Wednesday, July 19, 2017

News Update Juli-2017

2nd Test Flight Gripen   Credit: Stefan Kalm

News Update Juli-2017. Update singkat, sebelum membahas Radar vs Defense Suite; pertempuran elektronik tidak terlihat di Abad ke-21.



29-Juni-2017: Second Test Flight Gripen 39-8

2nd Test Flight Gripen   Credit: Stefan Kalm
Demikian laporan dari Gripen blog, blog resmi Gripen.

Second Flight untuk unit 39-8 ini berlangsung selama 68 menit, untuk mengetes take-off dengan afterburner, sekaligus untuk mengetes aileron roll; pesawat berputar 360 derajat tanpa perubahan ketinggian. Semua tes program berlangsung sukses, sesuai yang sudah direncanakan.

Menurut Saab, Gripen-E production model yang pertama tetap akan mulai operasional dari tahun 2019.



07-Juli-2017: Austria akan mempensiunkan Eurofighter Typhoon hasil "kickback" mulai dari 2020

Credits: Eurofighter

Seperti dilaporkan Flightglobal, dan Defense News.

Dengan demikian, Austria sudah memberi contoh, kalau tragedi akuisisi yang terjadi akibat pelayanan "kickback" ke pejabat lokal akan selalu mengigit pada akhirnya. Alutsista yang dibeli lewat jasa "kickback" akan selalu MUSTAHIL untuk bisa memenuhi kebutuhan pertahanan yang sesungguhnya, dan malah akan berbuntut kerugian yang luar biasa berat.
Memenuhi kebutuhan agen penjual, dan pejabat lokal, 
tetapi bukan untuk negara.

Austria hanya kedapatan membeli Typhoon Tranche-1, yang lebih bermasalah, kemampuannya lebih inferior, dan perawatannya lebih merepotkan. Kemenhan Austria membuat perhitungan kalau biaya operasional, dan upgrade Typhoon akan mencapai antara US$5 milyar - $5,8 milyar untuk 30 tahun ke depan.

Paling tidak Austria akhirnya sudah bangun dari kesalahan mereka di masa lalu, dan mengambil tindakan untuk mengamankan masa depan mereka, dengan berencana menggantikannya ke pesawat yang lebih memenuhi kebutuhan. Berita di Austria menunjuk kalau akan melihat kompetisi disini antara F-16 C/D (kemungkinan bekas), atau Gripen-C/D (kemungkinan menyewa).

Nah, sekarang kembali ke Indonesia; mau sampai kapan kita mengoperasikan Sukhoi Kommercheskiy di Sku-11, si penghisap uang?
Terlalu mudah untuk setiap Gripen, atau F-16
menembak jatuh Sukhoi tahun 1980-an
Kalau mau modernisasi, atau membeli pesawat tempur baru, yah, pensiunkan dahulu Sukhoi, agar anggaran terbatas yang tersedia dapat lebih dioptimalkan untuk membeli perlengkapan, ataupun persenjataan sesuai kebutuhan, dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan personil TNI, memajukan industri pertahanan dalam negeri, BUKAN dihamburkan untuk para perantara.

Sukhoi-Kommercheskiy bertehnologi kuno, yang tidak bisa di-upgrade, dan berumur pendek ini, sebenarnya jauh lebih mendesak untuk dipensiunkan dibanding Typhoon Tranche-1 Austria: 
Su-27SK PLA-AF China dari batch pertama diantar Februari-1991,
tapi sudah harus dipensiunkan pada tahun 2009.
(Gambar: China-defense.blog)
Sistem "Sekali pakai, buang!"
Mengoperasikan Sukhoi lebih lama dari tahun 2020, akan menimbulkan kerugian... triliunan rupiah, dan berbulan-bulan lebih lama untuk "upgrade (perbaikan)" di negara asalnya, untuk lebih banyak unit.... sebelum akhirnya siklus yang sama terulang semakin sering, dan semakin mahal.

Sudah saatnya kita mengikuti jejak Austria, dan mulai mengarahkan akuisisi, dan operasional sesuai kebutuhan.


10-Juli-2017: Swedia, melalui badan akuisisi sipil FMV, memutuskan untuk tidak mengikuti kompetisi pesawat tempur di Belgia

Membedakan Gripen-E dari Gripen-C:
Posisi roda belakang Gripen-E berada di bawah pangkal sayap,
sedang Gripen-C lebih masuk ke bawah lambung.

IRST di moncong pesawat, walaupun 39-8 ini masih terbang "kosong"

Wingtip versi-E juga lebih besar untuk membawa perlengkapan integrated defense suite
Keputusan FMV Swedia untuk tidak mengikutsertakan Gripen dalam kompetisi Belgia ini, mengikuti jejak Boeing, yang dari sejak 19-April-2017, juga sudah membuat keputusan yang sama untuk tidak mengikutsertakan F-18E/F dalam kompetisi ini.

Kenapa demikian?

