Wednesday, April 5, 2017

Bagaimana "Logika Hollywood" mempengaruhi Alutsista

Lucasfilm - Starwars

Kedengaran konyol?

Artikel ini akan melihat bagaimana logika "Hollywood" (Hollywood logics), yang sebenarnya hanya menjual mimpi, mempengaruhi / meracuni tidak hanya pemikiran kita, tetapi juga mempengaruhi desain beberapa alutsista, dan Renstra di banyak negara.


Stealth


Star Trek Original Serries, Episode Balance of Terror (1966), untuk pertama kalinya memperkenalkan Romulan Bird-of-Prey, yang mempunyai "cloaking device", dan membuatnya tidak bisa terlihat secara visual, ataupun melalui sensor. 

Ide yang sangat menarik, dan memukau.

Benar, memang kapal selam sejak tahun 1914 sudah mempelopori konsep "stealth": Mengendap-ngendap untuk mengambil posisi menyerang, tembak, dan lari.

Perbedaannya dengan pesawat stealth, kapal selam, seperti namanya, yah, dapat menyelam ke kedalaman laut yang lebih dalam agar tidak bisa terkejar lawan. Selama kapal selam bisa menyelam sekurangnya 100 meter di bawah permukaan laut, secara tehnis dia tidak akan bisa terlihat, walaupun kapal perang lawan melintas di atasnya.

Sama seperti Romulan Bird-of-Prey, ataupun Warbird dalam seri Star Trek yang selanjutnya, pesawat "stealth" tidak bisa mereplikasi keunggulan kapal selam. Pesawat yang sedang terbang di udara, tetap saja tidak bisa menghilangkan keberadaannya secara fisik. Sama seperti bagaimana caranya menghadapi kapal Romulan dalam seri Star Trek, pihak lawan akan selalu menemukan cara, atau kelemahan "stealth".

Para pendukung konsep "stealth" sebenarnya mengambil pelajaran yang salah dari Episode "Balance of Terror". Dalam Episode ini, awak kapal konvensional USS Enterprise, dapat belajar untuk menguak kelemahan cloaking device Romulan satu per satu. Sama seperti awak USS Enterprise, tentu saja pihak yang tidak mengoperasikan "stealth" akan selalu menemukan cara untuk mengalahkan "stealth".
Credits: Marko M, Wikimedia Image
Sisa-sisa dari "Romulan Warbird" USAF di Belgrade Museum
Patut diingat kalau F-117A mempunyai RCS yang jauh lebih rendah dibandingkan rongsokan F-35 Lemon II. Dengan Pentagon mencoba memulai profilerasi pesawat stealth, tentu saja seluruh dunia dapat belajar dari kreativitas Kapten James T. Kirk, eh... Kolonel Zoltán Dani, yang berhasil mengalahkan F-117A, hanya dengan SA-3 battery buatan tahun 1960-an.



Bagaimana caranya bertempur dengan lawan yang lebih kuat?

F-18 Hornet, Independence Day (1996) - 20th Century Fox
Gambar ini adalah screen capture dari film "Independence Day" tahun 1996, yang melukiskan bagaimana caranya US Military mengirim armada pesawat tempur mereka menghadapi lawan alien, yang jauh lebih kuat, dan mempunyai persenjataan yang jauh lebih modern daripada semua persenjataan di bumi.

USAF, USN, dan USMC harus mengudarakan sebanyak mungkin pesawat tempur mereka untuk menyerang lawan, dan lebih penting lagi, tanpa mempunyai informasi yang jelas tentang kemampuan lawan.

Captain Steven Hiller, yang diperankan Will Smith, dengan tenang mengumbar tentang kemampuan Skuadron "Black Knights" (VMFA-314), sebelum pertempuran udara di mulai: kalau the Black Knights akan menang dengan mudah.
  • Kesombongan pilot
  • Persepsi keunggulan jumlah, dan kemampuan sendiri.
  • Sama sekali tidak ada informasi tentang kemampuan lawan. 
  • Strateginya juga tak kalah mudah: Serangan frontal!
Dalam segala hal sudah melanggar prinsip Art of War, yang sudah diajarkan Sun Tzu sejak ribuan tahun yang lalu.

Tentu saja hasilnya jelas, bukan?

Hampir semua pesawat tempur yang diudarakan dalam pertempuran udara pertama dalam film ini, berhasil disapu bersih oleh lawan yang ternyata tidak hanya jauh lebih kuat, tetapi juga... bahkan mempunyai shield system, yang membuatnya kebal dari missile lawan. Ribuan pilot, dan pesawat tempur raib dalam satu pertempuran. 

Para pimpinan US dalam Air Force One, dengan bodohnya keheranan sendiri dengan kekalahan mereka yang luar biasa berat. 

Seperti bisa dilihat, film seperti ini tanpa sengaja juga masih mempengaruhi banyak Renstra setiap negara, bukan?

Renstra TNI-AU, misalnya, masih "menginginkan" 180 pesawat tempur, atau 10 skuadron. Apakah mungkin suatu hari, Renstra "menang jumlah" hanya diperuntukan mengulangi kesalahan yang sama dengan skuadron Steven Hiller?

Tidak seperti dalam Independence Day (1996), kecil kemungkinannya Angkatan Udara manapun bisa selamat setelah mengalami kerugian udara yang begitu hebat di hari pertama.
Credits: 20th Century Fox
20 tahun kemudian, para pemimpin dalam Independence Day Resurgence (2016),
tetap saja tidak belajar dari pengalaman tahun 1996.

Serangan frontal besar-besaran melawan musuh yang lebih kuat.
Hasilnya, yah, tak mengherankan


Dogfighting

Top Gun (1986) Capture - Paramount Pictures

Gambar diatas dari dogfighting scene dalam film Top Gun (1986), bagaimana Maverick sedang beduel melawan "MiG-28", yang sebenarnya diperankan oleh F-5E Tiger II dari squadron Aggressor US Navy.

Bagaimana logika "Hollywood" film Top Gun mempengaruhi kita?

Pertempuran udara jarak dekat menjadi terlihat begitu romantis, dan... lihat saja bagaimana pesawat tempur lawan begitu dekat, dan begitu terlihat jelas dari pesawat Maverick?

Berikut screenshot dunia nyata, yang diambil dari HUD Dassault Rafale, dalam latihan udara melawan F-22:
Rafale HUD -- Credits: French MoD
Sama seperti F-14 yang dipiloti Maverick, F-22 adalah pesawat tempur raksasa, dengan ukuran panjang 18,92 meter, luas ukuran sayap 78 meter persegi, dan total lebar rentang sayap 13,56 meter. Seperti bisa dilihat dalam gambar ini, F-22 yang begitu besar, masih terlihat begitu kecil, bukan, dalam layar HUD Rafale?

