Wednesday, August 2, 2017

Radar vs RWR dalam Pertempuran Udara


Artikel ini akan membahas berbagai tipe radar pesawat tempur, dan musuh terbesar mereka dalam pertempuran udara: Radar-Warning Receiver (RWR).

Secara basic, cara kerja radar pesawat tempur sama seperti pemancar radar di airport, mengawasi wilayah udara dalam jarak pandangnya, dan mencari obyek lain di udara. Radar pesawat tempur kemudian menambah kemampuan untuk men-tracking (mengunci arah, dan posisi) lawan, dengan tujuan menghabisi lawan tersebut dengan BVR missile.

Di pihak lain, setiap pesawat tempur modern juga sudah membawa Radar-Warning-Receiver. RWR memberikan kesempatan untuk pilot menghindari, atau mengalahkan BVR missile lawan. Dalam versi Defense Suite modern, ya, RWR juga mulai dapat men-trinangulasi posisi lawan hanya dari arah gelombang radar yang mereka pancarkan.

Hal ini tidak pernah perlu terlalu diperhitungkan sampai tahun 1970-an, karena toh baik radar, ataupun BVR missile di masa itu masih terlalu primitif. Tetapi seperti sudah dibahas sebelumnya, bagaimana Source Code akan menentukan kemampuan pesawat tempur, sekarang adalah Abad ke-21; evolusi keduanya sudah meningkat puluhan kali lipat, dan semakin tergantung kepada Source Coding.




Radar Generasi Pertama: Pelajaran dari Vietnam

Maintenance radar AN/APQ-100 di F-4E Phantom II di tahun 1982
(Wikimedia - US DoD image)
Untuk memahami konsep radar pesawat tempur modern, semuanya harus kembali dahulu ke sejarah perkembangannya di tahun 1960-an. Radar tipe doppler generasi pertama, baru mulai diperkenalkan dalam pesawat tempur Generasi Ketiga. 

F-4 Phantom II memperkenalkan jenis radar keluarga AN/APQ-120, yang development-nya dihubungkan dengan AIM-7 Sparrow Semi-Active Radar-Homing missile, BVR missile generasi pertama. Kombinasi ini memperkenalkan untuk pertama kalinya konsep-konsep BVR yang memabukkan, dan sekilas terdengar seperti mimpi indah, seperti datang dari film kartun. 


Manuever tidak lagi relevan: 
Pesawat lawan dapat terlihat radar dari jarak yang lebih jauh,
dan kemudian dapat mudah tertembak jatuh dengan BVR missile

Kedengaran mirip? 

Yah, karena F-35 Lemon II juga sudah dirancang dari awal dengan konsep fatal yang sama, dan karenanya, pesawat malang ini tidak mempunyai provisi untuk membawa AIM-9X dalam keadaan terbang stealth.

Pada prakteknya dalam Perang Vietnam, kombinasi antara keluarga radar APQ-120, dan AIM-7 Sparrow ternyata kacau-balau. Berikut jumlah kill F-4 Phantom USAF yang dicatat di Wikipedia, semasa Perang Vietnam:
Kalaupun jumlah MiG yang tertembak jatuh dengan AIM-7 Sparrow kelihatan separuh dari yang jumlah total yang tertembak jatuh Phantom II (50 pesawat), patut dicatat disini kalau: 
  • Hampir semua MIG Vietnam tertembak jauh, masih dalam masih jarak visual, atau kurang dari 20 kilometer. Dengan kata lain, kebanyakan Sparrow yang ditembakkan Phantom beralih fungsi menjadi seperti peluru, yang jarak jangkaunya lebih jauh.
  • Kill rate untuk AIM-7 Sparrow dinilai kurang dari 10%, atau untuk setiap 1 MiG yang tertembak jatuh dengan Sparrow, USAF sebenarnya sudah menghamburkan 8 - 9 missile lain yang meleset.
Kelemahan pertama dari radar doppler Phantom II yang masih belum bisa terselesaikan sepenuhnya sampai sekarang adalah... pada jarak BVR, pilot tidak bisa membedakan antara kawan, maupun lawan. 

Kelemahan kedua adalah tidak adanya kemampuan radar look-down. Pesawat lawan, dalam hal ini MiG, dapat terbang serendah-rendahnya, atau sekurangnya lebih rendah daripada Phantom, dan dengan demikian radar APQ-100 akan kesulitan untuk membedakan refleksi gelombang radar dari pesawat lawan, dan refleksi dari permukaan tanah, ataupun obyek darat yang lain. Ini menyulitkan target-locking.

Kelemahan Ketiga adalah tipe missile Semi-Active Radar-Homing itu sendiri. Missile BVR jenis SARH, seperti AIM-7 Sparrow, dan R-60, atau kemudian juga R-27, membutuhkan radar pesawat induk untuk terus-menerus mem-lock sasaran sebagai pemandu utama missile yang sudah ditembakkan. Ini menabrak beberapa masalah:
  • Pesawat induk tidak bisa menembak ke lebih dari satu target.
  • Arah, dan posisi pesawat induk menjadi predictable; membuatnya sangat rentan untuk diserang balik oleh lawan.
  • Mulai diperkenalkannya Radar-Warning-Receiver dari tahun 1970-an, berarti pesawat target juga dapat mengetahui kalau dia ditargetkan lawan, dan dengan demikian, akan berusaha untuk mem-break lock.
Blast from the past:
Su-30SM AU Russia di Hmyemim AB, Syria. November-2015 
(Gambar: Russian MoD)

Perhatikan dua missile yang dibawa di pylon sebelah dalam, 

dan dua missile di bawah perut:

R-27 Missile tipe SARH, yang secara tehnis sudah kuno
B U K A N
R-77, yang ternyata development-nya tidak pernah selesai,
dan tidak pernah dibeli dalam jumlah besar oleh AU Russia sendiri,
tapi dijual bebas dalam bentuk versi export RVV-AE ke negara lain
Dengan demikian, usaha memperkenalkan BVR missile, yang dipandu radar dalam tahun 1960-an ini, sudah membuka beberapa masalah berkelangsungan, yang sebenarnya masih belum bisa terselesaikan sepenuhnya, bahkan sampai di Abad ke-21. Integrasi antara BVR missile, dan radar akan dibahas lebih lanjut dalam topik berikutnya mengenai Basics of BVR missiles.


Generasi Kedua: Pulse-Doppler Radar, dan bangkitnya sistem RWR

Contoh Radar Mechanical Pulse Doppler AN/APG-70 dari F-15E Strike Eagle
(Gambar: US Air Force)

Jarak jangkau lebih jauh,
sudut deteksi lebih luas,
dapat berganti scan mode untuk target di darat / udara,
Lebih banyak target yang bisa dilihat,
radar locking ke target lebih akurat,
lebih reliable,
dan kemampuan Lookdown
Memasuki tahun 1970-an, setelah menempa pengalaman dari keterbatasan radar generasi pertama, seperti AN/APQ-100 di Phantom II, radar Ferranti di English Electric Lightning, ataupun radar Thomson-CSF Cyrano di Mirage III, seiring dengan memasuki masa awal dari pesawat tempur generasi keempat, setiap military-industrial complex memulai development dari radar mechanical pulse-doppler modern.
Prinsip Pulse-Doppler Radar
(Gambar: CassidyGE, Wikimedia)
Radar pulse-doppler dapat melihat target dengan menghitung perbedaan waktu antara transmisi gelombang radar yang dipancarkan dalam pola pulse-timing, dan kemudian refleksi balik gelombang radar dari permukaan target. Gelombang radar itu sendiri bergerak pada kecepatan cahaya, jadi jarak target dihitung dengan menghitung selang perbedaan ini, dan kemudian di bagi dua

Semua radar mechanical pulse-doppler generasi pertama, seperti AN/APG-63 di F-15, AWG-9 di F-14, APG-66 di F-16A/B, dan radar APG-65/73 di F-18A/B, sepenuhnya masih tergantung kepada processing secara elektronik yang sederhana. Pada tahun 1970an, sewaktu keempat radar generasi pertama ini baru dibuat, source code, ataupun computer processor masih belum ada untuk mengingkatkan akurasi perhitungan signal processing.

