Wednesday, August 16, 2017

Apakah keuntungan Nasional dari pembelian Su-35?


Pertanyaan ini adalah hak rakyat.

Semenjak dari 5 tahun yang lalu, sampai sekarang, sudah terlalu banyak mendengar seruan "Kita harus membeli Sukhoi!" yang bergema berulang-ulang di media massa, seolah-olah semuanya sudah bersalin rupa menjadi agen sales untuk Rosoboronexport.

Tetapi semenjak 5 tahun yang lalu sampai sekarang, kecuali untuk memenuhi keinginan spesifik, kita belum pernah mendengar jawaban apapun dari pertanyaan seperti judul artikel:

Apakah keuntungan Nasional  yang bisa didapat dari mengakuisisi Su-35K Model downgrade?

Produsen pesawat tempur manapun, seperti dalam kompetisi di India, Switzerland, dan di Brazil, seharusnya terlebih dahulu dapat membuktikan seberapa besar keuntungan yang dapat diserap secara lokal, bahkan sebelum bisa membuktikan kemampuan tempur barang yang mereka jual.



Infografis Sederhana: Memahami logika rencana akusisi Su-35K? 

Sebelum terlalu bersemangat "Su-35 model downgrade akan menjaga langit Indonesia", perhatikan kembali beberapa infografis berikut.

Pertama-tama, mari kita melihat skema barter yang baru saja diiklankan di media massa: 

Yah, bukankah skema pembelian Su-35 memang seperti meminta Kemendag untuk mensubsidi rencana akuisisi dari Kemenhan? 

Seperti sudah dibahas dalam topik sebelumnya, harga tonnase transaksi sudah pasti akan bisa di ketok. Untuk penjelasan yang lebih sederhana, mari kita melihatnya dari sudut pandang si BUMN Rostec:


Demikianlah penjelasan kenapa sudah pasti harga tonnase barter akan HARUS di ketok, dan betapa merugikannya ke Indonesia.

Kemudian, mari kita menilik ulang sejarah Sku-11 dengan Sukhoi sejak tahun 2003.

Kalau Su-27/30 ini hasil produksi PTDI,
sudah pasti daftar komplainnya segudang....

Tapi sejauh ini tidak ada keluhan untuk operasi Sku-11,
Kenapa yah?
.Menarik, bukan?

Semua informasi di atas adalah F A K T A, yang sengaja tidak mau disorot, dalam rangka mempersiapkan "imbal dagang (rugi)" Su-35 model downgrade. 
  • Sejauh ini sudah genap 6 unit Sukhoi yang "kaput" sebelum 5 tahun operasional, dan kemudian akan harus dipaksa "perbaikan mendalam".
  • Cockpit Su-27SK, seperti TS-2701 & 2702,
    penuh analog dials dari peninggalan tahun 1980-an
    (Gambar: Wikimedia)

    Menurut pilot NATO, membutuhkan tangan octopus (delapan tangan)
    untuk bisa mengerjakan segala sesuatu di pesawat Russia,

    Dalam cockpit F-16 C/D,
    hanya perlu memencet tombol
  • Jangan terlalu gembira TS-2701, dan 2702 baru pulang! Mereka sudah genap memenuhi 20 bulan "mudik" tanpa alasan yang jelas apa saja yang sudah diperbaiki. Tentu saja, model Su-27SK, secara tehnologi sudah terlalu kadaluarsa bahkan sejak pertama dibeli.
    Sejak 9-Desember-2015, akhirnya pulang juga dari mudik lama,
    alias merobek-robek kedaulatan Indonesia
    Biaya delivery dengan An-126 saja untuk bolak-balik dua kali saja sudah menghamburkan hampir $1 juta.


  • Dan tidak, walaupun pesawat ini model favorit para fanboys; sejauh ini terbukti terus gagal dalam misi penyergapan. Tidak becus mengejar pesawat capung Cessna, yang dengan mudahnya menyusup ribuan kilometer wilayah Indonesia tanpa pernah bisa dihentikan, dan ternyata... dalam latihan udara Perkasa D-14 juga gagal menghadapi T-50, yang tidak membawa radar.
    Pemenang telak 3:1 dalam Latihan Perkasa D-14:
    Tanpa radar saja masih bisa menyusup menghindari si pesawat favorit
    (Gambar: SindoNews)

    Kalau lawannya Super Hornet, atau F-16 Block-52+,
    Sukhoi sudah di-sate AMRAAM C7 tanpa perlawanan.
  • Terakhir, jangan lupa kalau si skuadron favorit harga belinya mencapai lebih dari $1 milyar. Ini belum menghitung potensi kerugian dari beberapa transaksi "barter" semasa akusisi cicilan ini. Malaysia, hanya perlu membayar $800 juta, untuk 18 Su-30MKM, dengan Thrust-vectoring, dan Bars-M PESA radar, yang jauh lebih modern dalam segala hal dibanding Sukhoi tahun 1980-an Indonesia. 
Dengan sejarah yang begitu cemerlang, err.... kenapa beberapa pihak masih tetap menginginkan pembelian variant (downgrade) dari model yang sama, dari pabrik pembuat yang sama, dan dari agen perantara yang sama?

Kemudian, mari melihat kembali ke biaya operasional. Kali ini kita akan melihat dari estimasi, berapa biaya operasional Sukhoi menyerap proporsi anggaran operasional pesawat tempur TNI-AU:

Bagaimana TNI-AU bisa membayar biaya operasional Su-35K?
Tanpa training, pesawat sebagus apapun mubazir!

Secara tehnis, biaya operasional Sukhoi yang terlalu mahal
MENJAJAH
Anggaran TNI-AU yang terbatas!
Grafik diatas dibuat dengan beberapa perhitungan asumsi sebagai berikut: 

  • Setiap pilot setiap skuadron harus dapat menabung 100 jam terbang per tahun. Jumlah ini sendiri sebenarnya sub-standard dibanding standard NATO, yang diikuti Singapore, dan Australia.
  • Perhitungan ini juga dibuat berdasarkan perhitungan sekurangnya 16 pilot / pesawat per skuadron kecuali Sku-11, yang seperti kita bisa lihat dari penjelasan grafik, berasumsi hanya 10 pilot / pesawat yang dapat memenuhi target 100 jam terbang per tahun. Ini juga dengan asumsi masing-masing tipe mempunyai biaya operasional sebagai berikut:


Dari kalkulasi asumsi sederhana ini saja, kita sudah bisa melihat kalau Sukhoi favorit di Sku-11, walau hanya 10 unit sudah bisa memakan 53% dari total proporsi anggaran TNI-AU yang tersedia. 
Patut kembali diingat, 20 - 30% dari biaya spare part, dan biaya tehnisi perbaikan Sukhoi, akan selalu terkena penalty biaya komisi perantara, "kickback", dan juga sebagian proporsi yang dikorupsi dalam military-industrial complex Russia.
Maaf, tetapi Indonesia tidak mempunyai dana
untuk mengoperasikan mimpi Su-35
Mengoperasikan Su-35 model downgrade, akan menuntut agar TNI-AU mempunyai anggaran operasional, yang sekurangnya 80% lebih besar dibanding sekarang. 

Kembali, dari mana uang anggaran operasionalnya bisa tersedia?

Apakah kemudian kita akan harus memangkas jumlah jam terbang ke... hanya 50 jam, agar semua pesawat bisa terbang "secukupnya"?

Tentu saja, semakin berkurang jumlah jam latihan, mau mimpi bagaimanapun, efek gentar akan semakin nihil. Pilot pesawat tempur negara lain, yang bisa mengumpulkan 3 - 4x lipat lebih banyak jam terbang, akan dapat melibas pilot Su-35, yang masih newbie, dengan begitu mudah.

Kembali, kalau mengikuti argumen mimpi Su-35 akan lebih unggul daripada pesawat-pesawat negara tetangga, sekali lagi ini sama sekali tidak benar.

Semuanya kembali ke beberapa perbandingan yang sederhana, yang berikut:

Dengan, atau tanpa transaksi barter saja, kalau memperhitungkan potensi kerjasama industrial, seperti yang bisa kita lihat sendiri di India sih, tidak akan mungkin terjadi. Dan ini, kembali, baru permulaan.



Dengan hanya dipersenjatai missile-missile versi export, yang tidak dipakai sendiri oleh AU Russia, sebenarnya jarak jangkau radar Irbis-E, dan OLS-35 IRST menjadi tidak relevan.

Untuk para pejabat, ataupun fanboys yang masih penasaran dengan "kehebatan" Su-35, silahkan mengunjungi sendiri website resmi Tactical Missile Corporation JSC, untuk mempelajari dengan seksama... missile versi export apa yang diperbolehkan untuk dibeli. Tidak ada bedanya, bukan, antara Su-27SKM, Su-30MK2, Su-30SME, ataupun Su-35K?

Dan karena itu, F-16 standard NATO, yang dipersenjatai dengan AMRAAM C-7, akan dapat dengan mudah melibas Su-30, atau Su-35 versi export.... tanpa perlawanan.

Kalau masih juga bermimpi Su-35 bisa selamat dalam pertempuran udara. Ini juga tidak relevan. Dengan Knirti SAP-518i versi export, ukuran raksasa, dua mesin yang panas, berapa harapannya pilot Sukhoi bisa selamat dari ancaman AMRAAM-D, ataupun MBDA Meteor?

Dalam jarak dekat, jangan berharap Thrust-Vectoring yang indah akan dapat menyelamatkan pilot Sukhoi!

Missile R-73E versi Export, untuk Sukhoi, walaupun sudah di-slave ke Helmet Mounted Display, hanya mempunyai sudut tembak 60 derajat dari arah moncong pesawat. Sebaliknya, missile modern seperti AIM-9X Block II, IRIS-T, A-Darter, dan Phyton-5, kesemuanya mempunyai sudut tembak 360 derajat sekeliling pesawat.


Ya, AIM-9X, misalnya, bisa ditembakkan ke arah belakang pesawat, dan baru men-Lock-on setelah dilepas. Su-35 yang sedang sibuk berjoget dengan TVC, dan kehilangan kecepatan / ketinggian, hanya akan menjadi mangsa yang sangat empuk!

Inilah kenapa Su-35 Versi Export Edisi downgrade spesial Indonesia sebenarnya:

  • Tidak akan bisa menang melawan F-35A, pesawat tempur Barat yang sebenarnya paling bermasalah.
  • Tidak akan mungkin menang melawan F-18F SuperHornet Australia, yang secara Situational Awareness, dan kemampuan tempur jauh lebih unggul hampir dalam segala hal, dan pilotnya terjamin, akan jauh lebih terlatih.
  • Hanya akan dibantai Saab Gripen-E, satu-satunya produk yang bukan model downgrade, mempunyai kemampuan Sensor Fusion, supercruise, dan next generation Defense Suite, kemudian juga dapat dipersenjatai dengan semua yang terbaik, yang tersedia dari industri pertahanan Barat, tanpa bisa didikte pihak lain.


Apakah kita perlu begitu ngebet beli pesawat tempur baru? 

Pada Selasa, 15-Agustus-2017, DetikNews baru saja mempertanyakan suatu hal yang penting:
Link Artikel: DetikNews
Kenapa DPR masih meminta pembangunan apartmen, kalau sebenarnya negara sudah menyediakan rumah dinas di Kalibata?

Pertanyaan yang sama juga dapat kita ajukan ke TNI-AU: Kenapa masih ngebet mau beli pesawat tempur lagi, kalau yang lama saja masih jauh dari optimal?

Kenyataannya, sekarang ini kita sebenarnya tidak lagi membutuhkan pesawat tempur untuk menggantikan F-5E.

Kebutuhannya darimana?

Masih ingat, kalau F-16 Block-25+ yang sudah dipesan sebelumnya masih terus berdatangan, dan delivery terakhir dari Lockheed-Martin tidak akan selesai sampai akhir tahun 2017?


Pesawat tempur itu bukanlah dekorasi untuk di airport, atau untuk perayaan hari kemerdekaan.

Untuk bisa mempunyai kemampuan tempur yang nyata, TNI-AU wajib untuk melakukan beberapa hal yang juga sudah dilakukan semua Angkatan Udara negara lain setelah akuisisi pesawat tempur. Mempersiapkan training system untuk para kader pilot, crew, dan maintenance staff, dan tidak kalah pentingnya sebelum mengumbar tentang MEF.... F-16 harus dipersenjatai terlebih dahulu.

