Thursday, March 9, 2017

Skenario Sistem Pertahanan Indonesia di Natuna V1.02

(Semua nama & karakter dalam skenario ini fiktif, bukan yang sesungguhnya)

Pukul 01:03 pagitahun 203x
Pesawat Globaleye AEW&C registrasi AI-9011, callsign Eye-03 yang mengudara 50 kilometer 20 derajat Timur laut dari pulau Natuna Besar, sedang melakukan patroli udara rutin. Akhir-akhir penjagaan di sekitar Natuna memang sudah diperketat. Berbagai asset laut, dan udara secara bergantian mengawasi perairan Laut Cina Selatan selama dua puluh empat jam. 

Di dalam lambung pesawat, Letnan Satu Budi Parikesit untuk sesaat hampir saja tertidur, ketika tiba-tiba komputer dihadapannya memberi signal peringatan.

Radar Erieye ER melaporkan ”multiple boogies” dari jarak deteksi maksimum. Hanya membutuhkan sepersekian detik sebelum Erieye processing unit mengklarifikasi jumlah, dan formasi lawan. Dua puluh empat target dari arah Timur Laut; terbang rendah pada ketinggian kurang dari 500 meter di atas permukaan laut, dalam formasi yang rapi. 


Hostile boogies, Letnan Parikesit cepat menyimpulkan, dari feedback IFF, kemudian juga ketinggian terbang, jumlah, dan ukurannya RCS. Ukuran RCS menunjuk ke tipe Sukhoi. Delapan pesawat dalam covering formation, dan dua gelombang lagi masing-masing delapan pesawat. Setiapnya terbagi lagi dalam formasi diamond per empat pesawat.

Letnan Parikesit cepat mentransmit langsung keberadaan lawan secara digital melalui DNRI (Defense Network Republic of Indonesia). Hanya dalam beberapa detik, seluruh asset TNI di seluruh Indonesia sudah berada dalam siaga merah. Layar komputer di Mabes TNI di Jakarta, ataupun di atas KRI RE Martadinata, yang berlayar jauh di Laut Jawa, semuanya sudah dapat melihat gambaran radar yang dilihat Letnan Parikesit.

Mayor Wibowo, pilot dari GlobalEye, dengan sigap mengambil evasive flight profile; membuka jarak ke target, sementara terus mempertahankan sudut pandang radar Erieye untuk mengawasi ke-24 target. Mayor Wibowo, Letnan Parikesit, dan semua awak AI-9011 tahu, kalau dalam jarak di atas 350 kilometer, gelombang radar dari AESA Erieye ER mereka, yang mempergunakan Gallium Niitride transmitter, dan secara automatis sudah berpindah frequency ribuan kali, sangat sulit untuk bisa dilihat RWR di kelas AN/ALR-67; apalagi RWR di kelas Sukhoi.

Tetap saja, beberapa berita rumor menyebut kalau Sukhoi -X bisa membawa missile yang berjarak jangkau 600 kilometer. Mayor Wibowo, dan co-pilotnya, Kapten Marauleng, dengan tenang mengaktifkan sistem Electronic jammer untuk melindungi pesawat mereka dari kemungkinan ancaman missile lawan.



Pukul 01:04 pagi – Mabes TNI, Jakarta.


Mayor Jendral Wibiksono memasuki ruangan Command & Control, untuk mengklarifikasi laporan yang baru saja masuk.

”Eye-kosong-tiga melaporkan dua puluh empat target dari arah Barat laut kepulauan Riau?”

“Betul, pak,” jawab control operator Mayor Lukas Surya. “Dua puluh empat boogies. Tidak menyalakan transponder. Formasi tempur.”

“Arah, kecepatan, dan ketinggian?”

“Pulau Ranai Besar, ketinggian kira-kira lima ratus meter, dan kecepatan sembilan ratus lima puluh kilometer. Mereka akan melanggar wilayah Indonesia dalam... lima menit. Kelihatannya formasi ini akan mencoba menyerang dari beberapa arah.”

”Hostile,” Jendral Wibiksono menghela nafas. “Apakah unit disekitar wilayah ini sudah siap?”

“Sesuai prosedur, pak! Semua unit siap!”

“Kalau formasi ini tidak menjawab radio call kita, dan tidak berputar balik, semua unit mempunyai autoritas untuk menembak jatuh!” perintah sang Jendral.

“Siap, pak!”


Pukul 1:05 pagiDaerah Sendanau, sisi Timur Pulau Ranai Besar. 
Pesawat tempur Konvensional membutuhkan upgrade besar untuk Ranai Airport,
Untuk Gripen, hampir sebagian dari pulau dapat diubah menjadi pangkalan FOB.
Salah satu landasan FOB (Forward Operating Base) TNI-AU sudah menjadi hidup hanya beberapa detik sejak peringatan transmisi DNRI pertama dari callsign Eye-03. Lampu-lampu yang menyala sengaja dibuat sedikit meredup untuk mengurangi kemungkinan terlihat dari udara. Sekarang, instruksi untuk menghadang target sudah turun dari Mabes TNI.

Kapten Dewanto mengaktifkan APU (Auxiliary Power Unit) untuk menyalakan mesin tunggangannya, berregistrasi TS-3922. Hanya dalam beberapa detik, suasana malam yang hening, seperti dihentakan oleh suara keras mesin F414-GE-39-E yang baru saja menyala. 
Satu-satunya pesawat tempur yang bisa di-starter seperti mobil

Dalam layar komputer di cockpitnya, Kapten Dewanto sudah dapat melihat boogies, yang dilihat radar Erieye, secara real-time, bahkan sejak sebelum mesinnya menyala. Ke-24 hostiles baru saja menembus wilayah RI, dan kelihatannya tidak ada rencana untuk berputar.

Kapten Dewanto, yang memimpin detachment Eureka-9-3 dari Skuadron-12 ”Panther Hitam”, menyalakan system self-check pesawatnya, dan konektivitas TIDLS, dengan ketiga Wingman-nya, Letnan Prawirosuryo di TS-3924, Letnan Doli Hatipulu di TS-3925, dan Letnan Tobhias Lamongi di TS-3928. 

Hasilnya semua positif; keempat Gripen sudah siap terbang. Kapten Dewanto dapat melihat tidak hanya kapasitas bahan bakar dari semua Gripen dalam formasinya, tetapi juga status 3 MBDA Meteor yang disematkan di bawah perut masing-masing Gripen, 2 IRIS-T missile yang dibawa di wingtip, dan 2 AIM-132 ASRAAM yang dipasangkan di pylon sebelah luar. 7 missile per pesawat. 
Saab
Gripen-E dapat membawa:
3 Meteor dibawah pylon lambung,
2 MICA / ASRAAM di pylon sebelah luar,
2 IRIS-T / AIM-9X di Wingtip.

Multiple missile types, multiple manufacturers

Akrhinya saatnya tiba. Ratusan jam terbang latihan, dan ribuan jam tambahan di simulator yang sudah mereka dikumpulkan dalam beberapa tahun terakhir sudah mempersiapkan keempat pilot untuk malam semacam ini. 

Kapten Dewanto, dan Letnan Lamongi bahkan termasuk yang cukup beruntung pernah dikirim ke Eropa untuk mengikuti latihan ”Gripen meeting” bersama semua negara pengguna Gripen yang lain, dan kemudian menguji kemampuan mereka beberapa latihan udara mancanegara, seperti dalam latihan Pitch Black, dimana mereka sudah berhadapan dengan F-35A, F-18F, dan EA-18G Australia, yang beroperasi Networked sesuai standard NATO.

”Setelah kita take-off, aktifkan radar dalam passive mode, dan nyalakan IRST,” Kapten Dewanto me-radio ketiga wingmannya, sebelum  memberi isyarat kepada ground crew untuk bersiap memulai proses take-off. 

Saab
Forward Operating Base Gripen:
"Dimana kami berada, akan selalu sulit ditebak lawan."
Kapten Dewanto menutup pilot visor, dan mengaktifkan kemampuan Night-Vission Pilot Helmet-nya. Ke arah manapun mata memandang, semuanya menjadi terlihat dalam warna background hijau. Langit yang berawan, menjadi terlihat cerah. Beberapa burung yang terbang rendah di atas pepohonanpun bisa terlihat jelas.
Saab

“Go!” Kapten Dewanto memberi isyarat akhir, dan memulai prosedur takeoff. Mesin pesawat mulai mengumpulkan tenaga. Suara mesin mengeras, sebelum TS-3922 mulai melaju diatas landasan pacu darurat ini. Hanya membutuhkan beberapa ratus meter, sebelum pesawat terasa mulai menanjak, dan rodanya meninggalkan landasan.
"Kami pesawat tempur kaki lima. Tidak butuh landasan mewah!"
Hanya sepersekian detik kemudian, sesuai prosedur latihan yang sudah diulangi ratusan kali, TS-3925 sudah langsung mengambil posisi, dan memulai takeoff-run. TS-3923, dan TS-3928 kemudian segera menyusul secara bergantian.

Lepas landasnya keempat unit, secara automatis kembali di-transmit ke DNRI, agar semua unit TNI di sekitar Natuna mengetahui keberadaan, dan posisi mereka. Kurang dari lima unit sudah lewat sejak peringatan pertama dari Letnan Parikesit.

Dan secepat itu keempat Gripen mengudara, semua ground crew di landasan FOB Sendanau ini cepat membuka layar kamuflase untuk menyembunyikan panjangnya landasan, sedangkan dalam kurang dari satu menit, semua truk support dengan cepat sudah mulai menghilang ke balik rimbunnya pepohonan di sekitar lapangan. "Landasan" ini tidak lagi terlihat dari udara.

Keempat Gripen Eureka-9-4, mengudara ke tiga ribu kaki, dan mengambil arah memutar dari sebelah timur dari pulau Ranai Besar, agar tidak bisa dilihat lawan, formasi Kapten Dewanto terus men-transmit koordinat approach vector mereka, ke layar Letnan Parikesit di atas Eye-03.
Saab

Kita akan menyergap lawan dari beberapa arah secara bersamaan, katanya di dalam hati. Sesuai rencana pertama, tapi kita siap beradaptasi kalau nanti ada perubahan!

Dewanto mendapat informasi kalau Detachment Gripen Eureka-9-4 dari Skuadron-01 ”Elang Khatulistiwa”; empat unit yang berpangkalan di sebelah selatan pulau Ranai Besar, juga sudah berhasil mengudara. Dewanto bisa melihat melalui DNRI, kalau setiap Gripen Eureka 9-4 masing-masingnya membawa 3 Meteor, 2 MICA-IR, dan 2 AIM-9X. Kedua formasi akan menyerang formasi lawan yang lebih besar dengan mengambil posisi flanking attack.

Sebelumnya, untuk mengecoh lawan, kedua formasi empat Gripen memang sudah sering bergantian menghuni Lanud Ranai Besar. Yang tidak diketahui lawan, lanud Ranai Besar hanyalah salah satu dari sembilan landasan yang sudah dipersiapkan untuk Gripen di sekitar pulau Natuna Besar. Malam ini cukup beruntung, karena tidak ada satu Gripen-pun yang dipangkalkan di Ranai, walaupun ini artinya mereka harus terbang cukup jauh sebelum dapat mencegat lawan.

Kapten Dewanto memberi isyarat ke wingman-nya, dan mulai terus menambah kecepatan TS-3922-nya. Airspeed di HUD-nya mulai menunjuk kecepatan 1,348 kph, dan masih terus menanjak tanpa perlu menyalakan afterburner. Supercruise


Pukul 01:12 pagi - lautan 50 kilometer Barat laut pulau Ranai Besar.
Gambar: Antara
KRI Klewang I diproduksi PT Lundin, di Banyuwangi,
dengan bantuan ToT dari Saab.

Versi-2 sedang dalam produksi
Di atas KRI Pasopati, kapal KCR60 trimaran generasi terbaru dengan stealth-shaping, dan membawa radar Sea Giraffe 4A, dan peluncur untuk 4 RBS-23, dan 4 RBS-15 Mk III; Letnan Kawilarang akhirnya juga dapat melihat multiple boogies dari layarnya sendiri. 

Jarak kurang dari dari dua ratus kilometer, dan dari arah terbangnya, akan masuk dalam jarak tembak RBS-23 dalam waktu beberapa menit. KRI Pasopati didampingi oleh dua KCR60 trimaran lain, Brajamusti, dan Pancasona. Perbedaannya, baik Brajamusti, maupun Pancasona tidak membawa radar, walaupun masih diperlengkapi peluncur untuk RBS-23, dan RBS-15. Keduanya akan mengandalkan radar feedback dari Pasopati untuk memperoleh missile lock.

”Evasive! Evasive!” perintah Kolonel Rajiman, kapten KRI Pasopati. ”Jangan sampai kita terlihat lawan!”

”Komandan!” kata Letnan Kawilarang. ”Apakah kita akan menembak pesawat lawan? Mereka akan memasuki jarak tembak kita dalam beberapa menit.”

”Jangan!” larang Kolonel Rajiman. ”Mereka masih membawa banyak persenjataan air-to-ground! Kalau kita menembak sekarang, kita hanya akan menjadi target! Tunggu sampai saatnya!”

”Baik, pak!”

”Hati-hati dengan transmisi radar kita!” Kolonel Antasena memperingatkan Letnan Kawilarang. ”Radar AESA bukan berarti membuat kita tidak terlihat.”

”Baik, pak! Saya sudah memasukan prosedur menyala-matikan radar dalam selang waktu setiap beberapa belas detik, dan memperkecil emisi keluar,” kata Letnan Kawilarang. ”Kita juga sudah men-transmit posisi lawan kembali ke DNRI Network.”

”Kita akan berada pada posisi terdekat dengan formasi pesawat lawan,” sang kapten kapal berkata. ”Perhatikan layarmu, Letnan! Coba identifikasi target! Sensor feedback kita penting untuk semua yang lain.”

”Baik, pak!”


Pukul 01:21 pagi - Satrad 212 Natuna.

Letkol Hatta Punggawa sudah mengawasi layar radar tipe Thomson TRS 2215R di pulau Ranai Besar, semenjak early warning DNRI dari 20 menit yang lampau. Karena pesawat lawan terbang rendah, gelombang radar daratnya, yang terbatasi cakrawala akhirnya baru saja dapat melihat boogies di layar mereka. Mereka akan menyerang dari tiga arah, dan kelihatannya akan memulai serangan dengan cruise missile.

Letkol Hatta menyalakan sirene di landasan di airport Ranai Besar, untuk membuat lawan seolah-olah merasa kalau mereka baru saja terlihat, dan berhasil mencapai posisi surprise attack. Awak Satrad 212 sendiri bersiap menyalakan sistem jammer, dan mematikan pemancar radar untuk menghindari kemungkinan dihantam missile lawan.

Hanya dalam dua menit berikutnya, Radar-Warning-Receiver yang baru di-pasang ke stasiun radar ini memberi peringatan, kalau radar pesawat lawan sudah mulai men-lock mereka.

”Matikan radar kita!” perintahnya. ”Dan ungsikan crew dari sekitar radar! Missile lawan bisa menghantam kita beberapa sesaat lagi!”

”Oerlikon defense CIWS kita sudah siap, pak!” 

“Bagus!” 

Semoga radar ini tidak terkena tembak, harapnya, sebelum memasuki truk yang membawa pemancar radar Giraffe 4A, yang langsung bersiap berangkat. Setelah serangan lawan usai, mereka akan menyalakan Giraffe dari tempat lain, untuk membantu memandu Gripen ke arah target.
Gambar: Saab
Saab Giraffe-4A AESA radar:
Mobilitas tinggi, dan jauh lebih sukar untuk di-jamming.

Pengganti, atau backup untuk radar Kohudnas?


Pukul 01:29 pagi - Ranai Airport.

