Sunday, May 7, 2017

News Update April-2017


News Update April-2017. 



31-Maret-2017: Irkut memperkenalkan Su-30SME (Versi Export terbaru dari Su-30SM) 

Gambar: Nikolai Novichkov
Demikian Laporan Jane's dari acara Langkawi Aerospace & Maritime Exihibition 2017 (LIMA-2017).

Secara sepintas, spesifikasi yang dilaporkan Jane's memang tidak banyak berbeda dengan Su-30MKM, atau Su-30MKA; canards untuk Thrust-Vectoring, mesin AL-31FP, yang sebagaimana dilaporkan di India, terjamin akan sangat bermasalah, kapasitas payload 8,000 kg di 12 hardpoints, dan radar Bars-M PESA, yang masih satu keluarga dengan Irbis-E.

Lantas, apakah perbedaannya dengan Su-30MKM, atau Su-30MKA versi Export buatan Irkut yang lain?

Patut diketahui dahulu, kalau Su-30MKM, dan Su-30MKA, sebenarnya masih berbasiskan desain Su-30MKI, yang sudah di-finalisasi pabrik Irkut sejak sebelum akhir tahun 1990-an. Su-30SM, atau versi lokal dari Su-30MKI, baru mulai dibuat di akhir tahun 2000-an, dan secara tehnis dengan sendirinya akan membawa beberapa update terbaru, yang memang khusus untuk AU Russia sendiri.

Su-30SME akan membawa apa yang diperbolehkan dari update untuk Su-30SM, pasca Su-30MKM, dan walau tidak diberitakan secara lebih mendetail dalam artikel Jane's, akan membawa satu perubahan lain yang penting: semua avionic suite-nya sekarang akan 100% buatan Russia; sementara versi Su-30MKI, MKM, dan Su-30SM, sebenarnya masih buatan Thales, Perancis. 

Lebih lanjut, Irkut mengabarkan Su-30SME akan siap untuk diperlengkapi targeting pod baru. Sekilas memang terdengar bagus, tetapi targeting pod yang seperti apa? 

Litening, dan Sniper pod untuk F-15, F-16, dan F-18 sudah berevolusi beberapa generasi, dan sudah teruji; combat-proven. Kembali, meragukan kalau tanpa cukup pengalaman, dan basis development yang baik, targeting pod untuk Su-30SME akan dapat bersaing dengan kemampuan targeting pod buatan US.


01-April-2017: FMV Swedia mengajukan kontrak untuk RBS-15 Mk-IV

Gripen-E 39-8 untuk pertama kalinya juga terlihat membawa 4 RBS-15 Mk-3,
dan.... IRST di moncong pesawat
Gambar: Saab
FMV (Försvarets materielverk), badan pemerintah Swedia, yang bertanggung jawab langsung ke Departemen Pertahanan dalam setiap order untuk perlengkapan militer buatan Swedia, pada 4-April ini, mengajukan order resmi senilai SEK 3,2 milyar ($360 juta) untuk memulai development Next Generation RBS-15 Mk-4, untuk memperlengkapi Gripen-E, dan Visby-class Corvette.

RBS-15 Mk-4 direncanakan akan mempunyai targeting seeker yang lebih modern, jarak jangkau yang lebih jauh, dan pengurangan berat dibandingkan RBS-15 MK-3, yang jarak jangkaunya 200 km+, dan beratnya 800 kg.

Sea-skimming missile, RBS-15 Mk-3 yang sekarang, mempunyai kemampuan terbang dengan kecepatan subsonic, pada ketinggian hanya beberapa meter dari permukaan laut untuk menghindari deteksi radar. Missile ini akan terbang fire-and-forget dengan panduan GPS, dan INS inertia, dan dalam manuever akhir, beberapa missile akan dapat mengambil posisi untuk menyerang target dari beberapa arah yang berbeda.

Menurut Saab, delivery kemungkinan bisa dimulai di pengunjung tahun 2017.



04-April-2017: Saab menguji coba Gripen-D untuk terbang dengan 100% bio-fuel

Credits: Saab

Saab baru saja berhasil mengetes untuk pertama kalinya, Gripen-D yang terbang dengan 100% biofuel, dalam kerjasama bilateral antara Swedia, dan United States.

Bio-fuel yang digunakan dinamakan CHCJ-5, berbasiskan rapeseed, atau canola. 

Mesin RM12 di Gripen, menurut Göran Bengtsson, Direktur Research & Technology SAAB, ternyata tidak membedakan antara fossil fuel standard, dan bio-fuel; dapat bekerja secara normal. Ini memang membuka kemungkinan di masa depan, kalau Gripen akan dapat mengudara dengan bio-fuel, tetapi ini akan membutuhkan sertifikasi lebih lanjut. 

Dengan demikian, potensi Gripen sebagai pesawat tempur yang dapat terus beroperasi dalam konflik secara berkepanjangan semakin terus menguat. Kali ini, Gripen tidak akan perlu tergantung kepada processed aviation fuel, seperti semua pesawat tempur lain. Tentu saja, belum tentu percobaan yang sama akan dapat dilakukan di keluarga F-18, walaupun mereka akan memakai derivatif mesin yang sama.



06-April-2017: Eurocopter, dan PT Dirgantara Indonesia menandatangani kontrak MRO lokal baru

H225M Caracal dalam konfigurasi SAR,
yang selesai diproduksi PT DI pada November-2016 yang lalu
(Gambar: PT DI)
Eurocopter, dan PT Dirgantara Indonesia, sebagaimana laporan AINonline, baru saja menandatangani kontrak baru unutk bersama-sama membangun support lokal, dan membangun kemampuan MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) untuk terus mendukung hasil produksi license production helikopter dari PT Dirgantara.

"Indonesia memegang peranan yang sangat penting dalam global industrial footprint Eurocopter, dan peluasan hubungan kerjasama bersama partner lama kami yang sangat terpercaya, menunjukan seberapa besar komitmen kami untuk terus berinvestasi dalam industri aerospace Indonesia," demikian pernyataan Guillaume Faury, CEO dari Airbus Helicopters.

"Kamipun bangga dengan peluasan kerjasama aliansi ini," jawaban Budi Santoso, direktur, dan CEO PT DI. "... ini akan menambah kemampuan kompetensi Indonesia dalam maintenance lokal helikopter sendiri."

Ini baru kebutuhan, dan bukan keinginan semata. Sejauh mana industri asing mau berinvestasi, dan terus berkomitmen mendukung kepentingan Nasional, bukan seperti sekarang memainkan pola akuisisi import alutsista gado-gado, dari berbagai supplier asing tanpa memikirkan kebutuhan nasional.

Masakan sampai sekarang masih mau terus main serong dengan barang import versi export downgrade Mi-17 / 35, yang membutuhkan "perbaikan mendalam (Link: Jane's)" di luar negeri, dan melanggar pasal 43 (2) UU no.16/2012? 

Kenapa masih merasa butuh helikopter import transaksi gelap AW101? Atau masa sih, menginginkan Blackhawk model downgrade? Apa hebatnya semua model ini? Toh, segala sesuatunya sudah didikte dari sononya tanpa bisa ditawar.

Pada 24-November-2015 saja, Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hassanudin sudah mengkritik rencana pembelian AW101 dengan lugas: "Bubarkan saja industri pertahanan sendiri, kalau tidak mau memakai!". Eh, ternyata barangnya masih bisa datang juga, walau tanpa ada persetujuan pemerintah.

Marilah belajar untuk lebih mencintai produksi license lokal dari PT Dirgantara Indonesia, dan terus mendukung jerih payah hasil kerjasama 40 tahun antara Eurocopter!

H225M, yang adalah versi modernisasi Super Puma, yang ukurannya lebih besar, sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan helikopter angkut Indonesia dalam 20 - 30 tahun ke depan, dan seyogyanya secara bertahap mulai menggantikan Mi-17 / Mi-35 "gampang rusak", dan unit AW101 illegal, yang harus dikembalikan ke pabrik asalnya. 



13-April-2017: Golcük Shipyard mengajukan penawaran untuk kapal selam Type-214 ke TNI-AL 

Papanikolis, kapal selam Type-214 dalam produksi di Kiel, Jerman
(Gambar: SA 3.0, wikimedia
IHS Jane's melaporkan kalau TNI-AL sudah menerima penawaran dari Golcük Shipyard, dalam beberapa pertemuan di Cilangkap sepanjang tahun 2017, untuk variant dari kapal selam Type-214, yang tidak seperti ketiga Improved Changbogo yang sudah ditandatangani, akan diperlengkapi standard dengan Air-Independent Propulsion (AIP). Beberapa perwira TNI-AL dilaporkan akan mengunjungi IDEX 2017 (7 - 12 Mei 2017) di Istanbul untuk membahas penawaran ini lebih lanjut.

Disinilah kebutuhan, dan keinginan kembali bertabrakan, dan semakin menjelimet. Hanya 2 kapal Type-214, yang diperlengkapi dengan AIP (Air Independent Propulsion), dan membuatnya jauh lebih sukar terdeteksi, kemampuan tempurnya akan lebih penting secara strategis dibandingkan 3 improved Changbogo.

Mengingat perairan di wilayah Indonesia Barat, mulai dari selat Malaka, laut Jawa, selat Sunda, sampai perairan di sekitar Natuna sebenarnya adalah perairan laut dangkal, dengan kedalaman rata-rata kurang dari 50 meter, TNI-AL lebih membutuhkan kapal selam dengan AIP, dibandingkan versi konvensional Type-209 seperti Changbogo.

Inilah kenyataan: mayoritas perairan Indonesia Barat, yang sudah mencakup hampir 50% perairan Indonesia, bukanlah medan tempur yang ideal untuk perang kapal selam. Bahkan dengan AIP sekalipun, kapal selam akan sulit untuk bersembunyi dengan menyelam lebih jauh setelah berhasil menembakkan torpedo; dan setiap kapal selam hanya bisa menembakkan 4 torpedo sebelum harus bersembunyi dari ancaman ASW lawan.

Kembali patut diingat, mengingat tantangan geografis nusantara seperti di atas, akan sangat sukar memposisikan kapal selam sebagai pemukul utama dalam konflik. Sulit untuk menjustifikasi "kebutuhan" terlalu banyak kapal selam, karena tidak akan memberikan keunggulan strategis yang berarti, mengingat biaya operasional, dan investasi training yang dibutuhkan juga akan sangat mahal.

Kemungkinan Type-214 ini diperuntukkan mengganti KRI Cakra, dan Nenggala, kedua Type-209, yang walau baru selesai dimodernisasi, mau tak mau akan harus dipensiunkan dalam waktu beberapa tahun ke depan. 


25-April-2017: Indonesia memesan Sniper Targeting Pod untuk F-16 

Wapres US Mike Pence berbicara dengan Presiden Jokowi dalam pertemuan di Istana Merdeka,
20-April-2017
(Gambar: REUTERS/Darren Whiteside)
Presiden Jokowi menerima kunjungan Wakil Presiden US, Mike Pence, pada 20-April-2017 yang lalu, yang berkelanjutan pemerintah Indonesia, dan United States kemudian menandatangani perjanjian bilateral perdagangan, dan investasi senilai $10 milyar.

Salah satu yang disepakati kedua pemerintah dalam G-to-G contract adalah akuisisi Sniper Targeting pod dari Lockheed-Martin untuk F-16 Block-25+. Jumlah, maupun variasi dari Sniper pod yang dibeli belum bisa dikonfirmasi lebih lanjut, tetapi ini adalah langkah logis selanjutnya untuk memenuhi kebutuhan mempersenjatai F-16 Block-25+, yang sekarang boleh dibilang masih "telanjang".

Sniper Targeting pod akan membuka lembaran baru dari segi kemampuan, dan pengalaman, yang belum pernah dijajaki TNI-AU sebelumnya. Tidak hanya untuk mengejar target di darat, walaupun kurang optimal, Sniper akan dapat dimanfaatkan untuk kemampuan IRST F-16. Tentu saja, ini masih belum mencukupi kebutuhan yang ada.
F-16 Block-52 92902 - USAF photo
Pesawat tempur telanjang,
hanya buang-buang uang!
Hentikan praktek beli macan ompong!
Untuk memenuhi target MEF I, sebagaimana sudah dibahas sebelumnya, kita masih membutuhkan stock tambahan persenjataan:
  • 70 AIM-9X Block-II missile; untuk 2 - 4 missile per pesawat + stock di gudang; dengan estimasi transaksi $42 juta.
  • 100 AIM-120 C-7 AMRAAM; kembali untuk sekurangnya 4 missile per pesawat + stock di gudang, dengan estimasi transaksi $120 juta.
Kembali lebih baik mengalihkan dana untuk memenuhi kebutuhan ini, dibanding berkutat membayar biaya "perbaikan mendalam" Sukhoi, yang semakin banyak, yang hanya akan memberi makan para perantara, sedang mau tak mau toh sebentar lagi akan harus masuk museum Satria Mandala.

Demikian juga, lebih baik meng-investasikan upgrade ke 10 F-16 A/B yang sudah ada, agar kemampuannya sekurangnya setara dengan Block-25+, atau lebih baik lagi, paling tidak menambah sekurangnya JHMCS, dan MIDS-LVT terminal untuk Link-16. Apalagi mengingat baru 19-April-2017 ini, USAF sudah mensertifikasi pemanjangan usia airframe F-16 ke 12,000 jam terbang, atau dua kali lipat dibandingkan usia Su-35K ber-efek gentar 100% nihil.



UPDATE: 09-Mei-2017: Kunjungan Menhan RI Ryamrizard untuk membahas Alutsista, dan kerjasama industri militer dengan Swedia

Gambar: Ninni Andersson/Government Offices of Sweden
Pada 8-Mei-2017, Menteri Pertahanan RI Ryamrizard Ryacudu melakukan kunjungan resmi ke Swedia, dan diterima Menteri Pertahanan Swedia Peter Hultqvist di Kalberg Castle, untuk membahas pengadaan alutsista, dan kerjasama industrial dengan Swedia.

Antara News melaporkan lebih lanjut, kalau dalam kunjungannya, Menhan Ryamrizard juga didampingi oleh Dirjen Strahan Kemhan RI Mayjen TNI Yoedhi Swastanto, Dirjen Renhan Kemhan RI Marsda TNI Abdul Muis, Dirjen Pothan Kemhan Sutrimo Sumarlan, Kabaranahan Kemhan Laksda TNI Leonardi. Kemudian juga beberapa Pimpinan Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan Indonesia; Dirut PT PAL Indonesia Budiman Saleh, Dirut PT Pindad Abraham Mosse, Dirut PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso dan Dirut PT Len Industri Zakky Gamal Yassin.