Dengan kata lain, terlepas dari janji kemampuannya, radar pulse-doppler generasi pertama ini, ternyata masih belum bisa menjadi panduan yang reliable untuk BVR missile. Ini walaupun hasil testing BVR missile generasi awal, seperti AIM-54 Phoenix kelihatan meyakinkan. Sampai dengan tahun 1990-an, semua pesawat tempur modern masih tetap dipersenjatai missile jenis SARH, yang tingkat akurasinya tidak pernah bisa diandalkan.

BVR missile yang pertama, dengan active guidance, baru mulai diperkenalkan setelah Hughes (sekarang bagian dari Raytheon) sukses menyelesaikan development AMRAAM-A di tahun 1991. Sayangnya, kembali, timeline ini bertepatan dengan sudah berakhirnya masa perang dingin, dan ambruknya anggaran militer Russia post-Soviet. Sekali lagi, masalah ambruknya anggaran, kemampuan, ataupun komitmen untuk menantang United States... membuat industri militer Russia semakin ketinggalan kereta dengan R-77, atau RVV-AE kuno mereka:

Kenyataan 
Tidaklah seperti mimpi para pengarang fiktif Ausairpower 
ataupun para fanboys:

Russia tidak pernah bisa pulih dari masa kegelapan di tahun 1990-an,
dimana anggaran mereka kurang dari 50% rata-rata empat besar Eropa
(Credits: The Washington Post)
Sementara itu, pengalaman USAF di Vietnam, dan Israel dalam Perang Yom-Kippur tahun 1973, mengajarkan perkembangan dari sistem sederhana, yang akan menjadi musuh terbesar radar, baik dari pesawat tempur, ataupun SAM system dalam pertempuran udara: Radar-Warning-Receiver.

Cara kerja RWR lebih sederhana dibandingkan pulse-doppler radar. 

RWR dapat memberikan warning ke pilot, dengan mendeteksi gelombang radar yang dipancarkan lawan, kemudian mengukur seberapa bahayanya ancaman ini dari kuatnya signal, frequency / modulasi, dan arah gelombang radar. 
.... dan dengan demikian, peraturan main pertempuran udara menjadi berubah 180 derajat

Bangkitnya RWR boleh dibilang sudah mengakhiri pertempuran udara melawan pulse-doppler radar, misalnya APG-63, yang dipadukan dengan SARH missile AIM-7 Sparrow; ataupun SAM system tempo doeloe, seperti SA-2, dan SA-6. Pemancar gelombang radar automatis berubah menjadi W A R N I N G adanya ancaman untuk pilot pesawat tempur lawan. 

Perhatikan contoh berikut yang dikutip dari Quora:
Dalam contoh ini, symbiology dalam layar RWR F-16 memberitahukan pilot keberadaan tiga obyek:
  • Tanda segitiga 15 pada posisi jam tujuh menunjuk emisi radar dari F-15 kawan.
  • Tanda (5) pada posisi beberapa derajat dari jam duabelas, menunjuk emisi radar dari SA-5 Gammon SAM -- yang dinilai sebagai salah satu ancaman
  • Tanda (6) dalam bentuk symbol diamond dinilai sistem sebagai Ancaman terbesar -- emisi radar dari SA-6 Gainful. SAM lawan.

Jarak antara dari tengah layar, ke masing-masing symbol menunjuk seberapa kuatnya / seberapa jauhnya emisi radar dari target itu ke pesawat induk.



The Element of Surprise, yang diharapkan dari ide untuk memasang radar di pesawat tempur re menembak jatuh lawan dengan BVR combat sudah menghilang. Siapa yang mencoba menyalakan radar secara aktif, dengan demikian akan selalu mengumumkan kehadirannya kepada lawan. 

Pilot pesawat tempur yang membawa RWR system yang baik, bahkan tidak perlu bisa menembak balik. Mereka bisa memancing target menembakkan BVR missile, kemudian hanya perlu memastikan kalau mereka menghindar untuk membuat missile si penembak meleset. F-15A/C hanya bisa membawa 4 AIM-7 Sparrow, sedangkan setiap batallion SA-2, atau S-75 Dvina hanya bisa mempunyai 6 single-rail launcher untuk menembakkan 6 missile. 

Ini saja, sudah menimbulkan kerugian jutaan $$ tanpa ada hasil yang berarti, bukan?

Jumlah missile yang sudah kurang akurat ini terbatas, dan tidak ada yang bisa dilakukan si penembak untuk menambah akurasi, kecuali.... kalau target memang tidak membawa RWR.

Keberadaan RWR, yang pada mulanya diperuntukan melindungi pesawat tempur dari ancaman SAM, dengan demikian memulai pertarungan babak baru antara radar vs RWR.



Generasi Ketiga: Pulse-Doppler Radar v2, dan PESA 

Radar PS/05 Mk1
(Gambar: Saab)
Ketiga Eurocanards, yang baru mulai diproduksi sepuluh tahun setelah Teen fighters, Su-27, dan MiG-29 mulai mengudara, memperoleh keuntungan menuai kemajuan development dalam tehnologi komputer. Ketiganya boleh dibilang adalah generasi pesawat tempur pertama, yang berbasiskan integrasi Source Code, untuk meningkatkan kemampuan tempurnya. Semua radar generasi ini, dengan demikian mulai membasiskan signal processing dengan perhitungan dari kalkulasi komputer pesawat, sebelum dipresentasikan di layar cockpit. 

Tahun 1980-an juga melihat merebaknya tehnologi radar PESA, yang sebenarnya pertama kali diperkenalkan di darat sejak tahun 1973, dengan AN/SPY-1 radar, atau basis dari AEGIS system dalam kapal-kapal perang US Navy.
(Gambar: Chetvorno, Wikimedia)
Radar PESA boleh dibilang adalah evolusi lanjutan dari radar pulse doppler. Seperti dalam gambar di atas, radar PESA berbasiskan signal dari satu transmitter (TX), yang kemudian memancarkan gelombang melalui banyak antena element (A), yang masing-masingnya menjadi pemancar gelombang radar tersendiri. Semua processing ini dikendalikan dari komputer (C).

PESA radar memberikan beberapa keunggulan di atas radar Mechanical pulse-doppler:
  • Jarak jangkau lebih jauh
  • Volume wilayah yang bisa di-scan menjadi lebih luas
  • Dapat mudah melihat secara bersamaan, target yang diam di darat, sekaligus target di udara tanpa perlu berganti scan mode.
Sayangnya, radar tipe PESA tetap saja mempunyai beberapa kelemahan :
  • Hanya bisa beroperasi dalam 1 frequency karena transmitter/receivernya hanya satu. Ini membuat signal radarnya tetap saja akan mudah terlihat di layar RWR lawan
  • Di lain pihak, harga dari radar PESA sendiri tidaklah cukup ekonomis untuk diintegrasikan dalam ruangan yang terbatas dalam hidung pesawat tempur. Radar PESA sebenarnya lebih optimal untuk dioperasikan di darat, yang tidak mempunyai keterbatasan ruangan yang sama.
  • Terakhir, dengan dimulainya signal processing melalui komputer, para produsen radar mulai bisa meningkatkan kemampuan radar doppler mereka untuk dapat mengimbangi, atau melebihi jarak deteksi radar PESA dalam pesawat tempur.
Karena beberapa alasan sederhana ini, dari antara ketiga Eurocanards, hanya Perancis yang memilih untuk memasang RBE2 AA PESA radar ke Rafale; sedangkan Eurofighter, ataupun Saab memilih untuk tetap berbasiskan radar pulse doppler v2. 

Radar doppler Eurocaptor-M Typhoon, yang ukuran antenanya lebih besar dinilai masih mempunyai keunggulan jarak deteksi sekitar 10% dibanding radar PESA RBE Rafale, yang ukurannya lebih kecil.

Saab juga berhasil mengembangkan PS/05 radar untuk Gripen ke versi Mk4, hanya dengan sedikit perubahan hardware; all-digital exciter/receiver, dan radar processing unit.  Perubahan yang lebih banyak terjadi di Source Coding untuk algorithm radar PS/05 ini sendiri, untuk dapat melihat target yang ukurannya lebih kecil dari jarak yang lebih jauh. Radar Mk4 ini sendiri akan dapat menerima / membaca emisi signal dari radar lain.