Beberapa cruise missile sudah mulai menghantam beberapa hanggar di Ranai Airport, beberapa mock model dari F-16, dan Gripen yang sebenarnya hanya model balon, mulai terbakar. Bagusnya, walau terbakar, dan sudah bolong, model-model balon ini memberi kesan kalau seolah-olah adalah benda padat, yang pelan-pelan terbakar, dan tidak begitu saja gembos.

Tugas Kapten TNI-AD Kuncoro, adalah memadamkan api dari salah satu mock model “balon” F-16 yang sudah terbakar, memperbaikinya, dan mempersiapkan suasana, seolah-olah unit ini sedang bersiap untuk mengudara. Gambarnya begitu mendetail, sampai nomor registrasinya saja terlihat. TS-1623.

Salah satu ”missile launcher” hasil garapannya, yang sudah ditempatkan di pinggir landasan, juga berhasil dihantam missile lawan. 

Untung launcher itu juga bukan barang beneran, pikirnya. Kalau kita tidak siap, kerugian kita malam ini saja sudah puluhan milyar.

”Ayo! Kita nyalakan beberapa api lagi,” perintahnya. ”Agar lawan mengira kerusakan kita cukup besar!”

Beberapa prajurit, dan awak bandara mulai menarik beberapa drum berisi minyak, dan menuangkannya ke beberapa titik tertentu di sekitar landasan. 


Pukul 01:30 - Su-30MK2 Aggressor-X

Sukhoi Su-30MK2 negara Aggressor-X mengambil posisi 2000 meter di atas Ranai, sebelum menjepret beberapa foto, yang memperlihatkan beberapa target yang terbakar di atas landasan. Beberapa personil TNI-AD terlihat menembakkan Chiron Manpads dari Ranai, tetapi Su-30MK2 dapat menghindari beberapa missile tersebut dengan menambah ketinggian, dan melepas beberapa flare.

Aneh, pikir pilot, dan WSO-nya. Kenapa tidak ada satupun juga pesawat TNI-AU yang berhasil mengudara? Bukankah mereka mengoperasikan Erieye AEW&C? Dimana pesawat tempur mereka? Apa kita benar berhasil menghancurkan... kelihatannya 4 F-16, dan 4 Gripen di landasan?

Meragukan bukanlah tugas individual dalam sistem training ala Soviet. Menurut pandangan layar radar KJ-500 AEW&C yang memandu mereka, tidak ada satupun pesawat tempur TNI-AU yang terlihat dalam radius dua ratus kilometer di sekitar Natuna. Secara tehnis, mereka berhasil mencapai complete surprise. 

Sang WSO meradiokan ke formasi serangnya; kelihatannya serangan awal mereka sudah berhasil. Enam belas pesawat, yang membawa smart bomb, akan bersiap untuk melunakan pertahanan udara sekitar Natuna lebih lanjut.


Pukul 01:31 - Globaleye "Eye-03"

Letnan Parikesit, di atas Globaleye AI-9011 melihat kalau delapan pesawat dari formasi pertama ini, terlihat mengambil posisi seratus kilometer dari Ranai Besar berputar untuk memberikan top cover dari sisa formasi; sedangkan enam belas pesawat sisanya sudah berputar balik.

Kemungkinan kedelapan pesawat ini adalah dari tipe Su-35K, untuk menjaga air superiority di atas hostile target. Sedangkan keenam belas pesawat lainnya kebanyakan dari tipe Su-30MK2, yang jarak jangkaunya lebih pendek, yang lebih ditugaskan untuk menembakkan “hidangan pembuka” cruise missile.

Letnan Parikesit memasukan tentative warning ke semua formasi Gripen, pertahanan udara TNI-AD di Ranai, dan beberapa KCR yang sedang menyiapkan perangkap akhir mereka. 

“Ah!” katanya tiba-tiba.

“Ada apa, Letnan?” tanya Kapten Marauleng.

”Saya dapat melihat gelombang kedua lawan: enam pesawat lawan; RCS-nya jauh lebih kecil dari formasi Sukhoi ini. Dua ratus kilometer dibelakang gelombang pertama.” 

Berarti sekitar sepuluh sampai lima belas menit lagi.

”Kemungkinan J-20,” kata Mayor Wibowo. ”Tapi mereka akan membawa bomb, dan bukan cruise missile!”

”Kalau begitu jumlahnya bisa jadi lebih besar dari yang terlihat di radar kita,” kata Letnan Parikesit, yang kembali men-transmit data ke DNRI. ”Mabes TNI memerintahkan kita untuk menghabisi gelombang pertama terlebih dahulu!”

”Kalau begitu, lakukanlah!”

Dan dengan demikian, nasib kedua puluh empat Sukhoi pertama sudah dikunci dalam tangan Letnan Parikesit. Tidak ada lawan yang lebih mudah untuk ditembak jatuh dibandingkan lawan yang sudah berputar menghadap pulang. Sang letnan mulai memasukkan koordinat, dan formasi serangan ke setiap asset TNI-AU, dan TNI-AL yang berada di sekitar Natuna. 



Pukul 01:32 - TS-3922, Eureka 9-3 formation

Didalam Gripen TS-3922, Kapten Dewanto mempelajari beberapa feedback terbaru dari DNRI.

"Ranai terbakar. Kerusakan minimal. Radar darat non-aktif. Kemungkinan cruise missile ditembakkan dari J-20, atau Su-30MK2. 

Gelombang kedua lawan. Sekurangnya enam J-20, mungkin lebih banyak. Membawa bomb. Secondary armament, mungkin PL-10 missile. Empat belas menit dari Ranai.

Tujuan dari strategi ini agar membuat Aggressor-X menjadi yang pertama menembak dalam konflik. Lagipula, nantinya mencoba menembak jatuh pesawat tempur lawan dari belakang, karena sudah terbang balik, akan jauh lebih mudah dibanding melawan mereka dari depan; Keras lawan keras. 

Sistem pertahanan udara Ranai baru diaktifkan. Siap tembak."

Sistem pertahanan udara di Ranai sebenarnya berlapis-lapis, tetapi sengaja disembunyikan dalam serangan gelombang pertama. Beberapa tahun yang lalu, Dewanto melihat sendiri pemasangan dua peluncur missile Aster-30 untuk pertahanan udara jarak 120 kilometer. 
MBDA
MBDA Aster-30: Jarak jangkau 120 km, ketinggian 20 km,
Potensi Long-Ranged Air Defense di masa depan?
Bisa tersambung ke DNRI Network?
(Link: MBDA)

Dalam jarak menengah, ada sekitar 6 truk peluncur BAMSE. Kalau semuanya belum cukup, masih ada Oerlikon Skyshield, dan RBS-70 SHORAD untuk melindungi masing-masing peluncur dari ancaman cruise missile, atau pesawat lawan dalam jarak dekat. Tentu saja, semuanya ini akan dipandu dari dua truk membawa radar Giraffe 4A AESA radar.

Data dari DNRI terus mengalir masuk:

Eureka 9-3 target top cover Su-35. Kemungkinan bahan bakar mereka mendekati 50%. 

Bahan bakar Su-35K yang lebih sedikit sebenarnya akan menjadi pedang bermata dua. Kemampuan manuever, dan kinematis mereka akan jauh lebih baik, tetapi mereka tidak akan dapat bertempur terlalu lama sebelum kehabisan bensin.

Formasi Eureka 9-3 cepat mendekati posisi lawan dari arah Barat, jarak sekitar 500 kilometer. Target yang diarahkan dari Eye-03: Su-35K yang memberi top cover. Kapten Dewanto juga dapat melihat kalau formasi Eureka 9-4 sudah diarahkan untuk menghantam Su-30MK2. Kesemua target mereka sudah terbang balik ke arah utara, dengan beberapa Su-35K sesekali berputar untuk melihat ke belakang formasi.

Ping! Komputer pesawatnya akhirnya memberikan warning.

Dua Su-35K lawan, yang mengambil putaran besar di belakang formasi gelombang pertama, sudah mengaktifkan radar untuk mencari pesawat TNI-AU. Mereka cukup pintar, kelihatannya hanya beberapa pesawat yang transmit, sisanya pasif. 
Saab Presentation
Be very afraid!

Tetap saja, passive feedback ke radar Raven ES-05 mereka dalam TIDLS Network, dan data readings yang di-share dari DNRI, berarti kedelapan Sukhoi sudah menggambarkan sendiri posisi, arah, dan ketinggian mereka di layar cockpit-nya.

”Open formation, and spread out!” perintah Kolonel Dewanto ke ketiga wingman-nya. ”Activate your defense suites, and ready the Meteors!”

TIDLS Network Gripen-to-Gripen dapat men-transmit data dengan jarak maksimum 500 kilometer antara dua Gripen terdekat. Meteor yang ditembakkan dari sudut yang lebih luas akan memperkecil kesempatan lawan untuk dapat menghindar. 

Semoga saja! Ini pertama kalinya Meteor akan ditembakkan dalam situasi konflik!
Saab Presentation
TIDLS, dan koneksi ke National Network
Tidak perlu Link-16
Semua Gripen menyalakan radar Raven ES-05 mereka dalam passive mode; tetapi flight leader Kapten Dewanto akan harus mengambil resiko menjadi yang pertama menyalakan radar untuk membantu telemetry feedback karena sebentar lagi kesemua Sukhoi lawan keluar dari jarak pandang radar Globaleye, atau satrad. Begitu Gripen menyalakan radar, mereka akan membuka resiko lawan untuk "melihat" gelombang radar mereka.


Pukul 01.33 - TS-3922

Jarak sudah turun ke dua ratus lima puluh kilometer. Lebih dari cukup untuk Meteor.

”Fire!” perintah Kapten Dewanto.
Gambar: Saab
Gripen adalah yang pertama menembakkan Meteor dalam testing

Keunggulan?
 Lebih banyak pengalaman vs Typhoon & Rafale
Dalam tempo sepersekian detik, tiga Meteor Missile sudah melesat secara bergantian dari bawah lambung TS-3922. TIDLS memberikan update real-time, kalau masing-masing TS-3924, TS-3925, dan TS-3928 juga sudah memulai salvo pertama. Total 8 Meteor sudah meluncur ke arah lawan. Sementara TS-3925 sengaja menahan 2 Meteor untuk cadangan, yang lain sudah menembakkan semua Meteor.

Tidak seperti AMRAAM C-7, probability Kill Meteor tidak akan berubah baik ditembakkan dari jarak 100 kilometer, ataupun 300 kilometer. Kecepatan terbang Gripen yang supercruise 1,411 kph akan menambah momentum, dan jarak tembak Meteor, kemungkinan sampai 50 – 70 kilometer lagi. Secara teori, Su-35K tidak akan bisa mencoba lari.


Dari jarak ini, komputer sudah menghitung, akan membutuhkan waktu dua, sampai dua setengah menit sebelum Meteor mencapai target.

Banyak yang bisa salah disini.

Paling tidak Kapten Dewanto tidak perlu mengambil resiko mendekati formasi lawan terlebih jauh. Su-35K Aggressor-X yang ukurannya besar berada dalam jarak jangkau radar Raven ES-05; sebaliknya, radar mereka tidak akan mampu mem-lock Gripen sampai jaraknya kurang dari 90 kilometer. Kebanyakan Sukhoi juga toh kelihatan sudah membelakangi mereka. Sasaran empuk.



Pukul 01.34 - TS-3922
Credits: Saab
Dilayar cockpit Gripen, semuanya akan selalu terlihat lebih jelas
Kapten Dewanto menyalakan radar Raven ES-05 ke full-active, dan mengambil alih telemetri dari wingman-nya, dual feedback ke sepuluh Meteor yang sudah melaju. Komputer mengerjakan sisanya. Ah, kedelapan Sukhoi itu terlihat begitu jelas, seperti begitu dekat dalam layar cockpit-nya.

Apakah Su-35K lawan dapat melihat gelombang radarnya?

Setelah menunggu beberapa detik, sejauh ini kelihatannya tidak.

Oh! Tetapi kelihatannya, salah satu Su-35K mulai memutar sekali lagi; radarnya menyala. Transmisi balik radar dari unit ini kelihatan lebih kuat selama sedetik. Mungkin? Pada detik itu, Dewanto cepat mematikan radarnya, mengambil posisi evasive, dan...

Seperti dalam latihan, setiap lima-enam detik, setiap Gripen akan bergantian menyalakan radar. Sekarang giliran Letnan Samongi di TS-3928 yang mengambil alih, dari jarak 100 kilometer di sebelah tenggara sudut 5 derajat dari posisi TS-3922. 

Random transmission dari jarak 250 kilometer lebih; sedangkan EWS-39 Defense Suite sudah membuat tabir jamming yang sukar ditembus. Lawan tidak akan ada harapan bisa melihat pesawat kita.

Tidak seperti dalam Link-16 yang sudah pernah dilihatnya dalam latihan bersama F-18F RAAF Australia; Kapten Dewanto dapat jelas melihat posisi wingman-nya sendiri berkat TIDLS Network. Tidak hanya itu, walaupun radarnya sendiri sudah dimatikan, baik posisi, ketinggian, dan arah kedelapan Sukhoi tetap terlihat jelas dilayarnya, bagaikan lampu senter dalam kegelapan.



Pukul 01:36 - TS-3922

Pada giliran Letnan Hatipulu yang menyalakan radar, akhirnya terjadi konfirmasi dari salvo Meteor pertama kali di dunia.

”Hit! Multiple targets hit!” teriak Letnan Prawirosuryo. 


Gambar: Saab
Ukuran yang luar biasa besar, persenjataan Kuno
dan Very poor situational awareness
akan selalu membuatnya lebih mudah tertembak jatuh.

IRST-nya pun memperlihatkan beberapa ledakan dua ratus kilometer di depan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, TNI-AU berhasil menembak jatuh pesawat tempur lawan. Ini juga merupakan prestasi first-kill untuk Meteor. Dan tidak hanya untuk satu pesawat. 

Empat target yang sebelumnya masih terlihat, sudah hilang dari layar radar. Kelihatannya, kebanyakan lawan tidak pernah melihat Meteor, dan beberapa yang mencoba menghindar di saat akhir, sudah masuk ke dalam perangkap No-Escape-Zone Meteor. Sayangnya, dua Meteor salah koordinasi, dan menghantam satu Su-35K yang sudah tertembak; sedangkan satu Su-35K, berhasil menghindar manuever akhir satu Meteor.

Apakah pilot ini beruntung? Atau memang hebat?

Keempat Su-35K yang masih selamat, terlihat mempercepat kecepatan untuk pulang. Mereka tidak mau mengambil resiko melawan Gripen yang tidak pernah terlihat.

”Boleh kita kejar, kapten?” Letnan Tobhias Lamongi dengan bersemangat bertanya.

“Jangan! Mereka tidak sendirian,” balas Kapten Dewanto. Memang secara tehnis, keempat Su-35K itu sudah tidak ada harapan. Kalau sudah berbalik arah, mereka hanya akan menjadi sasaran empuk untuk dikejar Gripen mereka, yang dapat terbang supercruise, kemudian masih menyimpan 2 Meteor, ataupun beberapa AIM-132 yang akan lebih sulit terdeteksi, ataupun dihindari.

Eureka 9-4 menembak jatuh enam Su-30, transmisi dari DNRI masuk. Empat Meteor, dan semua MICA masih siap tembak. Mimpi buruk mereka ternyata belum berakhir.

Status untuk J-20? Kapten Dewanto menanyakan.

Mereka masih mendekat. Akan lebih sulit terlihat radar.

Kami siap, Kapten Dewanto men-transmit balik. 

“Inilah yang saya maksud!” katanya ke wingman-nya. “Kita akan menjebak mereka, bersama dengan formasi Gripen 9-4, yang posisi akhirnya hanya 500 kilometer sebelah Timur kita!”

“Betul, kapten,” Letnan Hatipulu juga tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. 

Eureka 9-3 mendekati posisi, akan dalam jarak tembak Meteor - tiga menit! Demikian transmisi Kapten Dewanto melalui DNRI. 