Credits: Saab Indonesia
Fakta #1: 
Saab adalah satu-satunya supplier, yang berkomitmen memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012, dan untuk membangun kerjasama industrial secara jangka panjang
Sejauh ini, Saab tidak pernah mendapat complain dari customer!

Kunjungan ini adalah langkah kelanjutan dari Memorium of Understanding, yang sudah ditandatangani Menhan kedua negara pada 20-Desember-2016 yang silam, untuk membahas hal-hal yang sudah disepakati sebelumnya. 

Dirjen Sutritmo menyebut kalau dalam rangka kunjungan ini, delegasi Indonesia akan membahas "... pemenuhan setiap persyaratan UU no.16/2012, terutama dalam rangka paket offset, dan Transfer-of-Technology, dan keharusan untuk menutup perjanjian dalam Government-to-Government contract."

Credits: Saab Indonesia
Fakta #2: 
"Kerjasama secara industrial adalah bagian dari strategi global Saab.

Kami tidak melihatnya sebagai suatu ancaman,
melainkan kesempatan untuk saling membangun secara partnership, dan saling berbagi pengetahuan."

Ulf Nielsson, Head of Aeronautics Saab AB - 18-Mei-2016 
Apakah ini berarti segala sesuatu sudah final?

Belum. 

Akuisisi alutsista, dan penjajakan kerjasama memang sudah seyogyanya selalu membutuhkan pembahasan bilateral lebih lanjut, sebelum memutuskan untuk mengambil langkah selanjutnya. Pembelian setiap alutsista akan selalu memerlukan investasi yang tidak hanya sebatas membayar harga yang kelihatan di muka. Masanya untuk membeli secara spontan, dan cepat tutup kontrak sudah berakhir. Ini hanya akan merugikan rakyat, dan pemerintah Indonesia sebagai pembeli, dan hanya menguntungkan para perantara, atau agen sales, dan beberapa oknum tertentu.

Paling tidak kita bisa bersyukur, karena langkah berikutnya penjajakan kerjasama, ataupun akuisisi alutsista dari Swedia, akhirnya akan tergantung kepada komitmen, dan keputusan kedua pemerintah, dan bukan ditentukan oleh satu-dua pejabat, seperti dalam kasus pengadaan AW101, yang sampai sekarang belum kunjung selesai.

Gripen-C MS-20   Credits: Saab
Fakta #3: 
Tidak hanya biaya operasional murah,
Gripen adalah satu-satunya pilihan berdaulat,
berkemampuan tempur tinggi,
bukan rongsokan versi export downgrade,
dan
dapat dipersenjatai dengan senjata, atau perlengkapan terbaik,
tanpa pernah bisa didikte supplier asing.






113 comments:

  1. sebenarnya armada kapal selam kita itu idealnya berapa sih bung kalau menurut TNI 12 dilihat dari angaran dan kebutuhan strategis apa itu sudah realistis?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Armada kapal selam kita:

      Hanya 2: KRI Cakra, dan Nenggala
      Type-209 buatan HDW Jerman.

      Sekarang sedang memesan 3 kapal: Improved Changbogo dari DSME Korea
      Versi Modernisasi dari Type-209 buatan HDW Jerman.

      Dan menjawab pertanyaan anda, tidak, 12 kapal selam sebenarnya terlalu banyak, karena perairan Indonesia, terutama di wilayah strategis belahan Barat tidaklah ideal untuk perang kapal selam.

      Karena keterbatasan ini, kita seharusnya melihat kapal selam sebagai sarana dukungan, bukan senjata pemukul utama secara independen, sebagaimana selama ini dibayangkan.

      Contoh sederhana:
      Dalam pertempuran di laut, Gripen, dan KCR / Korvet yang bersenjatakan RBS-15 anti-ship missile harus terlebih dahulu membuka serangan terhadap lawan, sementara kapal selam dengan AIP mengendap-ngendap, dan meluncurkan torpedo dari arah lain, selagi perhatian lawan terfokuskan ke KCR, atau Gripen.

      Sebaliknya kalau kapal selam mau dioperasikan sebagai hunter sendirian, ini hanya akan menjadikannya bulan-bulanan ASW lawan --- karena sulit untuk menyelam menghindari depth charge pada kedalaman kurang dari 50 meter.

      Berapa jumlah ideal?
      Kapal selam biaya operasionalnya kelewat mahal, dan kegunaannya sebenarnya sangat terbatas - untuk menghancurkan kapal lawan.

      Lebih baik memaksimalkan dahulu latihan untuk ketiga Changbogo yang sudah dipesan dahulu, kemudian baru mulai berpikir apakah butuh tambah atau tidak. Toh, walaupun tanpa AIP, kalau strategi pengoperasiannya diintegrasikan ke asset lain, Improved Changbogo-pun bisa cukup mematikan dalam pertempuran.

      Seperti diatas, seharusnya dahulu kita memesan Type-214, dan bukan lagi2.... Type-209. Kalau sekarang masih mengakuisisi Type-214, ini lebih seperti after-thought, sudah terlambat.

      Delete
    2. sy tdk setuju, hrs 2nya nggak boleh lbh, ingat kita di kepung pangkalan FFDA & AS, syng sekali anda tdk tau soal proxy war, sy jg tdk suka partai komunis tiongkok, sy beritahu kpd anda bahwa indonesia memiliki kapal selam nuklir kelas astue

      Delete
    3. Sepertinya anda terlalu banyak membaca "conspiracy theory", atau berita hoax dimana segala sesuatu bisa terjadi... tergantung fantasi penulisnya.

      Batu sekeras apapun pun bisa dianggap air, sedang api berkobar dianggap kue manis enak.

      Setiap artikel, atau blog yg ditulis orang lain biar bagaimana akan selalu mengandung opini penulis. Kita harus belajar menganalisa secara kritis.

      Kalau sumber referensinya tidak jelas / tidak relevan, dan tidak dapat dicocokkan ke sumber manapun, atau sengaja mencoba menghubungkan 2 fakta, tapi yg sama sekali tidak ada sangkut pautnya; eh.... terus hanya untuk membentuk opini kebencian / ketakutan, biasanya artikel itu namanya.... hoax.

      Jauh di tempat lain yg tersembunyi, penulisnya yg lempar batu sembunyi tangan, akan menertawakan anda yg percaya, lalu membantu menyebarkan hoax itu kemana2!

      Delete
  2. Bung DR utk pengadaan pespur mengapa hrs tender, pdhl kita tahu ada negara yg mengembargo..

    ReplyDelete
    Replies
    1. soviet pelopor negara yg embargo kita dulu baru as ....negara kita udah berubah jd demokratis , perlakuan ke daerah jg udah berubah ..tak ada alasan untuk mengembargo

      Delete
    2. tender dimaksud kan agar transparan dalam transaksi pengadaan senjata

      Delete
    3. Karena seharusnya, baik pemerintah, ataupun TNI mendahulukan kebutuhan / kepentingan Nasional, dan bukan kepentingan para penjual, apalagi yg memakai badan perantara.

      ## Embargo.... adalah reaksi dari tindakan pemerintah negara pembeli, bukan sesuatu yang dilakukan spontan tanpa sebab yg jelas.

      Negara yg terkena embargo, biasanya punya pemerintahan otoriter, yg senang bikin onar keamanan regional, mencaplok wilayah negara lain, aktif membunuhi rakyatnya sendiri, atau melakukan percobaan senjata nuklir / kimia secara illegal.

      Seluruh dunia akan memusuhi negara seperti itu.

      Nah, kenapa lantas berasumsi Indonesia masih harus takut embargo?

      Bukankah Indonesia yg sekarang adalah negara demokratis, yg pecinta damai?

      Bahwa Swedia, negara netral, yg persyaratan politiknya luar biasa tebal sebelum menjual senjata kemanapun, tenyata sudah menawarkan kerjasama pertahanan / industrial jangka panjang sudah menunjukkan betapa bagusnya posisi kita sekarang.

      Hampir semua negara Asia-Afrika saja seharusnya iri kepada kita.

      ## Masakan kita tidak mengadakan tender, eh, terus malah mau menjual kedaulatan negara ke salah satu penjual rongsokan versi export downgrade, tanpa pernah ambil pusing untuk menganalisa secara obyektif keuntungan secara industrial, ataupun ToT, dan long-term support yg terjamin?

      Masakan kita masih mau terus dijajah oleh para penjual Versi Export, seperti sekarang?

      Sudah saatnya kita membangkitkan kesadaran nasional, kalau pemenang setiap tender alutsista seyogyanya berkomitmen dahulu untuk memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012, dan berani menjamin investasi jangka panjang untuk membangun tehnologi, dan industri lokal!

      Sekali lagi, Kebutuhan Nasional lebih penting daripada kepentingan para penjual, apalagi yg hanya bisa menjual rongsokan versi export downgrade!

      Delete
    4. Mksd saya, setiap akan membeli pespur, AU pasti sdh menilai mesin, senjata, kemampuan dll termasuk embargo, pespur yg akan dibeli, apakah tdk bisa tunjuk langsung? Dulu jmnnya Suharto sptnya langsung tunjuk F 16, mskpn ada kbar Suharto diatas kokpit Mirage 2000 sdh mengacungkan jempol.

      Delete
    5. Sy pernah menuliskan artikel ini:
      Seandainya di tahun 1986, Indonesia memilih Mirage 2000.

      Dahulu kala, sebenarnya akuisisi Mirage 2000 akan jauh lebih menguntungkan untuk industri lokal, dan faktor ToT, dibandingkan F-16, yang hanya versi export.

      Dassault menawarkan 35% part diproduksi sendiri di fasilitas IPTN, dan 105% offset.
      Pak BJ Habibie sih lebih mendukung pemerintah mengakuisisi Mirage.

      Sayangnya, karena latar belakang perang dingin waktu itu, berarti pemerintah Orde Baru, yang anti-komunis, dan dianggap sahabat karib United States, dan Australia ---> secara politik menjadi keharusan untuk membeli F-16.

      Rugi dah, Indonesia.

      Tidak hanya itu,
      Mirage 2000 akan memperkenalkan konsep BVR cukup dini, dengan missile semi-active homing Matra Magic II, yg waktu itu masih tergolong sangat modern.

      Sebaliknya, F-16 A/B tidak mempunyai kemampuan BVR.

      Inilah kenapa, semoga pemerintah sekarang tidak akan melakukan kesalahan yg sama dengan melewatkan tawaran Saab.
      Kerugian kita, apalagi kalau membeli rongsokan Sukhoi Kommercheskiy, bisa sampai 50 tahun ke depan.

      Delete
    6. Memang saya juga sama ngilernya dengan para fans Gripen yang memberikan TOT yang paling besar. Tapi agar bisa berpikiran lebih jernih. Saya mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini:
      -Kenapa mereka mau memberikan TOT sebesar itu? Apakah karena memang tidak laku atau ada hal yang lain?
      -Jika tidak laku alasannya kenapa? Apakah memang mudah dirontokkan?
      -JIka mereka bisa memberi kita TOT sebesar itu lalu bagaimana dengan tawaran kepada negara lain? JIka nantinya tawarannya sama apa tidak mungkin ini akan membuatnya menjadi "pasaran" (baca : mudah diketahui kelemahan-kelemahannya).
      -Apakah benar nantinya TOT yang besar itu bermanfaat besar bagi bangsa ini (baca : pengalaman mobil dari Jepang yang TOTnya juga besar tapi masih saja tetap tidak bisa buat mesin sendiri)
      -Saya sangat setuju sekali dengan poin utama dari Pak Jokowi tentang kemandirian yang dinomorsatukan. Tapi apakah benar dari SAAB ini bisa benar-benar mendongkrak itu?

      =Kurang setuju dengan pendapat anda yang selalu mengkritik tentang biaya-biaya yang dikeluarkan oleh pespur "merk lain". Bagaimanapun bagi saya tidak ada namanya tawar menawar dalam hal keamanan. Bahkan banyak negeri lai n yang menomorsatukan militernya seperti Korut walaupun saya sendiri tidak senang dengan dengan Pemerintahannya tapi mereka tidak berpikir dua kali dalam hal hal anggaran keamanan. Karena bagi saya lebih menenangkan membeli barang yang tahu positif dan negatifnya daripada hanya tahu positifnya saja atau negatifnya saja.

      Delete
    7. Menurut saya, kalau pun ilmunya nanti disebut pasaran mari kita jujur saja.. Kita tidak memiliki apa2 tp bisa mengembangkan pesawat tsb dipadukan dhn IFX secara tdk langsung kita sudah mencapai TARGET utama Pemerintahan sekarang yaitu MEF. Jelas? Kita menargetkan MEF secara keseluruhan mantra.
      Jd cobalah untuk realistis dgn keadaan kita sekarang,
      Memang sebagian dr rakyat indonesia tdk setuju disebut Pengkhianat Rusia. Tp kita ini Universal menanggung kebijakan Pemerintah Orba. Segala kebijakan Orba itu membawa nama indonesia yg jelas memihak sekutu saat Perang Dingin yg secara tdk lgsg SU-35 yg ingin kita ekspor itu saya yakini Downgrade karena jika anda memasuki situs RBTH versi Rusia coba anda baca komentarnya dan translate..
      Mereka masih menganggap kita pengkhianat.

      Delete
    8. Bung @Boink, @Syarif;
      Komentar di bagian ini sudah cukup panjang.

      Untuk reply selanjutnya sebaiknya di thread baru di bawah.

      Delete
  3. kapal selam nuklir RI? kowkowekkekekekek sejak kapan bang ....anda kena berita hoax

    ReplyDelete
  4. sebetulnya ancaman sebenarnya ada diutara yakni LCS Natuna , australia dan aas serta malaysia adalah tetangga kita yg saling membutuhkan ...

    ReplyDelete
  5. anda di bayar berapa sih oleh saab ? sy lihat yg komentar setiap artikel cuma 2/3 org

    ReplyDelete
    Replies
    1. ckckck tipikal fansboy shukoi dimana-mana jurusnya cuma dua embargo sama nuduh sales ckckckc g bosen dari 2010 cuma itu2 doang jurusnya?