Radar PS/05 Mk4 akan mempunyai kemampuan untuk melihat target dengan RCS 0,1 m2 dalam jarak deteksi yang sama dengan PS/05 Mk3 di tahun 2014 untuk melihat pesawat dengan RCS 4 m2. Ini meningkatkan kemampuan deteksi / tracking radar sampai 150%, dan akan sangat diperlukan agar Gripen dapat memanfaatkan jarak jangkau MBDA Meteor, yang melebihi 150 kilometer.
Credits: Saab

Karena alasan yang sama, para produsen teen fighters United States, sama seperti Eurofighter, dan Saab, juga memilih untuk tidak mengadopsi PESA, melainkan meng-upgrade radar pulse doppler yang sudah ada (dari AN/APG-63 ke AN/APG-70 untuk F-15), AN/APG-68v9 untuk F-16, dan AN/APG-73 untuk versi akhir dari F-18C/D, atau F-18E/F Block I Super Hornet. 

Tentu saja, patut dicatat disini, semenjak pesawat tempur generasi ketiga, semua kemajuan tehnologi modern masih bisa dicangkokkan kembali dalam bentuk upgrade. Dari segi perkembangan aerodinamis, pesawat tempur Generasi Keempat sudah mencapai titik puncak, dan karena memulai masa komputer seperti kertas kosong, ketiga teen fighters (F-15, F-16, dan F-18) tidak terlihat kesulitan untuk mengadopsi banyak tehnologi baru, tidak seperti F-22, dan F-35, yang seharusnya "lebih modern". 

Generasi radar PESA / pulse-doppler v2 ini boleh dibilang sifatnya sementara, karena perkembangan disini sebenarnya tidak menyelesaikan kebanyakan masalah yang ditimbulkan oleh bangkitnya sistem RWR, dan karenanya setiap pembuat / negara pembeli yang lebih bijaksana untuk bisa melihat ke masa depan, sudah menantikan solusi tahap berikutnya.

War-is-boring: Russia is upgrading its top fighter to fly from rough airfields
Penulis: Dave Majumdar


Hanya Russia yang sudah merasa puas dengan "powerful PESA" radar.
Singapore, dan Australia saja tidak setuju.


Generasi Keempat: Bangkitnya AESA radar, dan Integrated Electronic Defense Suite


Raven ES-05 AESA  Credit: Saab
AN/APG-77 untuk F-22, adalah AESA radar generasi pertama, yang pada akhirnya memperkenalkan satu-satunya jenis radar yang laik pakai dalam pertempuran udara modern. Lompatan tehnologi dari mechanical doppler / PESA ke radar AESA tidak hanya jauh, tetapi............... sangat jauh.

Berikut daftar keunggulan / perbedaan dari radar AESA dibanding semua radar generasi sebelumnya:
  • Setiap AESA radar akan mempunyai sekurangnya 1000 transmitter (F-16, F-18, Gripen, Rafale), atau 1500 transmitter (Typhoon, F-22)
  • Masing-masing transmitter AESA sebenarnya dapat berfungsi sebagai radar sendiri secara independent, dan karenanya;
  • Masing-masing transmitter AESA juga dapat berpindah-pindah frequency dengan cepat per detik (frequency hopping) untuk mempersulit deteksi emisi radar di mata RWR lawan. Sekarang bayangkan karena setiap radar AESA membawa sekurangnya 1000 transmitter...
  • Jarak jangkau lebih jauh; patut dicatat disini kalau sejauh ini semua angka jarak jangkau setiap jenis radar AESA hanya prediksi masing-masing penulis artikel, bukan angka resmi, yang kelihatannya masih dirahasiakan.
  • Radar AESA tidak akan memiliki keterbatasan untuk melihat jumlah target yang bisa di-tracking, seperti limitasi pada radar doppler, atau PESA. Irbis-E versi lokal hanya bisa mengikuti 30 target, sedang versi KI model downgrade, jangan berharap banyak!
  • Radar sidelobe, atau sudut buta dari deteksi radar menjadi jauh lebih minimal, atau nyaris tidak ada.
  • Maintenance untuk AESA radar juga jauh lebih murah. Setiap transmitter tidak mempunyai MTBF (Mean Time Between Failure) setiap belasan atau puluhan jam seperti antena radar generasi sebelumnya. Kalaupun ada beberapa transmitter yang rusak, atau tidak lagi berfungsi, ini tidak akan mempengaruhi kemampuan radar AESA.
    Credit: Saab
    Seperti dalam Contoh presentasi Saab:
    Agile beam AESA radar mempunyai sudut deteksi yang jauh lebih luas,
    dapat mengikuti tracking lawan yang break formation,
    bahkan kalau terbang ke arah yang berlawanan
Kemampuan jarak deteksi / tracking radar AESA tidak akan hanya tergantung kepada kualitas transmitter, melainkan 100% tergantung kepada Source Coding untuk mengatur hasil signal processing dari radar itu sendiri. Setiap radar AESA akan membutuhkan sekurangnya lima ratus ribu baris programming line, dan code-nya itu sendiri harus spesifik untuk pesawat tempur itu sendiri. AESA radar tidak bisa sembarang dicangkok dari satu model ke model lain, tanpa integrasi source code.

Karena alasan ini, sebenarnya sulit untuk membandingkan kemampuan deteksi / tracking AESA radar dari model yang satu ke yang lain. Semisal, Raven ES-05 untuk Gripen, dan AN/APG-83 untuk F-16V Versi lokal, secara tehnis sama-sama mempunyai 1000 transmitter. Tergantung kepandaian menulis source code dan seberapa terintegrasinya radar ke komputer, ataupun airframe masing-masing model, belum tentu artinya masing-masing radar akan dapat melihat target , atau memperoleh lock dari jarak yang sama. 

Perbedaannya bisa sedikit, atau untuk yang sama sekali tidak punya pengalaman, ataupun kemampuan seperti orang Korea.... yah, KF-X dengan AESA radar buatan Elta, Israel, akan hampir mustahil bisa menandingi F-16V versi export dengan AN/APG-83.

Yang menarik disini adalah perubahan permainan antara radar yang ukurannya lebih besar, dengan radar yang ukurannya lebih kecil.

AESA radar 1500 transmitter, seperti yang dipakai F-22, dan Eurofighter Typhoon, tidak lagi memberikan keunggulan yang berarti dibanding radar 1000 transmitter F-35, F-18E/F, F-16, Rafale, dan Gripen.

Kenapa demikian?

Pertama-tama, ingat kalau jarak batas deteksi air radar hanya 400 kilometer. Lebih daripada itu, akan mulai tertutup garis batas cakrawala. Inilah kenapa kebanyakan pesawat penyusup akan selalu berusaha terbang rendah untuk memanfaatkan keterbatasan ini. Jarak jangkau AESA radar hanya akan semakin mendekati batasan natural ini, dan karenanya perbedaan jarak deteksi antara model yang 1000 element, ataupun 1500 element hanya akan semakin mengecil, seiring dengan semakin baiknya programming Source Code di belakang layar, sama seperti contoh radar PS/05 Mk4 di atas.
Credit: Saab
Contoh dari Coverage Radar Erieye:
Batasan 400 kilometer, bukan karena keterbatasan hardware,
tetapi karena bentuk permukaan bumi yang melengkung,
yang membatasi jangkauan gelombang radar
Kedua, limitasi dari jarak jangkau missile itu sendiri. Radar harus melihat target dari jarak yang lebih jauh dibanding jarak jangkau BVR missile. Dengan asumsi, misalnya, 1500 transmitter radar Captor-E Typhoon jarak jangkaunya melebihi radar 1000 transmitter di Rafale / Gripen; Typhoon akan tetap harus memasuki jarak tembak Meteor yang sama dengan Rafale / Gripen. Ini memberikan posisi teoritis yang seimbang antara kedua belah pihak. 

Di pihak lain, perkembangan tehnologi RWR juga tidak tinggal diam di tempat melihat perkembangan radar AESA.