Baik Boeing, ataupun FMV Swedia sudah menarik kesimpulan kalau kompetisi di Belgia sudah mulai lebih condong untuk memihak F-35A Lemon II versi Export. Masih mencoba mengikutsertakan pesawat tempur mereka dalam kompetisi pro-F-35, seperti yang masih dilakukan Eurofighter, dan Dassault saat ini dianggap adalah tindakan yang percuma. Hanya membuang-buang uang.
Apa yang diminta Belgia melebihi mandat politik luar negeri Swedia.
tidak ada hubungannya dengan kemampuan pesawat yang ditawarkan
Ini tidak mengherankan, seperti dicatat Byron Callan, direktur Capital Alpha Partners. Sebagai salah satu dari empat negara Eropa pembeli F-16, Belgia satu-satunya yang belum mengambil keputusan. Denmark, Norwegia, dan Belanda sudah memutuskan untuk terjun masuk jurang bersama rongsokan F-35 Lemon II.



18-Juli-2017: Penuntut umum pemerintah Korea menggerebek Korean Aerospace Industry, dan 5 sub-contractor-nya karena dugaan KORUPSI, dan praktek KICKBACK

Penyelidik dari Kantor Kejaksaan Central Seoul menarik setumpuk barang bukti
dalam penyelidikan kasus korupsi di KAI
(Gambar: Yonhap News) 
Seperti dicatat Yonhap News, dan Korea JoonAng Daily.

Et tu, Korea?

BBC News, dalam laporannya dari November-2016 yang lalu sudah pernah mempertanyakan bagaimana semua skandal korupsi di Korea ini bisa terjadi.

Di Korea, anda dapat meninggalkan dompet anda di meja restaurant, tanpa pernah perlu khawatir dompet ini akan diambil orang. Tetap saja, negara ini tetap bisa dirudung begitu banyak kasus korupsi skala besar, yang pada akhirnya juga sudah menyeret turun Presiden Park Gun-Hye.

Yah, nasi sudah menjadi bubur. 

Presiden Moon Jae In, yang dilantik menggantikan Park, sudah memutuskan untuk menghabisi semua praktek korupsi di Korea.

Seperti dicatat kedua media Korea, KAI sedang dirudung kecurigaan mark-up, dan kesenian "kickback" dalam proyek-proyek militer Korea, dan penyelewengan dana development senilai 24 milyar Won (US$21,2 juta). Ha Sung-Yong, CEO dari KAI sudah dilarang untuk mencoba keluar dari Korea, menunggu waktunya interogasi resmi. Tentu saja, semua ini masih dalam hasil tahap penyelidikan awal, belum mencapai ke babak final.

Apakah mungkin dana yang sudah dibayarkan Indonesia sebelumnya untuk program KF-X juga sudah dikorupsi di Korea? 

Pertanyaan ini tidak akan bisa terjawab, bukan?

Seperti sudah dicatat dalam artikel dalam blog ini November-2016 yang lalu, dengan demikian sekarang proyek KF-X sudah semakin mendekati ajalnya. Sekali lagi ini bukan sesuatu yang bisa dihindari: 

Program KF-X pada akhirnya sudah pasti akan ambruk.

Dari segi finansial, tehnologi, dan kemampuan saja mimpi.... sudah terlalu jauh dari realita.

Untungnya, kejatuhan Presiden Park sudah menghilangkan perlindungan politik atas proyek KF-X, sedangkan kasus korupsi KAI, yang sudah didahului audit ke program KF-X, semuanya mempercepat dikuburnya peti mati untuk KF-X.

Ayo, sudah saatnya berhenti bermimpi, dan mulai lebih memikirkan kebutuhan Nasional, bukan keinginan buta Korea, ataupun para perantara!


47 comments:

  1. Syukurlah, Karena Gripen E Lulus Uji Coba. Dan Ada Improved Yg Cukup Signifikan dibanding Gripen yg sebelumnya. Sesuai Rencana.

    Hehe Saya Jadi bingung Mau milih Gripen Yg mana, Gripen C atau Gripen E. Soalnya sama sama bagus, Transfer Teknologi terjamin,Efisien,dan juga Open Source. 😁😀😃

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pada awalnya, sy berpikir lebih baik kita memilih Gripen-E, agar bisa langsung melompat di kursi terdepan dalam perkembangan tehnologi pespur.

      Tetapi...
      Gripen-C/D sebenarnya akan tetap 100% compatible untuk operasional bersama Gripen-E.

      Dengan TIDLS network, sensor feed dari E, akan bisa di-transmit kembali ke C. Kalau terus di-upgrade (walaupun lingkupnya lebih terbatas), bukan tidak mungkin versi-C bisa menjadi partner yang ideal untuk versi-E.

      Sy mulai berpikir mungkin lebih baik kita mulai berpikir mixed fleet Gripen-C/E.

      ... ini juga akan membuka satu kesempatan lain:
      Kalau Saab mulai beralih penuh memproduksi Gripen-E di Swedia, apakah mungkin kita bisa mengambil alih produksi Gripen-C?

      Gripen-C/D adalah lawan tanding yang ideal untuk negara2 yang berpikir membeli FA-50, atau JF-17, dua pesawat versi export yang jauh lebih inferior. Kita mungkin juga bisa bersaing dalam bangsa pasar ex-pengguna MiG-21, F-5E, dan F-16 --- yang kesemuanya ini sekarang tidak ada penggantinya.

      Lagipula kalau evolusi pespur tahap selanjutnya mulai beralih ke unmanned; disini platform Gripen-C yg lebih murah, akan menjadi lebih ideal daripada Gripen-E, yg lebih modern dalam segala hal.