      Delete
    2. Ha ha ha. Ini orang kocak bener udah nyebut FPDA jadi " FFDA ", terus ngomong keberadaan HMS Astute atau dibilangnya " astue ", salah tempat ini orang. 😀😂

      Delete
    3. Memang ini lelucon yang lucu. Seperti burung beo, tidak berubah bertahun2 :)

      Jadi kalau ada opini selain mendukung pembelian rongsokan Sukhoi berarti agen sales?

      Sekali lagi, kalau ada tawaran yang lebih baik, dan lebih menguntungkan dibanding tawaran Saab, silahkan menulis argumennya yang lengkap, dan komprehensif!

      Kenyataannya: Saab Gripen adalah satu2nya pespur yang bukan model export downgrade, dan Saab satu2nya supplier yg berkomitmen memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012, dan lebih lagi, karena partnership mereka akan melebihi kewajiban offset yang "diharuskan"!

      Belajarlah untuk research lebih banyak pilihan favorit anda, apalagi yang Versi Export Downgrade!

      Silahkan buat argumen yg bagus re KF-X, atau Sukhoi, kenapa, dan bagaimana begitu menguntungkan untuk kebutuhan Nasional?

      Lebih penting lagi, jangan terlalu banyak mimpi!
      Sudah saatnya berkenalan dengan kenyataan, dan mendahulukan kebutuhan Nasional!

      Masa kita sampai 100 tahun hanya mau dijajah untuk sekadar menjadi pemakai?

      Belajarlah!
      Jangan kebanyakan baca berita hoax!

      Delete
    4. Saya yg kurang pas dgn Sukhoi, knp setiap kerusakan hrs diperbaiki ke luar, berarti kita tdk mendapat TOT, anggaran terkuras, dan bgm klo terjadi perang yg sesungguhnya, apakah hrs menunggu perbaikan yg diluar dtg..

      Delete
    5. ## Dalam konflik yg sesungguhnya, sy sudah pernah menghitung simulasi berikut:

      48 Sukhoi akan bisa dibantai dalam waktu 3 hari.

      Hampir separuh Sukhoi tidak akan lagi bisa terbang, karena butuh "perbaikan mendalam".

      ## Dalam simulasi diatas kedua pemerannya adalah Gripen-E vs Sukhoi Su-35K, dengan asumsi kemampuan tempur keduanya seimbang, tetapi kenyataannya tidak begitu.

      Gripen jauh lebih unggul dalam segala hal dibandingkan Su-35K versi downgrade, dan tidak hanya disana.

      ## Persenjataan utama Sukhoi adalah RVV-AE missile versi export, yang adalah versi downgrade dari R-77, yang tidak pernah dibeli, atau dites secara intensif oleh AU Russia sendiri.

      Tom Cooper menuliskan R-77, atau RVV-AE missile ini hanyalah "dud" -- tidak akan bisa bekerja.

      ## Kenyataannya kita sudah melihat sendiri, "Anda boleh cinta Sukhoi, tetapi Moscow, dan Sukhoi-nya tidak akan pernah mencintai anda!".

      Sejauh ini sudah terlihat, mereka tidak akan pernah mempercayai Indonesia untuk bisa melakukan maintenance berat Sukhoi. Alasannya akan mudah, beberapa perlengkapan akan disebut terlalu "rahasia", dan tidak boleh disentuh.

      Padahal hanya Versi Export Downgrade.

      Terus mengoperasikan, atau mencoba membeli tambahan Sukhoi, hanya akan menjual martabat, dan kedaulatan negara ke supplier asing!

      ... dan membuat para perantara (ini jalur resmi) yg akan mengetok komisi atas biaya perbaikan, dan harga spare part bersorak-sorai gegap gempita!

      ## Inilah kenapa kita kembali ke titik awal.
      Tidak hanya akan menguras anggaran, dan mempermalukan negara, efek gentar Sukhoi akan terjamin 100% nihil.

      Delete
  6. Pemberitaan AU Bulgaria tentang akuisisi 8 Gripen C/D kayaknya berita yang missed

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Bulgaria memang beritanya: menyewa Gripen-C/D adalah pilihan favorit,
      dibandingkan mengakuisisi F-16A/B MLU ex-negara2 Eropa Barat (Belgia, Portugal, Belanda, Denmark, Norwegia).

      Romania, yg mengambil opsi F-16A/B bekas, sudah menemukan kalau harga yg harus dibayar ternyata tidak semurah apa yg diiklankan. Bulgaria kelihatannya melihat dari pengalaman ini.

      Delete
  7. oh tetangga kembalikan FIR & Sipadan ligitan

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Kembali, jangan terlalu banyak bermimpi!

      Akusisi alutsista sebelum tahun 2012 boleh dibilang sebenarnya terlalu serampangan, dan walau sudah terlalu banyak yg dibeli, tetapi selalu tanpa senjata, atau investasi dalam training, dan sistem, untuk menggunakannya dengan baik.

      Ini sih namanya bukan modernisasi, atau memajukan kemampuan militer...

      Sekarang pesta asal beli alutsista sudah berakhir!

      Alasannya mudah: kemajuan ekonomi sudah melambat terutama karena faktor2 global, sedang kurs US$ sudah melambung dari angka Rp 8,000 sebelum 2012, menjadi bertengger di kisaran $13 - 14,000 sekarang.

      "Hahaha, kita kan mau beli dari Russia..."
      Yah, FYI, Rosoboronexport selalu melakukan transaksi dalam USD, dan mengetok profit margin yg tinggi, apalagi ke negara pengkhianat yg dulu pernah menghibahkan MiG-21F-13, dan beraneka ragam perangkat ex-Soviet lainnya ke United States.

      Inilah saatnya instrospeksi diri dahulu, dan mengkaji perencanaan strategis dengan kepala dingin.

      Untuk apa terlalu banyak membeli "macan ompong"?
      Contoh Sukhoi -- tanpa persenjataan 10 tahun, tanpa simulator, dan maintenance sendiri saja tidak bisa, harus di sub-contract keluar?

      Padahal semasa embargo spare part militer dulu, TNI-AU masih bisa mengudarakan 2 F-16 bersenjata lengkap untuk menghadapi 5 Hornet US Navy dalam Insiden Pulau Bawean kok!

      .... Sukhoi perbaikan sendiri saja nggak boleh! Amit-amit!

      Mari kita berharap kalau untuk akusisi selanjutnya, pemerintah akan mengharuskan semua supplier asing untuk terlebih dahulu tunduk kepada semua persyaratan UU no.16/2012!

      ... setiap pembelian harus selalu mendahulukan ToT, dan kerjasama industrial.

      Kebutuhan Nasional lebih penting dibanding keinginan semata!

      Delete
  8. Oh ya bung GI... kita kan udah punya f16 sekitar 30an, dan apakah mungkin mengudara sampai akhir 2030an.... ???

    F16 juga harus diupgrade ke yang lbih baik lagi, karna jelas F16 tulang punggung udara kita dibanding sukhoi..


    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang benar.

      F-16 adalah default penjaga nusantara sejak tahun 1989

      Sukhoi yang gampang rusak tidak pernah berhasil menggantikan F-16, ataupun A-4 Skyhawk, karena sejak 2003 selalu bermasalah. Keempat unit pertama yg skrg mangkrak, sistem komunikasinya dulu diberitakan tidak compatible, jadi tidak sering dioperasikan.

      Lagipula seperti kita tahu, persenjataan Sukhoi juga masih telanjang sampai 2013 --- biaya operasional mahal, tapi kemampuan tempur nihil.

      Eh, sudah begitu masih bisa membuat klaim kalau di Pitch Black-2012, Sukhoi lebih unggul dari F-18 Hornet / Super Hornet RAAF Australia ?!?

      Pilot Australia bisa berlatih lebih dari 200 jam terbang per tahun, tambah ratusan jam lagi di simulator.
      AU mereka salah satu yg pertama di dunia.
      Sistem tempur mereka juga sudah berevolusi terus-menerus sejak tahun 1917, dan memupuk banyak pengalaman baik dalam latihan mancanegara, atau partisipasi dalam misi tempur NATO di Iraq, Kosovo, Iraq II, dan di Libya,

      Kesemua pespur mereka state-of-the-art; jauh lebih modern dalam segala hal, terintegrasi dalam satu network, dan jumlah missile mereka ratusan (waktu itu) AIM-9X, ASRAAM, dan AMRAAM-B/C.

      Inilah kenapa cukup gila kalau berpikir Sukhoi bertehnologi tahun 1980an, lebih unggul daripada Hornet / Super Hornet Australia.

      Pilot Russia, yg memakai Su-27SM versi lokal saja belum tentu bisa menang, apalagi dengan hanya dipersenjatai.... "crappy missile" R-27, dan R-73 yg sudah terlampau kuno.

      Sukhoi terlalu banyak membuat mimpi yg mustahil, daripada punya keunggulan nyata seperti F-16, yang terlalu dianggap remeh.

      ## F-16 Block-25+ sudah melewati program regenerasi / modermisasi MLU, seharusnya bisa beroperasi sampai sekurangnya 2035.

      F-16 A/B Block-15 dari original batch katanya mau melewati program regenerasi / modernisasi yg serupa, tp sampai sekarang belum dilakukan -- kemungkinan sampai 5 unit Block-25+ yang terakhir diantar tahun ini.
      Ini sih sebaiknya tidak ditunda2, karena 1 F-16 C/D akan dapat melakukan tugas 4 Sukhoi.

      ## Seperti diberitakan diatas, sekarang USAF sudah men-sertifikasi pemanjangan usia lifeframe F-16 sampai ke 12,000 jam..

      Kalau Sukhoi dipensiunkan dini, atau mau nggak mau hanya akan semakin rusak parah dengan sendirinya, yah, F-16 bisa mengambil alih tugasnya dengan mudah.

      Paling tidak sampai akhirnya, semoga pemerintah memutuskan membeli Gripen!
      :)

      Delete
    2. Menghayal dulu lah bung :)
      Kayaknya pesawat yg kita beli itu hibah F16 kalau engga T 50 ditahun 2012.. sukhoi santer di beritakan dari 2014 dan lawanya adalah EF Tyohoon dan sampai saat ini belum ada deal yg berkelanjutan... nah itu uang kalau dikumpulin dari tahun 2014 -2018 kira2 dapat apa ya bung... kayaknya AU kita tidak belanja terlalu banyak akhir2 ini... hehe andai setahun ada dana $1,2 milyard usd kayaknya udah bisa buat beli 2 skuadron full acecoris dan Aew&c .. oh ya bung, soal targeting sniper pod ( kirain dulu udah pesen ) apa tambah beli lagi bung ??

      Delete
    3. Bung endo,

      Akuisisi alutsista biasanya jarang bisa beli cash langsung, pasti akan selalu lewat financing.
      Anggaran pertahanan, biasanya tidak dibuat untuk "menabung" dana membeli alutsista.

      Anggaran Indonesia saja, proporsi terbesar dialokasikan untuk membayar personil, kemudian infrastruktur / fasilitas yg ada, dan untuk maintenance alutsista.

      ## Kalau (menkhayal) memang tujuannya hanya mau membeli, dan kemudian mengoperasikan sebanyak mungkin pespur --- yah, Gripen pilihan paling murah.

      Harga per unit Gripen, menurut beberapa sumber, lebih murah dibandingkan F-16, dan kemudian....

      Untuk membayar biaya operasional 64 F-16, negara pembeli bisa membayar biaya operasional 100 Gripen.

      Untuk membayar biaya operasional 16 Sukhoi, biaya yg sama bisa membiayai 120 Gripen, dan jauh lebih banyak jam terbang.


      ## Selain Sniper pod, seperti diatas, kita sangat membutuhkan pembelian lebih banyak AIM-9X Block II, dan AMRAAM C-7, kemudian tahap selanjutnya JDAM, kalau diperbolehkan.

      + Investasi yg dibutuhkan sekitar $200 juta.

      Tetapi daripada F-16 dibiarkan tak bersenjata, kemudian masih mau beli tambahan 16 macan ompong?

      + Kebutuhan selanjutnya yg lebih mendesak: Meng-upgrade ke-10 F-16A/B agar spesifikasinya paling tidak sebanding dengan F-16 Block-25+, dan memperpanjang usia airframe agar bisa terbang 25-30 tahun lagi.

      Delete
  9. kabar terbaru , pengadaan su 35 terbentur ToT dan offset , imbal dagang pun juga Rusia nampaknya keberatan padahal mereka udah bertemu di jakarta tanggal 4 mei kemaren...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita seharusnya mempertanyakan kenapa Kemenhan masih coba nego Sukhoi?

      Daripada membahas offset, atau ToT, lebih baik pertanyakan dahulu hal berikut:
      Bisa tidak transaksi tanpa perantara?

      Belum apa2 saja, sudah akan merugikan negara 20-40%.

      Delete
  10. Admin, Menhan RI Ryamizard Ryacudu ada di Swedia sama 5 direktur industri pertahanan strategis ngebahas alih teknologi sama partnership, sama nyebut tentang prospek Jas-39 Gripen buat ngegganti F-5 E, apakah ini pertanda admin ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama delegasi TNI-AL juga ngirim tim ke Golcuk shipyard buat evaluasi Type-214 class kayaknya kita mulai pintar menilai segalanya.

      Delete
    2. Kita lihat saja.

      ## Untuk Type-214, sebaiknya sih tidak terburu2, mengingat ke-3 Changbogo saja belum mulai resmi mencapai IOC.

      ## Untuk Gripen --- kembali harus ditekankan disini, kita tidak akan pernah bisa mendapat tawaran yg lebih baik.

      Kita beruntung karena sedari awal, Saab sudah menggarisbawahi kalau kerjasama secara industrial, dan tehnologi, sebenarnya adalah bagian dari strategi global mereka untuk tetap selangkah lebih mau daripada yang lain.

      Mereka satu2nya yg menawarkan komitmen penuh ke UU no.16/2012, dan kebetulan baik biaya operasional, kemampuan, atau fleksibelitas platform Gripen juga.... paling sesuai dengan kondisi Indonesia.

      Kita tunggu saja.
      Semoga ini menunjuk ke arah yang benar.

      Delete
  11. indonesia non blok utk laut natuna menggunakan alutsista doktrin barat sedangkan utk malingsia beruk, singaporn & aushit menggunakan doktrin rusia jd jgn katakan ini gado gado, krn nggak ada data link atau mini awacs, utk udara yg terdepan heavy figgter SU-35/ keluarga sukhoi, lapis kedua medium fighter di isi F-16 V & lapis terakhir di isi FA-50

    ReplyDelete
    Replies
    1. .... dan selamat terus bermimpi!

