Saturday, March 25, 2017

News Update Maret-2017


News Update Maret-2017. Beberapa berita dalam artikel tidak akan ditampilkan secara berurutan, agar lebih sesuai konteks.



14-Maret-2017: Oh, ternyata penyelidikan kasus AW101 belum selesai

Widodo S. Jusuf - DetikNews
Barang bukti kasus korupsi.

Seperti dilaporkan Kompas, ternyata penyelidikan masih berjalan terus: Belum mencapai kesimpulan, dan belum bisa menunjuk siapa yang salah. 

Tujuan penyelidikan ini seharusnya bukan hanya diarahkan untuk mencari siapa yg salah, tetapi dimanakah lubang prosedural yang salah, yang akan bisa terus dimanfaatkan di masa depan?

Pada pokok permasalahannya,
Kalau kontrak alutsista tidak didasari perjanjian G-to-G, tidak akan ada insentif untuk pejabat pembeli menegosiasikan harga yg semurah mungkin dari penjual.

Bayangkan saja kalau kita sendiri yang menjadi pejabat:
Penjual akan menawarkan komisi "kickback" ke kita, biasanya justru akan berbasiskan % atas nilai transaksi.

Tentu karena godaan ini, lebih baik kita teken kontrak dengan nilai transaksi lebih mahal dari sticker price, agar komisi kita jadi lebih besar.

Negara yang akan terus dirugikan.

Apakah insentifnya untuk mengutamakan kontrak G-to-G, atau kebutuhan industri lokal?

Inilah kenapa pejabat biasanya justru menjadi agen sales untuk membeli alutsista di media massa.



13-Maret-2017: TS-1603 tergelincir di Pekanbaru: Pilot, dan co-pilot selamat!

Gambar: TNI-AU
Kembali, kita patut bersyukur dahulu kalau kedua penerbang F-16B Block-15OCU bernomor registrasi TS-1603 ini tidak terluka dalam kecelakaan ini.

Sayangnya, kecelakaan ini sendiri merusak tekad TNI-AU, seperti dinyatakan Marsekal Hadi Tjahjanto untuk meningkatkan safety record operasional, setelah kecelakaan Hercules di Wamena. Paling tidak, seperti diatas, kecelakaan ini tidak menimbulkan korban jiwa, dan kerusakannya sendiri cukup minor - tidak seperti TS-1642, akan dapat diperbaiki untuk bisa operasional di kemudian hari.

Sebelumnya beroperasi di Sku-03, TS-1603 sendiri sebenarnya adalah pesawat pahlawan, yang  sudah pernah berjasa dalam insiden pulau Bawean. Inilah salah satu F-16 yang tidak hanya membuktikan F-16 TNI-AU cukup kebal dengan embargo, tetapi juga keberanian awaknya untuk menantang 5 F-18 Hornet US Navy, yang bersenjata lengkap, dan (tidak seperti F-16A/B) mempunyai kemampuan BVR.



16-Maret-2017: Pemotongan anggaran RMAF Malaysia: Bye-bye, modernisasi!

Armada gado-gado Malaysia:
Kecuali Hawk, semuanya adalah pespur yang biaya operasionalnya jauh lebih mahal vs F-16
Free Malaysia Today (FMT) melaporkan karena kesulitan ekonomi yang mulai menumpuk, PM Najib Razak akan mengurangi anggaran pertahanan Malaysia hingga -13% dibandingkan di tahun 2016. RMAF (AU Malaysia) yang paling merasakan pahitnya, karena semua rencana akuisisi mereka sekarang sudah buyar berantakan.

Kesulitan RMAF tidaklah mengherankan. 

Seperti bisa dilhat dalam gambar diatas, kalau tiga tipe yang dioperasikan adalah pespur twin-engine berbiaya operasional selangit (F-18C/D lebih mahal 30% dibanding F-16), sedangkan Sukhoi / MiG masih lebih mahal lagi. Jumlah yang mereka operasikan juga cukup parah - hanya satu skuadron per tipe, yang akan mendongkrak biaya operasional naik 30 - 50% lagi. Kalau belum cukup disana, entah kenapa, mereka juga memilih untuk membeli 4 Airbus A400M, yang jauh lebih mahal baik harga, ataupun opearsionalnya dibandingkan C-130. .

Bahkan tanpa pemotongan anggaran saja, dengan pola operasional yang sedemikian rupa, ruangan untuk akuisisi baru akan selalu terbatas.

Sama seperti Renstra Indonesia yang senangnya mengejar jumlah, dan bukan investasi ke sistem pertahanan yang efektif, Renstra Malaysia sebelumnya seperti berasumsi kalau seolah-olah anggaran pertahanan akan menanjak 10 - 20% setiap tahun.

Kenyataan tidak pernah setuju dengan mimpi.



21-Maret-2017: Delivery 4 unit F-16 Block-25+ TNI-AU (yang sudah berfungsi menggantikan F-5E)



Gambar: TNI-AU, Antara News
Empat F-16 Block-25+ (TS-1622, TS-1627, TS-1637, dan TS-1638) sudah tiba di Iswayudhi pada 19-Maret-2017 yang lalu. Dengan demikian, 18 dari 24 F-16 Block-25+ dalam kontrak Peace Bima Sena II sudah selesai. TNI-AU masih harus menunggu delivery untuk 6 unit lagi, yang kabarnya akan diselesaikan Lockheed-Martin dipengunjung tahun 2017 ini.

Tentu saja, seperti biasa, lagi-lagi terdengar suara-suara sumbang, "uuuh, beli bekas", atau cuma "barang rongsokan" second hand. Seorang pengamat menyatakan lebih baik memprioritaskan alutsista baru.

Pernyataan "anti hibah" semacam ini sebenarnya menabrak beberapa realita:
  • Excess Defence Article, seperti F-16, atau C-130 bekas, sebenarnya banyak peminatnya, Romania, Chile, Yordania, atau bahkan Vietnam pun menginginkan F-16 bekas. 
  • Alasannya sederhana: merevitalisasi F-16 yang disimpan USAF, biayanya jauh lebih murah dibanding membeli F-16 baru, dan secara tehnis memberikan kemampuan yang hampir sebanding. Dan bicara soal biaya....
  • 24 F-16 Block-52 baru, tentu saja dalam bentuk Versi Export Downgrade ID (khusus Indonesia), harga kosongnya akan mencapai US$2,2 milyar, atau kalau tidak mengikuti pola akuisisi "macan ompong" ala pejabat, biayanya akan melebihi US$3,6 milyar. Lebih lucu lagi....
  • .... sepanjang sejarah TNI-AU, hampir separuh armada udaranya adalah selalu dari barang versi hibah, mulai dari CAC Sabre (untuk menggantikan MiG-21 "jaman keemasan"), T-33 trainer, A-4 Skykhawk (ex-AU Israel), dan C-130 Hercules.
Kenapa harus gengsi kalau membeli hibah? Apakah kita sudah luar biasa kaya? Atau memang gampang berceloteh, kalau uangnya tidak perlu keluar dari kantong sendiri?

Kalau memang begitu banyak uang, kenapa persenjataan F-16 bekas saja kondisinya masih sekarat?


Defense Security Cooperation Agency (DSCA) sebelumnya sudah memberikan persejutuan ke Indonesia untuk transaksi berikut:
  • 5-Mei-2015: Kontrak dengan estimasi total $47 juta untuk 30 AIM-9X Block-II missile, ditambah 20 Captive Air Training Missile (CATM), 2 CATM-9X-2 Block II Tactical Missile Guidance Units, 4 CATM-9X-2 Block II Guidance Units, dan 2 Dummy Air Training Missiles, termasuk biaya latihan, kontraktor, dan technical guidance.
  • 10-Maret-2016: Kontrak dengan estimasi total $95 juta, untuk 36 AIM-120C-7 AMRAAM, kembali, termasuk biaya spare part, training, biaya kontraktor, perlengkapan, dan technical support.
Jumlah persenjataan diatas terlalu sedikit untuk mempersenjatai 33 sampai 34 unit F-16. Pesawat tempur bukan dibeli hanya untuk dipajang. Pilot tidak bisa mengudarakan pesawat tempur yang tak bersenjata, hanya untuk mudah ditembak jatuh lawan.

Daripada berceloteh "mengeluh hibah", lebih baik mendorong langkah serius untuk memperkuat kemampuan pertahanan Indonesia. Saatnya mendukung pemenuhan MEF tahap I secara rasional, dengan menambah pembelian ratusan AIM-9X Block-2, AMRAAM C-7, dan sekurangnya 20 Sniper Targeting pod, bukan memprioritaskan pembelian lebih banyak lagi macan ompong yang tidak lagi dibutuhkan.




14-Maret-2017: Israel membom Damascus tanpa perlawanan, sekaligus mempraktekkan Arrow Missile untuk menembak jatuh Surface-to-Air missile lawan 

Wikimedia Image

BBC melaporkan kalau Israel berhasil menembak jatuh SAM missile, versinya tidak disebut, tetapi kemungkinan SA-5, yang ditembakkan ke arah pesawat tempur Israel yang sedang membom target di Damascus. Meskipun Israel sudah sering membom target jauh didalam Syria, kejadian kali ini lebih menarik, karena untuk pertama kalinya, IDF mengakui secara blak-blakan serangan tersebut terjadi. Biasanya, mereka tidak menyangkal, atau mengkonfirmasi serangan telah terjadi.