      1 Gripen-E yang dipiloti, akan dapat memimpin 3 unmanned Gripen-C dalam pertempuran udara.
      Dalam pertempuran jarak dekat, Unmanned Gripen-C akan dapat bermanuever melebihi 9G, karena tidak perlu khawatir G-LOC ke pilot.

      Ini semua masih mimpi terlalu jauh... :)

      Delete
  2. Dengan berhasilnya Gripen E dalam tes terbang beberapa waktu lalu, SAAB mampu mengikuti perkembangan zaman. Sungguh disayangkan petinggi TNI-AU masih banyak yg belum "siap" merelakan pelepasan Sukhoi utk menjajal Gripen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kedua generasi Gripen adalah proyek pesawat tempur yang sejauh ini... biaya development-nya paling murah, dan paling tepat waktu -- semuanya juga dalam paket yang memang terus bersaing.

      Kemenangan pertama Gripen atas kedua Eurocanards lainnya, terjadi di tahun 2016 yang lalu, ketika Gripen-C MS-20 berhasil mendahului keduanya dalam mengintegrasikan MBDA Meteor.

      Typhoon, dan Rafale, masih belum bisa mengoperasikan Meteor sampai paling cepat 2018.

      Lebih bagus lagi, pemerintah United States tidak akan mengijinkan integrasi Meteor ke F-15, F-16, atau F-18. Produk saingan AMRAAM, yang mengancam pasar Raytheon.

      Jadi tidak hanya upgrade, ataupun modifikasinya akan murah, dan tepat waktu... pesawat ini juga memberikan peluang terluas untuk kita mengembangkan sendiri menjadi versi yang unik hanya untuk kita sendiri.

      Inilah yang baru dinamakan kemajuan, dan membuat sendiri efek gentar yg dibutuhkan.

      Yah, memang sayang masih banyak yang terobsesi dengan pespur yg justru paling ketinggalan jaman, biaya op terlalu mahal, dan berumur pendek. Disini keuntungan kita baik secara tehnologi, ataupun industrial akan NOL besar.

      Delete
  3. Bung maaf gripen c sudah menggunakan helmet mounted display blm?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, sejak 2007, Gripen-C/D sudah diperlengkapi Cobra HMD.

      Gripen-E akan diperlengkapi Targo HMD.

      Delete
  4. Muantaaaabbb..
    Saya ndak sabar...
    Mungkinkah pemerintah membeli 16 gripen c sambil menunggu lengkap fullgrade dan global eye minimal 2

    Soalnya terbukti teori bung dark j 11 yg merupakan cloningan su 27 kalah telak 4-0 lawan gripen thailand saat latihan bersama...

    Padahal j 11 itu memang segala aspek secara teori... tapi bisa kalah telak gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang kurang dimengerti kebanyakan orang, media Barat semasa Perang Dingin, sampai perrtengahan 2000-an; semuanya gemar membayangkan overestimasi ke semua pespur buatan Soviet / Russia.

      Seperti bisa dilihat dari contoh blog fantasy Ausairpower; mereka menkhayal kalau Su-27/30 itu bagaikan "Super F-15".

      Efek positifnya, semua over-estimasi ini mendorong para pembuat pespur Barat untuk membuat desain pespur / senjata
       untuk mengalahkan fantasi "super F-15" ini.

      Saab merancang Gripen secara spesifik untuk dapat melibas "Super F-15", atau versi overestimasi dari Su-27/30.

      Ternyata, secara realita kita sudah tahu skrg kalau Su-27/30 hanyalah pespur ketinggalan jaman, yg gampang rusak, unproven, dan dengan persenjataan yg sub-standard. Itu untuk yg versi lokal S, apalagi hanya versi export, atau versi jiplakan dari versi export J-11.

      Bukan tandingan versi akhir dari F-15, yg sebenarnya sudah terus-menerus di-upgrade.

      Kalau belum cukup parah,
      J-11, atau Su-27S versi lokal, keduanya sama tidak pernah di-tes secara intensif dalam latihan melawan tipe lain.

      Pilot PRC, ataupun pilot Ruski yg masih berlatih menurut sistem Soviet, yg pro-ground control, relatif masih minim pengalaman dewasa ini dalam menghadapi standard pilot NATO.

      Yah, hasil latihan di Thailand tidaklah mengherankan.

      Pilot Thailand memperoleh keuntungan memetik hasil ribuan jam terbang sistem latihan NATO, yg sudah digembleng menghadapi lawan yg di-"overestimasi" jauh lebih kuat, sedangkan tunggangan mereka jauh lebih unggul dalam segala hal.

      Pilot PRC tidak pernah punya banyak harapan. Bahkan kalau latihan bersama ini di-rematch, hasilnya tetap saja akan sama.

      Delete
  5. kalau seandainya kita jadi beli gripen c/d dan su-30/27 dipensiunkan nanti peran f-16 hibah kita bagaimana bung mengingat karakteristik 2 pespur ini sangat mirip

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini bukan masalah pelik, karena biar bagaimana tidak seperti Sukhoi, F-16 perawatannya jauh lebih murah, dan tehnisi kita jauh lebih ahli dalam perawatannya.