Sekarang sudah memasuki masanya Integrated Defense Suite. Kemampuan defense suite, seperti EuroDash untuk Typhoon, SPECTRA untuk Rafale, ataupun EWS-39 untuk Gripen-E; satu-satunya yang diperlengkapi dengan GaN transmitter, kebanyakan masih dirahasiakan dari pengetahuan umum. RWR sih memang termasuk, tetapi sudah beberapa generasi lebih modern dibanding versi awal di Teen Fighters, atau Panavia Tornado. Tidak tertutup kemungkinan defense suite modern buatan US, ataupun Eropa perlahan-lahan juga mulai mengejar ekuasi yang sama, untuk bisa melihat gelombang radar AESA, yang kali ini lebih sulit terlihat dibandingkan radar PESA, ataupun pulse-doppler.
Credit: Saab
Defense Suite modern:
tidak hanya terbatas RWR untuk melihat gelombang radar lawan,
melainkan juga untuk dapat men-jamming, atau mengacaukan readings radar lawan
Di lain pihak, karena para pembuat sensor mengetahui kalau keunggulan gelombang radar AESA, yang lebih sukar terdeteksi, tetap saja akan rentan terhadap deteksi, atau jamming dari Defense Suite modern. Karena itu, F-35, ataupun Eurocanards sudah mulai mencapai target baru, dengan mengupayakan tehnologi Sensor Fusion.
Credit: Saab
Ya, secara tehnis, bahkan readings dari RWR satu Gripen,
akan dapat terlihat dalam Sensor Fusion ke Gripen lain, ataupun Alutsista lain,
yang terkoneksi dalam satu Network.

Satu lalatpun tidak akan bisa lolos,
apalagi rongsokan yang sudah kuno seperti Su-35K.
Sensor Fusion, standard baru Abad ke-21, akan memadukan deteksi readings dari AESA radar, IRST, IFF (Identification Friend, or Foe), Electronic Defense Suite, dan dari sensor feed pesawat AEW&C, ataupun pesawat tempur lain. Data readings yang terintegrasi, dalam satu presentasi jelas dalam satu layar. Kembali, ini lebih sulit untuk dilakukan daripada sekadar teori, dan versi yang lebih ideal, kemungkinan belum akan bisa tercapai sampai 10 - 20 tahun ke depan.




PENUTUP

Tantangan Abad ke-21:
Bagaimana caranya bisa melihat lawan,
tanpa bisa terlihat?
Dengan demikian, dalam 10 - 20 tahun ke depan, pertarungan elektronik yang tidak terlihat antara radar vs RWR ini mulai bersalin rupa antara Sensor Fusion vs Sensor Fusion. Tentu saja, masing-masingnya harus terus menerus mendapat upgrade secara reguler, untuk memastikan kemampuannya tetap lebih unggul dibandingkan yang lain.

Pertempuran tak terlihat antara kedua perangkat elektronik inilah yang akan selalu terjadi, dan menentukan dalam pertempuran udara Abad ke-21. Siapa yang lebih unggul dalam keduanya, akan selalu menjadi pemenang.

Dalam perbandingan pesawat tempur masa depan untuk Indonesia, kembali, perbedaannya cukup jelas:

Yah, memang sekilas kelihatannya berat sebelah, atau tidak adil. Tetapi kenyataannya, baik F-16V Block-72ID, ataupun Su-35, hanya akan tersedia dalam model.... yah, versi export downgrade

Terlepas dari penawaran akhir dari Su-35K, atau... gebrakan terakhir para perantara, masalah downgrade bukanlah sesuatu yang bisa ditawar. Russia, ataupun United States TIDAK PERNAH menjual senjata versi lokal untuk export. Sepanjang sejarah, tidak pernah bisa ada negara yang bisa mendapat pengecualian.

Topik berikutnya akan membahas tentang serba-serbi evolusi BVR missile, dari tipe SARH, dan Phoenix missile, sampai dengan Meteor, dan BVR missile di masa depan. Beberapa point sudah mulai disebut dalam topik ini, tetapi akan dibahas lebih mendetail dalam topik selanjutnya.
Credits: Saab
Satu-satunya pilihan yang memenuhi kebutuhan Indonesia,
bukan untuk memenuhi mimpi,

ATAU
pesta pora para perantara.

54 comments:

  1. Sebenernya ini pun belum terang bener apakah Su-35, F-16V ataupun Gripen tapi sebagai contoh kita nyebut tentang kasel Kilo tapi Menhan selain meresmikan KRI Nagapasa 403 sekaligus membicarakan kemungkinan penambahan 3 kasel Type 209 improved (aka Changbogo ) bukan tidak mungkin Su-35 dibatalkan guna menciptakan Network centric warfare yang selalu disebut oleh KSAU jadi tinggal F-16V atau Gripen tapi kemaren acara pameran 29 Juli 2017 kelihat promosi Lockheed Martin gencar & didukung sejumlah purnanirawan merujuk ke radar AESA, data link & NCW kita tinggal perhatikan kearah mana kita sebenarnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, kita lihat saja bagaimana.

      Kalau melihat realita sih, kelihatannya tidak akan ada pespur baru sampai tahun 2021.

      Kalau ada yg bertanya kenapa mau beli tambah lagi,

      Loh?!? Yang sudah ada saja sudah bisa dipersenjatai lengkap, atau belum?

      Delete
    2. Tapi pun sebenernya semua masih abu abu. Kayak penandatanganan Letter of Intention untuk Type-214 AIP dari Golcuk-TKMS sama potensi kerja sama Indonesia - Turki berdasarkan kunjungan pre-pertemuan G-20 2017. Terus kunjungan Menhan ke Stockholm Mei 2017 diikuti beberapa perwira TNI-AU & Kalangan insinyur ke Linkopping. Indonesia menurut saya perlu perubahan generasi buat ngegganti pola pikir tapi bakal ketinggalan jauh kalau kayak gitu. Saya justru setuju sekali kalau Renstra-II ini segera diisi pespur2 yang disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia, berikut pesawat AEWC & data link. Merujuk akhir2 ini KSAU sering ke Thailand guna mempelajari NCW & latihan udara & laut dengan Thailand saya cuma mikir Gripen atau F-16V tapi entah kenapa pola pikir kita masih abad 20.

      Delete
    3. Pola pikir kita masih seperti tahun 1950-an.

      Sejak 2003 sampai sekarang, prioritasnya selalu menambah jumlah alutsista.... tapi eh, senjata saja selalu kelupaan, atau jumlah yg dibeli serba minim.

      Ini saja sudah kacau, apalagi membicarakan Networking, atau AEW&C yang "bukan" pespur.

      Kerjasama industrial... yah, selalu mendapat kursi belakang, krn lebih baik beli import mentah. Sebodo amat industri lokal!

      Kelihatannya sih kalau pola pikir kita tidak bisa berubah, yah, lebih baik kita masih memakai F-51D Mustang.

      Cukup gahar tanpa perlu sensor fusion, AAM, AAM, smart munition, atau Networking.
      :)

      Delete
  2. Min, sebenernya bagaimana pola jamming sinyal pada radar atau missile lawan? Apakah dengan membeda fasekan gelombangnya?
    Jadi pada AESA radar, masing2 transmitter bisa mengeluarkan frekuensi yg berbeda2?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Signal jamming untuk radar, atau seeker missile

      Ini bisa dilakukan dgn berbagai macam cara.

      Misalnya, Jammer bisa memancarkan gelombang interference untuk mengacaukan refleksi dari gelombang radar pancaran lawan.

      Akibatnya layar radar lawan menjadi bingung. Hanya bisa melihat bayangan2, dan tidak bisa mengunci target.

      ## Patut diingat kalau AMRAAM, dan Meteor mempunyai kemampuan "homing-on-jamming" -- jadi missile justru bisa menghantam arah sumber jamming itu sendiri.


      ## AESA radar
      Ya, kemampuannya secara detail tidak pernah dideskripsikan secara publik.

      Tapi ya, masing2 transmitter radar AESA dapat beroperasi dalam frequency yg berbeda, dan kemudian berganti2 frequency.

      Artikel ini baru sekilas membahas AESA radar.

      Sy lupa menambahkan kalau kabarnya AESA-pun bisa berfungsi sebagai jamming signal, atau dapat beroperasi secara pasif.
      Mencari, dan mendengarkan gelombang radar pespur lawan untuk mengalokasikan target --- hampir sama seperti cara kerja Defense Suite modern.