Pertama-tama, Israel kembali menunjukan kalau mereka tidak memerlukan stealth fighter untuk dapat membom target sesuka hati di Syria. Kemungkinan mereka "hanya" memakai F-15I, atau F-16I.

Kedua, adalah untuk mempercontohkan kebolehan Arrow Missile System.
Wikimedia Image

Seperti sudah dibahas sebelumnya, menembak jatuh pesawat tempur dengan SAM saja  sudah semakin sulit. Arrow Missile System secara tehnis seperti menjanjikan sesuatu yang mustahil. Missile lawan, yang kecepatan terbangnya bisa mencapai Mach-5, akan jauh lebih mudah untuk lolos, dibandingkan pesawat tempur, yang hanya bisa terbang Mach 0,9.

Ini juga boleh dibilang seperti ultimatum secara halus: Jangan macam-macam! Missile dari S-400 yang dipangkalkan di Latakia-pun, bisa kami tembak jatuh!

Apakah kemampuan missile air defense akhirnya sudah diambang pintu? Kemungkinan sih belum. Satu kasus belum cukup untuk membuktikan kemampuan.

Kedua kejadian ini lebih mendemonstrasikan Sistem Operasional Israel, yang jauh lebih unggul, dibanding sistem pertahanan Syria, yang masih berbasiskan sistem Soviet. Pihak yang sistemnya lebih siap tempur, dan situational awareness-nya lebih tinggi, sampai kapanpun akan selalu mempercundangi pihak yang kurang siap, tetapi "merasa siap".




22-Maret-2017: Kontrak baru, tetapi problem untuk Su-30MKI India tetap saja tidak berubah 

Memang sekilas sih "kelihatan" gagah
Biaya operasional mahal, rusak selalu, dan kecelakaan sering!
Walaupun sebelumnya India sudah menandatangani kontrak baru untuk mencoba memperbaiki availability rate Sukhoi Su-30 MKI, apakah hasilnya?

Seperti biasa, seperti dilaporkan DefenseNews, lagu yang lama sudah mulai mengalun.
Defense News, 22-Maret-2017
Supplier Ruski akan selalu memaksimalkan keuntungan pribadi, dengan menjual barang "baru" ke customer, dibanding memperbaiki kerusakan kecil dengan biaya lebih murah. Tidak mengherankan bukan, kalau semua Sukhoi Kommercheskiy Sku-11, sudah ditakdirkan untuk masuk "perbaikan mendalam" beberapa tahun sekali?

Tentu saja, pre-kondisi Sukhoi yang secara tehnis sudah termasyur sangat haus maintenance, akan jauh lebih menguntungkan supplier, daripada konsumer.
Defense News, 22-Maret-2017
Ini kembali menggarisbawahi satu peraturan yang sangat mendasar dalam dunia transaksi persenjataan:

Negara yang mempunyai kebiasaan menjual Versi Export Downgrade, tidak akan sudi membagi Transfer-of-Technology. Lebih baik anda membayar lebih mahal ke kami.

Sementara itu, Jane's melaporkan kalau 1 lagi Su-30MKI baru saja mengalami kecelakaan write-off  dalam latihan di sebelah barat Rajahstan pada 15-Maret-2017 yang lampau. Kecelakaan write-off yang ketujuh sejak tahun 2009.


89 comments:

  1. Kondisi sukoi di skuadron 11 apakah tdk mampu utk perang BVR...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terus terang, sangat meragukan.

      Pertama2, kita tahu kalau jam terbang Sku-11 sangat sedikit, krn biaya op terlalu mahal & pswtnya cepat rusak.

      Tidak bisa terbang + tidak ada simulator = sangat kurang latihan.

      Jangankan untuk BVR, jarak dekatpun belum tentu bisa bersaing dgn penerbang F-16.

      Kedua, skrg kita juga sudah tahu kalau RVV-AE adalah versi downgrade dari missile yg development-nya tidak pernah selesai.

      AU Ruski sendiri tidak mengoperasikan R-77, apalagi RVV-AE versi export.

      Dijaman dulu, Soviet pandai membuat missile semi-active homing, tp jaman sudah berubah.

      Kalaupun Sukhoi bisa mendapat lock dngn RVV-AE, kemungkinan melesetnya terlalu jauh, bahkan kalaupun lawan tidak berusaha menghindar.

      Sama seperti latihan pilot, kalau tidak ada investasi, yah, mustahil utk membangun BVRAAM yg bersaing sgn kualitas AMRAAM.

      Tentu saja, Sukhoi versi downgrade, yg sudah terlalu ketinggalan jaman, dan tidak bida di-upgrade, juga mustahil bisa diintegrasikan ke dalam satu sistem.

      Inilah kenapa dilihat dari sudut pandang (mimpi) manapun efek gentar Sukhoi 100% nihil.

      Delete
    2. Sbnrya sbrp seriuskah ancaman terhadap NKRI, apalagi ada sikap pejabat yg msh mengharapkan kickback, yg berpengaruh pd kualitas alutsista kita...

      Delete
    3. Sbnrya sbrp seriuskah ancaman terhadap NKRI, apalagi ada sikap pejabat yg msh mengharapkan kickback, yg berpengaruh pd kualitas alutsista kita...

      Delete
    4. ## Sbnrnya masalah "kickback" pejabat re pembelian Alutsista adalah "prosedur standard" transaksi untuk banyak negara / perusahaan penjual.

      Jangankan Indonesia, seperti bisa dilihat, bahkan pejabat di Austria-pun, yg pendapatan per kapitanya jauh lebih tinggi, tidak kebal dari prosedur "kickback", sampai kebobolan membeli 15 Typhoon. Sekarang mereka merasa tertipu.

      Semuanya tergantung seberapa jauh masing2 negara mau memberantas korupsi.
      Australia, dan Singapore, misalnya, termasuk yg paling bersih.

      Tentu saja, seperti bisa dilihat di media massa, pejabat biasanya sengaja membesar2kan seberapa seriusnya "kebutuhan" dalam tanda kutip, untuk mengejar jumlah alutsista.

      ## Tentu saja, setiap alutsista yg dibeli dengan prosedur "kickback" dari perantara, sepanjang sejarah hasilnya akan selalu merugikan negara pembeli.

      - F-104 "kickback" Jerman Barat, jadi dioperasikan tidak sesuai prosedur standard, krn kebutuhan mereka yang tidak sesuai dngn spesifikasi pesawat.

      Akibatnya, 30% F-104 Jerman rontok dalam kecelakaan, menewaskan banyak pilot, dan menimbulkan kerugian yg jauh lebih besar.

      - 26 Gripen hasil "kickback", di Afrika Selatan ternyata jumlahnya terlalu banyak vs kebutuhan. Akibatnya, hanya kurang dari 10 Gripen yg masih bisa mengudara, sisanya ngendok di hanggar, krn tidak ada uang.

      - 16 Sukhoi "kickback" di Indonesia, mungkin kurang dari separuh yg masih bisa mengudara.
      Sekurangnya 3 unit sudah menjalani "perbaikan mendalam" jutaan $$$ (2 belum pulang), sekurangnya 2 unit lagi sudah mengantri.

      Pilot jarang bisa terbang, dan kerugian finansial luar biasa berat untuk efek gentar nihil.

      Tetapi seperti bisa dilihat: tidak pernah ada complain, bukan, dari pejabat manapun?
      Malahan kita "harus" beli tambahan rongsokan Su-35K.

      Delete
  2. "Mencari lubang prosedural yang salah"??? Tampaknya tidak sulit...

    Sekarang jamannya "aksi" yang terstuktur, sistematis dan masif.

    Tinggal diatur seolah-olah alutsista produk kompetitor yang sdh eksis sdg bermasalah shg harus digrounded, sementara pabrik alutsista kompetitor perfomanya buruk(dlm hal ketepatan waktu deliveri alutsista baru, after salesnya payah)...shg secara akumulatif mendegradasi kesiapan alutsista sebuah matra dan diramaikan dg pemberitaan dimedia yang menyesatkan oleh berbagai sumber, sehingga bisa dijadikan justifikasi utk memasukkan alutsista "merek" yang lain.

    Hal seperti ini sebenarnya taktik lama(juga berlaku diinstansi lain)...bedanya kali ini ditampilkan scr vulgar, mungkin terlalu PD krn "sang komandan" berada dipihak mereka.

    Hal2 seperti ini membutuhkan manajerial yang memiliki rasa rasionalitas dan pemahaman ttg sistem yg mumpuni shg tidak mudah digoyahkan/dikelabui secara alur administrasi...(ala-ala kasus UPS dsb)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf, terlambat reply.

      Memang benar.
      Kalau dari segi prosedural, disetiap instansi / departemen tentu selalu ada lubang "aksi" yang terus bisa dimanfaatkan.

      Masalahnya di mata publik, apalagi online,
      re pembeliam Alutsista, secara tehnis adalah praktek "penyelewengan dana yang paling mudah", dibanding yang lain.

