Tuesday, June 13, 2017

Kenapa Akuisisi Su-35K Versi Export akan "sangat menguntungkan"

Su-35S with R-27    Credit: Vitaly V kuzmin
Fakta: AU Russia tidak pernah mengoperasikan missile R-77,
melainkan missile kuno R-27, buatan pabrik Artem, Ukrania

Ada beberapa pernyataan menarik pada 12-Juni-2017 ini, mengenai kemungkinan akuisisi Su-35 Versi Export, seperti dikutip Kompas, dan Tribun News.
  • Russia dikabarkan akan membangun pabrik spare part untuk Sukhoi, dan karena itu Sukhoi tidak perlu lagi dikirim ke Russia untuk diperbaiki
  • Kontrak akan melibatkan barter, dan akan dilakukan G-to-G, tidak ada perantara.
Sayangnya, kedua pernyataan ini sangat berlawanan dengan pengalaman India dalam bertransaksi dengan Russia. Ini walaupun India adalah customer mereka yang terbesar, paling penting, dan paling setia sejak tahun 1960. Yah, India mengimport 70% alutsista mereka dari Russia, dengan nilai total akuisisi mencapai lebih dari $5 milyar per tahun, mempunyai banyak kabar gembira re akuisisi 277 Su-30MKI mereka:
Defense News, 22-Maret-2017
Apa yang didapat India dari akuisisi 277 Su-30 MKI,
bukan 10 Su-35K
Padahal Rosoboronexport, menurut amanat Presiden Russia sendiri adalah agen perantara resmi transaksi alutsista Russia. Mana pernah ada Government-to-Government deal yang langsung untuk transaksi pembelian senjata buatan Russia?
Rosobornexport HARUS menjadi "state intermediaries" (Perantara)
untuk semua penjualan export senjata Ruski.

Tentu saja "komisi perantara" disini sifatnya relatif.
Tidak akan terjamin dibawah 5%.
Defence Aerospace Link
Tetapi mungkinkah ada strategi tersembunyi dibalik pernyataan yang kelihatan bertolak belakang dengan kenyataan ini?

Apakah mungkin akuisisi Su-35K, justru akan sangat menguntungkan Indonesia?




Jebakan transaksi Barter: Ternyata harga untuk... hanya 10 Su-35 model export bisa menimbulkan kerugian ....ratusan juta $$ 


Karena membeli dengan barter, berarti harga kelihatan murah? Ini suatu kesalahan besar.

Perhatikan kembali artikel  Tribun News!

Apa yang kita dapat disana adalah... 50% dari nilai transaksi adalah $600 juta, akan dilakukan dengan barter karet, sisanya 50% lagi dengan cash, bukan?

Perhatikan diagram pergerakan harga karet setahun terakhir:
Index Mundi; screenshot 13-Juni-2017
Kenapa transaksi barter tidak akan bisa dipercaya dalam transaksi modern, dan kemungkinannya justru cukup besar akan merugikan Indonesia?

Tonnase karet yang akan dinilai $600 juta ini kemungkinannya cukup luas untuk bisa diketok dengan estimasi price option. Price option berarti harga bisa disepakati kedua belah pihak di luar dari harga market. Bayangkan kalau nilai $600 juta karet ini bisa diketok dengan harga US$0,75 cent/ per kg, atau separuh dari harga market?

Bukan tanpa alasan Russia tertarik dengan produk Karet dari Indonesia. Karet adalah salah satu komoditas import terbesar Russia dalam rentang waktu 2009 - 2016. Tentu saja, keinginan mengakuisisi Su-35K model downgrade, dengan modal yang kurang, seperti memberi angin kepada para penjual, untuk menentukan harga karet yang akan disetujui.

Tidak akan ada komisi perantara? Ini tidak akan bisa terjadi. 
Rosobornexport HARUS menjadi "state intermediaries" (Perantara)
untuk semua penjualan export senjata Ruski.
Menurut amanat Presiden Russia di tahun 2000, S E M U A transaksi alutsista harus melalui state intermediaries Rosoboronexport, yang akan menuntut komisi, dan tentu saja, mereka akan selalu menunjuk perantara lokal yang statusnya "bukan broker Sukhoi". Bukan tanpa alasan, pernyataan kalau "Indonesia mau membeli Sukhoi", datang dari direktur Rostec, Victor Kladov, yang dengan sendirinya sudah menjelaskan kembali mekanisme penjualan alutsista Russia.

Rostec memegang kepemilikan saham atas Rosoboronexport. Kalau tidak ada komisi atas jasa mereka, darimana keuntungan Rosoboronexport yang bisa mengalir kembali ke Rostec, sang pemillik? Sebagai perusahaan yang membawahi Rosoboronexport, Rostec juga harus melaporkan keuntungan per tahun, bukan?

Sekali lagi ini semua prosedur standard penjualan lewat perantara. 

Sama seperti direksi PT PAL, yang baru saja tertangkap basah KPK, menjual 2 kapal kelas Makassar ke pemerintah Filipina melalui agen perantara Ashanti Sales, yang kemudian memotong 4,75% komisi.

Kenapa PT PAL, dan military-industrial complex Russia memakai agen perantara?

Kegunaan utamanya jelas: memperlancar transaksi alutsista dengan juga memberi pesangon "kickback" di negara pembeli.

Perbedaan dengan transaksi PT PAL via Ashanti Sales dengan Sukhoi via Rosoboronexport: Transaksi lewat barter, akan memberikan ruangan untuk para perantara menyembunyikan proporsi komisi mereka, dan membuat transaksinya sekilas kelihatan "bersih".




Jebakan Kedua: Selamat tinggal UU no.16/2012, dan kepada kemungkinan kemajuan industri pertahanan lokal! 

H225M produk saingan AW101
Sayangnya, pejabat selalu lebih memilih IMPORT,
daripada mengutamakan kerjasama membangun industri lokal
(Gambar: PTDI)
Oh, betapa malang nasibmu, UU no.16/2012, yang sebenarnya dituliskan untuk melindungi industri pertahanan lokal!

Mari memperhatikan kembali persyaratan yang di atur pasal 43 (5) mengenai keharusan persyaratan import alutsista dari luar negeri:

Beberapa ayat berikutnya dari pasal 43, kemudian melemahkan pasal 43 (5) (b), dan menunjuk kelemahan utama dari Undang-Undang ini:
Pengertian kasar ayat (6), transaksi barter, atau imbal dagang yang kemungkinannya cukup besar untuk menyeleweng, seperti di atas, sudah diperbolehkan untuk menggantikan kebutuhan partisipasi industri, dan dinilai proporsinya memenuhi kewajiban offset.

Di lain pihak, pengertian ayat (5) (c) Kewajiban alih tehnologi, tidaklah mengatur seberapa besar kewajiban penjual harus memberikan alih tehnologi. 

Sudah bisa melihat kelemahan pasal 43 UU no.16/2012 secara keseluruhan?

Tawaran Saab dalam IndoDefense 2016, yang dalam jangka panjang akan jauh melebihi kewajiban yang diharuskan di seluruh pasal 43, tidaklah mendapat nilai tambah di mata UU no.16/2012. Sebaliknya, pasal ini juga menciptakan ruangan untuk para penjual versi export untuk masuk, dengan "secukupnya" memenuhi persyaratan yang dimaksud.

Contoh Penawaran kerjasama, dan alih tehnologi, yang melebihi kewajiban UU no.16/2012

Tidak seperti pejabat, ataupun penjual yang lain,
yang sengaja tidak menyinggung UU no.16/2012;

"Kewajiban memenuhi persyaratan UU no.16/2012 adalah PRIORITAS UTAMA tawaran Saab."
(Saab IndoDefence-2016 presentation)

Kenyataannya, sama seperti US, Russia sebagai salah satu penjual barang versi export, mempunyai kebiasaan tidak pernah memberikan ToT, dan tidak mempunyai record yang baik dalam menopang industri lokal negara pembeli. 

