Saturday, June 3, 2017

Analisa: Kenapa Swedia harus terus mengoperasikan Gripen-C

Gripen-C MS20  Gambar: Saab
.... sampai lebih lama dari tahun 2026.

Saat ini renstra untuk Flygvapnet Swedia hanya akan memberi keterbatasan alokasi anggaran untuk mengoperasikan Gripen-C sampai tahun 2026, sebelum ke-60 Gripen-E akan sepenuhnya menggantikan armada 100 Gripen-C/D yang sekarang. 

Kolonel Magnus Liljegren, dalam pernyataannya di Stockholm, 8-Mei-2017, menyatakan kalau Flygvapnet sedang melihat opsi untuk mengoperasikan 73 Gripen-C sampai melewati tahun 2026, termasuk 24 Gripen-D twin-seater sebagai trainer untuk pilot Gripen-E di kemudian hari. Kolonel Liljegren menyebut lebih lanjut kalau kemungkinan alokasi anggaran akan disetujui untuk mengoperasikan Gripen-C lebih lama dari rencana semula.

Berikut beberapa alasan logis, kenapa Flygvapnet harus mempertahankan lebih lama dari tahun 2026.



Realita Market: Kebanyakan negara pembeli TIDAK AKAN membutuhkan Gripen-E

Patut kembali diingat, kalau sama seperti perbandingan antara F-18E/F Super Hornet, dengan F/A-18 Classic, ataupun Su-35 tahun 2005, dengan Su-27 tahun 1980-an; sebenarnya Gripen-E adalah pesawat tempur baru, bukanlah variant terbaru dari Gripen classic, yang pertama mengudara di 9-Desember-1988. 

Desain airframe versi-E sama sekali baru, dan konstruksinya berbeda dibandingkan Gripen classic. Ukurannya akan sedikit lebih besar untuk mengakomodasi coolant untuk Raven-ES-05 AESA radar, dua extra pylon di bawah perut, kapasitas bahan bakar yang lebih besar, dan mesin GE F414-39-E, yang sudah dirancang dari awal untuk memberikan kemampuan supercruise. Perbedaan utama lain, sistem architecture software Versi-E juga jauh lebih modern, dengan expandibility upgrade di masa depan untuk kemampuan kalkulasi yang jutaan triliun kali lebih cepat daripada semua legacy fighter generasi sekarang.
Saab Presentation with Marcus Wandt - Farnsborough 2016
Sayangnya, terlepas dari semua kelebihan Gripen-E atas Gripen-C;

Kenyataan 1: Tidak semua negara pembeli akan membutuhkan Gripen-E

Semua negara pelanggan Gripen classic; mulai dari Afrika Selatan, Hunggaria, Czech, dan Thailand; kemungkinannya terlalu kecil untuk memilih langkah upgrade ke Gripen-E. Sedangkan untuk tiga negara prospek terdekat untuk pembeli Gripen yang sekarang; Botswana, Slovak, dan Bulgaria juga akan lebih memilih mengoperasikan Gripen-C dibandingkan Gripen-E. 

Semua kelebihan AESA radar, atau system architecture yang jauh lebih unggul akan kurang relevan untuk kebanyakan negara pembeli, apalagi mengingat keterbatasan anggaran masing-masing. Apa yang mereka butuhkan adalah pesawat tempur bandel, yang tidak perlu secanggih mungkin, tetapi cukup bertaring untuk dapat menantang lawan disekitarnya. Bahkan untuk ketiga calon pembeli terdekat Bulgaria, Slovak, dan Botwana, belum tentu mereka akan mengambil opsi untuk mengoperasikan MBDA Meteor, yang sudah dinobatkan menjadi persenjataan BVR utama Gripen sejak pertengahan tahun 2016.