Meteor kita hanya tinggal dua unit, pikirnya. Kita akan harus lebih mengandalkan ASRAAM, dan kemudian IRIS-T. Paling tidak Eureka 9-4 masih mempunyai 4 Meteor

Pertempuran udara akan lebih berbahaya sekarang. Untungnya, J-20 kemampuan manuever-nya tidak akan seampuh Su-27. Kali ini, kita akan menjebak mereka dari tiga arah. Long-ranged Aster dari arah Ranai, sedangkan empat Gripen dari Eureka 9-3, dan empat dari Eureka 9-4 akan menyerang dari dua arah. 




Pukul 01:40 - laut lepas, 50 kilometer dari Ranai

“Kita tembak, kapten?”

“Tembak! 2 missile per kapal!” perintah Kolonel Hatta.

Missile BAMSE melesat ke arah formasi Su-30MK2 yang lewat diatas mereka. Dua ledakan kecil terlihat di langit, sementara ketiga KCR cepat melaju untuk bersembunyi di dekat salah satu pulau kecil di dekat mereka.

Cukup mengherankan. Tidak ada satupun Sukhoi yang mencoba menyerang ketiga kapal trimaran. Mereka sepertinya mengetahui, Gripen TNI-AU masih berada di sekitar kawasan Natuna, dan dengan kemampuan supercruise akan dapat terbang jauh lebih cepat daripada Sukhoi.



Pukul 01:41 - Globaleye "Eye-03"
“Horee!” teriak Letnan Parikesit dari meja operator-nya, diatas Globaleye Eye-03. 

”Apa update terakhir?” tanya Kapten Maliuarang.

”Kesemua J-20 itu sudah berputar balik,” Letnan Parikesit cepat men-transmit data dari console-nya. “Mereka memutuskan tidak mengadu nasib.”

“Kalau begitu, kita sudah menang?” Mayor Wibowo tertawa.

”Delapan Gripen sudah mengudara dari Batam, untuk menggantikan Eureka 9-3, dan 9-4,” jawab Letnan Parikesit. “Kita sudah memenangkan ronde ini, tetapi kita masih belum boleh gegabah.”



Penutup

Credits: Saab

Walau terlihat cukup rumit, skenario diatas sebenarnya sudah sengaja disederhanakan. Beberapa peta, dan update lain yang menggambarkan manuever, dan counter-manuever untuk skenario ini akan di-upload bertahap dalam seminggu kedepan. Perhatikan versi skenario dalam judul artikel.

Skenario ini tentu saja adalah idealisasi yang terlampau jauh. Dalam keadaan sekarang, semuanya masih mimpi. Kekacauan pertahanan Indonesia bisa dimulai dari armada udara Versi Export Downgrade yang gado-gado, stock persenjataan minim, pembelian tidak pernah diutamakan untuk kebutuhan nasional, Renstra yang masih terobsesi jumlah, dan kelihatannya lebih diutamakan untuk keinginan mengejar komisi "kickback" dari penjual.

Pelajaran apa yang dapat dilihat dalam skenario diatas:

Pertama, setiap personil TNI dalam skenario ini bukan saja berhasil bekerja dalam satu tim yang terpadu, tetapi juga sudah jauh lebih terlatih dibandingkan lawan Aggressor-X.

Untuk mencapai kemampuan semacam ini membutuhkan komitmen penuh, dan kerja keras, yang tidak hanya datang dari TNI sendirian, tetapi juga dari Pemerintah, Industri Pertahanan, institusi pendidikan, dan bahkan seluruh masyarakat sendiri. Inilah yang harus disorot dalam Renstra, kemampuan personil seharusnya menjadi prioritas yang lebih penting dibanding ”asal beli alutsista”. 

Kedua, sehubungan dengan diatas, Alutsista yang baik, adalah alutsista yang lebih mudah secara operasional, dan dapat sering dipakai untuk mengasah kemampuan personil

Dalam hal ini, memang kebetulan, paket alutsista yang ditawarkan Saab, adalah…. satu-satunya yang menawarkan kelebihan ini. Alasannya sederhana; dari awal produk mereka memang sudah lebih diprioritasnya untuk beroperasi optimal, dengan minimum personil, atau budget.

Patut dicatat disini, kalau semua alutsista dalam skenario ini masing-masing sudah menunjukkan unsur keterlibatan industri pertahanan lokal dalam pengembangan lebih lanjut. DNRI, misalnya, yang adalah alutsista paling penting dalam skenario ini, akan menjadi 100% proprietory Indonesia, walau dibangun dengan kerjasama Saab. Negara lain, atau pihak manapun, mau bertapa seratus tahun sekalipun, tidak akan dapat membongkar rahasianya. Inilah baru yang dinamakan efek gentar.


TS-2701/2702 perbaikan mendalam (TNI-AU)
"... just another name for Super Hornet Fodder"
Perbaikan mendalam di negara asing, yang melanggar UU no.16/2012 
tidak menunjukkan kalau personil TNI akan dapat berlatih lebih baik dari negara lain.

Ketiga, kemenangan Situational Awareness atas jumlah. 
Credits: Saab
Full Situational Awareness: Penentu utama Konflik Abad ke-21
Dalam skenario ini, Gripen tidak pernah terlihat lawan,
sebaliknya, setiap pilot Gripen selalu mengetahui lokasi, dan posisi lawan
Keunggulan utama dalam skenario ini, TNI sudah menguasai Sistem Pertahanan terpadu. Segala sesuatu bisa dikoordinasi melalui DNRI. Perpaduan feedback dari bermacam-macam sensor, dapat dilihat setiap personil dalam satu layar. Kemampuan inilah yang dibutuhkan, bukan membeli gado-gado dari bermacam-macam supplier, yang tidak akan saling compatible.

Sebaliknya, Aggressor-X mengandalkan jumlah, dan mengerahkan 40 pesawat dalam dua gelombang. Akan tetapi koordinasi mereka tidak dapat menandingi sistem Network DNRI, dan TIDLS Gripen. Mereka membawa pesawat AEW&C, tetapi kualitas feedback-nya tidak pernah bisa memberikan gambaran yang jelas.

Keempat, walaupun pertempuran udaranya terlihat terlalu mudah, Gripen sebenarnya bukanlah bintang utama dalam skenario ini

Gripen jauh lebih unggul dibanding pesawat tempur lawan, karena dapat beroperasi dalam Sistem yang terpadu. Tanpa bantuan DNRI, yang memadukan semua sensor feedback dari Erieye, radar di darat, ataupun radar KCR di laut, Gripen akan setengah buta, dan pertempurannya akan jauh lebih sulit. Untuk menghadapi gelombang kedua dalam skenario ini, Gripen bahkan akan harus mengandalkan perpaduan pertahanan udara di darat, karena BVR missile-nya sudah hampir dihabiskan.

Skenario ini adalah contoh kerjasama dalam tim. Dalam hal ini, pemegang Command & Control yang mempunyai keunggulan Situational Awareness dalam seluruh skenario, Letnan Parikesit (karakter fiktif), yang berperan sebagai kepala operator radar di GlobalEye, sebenarnya memegang pemeran utama. Semua operator asset lain, boleh dibilang mengandalkan koordinasi dari Parikesit.

Kelima, skenario pertempuran udara memang kebetulan jatuhnya menjadi pure BVR combat

Gripen sebenarnya dapat dioperasikan menurut gambar yang dibayangkan dalam skenario F-35 USAF. Tetapi apa yang terjadi disini, hampir mustahil bisa direplikasi dengan F-35. Ini dikarenakan hal-hal berikut:
  • Gripen dapat terbang supercruise, 
  • Sensor Fusion Gripen akan setingkat lebih unggul, karena komponen IRST-nya, tidak seperti EOLS yang sudah ketinggalan jaman, juga lebih di-optimalkan untuk pertempuran udara.
  • Membawa lebih banyak missile per pesawat (5 BVR missile), dan tentu saja... MBDA Meteor akan dapat menembak jatuh lawan dari jarak yang hanya bisa dimimpikan AMRAAM-D. 
    Wikimedia Img
    Gripen can potentially use the Meteor better than anyone else!
  • Kalau pertempurannya turun ke dalam jarak dekat, Gripen yang masih dipersenjatai IRIS-T, ASRAAM, atau MICA-IR jauh lebih berbahaya dibandingkan F-35 yang terbang telanjang.
  • EWS-39 electronic jammer Gripen, yang dapat mengacaukan feedback radar lawan, dan memperpendek jarak deteksi, boleh dibilang fungsinya sama dengan stealth.
Silahkan bermimpi, atau berasumsi kalau koleksi barang downgrade
Su-35K, F-16V, atau IF-X akan dapat melakukan hal yang sama dengan Gripen!

Sayang, tidak akan ada komisi "kickback" untuk pejabat!

Coming Soon: 
Artikel ini akan di-update beberapa detail kecil dalam satu-dua minggu ke depan.

Alternative Scenario #1 – Kalau Su-35K negara Aggressor-X (you-know-who) ternyata berhasil menembakkan BVR missile mereka sendiri – Coming Soon!

Alternative Scenario #2 – Kalau BVR missile kedua belah pihak kebanyakan meleset, dan pertempuran jarak dekat terjadi antara Gripen Eureka 9-3, melawan….. sekurangnya DELAPAN Su-35K.

Alternative Scenario #3 – Bagaimana kalau dalam skenario diatas, J-20 tidak berputar balik, tetapi menyerang, dan dipersenjatai missile, dan bukan bomb?


101 comments:

  1. boleh Saya Request min :

    #skenario ke 3 --Ketika PRC menyerang Pulau Natuna Dan Kalimantan dengan Pespur J20,J31,Dan Sukhoi Family yg jam terbang Pilotnya Bersaing(misalnya), serta dengan dukungan kapal induk liaoning ,Kapal Destroyer,frigat, Kapal Selam Nuklir, lengkap dengan Alutsista dan pasukan darat China yg Harus berhadapan dengan Pesawat Gripen, F16, kapal perang TNI AL, Alutsista dan pasukan darat TNI AD yg sudah Connect Dgn National Networking System..


    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Eki,

      Pertama2 secara konsep, konflik modern dewasa ini lebih bersifat attritional jangka panjang. Lawan akan selalu mencoba menyerang (dengan missile, atau pesawat) setiap hari, sampai pihak kita melemah, atau pertahanan mulai mengendur. Lawan akan siap menerima kerugian cukup berat, selama kerusakan di pihak kita akhirnya cukup besar, hingga tidak bisa diperbaiki lagi.

      Kedua, untuk negara kepulauan seperti Indonesia, kuncinya adalah terus menguasai perairan, dan terus bertahan dalam attritional conflict semacam ini. Sejauh ini sayangnya, persiapan kita dalam dunia nyata masih sangat rendah.

      Konflik di darat, baru akan terjadi kalau pertahanan udara / laut kita sudah tidak ada.
      Kalau sampai TNI-AD yg menjadi pemeran utama dalam pertahanan, itu artinya setiap hari mereka harus siap menderita serangan udara.
      Masalah lain untuk AD, lawan kemudian akan memberlakukan embargo supply persenjataan ke pulau tersebut -- jadi kalau stock amunisi di pulau itu habis, ya kaput.

      Dalam skenario artikel ini, kita akan membuat lawan berpikir dua kali kalau bahkan masih mau meneruskan attritional conflict --- karena kerugian mereka di hari pertama saja sudah terlampau besar, sedang kerugian kita terlalu minimal.

      Dan apakah kita siap meneruskan konflik berkepanjangan? Tentu saja. Silahkan mencoba kalau mau menderita kerugian lebih banyak.

      Ini yg seharusnya menjadi kunci utama pertahanan Indonesia: bukan mengandalkan jumlah, tetapi kemampuan bertempur jangka panjang secara berkelanjutan. Tentu saja, jenis alutsista yg haus maintenance (spt pespur twin-engine, apalagi Sukhoi) tidak mempunyai tempat disini.

      Untuk skenario alternatif, kita kelak akan mempertandingkan Gripen System kalau menghadapi full-stealth force, kemungkinan perpaduan J-20, dan J-31.

      Delete
  2. skenarionya bagus admin, kita cuma perlu beberapa kemenangan pertempuran udara sebelum media massa nge- blow up berujung ke peristiwa politik luar biasa di dunia internasional sampai negara aggresor terpaksa menghentikan semua tindakan aggresif terhadap Indonesia guna menyelamatkan muka, sebenarnya banyak hal-hal menarik yang mungkin bisa jadi bahan artikel yang akan datang seperti konsep FOB, radar Giraffe, KCR-60 Trimaran, dan sebenernya kalau boleh request saya pengen baca RBS-15 beraksi mungkin menenggelamkan korvet atau fregat lawan, sama pola strategi " hit & run mission " kapal-kapal kecil kayak KCR-60 Trimaran. Tapi saya tertarik dengan konsep FB, camouflage temporary air base sama dummies buat mengecoh lawan. Mungkin bisa dibahas di artikel-artikel yang akan datang

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh iya mungkin perbandingan Erieye vs Globaleye sama pentingnya multilayers air defence dari long range ( Aster-15/Aster-30 : 120 km),medium range( RBS-23/Bamse : 25 km), short range( RBS-70 : 8 km, Skyshield Oerlikon : 5 km, Chiron : 2 km) dengan guidance radar Giraffe 4A & Network system, juga pentingnya electronic warfare & pesawat AEWC untuk menjawab tantangan pertahanan di abad 21 mungkin juga bisa menjadi bahan bahasan artikel-artikel yang akan datang

      Delete
    2. Betul, bung Thomas.

      ## Dalam politik luar negeri, pihak yg menembak terlebih dahulu biasanya akan selalu menjadi pihak yg disalahkan. Atau kebanyakan negara lain biasanya akan lebih supportif ke negara yg diserang.

      Sebelum perang Yom-Kippur 1973 sewaktu situasinya memanas, Menlu US Henry Kissinger memperingatkan Israel: tidak boleh mendahului dengan serangan mendadak seperti di tahun 1967. Kalau sampai melanggar, US akan berhenti men-support Israel dalam konflik.

      PM Israel, Golda Meir, waktu itu memutuskan untuk patuh. Alhasil, dalam hari pertama, Israel harus menderita kerugian cukup besar dari serangan mendadak Mesir, dan Syria. Imbalannya, support dari US berjalan terus sampai sekarang.

      Pelajaran disini memang, kita harus selalu siap kalau diserang terlebih dahulu, karena imbalannya lebih besar di kemudian hari.

      ## Yah, artikel2 mendatang akan mencoba menyorot fungsi, dan pentingnya masing2 komponen satu per satu.

      Pelajaran dari artikel ini segala sesuatu harus terintegrasi, dan tidak bisa berdiri sendiri. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh -- dalam konsep yg lebih matang secara pertahanan strategis. Tentu saja, mengingat sikon politik kita, lebih baik mengambil langkah kerjasama dengan Saab.

      Mungkin kita juga akan menunjuk beberapa contoh skenario sederhana lain, dimana integrasi semacam ini akan terasa sulit, atau tidak ada.

      Misalnya, apa yg terjadi kalau tidak ada Gripen, tetapi hanya ada pertahanan udara darat.

      Delete
  3. strategi yg menarik memanfaatkan dummy agar lawan mengira sudah menang dan ahirnya diserang saat sedang mundur,memang mau jaman apapun dari jaman 3 kerajaan di cina sampai jaman modern musuh yg sedang mundur adalah sasaran yg paling empuk untuk diserang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah.

      Seharusnya kita selalu bisa memilih untuk menyerang hanya di saat lawan lemah.
      Sebaliknya, kalau posisi lawan terlalu kuat, hindari konflik terbuka, dan minimalisasi kerugian.

      Konsep dasar perang gerilya yg sudah terbukti turun-temurun.