Kedua kewajiban sederhana ini harus bisa dipenuhi sebelum ke-24 F-16 ini dapat dinyatakan sudah memenuhi IOC, atau Initial Operational Capability.  Kondisi awal untuk dapat menyatakan diri siap tempur.

Nah, sekarang F-16C/D Block-25+ yang setelah dimodernisasi, masih bau pabrik saja masih belum bisa dinyatakan siap mempertahankan negara. Dengan kata lain, statusnya masih "macan ompong", karena seperti kebiasaan sejak awal 2000-an, tidak pernah terlihat ada rasa antusias untuk membeli senjata. 
Kalau mau serius dengan pertahanan Indonesia:
Biaya untuk mempersenjatai / memperlengkapi F-16 akan mencapai $200 juta
Kenapa masih mau beli pesawat tempur lagi, kalau kebutuhan mendasar untuk F-16 Block-25+ saja masih belum mau dipenuhi?

Apakah bedanya 24 "macan ompong", dengan (ditambah 11 Sukhoi "beli barter yang menguntungkan") 35 "macan ompong"?

Apakah automatis "efek gentar"-nya akan terasa?

Ini namanya hanya menghamburkan uang, eh, tapi malah menyediakan lebih banyak target untuk bisa ditembak jatuh lawan dalam konflik.

Setiap unit harus dibangun terlebih dahulu sampai maksimal, baru setelahnya menghitung ulang: Masih butuh tambah, atau tidak?

Bukan seperti sekarang, MEF yang mengejar target pembelian 180 pesawat. Kelihatannya seperti agen sales, bukan?



Pilihan produk Alternatif: Kenapa tidak terlebih dahulu meng-upgrade 10 F-16A/B Block-15 OCU tahun 1988/1989 ke versi-C/D?

Semenjak USAF mulai mengintegrasikan AMRAAM-A ke armada F-15, dan F-16 di September-1991, secara tehnis hanya dalam waktu 2 tahun setelah delivery, F-16 A/B Block-15OCU, yang hanya tipe daytime fighter tanpa kemampuan BVR, sudah kadaluarsa.
F-16 A MLU Norwegia di atas Baltic:
Sudah di-upgrade, dan membawa 4 AMRAAM, 2 AIM-9X
Negara-negara NATO membeli Block-1, 5, 10, dan 15,
yang lebih tua daripada Block-15OCU Indonesia,

Satu squadron F-16 NATO yang modern,
sudah jauh lebih unggul dalam segala hal dibanding seluruh TNI-AU
Memang kita sejauh ini masih kurang bisa menghargai apa yang sudah ada. Ke-10 unit Block-15OCU yang sudah dioperasikan sejak tahun 1989, sebenarnya masih dapat operasional sampai sekurangnya 30 tahun lagi ke depan, asalkan mendapat upgrade, dan pemanjangan umur.

Pesawat tempur Utama Pelindung Indonesia: 
TS-1609 F-16A Block-15OCU
dalam latihan Udara Pitch Black Australia, 28-Juli-2016
(
RAAF photo by Cpl. Casey Gaul)


Tidak seperti Sukhoi favorit fanboyz
F-16 lebih tua, tapi tidak pernah perlu "perbaikan mendalam"
Biaya upgrade untuk 10 F-16 A/B agar mendapat spesifikasi yang kira-kira sebanding dengan Block-25+ hanya akan mencapai $200 juta.

Kalau bisa, upgrade untuk Block-15 OCU Ini sekalian merangkap menambah paket upgrade yang sudah diaplikasikan ke Block-25+ dengan sekurangnya, MIDS-LVT untuk Link-16, dan JHMCS (Helmet Mounted Display). 

Memang, mungkin ini bukan pilihan yang ideal, tetapi kalau negara kita merasa membutuhkan 10 pesawat tempur yang modern, pilihan alternatif ini sudah tersedia dengan jauh lebih ekonomis. 

Walaupun F-16 C/D Indonesia, biar bagaimanapun juga, tetap saja versi downgrade, yang belum bisa menandingi F-16 Singapore, atau F-18 Australia; tetap saja... dengan komitmen, dan investasi yang lebih mendalam, pilot F-16 C/D Indonesia dengan demikian akan bisa "mengejutkan" lawan yang nekad. Jauh lebih berbahaya dibandingkan Sukhoi.
Cockpit F-16BM AU Belgia dari Block-15 (lebih tua dari versi TNI-AU),
yang sudah dimodernisasi melalui program MLU
(Gambar: Jorge Manuel Antao Ruivo)
Dengan demikian inilah biaya $400 juta alternatif, ditambah biaya training intensif pilot, dibandingkan masih mencoba mengakusisi pesawat tempur baru pada tahun 2017 ini.



Penutup

Dengan demikian, kita bisa memastikan sampai disini, kalau keuntungan nasional dari akuisisi Su-35K, mau dilihat dari sudut pandang manapun, dan dari sektor manapun, sama seperti efek gentarnya, akan terjamin....... 
100% N I H I L

.... kecuali untuk menguntungkan penjual, dan para jalur perantara mereka.
"Kickback" 
Komisi yang dibayarkan penjual ke pejabat negara pembeli,
sebagai imbalan jasa pembelian produknya

...tentu saja dibayar dari kantong negara pembeli
Logikanya tidak sampai, mengingat pilihan alternatif-nya sudah tersedia, dan jauh lebih murah: Meng-upgrade F-16A/B Block-15OCU ke versi C/D, dan mempersenjatai ke-33 / 34 F-16 dengan ratusan missile baru.

Coba tebak? 

Kenapa memangnya para pejabat kita terlihat kurang antusias dengan F-16, tetapi sangat teramat sangat antusias dengan Sukhoi?

Ini diarenakan semua kontrak re F-16, harus diajukan dalam bentuk Government-to-Government, melalui program FMS (Foreign Military Sales).

  • Perseroan baik Lockheed-Martin, ataupun BUMN PT Perusahaan Perdagangan Indonesia TIDAK DIPERBOLEHKAN untuk melalukan transaksi perdagangan senjata. 
  • Tidak boleh ada "kickback" untuk pejabat negara pembeli
  • Deskripsi daftar perlengkapan akan dipaparkan, dengan demikian walaupun US juga hanya bisa menjual barang Versi Export downgrade, transparansi lebih terjamin. 

Negosiasi pembelian kalau sudah melalui BUMN sekali lagi, BUKAN kontrak Government-to-Government. Tentu saja sebagai persyaratan bonus, transaksi via perantara seperti ini, akan menutupi spesifikasi (downgrade) apa saja yang akan dimasukkan. Ini seperti mau membeli ayam dalam karung, ternyata didalamnya ular berbisa.

Semua artikel di blog ini, semuanya berdasarkan informasi publik yang sudah ada. Dalam rangka perayaan dirgahayu Republik Indonesia yang ke tujuh puluh dua tahun, sekali lagi penulis menyatakan.... tidak ada copyright protection atas semua artikel disini.

Dalam rangka menambah pengetahuan, kita semua berhak untuk belajar, dan membagi pengetahuan. Silahkan copas semaunya, atau pergunakan baik-baik untuk belajar!

Selamat dirgahayu Republik Indonesia, 17-Agustus-2017!

Mari membangun Indonesia yang lebih maju, lebih modern, bebas korupsi, dan merdeka.... dari penjajahan versi export downgrade!

Lagu kebangsaan Sukhoi berikut, dapat dinyanyikan dengan alunan lagu "Abang Tukang Bakso":




84 comments:

  1. Min, apakah aew&c globaleye bisa kompatibel dengan f16 tni au sekarang, jika iya kan tidak ada salahnya kita mengakuisisi aew&c dulu dari pada cuman beli pesawat tempur kosong tanpa senjata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang kebutuhan AEW&C lebih penting daripada macan ompong.

      ## F-16 ke Erieye radar
      Compatible sih iya, hanya masalahnya sekarang ini F-16 Indonesia tidak ada yg diperlengkapi Networking terminal.

      MIDS-LVT (Multifunctional Information Distribution System) untuk Link-16 standard.

      Karenanya komunikasi F-16 - Erieye akan terbatas di radio. Ini terlalu mudah terlihat lawan, dan mudah untuk di-jamming.

      Gripen - Erieye tidak mempunyai persoalan yg sama, dan Networking Swedia akan dapat membagi info lebih cepat, dan lebih akurat dibandingkan Link-16 standard NATO.

      ## Untuk Sukhoi sih, mau beli 20 missile per pesawat juga akan mubazir... versi export, dan kemampuannnya unproven.

      Su-35K yg membawa 13 RVV-AE, ya tetap saja macan ompong.

      Delete
  2. Bung GI, saya makin khawatir kalau indonesia jadi beli su-35. Kayaknya makin kesini beritanya makin gencar. Harapannya bung GI bisa nulis artikel lebih banyak lagi supaya bisa melawan isu ini. Semangat terus bung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, kalau mau beli, ya apa boleh buat?

      Dengan demikian TNI-AU jadi disulap:
      ... menderita penjajahan Moscow.

      Nanti mau tidak mau juga akan harus menyesal.

      ## Yang sangat menyebalkan itu ada semacam "mental disconnect", atau istilah Jawa-nya "tulalit"; seperti tidak bisa menghubungkan biaya operasional yg tidak terjangkau, dengan anggaran.

      Lihat saja kembali ke estimasi biaya operasional pespur TNI-AU yg sekarang; estimasi kasar saja 53% dihisap Sukhoi; 10%-nya habis untuk biaya perantara / korupsi.

      Kalau mau mengoperasikan Su-35K, yang biaya op-nya terjamin jauh lebih mahal, yah, mudah... pengorbanan apa yg harus dilakukan?

      Masakan TNI-AU minta anggarannya didongrak naik 30% hanya demi mengoperasikan pesawat mimpi, dengan efek gentar nihil?

      Atau, mungkin... maaf agak blak2an disini; para fanboys mau menjual semua harta mereka agar "berkorban" membayar biaya operasional Sukhoi, dan perantara Rosoboron?

      Mungkin juga semua pejabat rela mengorbankan mobil dinas, dan segala fasilitas mereka untuk membiayai Sukhoi?

      Seperti kita lihat, angka operasional-nya, mau diputar bagaimanapun juga sulit untuk bisa masuk.

      ## Perhatikan saja kembali di masa pemerintahan SBY tempo hari!

      Kenapa beliau tidak langsung membeli 12 Sukhoi di tahun 2006/7; tetapi malah memutuskan untuk menyisihkan $600 juta untuk ancer-ancer membeli (sebelumnya) 6 F-16 Block-52?

      Dibelakang layar, alasannya karena anggaran TNI-AU waktu itu, tidak mencukupi untuk mengoperasikan 16 Sukhoi.

      F-16 tetap saja dinilai sebagai pilihan yang lebih ekonomis.

      ## Terakhir, patut dicatat disini; Su-27SKM, dan Su-30MK2, yg masih berbasiskan tehnologi 1980-an, dan sedikit dari tahun 1990-an (versi downgrade tentu saja), sebenarnya faktor resiko penggunaannya jauh lebih rendah dibandingkan Su-35K.

      Dan seperti bisa dilihat di grafik; sejarah penggunaan Su-27/30 "resiko rendah" ini saja sudah berantarakan di Indonesia.

      Ini kembali ke lingkaran setan yg sy sebut sebelumnya --- pada akhirnya kalau sampai Su-35K terbeli, yah, suka nggak suka, akhirnya para fanboys yg akan menyesal sendiri.

      Hanya saja sayangnya, harga yang harus dibayar suangat mahal.

      Terlepas dari ada, atau tidaknya faktor "kickback" untuk mempengaruhi akuisisi Sukhoi Flemon, inilah yang namanya praktek meng-korupsi masa depan Indonesia; karena pada akhirnya generasi mendatang yg harus membayar kesalahan kita yang sekarang.

      Delete
  3. Banyakin juga artikel yang isinya wawasan kemiliteran, moga para fanboy sukhoi bisa tobat dari kesalahpahaman mereka meskipun kemungkinannya kecil. Kalau saran saya coba pake bahasa yang lebih enak dibaca, bahasa yang gak bikin orang orang yang udah gak seneng ama blog ini jadi makin gak seneng. Maaf kalau ada salah kata

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Arkan,

      Karena judul blog-nya "Gripen-Indonesia", dengan sendirinya memang bbrp orang memang tidak akan mau baca.