Kenyataan 2: Kesemua pengguna Gripen-C/D akan membutuhkan support jangka panjang, melebihi tahun 2026

Memang dari segi anggaran, Swedia akan harus mengeluarkan biaya lebih besar daripada yang sudah direncanakan, kalau seperti pernyataan Kolonel Liljegren, Flygvapnet akan mengoperasikan Gripen-C lebih lama daripada 2026. Tetapi penundaan ini juga sangat penting untuk para negara pembeli. Support, dan upgrade untuk Gripen-C akan jauh lebih terjamin, selama Gripen-C masih dioperasikan Flygvapnet Swedia.
Gripen-C MS20 Flygvapnet Swedia dalam latihan udara reguler
Tactics, Techniques and Procedures Exercise (TTP16)
(Gambar: Forsvarsmakten)

Latihan TTP16 adalah Latihan-nya para pilot.

Menurut sistem TTP,
pilot harus dapat mengambil keputusan taktis secara independent,
dalam situasi konflik


Tidak seperti sistem Soviet yang segala sesuatu HARUS didikte dari Ground Control.


Realita Strategis Swedia: Gripen-C akan compatible ke Gripen-E, dan kemungkinan expandibility di masa depan, masih cukup besar

Gripen-E 39-8 with 4 RBS-15 Mk3, 2 MBDA Meteor, and 2 IRIS-T
(Gambar: Saab)
Seandainya Flygvapnet Swedia terus mengoperasikan Gripen-C, kemungkinannya terbuka lebih lebar untuk lebih meningkatkan kemampuan kerjasama antara kedua versi ini secara strategis, yang kemudian akan bisa memberikan kesempatan untuk menyisipkan penawaran mixed antara Gripen-Echo, dan Gripen-Charlie.. 

Patut diingat kembali, kalau Gripen Charlie, ataupun Echo, keduanya akan dapat terkoneksi ke National Network, atau Link-16 NATO yang sama, dan TIDLS fighter-to-fighter network menghubungkan formasi 4 Gripen secara lebih erat.  Ini membuka beberapa kemungkinan yang cukup menarik.
  • Dalam mixed formation antara 2 Charlie, dan 2 Echo; tidak hanya keempatnya dapat membagi gambar yang sama dari fasilitas radar di darat, ataupun dari Erieye AEW&C, tetapi kedua Charlie dapat beroperasi tanpa pernah perlu menyalakan radar, dan mengandalkan feedback dari Sensor Fusion kedua Echo.
  • Kedua Charlie juga dapat ditempatkan pada posisi yang lebih didepan dibandingkan Echo, untuk terlebih dahulu menembakkan Meteor, sekaligus mengalihkan perhatian radar lawan untuk mem-lock mereka, sebelum kemudian keduanya berpaling 180 derajat untuk menghindari lawan. Dalam skenario ini, kedua Echo akan dapat mengambil alih 2-way missile datalink ke Meteor yang sudah ditembakkan, tanpa pernah terlihat lawan, yang sibuk berkonsentrasi ke kedua Charlie.
    BVR missile terbaik di dunia,
    dapat dioperasikan Gripen Charlie, ataupun Echo
  • Pada tahun 2013, Saab sempat membahas kemungkinan mengoperasikan Unmanned Gripen. Tergantung pre-posisi bagaimana model ini mungkin akan disediakan, bukankah ini bisa membuka market baru untuk platform versi Charlie? Unmanned platform, untuk reconnaissance, atau untuk membawa banyak missile, tidak akan memerlukan pernak-pernik Gripen Echo yang jauh lebih modern, tetapi airframe yang lebih sederhana, lebih ringan, dan seharusnya juga... lebih murah. Reconditioned Gripen-C pasca-2030, akan menjadi platform dasar yang menarik untuk percobaan unmanned Gripen, atau mungkin bisa dibuat dengan kerjasama di Indonesia??
Semasa perang dingin, banyak yang melupakan kalau Swedia, yang negara netral, mengoperasikan angkatan udara yang kelima terbesar di dunia. Sayangnya, pengurangan anggaran pertahanan pasca Perang Dingin, kelihatan mulai mengurangi kemampuan tempur Swedia sampai melewati batasan bawah dari MEF (Minimum Essential Force) yang dibutuhkan.

Pada tahun 2013, misalnya, Flygvapnet sempat kecolongan, ketika AU Russia melakukan simulasi serangan nuklir ke Stockholm hanya dengan 2 Tu-22M3, yang di kawal dengan 4 Su-27S (bukan versi export SKM). Lebih kacau lagi, karena sewaktu itu, Swedia terpaksa mengandalkan F-16 AU Denmark untuk berusaha menghalau armada Russia.

