Wednesday, March 1, 2017

News Update Februari-2017

RAAF EA-18G Growler  Credits: RAAF Photo
Sementara menunggu artikel penggunaan Gripen di Natuna, untuk menangkal aggressor; saatnya memperhatikan beberapa perkembangan berita di bulan Februari-2017.



07-Februari-2017: Dua pertiga dari armada Super Hornet / Hornet US Navy tidak bisa terbang, hanya karena.... tidak ada uang untuk maintenance

Photo: US Navy
Ironis, bukan?

Sementara United States menikmati anggaran pertahanan terbesar di dunia, yang hampir lima kali lipat dibanding anggaran PRC, yang menduduki peringkat dua, ternyata terus melaporkan kekurangan jumlah pesawat yang tersedia. Christopher P. Cavas melaporkan untuk  Defense-News; kalau US Navy melaporkan hampir 70% Hornet, dan Super Hornet mereka sedang mengantri maintenance, atau menunggu spare part yang tidak kunjung datang.... hanya karena tidak ada dana untuk membayar maintenance.

US Navy masih complain tentang lebih banyak hal lagi:
  • 15% dari fasilitas offshore sudah dalam keadaan tak laik pakai
  • Maintenance overhaul untuk kapal juga banyak yang tak tertunda.
  • Setiap kapal induk bisa out of service selama 3 tahun, sementara kapal selam bisa mencapai 4 tahun.
Butuh tambahan budget, menurut argumen mereka. Kami tidak punya cukup uang.

Oh, tapi mereka punya cukup uang untuk membayar ini:
Zummwalt class "Battleship" (US Navy Photo - Wikimedia)
Total yang dianggarkan hanya $22,5 Milyar (FY2015) untuk tiga kapal

Kemudian ini...
Dengan harga murah, hanya $18,4 Milyar per kapal

... dan, juga ini...
F-35C (US Navy Photo)
Rongsokan F-35C, yang harganya hanya $355 juta,
atau kira-kira setengah Skuadron F-18E/F

Pelajaran dari US Navy, dan boleh dibilang seluruh militer United States: 
Jumlah bukanlah segalanya.

Terlalu terobsesi ke jumlah seperti dalam kasus US Navy, ataupun dalam pola akuisisi Renstra TNI, hanya akan membuat pengguna selalu merasa kekurangan. Kesalahan besar yang hanya merugikan negara, dan akhirnya penggunanya sendiri. Tanpa adanya displin baik secara fiskal, ataupun sistem akuisisi yang lebih rasional, untuk selamanya pengguna akan selalu merasa kekurangan, seberapapun banyaknya dana yang tersedia.



17/19/20-Februari-2017: ... sementara itu, skandal AW-101 sudah memasuki babak baru


Credit: Widodo S Jusuf - DetikNews
Barang bukti transaksi gelap tanpa ijin pemerintah, atau DPR:
Kirimkan pulang, dan minta FULL Refund!
Hasil penyidikan KSAU dinyatakan sudah selesai, karena pembeliannya sesuai prosedur. KSAU kemudian menuturkan lebih lanjut dalam interview dengan majalah Gatra, kalau pembelian "heli angkut berat adalah suatu keharusan."

Maaf, tetapi pertanyaannya mudah:

Kalau memang sesuai prosedur, kenapa baik pemerintah, Komisi I DPR, Kemenhan, ataupun Panglima TNI tidak tahu menahu mengenai pembelian ini? Proposal pertama TNI-AU untuk membeli AW-101 saja sudah ditolak mentah-mentah di akhir tahun 2015.

Lebih parah lagi, walaupun katanya sesuai prosedur, hasil penyidikan KSAU menyatakan kalau harga pembelian senilai $55 juta ini sudah dibayarkan. TNI-AU tidak pernah meminta dana baru di tahun 2015, nah, lantas uangnya datang dari mana?

Kenapa... membeli helikopter import bisa menjadi keharusan, sementara produk alternatif dari license production H225M sudah tersedia dari PT Dirgantara Indonesia?

Pada 24-November-2015 saja, Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hassanudin sudah mengkritik rencana pembelian AW101 ini dengan lugas: "Bubarkan saja industri pertahanan sendiri, kalau tidak mau memakai"

Lebih lanjut, beliau menunjuk kalau pasal 43 dari UU no.16/2012 sebenarnya mengharuskan pengguna (TNI-AU) untuk terlebih dahulu mendahulukan pembelian produk buatan industri lokalTidak seperti membeli import, 30% dari nilai kontrak dapat diinvestasikan kembali ke material, dan tenaga kerja lokal. 

Dimanakah kesadaran nasional?
Link:
CNN Indonesia, 09-Februari-2017:
Akuisisi AW101 memang selalu berbau "Kickback penjual"

20-Februari-2017: Update

Surat kabar Kompas melaporkan kalau Pengamat Pertahanan Universitas Indonesia, Connie Rahakundini, sudah melihat salinan kontrak pembelian AW-101, yang ternyata jumlahnya mencapai.... 8 unit, dan ditandatangani oleh Menteri Pertahanan sendiri - untuk kebutuhan VVIP, katanya.

"Gayung bersambut, kata menjawab."

Dalam pernyataan Leonardo Helicopter (Augusta-Westland) ke AIN Online, pada 24-Februari yang lalu, mereka memang menyatakan kalau unit MSN-50248 yang dikirim ke Indonesia, adalah dari partial production 12 unit yang dipesan dalam kasus "korup" AW-101 India.

Lebih lanjut pernyataan Leonardo berikut sangat menarik:
AINOnline, 24-Februari-2017
Nah, loh?!? 

Jadi tidak seperti pernyataan "keinginan" TNI-AU, MSN-50248 yang sudah dibeli 1 unit, menurut Leonardo, bukanlah helikopter SAR, ataupun helikopter VVIP. Tentu saja, Leonardo juga berbicara seolah-olah transaksi ini sudah disetujui pemerintah.

Sepertinya sudah semakin banyak informasi untuk pemerintah menelusuri kasus ini terlebih lanjut. Dan dalam rangka membersihkan pola "akuisisi miring" semacam ini, ada baiknya, pemerintah juga mempersiapkan kasus untuk gugatan ke mahkamah Uni Eropa untuk mendapatkan full refund dari "prosedur penjualan illegal" ini, sama seperti Austria sudah menggugat Airbus, dan Eurofighter.


21-Februari-2017: Turki mempertimbangkan pembelian S-400 system


Turki menyatakan kalau mereka membutuhkan S-400 untuk melindungi wilayah udara mereka.....?

Melindungi diri dari siapa? Bukankah Turki anggota NATO, yang sudah pernah menembak jatuh Su-24BM Russia
Owww.... 
Sebagai salah satu anggota NATO, Turki mempunyai hak untuk mengaktifkan Article 5 dari NATO Charter, yang menuliskan kalau negara anggota yang berada dalam ancaman konflik dengan pihak ketiga, maka negara tersebut berhak mendapat dukungan militer penuh dari semua anggota NATO yang lain. 

Ironisnya, United States adalah satu-satunya anggota NATO yang pernah mengaktifkan article 5, di tahun 2001, untuk menyingkirkan Taliban, dari Afganistan. .... dan walau telah menghabiskan waktu 16 tahun, NATO tetap saja belum berhasil menang di  Afganistan.

Kenapa Turki mau mengambil resiko mengoperasikan SAM system, yang tidak akan compatible dengan sistem NATO, dan hanya menjadi versi export downgrade habis-habisan?



21-Februari-2017 (2): UAE menandatangani 3 kontrak dengan Russia, mempertimbangkan pembelian Su-35K


Credit: Sputnink News
Su-35S (tidak tersedia untuk export),
Dalam dunia nyata, hanya bisa dipersenjatai R-27, dan R-73.


belum cukup untuk menandingi F-16, 

yang jauh lebih modern
Pada hari yang sama, UAE dilaporkan menandatangani dua perjanjian untuk pembuatan pesawat tempur Generasi keenam bersama Russia, yang akan berada dalam kelas MiG-29, dan "letter of intent" untuk membeli Su-35... tentu aja, Kommercheskiy.

Kesemua kontrak ini cukup ironis, mengingat F-16 Block-60 UAEAF, yang diperlengkapi semi-sensor fusion, dengan AN/APG-80 AESA radar, mesin GE-132 yang berdaya dorong 144,6 kN, dan dapat dipersenjatai dengan AIM-9X Block-2, dan AMRAAM C-7; sudah membawa semua perlengkapan, dan persenjataan ultra-modern, yang masih belum bisa dibuat Russia, sampai sekarang. 

Sama seperti Turki, kenapa mereka mau mengambil resiko untuk berencana mengoperasikan alutsista yang tidak compatible dengan sistem mereka sendiri?

Baik UAE, dan Turki, dengan mencoba bermain mata dengan Russia, sudah mengambil resiko berkurangnya upgrade, dan technical support dari United States, yang biar bagaimana masih mempersenjatai hampir 90 sampai 99% dari semua perlengkapan militer mereka.

Kemungkinan memang ini disengaja, seperti dilaporkan dalam article Defense-Aerospace di atas; UAE tidak pernah senang dengan perjanjian nuklir Iran, yang dinegosiasikan pemerintah Obama, ataupun kedekatan dengan Israel, seperti yang diperlihatkan pemerintah Trump.

Turki sendiri semakin resah, karena NATO, terutama US, mendukung baik pemberontakan Kurdistan di Syria, dan pemerintahan semi-independent mereka di Iraq, yang dianggapnya sendiri sebagai benalu. Belum lagi menghitung kalau kesemua negara-negara NATO, cenderung semakin kritis dengan tindak-tanduk pemerintah mereka akhir-akhir ini.

Jadi apakah kedua transaksi ini permainan politik? Kita lihat saja perkembangan selanjutnya, karena sejauh ini belum ada kontrak pembelian secara resmi.


28-Februari-2017: EA-18G Growler pertama RAAF sudah mendarat di Australia; Mereka akan terlibat dalam development untuk Next Generation Jammer 

RAAF Photo

Dua EA-18G Growler RAAF Australia yang pertama sudah tiba di Avalon, Melbourne, pada 28-Februari-2017 yang lalu, untuk turut serta dalam Avalon Internasional Airshow di weekend ini.