Serigala akan selalu beranak serigala, tidak akan pernah bisa tiba-tiba beranak domba.

Kalau India saja, yang sudah mengakuisisi 277 Su-30MKI via Rosoboronexport, masih bisa complain partisipasi industri lokal mereka, berapa kemungkinannya Russia bisa berubah hati, dan memberi perlakuan spesial ke "anti komunis" Indonesia, yang dahulu pernah menghibahkan 13 MiG-21, dan berbagai koleksi perangkat lain di tahun 1969?


Semata menawarkan untuk membuat pabrik spare part Sukhoi, BUKAN BERARTI memenuhi persyaratan alih tehnologi, seperti dalam pasal 43 (5). Sukhoi sendiri mempunyai ribuan spare part; spare part mana yang dimaksud disini? Sudah pasti bukan untuk memproduksi part mesin AL41F1 yang masih dirahasiakan bukan? Tentu saja, dalam nama kerahasian negara, tidak akan ada satu komponen vitalpun yang akan ditawarkan diproduksi lokal.
Defense News, 22-Maret-2017
Yah, India sangat menikmati kerjasama mereka dengan supplier Russia
Belum cukup disana, Rosoboronexport, sama seperti di India, tidak akan dapat menjamin supply spare part:
Link: Indian Express, 8-Agustus-2016
... apalagi untuk pesawat yang masih langka seperti Su-35K, dan jumlah produksi part-nya masih sedikit.




Jebakan Ketiga: Sukhoi versi manapun, TIDAK PERNAH SESUAI dengan kebutuhan, dan keterbatasan Indonesia

Perawatan sulit, dan gampang rusak:
Hanya tinggal masalah waktu sebelum TS-3006 akan kembali bergabung dengan nasib saudara-saudaranya: Tidak lagi bisa terbang

Standard NATO, seperti yang diikuti Singapore, dan Australia mengharuskan setiap pilot untuk dapat berlatih minimal 170 jam / tahun, masih ditambah ratusan jam latihan lagi di simulator.

Dengan biaya operasional yang terjamin akan melebihi $1 milyar per jam, berapa biayanya yang harus dianggarkan per tahun?

Mari kita turunkan sedikit angkanya untuk Su-35 menjadi, taruh kata pilot membutuhkan minimal 100 jam / tahun! (mengingat efek gentarnya kan gahar!)

Angkanya menjadi Rp 80 milyar per pesawat, atau Rp 800 milyar untuk 10 pesawat. 

Sedangkan F-18F Australia, dan F-15SG Singapore, dengan biaya operasional, mari diasumsikan sekitar $20,000/jam, akan mendapat angka Rp 54 milyar untuk 170 jam latihan, atau total Rp 870 milyar untuk latihan 16 pesawat (1 skuadron).

Anak SD juga sudah bisa melihat kalau perhitungan ini saja sudah timpang sebelah.

Australia, dan Singapore anggaran militernya jauh lebih besar dibandingkan Indonesia, tetapi kenapa kita malah membayar biaya operasional lebih mahal dibandingkan mereka?

Semua pilot dari kedua negara tetangga kita akan dapat mengumpulkan 70% lebih banyak jam terbang. Tentu saja, kita hanya mempunyai 10 pesawat, sedang mereka hanya perlu menambah sedikit untuk melatih satu skuadron penuh (16 pesawat).

Sepanjang sejarah, pilot yang jauh lebih terlatih, dan jauh lebih berpengalaman, akan selalu memenangkan pertempuran udara.



Jebakan Keempat: ... downgrade, downgrade, hanya akan ada Su-35K model export downgrade untuk Indonesia



Untuk sedikit recap; sejak dari jaman Soviet dahulu kala, pasca berakhirnya perang Dunia II, dan sampai sekarang, patut diingat kembali, kalau mereka selalu memproduksi alutsista dalam dua versi: Versi lokal, dan versi “Monkey model”

Jangan pernah bermimpi nasib kita bisa berbeda dengan Su-35K:
National Interest, 28-Desember-2016.
"Russia tidak akan begitu saja menyerahkan "crown jewel"; harta karun tehnologi mereka yang paling beharga ke tangan PRC, tanpa mengambil precaution: penjagaan atas hak cipta mereka. Versi Su-35 untuk Chinatidak akan sama dengan versi AU Russia,menurut Buzhinsky. Kami memproduksi versi export, dan mempunyai versi yang kami pakai sendiri”. 

Su-35 Indonesia, tentu saja akan menjadi Versi Export Downgrade. Malahan, dari segi spesifikasi, dan kemampuan akan mendapat pengurangan yang lebih jauh lebih parah dibanding versi PRC.

Memang komunisme sudah tidak ada, tetapi sebenarnya 60% orang Russia sekarang ini masih menganggap komunisme adalah suatu faktor yang positif. Tidak seperti di Indonesia, komunisme di Uni Soviet runtuh bukan karena mendadak dibenci rakyatnya, tetapi karena sistem ekonomi terpimpin yang diatur komunisme, membuat Uni Soviet jatuh bangkrut di tahun 1991.

Lebih lanjut, Presiden Russia, seperti dicatat oleh Newsweek, baru saja membuat pernyataan kalau beliau masih menjunjung tinggi nilai-nilai komunisme, dan sosialisme. Beliau masih menyimpan keanggotaan partai Komunisnya, dan memperlakukan buku "kode moral" Komunis, seperti kitab suci agama.

Pernyataan, dan slogan-slogan anti-komunisme di Indonesia masih sering merebak akhir-akhir ini. Untuk orang Russia, bukankah ini seperti menghina "agama" mereka? Pemerintah Russia, FSB, ataupun presiden Russia sendiri, yang ex-anggota KGB, akan memperhatikan hal ini dengan seksama.

Ini juga belum membicarakan persenjataan Sukhoi, yang seperti biasa, menghilang dari pembahasan setiap akuisisi alutsista "macan ompong". Website resmi Tactical Missile Corporation JSC, memberi gambaran missile apa saja yang diperbolehkan untuk export:

Tactical Missiles Corporation JSC
Link:
http://eng.ktrv.ru/production_eng/323/503/

Russia selalu hanya menjual persenjataan versi export downgrade. Apa yang terbaik, mereka simpan untuk dipakai sendiri.

Link:
War-is-boring:
That's weird - Russia's best fighters are still flying with crappy missile
Semua Sukhoi AU Russia sendiri tidak pernah terlihat memakai R-77, melainkan selalu membawa R-27. Rosoboronexport-nya sih rajin menjual RVV-AE, yang adalah versi export downgrade dari R-77, yang kemampuannya lebih rendah. Russia sendiri saja tidak memakai RVV-AE.
Percobaan bunuh diri -- Sukhoi style!
Masih memakai crappy missile R-27 untuk melawan F-16 bersenjatakan AMRAAM
(Gambar: Belgian Air Force, Mei-2016)
Kalau belum cukup parah, development active seeker Agat-1348M untuk versi izdeliye-170 (R-77), seperti dalam artikel Tom Cooper, yang sudah diterjemahkan disini; sebenarnya tidak pernah selesai. Sedangkan RVV-AE sudah dijual dengan Agat-1348E seeker versi export. 