      ## Untuk Block-25+ yg sudah melalui proses MLU juga masih bisa mengudara sampai 2035.

      ## Lagipula mengingat Sukhoi tidak bisa becus menjaga wilayah udara Indonesia, F-16 akan bisa merangkap untuk menahan jumlah kebutuhan minimum pertahanan udara, paling tidak sampai Skuadron Gripen Indonesia yg pertama (kemungkinan Sku-11) mulai siap bisa mengambil alih tugas utama ini, dan akhirnya mendorong F-16 versi export sebagai lapisan kedua.

      ## Keuntungan berikutnya: apa yg bisa dipasang ke F-16, semuanya akan 100% compatible ke Gripen.
      Ini akan menghemat anggaran.

      ## Terakhir ini juga merangkap keuntungan politik: Kita akan terlihat berhenti main mata dengan Ruski dalam pandangan Washington DC.

      Dan 34 F-16 akan memastikan kalau paling tidak order spare part, persenjataan, dan upgrade masih memberi pekerjaan ke pabrik2 di US. Tentu saja walaupun tidak akan ada ToT.

      Mereka akan lebih ringan menerima kalau F-16V tidak bisa dimenangkan di Indonesia.

      Delete
  6. Bung di medsos T 50 TNI AU disiagakan di kupang, bisa nggak melawan hornet Ausi tanpa radar?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekali lagi, hubungan Indonesia-Australia sbnrnya sangat bersahabat. Kecuali dalam benak pikiran para fanboys (sy pernsh berdebat re hal ini), Australia tidak mempunyai motivasi untuk asal mengirim Super Hornet untuk menjajal pertahanan Indonesia.

      Untuk apa?
      Perhatian mereka lebih tertuju ke PRC, dan LCS, ataupun konflik vs ISIS di Syria.

      Lagipula, toh mereka juga sudah lebih tahu kalau pertahanan udara kita dewasa ini bukan main lemahnya.

      ## T-50, kalau ditempatkan di Kupang, sama seperti tempo hari ditempatkan di Natuna, mungkin lebih diarahkan mencegah pesawat penyusup sipil.

      Tetapi kenapa justru mengirim T-50 ini justru menunjuk suatu kelemahan internal sendiri.

      ## Seharusnya, F-16 yg ditugaskan dalam misi seperti ini.

      Semuanya kembali menunjuk ke masalah biaya.

      Kelihatannya Sukhoi "kickback" memang menghisap terlalu banyak proporsi anggaran (hasilnya nihil), sehingga tidak ada pilihan lain selain menugaskan T-50.

      ## Kembali kalau kita masih belum mau serius, dan terus terbuai mimpi Su-35K, atau KF-X, dan meneruskan sistem akuisisi "macan ompong":

      Sebagai pembanding, setiap AU modern, yg setaraf dgn kemampuan RAAF, akan dapat menghabisi seluruh TNI-AU hanya dalam waktu beberapa menit.

      Delete
    2. Lemahnya pertahanan udara RI dmn? Rudal, radar, pespur, networking, personil... yg kurang banyak ato gmn...

      Delete
    3. Daftarnya cukup panjang:
      ## Belum ada sistem yg siap tempur
      ## Pengawasan masih lemah
      ## Rawan jamming ke radar, dan sistem komunikasi
      ## Masih terlalu mengandalkan ground radar
      ## Prosedur training / kesiapan tempur kelihatannya masih belum cukup mature.
      ## Jangankan networking training dasar utk BVR combat masih minimal.
      ## Mengoperasikan armada gado2 kacau, dengan dua pespur yg tidak compatible secara prosedural, dan tanpa military-grade IFF.
      ## Jumlah pesawat lebih banyak daripada missile modern (RVV-AE terhitung missile kuno).
      ## Mengoperasikan Sukhoi (itu juga akan kurang dari 6 unit yg siap mengudara) yg melebihi keterbatasan anggaran, dan dengan sendirinya akan mengurangi kesiapan tempur semua unit lain.
      ## Support industri pertahanan lokal ke pertahanan udara juga relatif masih minimal, dan sengaja dicuekin.

      ## Kelemahan terakhir: Perbedaan persepsi superioritas dengan kenyataan.

      Sbnrnya tidak pernah bisa siap tempur, tapi merasa kalau Australia sudah "gundah".

      Delete
  7. https://news.detik.com/berita/d-3569146/cerita-megawati-saat-beli-pesawat-sukhoi-milik-rusia

    mega: "bayarnya gimana?"
    putin: "up to you"

    lol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hasilnya 4 rongsokan yg skrg tidak lagi bisa terbang sejak 2008/2009.

      Delete
    2. dan saya tidak habis pikir pemerintahan berikutnya malah menambah jumlah shukoi tanpa dievaluasi lebih dahulu

      Delete
  8. Admin itu fansboy Russia kok gila bener sih masak ada cerita Korsel mau beli Kilo class itu tuh gak mungkin banget ? program KSS-1, 2 sampai 3 mereka berbasis teknologi Jerman dari Type 209, Type 214 sama 3000 ton ocean going. Itu gila bener orang bilang Kilo untuk Korsel terus banyak artikel2 yang kejelasannya absurd dan bias ke arah Su-35 & Kilo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entah kenapa para fanboyz... secara berangsur sudah mulai bersalin rupa menjadi agen propaganda, atau agen sales utk Russia.