      Ini walaupun sekali lagi, sy tidak ada affliasi apapun dengan Saab, atau kenal satupun juga orang Swedia juga tidak.

      Sy masih hutang membahas artikel ttg BVR missile. Stlhnya mungkin kita bisa membahas strategi tempur masa depan.

      Dikemudian hari, kelihatannya mulai ada pemikiran kalau sebagian pespur akan seperti automatic drone; armada udara di masa depan bisa jadi mixed 50% pilot, 50% remote-controlled.

      Dari bahasan2 ini saja, sbnrnya kita bisa mengambil satu kesimpulan sederhana.


      "Kalau kita tidak mau ketinggalan jaman, dewasa ini kita masih terlalu banyak melihat ke arah yg salah!"

      Delete
  4. mas gi pernah kirim opini ke majalah/ koran nasional? saya kira lebih efektif utk mengeluarkan ide tentang sistem pertahanan ideal menurut mas gi. salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masalahnya susah.

      Mnrt sy, melihat situasi kondisi Indonesia dewasa ini, kembali seharusnya kita berhubungan dgn pemerintah Swedia, dan mengambil tawaran kerjasama dengan Saab.

      Tidak ada pilihan lain, karena tidak ada yg sudi menawarkan paket yg begitu menarik ke Indonesia.

      Lagipula, terlepas adegan pro-Russia para fanboys; srcara politik, baik Moscow, ataupun Washington DC tidak terlalu mempercayai Indonesia.

      Keduanya tidak akan sudi menawarkan apa yg terbaik yg jual.

      Untuk Singapore misalnya, walau memakai barang versi downgrade, peringkat apa yg ditawarkan mereka sudah begitu tinggi -- lebih dari cukup untuk melibas semua jenis Sukhoi Versi Lokal. Perbedaannya terlalu jauh.

      Kita tidak bisa mendapat akses yg sama, dan harus bekerja jauh lebih keras, karena anggarannya jauh lebih sedikit.

      Inilah kembali, kenapa krmbali kita harus menelusuri pilihan Saab.

      Sayangnya, dewasa ini, pengaruh agen sales Sukhoi, dan advokasi KF-X "proyek sendiri" terlalu kuat mencengkram ke pemikiran banyak media, dan media.

      ....walaupun keduanya proyek mercusuar yg tidak menawarkan keuntungan nasional apapun, selain menghamburkan uang.

      Inilah kenapa tidak ada pilihan selain... perang gerilya melalui blog :D

      Kalau kita tidak mengambil pilihan Saab, ya sudah.

      Delete
    2. tepat mungkin karena efek aji mumpung “5 tahun berkuasa“ dimanfaatkan untk kepentingan politik kelak pilpres 2019 AGAR nampak ada hasil

      Delete
    3. Begitulah.

      Kebiasaan buruk pejabat di Indonesia, selalu ingin "mengejar target cepat", tetapi kelihatannya tidak pernah memikirkan konsekuensinya di kemudian hari.

      Inilah kenapa proyek mangkrak seperti Hambalang bisa terjadi.

      ... demikian juga kenapa proyek KF-X, alias proyek Hambalang II sampai bisa ditanda-tangani.

      Delete
  5. Realitanya kan kita sudah deal beli SU 35 operasional damn spefikasi ya lebih tau pemerintah dan produsen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum deal: Fakta-nya perjanjian B-to-B tempo hari itu hanya berupa MoU, bukan kontrak resmi.

      Nah, inilah argumen pro-Sukhoi yang terlalu sering diulang2.

      Pertanyaannya kita putar balik saja:
      Seberapa jauh anda bisa mempercayai para pejabat kita sendiri?

      Memangnya sejak tahun 1945 merdeka sampai sekarang, coba menghitung, siapa saja pejabat yang terjamin bersih, dan sepenuh hati bekerja untuk kepentingan rakyat?

      Kita melihat saja contoh dalam artikel blog ini yg sebelumnya:
      Kenapa Efek Gentar Su-35K terjamin NIHIL: Interview dengan si pejabat

      Dalam artikel ini, si interviewer bertanya:
      ========
      Interviewer: Apakah anda mengetahui, kalau sebenarnya sudah menjadi pengetahuan umum, kalau Russia hanya menjual semua senjata, termasuk Su-35 dalam bentuk Versi Export downgrade?

      Pejabat: err..... masa sih?

      Interviewer: Yah, ini sebenarnya pengetahuan umum, yang sudah seharusnya diketahui semua pejabat yang mau mengurus akuisisi Alutsista, apalagi yang bernilai milyaran dollar.
      =======

      Sekali lagi model downgrade itu sih sudah FAKTA, yang tidak bisa dirubah.

      Silahkan menyembah Trump, atau Putin selama 1000 tahun-pun, fakta ini tidak akan berubah.

      United States, dan Russia hanya akan menjual model downgrade untuk export. Dan antara keduanya ini, sebenarnya Russia lebih parah; karena persenjataan-pun versi Export; US tidak menjual AMRAAM, atau AIM-9 versi Export.

      Silahkan mencari foto semua Sukhoi AU Russia di atas Baltic, atau di Syria! Coba saja perhatikan missile mereka?

      Mana ada yg memakai R-77?

      Kembali, FAKTA: AU Russia tidak membeli R-77, karena development-nya belum selesai, tetapi menjual RVV-AE versi export untuk PRC, India, Vietnam, Indonesia, Algeria, Venezuela, dan negara-negara lain.

      Sekali lagi,
      Pejabat yang bertanggung jawab atas akusisi miliaran $$ seharusnya TAHU!

      Ayo!Belajar bertanya lebih banyak!

      Semisal dalam artikel ini:
      Siapa yang akan membayar biaya operasional 11 Su-35K?

      Uangnya dari mana?
      Kalau sekarang saja, mnrt estimasi kasar ini, 53% anggaran untuk mengoperasikan pespur, sudah disedot Sku-11.

      Bahkan kalaupun F-16, BAe Hawk, dan T-50 dipensiunkan sekalipun, anggaran operasional pespur TNI-AU masih belum mencukupi untuk mengoperasikan 1 lagi skuadron Sukhoi.

      Jangan begitu saja percaya semua pernyataan agen sales Sukhoi di media massa!

      Kedaulatan Pertahanan Indonesia untuk 50 tahun ke depan di tangan rakyat!

      Delete
  6. Bung gi, kalo saya lihat para pendukung sukhoi selalu meremehkan gripen karna gripen cuma pesawat tempur ringan, single engine lagi, mereka selalu mempermasalahkan payload dan jangkauan gripen yg kecil, mereka menganggap gripen cuman pesawat multirole abal2, pesawat multirole menurut mereka adalah pesawat yg mampu membawa banyak missile dari berbagai jenis seperti AAM, ASM dan bom dalam sekali terbang/ satu kali misi bukan seperti gripen yg harus kembali ke pangkalan untuk di persenjatai lagi untuk misi yg berbeda, bagaimana menurut anda bung gi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu argumen yg sudah sering diulang2 juga.

      Sebenarnya, sekali lagi hanyalah propaganda dari USAF di tahun 1958:
      "Pespur twin engine lebih unggul dibanding single engine".

      Pada kenyataannya, sekali lagi ini tidak pernah terbukti kalau twin-engine design lebih unggul dari single-engine dalam sejarah.

      ## Pespur twin-engine berarti biaya operasionalnya 3 - 4x lipat, karena dua mesin automatis lebih rumit, dan maintenance lebih ruwet.

      ## Pespur twin-engine dengan sendirinya juga tidak bisa sering terbang, karena maintenance-nya lebih repot.

      F-15 hanya bisa mengudara 1,5 kali sehari, sedangkan F-16 dapat mengudara 4 x sehari.

      Gripen dapat mengudara 50% lebih sering dibanding F-16, karena sudah dirancang dari awal untuk quick turnover, dan high sortie rate.

      Sukhoi tidak dirancang untuk operasional cepat.
      Untuk mem-boot-up komputer di Su-30SM saja membutuhkan waktu 30 menit.

      Dioperasikan di Indonesia, yang tidak mahir maintenance Sukhoi seperti India, menakjubkan kalau bisa mengudara lebih dari 1x sehari. Kalaupun bisa, yah, setelah itu akan berhari-hari tidak bisa terbang, karena maintenance.

      ## Pepsur twin-engine juga tidak bisa berakselerasi lebih cepat dibanding single-engine.

      F-16 dengan mesin GE (Block-30, 40, 50), dan mesin PW-229 (52), akselerasinya sebenarnya lebih unggul dibanding F-15C.

      Kenapa demikian?
      Karena dua mesin membuat desain pespur dengan sendirinya lebih draggy; tahanan hambatan udaranya lebih besar.

      Secara desain menjadi lebih berat, karena harus membawa sekurangnya 2,5x lipat bahan bakar untuk mencapai jarak yang sama dengan single-engine.

      Khusus untuk Su-35; pespur lemon ini akan menghabiskan 4x lipat lebih banyak bahan bakar untuk menempuh jarak yg sama dengan Gripen-E, atau F-16.

      ## Untuk membawa AAM --- konfigurasi paling optimal dewasa ini adalah 4 BVR missile, dan 2 WVR missile.

      Maksimum 8 missile (4 BVR, 4 WVR, atau 6 BVR, 2 WVR).

      Dalam hal ini, sekali lagi tidak ada bedanya antara twin-engine vs single engine.

      ## Dalam pertempuran jarak dekat --- ini juga sama bodohnya.

      Target yang UKURAN-nya LEBIH BESAR, dan pantat-nya LEBIH PANAS (2 mesin), akan selalu lebih mudah ditembak jatuh dibanding target yang ukurannya lebih kecil, dan pantatnya lebih adem (1 mesin), apalagi dengan pengurangan IR signature seperti Gripen.

      Dalam pertempuran jarak dekat, tentu saja, single-engine akan dapat berputar 180 derajat lebih cepat dibandingkan twin-engine (less draggy).

      Flight control FBW untuk Gripen, dengan close-coupled delta canard, sudah dikenal dapat mempercundangi F-16, ataupun Typhoon dalam latihan udara.

      Dahulu sy sudah pernah menulis artikel re hal ini.
      Mungkin memang sudah saatnya recap kembali, dengan beberapa update.

      Delete
    2. Menurut bung DR yg menyebabkan Rusia dan AS tdk mau memberikan pespur yg baik ke RI apa ..

      Delete
    3. Alasan sederhana: belum bisa cukup dipercaya secara politik.

      Tidak seperti pemikiran para Sukhoi fanboyz,
      Moscow selalu melihat Indonesia, satu2nya yg menumpas partai komunis lokal, dan tukang hibah MiG, adalah 100% di kubu United States, dan Australia, apalagi sepanjang perang dingin.

      "Gajah tidak pernah lupa!"

      Akuisisi Su-35 dianggap terlalu beresiko tinggi.

      Di lain pihak, US juga tidak mempercayai Indonesia.
      Kalau kita mempensiunkan Sukhoi, kemungkinan kita akan naik peringkat, tetapi tetap saja tidak akan bisa seakrab Singapore.

      Politik luar negeri kita juga cenderung terlalu netral.

      Delete
  7. Yah begitulah bung gi, mereka yg pro sukhoi selalu membicarakan twin engine heavy fighter, payload besar & jangkauan jauh, tapi tak pernah menyinggung soal operational cost, soal jam terbang & kesiapan tempur apalagi, yg penting pesawat itu ada di hangar. Saya kadang sangat miris melihat berita tentang sukhoi 35 yg akhir2 ini gencar sekali di media, membuat saya pesimistis akan masa depan au kita, kapan ya? Kita punya sistem akuisisi yg jelas dan terencana dan gak asal beli.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja.

      Jadi, atau tidaknya pembelian Su-35K bukan berarti pilihan mana yg menang, atau kalah, seperti diiklankan para fanboyz akhir2 ini.

      Bbrp nama bahkan masih terus mencoba nge-hoax kemari.

      Akuisisi Su-35K sebenarnya ujian terbesar untuk kedaulatan Indonesia, tidak hanya secara pertahanan, tetapi juga secara hukum, politik, dan ekonomi.

      Seperti kita bisa pelajari sendiri dari sepak terjang para pejabat, dan fanboyz:

      Bukankah kelihatannya akuisisi Su-35 hanya seperti anak kecil yang kepingin beli mainan baru?