      ## Tentu saja, armada gado2 Sukhoi -F-16- FA-50, semuanya model downgrade yg tidak compatible satu sama lain, dan akan mendongkrak biaya operasional sampai 50% lebih mahal, berarti efek gentarnya "akan terasa".

      ## Tanpa adanya Networking, atau IFF yg compatible, berharap saja Sukhoi, dan F-16 tidak akan saling sikat dalam konflik.

      ## "Bubarkan saja industri pertahanan lokal, kalau tidak mau memakai!"

      ## Sementara itu, para perantara Sukhoi akan terus memerah habis2an anggaran yg ada, dan bersorak-sorai gembira: terima kasih atas dukungan buta anda!

      Delete
    2. Nah ini kegilaan tanpa konsep berpikir yang wajar. Coba baca sendiri terus mikir waras enggak Su-35 terus mau dicampur F-16 V sama FA-50, masalah dari statement anda : 1) F-16 V aja udah superior dari Su-35 & FA-50, 2) Fungsi F-16 V sama Su-35 adalah multirole, bodoh banget kita kalau dua duanya diakuisi, 3) F-16 V atau F-16 E/F Block 70/72 merupakan varian tercanggih F-16 yang dipersiapkan untuk network centric warfare, liat aja di di wingnya menurut konsep bisa dipasang jammer, dipersiapkan Link-16 untuk koneksi data link AWACS, sama FFI Bird slicer di moncongnya, TOLOL banget ngoperasiin F-16 V tapi tanpa data link & AEWC/AWACS platform. Ini abad 21, zamannya network centric & electronic warfare jangan konyol lah. Doktrin Russia dibilang non-block bullshit lah itu, untuk informasi aja Swedia bukan anggota NATO dan juga bukan pro-Russia, itu yang baru non-Block sejati.

      Delete
    3. lagi2 logika aneh fansboy shukoi yg entah siapa yg memulai "alutsita barat buat ngadepin cina dan alutsiata rusia buat ngadepin aus/sing"

      WTF???? cuy bukan masalah barat vs rusia tapi efektif g tuh alutsista pas kita ngadepin konflik beneran dan ini butuh kajian medalam bukan sekedar rusia/barat strong

      Delete
    4. bulan kemarin TNI AU mengirim team ke RTAF thailand , mereka mau mempelajari sistem hankam Thailand yg udah terintegrasi AD.AL.AU mereka, di asean hanya singapura dan Thailand yang mempunyai sistem pertahanan terintegrasi 3 matra,, sementara Thailand mendapatkan .......teknologi tsb dari Saab ...kita udah ketinggalan brooo , masih mengaku2 klo kita yang terkuat di ASEAN ? ...Natuna sebagian wilayah laut kita diklaim pihak RRC dgn dimasukkan ke dash nine itu ? tak mungkin kita berpihak ke RRC yg didukung Rusia , ini bukan tahun 60 an bung ......

      Delete
  12. Dark Rider kenapa sih kebanyakan netizen Indonesia punya sentimen negatif sama hal yang berbau Militer USA yang katanya"kalau kita F-16 Hibah dia pasti ditanamkan sesuatu.di F-16 Hibah katanya ada alat penyadap biar F-16 Hibah TNI AU disadap".
    Terus produk AS rawan Embargo padahal pesawat CASA 212 aja menggunakan Honeywheel produk USA untuk pembuatan Landing Gear.emang ada Russia membantu PTDI?kan enggak ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. CN-235 yang produksi lokalpun memakai mesin General Electric CT-7, dan avionic-nya produksi Honeywell.

      ## Kenapa netizen keki dengan buatan US?
      ==============
      Jawabannya, karena masih phobia embargo tahun 1998 - 2005.

      Eh, tetapi malas mempelajari sebab kenapa embargo itu terjadi, dan kenapa sekarang sudah mustahil bisa terjadi lagi.

      Kenyatannya:
      + hubungan bilateral US - Indonesia sekarang sangat bersahabat.

      Nilai perdagangan Indonesia - US saja sudah mencapai total $25 milyar+, dengan net surplus $8 milyar utk ekonomi Indonesia.

      + Semua negara sahabat Indonesia, mulai dari Australia, Saudi Arabia, Singapore, Malaysia, Yordania, Filipina, Korea, Jepang, UAE, Qatar juga hubungannya bersahabat dengan US.

      Jepang, Korea, Australia, dan negara2 ASEAN juga terbilang partner bilateral dalam perdagangan internasional.

      ## F-16, walaupun juga hanya model downgrade, sama seperti Sukhoi Kommercheskiy, sebenarnya adalah simbol kegigihan, dan perjuangan di masa kesulitan embargo.

      Seperti diatas, TNI-AU tetap bisa membuat F-16 operasional semasa embargo, walau mesti kanibalisme spare part.

      Sedangkan Sukhoi?
      Tanpa perlu embargo-pun, hanya butuh 5 tahun sebelum mulai rusak berat dengan sendirinya.

      Dan tidak seperti F-16, tehnisi Indonesia tidak diperbolehkan memperbaiki sendiri.

      Cinta kepada Sukhoi memang hanya bertepuk sebelah tangan.

      Delete
  13. Bung GI, Ada berita dimedsos Bahwa Pak Ryamizard Ryacudu kembali Di Undang ke Swedia, Pak Ryamizard Tertarik dengan Alutsista Buatan Swedia, Terutama Saab JAS-39 Gripen. Bagaimana Menurut Admin tentang berita ini??


    ReplyDelete
    Replies
    1. Siip... Kemaren baru membaca beritanya di AntaraNews.

      Sebentar lagi artikel ini akan di-update.

      Delete
  14. @ariev wahyuni

    Pembelian Sukhoi Hanya Menguntungkan Bagi Cukong-Cukong Aseng dan Bos Besar Komisi Perantara. Efek gentarnya Bukan ke arah Luar, melainkan Ke Dalam alias merongrong Uang Rakyat. betulkan Bung Admin??

    ReplyDelete
  15. tambahan berita lagi :

    PT PAL sedang Mengerjakan Proyek Kapal KCR60M batch Kedua, total kapal KCR60M Yg diperlukan Sebanyak 35 Unit. Namun Untuk Persenjataan Dan Teknologinya kali ini Berasal Dari Eropa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus.

      Karena sebelumnya memakai missile cangkokan asal PRC memang kualitas abal-abal.

      Delete
    2. Itulah sebenernya rumornya udah lama kalau kita bakal modifikasi KCR-40 & KCR-60 katanya bakal mirip Orkan class fast craft waktu even pertengahan september 2016 di Gdansk, Polandia, jadi CMS nya dari SAAB untuk misilnya RBS-15 Mk.3, main gunnya pakai meriam Bofor Mk.3, radarnya Giraffe cuma tinggal CIWS-nya pakai dari blok timur AK-630 CIWS ga pa pa lah asal bisa konek.
      Kalau bisa diwujudin untuk 35 atau 43 unit ( beda sumber ), bisa tuh sekali mancing dapat berbagai proyek goal; 1) Proyek KCR yang mantep, 2) Program rudal nasional lewat RBS-15, 3) Program radar nasional lewat Giraffe, 4) Penyempurnaan CMS Mandala lewat ToT CMS dari SAAB, 5) proyek main gun buat TNI-AL cuma ini ke BAE system entah ada hubungan enggak sama SAAB soalnya sama2 dari Swedia. Terus nanti kabarnya kita mau nambah PKR 10514 3 biji setelah persenjataan buat 2 PKR dateng tahun ini, kayaknya untuk 3 ini masih ngikut original design tapi nantinya yang ke-6 mau dimodifikasi dengan kontraktor SAAB ( baru rumor ), bisa garang itu jadinya kalau pakai RBS-15 Mk.3 buat SSM sama bikin modifikasi untuk RBS-23 SAM tapi berarti PKR kita bakal pakai radar Sea Giraffe & CMS dari SAAB atau enggak tetep dari Thales tapi dimodifikasi source code asalkan masih standar NATO kayaknya masih bisa sih.

      Delete
    3. izin modifikasinya katanya ke Damen Schelde, mereka sih setuju aja soalnya kita beli lisensi buat 20 biji PKR 10514 kayaknya buat ngegganti Van Speijk class sama Parchim class, baguslah yang satu udah terlalu lama yang satunya dipaksa biar cocok buat Indonesia.

      Delete
    4. PKR 10514 pada dasarnya adalah modular design yang bobotnya atau tambahan volume bisa dilakukan cuma iya biaya risetnya tidak murah. Kita untuk apa Gowind 2500 lha persenjataannya aja sama kok sama Sigma 10514 bedanya VL buat Gowind ada 16 sedangkan Sigma 10514 12 selebihnya sama, gak efektif dong kalau kita mendadak swing ke DCNS Prancis buat Gowind 2500. Memang ada program buat 6 - 8 medium / heavy frigate bisa jadi Iver Huitfeldt , Absalon, De Zeven Provincien atau modifikasi PKR 10514, malah kunjungan Presiden Francois Hollande kemarin juga bicara tentang Belharra class medium frigate yang mungkin paling masuk akal dan ekonomis

      Delete
  16. Bung GI dan bung DR artikel dan komen anda gak ada yg mutu sama sekali. Saya berharap Indonesia tidak membeli gripen yg merupakan pesawat abal2.
    Lebih baik beli EF atau SU-35 sebagai heavy fighter dan f-16 v sebagai medium fighter sambil menunggu realisasi kfx/ifx.
    Gripen pespur abal2 yg mudah ditepuk spt nyamuk itu kenyataannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. pff gripen C menang mudah lawan J-11 yg merupakan hasil lisensi Su-27 dgn avionik yg lebih canggih dan mesin yg lebih kuat FAKTA N KENYATAAN

      fakta ente cuma fakta kosong

      Delete
    2. Bung @Choko,

      Silahkan anda menulis argumen yang valid, setelah melihat beberapa fakta dibawah ini.

      ===================
      Di satu sisi, pesawat favorit fanboys; Su-35K Super Flemon:
      ===================
      ## ... Versi Export downgrade, yang terjamin akan di-downgrade habis2an,

      ## Ukurannya raksasa, dengan RCS besar, dan dua mesin panas,

      ## Juga dipersenjatai dengan dua missile versi export: RVV-AE, dan R-73E.
      Catatan: AU Russia tidak pernah memakai R-77, versi lokal dari RVV-AE, melainkan missile kuno R-27

      ## Hanya mempunyai radar Irbis-E PESA single-frequency, yg gelombang radarnya mudah terlihat RWR lawan,

      ## Biaya operasionalnya terlalu mahal (20% masuk kantong perantara), sehingga akan selalu memastikan pilotnya akan kurang jam terbang, dan juga...

      ## Bisa dipastikan gampang rusak, dan senang "perbaikan mendalam", dan terakhir...

      ## .... sebenarnya masih berbasiskan tehnologi edisi sebelum tahun 2008, dan upgrade-nya minimal.

      =============
      Sedangkan, di satu sisi kita melihat Gripen-E:
      =============
      ## Bukan rongsokan versi Export Downgrade.

      ## Low-observability; RCS, visual, ataupun Infra-Red

      ## Kemampuan manuever sudah dinilai salah satu yang terbaik didunia, karena pespur single-engine design dengan drag rate kecil, ratio ukuran sayap : fuselage yang luar biasa tinggi, dan superior flight control dari konfigurasi delta-canard.

      ## Mempunyai kemampuan supercruise

      ## Diperlengkapi Integrated Defense Suite yang paling modern di dunia, berbasiskan GaN (Gallium Niitride) jammer, untuk menangkal semua missile manapun.

      ## Secara tehnologi paling up-to-date, dan paling mudah untuk di-upgrade di seluruh dunia

      ## Superior Situational Awareness dari Sensor Fusion, TIDLS fighter-to-fighter network, dan National Networking

      ## Source Code Control, berarti semua flight mode, dan radar mode akan tersedia untuk Indonesia, tanpa ada satupun juga yang disensor.

      ## Biaya operasional 40% lebih murah dibandingkan F-16, dan dapat terbang berkali-kali dalam sehari --- menjamin kalau pilotnya akan bisa mendapat sekurangnya 20x lipat lebih banyak jam latihan dibandingkan Sukhoi "gampang rusak" Flemon.

      Pernah main game online? Lihat betapa cepatnya pemain yang veteran dapat membantai newbie? Demikian juga dalam pertempuran udara.

      ## Tentu saja, akan disponsori dengan 100% Technology Transfer, dan keuntungan kerjasama industrial jangka panjang dengan Indonesia.

      ====================

      Nah, silahkan menulis artikel yang bagus tentang bagaimana rongsokan Su-35K, bisa mengalahkan Gripen-E!

      Nanti baru kita bisa melihat bersama, apakah argumen sy yang lebih valid, ataukah argumen anda!

      Delete
    3. Ngakak bakal banyak butthurt Russian fanboys ke sini gara gara Menhan kita ke Stockholm.

      Delete
    4. This comment has been removed by the author.

      Delete
    5. Iver Huitfeldt itu punya Denmark bukan Swedia, shipyard-nya ada di Odense, Dane bukan di Kockum, Swedia. RBS-15 punya SAAB, Swedia kita beli misil tanpa platform peluncur TOLOL banget, kalau ngomong misil kok yang diundang PT.Len kan udah ada biro lain kayak PT.Dahana. Kalau ngehayal jangan konyol, liat aja artikelnya udah bicara Jas 39 Gripen. Analisa penuh delusi diketik saat keadaan mental delirium kok diungkapkan Bung Choko

      Delete
    6. lihat surface fleet AL Swedia, kalau mau ngomong Iver Huitfeldt yang datang Kopenhagen lah bukan Stockholm lah itu aja udah salah, terus RBS-15 bisa untuk platform naval based & air to ground based, kalau cuma ngomong RBS-15 tanpa ngomong platformnya janggal lah, ini aja udah banyak yang gak jelas dari statement anda, okelah PT.Len buat berbicara guidance tech, inersia, infra red & radio frequency seeker dalam suatu misil sedangkan container sama propellant kerjasama kita dengan Prancis yang lagi on going, bisa kamu sebutin kenapa ada 5 direktur inhan strategis dibawa untuk bicara alih teknologi. Bodoh kok bangga

      Delete
    7. saya dari dulu emang udah paham. Iver Huitfeldt misil dan segala isinya dari US baca aja. Cuma iya modular design dan bisa dimodifikasi. Lebih baik memahami daripada trolling. Salam damai

      Delete
    8. Komenmu yang sebelumnya udah didelete cuma ngomong soal realisasi Iver Huitfeldt tapi gak bicara soalnya jeroannya.