      Delete
    2. Untuk IRST radar kemampuan jangakaunya berapa min? Terutama pada eurocanard. Dan apakah tidak mengeluarkan emisi jg?

      Delete
    3. Maaf, belum reply ini sebelumnya.

      Pertama2, tidak.
      Infra Red signal tidak mempunyai emisi apapun; tidak bisa terlihat lawan.

      Perusahaan2 Eropa sekarang ini memimpin dalam pengembangan tehnologi IRST, krn US sendiri sudah lama seperti "lepas tangan".

      F-22 saja tidak membawa IRST, sedangkan F-35 EOTS hanya equivalent dari Litening III pod yg lebih optimal untuk melihat target di darat.

      Selex IRST untuk Typhoon/Gripen, atau Thales OLS untuk Rafale kira2 kemampuan kasarnya sebanding:

      90 km melihat target dari depan;
      145 km dari belakang

      Positive Identification 40 km.

      Akan tetapi....
      ... ingat, tidak seperti IRST Ruski, IRST Eurocanards adalah bagian dari Sensor Fusion.

      Ini artinya, IRST Eurocanards hanya berfungsi sebagai salah satu sensor pasif, yg akan menkorelasi data readings dari radar AESA, Defense Suite, dan tentu saja IFF signal utk identifikasi.

      Belum tentu Eurocanards perlu selalu mengandalkan IRST utk memegang peranan prasarana utama deteksi, ataupun identifikasi.

      Kemungkinan IRST bisa saja hanya mengkonfirmasi deteksi dari semua sensor lain.

      Kemungkinan dngn Sensor Fusion, Eurocanards akan bisa memastikan 70 - 80 km positive target locking head-on, atau 150 km dari belakang.

      Delete
  3. Min nasib satelit indonesia gimana? Jika indonesia jd beli buat satelit plus gripen bisa berkolaborasi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masalah satelit udah di-approve untuk 3 satelit militer dari Airbus tahun 2019

      Delete
    2. Asal standar NATO & source code dibuka disertai data link. Komunikasi AEWC, pespur, radar darat, kapal fregat dan SAM bisa difasilitasi satelit

      Delete
    3. Betul,

      Satelit militer di Indonesia, sbnrnya juga bisa dimanfaatkan sebagai koneksi national networking di masa mendatang.

      Ini bisa dilakukan kalau kita memulai langkah kerjasama lebih mendalam dgn Saab, kemungkinan sudah fase ke-2 atau ke-3, setelah protocol utk National Networking itu sendiri selesai di-finalisasi.

      Delete
  4. apakah mungkin kerja sama yg udah di teken dgn swedia tanpa beli Gripen .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kerjasama kecil2an sih sebenarnya sudah ada beberapa proyek.

      Misalnya,
      Saab sudah mempunyai paket kerjasama membangun sistem pertahanan SHORAD berbasiskan RBS-70 dengan Pt Pindad.

      Link: Saab RBS-70 Indonesia

      KRI Klewang, juga sebenarnya dibangun PT Lundin, dengan bantuan kerjasama Saab.

      Link: Navy Recognition

      Delete
    2. Kerjasama yang ditawarkan Saab seperti dalam IndoDefence 2016 yang lalu sebenarnya dalam paket yang sifatnya lebih luas:

      Membangun Sistem Pertahanan Udara terpadu, dan terkoneksi dalam National Network

      Yah, kalau tidak memakai Gripen, proyek yang sifatnya lebih mendalam seperti ini, yah tidak akan ada harapan bisa jalan.
      Alasannya sederhana:

      ## Pertama-tama, semua pespur TNI-AU itu Model Export Downgrade; dengan dua jenis utama yg tidak compatible, tanpa Networking Terminal, tanpa military-grade IFF, dan tidak diperbolehkan untuk dimodifikasi tanpa ijin penjual.

      Ucapkan selamat tinggal, kalau berpikir mau pasang Networking Nasional ke Sukhoi, F-16, atau bahkan KF-X (bentar lagi juga ambruk).

      ## Faktor Kedua: Gripen adalah platform yang paling bisa di-customize menurut kebutuhan Indonesia, bukan apa yang sudah didikte penjual.

      Ini tidak hanya terbatas di Networking saja. Apa yang kita mau pasang, atau ujicoba di kemudian hari, bebas!

      ## Terakhir, ingat kalau Gripen adalah satu2nya model yang dari awal sudah dirancang sebagai Networked Fighter.

      National Networking Indonesia, kemungkinan besar protocolnya akan sama sekali berbeda dengan Link-16 NATO, tetapi mungkin mempunyai backdoor compatibility supaya bisa beroperasi bersama negara-negara tetangga yg berbasiskan Link-16.

      Dengan National Network, Gripen akan dapat compatible mengambil sensor feed, tidak hanya dari Erieye AEW&C, tetapi juga semua fasilitas radar di darat, ataupun di kapal-kapal TNI-AL.

      Inilah resep paling murah untuk mengoperasikan pesawat stealth, yg akan bisa menyergap lawan manapun, dari arah yg tak terduga, tanpa bisa terdeteksi.

      Delete
  5. Oh ya min, sebenernya BVR missile seperti meteor itu dipandu oleh apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meteor, atau AMRAAM keduanya mempunyai radar-nya sendiri (Active Guidance).

      Sering disebut Fire-and-Forget; tetapi pada prakteknya, tetap membutuhkan panduan dari radar pesawat induk, yang dapat melihat dari jarak yang lebih jauh.

      Panduan disini, dalam bentuk dual-datalink antara Meteor (dan AMRAAM-D) dengan pesawat induk, atau sekarang... bisa juga dari pesawat lain, yang mempunyai radar locking ke target.

      Pesawat pemandu akan mengirim mid-course update link, sedangkan Meteor akan mengirim kembali data trajectory, telemetry, dan heading kembali -- untuk meningkatkan akurasi.

      Dalam jarak tertentu, setelah active seeker (radar) Meteor sudah bisa mengunci target sendiri, baru menjadi fire-and-forget.

      Delete
  6. Saya dengar dengar changbogo clas kri nagapasa udah berlayar menuju indonesia
    Kri nagapasa itu mampu meluncurkan missile atau rudal ndak sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa. Improved Type-209 aka Changbogo Class bisa angkut misil anti kapal UGM-84 Harpoon yang diluncurkan lewat tube torpedo tapi itu mungkin belum urgent lagian kita kan udah bisa lisensi sendiri torpedo SUT 533mm sama akuisisi ranjau dasar laut

      Delete
    2. Kemungkinan belum tentu Changbogo versi Indonesia bisa mengoperasikan UGM-84 Harpoon.

      Armada laut TNI-AL semuanya sudah mengganti Harpoon launcher dengan Exocet, atau missile abal-abal buatan PRC.

      Dalam 20 tahun terakhir, kelihatannya pemerintah US sudah sungkan untuk menawarkan Harpoon, baik versi SSM, atau ASM ke Indonesia.

      Bisa jadi kemampuannya ada, tetapi kalau missilenya tidak bisa beli, ya sama saja.

      Delete
  7. Min, si Trump kira" benar akan berperang dgn Korut?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemungkinan sih kelihatannya terlalu kecil.

      Korut sudah sering rhetorisme mau mengancam semuanya puluhan tahun.

      Dalam konflik terbuka, yah, kemungkinan pada babak awal memang akan banyak korban jiwa, terutama di Korsel, tetapi meragukan kalau Korut masih bisa mempertahankan konflik jangka panjang seperti di tahun 1950-an. Makanan saja kurang.

      Di lain pihak, baik US, ataupun PRC juga sudah sungkan untuk mengulangi Perang Korea, hanya dalam nama rhetorisme kosong.

      Delete
  8. Min ngomong ngomong tentang KRI klewang ada yg tau kabarnya gak?
    Saya cb cari ga ada kabar? Apa benar d bantu saab?

    ReplyDelete
  9. http://militermeter.com/kapal-pengganti-kri-klewang-akan-diserahkan-tahun-2017/

    Cb baca min SAAB mengundurkan diri...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ganti KSAL ganti kebijakan. Sekarang kita lebih fokus ke PKR-10514, KCR-40 & 60, PC-40 & PC-60 juga kapal2 logistik, transport dan replenishment.