      ## Tidak ada pemikiran panjang dibelakangnya, sanggup mengoperasikan, atau tidak. Ataupun bisa memberikan keuntungan nasional yg nyata atau tidak.

      ## Tes kelaikan Su-35K, model yg sama sekali berbeda dari Su-27/30K saja dianggap tidak perlu, tetapi modelnya sudah bisa terpilih.

      Ini sih seperti nyoba beli mobil baru (bukan merk Jepang, US, atau Eropa) dari toko online, tanpa pernah perlu lihat barangnya, ataupun tes drive.

      ## Sudah diberitahu kalau fakta-nya, Sukhoi hanya tersedia dalam versi Monkey Model, juga masih membangkang nggak mau percaya.

      Keinginan anak kecil.

      Kita lihat saja.
      Sangat miris kalau kita sampai gagal ujian ini.

      Tetapi kalaupun terbeli, yah semoga di kemudian hari kita bisa belajar dari pengalaman buruk yg sudah pasti terjadi.

      Delete
  8. semoga para perwira yang kursus singkat di swedia tentang intergrated ncw & triple helix bisa membawa angin perubahan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini kemungkinannya terlalu kecil.

      Tahun 2016 yg lalu saja, TNI-AU sudah dua kali mengirim F-16 untuk latihan tempur bersama:
      # Pitch Black Australia 2016
      # Dan latihan bersama F-18C/D US Marine

      Feedback pilot sudah pasti akan seragam:
      ## F-16 kita membutuhkan Networking,
      ## Lebih banyak persenjataan, dan
      ## Helmet Mounted Display untuk bisa mempergunakan AIM-9X.

      Apa hasilnya?

      Tetap saja belum ada pemesanan senjata baru untuk memenuhi kebutuhan ini, bukan?

      Hanya ada obsesi anak kecil untuk membeli Su-35 model downgrade.

      Indonesia kita ini umurnya masih belum cukup panjang. Hanya 72 tahun. Bahkan Kerajaan2 masa lalu, seperti Mataram, atau Sriwijaya bahkan umurnya sempat mencapai ratusan tahun.

      Secara keseluruhan, memang kita masih harus banyak belajar sebagai bangsa.

      Delete
  9. Bung @unknown mem-post argumen kalau
    "Su-35 untuk memenuhi kebutuhan HEAVY FIGHTER", katanya.

    Sayangnya kembali, post pro-Sukhoi anda tidak berani menyinggung satupun juga kelemahan Sukhoi, seperti sudah dipaparkan dalam artikel ini. Karena itu, komentar iklan anda tidak lulus sensor.

    Tetapi beberapa point anda perlu dijawab;

    ## Pertama, argumen "butuh Heavy fighter" itu tidak relevan karena seperti sudah di post atas:

    Heavy fighter:
    - lebih boros bahan bakar, padahal jarak jangkaunya sama,
    - maintenance lebih sulit,
    - tidak bisa sering terbang
    - kemampuan kinematis tidak bisa lebih unggul vs F-16/Gripen
    - justru akan jauh lebih mudah ditembak jatuh, berkat ukurannya yg bonsor
    .

    Su-Flanker, ataupun F-15 sebenarnya tidak mempunyai keunggulan tempur yg berarti dibandingkan F-16, atau Gripen, selain.... lebih memboroskan anggaran.

    ## Singapore, Saudi Arabia, dan Korea Selatan membeli F-15 karena dalam nama payload untuk air-to-ground. Tentu saja, jarak jangkau F-14 masih 20 - 30% lebih unggul dibanding Su-35 "Gasak" (GAmpang ruSAK), yg lebih boros bensin.

    Indonesia tidak memerlukan pesawat pembom jarak jauh seperti ini.

    Kenapa kita tidak membutuhkan TwIn-Engine Heavy Fighter adalah salah satubartikel mendatang yg akan dituliskan disini.

    ## Untuk Sukhoi Gasak sebenarnya lebih parah vs F-15, karena tidak bisa diperlengkapi dengan targeting pod.

    Gripen, atau F-16 dgn Sniper pod, yg membawa 8 GBU-39 small diameter bomb, akan dapat menghantam jauh lebih banyak target dengan jauh lebih akurat vs Sukhoi Flemon kalaupun bisa membawa 30 dumb bomb.

    ## Terakhir, memang benar.
    US akan membutuhkan persetujuan konggres untuk menjual senjata.

    Lalu memangnya kenapa?

    Seperti dalam artikel, US, sama seperti Russia, memang hanya menjual barang versi export.

    Paling tidak,
    Indonesia sudah mendapat pertujuan kok untuk membeli AMRAAM C-7, dan AIM-9X Block II, keduanya lebih unggul dari mayoritas stock di USAF, USN, dan USMC, yg masih menyimpan stock AMRAAM C-5,atau AIM-9M / X Block I.

    Berhenti berpikir kalau membeli senjata itu berarti ada kebebasan memakai semaunya!

    Mungkin seperti yg dipraktekkan di Syria, memakai senjata kimia membabi buta?

    Menggunakan senjata itu juga harus disertai dengan rasa tanggung jawab, dan kepatuhan atas hukum internasional yg berlaku.

    Bukan tanpa alasan bukan, kalau tindakan kekerasan dengan memakai senjata tajam biasanya berakhir sengan perkara kriminal?

    Memangnya anda berpikir negara kita itu suka cari ribut dengan negara lain?

    Tidak, bukan?

    Setiap militer di dunia juga dituntut mematuhi peraturan, dan etika yg sama, kalau tidak kita akan di label menjadi musuh internasional.

    Ini bukan seperti jaman dahulu kala, dimana setiap negara bisa membuat parang, atau tombak sendiri, lalu sibuk berperang satu sama lain.

    Membeli senjata TNI harus disetarakan dengan mempunyai kedaulatan penuh atas alutsista, dengan fungsi utama untuk mempertahankan diri secara optimal dari ancaman luar.

    Dalam hal ini, baik US, ataupun Russia yg hanya menjual rongsokan downgrade, tanpa mau menawarkan kerjasama industrial, atau kedaulatan atas alutsista bukan pilihan yang baik.

    ReplyDelete
  10. Dulu saya pernah baca soal "skuadron F15 dan F18 hibah " tambang emas dan tembaga yg ada di papua.. bila kita setuju memperpanjang masa kontrak kerja perusahaan tersebut..hoax / tidak tak perlu dipertanyakan..

    Yg jadi pertanyaan adalah. Apakah mereka mau memberikan f15, setahuku F15 hanya untuk sekutu2 dekat ?

    Tak ada salahnya bila indonesia lebih dahulu menyawa gripen , lantas dibedakan dengan pesawat kita yang ada . Toh katanya harga sewanya tergolong murah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## "F-15 dan F-18 hibah"
      Pernyataan semacam ini seratus persen HOAX..

      Pemerintah US sendiri tidak peduli secara politik re keberadaan PT Freeport,
      bahkan rakyatnya akan lebih cenderung mengkritik sepak tejang Freeport.

      Kalau mau, seharusnya mengundang wartawan asing untuk membentuk tim investigasi untuk mengusut Pt Freeport, tetapi sayangnya kita juga tahu, kalau ini juga tidak mungkin, justru karena alasan politik lokal dari sisi kita sendiri.

      Kita tidak perlu membahas terlebih jauh dari sini.

      Dan benar, pemerintah US belum, dan tidak akan menawarkan F-15 ke Indonesia.
      Peringkat export kita dinilai belum cukup tinggi.

      ## Menyewa Gripen-C/D
      Secara tehnis ide yg sangat bagus kalau memang butuh jumlah cepat, tetapi tidak ada uang.

      Fully-Networked 16 Gripen-C/D kemampuannya sudah jauh lebih tinggi, dibanding seluruh TNI-AU yg sekarang, dan biaya operasionalnya 40% lebih murah dibandingkan satu squadron F-16.

      Sayangnya, mengingat para pejabat ini sekarang mempunyai keinginan Lebih besar pasak dari tiang untuk membeli Su-35, padahal anggaran operasionalnya saja tidak bisa masuk;

      Kemungkinannya terlalu kecil kalau dalam jangka waktu dekat Gripen sewaan bisa masuk.

      ## Kembali, terlepas dari gencarnya Su-35 dewasa ini, IMHO kita tidak mempunyai kebutuhan nyata pespur sampai tahun 2021.

      Sementara itu, masih ingat kalau siklus ekonomi biasanya terjadi setiap 10 tahun?
      Dalam 40 tahun terakhir, krisis terjadi di tahun 1987, 1998, dan kemudian 2008.

      Dewasa ini, perekonomian global sudah overdue untuk menghadapi koreksi market seperti 2008.
      Semua gejala2 yg sama sekarang sudah mulai terlihat, dan hanya masalah waktu sebelum akhirnya terjadi.

      Inilah kenapa kontrak Su-35K... akhirnya akan kandas menabrak kenyataan.
      Pada masa krisis ini, menyewa Gripen-C/D akan menjadi tawaran yg jauh lebih menarik.

      Delete
    2. Knp kok bisa pemerintah US tdk peduli keberadaan Freeport secara politis?

      Delete
    3. Karena ekonomi US adalah perekonomian terbesar di dunia; Freeport hanya seperti bakteri.

      Semua masalah yang dilaporkan re Freeport, sebenarnya kesalahan kita sendiri.

      Pertanyaan yang paling mudah:
      Kalau begitu merugikan, kenapa memberikan monopoli pertambangan di Papua ke Freeport?

      Masalah kedua; kenapa dari tahun 1967 sampai sekarang, kontraknya terus diperpanjang?

      Ini sama dengan Sukhoi alias senjata makan tuan.
      Biaya operasional menyedot anggaran, dan menginjak-nginjak kedaulatan, tetapi hasilnya hampir nihil, eh, tetapi entah kenapa masih bisa "mendapat perlindungan".

      Sudah diporotin sejak 2003, tetap saja, mau membeli 11 unit... dengan "barter harga ketok".

      Semuanya salah kita sendiri.

      Delete
  11. TOT, istilah ini muncul semasa pemerintahan SBY, dmn setiap pembelian alutsista harus disertai transfer teknologi utk mendukung kemandirian bangsa.
    Nurtanio, tokoh penerbangan yg namanya sempat diabadikan menjadi industri penerbangan, sekarang PT. DI di majalah Angkasa pernah meretrofit mesin bekas hingga mampu mengudara. Pesawat tersebut digunakan utk keliling dunia, utk menunjukkan bahwa Indonesia bisa menguasai ilmu kedirgantaraan.
    Uji coba pertama sukses. Uji coba ke 2 pesawat tersebut terbakar, dan menewaskan Nurtanio. Sayang, apa yg telah dilakukan Nurtanio dgn meretrofit mesin bekas tersebut tdk terwariskan ke generasi selanjutnya. Andaikan terwarisi mgkn Indonesia sdh bisa membuat mesin pesawat meskipun turboprop. Tiba- tiba muncul CN 235, org awam selalu bertanya siapa yg membuat pesawat dlsb.

    Sekarang ada penawaran dari SAAB mengenai Gripen. Penawaran ini menurut saya msh beresiko kecil, klo seandainya pesawat Gripen jatuh, karena msh ada tenaga SAAB utk mendampinginya. Ini adalah peluang demi kemandirian bangsa.
    Apalagi pejabat DEPOHAR TNI AU pernah menuturkan di majalah Angksa, sewaktu menyerahkan selesainya overhoul Hawk 100/200, kalau Indonesia tdk bisa merawat pesawat, Indonesia akan mudah dilumpuhkan.

    Jadi manfaat TOT disini, tdk hanya utk gagah gagahan bahwa RI bisa membuat pesawat, tetapi juga bisa membeti efek gentar. Filosofi kalau anda ingin damai bersiaplah utk perang, TOT Gripen bisa menjawab. Mumpung 'perang masih lama' alangkah baiknya kalau kita belajar membuat pesawat dan belajar menembak BVR misile.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ========
      Sekarang ada penawaran dari SAAB mengenai Gripen.

      Penawaran ini menurut saya msh beresiko kecil, klo seandainya pesawat Gripen jatuh, karena msh ada tenaga SAAB utk mendampinginya. Ini adalah peluang demi kemandirian bangsa.
      ========

      Kalau dari segi flight safety;
      Selama 20 tahun sejak masuk operasional, sebenarnya belum pernah ada Gripen yang jatuh karena kesulitan tehnis.