      Kita bisa melihat bagaimana banyak respons yg terlalu antusias mendukung pembelian tidak hanya AW101, tetapi berita rumor A400M tempo hari.

      Tidak ada yang complain bukan, tentang biaya operasional mahal, atau "perbaikan mendalam" Sukhoi rongsokan di Sku-11?

      Biaya antar-jemput dengan Antonov An-124 saja sudah mahal,
      Biaya operasional An-124 sekitar $23,000/jam, dengan total sekitar 10 jam sekali jalan.
      Antonov akan harus antar jemput 2x bolak-balik Ruski-Indonesia, jadi total biaya transport saja sudah kena $23,000 x 10 jam x 4 kali = hampir $1 juta dollar.
      Belum termasuk biaya spare part, dan tehnisi Russia yg akan mengerjakan pesawat itu berbulan-bulan disono. (TS-2701 & 2702 yg super kuno belum pulang sejak 9-Des-15).

      Tetapi "...kita tetap harus beli Su-35...", katanya.

      Bayangkan kalau yang "diselundupkan" dalam kasus ini adalah Sukhoi Su-35K (!!)
      Kalaupun ini kasus korupsi luar biasa, dan negara dipaksa membayar $300 juta+ per unit, akan banyak yg menangis minta supaya transaksinya disetujui.

      Tentu saja, karena ini Internet, terbuka kemungkinan kalau sebagian besar "pendukung" hanyalah account troller yg dibuat beberapa oknum tertentu.

      Masalah lain diluar komunitas online, respons opini publik re pembelian Alutsista sendiri secara umum sebenarnya tergolong pasif, dibanding korupsi e-KTP, proyek mangkrak, atau Bank Century tempo hari.

      Inilah yang masih sangat kurang.
      Kesadaran Nasional.

      Seharusnya akuisisi alutsista tidak boleh seperti sekarang, industri dalam negeri dilangkahi (respons mereka juga terlalu pasif), sedang kebutuhan Nasional jauh dari prioritas.

      Semuanya hanya dalam nama mengejar jumlah, yg dikompori oleh Renstra beracun..... yang juga dijadikan dasar modernisasi alutsista dalam banyak blog militer.

      Tanpa sengaja, kita juga jadi turut meracuni opini publik.

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. ada kabar Di JKGR bahwa USAF Mengganti Seluruh F15C/D Dengan F16. karena alasan program Efisiensi, mereka juga beranggapan bahwa F15C/D Hanya memiliki kemampuan pertempuran udara saja, tetapi tidak bisa melakukan serang darat, dan Biaya Op nya Kemahalan(biaya operasional F15C/D ini Saja sudah mahal, Apalagi Su 35, makin mahal lagi) .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini sbnrnya berita dari Air Force Times, USAF sedang mempertimbangkan kemungkinan tsb.

      Sebelumnya topik ini juga akan diangkat ke News Update ini, tp sy pikir bisa dibahas lebih mendetail lain waktu.

      Re: Kenapa F-16 tetap lebih unggul dari F-22 (ataupun F-15).

      Topik ini menarik, krn sejak dari tahun 1970-an, USAF selalu lebih "mencintai" F-15 raksasa yg lebih sesuai untuk BVR, dibandingkan satu2nya jenis pespur US yang murni dibuat untuk Air Superiority Combat -- F-16.

      Sekarang demi menyelamatkan cinta mereka ke F-35 Lemon II, mrk berpikir untuk mulai belajar mencintai anak tiri mereka, si F-16.

      :)

      Delete
  5. Kalau pesawat favorit anda selain Gripen apa?
    Kalo Malaysia pembelian Sukhoinya lebih terencana seperti pembelian SU-30MKM+Paket persenjataan yang lengkap dan Russia memberi bonus kepada Malaysia yang akan membawa Astronotnya ke ISS?
    Pantesan SU-27 punya Indonesia kalah dengan punya Malaysia
    Saya sudah kesal melihat Jendral USAF yang sudah tidak puas pesawat rancangan mereka kaya F-15,F-16C,dan F/A-18 mereka dan terus membuat pesawat stealth agar menggantikan pesawat yang beroperasi saat ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## IMHO, pesawat favorit tidak lagi relevan.

      Sewaktu masih kecil dulu sih senang F-14, dan F-15.
      Alasannya?
      Karena dari segi penampilan, kedua model twin-engine ini kelihatan sangat gagah, dibandingkan F/A-18 classic, apalagi F-16, yang kelihatan.... kurang mengesankan.

      Kemudian setelah perang dingin selesai, dan seluruh dunia mulai belajar ttg Su-27, dan MiG-29, kelihatannya Su-27 tidak kalah gagah,
      atau dalam bbrp hal kelihatan lebih cantik dari F-15, dan F-14.

      Dewasa ini, mungkin dari semua tipe pesawat, Dassault Rafale yang kelihatan paling klop.

      Sayangnya , dewasa ini kemudian kita belajar: ternyata pespur twin-engine, seberapapun indahnya, atau seberapapun hebatnya, tidak bisa pernah bisa bersaing dengan perpaduan kemampuan, fleksibilitas, dan operational maintenance single-engine fighter.

      ## USAF --- kesalahan besar mereka adalah berpikir kalau F-15, F-16, dan F-18 "butuh pengganti".

      Kenyataannya, kenapa F-22, dan F-35 itu tidak relevan:

      + Evolusi desain aerodinamis pespur setelah melompat jauh dari tahun 1945, memuncak dngn desain F-16, dan kemudian diakhiri dgn ketiga desain Eurocanards.

      + Mustahil bisa membuat desain pespur yang bisa lebih manueverable dari F-16, Typhoon, Rafale, dan Gripen. Ini lebih karena keterbatasan pilot untuk bisa mengatasi 9G maneuver.

      + Sebagai "reference threat", Russia sudah bukan lagi Uni Soviet.
      karena perang dingin sudah usai, Ruski sudah tidak lagi punya cukup modal untuk membuat desain pespur, atau persenjataan seperti dalam jaman Soviet dahulu kala.
      Ruski, atau PRC bahkan masih harus berjuang untuk mengejar ketinggalan sebelum bisa mulai mengimbangi.... dan untuk selamanya, baik modal / tehnologi mereka tetap saja jauh tertinggal.

      + Karena keunggulan sistem (situational awareness), training, persenjataan, dan perlengkapan, F-15, F-16, dan F-18 saja sekarang sudah tidak lagi mempunyai lawan tanding yang seimbang, kenapa masih merasa perlu stealth?

      Delete
    2. ## Re Sukhoi

      Malaysia memang berhasil meneken kontrak yg jauh lebih menguntungkan dibanding Indonesia.

      18 Su-30MKM versi export (spt MKI India) buatan Irkut, yg jauh lebih modern, dengan harga $800 juta di tahun 2003.

      Berkat sistem beli "cicilan", kita bayar lebih mahal ($1M+) hanya untuk 16 Su-27/30 kuno bertehnologi 1980-an, yg sudah di-downgrade.

      Lebih mahal, lebih sedikit, lebih inferior, & komisi perantaranya juga lebih besar %.

      Psst... Ada kemungkinan Ruski bahkan tidak mengijinkan penjualan Su-30 buatan Irkut di tahun 2003.

      Jadi kalaupun ada kemauan, penjual versi export berkata, tidak boleh.

      ## Tentu saja, bukan berarti Malaysia "lebih menang".

      Tidak ada yg bisa menang krn membeli Sukhoi, kecuali suppliernya sendiri.

      Biaya op Sukhoi juga kemahalan utk Malaysia. Dan, spt pengalaman Su-30MKI buatan Irkut di India: kemungkinan hanya separuh Su-30MKM yg dewasa ini masih bisa mengudara.

      RVV-AE, dan R-73E, juga hanya membuat Sukhoi MKM Malaysia akan mempermudah utk dibantai F-16 Block-52+, atau F-5S Singapore.

      Sebenarnya malah Indonesia yg lebih unggul dalam jangka panjang, krn tidak seperti Malaysia mengoperasikan 8 F-18D, dan sisa 10 Mig-29K (yg sudah sekarat)-- kita akan mengoperasikan 33 F-16, yg jauh lebih bandel, dan operasionalnya murah.

      Delete
  6. bung Dark..dari berita kemhan disebutkan menhan RI tertarik dngan tawaran ToT alutsista Perancis yg disampaikan dubes perancis , dalam wkt dkat kunjungan kenegaraan Presiden Perancis dgn delegasi menhan perancis akan membicarakan hal itu. Menurut bung dark masuk akal kah kalo masih ngotot ngejar su 35

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Re ToT Perancis
      Kita memang sudah banyak mengoperasikan radar buatan Perancis, dan Exocet missile.

      Tidak seperti pemikiran pejabat terutama di TNI-AU yang senangnya beli import (AW101, C-27, Sukhoi), ToT akan selalu meningkatkan kemampuan operasional dalam jangka panjang, dan spt dibahas dalam artikel sebelumnya, adalah efek gentarnya sendiri.

      ## Sedang untuk Su-35K.....

      Terus terang adalah ancaman terbesar kedaulatan Indonesia.