      Delete
    2. Mungkin kalau seharusnya 4 Klewang Class besutan SAAB & Lundin North Sea Boat jalan dan mungkin bisa nambah sampai 10 - 12 kita malah dapat progress besar dalam CMS, radar, senjata dan misil anti kapal dari SAAB & mungkin KCR & PC kita bakal beda dengan yang sekarang. Sekarang eranya kapal2 kecil - kecil tapi senjata & spek efektif makanya kita sering liat berita2 tentang corvette, missile boat ataupun light frigate

      Delete
    3. Tapi menurut info saab menundurkan diri bung thomas

      Delete
    4. Iya SAAB undur diri karena perggantian kebijakan KSAL baru

      Delete
    5. Proyek KRI Klewang II ini boleh dibilang status masih mengambang.

      Seperti sudah disebut bung Thomas; kelihatannya TNI-AL sekarang sudah kurang antusias dalam mendukung program ini.

      Komitmen Saab dalam proyek ini akan tergantung ke komitmen kita sendiri, dan akan tergantung bagaimana persyaratan kontrak yang sudah di tandatangani. Tidak mengherankan kalau mereka memutuskan untuk tidak terlibat terlebih dahulu dalam keadaan sekarang.

      Delete
  10. https://lancercell.com/2016/08/16/sampai-mana-progres-klewang-ii-indonesia/

    Blog ini menyampaikan klewang 2 hanya d garap 2 negara.. indo dan us

    ReplyDelete
    Replies
    1. KRI Klewang hanya diproduksi di Indonesia.

      Laporan ini sebenarnya menunjuk bentuk kapal trimaran untuk fungsi militer; memang hanya baru dipraktekkan di United States dalam LCS Independence-class (ini juga program yg salah konsep), atau di Indonesia dalam proyek KRI Klewang.

      Link Wikipedia: Trimaran in Naval Ships

      Delete
  11. dalam pertempuran udara biasanya radar AESA dinyalakan berapa lama bung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jawabannya tergantung kebutuhan strategis, bukan krn hambatan tehnis.

      AESA radar spt Raven ES-05, atau AN/APG-83, sbnrnya sudah memasuki generasi ketiga sejak AN/APG-77. Reliabilitas secara tehnis sudah jauh lebih terjamin terutama dibanding radar PESA, atau pulse-doppler.

      Empat Gripen-E yg terkoneksi dalam TIDLS, misalnya, bisa saja melakukan area sweeping dengan Raven ES AESA radar mereka.

      Sensor sharing membuat keempatnya seperti bisa berfungsi sbg mini-AWACS.

      Tetapi dalam pertempuran udara, bukanlah ide yg baik utk terus-menerus menyalakan radar secara aktif, walaupun tipenya AESA.

      Pihak yg lebih terlatih, dan lebih siap, akan selalu bisa memaksa pihak lawan utk menyalakan radarnya terlebih dahulu.

      Delete
  12. Indonesia punya Missile ASM macam C-705, C-802, Yakhont, Exocet, Harpoon, Dan RBS-15.

    Dari Semua missile Diatas Yg dimiliki TNI AL. TNI AL hobi Dengan Exocet. Walau Rudal Yakhont Jaraknya Jauh.

    Utk RBS 15. Missilenya bisa Diluncurkan Dari Moblie Launcher

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Semua missile buatan PRC (C-705, C-802), ataupun Russia (Yakhont), kalaupun harganya lebih murah, sebenarnya lagi2 hanya barang Versi Export Downgrade.

      Seperti biasa, spesifikasinya sudah sengaja dikurang2i dibanding yg versi lokal.

      Kembali, kemungkinannya terlalu kecil kalau kemampuannya akan dapat bisa bekerja sepenuhnya kalau menghadapi lawan yang kemampuannya sudah jauh lebih mapan dibanding... misalnya, hanya bajak laut, yang membawa senapan abal-abal.

      Sudah beli, resiko tanggung sendiri.

      ## Exocet missile skrg adalah perlengkapan standard untuk Sigma-class Korvet (Diponegoro, dan Martadinata-class).

      Yang menjadi masalah -- Exocet hanya dapat dioperasikan dari pesawat tempur buatan Perancis.
      Kita lihat kenapa sampai sekarang Indonesia masih terus menuai kerugian akibat keputusan politik untuk memilih F-16 di tahun 1986.

      ## Harpoon missile; pemerintah US sudah tidak pernah lagi menawarkan Harpoon missile sejak tahun 1990-an.

      ## RBS-15 -- seperti anda sebut; tersedia dalam launcher truk di darat, bisa dibawa KCR, ataupun kapal korvet, dan tentu saja versi RBS-15F dapat dioperasikan dari Gripen.

      Kenapa kita membutuhkan Gripen - RBS-15?
      Karena ini sebenarnya akan menutup lubang pertahanan yg sekarang masih menganga lebar.

      Masakan TNI-AU yang tugasnya menjaga negara kepulauan, belum ada pengalaman, atau belum mempunyai stock Anti-Ship Missile sampai sekarang?

      Delete
  13. Lagi-lagi terjadi pembelian SU-35 dgn teh, kopi dan kelapa sawit sebagai alat tukar. Atas dasar pertimbangan apa Menhan menambahkan pesawat tersebut? Bagaimana update kontrak dengan Gripen sekarang ini ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, bung Rizdi.

      Sudah saatnya kita melemparkan pertanyaan2 kritis terhadap keputusan, ataupun tindak-tanduk para pejabat secara umum, yg kelihatannya terlalu berpihak ke Su-35.

      Padahal, kita tahu sebagai fakta, kalau ternyata....

      ## Semua Sukhoi (versi manapun), hanya tersedia dalam Versi Export Downgrade.

      Persenjataan Su-35K pun, sebenarnya sama persis dengan apa yg sudah tersedia untuk Su-27SKM, dan Su-30MK2: Missile R-27 kuno, RVV-AE, atau R-73E --- kesemuanya missile versi export downgrade.

      Meragukan bahkan kalau kemampuan kill Su-35 dengan RVV-AE, akan jauh lebih baik dibandingkan Su-27SKM dengan RVV-AE.

      ## Su-35 dari pertama diproduksi saja sudah terlalu kuno secara tehnologi.

      ## Su-35 gampang rusak juga sudah pasti, dan tidak akan bisa di-upgrade, krn selama 70 tahun sejarah, Ruski tidak punya kebiasaan upgrade reguler seperti negara2 Barat.

      ## Biaya operasional mahal bukan berarti efek gentar gahar.
      Biaya operasional mahal, berarti maintenance sulit, dan jumlah jam terbang juga sudah pasti berkurang.

      Pilot Gripen, atau F-16 akan dapat menabung sekurangnya 10x lipat lebih banyak pengalaman latihan dibanding pilot Sukhoi.
      Inilah salah satu faktor penentu kemenangan di udara.

      ## Transaksi dengan barter..... ini akan berpotensi merugikan antara US$500 juta, sampai dengan US$1 milyar.

      Salah satu alasan kenapa uang diciptakan itu justu sebagai alat tukar yang sah, yang gampang dinilai harganya.

      Dengan memilih transaksi barter krn kita tidak punya uang; si penjual akan bebas mengetok harga yang mereka maui.
      Tentu saja, harga per kg-nya akan diketok jauh dibawah harga pasar.

      ## Terakhir, kita tahu kalau diantara F-16, Gripen, dan rongsokan Sukhoi; pilihan terakhir inilah satu2nya yang transaksinya harus lewat perantara.

      Mana ada G-to-G contract dengan Russia?

      Kalau ada yg bilang bisa, kita bisa naik banding ke Dekrit Presiden Russia dari tahun 2000, yg mengharuskan Rosoboronexport sebagai satu-satunya agen sales untuk alutsista buatan Russia.

      Sepanjang sejarah transaksi alutsista dunia, tentu saja kita sudah mengetahui fakta berikut:
      Agen perantara tentu saja akan rajin membayar "kickback" (komisi) transaksi ke pejabat lokal.

      Delete
    2. Btw, terlepas dari semua gosip yg sudah ricuh sejak 2016, katanya "pengganti F-5E sudah ditentukan", kalau melihat dari realita keadaan ekonomi yg sekarang, yg dipadukan dngn baru terpergoknya sistem akuisisi berantakan post-AW101;

      Menurut sy, kemungkinan besar kita tidak akan menutup kontrak pesawat tempur baru sampai sekurangnya tahun 2021.