Dalam latihan ini, Rafale berhasil mengalahkan F-22, karena alasan yang sederhana. Pesawat tempur yang ukurannya lebih besar, akan selalu menjadi target yang lebih besar pula dalam pertempuran udara. Sama seperti pertandingan udara antara F-15, dan F-16.
Bandingkan:
Antara kedua pilihan diatas, target mana yang akan selalu lebih mudah tertembak?
Logika Hollywood, dalam hal ini saling bahu-membahu dengan obsesi USAF, dan US Navy, yang dari dahulu lebih memilih pesawat-pesawat tempur twin-engine raksasa. Uni Soviet kemudian turut terpengaruh logika yang sama, dan berinvestasi dalam Sukhoi Flanker, dan PAK-FA, yang ukurannya masih.... lebih besar lagi dibandingkan F-15, atau F-22.

Dalam pertempuran udara jarak dekat (dogfight), F-16, dan Gripen akan selalu menjadi dua pesawat tempur yang hampir tidak bisa terlihat oleh mata pilot pesawat tempur lawan. Tentu saja, dalam dunia nyata, keduanya akan selalu lebih sulit tertembak jatuh.... hanya karena ukuran mereka lebih kecil dibandingkan para raksasa "canggih"; F-15, F-22, Sukhoi Flanker, atau PAK-FA, yang juga merupakan target yang jauh lebih besar untuk bisa tertembak.



Alutsista harus semakin MUAHAL, BUESAR, supaya semakin HUEBAT...


Masih berkaitan dengan sebelumnya, perhatikan logika Hollywood ini: 

Mulai dari Star Wars (1977), bahkan sampai Force Awaken (2015), pihak Evil Empire, selalu terobsesi membuat senjata "planet destroyer", Death Star, atau Starkiller.
Dalam Pacific Rim (2012), ketika seluruh dunia terancam oleh kemunculan berbagai "kaiju" yang keluar dari bawah laut, apakah solusinya? Membuat Jaeger, robot raksasa yang tingginya ratusan meter, untuk dapat bertarung satu-lawan-satu melawan "kaiju".

Logika yang benar?

Empire, dalam Star Wars, sudah menghamburkan terlalu banyak waktu, uang, dan resource untuk membangun Death Star, atau Starkiller. Bukankah lebih baik, jumlah ini diinvestasikan untuk membangun lebih banyak kapal Stardestroyer, TIE fighter, dan meng-clone lebih banyak stormtrooper? Kita bisa melihat sendiri, kalau setiap kali, hanya perlu 1 X-Wing pihak pemberontak, untuk menghancurkan "senjata sakral" Empire. Tentu saja, hasilnya, seluruh investasi menjadi mubazir, dan ratusan ribu personil Empire hanya menjadi korban jiwa.

Dalam Pacific Rim, patut diketahui kalau untuk membangun sosok raksasa, yang misalnya dua kali lipat dari ukuran manusia biasa, berarti output tenaganya harus 8x lipat hanya untuk mendapat kekuatan yang sebanding. Membangun raksasa bukanlah solusi yang mungkin, selain hanya menghabiskan uang, dan resource seperti Empire, dalam Star Wars.

Tentu saja, menurut logika Hollywood dalam Pacific Rim, F-22 harus terbang sangat rendah untuk menembakkan M61 gun ke "kaiju", walaupun dalam dunia nyata, senjata mesin dapat ditembakkan dari jarak aman beberapa kilometer.

Zummwalt-class US Navy, adalah contoh "Death Star" yang dibuat dengan justifikasi nilai harga $6 milyar, atau hampir sama dengan anggaran pertahanan Indonesia. Tidak mau ketinggalan, Russia-pun mempercontohkan logika yang sama, dengan kapal induk Admiral Kuznetzov, yang baru saja dibawa ke Syria. Negara adidaya, tentu saja harus terlihat mempunyai kapal induk.

Admiral Kuznetzov - Getty Image

Dalam kenyataannya, seperti bisa dilihat dari kepulan asap tebal dalam Getty image di atas, segala sesuatu dalam kapal ini sebenarnya begitu bermasalah. Kemanapun Kuznetzov pergi, harus selalu didampingi dengan satu ocean-going tug (kapal tunda besar, yang dapat menjelajah laut bebas), yang untuk bisa menarik Kutznetzov, kalau sewaktu-waktu mesinnya mogok. Ini sudah pernah terjadi dalam insiden tahun 2012, di lepas pantai Spanyol; kapal tunda Nikolay Chiker terpaksa harus menambatkan tali dengan susah payah, untuk akhirnya menarik Kuznetzov pulang kampung.
Perjuangan kapal tunda Nikolay Chiker, untuk menambatkan tali ke Kuznetzov 

"Death Star" dewasa ini, diperlakukan seperti prestige buying: seluruh dunia jadi bisa melihat betapa hebatnya kita! Tentu saja, sama seperti dalam film Star Wars, "Death Star" yang mahal, akan dapat dihancurkan hanya dengan.... 1 missile, atau 1 torpedo saja.

Dalam pertempuran udara juga sama. US hanya pernah memproduksi 187 F-22, dengan harga antara $300 - $400 juta per unit, dan sudah mulai ketinggalan jaman, dibandingkan F-15, F-16, dan F-18. Hanya memerlukan satu missile, yang ditembakkan dari F-16 yang jauh lebih murah, atau SA-3 seperti di Serbia, untuk menghancurkan $300 - $400 juta investasi yang sia-sia.

Pelajaran disini:
Semakin mahal harga, dan biaya operasional suatu alutsista, 
tetap saja...
semakin kecil "efek gentar"-nya.

Ini dikarenakan "prestige value" dari alutsista tersebut, menjadi lebih diutamakan negara pengguna, melebihi prioritas untuk kesejahteraan, dan kemampuan setiap pilot, atau awak yang tugasnya mengoperasikan alutsista tersebut.
Gambar: TNI-AU
"Senjata sakral" bertehnologi tahun 1980-an, 
menghamburkan uang rakyat, 
gampang rusak, 
melanggar kedaulatan negara,
menguntungkan kesejahteraan para perantara.