      - Biaya operasional akan menyedot lebih banyak proporsi anggaran dibanding Sku-11.

      Su-35 hanya akan membunuh kemampuan semua Skuadron tempur yg yg lain.

      - Ucapkan selamt tinggal untuk kemampuan membangun Sistem Pertahanan sendiri yg adalah 40% dari efek gentar!

      Sama seperti Su- rongsokan di Sku-11, tidak akan compatible dengan semua alutsista Indonesia yg lain.

      - Seluruh persyaratan pasal 43 UU no.16/2012 sudah pasti akan dilanggar habis2an.

      "Perbaikan mendalam" puluhan juta $$ setiap bbrp tahun sudah pasti, dan tidak akan ada ToT / kerjasama lokal.

      - Secara politik, kita harus belajar menyembah semua kemauan Moscow, kalau tidak after sales support yg bisa dipastikan 100% jelek, hanya akan semakin diperburuk.

      Yah, dengan kata lain kita akan menobatkan Ruski sebagai penjajah v2.0 kita.

      - Tentu saja, seberapapun jelek / parahnya operasional Su-35, sama seperti Su- di Sku-11, para pejabat akan "sangat menyukai" rongsokan Kommercheskiy downgrade, dngn persenjataan downgrade ini.

      Alasannya jelas: kalau alusista dibeli lewat perantara, akan selalu ada bbrp pejabat yg juga menerima kickback.

      Delete
    2. menhan Kita langsung menanggapi tertarik tp akan dibahas apa saja yg menguntngkan buat dua negara

      Delete
  7. swedia (udah teken MoU) , denmark, perancis .mereka yg mau ngajak kerja sama tot alutsista...presiden perancis francois holande dan menhan perancis serta mentri industri nya akan datang ke jakarta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung tupa,

      Ini kabar baik.
      Memang kalau tujuannya modernisasi, seharusnya ToT menjadi fokus utama akuisisi alutsista, sama seperti di Swiss, dan di Brazil.

      Kalau misalnya ada 2 pilihan, alutsista A kemampuannya sedikit lebih unggul daripada B,
      tetapi pembuat produk B menawarkan ToT, sedang A tidak;
      Pilihan mana yg harus kita ambil?

      Yah, pilihan B, yang lebih menguntungkan tidak hanya pengguna, tetapi industri lokal.
      Lagipula ToT, dan kemampuan industri lokal akan selalu meningkatkan kemampuan tempur, atau "efek gentar".

      Produk B yang ditawarkan dengan ToT, dalam prakteknya akan selalu jauh lebih unggul dibanding produk A, yang keunggulannya hanya di atas kertas.

      Sebagai contoh, kita bisa berbalik ke dahulu:
      Tawaran F-16 vs Mirage 2000 ke Indonesia di tahun 1986.

      Secara umum, sebenarnya F-16 diakui sedikit lebih unggul,
      tetapi karena Perancis sewaktu itu menawarkan kerjasama produksi lokal, dan TOT, seharusnya pilihan F-16, yg hanya Versi Export Downgrade, menjadi tidak relevan.

      Mirage 2000 Indonesia akan jauh lebih unggul dibanding F-16 Block-25+ yg sekarang.
      Sayang, waktu itu keputusannya lebih ditentukan politik, dibanding membangun industri lokal.

      Delete
  8. Maaf nih kalau aku mengeluarkan pertanyaan diluar postingan ini
    Apakah penyebab lepasnya Timor Timur karena provokasi Australia?
    ya jujur aja ane udah malas debat di formil melalui Instagram karene juga banyak fansboy Sukhoi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan, bung ikhsan.

      Sebenarnya, seluruh dunia tidak pernah mengakui kedaulatan Indonesia di Timor Timur.

      Ironisnya, equivalentnya sama seperti dahulu Iraq mencaplok Kuwait di tahun 1990,
      Atau seperti sekarang, Ruski mencaplok Crimea dari Ukrania.

      Justru sebaliknya, hanya ada satu negara yg sebenarnya mengakui kedaulatan Indonesia di Timor:
      Australia.
      Di belakang layar, United States, walaupun juga tidak mengakui resmi, sebenarnya turut mensponsori / mendukung Indonesia.
      OV-10 Bronco itu sbnrnya dihadiahkan paman Sam, untuk dipergunakan di Timor.
      99% persenjataan TNI dalam Operasi Seroja adalah.... buatan US.

      Latar belakangnya adalah Perang Dingin.
      Ingat, kalau waktu itu, pemerintah Orde Baru, yang anti-komunis, sebenarnya adalah sahabat baik United States, dan Australia.

      Portugis sewaktu itu berencana akan memerdekakan Timor Timur, dan seperti semua negara yg baru berdiri, mempunyai resiko besar bisa menjadi negara komunis.

      Baik US, Indonesia, ataupun Australia, dalam konteks ini, sama2 tidak bisa mentoleransi keberadaan negara komunis baru di halaman belakang mereka, bukan?

      Setelah Perang Dingin selesai, dan ancaman komunis hilang, dengan sendirinya Timor Timur berubah menjadi bom waktu yg tidak bisa dihindari.
      Hanya masalah waktu sebelum mereka mencoba merdeka sendiri, dan kali ini, baik Australia (yg sudah merasa bersalah), ataupun US tidak akan lagi menghalangi.

      ## Uni Soviet, justru sebaliknya beeada di pihak yang berlawanan.
      Mereka sangat menentang invasi Indonesia ke Timor Timur, dan kabarnya juga mendukung Papua Merdeka.

      Delete
    2. maksud bung dark apakah Rusia yg skrg juga mendukung opm

      Delete
    3. Skrg sih Ruski sudah tidak peduli.
      Kepentingan politik (ataupun uang) sudah tidak ada.

      Tetapi di jaman Perang Dingin dahulu, setiap pihak akan selalu didukung salah satu adidaya: US, atau Soviet?

      Tentu saja, kemampuan pihak luar utk mendukung pemberontakan di Indonesia selalu terbatas.

      Kenapa?
      Karena kita ini negara kepulauan. Sulit untuk menyelundupkan senjata masuk, atau memberi dukungan terang2an.

      Dahulu kala, dinas intelijen CIA dari US juga sempat memberi dukungan ke RMS, sebelum pilot Alan Pope tertembak jatuh, dan dukungannya berhenti.

      Kenyataannya,
      setelah pembubaran PKI di tahun 1967, disusul menghibahkan MiG-21, dan beraneka perangkat Soviet ke Washington DC di tahun 1969, posisi kita kemudian jelas berada di pihak yg mana.

      Gajah tidak akan pernah lupa..

      Inilah kenapa argumen "takut embargo" para fanboys cukup gila.
      Masakan memilih membeli senjata dari Moscow, yg selama puluhan tahun sudah menganggap kita "lawan"?
      Mana lagi reputasi mereka sebagai supplier untuk negara bersahabat seperti India saja cukup kacau (lihat diatas), apalagi ke pengkhianat Indonesia.

      Kalau memang takut embargo (yg sekarang sudah mustahil bisa terjadi lagi),
      Kunci utamanya bukan mencampuradukkan supplier Barat-Timur, tetapi memperoleh Kemandirian pertahanan secara operasional, dan industrial.

      F-16, seperti dibuktikan dalam Insiden Bawean, sebenarnya tetap operasional selama masa embargo. Ini walaupun tanpa ToT, atau kerjasama industrial yg berarti.

      Bayangkan, kalau dahulu kita mengoperasikan Mirage 2000!
      Ceritanya tentu akan berbeda.

      Delete
    4. nampaknya baik swedia, perancis nampaknya mereka berniat ajak kerja sama tot ,join produksi bersama. Presiden perancis kmrin mengatakan negara besar kyk RI dgn garis pantai terpanjang ke 2 dunia sudah semestinya mulai mandiri dlm inhan..byangkan negara lain saja bilang bgtu

      Delete
    5. Memang ToT, dan membangun kemampuan industri lokal adalah kebutuhan yg jauh lebih mendesak dibanding menikmati siksaan barang Versi Export US, atau Ruski.

      Setiap supplier seharusnya bisa menjawab pertanyaan ini:
      Bisa memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012 sepenuh hati, atau tidak?.

      Kalau tidak, yah efek gentar nihil.

      Sayang, hambatan utamanya masih dihalangi dua faktor:

      ## Pejabat yg biasanya lebih memilih transaksi lewat perantara.

      ## Kurangnya kesadaran nasional, yg saat ini terlalu banyak mengejar mimpi.

      Untuk sedikit refleksi balik, kebanyakan argumen sy dlm berbagai forum / blog sebenarnya berpaku pada satu topik terakhir ini saja:

      Mimpi kalau barang versi export downgrade (IF-X, Su-35) itu "luar biasa gahar" vs realita keterbatasan / kebutuhan nasional, yg tidak pernah bisa setuju dengan mimpi.

      Delete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. Menurut admin apa penyebab banyaknya kecelakaan di AU kita? Sudah 2 f16 kita yg kecelakaan, hingga pesawat yg masih baru seperti t50 & super tukino pun jatuh, apakah seburuk itu perawatan pada pesawat AU kita hingga menyebabkan banyaknya kecelakaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berbagai macam faktor:

      + Pertama, kembali karena kita tidak mempunyai Sistem Pertahanan yang rapi, alias masih terlalu semerawut dibanding Australia, dan Singapore.