      Kenapa tahun 2021?
      Pada saat itu, kebutuhannya akan lebih mendesak drpd skrg, karena BAe Hawk-209 akhirnya akan berkurang ke hanya 1 Skuadron, dari dua yg skrg, sedangkan Sukhoi di Sku-11 semuanya sudah akan mangkrak minta "perbaikan mendalam", atau memang sudah uzur, dan siap masuk kubur.

      Di tahun 2021, kemungkinan F-16 Block-25+ juga sudah dipersenjatai lebih berat dibanding sekarang, sedangkan....

      Proyek KF-X akhirnya sudah mencium tanah, atau kita akan menarik mundur dr proyek ini.

      Btw, kejaksaan umum di Korea yg menyelidiki kasus korupsi di KAI, skrg sudah memperluas penyidikan mereka ke proyek KF-X.

      Waktu yg akhirnya akan menyelesaikan kebanyakan problem njelimet akuisisi Indonesia dewasa ini dgn sendirinya.

      ....sesuatu kalau tidak dibuat dengan dasar yg benar / solid, ya dgn sendirinya semua akan hangus termakan sendiri oleh waktu.

      Delete
  14. Radar radar darat yg dimiliki TNI, apakah bisa saling terintegrasi, memberi informasi, mengingatkan satu sama lain klo ada pelanggaran, ancaman musuh dlsb dari sabang-merauke? Mengingat beda beda merk dari negara produsen, yg terbaru ktanya dari denmark jangkauannya 550 km.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, inilah akibat prosedur asal beli, dalam nama diversifikasi supplier.

      Paling tidak, kelihatannya hampir semua radar darat TNI masih produksi Barat, dan bukan produksi PRC / Russia, yang tidak akan compatible secara operasional.

      Apakah bisa di-Network?
      Jawabannya, yah, seharusnya bisa. Back-end hardware untuk radar di darat masih lebih mudah dikutak-katik, dibanding hardware pesawat tempur.

      Hanya saja, yah, lagi2 kita akan membayar konsekusensi dari diversifikasi semacam ini: Biayanya akan lebih mahal.

      ## Masalah lain: Kelihatannya semua fasilitas radar kita masih terlau rentan jamming / dihancurkan dalam pukulan pertama konflik, tanpa ada backup strategis yang berarti.

      Sy pernah menuliskan, seperti dalam artikel Skenario Pertahanan Natuna tempo hari; seharusnya ada multiple channel radar untuk saling mem-back-up.

      Kalaupun satu, atau dua pemancar radar terhantam, akan selalu ada cadangannya untuk memastikan tahan banting dalam konflik.

      Delete
    2. Wah, militer Indonesia gimana sih, kok bisa begitu

      Delete
  15. Istilah rentan jaming berarti radar darat terlihat dari pespur kemudian dihancurkan, klo anti jaming, radar darat tdk terlihat dari pespur, kemudian pespurnya ditembak, gitu bung DR....

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Rentan jamming, bukan berarti radarnya hanya gampang dihancurkan,
      melainkan bahkan sebelum bom, atau missile pertama jatuh, semua sistem radar kita sudah bisa dibutakan lawan.

      Cara kerja radar itu spt diatas, menghitung selang waktu pantulan dari gelombang yg dipancarkan. Jamming dapat memberikan misalnya, ratusan ping ke pemancar radar, maka radar yg di-jamming akan buta.

      Krn kita sibuk asal beli, ya tidak pernah ada upaya utk membangun serius sistem radar yg lebih kebal, yg terkoneksi network, dan kembali, harus mempunyai multiple back-up.

      ## Dalam jaringan sistem pertahanan yg kebal jamming, pertama2 kita tidak boleh hanya semata tergantung kpd beberapa radar Satrad yg letaknya fixed di setiap daerah.

      Harus selalu ada cadangan, misalnya pemancar sekunder, atau pemancar mobile.
      Kapal2 TNI-AL juga dapat dimanfaatkan sebagai pemancar radar pembantu.

      Kedua, kualitas radar itu sendiri juga harus ditingkatkan.
      Misalnya, memasang radar tipe PESA, atau tipe AESA di darat, sebagai lapisan backup.
      IMHO, pilihan yg lebih baik dalam jangka panjang adalah memasang jaringan radar pasif, yg sama sekali tidak memancarkan gelombang radar (kita akan detail bahas lain waktu)

      Ketiga, semuanya harus terkoneksi dalam satu Network National, yg memang sudah di-desain kebal jamming.

      Satu, atau dua fasilitas radar kalau dikacaukan jamming, atau dihancurkan lawan, seharusnya menjadi tidak berarti.

      Mabes TNI di Jakarta-pun seharusnya tetap bisa mendapat coverage real time dari apa yg terjadi.

      Seperti kita lihat, pembangunan sistem semacam ini butuh investasi finansial, dan kerja keras yg berat.
      Tetapi kalau tidak, yah, semua alutsista yg skrg ada sih bisa dibuat mubazir dalam waktu kurang dari sehari.

      Delete
  16. Saya sih cuek aja kalau Indonesia menciptakan suatu kesalahan besar tapi yang sesalkan ketika Australia, Singapura & Thailand sudah ke chapter selanjutnya kita masih berpikir primitif. Ini bukan zaman Su-27, Su-30 atau Su-35 vs F-15 atau F-35 tapi skenario seandainya Sukhoi ngelawaan totalitas network centric warfare RAAF dari F-35, E/F-18, E/G-18 Growler, Pesawat AEWC Boeing 737 Wedgetail, Radar Jendalee, NASAMS-2 & Hobart Class AAW destroyer. Udah lah pembantaian Sukhoi kalau gitu ceritanya. Pola pikir sebagian besar orang Indonesia masih terlalu primitif & analog, ini bukan soal pespur vs pespur tapi pespur vs totalitas sistem pertempuran modern. Su-35 vs Sistem RAAF atau RSAF, meh mimpi fantasi belaka kalau mereka gentar dengan kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul,
      saat ini kelemahan terbesar kita adalah terlalu terobsesi membeli alutsista A, dan B, terus menerus....

      Tetapi tidak pernah ada rencana membangun sistem.

      Wedgetail, dan baru2 ini, G550 untuk fungsi Sigint, dibeli Australia sebagai bagian dari rencana pembangunan AU modern yg berkemampuan lengkap, yg lebih mandiri dari support langsung dari United States.

      Renstra-nya sudah digariskan secara jelas dari puluhan tahun yg lampau, dan kelihatan dapat beradaptasi dengan perkembangan jaman.

      Pesawat tempur, tank, atau kapal selam... Yah, kemampuannya akan nihil tanpa sistem, training, dan renstra yang jelas.

      Membeli alutsista tanpa senjata, efek gentarnya sudah "terasa".
      Hanya di Indonesia.

      Delete
  17. Wahai, para Sukhoi fanboyz hoaxer!

    Bangunlah dari mimpi!

    Su-27SK dari tahun 2013, TIDAK AKAN BISA DI-UPGRADE ke versi SKM!

    Silahkan lihat dulu foto Su-27SKM, dan lihat kembali foto Su-27SK!

    Sudah melihat bedanya?
    Versi SK tidak mempunyai refueling probe, krn dasarnya adalah versi downgrade dari Su-27S tahun 1980-an.

    Semua instrumen cockpit masih analog... Ini mau diganti kemlayar LCD seperti SKM saja sudah perlu perombakan total.

    Lebih lanjut, radarnya juga berbeda.
    Versi downgrade dari N001 versi original, bukan versi N001P, atau VEP.

    "Kemampuan equivalent dengan Su-35K"?
    :D

    Ini kebohongan yg lebih menggelikan lagi.
    Komputer, radar, airframe, IRST, ECM, mesin, dan hampir segala sesuatunya berbeda jauh.

    Segala sesuatu yg diperuntukkan ke Su-35, tidak bisa dipasang kembali ke Su-27 tahun 1980an,
    Sudah tidak compatible.