      Delete
    9. Iver Huitfeldt yang konten isi dalam kapalnya cuma fire control aja dari SAAB gak perlu sampai Menhan datang dan salah tempat harusnya ke Denmark, Iver Huitfeldt dari radarnya yang air & surface nya aja penyedianya dari Thales, misil & persenjataan sebagian besar dari US dari Harpoon, dll. Gak masuk akal ke Swedia untuk bicara Iver Huitfeldt kalau ke Denmark oke saya percaya sama sekalian Knud Rasmussen OPV. Ini aduh, kayak ngarang jadinya.

      Delete
    10. logikanya kalau mau ngomong soal modifikasi Iver Huitfeldt ke SAAB kirim aja tim ke Kockum atau Linkopping, untuk apa Menhan kita ketemu Menteri Peter Hultqvist buat barang yang sama sekali bukan Swedia, nalar aja ini pasti sesuatu yang lain dan menjadi ciri khas Swedia, apa lagi ?

      Delete
  17. Pespur yg ukurannya Kecil Seperti Gripen dan F16, Justru sulit ditembak jatuh. karena RCSnya Kecil, dan Efektivitasnya cukup Tinggi. dan Persenjataannya Lebih battle proven.

    Su 35, Pesawat Tempur Abal abal alias Jadul nan Jauh Ketinggalan Zaman, persenjataan kuno, RCSnya Besar, malahan Justru sangat Mudah ditembak jatuh.

    ReplyDelete
  18. Pesan terakhir kepada anda yang masih terus mendukung Sukhoi:

    ## Sebenarnya anda semua ini lebih mendukung kebutuhan para supplier, dan para perantara, atau mendukung kebutuhan Indonesia?

    ## Apakah anda tidak mau mendukung kemajuan industri pertahanan dalam negeri?

    ## Apakah anda senang sekali melihat para supplier, dan para perantara menginjak-nginjak UU no.16/2012, yang sebenarnya dituliskan untuk memajukan, dan melindungi industri dalam Negeri?

    ## Apakah anda begitu menginginkan negara kita ini terus dijajah dengan Model versi export downgrade?


    Bertobatlah!
    Sudah saatnya belajar mendukung Indonesia, dan bukan supplier, apalagi yang cuma mau menjual rongsokan dengan harga mahal!

    Kalau Saab tidak pernah memberikan tawaran yang menggariskan komitmen ke UU no.16/2012, dan kalau Gripen memang sama sekali tidak sesuai dengan kebutuhan Indonesia, maka blog ini tidak akan pernah dituliskan!.

    ============
    Ini peringatan terakhir!:
    ============
    Pos berikutnya yang kosong "Su-35 strong..." dll, tanpa ada argumen yang valid akan dihapus dari blog ini.

    Silahkan berdebat sendiri dengan semua kenyataan dalam artikel ini:

    Kenapa efek gentar Su-35 Versi Export akan terjamin 100% NIHIL.

    Kalau memang tidak mau belajar, tetapi masih terus bermimpi, atau belajar mengalahkan burung beo; Silahkan kunjungi blog mimpi yang lain!

    ReplyDelete
  19. Bung DR yg selalu dirundung kegelapan.

    Saya cuma mau tanya 2 hal pd anda utk bisa anda buktikan

    1. Jika Sukhoi yg kita dan akan kita beli adalah downgrade, bisa anda buktikan.? Apakah anda lihat sendiri speknya di downgrade.? Apakah anda menyaksikan dng mata kepala anda sendiri di lanud hasanuddin bahwa Sukhoi kita speknya downgrade.? Atau hanya berdasarkan referensi dari link abal2. Jika hanya berdasarkan link abal2 dan bukan dari mata kepala anda sendiri yg melihatnya, sebaiknya stop bicara tanpa fakta dan realita Lapangan. Jng mempersempit ruang pandang para fans boy alutsista. Krn saya yakin anda hanya betdasar teori2 yg anda adopsi dr link2 yg kurang bisa dipertanggung jawabkan dan cenderung menilai tidak berimbang.

    2. Berapa banyak jumlah SU-30 yg ada didunia dan dipakai berapa negara, bandingkan dng Gripen rongsokan berapa banyak didunia dan berapa negara yg mengoperasionalkannya.? Dan berapa banyak EF typhoon serta F-16 versi diatas blok 52 yt dipakai diseluruh dunia.? Lalu tolong buat urutannya. Posisi urutan keberapa gripen rongsok anda. Tolong anda jelaskan beserta alasannya.
    Tidak perlu kita berteori tentang kecanggihan gripen sebelum anda beberkan fakta lapangannya. Bagi saya gripen akan mudah ditepuk bagai nyamuk apalagi jika berhadapan dng F-16V. Krn kenyataannya gripen hanya bs disejajarkan dng pespur JF Sulfurnya China dan Pakistan. Saya tunggu penjelasannya yg real berdasar fakta lapangan yg bung. Jng pake ngeles.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semuanya sudah dituliskan sebelumnya, beserta referensi lengkap:

      1. Memahami Versi Export Downgrade

      2. Efek gentar Nihil Su-35K

      Silahkan berdebat dengan fakta kalau Soviet, kemudian Russia tidak menjual barang downgrade, apalagi ke negara pengkhianat yang pernah menghibahkan MiG-21F-13, dan semua perangkat ex-Soviet ke United States.

      Sebagai gantinya, Indonesia kemudian mendapat hibah T-33, CAC-Sabre, dan OV-10 Bronco, dan dinobatkan sebagai sekutu dekat US, dan Australia semasa Perang Dingin.

      Belajar research!
      Semuanya pengetahuan umum!

      Delete
    2. Kalau membutuhkan penjelasan lebih lanjut, kedua point itu mempunyai Link, yang anda bisa klik, dan kemudian membaca sendiri.

      Delete
    3. masih g percaya silahkan googling dgn keyword "russian monkey model" itu sudah bukan rahasia lagi tapi sudah jadi pengetahuan umum

      Delete
    4. satu lagi ente mau debat atau beda pendapat di blog ini silahkan tapi dgn cara elegan disertai fakta dan bukti tapi kalau ente ngomen dgn cara kampungan khas kebanyakan penghuni JKGR siap2 aja dibully
      disini logika dan fakta yg jadi refrensi bukan sekadar fanatik buta

      Delete
    5. This comment has been removed by the author.

      Delete
  20. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  21. Ada perbedaan antara trolling, dan mencoba memahami isi artikel, kemudian mengajukan komentar, atau pertanyaan yang membangun.

    Meningat bung @Choko Poliplant hanya membutuhkan waktu 3 menit, untuk secepatnya menulis komentar berikutnya, sudah jelas kalau anda sama sekali tidak mau membaca artikel.

    Kalau tidak mau belajar, ya sudah!
    Untuk selamanya, kalau dibilangin api itu dingin ya, akan selalu percaya.

    Dan kelihatannya memang anda sudah jatuh cinta buta ke Sukhoi, dan menobatkan diri mendukung supplier, seberapapun jelek produknya.

    Komentar anda yg berikutnya, kalau sifatnya tidak membangun, dan dengan demikian dinobatkan sebagai trolling, akan segera dihapus tanpa peringatan lagi.

    Seperti diatas, sebaiknya anda trolling di blog, atau forum lain.
    Salam.

    ReplyDelete
  22. Saya mau kasih tau nih sebetulnya Fansboy Sukhoi sama seperti Weaaboo yang fanatik dengan Jejepangan(Tapi ane sendiri juga suka Anime tapi sukanya SAO aja)
    Intinya semua negara (Mau USA,Russia,PRC,dll) semua juga punya positif dan negatif

    ReplyDelete
    Replies
    1. Contoh:
      Fansboy Sukhoi:membeli SU-35 berarti kalian mendukung komisi perantara,Memeras Uang Indonesia dan tidak ada perakitan di PTDI,Dan mendukung sepak terjang negara tersebut di ajang Internasional
      Weaboo:Suka fanatik dengan Budaya Jepang suka lupa budayanya sendiri

      Delete
  23. Kalau mau liat kabar - kabar update liat di janes.com atau defense.pk/Indonesia supaya gak meracau kemana - mana, terus bawa kesini yang relevan buat didiskusikan

    ReplyDelete
  24. Klo boleh memilih, saya akan memilih Rafale dan Gripen, krn akan mendapat TOT yg maksimal, klopun nanti diembargo kita sdh bisa merawat pespur tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul,

      Inilah masalah yg sepertinya masih kurang dimengerti.

      Transfer-of-technology, dan kemampuan mandiri untuk support pespur secara optimal, jauh lebih penting dibandingkan upaya mencampur-aduk supplier Barat-Timur, seperti yg diterapkan 10 tahun terakhir.

      Kemandirian mengoperasikan, dan men-support pesawat tempur.

      Dalam hal ini, ketiga Eurocanards adalah pilihan yg lebih tepat vs F-16, dan Sukhoi Flemon.

      Kalau dahulu Indonesia membeli Mirage, mungkin sekarang duelnya antara Rafale vs Gripen, sama seperti di Swiss, dan di Brazil.

      Kemudian, salah pengertian yg berikutnya:

      "Embargo" sebenarnya hanyalah satu dari beberapa faktor yg bisa mengacaukan supply spare part militer.

      ## Semisal, taruh kata kita mengikuti contoh skenario hoax kalau suatu hari, entah bagaimana, Indonesia bisa berperang dengan Australia....

      "...makanya kita harus tergantung pada supplier Russia," argumen para pendukung pro-Russia.

      Mereka lupa, kalau untuk mengantar spare part, kapal, atau pesawat angkut dari Russia, harus terlebih dahulu terbang dari arah Utara Indonesia, melewati wilayah udara Thailand, Filipina, Malaysia, dan laut Cina Selatan.

      Kalau kita sampai sebodoh itu perang dengan Australia, tentu saja kapal2 induk US Navy, dan negara2 diatas akan bisa menutup jalur supply chain tersebut!

      Sama saja bukan, hasilnya?

      Kalaupun Russia tidak menjatuhkan embargo, tetap saja tidak akan ada spare part.

      Dan karena tidak pernah ada ToT, yah, semua Sukhoi lebih baik menggali kubur sendiri, daripada menunggu di-bom.

      Inilah yg patut dimengerti kenapa argumen "Russia anti-embargo" itu tidak relevan.

      ## Faktor terakhir, seperti bisa dilihat dari pengalaman India: Rosoboronexport tidak pernah bisa menjamin supply spare part yg konsisten ke negara customer, dengan berbagai macam dalih. Spare part-nya tidak akan pernah ready stock, walaupun India sudah membayar; bukan karena mereka tidak punya uang.

      Supplier yg aftersales service-nya terjamin jelek -- inilah salah satu alasan utama, kenapa Brazil mencoret Su-35K dari kompetisi pespur mereka.

      Tidak perlu ada embargo, spare part-nya... tetap saja tak bisa tersedia.

      Seperti bisa dilihat sendiri dari pengalaman Sukhoi Kommercheskiy di Sku-11, ini sudah jauh lebih parah dibandingkan perjuangan Sku-03 F-16 semasa embargo.

      ## Kembali ke awal, inilah kenapa kita harus mengutamakan kemandirian regional.

      Dan tentu saja, bukan berati tanpa tanggung jawab.

      Tidak akan ada alasan kenapa kita sewaktu2 harus bertengkar dngn negara2 tetangga terdekat; Australia, Singapore, dan Malaysia. Selama ini kita akur, kok.

      Malahan justru sebaliknya, kita harus terus menjalin, dan meningkatkan hubungan kerjasama strategis dan Hankam untuk bersama-sama menghadapi tantangan regional, seperti misalnya.... klaim PRC atas laut Cina Selatan.

      Disinilah kenapa klaim pro-Russia kembali menabrak tembok!

      Alutsista buatan Ruski tidak akan compatible dengan alusista Barat kelas satu, yg sudah dioperasikan Australia, Singapore, dan US Navy.

      Delete
  25. Kemandirian dalam alusista yang paling penting di utamakan,,, klw ada yg mnjamin TOT,biarpun tdk smpai 100%,itu sudah sangat baik dan harus didukung,,,ingat hanya segelintir negara yg bisa memproduksi pesawat tempur,,,seandainya proyek kfx/ifx mangkrak semestinya qt dah punya program lain yang ideal,,klw tidak sekarang kapan lagi, qt dah jauh tertinggal secara twknologi dr negara2 lain,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul.

      Kemandirian.

      Arti kata kunci ini saja, khususnya untuk pespur, tetapi juga alutsista secara umum, sebenarnya cangkupannya cukup luas:

      1. Setiap alutsista harus bisa dioperasikan seoptimal mungkin, tanpa bisa mendapat pembatasan dari supplier.

      Para penjual versi export akan selalu menutup, atau merahasiakan beberapa kartu untuk negara importir. Bahkan F-18F Australia, misalnya, hanya akan dapat melakukan paling maksimum 90% dari apa yg bisa dilakukan F-18F US Navy.

      F-16V atau Su-35K Indonesia, sudah beruntung kalau bisa melakukan 60 - 75% dari apa yg bisa dilakukan versi lokalnya.

      2. Kebebasan untuk bisa memilih persenjataan, atau perlengkapan yg sebaik mungkin tanpa bisa didikte supplier.

      Membeli dari sumber Barat, dan Timur berarti anti-embargo?
      Kesalahan besar.
      F-16 hanya akan diperbolehkan membeli senjata khusus dari US, yg sudah ditentukan export policy mereka.
      Sedang nasib Sukhoi rongsokan jauh lebih parah: hanya boleh membeli senjata downgrade yg tidak pernah dipakai oleh AU Russia sendiri.

      Mencampuradukan supplier berarti harus berharap cemas kalau kita bisa mendapat perlakuan lebih baik dari masing2 penjual. Inilah penjajahan versi post-1945.

      3. Berhenti berpikir kalau kita hanyalah pemakai.
      Supplier harus mau menjadi partner Indonesia, baik secara industrial, tehnologi, dan strategis.

      Dalam status ini, supplier harus berubah bentuk menjadi partner. Persyaratan ini sendiri sebenarnya melebihi apa yg dituliskan terlalu singkat dalam UU no.16/2012.