      Dan karena tidak ada sistem modern yg bisa dijadikan sebagai panduan....

      + Secara prosedural, baik maintenance, ataupun operasional, sepertinya masih terlalu banyak lubang.

      Apakah mungkin ada yg "cut corners"?
      Semisal, seharusnya mengerjakan secara berurut dari 1 sampai 10, eh tetapi nomor 3, 5, dan 9 sengaja dilompati.

      ## Faktor terakhir: Ada kecenderungan kalau sampai terjadi kecelakaan, baik di DPR, TNI-AU, atau opini umum cenderung mengejar kambing hitam, yang alasannya "gampang".

      Contoh tiga kambing hitam yg pasti tercetus kalau ada kecelakaan:

      - Beli hibah bekas
      - Alutsista sudah terlalu tua, atau...
      - Anggaran kurang.

      IMHO, kecelakaan terjadi bukan karena ketiga alasan diatas, ataupun bisa dibebankan ke salah pilot, atau salah maintenance, tetapi secara organisasi keseluruhan saja, kita masih harus belajar banyak.

      Ini bukan hanya tanggung jawab TNI-AU, tetapi seluruh bangsa.

      ## Terakhir, tentu saja serapi apapun, faktor kecelakaan akan selalu ada.

      Hanya saja, jumlah kecelakaan TNI-AU saat ini terlalu banyak. Sekurangnya harus ada 1 - 2 write-off setiap tahun.

      Terlalu merugikan, dan membahayakan nyawa.

      ** FYI -- jumlah kecelakaan AU Russia lebih parah dibanding TNI-AU: Mereka bisa mengalami kecelakaan hampir setiap bulan.

      Delete
  11. Kenapa ya opini masyarakat kita terlalu mengagung agungkan senjata2 rusia,mereka berfikir senjata rusia itu terbaik,paling gahar, setiap sebut nama su35 wah langsung pada sorak sorak berkata ayo cepet di beli nanti keburu keduluan cina lah UAE lah,padahal menurut saya sekarang untuk memenuhi renstra mef 2 tni lebih membutuhkan pesawat awe&c dan intai plus tanker untuk mendukung operasi tni au,alutsista ber daya gentar adalah alutsista yg tepat guna,oh iya admin mendesakkah kita mencari pengganti F5 tni

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sy sudah pernah menuliskan artikel dibawah ini:
      Kenapa mencari pengganti F-5E tidak lagi mendesak.

      - Pembentukan Sku-16 di Pekanbaru, bukankah sbnrnya seperti sudah menggantikan F-5E di Sku-14?

      - Kalau belum cukup, T-50 di Sku-15, Madiun itu sudah bisa mengerjakan SEMUA yg bisa dilakukan F-5E.

      - Kemudian, seperti dalam artikel ini, persenjataan untuk F-16 Block-25+ saja masih kosong-melompong.

      Nah, kalau pespur yg sudah ada saja masih belum bisa dipersenjatai / diperlengkapi dengan baik, kenapa masih berambisi membeli lebih banyak "macan ompong"?

      Mengejar "pengganti F-5E" itu adalah manipulasi opini publik
      Kenyataannya, sama seperti merangkak saja belum bisa, eh, bilangnya sudah mau ikut olimpiade (!)

      Kelihatannya "keinginan" membeli pengganti F-5E, lebih ditujukan ke Su-35.... atau dengan kata lain, mengejar komisi "kickback" dari para agen perantara.

      Kebutuhan Pertahanan Nasional, atau kerjasama industrial?
      Silahkan mengambil kursi belakang!

      Delete
    2. Yah,
      inilah masalah forum2 Indonesia, begitu kita menjadi fanboys, kita menjadi hidup dalam mimpi, dan menolak melihat realita fakta, kebutuhan, atau keterbatasan nasional.

      Padahal "efek gentar" Sukhoi terjamin: 100% nihil (Link).

      Demikian juga dengan mimpi #2, pesawat gagal IF-X.

      IMHO, kembali kalau mau melihat pilihan terbaik untuk Indonesia, tidak hanya kita harus mendahulukan kebutuhan, dan ketebatasan nasional, tetapi juga menganalisa setiap supplier secara obyektif.

      Penjual yg hanya menjual barang Versi Export Downgrade (Link), hanya akan mengancam kedaulatan bangsa, dan bukan sebaliknya.

      Delete
  12. Bung Dark,perlukah tni mengakuisisi fregat kelas iver H denmark?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inilah... semua penjual skrg bernafsu menjual apapun ke Indonesia,
      karena mereka tahu kalau kita ini seperti anak kecil:

      ....setiap kali diiming-imingi permen, pasti mau!

      Pertimbangan strategis pembelian Alutsista, seperti contoh AW101, Leopard, korvet Nakhoda Ragam-class, atau Sukhoi -- boleh dibilang hampir tidak ada.

      Tidak pernah ada studi kelaikan, ataupun usaha mengembangkan industri lokal.

      ## IMHO, lebih baik kita tetap setia ke basis desain PKR10514, dan tidak perlu membeli yg lain.
      Ini akan mempermurah biaya operasional, dan meningkatkan kemampuan pertahanan, krn tidak perlu gado2.

      Lagipula, dalam jangka panjang, kapal ini masih bisa di-upgrade untuk membawa radar, atau persenjataan baru, tergantung kebutuhan.

      Delete
    2. Memang saya juga berfikir demikian,admin adakah peluang pemasangan rudal rbs 23 atau radar giraffe 4A pada pkr sigma

      Delete
    3. Dari segi alutsista, kapal perang adalah salah satu yg paling mudah di-customisasi sesuai kebutuhan.

      Faktor positif lain: Sigma-class ini didesain berdasarkan basis modular construction yg modern.

      Seharusnya jauh lebih mudah di-upgrade dibanding kelas Ahmad Yani (ex-Van Spejk RNLN), yg sebentar lagi mau tidak mau juga akan masuk masa pensiun, krn dibuat di tahun 1960-an.

      Delete
  13. Replies
    1. Belum.

      Saab mengumumkan first flight akan dijadwal Q2 2017, tetapi masih basic testing.

      Delete
  14. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  15. APakah saab masih menawarkan gripen ke tni au

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih.

      Saab menyatakan melihat propek kerjasama industrial di Indonesia secara jangka panjang, tidak hanya akan berhenti di Gripen.

      Mereka menawarkan Gripen, Erieye, license production RBS-15 ---> TNI-AU, anehnya, tidak pernah mempunyai anti-ship missile, walaupun tugasnya menjaga negara kepulauan.

      Tentu saja dalam keadaan sekarang, AEW&C jauh lebih penting dibanding "pengganti F-5E".

      ## Re akuisisi pespur baru
      IMHO, kembali, kalau memang masih mau beli baru, atau menambah jumlah --- TNI-AU seharusnya mempensiunkan Sukhoi di Sku-11, yg biaya operasionalnya melebihi 3 - 4 Skuadron F-16, atau Gripen, dan begitu ketinggalan jaman, hanya menjadi benalu secara kemampuan taktis.

      Kalau memang mau mendahulukan jumlah, seharusnya mendahulukan akusisi Single-Engined fighter.

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  16. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  17. lagi2 berita buruk KPK melakukan OTT terhadap dirut PT.PAL dan 2 anak buahnya terkait pengadaan kapal perang philipin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, ini contoh penjualan lewat perantara dgn pt PAL sebagai penjual, Filipina pembeli.

      Agen perantara Ashanti Sales dipakai utk mendorong penjualan, dgn komisi 4,75%; sedang 1,25% dibayarkan balik ke petinggi PT PAL

      (Sumber: Kompas edisi cetak)

      Nah, skrg bisa membayangkan, bukan kasus Sukhoi, dan AW101?

      Komisi yg dibayarkan bisa melebihi 20%, dan pejabat lokal mungkin bisa dapat 5% komisi "kickback".

      Begitulah transaksi alutsista kalau tidak lewat G-to-G --- gajahpun bisa menari diatas meja.

      Delete
    2. paling konyol adalah ada komen di salah satu forum yg justru membela PAL dan menghujat KPK seakan-akan prestasi PAL yg "baru"mengekspor 2 kapal lebih besar dari KPK yg dari mulai berdiri sudah menyelamatkan uang rakyat yg tidak terhitung lagi jumlah

      Delete
    3. Padahal kalau namanya Korupsi, walau bisa datang dalam bermacam wujud, atau alasan, namanya tetap saja... KORUPSI.

      Yang parah kalau mental kita jadi ikut korup,
      dan kemudian mendukung alasan, atau wujud para koruptor yg hanya sibuk memperkaya diri.

      Delete
  18. menhan RR mengklarifikasi tentang tender jet tempur pengganti F 5 Tiger ternyata belum ada itu semacam bntahan maklum pihak rostec, sputnik belakangan gencar memberikan pernyataan sepihak ttg su 35...