      ## Hasil penyelidikan faktual mengatakan MH17 Malaysia tertembak jatuh Buk-M SAM yg ditembakkan dari wilayah pemberontakan pro-Russia.

      Sebaliknya, semua media milik pemerintah Russia berkata Sukhoi Ukrania yg melakukan, dan menampilkan bukti "foto satelit".

      ## Saksi mata, korban yg di-bom sendiri, dan hasil penyelidikan semuanya sudah menunjuk serangan Kimia oleh Su-22 pro-Assad.

      Media pro-Russia menyatakan itu tidak pernah terjadi. Su-22 Syria hanya membom fasilitas kimia "milik" pemberontak.

      "Alternative Fact": membelokan fakta untuk kepentingan propaganda.

      Delete
    2. Dan yg bikin saya agak geli. Rusia Mengklaim bahwa Suriah tidak memakai Senjata kimia,Namun Dari Live Video(Bukan Dari Media Barat) tapi langsung Dari Suriah,tepatnya di Idlib. Banyak Anak Anak Dan orang Sipil yg kena Senjata Kimia dalam Serangan Udara Suriah. terlebih lagi Ditambah ketika US Selesai Melakukan bombardemen Ke Pangkalan AU Suriah, Bomb Kimianya Banyak yg Ada Disamping pangkalan.

      Delete
    3. Seluruh dunia sudah tahu kalau ini memang kebiasaan Ruski.
      Mencoba mengemas segala sesuatu ttg Russia sudah pasti akan selalu terdengar manis: mereka tidak pernah salah,
      padahal semua fakta dari sumber independent selalu menunjuk kebalikannya.

      Dan seperti kita lihat, kebiasaan ini juga sudah menular ke para fanboys Sukhoi.
      Mengaku "bukan fanboyz", padahal agen sales "bukan broker" dari Moscow.

      Ini seharusnya sudah menjadi peringatan buat kita.
      Sama seperti kebiasaan Rosoboron di India, sayangnya kalaupun barang mereka luar biasa bagus (baca: padahal hanya versi export lemon), mereka tidak pernah bisa dipercaya.

      Kesalahan besar kalau mencoba menjual kedaulatan Indonesia ke supplier yg kebiasaannya buruk.

      Delete
  9. Itu abis Saya liat Foto Dari Salah Satu saksi mata Disuriah

    ReplyDelete
  10. Saya baca artikel tentang panglima mendesak untuk Kilo & Su-35 ke komisi 1 DPR ke Menhan tapi KSAU berencana buat C-130J, pesawat MRTT, pesawat AEWC/AWACS, pengganti F-5, 12 radar helikopter, pesawat latih dan UAV terutama pengaplikasian data link untuk network centric warfare sedangkan renstra 3 berpusat ke koordinasi data link ke 3 matra, penambahan UAV, skuadron baru untuk KOOPSAU & pengganti Hawk 100/200 untuk Kohahudnas. Admin ini saya aja atau antar pejabat senior pertahanan kita saling berkontradiksi dalam rancangan pertahanan kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan hanya kontradiksi,
      tetapi yg menjadi masalah, perencanaannya tidak pernah jelas.

      Kita belum pernah melihat "master plan", seperti yg sering ditampilkan di Australia, atau di Singapore.

      Alasannya nanti "rahasia negara".

      Bukan masalah rahasia, tetapi kita membutuhkan Transparansi, paling tidak sebatas pengetahuan umum, sebenarnya pertanggungjawaban anggaran pertahanan itu akan dipergunakan untuk apa saja.

      Pemerintah Australia, sebagai contoh, terus mengulang-ngulang kalau sistem pertahanan mereka abad ke-21 akan lebih "Network-centric", sekaligus lebih mandiri dari ketergantungan akan asset2 tempur United States.

      Perhatikan saja tahapan evolusi mereka dari pola pertahanan kuno, yg terlalu mengandalkan F-111C high-maintenance-bomber sampai tahun 2000-an awal.

      ## Pertama-tama, mereka membeli Wedgetail AEW&C di tahun 2000-an, ini dikarenakan kesadaran kalau untuk bisa menghantam target, mereka harus terlebih dahulu bisa melihat target, dan menguasai medan tempur.

      ## Kedua, akuisisi EA-18G Growler, memberikan kemampuan Electronic Warfare modern.
      Setelah bisa melihat target dengan AEW&C; maka dengan Growler, RAAF akan dapat melumpuhkan target tanpa perlawanan. Setiap radar yg menyala, akan menjadi korban HARM missile, atau Growler akan dapat men-jamming, kemudian mengarahkan Hornet / Super Hornet combo utk menghantam.

      ## Ketiga, yang menarik adalah akuisisi 120 AMRAAM-D dual-datalink, yang berjarak jangkau (kira-kira) bisa mencapai 200 km (angka sebenarnya dirahasiakan), dengan jarak jangkau efektif antara 30 - 70 km.
      Ini untuk meng-optimalkan kemampuan platform yg ada, agar dapat menembak target lebih jauh, dan lebih akurat.

      ## Sekarang, mereka berevolusi lebih lanjut lagi; dengan akuisisi 5 pesawat Gulfstream untuk pekerjaaan SIGINT (Signal Intelligence) -- membaca semua gelombang frequency komunikasi lawan, termasuk signal yang ter-enskripsi.

