Tuesday, June 20, 2017

News Update Juni-2017


News Update Juni-2017. Kembali, agar sesuai konteks, beberapa artikel tidak akan berada dalam urutan tanggal.



30-Mei-2017: BPK akan meng-audit Alutsista TNI

Gambar dari DispenAU, April-2017 ini memperlihatkan berapa Sukhoi yang masih bisa terbang:
Sukhoi Su-30MK2: 3004, 3006, 3007, 3008, dan 3011
Sukhoi Su-27SKM: 2704, dan 2705


Hanya tersisa 7 dari 16 pesawat,
Beberapa tahun lagi, tidak akan ada yang bisa terbang.

Tidak semuanya masih bisa mengudara dalam acara ini,

TS-3009 satu-satunya yang terkena "birdstrike"
sejak 2002 di kawasan Jakarta

Gajah yang didepan mata?


Tanyakan saja persenjataan untuk barisan rapi ini:

HAMPIR TIDAK ADA.
Demikian laporan dari Kompas, dan  Detik News.

Memang sudah saatnya. Kasus korupsi AW101 adalah kesempatan emas, untuk akhirnya mulai memperhatikan dengan seksama kemungkinan penyelewengan yang terjadi berkaitan dengan tidak hanya akuisisi, tetapi juga operasional alutsista selama ini.

Sudah saatnya menilik kembali korupsi pengadan Sukhoi di Sku-11 di tahun 2011, yang seperti juga sudah disinggung Dedi Haryadi, Deputi Sekjen Transparansi Internasional dalam Kompas edisi cetak. Mulai dari segi akuisisi, sampai operasional Sukhoi ini selalu dirudung kegelapan, kemungkinan penyelewengan dana, dan... tentu saja, kerugian yang luar biasa berat untuk negara:
  • Kalau belum cukup parah, tidak ada satupun dari 4 pesawat beli barter dari 2003 yg masih bisa terbang sejak 2008. Dua diantaranya, TS-2701 & 2702 masih menginap "mudik" perbaikan mendalam sejak 9-Desember-2015, atau sudah genap 18 bulan.... 
  • Eh, ternyata.... entah kenapa, masih ada keinginan kuat untuk membeli lagi dengan prosedur merugikan yang sama, dari penjual yang sama, dan untuk pesawat dari keluarga gampang rusak yang sama.
  • Terlebih lanjut, sudah saatnya juga menyorotkan lampu audit ke.... Berapa biaya operasional Sukhoi di Sku-11 sekarang? ... dan seberapa besar kemungkinan penyelewengan, atau proporsi biaya operasional yang masuk ke kantong para perantara
Menurut Direktur Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi, komisi pembelian pesawat versi export ini bisa mencapai 20%. Ini tidak akan berhenti disana. 

AviationWeek, 4-Apr-2011:
India upset with Russian Military spare part supply
Benar. 

Setiap spare part harus dibeli melalui jalur resmi perantara Rosoboronexport, dan karena itu harga setiap spare part, ataupun biaya kerja tehnisi dari Russia, tentu saja akan selalu dicantoli biaya komisi. Pembayaran komisi tidak hanya sekali beli putus, melainkan selamanya.

Tentu saja, transaksi via Perantara mempunyai hukum alamnya sendiri, yang tidak pernah berubah sepanjang sejarah perdagangan alutsista:
Coba tebak:
Kenapa Sukhoi Flemon adalah pilihan favorit?
Karena inilah satu-satunya yang pembeliannya HARUS lewat perantara.

Perantara akan menjamin para agen sales-nya bekerja 24 jam,
untuk manipulasi opini publik
Di tahun 2014 memang tercatat biaya operasional peminum uang ini Rp 400 juta. Angka ini masih dalam perhitungan kurs US$ dibawah Rp11,000, dan sebelum menghitung adanya kasus "perbaikan mendalam", yang masing-masingnya bisa diperkirakan biayanya minimal akan mencapai $12 juta. Ini dikarenakan harga retail 2 mesin AL-31F, yang memang gampang "kaput" setelah 700 jam operasional, sudah mencapai $7 juta, dan masih harus menghitung komisi perantara di atas biaya akhir. 

Mari kita menunjuk "gajah di depan mata yang lain":
Sukhoi - jauh lebih merugikan dibanding kasus AW101:
Pensiunkan!
Inilah yang bisa dinamakan menembak kaki sendiri. Menghamburkan terlalu banyak uang hanya untuk lebih sedikit unit, versi export pula yang kemampuan tempurnya tidak akan terjamin, sedangkan kedua pilihan lain akan memberikan jauh lebih banyak hasil, dengan persenjataan yang lebih tokcer. 

Masalah kedua.....
Beli pesawat tempur hanya menghamburkan uang,
kalau tidak ada investasi training, dan persenjataan,
ataukah.....
hanya untuk mengejar "kickback"?
Kenapa walaupun sudah sedemikian banyak lampu kuning kerugian negara, masih terus ada upaya mengejar pengganti F-5E yang tidak lagi dibutuhkan, sebelum terlebih dahulu memperhatikan kebutuhan pesawat tempur yang sudah ada? 

Untuk saat ini, ke-34 F-16 yang masih berdatangan sudah cukup. Mereka hanya membutuhkan tambahan senjata dan perlengkapan untuk memenuhi MEF secara nyata.



17-Juni-2017: Puspom TNI akan memeriksa Mantan KSAU Agus Supriatna

Credit: Detik News
Yah, begitulah.
Ternyata transaksi korup AW101 juga memakai para perantara.
Musuh besar perdagangan alutsista yang merugikan seluruh dunia.
Laporan dari TribunNews, dan CNN Indonesia.

Beliau belum ditetapkan sebagai tersangka, tetapi ini adalah babak lanjutan dari penyelidikan kasus korupsi AW101. Seperti sudah dicatat di media massa, cukup jelas siapa yang menjadi agen sales nomor satu untuk akuisisi AW101, baik di tahun 2015 dalam rangka pengadaan "kebutuhan" helikopter VVIP , eh, kemudian bersalin rupa ke "kebutuhan" helikopter SAR

Kok bisa, yah, mengiklankan barang import di media massa? 

Padahal, PTDI sudah memproduksi 6 H225M untuk kebutuhan SAR TNI-AU. Seperti dicatat dalam Jakarta Post, sejak tahun 2010, sebenarnya, PTDI sudah mulai memproduksi komponen tailboom, dan fuselage untuk (waktu itu namanya berbeda) EC725, dan EC225 

Dimanakah kesadaran nasional kita? Penjual seharusnya mendahulukan kepentingan industri pertahanan lokal, sesuai amanat UU no.16/2012, bukan mementingkan tutup kontrak via perantara.
Ini baru helikopter SAR, bukan helikopter angkut biasa seperti MSN-50248 para koruptor
(Gambar: 
Angkasa, Remigius Septian)
Kasihan engkau PTDI, entah kenapa walaupun terus berjasa,
selalu dimusuhi para pejabat, dan para Sukhoi fanboyz!
Sekali lagi kasus ini tidak mengherankan, karena saat ini semua UU, dan Peraturan Pemerintah yang sekarang masih menjadi enabler  untuk para pejabat. Tidak ada keharusan untuk transaksi via Government-to-Government contract yang lebih transparan, dan bebas "kickback". 

Hampir semua pembelian alutsista sejak tahun 2003 sampai dengan kasus AW101 ini tidak pernah dilakukan dengan G-to-G contract, melainkan antara pejabat dengan pabrik, atau dengan agen penjual / perantara dari pabrik. Kerugian negara hampir bisa dipastikan akan selalu timbul dari masing-masing transaksi.

Kasus AW101 hanyalah "tip of the iceberg", sedangkan akuisisi Sukhoi via broker, seperti sudah di atas, hanyalah membuka pintu untuk lebih banyak kasus untuk diselidiki.



19-Juni-2017: F-18E US Navy menembak jatuh Su-22 SyAAF


Inilah bentrokan kedua setelah kado tomahawk Trump di 7-April, antara kekuatan US, dengan pemerintah Assad.

Seperti dilaporkan The Aviationist, kejadian bermula pada pukul 16:30, ketika Su-22 pro-Assad membom pasukan SDF (Syrian Democratic Force) yang berada dibawah perlindungan udara NATO. Sesuai hukum RoE (Rules of Engagment) yang berlaku, F-18E dari USS George Bush (CVN-77) kemudian menghabisi Su-22 tersebut.

Peristiwa ini juga merangkap sebagai peringatan ke semua pihak non-NATO; 
"Kalau kejadian ini terulang lagi, kami tidak akan segan menembak jatuh pesawat anda!"



.....Sebagai balasannya, Russia "akan mengancam" pesawat US?

Dalam pernyataan balasannya, masih dalam artikel The Aviationist ini, MoD Russia kemudian mengeluarkan pernyataan menarik:


Seperti dicatat dalam artikel The Aviationist, men-tracking pesawat pihak lain sebenarnya sudah menjadi prosedur standard dalam prosedur "saling mengawasi" satu sama lain agar tidak saling baku tembak sendiri, BUKAN eskalasi konflik. 


... dan berikut jawaban dari pihak United States...

Seperti diberitakan Fox News, dan CNBC News.

Kapten Jeff Davis, memberikan pernyatan yang cukup lugas dengan "perceived threat" yang didapat dari Russia:

"Musuh kami adalah, dan hanya ISIS, tetapi kami tidak akan segan untuk mempertahankan diri terhadap ancaman manapun, baik terhadap kami, maupun semua partner kami."

Analisis dalam artikel CNBC sendiri cukup menarik:
Ancaman? Ancaman yang mana? 

Menurut Nile Gardiner, analyst di Heritage Foundation, organisasi think-tank di Washington, pernyataan Russia lebih merupakan gertak sambal, dibanding ancaman yang valid. Russia, seperti bisa dilihat dari sejarah post-Soviet, memang lebih senang untuk menindas pihak yang lebih lemah, dan ragu-ragu.
Kali ini apa yang dibicarakan Gardiner hanyalah kenyataan yang ada. Hanya membawa S-400 system, kemudian hanya 4 Su-35S, dan 4 Su-30SM yang hanya bisa dipersenjatai dengan missile kuno R-27, tidaklah membuat Russia berada dalam posisi yang bisa menantang NATO. 

Walaupun dalam nama "ancaman Russia", terlalu kecil kemungkinannya kalau radar S-400 Russia akan mencoba mendapatkan lock atas pesawat tempur NATO. Ini baru akan menjadi kasus eskalasi yang tersendiri. Dan seperti sekarang kita sudah pelajari seperti dalam artikel S-400 yang sebelumnya, barangsiapa menyalakan radar untuk mem-lock terlebih dahulu:

Kalau radar S-400, yang kelihatannya juga masih belum pernah berpindah dari posisi semula di Latakia, berani mencoba men-lock satupun pesawat tempur NATO, kemungkinannya terlalu besar hanya akan menjadi magnet untuk ratusan HARM, JASSM, dan Stormshadow stand-off missile yang sekarang sudah di-stock di daerah ini. Sama seperti untuk S-400, untuk setiap "ancaman" Sukhoi, NATO juga sudah siap menyambut dengan puluhan AMRAAM, ASRAAM, AIM-9X.

Kemampuan tempur United States jauh lebih kuat dibandingkan Russia. Perbedaannya terlalu jauh.

Sekali lagi, bukanlah dalam kepentingan politik kedua belah pihak untuk meng-eskalasi konflik dari kejadian ini.


19-Juni-2017: First flight demo dari F-35A dalam Paris Air Show 2017

Oh-oh!

Menarik, bukan? Karena ternyata F-35A Lemon II, yang dipiloti test pilot Lockheed Billie Flynn bisa bermanuever lebih baik dari expetasi. Boleh dibilang, kemampuannya cukup bersaing dengan kemampuan manuever Su-35S, yang dipiloti Sergei Bogdan dalam Paris Air Show tahun 2013.