    ReplyDelete
  19. masih akan dibahas siapakah yg bkal ngisi pengawal udara RI..namun belum ditentukan apakah su 35, tyhoon, rafale. Gripen .fanboys sukhoi beberapa udah amat kecewa..kwakawkawak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhhh syukur2 gripen yg kepilih, biar sukhoi fansboy kecewa berat wkwkwk

      Delete
    2. Memang sudah seharusnya Sukhoi harus terlebih dulu di-write off.

      Walaupun klaim sepihak media2 propaganda Ruski, bagusnya semakin hari resiko pembelian pespur "efek gentar nihil" semakin mengecil.

      Delete
  20. Sebetulnya setelah Timor Leste Merdeka,Minyak Timor di ambil Australia
    Fansboy Sukhoi kurang ajar tuh soal Kekuatan di Indonesia di era-60an padahal dimasa itu rakyat miskin tau emang kamu mau rakyat miskin gara-gara beli pesawat Sukhoi

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Sebenarnya untuk minyak di "Timor gap", sekarang Australia lebih rugi dibanding dahulu kontrak dengan Indonesia. Timor Leste sekarang mendapat proporsi 90:10.

      ## Entah apa yang hebat dalam "jaman keemasan tahun 1960-an dahulu", yang masih digembar-gemborkan sampai sekarang.

      Link: Kekuatan Udara Indonesia di tahun 1960-an.

      Kenyataannya:

      ## AURI dahulu itu, walau besar jumlah, sama sekali tidak siap tempur.
      Soviet tidak pernah mengajarkan SISTEM, atau prosedural pemakaian yg rapi, sebagaimana sudah mereka terapkan di Vietnam Utara, Mesir, dan Syria.

      Kemudian...

      ## Di kala itu, RAAF Australia, dan RAF Inggris, yang menjaga Malaysia / Singapore, tetap saja masih jauh lebih banyak, lebih kuat, dan lebih berpengalaman dibanding sekarang.
      Dalam konteks perang dingin, keduanya bahkan mempunyai kemampuan untuk bisa menantang, dan mematahkan AU Uni Soviet / Pakta Warsawa.

      ## Tentu saja, terakhir, TNI-AU yg sekarang sbnrnya sudah jauh lebih kust dibanding tahun 1960-an, karena kita mengoperasikan F-16 Block-25+, dan bukan Sukhoi penghisap uang, yg sering rusak, dan jarang bisa terbang.

      "Keunggulan" masa itu sebenarnya sangat semu.
      Kita beruntung kalau AURI tidak pernah menantang RAF / RAAF dalam era konfrontasi Malaysia.

      Hanya merugikan ekonomi..... lagi2 hanya untuk mengejar efek gentar nihil.

      Delete
  21. akhirnya tender kapal selam dimenangkan oleh littoral scorpene dan di buat dan dirakit di PT.PAL , skaligus ToT. Mereka sudah tanda tangan MoU antara DCNS dan PT.PAL

    ReplyDelete
  22. dan Rusia lagi2 kalah dalam tender kapal selam. Kwekwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. spt disebut bung Rizki, TNI-AL sebelumnya sudah memilih Changbogo.

      ## Fasilitas Pt PAL yg sudah dibangun untuk memproduksi unit ketiga Changbogo saja belum selesai akhir tahun 2016 yg lalu, dan kemungkinan belum tentu bisa memproduksi kualitasnya sebaik hasil kerja DSME.

      ## Scorpene tidak hanya akan memperburuk training / operasional armada gado2, tetapi fasilitas yg sudah bisa, paling tidak untuk merakit Type-209 Changbogo, tidak akan bisa diubah untuk men-support Scorpene.

      ## Terakhir, patut diulangi lagi: perairan Indonesia, terutama di wilayah Barat, sebenarnya kurang ideal untuk operasional kapal selam, karena mayoritasnya, dari Selat Malaka, laut Jawa, sampai perairan sekitar Natuna, adalah perairan laut dangkal, dengan kedalaman rata2 <50 meter.

      Dijaman PD II saja, kapal selam U-Boat Jerman, atau US Navy di Pasifik harus menyelam ke kedalaman 100 meter untuk menghindari deteksi, atau serangan depth charge.

      Delete
    3. Ya memang kurang ideal di perairan bgian barat, terlalu dangkal,min keinginan tni al mengoperasikan 12 kasel apa realistis untuk di capai?

      Delete
    4. Kalau menurut saya 6 kasel sudah cukup untuk sekarang,mengingat kondisi keuangan indonesia yg kurang baik,lebih baik perbanyak kcr 60 dengan persenjataan yg lebih modern.

      Delete
    5. dari pernyataan perancis dan RI , kapal selam itu akan dibuat untk bisa beroperasi di laut dalam dan dangkal , juga menggunakan bahan2 lokal , dan bppt jg dpt tot baterai kapal selam . Mereka membentuk satuan kelompok kerja bersama 2 negara. Menhan langsung tertarik bgt hollande menawarkan.

      Delete
    6. perancis juga akan kerja sama join produksi kapal korvet dan frigat ,

      Delete
    7. menurut bung dark , antara scorpene, Gotland. Chanbogo manakah yg pas buat ngawal laut kita

      Delete
    8. Seharusnya dahulu, kita tidak memilih Tipe-209 lagi (Changbogo), tetapi memprioritaskan kapal selam dengan AIP (Air Independent Propulsion), yg bisa menyelam berminggu2, dan jauh lebih sulit dideteksi.

      Ini karena spt diatas: laut dangkal, sulit utk bisa sembunyi.

      Secara tehnis, lebih baik memilih lebih sedikit Tipe-214 (2 unit), dibanding 3 Changbogo; jauh lebih mematikan.

      ## Sekarang sudah kepalang basah.

      Dibanding mengejar jumlah, lebih baik meng-upgrade Changbogo ke AIP (ini bisa dilakukan), hanya sayangnya, harga akhirnya akan lebih mahal vs membeli Type-214 dari baru.

      ## Kalau kita mulai dari NOL, dan tidak ada Changbogo?

      Ketiga model ini mempunyai AIP, dan tergantung kebutuhan:

      + Untuk alasan commonality dengan Type-209 (Cakra & Nenggala), lebih baik Type-214.
      Training, atau ToT akan lebih mudah.

      + Kalau mau standardisasi anti-ship missile Exocet dengan semua KRI: Scorpene.

      + Gotland sbnrnya sudah digantikan dgn Type A26.

      Kalau memilih kerjasama beli paket dengan Gripen-Erieye-RBS-15; ini juga bisa menjadi pilihan yg lebih baik, krn paling modern, dan sudah operationally proven dalam latihan vs US Navy.

      Delete
    9. menurut cerita seorang perwira pertama di tetangga ku, tender kapal selam itu selain korea, jg di ikuti turki yg merupakan pemegang lisensi teknologi AIP dari jerman , turki jg menyodorkan paket tot ,krja sama . Entah knpa mereka terlempar ..korea ternyata mencuri teknologi kapal selam jerman , para ilmuwan PT.PAL jg dilarang ikut terjun .merka hnya diperbolehkan menonton

      Delete
  23. Min, dalam searangan udara melawan ISIS, mana yang lebih banyak civilian casualties oleh NATO apa Rusia?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Russia.

      Pertama, prioritas mrk tidak untuk membom ISIS, atau el-Nusra, tetapi menstabilkan pemerintah Assad.
      Alhasil, semua pemberontak di Syria, termasuk yg didukung Turki, Saudi Arabia, UAE, ataupun negara2 NATO juga menjadi target.

      Dengan kata lain, daftar sasaran Ruski jauh lebih banyak vs NATO.

      Kedua, 90% bomb yg dijatuhkan Ruski jenis "freefall dumb bomb".

      Bahkan dengan memakai Smart-bomb IR-, atau GPS-guided, kesalahan tetap saja bisa terjadi. Tetapi dumb bomb tidak akan bisa selektif memilih target.

      Sehubungan dengan ini....

      Ketiga, tidak seperti NATO yg lebih memprioritaskan minimalisasi korban sipil, Ruski, sama seperti sohibnya, Assad, tidak terlalu peduli dengan "collateral damage", atau kerusakan / korban sipil.

      Secara keseluruhan, misi Ruski di Syria sbnrnya sudah berhasil: pemerintah Assad skrg sudah stabil, dan hampir mustahil bisa dikalahkan.

      Di lain pihak, expeditionary Ruski di Syria lebih banyak memperlihatkan kelemahan alutsista ex-Soviet mereka, walaupun tujuannya juga utk iklan menjual senjata.

      Kita jadi tahu:

      ## BVR missile terbaik AU Russia, yg bisa dibawa Su-35S, Su-30SM, dan Su-34 hanyalah R-27 ex-Soviet yg sudah ketinggalan jaman.

      ## Ruski tidak punya modal utk melakukan smart bombing campaign spt NATO.

      ## Situational Awareness AU Ruski juga terlihat sangat kurang.

      Delete
    2. Lebih lanjut...

      ## Admiral Kuznetsov (kita akan bahas di lain waktu), ternyata kapal induk yg sangat bermasalah... dan AL Ruski terlihat tidak dapat mengoperasikan / kurang pengalaman dgn MiG-29K / Su-33, paling tidak sebaik operational practice AL Perancis, atau US Navy.