AN/ALQ-99 jammer pod, yang menjadi perlengkapan standard EA-18G untuk melumpuhkan radar, ataupun komunikasi di darat, maupun di udara, sebenarnya sudah cukup berumur, dan dalam tahap penggantian dengan Next Generation Jammer. Sebagai satu-satunya pengguna EA-18G diluar US Navy, Australia sudah menyatakan keinginan untuk turut serta sebagai pengembang Next Generation Jammer ini.

First flight RAAF Growler, 13-Juli-2015:
Jauh lebih modern dari semua yang dioperasikan TNI-AU, 
ataupun "keinginan" Su-35K, dan IF-X

Tidak, sekali lagi, Australia tidak akan pernah bisa bermusuhan dengan Indonesia. EA-18G Growler, bukan untuk digunakan mengancam Indonesia. 

Walaupun hubungan kita banyak titik tinggi, dan titik rendahnya, kita adalah dua negara tetangga yang sebenarnya saling membutuhkan satu sama lain. Jauh lebih banyak keuntungan untuk menjalin kerja-sama dalam jangka panjang dari segi perdagangan, ekonomis, sosial, politik, ataupun pertahanan, dibandingkan sebaliknya.
Presiden Jokowi, dan Perdana Menteri Australia, Malcom Turnbull baru saja mengumumkan pemulihan kembali hubungan kerjasama militer antar kedua negara, disamping membicarakan perjanjian perdagangan bilateral antar kedua negara. Australia sudah meminta maaf atas terjadinya skandal material training, yang dikabarkan menjelek-jelekan Pancasila. 

Pelajaran disini adalah contoh kedewasaan bagaimana Australia terus mengembangkan kemampuan militer mereka. Bahkan boleh dibilang, walaupun mereka juga berencana mengakuisisi F-35A versi export, langkah mereka disini jauh lebih rasional dibandingkan ketiga Angkatan United States, yang anggarannya jauh lebih tinggi. EA-18G, boleh dibilang akan membantu menutup banyak kelemahan F-35A Versi Export. 

Tidak seperti US Navy, dan US Marine; Australia tidak akan sebodoh itu mengambil resiko sampai dua pertiga armada udara RAAF mereka, yang hanya 100 pesawat tempur, sampai tidak bisa terbang karena masalah maintenance.

Contoh dari kemampuan tempur RAAF Australia yang fully-networked, lengkap, dan state-of-the-art, dengan sendirinya membuat Renstra TNI-AU 180 pesawat, yang tanpa perencanaan jelas yang lebih menyorot ke pembangunan Networking, AEW&C, Electronic Warfare, precision targeting, BVR combat, atau command & control........ kecuali memang hanya untuk mengejar jumlah (termasuk mendahulukan beli import AW101, daripada produksi lokal), menjadi semakin kadaluarsa.

Sudah saatnya mulai mengambil langkah serius, untuk lebih mementingkan pembangunan Sistem pertahanan tahan banting, yang didukung 100% dengan industri pertahanan lokal yang semakin modern; yang akan mampu mempertahankan Natuna, atau pulau-pulau lain yang terpencil. Jumlah yang besar, tidak akan bisa gesit dalam perang antar pulau, yang akan selalu lebih menuntut Situational Awareness, dan Mobilitas yang lebih tinggi daripada lawan.

Seperti pelajaran dari US Navy di atas, terlau terobsesi mementingkan kuantitas, di atas kualitas, tidak akan pernah bisa membuat negara menjadi lebih kuat.


126 comments:

  1. admin, saya penasaran dengan permasalahan F-35. Kan, konsepnya dia mau menggabungkan fungsi intercept, air superiority, fighter yang tadinya dipegang beragam pespur seperti F-16 untuk fighter, F-15 untuk air superiority, dll dalam satu platform yakni F-35, apa bisa semua itu dimasukan dalam satu pespur ? terus kok bisa katanya setiap uji F-35 masalah baru selalu ditemukan ? sama kenapa sih proyeknya bisa telat sama over budget ? tapi terlebih dari semua pertanyaan diatas, apa proyek F-35 realistis ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh iya admin, saya curiga apa proyek KFX/IFX bakalan jadi over budget seperti F-35, saya gak percaya investasi 1.6 milyar USD terus kita dapet 50 pespur, kayaknya itu cuma biaya riset aja, ujung-ujungnya pasti harus keluar uang lagi dan pasti terlampau besar maksud saya pespur double engine mulai dari unit cost, operational & maintenance cost pasti lebih besar dari single engine.

      Delete
    2. Seperti dalam artikel F-35 tempo hari;

      Keinginan untuk memasukkan semua kemampuan F-16, F-18, Harrier, F-117, A-10 --- akan selalu menuntut semua fitur yang tidak akan bisa saling compatible --- ini artinya pesawatnya secara tehnis adalah barang rusak, bahkan dari sebelum pertama kali diproduksi.

      Menulis konsep pembuatan pesawat itu harus realistis, dan harus ada pembatasan lingkup apa yang bisa dikerjakan pesawat tersebut kelak.

      F-35 mencoba menjejalkan terlalu banyak macam kebutuhan yang tidak compatible, ke satu platform.

      Yah, tidak heran masalahnya akan ada terus.

      Sekarang ini, United States, dan semua negara partner F-35 hanya mencoba menambal kapal bocor, yang memang tidak pernah bisa mengapung.

      Berapapun banyaknya uang yang dihamburkan, dan seberapapun gigihnya kerja Lockheed-Martin, tetap saja hasilnya akan percuma.

      Mau tidak mau, pesawat ini akhirnya akan harus dibatalkan, walaupun Lockheed, dan para F-35 fanboys tidak setuju.

      Delete
    3. =============
      oh iya admin, saya curiga apa proyek KFX/IFX bakalan jadi over budget seperti F-35, saya gak percaya investasi 1.6 milyar USD terus kita dapet 50 pespur, kayaknya itu cuma biaya riset aja, ujung-ujungnya pasti harus keluar uang lagi dan pasti terlampau besar maksud saya pespur double engine mulai dari unit cost, operational & maintenance cost pasti lebih besar dari single engine.
      =============

      Memang sedari awal, KF-X / IF-X hanya akan seperti proyek Hambalang.

      Secara realistis, biaya development seharusnya $25 milyar minimal, dan mengingat jumlah produksinya hanya 180 - 250 unit, dan tidak akan bisa di-export (US akan memveto penjualan!), yah, kita akan melihat harga produksi per unit mencapai $200 juta+ untuk batch pertama, sebelum turun ke harga kisaran $150 juta dalam batch terakhir.

      Jadi untuk estimasi minimum, kita harus bayar US$7,5 milyar untuk 50 pesawat, yang belum akan siap tempur selama beberapa tahun.

      Tentu saja, kemungkinan besar, Korea akan "cut loss" kalau biaya yang dikeluarkan sudah mencapai $10 milyar, tanpa ada hasil yang berarti.... tapi ini artinya kita sudah rugi $2 milyar, dan tidak mendapat apa-apa. Secuil tehnologipun tidak --- krn mereka akan tergantung kebijaksanaan Washington DC, dan sekarang, Presiden Trump.

      Delete
    4. https://www.rt.com/usa/371388-trump-f35-replacement-cost/
      saya gak tahu ini bener atau enggak soalnya saya searching di RT, tapi gini lah proyek F-35 yang walaupun bersifat multinasional udah nembus diatas 300 milyar USD, saya searching di wikipedia sekalipun bukan sumber yang valid tapi inilah saya dapat :
      Program cost US$1.508 trillion (through 2070 in then-year dollars), US$55.1B for RDT&E, $319.1B for procurement, $4.8B for MILCON, $1123.8B for operations & sustainment (2015 estimate)[7]
      ini gila atau apa ? dan juga proyek KFX/IFX yang saya curiga bakal ngebludak soalnya 7,3 milyar USD mau bawa kemana, gak mungkin 1.6 milyar USD langsung kita dapat 50 pespur apalagi akhir-akhir ini Korsel minta kita tingkatkan itu angka jadi 80 milyar USD, bukan enggak mungkin Indonesia bakal harus keluar sampai 10 milyar USD dan total biaya program KFX/IFX mencapai > 25 milyar USD. India ngeluarin uang sampai 10 milyar USD untuk 36 pespur Dassault Rafale dan Perancis ngumumin untuk program make in India maka India harus setidaknya memesan 200 Dassault Rafale, kok saya ngeliatnya Brazil sendiri yang " pinter " sendirian maksudnya pengeluaran paling kecil dari contoh diatas semua 5 milyar USD, blak-blakan dan transparan dari awal. Sao Paolo bakal jadi fasilitas produksi no.2 setelah Linkoping, 80% tes dilakukan di Brazil, 60% produksi & perakitan ada di Brazil, dan Embraer diberikan hak untuk memasarkan Gripen di Amerika Selatan.

      Delete
    5. juga Brazil dapet 36 pespur Gripen-E yang udah dilengkapin AESA radar, IRST, targeting pod, radar fusion, RF jammer, joint mounted helmet display dan link terminal buat national data link mereka, cuma proyek Brazil yang saya anggap valid dari semua

      Delete
    6. ## Memang antara 36 Gripen Brazil v 32 Rafale India,
      Dari segi keuntungan finansial, industri, dan alih tehnologi, memang Brazil yang jauh lebih untung.

      $5 milyar, dapat lebih banyak pesawat, dan kemampuan memproduksi / customisasi sendiri.
      Dalam jangka panjang, kabarnya mereka akan memproduksi lokal 72 Gripen lagi.

      India membayar $9 milyar untuk ready-to-fly, tapi tanpa alih tehnologi secara industrial.

      Akan tetapi, dikabarkan belakangan, alasan Utama India menginginkan Rafale, adalah utk kemampuan membawa bom nuklir.
      Baik Mirage 2000, ataupun Su-30MKI kesulitan memenuhi kebutuhan ini.

      Kalau dari segi kemampuan tempur sih, Gripen tidak akan berbeda jauh v Rafale, atau bisa dibilang akan lebih unggul.
      Persenjataannya jauh fleksibel, customisasi mudah, TIDLS fighter-to-fighter Network, dan dengan 2-way datalink, Gripen akan dapat menembak Meteor jauh lebih akurat vs 1-way datalink Rafale.

      ## Masalah utama KF-X baik di Korea, maupun di Indonesia, proyek ini dibuat berdasarkan mimpi "membuat sendiri", padahal kemampuan / pengalaman / industri pendukungnya masih nihil.