      4. Membangun kemampuan untuk bisa mengoperasikan alutsista, dalam skenario tidak bisa mendapat support dari luar.

      Bukan phobia Embargo, dan juga bukan berarti lantas memutus hubungan dengan supplier.
      Ini artinya semua level maintenance harus bisa dilakukan didalam negeri, sesuai dengan amanat pasal 43 UU no.16/2012.

      Tidak hanya disana, stock spare part harus mencukupi untuk sekurangnya 1 - 2 tahun ke depan. Dalam jangka menengah-panjang, juga harus ada kemampuan untuk paling tidak bisa memproduksi secara lokal, mayoritas part yang masa pakainya cepat habis.

      5. Tahap selanjutnya mengembangkan kemampuan berinovasi sendiri, dan dapat memasangkan apa yg sudah kita kembangkan sendiri kembali ke setiap alutsista.

      Ini tidak perlu muluk seperti ide membuat pesawat sendiri.
      Contoh yg sederhana sudah pernah dituliskan dalam artikel Skenario Pertahanan Indonesia di Natuna.

      National Networking System yg 100% proprietary Indonesia, yg dalam skenario ini sudah dibangun dari hasil kerjasama dengan Saab.
      Setiap alutsista yg dibeli dalam tahap ini, harus bisa di-customisasi untuk terintegrasi ke dalam National Network.

      Inilah salah satu kunci efek gentar Abad ke-21: bukan seberapa banyak pespur yg bisa dibeli, atau semodern apapun tipe pespur tertentu.

      6. Terakhir, baru bisa mencoba memasuki pasar persenjataan global sebagai supplier yg jauh lebih matang, dan dapat menjamin kualitas / kemampuan.

      Ini sebenarnya langkah yg masih terlalu jauh, terutama dalam sektor dirgantara / pertahanan udara. Dari semua sektor, dirgantara memang yg paling terbelakang dalam industri dalam negeri, terutama karena terus-menerus disabotase "keinginan beli import", tanpa mau mematuhi UU no.16/2012 .

      Delete
    2. Untuk proyek mercusuar KF-X, seperti sudah dituliskan November-2016 yang lalu, sudah semakin tidak kedengaran kabarnya, bukan?

      Proyek ini sih sudah pasti akan mangkrak.
      Bukan lagi masalah kalau, tapi kapan?

      Tentu saja, lebih cepat mangkrak lebih baik, selagi biaya yg dikeluarkan belum hangus terlalu banyak.

      Bukan karena US mem-blok transfer 4-core tehnologi, tetapi karena memang dari segi anggaran, atau perencanaan awalnya saja sudah... terlalu berdasarkan mimpi; tidak realistis.

      Kita akan meninjau kembali nasib proyek ini dalam artikel lain.
      Tetapi untuk masih berpikir optimis proyek Korea, eh, proyek yg skrg nasibnya akan ditentukan pemerintah Trump ini masih bisa jalan... sebaiknya sih, jangan berharap banyak!

      Lagipula, akibat ketergantungan Korea akan tehnologi US, kita tidak akan mendapatkan ToT yg berarti dari proyek ini.

      Delete
  26. Admin katanya kita lagi negosiasi pengadaan 1 skuadron Gripen C/D sama Raja Carl Gustav mau ke Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja.

      Kalau memang mau membeli Gripen, lebih baik memilih Gripen-E, karena timeline delivery-nya akan sesuai dengan waktu mempensiunkan Sukhoi.

      Bukan berarti Gripen-C MS-20 adalah tawaran yg jelek.
      Karena bukan versi downgrade, dan mempunyai keunggulan fleksibilitas, tehnologi, dan fighter-to-fighter Networking; tetap saja akan beberapa tingkat jauh lebih unggul dibanding F-16V, ataupun Su-35K.

      Lagipula kalau dioperasikan bersama Gripen-E dikemudian hari, Gripen-C akan dapat mengandalkan sensor fusion feedback, dan missile datalink dari versi-E.

      Ini artinya, Gripen-C bisa menjadi "blind-shooter"; dapat menembakkan Meteor dari jarak yang lebih jauh dibanding jangkauan radarnya sendiri. Setelah menembak Meteor, bisa langsung kabur.

      Saab mengabarkan Bostwana, (seperti diatas) Bulgaria, dan Slovakia kelihatannya akan membuka kembali lini produksi untuk Gripen-C/D; dan karena lini produksinya sudah mature; mereka akan dapat memproduksi order dalam waktu 12 bulan.

      Delete
  27. RE-POST: Boing boinxMay 11, 2017 at 7:23 AM
    =================

    Memang saya juga sama ngilernya dengan para fans Gripen yang memberikan TOT yang paling besar. Tapi agar bisa berpikiran lebih jernih. Saya mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini:
    -Kenapa mereka mau memberikan TOT sebesar itu? Apakah karena memang tidak laku atau ada hal yang lain?
    -Jika tidak laku alasannya kenapa? Apakah memang mudah dirontokkan?
    -JIka mereka bisa memberi kita TOT sebesar itu lalu bagaimana dengan tawaran kepada negara lain? JIka nantinya tawarannya sama apa tidak mungkin ini akan membuatnya menjadi "pasaran" (baca : mudah diketahui kelemahan-kelemahannya).
    -Apakah benar nantinya TOT yang besar itu bermanfaat besar bagi bangsa ini (baca : pengalaman mobil dari Jepang yang TOTnya juga besar tapi masih saja tetap tidak bisa buat mesin sendiri)
    -Saya sangat setuju sekali dengan poin utama dari Pak Jokowi tentang kemandirian yang dinomorsatukan. Tapi apakah benar dari SAAB ini bisa benar-benar mendongkrak itu?

    =Kurang setuju dengan pendapat anda yang selalu mengkritik tentang biaya-biaya yang dikeluarkan oleh pespur "merk lain". Bagaimanapun bagi saya tidak ada namanya tawar menawar dalam hal keamanan. Bahkan banyak negeri lai n yang menomorsatukan militernya seperti Korut walaupun saya sendiri tidak senang dengan dengan Pemerintahannya tapi mereka tidak berpikir dua kali dalam hal hal anggaran keamanan. Karena bagi saya lebih menenangkan membeli barang yang tahu positif dan negatifnya daripada hanya tahu positifnya saja atau negatifnya saja.

    =================
    Catatan Admin: Dipindahkan ke bawah; karena di atas, komentarnya sudah terlalu penuh.
    =================

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertanyaan anda akan saya jawab satu per satu:
      ============
      Kenapa Saab mau memberikan ToT? Apakah mereka tidak akan rugi?
      ============

      Saya sebenarnya sudah pernah menjawab dalam artikel ini:
      Mencapai MEF tahap II: 32 Gripen-E, dan 2 Erieye.

      Bagian Ketiga.
      ===============
      Pertama-tama, pengertian konsep Transfer-of-Technology itu bukan hanya memberi pelajaran satu-arah seperti dari guru ke murid, tetapi konteksnya secara industrial, adalah untuk menjalin partnership.

      Tidak seperti proyek mercusuar KF-X, dimana segala sesuatu ditentukan secara sepihak oleh "partner" Korea; partnership dengan Saab akan menciptakan hubungan timbal-balik, yang sifatnya dua arah. Keuntungan dari pihak yang satu, akan selalu bisa menular kembali ke pihak yang lain.

      Semisal, kita dapat mengambil contoh pembuatan National Networking, untuk mengintegrasikan semua Alutsista, baik radar, maupun semua di udara, darat, dan laut, dalam satu Network. Untuk menjalankan proyek ini, Saab akan berpartner dengan beberapa industri Indonesia. Partner utamanya, kemungkinan adalah PT LEN, dan beberapa sub-contractor lain.

      Saab sebenarnya baru akan memetik keuntungan, kalau proyek pertama ini sukses:

      ## Pertama adalah, bagian % profit dari hasil proyek, yang dibagi bersama antara Saab, dan perusahaan-perusahaan lokal. Ini sebenarnya sama seperti kalau TNI sekarang membeli CN-235; beberapa % profit akan masuk ke PT Dirgantara Indonesia, sedangkan sebagian tetap saja masuk ke partner EADS Casa.

      ## Kedua, kesuksesan proyek ini akan menjadi kunci yang akan bisa direplikasi dalam lebih banyak proyek lain di masa depan. Lebih banyak pekerjaan untuk industri lokal lagi, bukan? Dan tentu saja, lebih banyak lagi pekerjaan untuk Saab dalam masing-masing proyek.

      ## Terakhir, kesuksesan setiap proyek di Indonesia, akan menjadi marketing tool yang baik untuk Saab dapat menawarkan paket kerjasama yang serupa ke negara lain.
      ==============

      Seperti sudah dicetuskan Ulf Nielsson dalam acara peresmian Gripen-E, 18-Mei-2016:

      "Partnership, menjalin kerjasama, dan saling membagi tehnologi, adalah bagian dari strategi global Saab. Kami tidak melihat ini sebagai ancaman."

      Tawaran kerjasama bukan berarti Saab begitu tidak percaya diri, lemah, atau begitu takut tidak mendapat market.

      .... tetapi ini justru contoh dari modern thinking, dengan pikiran terbuka....

      "Anda akan bisa belajar banyak dari kami, demikian juga kami yakin, kami juga bisa belajar banyak dari pengalaman kerjasama dengan anda!"

      Delete
    2. =========
      -Apakah benar nantinya TOT yang besar itu bermanfaat besar bagi bangsa ini (baca : pengalaman mobil dari Jepang yang TOTnya juga besar tapi masih saja tetap tidak bisa buat mesin sendiri)
      =========

      Tentu saja, keuntungannya luar biasa besar.
      =========
      Tidak hanya terbatas di Transfer-of-Technology:
      ## Ribuan pekerjaan lokal untuk beberapa generasi ke depan
      ## Semakin banyak langkah kemajuan untuk menuju kemandirian
      ## Beberapa hasil kerjasama dengan Saab, juga akan dapat di-export di kemudian hari.
      ## Penghematan dari pola akuisisi gado-gado, yang lambat laun akan mulai menghilang dengan sendirinya.
      ## Kedaulatan penuh 100% atas setiap Alutsista yang kita miliki, tanpa pernah bisa lagi didikte dari Washington DC, ataupun dari Moscow.
      =========

      Tetapi jangan berpikir terlalu jauh untuk bisa mau membuat mesin sendiri, atau membuat segala sesuatu dari nol!

      Disini kita harus lebih pandai membedakan:
      Beberapa unit akan selalu harus diakusisi off-the-shelf (barang jadi); tetapi yang lebih penting adalah kemampuan untuk MRO - Maintenance Repair Overhaul - secara mandiri.

      Kalau bisa membuat mesin sendiri, tetapi seperti Russia yang masih belum bisa membuat mesin afterburning turbofan, yang bisa tahan operasional lebih dari 1,000 jam?

      Kan hanya buang-buang uang, untuk hasil yang minimal?

      Bukankah lebih baik mengoperasikan mesin GE F414, yang kita tahu sudah mengumpulkan 5 juta jam terbang; terjamin reliable, maintenance-nya mudah, dan semua perawatan.... tidak perlu di-subcontract ke luar negeri, sesuai amanat pasal 43 (2) UU no.16/2012?

      Pertanyaan terakhir, akan sy sambung besok.
      :)

      Delete
    3. Pertanyaan terakhir:
      ========
      Kurang setuju dengan pendapat anda yang selalu mengkritik tentang biaya-biaya yang dikeluarkan oleh pespur "merk lain". Bagaimanapun bagi saya tidak ada namanya tawar menawar dalam hal keamanan.
      ========

      Nah, inilah sebenarnya propanganda, yang asalnya dari... para jendral di United States sejak tahun 1960-an, yang memang sudah jatuh cinta mati kepada keunggulan Twin-Engine fighters.

      .... semua negara, dan mayoritas sudah termakan, dan mempercayai propaganda ini.

      Patut diketahui kembali, kalau dalam sepanjang sejarah: tidak pernah terbukti kalau pespur twin-engine lebih unggul dibandingkan single-engine.

      Tidak berhasil terbukti dalam Perang Dunia II, perang Vietnam, ataupun konflik Arab-Israel.

      Perhatikan daftar fighter contest dalam blog ini:
      Link: Fighter vs Fighter Contest.

      Dalam setiap babak pertama sy selalu menuliskan, kalau yang paling penting bukanlah seberapa hebat kemampuan pespur itu sendiri, melainkan seberapa jauh pespur tersebut bisa membuat pilot yang berkemampuan tinggi.

      Dalam setiap perbandingan, Single-Engined fighter tidak hanya biaya operasionalnya jauh lebih murah, tetapi juga akan selalu mempunyai daftar keunggulan sbb:

      ## Dapat mengudara berkali-kali dalam sehari, atau jauh lebih sering dibanding Twin-Engine --- ini artinya lebih banyak jam latihan untuk pilot

      ## Maintenance akan selalu lebih mudah, kebutuhan lebih minimal, dan tentu saja pesawatnya akan selalu lebih bandel.

      Saab Gripen sekarang memegang rekor 250,000 jam terbang tanpa pernah sekalipun mengalami kerusakan mesin (Link: Aerospace Manufacturing and Design)

      Ini kembali ke point pertama: pilot terjamin mendapat lebih banyak latihan.

      ## Point ketiga, Gripen, dan F-16 -- dengan sendirinya mempunyai keunggulan RCS yang lebih rendah, lebih sulit dilihat mata pilot dalam pertempuran jarak dekat, dan tentu saja, karena single-engined, infra-red signature-nya akan selalu lebih rendah dibandingkan F-15, dan Su-27.

      Tentu saja, dalam hal ini, Gripen lebih unggul dalam segala hal dibandingkan F-16, karena sedari awal sudah dirancang untuk memaksimalkan semua kelebihan ini. Sedang F-16, upgrade dari US saja sudah mulai ogah2an; RCS-nya masih lebih besar dibandingkan Typhoon, dan Rafale.

      Single Engine fighters akan selalu lebih sulit tertembak jatuh dibandingkan twin-engine.

      Dua mesin, berarti satu mesin hancur, masih bisa terbang?
      Dalam pertempuran udara ini tidak ada artinya. Sukhoi dengan dua pantat panas hanya akan menjadi umpan untuk AIM-9X, dan setelah terhantam missile, kalaupun masih selamat, yah, tetap saja... habislah sudah.

      Twin-engine yg kehilangan satu mesin dalam pertempuran udara, hanya akan menjadi mangsa empuk siap tembak. Sama saja.