Tentu saja, peragaan manuever dalam airshow bukanlah referensi yang baik, karena kebanyakan pesawat yang mengudara, tangkinya akan hampir kosong, dan tidak akan membawa persenjatan. Dalam dunia nyata, pertempuran jarak dekat hanya boleh dilakukan maksimal 500 km dari jarak air tanker, atau pangkalan udara terdekat, dan karena itu harus tersedia sekurangnya 50% tangki bahan bakar.

Paling tidak peragaan ini sudah cukup untuk membuktikan, kalau pilot untuk Su-Flanker yang high maintenance, gampang rusak, dan biaya operasionalnya luar biasa mahal, harus bisa berinvestasi dalam jam training yang cukup banyak (baca: triliunan rupiah), bahkan untuk bisa mengalahkan F-35 dalam pertempuran jarak dekat. 

Untuk yang masih bermimpi kalau "macan ompong" Sukhoi di Sku-11 bisa mengalahkan Super Hornet Australia, mari menilik ulang kemampuan manuever F-18E dengan full payload ini:




15-Juni-2017: Satu-satunya pesawat tempur yang memenuhi kebutuhan Indonesia, pertama kali mengudara dari LinkΓΆping

Credits: Saab

Pada waktu 10:32 waktu setempat, Gripen-E 39-8, dibawah kendali tes pilot Saab, Marcus Wandt, sudah mengudara untuk pertama kalinya dari LinkΓΆping, dalam tes flight selama 40 menit, dengan didampingi sepasang Gripen-C, dan Gripen-D.

Unit 39-8 sebenarnya akan lebih dioptimalkan hanya untuk testing kelaikan airframe, dan flight control. Hasilnya akan di-transfer ke test unit kedua, Gripen 39-9 yang kemudian akan memfinalisasi tactical system testing, termasuk Next Generation Integrated Electronic Defense Suite, sebelum unit 39-10 akan menjadi testing unit terakhir untuk production model.
FAKTA: 
Testing 40 menit Gripen-E, yang dikawal dua Gripen classics (3 Gripen), 
masih lebih murah dibanding biaya hanya 1 Sukhoi Sku-11 flypass untuk acara HUT TNI-AU

MS-21 system dijadwalkan akan mulai operasional dengan production model Gripen-E dari tahun 2019, dan akan lebih terfokus ke fungsi air-to-air; sebelum MS-22 upgrade di tahun 2023 akan memberikan full-functionality.

Boleh dibilang jadwal operational Gripen-E akan sesuai dengan waktunya TNI-AU untuk mulai mempensiunkan BAe Hawk-209 di SKu-01, dan Sku-12.

Kenapa baik Gripen-E, dan Gripen-C akan memenuhi kebutuhan Indonesia, sedangkan kedua model versi export F-16V, dan Su-35K tidak akan sampai:

Para agen sales, baik dalam bentuk pejabat, ataupun fanboyz boleh mengumbar sebanyak apapun. Untuk selamanya tidak akan pernah ada kerjasama industri dalam negeri yang berarti dari para negara penjual senjata versi export, dan model yang mereka akan jual hanyalah pesawat versi export. Khusus untuk Sukhoi, tentu saja wajib memakai broker. Semua ini bukan sesuatu yang bisa ditawar, mau membayar extra ratusan triliun sekalipun sama saja: 

Versi Export, akan tetap versi export. Sukhoi akan terus pakai broker.

Kembali, satu Sukhoi Su-35K akan dapat membiayai biaya operasional untuk satu skuadron Gripen-C/E, atau hampir selusin F-16V. Setiap rupiah biaya operasional Sukhoi tidak akan ada sedikitpun juga yang akan dapat masuk kembali ke dalam industri dalam negeri, melainkan beberapa persen akan selalu mengalir ke dalam kantong para perantara.

Kalau belum cukup disana:

Kemampuan kedua Gripen tentu saja melebihi kemampuan kedua pesawat versi export, karena tidak ada yang ditutup-tutupi, atau sengaja dilewatkan, atau di-downgrade dari daftar versi lokal. Gripen-C MS-20 saja akan dapat menembaki F-16V Block-72ID, atau Su-35KI, seperti ayam dalam kurungan.
Sovereign Air Power: Kedaulatan ada di tangan Negara

M E R D E K A
dari penjajahan para versi export
Seharusnya memang kompetisi pesawat tempur Indonesia bukanlah antara Gripen vs kedua pesawat tempur versi export, melainkan mana pilihan yang lebih baik, Gripen-C MS-20 yang sudah siap sekarang, dan dapat diproduksi kurang dari 18 bulan, tetapi dengan beberapa penalty dari Gripen-E, atau menunggu lebih lama, dan mengakuisisi versi-E, yang lebih modern.
Tentu saja, raksasa Sukhoi Su-35K, dengan Knirti ECM suite versi downgrade, ukuran raksasa, dan dua pantat yang panas hanyalah menjadi magnet untuk peluru, ataupun missile lawan.
Gripen 39-8 landing  Credits: Saab
Memenuhi kebutuhan Indonesia, bukan para perantara
Kemampuan tempur dan tehnologi Abad ke-21
Biaya operasional murah
Kedaulatan di tangan negara,

Pilih sendiri persenjataan dan perlengkapan, tanpa bisa didikte penjual
Paket Upgrade terjamin,
Transfer-of-Technology,
Kerjasama industrial jangka panjang,

Mau license production sendiri, silahkan!

Keuntungan Nasional
Tanpa perlu transaksi barter yang merugikan!


Referensi: Saab, AINonline, Jane's.

110 comments:

  1. Artikel terkait radar kapan gan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setelah ini membahas source code dulu, yg menjadi dasar radar modern, dan langkah menuju Sensor Fusion.
      Sehabisnya baru kita membahas radar.

      Untuk sedikit preview singkat dulu;

      Kenapa pespur membawa radar? Untuk melohat target dari jarak BVR, dan kemudian mengunci target, agar dapat ditembak jatuh dengan BVR missile.

      Pada prinsipnya 3 tipe radar:

      - Pulse mechanical doppler -- seperti pemancar radar di darat, tapi generasi yg lebih modern mempunyai kemampuan "look down" -- yakni melihat target yg terbang lebih rendah dari pesawat pemancar.

      Dengan terbang rendah, pespur tsb dapat memanfaatkan permukaan tanah untuk juga memantulkan gelombang radar, dan membuatnya menjadi tak terlihat oleh si pemancar, tanpa kemampuan "look down".

      Kelemahan berikutnya, radar doppler sukar melihat target yg tidak bergerak. Pesawat pemancar memperoleh locking dari refleksi gelombang radarnya. Signal processing akan mengukur perbedaan selang waktu antara refleksi gelombang itu, untuk bisa mengunci lawan.

      Catatan: tidak jelas apakah radar versi export di Sukhoi kommercheskiy mempunyai kemampuan lookdown, atau tidak.

      Versi modern seperti radar Captor di Typhoon, atau PS/05 Mk4 Gripen sudah memperbaiki banyak kelemahan pulse doppler kelas APG-68, dan jauh lebih sukar untuk ditipu. Beberapa pendapat analyst menunjuk kalau radar Captor Typhoon, kemampuan deteksi, tracking, dan locking-nya cukup bersaing dengan PESA radar di Rafale.

      ## PESA radar memperbaiki kebanyakan kelemahan doppler di atas, dan dapat membedakan target diam / target di darat, dengan target di udara. Radar doppler kesulitan mempunyai kemampuan ini.
      Jarak jangkau radar juga jadi lebih jauh, dan gambarannya lebih akurat.

      Kelemahannya, masih sama seperti radar doppler, gelombang radar PESA mudah teerlihat RWR lawan, dan dengan demikian mudah memberitahukan posisinya sendiri ke lawan.
      Kalau gelombang radar terlihat RWR lawan, tentu saja lawan juga lebih mudah menghindari BVR missile yg ditembakkan.

      ## AESA radar, secara konstruksi berbeda jauh dengan PESA, apalagi doppler.
      Sebagai gantinya satu radar pemancar besar, radar AESA mempergunakan 1000 - 1500 transmitter kecil 20w. Masing2 transmitter boleh dibilang adalah pemancar gelombang radarnya sendiri, dan masing2nya juga dapat berpindah2 frequency dngn cepat.

      Ini menyulitkan gelombang radar untuk bisa terdeteksi RWR lawan, makanya banyak pespur modern, spt F-35, atau ketiga Eurocanards mulai beralih ke ECM defense suite untuk mengakali gelombang AESA.

      Selain itu, kelebihan lain radar AESA -- low maintenance. Beberapa transmitter rusak tidak perlu diganti, dan tidak akan mengurangi kemampuan deteksi.
      Radar doppler, atau PESA hanya mempunyai service interval sekitar 10 - 15 jam, sebelum harus menjalani perbaikan / servicing.

      Tentu saja, kelemahan / keunggulan utamanya, akan mengacu di Source code, yg akan mengstur bagaimana komputer pesawat akan memproses signal dari radar.

      Australia, dan Singapore melihat ke depan, dan termasuk yg pertama di dunia yg mengoperasikan AESA radar. Sedangkan sejauh ini, para pejabat, dan fanboyz masih kesengsem dengan radar PESA tehnologi 2005 yg sudah di-downgrade.

      Nanti sy tulis lebih lengkap dalam artikel.

      Delete
  2. Rusia Ancam Tembak Pesawat AS yang Terbang di Wilayah Suriah http://kom.ps/AFwaET

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Haykal,
      Sy sudah menuliskan tentang "ancaman" Russia ini dalam artikel di atas, seperti dilaporkan The Aviationist.
      (update 19-Juni: F-18E menembak jatuh Su-22, 3 paragraf terakhir)

      Mereka hanya akan melakukan radar tracking, alias prosedur standard seperti sebelumnya.
      Kecil kemungkinannya kalau mereka akan berani mencoba mem-lock pespur NATO.

      Ini baru namanya eskalasi konflik.
      Russia pun tahu, kalau S-400 mereka akan menikmati hujan puluhan, atau ratusan HARM, JASSM, Stormshadow, dan Tomahawk missile.

      Ini hanya akan menjadi iklan yg jelek untuk kemampuan S-400.

      Delete
    2. Artikel sudah di-update mengenai "ancaman" Russia ini.

      Delete
  3. admin indomiliter.com ternyata juga diundang ke linkopig rollout Gripen E bersama petinggi kemhan RI dan atase militer RI , ternyata TNI AU menginginkan jet tempur yg punya kemampuan NCW (national centric warfare) dan itu hny swedia yg menawarkan paket ToT Lengkap , rusia kalo memang berani coba saja tembak pespur nato kalo gak langsung kena hajar koalisi nato dan israel

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang.

      Saab sudah menawarkan:
      ## Paket lengkap satu skuadron Gripen-C, atau Gripen-E, dengan beberapa unit bisa dirakit di PTDI
      ## Globaleye, atau Erieye AEW&C (tergantung budget)
      ## RBS-15 Mk-3, dengan kemungkinan produksi lokal
      ## Pembangunan National Networking khusus Indonesia, BUKAN Link-16 standard NATO.
      ## Kerjasama jangka panjang dengan seluruh industri, akademis, dan badan pemerintah secara konsep Triple Helix, yang akan melebihi kewajiban offset.
      ## Semua penawaran terjamin mematuhi UU no.16/2012, tidak seperti mimpi pejabat, atau fanboys.

      Tidak ada penawaran yang lebih baik, bukan?
      Sayangnya, saat ini, tidak hanya kita menabrak tembok keterbatasan finansial APBN, tapi juga banyak oknum pro-perantara hanya menjadi hambatan utama kemajuan.

      Delete
  4. india saja pengguna langganan pespur rusia didominasi buatan rusia kini mereka kapok dan berhenti pake pespur rusia . Mestinya itu menjadi pelajaran buat kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja sampai Dassault Rafale India mulai operasional, dan mau tidak mau akan mempermalukan Su-30MKI mereka sendiri.