      Tentu saja, semua logika jadi dibuang ke tempat sampah.
      .... mau tergantung ke Washington DC lagi.... dan skrg lihat saja... Presiden Trump.

      Semua perjanjian jaman Obama, sepertinya sih semua jadi beresiko akan dirobek Trump.

      Untungnya paling tidak parlemen Korea masih cukup waras utk tidak membuang uang terlalu banyak ke proyek ini. Sudah berselang 10 tahun, dan 7 tahun sejak Indonesia ikut, proyeknya masih tetap di atas kertas, bukan?

      Ini memang disengaja, dan paling tidak masih menunjukkan ada budget kontrol untuk mengerem ambisi.

      ## Kalau mau menghitung ulang, lebih baik mengambil contoh kerjasama Saab di Brazil, bukan?
      Daripada mencoba membuat pesawat dari mimpi?
      (...dan sekarang dihantui Trump)

      Kelihatannya sih fasilitas PT DI belum siap kalau mau produksi pespur dari nol (ini salah satu masalah terbesar keterlibatan dalam KF-X), jadi kita harus lebih rasional.

      Anggaran kasar $3,6 - $4M untuk membeli 16 Gripen-E ready-to-fly (Brazil juga sama), dan kemudian mencoba merakit CKD 16 Gripen.

      Dalam tahap ini, silahkan menelusuri kalau mau mempersiapkan fasilitas PT DI untuk memproduksi Gripen sendiri.
      IMHO, ini saja akan membutuhkan proses 10 tahun -- dan untuk pesawat yg sudah siap produksi. Tentu saja, penyerapan tehnologi dari proses ini juga sudah bukan main menguntungkannya.

      Keuntungan lain jangka panjang:
      TNI-AU tidak akan bisa lagi mengemis 180 pesawat tempur beli import.

      Kalau memang butuh tambahan jumlah di atas 32 Gripen; silahkan mengajukan proposal, dan membeli produk PT DI!
      ... 30 - 40% nilai transaksi akan masuk balik ke kantong kita sendiri.

      Mencintai buatan sendiri, walau license production, seperti Super Puma, C-212, dan C-295.
      Itu baru namanya berjiwa nasionalisme.

      Delete
  2. Pilot Singapore aja sanggup terbang 10 jam ke New Zealand untuk ikut parade Air Tatto

    ReplyDelete
    Replies
    1. RSAF Singapore sedang dalam tahap pembicaraan dngn pemerintah NZ,
      Mereka mungkin akan menyewa tempat / memangkalkan satu detachment F-15SG disana.

      RSAF memang sudah lama menyebar2 asset udara mereka; baik di US, Australia, dan Perancis.
      Alasannya dua:
      # Tidak ada cukup ruangan utk berlatih di Singapore, walaupun kemampuan mrk sudah state-of-the-art dibanding seluruh ASEAN
      # Kalau sampai Singapore jatuh, kekuatan udara cadangan mereka masih tersebar di negara2 yg bersahabat, baik secara politik, ataupun militer.

      Delete
  3. Seperti Hal nya Proyek F4 Phantom , F35 Adalah penempur yg Salah Konsep, dan Bug nya paling banyak dan semrawut.

    lebih baik US membuat F15SE Dan F18ASH Saja yg biaya developmentnya murah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Lebih baik F-15SE, F-18ASH, (dan F-16V)
      =============

      Memang benar.
      F-22, dan F-35 sbnrnya hanyalah dua pesawat mandul tanpa misi yg jelas, walaupun banyak membuang2 uang.

      Kemampuan udara US / NATO sekarang sbnrnya sudah jauh melebihi Ruski / PRC,
      krn pesawat yg mereka operasikan (F-15, F-16, F-18, dan Eurocanards) mempunyai reliability, dan operasional tempo yg jauh lebih tinggi vs Sukhoi Ruski / PRC;

      Tentu saja, secara tehnologi, mau J-20, atau PAK-FA; keduanya sudah tertinggal terlalu jauh -- sampai skrg saja mereka masih belum bisa membuat AESA radar.
      dan tidak hanya itu, daftar persenjataan mereka juga jauh lebih unggul 20 - 30 tahun / ratusan milyar biaya development.

      Dengan berencana mengganti (mayoritas) F-16, dan F-18 classic ke stealthy F-35,
      sbnrnya NATO menembak kaki mereka sendiri dngn pesawat yg biaya operasionalnya lebih mahal dari F-15, terlalu rumit, jauh lebih sulit untuk bisa di-upgrade, dan tentu saja tidak akan bisa sering terbang sesering F-16.

      US juga perhatiannya jadi terpecah, dan kurang dana utk mengembangkan kemampuan di bagian lain -- misalnya, jadi tidak ada uang membuat BVR missile dengan ramjet propulsion, seperti Meteor.

      ## Equivalent dari F-35 adalah F-111 favorit kedua penulis Australia Air Power (APA)

      F-4 Phantom sbrnrya cukup sukses, karena alasan yg sederhana:
      Secara konsep desain awalnya simple: Mach-2 twin-engine all-weather interceptor, yg kebetulan ternyata juga mempunyai kapasitas utk menjadi pembom.
      Pengguna pertama US Navy, sebelum USAF juga mendapati kemampuan F-4 secara umum, ternyata melebihi semua tipe pespur mrk di kala itu.

      F-111 sebaliknya, adalah produk gagal.
      dahulu kala, sempat dicoba dijejalkan US DefSec McNamara, agar dipakai USAF, dan USN, yg mempunyai requirement berbeda, dalam rangka penghematan.

      USAF menginginkan pesawat pembom supersonic yg bisa tebang rendah;
      USN menginginkan fleet defence fighter, yg dapat mengoperasikan AIM-54 Phoenix.

      Target yg terlalu ambisius, dan tidak relevan; akibatnya harganya melonjak naik, biaya op mahal, perawatan sulit, dan.... versi utk USN akhirnya harus dibatalkan (dan digantikan dedicated fighter F-14A).

      USAF saja akhirnya membeli hanya 500 unit, dari rencana sebelumnya yg mencapai 2000 unit. walaupun secara tehnis cukup sukses, yah, tetap saja biayanya telalu mahal.

      Mulai tahun 1980-an, mereka sudah berpikir utk menggantikan F-111, dengan F-15E, yg walaupun kapasitas bomnya lebih sedikit, harga / biaya opnya lebih murah, dan mempunyai kemampuan bertempur vs pesawat lain.

      Stlh perang dingin selesai, USAF kemudian mempensiunkan semua F-111 mahal mereka di tahun 1998.
      hanya Australia yg masih cukup bodoh seorang diri mengoperasikan 24 F-111C sampai tahun 2010. Begitu Australia mempensiunkan penghisap uang ini, jadi ada ruangan utk membeli Wedgetail, C-17, Super Hornet / Growler yg jauh lebih modern, dan KC-30.

      APA berargumen kemampuan F-111 tidak bisa digantikan F-18SH;
      "Bisa terbang rendah, supersonic, jarak jangkaunya tak tertandingi, dll," demikian tangisan mrk.

      Yah, tetapi biaya operasional, dan availability ratenya tidak sepadan dgn hasilnya.
      170 jam maintenance per tiap jam terbang; pesawat ini hanya hanggar queen.


      Delete
  4. ironisnya problem us navy sama dgn TNI AU selalu mengeluh kurang anggran tapi punya uang untuk beli alutsista dgn harga overprice dan biaya operasional tinggi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena Terobsesi dengan Jumlah, Dan tipe Pesawat yg beragam. tetapi ToT di kesampingkan.

      Terlalu Dicampur aduk, Malah makin Buruk

      Delete
    2. Begitulah.

      Selama diberikan ruangan hanya utk "mengejar jumlah", tapi tanpa budget control, atau perencanaan yg lebih terarah, semua Angkatan negara manapun hanya akan menghabiskan semua dana, dan kemudian mengemis ke pemerintah "kurang duit".

      USN bisa punya uang utk semua proyek mercusuar mereka puluhan $M, tetapi tidak ada uang utk merawat apa yg sudah ada, dan skrg mengeluh uang kurang banyak.

      TNI-AU mengemis minta tambah pesawat tempur utk "modernisasi", dan "menambah jumlah";

      Eh, tapi malah mengoperasikan Sukhoi di Sku-11, yg biayanya sudah cukup utk membiayai 3 Skuadron F-16, atau 4 Skuadron Gripen utk berlatih 170 jam setahun, dan sbnrnya hanya memberi makan para perantara (dari komisi spare part & perbaikan mendalam).

      Kemudian masih mau beli Su-35K, yg biayanya (dan komisinya) lebih mahal lagi...

      ... dan tentu saja, TNI-AU juga sengaja melupakan beli missile, atau perlengkapan, investasi di infrastruktur pendukung, dan memupuk jumlah jam latihan utk meningkatkan kemampuan.

      Efek gentar Pop Mie gampang bisa terjadi, asalkan kita beli lebih banyak pespur.

      Delete
  5. negeri kta memang serba terlambat dalam segala hal...........

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @jovan,

      Selamat datang!

      Negara kita memang terlambat, karena pertama2, merdeka sendiri saja baru tahun 1945,
      ... dan kemudian terjerumus dalam perang kemerdekaan, dan belum mendapat pengakuan kedaulatan kemerdekaan secara de yure sampai setelah Konferensi Meja Bundar 2 November 1949.

      Jadi start awalnya saja, kemerdekaan kita lebih sulit, dan setelahnya, kita memang jadi lebih babak belur dibandingkan Singapore, atau Malaysia; yg proses peralihan kekuasaannya dari UK lebih tertib.

      Sedangkan Australia, dalam artikel, adalah ex-colony UK.
      Mereka termasuk salah satu negara pertama yg mendirikan AU sendiri di dunia, dan sudah berpengalaman terlibat dalam Perang Dunia I, II, perang Korea, Vietnam, dan semua konflik dimana semua anggota2 NATO dikirim.

      Untuk negara kita, kemudian kembali ke masalah yg dibahas seperti dalam artikel sebelumnya.

      Kalau dari segi pertahanan,
      tidak pernah ada upaya serius untuk membangun kemampuan pertahanan strategis antara tahun 1949 - 2004, karena ABRI (waktu itu) lebih disibukan untuk memadamkan beraneka ragam pemberontakan daerah.