      Mereka sudah berevolusi dari pola AU yg terlalu mengandalkan pespur, atau pembom peminum uang F-111, ke pola Complete Air Force.

      Kesemua akuisisi ini tidak dilakukan asal beli untuk mengejar jumlah pesawat tempur (seperti pola di Indonesia); melainkan sudah direncanakan sejak puluhan tahun sebelumnya.

      Pola perencanaan semacam inilah yang dibutuhkan di Indonesia.

      Kalau mengunjungi situs website resmi MoD Australia, atau Singapore, kita bisa melihat garis besar pola pertahanan mereka.

      Ini tidak perlu dirahasiakan, melainkan semacam pemberitahuan "ultimatum halus", kalau mereka sudah mencapai ke tahap ini.

      Kebanyakan negara di dunia, bahkan PRC, atau Russia sekalipun, belum tentu sudah bisa mengklaim hal yg sama.

      Delete
    2. Mgkn bisa dijelaskan keinginan pejabat pertahanan senior kita dgn pejabat pertahanan skrg, mengenai sistem pertahanan RI....

      Delete
    3. Seperti di atas, perencanaannya tidak pernah jelas.

      Contoh, perhatikan pernyataan2 berikut:

      "Kita membutuhkan satu skuadron pespur Generasi 4.5"

      "Kita membutuhkan 10 helikopter angkut sedang"

      Pernyataan2 semacam ini tidak menunjukkan suatu kebutuhan, melainkan hanya keinginan untuk beli lebih banyak.

      Tentu saja, UU no.16/2012 sengaja tidak pernah disebut, apalagi membicarakan sistem.

      Nanti kita akan tuliskan kembali dalam topik lain:
      Renstra Indonesia 30 tahun mendatang.

      Delete
  11. Juga untuk AL kayaknya AL lebih suka standar NATO apalagi pemasangan satcom di fregat & LPD buat network centric warfare serta data link yang ngehubungin kapal kapal TNI AL termasuk kapal selam. Apa gak janggal untuk Kilo sedangkan kita udah terbiasa teknologi berbasis NATO ( Jerman & Korsel ) belum fasilitas shipyard PT.PAL didesain untuk Type 209 & Type 214 AIP bukannya kayak gak nyambung buat Kilo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Singkat cerita, Kilo-class hanya rongsokan versi export downgrade, yang akan harus dibeli melalui perantara.

      Perantara akan selalu memberi "kickback".

      Inilah salah satu faktor dorongan utama rencana akuisisi Indonesia dewasa ini.

      Delete
    2. Dari Kandidat kapal selam baru utk TNI.
      Kilo Class Speknya Paling Ampas

      Delete
  12. Saya mau bertanya bung radar aesa jenis apa yg akan di pakai oleh gripen e? Bagai mana kualitasnya dibanding AN/APG 83 USS?

    Dan apakah gripen c/d bisa d upgrade kemampuannya menggunakan AESA radar?

    Dan terakhir apakah gripen c mampu mengoperasikan meteor? Selain gripen esawat apa yg mampu mengoperasikan? Saya dengar dengar f 22 dan f 35 lemon 2 tidak dapat mengoperasikan meteor?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gripen-E akan memakai Selex Raven ES-05 AESA radar. Ukuran kira2 sama, 1000 transmitter.

      Perbandingan dengan AN/APG-83 untuk F-16V:
      ==========================================
      ## Pertama-tama, selalu ingat kalau F-16V untuk Indonesia, lagi2 hanya versi export downgrade.

      Seperti sudah dibahas sekilas dalam artikel Source Code tempo hari, yah, sudah pasti coding utk radar APG-83 akan dikutak-katik, khusus spesial untuk versi Indonesia.

      Kemampuan deteksi/tracking APG-83 dalam F-16 Block-72ID akan 30 - 40% lebih jelek dibandingkan versi lokal untuk USAF.

      ... dan akan dikalkulasi agar sekurangnya 10 - 20% lebih jelek dibanding AN/APG-83 untuk Singapore, ataupun AN/APG-79 Australia.

      ## Kedua, taruh kata, AN/APG-83 bukan versi downgrade;
      Gripen sudah mencapai Full Sensor Fusion, yg memadukan IRST, dan IFF built-in dalam satu module buatan Selex.


      Sensor Fusion memadukan readings dari signal radar AESA, infra-red tracking dari IRST, dan feedback signal interogasi IFF untuk membedakan kawan/lawan dalam satu layar.

      Untuk F-16, perlengkapan IRST, ataupun IFF semuanya optional, dan pembuatnya juga berbeda; artinya coding untuk AN/APG-83 tidak akan bisa di-optimalkan untuk mencapai presentasi informasi yg sebanding dengan Sensor Fusion.

      Gripen boleh dibilang maju satu beberapa peringkat lagi dibanding F-16V, yang Link-16-nya saja juga.... masih optional untuk module yang terpisah:

      Gripen adalah Networked Fighter.
      Melalui TIDLS network, Sensor Fusion Gripen dapat memadukan partial readings dari 4 Gripen-E yg terbang dalam satu formasi, atau hanya perlu mengandalkan 1 Gripen saja yg menyalakan radar, dan semuanya akan sama-sama bisa melihat.