Inilah kenapa gambar BVRAAM terkenal dari Ausairpower, sebenarnya hanya mitos. Hampir semua BVR missile buatan Ruski, developmentnya tidak pernah selesai, atau sudah dibatalkan karena anggaran kurang.
Ralat ke gambar BVR missile Ausairpower:
  • Untuk versi Export, hanya RVV-AE (izdeliye-190), dan R-27 yang tersedia.
  • AU Russia sendiri tidak pernah membeli R-77 (izdeliye-170) dalam jumlah besar, karena development-nya belum selesai.
  • Development untuk R-172 dan R-37 tidak pernah selesai, dan seperti biasa, tidak akan tersedia untuk export.
  • R-77 Ramjet? Tidak akan ada kelanjutannya; Active-seeker untuk R-77 saja belum selesai.
Kalau belum cukup lengkap, tentu saja terjamin tidak akan ada update yang berarti untuk setiap Sukhoi Kommercheskiy yang kita beli:

Nyet! (Bahasa Russia: Tidak ada!)
Masih bermimpi bisa mendapatkan efek gentar yang berarti?

Su-35S milik AU Russia saja, sebenarnya BELUM PERNAH di tes dalam latihan untuk bisa mengalahkan.... taruh kata F-16 NATO. Boleh dibilang, dewasa ini, tidak ada satupun pilot Russia yang pernah punya pengalaman untuk dapat mengalahkan F-16 (yang terlalu sering dipandang remeh!).

Tahun lalu, artikel di Defense News, dan Moscow Times, yang mengutip beberapa sumber di Moscow sudah mengungkapkan kalau jam latihan pilot di AU Russia sebenarnya tidak karuan.


Moscow Times, 14-Juli-2015:
"6th Russian Air Force crash raised concerns over Aircraft safety"


Laporan Air Safety Network membenarkan faktor kurang latihan pilot Russia; mereka sebenarnya sudah mengalami jauh lebih banyak kecelakaan dalam dua tahun terakhir dibandingkan TNI-AU sejak 2007.

Nah, sekarang sebenarnya lebih repot lagi. Pendapatan Domestik Bruto Russia sudah ambruk 40% sejak 2013, akibat ketergantungan pada export minyak mentah. Anggaran pertahanan Russia diperkirakan akan menukik tajam dalam beberapa tahun ke depan. Secara tak langsung, efeknya akan terus mengurangi jam terbang pilot, dan faktor latihan Russia. Sangat sulit untuk mereka bisa menjadi guru yang baik ke negara pembelinya.

Demikianlah perpaduan antara biaya operasional yang kelewat mahal, kesulitan maintenance yang sudah pasti merongrong, sistem training yang abal-abal, dan menderita downgrade dari spesifikasi, dan persenjataan versi export, maka Su-35K tidak akan dapat mengalahkan pesawat tempur manapun:
  • Tidak akan bisa menang melawan F-35A, pesawat tempur Barat yang sebenarnya paling bermasalah.
  • Tidak akan mungkin menang melawan F-18F SuperHornet Australia, yang jauh lebih unggul hampir dalam segala hal, dan pilotnya jauh lebih terlatih.
  • Hanya akan dibantai Saab Gripen-E, satu-satunya produk yang bukan model downgrade, mempunyai kemampuan Sensor Fusion, supercruise, dan next generation Defense Suite, kemudian juga dapat dipersenjatai dengan semua yang terbaik, yang tersedia dari industri pertahanan Barat, tanpa bisa didikte pihak lain.
Tetapi... seperti dalam judul artikel, mungkin masih ada satu cara untuk bisa memperoleh keuntungan atas akuisisi Su-35K versi export ini....



Penutup: Hibahkan saja Su-35K ke United States: Indonesia akan meraup keuntungan +200% 


Have Doughnut program menganalisa kemampuan MiG-21 F-13

Lima tahun sudah berselang sejak Su-35K yang pertama mulai operasional. Dan semenejak itu, sudah selang beberapa bulan sejak Su-35K yang terakhir bisa mengudara. Pabrik "suku cadang" yang dijanjikan Rosoboronexport, ternyata proyeknya juga sudah mangkrak sejak dua tahun yang lalu.

Malam itu, Sultan Hassanudin Airport tiba-tiba kedatangan dua pesawat raksasa yang besar. Jangan-jangan, Antonov An-124-100 yang akan mengangkut Sukhoi kembali untuk "perbaikan mendalam". Oh, ternyata bukan!

Kedua raksasa tersebut ternyata Lockheed C-5M Galaxy, dengan kapasitas cargo 122 ton, dan berlogo "US Air Force". Keduanya segera berhenti parkir di dekat hanggar Sukhoi, dan in hot standby, sementara beberapa truk tangki bahan bakar langsung mendekat, dan mengisi kembali bahan bakar keduanya.

Tim tehnisi TNI-AU, dibantu dengan tim tehnisi USAF bergegas membuka pintu hanggar. Empat Su-35K, yang sudah dicopoti sayapnya, dengan cepat langsung didorong ke dalam perut C-5M Galaxy. Siip! Karena persiapannya sudah matang, hanya memerlukan kurang dari 20 menit sebelum semua komponen yang masih tersisa dari keempat Su-35K selesai dikemas. Keempat mesin masing-masing C-5M menderu berat, sebelum keduanya melaju untuk mengambil prioritas landasan pacu, dan mengudara ke arah Area 51 Testing di Nevada, USA.

Semua ini adalah bagian dari perjanjian rahasia G-to-G antara pemerintah Indonesia, dan United States, yang mewarisi sejarah sejak tahun 1969, ketika pemerintah Orde Baru dahulu pernah menghibahkan 13 MiG-21 secara rahasia.

Sebagai gantinya atas hibah 4 Su-35K, pemerintah US akan menghibahkan:
  • 200 AIM-9X Block-II missile; untuk 2 - 4 missile per pesawat + stock di gudang; dengan estimasi transaksi $120 juta.
  • 400 AIM-120 C-7 AMRAAM; kembali untuk sekurangnya 4 missile per pesawat + stock di gudang, dengan estimasi transaksi $480 juta.
  • 150 AGM-65K Maverick, dengan estimasi transaksi $20 juta.
  • 500 GBU-39 Small Diameter bomb, dengan estimasi transaksi $25 juta.
  • 500 JDAM (Joint Defense Attack Munition), dengan estimasi transaksi $12 juta
Kemudian paket upgrade untuk ke-34 F-16, agar akhirnya disetarakan dengan F-16 Block-52+, dengan daftar berikut: 
  • Mid Life Upgrade Programme untuk 10 unit F-16 A/B Block-15OCU, dan partial upgrade untuk 24 F-16C/D Block-25+
  • Upgrade untuk radar AN/APG-68v9
  • 40 mesin F100 PW-229 yang daya dorongnya 20% lebih kuat, 
  • provisi untuk custom-made ready-to-plug Terminal untuk National Networking, 
  • 34 Legion Pod IRST, 
  • 34 APX-125 IFF 
  • 34 AN/ALQ-214 Integrated Countermeasure system
  • 34 AN/ALR-67 Electronic Counter Measure, 
  • 34 JHMCS II Helmet-Mounted Display. 
Nilai transaksi diperkirakan mencapai $2 milyar.

Dengan demikian, semua kerugian pertualangan membayar biaya operasional Su-35K yang mencapai lebih dari Rp 1 milyar / jam, terlunaskan sudah. 

Sedangkan sebaliknya, F-16 yang selama ini selalu dianak-tirikan, hanya karena transaksinya melalui program FMS, yang justru sudah disengaja agar tidak memberikan "kickback" ke pejabat, sudah bersalin rupa untuk menjadi pesawat tempur utama Indonesia.....
F-16AM Norwegia over Balkan   Credit: Wikimedia Image
Loh?? Kok melupakan F-16 Indonesia sejauh ini masih telanjang?

30 AIM-9X Block II, dan 36 AMRAAM C-7 tidak akan mencukupi kebutuhan.

Kenapa masih mau buru-buru mencari pengganti F-5E?