      Delete
    4. ## Inilah kembali lagi ke awal.

      Entah kenapa, para jendral di Pentagon US sudah mempunyai keyakinan teguh, kalau raksasa2 sebesar lapangan sepak bola, F-15, dan F-22, adalah "premier Air Superiority Fighter".

      Kita bisa melihat dari pengalaman pilot F-16 USAF:
      Link: Foxtrot Alpha:
      - Lt Col Clifton, yang sudah mengumpulkan ribuan jam terbang (gabungan) di F-16, F-15, F-5E, dan MiG-29 memperbandingkan F-16 Block-30/40/50/52 seperti mobil Formula 1, sedangkan F-15A/C seperti Mercedes Benz sedan.

      - Akselerasi, dan kemampuan manuever F-16 selalu lebih unggul dibandingkan F-15 -- dan dalam pertempuran udara inilah yg menentukan. Bukan radar besar, dan hanya kemampuan BVR.

      Dalam perbandingan F-18 vs F-16, Link: Fighter Sweep perlu dicatat kalau....
      .... bahkan dalam clean configuration; F-16C, dan F-18C bisa terbang supercruise, supersonic tanpa afterburner, sedangkan F-15 yang kembali dipercundangi, terpaksa bermain afterburner untuk mengikuti F-16, dan F-18.

      Semuanya hanya politik. Para Jendral US berpikir "BVR expert" F-15, dan F-22, yang jauh lebih mahal, lebih besar, akan dapat membawa banyak missile, radar yang lebih besar, akan selalu memenangkan pertempuran udara.Kenyataannya tidak begitu.

      .... sedangkan Soviet, kemudian Russia... juga termakan propaganda F-15, dan F-14, dan kemudian memproduksi raksasa Su-27 Flanker, yang lebih ketinggalan jaman, reliabilitasnya jelek, kemampuan BVR yg nihil, dan.... ukurannya masih lebih besar lagi dibandingkan F-15.

      Dalam pertempuran udara, Su-27/30/35 hanya akan dihabisi dengan mudah cukup dengan F-16.

      ## Semakin mahal biaya operasional, semakin rendah "efek gentar"-nya.

      Ini akan dibahas lebih mendalam lagi dalam topik lain: Kenapa F-16 akan lebih unggul dibandingkan F-22, dan F-35. Lain waktu.

      ## Terakhir, untuk argumen pro-Sukhoi, patut selalu diingat, kalau 20-30% dari harga spare part, dan biaya "perbaikan mendalam", akan selalu dicantoli komisi perantara.

      Rosoboron adalah agen perantara. Ini jalur resmi yang sudah ditentukan Moscow.

      Argumen biaya operasional Sukhoi mahal, sepadan dengan hasilnya?
      Uang rakyat hanya untuk memberi makan para perantara, hanya untuk memelihara pesawat yang memang beresiko dalam 5 tahun bisa "rusak berat" dan perlu "perbaikan mendalam" di negara asalnya.

      "NKRI harga mati! Kita butuh Sukhoi"?

      Ini rhetorisme yang salah.

      "Cinta Sukhoi; Komisi perantara harga mati!"

      "Cinta Sukhoi; bakar saja UU no.16/2012!"


      Delete
  28. kabar terbaru dari fp kemhan,,,saat ini Saab dan menhan sedang nego 12 unit Gripen C/D Ms20 ,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita tunggu saja konfirmasi, mengingat kalau ada negosiasi, kali ini kontraknya akan G-to-G.

      Pabrik Saab saat ini sudah kembali memulai produksi bbrp komponen Gripen-C/D untuk bersiap melayani order baru: seperti diatas, untuk Bostwana, Slovakia, dan Bulgaria -- sejauh ini untuk ketiganya juga belum ada konfirmasi order resmi.

      Sbnrnya bagus juga kalau kita mendahului order Gripen-C sebelum E. Kita jadi bisa cepat belajar Gripen-System, dan memulai secepatnya penjajakan kerjasama industrial, dan tehnologi.

      Sukhoi jadi bisa secepatnya dipensiunkan. Kalau tidak, yah, kita bisa melihat sendiri di 2018 nanti, jumlah Sukhoi yg akan butuh "perbaikan mendalam", akan melompat naik.

      Lagipula semua senjata / perlengkapan untuk F-16 toh sudah diintegrasikan ke, dan bisa dibawa Gripen.

      Commonality biaya untuk akuisisi persenjataan akan menghemat banyak, dibanding seperti sekarang membeli persenjataan versi export abal-abal utk Sukhoi.

      Keuntungan jangka panjang: mungkin Pt DI bisa menjajaki perakitan / produksi Gripen-E post-2025.

      Delete
  29. Min mesin gripen itu tanpa afterburner hanya 98 kN, sedangkan F35 bisa mencapai 125 kN tanpa afterburner, apakah bisa selincah itu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Warin,

      Sy sudah pernah menulis ttg problem mesin F-35 sebelumnya:
      Kenapa F-35 adalah pesawat yang salah konsep I

      Kenyataannya, walau di atas kertas, mesin F135 daya dorongnya kuat, tetap saja F-35 terhitung sangat "underpowered".

      Badan terlalu berat, fuselage-nya terlalu gemuk, dan draggy (drag rate-nya luar biasa besar).
      Sayapnya juga terlalu kecil. Tidak ada wing lift force, akan sulit untuk belok.

      Gripen sebaliknya dirancang dari awal dengan fuselage yang ramping, drag rate rendah,
      Bentuk sayap delta juga jauh lebih optimal untuk akselerasi, dan ratio ukurannya ke fuselage sangat tinggi. Front canard melenyapkan semua kelemahan desain dasar sayap delta dalam manuever.

      Untuk perbandingan lain yg lebih jelas:

      Kedua pesawat yg memakai mesin GE F414;

      ## Gripen-E akan dapat terbang supercruise -- supersonic tanpa afterburner, dengan membawa payload bersenjata lengkap.

      ## Twin-engine F-18E/F tidak bisa supercruise, walau memakai 2 mesin F414G.
      Akselerasinya juga tidak bisa menandingi F-16.
      Ini karena Super Hornet, kembali, jauh lebih besar, lebih gemuk, dan lebih draggy.

      Delete
    2. Sembari admin menjawab pertanyaan saya sebelumnya, saya juga mencari perbandingan F35 dengan gripen E, juga pespur seperti dassault rafale, eurofighter thypoon, dan F18. Dan pertanyaan saya terjawab sudah dengan link yg saya baca seperti ini https://thaimilitaryandasianregion.wordpress.com/2016/11/27/american-gripen-the-solution-to-the-f-35-nightmare/ . Dan hasilnya gripen tetap pespur terbaik menurut saya. Semoga pemerintah deal walaupun beli gripen C/D.

      Delete
  30. Bung DR, SAAB menjanjikan retrofit IFX klo kita beli Gripen, apakah tdk ijin ke USA/ Korsel? Gripen C/D, sptnya blm ada Air Refeulingnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Irawan,

      ## Gripen-C/D mempunyai refueling probe, di sisi kiri mesin, tapi bisa ditarik masuk ke dalam, jadi tidak kelihatan.

      Seperti bisa dilihat dalam artikel ini sebelumnya:
      Link: Rafale F3R vs Gripen-E

      Sy membandingkan disini dengan Rafale, yg refueling probe-nya fixed mounted di hidung pesawat. Ini mengurangi visibilitas pilot dari cockpit, dan menambah drag.

      Gripen tidak mempunyai masalah yg sama.


      ## Tawaran Saab untuk membantu dalam proyek IF-X.
      Pengertian tawaran ini begini:
      Biar bagaimanapun mereka tidak akan turun langsung terlibat.

      Apa yg ditawarkan disini adalah pengetahuan, dan masukan untuk membangun kemampuan tehnisi Indonesia, agar dapat diaplikasikan kembali ke dalam proyek KF-X.

      Terlepas dari semua pernyataan optimis manapun tentang keterlibatan Indonesia dalam KF-X,
      kenyataannya, seluruh dunia tahu, kalau pengetahuan / kemampuan Kita dalam serba-serbi pesawat tempur NOL besar.
      Inilah akibat dari 60 tahun penjajahan model versi export downgrade, dari US, dan Russia.

      Kembali, patut diingat,
      walaupun kelak tehnisi Indonesia kemudian lebih bermodalkan kemampuan, berkat suntikan pengetahuan dan tehnologi dari Saab,
      status quo untuk proyek KF-X tetap saja tidak akan berubah.

      Korea sudah mengambil signal, dan posisi jelas bahkan dari sejak sebelum mengajak Indonesia terlibat:
      Mereka akan mendikte semua parameter KF-X 100%, dan Indonesia tidak akan diperbolehkan mengubah apapun.

      Program ini, tidak seperti kerjasama dengan Saab, sifatnya akan satu arah.
      Kontribusi Indonesia akan ditentukan dari belas kasihan apa yg diperbolehkan Korea.
      Semisal, paling banyak Korea hanya akan menawarkan pekerjaan sub-contract dalam spesifikasi yg sudah dikunci mereka sendiri.

      Inilah akibat memilih partner yg tidak hanya kemampuan pespurnya... sangat meragukan, tetapi juga tidak ada pengalaman untuk bisa menjadi sumber ToT yg baik.

      Kalau kita berbicara modifikasi, dan inovasi lokal,
      Gripen akan jauh lebih mudah untuk dimodifikasi sesuai kebutuhan Indonesia, daripada IF-X.

      Kembali, sebaiknya jangan terlalu optimis proyek KF-X masih bisa jalan:

      ## Korea baru berganti presiden; Presiden Park yg sudah lengser, adalah salah satu pendukung program ini, presiden Moon belum tentu sama antusiasnya.

      ## Faktor kedua, ditengah kekacauan dewasa ini vs Korut, kecil kemungkinannya program ini masih mendapat prioritas dalam reshuffling anggaran Korsel.

      ## Terakhir, jangan melupakan Presiden Trump, dan ketergantungan KF-X akan tehnologi versi export dari US.

      Sejauh ini belum ada negosiasi baru Trump v Korea mengenai program ini. Seperti diatas, antusiasme Korsel sendiri juga sudah akan memudar.

      FYI, segala sesuatu yg sudah disepakati semasa pemerintahan Obama, sudah pasti akan dirobek2 Trump. Semakin kecil kemungkinannya White House versi yg sekarang masih mau membantu melayani semua permintaan Korea re KF-X. Mereka tidak akan segan mungkir kontrak.

      Delete
  31. bung apakah kita BENAR2 memerlukan pespur dari kelas heavy twin engine?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak.

      Pespur twin-engine hanya buang2 uang, tanpa ada hasil yg berarti.

      Bahkan untuk Rafale, dan Typhoon, yg biaya operasionalnya akan lebih murah dibandingkan KF-X, ataupu Su-35K, tetap saja...

      Typhoon / Rafale akan mempunyai biaya operasional (estimasi) sekitar $30,000/jam kalau dioperasikan di Indonesia.

      F-16C/D biayanya sekitar $10,000 (estimasi).

      Gripen, mnrt perkiraan awal akan memberi angka $6,000 - $7,000.

      Pertanyaannya untuk biaya yg sama, apakah 1 Rafale / Typhoon akan dapat mengerjakan pekerjaan yg bisa dilakukan 4 Gripen, atau 3 F-16;
      keduanya juga masih bisa lebih sering mengudara.

      Untuk Sukhoi, tentu saja jauh lebih parah.
      Untuk biaya yg sama, dapat mengudarakan 5 F-16, atau 7 Gripen, yg dapat mengerjakan jauh lebih banyak hal lebih murah.

      Delete
    2. tapi dari yg saya tangkap dari para pejabat maupun kebanyakn netizen indonesia memerlukan pespur dari light,medium dan heavy untuk berbagai tugas berbeda.
      light/medium untuk patroli/workhorse only,heavy untuk intercept apaakah kenyataannya memang begitu?
      menurut saya terlalu ribet kalau bnar demikian

      Delete
    3. Ini memang kurang relevan.

      ## Idenya pespur twin-engine, seperti dicetuskan United States, adalah pertama untuk pure BVR Combat, karena dapat membawa ukuran radar yg lebih besar.

      ++ Tetapi dewasa ini Gripen / F-16 sudah diperlengkapi AESA radar.
      Ukuran seberapa besarnya antena radar menjadi kurang relevan, karena jarak deteksi, dan kemampuan tracking AESA dengan 1000 elemen sudah melebihi jarak jangkau BVR missile.

      Kalaupun twin-engine spt F-15SG, atau F-22A, dengan AESA radar 1500 elemen dapat melihat target lebih jauh, sama saja. Jarak jangkau missile mereka tidak akan bisa lebih unggul vs F-16, dan Gripen.

      ## Kedua, heavy fighter untuk membawa payload yg lebih berat --> tetapi ini lebih berguna untuk membawa lebih banyak bom, untuk serangan udara ke darat.

      Kalau kita tidak setiap hari kerjanya membom negara orang lain, kebutuhan semacam ini terlalu berlebih, kurang relevan di Indonesia, yang secara tehnis lebih membutuhkan anti-ship missile.

      ++ Kembali, tanpa ada investasi di targeting pod, dan smart bomb, sama seperti didemonstrasikan AU Russia di Syria, yah, mereka hanya akan menghamburkan banyak bom, dan "tak sengaja" membom target sipil.

      F-16, dan Gripen yg memakai Litening / Sniper, dan membawa 8 GBU-39, akan dapat menghantam lebih banyak target dengan lebih akurat dibandingkan twin-engine Su-34 yg kapasitasnya membawa puluhan dumb bomb, tapi tanpa targeting pod.

      ## Untuk Air-to-Air combat, konfigurasi paling optimal sekarang adalah 4 BVR missile, dan 2 WVR missile.

      ++ F-16, dan Gripen juga dapat membawa konfigurasi yg sama, dan akan jauh lebih low observable (RCS, visual, dan IR) dibandingkan F-15, dan Su-Flemon.

      ## Keempat, para pendukung twin-engine menyombongkan keunggukan jarak jangkau, katanya.

      ++ Kelebihan jarak jangkau yg mana?

      Su-35K hanya mempunyai jarak jangkau maksimum ferry range 4,500km, padahal kapasitas bensin 11,900kg, dan masih harus membawa 3 drop tank.

      Gripen-E mempunyai jarak jangkau ferry range 4,000km, hanya dengan kapasitas tangki 3,360 kg, dan juga membawa 3 drop tank.