      Kenapa spare part MKI, atau semua Sukhoi cenderung akan sulit?
      Ini karena secara internal, industri militer Russia itu saja sudah cukup korup.
      Dengan hilangnya komunisme, masing2 pabrik / perusahaan lebih terfokuskan untuk memperkaya diri, daripada bekerja sama dalam satu kesatuan utuh.

      Yah, hasilnya pespur berbiaya op luar biasa mahal, yg gampang rusak, dan sulit spare part.

      Pelajaran untuk kita yang lebih mudah:
      Seharusnya kita TIDAK BOLEH membeli senjata dari negara yang lebih korup dibanding kita.

      Penjual korup bertemu dengan pejabat "aji mumpung", yah, tentu saja membuka pintu untuk banyak kasus korupsi alutsista, dengan kerugian berat untuk negara.

      Delete
  5. kabar nya TUDM Malaysia hendak menjual MiG 29 mereka guna untuk beli suku cadang su 30 MKM ke india , sementara india juga pusing 7 keliling kekurangan suku cadang su 30 MKI , india awalnya dijanjikan ToT suku cadang tapi ya begitu dah , hewes2 bablas janjine

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul.

      Sudah menjadi pengetahuan umum kok, kalau reputasi Ruski menjanjikan segala sesuatu yg manis sebelum tutup kontrak, tetapi begitu sudah tutup kontrak....

      ....Yah, kembali ke sifat aslinya.

      India ternyata tidak mendapat ToT yg dijanjikan, baik untuk PAK-FA (walaupun India yg membiayai mayoritasnya), ataupun Su-MKI.

      Delete
  6. Kenapa A-7 Corsair pesawat yang Lebih murah, lebih ekonomis, dapat membawa jauh lebih banyak bom.tapi sayang sudah dipensiunkan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena alasan "ekonomis", menurut argumen Pentagon.

      A-7 Corsair hanya pesawat single role untuk menyerang target di darat, dengan kemampuan air-to-air yg terbatas. Kemampuan manuever-nya sbnrnya cukup bagus, tp tidak bisa menandingi F-18, atau F-16, dan mesinnya tidak bisa afterburner.

      USAF mau membeli lebih banyak F-16, sedang US Navy mau membeli F-18.
      Multi-role: keduanya bisa menembak jatuh pespur lain.
      Lebih murah, karena daripada mengoperasikan dua jenis pespur; semisal F-16, dan A-7, mereka bisa mengurangi jumlah tipe.

      Eh, padahal 90% tugas mereka sekarang untuk membom target di darat, seperti di Syria, Afganistan, Iraq, Libya, dan Kosovo. Dan akibatnya, latihan pilot mayoritas F-16, dan F-18 lebih didorong untuk air-to-ground, dan.... BVR combat.

      A-7 Corsair, yg diperlengkapi targeting pod, akan dapat melakukan tugas yg sama dengan lebih baik, dan lebih murah. Kalau skrg mereka masih mengoperasikan A-7, mungkin sudah menghemat antara 40 - 70% biaya operasional dibanding sekarang.

      Nah, di masa depan, Pentagon berencana mengganti F-16, dan F-18, dengan F-35 yg biaya op-nya 4-5x lipat lebih mahal, tapi tetap melakukan tugas yg sama.

      Semisal, membom ISIS, yg tidak mempunyai kemampuan menembak jatuh... bahkan Super Tucano.

      Hollywood logic, Pentagon style.

      Delete
  7. kabarnya LM akan bikin pabrik di india kalau kontrak 100 f-16 blok 70 deal apa mungkin senat AS bakal setuju bung?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Persetujuannya akan tergantung pemerintah Trump (cabang Executive), bukan dari Senat (cabang Legislative).

      Jawabannya belum tentu, krn sejauh ini Trump melakukan sesuai janjinya: sulit untuk bisa ditebak maunya apa.

      Secara basic, policy-nya "America First". Trump sudah menarik US dari perjanjian dagang bebas cukai TPP (Trans Pacific Partnership), katanya demi melindungi pekerjaan lokal di US.

      "NATO sudah tidak relevan," Trump sempat menyebut. "Jerman, karena anggaran pertahanannya terlaly kecil, berhutang kepada NATO yg mengharuskan proporsi anggaran 2% dari PDB."

      Kemudian di hari lain, tiba2 Trump kembali banting setir.
      "NATO sangat relevan," dan kemudian menembakkan 59 Tomahawk missile ke Shayrat AB untuk melumpuhkan 20% AU Syria.

      Kalau perjanjian F-16 Block-70 di India, kita tidak akan tahu nasibnya.

      Obama sih dahulu menyetujui. Trump kemungkinan besar tidak, tapi akan tergantung pada lobi2 Lockheed di Pentagon.

      ## Kalau untuk kerjasama ToT KF-X Korea, ini sih akan lebih pasti.

      Pemerintah Trump tidak akan membiarkan KF-X menjadi produk saingan F-16, dan F-18.

      "America First!"

      Delete
  8. Admin,Pendapat anda soal pesawat tempur FCK-1 Ching Kuo itu ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut Lockheed, "FCK-1 Chingkuo adalah pespur terbaik, yang bisa dibuat Departemen Luar Negeri."

      Ini kira2 kesimpulan yg tepat untuk FCK-1.
      Dari segi kemampuan tempur, kurang bersaing bahkan jika dibandingkan F-5E, karena terlalu banyak part-nya dari COTS barang komersial.

      Ini juga menunjukkan contoh kalau proyek "membuat pespur sendiri" tanpa basis industri, atau tehnologi yg matang, seperti para pemain lama adalah... secara tehnis, mustahil bisa terjadi.

      FCK-1 mungkin cukup untuk menghadapi Chengdu J-6, atau Q-5 PLA-AF tempo dulu, hanya pas2an utk menghadapi J-7, dan sangat sulit menandingi keluarga J-11 Sukhoi hasil jiplakan PRC.

      Delete
  9. Amerika nembak su22 tp gk berani nembak tu-95 bear yg udh jelas" masuk ke wilayah amerika πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begini, bung agen sales "bukan perantara Sukhoi",

      Mari belajar membedakan antara kasus interception, ataupun kasus tembak jatuh karena alasan ROE yg jelas:

      ## Semua kasus interception baik di Baltic, ataupun di Lepas pantai Alaska, mulai dari Tu-22M, Tu-95, MiG-31, Su-24M, Su-27S AU Russia -- semuanya dilakukan diatas wilayah perairan internasional.

      Pesawat AU Russia tidak ada yg berani melanggar masuk wilayah negara2 NATO.
      Karena itu --- tidak ada alasan untuk pesawat tempur NATO menembak jatuh pesawat Russia.

      Prosedur terbang AU Russia sendiri sebenarnya cukup membahayakan, karena semua pesawat Ruski tidak ada yg menyalakan transponder -- beresiko bertabrakan dengan penerbangan sipil yg tidak tahu-menahu.

      Tempo hari, Eurofighter Typhoon RAF harus menandai pesawat Russia yg mereka cegat dengan tranponder mereka sendiri.

      ## Su-24M2 di tahun 2015 berani melanggar wilayah udara Turki -- selama 13 detik.
      Ini walaupun sudah berkali-kali diperingatkan akan ditembak jatuh kalau melanggar.

      Turki menjadi mempunyai prima causa (alasan valid) untuk menembak jatuh Su-24M AU Russia.

      ## Su-22 Pro-Assad berani membom tentara SDF, yg berada di bawah perlindungan udara NATO.
      Menurut hukum ROE yg berlaku, United States mempunyai prima causa untuk menembak jatuh Su-22 tsb.

      Kalaupun yg melanggar hukum ROE adalah si Su-35S AU Russia, tetap saja tidak akan bedanya.
      Dalam kedua kasus tersebut, Su-35S tetap akan ditembak jatuh AU Turki, atau US Navy.

      Delete
    2. Oiya, sekalian tambahan info untuk yg masih bermimpi:

      Su-22 sebenarnya hanya Versi Export downgrade dari Su-17 Versi Lokal.

      Soviet / Russia tidak pernah, dan tidak akan menjual barang versi lokal untuk export.

      Kesemua versi terakhir dari Su-27SM3, Su-30M2, Su-34, Su-30SM, dan Su-35S tidak akan diijinkan untuk export.

      Delete
  10. Saya ngeliat proses tender 200 pespur single engine India bukan sepenuhnya urusan Kemenhan atau AU India tapi ada peran besar perusahaan lokal kayak Tata sama HAL dan mereka juga punya lembaga khusus kayak DRDO. Kapan Indonesia bisa seperti itu ? sama saya kok ngelihat Su-35 dengan program KFX/IFX kayak saling berkontradiksi, ini saya aja atau emang buruk sekali sih skala prioritas kita ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, lihat saja.

      Kasus AW101 ini saja sudah memperlihatkan seberapa kacaunya prosedur akuisisi kita.

      Beberapa pihak bisa berkicau butuh helikopter import, eh... padahal PTDI sudah memproduksi komponen untuk H225M sejak 2010, dan lebih bodoh lagi, TNI-AU sebenarnya sudah memesan 6 helikopter H225M dari PTDI, khusus untuk kebutuhan SAR.

      Helikopter saja bisa begitu, makanya ingin Sukhoi, dan ingin KFX -- dua2 juga model versi downgrade, dengan kemampuan abal-abal, dan ToT yang... tidak akan pernah ada.

      Masalahnya, kita masih kurang pengalaman dibanding negara lain.
      Seperti pernah dibahas disini, semua orang bisa enak berkicau kita butuh ini-itu, padahal hanya mimpi.
      Tidak bisa membedakan keinginan vs kebutuhan, dan sering lupa anggaran kita terbatas.

      Tentu saja, seperti kasus AW101, dan Sukhoi: masih ada keinginan untuk mengejar komisi "kickback" atas akuisisi alutsista.

      Inilah kenapa sejarah sudah mengajarkan kita:
      prosedur menjual alutsista via perantara sangat menguntungkan, dan memudahkan penjual.
      Barangnya lebih terjamin laris manis.

      Setiap pejabat negara pembeli dengan sedikit santunan "kickback", dapat disulap menjadi agen sales untuk penjual.

      Delete
    2. Itu beneran admin kalau Lockheed Martin mau dipindah ke India kok ada artikel bilang fasilitas produksi tetap di Greenville ? Emang Pres.Trump dengan slogan " Make Amerika Great Again " bakal ngijinin itu dipindah ke India ?

      Delete
    3. Seperti di atas.

      Kemungkinan besar paket kerjasama Lockheed re India tidak akan disetujui Trump.

      Delete
  11. Min, kenapa ya B-52 msh beroperasi sampai sekarang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. DC-3 Dakota baling2 yg diproduksi dari 70 tahun yg lalu juga masih cukup banyak yg operasional sampai sekarang.

      Umur airframe kadang sebenarnya kurang relevan, kalau studi kelaikan umur jam terbangnya masih cukup banyak, dan selama spare part-nya masih tersedia.

      B-52 versi-H yg sekarang operasional, dahulu kebanyakan menghabiskan waktu dalam Nuclear reaction alert sepanjang perang dingin. Tidak pernah dioperasikan intensif sampai tahum 1990-an, dan masih menyimpan lebih dari 100 riu jam terbang.

      Tentu saja, pesawat tua yah, biaya operasionalnya lebih mahal.

      Sebagai pembanding,
      F-18E/F US Navy yg masih baru, karena harus lepas landas dengan steam catapult (katapel), dan kemudian harus mendarat balik di landasan yg panjangnya terbatas -- secara prosedural keduanya sangat merusak umur airframe.

      Umur F-18E/F sampai Block II hanya di-rating 6,000 jam. Sekarang banyak SH dari batch yg pertama di tahun 1990-an sudah mulai mendekati batas usia, apalagi mengingat karena tempo operasi SH US Navy juga jauh lebih tinggi dari perhitungan prediksi semula.