      Seperti kita bisa lihat, baik Soviet (di tahun 1980an), dan NATO sekarang sudah dua kali dipermainkan dalam konflik gerilya di Afganistan. Tentara, pesawat, dan perlengkapan mereka jauh lebih unggul dalam segala hal, tetapi ini tidak bisa membuahkan kemenangan mutlak.

      Sebelumnya di Vietnam, baik Perancis (tahun 1950an), ataupun US (1960an) juga sudah mengalami hal yg sama.

      Delete
  4. @DR

    Kalo kita lihat dipeta(diasumsikan lawan berpangkalan dispratly/paracell diarah timur laut), maka pola terbang pesawat AEW adalah mengarah Kebarat laut-tenggara bolak-balik. Yang jadi kendala utk platform bermesin jet adalah ruang udaranya yang terbatas...baru terbang sebentar sudah sampai ujung dan harus putar balik berulang-ulang(sementara coverage globaleye bukan 360•).

    Dg kondisi ruang udara yang sempit sspt ini bagaimana pola manuver yang ideal bg pesawat AEW, krn berimpitan dg ruang udara malaysia dikalimantan. utara?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Hari,

      ## Memang radar Erieye lebih optimal untuk melihat sudut 150 derajat ke arah samping pesawat, menyisakan sudut "blindspot" 30 derajat di depan, dan di belakang pesawat.

      Sebenarnya Erieye masih tetap bisa melihat target dalam "blindspot" ini, hanya saja kemampuan tracking berkurang.

      FYI - ini untuk versi Erieye V1.0.

      GlobalEye akan mempergunakan radar Erieye ER (atau Erieye V2.0); untuk pertama kali di dunia, menggunakan GaN transmitter. 70% tambahan jarak jangkau deteksi / tracking untuk lawan yang RCS-nya lebih kecil.
      =======
      AINonline: Saab lanches Globaleye
      =======
      Kelemahan desain ini tetap tidak bisa dihilangkan, tetapi kemungkinan sudah diminimalisasi lebih lanjut dalam versi Erieye ER.

      ## Kedua, pilot akan selalu dapat mengarahkan gelombang radar Erieye untuk mempertahankan tracking ke target. Secara tehnis, manuever akan dapat memberikan 360 derajat coverage.

      Dalam situasi konflik seperti dalam skenario diatas, Erieye akan berputar-putar dalam flight pattern tertentu (prioritas: tidak boleh mudah ditebak) untuk mempertahankan radar lock, tetapi tidak akan membutuhkan ratusan kilometer sampai harus lewat ke Kalimantan Utara.

      Semisal:
      Kalau flight pattern Globaleye mengharuskan belok setiap 50 kilometer;
      -- kecepatan rata2 Bombardier Globaljet akan ada dikisaran 650 - 800 kph, karena akan harus mengurangi kecepatan saat membelok.

      Untuk menempuh garis lurus 50 kilometer, Globaleye membutuhkan waktu sekitar 4 menit. Sudut belokan juga akan bisa di-optimalisasi agar tidak kehilangan tracking.

      Delete
    2. Itu dia maksud saya...kalo jalur lintasannya (diruang udara diatas perairan natuna)teralu pendek/tidak ideal(harus sering2 berbalik arah) akan sering kehilangan waktu update sasaran(terputus).

      Mungkin dimasa depan kita perlu menerapkan kerjasama patroli pengawasan udara dg malaysia dikawasan ini, spy keterbatasan diatas bisa dipecahkan

      Delete
    3. Bung hari,

      ## Kalau dari segi lintas udara sih bukan masalah, pesawat Erieye radar mempunyai kemampuan mengawasi radius 1000 kilometer di sekitar pulau Ranai Besar, kalau perlu.

      Dalam kasus skenario diatas --- ruang manuever menjadi lebih sempit, karena harus disesuaikan dengan tracking radar untuk formasi lawan; yg sebenarnya juga merangkap untuk meminimalisasi kemungkinan exposure dari deteksi lawan.

      ## Kalau kita mau menerapkan kerjasama pengawasan dengan Malaysia, tentu saja potensi kemampuannya akan jauh lebih optimal, sayangnya, langkah ini akan menabrak beberapa kendala.

      Negara2 ASEAN (tidak hanya Indonesia - Malaysia) rata2 masih individualis, belum benar2 siap, ataupun percaya satu sama lain secara politik utk menyatukan pengawasan, dan kemampuan pertahanan bersama.

      Kendala berikutnya tehnis -- baik Indonesia, dan Malaysia saat ini mengoperasikan armada gado2 yang tidak karuan. Kalaupun Indonesia mau berubah, belum tentu Malaysia mau. Alhasil, kemampuan membagi pengawasan bersama tidak akan bisa optimal.

      Tentu saja, PRC mengetahui kelemahan negara2 ASEAN.
      Inilah sebabnya mereka lebih pro-aktif mencoba mengklaim seluruh LCS jadi milik mereka sendiri.

      Delete
  5. berarti ini juga bermanfaat jika untuk mendeteksi keberadaan teroris kyak santoso di poso?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Pertama2, meluruskan dahulu. Pesawat AEW&C (atau dalam hal ini radar Erieye) lebih diutamakan untuk mencari "hostile threat", terutama pespur, atau cruise missile lawan.

      Dalam paket Saab Globaleye, pswt tsb juga membawa ground / maritime surveillance radar. Kembali, fokusnya untuk mencari "threat di darat", mulai dari motor, atau sampan.

      ## Untuk mencari individual teroris, jelas prosedurnya berbeda.

      Perhatikan saja cara NATO memburu tokoh2 Al-Qaeda, atau ISIS: membutuhkan 24-jam surveillance, tidak hanya mengandalkan pswt AEW&C (hanya untuk koordinasi setiap asset), tetapi juga pswt SIGINT (Signal intelligence) untuk misalnya, menyadap percakapan di handphone, drone dngn perlengkapan IR-camera (dapat terbang puluhan jam), terakhir tentu saja, satuan mata2 di darat, atau biasanya juga informan lokal.

      Butuh ketekunan, dan kesabaran; krn bisa makan waktu bertahun2, atau bisa terjadi kasus salah tembak.

      ## Asset paling penting disini yg bisa dipakai dalam setiap situasi adalah National Networking.

      "Satu melihat, semuanya bisa tahu!"

      "Kami bisa melihat anda, tetapi belum tentu anda tahu!"

      Delete
    2. memang agak susah mendeteksi tentang teroris apalagi di hutan..

      Delete
  6. Admin, sebenernya RRC lagi ngebangun apa sih di Scarborough isles & spratley is. Katanya mereka lagi reklamasi buat bikin artificial island sama ngebuat semacam " unsinkable static carrier " pake pulau2 itu yang bisa sebagai basis operasi strategic bomber kayak tupolev terus juga nge-install HQ-16 SAM, itu membahayakan gak sih untuk kep.nasional Indonesia terus seberapa strategis keberadaan kapal induk USS Carl Vinson di SCS

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Sepak terjang PRC di Spartley, dan Scarborough jelas:
      Mereka sedang sibuk membangun pangkalan garis depan untuk memperkuat klaim mereka atas "nine dash line" di LCS.

      ## Ancaman ke Indonesia?
      Dalam jangka pendek masih minimal, karena PRC masih mengambil wait-and-see, dan sepertinya bermain jangka panjang, sementara terus membangun kekuatan militernya bertahap.

      Ancaman langsung lebih ke Filipina, dan Vietnam.
      Akhir2 ini, perjuangan Filipina sepertinya mengendur (krn sikon politik disana), sedang anehnya, baik Malaysia, atau Brunei kelihatannya terlalu pasif.

      Kita salah satu yg paling aktif menentang armada bajak laut PRC utk melakukan perikanan di "territorial mereka sendiri".

      -- Inilah juga kenapa cukup gila kalau kita masih terus membeli missile buatan PRC (C-802, dan C-705) utk mempersenjatai kapal2 TNI-AL. Peluangnya untuk dibodohin terlalu besar.

      ## Ancaman jangka panjang ke Natuna?
      Secara resmi, sejauh ini PRC tidak mengklaim territorial atas Natuna, akan tetapi...

      ... kalau kita melihat peta, kepulauan Natuna letaknya luar biasa strategis, krn dapat berfungsi utk menjaga pintu selatan dari "nine dash line".

      Pulau Ranai Besar, termasuk salah satu pulau paling besar di kawasan ini, dan letaknya juga duduk diatas potensi ladang cadangan gas bumi yg luar biasa besar.

      Jadi dalam jangka panjang, adalah ide buruk untuk merasa posisi kita juga terlalu aman, dan juga terus merasa adem-ayem membeli alutsista dari Ruski, atau PRC:
      Mereka jauh lebih ahli dari kita.

      ## US Navy -- selama bertahun2 terus menerapkan patroli di LCS untuk melawan klaim PRC, dan sering mengirim kapal induk ke daerah ini.
      Tetapi seiring dengan meningkatnya kemampuan ballistic missile, dan anti-shipping PRC, ini tidak akan bisa berlangsung terus2an.

      Delete
  7. Min, jika F-22 Raptor bertempur melawan F-35 baik BVR maupun WVR. Lebih unggul yg mana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. "F-35 is not built as air superiority fighter. It needs the F-22";, pernyataan Jendral Michael Hostage, US Central Command, ke Air Force Times.

      Jelas, bukan?

      Tentu saja, kita skrg tahu F-22 yg berbasiskan architecture tahun 1980-an sudah semakin ketinggalan jaman, dan bukan main sulit utk di-upgrade.

      F-22 baru akan mulai mengintegrasikan AIM-9X Block-2, dan AMRAAM-D; dua senjata yg sudah bisa mempersenjatai F-15, F-16, dan F-18SH.

      Tentu saja, tetap tidak ada IRST, atau Helmet Mounted Display.

      Satu2nya harapan utk F-22 / F-35 hanya pada Networking (Swedia sudah mendahului fighter-to-fighter network puluhan tahun), dan semoga stealth mereka dapat selamat di tengah profilerasi anti-stealth technology.

      Delete
  8. bung GI ,rupanya kata2 bung GI terbukti

    India Ajukan Syarat Berat untuk Jet Siluman ke Rusia
    #MAYOR
    SMID News - India akan melanjutkan program pembangunan jet tempur generasi kelima atau yang dikenal sebagai program fifth-generation fighter aircraft (FGFA) dengan Rusia tetapi mengajukan persyaratan yang berat. New Delhi hanya mau jika Rusia mau melakukan transfer teknologi secara penuh serta memberi manfaat dalam upaya negara tersebut membangun jet tempur siluman masa depan di dalam negeri.
    Sumber Kementerian Pertahanan India mengatakan keputusan ini telah diambil pada “tingkat tertinggi” untuk “tidak mengulangi kesalahan” dari seluruh program akuisisi jet Sukhoi-30MKI dari Rusia. Program yang telah menghabiskan biaya Rs 55.717 crore India itu tidak memberikan sumbangan nyata dalam pembangunan jet tempur dalam negeri.
    “Meskipun sebagian besar dari 272 pesawat Sukhoi [240 sudah masuk layanan] telah dibangun oleh Hindustan Aeronautics (HAL), mereka pada dasarnya hanay dirakit di sini dengan kit seluruhnya diimpor. HAL masih tidak dapat memproduksi pesawat Sukhoi sendiri,” kata seorang sumber sebagaimana dikutip Times of India Kamis 9 Maret 2017. Sebuah jet tempur Sukhoi yang dibuat HAL juga lebih mahal jika dibandingkan impor langsung dari Rusia.
    Jadi, meskipun ada tekanan Rusia untuk segera menandatangani kontrak FGFA, India sekarang tetap akan bertahan untuk bisa mendapatkan hal yang lebih baik untuk kontrak senilai sekitar US$25 miliar untuk membangun 127 jet tempur siluman tersebut.
    Kedua negara telah menandatangani kesepakatan membangun FGFA pada tahun 2007, yang diikuti kontrak desain senilai US$295 juta pada awal tahun 2010 sebelum kemudian perundingan terhenti.
    India kini telah ditetapkan dua prasyarat penting untuk proyek FGFA, selain memeriksa seluruh pengunaan biaya. Syarat pertama harus ada transfer teknologi yang luas, termasuk ” sumber kode “, untuk memastikan India di masa depan dapat mengupgrade tempur dengan integrasi senjata baru sendiri.
    Syarat kedua program ini pada akhirnya harus membantu India dalam mengembangkan jet tempur kelas menengah atau advanced medium combat aircraft (AMCA) yang sekarang sudah dalam fase pembangunan desain.
    “Ini adalah wajib. Sebuah komite tingkat tinggi yang dipimpin oleh Marsekal dari IAF, seorang profesor IIT Kanpur dan mantan kepala dari HAL dan National Aerospace Laboratories, sedang memeriksa semua aspek ini. Pemerintah akan mengambil keputusan setelah laporan tersebut disampaikan pada bulan April, “kata sumber itu.
    Program FGFA India terkait langsung dengan program T-50 PAK FA Rusia karena jet tempur tersebut akan menjadi dasar pengembangan. Tetapi Times of India melaorkan New Delhi sudah kecewa dengan pengembangan T-50 yang dinilai tidak memiliki kemampuan siluman tinggi serta daya dorong mesin yang kurang kuat. India juga mencatat ada 43 kekurangan yang ditemukan dalam T-50.
    Rusia kemudian menjanjikan FGFA India akan sangat berbeda dari Sukhoi T-50, dengan mesin yang lebih kuat dan kemampuan lainnya. Di bawah kontrak utama R & D, India dan Rusia seharusnya menyumbang US$ 4 miliar untuk pengembangan prototipe, pengujian dan membangun infrastruktur-up. Pengiriman jet tempur akan dikenakan biaya tambahan, yang sebelumnya direncanakan akan dilakukan 94 bulan setelah kontrak itu ditandatangani.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @tupa, bung @bonjol,

      Sebenarnya ini sudah untuk kesekian kalinya, India membuat pernyataan resmi ke Russia:
      "Sudah saatnya berhenti membohongi kami! Lakukanlah sesuatu sesuai tulisan di atas kontrak!"

      Apakah kali ini akan ada perubahan?
      Kemungkinan besar tidak.

      Russia akan menjawab iya, tetapi seperti biasa, tidak akan mengerjakan apa yg diminta.

      Kenapa demikian?
      Karena sama seperti Korea, India melakukan kesalahan untuk meminta sesuatu yg mustahil.

      United States, dan Russia tidak pernah, dan tidak akan memberikan ToT ke siapapun juga.

      Sama seperti serigala akan selalu beranak serigala, tidak mungkin bisa mendadak bisa keluar domba.

      Delete
  9. ternyata Gripen lah yang sesuai kebutuhan hankam kita dan kemandirian inhan kita juga sistem

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untung Sukhoi kita cuma 16 biji jadi gak terlalu pening amat coba India ada 260an yang siap terbang cuma 100an atau Vietnam punya 46 tapi sekarang pun lagi dimodifikasi sia-sia untuk angkut misil python israel, sekalipun dia punya bengkel itu Su-27/Su-30 bakal jadi petaka Vietnam, mereka aja sekarang lagi ngejar program EDA punya US biar dapet F-16 bekas, lagian saya gak ngerti kok kita harus ngiri liat bengkel punya Vietnam liat aja fotonya sekilas Tangga-nya aja pake kursi plastik, gak cocok lah. Kita aja PT.DI kayaknya gak seketerlaluan itu

      Delete
    2. betul gan....ternyata itu terjadi di india dan nampaknya india sangat kecewa ke Rusia.....

      Delete
    3. bahasa kasar nya india ketipu Rusia secara halus

      Delete
    4. ngeri lihat apa yg terjadi india itu

      Delete
    5. Betul,
      untung Sukhoi cuma 16... eh, sebenarnya paling banyak mungkin hanya 8 - 10 yg masih bisa terbang.