Sekarang ini, mayoritas dari Gripen-C/D Flygvapnet baru mengumpulkan rata-rata kurang dari 1,000 jam terbang, dan masih dapat dioperasikan sekurangnya tiga puluh tahun ke depan. Dengan memilih hanya mengoperasikan 60 Gripen-E, Swedia akan lebih sulit untuk menutup lubang pertahanan yang serupa, apalagi seandainya 8 pesawat harus dikirim untuk mengikuti latihan mancanegara, ataupun harus dikirim mengikuti misi PBB seperti di Libya. Seberapapun hebatnya 60 pesawat, di tengah situasi yang kurang menentu di Russia, akan jauh lebih optimal untuk terus mencoba mempertahankan jumlah minimal 100 Gripen.



Realita Kompetisi: Tanpa support jangka menengah-panjang, Niche market untuk Gripen-C/D yang sekarang, akan dilahap FA-50, atau JF-17

Credits:
(JF-17 - Elmer Van Hest  &  PAF FA-50 - KAI)

Dalam beberapa perbandingan kasar, terlalu sering Gripen-C/D diperbandingkan dengan dua model versi export downgrade JF-17 PRC / Pakistan, dan Lockheed-Martin FA-50, hanya karena dari segi harga per unit; ketiganya akan menduduki segment market yang sama untuk market pembeli yang memang hanya mencari pesawat tempur budget.

Gripen-C/D akan menduduki segmen premium dalam rentang harga ini, dengan perkiraan harga kosong sekitar $50 juta per unit, tetapi disinilah persamaannya berakhir dengan kedua produk ini. 

FA-50 masih berbasiskan T-50, yang sudah  didesain Lockheed-Martin sebagai pesawat latih LIFT, yang kemampuannya tidak akan bisa bersaing dengan F-16. Kemampuan BVR saja masih belum ada, dan walaupun Seoul sudah bertahun-tahun melobi, kelihatannya tidak akan pernah bisa mendapatkan ijin dari Washington DC, apalagi sekarang dibawah kebijaksanaan pemerintah Trump. 

Sedangkan JF-17, sebenarnya masih berbasiskan alumunium airframe dari... JF-7, atau unlicensed copy dari MiG-21, yang pertama kali mengudara di tahun 1958, dengan mesin RD-93 (variant dari mesin MiG-29) yang mengepulkan asap hitam, umur yang lebih pendek (4,000 jam / 25 tahun), dan kemudian hanya diperlengkapi radar, ataupun koleksi missile versi export buatan PRC, yang kemampuannya tidak akan bisa terjamin.

Kenyataannya, semua pembuat lain, yang sudah terobsesi membuat pesawat stealth (Lockheed-Martin), atau twin-engine yang mahal (Dassault, Boeing, Sukhoi, dan Eurofighter), sudah lama meninggalkan segmen market ini. Satu-satunya pesawat single-engined fighter yang lain, F-16, karena produksinya sudah diperlambat di pabrik Lockheed di Forts Worth, harga per unitnya juga sudah melambung, karena juga ditambahi terlalu banyak pernak-pernik yang membuatnya menjadi pesawat pembom.

Selama Saab belum dapat memproduksi Gripen-Echo yang masih baru, dalam rentang harga ekonomis yang sebanding dengan Gripen Charlie, ini kembali ke permasalahan dalam point pertama: Tidak semua negara akan membutuhkan Gripen Echo. Kalau variable ini berubah, dan Gripen Echo dapat diproduksi dengan harga lebih murah daripada Charlie, tentu saja point ini akan menjadi kurang relevan.
Mungkinkah memposisikan Gripen-C/D sebagai pesawat tempur budget?
Tidak semua negara bahkan memerlukan MBDA Meteor,
mungkin MICA, atau R-Darter missile sudah cukup
(Gambar: Johan Lundhall / Forvarsmakten)


Atau....
Siapa tahu disini Indonesia bisa mengambil peran?
Tanpa kasih sayang ke Gripen Charlie, atau mencoba memposisikan agar biaya produksinya bisa lebih murah lagi daripada sekarang, Saab akan melakukan kesalahan yang sama dengan Lockheed-Martin, Dassault, Eurofighter, Sukhoi, dan MiG: 

Mengambil asumsi kalau market global membutuhkan pesawat tempur yang baik harga, ataupun biaya operasionalnya lebih mahal dari standard Mirage III, atau MiG-21.