      Nah, ini memasuki masalah berikutnya.

      ## Sejak 2005, kemudian belum pernah ada upaya yg serius utk mencoba membuat sistem pertahanan modern, yg benar2 menjawab semua realita tantangan strategis, ataupun geografis nusantara.

      Inilah langkah yg seharusnya diambil, bukan lantas membuat Renstra untuk mengejar jumlah.

      Inilah kelemahan terbesar kita, yg kemudian hanya memberi kesempatan ke siapapun yg menjabat menyabotase kemajuan, dengan asal beli alutsista tanpa perencanaan yg jelas.

      Untuk mengejar ketinggalan sbnrnya belum terlambat, hanya saja kita harus mulai dari awal.
      Step-by-step.

      Singapore juga masih rawa2 kumuh di tahun 1960-an, sedangkan Korsel masih rata dengan tanah di akhir 1950-an.

      Keduanya kemudian membangun Militer yang paling modern di Asia, dengan disiplin yg tinggi, kerja keras, dan berbasiskan sistem yg rapi.

      Semuanya tidak bisa terjadi sehari-semalam.
      Kedua negara tsb sbnrnya rajin melihat apa yg kurang hari ini, utk kemudian baru membuat sendiri, atau import senjata untuk terus memperkaya kemampuan sistem pertahanan mereka.

      Keduanya tidak pernah sekadar asal beli terobsesi jumlah,
      seperti yg diinginkan para pejabat kita;

      Kurang helikopter angkut berat; beli AW101..
      padahal PT DI sudah memproduksi H225M, dan awak kita sudah terbiasa dengan keluarga Super Puma.

      Inilah yg juga harus menjadi fokus berikutnya.
      Kemampuan personil, baik tentara darat, awak kapal, pilot, ataupun support personil harus selalu lebih diutamakan, sebelum membeli alutsista

      Untuk apa Sukhoi Flemon, kalau maksimum paling hanya bisa terbang kurang dari 50 jam setahun?

      Pilot yg dapat berlatih 200 jam setahun, akan selalu dengan mudah dapat menghabisi Newbie yg hanya terbang 50 jam setahun.

      Delete
  6. saya khawatir dgn kasus heli aw ini kalau ternyata presiden tidak puas dgn jawaban dan hasil penyelidikan KSAU bisa2 anggaran pembelian alutsista ditahan sampai ada jawaban yg memuaskan

    ReplyDelete
    Replies
    1. berarti penyelidikan AW101 harus clear bener, sebenernya kalau ujungnya malah seolah " melegalkan " AW101, mending tahan anggaran pembelian alutsista AU, soalnya berarti " main2nya " gede

      Delete
    2. soalnya gimana juga " pelegalan " AW101 juga bener2 susah buat diterima. Kalau dari pihak yang satu bilang " sah " sekalipun dari awal pun semua tahu lah kejanggalannya, jauh lebih baik tahan semua, negara gak boleh ngalah sama upaya KKN. Sebenernya jauh lebih penting " pembersihan " dulu sebelum pengucuran anggaran untuk alutsista, bahaya entar bisa2 proyek yang jauh G to B yang lebih raksasa dari AW101 bisa goal

      Delete
    3. * proyek G to B yang lebih raksasa dari AW101 bisa goal

      Delete
    4. Bung Irman,

      IMHO, kalau pemerintah menahan akuisisi Alutsista lebih banyak lebih lanjut malah akan menjadi sesuatu yg positif dalam jangka panjang.

      Ingat, Renstra TNI yg sekarang sebenarnya sangat beracun.
      Setiap kali ada pejabat yg naik pangkat, ada kecenderungan untuk selalu coba membeli sesuatu, dalam nama jumlah, atau modernisasi.

      Dan perhatikan saja:
      Sejak kapan ada pejabat yang antusias kalau transaksinya dilakukan transparan, dan berbasiskan G-to-G contract?

      Negara, dan rakyat yg akan terus dirugikan jangka panjang, akibat "ajian Mumpung".

      Lagula, akibat Renstra racun ini, kita kan bisa melihat sendiri --- kebanyakan Alutsista kita itu telanjang. Missile, atau amunisinya tidak pernah dibeli dalam jumlah banyak.

      Mana efek gentarnya?

      Kalau untuk Sukhoi sih beruntung kita beli missile versi export sedikit,
      krn kita tahu skrg RVV-AE itu tak berguna. Ruski saja tidak mau pakai.

      Tetapi untuk F-16?
      Sangat disayangkan kalau kita tidak memborong lebih banyak AIM-9X, AMRAAM, Targeting pod, dan kemudian menghabiskan waktu utk latihan dahulu.

      Kita membutuhkan Rasionalisasi anggaran, dan rencana pembelian alutsista secara bertahap, agar sesuai kebutuhan, dan siap menghadapi tantangan modern.

      Jangan seperti sekarang -- beritanya hanya:

      "Indonesia tertarik membeli A, atau B..."

      Ini sih hanya jadi magnet untuk para penjual yg rajin memberi "kickback".

      Delete
    5. takutnya porsi anggaran untuk pembelian alutsista lain yg benar2 dibutuhkan juga ikut2an ditahan mudah2an matra lain tidak kena getahnya akibat kasus ini

      Delete
    6. iya sih, ini harus dicari akarnya darimana. serba salah padahal urusan alutsista harusnya paling bersih karena vital

      Delete
    7. presiden sudah menerapkan berbagai syarat ketat dalam hal pembelian alutsista misalnya negosiasi G to G dan transfer teknologi yg semuanya dilanggar dalam kontrak pemebelian heli AW ,saya rasa presiden tidak akan diam saja walaupun laporan dari KSAU bilang semuanya sudah sesuai prosedur

      Delete
    8. Memang.
      Kasus ini sudah membuat banyak pihak (tidak hanya Presiden) akan menyerengitkan alis, "Apa yang terjadi?"

      Laporan KSAU, dan pernyataan AW justru memberi segudang tanda tanya, bukan "sesuai prosedur".

      Kita lihat saja perkembangannya lebih lanjut.
      Lebih baik bereskan semua prosedural, dan pastikan semua transaksi lebih bersih dahulu.

      Ini saja akan membutuhkan perjuangan yg sulit.
      Tetapi kalau memang mau membangun pertahanan modern, yah harus dimulai dari dasarnya dulu.

      Sepanjang sejarah transaksi alutsista di dunia,
      Kalau transaksi pembelian awalnya saja sudah tak beres, pemakaiannya sudah pasti tak akan pernah bisa becus.

      + Sukhoi Kommercheskiy Sku-11; coba saja kita tanya:
      Memang berapa unit yang sekarang masih bisa terbang?
      Skrg biaya operasionalnya sekarang berapa?
      (Sudah pasti lebih mahal dari Rp400 juta)

      + Eurofighter Typhoon Austria?
      Hanya terbang belasan jam per bulan, dan hanya 12 pilot, untuk 15 pesawat,
      ..dan hanya bisa membawa 1 - 2 IRIS-T maksimum.

      + Gripen Afrika Selatan?
      Dari 26 yg dibeli, hanya separuhnya yg masih terbang, sisanya masuk gudang.
      Maintenance contract-nya kacau, dan pilotnya hanya terbang 100 jam setahun (mngkn angka ini terlalu optimis).

      + F-104 jaman dahulu? Dikenal sebagai the Widow maker; attritional rate-nya sangat tinggi di kebanyakan negara yg punggawanya menerima suap.

      Kenapa demikian?
      Karena pembeliannya tidak pernah ditujukan untuk memenuhi kebutuhan negara pembeli,
      melainkan hanya utk memenuhi keinginan (finansial) bbrp oknum.

      Seyogyanya, AW101 ini harus dikirim balik.

      Delete
  7. yg saya heran kenapa amat ngotot beli su 35 yg jelas2 lewat perantara padahal itu udah dilarang dan udah ada peraturan kudu utamakan yg mau diajak join dan ToT

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jawabannya mudah.

      "Pejabat" akan selalu mendapat pesangon "kickback" kalau beli lewat perantara, atau agen sales.

      Transaksi alusista Indonesia, mnrt penilaian Transparancy International.org memang terhitung salah satu yg paling korup di dunia.

      Negara bisa membayar 30 - 40% lebih mahal dari sticker price.

      Inilah juga kenapa kelihatannya para pejabat sangat "demen" dngn Sukhoi di Sku-11.

      ....walaupun jumlah yg masih operasional semakin sedikit, biaya op mahal, dan gemar "perbaikan mendalam" berbulan2.

      Inilah juga kenapa, spt dalam kasus AW101, para "pejabat" lebih suka beli import, daripada produksi PT DI.

      Tidak pernah ada yg antusias, bukan, kalau transaksinya lewat G-to-G?

      Dalam kedua kasus tsb, tidak ada yg bisa dapat pesangon.

      Delete
    2. masuk akal memang , cocok sesuai kenyataan.

      Delete
  8. kayaknya urusan alutsista hanya Tni AL yg gak pernah rame kasus . Pembelian KS kilo untung dibatal kan karena ternyata itu KS kilo class warisan AL Soviet cuma dipermak luar nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kayak akhir2 ini kasus INS Sindhurakshak ( Kilo-877 class ), itu kasel belum tua tua amat, launching tahun 1995 commissioned tahun 1997, barusan tempat peluncuran torpedonya kebakaran gara-gara kegagalan sistem listrik nah bandingin sama 2 kasel U-209/1300 kita dari tahun 1981 manalah kejadian aneh macam India tu

      Delete
    2. Perbedaan utama disini:
      TNI-AL cenderung untuk selalu menggandeng industri lokal dahulu.

      Sigma 9113, dan 10514; Makassar LPD ; Type-209 Changbogo - ayo, gandeng PT PAL.

      AS565 helikopter ASW, dan CN-235MPA gandeng PT DI.

      Ini walaupun belum tentu transaksinya terjamin tranparan, dan bebas komisi.

      Dari ketiga angkatan, memang kelihatan hanya TNI-AU yg paling bandel -- senang utk selalu mencoba mem-bypass industri pertahanan lokal, dengan berbagai dalih yg semakin lama semakin absurd.

      AW101 ini saja sangat aneh.