      ## Umurnya tidak akan tahan sampai 2020-an,

      ## Tidak akan ada ToT, atau bisa maintenance sendiri,

      ## Komisi perantara, dan "kickback",

      ## ...dan persenjataan versi export-nya tidak akan pernah bisa efektif.

      Delete
  10. Kemaren President Park Geun Hye udah resmi di-impeach congress & senate sama disetujui peradilan, belum tahu siapa penggantinya,tapi mengingat krisis ekonomi Korsel apa mungkin proyek milyaran USD KFX/IFX dibatalkan sepihak oleh Korsel, kalau iya ya pasti banyak yang penggemar proyek ini kecewa tapi juga sebenernya malah menjadi sesuatu yang positif buat Indonesia yang mana anggarannya bisa diarahkan ke yang lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang benar,

      Biar bagaimana proyek KF-X ini akan menjadi beberapa pil pelajaran pahit untuk kita:

      ## Pertama2, jangan bermimpi dahulu terlalu jauh!
      Baik secara industri, tehnologi, ataupun kemampuan kita masih belum siap. Mau diputar-balikan bagaimanapun juga yah, bayi tetap saja bayi.

      Justru beruntung kalau Korea membatalkan proyek ini, karena skandal politik, dan mulai menggunungnya masalah hutang corporate debt disana yg 170% dari PDB.....

      Masalah lain: 46% ekonomi Korea tergantung export, sedangkan US / RRC saja kurang dari 30% tergantung export. Ini membuat ekonomi Korea sngt rentan ke gejolak ekonomi dunia.

      Batalnya KF-X akan menyelamatkan kita dari jurang finansial, yg akan lebih parah dari Hambalang.

      ## Kedua, kalaupun bisa mendapat kemampuan "membuat sendiri", belum tentu pilihan ini akan menjamin kedaulatan bangsa.

      India bisa memproduksi Su-30MKI,
      Korea bisa memproduksi T-50....

      ....selama keduanya selalu menurut, dan bersujud sembah kepada si pembuat asalnya, yg bebas mendikte apa yg dimaui, krn masih memegang source code, dan mengatur semua part yg boleh dipasang disana.

      KF-X yg tergantung tehnologi US, sekali lagi hanya akan menjadi versi F-16 yg jauh lebih mahal.

      ## Terakhir, jangan salah pilih partner!

      Kalau mendapat ToT, dan menambah kemampuan industri sendiri yg menjadi tujuan awal, yah, jangan pernah memilih partner dengan pihak yg belum siap.

      Hanya ada 3 sumber produksi senjata yg berdaulat di dunia: US, Russia, dan negara2 Eropa.

      Diantara ketiga pihak jelas: US, dan Russia tidak akan pernah bisa memberi ToT.

      Mudah.

      Delete
  11. nampaknya india bakal berpaling dari Rusia..kalo tdk, mungkin india bkal makin menyesal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya sih gitu, dari kapal selam Scorpene class, pespur Dassault Rafale, pesawat C-295, sama SAM Bamse & Spyder. kayaknya India kurang puas dengan alutsista Russia selama ini, kayak pespur Su-30 MKI yang availability ratenya dibawah F-16 C/D Block 52 Pakistan

      Delete
    2. bisa jadi AU Pakistan bisa menghajar su 30mki

      Delete
    3. ## Memang, kelihatannya akuisisi India mulai bergeser. Kalau sebelumnya 90% Russia, berkat customer service yg buruk, mereka mulai lebih memilih buatan Eropa, atau US (C-17, C-130J, P-8).

      Kita lihat saja: Biar bagaimana mafia alutsista juga masih bercokol disana, dan mereka akan selalu lebih memilih supplier Ruski, yang pro-perantara dari yang lain.

      ## F-16 Block-52+ Pakistan, tentu saja secara tehnis jauh lebih unggul dalam segala hal dibandingkan Su-30MKI.

      + Paling tidak Anggaran India jauh lebih besar vs Pakistan, dan kelihatannya mereka melatih pilotnya jauh lebih serius dibanding PRC, ataupun Ruski. Hal ini tetap saja tidak akan merubah beberapa hal...

      - Block-52+ Pakistan akan memiliki cockpit yg lebih mengoptimalkan situational awareness dibanding Su-30MKI, yang walaupun memakai bbrp interface buatan Perancis, leluhurnya masih warisan jaman Soviet.

      - Block-52+ versi export masih lebih modern, dan terbukti jauh lebih mudah di-upgrade.

      Upgrade Super-30 untuk MKI ternyata hanya.... akan membuatnya lebih sebanding dngn Su-30SM versi lokal, inipun juga masih berbasiskan tehnologi 2005-an.

      - Dalam BVR combat, kembali RCS untuk MKI jauh lebih besar, akan membuatnya jauh lebih mudah terlihat dalam jarak jauh, dibandingkan F-16 (1,6 m2), ini walaupun radar Bars-M yg tipe PESA secara teori seharusnya lebih unggul dibanding AN/APG-68v9 Pulse-doppler.
      Kembali, unknown quality disini, tidak ada yg bisa memastikan seberapa ampuhnya radar buatan Ruski. Tidak pernah dites.

      + Tentu saja, dengan hanya dipersenjatai R-73E, atau RVV-AE versi export, terlalu kecil kemungkinannya pilot India dapat menembak jatuh F-16 Pakistan, walaupun mungkin kemampuan mereka sebanding / lebih baik.

      Kelihatannya walaupun India membawa MKI ke Red Flag, dan dikabarkan performanya "baik" disana; terbuka kemungkinan negara2 NATO justru lebih mempergunakan kesempatan ini untuk mempelajari kemampuan MKI, dibandingkan benar2 mengetesnya seperti F-16.

      Lagipula US, dan Eropa sama2 masih mengincar India sebagai pembeli senjata besar, membuka banyak peluang untuk "lebih mengalah".

      Karena alasan politik, dan tehnis,
      sangat sulit untuk pesawat buatan Ruski / PRC dapat berlatih bersama pesawat buatan NATO, tanpa ada banyak kartu yang akan selalu ditutup-tutupi.

      Ini ringkasan singkat.

      Delete
  12. bung kalau saya search di google atau youtube top 10 pespur terhebat kenapa kebanyakan yg nomor satu selalu pakfa pdahal pakfa operasional saja belum

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah.

      Sama seperti APA (Australia Air Power), semua orang berasumsi kalau PAK-FA akan mempunyai kemampuan mirip dengan F-22, tetapi buatan Russia: supercruise, stealth sedikit lebih inferior dari F-22, TVC, AESA, dll.

      Kenyataannya?

      - Ternyata sejauh ini, Sukhoi terlihat masih belum bisa menguasai konstruksi low observability, yg menjadi persyaratan mutlak kalau membuat stealth design.

      - PAK-FA akan lebih berat dibanding Su-35S, tetapi masih menggunakan mesin 117S, variant dari AL41F Su-35. Mesin baru? Akan butuh milyaran $$ development, dan bertahun2 sebelum siap produksi.
      Bye-bye, supercruise!

      - Radar juga masih memakai Irbis-E, krn industri Ruski belum siap membuat AESA radar. Kecil kemungkinannya, kalaupun production model Tikhomarov NIIP Aesa radar siap sekalipun, mereka akan menguasai ratusan ribu baris programming utk membuat kemampuannya bersaing dengan AESA barat.

      - Tentu saja, Ruski masih belum mempunyai equivalent dari AMRAAM.
      BVR missile dengan active seeker adalah persenjataan utama setiap stealth fighter, sayangnya, semua BVR missile untuk PAK-FA sejauh ini masih mimpi.
      Missile andalah Ruski adalah R-27, mayoritas juga sisa stock dari jaman Soviet.

      Delete
  13. Kalau Mitsubishi F-2A buatan Jepang hasil lisensi dari F-16 Lockheed Martin.apakah F-2A buatan Jepang lebih canggih?


    ReplyDelete
    Replies
    1. - Mitsubishi F-2 ukurannya lebih besar, dan lebih berat 1 ton dibanding F-16 Block-50/52; mesinnya tetap saja GE-129 dari Block-50.
      Akibatnya, wing-loading, dan T/W ratio lebih inferior.

      - Harganya $120 juta+, atau sekitar 50 - 60% lebih mahal vs F-16V, atau lebih mahal dari F-15J.

      + Konstruksinya Mitsubishi technology, banyak bagian bahannya composite; secara tehnis sedikit lebih modern.

      + Mitsu juga mendahului US dalam memasang AESA radar, yg 100% buatan Jepang.

      F-2 dibuat dari basis tehnologi Jepang, yg jauh lebih tinggi dibandingkan KF-X Korea, dan secara tehnis, resiko proyeknya jauh lebih rendah. Hasilnya bisa dilihat sendiri, dan dari sini kita bisa melihat prospek suksesnya KF-X.

      Jepang juga berhasil menguasai perjanjian bertukar ToT dengan US, misalnya dalam konstruksi composite utk sayap pesawat, tetap saja, biaya yg dikeluarkan Jepang untuk licensing tehnologi US dikritik terlalu mahal.

      Delete
  14. Russia juga punya pesawat patroli maritim yaitu IL-38 sama TU-142M?
    Russia juga mengggunakan pesawat AWACS seperti Berieve A-50U?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Beriev A-50 kelihatannya... tidak mempunyai kemampuan yg cukup serius, dan Ruski juga belum mempunyai kemampuan / pengalaman utk bisa memakainya spt AWACS Barat.

      Yg pertama kali kita bisa perhatikan, Ruski tidak pernah mempergunakan Beriev dalam semua konflik mereka akhir2 ini, baik di Georgia (2008), ataupun di Syria (sejak 2015).

      ## Il-38, atau Tu-142M maritime surveillance, dahulu utk mengejar kapal selam US, tetapi sama seperti Beriev A-50, kesemua platform ini adalah warisan dari jaman Soviet, dan sejak itu, belum pernah mendapat update kemampuan yg berarti.

      Delete
  15. ibaratnya kalo indo dan korsel Bikin KFX/IFX tetapi Lockheed martin sbg Partner utamanya misalnya, Sama Aja Ruginya, malah Lockheed martin yg disuruh Bikin pesawat Tempur Steath baru usai F35 dan F22. tapi LM yg memegang Kunci Inggrisnya. kan sialan namanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Eki,
      Inilah yg sy sudah tuliskan di formil2 sejak tahun 2014.

      Masakan kalau mau membuat pesawat tempur modern, tetapi tidak pernah membicarakan bagaimana, atau siapa yg akan menulis Source Code?

      Tentu saja, krn kita sendiri tidak pernah siap untuk proyek semacam ini, Source Code tidak dianggap sesuatu yg penting.

      Lockheed menulis, dan mengunci source code untuk T-50, yang jauh lebih sederhana dibanding "pesawat mimpi" KF-X --> Ini artinya Korea tidak punya pengalaman menulis code.

      KF-X --- eh, malah pusingnya berapa core tehnologi yg didapat... dari Washington DC.

      Kalau bisa menulis source code sendiri, seperti Saab, mau mengambil radar, mesin, dari supplier manapun tidak menjadi masalah.

      Delete
  16. kalo Pesawat Patmar, yg Terunggul adalah P3 orion dan P8 Poseidon, sedangkan indonesia paling Ngtrennya CN 235MPA, kalo prancis Dassault Breguet Atlantique(Rivalnya orion). kalo Seandainya Indonesia pas Orde baru Beli Atlantique. Tidak akan ada lagi pencurian Ikan di laut perbatasan. karena Time Endurance Atlantique lebih lama ketimbang Orion.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Memang seperti sudah dibahas sebelumnya,
      Tidak pernah ada upaya serius untuk membangun sistem pertahanan secara strategis sejak jaman merdeka, bahkan sampai sekarang.

      Pemerintah Orba selalu melihat ancaman datangnya dari dalam, bukan dari luar, karena itu AU / AL menduduki kursi belakang, walaupun negaranya kepulauan.

      Di masa sekarang, eh, malah lebih sibuknya membuat daftar belanja beli import dari beraneka ragam supplier, dengan dalih "kebutuhan".

      ## Untuk MPA.
      Sekarang ini perpaduan dari beberapa masalah:

      Daftar radar maritim untuk CN-235MPA sendiri, sebenarnya kurang bersaing -- atau boleh dibilang kelas dua dibandingkan P-8 Poseidon, misalnya. Paling tidak, CN-235MPA sudah mencukupi untuk kebutuhan basic, dan bisa dipersenjatai dengan Excocet missile.

      (Inilah kenapa Saab menawarkan radar maritim di Globaleye)

      Tetapi yg lebih penting,
      Sepanjang sejarah, dengan alutsista yg ada saja, walaupun sebagaimana terbatasnya, kemampuan penggunaannya secara operasional tidak pernah bisa optimal.

      Ini kembali ke masalah awal:
      Kita tidak pernah mempunyai sistem pertahanan yang baik.
      Sepertinya, masing2 angkatan hanya belajar "bagaimana cara menggunakan" alutsista tersebut dalam berbagai situasi tertentu, dan.... berhenti saja disana.

      Delete
  17. Sebetulnya Kenapa pesawat Hawk TNI AU tidak mendapat lisensi PTDI?
    Kenapa Korea tidak mendapat lisensi pembuatan pesawat tempur seperti Jepang?
    Kenapa Rafale tidak tampil di Indodefense 2016?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa yg anda maksud license production?

      Kalau untuk BAe Hawk, memang kita tidak pernah menegosiasikan produksi sendiri, walaupun di tahun 1990-an, jumlah Hawk yg operasional sempat menanjak sampai lebih dari 50 unit (walau kemudian, beberapa unit kecelakaan write-off).

      Kabarnya, beberapa Hawk-209 kemudian juga dijual kembali ke BAe pasca-embargo. Sekarang hanya tersisa sekitar 20 unit, dari 32 Hawk-209, dan 8 Hawk-109 twin-seater yg dibeli jaman Orba. Tentu saja, kabarnya tidak bebas skandal pesangon -- BAe salah satu ahli "tehnik penjualan" semacam ini.

      ## Pengalaman dengan Hawk menunjuk salah satu contoh, bagaimana kita tidak pernah mengoptimalkan apa yg ada, tidak hanya secara investasi, tapi juga operasional.

      Ini sekaligus menjadikan contoh kenapa kalau transaksi alutsista diawalinya tidak baik (pesangon kickback), hasil akhirnya tidak pernah baik. Sama seperti membangun rumah, dengan pondasi dari atas pasir pantai.

      ## License production Korea
      Korea sebelumnya sudah pernah license production KF-16 sampai 200 unit.
      T-50, yah, juga boleh dibilang partially produk license production, walaupun development-nya di Korea.

      Akan tetapi,
      Jepang, yg memang dasar industrinya jauh lebih mapan, sudah pernah license production untuk F-4EJ Phantom II, dan kemudian F-15CJ/DJ -- dua model yg jauh lebih rumit daripada F-16.

      Industri mereka, walaupun sempat di kekang pasca PD II, sebenarnya sudah lama memproduksi sendiri, contoh Mitsubishi F-1.

      Tentu saja, F-2, atau KF-X konteksnya berbeda dngn license production. F-2 produk membuat pespur sendiri, berdasarkan platform yg sudah ada; sedang KF-X membuat sama sekali dari nol.

      ## Rafale, kenapa tidak tampil di Indodefence 2016?
      Sama seperti Typhoon, dan Su-35 juga tidak tampil --- ketiga produsen tahu, kalau kemungkinan Indonesia masih mau membeli pespur twin-engine sudah hampir nihil.

      Investasi, dan biaya operasional yg dibutuhkan terlalu besar (kita tidak ada uang),
      Sedang untuk Sukhoi, yah, mereka sudah menertawakan kita yg mau minta kerjasama industrial dgn beli cicilan. Tentu saja, biaya op Sukhoi akan mencapai lebih dari 2x lipat Typhoon / Rafale, dan "perbaikan mendalam" sudah pasti.