Kebutuhan, bukan Keinginan: 
4 AMRAAM, 2 AIM-9X per pesawat
.... paling tidak, sampai 2 Erieye AEW&C, dan skuadron Gripen-E pertama, dengan full Sensor Fusion, dan kemampuan Supercruise akhirnya akan mulai operasional dalam beberapa bulan. 

Persenjataan sejauh ini masih belum dibeli, tetapi mengingat mempersenjatai F-16, berarti mempersenjatai Gripen, dalam jangka pendek permasalahan ini sudah diselesaikan. Ini dikarenakan juga, tidak akan lama sebelum MBDA Meteor Block-2, dengan AESA seeker akan mulai operasional di Gripen-E Swedia. Pemerintah berencana Indonesia akan menjadi negara pemakai berikutnya, setelah UK, Jepang, dan Swedia.



Mana janjinya kalau akan ada tender terbuka untuk pesawat tempur berikutnya?

Untungnya seperti biasa, transaksi ini masih belum final.

Kita masih menunggu kabarnya, sesuai yang sudah pernah dijanjikan dari Kemenhan sendiri sejak 13-April-2015 yang lalu: Kapankah ada tender terbuka untuk pesawat tempur berikutnya? Sejauh ini, kenapa kelihatannya terlalu ada favoritisme ke Su-35K tanpa ada alasan yang jelas?

Akuisisi pesawat tempur tidak bisa hanya dari keinginan semata, tetapi juga harus bisa memberikan keuntungan nyata tidak hanya menambah kemampuan pertahanan Indonesia, tetapi juga memberikan keuntungan yang semaksimal mungkin dari segi Transfer-of-Technology, dan kerjasama jangka-panjang untuk terus membangun industri pertahanan.

Memenuhi Kebutuhan, bukan Keinginan


57 comments:

  1. Min, katanya Rusia mau buat pabrik suku cadang Sukhoi di Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Seperti diatas.
      Tetapi suku cadang yang mana?

      Kan tidak jelas.

      Semata membuat pabrik suku cadang sembarang part, bukanlah alasan untuk memenuhi kewajiban alih tehnologi, atau offset sesuai UU no.16/2012.

      Delete
  2. Seharusnya AU kita beli gripen atau setidaknya viper, kalo beli barang KW sama saja dengan uang rakyat dipergunakan dgn tidak tepat, mungkin bisa dikategorikan korupsi karena tidak tepat sasaran. harusnya jokowi perhatian untuk hal ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Demikianlah.

      ## Bukan tanpa alasan, tidak ada pesawat tempur Barat dewasa ini yg transaksinya ditawarkan 50% lewat barter.

      ## Seharusnya kita membeli dengan cash, melalui paket financing yg ditawarkan penjual.

      Kemudian disinilah paket offset yg benar itu baru mulai mengalir kembali ke rakyat.

      Di tahun 1986, Perancis dahulu menawarkan Mirage 2000, dengan paket offset menambah proporsi import barang Indonesia 70% dari nilai transaksi, dan kemudian menawarkan 35% produksi komponen Mirage di dalam negeri.

      Oh, ya? Pabrik "suku cadang Sukhoi" lupa mendeskripisikan berapa % komponen yg akan bisa diproduksi lokal.

      Saab menawarkan secara bertahap, 85% dari nilai transaksi, akan di-offset kembali ke investasi di industri dalam negeri, kerjasama industrial, dan penyerapan tehnologi, kalau bisa juga produksi komponen Gripen.

      ## Terakhir, memang benar. Sampai kapanpun, prioritas anggaran adalah meningkatkan pembangunan, dan kesrjahteraan rakyat; Bukan untuk teralihkan ke membayar biaya operasional pespur mahal, dan komisi perantara.

      Kalau dari sisi ekonomis ini, memang seharusnya hanya ada 2 pilihan: F-16, atau Gripen?

      Dan dari antara keduanya, tentu saja Saab satu2nya yg tidak menjual barang downgrade, dan lebih memprioritaskan kerjasama jangka panjang dengan industri lokal.

      Delete
    2. admin dulu emang gimana ceritanya sih tahun 89 kok bisa F-16 yang dapat bukan Mirage 2000, emang dulu kenapa F-16 yang dipilih apa karena performa atau bagaimana ? atau politik luar negeri ?

      Delete
    3. Alasan utamanya adalah politik.

      Dengan latar belakang perang dingin, sewaktu itu pemerintah Orde Baru sebenarnya sahabat karib United States, dan Australia untuk bersama-sama menghadang kemajuan komunis di Asia Tenggara.

      Inilah juga alasan utama kenapa dahulu Operasi Seroja -- invasi ke Timor Timur itu bisa terjadi.
      Kalau Timor Leste sewaktu itu dibiarkan merdeka sendiri, Uni Soviet sudah siap merangkul mereka ke kubu komunis.

      Pemikiran paham komunis di waktu itu seperti racun manis untuk setiap negara yang baru saja merdeka. Mudah untuk bercokol ditengah akhirnya masa imperialisme kerajaan2 di Barat. Bayangkan saja: Komunis akan menjamin semua orang mendapat penghasilan yg sama, Tidak ada kaya, tidak ada miskin. Seperti di Uni Soviet, dan PRC tempo dulu, negara juga akan menjamin pensiun, dan semua tunjangan medis setiap warganya.

      Racun manis yg memabukan, yang mulai dari atheisme-nya saja, kita sudah melihat sangat bertentangan dengan Pancasila.

      United States, Australia, dan Indonesia sewaktu tidak akan bisa mentoleransi kemungkinan Timor Leste menjadi negara komunis, walaupun ini saja sebenarnya belum tentu tejadi.
      Tetapi ini adalah masa perang dingin, dan Paranoia yang berkuasa. Akibatnya.... Halo, operasi Seroja!

      99% persenjataan ABRI sewaktu itu sumbernya dari United States.
      OV-10 Bronco kemudian dihadiahkan Washington DC, dengan tujuan untuk dipakai menumpas pemberontakan di Timor Leste.

      Di tahun 1986, sewaktu kompetisi dibuka antara F-16 vs Mirage 2000, tentu saja pemerintah Orde Baru menjadi seperti merasa "wajib" membeli F-16.

      Ini semacam ucapan tanda terima kasih atas dukungan Washington DC.

      Secara tehnis, F-16 memang dianggap sedikit lebih unggul dibanding Mirage,
      tetapi ini kurang relevan, karena paket penawaran Mirage sebenanrnya jauh lebih menguntungkan kebutuhan Nasional, dibandingkan F-16.

      Lagipula kalau dipergunakan dengan baik, bahkan Mirage 2000-pun juga bisa menembak jatuh F-22, seperti dalam latihan di UAE.

      Masalah selanjutnya:
      F-16 Versi Export Downgrade, sedangkan Mirage 2000 bukan.

      Pak BJ Habibie sewaktu itu sebenarnya mendukung akuisisi Mirage, karena potensi kerjasama, dan ToT yg bisa diserap IPTN (PTDI). Sayang, politik yang menang.

      Dengan memilih F-16, sbnrnya pemerintah Orde Baru sudah memilih Indonesia untuk memasuki masa penjajahan berkelanjutan Versi export downgrade.

      Akibatnya yah, seluruh rakyat Indonesia yg menanggung kerugiannya selama 30 tahun setelahnya.

      Yah, seharusnya dulu Indonesia membeli Mirage 2000.

      Sekarang, terus gandrung ke dua pesawat racun KF-X, dan rongsokan Sukhoi pemberi makan perantara hanya akan menbuat kita tepuruk 50 tahun ke belakang.