Kenyataan tidak begitu. Sampai kapanpun, anggaran pertahanan kebanyakan negara akan selalu terbatas.



PENUTUP: Untuk Indonesia; Gripen-C ATAU Gripen-E?


Sejauh ini Saab masih menawarkan 16 Gripen-C MS-20 ke Indonesia, dengan harga $1,14 milyar, termasuk perakitan 6 unit di fasilitas PTDI.

Apakah Gripen-C MS20 sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan?

Kalau diperbandingkan dengan kedua model versi Export Downgrade; Su-35K, yang gampang rusak, biaya operasional yang terjamin melebihi keterbatasan anggaran, dan hanya bisa dipersenjatai dengan koleksi missile versi export, ataupun F-16V yang kemampuannya terjamin hanya akan menabrak terlalu banyak tembok...

Ya, Gripen-C MS20 adalah pilihan yang jauh lebih menjamin kedaulatan negara, dan masa depan industri pertahanan lokal, dengan penawaran kerjasama yang melebihi komitmen dari hanya sekadar memenuhi persyaratan UU no.16/2012.

Tidak hanya itu, walaupun sekilas kelihatan sedikit tertinggal, karena faktor training pilot bisa dipastikan akan jauh lebih unggul, hanya dengan dipersenjatai IRIS-T, dan MBDA Meteor, Gripen-C MS20 sudah lebih dari cukup untuk menghabisi kedua model downgrade ini, seperti menembaki ayam yang sudah diikat dalam kurungan.

Tetapi kalau memperhatikan beberapa faktor lain; seperti profilerasi AESA radar di Singapore, dan Australia; yang keduanya akan memperoleh kemampuan radar versi export yang jauh lebih unggul, dibandingkan AN/APG-83 versi F-16V Indonesia, ataupun radar Elta buatan Israel untuk proyek "kerbau dicocok hidungnya" IF-X. Kemudian juga kebutuhan untuk mulai membangun kemampuan yang bersaing dengan klaim PRC atas perairan di sekitar Natuna, dan bagaimana posisi mereka cukup antagonis terhadap semua negara ASEAN, Gripen-E adalah pilihan yang lebih baik dalam jangka menengah-panjang.

Kenyataannya, armada gado-gado yang sekarang operasional, mau bermimpi seratus tahun sekalipun, kemampuannya tidak akan mampu bersaing dengan semua tantangan modern di abad ke-21
Silahkan terus mendukung Sukhoi!
Waktunya tidak akan lama sebelum terpaksa harus masuk Museum
(Gambar: China-defense.blog)
Mengingat semakin hari, semua Sukhoi di Sku-11 sudah semakin mendekati masa pensiun, semakin sedikit yang bisa terbang, atau kalau mau terus dipaksakan, negara akan harus membayar $200 - $300 juta, hanya untuk biaya perbaikan dalam 2 - 3 tahun ke depan, hanya untuk memperpanjang umur hanya beberapa tahun lagi (termasuk komisi perantara). Inilah kenapa Gripen-C MS20 mulai terlihat sebagai preposisi yang sangat menarik untuk mulai mempersenjatai kembali Sku-11 dengan platform yang jauh lebih unggul, jauh lebih reliable, dan tidak membahayakan nyawa pilot, seperti nasib yang baru saja menimpa Su-30MKI India, hanya 26-Mei-2017, yang lampau. 
Sistem "Sekali pakai, buang!"
Link: The Moscow Times, Juli-2015
Dalam jangka menengah, setelah melewati tahun 2020, kita bisa melihat opsi untuk mengakusisi 32 Gripen-E untuk memenuhi MEF tahap II, sekaligus untuk mulai menggantikan BAe Hawk-209 di Sku-01, dan Sku-12, yang pembeliannya di masa orde Baru, sebenarnya terudung skandalnya sendiri. Dalam masa ini, proyek KF-X mau tidak mau sudah akan gulung tikar, dan mungkin kita bisa melihat opsi untuk... kalau perlu, memulai proyeksi kemungkinan license production Gripen di dalam negeri.
Mixed Fleet Gripen-C / E Indonesia, Kenapa tidak?
Tantangan terbesar untuk akusisi Gripen,
adalah karena penjualannya... tidak melalui perantara pelancar transaksi, 
seperti si jawara berumur pendek