      Boeing kemungkinan akan memasukan banyak SH ke program SLEP (Service Life Extension Program) untuk mengembalikan 3000 jam terbang. Block III SH, yg sekarang sedang dibahas, akan mempunyai kelaikan terbang 9,000 jam.

      Di lain pihak,
      F-18SH Australia yg tidak perlu menderita prosedur lepas landas-memdarat yg sama, umur airframe-nya bisa sekurangnya 50% lebih panjang dibanding milik US Navy.

      Delete
  12. Air frame apa ya bung DR, mohon penjelasan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Airframe = tubuh seluruh pesawat, termasuk sayap.

      setiap airline, atau AU akan melakukan inspeksi rutin untuk mengecek kelaikan airframe, dengan menghitung jumlah jam terbang, dan jumlah take-off/landing.

      Airframe yg tidak laik tebang, akan memperlihatkan terlalu banyak crack (retak), atau lebih parah wrapping (berkerut) dalam inspeksi.

      Delete
    2. Dulu pernah terdengar ada bagian F 16 C/D yg retak, apakah itu juga termasuk air frame?

      Delete
    3. Maksud anda F-16A/B TNI-AU yg dari tahun 1988/9?

      Yah, sy juga pernah dengar.

      Kelihatannya memang F-16A/B sudah overdue untuk program MLU / SLEP, untuk memperpanjang umur, dan dapat mengoperasikan AIM-9X, AMRAAM, targeting pod / smart bomb.

      Tapi seperti kita lihat, walaupun pernah disebut beberapa kali F-16 akan masuk program MLU dalam "beberapa waktu lagi", dan katanya "sudah dianggarkan"; eh, sampai sekarang belum kesampaian.

      Eh, tetapi malah lebih banyak suara masih getol membeli rongsokan berbiaya operasional mahal dengan transaksi barter, yg harga kiloannya terjamin abang ketok murah dibawah harga pasar, dan tanpa ToT yg bisa terjamin.

      Kenapa kurang antusias dengan F-16?
      Karena pemerintah US tidak menginjinkan penjualan via perantara.

      Delete
    4. Mksd saya F 16 CD dari block 25 yg dikirim ke RI, dulu kbarnya sda yg retak di bagian cokpit, apakah itu bagian dari airframe juga? Mgknkah juga krn sdh melebihi jam terbang?

      Delete
    5. Oh, maksud anda re berita yg ini?
      ======
      http://nasional.kompas.com/read/2015/04/17/17422941/KSAU.Akui.Pesawat.F-16.dari.AS.Bermasalah
      ======

      Kita harus menerjemahkan sedikit apa yg dimaksudkan dalam artikel ini:

      Pertama2 saja, perlengkapan F-16 memang tidak standard dengan drag chute. Ini bukan krn downgrade atau bermasalah, tapi memang negara pembeli harus memesan tambahan, kalau mau.

      Sekarang crack, katanya di canopy yg disebut disini, boleh dibilang sifatnya kurang jelas. Kalau crack ini serius, seharusnya tehnisi dari Lockheed-Martin diundang untuk inspeksi -- mengingat mereka bertanggung jawab atas F-16C/D yg baru menjalani program MLU.

      Eh, tapi kemudian katanya bisa diperbaiki sendiri --> kalimat ini tidak menunjukkan kalau "crack" yg dimaksud sesuatu yg membahayakan, atau mungkin menunjuk problem tehnis lain yg lebih kecil.

      IMHO, kembali seperti diatas, mayoritas pejabat tidak menyukai F-16, karena tidak lewat perantara.

      Kita bisa membayangkan kalau dalam keadaan sekarang, Gripen sebenarnya sangat sulit utk masuk.

      Inilah kenapa juga, sebagai contoh, "perbaikan mendalam" TS-2701 & 2702 yg sudah molor sampai 18 bulan sengaja tidak pernah dianggap problem yg serius.

      Kemungkinan disini, spt kebiasaan di India, abang Roso meminta nego ulang harga perbaikan, tetapi TNI-AU dananya tidak bisa keluar.

      Tapi yah, ini tidak dianggap masalah serius, menurut para oknum pro-perantara.

      Delete
  13. Knp sulit ya bung sekarang, transaksi tanpa perantara bisa masuk, pdhl F 16 CD block 25 diteken pada jaman Sby..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti dalam artikel,
      Sepanjang sejarah, penjualan via perantara, SELALU memberi santunan paket komisi "kickback" untuk pejabat negara pembeli.

      Setelah skandal Lockheed F-104 di tahun 1960an, dimana perusahaan2 militer US tertangkap basah urusan "kickback", pemerintah US sudah kapok.

      Semua pembelian alutsista ke Washington DC harus selalu melalui program FMS, atau Foreign Military Sales.
      Government-to-government. Tidak ada komisi.

      Swedia juga sudah kapok memakai agen perantara Gripen-International di awal tahun 2000an. Hanya menjadikan skandal saja.
      Sekarang semua kontrak dengan Saab, juga harus dinegosiasikan lewat G-to-G.
      Setiap Order akan dimasukkan resmi melalui badan sipil FMV.

      Membeli AW101, dan Sukhoi tentu akan selalu berpeluang memperkaya beberapa pihak.
      Makanya, pendukungnya banyak.

      Inilah keuntungan memakai perantara.
      Banyak yang akan selalu mendahulukan kepentingan penjual, dibanding kepentingan negara.

      Indonesia tidak sendirian dalam hal ini.
      Pejabat semua negara, bahkan di Austria yang pendapatan per kapitanya jauh lebih tinggi, akan selalu sulit menolak paket tawaran "kickback" dari penjual.

      Delete
  14. In 17 July 2014, MBDA has agreed to jointly research a meteor's seeker with Japan.[93] A spokesman from the Ministry of Defense (Japan) confirmed on 14 January 2016 that, Japan and the United Kingdom will develop a Joint New Air-to-Air Missile (JNAAM) by "combining the UK's missile-related technologies and Japanese seeker technologies".[94] The active electronically scanned array seeker of the Mitsubishi Electric AAM-4B would be mounted on the Meteor, because the AAM-4B is too large to be carried in the Japanese F-35 weapons bay.[95][96] The meteor's current seeker is not as advanced as the AAM-4B and this would give Britain access to advanced Japanese seeker technology.

    MBDA Meteor Yg baru kabarnya Memakai Seeker Dari AAM-4B Jepang. Bagaimana menurut Admin?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja.

      Proyeknya kelihatannya masih tahap studi awal.

      RAF Typhoon saja belum mengintegrasikan MBDA Meteor sampai akhir tahun ini paling cepat
      (Gripen sudah mengoperasikan Meteor sejak pertengahan 2016).

      Kita namakan saja ini Meteor Block-2.

      Jepang memang industri militernya termasuk yg paling mapan di dunia, hanya saja politik pacifist mereka pasca PD II berarti semua senjata produksi sendiri tidak boleh di-export.

      Sekarang Jepang, dan UK berencana mengintegrasikan Meteor Block-2 ini ke F-35.
      Kita tahu kalau source code untuk F-35 akan dikunci Washington DC.

      Walaupun skrg mereka bilang iya, kemungkinan tarik ulur secara politiknya saja sangat panjang, sebelum pekerjaan bisa dimulai.
      Raytheon akan melobi Senate, dan Pentagon untuk mempersulit kemungkinan MBDA masuk ke pasar BVR missile untuk F-35. Mereka tidak akan mau punya saingan.

      Kalaupun mendapat persetujuan, kita juga tahu kalau source code F-35 sudah termasyur, temperamental. Pesawat lemon ini masih belum bisa menembakkan gun sampai 2019. Demikianlah, akan sangat sulit untuk mengintegrasikan advanced BvR missile, yg bukan buatan US ke sistem F-35. Kemungkinannya besar, kalaupun tidak ada halangan politik, proyeknya akan mangkrak bertahun-tahun.

      Kalaupun kendala software ini terselesaikan, Meteor sebenarnya juga... panjangnya tidak muat di dalam weapons bay F-35.
      Ukurannya harus dipotong -- jarak jangkaunya akan lebih pendek, atau kemampuannya berkurang.

      Kembali disini, kemungkinannya cukup besar ketiga pembuat Eurocanards akan menyalip proyek ini ditengah jalan, dan mengintegrasikannya ke Typhoon, Rafale, dan Gripen terlebih dahulu.

      Kita lihat saja.

      Menarik memang.
      Semakin mustahil Sukhoi versi manapun bisa ada kemungkinan selamat dari Meteor.

      Delete
  15. Min artikel source code nya jangan lupa πŸ˜‚

    ReplyDelete
  16. dripada Su35 mending F-16 hibah lagi, toh ttp lbh canggih umur masih panjang bisa upgrade dpt banyak.

    bener Su30SM 35S ga dieksport, tp fansboy mah bodo amat mereka ga sadar rusia make barang yg berbeda dgn yg dijual ke org. dibanding Swedia, EU, US yg make barang sejenis malah bbrp kasus varian eksport lbh canggih dri yg dipake produsen F-15SA,QA,K,SG,Raam atau F-16 Soufa. Russia? bisa dibilang cuma MKI sama MKM yg lumayan itupun RnD MKI india bayar sendiri cma boleh merakit, MKM ngikutin MKI minus barang Israel.

    kalo soal jet tempur Eagle, Rafale bagus cuma ga ideal sama anggaran. cuma gripen yg sanggup memenuhi syarat2 yg ada.
    Gripen C-E sebenernya bisa gantiin seluruh armada AU dri F-16 sampai Flanker sih, asumsi Hawk sekelas Golden Eagle.
    ntah kenapa pangti TNI obsesi bgt sama kombinasi heavy medium light. dual engine single engine.

    soal RBS 15 Gripen lbh unggul dripda Flanker, gripen bawa 4 RBS15, flanker cuma 2 harpoint yg bisa digantung ASM.

    kedepannya Gripen bakal dikasih CFT gak bang??
    hampir semua jet modern pake CFT dri Eagle, SH, Viper, Tyohoon dan Rafale jg ada konsep CFT.

    ToT RBS 15 pdhl vital buat kita, di LCS pemainnya kapal ehehehe
    lagian bkl memajukan teknologi guidance dan propelan minimal
    sukur2 Selex kasih ToT IR untuk bikin IR guided AAM

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kelemahan terbesar semua Sukhoi sbnrnya... terlalu buanyak:

      ## Missile versi Export -- terjamin tidak akan tahan banting melawan F-16 dengan AIM-9X dan AMRAAM C5 ke atas.

      ## Sudah pasti akan selalu gampang rusak, krn tidak pernah bisa dirancang buat tahan lama.

      ## Tidak akan ada pilot Sukhoi yg bisa mendapat cukup training krn masalah ini..

      ## Tehnologi tidak hanya versi downgrade, tapi terjamin 100% sudah kadaluarsa. Terlalu kuno.

      ## Tidak akan ada upgrade seperti F-16, dan Gripen.

      ## Tentu saja, mustahil bisa dapat ToT, atau... pabrik baut untuk Sukhoi.

      ## Korupsi? Yah, namanya juga pakai perantara..

      Beberapa laporan dibawah dari motherland Russia kalau sebenarnya (estimasi) 20% anggaran militer Russia saja raib, akibat praktek "kickback", dan sogok-menyogok.

      http://www.interpretermag.com/growing-corruption-in-the-russian-military/

      https://jamestown.org/program/planning-corruption-setbacks-russias-military-modernization/

      https://themoscowtimes.com/articles/fresh-corruption-scandal-hits-russian-defense-ministry-44839

      Korupsi -- inilah salah satu alasan utama kenapa Alutsista Ruski semakin lama semakin tertinggal dari Barat.

      Nah, yang namanya korupsi, kalau dari supplier, ya, seperti wabah penyakit sudah pasti akan mudah menular kemari.

      Biaya operasional Sukhoi itu bisa diprediksi hampir 40% hanya berupa "waste" yg sudah ditilep dari kiri-kanan.. Tetap saja, hasilnya pesawat yg tidak bisa terbang.