Penutup


Terlalu sering kita lupa, kalau semua film itu hanyalah sarana hiburan. Pembuatnya tidak hanya ingin menampilkan efek visual yang kelihatan memukau di mata penonton, dan sebenarnya juga ingin menyampaikan pesan yang berbeda:
  • "Cloaking device" dalam Star Trek, sebenarnya hanyalah representasi dari tantangan strategis yang harus dihadapi awak dari USS Enterprise.
  • Kebodohan strategis dalam film Independence Day, ditampilkan hanya untuk menunjukkan betapa hebatnya si antagonis, alien, yang mengancam bumi.
  • "MiG-28" dalam film Top Gun, ditampilkan ukurannya kelihatan besar, agar penonton dapat mengikuti romantisme pertempuran udara, dan juga fungsinya sebagai recruitment video untuk pilot US Navy.
  • "Deathstar" sengaja dibuat menjadi senjata sakral yang simbolis, yang menunjukkan perjuangan pemberontak kecil, melawan lawan yang jauh lebih besar, dan lebih kaya.
Ini baru beberapa contoh yang paling umum, karena hampir semua film manapun, siapapun pembuatnya (tidak perlu Hollywood), akan selalu membawa satu-dua Hollywood logic. Tanpa kita sadari, obsesi akan logika Hollywood, sudah mempengaruhi desain alutsista, Renstra, atau konsep pemikiran para analyst, baik yang mengklaim mereka ahli, ataupun hanya analyst awam, seperti penulis blog ini.

Alutsista yang dibuat, atau dibeli menurut pengaruh "Logika Hollywood" tidak akan tahan banting kalau diuji dalam konflik yang sesungguhnya. Tidak hanya alutsista "Hollywood" hanya akan menghamburkan uang, tetapi tetap saja, pada akhirnya 1 missile, atau 1 torpedo sudah cukup untuk menghancurkan semua mimpi.

Membangun Sistem Pertahanan Strategis yang tahan banting, akan jauh lebih penting dibanding mengikuti propaganda "logika Hollywood", yang dewasa ini, semakin sering dipergunakan pejabat militer, ataupun politikus di banyak negara, untuk mempengaruhi opini publik, demi mengejar mimpi yang tidak mungkin tercapai.

Hasilnya, yah, seperti dalam film Hollywood akan bisa mudah ditebak. Menghamburkan uang, hanya untuk membeli efek gentar nihilDi negara lain yang menjadi sekutu US, juga sama sudah termakan obsesi untuk membeli pesawat tempur gagal F-35 Lemon II.

Sudah saatnya kita belajar untuk mulai berpikir secara strategis, dan menghilangkan semua konsep "logika Hollywood" dalam membahas Alutsista.

Satu-satunya pilihan yang memenuhi realita Kebutuhan Pertahanan Indonesia

50 comments:

  1. Knp pejabat kita msh terobsesi pada jumlah pesawat, apalagi tdk disertai dgn senjata

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti diatas, kelihatannya pola pikir Renstra terpengaruh "logika Hollywood".

      Film Independence Day hanya salah satu contoh. Tetapi dalam setiap film perang, produsernya selalu mencoba memperlihatkan ke penonton berapa jumlah pesawat / pasukan si protagonis atau si antagonis.

      Tentu saja, "jumlah" jadi mudah dipergunakan untuk manipulasi opini publik, yg juga terlalu banyak nonton film dngn "logika Hollywood".

      Dengan kata lain, tanpa sengaja semua film itu sudah menjadi iklan, yg membuat kita jadi dahaga mengejar jumlah.

      "TNI-AU butuh lebih banyak jumlah pesawat tempur, angkut, helikopter.."

      Tetapi, yah, tidak perlu AEW&C, Networking, senjata, atau kemampuan membangun industri lokal.

      "Huuu.... negara tetangga punya lebih banyak dari kita."

      Ini lebih lucu lagi.
      Yang sengaja tidak dibahas, mereka juga dapat menggunakannya secara operasional jauh lebih baik daripada kita.

      2 F-18F Australia, atau F-15SG Singapore, misalnya, sudah bisa melakukan lebih banyak hal, dan dipersenjatai lebih lengkap daripada separuh TNI-AU.

      Logika Hollywood -- jumlah = kita akan lebih kuat.

      Hanya menjadi alasan untuk (asal) membeli lebih banyak, tanpa perlu perhitungan strategis yg berarti.

      Delete
  2. Boeing 737 TNI AU apakah bisa utk AWACS, knp dari dulu tdk beli pesawat AWACS, minimal kan utk progres teknologi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Boeing 737 2x9 Surveiller (Link Artikel) hanya memakai AN/APS-135 SLAMMR, radar versi improved, dari versi improved AN/APS-85, yang pertama operasional di tahun 1958.

      Ini hanya radar maritim surveillance jarak jangkau 185 km, bukan untuk aerial radar, tetapi dalam prakteknya, TNI-AU seperti mencoba menggunakan B737 2x9 seperti AEW&C.

      Yah, tentu saja, hasilnya tidak akan bisa memuaskan.

      ## Sebelum tahun 2000, pesawat AWACS belum mulai dipasarkan secara bebas.

      Dan tidak, dalam hal pemahaman technology, juga tergolong diperlakukan cukup sakral, sama seperti membeli pesawat tempur.

      Semenjak itu hanya ada 3 sumber yang kemampuannya bisa dipercaya:

      1. United States --- jumlah paketnya paling luas; mulai dari ukuran AWACS berbasiskan Boeing 707 (kemudian 767), AEW&C Wedgetail (sebenarnya biaya developmentnya partially dibayar Australia), dan Hawkeye AEW&C, yang biasa dipergunakan dari kapal induk US Navy.

      Tidak, United States tidak pernah mencoba menjual AEW&C ke Indonesia. Alasannya mudah: Kita belum bisa cukup dipercaya.

      Lagipula, seperti biasa, mereka hanya akan menjual.... Versi Export Downgrade. Wedgetail Indonesia, misalnya, sudah tentu kemampuan deteksi, atau tracking-nya akan beberapa tingkat dibawah milik Australia.

      2. Israel
      Dari segi kemampuan mungkin lebih unggul dari buatan US. Sayangnya, secara politik akuisisi AEW&C dari Israel, kurang memungkinkan.
      Faktor kedua, United States bisa mengontrol kepada siapa Israel boleh menjual radar AEW&C.

      Kalau faktor politik bisa lewat, yah, lagi2 belum tentu mendapat ijin dari Washington DC.

      3. Swedia
      Mereka sudah lama mengembangkan sendiri Erieye radar, dan termasuk salah satu pelopor pengembangan tehnologi AWACS, yang terintegrasi dalam Nasional Network.
      Tidak ada satupun juga negara Eropa lain, yang aktif mengembangkan AEW&C.

      Kalau tidak mau beli model downgrade, yah, Swedia satu2nya supplier. Itu juga persyaratannya cukup ketat; tidak sembarangan negara boleh membeli dari Swedia, apalagi kalau pemerintahannya diktator, yg suka menindas rakyat.