      PT Dirgantara Indonesia sedang dalam tahap memproduksi 5 Eurocopter H225M untuk keperluan SAR TNI-AU.

      Nah, kenapa masih bersikeras coba beli import helikopter, yg biaya op-nya jauh lebih mahal?

      Delete
  9. admin, saya baca Malaysia mau coba beli kelebihan pespur dari Arab Saudi macam 300 pespur F-15C sama 70 Eurofighter, nah kayaknya dari TNI-AU ngotot ingin pespur double engine, jalan tengahnya daripada maksa Su-35 kenapa gak kita ambil kelebihan F-15 atau Eurofighter dari Arab Saudi, kalau mereka mau jual harga miring karena mereka mau pangkas anggaran, kenapa enggak. Nah, kohahudnas kan mau ngebentuk skuadron baru pesawat sergap buat wil. timur kabarnya 3 skuadron, misil anti serangan udara sama radar-radar baru disitu mungkin Gripen sama RBS-23 bisa masuk, sedangkan AEWC tetep Erieye. Mungkin pengganti F-5E malah jadinya aneh & sesuai harapan tapi daripada Su-35, kalau Saudi nawarin F-15C atau Eurofighter yang jumlahnya kelebihan dengan catt harga miring iya aja sih, nah untuk Gripen bisa masuk ke pengganti Hawk sama pembentukan yang baru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh F-15 C/D Saudi ada 500an untuk varian C sama 70 yang varian D rupanya

      Delete
    2. ## Saudi Arabia hanya mempunyai 78 F-15C/D, 72 F-15S (versi Strike Eagle downgrade), dan sedang menunggu delivery 84 F-15SA (Strike Eagle, dngn AESA radar, dan fly-by-wire).

      72 F-15S, kabarnya akan diupgrade ke versi SA.

      Kelihatannya ada yg bandel meng-edit halaman wikipedia RSAF Saudi.

      ## Untuk F-15; sepertinya pemerintah US belum memberikan ijin penjualan ke Indonesia.

      Boeing dulu sempat menyebut Indonesia prospektif customer F-15, tapi tidak ada lagi suaranya.

      Bahkan untuk barang bekaspun, mereka punya hak veto penjualan ke pihak ketiga, atau konsekuensinya akan sangat berat.

      ## Kembali, permasalahnnya sederhana dalam pemilihan pespur.

      Twin Engine, spt F-15, atau Typhoon, biaya operasionalnya akan selalu tiga kali lipat single-engined F-16, atau empat kali lipat Gripen.

      Tentu saja, Sukhoi Kommercheskiy di Sku-11, masih dua kali lipat lebih mahal dari Typhoon; sedang Su-35K dalam jumlah cicilan, bisa lompat ke empat kali lipat --- dan secara tehnologi jauh lebih inferior.

      1 F-15 / Typhoon tidak akan lebih dapat menandingi fleksibilitas, kemudahan maintenance, sortie rate, dan kemampuan tempur 3 F-16, atau 4 Gripen.

      Delete
    3. oh, kalau gitu jangan. nah Indonesia kan baru beli 9 C-130 H bekas RAAF, gimana dengan C-130 bekas punya Arab Saudi dibandingin A-400M

      Delete
    4. Untuk mudahnya begini:
      Kenapa A400M itu tidak pernah masuk akal untuk kebutuhan Indonesia (atau si gado2 Malaysia yg beli 4 unit):

      A400M jarak jangkau, atau payload-nya hampir 2x lipat C-130, tetapi tetap saja, tidak bisa membawa MBT 70 ton, spt C-17.

      A400M, akibatnya menjadi model tanggung -- tidak cukup utk negara2 yg mau men-transport MBT, tetapi jauh berlebihan dibandingkan pemakai C-130.

      Untuk apa pesawat berjarak jangkau 7,000 km, kalau 99,99999% TNI-AU hanya akan memakainya untuk transport antar pulau di Indonesia?

      Kalau alasannya untuk kebutuhan payload? Masa sih?

      Estimasi sederhana saja: 80% flight A400M di Indonesia, palingan kapasitas kargonya hanya akan setengah penuh.

      Kemungkinan krn kargo A400M mayoritas akan kosong, malah akan membuka ruangan utk bbrp oknum memanfaatkan pesawat ini untuk "jasa transport / delivery" antar pulau -- yg melanggar hukum.

      Keinginan yg berlebihan, untuk kebutuhan yg lebih sederhana.

      Delete
  10. admin, ini cuma saya aja atau bagaimana? kok pengadaan alutsista India kayak paling semrawut, paling hambur anggaran, dll. orang banyak bilang kita harus contoh India, justru hal yang paling harus dihindari Indonesia yaitu berada di posisi India, pengadaan alutsista kita gak boleh semrawut & boros anggaran kayak India

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, begitulah akibat mengoperasikan armada gado2.

      India memang sebenarnya contoh yg sangat jelek.

      Jangan lupa, kalau anggaran mereka mencapai $50M. Dengan demikian akan ada banyak ruangan untuk menghamburkan uang utk hal2 yg tak perlu.

      RAAF Australia, atau RSAF Singapore bisa menjadi contoh model yg jauh lebih baik utk dipelajari, daripada USAF, atau IAF India.

      Delete
  11. sepertinya memang kudu ada lembaga yg berwenang di bwah presiden untk mengawasi dan membatal kan tender senjata yg tdk sesuai undang2...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya lembaga semacam ini sudah ada:
      Komisi I DPR.

      Sayangnya sejauh ini peraturan perundang2an kita kelihatannya masih menyediakan banyak lubang; kasus AW101 ini contoh yg sempurna.

      Mendapat persetujuan? Tidak pernah.
      Terbeli? Ya.
      Siapa yg sudah teken kontrak? Bukan saya; semua pihak bisa cuci tangan, seperti berharap2 cemas barangnya diterima saja deh.

      Bahkan Komisi I DPR pun sepertt angkat tangan dalam kasus ini.... karena UU yg ada juga seperti tidak mewajibkan mereka untuk mengurus masalah ini.

      Tidak hanya berhenti disana:
      Penulisan UU kita masih sering mempunyai banyak lubang.

      Perhatikan saja setiap pasal UU, PP, atau Perda, yang memiliki kata "dan / atau" !

      "dan" berarti dua2 persyaratan yg ditulis dalam pasal itu harus terpenuhi, sebelum persyaratan pasal itu menjadi valid.

      "atau" berarti hanya perlu satu syarat terpenuhi sudah cukup.

      Nah, jadi mana yg benar?

      Delete
  12. Kenapa V-22 Osprey tidak pernah dijual kenegara lain?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena V-22 adalah salah satu proyek "melawan hukum fisika", sama seperti stealth, TVC, dan VTOL.

      US sebenarnya sudah lama mencoba export ke Israel, Jepang, Canada, tetapi...
      Siapa yang berani beli, dan mengambil resiko?

      ========
      https://www.wired.com/2011/10/osprey-down/
      =========
      https://warisboring.com/your-periodic-reminder-that-the-v-22-is-a-piece-of-junk-db72a8a23ccf#.jff7jxltl
      =========

      - Terlalu cepat untuk dikawal helikopter serbu AH-1Z, tetapi terlalu lambat kalau dikawal F/A-18C/D USMC.
      - Untuk menggantikan Chinnok CH-46, tapi eh.... Harga atau biaya op-nya lebih dari dua kali lipat,
      - Dan tentu saja, seperti F-35, problem tehnisnya seabrek <=== bukan karena tehnologinya terlalu baru, tetapi spt diatas, krn mencoba melawan terlalu banyak hukum fisika.

      Delete
  13. saya khawatir proyek KFX/IFX bisa makin gak jelas karena korea masih belum dapatkan 4 ToT dari AS, kabarnya Saab sangat siap terlibat

    ReplyDelete
    Replies
    1. 4 core ToT ini sebenarnya bukan masalah yang paling pelik.

      United States tidak pernah memberi Transfer-of-Technology ke siapapun juga.

      Korea bermimpi kalau berpikir membuat sendiri dengan "reverse engineering" (atau variant dari ini) berdasarkan tehnologi dari US.

      Belum pernah terjadi, dan tidak akan diijinkan, bahkan untuk 21 core tehnologi yg sudah "disetujui".

      Justru karena US pelit ToT;
      Eropa harus bersusah payah membangun basis industri pertahanan sendiri.
      Ini juga adalah perjuangan 70 tahun.

      ... tetapi perbedaan Eropa, dan Korea;
      Baik UK, Perancis, Jerman, dari masa sebelum Perang Dunia II sebenarnya sudah mempunyai basis tehnologi industri militer yg sebanding, atau terkadang lebih baik dibanding US.

      Swedia waktu itu sih belum, tapi mereka berhasil mengejar ketinggalan sangat cepat selama masa evolusi pespur jet, dan sekarang sudah terhitung salah satu yg paling unggul dalam tehnologi "breaking the curve", radar, networking, dan Electronic warfare.

      ==============
      "Who is the bigger fool? The fool, or the fool who follow him?"
      --- Obi-Wan Kenobi, Star Wars Movie, 1977 ---
      ==============

      Korea sebenarnya "the fool".
      Kenapa kita masih mencoba mengikuti mereka?

      Oh iya, karena yg menandatangan memang senangnya proyek mangkrak,
      hanya demi menjual mimpi yg menyesatkan rakyat.

      Delete
    2. satu lagi alasan korsel setia mengekor ke US,dia butuh bantuan untuk menghadapi ancaman korut.
      aneh juga melihat UU kita banyak celah,karena yang mengesahkan UU adalah DPR jangan" mereka punya kepentingan.

      Delete
    3. ## US - Korsel memang punya perjanjian pertahanan bersama; kalau sampai Korsel diserang Korut, atau pihak manapun, US berkewajiban menolong.
      Saat itu seluruh AB Korsel akan berada dibawah kontrol pimpinan militer US di Korea.

      Tetapi Korsel sudah terlalu naif mengasosiaskan aliansi ini, dengan kesediaan US membantu proyek2 "buat sendiri" mereka sepenuh hati. Ini tidak akan pernah bisa terjadi.

      Korea hanya diperlakukan sebagai anak murid yg setia, bukan potensial partner yg setara.

      ## UU kita banyak celah, sebenarnya karena perpaduan dari macam2 faktor:
      pengalaman menulis hukum belum cukup lama, panduan kurang jelas, ada mental "merasa benar sendiri", dan sepertinya juga ada faktor kompromis dgn berbagai alasan budaya.