      ## AU Ruski ternyata tidak bisa mengkoordinasi pespur melalui AWACS, spt standard rata2 AU NATO skrg.

      ## Networking mereka juga terlihat masih... Generasi pertama, dan lebih terkonsentrasi ke Ground Control Management.

      ## Kebanyakan sortie rate dari pespur mereka, adalah legacy Su-24, dan Su-25 ex-Soviet, yang lebih sederhana, dan lebih bandel.

      Bintang2 utama, Su-30SM, Su-34, dan Su-35S hanya bisa dioperasikan dalam jumlah yg lebih sedikit, dengan sortie rate rendah, dan kebutuhan operational demand yg luar biasa tinggi.

      Dengan kata lain, AU Ruski modern sudah menjadi AU manja perawatan. Hilang sudah jaman keemasan dulu, ketika Soviet mengoperasikan ribuan MiG-21, MiG-23, dan Su-20.

      Memang ketiganya bukan tandingan F-16, tetapi demikian juga Su-35S sekarang, hampir mustahil bisa menembak jatuh F-16, apalagi dngn mengandalkan R-27, dan R-73 ex-Soviet. Perbedaannya, MiG-21 terutama, jumlahnya lebih banyak, operasionalnya lebih murah, dan dapat diproduksi dalam jumlah yg jauh lebih besar / lebih cepat.

      Patut diingat, kalau ketiga derivatif Flanker ini, dibuat dari anggaran pertahanan Ruski yg rata2 kurang dari $50 milyar per tahun, dibandingkan legacy Su-27S, atau MiG-29, dahulu dibuat dari anggaran gemuk $300 milyar.

      Boleh dibilang "iklan" senjata Ruski di Syria, sudah seperti senjata makan tuan.

      Delete
  24. bukannya SU-27 sama SU-30 untuk menggantikan A-4 Skyhawk yang sudah tua?
    Sebetulnya kenapa SU-30 Indonesia dibawah SU-30 Malaysia?
    Apakah MIG akan dibeli ukraina daripada bangkrut

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Sukhoi bisa dinyatakan gagal mengganti Skyhawk, yg praktis, murah, dan dalam latihan manuever, dapat mempercundangi F-4 Phantom II.

      Sortie rate Sukhoi dari pertama beli selalu rendah, krn gampang rusak. Umurnya juga akan sangat pendek: Skyhawk hampir 40 tahun ketika dipensiunkan.

      ## Su-30MK / MK2 berdasarkan Su-30MKK yg dibeli PRC, buatan KNAAPO. Secara tehnis, hanya Su-30 legacy tahun 1980-an, yg menambah kemampuan anti-shipping, katanya.

      Su-30MKM Malaysiaa adalah derivatif dari Su-30MKI buatan Irkut (beda pabrik), yg didesain tahun 1990-an, berdasarkan Su-35/37 demonstrator -- dgn avionic buatan Perancis, dan radar PESA.

      Yah, MKM lebih unggul / modern dibanding MK/MK2.

      Kemungkinan sih, di tahun 2003, Ruski tidak mengijinkan penjualan Su-30 buatan Irkut ke Indonesia.

      Delete
  25. Yes... F16 hibah kita udah 1 skuadron lengkap...
    Seperti apa yang udah dikatakn bung GI soal pesawat hibah ini... harganya sungguh sangat menggiurkan.. mungkin tidak sehebat gripen..tapi lumayan buat patroli udara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memenuhi kebutuhan "basic" untuk modernisasi, krn F-16A/B sebelumnya tidak mempunyai kemampuan BVR.

      ... sedangkan RVV-AE untuk Sukhoi ternyata lemot.

      Secara tehnis, sudah lebih dari cukup utk mengisi kekosongan yg ditinggalkan F-5E, dan jumlah Hawk 209 yg semakin berkurang.

      ## Pembentukan Sku-16 di Pekanbaru, dan bukan mengisi kembali Sku-14, boleh dibilang hanya manuever politik agar mendorong pemerintah untuk tetap mencari "pengganti F-5".

      Menambah lebih banyak pembelian "macan ompong" tanpa senjata hanya demi menang jumlah.

      ## Kemudian kabarnya pilot Sku-14 dialihkan ke Sku-11, karena harus "membiasakan ke Sukhoi".

      .... padahal Sukhoi tidak bisa terbang setiap hari, dan jumlah yg operasional saja kurang dari 8 unit.

      F-16 tidak akan mempunyai masalah yg sama.

      Delete
    2. Oh ya bung.. di amerika itu ada angkatan Force dan angkatan guard. Apakah kita perlu untuk melakukan hal yang sama...???

      Delete
    3. Tidak perlu.
      Latar belakang sejarah, dan struktur negara kita berbeda.

      Pertama-tama,
      United States of America --- adalah negara gabungan dari 50 states, bukan negara Kesatuan seperti Indonesia.

      National Guard bertanggung jawab pertama2 hanya ke Gubernur masing-masing State, tetapi sesekali Federal Government di Washington DC, dapat mengambil alih kendali Guard kalau perlu, misalnya untuk membantu di Iraq, atau Afganistan.

      Kedua, latar belakang National Guard itu sifatnya seperti militia untuk self-defense masing2 state, yg sejarahnya dari masa jaman perang kolonial US mulai dari tahun 1770-an.

      Militia disini, berarti National Guard bukan seperti tentara Federal yang kerjanya full time. Kebanyakan personil Guard hanya kerja paruh waktu (part time), sisanya mereka mempunyai pekerjaan sipil.

      Pilot, atau crew untuk Air National Guard (ANG), dalam contoh spesifik, biasanya bekerja full time untuk commercial Airline.

      Delete
    4. Kiraain seperti bakamala/bakalama dan tni al... makasin infonya

      Delete
  26. Min apakah pespur gen 5 wajib di desain siluman & sebenarnya definisi pespur gen 5 seperti apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. G5 sebenarnya hanya bahasa marketing untuk mendefinisikan "stealth".

      Padahal stealth sudah mempunyai setumpuk kelemahan, seperti bisa dilihat dari F-22, dan F-35:

      ## Bentuk Stealth akan selalu mengkrompromikan kemampuan aerodinamis vs desain konvensional.
      Dalam pertempuran jarak dekat, bahkan F-22 tidaklah lebih unggul dibandingkan... F-16.

      ## Pesawat stealth tidak bisa terbang rendah untuk menghindari radar spt pesawat konvensional (karena lebih mudah terlihat), akan tetapi ini membuat flight profile mereka lebih mudah ditebak lawan.

      ## Conformal weapons bay -- menambak delay 2 detik menembakkan missile vs pespur konvensional.

      ## ... dan juga membuat desainnya terlalu gemuk, dan draggy (seperti diatas); mengurangi kemampuan aerodinamis.

      ## Akan terlalu mengandalkan BVR combat

      ## Harga, dan biaya operasional akan lebih mahal daripada twin-engine konvensional. Pespur stealth juga sudah pasti akan "manja perawatan". Ini akan mengurangi jam terbang pilot.

      ## .... dan lebih sulit untuk di-upgrade, karena segala sesuatu sudah dibuat "fused-in".

      ## Mengintegrasikan senjata baru terbukti sangat sulit (F-22, dan F-35); karena coding software-nya kurang bersahabat, dan.... terlalu banyak senjata baru (spt MBDA Meteor) tidak akan muat ke dalam conformal weapons bay.

      Sedang semua kelebihan G5 lain, seperti Sensor Fusion, Networking, dan Supercruise --- semuanya sudah terintegrasi dalam Eurocanards.

      IMHO, pespur G5.... adalah generasi pespur yg gagal.

      Delete
  27. Lalu perbedaan mendasar antara pespur gen 1 hingga gen 5?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## G1 -- pespur basic - secara tehnis seperti pespur baling2, tetapi memakai mesin turbojet.
      * Gloster Meteor, F-86 / MiG-15 (swept Wing --- lebih optimal untuk akselerasi/manuever)

      ## G2 -- menambah afterburner; memberikannya kemampuan terbang lurus supersonic (G1 bisa mencapai supersonic kalau terbang menukik); mulai memperkenalkan radar. Secara tehnis masih tetap saja, belum berbeda jauh vs pespur baling2.
      * Mirage III, MiG-21 F-13, F-104

      ## G3 -- Tetap Afterburning turbojet. Kemampuan radar mulai lebih reliable; mulai mempunyai kemampuan BVR (tidak wajib). Secara elektronik lebih modern vs G2.
      * F-4 Phantom II, Mirage F1, MiG-21bis

      ## G4 -- untuk pertama kali memperkenalkan mesin afterburning turbofan; yang lebih hemat bahan bakar, dan (kecuali mesin RD-33 utk MiG-29) tidak lagi mengepulkan asap.
      Secara elektronik, memperkenalkan Fly-by-wire; pulse-doppler radar dngn kemampuan "look down" (melihat pesawat yg terbang rendah -- gelombang radarnya tidak terkecoh refleksi dari permukaan bumi); kemampuan BVR lebih solid vs G3.

      Sebenarnya sejak G4 --- evolusi generasi pespur secara aerodinamis / kinematis sudah berakhir.