      Semua asset lain, yang sudah terkoneksi dalam national network, juga akan dapat memberikan gambaran informasi yg jelas di layar cockpit.

      Pilot tidak perlu membedakan asal sensor feedback-nya dari mana, mau dari TIDLS, sensor pesawatnya sendiri, atau sensor dari luar.

      Complete situational awareness.

      Delete
    2. ==========
      Dan apakah gripen c/d bisa d upgrade kemampuannya menggunakan AESA radar?
      ==========

      Belum.

      Sejauh ini belum ada rencana Gripen-C/D akan mempergunakan AESA radar, walaupun Saab sudah dalam tahap finalisasi pembuatan radar AESA mereka sendiri.

      Akan tetapi, melalui TIDLS network, Gripen-C/D seharusnya akan dapat membagi gambaran Sensor Fusion yg sama dari sensor Gripen-E, walaupun ini artinya Gripen-C akan harus berada dalam satu formasi TIDLS yg sama dengan Gripen-E.

      ============
      Dan terakhir apakah gripen c mampu mengoperasikan meteor? Selain gripen esawat apa yg mampu mengoperasikan?
      ============

      Ya, Gripen-C sudah dapat mengoperasikan Meteor sejak pertengahan 2016, dengan program MS-20 upgrade.

      Versi ini sekarang adalah yang terdepan ditawarkan Saab ke Indonesia.

      MS-20 menjadikan Gripen, pesawat tempur pertama yg dapat mengoperasikan Meteor.

      Rafale, dan Typhoon paling cepat baru selesai mengintegrasikan Meteor di tahun 2018.

      ===========
      Saya dengar dengar f 22 dan f 35 lemon 2 tidak dapat mengoperasikan meteor?
      ===========

      Pemerintah US tidak akan mengijinkan integrasi Meteor ke F-15, F-16, dan F-18.
      F-22, tidak hanya tidak akan diijinkan, kemungkinan source coding-nya juga akan kesulitan memandu Meteor, yg jauh lebih modern.

      Saat ini ada rencana kalau F-35 UK, Italy, dan Jepang akan mengoperasikan Meteor; sedangkan USAF, USN, dan USMC belum tentu mau, dan negara export market lain, seperti Australia, atau Korea, belum tentu juga bisa mendapat ijin untuk mengoperasikan Meteor.

      Semuanya tergantung kebijaksanaan pemerintah US dalam hal Source Code.

      Ini saja sudah menabrak beberapa kendala:
      ## Meteor tidak muat ke dalam perut F-35, ukurannya harus dibuat lebih pendek.
      Sayangnya, ini artinya Meteor untuk F-35 jarak jangkaunya akan berkurang dibandingkan Meteor yg memperlengkapi Typhoon, Rafale, dan Gripen.

      ## Kedua, jangan lupa juga kalaupun bukan karena masalah politik, source coding untuk F-35 sudah terkenal ciamik.

      Kita bisa memperkirakan kalau akan membutuhkan waktu 5 - 7 tahun untuk mencoba mengintegrasikan Meteor versi potongan ke F-35.

      Delete
  13. Berarti baru hanya gripen yg mampu membawa meteor...
    Terimakasih infonya bung

    ReplyDelete
  14. ternyata , panglima berpendapat su 35 ,kilo di beli, dan ternyata tdk sama dgn KSAU yg mulai menata network centric warfare , sistem hankam terintegrasi ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk saat ini, karena tidak pernah ada pegangan Renstra yang jelas, seperti yang sudah diperlihatkan Australia, dan Singapore, masing2 pihak akan selalu merasa benar.

      Panduannya apa?
      Tidak ada.

      Inilah kenapa mungkin kita harus mulai berpikir untuk membangun badan akuisisi alutsista tersendiri, yang bertanggung jawab ke pemerintah, dan DPR terlebih dahulu.

      Tentu saja, ini masih ide yg sangat jauh dalam keadaan sekarang.
      Tetapi kalau tidak ada perubahan, yah, akan jauh lebih banyak kasus seperti skandal AW-101, dan skandal Sukhoi.

      Delete
  15. Ya itulah yang menarik statement berbeda dari 2 pejabat penting TNI. NCW vs Su-35. Tapi yang patut diperhatikan saat kunjungan Menteri Peter Hulqvist 20 Desember 2016, KSAU hadir. Terus dalam preferensi beliau NCW berdasar Royal Thai Air Force yang pengguna Gripen + Erieye AEWC + data link TIDLS. Terus SAAB banyak program beasiswa bagi perwira2 TNI khususnya AU juga insinyur2 Indonesia. Yang jelas menurut KSAU penambahan 12 radar, C-130 J dan bukannya A-400 ataupun An-70, kelanjutan C-295 & helikopter, UAV, data link, pesawat tanker MRTT A330, pengganti F-5E & skuadron baru juga 2 pesawat AEWC. Kata saya sih kita tunggu 2018 saat panglima pensiun dan pertumbuhan ekonomi diatas 5.6% baru kita lihat. Toh Menhan kita juga udah visit ke Stockholm.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk Kilo sudah menjadi informasi umum kalau preferensi TNI-AL selalu ke Eropa. Prediksi saya kalau kasel kita nambah antara improved Type 209 dari Daewoo Korsel atau Type 214 AIP dari konsorsium Golcuk shipyard & Thyssenkrup Marine

      Delete
    2. Kita lihat saja.