      Delete
    2. Admin, peluangnya bagaimana sih dibandingkan nyoba-nyoba sesuatu yang baru kayak KFX/IFX dibandingkan license produce & joint production Gripen kayak SAAB/Embraer? Sebenernya kita itu mengejar sesuatu yang sangat sulit untuk dikejar buat bikin KFX/IFX mulai dari masalah alih teknologi, biaya riset terus kedepannya unit cost, maintenance & operational costnya. Berita lain juga ngomong India kapok dengan pengadaan Su-30 MKI sama gak akan menambah Dassault Rafale, Indonesia harusnya secara gampang bisa ngelihat dari berbagai kesalahan-kesalahan India.

      Delete
    3. Bung Thomas,

      Terlepas dari masalah alih tehnologi, dan basis infrastruktur pendukung; kalau mau mencoba membuat sendiri, lebih baik berkonsentrasi ke KCR, atau kendaraan.

      Untuk Pesawat tempur, dan kapal selam terutama,
      learning curve-nya sudah terlalu jauh; hampir mustahil bisa dikuasai negara yg tidak pernah mulai belajar.... sejak sebelum tahun 1940-an.

      Kapal selam Changbogo ketiga ini saja, yg seharusnya bisa dirakit sendiri di Surabaya, kemungkinannya semakin hari sudah semakin mengecil bisa jalan.
      Infrastrukturnya sampai akhir tahun lalu belum siap, dan kalaupun selesai, hasil produksinya belum tentu terjamin.

      Masalah lain: economies of scale-nya tidak sampai, karena jumlah yg diproduksi hanya bisa 1 unit.
      Ingat, mayoritas perairan Indonesia wilayah Barat, adalah laut dangkal, bukan tempst ideal utk perang kapal selam. Selat Sunda, kedalamannya hanya 25 meter (!); kapal induk USS George Washington (CVN-73) harus berhati2 sewaktu harus melewati selat ini.

      (Kelihatannya Korea juga membodohin kita utk harga penawaran mereka, sedang kita sendiri juga sptnya perhitungannya kurang matang)

      Proyek2 semacam ini hanya seperti mencoba mengambil jalan berliku2 untuk mencapai kemajuan / kemandirian secara industri / tehnologi.

      ## License production yang disertai alih tehnologi penuh, seperti kontrak Saab-Brazil, boleh dibilang adalah langkah yg paling optimal.

      Ini saja, IMHO, kemampuan PT DI belum bisa menyamai kemampuan Embraer Brazil, yg jauh lebih mapan / berpengalaman; bisa memproduksi puluhan pesawat sendiri setiap tahun.

      Delete
  18. Update untuk polemik AW101 dari Harian Kompas:

    Ah, ternyata penyelidikan masih berjalan terus!

    Tujuan penyelidikan ini seharusnya bukan hanya diarahkan untuk mencari siapa yg salah, tetapi dimanakah lubang prosedural yg salah, yang akan bisa terus dimanfaatkan di masa depan?

    Hanya mencari siapa yg salah itu percuma, kalau lubang aturan pembelian illegal seperti ini tidak ditutup.

    Pada pokok permasalahannya,
    Kalau kontrak alutsista tidak didasari perjanjian G-to-G, tidak akan ada insentif untuk pejabat pembeli menegosiasikan harga yg semurah mungkin dari penjual.

    Negara yang akan terus dirugikan.

    Pikirkan saja baik-baik!
    kalau anggaplah, kita yg mempunyai kuasa untuk menentukan pembelian alutsista.
    Penjual akan menawarkan komisi "kickback" ke kita, biasanya justrru berbasiskan % atas nilai transaksi.

    Tentu karena godaan ini, lebih baik kita teken kontrak dengan nilai transaksi lebih mahal dari sticker price, agar komisi kita jadi lebih besar.

    Apa insentifnya untuk mengutamakan kontrak G-to-G, atau kebutuhan industri lokal?

    Perhatikan saja:
    Inilah kenapa pejabat biasanya justru menjadi agen sales untuk membeli alutsista di media massa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pada masa kepemimpinan sebelumnya...apakah layak dan etis, seseorang yang secara vulgar menyebut dirinya adalah "sales" sebuah produk diangkat menjadi think-thank pejabat yang bersangkutan?

      Dinegara lain apakah hal seperti ini masih menjadi kelaziman?

      Delete
    2. mungkin inilah sebabnya pada pemerintahan JKW belum ada pembelian signifikan untuk alutsista,karena presiden mengetahui mental para pejabat kita seperti apa

      Delete
    3. Bung @hari, bung @irman,

      Dalam transaksi alutsista, selama ada kesempatan, pejabat negara manapun akan selalu mengutamakan kepentingan sendiri dibanding kepentingan / k3butuhan negara.

      Mau lihat contoh yg paling parah?

      United States.

      Lebih parahnya disini, prosedurnya 100% legal.

      Hampir 75% dari Jendral berbintang, biasanya setelah pensiun akan mendapat tawaran kerja sebagai konsultan dari major defence contractor US, spt Lockheed, Boeing, Northrop-Grummann, Raytheon, dsb.

      Pekerjaan ini merangkap lobi2 kepentingan para kontraktor ke Pentagon / Senate / pemerintah US.

      Tentu saja paket remunerasi, dan bonus dari pekerjaan konsultan ini jauh lebih tinggi dibanding gaji di masa memegang jabatan.

      Akibatnya, setiap Jendral sudah mengincar lapangan pekerjaannya di masa depan.. dari selagi masih menjabat.

      Inilah bagaimana proyek pespur rongsokan F-35 senilai $1,5 triliun bisa terjadi.

      Suatu kebutuhan, katanya. Menurut argumen Pentagon, senate, para konsultan, atau para kontraktor??

      Tentu saja, semuanya aktif berkampanye public relation untuk memperjuangkan betapa pentingnya proyek seperti F-35 ke media massa.

      Menurut ex-Presiden US Dwight Eisenhower di tahun 1959, inilah apa yg dinamakan Military-industrial complex.

      Bahasa Jawanya, "aji mumpung".

      Secara tehnis, sama saja dngn menerima kickback dari penjual, bukan?

      Sekali lagi, perbedaannya di US, semua ini 100% legal.

      Inilah macam kesalahan yg harus dihindari di Indonesia.

      Perjuangannya cukup berat, bukan?

      Delete
  19. di formil muncul berita org BUMN yg berwenang kita meminta inhan kita berubah salah satunya jika ada negara pesan senjata ke kita sebaiknya diberikan versi downgrade export , bgaimana menurut bung Dark

    ReplyDelete
    Replies
    1. IMHO, hanya US, Ruski, dan PRC yg bisa menjual barang downgrade.

      Kenapa?

      Karena ketiganya terhitung sumber senjata yg bonafit, mempunyai volume produksi lebih besar dari yg lain, dan daftar konsumennya juga sudah solid.

      Sebaliknya, industri kita tergolong masih belum cukup matang (bahkan dibanding ST Technologies Singapore), daftar yg kita buat masih sedikit, sedang daftar pelanggannya juga sangat pendek.

      Kenapa masih mau jual versi downgrade?

      Siapa yg mau beli nanti?

      IMHO, kita justru harus belajar berpikir seperti orang Swedia: Setiap customer baru harus dihitung sebagai prospektif partner di kemudian hari.

      Delete
    2. Lol itu sih sama aja minta bundir

      Delete
  20. =========
    Berita Update: F-16 Skuadron-16 terglincir di Pekanbaru
    =========

    ## Penyebab kecelakaan diduga akibat kerusakan pengereman. F16 tipe twin-seater; Kedua awaknya selamat.

    ## Dari foto2 yg ada, kelihatannya F-16 ini tidak akan di-write off, seperti TS-1643 yg terbakar di Halim tempo hari.

    ## Kembali, dari foto, nomor registrasi unit terlihat TS-1603, tipe F-16B Block-15OCU, yg sebelumnya sudah beroperasi di Sku-03 selama 20 tahun lebih, sebelum dipindahkan ke Sku-16.

    Kelihatannya TNI-AU sudah membagi rata jumlah F-16A/B dan C/D yg operasional di kedua skuadron ini.

    ## TS-1603 sebenarnya sudah agak ketinggalan secara tehnologi, dan seperti 9 unit F-16 A/B yg lain, sudah overdue untuk menjalani proses MLU di United States, untuk menambah kemampuan keseluruhan, mengintegrasikan AMRAAM, AIM-9X, targeting pod, dan smart bomb, sekaligus merangkap untuk proses pemanjangan umur 25-30 tahun lagi.

    ## Kecelakaan ini lagi2 sudah mematahkan cita2 TNI-AU sejak kecelakaan Hercules di Wamena, Desember-2016 yg silam; tidak boleh ada kecelakaan di tahun 2017.

    Ini memang adalah prestasi tersendiri yg masih harus dikejar: bisa tidak setahun tanpa ada kecelakaan?
    Kalau memang masih belum siap, memang sebaiknya jangan buru2 ngebet beli pespur baru.
    Ini hanya akan memperunyam keadaan.

    Sama seperti berita AW-101 di atas, ini akan masuk dalam News Update berikutnya.

    ReplyDelete
  21. F16A TNI AU yg tergelincir semalam, itu hanya mengalami kerusakan Pada bagian Ekor dan Kaca Kokpit. Masih bisa diperbaiki dan dipergunakan kembali

    ReplyDelete
  22. 2 Sukhoi Su 30MK akhirnya Harus menjalani operasi perbaikan mendalam Di Rusia. jadinya Ada 4 pesawat Sukhoi Yg Di Opname Di situ :D.

    tahun tahun kedepannya, Jumlah Sukhoi Su 27/30 yg operasional Akan Semakin Sedikit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Eki,
      Ada link untuk beritanya?

      TS-3001 & 3002 memang sudah tidak kelihatan sejak 2008.

      Sama seperti TS-2701 & TS-2702, sebenarnya mubazir untuk menghabiskan uang jutaan $$$ untuk memperbaiki keempatnya.
      Perlengkapan standardnya terlalu kuno, tidak bisa di-upgrade, dan tetap saja sebentar lagi harus dipensiunkan.

      Kita lihat saja TS-3006 --- paling lama, 2022 juga sudah sekarat lagi.

      Dengan demikian, semua argumen pro-Sukhoi semakin kelihatan ke pro-komisi perantara, atau pro-Russia, dan bukan pro-Indonesia.

      Memang tipe ini yg akan membutuhkan pengganti, dan bukan F-5E.

      Delete
    2. beberapa orang justru mulai menyalahkan pak jokowi bung dark karena tak segera teken..ajwekwjwkwk..

      Delete
    3. Menggelikan.

      "Kenapa tidak bayar?"
      "Untuk Su-35, Indonesia harus siap berkorban...?"

      Kelihatannya terlalu banyak troller bayaran perantara yg sehidup-semati mendukung penjual, dibanding kebutuhan, dan kedaulatan Indonesia.

      Delete
  23. ada di forum militer bung dark..dah beredar luas..tni au berharap 2 sukhoi 30 sk itu dilengkapi radar terbaru versi rusia ,tapi apakah mungkin rusia mau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung fran,
      Terima kasih infonya.

      ## Versi Kommercheskiy (monkey model) tidak akan diperbolehkan memakai apapun yg dipakai versi lokal.
      Semuanya pasti akan mendapat perlengkapan versi export, dan ini tidak akan bisa ditawar.

      Untuk versi lokal, standard terakhir untuk Su-27 adalah SM3, sedang Su-30, versi M2.
      Kedua model ini membawa radar, mesin, dan defense suite yg setingkat lebih modern dibanding versi Su-27SKM, atau Su-30MK2.

      ## Tentu saja, bahkan perlengkapan Su-27/30 versi lokal pun,
      tidak akan dapat menandingi F-16 Block-25+ hibah Pemerintah Obama.

      Cockpit interface, komputer, dan radar AN/APG-68 yg berkemampuan BVR masih sekitar 10 - 20 tahun lebih modern, dan akan lebih mudah dikuasai pilot.

      Demi komisi kickback, dan mimpi yg tak akan bisa tercapai, kita sudah rela membeli barang downgrade double inferior.

      ## Upgrade, sekali lagi, bukanlah kebiasaan Ruski.
      Sejak jaman Soviet, mereka hanya membuat pesawat yg seharusnya diganti setiap 10 tahun.
      Sekali pakai buang.

      Akibatnya, pesawat buatan Ruski, tidak seperti buatan Barat, tidak pernah di-desain untuk mudah di-upgrade.

      Bukan tidak bisa, tetapi harganya akan hampir sama dengan membeli baru.

      Delete
  24. Admin kenapa sih Kanada mundur dari proyek multinasional F-35 malah lebih ke arah mengakuisi F-18 E/F Super Hornet ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pemerintah Liberal Canada, dibawah PM Justin Trudeau, adalah yang pertama melihat akal sehat:
      F-35 tidak sesuai untuk kebutuhan Canada.

      F-18SH, atau ketiga Eurocanards akan dapat mengerjakan jauh lebih banyak, dengan biaya lebih murah, dan tentu saja akan jauh lebih unggul dalam pertempuran udara.

      Alasan kedua,
      (F-35) doesn't work, and is far from working.

      Harga F-35 terus menanjak sejak pertama kali dianggarkan pemertintah Konservatif Canada, dan jumlah yg bisa dibeli semakin menciut untuk jumlah anggaran yg sama.

      Tentu saja, seperti kita tahu, F-35 problemnya masih terlalu banyak, dan tidak akan pernah bisa selesai, walaupun propaganda Lockheed, dan para "konsultan" mereka mencoba menunjukan "the alternative facts."

      IMHO, keputusan Canada sangat bijaksana, dan sudah seharusnya diikuti semua pembeli F-35 Lemon II yang lain.

      Delete
  25. Skenario 1

    Baik China maupun Indonesia mempunyai kelemahan di pangkalan aju. Bagi China jaraknya terlalu jauh, sedangkan bagi Indonesia, lanud Ranai di p. Natuna mempunyai keterbatasan pra-sarana dan sarana. Oleh karena itu, skenario yang realistik adalah 4 lawan 4.

    Su-35 China mendekati daerah ZEE Natuna dan dideteksi oleh Satrad 212 Ranai pada jarak 440 km. Gripen NG di-scramble dengan konfigurasi dilengkapi 2 rudal Ramjet (Meteor) BVR dan 2 rudal WVR serta satu drop tank 450 gallons, terbang 26 menit supercruise ke posisi dan 50 menit CAP. Apakah akan terjadi saling menembak dengan rudal BVR? Dalam skenario ini, ada 2 alternatif :

    China masih kuatir dengan kinerja Meteor, maka dengan cerdik 1 elemen (2 Su-35) China memanfaatkan radar Irbis E dan excellent fuel fraction-nya untuk menjaga pada jarak 200 km, sedangkan 1 elemen lainnya diperintahkan melambung pada radius 200 km. Semacam kucing-kucingan. Kalau ini dilakukan pada jarak >440 km maka Satrad 212 Ranai tidak bisa membantu situational awareness Gripen NG. Dengan taktik ini Su-35 memaksa Gripen NG menunggu lebih kurang 50 menit sudah “bingo” dan harus kembali ke Natuna. Pada saat yang tidak menguntungkan bagi Gripen Indonesia ini, semua Su-35 China maju dengan supercruise dan menembakkan rudal BVR RVV SD.
    Kalau Su-35 China misalnya sudah membawa RVV BD, maka tunggu sampai jarak 200 km luncurkan RVV BD. Gripen NG Indonesia tidak bisa membalas dengan Meteor karena jaraknya masih terlalu jauh, dan karena repot menghindari RVV BD, Su-35 China dengan leluasa dapat meneruskan dengan merge WVR, first look first kill.
    Mau bagaimana lagi, skor 0 – 1 untuk China.