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
    3. Biasanya aku pernah ketemu kamu di Instagram ya?

      Delete
    4. yup, kalo mau liat2 cacat flanker banyak disini.
      flanker dibanding Mig 35 aja mending Mig apalagi dibanding Rafale/Gripen.

      Delete
  17. Menarik.

    Para agen sales dari PT Sukhoi Fanboyz sejauh ini terus memakai strategi spamming hoax yg sudah dilakukan di semua blog, dan forum lain:

    # "Menyerang" tanpa fakta pendukung yg jelas, alias dengan memakai jurus mimpi.

    # Pengecut! Tidak pernah berani membahas satupun juga kelemahan Sukhoi, atau menurut mereka... "..tidak ada kelemahannya"

    # Sekali lagi, sangat jelas kalau loyalitas para fanboys berada di pihak penjual.

    Silahkan menulis komentar dengan bahasa yg sopan, dan kemudian jelaskan perlahan2 bagaimana Sukhoi model export downgrade, dengan missile versi downgrade, yg gampang rusak, biaya op mahal, dan tanpa ToT, bisa memberikan keuntungan yang nyata ke Indonesia!

    Mungkin kita baru bisa mulai diskusinya dengan baik.

    Catatan: Jangan terus-menerus memakai formula komentaryg sama!

    Beberapa contoh:

    # "Pejabat pasti lebih tahu, atau lebih berpengalaman daripada kita!"

    Yah, sepanjang sejarah Indonesia, kalau semua pejabat dari dahulu jujur, dan bekerja dengan tulus ikhlas, ya, kemajuan ekonomi kita sudah jauh lebih tinggi dari sekarang.
    Kenapa juga ada KPK, misalnya?

    # "Embargo!"

    Argumen kuno yg sangat membosankan!
    Selain kesulitan membuktikan kenapa masih bisa ada embargo lagi...

    Kalau takut embargo, ya, belajar mengutamakan supplier yang lebih memperhatikan kebutuhan industri dalam negeri dong!
    Kalau mau kebal embargo, kita harus lebih mandiri, bukan mengandalkan supplier asing!

    ## "... Efek gentar gahar...?"

    Efek gentar yg mana?
    Pertama-tama saja, Pilot F-16, atau Gripen dapat memabung 10x lipat lebih banyak latihan v pilot Sukhoi manapun.

    Oh, apa mungkin para fanboys mau menjual tanah, rumah untuk menyumbang biaya perbaikan Sukhoi?

    Kemudian dengan missile versi export, yg AU Russia saja alergi, mana bisa menantang negara lain?
    United States saja tidak mempunyai kebiasaan menjual missile downgrade untuk export.

    Kalau tidak memenuhi persyaratan2 di atas, enyahlah!
    Komentar anda akan langsung dihapus tanpa reply.

    Salam!

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha maknya saya udah g lagi buka website J*** kalau bicara pespur lain baik dari US maupun eropa selalu ngomongin yg jelek2 atau selalu bahas kelemahannya saja tapi kalau soal shukoi selalu diagung-agungkan bak pespur dewa tanpa kelemahan sudah menjelma jadi AUSAIRPOWER versi indonesia

      Delete
    2. Yang lucu juga praktek menjelek2an negara, atau supplier lain selain Russia, negara asal Komunisme, yg peringkat korupsinya saja sudah lebih parah dari Indonesia.

      Oke, kalau United States sih karena memang lebih sombong, dan suka ikut campur urusan negara orang lain, mungkin memang sasaran yg lebih empuk.

      Tapi yg lucu kalau mereka juga merakit macam2 ide untuk menjelek2an Swedia.

      Negara netral, non-NATO, berpenduduk 7 juta, yang lebih dikenal sebagai salah satu negara yg paling bersih dari korupsi, penduduknya menurut survey internasional dianggap termasuk yg paling jujur, dan sepanjang sejarah modern sudah dikenal sebagai innovator kreatif dalam berbagai bidang.

      Waduh.... bagaimana bisa dituduh "menyesatkan", atau "merugikan" Indonesia?

      Apa ndak kebalik dengan negara ex-adidaya penyebar paham komunis, yg menjual lewat perantara tanpa bisa menjamin ToT, atau full-on maintenance?

      Delete
    3. dari soal pespur smp kapal selam sih bang.
      flanker dgn gripen/rafale aja jauh gripen/rafale, F-18E aja lbh bagus dri flanker. pdahal kalo diperhatian semua manuver akrobatik flanker itu buat pesawat gak berdaya, kehilangan airspeed sementara mesin kurang powerfull, F-18 aja bisa cobra dgn full tank + 6amraam dan recoverynya cepat ga pake stall trus dive mcm flanker πŸ˜…


      masuk soal kasel Kilo class didewakan, meteran hidrogen aja ga ada diruang baterai, boro2 AIP

      masuk lagi ke tema SAM, komen soal S-400 bnyk bgt, ngapain coba Indonesia beli anti balistik, Buk msh lbh masuk akal klo mesti brg rusia.

      brg russia terlalu overated. brg US biar izin ribet semua sesuai brosur spesifikasi.

      Delete
    4. Kembali, kenapa "kelihatannya" banyak yg memuja-muja barang Russia?

      Karena, semua transaksi alutsista Ruski HARUS melalui perantara Rostec / Rosoboron. Sudah lumrah kalau mereka kemudian juga menunjuk PT Sukhoi Fanboyz "bukan broker" sebagai lapisan perantara lokal.

      Sepanjang sejarah, si Perantara akan selalu rajin membagi2 komisi "kickback".

      Darimana kickback ini berasal?

      Ya, dari nilai transaksi yg digelembungkan.
      Negara pembeli yg membayar kickback penjual untuk pejabatnya sendiri.

      Di lain pihak, krn kekacauan korupsi dalam industri Ruski ya, membeli resmi dari perantara Rosoboron mungkin memang cara paling murah.

      Delete
  18. Paling 2 Su 27 sama 2 Su 30 nya cuma buat perbaikan mendalam, Gak diupgrade. Kalau mau Upgrade pesawat yg begituan, Ya TNI pasti Spent Money Lagi buat Upgradenya.

    Buat Upgrade Gripen, Mengupgradenya Mudah,Cuma Karena Pengguna Gripen kayak Ceko,hungaria, Thailand, Dan Afsel Merasa Puas dengan kemampuan Pesawatnya, mereka tidak melakukan Upgrade pada Gripen yg mereka Operasikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pesawat buatan Soviet / Russia tidak pernah di-desain untuk mudah di-upgrade seperti model Barat.

      Upgrade seperti MiG-31BM itu sifatnya karena terpaksa, bukan direncanakan dari awal.

      Akibatnya yah, upgrade harganya cenderung akan mahal (seperti membeli baru); biayanya bisa terus bertambah, dan tentu saja, upgrade-nya akan molor.

      Begitu upgrade ini selesai, pespur yg baru di-upgrade lagi2 sudah ketinggalan jaman.

      Kita bisa lihat contoh India, yang sepertinya membayangkan kalau Su-30MKI itu seperti F-15E Strike Eagle.

      Defense News Link: Aero India

      "Super Sukhoi" sudah ditawarkan sejak 2011, dan apa hasilnya?
      Molor sampai sekarang.

      Baru Februari-2017 ini, mereka menawarkan kembali "Super Sukhoi" upgrade dengan mesin AL-41F1.
      Biayanya $6 milyar untuk 270 pesawat, atau sekitar $22 juta per pesawat.

      Ini juga belum tentu proyeknya bisa lancar.

      Mesin AL-41F1 diameternya 932 mm, atau lebih lebih besar dibanding diameter 905 mm mesin AL-31FP

      Meragukan kalau tanpa modifikasi ke airframe, mesin AL41F1 bisa masuk ke dalam ruangan yang tersedia di Su-30MKI.

      Su-35S diameter engine roomnya dibuat sedikit besar agar bisa mengakomodasi mesin AL-41F1.

      Su-30MKI tidak dirancang untuk mengoperasikan mesin AL-41F1.

      Delete
    2. Yupi, memang Kenyataannya begitu

      Delete
  19. Btw. Missile jelajah tomahawk, Taurus KEPD, JASSM, dan SLAMMER, itu kemampuannya Sea Skimming. Utk melibas missile missile tersebut, ya Harus Pake SHORAD dan CIWS, Gak bisa kalau Pake S400 Yg arah Luncurnya ke atas.

    Pantes Kalau Serangan 59 Tomahawk US Navy ke pangkalan AU Suriah Cuma 1 tomahawk yg meleset , sisanya kena target Semua karena Gak Ada SHORAD sama CIWS. Yg ada disana Cuma S300 dan S400 yg aslinya didesain utk melahap ICBM.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Pertama-tama, selalu ingat kalau beraneka ragam pemancar radar S-400 sifatnya ground-based.

      Kelemahan radar ground-based jelas: gelombang radar tidak akan bisa melihat ketinggian target yang terbang terlalu rendah.

      Ini bisa dikarenakan tertabrak batas cakrawala, atau bisa juga karena tertutup obyek, semisal bangunan, atau bukit-bukit.

      ## Pesawat tempur NATO, mau F-16, F-18, Tornado, Typhoon, atau Rafale, akan dapat terbang rendah, dan kemudian menembakkan sea-skimming missile; ; Tomahawk, Storshadow, JASSM, atau Taurus KEPD berjarak jangkau lebih dari 500 kilometer --- di luar jarak jangkau missile S-400.

      ## Sea-skimming missile bisa terbang hanya satu-dua meter di atas pepohonan, alias serendah mungkin. Ini membawa kita ke kelemahan pertama dari S-400: Radarnya tidak akan bisa mendeteksi sea-skimming missile sampai jaraknya kurang dari 20 - 30 kilometer. Itu juga untuk missile yang terbang ke arah S-400.

      Sea-skimming missile rata-rata kecepatannya 900 kph, atau sekitar 0,25km per detik. Ini hanya memberikan waktu kepada operator hanya 80 detik untuk:
      - Mendapatkan lock atas sea-skimming missile (Rata-rata mempunyai kemampuan mengelak!)
      - Menembakkan missile anti-cruise missile
      - ... dan hanya waktu sepersekian detik travel time missile yang diluncurkan.

      Ini akan selalu lebih memaksa operator S-400 untuk mengandalkan sistem CIWS untuk menangkal cruise missile.

      Seberapapun hebatnya CIWS buatan negara manapun, tetap akan sulit untuk bertanding dengan missile yg terbang 900 kph per jam, dan dapat mengelak untuk mengecoh lawan dengan manuever akhir.

      ... dan kalau hanya ada 4 CIWS, seberapa ampuhnya bisa menangkal 50 missile yang terbang dari arah yang berbeda, dan dengan flight profile yg berbeda?

      ## Dan karena itu.... semua fasilitas radar S-400 akan harus ditempatkan di atas bukit agar jarak deteksinya lebih jauh, tapi ini malah akan menabrak kelemahan kedua: posisinya jadi mudah diprediksi, dan kemudian juga mudah dikunci NATO lewat GPS.

      S-400 yang ditempatkan di atas bukit, hanya menjadi target mudah untuk lebih banyak missile lagi.

      ## Kelemahan terakhir: Sekali lagi, S-400 system harganya melebihi $2 milyar untuk satu sistem yang lengkap.

      Sedangkan setiap sea-skimming missile, harganya kurang dari $1 juta / missile; lebih murah kalau beli borongan.

      NATO hanya perlu berinvestasi, taruh kata $100 juta untuk 110 cruise missile untuk menghancurkan investasi $2 milyar S-400.

      S-400 sebenarnya hanya menjadi target, bukan menjadi hunter.

      Kalaupun ada kemauan, kecil kemungkinannya S-400 bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan 59 Tomahawk yang diluncurkan ke Shayrat AB --- dan tentu saja, Russia tidak akan berani mengambil resiko.

      US sudah memberitahukan ke Russia terlebih dahulu kalau Shayrat AB akan diserang!