      Seharusnya tidak bisa begitu.
      Hukum harus memberi kepastian yang jelas, baik dalam maksud, tujuan, ataupun bahasa penulisannya.
      Tapi yah, yang paling penting, kita harus selalu mau terus belajar menjadi lebih baik.

      Negara2 Barat sudah pengalaman ratusan tahun dngn sistem hukum;
      UU mereka biasanya baik bahasanya, maupun interpretasinya jauh lebih jelas dibanding UU di Indonesia, dan akibatnya jauh lebih susah untuk ditawar.

      Ini bukan berarti hukum mereka sudah sempurna, tetapi paling tidak memberi kepastian, dan dasar yg jelas.

      Tetap saja, akan selalu ada yg nakal, dan dapat memanfaatkan celah yg ada untuk kepentingan sendiri.

      Delete
  14. admin, itu kan F-35 udah ada yang operasional dan mulai diekspor, entar pasti banyak pespur kayak F-16,F-18,F-15 yang dipensiunkan sama kayaknya bakal dijual murah atau harga miring ke negara-negara yang lagi ngebentuk AU-nya. Itu tu perilaku " dumping product " gak sih ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Secara tehnis sih memang iya, dumping product.
      Dan, karena US adalah supplier senjata terbesar, tidak ada competitor yg bisa / boleh protes.

      F-16 Block-25+ hibah Indonesia kan juga termasuk kategori ini. Mana bisa $700 juta dapat 24 pesawat?

      Nama programnya: Excess Defense Articles. Program EDA ini juga biasanya juga mengontrol penjualan F-16 MLU ex-Eropa.

      Bulgaria, Yordania, Chile, Indonesia sudah menikmati program ini,
      Vietnam juga kabarnya menginginkan F-16 EDA, tapi IMHO, mereka masih belum cukup bisa dipercaya untuk mengoperasikan F-16.

      Delete
  15. pantas ja kohanudnas mau membentuk armada udara sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya keinginan ini timbul, karena Kohudnas mulai merasa TNI-AU kurang kooperatif dalam operasi bersama melindungi wilayah udara nasional.

      Bagaimana tidak?
      Kesulitan TNI-AU sebenarnya seabrek: mengoperasikan pespur versi export, tanpa network, atau IFF, dan masih gado2 lagi Barat v Ruski yg tidak compatible.
      Bagaimana bisa efektif?
      Dan yang parahnya, sejauh ini, TNI-AU masih belum menunjukan mau berubah.

      Tetapi, untuk apa jadi punya dua angkatan yg jadi punya pesawat sendiri?
      Ini hanya membuat armada gado2 yg lebih merugikan lagi,

      Lebih baik, mulai belajar mengintegrasikan Kohudnas, dan semua ketiga angkatan dalam satu sistem yg sesuai kebutuhan.

      Kalau TNI-AU mengoperasikan Gripen, dan Erieye, yg teintegrasi dalam satu network dengan semua radar Kohudnas, ataupun semua jaringan radar kapal TNI-AL --- tidak akan ada lagi yang bisa complain.

      Semua pihak akan dapat melihat satu gambaran yg sama dalam satu layar yg jelas, yg datanya didapat dari bermacam2 sensor feed yg berbeda.

      Mau pesawat capung, sampai ke Jetski, semuanya akan telihat jelas.
      Dari sana kan jadi mudah untuk koordinasi, dan mengambil keputusan taktis?

      Delete
  16. sementara 2 matra lainya udah mulai berubah , misalkan kohudnas jadi mempunya armada perang sendiri apa itu tidak akan adu gengsi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seharusnya Kohudnas tidak boleh membuat armada udara sendiri.
      Ini hanya menambah keruwetan gado2 yang tidak kompak.

      Ketiga Angkatan kita, dan Kohudnas, seperti diatas, seharusnya bisa lebih diintegrasikan dalam jangka panjang.
      Kalau seperti sekarang, masing2 "semau guwe"; untuk selamanya tidak akan pernah siap tempur;
      dan tentu saja akuisisi masing2 tidak saling mendukung, malah saling berlomba2 siapa yg beli mainan "yang lebih hebat".

      Delete
  17. Quick Update: Berita "baik" untuk para pendukung Sukhoi.

    Karena embargo ekonomi / militer US, dan Eropa sudah semakin mengigit,
    membeli senjata buatan Russia di masa depan hanya akan semakin sulit,
    apalagi kalau mau bayar kredit.

    Ini akan di-cover dalam topik singkat yg berikutnya.

    ReplyDelete
  18. admin ada potongan berita katanya KSAU selain memfokuskan dulu ke penambahan 12 radar baru, data link katanya mau menciptakan Network centric warfare dengan jaringan antar pespur ke kapal perang juga ke tank leopard, katanya sih battle management systemnya leopard kita yang ngembangin SAAB Indonesia, terus juga dari sumber lain bilang KSAU akan mengganti F-5 dengan " pespur yang tidak kalah canggih dengan Sukhoi ". ketangkep udah bahasanya berarti Sukhoi off the list. Dugaan dari awal udah mulai jelas antara Gripen atau F-16, tinggal yang mana ini. kalau AEWC Erieye harusnya kandidat tunggal yah mungkin Globaleye di renstra selanjutnya tapi ga tau sih tentang DRDO Netra India kayaknya cuma klaim sepihak India aja itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. katanya juga paskhas mau ngoperasiin NASAMS sama penambahan Rheinmetall tapi Arhanud mau ngoperasiin RBS-23 sama Kohahudnas mau ngebentuk skuadron pengganti Hawk 100/200 dengan pespur STOL untuk konsep dispersing base katanya 34 - 36 pespur proyeksinya sih setelah 2020, kayaknya kode buat nunggu seri Gripen E. terus buat T-50 rupanya sekalipun dibilangnya trainer advance gak pake radar rupanya selama ini, katanya 20 radar udah dipesen, radar yang sama buat prototype F-20 Shark tapi gak diluncurin

      Delete
    2. * Skyshield Oerlikon 35mm Rheinmetall

      Delete
    3. ## Kalau tidak membawa radar, boleh dibilang nilai kontrak untuk 16 T-50 yang $400 juta ($25 juta per unit) boleh dibilang jadi overpriced.

      Ini kacau juga; menyulitkan pelatihan pilot sebelum berpindah ke F-16, dan boleh dibilang menjadikan T-50 menjadi pesawat yg lebih inferior dibanding Hawk-209, yg membawa radar AN/APG-67 (yg seharusnya juga standard di T-50).

      Memang kelihatannya disengaja.... oleh Washington DC yang sudah mendikte spesifikasi untuk T-50 Indonesia.

      ....tujuannya supaya hibah 24 F-16 Block-25+ mereka menjadi kelihatan murah ($700 juta) dengan paket APG-68 yg mempunyai kemampuan AMRAAM.

      ## Konsekuensi lain: kalau sudah dibodohin sekali, ya jangan mau dibodohin lagi!

      Akan sangat bodoh kalau membeli FA-50 untuk menggantikan Hawk-209.
      Washington tentu saja akan mengutak-ngatik kalau ada radarnya, dan... kelihatannya harganya akan disengaja dibuat supaya lebih mahal, agar F-16V kelihatan lebih murah.

      Yah, begitulah nasib.
      Kalau membeli barang versi export, tetapi belum dianggap sekutu dekat.
      Baik Ruski, atau US sama menyedihkannya dalam hal ini.


      Delete
    4. Kalau kriterianya: "..,,pespur tidak kalah canggih dari Sukhoi" itu sih mudah.

      Semua pespur buatan Barat (termasuk F-5E) akan selalu dapat mempercundangi Su-35K.

      Pesawat tempur hanya 20% dari kemampuan tempur (efek gentar)
      Kualitas persenjataan, dan kemampuan mengoperasikannya, 20%
      Latihan pilot & crew pendukung 30%
      Sistem pertahanan, dan kemampuan mengkoordinasi 30%.

      Inilah kenapa sy sering menyebut Sukhoi (variant manapun), kalau dioperasikan di Indonesia efek gentarnya 100% nihil.

      - Cockpit Sukhoi tidak pernah bisa mengutamakan situational awareness utk pilot; Perawatan saja tidak becus
      - Persenjataan versi export, yg tidak pernah dipakai sendiri di negara asal.
      - Latihan? Dengan biaya op mahal, dan kebutuhan merongrong, kalau bisa terbang hari ini saja sudah harus bersyukur.
      - Sistem? Hanya Ruski / PRC yg mempunyai SOP yg compatible; India saja kelihatan kerepotan sendiri.

      Delete
  19. https://www.africandefence.net/angolas-su-30ks-are-not-a-serious-threat-to-the-south-african-air-force/
    ada artikel menarik admin kayaknya boleh saya share tentang Su-30K punya Angola bukan ancaman buat Gripen C/D Afrika Selatan

    ReplyDelete
  20. kabar nya KASAU marsekal hadi tjahyanto sebentar lagi akan mengumumkan jet pengganti F 5 Tiger . Beliau katakan jet itu tidak kalah dengan sukhoi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja.

      IMHO, ekonomi belum memungkinkan.
      ... dan walaupun pengumuman2nya terdengar seru, kita belum akan membutuhkan pespur baru sampai F-16 Block-25+ selesai delivery (masih utang 10 unit), dan kemudian tipe ini mencapai status FOC (Final Operational Capability), atau dinyatakan siap tempur.

      Lagipula, dalam jangka pendek, kebutuhan membeli lebih banyak persenjataan untuk F-16 jauh lebih mendesak.

      Lebih baik punya 24 F-16 yang siap tempur dahulu,
      daripada 40 pesawat tempur yg persenjataannya "telanjang", sedang pilot, ataupun awaknya belum cukup siap.

      Kebutuhan, bukan keinginan.

      Delete
  21. kalo misal yang datang su 35 k , sulit buatku untuk percaya kepada matra ini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Su-35K (atau bisa saja kita ditipu; dan ditukar ke Su-27SKM) kemungkinannya sudah hampir mustahil kok bisa terbeli.

      Kasus AW101 ini saja sudah menjadi lampu kuning terakhir.

      Delete
    2. semoga bukan sukhoi yg datang.