    Skenario 2

    Indonesia berpikir keras bagaimana mengalahkan Su-35 China. Mau beli F-22 tidak mungkin, beli PAK FA masih 4 – 5 tahun lagi. Ada yang mengusulkan coba lihat di blog JKGR, oh iya kenapa tidak beli Su-35 saja. Meskipun menggunakan pesawat yang sama, tapi Indonesia punya keuntungan yaitu teater operasinya masih di atas wilayah kita Natuna, sedangkan bagi Cina sangat jauh pada batas luar combat radius Su-35. Faktor ini ditambah penggunaan taktik yang tepat dapat mengungguli China.

    Namun pada akhirnya setelah tahu kita beli Su-35, politik China di LCS berubah haluan. Dia setuju Code of conduct yang diusulkan oleh Indonesia/ ASEAN. Damai di dunia!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kelihatannya anda belum pernah mengikuti blog ini sebelumnya:

      ## Untuk hidangan pembuka, sudah dituliskan sebelumnya kalau Gripen-E jauh lebih unggul dari mulai dari tehnologi, operasional, situational awareness, BVR combat, ataupun close combat vs Su-35 Kommercheskiy.

      ## Kedua, pelajari dahulu Pengetahuan umum berikut:

      Setiap negara pembeli alutsista buatan US, Russia, dan PRC hanya diijinkan untuk membeli Versi Kommercheskiy, atau Versi Export downgrade.

      Kalau belum dukup, pelajari baik2, kalau semua missile yg dijual Ruski juga... Versi export.

      Kemampuan kill missile RVV-AE (izdeliye-190), yang hanya versi export dari R-77 (izdeliye-170) hampir bisa dipastikan akan NIHIL.

      AU Russia sendiri tidak pernah membeli, atau mengoperasikan R-77, karena development-nya tidak pernah selesai. Eh, tetapi mereka sudah menjual ribuan RVV-AE versi downgrade ke negara2 pembeli(!)

      ## Untuk referensi yang lebih lengkap, silahkan membaca artikel Q&A berikut tentang Su-35K:
      Interview fiktif dengan "pejabat" yang mendukung pembelian Su-35K.

      ## Jangan terlalu naif untuk mendewakan, dan mendukung pesawat inferior Su-35K!

      Sejak 2014 sampai sekarang, argumen "kenapa harus membeli Sukhoi" tidak pernah berubah.
      Belajarlah dari banyak sumber pengetahuan umum!
      Jangan asal mendukung pilihan buta!

      Tidak hanya Su-35K akan dipercundangi semua pespur Barat (F-5S Singapore saja masih lebih unggul ), tetapi membeli / mengoperasikan pespur inferior ini akan sangat merugikan NKRI:

      - Bisa dipastikan akan selalu ada Komisi perantara 20 - 30%, dan "perbaikan mendalam" di negara asal, yang akan melanggar pasal 43(2) UU no.16/2012.

      - Tidak akan ada alih tehnologi, atau kerjasama secara industrial (!!)

      - Seperti dalam polemik AW101, mendukung Su-35K, berarti akan seperti mendukung oknum2 pejabat yang bisa memperkaya diri dari mendapat pesangon "kickback" dari penjual.

      ## Pesan terakhir: belajar jangan hanya mendukung produk "favorit", tetapi pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhan, dan keterbatasan Negara kita!

      Belajarlaj mendukung pembangunan industri lokal!
      Jangan hanya senangnya beli import dari perantara!

      Delete
    2. Sebaiknya pertanyaan itu anda tanyakan ke para pilot juga.Sebagai orang yang memang dilatih dan dididik menjadi pilot tempur dengan segala resikonya, para pilot TNI AU itu lebih mengerti dan lebih memahami medan pertempuran udara yang mungkin kelak mereka hadapi. Para pilot TNI AU tentunya ingin memenangkan setiap insiden pertempuran udara karena kalau mereka kalah berarti nyawa mereka sendiri sebagai taruhannya.
      Para pilot TNI AU itu juga perlu diperhatikan, mereka kebanyakan cenderung memilih SU-35.

      Delete
    3. =========
      Sebaiknya pertanyaan itu anda tanyakan ke para pilot juga
      =========

      Anda benar. Kenapa kita tidak mempertanyakan ke pilot?

      FYI – dalam prosedur akuisisi Alutsista kita saat ini, seperti sudah digarisbawahi dalam kasus polemik AW101 ini, masukan pilot tidak pernah menjadi bahan perhitungan. Para pejabat biasanya akan selalu mengambil keputusan sepihak, bahkan kalau bisa, tidak perlu minta ijin pemerintah, atau Komisi I DPR.

      Kebetulan saya sudah pernah menuliskan tentang topik ini:
      Kenapa kita seharusnya lebih mendahulukan kesejahteraan pilot, dibanding mengoperasikan Sukhoi, yang biaya operasionalnya terlalu mahal.

      Sekarang, bayangkan kalau anda menjadi pilot pesawat tempur TNI-AU, dan kemudian tanyakanlah kepada diri anda sendiri:

      ## Paket renumerasi anda tidak dapat bersaing dengan AirAsia, Lion Air, atau semua maskapai nasional lain.

      Selama TNI-AU mengoperasikan Sukhoi yang biaya operasional per jamnya melebihi gaji anda setahun, yah, peluang anda untuk mendapat paket yang lebih menarik sangat kecil. Mengoperasikan Sukhoi berarti memberi makan perantara dahulu, sebelum memikirkan para pilot, dan semua awak pendukung!

      Bukankah anda akan lebih memilih memiloti pesawat tempur berbiaya operasional murah, dan kemudian menikmati paket remunerasi yang lebih bersaing?

      Pilot kan juga manusia; masakan kita lebih memperhatikan barang mati?

      ==========
      setiap insiden pertempuran udara karena kalau mereka kalah berarti nyawa mereka sendiri sebagai taruhannya
      ==========

      ## Benar sekali.

      Nah, sebagai pilot, apakah anda akan memilih mengoperasikan pesawat versi export downgrade, yang tidak bisa di-upgrade, dan dengan persenjataan kualitas rongsokan?

      (Wah, nyawa bisa melayang kalau membawa Sukhoi ke medan tempur!)

      Yang benar sajalah!
      Bukankah kalau punya pilihan, lebih baik memiloti pesawat yang jauh lebih modern, yang tidak mendapat pengurangan, dan dapat dipastikan bisa mendapat full-support dari industri lokal?

      ## Mau sering terbang, atau nganggur?
      Su-35K, seperti semua Sukhoi versi manapun, bukan main haus maintenance. Tidak akan bisa terbang setiap hari.

      Apa asyiknya jadi pilot Sukhoi? Simulator saja tidak ada.
      Bukankah lebih baik berlatih dengan pesawat tempur yang dapat mengudara berkali-kali sehari, dan tidak gampang rusak?

      Delete
    4. Jum'at, 10 Maret 2017 | Internasional
      India Ajukan Syarat Berat untuk Jet Siluman ke Rusia
      #MAYOR
      SMID News - India akan melanjutkan program pembangunan jet tempur generasi kelima atau yang dikenal sebagai program fifth-generation fighter aircraft (FGFA) dengan Rusia tetapi mengajukan persyaratan yang berat. New Delhi hanya mau jika Rusia mau melakukan transfer teknologi secara penuh serta memberi manfaat dalam upaya negara tersebut membangun jet tempur siluman masa depan di dalam negeri.
      Sumber Kementerian Pertahanan India mengatakan keputusan ini telah diambil pada “tingkat tertinggi” untuk “tidak mengulangi kesalahan” dari seluruh program akuisisi jet Sukhoi-30MKI dari Rusia. Program yang telah menghabiskan biaya Rs 55.717 crore India itu tidak memberikan sumbangan nyata dalam pembangunan jet tempur dalam negeri.
      “Meskipun sebagian besar dari 272 pesawat Sukhoi [240 sudah masuk layanan] telah dibangun oleh Hindustan Aeronautics (HAL), mereka pada dasarnya hanay dirakit di sini dengan kit seluruhnya diimpor. HAL masih tidak dapat memproduksi pesawat Sukhoi sendiri,” kata seorang sumber sebagaimana dikutip Times of India Kamis 9 Maret 2017. Sebuah jet tempur Sukhoi yang dibuat HAL juga lebih mahal jika dibandingkan impor langsung dari Rusia.
      Jadi, meskipun ada tekanan Rusia untuk segera menandatangani kontrak FGFA, India sekarang tetap akan bertahan untuk bisa mendapatkan hal yang lebih baik untuk kontrak senilai sekitar US$25 miliar untuk membangun 127 jet tempur siluman tersebut.
      Kedua negara telah menandatangani kesepakatan membangun FGFA pada tahun 2007, yang diikuti kontrak desain senilai US$295 juta pada awal tahun 2010 sebelum kemudian perundingan terhenti.
      India kini telah ditetapkan dua prasyarat penting untuk proyek FGFA, selain memeriksa seluruh pengunaan biaya. Syarat pertama harus ada transfer teknologi yang luas, termasuk ” sumber kode “, untuk memastikan India di masa depan dapat mengupgrade tempur dengan integrasi senjata baru sendiri.
      Syarat kedua program ini pada akhirnya harus membantu India dalam mengembangkan jet tempur kelas menengah atau advanced medium combat aircraft (AMCA) yang sekarang sudah dalam fase pembangunan desain.
      “Ini adalah wajib. Sebuah komite tingkat tinggi yang dipimpin oleh Marsekal dari IAF, seorang profesor IIT Kanpur dan mantan kepala dari HAL dan National Aerospace Laboratories, sedang memeriksa semua aspek ini. Pemerintah akan mengambil keputusan setelah laporan tersebut disampaikan pada bulan April, “kata sumber itu.
      Program FGFA India terkait langsung dengan program T-50 PAK FA Rusia karena jet tempur tersebut akan menjadi dasar pengembangan. Tetapi Times of India melaorkan New Delhi sudah kecewa dengan pengembangan T-50 yang dinilai tidak memiliki kemampuan siluman tinggi serta daya dorong mesin yang kurang kuat. India juga mencatat ada 43 kekurangan yang ditemukan dalam T-50.
      Rusia kemudian menjanjikan FGFA India akan sangat berbeda dari Sukhoi T-50, dengan mesin yang lebih kuat dan kemampuan lainnya. Di bawah kontrak utama R & D, India dan Rusia seharusnya menyumbang US$ 4 miliar untuk pengembangan prototipe, pengujian dan membangun infrastruktur-up. Pengiriman jet tempur akan dikenakan biaya tambahan, yang sebelumnya direncanakan akan dilakukan 94 bulan setelah kontrak itu ditandatangani.
      Sumber : jejaktapak

      Delete
    5. "Russia tidak akan begitu saja menyerahkan "crown jewel"; harta karun tehnologi mereka yang paling beharga ke tangan PRC, tanpa mengambil precaution: penjagaan atas hak cipta mereka. Versi Su-35 untuk China, tidak akan sama dengan versi AU Russia."

      ”Kami memproduksi versi export, dan mempunyai versi yang kami pakai sendiri”, menurut Buzhinsky.
      "Russia tidak akan begitu saja menyerahkan "crown jewel"; harta karun tehnologi mereka yang paling beharga ke tangan PRC, tanpa mengambil precaution: penjagaan atas hak cipta mereka. Versi Su-35 untuk China, tidak akan sama dengan versi AU Russia."

      ”Kami memproduksi versi export, dan mempunyai versi yang kami pakai sendiri”, menurut Buzhinsky.
      "Russia tidak akan begitu saja menyerahkan "crown jewel"; harta karun tehnologi mereka yang paling beharga ke tangan PRC, tanpa mengambil precaution: penjagaan atas hak cipta mereka. Versi Su-35 untuk China, tidak akan sama dengan versi AU Russia."

      ”Kami memproduksi versi export, dan mempunyai versi yang kami pakai sendiri”, menurut Buzhinsky.
      https://www.facebook.com/photo.php?fbid=232358010569317&set=p.232358010569317&type=3

      Delete
    6. Bung Tupa,
      Itu memang cuplikan dari artikel blog ini :D

      Interview fiktif dengan "pejabat" pendukung Su-35.

      Gambarnya screenshot dari website nationalinterest.org

      Bagus, kalau sudah mulai disebarluaskan,
      Karena sepertinya masih terlalu banyak fanboyz (atau mungkin juga pejabat) yang terlalu naif.

      Mereka tidak percaya kalau Ruski selalu menjual barang downgrade, dan masih bermimpi kalau kita bisa mendapat paket "terbaik".

      Kita harus siap terus mempersenjatai diri dengan pengetahuan umum.
      :)

      Delete
  26. @mobius one

    meskipun indo beli Su 35, Tetap Saja Tidak Akan Mampu Menandingi F16 Hibah yg lebih Upgradable, biaya opnya murah, dan Berumur panjang, dan pilotnya jauh lebih terlatih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa anda sudah lupa “Indonesia melirik pesawat Rusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sebab, 12 F-16A/B dan 16 F-5E/F tak bisa dirawat akibat aksi embargo AS,”Embargo ini dilakukan atas desakan Australia akibat bentrokan di Timor Timur pascajajak pendapat yang akhirnya melepas provinsi tersebut menjadi negara yang merdeka. Pemerintah AS mengamini permintaan tersebut dan menuding Indonesia telah melakukan pelanggaran HAM.

      Untuk mengatasi embargo itu, Indonesia mendekat ke Rusia dan menandatangani kontrak kerja sama sebesar USD 192 juta lewat Rosoboronexport. Rencana pembelian makin dikuatkan lewat penandatangan perjanjian senilai USD 300 juta empat tahun setelahnya.

      Di tahun yang sama, hubungan Jakarta dan Washington mulai membaik. Namun, kondisi ini tak membuat Indonesia mengalihkan perhatiannya untuk kembali mendatangkan jet tempur buatan AS.

      Tentunya itu bukan merefleksikan orientasi politik Indonesia. Pembelian itu benar-benar terjadi karena Indonesia tertarik dengan pesawat Sukhoi.

      Delete
    2. ## Ah, lagi-lagi menyebut-nyebut embargo!
      Argumen ini sudah tidak lagi relevan dalam keadaan sekarang.

      Penawaran pemerintah Swedia saja sudah memberi isyarat yang sangat jelas:
      Pra-syarat Swedia adalah tidak mengijinkan penjualan ke negara yang non-demoktratis, apalagi yang penindas rakyat!

      ========
      “No other country has today a democracy criterion in its regulations,” said the commission chairman, Hans Wallmark, a member of Sweden’s Conservatives, the main opposition party.

      The recipient state’s democratic status is thus clearly raised as a central condition [for weapons sales],” he wrote on Friday in an article accompanying the report. The flexibility to weigh foreign policy concerns against security and defence considerations would remain, he said.

      “Respect for human rights and the receiving state’s democratic status are key conditions for the licensing process,” the report states. “If there are serious and widespread violations of human rights or serious shortcomings in the democratic status of the country, this will be an obstacle to granting authorisation.”
      ========

      ## FYI – Beberapa unit F-16 tetap saja operasional embargo, justru berkat kreativitas para pahlawan TNI-AU untuk kanibalisme spare part, dan karena pesawat ini maintenance-nya juga jauh lebih mudah.

      Tanpa perlu embargo saja, sekarang sudah 4 – 6 Sukhoi harus menjalani “perbaikan mendalam” di negara asal. Tanpa perlu di-embargo, loh!

      Ruski tidak mengijinkan maintenance tingkat berat dilakukan sendiri di Indonesia, dan merupakan pelanggaran persyaratan pasal 43 (2) UU no.16/2012

      Dan tentu saja, prosedur ini akan sangat menguntungkan para perantara, yang akan teken komisi. Beberapa oknum ”orang dalam” tentu saja akan mendapat pesangon ”kickback”.

      ## Sekali lagi, sejak 2014 sampai sekarang, saya belum pernah melihat ada satu argumen pun yang meyakinkan ”Sukhoi ideal untuk Indonesia”.