      Sedangkan AEW&C dari PRC, atau Ruski?
      Kartu merah; kemampuannya meragukan, dan tidak akan pernah bisa dioperasikan sebaik AEW&C buatan Barat.
      Tentu saja, lagi-lagi, model export downgrade.

      Delete
    2. Mungkin sudah saatnya menulis artikel baru yg lebih mendetail tentang serba-serbi AEW&C lebih mendetail.

      Lain kali.

      Delete
  3. Rusia Luncurkan Kapal Selam Baru yang Paling Modern di Dunia http://kom.ps/AFwFyz

    Apakah ini akan lebih unggul dari kapal selam AS atau NATO?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua website berita militer, mulai dari National Interest, Defense News, dll, sudah ramai membahas kapal selam ini dari minggu lalu.

      Kazan-class submarine.

      Kembali, permasalahan Russia, sama dengan yang sudah mendera Armata tank, dan PAK-FA.

      ## Pertama-tama, secanggih apapun klaim Ruski, kelemahan utamanya, kapal selam Nuklir harganya akan bukan main mahal; sekitar $1,5 milyar. Ini juga belum tentu sudah harga final, mengingat kapalnya masih terlalu baru.

      Semua analysts juga sudah cepat mengambil kesimpulan yang sama, seperti dengan Amarta, dan PAK-FA; meragukan kalau Ruski akan dapat membeli cukup banyak boat.

      Dan kalau tidak cukup banyak boat, ini juga akan menyulitkan latihan crew. Kita tahu kalau crew pengguna tidak bisa menguasai kemampuan kapal, maka secanggih apapun, kapalnya tidak akan dapat beroperasi dngn efektif.

      ## Kedua, development process-nya juga cukup sulit. Sudah dimulai dari sejak Perang Dingin, sebelum berhenti ketika Uni Soviet bubar, dan baru dimulai kembali di tahun 2000.

      Ini juga problem yg sudah melanda pengembangan pespur, S-400, dan semua persenjataan Ruski. Akibatnya jelas.
      Meragukan kalau Kazan-class akan dapat beroperasi sesuai dengan yg mereka sudah iklankan.

      Kemungkinan, AL Ruski masih harus bertarung terlebih dahulu dengan berbagai macam "bugs", yg sudah pasti akan selalu keluar dalam setiap desain baru. Dan belum tentu mereka bisa sukses, karena faktor ketiga....

      ## Ketiga, perekonomian Ruski sudah semakin sulit, dan ini akan mengacaukan kedua faktor diatas juga.

      Seperti diatas,
      Butuh lebih banyak boat, lebih banyak latihan, dan kemampuan untuk menghilangkan semua "bug" dalam desain baru.

      Anggaran Ruski sekarang, tidak lagi seperti jaman Soviet dahulu kala. Ini akan selalu menghantui, dan membatasi pengembangan alutsista mereka.

      IMHO, kembali, seperti dalam artikel,
      Kazan-class submarine, hanyalah salah satu usaha membuat Logika Hollywood: "Death Star".

      Kemampuan taktisnya tidak akan bisa merubah equilibrium yang sudah ada, tetapi biaya yang dikeluarkan terlalu besar, sampai melebihi kantong.

      Delete
  4. mas admin,selain faktor cashback faktor politik apa kira-kira yang menurut admin membuat indonesia sangat tertarik mengakuisasi alutsista dari rusia,US,china dan korsel

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Pertama2, masih ada persepsi kalau diversifikasi Barat-Timur itu bagus. Anti-Embargo, katanya.

      Padahal dengan modal tongpes, mencoba diversifikasi supplier hanya mempermahal biaya operasional, menyulitkan latihan personil, kedua jenis alutsista mustahil untuk bisa diintegrasikan: beda filosofi, beda operasional.

      ## Kedua, faktor pendorong lain armada gado2; harga awal alutsista Ruski / PRC biasanya lebih murah.

      Su-30MK2 harga retailnya hanya $35 juta (belum termasuk komisi), dibandingkan F-15 harganya melebihi $100 juta.

      Tentu saja, ada harga yang harus dibayar dari keunggulan ini;
      - Tidak seperti berurusan dengan supplier Barat, supplier support dari PRC / Ruski boleh dikatakan NIHIL.

      - Faktor lain, masa pakai alutsista buatan Ruski / PRC juga sudah termasyur.... tidak akan bisa tahan lama.
      Sukhoi Su-30MK2 hanya bisa beroperasi 20 tahun sebelum "dipaksa" membeli baru; F-15 dapat beroperasi sampai 60 tahun lebih.

      Yah, ternyata alutsista buatan Barat lebih murah dalam jangka menengah-panjang.

      TNI kelihatannya sudah mengetahui hal ini, tetapi menolak untuk mengakui, dan sengaja tutup mulut.

      IMHO, terlepas dari klaim manapun, alutsista gado2 hanya akan sangat merugikan negara secara finansial, dan kemampuan tempurnya.... tidak akan pernah bisa efektif.

      Delete
  5. Apa keunggulan Probe and Drogue dibandingkan Flying boom yang digunakan USAF?
    Apakah Russia menganggap Indonesia Sekutu seperti Iran,China,Suriah,dan Venezuela?kan enggak buktinya SU-30MK2 punya kita dibawah Malaysia
    China punya BVR Missile namanya PL-12?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Probe-and-drogue system vs Flying boom

      Keunggulan:
      + P&D dapat mengisi bahan bakar dua pesawat sekaligus; flying boom hanya bisa satu per satu.
      + Harga pesawat tanker P&D lebih murah vs USAF tanker, karena sistemnya lebih sederhana
      + Dapat dipergunakan juga untuk mengisi bahan bakar helikopter.

      Kelemahan:
      - Pilot pesawat / helikopter harus lebih terlatih untuk mengisi bahan bakar dari probe-and-drogue, sedang flying boom, tugasnya dialihkan ke operator tanker.

      Di tahun 2003 dahulu, salah satu pilot TNI-AU pertama yg berlatih dengan Sukhoi, pernah bercerita, kalau keterampilan memakai P&D saja sudah tergolong langka dalam AU Ruski.

      - Flying boom juga dapat mentransfer lebih banyak bensin per detik vs P&D, tapi mengingat mengisi bahan bakarnya satu per satu pesawat, sama saja, menghabiskan waktu.

      - Flying boom juga lebih stabil terhadap, misalnya dorongan angin kencang. Ini kembali ke point pertama tadi, pilot pesawat / helikopter yg mengisi bahan bakar lewat P&D harus banyak berlatih.

