      Inilah juga salah satu alasan kenapa memang lebih baik mengambil F-16 hibah, yg jumlahnya lebih banyak. Toh dua2nya akan menjadi versi downgrade.

      ## Kenapa mengambil 24 F-16 Block-25+?

      Alasannya sederhana.

      Lebih ekonomis untuk memaksimalkan jumlah anggaran yg tersedia.

      + 24 F-16 Block-25+, akan menambah jumlah armada F-16 menjadi 34 unit, cukup untuk 2 Skuadron. Ini juga akan membuat biaya operasional lebih murah; bisa 20 - 30%.

      + Lagipula, 6 Block-52, walau mungkin sedikit lebih modern (tergantung versi export yg diperbolehkan), hanya bisa membawa 24 AMRAAM C-7, dan 12 AIM-9X.

      Sedangkan 24 Block-25+ dapat membawa 96 AMRAAM, dan 48 AIM-9X. Walaupun sayangnya, para pejabat memberlakukan sistem akuisisi "macan ompong" dalam nama MEF, jadi kelebihan ini mubazir.

      + Terakhir, umur F-16 MLU juga sudah diremajakan kembali. Secara tehnis mirip seperri membeli baru -- masih bisa mengudara 25 - 30 tahun lagi, atau jauh setelah semua Sukhoi Sku-11 harus dipensiunkan.

      Delete
  23. https://finance.detik.com/energi/d-3625252/jonan-dapat-51-saham-freeport-ri-berdaulat

    semoga saja hal sama diterapkan dalam pembelian alustista kedepannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar.

      Kedaulatan NKRI seharusnya prioritas utama dalam segala hal, termasuk alutsista.

      Terlepas dari sempat gegap gempitanya suara pro-perantara fanboyz; melihat perkembangan akhir2 ini skrg sudah hampir mustahil Su-35 dowmgrade akan bisa tutup kontrak.

      Sekali lagi, kita harus belajar berhenti bermimpi.

      Kemerdekaan 72 tahun itu bukan hanya berhenti di perjuangan Angkatan '45 saja, tetapi perjuangan berkelanjutan untuk setiap generasi, setiap tahun.

      Delete
  24. Dari segi teknis kenapa Leopard 2A4 Turki seperti mudah sekali di KO?

    ReplyDelete
    Replies
    1. AD Turki sudah kehilangan 10 Leopard sejauh ini, seperti dijelaskan di satu website.

      Berbagai faktor:

      # MBT sangat rentan di daerah urban, atau perkotaan.

      Isis sudah mahir memakai Kornet Anti-Tank Missile buatan Ruski untuk menghantam titik lemah Leopard di sisi samping, dan atas.

      ## Crew Leopard Turki juga masih kurang pengalaman, dan training untuk bertempur di daerah perkotaan.

      ## Terakhir, Leopard Turki juga belum diperlengkapi Reactive Armor, untuk menghadang ATM.

      Nah, sekarang bandingkan dengan Leopard RI!

      Apakah kita akan bisa mempunyai crew yg latihan sebanding dengan Turki?

      Leopard tidak dirancang untuk bertempur di perkotaan, atau di hutan rimba, atau di pulau-pulau kecil, melainkan di padang yg luas seperti di Eropa, atau di Timur Tengah.

      Delete
    2. Dan parahnya lagi, Indonesia tdk punya kemampuan sealift dan airlift yang mumpuni untuk kendaraan tempur

      Delete
  25. bung apa benar korut mempunyai bom hidrogen seperti yg diklaim pemimpinnya padahal bom hidrogen setau saya jauh lebih rumit dan kompleks dibanding bom atom

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pernyataan Korut hampir 99%-nya propaganda. Kita tidak tahu kebenarannya. Yang pasti sih mereka mempunyai senjata nuklir.

      Walaupun bisa meluncurkan roket jarak jauh; meragukan kalau mrk akan bisa memasang nuclear warhead ke roket mereka, dan kemudian bisa benar mengarahkannya ke target.

      Konsekuensi paling berat adalah kalau nuclear ini ditembakan dengan artilleri jarak pendek... untuk menghantam Seoul.

      KF-X tidak akan bisa menyelamatkan Korea Selatan.

      Patut diketahui kalau Pakistan - India yg sudah punya pengalaman puluhan tahun dengan senjata nuklir, sbnrnya alat delivery utamanya adalah.... pesawat tempur, dan bukan ballistic missile seperti para pemain lama.