      Saat ini terlalu banyak hoax, dan simpang-siur bicara mau beli ini-itu.

      Kita akan mengurai terlebih lanjut dahulu disini, kenapa pespur itu tidak akan relevan, kalau tidak mendapat support dari semua asset udara lain.

      Ini bukan seperti tahun 1950/1960-an.

      Delete
  16. beli senjata kok yg campur tangan orang yg gak pnya kewenangan , repot politik yg bicara

    ReplyDelete
  17. Bung barusan saya bertanya bahwa swediapun hanya menjual varian export downgrade?

    Apakah benar?
    Bung gi dapet info dari mana bahwa rafale eurofighter dan gripen itu fullgrade?

    Apalah benar ToT dr gripen mencapai max 100%

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Gripen versi downgrade.

      Swedia menawarkan sejauh ini versi MS-20 Gripen-C full-spec, Meteor-ready.
      Mereka menjamin "Sovereign Air Power" -- kedaulatan di tangan kita, bukan di tangan produsen.

      Tetapi semuanya ini akan tergantung seberapa bodoh/pintarnya, dan komitmen kita sendiri.

      Kalau untuk menawar harga, kemudian minta dikurang2i, yah automatis menjadi versi downgrade.

      Kalau kita sudah mendapat tawaran Full Transfer of Technology, tapi sehabisnya malas bekerja dan ogah2an, ya, memang mendingan terus dibodohin Rostec, dan para agen sales troller internet mereka!

      ## Typhoon untuk Kuwait akan menjadi yg pertama yg diperlengkapi Captor-E AESA radar.
      Keempat pembuatnya masih belum mau order penuh.

      ## Rafale untuk Oman, dan India akan mendapat Helmet Mounted Display.
      Punya Perancis masih belum.

      Para produsen Eropa, sekali lagi, tidak merasa mempunyai kepentingan untuk menjual rongsokan downgrade, seperti halnya United States, Russia, dan PRC.

      Untuk apa? Justru mereka harus berjuang mencoba merebut market dari para penjual barang downgrade.
      US biasanya punya keunggulan paket offset ekonomi,
      sedang Ruski / PRC punya keunggulan paket "kickback" untuk pejabat lokal, dan para troller.

      Delete
  18. Dan yg buat saya kesal pemerintah sudah finishing masalah su 35 bung...
    Alasan nya banyak nrah kenapa nafsu bener sama sukhoi... menrang mentang pantatnya panas montok dan hot... kesal saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedari dahulu bahasa nge-gosip juga ramai di politik.

      Si-A bilang iya, padahal tidak, tapi sudah langsung lompat ke media massa, dan nyebar gosip.

      Kelihatannya sih, kita tidak perlu khawatir.
      Kemungkinannya hampir mustahil pemerintah akan memberikan peluang menang ke rongsokan Su-35 versi downgrade, tanpa ToT, ataupun kerjasama industrial yg berarti.

      "katanya" saja, seolah2 pemerintah, dan DPR pasti akan menyetujui.

      Estimasi awam sy,
      kelihatannya kita tidak akan tutup kontrak pespur baru sampai 2020/2021.
      Kenapa?

      Pada saat itu baru kebutuhan pespurnya lebih nyata: Jumlah Bae Hawk-209 semakin sedikit, sedang Sukhoi di Sku-11 terjamin... sudah sekarat.

      Untuk sementara lebih baik berkonsentrasi mempersenjatai F-16 Block-25+,
      ... dan kemudian meng-upgrade 10 F-16A/B kita agar spesifikasinya setaraf, atau lebih baik vs Block-25+

      Dua langkah rasional yg jauh lebih murah, dibandingkan akusisi "macan ompong".

      Delete
    2. Sekedar menduga: Pidato megawati pada pelantikan taruna mmg membuat petinggi militer kita "angkat bicara", terutama mengenai pembelian Sukhoi. Bgmn tidak Panglima TNI berharap DPR mendesak Kemhan utk beli sukoi, sdgkn Menhan di medsos akan membeli 11 sukoi. Baru saja saya baca di medsos Menhan mengatakan, klo RI sdh punya drone tdk perlu beli pswt tempur.
      Mgknkah drone RI bisa duel dgn hornet Ausi ato J 10PRC? (Saya org awam), ato apakah Menhan tdk berpikir mengenai kedaulatan udara RI?
      Dalam mengambil keputusan, demi kenyamanan kita bersama terkadang pilihan itu tdk disebutkan.Pasti akan memilih satu diantara dua Jadi Menhan tahu mana yg terbaik utk RI. Apalagi blm ada kontrak berarti blm deal.

      Delete
  19. Bisa di ibaratkan JANDA montok mata duitan boros belanja dan cerewet suka menyiksa suaminya

    ReplyDelete
  20. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  21. Maaf, bbrp komentar jadi terhapus!

    Kebanyakan re Su-35.
    Kita akan membahas ini dalam beberapa artikel ke depan, kenapa model ini sudah terlalu ketinggalan jaman.

    ReplyDelete