      Menurut artikel BBC, yang dituliskan Konstantin Eggert, jurnalist Russia di Moscow, pesan yang disampaikan adalah:

      "Please step aside, while we do our own thing here!"

      Nak, silahkan minggir dahulu yah, sementara kami mau membereskan urusan kami!

      Jangan ikut campur!

      Delete
  20. Rusia: Kapal Induk Baru Inggris Hanyalah Sasaran Empuk di Lautan http://kom.ps/AFwi93

    Secara realistis apakah Rusia mampu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekali lagi, tidak seperti jaman PD II;
      Eranya kapal induk sudah selesai.

      Semua kapal induk, tanpa pengecualian, adalah sasaran empuk di laut.
      Ini dikarenakan pespur jet yang harus dibawa kapal induk modern, membutuhkan ukuran kapal induk yg semakin besar. Dan semakin besar, apapun bentuk proteksinya, dan seberapapun hebatnya... ya, tetap saja, sama seperti F-15, dan Su-Flemon dalam pertempuran udara adalah sasaran yang ukurannnya lebih besar.

      Kembali ke pernyataan Ruski:
      ... sebenarnya sangat menggelikan kalau memperbandingkan Queen Elizabeth-class, dengan Admiral Kuznetzov.

      Kuznetzov sekarang adalah bahan tertawaan di media massa.

      Daily Mail UK me-label kapal ini sebagai "Ship of Shame"-- kapal yang sangat memalukan.

      Angkatan Laut Negara-negara NATO mengawasi bergeraknya Kuznetsov selama deployment terakhir ke Syria... bukan karena mengkhawatirkan kemampuannya, tetapi karena takut kalau sewaktu-waktu kapal ini bisa mogok di jalan, dan menjadi enviromental disaster....

      Ya, Kuznetsov selalu harus didampingi oleh ocean-going tugboat (kapal tunda) untuk bisa menariknya pulang, kalau sewaktu2 boiler-nya yang problematic "kaput". Kapal tunda Nikolay Chiker (Link) harus menarik pulang Kuznetzov sewaktu mogok di tahun 2012.

      Berikut cuplikan dari artikel The Guardians UK ttg analisa Kuznetsov:

      =================
      Igor Sutyagin, a senior fellow in Russian studies at the Royal United Services Institute, said the aircraft carrier could not accommodate any planes that could not also be flown from Latakia. “There is not a great deal to be worried about. This is not the beginning of world war three. It is more a public relations exercise, a show of force,” he said.
      =======
      He was also doubtful that the Russian fleet was capable of withstanding a fight with US naval forces. “This fleet is not capable of high-intensity warfare for more than 50 minutes. After that it will run out of firepower,” he said.
      =======

      Yah, Kuznetzov adalah salah satu kapal induk paling parah yang masih operasional dewasa ini.
      Secara operasional, ataupun kemampuan tempur.... kemampuannya tidak akan bisa relevan.

      Logika Hollywood berarti negara yang "merasa penting" harus terlihat mempunyai kapal induk.

      Delete
  21. heli dauphin basarnas crash di temanggung .analisa admin,ada yg salah dengan produk ini atau sistem pelatihan kita .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kelemahannya, sama dengan TNI-AU, TNI-AL, dan TNI-AD, yang hampir setiap tahun selalu mengalami sekurangnya satu kecelakaan udara setiap tahun, yang terlalu sering menimbulkan korban jiwa:

      Tidak ada sistem yang baik.

      Sistem ini cangkupannya luas; mulai dari prosedural operasi, maintenance, pelatihan, dan lebih penting lagi -- keseragaman, dan keterpaduan secara operasional.

      Selama seperti sekarang, mulai dari pola akuisisi saja lebih mementingkan diversifikasi supplier, yah, untuk selamanya tidak pernah akan ada sistem yang baik.

      Akibatnya:
      Tidak penting apakah helikopter Dauphin ini baru, atau barang hibah.

      Selama tidak ada perubahan mulai dari pola pikir, dan rancang bangung sistem yang baik: kecelakaan akan selalu cukup tinggi.

      Delete
    2. Kenapa kok pola pikirnya karut marut seperti ini ya?

      Delete
    3. Sekarang sih, seperti dalam artikel, re kasus AW101, Sukhoi, ataupun meriam Chang Chong (sama saja, hanya beda merk), tujuannnya asal beli hanya untuk mengejar komisi pesangon "kickback".

      Tidak ada kepedulian untuk:
      # Membangun sistem terpadu untuk membangun kemampuan real untuk menangkal lawan, ataupun meningkatkan safety rating setiap alutsista
      # Kesejahteraan personil TNI
      # Kemungkinan partisipasi, dan pembangunan kemampuan industri lokal
      # Memperlakukan alutsista tidak hanya sekadar memakai, tetapi investasi jangka panjang, yg semakin tahun keuntungannya semakin besar.
      # Tanggung jawab kepada pemerintah, ataupun rakyat Indonesia untuk memilih setiap alutsista yg terbaik, dan memenuhi semua kebutuhan di atas.

      Semuanya dimulai dari dasarnya dahulu.
      Selama UU kita saja masih belum mengatur kalau setiap kontrak harus G-to-G, pejabat akan selalu mencari kesempatan menjadi agen sales untuk supplier asing.

      Ya, hasilnya... segala sesuatu menjadi belepotan, karena penerima "kickback" akan memfavoritkan produk2 yg penjualannya lewat perantara, seperti contoh Sukhoi.

      Untuk apa kita masih mengoperasikan Sukhoi penghisap uang di Sku-11?
      - Tehnologi saja tahun 1980an, dan tidak akan bisa di-upgrade
      - Versi export downgrade, dan kemungkinan semua missile- versi export-nya sekarang sudah melewat expiry date. (Tidak pernah terlihat membawa missile lagi, bukan?)
      - Setiap unit terjamin pasti akan harus MUDIK untuk perbaikan mendalam
      - Biaya operasional cukup untuk 60 F-16, atau 84 Gripen
      - Beberapa persennya juga tetap saja, hanya untuk membayar komisi perantara, dan kickback.

      Menghamburkan uang untuk efek gentar nihil.

      Delete
  22. bang berapa banyak alat perang yg dibutuhkan oleh indonesia berapa pesawat berapa kapal berapa tank and sjenisnya berapa heli dll untuk mencukupi kbutuhan alutsista and variannya apa aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Tank?
      Jenis MBT 70 ton seperti Leopard sih.... sama sekali tidak dibutuhkan

      Kenapa?
      Karena kita negara kepulauan. Bagaimana caranya tank 70 ton bisa dipindah-pindah dengsn cepat antar pulau? Dan... mau bertempur dimana?

      Semua medan tempur MBT berat sepanjang sejarah selalu membutuhkan wilayah yang luas, dan kosong, bukan dipenuhi rimba, atau bangunan2. Di seluruh nusantara, kalau belum menghitung perairan, dan jumlah pulau, tidak ada satupun medan tempur yg sesuai untuk mengoperasikan MBT.

      Kita selalu lebih membutuhkan tank ringan, atau kendaraan support kecil yg bisa di-drop cepat dari Hercules.

      ## Kapal Selam?
      Sebenarnya 3 kapal juga sudah cukup, maksimal 5.
      Tetapi seharusnya kita membeli kapal dengan AIP (Air Independent Propulsion), bukan Improved Changbogo.

      Kenapa demikian?
      Sekali lagi, perairan di wilayah Indonesia Barat, dari ujung Aceh, laut Jawa, sampai dengan perairan sekitar Natuna, semuanya perairan laut dangkal, rata2 kedalamannya kurang dari 50 meter. Sama seperti MBT, bukan medan tempur yg ideal untuk perang kapal selam. Sulit untuk bersembunyi dari deteksi lawan.

      Kita lebih membutuhkan... Puluhan kapal KCR daripada 1 kapal selam.

      ## Pesawat Tempur?
      Tidak lebih banyak dari 64 Gripen untuk kebutuhan dasar. Maksimal 80 Gripen.
      Tidak seperti sekarang, justru membutuhkan stock ratusan missile, sistem training / pendukung yg jauh lebih mapan, dan pra-sarana pendukung yg lengkap:
      4 - 6 Erieye AEW&C, dan sekurangnya kombinasi 2-3 KC-130, dan 4-6 KC-295 air tanker.
      Kemudian juga 4 pesawat ISR (Intelligence Signal Reconaissance), 4 - 8 Gripen-F Electronic Warfare.

      Semuanya biaya operasionalnya akan lebih murah dibandingkan armada gado2 versi export downgrade F-16, Sukhoi pemberi makan perantara, dan BAe Hawk 209 seperti sekarang.

      ## Untuk helikopter, sekurangnya 2 helikopter TNI-AL untuk bisa beroperasi cepat di masing2 titik kritis, mungkin 4 untuk daerah Natuna.

      TNI-AU mungkin kombinasi 20 helikopter sedang, dan helikopter ringan

      Untuk TNI-AD, perhitungan kebutuhannya tergantung... Berapa banyak heli angkut untuk bisa memindahkan, misalnya 800 tentara secepat mungkin?

      Delete
  23. Diantara kapal Selam Kilo class,Scorpene Class, dan U214 Utk Menambah Matra laut TNI AL. Lebih baiknya kalau Indonesia Membeli U214, Karena Daya Endurance U214 bisa tahan sampai 84 hari. Kru kapal yg mengoperasikan Sedikit, Cuma 27 awak. walau Harganya sedikit mahal lah dengan Changbogo Class. Paling selisihnya Cuma 30M tapi Teknologi AIPnya bisa diintegrasikan Ke Improved Changbogo. Kalau Kilo Class Meski Harganya Murah, tapi Speknya lebih Ampas, dan Kru yg diperlukan juga Banyak,sebanyak 52 orang lebih. Dan Endurance Cuma 52 Hari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang, seharusnya kita memilih U-214 dengan AIP propulsion sebagai pilihan yg paling ekonomis.

      Improved Changbogo bisa di-upgrade ke sistem AIP, tetapi ini akan menabrak 2 masalah:

      ## Biayanya akan cukup mahal. Mungkin antara 25 - 40% harga beli baru.

      ## Kalaupun sudah di-upgrade, meragukan kalau level stealth-nya bisa bersaing dengan Type-214.

      Changbogo masih berakar desain Type 209 yg umurnya sudah sejak tahun 1960-an. Sedangkan Type-214 baru mulai di-desain akhir tahun 1990-an. Desain hull, dan shaping-nya tentu saja jauh lebih optimal untuk pengurangan akuistik, atau infra-red.

      Kalau mau lebih modern lagi dari Type-214, yah, Saab A26, yg sekarang masih dalam development. Dirancang untuk jauh lebih mematikan daripada Gotland-class, berdasarkan feedback hasil latihan vs ASW NATO.

      Kalau tidak mau pusing kebutuhan negara, dan mengutamakan kesejahteraan para perantara, penerima "kickback", dan para anggota PT Komunis Fanboyz... yah, Kilo-class versi export downgrade, yg seperti Sukhoi, dan Mi-35.... akan membutuhkan perbaikan mendalam di luar negeri.

      Tentu saja, untuk memaksimalkan komisi, tidak tertutup kemungkinan barang dibilang baru, padahal bekas ex-Soviet yg sudah di-reconditioned.

      Delete
  24. Menurut Saya, Helikopter Buatan PTDI Super puma dan H225M bisa Disulap jadi Heli Serang kayak Mi-24 dan Apache . Yaitu memodifikasinya dengan Sayap penggotong senjata yg ada Di Mi 24 . Kemudian tinggal Dipersenjatau Roket Logir/Hydra, dan Missile AGM Hellfire Atau Missile HOT. Utk Kanonnya Cukup M134 Minigun. Lalu Helinya tinggal dilengkapi Nose Mounted Sight. Jadilah Heli Puma Versi Serang.

    Itu Solusi Efektif Versi Saya Kalau Indonesia Memerlukan tambahan Helikopter Serang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang benar.