      Argumennya hanya muter-muter saja di tempat, ”pokoknya sebagaimana jeleknya pun, kita harus beli Sukhoi!”

      Belajarlah membuka mata anda, research sendiri pengetahuan umum, dan bangun dari mimpi!

      Utamakanlah realita kebutuhan, dan keterbatasan Nasional!
      Dukunglah pembangunan industri pertahanan lokal, seperti digariskan dalam seluruh UU no.16/2012!

      Delete
    3. dan jangan lupa beli dari Ruski bukan berarti bebas embargo la wong dalam sejarah yg pertama kali mengembargo alutsista kita ruski ko ,alasan embargonya pun bikin saya geleng2

      Delete
    4. Kamis, 16 Maret 2017 - Nasional

      Pesawat Tempur Sukhoi Su-27/30 Yang Menunggu Untuk Dilakukan Perawatan Berat

      #Panglima

      1. Su-27 SK/SKM (kursi tunggal) dengan tail number :

      - Su-27 SK TS-2701, <2003>, Sudah Dilakukan Perawatan Dari Belarusia Bulan Desember 2015.

      - Su-27 SK TS-2702, <2003>, Sudah Dilakukan Perawatan Dari Belarusia Bulan Desember 2015.

      - Su-27 SKM TS-2703, <2007>

      - Su-27 SKM TS-2704, <2007>

      - Su-27 SKM TS-2705, <2007>

      2. 11 unit Su-30 MK/MK2 dengan tail number :

      - Su-30 MK TS-3001, <2003>, Sedang Perawatan Berat Di Rusia, 13 Maret 2017

      - Su-30 MK TS-3002, <2003>, Sedang Perawatan Berat Di Rusia, 13 Maret 2017

      - Su-30 MK2 TS-3003, <2007>

      - Su-30 MK2 TS-3004, <2007>

      - Su-30 MK2 TS-3005, <2007>

      - Su-30 MK2 TS-3006, <2011>, Sudah Dilakukan Perawatan Dari Belarusia Bulan Mei 2016.

      - Su-30 MK2 TS-3007, <2011>

      - Su-30 MK2 TS-3008, <2011>

      - Su-30 MK2 TS-3009, <2011>

      - Su-30 MK2 TS-3010, <2011>

      - Su-30 MK2 TS-3011, <2011>

      Sumber : SMID dari Berbagai Sumber noh jet tempur sukhoi kebanggaan anda pak mobile

      Delete
    5. lalu siapa yang embargo militer kita dahulu di tahun 1966 pas waktu setelah pak harto bubarkan PKI

      Delete
  27. ane Dapat Berita 2 Sukhoi Su 30MK yg harus menjalani perawatan Ke Rumah Sakit dari Indomiliter.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga saja, anggarannya tidak disetujui.

      "perbaikan mendalam" diluar negeri, sebenarnya adalah pelanggaran pasal 43 (2) UU no.16/2012.

      Lagipula, pesawatnya sudah terlalu kuno, dan tidak akan diijinkan untuk di-upgrade.

      Delete
    2. Kamis, 16 Maret 2017 - Nasional

      Pesawat Tempur Sukhoi Su-27/30 Yang Menunggu Untuk Dilakukan Perawatan Berat

      #Panglima

      1. Su-27 SK/SKM (kursi tunggal) dengan tail number :

      - Su-27 SK TS-2701, <2003>, Sudah Dilakukan Perawatan Dari Belarusia Bulan Desember 2015.

      - Su-27 SK TS-2702, <2003>, Sudah Dilakukan Perawatan Dari Belarusia Bulan Desember 2015.

      - Su-27 SKM TS-2703, <2007>

      - Su-27 SKM TS-2704, <2007>

      - Su-27 SKM TS-2705, <2007>

      2. 11 unit Su-30 MK/MK2 dengan tail number :

      - Su-30 MK TS-3001, <2003>, Sedang Perawatan Berat Di Rusia, 13 Maret 2017

      - Su-30 MK TS-3002, <2003>, Sedang Perawatan Berat Di Rusia, 13 Maret 2017

      - Su-30 MK2 TS-3003, <2007>

      - Su-30 MK2 TS-3004, <2007>

      - Su-30 MK2 TS-3005, <2007>

      - Su-30 MK2 TS-3006, <2011>, Sudah Dilakukan Perawatan Dari Belarusia Bulan Mei 2016.

      - Su-30 MK2 TS-3007, <2011>

      - Su-30 MK2 TS-3008, <2011>

      - Su-30 MK2 TS-3009, <2011>

      - Su-30 MK2 TS-3010, <2011>

      - Su-30 MK2 TS-3011, <2011>

      Sumber : SMID dari Berbagai Sumber

      itu bung GI sumber nya

      Delete
    3. Begitulah,
      Pemerasan keuangan negara oleh supplier / perantara Rosoboronexport, dan antek2 lokalnya berlanjut.

      Biaya "perbaikan mendalam" (dan komisinya) mungkin bisa menyamai biaya operasional 1 Skuadron BAe Hawk-209 -- selama setahun penuh.

      Lucu kan masih ada yg mendukung pembelian Sukhoi rongsokan?

      Delete
    4. itu mah belum sukhoi 35 dah segitu , bayangkan punya su 35 ampe 1 skuadron kowkowokwokwokwkokwookw ...per unit su 35 seharga $165 juta lengkap....biaya segitu dah bisa buat beli Gripen beberapa unit lengkap

      Delete
    5. KsAU marsekal hari tjahtono saja mengatakan terus terang kedepan butuh jet tempur dengan biaya operasional dll yang terjangkau dan membangun sistem hankam national network dan diantaranya hanya SAAB Swedia yang menawarkan sistem itu kepada kita....Russia hanya menawarkan jet tempur doank

      Delete
  28. Indonesia Sebaiknya Perlu Melengkapi semua F16 Terlebih dahulu. misal :

    1. Menstok minimal 160 AMRAAM-C7 Dan 100 AIM9X.
    2. pembelian ECM Pod Dan Sniper Target Pod
    3. Pemasangan IFF System pada seluruh F16 kita.

    Usai membeli Gripen E Full Armed Stok di gudang. :
    1. Memasang MIDLV Link 16
    2. Menambah DASH Helmet.
    3. mengupgrade semua F16 ke Block 52..

    ReplyDelete
  29. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  30. Bung GI. Beberapa F16 Hibah TNI AU Ada Yg Sudah dilengkapi dengan Helm JHMCS Dan AAMC Pod. Semoga Saja Pemerintah Juga melengkapinya dengan Menambah ratusan Missile AMRAAMC7 dan AIM9X agar makin Bertaring.

    10 F16 Kita saat Ini masih dlm perjalanan ferry Flight menuju Indonesia. jumlah F16 Kita Semakin "Membludak" hingga mencapai 34 Lebih, Sedangkan Sukhoi Kita semakin Berkurang.

    Apa Ini Tanda Tanda Bahwa Sukhoi Segera Pensiun dini???

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## F-16 Block-25+

      Pemasangan JHMCS harus mendapat persetujuan dari Washington DC.
      Bahkan kalau kita memilih memasang DASH helmet buatan pihak ketiga, tetap saja harus mendapat persetujuan dari Washington DC.

      Sepertinya sejauh ini, belum ada pengumuman resmi di DSCA kalau F-16 Indonesia sudah diijinkan membawa Helmet tersebut.

      ======
      http://www.dsca.mil/tags/indonesia
      ======

      ## Sukhoi akan pensiun dini?
      Sepertinya, tergantung kebijaksanaan TNI-AU.

      Kelihatannya sih skrg mereka masih mencoba "menyelamatkan" Su-30MK, yang sudah kuno, dan tidak bisa di-upgrade, dan rusak berat setelah hanya 5 tahun dipakai (kemungkinan memang barang bekas).

      Mengingat biaya spare part, dan perbaikan hanya bisa dibayar lewat perantara, kita sudah bisa menebak alasannya.

      Kita lihat saja.
      Cepat, atau lambat, kalau masih mencoba terus "melindungi" Sukhoi efek gentar nihil, akhirnya akan menyesal sendiri di tahun 2020-an, karena semuanya akan serempak harus dipensiunkan.

      Tinggal pilih --- bayar biaya perbaikan $1M (dan kemudian akan cepat rusak lagi), atau pensiunkan!

      Delete
  31. Admin, saya baca Indonesia jadinya ngebuat sendiri varian pesawat amfibi dari N219, menurut admin bagaimana ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kelihatannya sih impossible.

      N-219 dibuat dari pengembangan C-212, tidak dirancang untuk bisa mendarat di air.

      Sebenarnya ada dua konsep dasar:
      Pesawat terbang air -- memakai pelampung sebagai pengganti roda,
      ATAU
      Flying boat -- lambung pesawat dibuat seperti kapal.

      Antara kedua konsep ini, sebenarnya Flying boat yang lebih sukses.

      Pesawat yg bisa lepas landas / mendarat di air, memang secara konsep menarik. Ini sempat sangat populer... sampai tahun 1950-an.

      Kenapa sekarang sudah kurang populer?
      - Biasanya harga akan selalu terlalu mahal
      - Perawatan terjamin lebih sulit
      - Desain Aerodynamisnya tidak bisa seefesien pesawat biasa
      - Untuk apa bisa mendarat di air, kalau sudah ada helikopter yang dapat mendarat dimanapun?

      Delete
  32. PBB (ANTARA News) - China, yang didukung Rusia, pada Jumat menghalangi pengesahan pernyataan Dewan Keamanan PBB menyangkut Myanmar.

    Sejumlah diplomat mengatakan itu dilakukan kedua negara setelah 15 anggota Dewan bersidang untuk membahas situasi di negara bagian Rakhine, Myanmar, tempat militer negara itu melancarkan operasi keamanan.

    Kantor Perserikatan Bangsa-bangsa untuk hak-hak asasi manusia bulan lalu menuding militer Myanmar melakukan pembunuhan dan pemerkosaan massal terhadap Muslim Rohingya dan membakari desa-desa mereka sejak Oktober. Tindakan itu kemungkinan bisa mengarah pada kejahatan terhadap kemanusiaan dan pembersihan etnis.

    Atas permintaan Inggris, kepala bidang politik PBB Jeffrey Feltman memberikan pemaparan kepada para anggota Dewan Keamanan dalam sidang tertutup.

    "Kami berusaha memajukan ... beberapa usulan namun kesepakatan tidak tercapai di dalam ruangan itu," kata Duta Besar Inggris untuk PBB, Matthew Rycroft, yang menjadi presiden Dewan Keamanan bulan Maret, kepada para wartawan setelah sidang.

    Pernyataan Dewan Keamanan harus disepakati oleh seluruh anggota sebelum dapat dikeluarkan.

    Sejumlah diplomat mengatakan negara tetangga Myanmar, China, dengan didukung Rusia, mengadang pernyataan tersebut.

    Rancangan pernyataan singkat yang sempat dibaca Reuters itu berbunyi "mencatat dengan keprihatinan munculnya bentrokan baru di beberapa wilayah negara itu dan menekankan pentingnya akses kemanusiaan ke wilayah-wilayah yang terkena dampak."

    Sekitar 75.000 orang telah mengungsikan diri dari negara bagian Rakhine ke Bangladesh sejak militer Myanmar mulai melancarkan operasi militer pada Oktober tahun lalu. Operasi dilakukan sebagai penanganan terhadap tindakan yang disebut militer merupakan serangan oleh pemberontak Rohingya di pos-pos perbatasan, yang menewaskan sembilan personel kepolisian.

    Uni Eropa pada Kamis mendesak PBB untuk segera mengirim misi internasional pencari fakta ke Myanmar guna menyelidiki tuduhan penyiksaan, pemerkosaan dan pembunuhan oleh militer terhadap Muslim Rohingya.

    Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi mengatakan kepada para diplomat di ibu kota negara Myanmar, Naypyitaw, negaranya telah diperlakukan tidak adil, demikian Reuters.

    (Uu.T008)

    Editor: Heppy Ratna
    sumber : http://www.antaranews.com/berita/618808/china-rusia-halangi-upaya-dk-pbb-selidiki-kekerasan-myanmar bagi agan mobius yang mendukung Sukhoi 35

    ReplyDelete
    Replies
    1. kekerasan Myanmar terhadap Kaum muslim Rohingya yg tidak berdosa, tidak hanya itu, kekerasan China Di Uighur Juga terhadap Kaum muslim. Sebenarnya Ini Dampak dari munculnya "islamphobia", dimana banyak yg menghina islam.

      Delete
    2. benar..mendukung beli su 35 scra tdk langsung juga mendukung keuangan Rusia yg jelas2 kyk bgtu di masalah Rohingya dll

      Delete
    3. Begitulah.

      Kewajiban moral kita memang seharusnya menjauhi alutsista buatan PRC, dan Ruski.

      Lagipula Sukhoi hanyalah persamaan kata dari K-O-R-U-P-S-I.

      Delete
  33. Setelah membeli 12 F16 Bekas Portugal, Romania Ingin Beli Lagi 20 F16 Dari US, Polandia Berencana menambah F16 lagi utk menggantikan MiG 29 Ex Luftwaffe dan ceko.

    F16 yg bekas, masih banyak peminatnya. kayak rumania , Cili, dan Vietnam
    Sukhoi yg Bekas , Sepi Peminat.

    Bukti Bahwa umur Pesawat Barat lebih reliable

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak seperti apa yang dalam benak kepala pejabat / "konsultan" di Pentagon; F-16 sebenarnya belum expired.

      Memenuhi kebutuhan banyak negara, karena biaya operasionalnya murah, persenjataan modern, dan umurnya panjang.

      Kalau di-upgrade lebih serius, tentu saja adalah platform air superiority yang jauh lebih unggul dibanding F-15, atau... F-22.

      Delete
    2. nampaknya KSAU yg sekarang mulai mengarah serius ke pesawat AWACS dan mulai mengunjungi lanud2 di kalimantan dll,mulai ngebet

      Delete
    3. Kita lihat saja.
      Semoga akhirnya akuisisi kita lebih mengarah ke membangun sistem, dibanding asal beli gado-gado tak karuan.

      Semua landasan di Kalimantan, atau dimanapun juga, asalkan panjangnya 600 meter, sudah lebih dari cukup untuk kombinasi Gripen / Erieye.

      Delete
  34. di formil2 nampaknya yg ingin Gripen datang tmbah banyak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung fran,

      Itu kabar baik :)

      Saab memang satu2nya yg menyatakan terus terang: dalam setiap bentuk penawaran, komitmen kami adalah memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012.

      ... dan sebenarnya lebih dari persyaratan UU no.16/2012,
      karena Saab menawarkan kerjasama jangka panjang secara industrial yang melebihi komitmen offset. Semisal kalau offset kerjasama hanya 50%, begitu komitmen yg harus dilakukan sudah selesai ya, perusahaan lain akan mabur. Bye-bye!

      Saab berkomitmen tetap terus tinggal, dan terus membantu, mungkin seperti EADS Casa, tapi lingkupnya jauh lebih luas, dan jauh lebih mendalam. Bagaimana kalau membantu merancang bangun sistem pertahanan di Indonesia?

      Skenario yg dituliskan disini, bukan tidak mungkin suatu hari bisa terwujud. :)
      Tetapi semuanya akan tergantung komitmen kita.

      Yang paling menarik,
      Kerjasama dengan Saab, dan mengoperasikan Gripen / Erieye akhirnya akan memberikan kita kesempatan untuk terus berinovasi sendiri.

      Delete
  35. betul sekali bung..dari awal saya juga suka gripen. tapi apakah nanti pihak SAAB akan memberikan source code nya kepada Indonesia jika jadi mengakusisi Gripen?
    source code nya khan bisa di injek ke IFX. mantap...mesin pake EJ200. komponen lainnya macam radar, irist, dll bisa beli dmn mana..tapi integrasinya kudu menguasai source code nya

    ReplyDelete