      Delete
  3. Breaking News 15-Jun-2017: Gripen-E 39-8 baru memulai first flight testing

    Link: Website resmi Saab

    Sesuai jadwal yg sudah disesuaikan pada November-2016 yg lalu, first flight Gripen-E akhirnya dimulai pada pukul 10:32 waktu setempat.

    Masih banyak treshold lain yg perlu dilampaui dalam langkah2 testing berikutnya, termasuk reliability test, mengetes kemampuan manuever, dan... mengetes kemampuan supercruise.

    Unit 39-8 sendiri hanya satu pre-production model, sebelum akan disusul oleh unit testing kedua 39-9, dan akhirnya 1st full-production model 39-10.


    Gripen-E:
    + Jauh lebih modern dalam segala hal dibanding Su-35 model lokal:
    + reliabilitas lebih terjamin,
    + biaya operasional jauh lebih murah (kurang dari 7% Su-),
    + dapat jauh lebih optimal untuk membentuk kemampuan pilot,
    + fully networked
    + Advanced defense suite, dan survivability
    + Superior Situational Awareness

    Kita nantikan update dalam artikel selanjutnya.

    ReplyDelete
  4. sepertinya ini lomba cepat2 an antara Su 35 dan Gripen.... mengingat keduanya oleh pemerintah RI amat diminati...yg paling logis adalah Gripen menurutku klo tujuan nya dalah membangun sistem hankam modern.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja.

      Seharusnya sih ada tender terbuka, dan transparansi dalam memilih pesawat tempur, yang adalah alutsista paling penting.

      Tidak ada penguasaan air superiority, bagaimana caranya mempertahankan negara kepulauan?

      Kalau mau jujur, ya, seharusnya kompetisi diatur mulai dari pihak mana yang mampu memberikan keuntungan nasional yang paling optimal?.

      Pertama-tama, secara basic, Training. Sistem latihan penjual mana yg lebih baik?

      Entah kenapa pandangan takabur dewasa ini lebih menunjuk pesawat mana yg lebih hebat, padahal seharusnya pilot, dan sistem (lihat dibawah) mana yg lebih unggul.
      T-38 Talon pun sebenarnya dapat mengalahkan F-22 dalam pertempuran jarak dekat. Perbedaannya: pilot. Pilot di T-38 adalah pilot instructor / aggressor, yang sudah mengumpulkan ratusan jam terbang vs pilot noob di F-22.

      Sehubungan dengan training, tentu saja Kemudahan maintenance, dan biaya operasional.
      Mau diputarbalikkan bagaimanapun oleh spin doctor USAF, ya hasilnya sama saja. F-5E / T-38, atau F-16 maintenance-nya jauh lebih murah, dan akan dapat terbang jauh lebih sering / lebih banyak jam terbangnya per bulan vs F-22.

      Pilot yg lebih sering mengudara dengan tunggangannya, automatis akan selalu lebih unggul vs pilot noob yg baru terbang 50 jam.

      Dari sini saja, Sukhoi, dan KF-X sudah harus di-write off.
      Hanya menghabiskan uang untuk hasil yang percuma.

      Ketiga, Versi Export downgrade, atau bukan?

      Ini sih pengetahuan umum. Masakan para pejabat yg dipercayai untuk memilih pespur terbaik untuk Indonesia tidak mengetahui fakta ini?
      Dari dahulu sih, sudah selamanya Soviet/Russia, dan US selalu menjual barang versi downgrade untuk export.

      Keempat, Sistem pertahanan. Seberapa jauh si penjual mau menginvestasikan untuk pembangunan sistem yg terintegrasi di Indonesia?

      Kembali, F-16 saja belum ada yg membawa Networking terminal, sedang Sukhoi... Jangan harap! Dari sini, problemnya semakin bergulir.....

      Terakhir, dan Faktor yang sebenarnya paling penting adalah PARTISIPASI INDUSTRI LOKAL, dan keuntungan jangka panjang baik dari segi industri, pekerjaan dalam negeri, tehnologi, dan inovasi lokal.

      Kalau sudah sampai disini sih, seharusnya semua pilihan sudah di-write off.
      Pengalaman memakai F-16 selama 30 tahun, dapat apa?
      Pengalaman memakai Sukhoi selama 14 tahun, hanya dapat "perbaikan mendalam", dan lebih dari separuh Sku-11 sudah lumpuh.

      PTDI tidak bisa berbuat apa2, bukan?

      Delete
  5. Rusia mengatakan hal yg muluk mau bangun pabrik suku cadang sukhoi....entah benar atau tidak berita tersebut karena yg memberitakan kembali dari formil yg smbernya juga dari sputnik.....apakah ada pengalaman serupa bng dark dari negara lain yg dijanjikan Rusia hendak membangun pabrik suku cadang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita hanya tinggal melihat apa yg sudah dijanjikan Ruski ke customer terbesar mereka, India, yang tidak perlu beli barter, dan dapat menghabiskan milyaran $$$ cash per tahun berdagang dengan agen perantara Rosoboronexport.

      Berapa banyak yg sudah dipenuhi?
      Kebanyakan hanya janji dimulut, pada prakteknya yah, mungkir.

      Ini semua sudah menjadi pengetahuan umum bagaimana reputasi mereka.

      Delete
  6. Inggris dan Perancis yg juga berjanji memberikan TOT, apakah juga sama konsepnya dgn Gripen?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ToT dari Eurofighter, atau dari Dassault tidak pernah dirincikan secara detail apa yg mau ditampilkan ke Indonesia.

      Masalah utama keduanya: pesawat tempur mereka saja kelewat rumit, mempersulit penyerapan tehnologi.

      Kalau punya uang, dan bisa membayar harga, dan biaya op Typhoon / Rafale, yah, mungkin tawaran ini bisa diperbandingkan lebih lanjut vs tawaran Saab.

      Yang menjadi gajah di depan mata disini, walaupun harga awal lebih mahal vs Sukhoi, dalam jangka panjang Typhoon, dan Rafale akan lebih murah.

      Keduanya terjamin umur airframenya lebih panjang, dan biaya op-nya akan lebih murah 50% vs Sukhoi.

      Kita akan melihat biaya operasional Rp500 juta / jam.

      Sukhoi Sku-11 saja sekarang sudah mengejar angka Rp700 juta /jam kalau menghitung biaya "perbaikan mendalam".

      Delete
  7. memang membingungkan berita itu, tempo hari mengatakan imbal dagang..kemaren berita itu mengatakan barter......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apapun juga yg ditawarkan dari Rostec / Rosoboronexport, pada pokoknya tidak akan bisa menguntungkan kita.

      Transaksi dengan barter karet ini potensinya akan menaikan profit penjualan antara 2 - 3× lipat dibanding penawaran "seret" mereka yg sebelumnya.

      Seperti dalam artikel, hanya untuk barang downgrade yg "resiko tanggung sendiri".

      Delete
  8. Kalau menurut saya Gripen C/D sangat tidak layak untuk dibeli karena selevel dengan T-50i, begitu pula dengan Gripen E/F yang masih lama untuk tahap pembuktian "terbang". Kita mengenal activity based costing, sekarang coba kita telaah, kalau dengan Gripen C/D dengan level "light" apa gunanya? Apakah tidak pemborosan? Kalau kita lompat ke Gripen E/F kita harus menunggu berapa lama lagi?

    Indonesia mungkin sepaham dengan negara-negara eropa mungkin punya logika buat apa beli pesawat kelas mini untuk pertarungan jarak panjang? Atau kasus negara-negara teluk yang mungkin berpikir buat apa beli pesawat yang secara material kurang mampu dengan iklim panas?