      Delete
    2. ## Ruski memperlakukan Indonesia, boleh dibilang sama seperti US memperlakukan Iran.
      Kita tidak pernah dianggap sekutu Russia, walaupun entah darimana asalnya, para fanboys sok ge-er.

      Perbedaannya,
      US tidak akan pernah menjual senjata lagi ke "pengkhianat" Iran;

      .. sedangkan Ruski melihat kita gandrung ke Sukhoi, sebagai pra-sarana tepat untuk balas dendam ke "pengkhianat lama".

      Boleh bermimpi, tapi mereka sudah pasti akan mendowngrade spesifikasi Su-35KI (Kommercheskiy Indonesia) serendah mungkin. Tentu saja, akan ada praktek kongkalikong dengan pejabat untuk menutupi hal ini, sekaligus untuk iklan yg menyenangkan hati para fanboys.

      Kedua, komisi perantara Rosoboron, & antek2 lokalnya sudah pasti akan coba diketok setinggi mungkin.
      "Perbaikan mendalam", alias praktek menjual kedaulatan negara ke pihak asing, tentu saja juga sudah terjamin akan terus terjadi.

      ## PL-12 missile PRC... adalah BVR missile dengan active guidance.
      Kemungkinan besar, tidak akan pernah bisa seefektif tolok ukur AMRAAM C5/7.

      Kembali, alasannya sederhana.
      Raytheon (pembuat AMRAAM) jauh lebih berpengalaman puluhan tahun, tehnologi mereka jauh lebih modern (bukan tehnologi curian), modal mereka jauh lebih besar, dan tentu saja, tidak seperti missile buatan PRC / Ruski --- jauh lebih banyak testing, dan upgrade kemampuan probability Kill.

      Delete
    3. menurut beberapa kawan ku, admin di formil2 di fb ada yg memang jadi sales rosoboron

      Delete
  6. Min alutsista apa yg paling efektif untuk menghancurkan kapal induk,anti ship missile atau torpedo?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama saja.
      Semuanya tergantung Sistem operasional si pengguna, dibalik semata hanya melihat anti-ship missile, atau torpedo itu sendiri.

      Tentu saja, missile yg dipakai tidak boleh seperti kualitas C-705, atau RVV-AE (untuk BvR) --- they won't work!

      Secara tehnis,
      The age of Aircraft Carrier is already over.

      Di tahun 2005, kemudian terus diulangi lagi dalam latihan selama 2 tahun berikutnya, HSMS Gotland berhasil menenggelamkan CVN-73 USS George Washington dengan beberapa torpedo, tanpa pernah berhasil terdeteksi satupun juga kapal pengawalnya.

      Advanced anti-ship missile, seperti Exocet, dan RBS-15 juga semakin lama semakin ampuh(!)
      US Navy, ironisnya, juga sudah mulai ketinggalan dalam hal ini.

      Delete
  7. Kenapa bukan "logika tanguy & laverdure" saja bung DR...bukankah kisah-kisahnya lebih relevan dengan kondisi kita?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung hari,

      Buku "Skuadron Bangau Putih", yang menceritakan bagaimana Tanguy & Laverdure pertama kali pindah ke Dijon, dan mulai transisi dari SMB.2 ke Mirage IIIC, boleh dibilang paling relevan dari segi pengetahuan tehnis mendasar.

      Tentu saja, tehnologi yg dibahas disini versi tahun 1960an.

      Buku2 yg lain semakin lama semakin lebih menonjolkan sisi fiktif "Hollywood logic".

      Contoh:
      Harrier versi awal, seperti yg dipakai para "vampir", hampir mustahil bisa dipergunakan sebagai sarana terror yg efektif.

      Harrier yg harus tinggal landas / mendarat secara vertikal dari pangkalan2 rahasia para vampir tidak akan bisa membawa banyak senjata / bahan bakar, artinya jarak jangkaunya akan sangat pendek, kurang dari 100 kilometer, dan hampir mustahil akan bisa dogfight.

      Tidak seperti di komik, mencoba mencari pangkalan Harrier juga akan menjadi sangat mudah.

      Delete
  8. bagaimana dengan alasan politik "negara nonblok" . bagaimana relevansi nonblok terhadap situasi global saat ini menurut anda. thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sy belum sempat menjawab ini sebelumnya.

      "Non-blok", dalam konteks pasca Perang Dingin, adalah untuk sebisa mungkin berstatus netral secara politik terutama terhadap agenda politik negara2 raksasa United States, Ruski, dan PRC.

      "Non-blok" berarti menjadi bagian dari masyarakat internasional, yang bertanggung jawab, dan menghargai hak sesama anggota komunitas internasional.

      Tetapi "non-blok" bukan berarti harus bersikap pasif dalam politik luar negeri, seperti mencuci tangan dari persoalan.
      Masalah tidak akan bisa lari dengan sendirinya, kalau masyarakat internasional hanya berpangku tangan, tetapi bukan juga berarti kita harus selalu mengambil langkah intervensionist langsung.

      Dalam konteks ini, sbnrnya sepak terjang Ruski, dan PRC akhir2 ini sudah memaksa setiap negara "nonblok" untuk mengambil posisi yang lebih jelas.

      ## PRC mengklaim seluruh LCS, dan mengambil posisi menekan seluruh ASEAN secara jangka menengah-panjang.

      ## Ruski daftar dosanya jauh lebih panjang: mencaplok wilayah negara lain, terlibat dalam MH17 ("bukan salah kami"), dan mendukung pemerintah Assad, yg sebagaimana sudah dilaporkan, kerjasama keduanya sudah menewaskan terlalu banyak warga sipil Syria sendiri (jauh melebihi jumlah korban ISIS), dan tidak segan untuk memakai senjata kimia.

      Apa yang harus dilakukan Indonesia, sebagai negara "nonblok"?
      Kita harus belajar bersikap lebih pragmatis untuk menyesuaikan diri sesuai keadaan.

      Misalnya, tindakan yang lebih berkaitan dengan alutsista:
      Dalam konteks politik dewasa ini, adalah kegilaan kalau masih berpikir mau memilih Ruski, atau PRC sebagai sumber alutsista kita.

      Membeli senjata dari mereka, adalah suatu pernyataan politik, yang secara tak langsung hanya mendukung tindak-tanduk politik luar negeri mereka.

      Kenapa kita mau menyumbang uang ke Ruski, atau PRC?
      Sebagaimana kita tahu, uangnya hanya akan mengalir ke Syria, atau ke LCS.

      Delete
  9. Breaking News 7-April-2017: Trump sudah meluncurkan serangan Tomahawk cruise missile ke pangkalan udara Assad!

    Link: BBC.