    Sekali lagi, jangan terlalu banyak bermimpi!
    AU Russia sendiri tidak memakai Su-27SK, SKM, atau Su-30MK, dan MK2.
    Keempat model ini adalah Versi Export Downgrade Kommercheskiy, dimana segala sesuatunya sudah dikurang2i.

    Silahkan merayakan kembalinya TS-2701, dan -2702!
    Atau bagaimana supplier yg seharusnya sudah pengalaman maintenance Sukhoi, ternyata butuh waktu 20 bulan untuk..... sebenarnya ini hanya praktek menginjak2 kedaulatan Indonesia.

    Belajarlah untuk bertobat!

    Di blog ini, kita tidak membicarakan siapa yg menang, atau siapa yg kalah, melainkan Kebutuhan Pertahanan Udara Indonesia, yang mandiri, dan berdaulat.

    Jangan terlalu banyak main game!

    Kedaulatan, tidak hanya tergantung kepada jenis pesawat tempur.
    Ini hanya 20% dari efek gentar, dan itu juga kalau bisa dipersenjatai dengan missile non-downgrade.

    Kita membicarakan bagaimana membangun industri pertahanan lokal, sesuai amanat UU no.16/2012, bukan untuk dipermainkan oleh para perantara.

    Kita menbicarakan pembangunan sistem pertahanan udara yg lengkap, terkoneksi Network, siap tempur, memiliki kemampuan Sigint, ECM, ECCM, dan memenuhi persyaratan latihan udara yg sebanding dengan standard NATO!

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha saya sebetulnya kasian sama shukoi fans dari 2014 kena php terus sampe2 jadinya pada stres jaman udah berubah yg jadi presiden bukan lagi bapa jendral yg kebijakannya jangka pendek tapi seorang pengusaha yg kebijakannya hampir seluruhnya adalah kebijakan jangka panjang

      mau kontrak su -35 tembus? selama presiden masih bilang kontrak alutista harus g2g dan wajib tot silahkan lanjutkan bermimpi

      Delete
    2. Yang tidak dimengerti banyak orang,
      Industri militer Russia dewasa ini sudah luar biasa korup, sebagian besar juga sudah bangkrut post-Soviet.

      Di jaman Soviet kembali, setiap pabrik itu wajib terus menerima order dari pemerintah Komunis di Moscow. Setelah komunisme Soviet ambruk, pabrik2 ini harus bersaing habis2an untuk memperebutkan jumlah order yg skrg sudah menyusut.

      Yah, dari sinilah korupsi merebak, dan susah dikendalikan.

      BUMN Rostec dibangun dari remah2 sisa2 industri ex-Soviet untuk koordinator,
      Korupsi sih tetap jalan terus, dan sebagai perusahaan perseroan, prioritas Rostec adalah menarik laba semaksimal mungkin.

      ## Inilah kenapa Rostec perantara, berbeda dengan DSCA badan sipil akuisisi export untuk pemerintah United States, atau FMV badan sipil akuisisi pemerintah Swedia.

      Kedua organisasi ini dibentuk justru untuk melenyapkan adanya praktek korupsi transaksi alutsista, yg akan mencoreng nama pemerintah mereka.

      Seperti bisa dilihat di India, kalo Russia dengan Rostec/Rosboron sih tidak akan mempunyai kesadaran yg sama.
      Yang lebih penting adalah profit yg maksimal.

      Kenapa meminta dibayar Rp20 ribu, kalau kita bisa kasih charge Rp 1 juta?

      Delete
  18. Dulu Sukhoi RI pernah di lock, bisa dijelaskan bung....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kejadian ini tidak pernah jelas bagaimana.
      Jadi kita perlu sedikit spekulasi disini.

      Kemungkinan sih, tidak ada pesawat "lawan" yang mengunci Sukhoi.

      ## Mungkin Australia?
      Er, tindakan semacam ini hanya semacam tindakan provokatif yg tidak perlu. Meragukan kalau mereka mencoba mengajak ribut. Untuk apa?
      Australia tidak pernah mengklaim sejengkalpun wilayah NKRI kok.

      Lagipula, di masa itu, KC-30MRTT, ataupun F-18F Australia belum siap tempur, atau menyatakan IOC.
      Kejadian ini sendiri kelihatannya terjadi dekat dari Makassar.
      Diluar jarak jangkau F-18A Australia.

      ## Kemungkinan besar, ini hanya masalah tehnis.
      Bukan radar locking, tapi RWR Sukhoi mungkin mendeteksi gelombang radar pesawat lain.

      Kejadian ini sendiri sbnrnya malah menggarisbawahi satu kelemahan lagi.
      Kelihatannya RWR versi downgrade Sukhoi ini, tidak bisa mengalokasikan sumber pemancar, seperti RWR untuk F-16, seperti dalam contoh di artikel.

      Eh, malah hanya memberi warning, atau false reading, seperti RWR tahun 1970-an yg masih prematur.

      Tentu saja, dalam pertempuran udara konsekuensinya akan luar biasa berat.
      Pesawat tempur lawan bebas mengunci Sukhoi dari luar jarak deteksi radar N001VEP versi downgrade, tanpa perlu khawatir.

      Pilot Sukhoi tidak akan tahu dari arah mana serangan BVR missile akan terjadi.

      Contoh dari Very poor situational awareness, yg sangat menyedihkan.

      Kemudian kita juga sudah tahu, kalau Sukhoi yg terbang dari Makassar saja, tidak becus mencari pesawat Cessna baling2 bambu sampai lebih dari 2 jam.
      Bahkan sampai mendekati Manado.

      Bukan main memalukannya.

      Delete
  19. Sukhoi Rasa Kopi! http://nasional.kompas.com/read/2017/08/10/06520081/sukhoi-rasa-kopi-

    Apakah mimin sudah baca artikel ini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah.

      Secara faktual saja sbnrya ada bbrp kesalahan.
      Misalnya, Su-35 yg skrg bukan mengudara pertama kali 1988.

      Ini hanya demonstration model dgn front canard, yg akan menjadi basis dari cikal bakal keluarga Su-30SM / MKI produksi Irkut.
      Sama sekali berbeda dngn Su-35 model skrg.

      Model yg skrg baru memulai development tahun 2000-an didorong dari pabrik Knaapo, justru untuk membuat produk saingan dari Su-canard buatan Irkut.

      Komputer, radar, mesin, airframe, ECM, dan semua paku-nya berbeda dengan produk Sukhoi canard Irkut, dan sbnrnya, seperti kebiasaan industri Ruski, sama sekali tidak compatible.
      Misalnya, Su-30SM tidak bisa menghasilkan cukup banyak power generation utk Irbis-E 20kW.

      Lebih lanjut, artikel ini membicarakan soal kesiapan tempur.... Eh, tapi sepertinya mereka-reka sisanya re Sukhoi.

      Seluruh dunia skrg sudah tahu, kesiapan tempur keluarga Sukhoi Flanker (versi manapun) akan selalu rendah, krn terlalu high maintenance.

      Spare part-nya juga cenderung gampang rusak prematur, krn seperti diungkapkan orang2 India (yg malah disalahkan balik "nggak becus ngurus Sukhoi"), quality control industri Ruski itu terlalu rendah.

      Mesin AL-31F saja service life-nya hanya 1/8 mesin buatan Barat, 1,500 jam.
      Pada prakteknya, 500 - 700 jam saja bisa sudah hancur sendiri.

      Mesin AL41F1 untuk Su-35, yang kembali "katanya" tahan 4,000 jam?
      Resiko tanggung sendiri.
      kenyataanya NPO Saturn belum pernah membuat mesin, yg hanya derivatif dari keluarga AL-31F yg tahan banting lebih dari 1,000 jam service life.

      Terakhir, seperti biasa tipikial artikel pro-Su-35;
      Tidak merasa perlu untuk membahas keuntungan baik secara industrial, ataupun strategis untuk kemampuan lokal

      Memang kasihan, kelihatannya memang lebih baik PTDI dibubarkan saja.

      Delete
  20. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3593372/ri-mau-barter-karet-sampai-kopi-dengan-pesawat-sukhoi

    ini jelas2 bukan g2g kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan.

      Rostec adalah agen perantara resmi, yg menghalalkan segala cara.

      Sy akan menjawab lebih jelas dalam topik berikutnya.

      Delete