      Gripen-C MS-20 menambah "automatic ground collision avoidance system"; kecelakaan seperti di Thailand tempo hari, kelihatannya sudah semakin sulit untuk bisa terjadi lagi.

      Masalahnya hanya, karena RTAF belum mau mengaplikasikan MS-20. Sejauh ini hanya Swedia, dan Czech, yang sudah mendaftar untuk MS-20 upgrade.

      Sy akan sambung jawaban singkat re ToT dalam jawaban berikutnya, dan ini akan menjadi artikel tersendiri, sekaligus untuk membakar gosip yg disebar para agen sales Sukhoi:

      Keuntungan ToT dari Saab; Pengalaman Czech, Hunggaria, Thailand, Afrika Selatan, dan Brazil

      ========
      Apalagi pejabat DEPOHAR TNI AU pernah menuturkan di majalah Angksa, sewaktu menyerahkan selesainya overhoul Hawk 100/200, kalau Indonesia tdk bisa merawat pesawat, Indonesia akan mudah dilumpuhkan.
      ========

      Dan inilah yang namanya... menolak untuk belajar dari pengalaman.

      Sebagai bagian dari penawaran ToT Saab; mereka sudah langsung menawarkan perakitan, dengan full maintenance service centre di Indonesia, semuanya tergantung opsi mana yg kita ambil.

      Dengan keinginan membeli Sukhoi "Gasak" (GAmpang ruSAK) sangat menggelikan.

      Baru awal tahun saja, TS-3001, dan TS-3002 dua model Su-30MK, model yg sudah diperkenalkan dari sejak pertengahan tahun 1990-an saja, termasuk masih harus dipaksa kirim balik untuk perbaikan.

      Kenapa kita sekarang bisa percaya kalau Su-35K tidak akan mengalami tragedi yang sama?

      Sudah menjadi pengetahuan umum di dunia perdagangan senjata Internasional:
      Rosoboronexport (agen perantara anak perusahaan Rostec) TIDAK BISA MENJAMIN aftersales service yang bagus.

      Rosoboron akan memastikan kita tidak becus perawatan Su-35K... Kembali, studi kelaikan saja tidak pernah terjadi kok, demi mengejar mimpi.

      Inilah yang namanya praktek menjual kedaulatan sendiri ke supplier asing... dalam nama "kickback".

      Delete
    2. ========
      Jadi manfaat TOT disini, tdk hanya utk gagah gagahan bahwa RI bisa membuat pesawat, tetapi juga bisa memberi efek gentar.

      Filosofi kalau anda ingin damai bersiaplah utk perang, TOT Gripen bisa menjawab.

      Mumpung 'perang masih lama' alangkah baiknya kalau kita belajar membuat pesawat dan belajar menembak BVR misile.
      ========

      Betul, bung Irawan.

      Inilah yang seharusnya kita kejar, bukan sekadar mengadu gagah dengan negara lain.

      Kita ingin membeli Su-35K, seolah-olah sudah hebat sekali, dan sangat berpengalaman dalam Networking, BVR, WVR, ECM / ECCM; sehingga kita sudah yakin betul kalau Su- ini bisa memberikan keunggulan yang tidak bisa ditandingi.

      Dalam kesemua sektor ini saja pengalaman kita masih.... nyaris nihil.

      Bagaimana Su-35K bisa membuat kita jadi mahir?
      Biaya operasionalnya saja kita tidak akan bisa bayar.
      Versinya hanya tersedia dalam versi export.

      Sejak beberapa tahun lalu, sebenarnya cukup mengejutkan betapa banyaknya komentator online (terutama fanboyz) yang begitu memandang remeh pentingnya Transfer-of-Technology.

      Memangnya kita sudah begitu pandai, sehingga tidak perlu ToT?

      ToT itu adalah dasar untuk menjamin kemandirian, dan kedaulatan negara terhadap alutsista.

      Tentu saja, sayangnya KF-X, Su-35, dan F-16V semuanya satu suara dalam hal -- tidak akan ada ToT.

      Delete
  12. Su 30 memang cocok untuk pembom...
    Tapi klo dklihat dr kebutuhan kita ndak butuh pembom...

    Sudah jelas semuanya bahwa pejabat punya kepentingan pribadi dengan sukhoi hanya untuk kedaulatannya sendiri... Benar benar menyebalkan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya... Sukhoi entah cocoknya untuk apa, kecuali untuk menghabiskan uang.

      ## Untuk menjadi pembom juga sebenarnya tidak becus, karena industri Russia belum membuat Targeting pod.

      ## Jarak jangkaunya juga lemot, walaupun tangki bahan bakarnya luar biasa besar (11,500 kg untuk Su-35); tapi jarak jangkaunya masih 20% lebih jelek dibanding F-15E.

      ## Secara tehnologi juga... model yang sudah kuno dari pertama kali dibuat, dan tidak pernah ada paket upgrade yg berarti sejak 2005.

      ## Tentu saja mustahil ada alih tehnologi, ataupun basic requirement anti-korupsi: Government-to-Government contract.

      Betul,
      Memang kelihatannya akuisisi Su-35 model downgrade hanya untuk kepentingan pribadi.

      Yang penting kasih kickback..

      Delete
  13. Pasti untuk perorangnya bisa mencapai 1 milyar...

    Bung untuk membom su punya kamera tersembunyi semacam targeting POD... Namanya apa bung? Apa perbedaannya dengan pod atau littening? Ada d bawah moncongnya di iklan su 35

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## "kickback" -- kelihatannya sih sifatnya tidak sekali putus. Seperti di atas; untuk biaya operasional Su-Flemon, setiap harga spare part, atau biaya service akan harus dibayar via Rosoboronexport, dan jalur perantara lokal mereka. Dengan kata lain, komisi dari spare part akan dibayarkan kembali dalam bentuk "kickback".

      Dari dahulu, inilah nasib kalau membeli lewat perantara.

      ## Sukhoi tidak mempunyai targeting pod;
      seperti sudah dibahas dalam News Update: Kabar buruk Su-35, dan KF-X.

      Su-Flemon hanya mempunyai OLS-35 IRST.
      Yah, ini bisa dipakai untuk melihat target di darat (jarak jangkau 20 km), tetapi resolusinya tidak akan optimal, karena dirancang untuk mencari target di udara.

      Tentu saja sebagaimana kita tahu, untuk setiap versi lokal, industri Russia sudah "mahir" membuat.... Versi Export-nya.

      OLS-35 untuk Su-35 Edisi Indonesia hanya menjadi model downgrade.

      Performanya bagaimana?
      Sebaiknya mengurangi 30% dari angka publikasi Russia.

      ## Perhatikan juga artikel di JKGR re "Sukhoi Indonesia akan diperlengkapi Jammer baru"!

      Mereka lupa menyebut, kalau screenshot dari publikasi Ruski saja sudah menyebut re SAP-518 hanyalah ... export version of....

      Untuk berita gosip ini, sekali lagi tidak!

      Knirti SAP-518 tidak akan compatible ke Su-27/30 Indonesia, yg secara tehnologi sudah kadaluarsa dari pertama dibeli.

      Delete
  14. Bagus ulasannya...menunjukan bahwa F16 adalah pesawat yg bandel,dr 1989 lho..yg membedakan hanya isian..dan itupun bisa diupgrade,yg penting pengankutnya masih mumpuni xixiixi,perbandingan dg sukhoi..begitu ya...pantas di indonesia dibeli,soalnya formasinya "DIGABUNGKAN",bukan diadu kayak petinju...wkwkwkw..pinter orang2 indonesia..tidak usah mahal2..tapi dengan menggabungkan suatu "ALAT"..kemungkinan besar mendapatkan hasl yang "MAKSIMAL"...hehehhe..mungkinkah kedepannya ada pespur sekelas,seharga F16 yg bandel kayak data diatas??...(kalo lebih mahal banyak,kalo yg udah terbukti..mmmhmmmh)...wajarlah Indonesia beli kospngan dulu..kan isian+amunisi bisa beli sambil jalan..ibarat orang beli motornya dulu..bensinnya sambil jalan..kalo beli bensinnya dulu..kapan beli motornya???...mau mandi bensin?..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @jendral coc,

      =========
      perbandingan dg sukhoi..begitu ya...pantas di indonesia dibeli,soalnya formasinya "DIGABUNGKAN",bukan diadu kayak petinju
      =========

      Sekali lagi, Sukhoi dan F-16 tidak bisa compatible secara operasional.

      Prosedur penggunaan, maintenance, operasional, persenjataan, dan... IFF (Identification-Friend-or-Foe) semuanya berbeda jauh. Lebih penting lagi, hampir mustahil keduanya bisa di-network bersama.

      ## Ini hanya mendongkrak biaya operasional kedua tipe, dengan asumsi maintenance-nya bisa dilakukan lokal. Tetapi F-16 mungkin masih mengandalkan tehnisi Lockheed; sedangkan Sukhoi jauh lebih parah, karena harus di-export balik ke negara asal untuk perbaikan mendalam --- tujuannya memoroti keuangan rakyat semaksimal mungkin, dalam nama "rahasia negara".

      ## Dengan kata lain, saat ini kita seperti mengoperasikan ikan hiu, dan burung elang. Dua barang yang berbeda, yang tidak bisa dioperasikan bersama.

      ## Dalam konflik udara yang sesungguhnya, tidak akan ada perbedaan antara Heavy Twin-Engine, dan Single-Engine Lightweight Fighter.

      Seperti pernah dituliskan disini:
      Peluru, atau missile itu LUAR BIASA BODOH!

      Apa yang mereka tahu, target yang UKURANNYA LEBIH BESAR,
      dan PANTAT BELAKANGNYA LEBIH PANAS,
      akan selalu menjadi makanan yang lebih empuk; lebih mudah ditembak jatuh!


      =======
      wajarlah Indonesia beli kospngan dulu.
      =======

      Sekali lagi, tidak ada satupun juga negara yang menggunakan akusisi "macan ompong" yang sama.

      Senjata bukan konsumsi yang dibakar per kilometer seperti bensin.

      Kalau tidak ada persenjataan, apa bedanya F-16, dengan CN-235?

      ## Terakhir, tidak akan ada keunggulan strategis yang berarti; dari mencampur aduk armada gado2 F-16 v Sukhoi.

      Seluruh Nusantara akan menjadi jauh lebih aman, kalau semua Sukhoi di buang ke laut, dan semua dana yang tersedia terlebih dahulu dipergunakan untuk mengoptimalkan kemampuan tempur F-16 Block-25+ versi downgrade.

      Seperti dalam artikel, Sukhoi saat ini menghamburkan terlalu banyak uang, untuk hasil yang percuma.

      Dengan hanya bisa memakai RVV-AE sih, mau membeli 500 missile tetap saja hanya "macan ompong".

      Sudah saatnya membeli 4 AMRAAM C-7, dan 2 AIM-9X Block II per pesawat, ditambah stock di gudang.

      Loh, bagaimana dengan Gripen?

      Kembali, sebenarnya Gripen adalah pengganti ideal untuk Sukhoi, sekaligus untuk menggantikan satu skuadron Hawk di tahun 2020-an.

      Delete
    2. persenjataan pespur harus lengkap sejak pertama beli ingat yg namanya konflik bisa pecah sewaktu-waktu jadi harus siap sejak awal termasuk soal persenjataan jgn mengorbankan persenjataan cuma karena bisa nambah 1 atau 2 pespur lebih banyak kalau beli kosongan

      pespur iya persenjataan iya

      Delete
    3. Untuk @jendral coc,

      Saatnya anda berhenti menjadi agen sales untuk Sukhoi.

      Kita tidak membutuhkan Sukhoi GASAK yang:
      - Hanya bisa dibeli lewat perantara, termasuk semua spare part --> Ini sih cikal bakal korupsi
      - Biaya operasionalnya jauh melebihi anggaran yg terbatas.
      - Dan tidak, anggaran pertahanan Indonesia tidak perlu mencoba bersaing vs Singapore, atau Australia -- mereka jauh lebih kaya, kita tidak mungkin menang.
      - Hanya Versi Export Downgrade, yg lebih inferior dari F-16
      - Dengan missile versi export pula
      - Gampang rusak, dan perbaikannya tidak boleh di dalam negeri
      - Tehnologi kuno, dan tidak akan bisa, atau diperbolehkan untuk di-upgrade
      - Segala sesuatunya juga sudah dikunci dari pembuat, tanpa ada kesempatan untuk memperkaya diri secara kemampuan tempur, inovasi, atau tehnologi
      - Hanya untuk menginjak2 UU no.16/2012 dalam nama "kickback".
      - Hanya akan memperlemah pertahanan, dan kedaulatan Indonesia, karena seluruh anggaran TNI-AU hanya akan dihisap ke Moscow.