    Buat saya pribadi, tidak ada pesawat yang lebih baik daripada F-16

    Kelebihannya

    + jauh lebih ringkas dalam segala hal dibanding Gripen E/Su-35/F-35 dsb
    + sangat teruji untuk "terbang tanpa istirahat" selama berhari-hari
    + biaya operasional murah, pengantian suku cadang dapat dilakukan dengan cepat
    + lebih optimal dalam membentuk kemampuan pilot untuk dogfight dan juga strategi tempurnya
    + superior on real war situational condition

    Kekurangannya

    - rawan embargo
    - radar terbatas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya setuju dengan opini anda bung anangaulia.
      Kalo masalah rawan embargo, sebenarnya Gripen lebih rawan lagi bung. Ingat embargo yg dilakukan swedia terhadap negara timur tengah baru2 ini. Faktor lainnya bahwa Gripen adalah pesawat gado gado yg melibatkan banyak negara. Sama seperti IFX nantinya. Bukan murni buatan swedia seperti halnya F-16 maupun Shukoi. Sehingga lebih rawan lagi utk diembargo. Jika kita berpikirnya masalah embargo.
      Tapi ...hari gini apakah ada yg ingin menerapkan embargo utk Indonesia disaat China sedang menggeliat.?
      Kalo untuk radar, masing bagus radar F-16V ketimbang milik Gripen

      Delete
    2. Bung @anangaulia,

      Saya sudah pernah menuliskan perbandingan antara Gripen-E, dan F-16V sebelumnya:
      Link: F-16V vs Gripen-E

      Ringkasan singkat kekurangan F-16V:
      ## F-16V adalah....lagi2 Versi Export downgrade asal United States.

      Pertanyaannya bukan seberapa canggih F-16V, tetapi apa yang akan diperbolehkan?
      Seberapa jauh radar APG-83 AESA akan di-downgrade?
      (Semua radar versi export PASTI versi downgrade)
      Link-16?
      IFF?
      Defense suite?

      ## Sehubungan dengan diatas, Washington DC akan mengatur spesifikasi F-16V, agar spesifikasinya sekurangnya satu tingkat dibawah versi Singapore / Australia.

      ## Tidak akan ada kerjasama industrial yang berarti. Paling hanya mengulang lagu yg sama seperti 30 tahun terakhir.


      Sekarang kelebihan Gripen, dalam hal ini versi-E:

      ## Gripen-E akan diperlengkapi Sensor Fusion, menggabungkan sensor readings dari AESA, IFF, dan IRST dalam satu layar, dan masih lebih lagi, karena...

      ## Tidak seperti pespur manapun di dunia, empat Gripen akan dapat men-triangulasi sensor readings mereka melalui TIDLS fighter-to-fighter network, yg membuka banyak kemampuan baru, seperti melihat dan mem-lock lawan secara pasif, tanpa pernah menyalakan radar secara aktif sampai detik terakhir.

      ## RCS Gripen kurang dari sepersepuluh F-16.
      Infra red signature-nya juga jauh lebih rendah.

      ## Biaya operasional Gripen 33% lebih murah dibanding F-16V, dan menurut estimasi kasar, hanya 1/15 dibanding Su-35K.

      Biaya operasional 10 Su-35K, sudah lebih dari cukup untuk membiayai biaya operasional 100 F-16V, atau 130 Gripen.

      ## Tidak seperti F-16, Gripen dapat dipersenjatai senjata buatan negara lain, selain US.

      ## MBDA Meteor dengan 2-way datalink, dan mesin ramjet untuk BVR combat, sejauh ini tidak ada saingannya untuk 20 - 30 tahun ke depan.

      Dengan Meteor, Gripen-C, ataupun -E akan dapat terus membuka jarak dan menembak dari jarak yg lebih jauh, dan jauh lebih akurat, tanpa pernah bisa dibalas F-16 dengan AMRAAM C-7, atau Sukhoi dengan RVV-AE-nya.

      Tentu saja, kalau suatu hari Raytheon, bisa membuat equivalent dari Meteor..... Yah, export policy dari Washington DC tidak akan mengijinkan penjualan ke Indonesia.

      ## US sengaja belum menawarkan Harpoon ASM (Air-Launched Anti-Ship missile) untuk F-16 Indonesia... semenjak 30 tahun yg silam.

      Gripen-E dapat membawa 6 RBS-15 ASM, yang sudah ditawarkan untuk diproduksi lokal di PTDI, sebagai bagian dari paket kerjasama Saab.

      ## F-16 tidak bisa mengisi bahan bakar di udara dari KC-130, karena memakai refueling flying boom.

      Gripen tidak mempunyai masalah yg sama.

      ## Desain close-coupled delta canard Gripen juga hampir setengah generasi lebih modern dibanding desain konvensional F-16.

      Angle-of-Attack lebih tinggi, bisa sampai 80 derajat, sedangkan F-16 mempunyai limiter hanya 26 derajat, menyulitkan manuever pada kecepatan lambat seperti Hornet / Super Hornet,

      Bentuk sayap delta juga berarti drag rate Gripen lebih rendah. Akselerasi tetap bersaing, kalaupun T/W ratio lebih rendah.

      Versi-E dengan mesin GE F414-GE-39E akan mempunyai kemampuan Supercruise, terbang supersonic dengan combat load 6 missile.

      Supercruise, dan hampir semua kemampuan untuk Gripen-E sudah di-tes dalam twin-Seater Gripen demo unit 39-7 (berat kosong estimasi 7500+ kg). Setelah first flight Gripen 39-8 dari 15-Juni-17 ini, kita akan melihat sebelum versi E akan kembali melewati kembali semua treshold test dari unit 39-7.

      Hanya Next Generation Defense Suite, dengan Gallium Niitride jammer, yang sejauh ini belum di-tes.

      ## Terakhir untuk masalah embargo.... Ini argumen kuno...

      Delete
    3. ... Sekali lagi, Embargo adalah R E A K S I dari tindakan pemerintah suatu negara, bukan sesuatu yg bisa dilakukan secara spontan tanpa alasan yg jelas.

      Silahkan tulis argumennya kenapa negara lain masih bisa menjatuhkan embargo ke Indonesia, yang tidak pernah ngajak ribut tetangganya, pecinta damai, tidak pernah mencampuri urusan negara orang, dan... sekarang salah satu negara yg paling demokratis di seluruh Asia-Afrika!

      Bahwa Swedia, negara yg export policy-nya jauh lebih ketat dibanding United States masih bisa menawarkan Gripen, dan kerjasama industrial ke Indonesia, seharusnya sudah cukup utk membuat kita bangga.

      Lagipula, kalau masih takut kemungkinan embargo di masa depan.....

      ... Inilah kenapa kita harus membangun industri pertahanan dalam negeri.

      Kalau hanya mau terus menjadi pemakai Su-, atau F-16, bagaimana bisa lebih kebal embargo?
      Kita untuk selamanya hanya akan menjadi pemakai, yg akan jauh lebih tergantung kepada supplier asing, yg kemudian hanya akan mendikte apa yg diperbolehkan untuk dibagi ke kita.

      Dan antara Lockheed, atau Rosoboronexport, sekarang sudah pengetahuan umum kalau Rosoboron-nya para fanboys sering menunggak spare part, tanpa perlu ada embargo.

      India hanya bisa mencelos pasrah, tidak bisa apa2, walaupun sudah license production 240 Su-30MKi.

      Dengan full ToT, apalagi kalau disusul dengan license production Gripen di Indonesia, pesawat tempur ini justru yang paling anti-embargo!

      Ini akan dibahas dalam topik lain.