    Sasaran: Shayrat Airbase, Syria

    59 Tomahawk, dari USS Ross, dan USS Porter (Arleigh-Burke class).

    Untuk pertama kalinya dalam konflik Syria, US meluncurkan serangan langsung yg ditujukan ke militer pemerintah Assad. Sebelumnya, setiap serangan mereka selalu ditujukan ke ISIS.

    Obligasi moral, menurut Trump, setelah serangan senjata kimia Assad, yg dijatuhkan pesawat AU Syria, bbrp hari yg lampau.

    Tentu saja, baik Assad, dan seperti biasa, Ruski, menyangkal serangan kimia ini "salah mereka".

    Di lain pihak, Trump sudah memerintahkan serangan ini, tanpa pernah meminta persetujuan Konggres Di Washington DC, ataupun memberitahukan PBB.

    Tunggu berita selanjutnya.

    ReplyDelete
  10. Replies
    1. Artikel dari bermacam sumber masih terus mengalir setiap hari.
      Sepertinya topik ini akan menjadi artikel baru sebentar lagi.

      Delete
  11. Ukraina tengah mengembangkan Pespur baru. Bentuknya sama dengan MiG 29 Namun Mesin Sama Avioniknya Buatan barat. Nama proyeknya LBL(Legkiy Boiviy Litak)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertama2, langkah mereka tidak mengherankan.

      Dalam jangka menengah, mereka akhirnya akan membutuhkan pespur baru, yg tidak akan tergantung kepada tehnologi / hasil industri militer Ruski.
      Akan tetapi....

      Kedua, Ukrania sendiri masih dinilai terlalu korup.
      Industri pertahanannya mulai menunjukan kemandirian dari ketergantungan akan Ruski, dan mulai meningkatkan produksi senjata untuk menghadapi perang di Timur, tetapi tetap saja.... Korupsi, dan favoritisme tender kontrak menjadi kendala utama.

      Ketiga, karena faktor diatas.
      Proyek Ukrania ini, walau sekilas terlihat bagus; seperti mengintegrasikan avionic + mesin Barat ke airframe MiG-29, kemungkinannya terlalu kecil untuk bisa sukses.

      Korupsi akan menjadi penghalang utama kemungkinan kerjasama industrial Ukrania - Barat,
      dan kalau masih belum cukup, hampir mustahil mesin / avionic Barat modern akan bisa compatible dengan basic airframe warisan perang dingin Soviet.

      Serba salah.

      Delete
  12. Habis liat berita di forum sebelah tentang sukhoi kita yang dibawa terbang pake antonov ke rusia yg katanya di upgrade habis"an...

    Bagaimama menurut bung GI soal itu ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, bisa saja.
      Tetapi harganya akan hampir sama mahal dengan harga beli baru.

      Tentu saja, plus komisi perantara 20 - 30%, karena volume pekerjaannya akan dihitung sedikit.

      Fakta berikutnya lebih lucu lagi:
      Seberapapun upgrade ke Sukhoi Kommercheskiy tahun 1980-an, tetap saja tidak akan bisa secanggih F-16 Block-25+ hibah.

      ## Pertama2, Ruski tidak akan mengijinkan upgrade ke versi Su-27SM3, atau Su-30M3 seperti yg dipakai lokal.

      ## Tidak hanya berhenti disana;

      - Radar terbaik untuk Su-27/30, N001VEP, sudah ketinggalan jaman. Versi K, tentu saja di-downgrade.

      Radar AN/APG-68 F-16 akan selalu bisa melihat / me-lock Sukhoi dari jarak yg lebih jauh.

      - OLS-27/30 IRST tidak akan di-upgrade.
      Kemampuannya saja meragukan, tidak bisa menembus awan, dan jarak deteksinya kurang dari 20 km.

      - Dalam RWR, dan defense suite, tetap saja akan kelas tiga. Kecil kemungkinannya dapat menantang, atau mengecoh radar AN/APG-68, atau seeker head AMRAAM.

      - Upgrade hanya akan menjadi dalih supaya biaya operasionalnya lebih mahal lagi, dan tetap saja 5 tahun lagi akan butuh "perbaikan mendalam", yg lebih mahal lagi.

      - Terakhir, tidak akan ada perubahan dalam segi persenjataan: RVV-AE, dan R-73E untuk export.

      Pespur barat manapun akan dapat mudah mematahkan Sukhoi dengan AIM-9X, dan AMRAAM C-7, yang jarak jangkaunya lebih jauh, dan probability kill-nya jauh lebih tinggi.

      Yah, kalau masih mau coba terus bertaruh ke Sukhoi sih, sampai kapanpun hanya akan buang2 uang, tanpa ada hasil yg berarti.

      Logika Hollywood Ausairpower / fanboys: Sukhoi lebih unggul dari F-16.

      Delete
    2. Tentu saja, akan membutuhkan biaya $1 juta+ untuk mengirim pulang Sukhoi, dan mengantar pulang.

      Tarif resmi sewa An-124 sekitar $25,000 /jam. Mungkin masih plus komisi lagi.

      Hitung saja biaya bolak-balik 2x ke Ruski, tambah waktu transit.

      Tentu saja, masih harus membayar biaya tehnisi Ruski utk bongkar-pasang Sukhoi -- sbelum mengerjakan apapun, lagi2 tambah komisi perantara.

      Inilah kenapa Gripen, dan F-16 cara mengantarnya.... dengan terbang langsung dari pabrik.

      Jauh lebih murah, dan efesien.

      Juga krn pswtnya jauh lebih tahan banting, dan tidak manja perawatan.

      Delete
    3. Saab mengirimkan gripen ke thailand via kapal laut, dg melepas sayapnya lebih dahulu kemudian membungkus airframenya spy terhindar dr uap garam....foto2 unloadingnya bisa dicari diinternet

      Mungkin cara ini juga yang dilakukan ketika mengirimkan gripen ke afrika selatan

      Delete
    4. Link website resmi Saab: Saab completes Gripen delivery to RTAF

      ==========
      Three SAAB Gripen C aircraft ordered by Thailand safely arrived at their home base Wing 7 in Surat Thani, Thailand on 4th September, 2013.

      The aircraft were received by RTAF pilots and officers. RTAF now has all the Gripen on order in place at their wing.

      These were the last of twelve Gripen C/D aircraft Thailand agreed to purchase in a G2G integrated air defense agreement with Sweden signed early 2008.

      RTAF will inaugurate the operational ´Gripen Integrated Air Defense System´ on 11th September with a ceremony at Wing 7.