      Belajarlah untuk mengutamakan kepentingan personil TNI, industri dalam negeri, perkembangan tehnologi, dan kebutuhan perekonomian Indonesia secara keseluruhan!

      Jangan sibuk jadi agen sales untuk Rostec!

      Kelihatannya, walaupun secara tehnis sudah merdeka 72 tahun, kita masih belum memahami pengertian dari arti kata M E R D E K A itu sendiri.

      Merdeka itu bukan berarti sekali pukul selesai, tetapi perjuangan yg berkelanjutan dalam semua sektor.

      Delete
    4. beli jet tempur bukan untuk gagah2 an . Bukan bwt perayaan doank ..

      Delete
    5. sekarang jamanya sistem hankam canggih Network centric warfare sistem hankam terintegrasi 3 matra , tak lagi jaman 60 an

      Delete
  15. Oleh: Bung @Irawan
    ===========
    Menurut bung DR, knp Indonesia mau beli T 50, apalagi tanpa radar. Berita yg pernah saya baca 1. Dulu Indonesia mengincar Yak rusia, tapi karena pesawat tersebut sering jatuh Indonesia membatalkan 2. Korea sdh sering beli CN 235, Indonesia diharapkan membeli produk Korea...
    ===========

    Maaf, komentar anda terhapus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Pertama-tama, satu2nya yang berwenang untuk menentukan spesifikasi T-50 adalah pemerintah United States, dan bukan Korea Selatan.

      Inilah efek dari penualan barang downgrade.
      Pemerintah US sepertinya menginginkan kita lebih tergantung ke F-16, dibanding T-50.

      Tentu saja pihak kita seharusnya sudah tahu, tetapi kenapa tetap masih mau beli?

      ## Mengingat Korea, dan khususnya KAI sekarang sedang dirudung skandal korupsi,
      Kemungkinannya kontraknya juga sudah dimanipulasi dengan santunan "kickback".

      Yah, kelihatannya kontrak T-50 di negosiasikan via BUMN KAI, dengan paket offset Korea membeli 4 CN-235.

      Memang jadi serba salah.

      Delete
    2. Oiya,
      tentu saja Yak-130, ataupun satu lagi model PRC akan jauh lebih parah dibanding T-50,

      Ketiga model latih ini semuanya Versi Export Downgrade, dan memang tidak akan ada yg membawa radar.

      Delete
  16. Mungkin maksudnya menggabungkan antara alutsista US dan RUSIA itu seperti PANDA...

    Hitam putih... yin dan yang berpadu jadilah kungfu panda wkwkwkwk ini nama baru dari armada gado gado kita...

    Bung saya mau tanya... Harga gripen c ms 20 sama t 50 ge.. Mahal mana? Knp indo ga beli gripen saja ya? Kenapa mesit t 50?
    Dan apakah klo t 50 ge tni sudah d upgrade apakah bisa mengoperasikan rudal semacam amram yg akan d beli tni untuk f 16 25+?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Kalau Panda itu sebenarnya tetap satu.
      Gado-gado berarti perpaduan bermacam material untuk memberi satu rasa.

      Sedang alutsista Indonesia dewasa ini lebih bagaikan buah simalakama; dibuang tidak bisa, tetapi kalau di makan rasanya bukan main pahit.

      Dalam keadaan sekarang sih, untuk selamanya kita akan terus ketinggalan jaman 40 tahun dibanding Australia, atau Singapore.

      Delete
    2. =======
      Bung saya mau tanya... Harga gripen c ms 20 sama t 50 ge.. Mahal mana? Knp indo ga beli gripen saja ya? Kenapa mesit t 50?
      =======

      Kita harus mengerti dahulu kalau kedua pesawat ini sama sekali berbeda.

      Gripen-C adalah pesawat tempur Air Superiority, yang sudah dirancang dari awal untuk bisa menantang lawan manapun di udara; dengan kemampuan secondary untuk serangan darat, dan recon.

      T-50 hanyalah pesawat LIFT (Lead-in Fighter Trainer) -- pesawat latih tahap lanjutan setelah pilot selesai latihan dengan basic trainer; untuk mempersiapkan pilot sebelum beralih ke F-16, F-15, atau F-35.

      Gripen dirancang untuk beroperasi di garis depan; sedang T-50 tidak.

      Yah, harganya lebih mahal Gripen.

      T-50 jauh lebih sederhana dalam segala hal (ini saja Sukhoi Flemon di Sku-11 tidak becus menyergap); baik akselerasi, atapun kemampuan manuever-nya pun masih setingkat dibawah F-16.

      =========
      Dan apakah klo t 50 ge tni sudah d upgrade apakah bisa mengoperasikan rudal semacam amram yg akan d beli tni untuk f 16 25+?
      =========

      Lockheed-Martin, pemegang source code T-50, tidak akan mengijinkan operasional AMRAAM di T-50.

      Alasannya mudah.
      Lockheed tidak akan membiarkan T-50 berpotensi untuk menjadi saingan kelas dua untuk F-16.

      Korea saja tidak mendapat ijin untuk memasang refueling probe ke T-50 versi export mereka, sama seperti T-50A versi lokal untuk kompetisi T-X di US.

      Lagipula, kalaupun mungkin suatu hari mendapat ijin?
      Kembali, base desain T-50 tidak dirancang untuk pertempuran garis depan, apalagi mengintegrasikan, dan mengoperasikan senjata complex seperti BVRAAM.

      Pertama-tama saja, sudah akan menabrak tembok berapa biaya untuk mengintegrasikan AMRAAM?

      Ini saja bisa antara $500 juta - $1 milyar.

      Kedua, kalaupun bisa jadi terintegrasi hanyalah pekerjaan membuang garam ke laut.

      F-16 Block-25 sekalipun akan tetap jauh lebih unggul dalam segala hal dibanding T-50.

      Delete
  17. bung dark, dari mana asal muasal dapatkan teknologi senjata nuklir dan apa mungkin kita menjadi negara berkemampuan senjata nuklir kyk pakistan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Guru saya adalah sarjana teknik beliau mengaku mampu membuat bomb atom dari awal sampai peroses pelesakan... Membuat bom atom itu mudah bangsa kita sudah mampu... Yg sulit adalah membuat rocketnya...

      Jauh lebih mudah membuat bom atom d banding membuat listrik bertenaga nuklir... Konon sih katanya gitu

      Delete
    2. Kita sudah menjajaki kemungkinan mengoperasikan reaktor nuklir untuk generasi listrik semenjak puluhan tahun yang lalu.

      Kalau berbicara senjata nuklir sih... lebih baik tidak kesana!

      Senjata nuklir hanyalah kegilaan tersendiri, yang memabukan.

      ## Weapon of mass destruction, yang tidak akan memandang bulu siapa yang terbunuh.

      ## Ini hanya akan memulai perlombaan senjata nuklir di Asia Tenggara, kawasan yang sebenarnya paling aman / stabil di seluruh dunia, sebelum PRC mulai membuat onar di LCS.

      ## Mempunyai senjata nuklir juga berarti membuka kesempatan untuk terorisme nuklir; beberapa pihak sudah lama mengkhawatirkan, berapa kemungkinannya ada pihak korup di Pakistan yang menjual weapons-grade plutonium ke black market?

      ## Tentu saja, mencoba membuat senjata nuklir secara illegal, bukanlah untuk menjunjung kedaulatan seperti pemikiran Korut; melainkan membuka pintu ke embargo ekonomi, dan persenjataan yang berkepanjangan.

      Bahkan Russia-pun dengan senang hati akan turut meng-embargo.

      Delete
    3. Kl tdk salah Indonesia sudah menandatangani Non-Proliferation Treaty. Jika kita keluar dari perjanjian itu dan membuat senjata nuklir, apakah akan ada dampak ke Indonesia?

      Delete
    4. Yah, dampaknya luar biasa jelek.

      Kalau kita mencoba membuat senjata nuklir, kita hanya akan menobatkan diri menjadi musuh dunia.

      Faktor negatif Kedua:
      Mempunyai senjata nuklir hanya akan menjadikan kita target serangan nuklir negara lain. Mengusahakan senjata nuklir, seperti Pakistan, dan India, hanya menimbulkan ilusi lebih aman, padahal sebaliknya, malah lebih membahayakan rakyat masing2 negara.

      Ketiga, senjata nuklir hanya akan menghisap anggaran untuk pengeluaran persaingan yg mubazir.

      Pentagon misalnya, baru saja membuka tender $900 juta ubtuk ALCM cruise missile berkepala nuklir, yg bisa dioperasikan dari B-52, B-1B, atau B-2. Ini saja hanya satu dari trifecta senjata nuklir US.

      Bagaimana bisa bersaing dalam perlombaan menghamburkan uang semacam ini?

      Terakhir, jangan lupa kalau kemungkinannya pemakaian senjata nuklir dalam perang dunia berikutnya... hampir nihil.

      US, UK, Ruski, PRC, Perancis, Pakistan, India, dan Israel tetap akan dipaksa menghamburkan banyak uang untuk "efek gentar" semu yg mrk tidak bisa pakai.

      Siapapun yg berani teken tombol merah, hanya memastikan negaranya sendiri dihancurkan oleh senjata yg sama.

      Inilah kenapa sekali lagi, kita tidak membutuhkan senjata nuklir.

      Pemikiran semacam ini hanya melangkah menuju neraka yg kita buat sendiri.

      Delete
  18. Harga 11 Sukhoi Hasil Barter Komoditas sekitar Rp 15 Triliun http://ekonomi.kompas.com/read/2017/08/23/050000226/harga-11-sukhoi-hasil-barter-komoditas-sekitar-r

    ReplyDelete
    Replies
    1. ============
      "Saya tawar sudah lama, buka harga 150 juta dollar AS, sekarang jadi 90 juta dollar AS sudah lengkap"
      ============

      Err.... ini justru karena transaksinya memakai barter.

      Angka ini adalah kalau kita mengambil asumsi trade-nya akan fair, dan si agen perantara Rostec akan membayar harga pasar untuk transaksi barter.

      Padahal, kenyataannya, yah, tidak akan bisa begitu.

      Ini kan sama saja seperti kita ke tukang gadai, dan menanya berapa harga gadai barang kita! Harganya diketok, bukan?

      Inilah kenapa Uang diciptakan; untuk meningkatkan transparansi seadanya. Berapa yang harus dibayar, bisa dinilai secara obyektif.

      Dan sebagaimana kita tahu, Russia sekarang ini sudah memupuk reputasi solid dalam dunia internasional untuk berkata A, tetapi mengerjakan Z:

      Seperti dalam contoh Serangan senjata kimia Su-22 Assad di Syria

      "Oh, tidak! Su-22 Assad tidak pernah membom dengan senjata kimia!" menurut semua media berita asal Russia.

      Walaupun hasil research Lembaga Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) sudah menarik kesimpulan pasti:

      Ya, 100% positif kalau terjadi serangan Kimia dengan gas sarin.

      Lagipula, secara tehnis, pengaturan cara yg sekarang ini berarti Departmen Perdagangan men-subsisi transaksi alutsista untuk DepHan, dan TNI.

      Waahh? Siapa yang membayar para pengusaha, dan para petani!

      Kedua, apakah imbalannya atas jasa mereka sebagai perantara yg mewakili pemerintah Indonesia?

      Bukan main hebatnya, semua perjuangan untuk mengakusisi satu-satunya pesawat yang justru paling tidak sesuai dengan kebutuhan Indonesia, dengan biaya operasional yg akan jauh melebihi semua Skuadron yang ada.

      Kita lihat saja.

      Kontrak final belum akan ditandatangani, dan masih harus melalui persetujuan Presiden, dan DPR.

      Delete
  19. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170822145253-92-236480/barter-sukhoi-rusia-terganjal-fluktuasi-harga-komoditas/

    Barter Sukhoi Rusia Terganjal Fluktuasi Harga Komoditas
    Elisa Valenta Sari , CNN Indonesia Selasa, 22/08/2017 15:01 WIB
    Saat ini, pemerintah masih mengkaji skema valuasi barang yang akan diperdagangkan antara komoditas perkebunan Indonesia dengan pesawat Sukhoi Rusia. (REUTERS/Sergei Karpukhin).
    Jakarta, CNN Indonesia -- Kesepakatan Indonesia dengan Rusia untuk perdagangan tukar barang (barter) pesawat Sukhoi dengan sejumlah komoditas agaknya belum bisa terlaksana dalam waktu dekat ini. Pasalnya, kesepakatan kedua negara masih terganjal oleh penentuan harga kedua barang yang akan 'diperjual-belikan'.

    Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, pemerintah masih akan mengkaji skema valuasi barang yang akan diperdagangkan antara komoditas perkebunan Indonesia dengan pesawat Sukhoi Rusia. Dengan demikian, perjanjian imbal dagang sukhoi masih menunggu proses valuasi.

    Pemerintah Indonesia berkeinginan untuk membeli 11 pesawat SU-35 dari Rusia senilai US$1,14 miliar. Namun, untuk mendapatkan pesawat tersebut, Indonesia harus berhitung lebih cermat lantaran harga sejumlah komoditas tidak stabil, serta cenderung berfluktuasi di pasar global.

    Lihat juga:Indonesia Barter Hasil Perkebunan dengan Sukhoi dari Rusia
    Agar tak saling merugikan, lanjut Enggartiasto, perlu pula transparansi terkait volume dan nilai ekspor komoditas yang dibarter ke publik, termasuk valuasi pesawat Sukhoi dari Rusia sendiri.

    "Mengenai harga, kami masih open (terbuka). Kami akan melihat analisis proyeksi dari komoditas. Saya akan melibatkan para pemain CPO dan asosiasinya untuk membuat proyeksi pasar," tutur dia, Selasa (22/8).

    Sebelumnya, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) telah meneken nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan Rusia, Rostec. Kedua pihak berkomitmen untuk segera merealisasikan pertukaran Sukhoi SU-35 dengan sejumlah komoditas Indonesia.

    Enggar menjelaskan, pesawat tempur Sukhoi akan menggantikan armada F-5 milik Indonesia yang sudah usang. Pemerintah menyiapkan sejumlah komoditas mulai dari kopi dan teh hingga minyak kelapa sawit dan produk-produk industri strategis pertahanan untuk ditukar dengan pesawat itu.

    "Secara relatif, harga bisa kami kontrol. Karena Indonesia punya pangsa pasar CPO terbesar di dunia. Pada saat harga komoditas naik, saat itulah kami akan lakukan transaksi," terang dia.

    Lihat juga:Sebanyak 300 Industri Bakal Ikut Lelang Gula Rafinasi
    Sementara itu, pemerintah masih menahan diri untuk tidak melibatkan komoditas karet lantaran kondisi harganya yang diproyeksi masih terus menurun.

    "Karet, saya tidak mau kasih, karena ada kecendurungan harga karet terus turun. Kalaupun mau ya paling hanya crumb rubber," kata Enggartiasto.

    Kementerian Perdagangan memiliki catatan perdagangan total antara kedua negara mencapai US$ 2,11 miliar dengan surplus untuk Indonesia sebesar US$ 411 juta pada 2016. Neraca perdagangan kedua pihak meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu US$ 1,9 miliar. (bir)

    ReplyDelete
    Replies
    1. menambah beban hutang negara , hutang dah bertumpuk , hutang untk beli barang yg udah di downgrade

      Delete
    2. Sbnrnya kalau mau transaksi G-to-G dengan pemerintah Swedia, atau US, kedua negara ini bisa menyediakan paket Financing, bukan transaksi barter.

      Dalam kontrak Brazil tempo hari, paket financing dari Swedia bunganya 2,88%.

      Nah, kemudian disinilah perbedaan antara kata offset, dan imbal dagang / barter, yg sepertinya tidak mendapat pembedaan dalam UU no.16/2012:

      Untuk Offset saja pengertiannya bisa dua macam, dan seharusnya baru bisa dikerjakan setelah kontrak ditutup dalam transaksi finasial tersendiri.

      Offset secara ekonomi, kemungkinan jalur US, berarti penjual harus berinvestasi misalnya, bisa secara ekonomi utk menambah kuota nilai import value US$ dari barang produksi Indonesia.

      A T A U

      Offset Tehnologi, seperti jalur Swedia, menginvestasikan kembali % nilai penjualan yg sudah disetujui untuk membangun industri lokal, edukasi kader, dan Transfer of Technology.

      Dalam kedua bentuk offset ini, 85% dari nilai transaksi seharusnya dibayarkan kembali ke sektor industri pertahanan, atau ekonomi Indonesia.

      Imbal dagang, seperti pernah dipraktekkan untuk memb3li 4 Su-tahun 80-an di 2003 pengertiannya berbeda.

      Transaksi barter komoditas dijadikan sebagai alat utama pembayaran sekian persen dari nilai transaksi.

      Jadi kalau dalam offset Indonesia yg mendapat keuntungan semacam pembayaran balik baik secara ekonomi, ataupun industrial dari kontrak pembelian Alutsista;

      Imbal dagang berarti ekonomi Indonesia yg harus mensubisidi rencana belanja TNI. Secara tak langsung berarti kas negara akan diminta untuk mengalihkan pengeluaran dari buku keuangan Kemendag, untuk mensubsidi keinginan Kemenhan.

      Inilah logika dari rencana transaksi Su-35 Versi Export.

      Seperti dalam 2 artikel terakhir, keuntungan Nasional-nya sih NOL BESAR, dan ini juga... salah kita sendiri.

      Delete
  20. Kenapa tidak berhutang saja, apa rusia tak mau kita berhutang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau membayarnya dengan mengambil, dahulu disebut "kredit lunak" dari Russia senilai $2 milyar, pilihannya mudah:

      - *Bayar harga premium $150 juta+ / unit kalau mau Su-35 Versi Export*

      - Atau, sebaiknya silahkan membeli tambahan Su-30MK2, atau Su-27SKM versi Export.

      Kenapa Russia menunut harga gelembung untuk Su-35 Versi Export?

      Sederhana: sama seperti kenapa US tidak akan menjual F-15 dengan AESA radar, Russia juga TIDAK MAU MENJUAL "crown jewel" Su-35 ke Indonesia.

      Harga pembukaan yang 2x lebih mahal itu saja sudah menjadi petanda buruk dari awalnya, bukan?

      Tidak mengherankan mrk menuntut harga premium.

      Seperti sy sudah tulis berulang kali, posisi kita yg anti-komunis saja sudah menjadi liabilitas dari awal. Sekarang tambah faktor kita tukang hibah MiG, ya... untuk Russia sih kita dianggap the perfect storm.

      Sekarang masakan harga satuannya bisa turun ke $90 juta?

      Yah, coba tanyakan saja, apa perbedaan tidak downdgade spesifikasi-nya antara harga $150 juta, dengan $90 juta.

      Kelihatannya harga $90 juta akan digrlembungkan balik via transaksi harga ketokan barter, dan tentu saja... kemungkinan besar di -strip down lebih rendah lagi.

      Padahal versi S lokal saja hampir mustahil bisa mengungguli F-16 Block-52+.

      Demikianlah ringkasan kisah miris dari novel "Cintaku ke Su-35K bertepuk sebelah tangan."

      Kalau ending ceritanya jadi kawin paksa, ya, masa bulan madunya tidak akan bisa lama.

      Untungnya, spt biasa, para fanboyz saat itu sudah menikmati masa pensiun, dan tidak perlu lagi ambil pusing.

      Delete
  21. Sepertinya rusia sudah faham bahwa tecnoloynya ketinggalan jaman... Apalagi yg d jual versi downgrade, tanpa ToT pula... Tgl 23 agustus 2017 d metro tv saya lihat d youtube barusan bahwa rusia akan menjadikan indonesia pusat suku cadang sukhoi...
    Ntah ini kabar baik atau buruk... Bagai mana menurut bung dark?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ===
      ....pabrik suku cadang Sukhoi...
      =====

      Aneh ini juga para wartawan.

      Pertama2 saja, suku cadang yg mana?

      Seolah2 pabrik suku cadang jadinpemenuhan syarat ToT, padahal ada diskusi dengan PTDI, atau semua lapisan industri pertahanan lokal saja sama sekali tidak.

      Sekali lagi, mustahil Rostec akan mengijinkan produksi suku cadang Sukhoi manapun di Indonesia.

      Kembali, coba saja google search "Su-30MKI ToT", dan tanyakan pendapat orang India.

      Ruski lebih memilih industri lokal mereka sendiri yg memproduksi park untuk Irkut MKI, agar bisa mengetok profit margin yg tinggi.

      Industri lokal India sudah lama meminta ToT agar part bisa diproduksi sendiri di India; dalih abang tukang Sukhoi selalu "kapasitas industri Ruski sudah cukup untuk memenuhi".

      Dan ini berlaku untuk negara yg membeli 60% alusista-nya dari Russia, termasuk 277 Sukhoi, dan 500 MiG-21; dan tidak mempunyai hutang kesumat spt anti-komunisme di Indonesia.

      Sama spt di India, Russia juga senang mengumbar janji produksi lokal, atau ToT, tetapi kembali ke hukum alam transaksi alutsista:

      Negara yang menjual Versi Export Downgrade TIDAK AKAN PERNAH MAU ToT, atau PRODUKSI LOKAL AGAR MANDIRI.

      Di Brazil sbnrnya tawaran Super Hornet dari Boeing juga sama menabrak tembok karena urusan ini.

      Sekali lagi, terlepas perjuangan para abang tukang Sukhoi dalam nama menutup kontrak: tidak mungkin ada satupun paku Su-35K boleh diproduksi di Indonesia.

      Mereka sudah cukup pintar. Menjual mimpi dahulu, kalau pesawatnya sudah datang, gampang mungkir.

      Delete
  22. Saya pikir india sudah bisa buat su 30 mki sendiri lalu tot dari pembelian 277 pkus 500 mig 21 seperti apa?

    Saya pikir suku cadang yg d produksi indonesia adalah berupa sayap sayap saja taoi ryamizard mentri pertahanan mengatakan sampe mesin mesinnya bung... Saya heran metro menyiarkan kabar seperti ini...

    Jadi tot yg d dapatkan india itu berupa apa bung?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Apa yang didapat India?

      + Hanya kemampuan merakit Sukhoi dari bahan CKD, kelihatannya hampir 90% spare part utama harus tetap import dari Ruski.

      + Full maintenance centre

      + Diperbolehkan untuk memasang, misalnya Electronic Jammer buatan Israel ke MKI; combat proven system untuk perlindungan MKI.

      + Kemudian boleh menambah Astra BVRAAM, dan Bhramos ASM -- ini juga kelihatannya belum semua MKI sudah bisa mengoperasikan.

      ======
      Sayap, dan mesin Sukhoi diproduksi di Indonesia?
      ======

      Janji yg terlalu muluk, mengingat India saja yang beli 277 pesawat belum diperbolehkan.

      Mesin AL41F1 versi export akan dinilai "terlalu rahasia".
      PRC sih akan sangat senang kalau bisa dapat blueprint mesin ini.

      Ingat kebiasaan abang tukang Sukhoi adalah.... renegosiasi kontrak, warranty, dan mungkir delivery part..
      Tentu saja, jangan melupakan komisi penjualan, dan kickback untuk menjamin kesetiaan negara pembeli!

      Sekali lagi, serigala tidak bisa mendadak beranak domba.
      Itu sih namanya serigala berbulu domba.

      :D

      Delete
    2. india gk dapat ToT apapun gan..... klo india dapat ToT sukhoi gk mungkin mereka beralih ke Rafale ....india cman dapat licensi perakitan doank

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete
    4. bung Dark..apa benar selain kita..Pakistan ternyata juga pernah DIembargo Sovyet ampe jaman Rusia..dan kabarnya baru dicabut tahun 2014

      Delete
    5. Pakistan memang berada di pihak US selama Perang Dingin, dan ini mendorong India untuk ber-aliansi dengan Uni Soviet.

      F-16 AU Pakistan pernah menembak jatuh beberapa pesawat Soviet semasa intervensi Soviet di Afganistan (1979 - 1988).

      Yah, tidak heran kalau Pakistan di-embargo.

      Tetapi ini bukan masalah, krn Pakistan tidak mempergunakan alutsista buatan Soviet, melainkan berbagai macam MiG copy buatan PRC.

      Masalah ini sebenarnya sempat mempersulit masuknya JF-17 ke AU Pakistan --- dikarenakan mesinnya, RD-93, adalah variant single-engine dari mesin RD-33 untuk MiG-29.