16 comments:

  1. Min, AB Swedia apakah sekarang kekuatannya msh dibawah MEF atau sudah mulai bangkit?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mereka masih dalam tahap menyesuaikan kembali ke postur pertahanan semasa perang dingin.

      Baru2 ini, misalnya, Swedia sedang dalam tahap memberlakukan kembali wajib militer ke warga mereka.

      Setelah simulasi serangan Russia di tahun 2013, dan kemudian sepak terjang mereka di Ukrania Timur, dan Crimea di tahun 2014; Swedia, seperti semua negara Eropa yang lain, mulai menyadari kalau Russia yg skrg, dpt sewaktu2 mengancam status quo yg sudah ada.

      Faktor lain yg harus diperhitungkan:
      Kelihatannya pemerintah Trump terus memberi "mixed signal" ke Eropa.

      Setiap negara Eropa kelihatannya dalam tahap merevisi ulang renstra mereka:
      menghadapi kemungkinan kalau US, tidak seperti dahulu, masih bisa diandalkan untuk menghormati perjanjian NATO.

      Delete
  2. Admin itu baca sekilas katanya program KFX lagi diinvestigasi BAI ( Bureau of Audit & Investigation ) karena tuduhan penyalahgunaan anggaran. Kenapa sih itu admin ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kabar ini cukup baru.
      Trims, kelihatannya bisa untuk bahan artikel KFX selanjutnya.

      ====
      Link: Korea Times
      ====

      Sebenarnya masalah ini sudah dikaporkan sejak 2015:
      ada kecurigaan kalau DAPA sengaja "pilih kasih", dan memenangkan Lockheed-Martin dalam program F-X Korea (40 F-35).

      Apakah perbedaanya dengan sekarang?
      Mudah -- program KF-X sudah diasosiasikan dengan ex-Presiden Park Geun-Hye.
      Semua lampu kecurigaan korupsi, dan kolusi menjadi merebak.

      Tidak seperti Presiden Park,
      Presiden Moon yg sekarang tentu saja kemungkinannya terlalu kecil untuk berusaha melindungi proyek ini secara politik.

      Inikabar gembira, baik untuk Korea, maupun Indonesia.
      Satu paku lagi baru saja selesai ditancapkan untuk menutup peti mati program mercusuar KFX.

      Delete
  3. Nilai $1.14 milyar itu sudah lengkap persenjataannya atau kosongan min?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Warin

      Penawaran resmi ke pemerintah Indonesia berupa paket lengkap 16 Gripen, termasuk IPP (Initial Provision Package), dan penawaran perakitan 6 unit di PTDI.

      Tidak termasuk persenjataan.

      Sekurangnya 85% dari nilai transaksi akan di-offset kembali dalam bentuk ToT, dan kerjasama secara industrial.

      ======
      Link: Antara News, 27-Juni-2016
      =====

      Untuk persenjataan, tidak perlu pusing;
      krn semua jenis missile (AMRAAM C7, AIM-9X Block II, Maverick), bomb, atau Sniper pod (yg baru dibeli) untuk F-16 Block-25+ akan compatible ke Gripen.

      Mempersenjatai F-16, yg sekarang terbilang masih telanjang, berarti juga turut mempersenjatai Gripen.

      Dalam jangka menengah-panjang, Gripen justru akan memerdekakan kita dari keharusan membeli senjata dari Washington DC, seperti F-16, atau lebih parah lagi -- kutukan untuk beli missile versi export untuk Sukhoi.

      Diehl System IRIS-T untum jarak dekat, dan MBDA Meteor untuk BVR?