      Delete
    4. aneh juga kenapa masih ada yg takut dgn embargo kaya udah dicuci otaknya padahal penyebab kita di embargo dulu sudah tidak ada lagi
      menurut saya kecuali anda negara produsen tidak ada satu pespurpun yg anti embargo
      logikanya kalau mau bebas embargo y harus mandiri argumen Shukoi bebas embargo adalah nonsense wong Uni soviet sendiri pernah embargo kita ko

      Delete
  9. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Propaganda Sukhoi troller tidak lagi ditoleransi disini, dan akan secara automatis dihapus.

      @Choko Poliplant sudah sempat membuat onar disini sebelumnya.
      Selanjutnya ada komentar lagi dari komentator ini tidak perlu dibalas.

      Delete
    2. haha bukanya sebaliknya propaganda sales shukoi jadi keliatan jelas lanjut min lgs delete lagi ban ip sekalian

      Delete
  10. Choko poliplant beri data valid ente jika su 35 mampu mengakomodir kepentingan industri lokal dan kebutuhan indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
    2. Jawaban yang benar, yah, seperti sudah dituliskan dalam artikel:
      Pengalaman India menunjuk sang penjual yang selalu ingkar janji, dan lebih mementingkan bottom line (profit penjualan), bukan kepentingan nasional negara pembeli.

      Mudah, kok.
      Para agen sales / spin doctor Sukhoi tidak perlu mencoba memutar-balikkan fakta.

      Delete
  11. Gripen E udh terbang perdana tuh min, posting donk keunggulan-keunggulannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejauh ini belum banyak info.
      Karena ini masih first test flight, Gripen 39-8 kelihatannya juga tidak membawa Selex Radar / IRST, ataupun berbagai perangkat lain yg sudah direncanakan.

      Tetapi topik ini pasti akan segera menyusul.
      :D

      IMHO, jadwal IOC Gripen-E di tahun 2021 justru akan bertepatan dengan masanya mempensiunkan Sukhoi Sku-11 yg sudah sekarat, dan kedua Sku-01, dan -12 dengsn BAe Hawk-209, yg jumlahnya hanya tersisa 15 unit.

      Delete
  12. Min, konon ada kabar kalo akuisisi Gripen salah satu tujuannya adalah menutup kekurangan IRST dan radar AESA dari IFX melalui ToT dari pembeliannya, serta kemungkinan teknisi indonesia untuk mempelajari karakteristik mesin dari GE (Mesin ini rencananya akan dijadikan mesin IFX juga). Menurut admin gmna?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oke, penjelasannya mungkin agak rumit diskni.

      Pertama-tama, KF-X, sekali kali, proyeknya sudah gagal dari awal. Radar, dan IRST adalah salah satu alasan gagal pertama.

      Bisa memasang AESA, dan IRST, bukan berarti bisa mencapai tehnologi Sensor Fusion.

      ## Sensor Fusion, yakni perpaduan dalam satu layar sensor feed dari AESA, IRST, dan IFF, kemudian juga dari ECM / RWR (Radar warning receiver) sebenarnya dipelopori orang2 Eropa.

      Mulai dari F-15, F-16, dan F-22, USAF tidak pernah mengalokasikan cukup funding utk membiayai pengembangan IRST -- akibatnya perusahaan2 Eropa, Selex ES, dan Thales yg terhitung paling unggul dalam tehnologi ini.

      ## Sekarang, radar Elta yg dipilih secara sepihak oleh orang2 Korea, dengan sendirinya akan sulit untuk diintegrasikan ke IRST manapun.

      Biayanya juga akan memakan ratusan juta $$ sebelum bisa mencapai Sensor Fusion, dan hasilnya tidak akan mungkin bisa optimal.

      Kenapa demikian?

      Karena kuncinya semua ada di software coding. Akan membutuhkan banyak keajaiban untuk pemain yg tak berpengalaman untuk bisa menulis code utk mengintegrasikan radar, dan IRST yg bahasa programnya saja akan berbeda, karena pembuatnya berbeda.

      ## Gripen-E
      ... akan mempergunakan radar, IRST, IFF sistem dari produsen yg sama yg akan menjadi supplier untuk Eurofighter Typhoon.

      Selex ES, sekarang divisi dari Leonardo-Finmeccanica.

      Selex AESA radar, IRST, dan IFF diproduksi dalam satu paket yg terintegrasi.

      Seperti diatas, yah akan sangat sulit mencoba memasang IRST buatan Selex, dan mendampingkannya dngn radar Elta.

      Kecil kemungkinannya juga kalau masing2 produsen mau bekerjasama, dalam nama rahasia perusahaan.

      Paling bagus yah, sama seperti F-15, dan F-16 sekarang, yg bisa mendapat IRST dari external pod, tapi tidak akan bisa mengintegrasikan gambarannya dalam Sensor Fusion, seperti ketiga Eurocanards.

      Source coding-nya tidak sampai.

      Delete
    2. Untuk tehnologi mesin....

      Ini juga repot.

      Mesin yg sama, kalau dipakai di dua pesawat yg berbeda, yah jelas akan karakteristiknya akan berbeda.

      Gripen memakai versi mesin F414 untuk single-Engine operation, dan mempunyai kemampuan supercruise.

      Mesin F414 untuk twin-engine Super Hornet, dan KF-X saja... sudah memberikan performa karakteristik yg saling berbeda.

      Delete
    3. lgs delete aja min g usah diajak debat

      Delete
    4. Selesai.

      Ternyata @Choko Poliplant, dan @kelurahanBML di atas penulisnya sama.

      Memang spt tipikal troller forum di Indonesia:

      - Sengaja memancing debat kusir
      - Debatnya tidak berdasarkan fakta apapun, tetapi karangan sendiri
      - Senang membawa rhetorisme "pro-Indonesia",
      - ... padahal yah, kelihatannya selalu lebih memihak Rosoboron daripada kebutuhan & keterbatasan nasional kok.

      Seperti diatas, semua trolling post akan langsung dihapus.

      Delete
  13. kurasa sukhoi hanya di unggul2 kan di atas kertas oleh mereka yg berkepentingan , su 35 bahkan tak terbukti apapun, Gripen udah terbang menggunakan biofuel ,keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa Sukhoi pilihan "unggulan"?

      Karena Sukhoi satu-satunya yg ditawarkan melalui perantara.

      Keuntungan memakai perantara, yah, pendukungnya jadi banyak luar, dan dalam.

      Memudahkan transaksi, dan melupakan kebutuhan nasional.

      Delete
  14. babak baru kasus heli AW , Denpom AU dan kpk dijadwalkan segera memeriksa mantan KSAU Marsekal purn agus supriatna , beliau juga yg ngotot su 35 selain mantan panglima moeldoko

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, ini akan kita ulas dalam News Update selanjutnya.

      Patut diingat kalau kasus AW101 ini sbnrnya serupa dengan pengadaan 6 Sukhoi overpriced di tahun 2011, dan polemik Su-35K yg sekarang ini.

      Harga markup, transaksi tidak lewat G-to-G, dan kembali, kebutuhan nasional harus mengambil nomor buntut.

      Delete
  15. News Update 2: Syria: F-18E SuperHornet US Navy baru saja menembak jatuh Su-22 AU Syria di wilayah Raqqa

    Link BBC World News

    Su-22 AU Syria baru saja tertangkap basah membom para anggota pemberontak SDF (Syrian Democratic Force), yang berada di bawah perlindungan NATO.

    Menurut aturan ROE (Rules of Engagement) koalisi, karena itu pesawat "hostile" akan langsung ditembak jatuh.

    Tindakan ini boleh dibilang hanyalah suatu peringatan lebih lanjut, daripada eskalasi konflik. Secara tak langsung, peringatan ini juga ditujukan ke AU Russia, yg mendukung Al-Assad.

    Dengan demikian untuk pertama kalinya US Navy menembak jatuh pesawat lawan sejak tahun 1999 di atas Serbia.