      Russia sangat enggan untuk menjual apapun ke Pakistan,
      walau entah kenapa bisa tiba2 merebak rumor katanya "Pakistan menginginkan Su-35".

      Delete
  23. Gini saja bung klo benar russia mengijinkan kita memproduksi sparpart apalagi sampai mesin mesinnya...
    Itu artinya kita mesti mengendurkan sedikit serangan terhadap su abal abal...
    Karena saya khawatir terjadi paradox bung...
    Ryamzard klo ngomong kadang suka asal saya ga percaya klo mesin akan d produksi di indonesia...
    Hadeuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pernyataan Sukhoi abal-abal sbnrnya tidak ada hubungannya dengan alih tehnologi, tetapi masalahnya pespur ini TIDAK PERNAH SESUAI dengan kebutuhan, dan keterbatasan Indonesia.

      Seperti sudah pernah dibahas dalam artikel: Interview Fiktif dengan pejabat: Kenapa Efek gentar Su-35K terjamin 100% NIHIL.

      ## Pertama-tama, modelnya hanya model downgrade, dengan Missile versi export, yang tidak hanya development-nya belum selesai, tapi AU Russia saja alergi untuk memakai.

      Dewasa ini, di Syria, kelihatannya AU Russia dengan Su-35S versi lokal saja akan sangat enggan untuk mencoba mengadu nasib dengan pespur NATO. Hanya dipersenjatai R-27, mereka hanya akan di-sate AMRAAM.

      ## Tidak kalah penting, Biaya Operasionalnya terlalu mahal dibanding anggaran kita yang terbatas.

      Biaya OP mahal bukan berarti efek gentar tinggi, karena berarti kita tidak bisa menabung cukup jam terbang latihan pilot.
      Tanpa latihan pilot, mau pesawatnya fiktif T-65C X-Wing Fighter dari Star Wars-pun efek gentarnya akan NIHIL.

      Ini sbnrnya masalah yg lebih pelik lagi, karena.... meragukan kalau pilot Sukhoi Russia sekalipun bisa mengalahkan misalnya, pilot Australia.

      Kalau gurunya saja begitu, bagaimana negara pembeli versi export-nya?

      ## Dan kalau belum cukup biaya operasional mahal, Sukhoi tidak akan bisa sering terbang; karena maintenance-nya repot.

      Bayangkan Su-35K dipangkalkan di Natuna, ditugaskan untuk menyergap misalnya, pespur PRC.

      Hari ini mengudara untuk mencegat, balik kandang harus maintenance berat. Kalau sorenya pespur PRC sudah balik mengancam, tidak bisa terbang lagi, bukan?

      ## Masalah berikutnya; sama seperti Sukhoi di SKu-11;
      Su-35K untuk export tidak akan mendapat upgrade seumur hidupnya.
      Nyet Upgrade.

      Jangan bermimpi kalau bisa ada paket upgrade seperti F-16, atau MS- untuk Gripen!

      "Upgrade" bukanlah kebiasaan Soviet / Russia semenjak tahun 1945.

      Lagipula, betabrakan dengan masalah sebelumnya, dengan senjata versi export, yang basis tehnologinya saja sudah sejak.....30 tahun yang lalu, dan tidak pernah di-upgrade?!?

      Bagaimana bisa memakainya lebih baik?

      ## Jarak jangkaunya yg hanya 4,500 km ferry range juga tidak lebih baik dibandingkan F-16V, atau Gripen-E, tetapi meminum 4x lipat lebih banyak bahan bakar.

      Biaya operasional F-16 dan Gripen sudah lebih murah dibanding konsumsi mesin Sukhoi

      ## Jangan lupa juga; Russia belum pernah membuat pespur yg tahan operasional lebih dari 4,000 jam.

      Tidak hanya mesin AL-31F, atau RD-33 hanya akan tahan operasional 1,500 jam; walau di prakteknya 500 jam juga sudah bisa rontok sendiri.

      Su-35 diiklankan "katanya" tahan 6,000 jam, dengan mesin tahan 4,000 jam terbang.

      Percaya?

      ## Masalahnya masih berjibun:
      - Tidak akan ada kemampuan Networking,
      - Tidak akan bisa di-integrasikan dengan baik ke AEW&C
      - Kemungkinan praktek "perbaikan mendalam" MUDIK akan terus berjalan
      - Sama seperti di India, Ruski tidak akan mengijinkan memakai radar Irbis-E, kalau Su-35KI dikirim latihan dengan negara lain.

      Inilah kenapa.....
      ..... efek gentar NIHIL untuk barang yang sudah kuno, tetapi menghamburkan uang.

      Terlepas ada, atau tidaknya faktor "kickback", karena itu pembelian Sukhoi akan di-category-kan sebagai Korupsi Alutsista

      Masa depan kita untuk 20 tahun ke depan hanya dihamburkan untuk Sukhoi. Ini namanya mengkorupsi masa depan!

      Delete
  24. kurasa tak mungkin lah klo sampe memproduksi mesin di sini ,spare part ja masih meragukan dibuat di sini....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang paling mudah -- kalau di India saja tidak kesampaian, di Indonesia yang anti-komunis, dan tukang hibah MiG; jangan bermimpi!

      Padahal dari awal negosiasi kontrak saja, Sukhoi ini sudah kelihatan bermasalah!

      Entah kenapa, masih terus berkeras membeli rongsokan tehnologi kuno versi downgrade, dengan biaya op mahal, dan missile abal-abal!

      Delete
  25. kmaren di formil ditulis artikel ada pengamat militer berpendapat kalo sukhoi 35 heavy fighter bkal amat mahal biaya operasional dll , selanjtnya bisa ditebak di bully oleh admin formil di fb mrka mengatakan tak ada yg murah untk heavy fighter ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, begitulah.

      Memang enak bicara "biaya operasional twin mahal tidak apa2",
      kalau yang membayar biaya operasionalnya bukan dari kocek sendiri.

      "Yang bayar kan negara, bukan gw, jadi sebodo amat!"

      Sekali lagi,
      Single Engine F-16, atau Gripen dapat melakukan semua yang bisa dikerjakan twin-engine manapun (atau F-35), dengan biaya jauh lebih murah, dan tentu saja akan jauh lebih sering bisa terbang.

      Untuk apa menghamburkan 10x lebih banyak uang untuk Sukhoi, atau F-35 (sama saja lemon), kalau F-16, atau Gripen dapat mengerjakan hal yg sama dengan jauh lebih baik?

      Uangnya bisa dialihkan untuk pembangunan wilayah perdesaan, infrastruktur, rumah sakit, dan sekolah baru.

      Delete
    2. kasihan negriku siap jadi bulan-bulanan negara tetangga

      Delete
    3. Presiden Jokowi sudah memberi teguran dari sejak 20-Juli-2016 yang lampau, seperti sudah dituliskan disini:

      Pengadaan Alutsista harus sesuai Kebutuhan, dan bukan Keinginan.

      Teguran Presiden ini sebenarnya mengajar kita untuk mendahulukan kepentingan nasional secara realistis terlebih dahulu, bukan semata mengejar mimpi yang tak terjangkau.

      ... selain mendapat janji semu dari supplier yang mempunyai reputasi tukang ingkar janji, sekali lagi... tidak akan ada keuntungan nasional apapun dari akuisisi Su-35K, ataupun terus mengoperasikan penghisap anggaran di Sku-11.

      Kenapa yah beberapa pihak ini masih berkukuh untuk terus mengakusisi Sukhoi berberbiaya operasional seharga rumah per jam?

      Delete
  26. http://www.indomiliter.com/final-pengadaan-sukhoi-su-35-indonesia-sukses-dorong-rusia-untuk-imbal-beli-hingga-50/

    http://www.indomiliter.com/mil-mi-26t2-varian-tercanggih-helikopter-angkut-berat-untuk-puspenerbad-tni-ad/

    Kok banyak beli dari Rusia ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah.

      Kenapa yah cinta bertepuk sebelah tangan?

      Delete
  27. Di Medsos dubes rusia sindir usa, bisa bisa utk menenangkan bahkan mgkn menyenangkan kedua pihak, F16 V hadir juga bung...

    ReplyDelete
  28. ya allah seandainya negeriku pnya pemikiran kyk brasil , mengutamakan kemajuan inhan nya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, masalahnya dari kita sendiri.

      Dalam kontes pesawat tempur Abad ke-21, seperti sudah diperlihatkan di India, Brazil, dan di Swiss: Alih tehnologi, dan Kerjasama industrial adalah prioritas utama.

      Kedua, tidak hanya mengetes kemampuan tempur; melainkan sustainability secara operasional untuk 30 tahun ke depan.

      Negara bisa merawat atau tidak?
      Biaya operasionalnya berapa?
      Upgrade terjamin atau tidak?
      Berapa biaya upgrade?

      Delete
  29. ini pelajaran bgi kita , penting nya memilih pemimpin , ku tak akan lagi memilih yg skrg untk 2019

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja.

      Tidak seperti gosip hoax yang disebar para agen sales Rosoboron, BELUM ADA kontrak resmi.

      Ingat, transaksi barter (harga ketokan) hanya meng-cover 50% dari nilai transaksi, sedangkan 50% harus bayar cash.

      Ini masih membutuhkan persetujuan dahulu sebelum ada kontrak.

      Seperti dalam artikel, kenapa mau menghamburkan uang untuk membeli lebih banyak "macan ompong"?

      Jauh lebih murah ($200 juta) kalau setelah kita menerima semua F-16C/D Block-25+, kita mulai mempersiapkan ke-10 F-16 A/B untuk di-upgrade ke spesifikasi C/D.

      Dengan demikian, bukankah keinginan TNI-AU terpenuhi?
      Yakni untuk mendapat 10 pesawat tempur modern dengan kemampuan BVR?

      Nah, kemudian untuk mengakhiri masa "macan ompong", kemudian mengalihkan dana yang tersedia (dari mempensiunkan Sukhoi di Sku-11), untuk membeli tambahan missile untuk F-16!

      Kita lihat saja.

      Pemilu sudah semakin mendekat, dan seiring dengan itu, kedengarannya juga masih ada isu mau reshuffle kabinet untuk yang ketiga kalinya.

      Delete
  30. Harga unit su 35 downgrade 150 $ us
    Lalu jadi 90jt dolar... Cb bayangkan bung? Udah mah downgrade... Trus di downgrade lg hahahhaa.... Itu saya liat d metro tv harganya dr 150 skrg 90 jt dolar...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semakin hari memang rencana akuisisi Su-35 downgrade ini semakin jelas.

      Kelihatannya,
      Prioritas utama adalah untuk menutup kontrak, BUKAN memperjuangkan pilihan terbaik untuk negara.

      Betul,
      Memang downgrade sih tidak perlu ditawar sudah menjadi kepastian.

      Tetapi bagaimana harga per unit bisa turun dari $150 juta ke $90 juta?

      Kemungkinan hakekatnya sama seperti penurunan grade dari Avanza Veloz 1500cc Auto yg top model, ke versi E manual yang mesinnya 1300cc.

      Atau jangan2 downgrade-nya ke Xenia 1000cc?

      Delete
  31. Kita lihat aja nanti... Saya udah ga mau ngarep lagi sama pemerintah karena sudah benar adanya... Liat muka.a aja udah muak ndak ada yg bisa d percaya bung... Kita butuh anak mudah yg berani tangguh dan juhur bagaikan saab gripen... Berwawasan kuas dan berkesadaran murni... Gak kaya pejabat sekarang bagaikan sukhoi konmercheskei... Otaknya udah dikuasai sama duit haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inilah kenapa:

      Rencana akuisisi Su-35 model downgrade adalah UJIAN TERBESAR untuk INDONESIA,

      baik secara HUKUM, KEDAULATAN, EKONOMI, HANKAM, dan INDUSTRIAL
      .

      Kalau kita gagal dalam ujian ini, yah, habislah sudah untuk sementara.

      Kita sudah mengkorupsi masa depan untuk 20 tahun ke depan.
      Tetapi untungnya... karena Sukhoi ini akan selalu seperti senjata makan tuan, semoga kelak kita tetap bisa belajar dari pengalaman pahit yang sudah pasti datang ini.

      Delete
  32. Di media cetak kompas ditandatangani nota kesepahaman antara SAAB dan konsosrsium RI utk bangun kasel mini...

    ReplyDelete