      Tidak ada satu negarapun yg bisa mendikte apa yg kita boleh beli.

      Delete
    2. Nah, jika indonesia deal mengakuisisi gripen, misil amraam atau meteor sudah terprogram jg source code nya ya bung? Apakah gripen memberi/mentraining ilmu source code nya ke indonesia jg bung?

      Delete
    3. Untuk Gripen-C MS20, dari delivery juga sudah langsung siap untuk mengoperasikan AMRAAM-C, atau MBDA Meteor.

      Ya, Saab akan mengajarkan pemakaian source code Gripen; tidak seperti para penjual barang versi export, yg akan mengunci code.

      Ini bukan berarti kita kemudian bisa 100% menguasai penuh, dan kemudian sembarang memodifikasi code seenak perut. Kode untuk Gripen-C bisa mencapai 10 juta baris; Gripen-E kabarnya mendekati 20 juta baris.

      Pertama2, terbukanya source code Gripen, berarti tidak akan ada pembatasan kemampuan.

      Hanya perubahan beberapa baris code programming di radar sudah cukup untuk membatasi, misalnya, agar radar Irbis-E, atau APG-68 versi export tidak bisa melihat jarak yg sama dgn versi lokal (sekurangnya 30% lebih jelek).

      Beberapa baris modifikasi utk programming Fly-by-wire system, juga bisa berarti kemampuan manuever Su-35K, akan sekurangnya setengah tingkat dari versi S.

      Kedua, tidak akan ada upgrade yg ditutupi, atau dihalangi.

      Upgrade MLU utk F-16, akan 100% tergantung kepada kebijaksanaan Washington DC, dan negara pembeli tidak berhak utk menentukan apa yg diminta. Kita boleh minta Link-16, misalnya, tapi kalau mereka berkata tidak, ya sudah. Habis perkara.

      IFX akan mengalami tragedi yg sama.
      Sedang Sukhoi.... nyet (tidak akan ada) upgrade.

      Untuk Gripen -- semua incremental upgrade, atau MS per tiga tahun, yg diaplikasikan di Swedia akan terbuka secara transparan untuk pembeli.

      Langkah basic ketiga yg tidak kalah penting; kita akan diperbolehkan untuk menambah perlengkapan / persenjataan baru yg masih belum diintegrasikan ke Gripen.

      Siapa tahu di kemudian hari bisa membuat missile, atau radar sendiri seperti Israel?

      US bahkan tidak mengijinkan Israel memasang Elta AESA radar (buatan Israel sendiri) ke F-16 mereka.

      Gripen tidak akan mempunyai masalah yg sama. Source code Saab adalah yg mudah dimodifikasi utk mengadopsi perlengkapan / senjata baru, dengan biaya yg ekonomis.

      Biaya integrasi Meteor ke Gripen ($170 juta) hanya 30% dibanding biaya yg harus dibayar untuk Typhoon.

      Ini salah satu hutang artikel lain di blog ini:
      Kenapa Source Code adalah keunggulan utama pesawat tempur

      Delete
  4. kurasa itu akan lebih baik karena missile yg lain bisa di gotong Gripen ms 20 , daripada ifx yg spek nya berbeda ama kfx

    ReplyDelete
    Replies
    1. IFX kemungkinannya terlalu besar hanya akan dikunci untuk bisa mengoperasikan hanya senjata buatan US, seoerti yg sudah di-stock AU Korea dewasa ini.

      Korsel baru memilih radar Elta tempo hari.

      Eh, tetapi Washington DC (lagi2) akan memastikan kalau source coding radar Elta:

      ## Tidak akan diperbolehkan mengoperasikan BVR missile lain, selain AMRAAM. Itu juga tidak akan diperbolehkan untuk versi-D, dgn dual-datalink.

      ## F-15K, atau KF-16 Korea, yg 100% buatan US, juga tetap saja akan dapat mengunci target dari jarak BVR yg lebih jauh drpd KFX, apalagi versi downgrade lebih jauh IFX.

      Belum lagi menghitung, dengan memilih radar Elta secara sepihak, Korea sebenarnya sudah mempermalukan Indonesia.