      Delete
  22. berita terbaru serangan rusia di syria menewaskan 11 warga sipil SOP Rusia dalam melakukan air to ground strike seperti orang buta saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. bahkan organisasi kemanusiaan pbb pun kabarnya mengetahui persis sejak rusia datang ke syiria

      Delete
    2. Untuk AU Ruski, ini hanya "business as usual".
      Mereka tak peduli.

      Tidak ada kemauan, ataupun uang untuk membeli / mengoperasikan smart bomb seperti keluarga KAB-500, yg harganya akan 10x lipat dumb bomb.

      .... kebanyakan bom yg mereka pakai di Syria adalah sisa stock dari jaman Soviet (dan banyak yg sudah expired), sama seperti semua missile R-73, dan R-27 kuno yg mereka pasang ke Su-30SM, Su-35S, dan Su-34.

      Inilah alasan lain, kenapa keunggulan payload Sukhoi itu menjadi tidak relevan.

      100 dumb bomb kemungkinan mengena target yg diinginkan terlalu kecil, membunuh korban sipil sih sudah pasti.

      Delete
  23. apakah benar bung Dark, Tni AL membeli rudal RBS -15 MK 3 buat gantikan rudal c 705

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum tahu.

      Tapi C-705 sudah terlihat gagal ketika dites didepan Presiden.
      Tidak mengherankan. PRC hanya menjual senjata versi export, dan kualitasnya "jaminan mutu".

      Lagipula mengingat TNI-AL akhir2 sibuk menghadapi para nelayan "bajak laut" PRC di sekitar Natuna, masakan membeli missile masih dari PRC?
      Kelihatannya ada yg salah disini, bukan?

      RBS-15 jauh lebih unggul dalam segala hal, kedaulatan akan di tangan kita, sudah ditawarkan diproduksi sendiri, dan dapat mempersenjatai semua angkatan.
      Yah, juga bisa ditembakkan dari atas truk.

      Delete
    2. mungkin kita lagi nunggu pabrik propellan yang lagi dibuat sebenernya C-705 kayaknya gak perlu dilanjutkan dan sebaiknya diterminasi aja. Untuk anti-ship/SSM missile sebenernya ada 2 yang saya suka: 1) MBDA Exocet & 2) RBS-15, dua-duanya subsonic, sea skimming kenapa yang no.1 soalnya kita udah biasa ngoperasiin jadi gak perlu modifikasi CMS, radar, dll juga diameternya kecil sesuai sama platform container peluncur misil yang biasa kita buat, nah kalau yang no.2 kenapa soalnya cuma RBS-15 yang bener2 ditawarin buat joint production & ToT, range nya bisa mencapai 250 km buat RBS-15 Mk.3 dibandingin sama 180 km Exocet mm40 Block 3 tapi karena diameter misilnya lebih besar kita harus banyak modifikasi radar,cms,dll kalau mau dioperasiin buat kapal perang. Kalau buat AU dua duanya sih bisa dijadiin cruise missile Exocet A39 atau RBS-15 F, tergantung sih kita mau ambil yang mana tapi kalau kita mau usung pespur Gripen, RBS-15 cocok buat jadi pelengkap tapi kayaknya AL masih tetep pakai Exocet sebelum perlahan-lahan digganti RBS-15

      Delete
    3. * karena diameter lebih besar kita harus modifikasi container peluncur juga radar, cms, dll *

      Delete
    4. ## Untuk C-705 antara kualitas produksi PRC jelel, atau memang kita dikibulin, atau bisa juga dua2nya.

      C-705 katanya hanya setengah harga MM-40 Exocet.

      ## Kualitas produksi senjata Ruski, dan PRC memang sepanjang sejarah reputasinya selalu jelek; support / training tidak ada, tidak tahan lama (maintenance sulit), dan kualitasnya tidak akan terjamin, tetapi harganya lebih murah.

      Keunggulan lain, kalau pemerintah yg butuh senjata utk menembaki rakyatnya sendiri; no questions asked.

      Buatan Barat harganya bisa 2x lipat, tapi maintenance mudah, training akan diberikan, dan kemampuannya juga akan jauh lebih terjamin.

      ## Untuk pespur TNI-AU, tidak pernah ada banyak pilihan.

      US tidak mengijinkan penjualan AGM-84 Harpoon untuk F-16. Kelohatannya juga source code-nya sudah dikunci: tak bisa Harpoon.

      Exocet? Tidak akan pernah bisa / boleh diintegrasikan ke source code F-16.

      IF-X?
      Ini lebih lucu lagi!
      Kemampuan menghancurkan kapal lawan tidak pernah tinggi dalam prioritas proyek yg mencoba menjadi "pseudo-F-35".

      Tidak akan mengherankan kalau Indonesia harus membayar sendiri biaya integrasi anti-ship missile (bisa $200 juta) dan kembali, belum tentu bisa diijinkan policy maker Washington DC.

      Ruski hanya menjual missile versi export downgrade, utk Sukhoi yg gampang rusak.

      Gripen - RBS-15, yg non-versi export, tidak pernah mempunyai hambatan2 yg sama.

      Kemungkinan, Erieye, atau Sea Giraffe radar bisa memberi targeting guidance ke RBS-15 yg ditembakkan Gripen, KCR, atau dari atas truk di darat.

      Integrated solution.

      Delete
    5. KRI klewang kabarnya udah bersenjatakan rudal RBS-15 Mk3

      Delete
  24. http://www.riauonline.co.id/nasional/read/2016/09/13/inilah-rudal-mematikan-indonesia-yang-bikin-negera-asean-ketar-ketir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita belum mengakuisisi RBS-15.
      Saab masih gencar menawarkan penjualan & license production RBS-15 ke Indonesia.

      KRI Klewang memang dibuat dengan bantuan Saab, tetapi masih dipersenjatai lagi2 missile C-705.

      Tidak seperti TNI-AU, paling tidak TNI-AL memang masih rajin beli missile.
      Sayang, salah pilih supplier.
      (Atau mngkn memang sengaja borong C-705 krn alasan sama dngn AW101)

      Untuk apa beli missile murah, kalau ternyata nggak bisa bekerja?
      Hasilnya kan sama saja?

      ## AGM-65 Maverick sbnrnya kurang optimal utk menghantam kapal, krn lebih ditujukan utk menghantam tank, atau target darat.
      Jarak jangkaunya juga terlalu pendek.

      USAF baru saja mulai mengetes A-10 yg mengoperasikan AGM-65 utk menghantam... armada speedboat lawan, spt sudah dipraktekkan AL Iran; tapi bukan utk melawan kapal yg diperlengkapi pertahanan udara modern.

      Delete
    2. berarti hanya TNI AD yang make RBS 70 MK2. Dan pindad dpt tot serta join produksi rudal dgn saab

      Delete
  25. Astaga naga ternyata masih make rudal c705 yg dag bkin malu Kita...ya tuhan amat tdk beres negeri ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Untuk KRI Klewang v2, utk menggantikan versi dahulu yg terbakar di 2012;
      Kabarnya, Saab sudah menawarkan proposal mengintegrasikan radar Sea Giraffe, RBS-15, dan Bofors 40mm.
      Ini masih proposal --- seperti diatas, kita masih belum konfirmasi pembelian RBS-15.

      Namun beritanya masih sporadic.
      Tidak begitu jelas apakah sudah ada kontrak Klewang II, atau belum.
      Setelah pengalaman C-705 gagal sih, semoga akhirnya TNI-AL mau mulai mengubah pola pikir mereka.

      ## Sekarang benar2 hanya TNI-AU yang paling ketinggalan jaman vs yg lain.

      Alutsista udara memang sbnrnya paling merepotkan secara tehnis,
      tetapi terlalu dianggap remeh di Indonesia.

      Pertama2, begitu mendapat kutukan versi export downgrade, dan ini berlaku utk Sukhoi, F-16, dan IF-X, kita akan mendapat hal2 berikut:

      - mustahil utk bisa dimodifikasi, atau di-upgrade lokal. Mencoba melanggar aturan, maka bersiaplah utk semua support di cut-off.

      - Upgrade juga akan sepenuhnya tergantung kebijaksanaan pembuat, karena source code-nya sudah dikunci. Bisa dapat, bisa tidak; dan sudah pasti mendapat pengurangan.
      Ruski tidak pernah, dan tidak mempunyai kemampuan memberi paket upgrade reguler.

      - Kemampuan operasional pespur dalam keadaan tempurpun sudah dikurangi menurut ketentuan oleh pembuat.

      ## Semisal, taruh kata F-16V Indonesia (versi export paling modern) vs F-16V Singapore masing2 saling menembakkan AMRAAM C-7 dari jarak 50 kilometer; dengan asumsi disini masing2 posisinya seimbang, dan berhasil mendapatkan lock atas lawan secara sempurna.

      Siapa yg kemungkinannya akan lebih menang?
      Ya, Singapore.

      Bukan karena F-16 mereka lebih modern, tetapi karena programming radar mode, missile datalink, dan ECM-nya sudah diatur US agar beberapa tingkat lebih unggul dibanding versi Indonesia.

      Akan lebih sulit utk pilot Indonesia menghindari tembakan AMRAAM, dibandingkan sebaliknya.

      IF-X, ataupun Sukhoi nasibnya akan jauh lebih parah.

      Delete
  26. terkatit kegagalan uji tembak rudal c 705 , pakar militer AL China ramai2 beralasan itu faktor manusia dan juga faktor cuaca, menurut bang GI bagaimana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung fran,

      Kita sudah sering mendengarkan alunan lagu yg sama.... ketika India complain ttg kualitas produksi Su-30MKI, dan MiG-29K.

      Yang salah bukan pembuat, tetapi akan selalu si pemakai.

      Inilah masalah utama menggunakan Alutsista / persenjataan buatan Ruski, atau PRC: resiko tanggung sendiri, kami tak peduli.

      Tentu saja keuntungannya, harga awal lebih murah, dan kalaupun mau ditembakan ke rakyat sendiri juga, kami tak peduli.

      Tidak ada garansi.

      Tidak perlu ada tanggung jawab dari segi pemakaian.

      Delete
    2. apakah kontrak itu masih bisa dibatalkan ? Nampaknya pemerintah skrg condong ke blok timur

      Delete
    3. ## C-705 yg sudah dibeli tidak akan boleh dikembalikan,
      Kan belinya tanpa garansi.