      The ferry flight took off from Linköping, Sweden on 30th August, on a route that took them to Greece, Jordan, Qatar, Oman and India before reaching Thailand. The aircraft spent a total of 16.5 flight hours before touch down at Wing 7.

      ==========
      Foto-fotonya banyak kok di Internet, pilot2 Swedia yg melakukan ferry flight ke Thailand.

      Dewasa ini, tidak pernah ada pesawat tempur Barat yg delivery-nya lewat pesawat transport, atau kapal laut.
      Untuk apa? Buang2 waktu / uang.

      F-16 Block-25+ yg produksi tahun 1985-86 saja, tidak ada masalah kok terbang belasan jam dari pabrik Lockheed di Fort Worth.

      ## Sukhoi akan butuh perawatan berat kalau diantar lewat ferry flight yg sama.

      ## kebanyakan pilot Ruski kurang pengalaman / jam terbang utk bisa melakukan ferry flight seperti US, Perancis, UK, dan Swedia,

      ## Lebih penting lagi, profit untuk para perantara, jasa antar via An-124, dan biaya tehnisi utk perakitan kembali akan lebih besar via SOP delivery Sukhoi.

      Delete
    5. Delivery 3 Gripen ke Thailand dalam batch yg sebelumnya (5-April-2013),
      beserta foto serah terima di Surat Thani AB, Thailand.

      Link: ScandAsia

      Delete
    6. Pengiriman gripen rtaf via transportasi laut tampaknya adalah 3 gripen terakhir dari batch kedua....saya pernah download foto2nya.

      Sedangkan pengiriman gripen afsel via laut ada di gripenblogs, 18 feb 2010

      Delete
    7. Bung hari,

      ## Gripen untuk SAAF Afrika Selatan, pembeliannya lewan agen perantara Gripen-International.
      seperti sudah ditulis disini sebelumnya, Gripen International sudah tertangkap basah ternyata menyogok pejabat Afsel sampai 8% nilai transaksi.

      Yah, jangan heran kalau ada kongkalikong penggelapan dana,
      makanya Delivery-nya memang jadi lewat kapal laut.

      ## Gripen untuk RTAF ditandatangani lewat G-to-G contract, dan semua pengiriman 12 pesawat diterbangkan langsung dari pabrik Saab di Linköping.

      + Batch pertama 6 pesawat, website resmi Saab melaporkan delivery langsung ke Surat Thani, tanggal 22-Februari-2011

      Delivery 6 pesawat berikutnya, sudah sy tuliskan diatas.

      + 5-April-2013, 3 pesawat diterbangkan langsung ke Surat Thani, foto2 upacara serah terima, beserta foto2 pilot Swedia yg melakukan ferry flight di ScanAsia

      + 22-September-2013, untuk 3 pesawat terakhir, setelah terbang 16,5 jam via Yunani, Yordania, Qatar, Oman, dan India, akhirnya juga diterima di Surat Thani.
      Link: Website resmi Saab

      Seperti kita lihat, semua, sekali lagi SEMUA F-16 Block-25+ hibah dari pemerintah Obama saja delivery-nya terbang langsung dari rumah. Tidak ada yg perlu masuk kapal laut.
      Ini hanya prosedur standard delivery pespur Barat.

      Sebaliknya, Sukhoi "rusak selalu" akan selalu membutuhkan delivery via An-124.
      seperti pernah ditulis dalam artikel ini, Vietnam-pun juga mengalami nasib yg sama.

      Delete
    8. Upss...ternyata saya yang salah.

      Pengiriman gripen ke thailand via laut ternyata adalah sumbangan 1 unit jas-39 versi A untuk musium AU thailand

      Delete
  13. alias perawatan berat ke Rusia..yg mulai des 2015 hingga kini pun kabarnya juga ada yg belum kembali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemungkinan apa yang terjadi disini seperti yg sudah dialami India:

      Rosoboron menuntut negosiasi ulang kontrak untuk pembayaran yg lebih mahal drpd yg sudah disetujui sebelumnya.

      Ada kemungkinan "perbaikan mendalam"-nya sengaja masih dibuat "mangkrak".
      Dan krn pesawatnya masih ngendok disono, semua kontrol secara tehnis di tangan mereka,
      Kita mau menjerit-jerit bagaimanapun juga tetap saja tidak akan mengubah apapun.

      Nah, sekarang pikirkan sendiri:
      Kalau nasib TS-2701 & TS-2702 sudah demikian, kenapa sekarang masih berpikir mau mengirim pulang TS-3001 & 3002?

      Akal sehat seharusnya... Minta dahulu Rosoboron untuk menghormati kontrak awal, dan mengembalikan 2701 & 2702, baru berpikir mau mengirim 3001 & 3002!

      Catatan:
      Tentu saja, seharusnya "perbaikan mendalam" tidak boleh dilakukan karena mengirim alutsista untuk perbaikan diluar negeri adalah pelanggaran pasal 43 UU no.16/2012, ayat 2.

      Atau bahasa sederhananya, "perbaikan mendalam" hanya untuk menjual kedaulatan NKRI ke supplier senjata.

      Akal yang lebih sehat lagi....?
      Sudah saatnya berpikir untuk mempensiunkan semua Sukhoi Kommercheskiy secara bertahap.
      Kedaulatan negara, kesejahteraan rakyat, kemampuan industri lokal, dan lebih memperhatikan kesejahteraan personil TNI-AU (daripada perantara); semua harganya jauh lebih mahal dibandingkan terus mengoperasikan Sukhoi lintah darat.

      Delete
  14. Bung DR, pengganti f5 apa, f16 viper, gripen ato su 35, kenapa lama diputuskan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jawabannya, karena...
      Kita tidak lagi membutuhkan pengganti F-5E

      Kita sudah mendapat 24 F-16 Block-25+ Hibah, yg sudah jauh lebih modern dibanding semua pespur lain, eh, tetapi persenjataannya hanya 1-2 missile per pesawat.

      Kenapa harus buru2 beli pespur, kalau yg sudah ada saja masih belum bisa dioperasikan secara optimal? atau mudahnya, dipersenjatai dngn baik saja masih belum bisa.

      Delete
  15. Dan yang paling parah adalah yang ini.. ini si cuma katanya doang :
    1. Su 27 sk kita yang jadul digarap setara Su 27 skm
    2. Su 27 skm kita di garap seperti Su 27 sm2/sm3
    3. Su 30 kita di garap setara Su 30 M3

    Dan su 27 kita pakai radar Su 35... hemmmm

    Radar ols nya jadul..efektif buat 3m, grpien aja cros deteksi nya aja 0, koh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terlalu banyak fantasi "logika hollywood" disini.

      :D

      ## Pespur Ruski / Soviet tidak pernah didesain utk bisa mudah / murah untuk di-upgrade.

      Memangnya seperti F-16?