      Masalahnya; kita tidak membutuhkan helikopter serang anti-tank berat, seperti Eurocopter Tiger, atau AH-64D Apache, yg sudah dibeli kosong (dan terjamin versi downgrade) untuk delivery tahun 2018.

      Kalau ada konflik, mana ada Negara yg begitu bodoh mau memendaratkan tank berat di salah satu pulau di Indonesia, yg bukan tempat ideal untuk perang tank?

      Kita lebih membutuhkan heli serang ringan kelas NAS 565 Panther untuk memberantas KCR lawan, atau menangkapi armada nelayan "bajak laut" PRC di sekitar Natuna; atau
      mempersenjatai H225M, dan Super Puma untuk air support TNI-AD.

      Delete
    2. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
    3. jailah muncul lagi pt shukoi fanboys yg katanya nasionalis tapi g peduli barangnya pujaannya udah di downgrade yg penting datang ckckck hapus aja bung seperti biasa g usah ajak debat

      Delete
    4. Choko Geblek Otak Tai Mah Nyampah Terus.

      Delete
  25. kabar dari berita metro tv kemren malam ,menkopolhukam ,menhan dan menhan filipina sudah berkoordinasi tentang pengiriman pasukan Tni ke filipina ,juga bersama menhan malaysia........

    ReplyDelete
  26. dan AB Australia juga udah mengirim pesawat mata2 Orion ke filipina....kira2 buatan mana bung Dark pesawat mata2 orion

    ReplyDelete
    Replies
    1. P-3 Orion buatan Lockheed, yg sebenarnya berbasiskan pesawat penumpang baling-baling Lockheed L-188 Electra dari tahun 1957.

      P-3 Orion bisa dipergunakan untuk patroli maritim anti kapal selam, misi recon (mata2) di darat, ataupun electronic intelligence (ELINT).

      Delete
    2. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
    3. anak Sok Pinter Kaya Choko Malah Ngomongin Operasi Di Marawi. Padahal Adminnya Cuma Mereply pertanyaan bung Tupa Tentang Profil P-3C Orion. choko Choko, Tolol Kok dipelihara.

      Delete
  27. 8 Apache yg dibeli TNI Pas Itu memang lengkap Sama Paket senjatanya .cuma Versinya Saja yg Speknya Downgrade meski Helinya baru.

    Itu Realnya Sih Setau Saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Minimal Udah Cukup Lah Beli Apachenya, 8 Unit, Minimal itu Sudah Mampu Menutupi Kekurangan 5 Mi-35P Yg Semrawut. Utk Heli Blackhawk Setau Saya Kemampuannya Memang Bagus,Cuma Harusnya tidak diperlukan karena kita udah Bisa memproduksi Bell 412 yg Kapasitas Angkutnya Sama. Bahkan Bell 412 Dimodifikasi pake Lapis Baja Tambahan dan Senjata Minigun kemampuannya Bersaing dengan Blackhawk. Atau Kalau Mau menyulap Bell 412 jadi Heli Serang, Cukup Pasang Roket FFAR atau Hydra plus Minigun.

      Bell 412 TNI AD jumlahnya Banyak, 41 Unit.
      Bahkan 10 unit Bell 205 Walau Sudah tua tetap Operasional dan Fit. daripada Mi 17 yg usianya Muda Tapi Terkadang Sering Ngadat.

      Delete
    2. Bell 412 sebenarnya versi helikopter sipil dari UH-1H US Marine. Cukup untuk transportasi umum, kurang memadai utk medan tempur.

      Super Puma / H225M sudah cukup untuk bertahap mengisi kebutuhan heli angkut militer.

      Ngapain juga maksa beli Mi-17, dan Mi-35?
      (Pssst.... perantara = kickback)

      ## AH-64D
      Menurut dokumen DSCA tahun 2012 pemerintah US, estimasi nilai transaksi paket lengkap 8 AH-64D untuk TNI-AD bernilai $1,41 milyar.

      =====
      http://www.dsca.mil/major-arms-sales/indonesia-ah-64d-apache-block-iii-longbow-attack-helicopters
      =====

      Tapi kta tahu kalau transaksinya ternyata hanya senilai $500 juta.

      Inilah contoh dari.... seperti dalam artikel, Sistem Akuisisi "Macan Ompong".

      Mentang2 barangnya kebeli, memangnya otomatis efek gentarnya nyata tanpa paket training, perlengkapan, dan senjata?

      Kita hanya menjadi bahan tertawaan negara lain.

      Tentu saja, apa yg tidak tertulis... MUSTAHIL versi ompong Indonesia spesifikasinya akan diperbolehkan sebaik apa yg dipakai US Army.

      Sama seperti rongsokan Sukhoi mimpi para penggemar perantara, dan para fanboyz; Kalau buatan US, atau Ruski, ya, sudah pasti Versi Export Downgrade.

      Ini bukan sesuatu yg bisa ditawar.

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete
  28. kabar terbaru yg dari formil , saat ini RI - Rusia sedang mempertimbngkan hutang kpd Rusia untuk membeli su 35 ... Saya sangat kecewa kepada negeri ini ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah.

      Praktek mencoba menjual kedaulatan negara ke supplier asing!

      Hidup para penerima "kickback"!
      Dan antek2 fanboyz mereka!

      Delete
    2. Percuma jadinya beli Sukhoi, kalau Masih Ngutang. mending ambil tawaran gripen C aja, lebih banyak Dapat benefitnya.

      Delete
    3. Setiap penjual sudah pasti akan selalu menawarkan paket beli kredit.
      Termasuk pemerintah US, atau Swedia.

      Tentu saja, hanya Rostec yg bersemangat menawarkan paket "barter",
      alias abang yg ketok harganya, berpotensi merugikan export karet sampai $600 juta dengan harga ketokan setengah harga pasar.

      ## Tentu saja, tidak seperti para penjual versi export, paket Gripen sudah ditawarkan untuk 85% offset secara industrial.

      Setiap Rupiah yg dibayarkan untuk pembelian Gripen, 85%-nya akan di-investasikan kembali ke industri dalam negeri.
      Yah, dan tidak tertutup kemungkinan, 35% komponen Gripen bahkan bisa diproduksi dalam negeri. Tapi ini akan tergantung ke komitmen pemerintah, dan rakyat.

      Delete
    4. Klo servicenya tetap di luar negeri apa nggak keluar biaya lagi, TOT juga nggak dpt.

      Delete
    5. Kita tidak perlu pusing menanggapi para hoaxer pro-Rostec.

      Kenyataan tetap tidak berubah:
      Sukhoi inferior, tehnologi 2005 kuno versi downgrade, pemberi makan perantara, adalah pilihan terburuk untuk Indonesia.

      Kita akan membahas kebiasaan buruk transaksi barter (atau nama lain kredit dagang) di lain topik.

      Kerugian negara dari transaksi semacam ini tidak terlihat, dan memang akan sulit di-audit, tp mungkin sudah mencapai triliunan rupiah dalam 15 tahun terakhir.

      Delete
  29. Klo blm teken kontrak berarti blm deal, kita tunggu saja segala sesuatunya bisa berubah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kan memang Su-35K gebrakan terakhir para oknum pro-perantara.

      Kita lihat saja.

      Kalau kita mau dibodohin, rugi transaksi barter ratusan juta $$$, merobek UU no.16/2012, dan mendorong mundur kemajuan industri, atau sistem pertahanan 30 tahun ke belakang, yah... Sukhoi downgrade tehnologi 2005 yg terpilih, lengkap dengan persenjataan versi export yg tidak dipakai pembuatnya sendiri.

      Kalau mau sekadar menyenangkan hati Trump, dan karena alasan pilihan aman, ya, F-16V versi export.

      Kalau mau belajar mandiri, tidak mau dijajah perantara, atau versi export, ya tidak pernah ada pilihan lain:

      Kita harus lebih menperhatikan tawaran kerjasama Saab, dan potensi keuntungan bersama yg bisa didapat.

      Delete
  30. mereka membahas 2 kemungkinan model pembyaran hutang , rosoboron minta dilunasi pake uang / dgn sumber daya alam kyk karet dll , masih di bahas . Mereka juga mengatakan su 35 gen 4++ dgn kemampuan gen 5

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mereka sebenarnya mulai kesulitan menjual Sukhoi.

      Berkat sepak terjang Ruski di Syria, sekarang semua orang di semua negara sudah mulai memahami, kalau kemampuan Sukhoi itu mitos daripada kenyataan.

      Dengan tehnologi kuno, yg sudah di versi export downgrade-kan, dan hanya bisa dipersenjatai missile versi export R-73E, dan RVV-AE, mustahil Su-35K bisa mengalahkan F-16 Block-50/52. Bahkan yg bukan versi V.

      Kenapa media Barat masih senang membahas "efek gentar Su-35", dan bagaimana lemahnya F-18, dan F-35?

      Ini juga harus dibahas dalam topik tersendiri:
      Perbedaan berita militer dari media Barat vs Timur.

      Maaf, krn kesibukan masa liburan, sy juga masih belum menulis topik baru.

      Delete
    2. nampaknya rosoboron hendak menipu kita . Prowek Pespur gen 5 mereka saja masih amburadul ,

      Delete
    3. PAK-FA sering disebut2 generasi ke-5, dan dipuja2 oleh para penulis Ausairpower -- tidak bisa dikalahkan, katanya, tanpa F-22.

      Kenyataannya, sih, F-18E/F Super Hornet sudah jauh lebih dari cukup.

      Berikut daftar checklist yg masih belum dipenuhi PAK-FA kalau mau mengaku "generasi kelima"

      ## Mesin -- sejak pertama mengudara, sampai sekarang masih memakai mesin 117S atau variant dari mesin AL-41F1 untuk Su-35S. Selama flight test, sudah dua kali meleduk.

      Mesin AL-41F1 tidak dirancang untuk bisa terbang supercruise. Bukan hanya masalah daya dorongnya kurang kuat, tetapi dry thrust mesin tsb harus dirancang spesifik untuk bisa menahan kecepatan supercruise.

      ## Tidak ada AESA radar.
      Walau sejak 2008 sudah menyebar berita "kalau" Ruski "sebentar lagi" siap membuat AESA radar, kelihatannya mereka sudah menabrak tembok. Sama seperti di atas, PAK-FA masih memakai Irbis-E.

      Tidak ada AESA, yah, pespur tidak bisa terbang stealth.

      ## Masih belum ada BVR Missile dengan active guidance.
      Seperti kita tahu sekarang, development untuk R-77-1 (izdeliye-180) masih seret, boro2 masih ngomongin K-77M dengan mesin ramjet, dan dual-guidance.

      Kalaupn proyek izdeliye-180 bisa selesai, yah, sama saja.

      BVR missile Barat (AMRAAM, dan Meteor) development-nya sudah lima generasi lebih maju, dan jumlah uang yg tersedia untuk research hampir 20x lipat lebih banyak.

      Tanpa BVR missile yg reliable, yah... Untuk apa stealth fighter?

      ## Terakhir, stealth engineering untuk PAK-FA juga masih melempem.
      Kelihatannya, industri Ruski belum bisa menguasai kesenian membuat stealth coating yg bersaing, dan tata desain pespur dengan RCS rendah.

      Meragukan kalau India masih mau membiayai development untuk PAK-FA secara berkelanjutan, setelah berkali-kali ditipu.

      Delete
  31. Admin inget enggak Sukhoi Superjet 100 yang pernah nabrak digunung salak itu?Sukhoi Superjet 100 juga didatangkan PT Trimarga Rekatama sama kaya SU-27/SU-30.saya juga enggak tau siapa yang membeli Sukhoi Superjet 100

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sky Aviation juga Punya SSJ-100 . Cuma seluruhnya Di grounded usai maskapainya bangkrut

      Delete
  32. Menurut Saya Pengganti F5E Yg Lolos Seleksi Cuma Gripen C , Soalnya Kata Kasau pengganti F5E Paling cepat Akhir 2017 dan 2018.