      Untuk setiap kilometer, Sukhoi harus meminum 4x lipat lebih banyak bensin dibandingkan Gripen-E. Dan perhitungan ini dalam clean configuration, dan dalam keadaan damai.

      Dalam konflik, Sukhoi dngn combat payload akan perlu menyalakan afterburner jauh lebih sering dibandingkan Supercruising Gripen-E dengan combat payload. Afterburner akan menghisap banyak bensin, dan dengan sendirinya memperpendek jarak jangkau.

      Gripen-E jarak jangkaunya akan jauh lebih unggul dibandingkan Sukhoi K dalam konflik, mungkin bisa sampai 20%.

      ## Kemudian bisa mengisi bahan bakar udara?

      Dalam operasi di Libya saja, Gripen Swedia hanya meminum bahan bakar dari tanker kira2 separuhnya dibanding F/A-18 Hornet RCAF Canada, yg memakai 2 mesin F404.

      Sukhoi yg kapasitas tangkinya begitu besar, dan begitu boros, hanya akan menguras persedian dari air tanker. Tidak akan banyak pesawat bisa mengisi bahan bakar akibat kelemahan ini. Dan setiap Sukhoi K juga akan menghabiskan waktu terlalu lama mengisi bahan bakar.

      Seperti bisa dilhat, kemampuan pespur mau di kategorikan heavy, atau light; twin-engine atau single-engine, sama saja. Overlapping.

      Gripen dapat mengerjakan segala sesuatu yg sama, tidak hanya dengan biaya jauh lebih murah, tetapi juga fleksibilitas yg jauh lebih tinggi.

      Ini juga akan berlaku dalam perbandingan Gripen vs KF-X twin-engine, yg akan memakai mesin F414G yg sama.

      Dengan perpaduan keterampilan pilot, kemampuan Defense Suite / jamming tehnologi Saab, dan low-observability desain, Gripen akan menjadi pespur yg paling sulit untuk bisa ditembak jatuh lawan.

      Delete
  32. Min,knp waktu Gripen di-deploy ke Libya, tidak bisa memakai avtur JP-5 di Sigonella AFB tetapi harus memakai avtur JP-8?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena tahun 2011, baru untuk pertama kalinya Gripen dikirim beroperasi dngn AU NATO.
      Mereka menghadapi tantangan compatibility ke sistem NATO.

      Bahan bakar JP-5 standard US Navy waktu itu, belum di-sertifikasi untuk mesin RM12.

      AviationWeek menyebut untuk sementara waktu, saat itu Gripen Swedia harus terbang light, dan kemudian mengisi bahan bakar di udara dari KC-130 AU Swedia.
      Konektivitas Network ke Link-16 standard NATO juga waktu itu masih terbatas, karena berbeda protocol, dan security clearance-nya lebih sulit.

      Tetap saja, 5 Gripen tetap berhasil melakukan 37% dari misi reconaissance selama operasi PBB di atas Libya.

      Inilah juga kenapa sejauh ini, Gripen Czech, dan Hunggaria biasanya berperan sebagai aggessor "red force" dalam latihan udara NATO; pihak "lawan" yg harus dikalahkan.

      AU Swedia kemudian juga mengirim 8 Gripen ke Red Flag di tahun 2012, dimana akhirnya dapat menunjukkan konektivitas yg lebih baik ke Link-16.

      MS-20 upgrade sudah mengaplikasikan semua pelajaran yg didapat dari semua ini:
      konektivitas, dan compatibility ke sistem NATO, dan Link-16 Network.

      Sekarang mesin RM12, seperti bisa dilihat diatas, sudah berhasil di-tes dengan bio-fuel.

      Delete
    2. Mimin tau tentang R-33 BVR missile?

      Delete
    3. BVR missile, berat 490kg, dengan semi-active homing; versi akhir (R-37) dapat mencapai jarak 300 km, dngn kecepatan maksimum Mach-6.

      Hanya sudah diintegrasikan khusus untuk MiG-31 interceptor, tujuannya menghantam target seukuran B-1B Lancer, E-3 Sentry, atau B-52 Stratofortress dari jarak jauh.

      Bukan untuk mengalahkan pespur.

      Sama seperti semua missile lain ex-Soviet, development-nya sudah mandek di tahun 1989, sewaktu anggaran mereka raib.
      R-37 baru memulai kembali development di tahun 2006, dan walaupun ada kabar akan memakai active guidance.... yah, seperti kita tahu, Russia pernah berhasil meluangkan waktu, budget, ataupun komitmen penuh untuk menyelesaikan active-guidance seeker.

      Sama seperti R-77-1 yg diinginkan AU Ruski, yg development-nya simpang siur, dan kelihatnnya... akan mandek.

      Beberapa tahun yg lalu sy pernah berdebat dngn seorang penulis di JKGR yg membayangkan R-37 bisa dipakai Su-35K, untuk menembak jatuh Gripen, hanya karena kecepatannya Mach-6, dan jarak jangkau (diatas kertas) "melebihi Meteor".

      Yah, padahal R-37 tidak tersedia untuk export, belum pernah diintegrasikan ke Su-Flemon, dan seperti diatas, tidak dirancang untuk bisa bermanuever menghantam pespur NATO.

      Development versi lokal-nya saja belum selesai.
      Dewasa ini, kalau masih mencoba mengunci target dengan semi-active radar-homing missile dalam pertempuran udara, seperti percobaan bunuh diri.

      Tentu saja, bahkan dipersenjatai R-37, terlalu kecil kemungkinannya MiG-31 versi lokal dapat menembak jatuh F-16, atau Gripen; keduanya jauh lebih modern, dan jauh lebih sukar untuk bisa dikunci radar.

      Inilah kembali ke masalah awal: setelah Soviet runtuh dan anggaran mereka dipangkas (terakhir hanya $55 milyar), semakin sulit kemampuan mereka untuk bisa men-support seluruh sistem, dan industri persenjataan ex-Soviet mereka.

      Delete
    4. Min, di wikipedia katanya waktu Su-35 ke Suriah dipasangi R-77, R-74, R-27

      Delete
    5. R 77 sejak tahun 1994 dah gak dipake ma AU Rusia mereka menjual nya ke negara2 lain , rusia menunggu proses pembuatan R 77 -1

      Delete
    6. Betul.

      AU Russia tidak pernah membeli R-77 dalam jumlah order besar, karena development-nya tidak pernah selesai sejak Soviet ambruk, dan anggaran pertahanan mereka raib.

      Sementara itu, di tahun 1990-an akhir, Ruski mulai memproduksi, dan menjual bebas versi export RVV-AE untuk AU India, dengan Agat-1348E seeker (downgrade dari -1348), dengan jarak jangkau yg juga lebih pendek vs R-77.

      R-77-1 adalah versi lokal terbaru, dengan jarak jangkau lebih jauh, tetapi development-nya, lagi2 mangkrak.

      Di Syria, beberapa Su-30SM, Su-35S, dan Su-34 (semua versi lokal) terlihat mulai membawa R-77 --- sebenarnya RVV-AE, versi export dari R-77, dari stock AU Syria.

      BVR Combat -- terlepas dari semua mitos, inilah kelemahan terbesar AU Russia secara umum.

      Yah, dengan RVV-AE, atau R-27, Sukhoi versi manapun hanya akan bunuh diri kalau mencoba mengadu nasib dengan F-16, yg dipersenjatai AMRAAM C.

      Delete
    7. Oiya, ini kutipan singkat dari artikel selanjutnya: Su-35 Kommercheskiy vs F-35A Versi Export.

      RVV-AE, kalaupun bisa bekerja (kemungkinan sih tidak), sebenarnya masih berbasiskan tehnologi yg tersedia di tahun 1989, atau sekurangnya tahun 1990-an.

      Di waktu itu, masa awal memperkenalkan BVR missile dengan active guidance.
      AMRAAM di tahun 1980 akhir sampai tahun 1990an, adalah versi A.
      Jarak jangkau maksimum 30-40 km, jarak efektif <20 km.

      Versi B baru mulai operasional pertengahan tahun 1990an, improved seeker, jarak jangkau maksimum bertambah +30%, jarak efektif 30 km.
      Para negara pembuat Typhoon, dan Gripen hanya membeli versi B, dan tidak lagi membeli AMRAAM-C, karena pada tahap ini mereka sudah berencana akan beralih ke Meteor.

      Versi C mulai operasional tahun 2000 awal. Versi C5 standard sampai 2007, sebelum berganti ke versi C7. Improved seeker, dan jarak jangkau terus bertambah jauh, skrg jarak efektif mungkin antara 30 - 60 km.
      Mayoritas stock AMRAAM di US sejauh ini masih standard C5.

      Versi-D dengan dual-datalink, baru mulai diperkenalkan, setelah development-nya lebih molor. Sekarang jarak jangkaunya melebihi 150 km, jarak efektif antara 30 - 90km.
      Australia sudah membeli untuk mempersenjatai Super Hornet, Growler (self-defense), dan F-35A versi export.

      Sementara itu, dengan RVV-AE?

      Apakah perbedaannya dengan versi yg dijual ke India di tahun 2002, dibeli Indonesia di tahun 2013, dan versi yg mereka jual sekarang?

      Yah, jelas. Tidak akan ada bedanya.
      Sama seperti segala sesuatu buatan Ruski, upgrade bukanlah suatu kelebihan mereka.

      Akibatnya yah, baik RVV-AE, ataupun R-27 secara praktis sudah kadaluarsa.

      Delete
    8. Min, katanya P-8 Poseidon itu salah satu proyek yg tdk molor dan cost overrun ya?

      Delete
  33. jumlah 12 Gripen C/D MS 20 apa tidak kurang , dan idealnya mengawal sisi mana

    ReplyDelete
    Replies
    1. 12 Gripen-C/D MS-20 saja, kemampuan tempur-nya sudah jauh lebih unggul dibandingkan..... seluruh TNI-AU dewasa ini, dan juga jauh lebih modern dalam segala hal.

      ## Semua Su-27/30 di Sku-11 hanya versi downgrade kemampuan dari Su-27SM / 30M di AU Russia, yg masih berbasiskan tehnologi tahun 1980an, dengan sedikit upgrade tahun 1990-an, seperti beberapa kayar LCD di cockpit. Sudah terlalu kuno, bahkan dari sejak dibeli baru.

      ## F-16 Block-25+ (bukan Block-52), hanya memakai radar APG-68 basic dari tahun 1985/86 yg sudah dimodernisasi, tidak ada military-grade IFF, Link-16 networking, atau helmet mounted display.

      Tentu saja, berkat pola akuisisi gado2, dan macan ompong, persenjataan semua pespur TNI-AU sejauh ini masih minimalis.

      Gripen MS-20 akan dapat menembakkan AMRAAM C-7 (untuk F-16), dari jarak yg sekurangnya 30% lebih jauh, dan berkat datalink yg bisa di-share lewat TIDLS fighter-to-fighter network, akurasinya juga akan meningkat 30 - 50%.

      MS-20 juga sudah standard dengan Cobra HMD; dapat menembakkan AIM-9X Block-2 (untuk F-16) mengikuti arah pandang pilot, dan kalau perlu, bisa ditembakkan ke belakang pesawat induk, via missile datalink.

      ## Idealnya mengawasi dimana?
      Terserah.

      4 pesawat bisa di rotasi di Natuna, Batam, atau di Kupang.
      Masing2 detachment akan siap terbang 24 jam, dan hanya butuh waktu 10 menit untuk siap mengudara.

      Delete
  34. Kalau Jepang pernah melisensi SEPECAT Jaguar untuk pembuatan Mitsubishi F-1

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kabarnya, Jepang sempat mencoba meminta lisensi produksi Jaguar, tetapi tak jadi krn masalah biaya.

      Mitsu F-1 produksi lokal, tetapi krn spesifikasi yg diinginkan mirip dengan Jaguar, akibatnya bentuk luarnya juga mirip.

      Delete
  35. Bung Dark Rider

    Saya dapet berita dari JKTGR linknya ini
    https://jakartagreater.com/indonesia-segera-borong-alutsista-dan-senjata-baru/

    Disitu dicantumin total anggaran TNI buat upgrade alutsista, tapi ngambilnya dari koran trus diphoto. Kalau diliat ada anggaran buat ganti F-5 sebesar 1,14 milyar dollar. Bukannya ini sama plek sama proposal penjualan yg pernah diajukan saab? Berhubung ini berita lama maka apakah bisa dibilang dari dulu TNI-AU tuh maunya beli gripen bukan su-35??? Kalau tetep maksa ngincer gripen c/d apa gak sayang duitnya? Mending juga pake sistem sewa aja nanti kalau gripen e/f dah mature kan bisa dibeli dan jatuhnya juga jauh lebih untung dan bertaji ketimbang si charlie?? Sama kalau diliat juga ada anggaran buat ganti mesin sukhoi doang nyampe 100+ juta dollar apa gak sayang banget tuh uang cuman buat ganti mesin tok padahal buat beli meteor juga bisa apalagi AMRAAM???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja.

      Kelihatannya berita anggaran ini hanya proposal kasar yg sengaja dibocorkan ke media, tetapi belum tentu disetujui pemerintah.

      # Anggaran "pengganti F-5" selalu disebut dikisaran $1,1 - $1,5 milyar
      Pertanyaannya: Pespur yang ada saja belum dapat dipersenjatai (hanya 1 - 2 missile per pesawat). Nah, lantas kenapa masih berkeras mau beli pespur baru? Memangnya sudah siap?

      # Anggaran "membeli mesin Sukhoi" $105 juta, sebenarnya sudah dikabarkan sejak tahun 2015. Ini menunjuk kalau sekurangnya (waktu itu) mungkin bisa 2 - 4 pesawat yg perlu ganti mesin (harga per mesin $3,5 jut), dan mungkin juga termasuk ongkos "perbaikan mendalam".

      Seperti bisa dilihat harganya terlalu mahal. Inilah kenapa lebih baik, seperti topik sebelumnya: Lebih baik pensiunkan Sukhoi!

      Perihal apakah TNI-AU akan membeli Gripen-C, atau menunggu sampai versi-E; sy sendiri memang berpendapat lebih baik menunggu bersama Brazil, dan Swedia sampai sekitar tahun 2020+ untuk versi-E.

      Tetapi... yah, mengambil versi C/D sekarangpun ada keuntungannya sendiri.

      Nanti kita coba bahas dalam topik lain.

      Delete