      ## Versi K = hanya model export downgrade Kommercheskiy, tidak boleh menyamai spesifikasi versi lokal.

      ## Su-27SKM mempunyai refueling probe, Su-27SK tidak.
      Butuh jutaan $$$, dan kelihatannya tidak akan bisa.

      ## Radar Irbis-E memerlukan power capacity 20kW hanya compatible ke PAK-FA, dan Su-35; tidak pernah didesain utk bisa di-retrofit ke Su-27/30 kuno.

      Su-30SM buatan Irkut saja tidak bisa membawa radar lain selain Bars-M.

      :D

      Delete
  16. berita terbaru kemenhan akan mendapat jatah anggaran 106T di tahun 2018 apakah menurut bung GI sudah mencukupi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini perlu dibahas mendalam si topik lain.

      Tetapi pada dasarnya, biasanya kebanyakan DepHan setiap negara, mempunyai kebiasaan selalu complain anggaran kurang.

      Sayangnya, biasanya juga, DepHan di banyak negara (contoh: Pentagon US) juga manajemen keuangannya.... berantakan, seperti mencoba mengisi ember bocor.

      Jadi kalau Kemenhan ditanya, cukup, atau tidak, yah, jawabannya pasti jelas.

      Disinilah kita seharusnya mendefinisikan kembali Optimal Essential Force.
      Seharusnya, baik pemerintah, DPR, dan Kemenhan lebih kompak untuk memberi garisan jelas yang dibutuhkan, dan batasan bagaimana dalam jangka panjang,

      Kemenhan tidak bisa berasumsi kalau anggaran bisa naik terus 10 -20% per tahun.
      Ekonomi, dan banyak kepentingan lain biasanya tidak setuju.

      Sebaliknya juga, pemerintah / DPR juga tidak bisa terlalu mengekang anggaran dibawah level yg optimal.

      Sama seperti alutsista, anggaran pertahanan itu harus sesuai dengan kebutuhan, dan keterbatasan negara, untuk mencapai hasil yang seoptimal mungkin.

      Delete
    2. pdahal dari semua departemen pertahanan dapat porsi paling besar bahkan lebih besar dari PUPR keterlaluan bgt kalau masih teriak kurang anggaran lebih keterlaluan lagi kalau dalam pemakaian anggarannya ternyata asal2an ingat itu duid hasil keringat rakyat jendral

      Delete
    3. semoga bukan untuk beli su 35 , kalo misal iya buat beli su 35 patut dipertanyakan komitmen menhan

      Delete
  17. menurut bung GI seberapa besar peluang Gripen untuk mengawal RI..berita terbaru Turki kembali tawarkan kapal selam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gripen adalah satu2nya yang memenuhi semua kebutuhan, dan persyaratan di Indonesia, terutama dalam komitmen secara ToT, dan kerjasama pembangunan industri lokal.

      Checklist singkat:
      + Kontrak terjamin akan ditutup dalam skema G-to-G (tidak ada "kickback")
      + Berurusan dngn Swedia, transparansi akan lebih terjamin
      + Pemenuhan semua persyaratan UU no.16/2012, dan kerjasama industrial jangka panjang
      + Bukan rongsokan versi export downgrade, spt IF-X, F-16V, atau Su-Flemon
      + Upgrade akan terjamin, dan semua parameter kemampuan akan berada dalam kedaulatan Indonesia
      + Reliabiliatas, maintenance juga akan terjamin
      + Biaya operasional hanya 40% lebih mahal dari BAe Hawk, atau hampir 40% lebih murah vs F-16.
      + Tentu saja, akan dapat dipangkalkan dimanapun dengan investasi minimal
      + Kemampuan tempur? Dirancang dari awal untuk melebihi tolok ukur F-16, yg sendirinya melebihi F-15, agar bisa membantai (terutama) semua pespur buatan Ruski.
      + Kalau alasan akuisisi untuk modernisasi, yah, secara tehnologi juga pilihan yg paling modern, apalagi krn yg lain hanya versi yg sudah di-downgrade.
      + Dengan sendirinya, 1 Skuadron + 2 Erieye saja akan membuka lembaran baru untuk sistem pertahanan yg terintegrasi --> kombinasi ini saja akan lebih unggul dari 80 Sukhoi, atau 40 IF-X downgrade.
      + Persenjataan? Tidak perlu tergantung hanya satu supplier manapun.

      Bahwa model2 versi export downgrade F-16V, atau rongsokan Sukhoi penghisap uang masih diperhitungkan saja, sbnrnya sudah sangat membingungkan.

      Kalau kita serius, seharusnya Gripen adalah satu2nya pilihan.

      Delete
    2. semestinya memang kudu berhitung cermat ,

      Delete
  18. Bung DR, menhan RR pernah menerima produk alutsista lokal salah satunya IFF, bisa dipasang dmn? Dan pernah teken MOU dgn perancis utk buat baterey pespur, pespur yg mana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## IFF dari Perancis, kemungkinan untuk dipasang ke helikopter license production PT DI, yang asalnya dari Perancis: Super Puma, misalnya.

      ## Untuk sisanya MoU Perancis, nanti harus research lebih banyak dahulu.
      :)

      Delete
  19. Apakah SU-30 Malaysia dikirim perbaikan mendalam kenegara asalnya?
    Kenapa Setiap pesawat Angkatan Udara didunia memilih Probe and Drogue dibandingkan Flying Boom
    F-16 akan dikabarkan terbang terus sampai 2048

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## RMAF Malaysia tidak dikenal dengan transparansi, jadi berikut adalah kemungkinan yg terjadi:

      Su-30MKM kita tahu hanya versi fotokopi dari Su-30MKI India, dngn avionic & defense suite buatan Ruski. Versi India-nya saja kesulitan seabrek sudah didokumentasikan di banyak media.

      Kemungkinan ada servicing agreement antara India - Malaysia; Jenis "perbaikan mendalam" spy dialami Indonesia, bisa jadi sudah di sub-contract-kan ke tehnisi India.

      ## Probe and Drogue -- secara desain & sistem, baik untuk tanker, ataupun semua asset udara lain, lebih sederhana dibanding Flying boom.

      USAF, satu2nya yg memakai Flying boom; bahkan USMC, dan USN saja tidak memakai sistem yg sama.

      ## F-16 baru saja disertifikasi untuk 12,000 jam terbang, dari angka semula 8,000 jam --- alias dua kali lebih awet dibanding Su-35, di atas kertas.

      Dalam prakteknya, F-16 akan 4 - 5x lipat lebih tahan lama / banting.

      Delete