    ReplyDelete
  33. Klo ktanya KASAU paling cepat pengganti F 5E/F datang akhir tahun 2017, yg paling realistis adalah F 16CD refurbish dari AS, ktanya Desember thn ini pengiriman terakhir 😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inilah masalah....Gajah di depan mata sengaja dibuat tidak kelihatan.

      Kok TNI-AU masih mau beli pespur lagi, kalau si tipe favorit yg gampang rusak, sudah mengkonsumsi biaya operasional hampir 7x lipat F-16?

      Kalau Sukhoi Sku-11 belum dipensiunkan, ya, tidak akan ada uang untuk mengoperasikan lebih banyak pespur.

      Uangnya darimana?

      Sebaliknya, kalau Sukhoi dipensiunkan, yah, akan ada ruangan finansial yg cukup untuk mengoperasikan 2 Skuadron Gripen, 4 Erieye, dan sekurangnya 2 air tanker baru (KC-295?), dan membeli ratusan missile yg diperlukan, termasuk RBS-15 anti-ship missile.

      Paket angkatan Udara Lengkap, bukan yg berpikir pespur itu segala2nya, lantas tidak perlu AEW&C, Networking, air tanker, atau bahkan ironisnya.... persenjataan, dan perlengkapan(!!!)

      Tentu saja para oknum penerima "kickback" menginginkan kita terus mengoperasikan pespur berefek gentar nihil pemberi makan perantara ini.

      Bagaimana dengan renstra 10 Skuadron?

      Dua jawaban.

      Seperti diatas, apa artinya pespur banyak2, tanpa sarana pendukung lengkap, dan persenjataan?

      Kedua, untuk mengoperasikan 180 pespur, apalagi kalau mengoperasikan Sukhoi/KF-X, akan memerlukan anggaran sekurangnya $30 milyar / tahun.

      Uangnya dari mana?

      Delete
    2. Admin itu Austria gak salah mau pensiunkan 15 EF terus mau diganti sewa Gripen C/D emang ada apa sih selain dari anggaran ?

      Delete
    3. Alasannya memang 100% finansial: Typhoon Austria, sama seperti Sukhoi Sku-11 kelewat mahal.

      Austria membeli Typhoon Tranche-1, kemampuan kurang, upgrade, dan pemeliharaanya sulit.

      Indonesia membeli Sukhoi tehnologi 1980-an, dngn sedikit layar digital, tapi sudah di-downgrade untuk export, dan tidak seperti Typhoon tidak akan bisa, ataupun diperbolehkan untuk di-upgrade.

      MoD Austria membuat perhitungan Typhoon akan menelan biaya €5,5 milyar untuk dioperasikan 20 tahun ke depan.

      Kemenhan, dan TNI-AU sih "kelihatan" adem ayem...

      Tetapi semua Sukhoi sudah mendekati batas umurnya di tahun 2020-an, dan part-nya akan semakin sering rusak prematur. Dalam 5 tahun ke depan saja, bisa diprediksi akan memakan biaya $500 juta, dan semakin sedikit unit yg bisa terbang.

      Delete
  34. Artikel baru min. Udah juli nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf belum sempat.
      Minggu ini diusahakan :)

      Delete
  35. https://news.detik.com/berita/d-3556023/amankan-wilayah-barat-ri-4-jet-f-16-patroli-udara-di-aceh

    katanya shukoi tulang punggung penjaga kedaulatan wilayah udara nusantara la ko ini malah ngandelin f-16 hibah pesawat yg selalu di remehkan fanboys shukoi
    "shukoi pesawat high class g level kalau cuma buat patroli" katanya lol
    lalu fungsinya apa dong ngendok di hanggar doang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itulah keuntungan Sukhoi memakai perantara.. :D

      Pejabat, dan mungkin juga mayoritas netizen fanboyz akan selalu menerima pesangon "kickback"... yg sebenarnya dibayarkan dari kocek negara.

      Seberapapun jelek record-nya tentu saja akan dilindungi sehidup-semati.
      Kalau Sukhoi Sku-11 sedemikian jelek (padahal emang iya), ya nggak bisa beli rongsokan Su-35K dong!

      Efek gentar nihil yg menghamburkan uang.

      Kalau memang "tulang punggung", ya, buktikan dong!

      Kirim Sukhoi tuh ke Australia setiap tahun untuk mengikuti Pitch Black, dan coba membuktikan bagaimana macan ompong versi export tahun 1980-an bisa mengalahkan Super Hornet RAAF Australia!

      Tidak hanya SH jauh lebih modern, dan RAAF mengoperasikan state-of-the-art system, dengan fasilitas ISR, AEW, EW, dan Networking, tetapi pilot mereka sudah berlatih ratusan jam terbang per tahun untuk bisa konsisten mengalahkan yg terbaik dari Russia, atau PRC.

      Cuma ikut sekali doang di tahun 2012, sudah ge-er efek gentarnya "terasa".

      Delete
  36. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Persyaratan dari belgia apa? Coba analisa. Jngan asal comot
      Jika rosoboroneksport rusia ikut emang bisa memenuhi persyaratan belgia?

      Delete
    2. Berita DefenseNews yg dimaksud @Choko re Swedia menarik mundur penawaran Gripen ke Belgia memang akan diangkat ke News Update selanjutnya.

      Sayangnya komentar @Choko, seperti biasa, ya harus dihapus, krn selalu berbau propaganda agen perantara Sukhoi.

      Kalau bahasa anda bisa lebih netral, dan juga lebih mengutamakan kepentingan Nasional Indonesia, baru kelak komentar anda tidak perlu dihapus.

      Ok, kembali ke topik: kenapa Swedia menarik mundur Gripen dari kompetisi di Belgia, BUKAN berita negatif:

      Requirement di Belgia ternyata sudah dimiringkan untuk lebih condong ke F-35.

      Faktor latar belakangnya adalah keputusan politik, bukan lagi kebutuhan yg mendasar.

      Bahkan Boeing juga sudah memutuskan untuk tidak menawarkan F-18SH ke Belgia, seperti halnya mereka mengajukan penawaran ke Canada.

      Ini bukan sesuatu yg baru.
      Beberapa negara, karena pengaruh lobi2 politik Washington DC, atau mungkin juga madu offset yg menarik, akan selalu cenderung memilih produk buatan US, tidak peduli berapapun jeleknya F-35 Lemon II.

      Denmark, Norwegia, dan Belanda sudah memilih F-35 Lemon II juga karena alasan yg sama. Pespur lain tidak ada harapan.

      Apa yg tidak disinggung disini oleh para pendukung perantara Rosoboron:

      RFP pespur Belgia datang dari ACCaP, badan akuisisi militer pemerintah Belgia.

      Swedia juga menawarkan Gripen melalui badan sipil pemerintah FMV, bukan langsung dari perusahaan Saab.

      Government-to-Government Contract. Tanpa komisi penjualan, atau imbalan "kickback" untuk pejabat negara lokal.

      Bukan seperti alutsista Russia, yang HARUS lewat agen perantara seperti Rostec / Rosoboronexport.

      Karena para agen sales Sukhoi sampai sekarang masih takut membahas jalur penjualan via perantara, kita jadi semakin bisa menebak motivasi mereka.

      Delete
  37. Btw,mungkin karena Proyek Gripen E Swedia Belum 100% Perfect benar,Walau prototipenya Sudah Terbang First Flight . Makanya Saab Menarik Diri Dari Tender AU Belgia. Mungkin Menurut Saab Sampai Gripen E 100% Bersih dari Masalah Dan lulus dari Berbagai Tes. Baru bisa Diproduksi Massal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Eki

      Kalau dari segi faktor resiko sih, Gripen-E resikonya jauh lebih rendah vs F-35, ataupun PAK-FA. 75% dari fitur Gripen-E sebenarnya sudah diuji coba dalam unit Gripen NG Demo 39-7.
      Faktor resiko sudah sangat rendah, bahkan lebih rendah dibanding transisi dari F-18 classic ke Super Hornet.

      Baik F-35, dan PAK-FA (apalagi KF-X), saat ini lebih seperti memasang taruhan yg luar biasa mahal di meja judi, dengan kemungkinan menang yg sangat kecil. Baik dari segi Upgrade, Reliabilitas, Maintenance, dan Kemampuan; semuanya tidak akan bisa terjamin.

      Karena kesulitan internalnya terlalu buanyak, sampai tahun 2025 sekalipun, belum tentu sudah bisa dinyatakan siap tempur.

      Sekali lagi faktor latar belakang di Belgia adalah faktor politik.
      Baik US, ataupun Denmark, Norwegia, dan Belanda (dalam nama NATO) akan melobi agar Belgia menggunakan pesawat rongsokan yg sama.

      Delete
  38. Memang benar Bung GI, Sejauh Ini gak Ada Masalah Pada Uji coba Prototipe Gripen Airframe 39-7 alias Gripen NG Demo(Cikal bakal Gripen F) dan 39-8(Cikal bakal Gripen E). Dan Sudah Cukup Jempolan utk Proyek Gripen E/F Next Generation karena Faktor Resikonya Jauh Lebih Kecil. Pengetesan Mesin GE F414 Pada Gripen Airframe no 39-8 Juga Cukup Diacungi Jempol, karena Pengetesan Mesinnya Berjalan Dengan Lancar Tanpa Masalah.

    Gripen Bukan Pespur Kaleng Krupuk ya, Karena Gripen Punya Kelebihan yaitu Kesederhanaan Dalam Deployment, kemudahaan Dalam Maintenance, Dan beragam Senjata Bisa Dibawa Gripen(Persenjataan Suka Pilih tergantung User Gripen), dan yg terakhir, Open Network dan Open Source Code.

    Btw Belum Tentu Pespur Single Engine kayak Grpen Yg Ukurannya Kecil Itu Lemah.

    Gripen Walau Ukurannya Kecil, Diam diam Bisa Jauh Lebih Berbahaya dari yg lain.

    ReplyDelete
  39. Hmm Bung GI, bagaimana Menurut Anda tentang Radar PS-05/A Mark 5 , Setahu saya itu Radarnya sudah AESA

    ReplyDelete
    Replies
    1. PS-05/A Mk5 AESA masih dalam development.

      Kita tunggu saja kabarnya. Sejauh ini, testing di lapangan (Gripen) saja belum.

      Kemungkinan Saab akan mulai menawarkan PS-05/A Mk5 dalam paket upgrade radar untuk Gripen-C, atau mungkin sebagai opsi untuk Batch-2 dari Gripen-E?

      Delete
  40. Kenapa Orang Indonesia Menghina F-16 Bekas?Karena Orang Indonesia suka menjudge sesuatu dari covernya Titik! padahal didalamnya udah diupgrade

    ReplyDelete
    Replies
    1. Krn 2 faktor:

      ## Sok gengsi "lebih penting aksi dari nasi".

      ## Sayangnya, F-16 tidak bisa dibeli lewat perantara.

      Kita sudah melihat sendiri berapa banyak kritik pedas ke F-16, atau pesawat/heli buatan PTDI.

      Ada pengamat pendukung AW101 (via Perantara... tut tut!) menyebut partial license production H225M hanya seperti "cuma belajar ngecat".

      ## Sementara itu Sukhoi beli "baru", 7 pesawat (termdk TS-3006) sudah rusak berat dalam waktu kurang dari 5 tahun.

      Tidak ada complain. Malah mereka mendapat juru bicara spt salah satu fanboyz hoaxer disini, yg komentarnya tidak perlu dibaca, atau dibalas. Akan langsung dihapus.

      Delete
  41. Botswana, Kroasia, Dan Bulgaria kemungkinan bisa masuk Calon User Gripen Yg Paling Potensial menurut Saya. Ini adalah sebuah kabar bagus karena Negara Negara lain Mulai Menunjukkan Ketertarikannya bahkan ingin Mengakuisisinya Pesawat Tempur yg satu Ini.

    Sedangkan Swiss kemungkinan Gripen Bisa Masuk Utk Menggantikan F/A 18C/D.

    ReplyDelete