      F-16, atau Mirage III untuk Pakistan, dengan custom fitting.

      Mirage 2000 untuk India, ini juga kurang optimal seperti Mirage 2000N Perancis.

      Inilah alasan kenapa India memutuskan membatalkan MMRCA untuk membeli mentah 36 Rafale: mereka membutuhkan pespur yg bisa membawa senjata nuklir. No questions asked.

      Delete
  26. Mohon pencerahan kenapa mesin pesawat tempur tidak se-reliable mesin pesawat komersial ? Misal mesin cfm56 & PW JT-7 series untuk B-737 bisa beroperasi seharian dan dalam waktu lama / ribuan jam sebelum MTBF. Sementara mesin pesawat tempur (seperti SU Family) hanya ratusan jam saja?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Neddy,

      Perbandingan yang paling mirip antara mesin jet konvensional, dengan mesin pesawat tempur adalah seperti membandingkan mesin 1500cc konvensional untuk mobil pribadi biasa, dengan mesin untuk Formula 1.

      Mesin standard bisa tahan operasional sampai 400,000 jam, sedangkan mesin Formula 1 menurut regulasi hanya boleh tahan 24 jam operasional.

      Kenapa demikian?

      Pertama, mesin F1 akan selalu beroperasi pada RPM tinggi -- lebih dari 6000 rpm, sedangkan mesin konvensional sangat jarang untuk perlu di-gas sampai 5000 rpm -- mayoritas penggunaan sehari-hari hanya antara 1500 - 3500 rpm.

      Kedua, dengan kondisi yg demikian, mesin F1 juga akan "digeber" habis2an dalam setiap perlombaan, sedangkan mesin konvensional tidak perlu.

      Penggunaan lebih lunak, automatis lebih awet.

      Demikian juga membandingkan misalnya, mesin GE90 untuk B777 dengan mesin GE F414 untuk Super Hornet, dan Gripen.

      Keduanya dibuat oleh GE Aviation -- untuk dua tugas yang berbeda.

      Mesin GE90, sama seperti mesin mobil pribadi, tidak dirancang untuk mengubah-ngubah thrust (daya dorong) dengan cepat seperti dalam pertempuran udara.

      Mesin F414 sebaliknya, dirancang untuk operasi yang jauh lebih keras, dan juga mempergunakan afterburner untuk mencapai kecepatan supersonic. Banyak mempergunakan afterburner juga akan memperpendek usia mesin.

      Mesin Russia hanya tahan ratusan jam operasional, sedangkan semua mesin Barat seperti Pratt & Whitney, GE, Snecma, dan Eurojet tahan operasional sampai 8000 jam terbang.

      ## Kenapa mesin buatan Russia cepat rusak?

      Karena industri militer Russia warisan ex-Soviet memang prioritasnya tidak pernah diperuntukkan membuat segala sesuatu yang bisa tahan lama. Menurut sistem Soviet, segala sesuatu harus bisa diproduksi dengan cepat, dan akan diproduksi selama 24 jam sehari terus-menerus.

      Untuk apa membuat sesuatu yang tahan lama?

      Toh, kalau ada yg rusak, tinggal mengambil part baru dari gudang, dan ganti saja. Yang lama tinggal masuk tong sampah; tidak perlu diperbaiki.

      Dengan demikian seluruh Soviet akan dapat bereaksi lebih cepat dalam menghadapi ancaman NATO.

      Tentu saja, walaupun sistem semacam ini bukan masalah pelik untuk desain yang lebih sederhana, dan praktis seperti single-engine MiG-21, atau Su-17/22;
      hanya menjadi mimpi buruk secara logistik untuk desain yang jauh lebih complex seperti twin-engine Su-27 dan MiG-29.

      Seperti kita lihat dewasa ini; masih jauh lebih banyak MiG-21 yang operasional yang diproduksi dari tahun 1970-an, dibanding MiG-29 yang diproduksi sepanjang tahun 1980-an.

      ## Kenapa mereka belum bisa memperbaiki kekurangan ini sampai sekarang?

      Karena selain belum cukup pengalaman seperti di industri Barat, dewasa ini industri Russia sudah kekurangan modal dibandingkan dahulu di jaman Soviet, dimana anggarannya bisa 5x lipat.

      Delete