      Kesepakatan umum dewasa ini untuk kebanyakan negara2 mayoritas Muslim tidak boleh membeli senjata / perlengkapan dari Israel, paling tidak tidak bisa secara terbuka, seperti membeli radar.

      Ini sebabnya, misalnya, kenapa sy sudah menuliskan dari sebelumnya, kalau F-16 Block-25+ TNI-AU akhirnya akan diperlengkapi Sniper targeting pod buatan Lockheed-Martin, walaupun dokumen DSCA berkata "Sniper, atau Litening.."

      Litening partially adalah buatan Israel.

      Saudi Arabia, UAE, Kuwait, Yordania, dan Pakistan semuanya juga sudah memilih Sniper.

      Pada pokoknya, untuk selamanya sih kita tidak akan mungkin bisa mendapat apapun yg berarti dari IFX.

      Tidak akan ada ToT, atau keuntungan industrial macam apapun juga.

      Kontrak radar Elta dinilai $35 juta, entah apakah Indonesia kemudian akan dipaksa membayar 25%?

      Ini sudah cukup utk insentif keluar dari proyek mati ini. Kita tidak perlu ikut tenggelam bersama Korea.

      Delete
  5. Apabila AMRAAM F 16 dipakai utk Gripen, apakah USA tdk protes?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa US akan protes?

      Sebelum MS-20 upgrade, AMRAAM adalah persenjataan BVR standard untuk semua Gripen.

      Sebelumnya, JA-37 Viggen juga sudah bisa dipersenjatai AMRAAM-A.

      Flygvapnet kemudian mengejutkan NATO dengan kemampuan Viggen untuk dapat memberi mid-course update ke AMRAAM yg ditembakan dari Viggen yg berbeda.

      Waktu itu, F-15, atau F-16 versi lokal sekalipun belum mempunyai kemampuan yg sama.

      Coding pespur Swedia memang sudah sedari dahulu compatible ke AMRAAM.

      Dengan keunggulan radar (PS/05 mk4), TIDLS, dan missile datalink yg beberapa langkah lebih maju, Gripen-C akan dapst menembakkan AMRAAM C-7 dari jarak yg lebih jauh, dan lebih akurat jika dibandingkan F-16 Block-25+ yg serba basic.

      Delete
  6. Min, apakah pemutusan hubungan diplomatik negara Arab dengan Qatar akan berpengaruh ke situasi politik di Timur Tengah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita belum tahu bakal seberapa parah kekacauan politik ini akan terjadi.

      Kita juga belum tahu seberapa jauh United States, dan Kuwait akan bisa menengahi.

      FYI -- pangkalan militer terbesar US di Timur Tengah, berlokasi di Al-Udeid di Qatar.

      Secara keseluruhan, perseteruan politik di Timur Tengah ini tidak ada sangkut-pautnya ke Indonesia.

      Kita harus lebih berkonsentrasi mengatasi gejolak ISIS di Asia Tenggara akhir2 ini.

      Delete
  7. bang dr katakanlah indonesia akhirnya membeli gripen dan terus menggunakan produk swedia [sbagian] apakah nantinya indonesia jg bisa bekontribusi dalam pekembangan gripen terbaru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentu saja.

      Saab adalah satu2 supplier yg menawarkan skema kerjasama demikian, dan tidak hanya ke Indonesia, tapi juga semua negara lain. Mereka juga sudah cukup transparan dalam hal ini.
      Mereka menginginkan semua pembeli Gripen dapat turut menjadi partner untuk ikut mengembangkan.

      Semuanya ini kembali, tergantung ke Komitmen, dan kerja keras pihak kita sendiri.

      MS-21 sudah di-finalisasi untuk Gripen-E, dan akan mulai full operasional 2021.
      Kalau bisa, bukan tidak mungkin, misalnya kita bisa turut handil dalam pengembangan MS-22.

      Inilah kesempatan emas yg masih belum dimengerti kebanyakan pihak.

      Sudah saatnya kita berhenti hanya menjadi pemakai barang Versi Export Downgrade, termasuk Kf-X, dan mulai melangkah menjadi partner, atau mitra usaha dalam pengembangan Alutsista kelas satu.

      Delete