    ReplyDelete
  16. Bung GI

    Tolong segera buatkan artikel tentang source code.....biar para fanboys sukhoi bisa diem dan gak lagi menyepelekan arti tot 100 persen dari saab

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, memang masih banyak hutang artikel:

      ## Source Code -- Kenapa pespur versi export itu hanya seperti "barang sewaan", walaupun pada prakteknya kita "membeli".

      ## Radar vs RWR --- pertempuran yang sudah dimulai sejak tahun 1970-an, dan terus semakin memuncak. Dan berkaitan dengan ini...

      ## BVR Combat -- Kenapa tidak semudah yang dibayangkan, tanpa investasi latihan, testing, dan operational reliability

      (RVV-AE, atau R-27 -- hampir mustahil bisa menembak jatuh apapun)

      ## Kalau untuk mencoba berdebat dengan Sukhoi fanboyz sih --- percuma!
      Mereka akan selalu mendukung Rosoboron, bukan kebutuhan nasional.

      Yang lebih penting disini adalah Pengetahuan Umum, yang bisa dibagi bersama, agar kita menjadi lebih kritis, dan dengan sendirinya kebal dari argumen persuasif, atau propaganda para agen sales dari penjual versi export.

      Delete
  17. Admin GI
    Kenapa SU-24 dan SU-25 Lebih bandel dan biaya operasionalnya sangat murah dibandingkan Sukhoi Flanker series?


    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena Su-24, dan Su-25 masih dibuat berdasarkan hukum dasar alutsista jaman Soviet:

      "Alutsista harus sederhana, dan mudah untuk diproduksi / dirawat."

      Keduanya, walau twin-engine, (Su-24 bahkan swing-wing) masih mengikuti filosofi yang sama dengan MiG-21, MiG-23, dan Su-7/20/22.

      Semua industri masa Soviet, tidak pernah dikenal sebagai industri high tech --- tetapi selalu lebih unggul dalam membuat desain praktis, yang produksinya cepat, kemampuan bersaing, tapi tidak perlu bisa tahan lama (umur maksimum 10 tahun).

      MiG-29, dan Su-27, sekali lagi, sebenarnya hanya mengkhianati warisan filosofi desain Soviet, karena mencoba untuk "menandingi" F-14, dan F-15; dua pesawat raksasa yang jauh lebih rumit, dan dibuat dari basis industri, dan tehnologi yang puluhan tahun lebih modern dibanding military-industry complex Uni Soviet.

      Dengan kata lain, Soviet sebenarnya mencoba membuat dua desain pespur rumit di kelas F-15, tetapi dengan standard produksi, dan tehnologi yang masih sebanding dengan MiG-21.

      Yah, hasilnya jika diperbandingkan dengan F-15; Sukhoi Flanker adalah pespur yang:
      ## Secara tehnologi ketinggalan jaman,
      ## Biaya operasionalnya 2 - 3x lipat lebih mahal,
      ## ...dengan spare part yang masa pakainya terlalu cepat habis,
      ## dan usia airframe yang hanya 3,000 - 4,000 jam, dan tidak bisa diperpanjang, dibanding F-15E, yang sekarang mempunyai rating 32,000 jam, dan masih bisa diperpanjang lagi.

      Klaim dari pembuatnya kalau usia airframe untuk Su-35S, bukan versi export, dicatat 6,000 jam, dan 30 tahun -- terlalu sukar untuk bisa dipercaya. Kemungkinan tidak akan jauh lebih baik dibanding Su-30MKI, atau Su-27/30 standard masa lalu.

      Delete
  18. Kenapa Vietnam menginginkan F-16 Bekas bukannya dia sudah lupa mengalahkan AS di perang Vietnam?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, untuk para embargo phobia; inilah contoh kenapa embargo BUKAN alasan untuk takut memilih alutsista asal Barat dewasa ini.

      US mengembargo Vietnam sbnrnya sampai tahun 2015. Setelah embargo dicabut, memangnya ada alasan kenapa US pasti mengembargo lagi?

      ## Kenapa Vietnam menginginkan F-16 bekas?

      Alasannya sederhana.
      Karena Su-27SK, dan Su-30MK2 high-maintenance yg mereka beli, tidak bisa menggantikan MiG-21, si single engine serba praktis.

      F-16 yg murah-meriah akan dapat mudah melipatgandakan sortie rate AU Vietnam.

      IMHO, karena kedekatan dgn Rosoboron, belum tentu Pentagon akan lekas langsung menyetujui transaksi F-16. Kelihatannya masih butuh waktu bbrp tahun lagi sebelum Vietnam bisa mendapat persetujuan spt Indonesia.

      Delete
  19. Buat artikelnya yang cepat min. Jangan2 lama-lama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin minggu besok baru menulis artikel re Source Code terlebih dahulu.

      :)

      Delete
  20. Rusia terbukti tdk berani membela syiria meski udah 3x diserang , padahal mrka juga bwa su 34 dan su 35 , kwekwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita harus memahami dahulu, sebenarnya keberadaan kontinen Russia di Syria tujuannya bukan untuk mencoba menantang kemampuan militer NATO.

      Tujuannya politik: mencegah sekutu terdekat mereka, Bashar Al-Assad tumbang dari tahtanya di Damaskus.

      Dalam hal ini, tidak dalam kepentingan Russia untuk mencoba melindungi Assad dari serangan Tomahawk Trump, atau Su-22 Assad ditembak jatuh F-18E US Navy.

      Tentu saja, seperti dicatat Dave Majumdar, sbnrnya Russia juga sebenarnya tidak dalam kondisi utk bisa menantang NATO, dan sama sekali tidak ada minat.

      Dengan R-27, dan RVV-AE pinjaman, hanya segelintir Su-35, dan Su-30SM hanya akan "bunuh diri" kalau mencoba menantang pespur NATO di atas Syria.

      Delete
    2. lochkeed dan tata india kbrnya udah deal memproduksi f16 di india ,

      Delete
    3. Ini hanya semacam perjanjian melobi untuk memastikan Tata menjadi agen sales untuk Lockheed ke pemerintah India.

      Kita lihat saja.

      Seperti biasa, kemungkinan besar kontrak di India akan selalu molor.

      Setelah pengalaman Su-30MKI, MiG-29K, dan INS Vikramadiya, India seharusnya sudah belajar berhati2 dalam kontrak alutsista.

      Delete
  21. Min, apakah ada kemungkinan Indonesia bisa mengakuisisi Aster?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selain harganya mahal, dalam keadaan belepotan seperti skrg sih, kalau ada minat tidak akan bisa.

      SAM system harus bisa membedakan antara kawan-lawan. Saat ini pespur TNI-AU belum ada yg membawa military-grade IFF.

      Entah kenapa eh, masih bisa mimpi Su-35K, pespur downgrade tanpa IFF, dan hanya radar PESA yg justru akan memundurkan kemampuan Indonesia 50 tahun ke belakang.

      Masalahnya, Su-35K akan menjadi pespur favorit; semua dana & perhatian akan dicurahkan untuk support biaya operasional, dan komisi part-nya yg mahal..

      Lebih baik, bubarkan saja TNI-AU kalau sampai kedua Skuadron F-16 yg jauh lebih unggul dalam segala hal, lantas tercekik..

      Delete
  22. Bung DR PT DI teken kontrak dgn Nepal, apakah ini G to G ato G to Pabrik?

    ReplyDelete
  23. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  24. semoga aja masalah heli membuka kasus2 lain terutama flanker yg udh dari lama diisukan.
    harga total akuisi flanker kita lbh gede dripda akuisisi f-35 denmark 😅
    bayar mahal buat rongsokan.

    ReplyDelete