      Tergantung kemampuan pilot, MiG-21, atau F-5E sekalipun masih dapat menantang, dan mengalahkan F-16.

      Kemudian evolusinya sejak tahun 1980-an sudah mulai berpindah ke elektronik --- radar AESA, Sensor Fusion, Networking, BVR missile dengan active guidance, Smart bomb, targeting pod ---> semuanya masih belum bisa diproduksi dengan baik oleh Soviet, atau kemudian Russia.

      ## G5 --- generasi gagal, yang terlalu mahal (lihat diatas!)

      Delete
    2. Terimakasih atas info & penjelasannya min,berarti perkembangan pespur ke depan lebih mengarah ke radar,sesor fusion & missile yg lebih canggih.

      Delete
  28. Waduh!! Muncul lagi berita di JKGR kalo sukhoi su 30SME layak di jadikan pengganti f5 tiger 2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biarkan saja mereka bermimpi..

      :)

      Semoga suatu hari semakin banyak yang menyadari, kalau kebutuhan nasional itu jauh lebih penting, bukan keinginan / mimpi belaka.

      ## ToT / partisipasi industri lokal lebih penting, apalagi kalau sifatnya jangka panjang, melebihi offset yang "diharuskan".

      ## Transaksi alutsista tidak boleh melalui perantara

      ## Alutsista tidak boleh model Versi Export Downgrade, melainkan yang menjamin kedaulatan nasional

      ## Alutsista harus yang paling modern yang bisa dibeli, tetapi juga harus memenuhi persyaratan berikut:

      + Memenuhi realita kebutuhan strategis negara kepulauan
      + Biaya daur hidupnya terjangkau selama 30 tahun, dan masa hidupnya dapat diperpanjang.
      + Mudah untuk di-upgrade
      + Dapat diperlengkapi senjata manapun, tanpa bisa didikte 1 single supplier saja -- ini baru namanya anti-embargo!
      + Tentu saja, persenjataanya juga bukan versi export downgrade, dengan kemampuan yang paling handal.

      Delete
    2. berita di national interest , PAK FA 50 Sudah mulai mengalami masalah mesim.

      Delete
    3. Sebenarnya menganalisa Alutsista buatan Ruski mudah, asalkan kita memakai Logika sederhana:

      Hampir 30 tahun NPO Saturn memproduksi mesin AL-31F untuk keluarga Sukhoi, apa hasilnya?

      Mesin yg service life-nya 1,500 jam, atau kurang dari seperdelapan dibanding usia mesin Barat.
      Pada prakteknya, semua pengguna Sukhoi mendapati mesin Saturn bisa mati sendiri sebelum 1,000 jam.

      India sendiri melapor kalau build-quality untuk sub-variant AL-31FM dengan Thrust-Vectoring kacau, dan dibawah standard. Terlalu gampang rusak.

      Nah, sekarang untuk Su-35S, mereka bisa tiba2 berkata mesin AL-41F1 dgn 3D Thrust Vectoring, yg lebih rumit, dan jumlah produksinya masih jauh lebih sedikit dibanding AL-31F, akan bisa tahan operasional 4,000 jam.

      Logika; Kita bisa percaya, atau tidak pernyataan ini?

      Kalau belum cukup, mesin Next Generation untuk PAK-FA dinyatakan harus mempunyai kemampuan Supercruise, sama seperti mesin F119 untuk F-22(!)

      Seperti diatas, sementara AL-31F dibuat sewaktu anggaran pertahanan Soviet masih di atas $300 milyar, baik mesin AL-41F1 (Su-35S), atau mesin NG untuk PAK-FA, dibuat dalam masa anggaran pertahanan yang hanya <$60 milyar.

      Kembali, logika saja: tidak seperti mitos yang disebar Ausairpower.net, tidak akan mungkin PAK-FA akan bisa mendapat mesin yg kemampuan / kualitasnya sebanding, bukan?

      Delete
  29. Kalo indonesia mengganti f5 dengan fighter2 kelas berat justru akan membebani biaya operasional TNI, seharusnya pengganti f5 ya harus sekelas f5 (light fighter), biar peran dan efektivitasx cocok dgn pesawat yg akan diganti, kalo mnurut sy cocokx ya f20

    ReplyDelete
    Replies
    1. F-20 Tigershark? Sayangnya sudah di-cancel di tahun 1980-an.
      Memang sbnrnya cukup ideal, kalau saja proyek ini selesai.

      ## Dan benar... Pespur lightweight seharusnya tidak boleh diganti dengan pespur heavy twin-engine, yg dengan sendirinya akan selalu merongrong dari segi maintenance, jarang bisa terbang, dan biaya op-nya luar biasa mahal.

      Tidak hanya Sukhoi, IF-X twin-engine pun tidak pernah sesuai dengan realita anggaran pertahanan Indonesia yg serba terbatas.

      Kita sering mendengar argumen:
      "Kita butuh twin-engine krn jarak jangkaunya lebih jauh."

      Keliru.
      Pespur twin-engine sbnrnya lebih draggy, gila maintenance, dan lebih boros bensin.
      Untuk mencapai jarak yg sama, twin-engine buatan Barat akan menghamburkan 3x lipat biaya operasional yg lebih mahal vs F-16 / Gripen.

      Sedangkan lintah udara Sukhoi akan menghisap 10x lipat lebih banyak uang.

      Dalam operasi di Libya, Gripen-C hanya perlu meminum setengah dari jumlah bahan bakar yg di butuhkan F/A-18 yg memakai jenis mesin yg sama, untuk jarak jangkau yg sebanding. Mengisi bahan bakar di udara menjadi lebih cepat.

      ## Kenapa Gripen pilihan paling sesuai kebutuhan Indonesia dalam jangka menengah-panjang?

      - Biaya operasional lebih murah dari F-16, atau hanya sekitar 30-40% lebih mahal dari BAe Hawk

      - Tidak seperti F-16, Gripen-C/E akan dapat melakukan air-to-air refueling di Indonesia

      - Tidak seperti F-16, Sukhoi, atau IF-X yang hanya Model Export Downgrade, kedaulatan akan 100% di tangan sendiri.

      - Jarak jangkau Gripen-E akan lebih unggul dibanding Su-35K

      - Daftar persenjataanya lebih luas -- mau membeli dari supplier mana terserah kita

      - Satu2nya model yg fully-networked, dan harus beroperasi dalam sistem yg jauh lebih modern

      - Masa depan untuk upgrade jauh lebih terjamin.

      Delete
  30. Loh kan f20 batal di produksi,USA aja ga mau pakai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. USAF sih memang dari dulu membenci lightweight fighter.
      F-20 -- berdasarkan airframe F-5E Tiger II dengan mesin GE F404 -- hanya salah satu korban politik mereka.

      Di tahun 1960-an, F-5 Tiger sebenarnya adalah pespur air superiority yg jauh lebih efektif vs "anak emas" F-4 Phantom II, yg jauh lebih mahal.

      USAF tidak pernah membeli F-5 dalam jumlah besar, tapi ribuan Phantom II.
      ....kemudian ratusan Phantom rontok di Vietnam, menimbulkan kerugian finansial yg luar biasa berat,
      ... sedang MiG-17, dan MiG-21 Vietnam, yg lebih kecil, dan lebih gesit, dapat terus mempercundangi Phantom semasa perang.

      Delete
  31. Berita dr forum sebelah: rusia tidak mau berbagi teknologi kunci pespur gen 5 dgn india karna kedekatanya dgn USA,nah loh india aja sbgai konsumen terbesar senjata ruski aja kayak gini apalagi kita? Yg gado2 senjatanya, lah kok msih ngarep dpttot senjata ruski(su35),impossible!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha buat fansboy sih masa bodoh dapet TOT atau kaga yg penting mainannya dateng SU-35 setroonggg

      Delete
    2. Hanya contoh praktek dari hukum dasar akuisisi Alutsista:

      Negara yang menjual senjata Versi Export tidak akan pernah, sekali lagi, TIDAK AKAN PERNAH membagi ToT.

      Tidak hanya para fanboys manapun, kelihatannya baik pemerintah India, ataupun Korea-pun masih menolak untuk belajar.

      Para penjual versi export (US, Ruski, dan anggota baru PRC) memang kadang mengumbar akan "memberi", bahkan sampai menandatangan kontrak. Tetapi begitu uang dari pembeli masuk, mereka akan selalu kembali menunjukan jati diri mereka:
      "Maaf, para pecundang! Kami tidak akan membagi ToT..."

      .... yang lebih lucu, IF-X-pun akan gagal memenuhi persyaratan ToT dari UU no.16/2012.

      Proyek KF-X lokal sudah dihantam bertubi-tubi dengan:

      ## Lengsernya Presiden Park, salah satu sponsor utama proyek di parlemen Korea,

      ## para chaebol yang menumpuk terlalu banyak hutang,

      ## Dan, sekarang dalam masalah ToT dari Washington DC; Korea bertabrakan dengan satu variable baru lagi:

      Presiden Trump: "Make America Great Again!"
      Semua kontrak yg sudah disetujui dibawah Obama, hampir bisa dipastikan akan harus dinegosiasikan kembali -- America First!

      Delete