      ## Pemerintah skrg, dan Komisi I DPR akan selalu lebih condong memihak industri dalam negeri.
      Kalau mau beli import, baik pengguna (TNI), ataupun setiap supplier harusnya mematuhi persyaratan pasal 43 UU no.16/2012 untuk pengembangan lokal.

      Sayang, kelihatannnya bbrp pejabat cenderung memilih blok Perantara... Ini sih bisa Timur (Sukhoi, C-705?), bisa Barat (AW101), untuk selalu coba mengkadalin UU no.16/2012.

      Ayo beli import utuh!
      Itu suatu "kebutuhan rakyat" untuk mengejar jumlah.

      Delete
    4. sebenernya C-705 & Su-27/Su-30 adalah sekian dari banyak kejanggalan dari pemerintahan yang " sebelumnya " juga ide gila mengenai 180 Sukhoi, untung waktu latihan Armada Jaya 2016 ketahuan langsung di depan mata Presiden makanya langsung dicatat buat dievaluasi ulang. Termasuk mega proyek KFX/IFX pun sisa-sisa kejanggalan pemerintahan " sebelumnya ", kalau dirunut berita tahun 2009 - 2013 pemerintahan " sebelumnya " juga yang mengusulkan pilot Sukhoi kita dilatih PLAAF sama pakai simulatornya juga Type-730 & Type-630 CIWS pun sisa-sisa pemerintahan " sebelumnya " cuma bau-nya baru terhendus sekarang

      Delete
    5. kalau di defence.pk yang baru tersebar berita KCR-40 & KCR-60 bakal pakai CMS dari Eropa, terus Denel Vector digganti RCWS ( moga aja yang kemaren deal dengan Kongsberg Norwegia) sama pakai Meriam Bofor 53mm yang seri terbaru pokoknya Mk yg terakhir, bakal banyak yang di-revisi tapi soal radar dan misil, minimal C-705 kemungkinan besar batal tinggal masalah penggantinya, kalau bisa sih direvisi menjadi mirip Orkan class punya Polandia, panjangnya hampir sama 60m, tonnase 600 ton tapi misilnya pakai RBS-15, radarnya Giraffe 3D, sama CMS dari SAAB, kalau CIWS dia pakai type-630 jadi punya kita samain aja, kalau enggak salah waktu ada event di Gdansk, Polandia pertengahan tahun lalu udah dibicarakan revisi KCR dengan Polandia semoga ngajak SAAB dalam penyempurnaan

      Delete
    6. ada satu keanehan yang saya hampir lupa, tapi janggal dan gak nyambung dalam satu sistem yakni misil Yakhont, saya gak ngerti bener kenapa kita nge-akuisisi Yakhont, terserah menurut orang apa, tapi aneh aja menurut saya itu.

      Delete
    7. ## Pemerintah sebelumnya, atau pemerintah "hobi mangkrak"

      Kasus AW101 yg skrg ini, boleh dibilang adalah kebiasaan warisan si Hambalang yg tanpa pengawasan yg jelas.

      ...akibat terlalu banyak mimpi, tetapi lupa menginjak tanah.
      Semua yg lain jadi terlupakan.

      Hanya beberapa akuisisi yg beres: C-295, CN-235MPA, Sigma-class, dan Makassar LPD.

      Delete
  27. entah memang aneh tapi nyata negeri ini..sangat lucu

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Memang kelihatan ada kebiasaan "asal beli", bukan?

      Itulah akibat tendernya tidak terbuka, dan transaksinya cepat.

      Semisal untuk C-705 ini saja, apa dasar pengambilan keputusan?

      Apakah sebelum membeli sudah memperbandingkan kemampuan, spesifikasi, dan maintenance, dengan Exocet MM40, atau RBS-15?

      Bicara soal maintenance, missile buatan Ruski / PRC biasanya tidak bisa disimpan terlalu lama; jadi shelf life kalau tidak dipakai paling hanya bbrp tahun.
      (Ruski sendiri masih banyak memakai stock ex-Soviet --- spt bisa ditebak, banyak yg faulty, tapi jumlah stock spare part senjata mereka juga seperti butiran pasir)

      Kenapa lantas memutuskan hampir semua KCR akan diperlengkapi C-705?

      ## Missile RVV-AE untuk Sukhoi adalah equivalent yg lebih buruk dari C-705.
      Terjamin tidak akan bisa menembak jatuh pespur Barat manapun.

      Versi downgrade, dari missile yg developmentnya tak selesai, membantu membuat kemampuan BVR Sukhoi hampir nihil.

      ## Ini memasuki topik lain yg belum dibahas disini:
      Harus ada upaya yang lebih serius dalam pemilihan supplier senjata, jangan hanya sekadar "tertarik" dengan produk yg mereka tawarkan.

      Kita akan menjalin hubungan ini selama puluhan tahun ke depan.
      Bukan sekali beli putus, seperti beli cabe di pasar.

      Dalam transaksi senjata, setelah pembelian, setelah itu akan ada hubungan kontrak kerjasama jangka panjang untuk produk support, maintenance, dan latihan.

      Ini membuka banyak pertanyaan baru:

      Sejauh mana komitmen, dan dukungan mereka ke Indonesia sebagai customer?

      Apakah mereka menawarkan Alih tehnologi?

      Apakah mereka menawarkan kerjasama industrial?

      Bagaimana referensi mereka?
      Apakah pengalaman negara lain dengan si supplier cukup baik?

      Yang paling penting,
      Apakah mereka bisa dipercaya penuh untuk memegang janji?

      Delete
    2. pak menhan RR pernah dikomplain skelompok LSM perihal tender pengganti F5 ,dan kbrnya mereka melaporkan kepada Kpk akibat tdk transparan , terkesan tender belum dimulai yg menang udah ketahuan

      Delete
    3. sebenernya salah satu keinginan KPK yang idealnya harus dibuka bener soal Su-27/Su-30 yang betul-betul udah kejadian & kebablasan, kalau pengganti F-5 kan belum fix apa penggantinya dan belum ada uang anggaran yang keluar

      Delete
    4. dulu tahun 2013 kalo tidak salah pernah seorang purnawirawan Tni AU membocorkan ttg pembelian SU 27 Skm , dia mengatakan itu warisan sisa AU Soviet ..su 30 pun ku yakin sangat mungkin .

      Delete
    5. Kalau Ruski menjual barang bekas dibilang "baru", ini tidak mengherankan.

      Mereka pernah mencoba menjual MiG-29 "baru" ke Algeria, dan tertangkap basah.
      Algeria kemudian meminta kontraknya diganti ke Sukhoi Su-30 Kommercheskiy buatan Irkut, yg berbasiskan MKI.

      Russia sendiri tidak memakai versi K -- ini hanya utk export.
      Tetapi seperti di Algeria, bisa saja airframe bekas, dan dipasangi mesin bekas.
      Radar downgrade-pun mungkin bukan produksi baru, tapi ex-Su-27S tahun 1980-an yang sudah "dipugar".

      Kita lihat saja tahun depan (2018), akhirnya batch terakhir Su-30MK2 sudah berumur 5 tahun. Kemungkinan sebagian juga sudah kaput.

      Yah, kita sebenarnya membutuhkan pengganti Sukhoi penghisap uang, bukan F-5E.

      Kalau kita serius di masa lalu,
      alternatif lain seharusnya membeli 60 F-5E/F daripada 12 F-16A/B.
      Kemudian kontrak modifikasi dngn bantuan Brazil, dan Israel: tambah refueling probe, radar Elta, networking, helmet mounted display, dan countermeasure system.

      .... dan kita akan mendapat F-5 yg jauh lebih unggul daripada semua pespur export yg sekarang. Sukhoi Su-35K-pun akan mudah untuk dibantai.

      Keuntungannya, karena US sendiri "memandang remeh" F-5 yg legacy tahun 1960-an, biasanya mereka tidak terlalu sensitif untuk modifikasi lokal, dibandingkan F-16.
      Tentu saja, F-5 perawatannya juga mudah, dan pilot dapat selalu terbang lebih sering.

      Delete
  28. Min, knp di media massa banyak sekali berita tentang pembelian A400M?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena terlalu banyak media senang memberitakan sesuatu dalam nama sensasi, tapi biasanya kelupaan update.

      Defense News termasuk yg masih wajar:
      ==========
      Indonesian Defense Chief plays down A400M acquisition Reports
      ==========

      Seperti sudah dicatat dalam blog ini sebelumnya.
      Kontrak A400M tidak disetujui Presiden, ataupun Panglima TNI.

      Ada baiknya mungkin pemerintah, atau yg berwenang menelusuri lebih lanjut, agar jangan sampai kejadian AW101 terulang lagi, karena kali ini biayanya akan luar biasa mahal.

      Delete
  29. mungkin kah karena itu pemerintah SBY membuat undang2 tahun 2012 wajib ToT

    ReplyDelete
    Replies
    1. pemerintahan sebelumya telat buat bikin UU-nya, atau gagal waktu penegakannya, untung sekarang lebih tegas, perwira bintang yang bertugas dalam perbendaharaan pengadaan alutsista ditahan seumur hidup sama perwira bintang yang terlibat dalam kasus Bakamla kena, sekarang lebih baik tunda aja dulu pengadaan alutsista buat sementara sebelum pembersihan akar-akar KKN dalam pengadaan alustista clear, soalnya bahaya selama ini. Terlalu banyak yang kayak waow padahal sama sekali tidak ideal dan gak masuk akal.

      Delete
  30. kok orang seneng bener sama alutsista Russia padahal gak jelas, bener kata admin alutsista Russia itu kayak opium, adiktif buat penggunanya. Ini baru dateng A400M buat promosi Airbus, orang udah banyak ngomong Il-76 ini orang kenapa coba ? Mig-35 launching langsung pada " bungkus " padahal radar AESA-nya bohong tuh, Kilo-636/Amur-950 langsung pada bilang " wajib " padahal gini lah ya apa kasel2 itu cocok buat perairan dangkal kita, apa cocok buat littoral warfare ? terus ToT nya gimana contoh : Vietnam dia pesen 6 Kilo-636 semua dibikin di Russia, gimana ? apa gak mending kita tingkatkan kemampuan ASW dari helikopter2 kita & kapal korvet/fregat atau di laman PT.DI dibilang ada konsep CN-235 untuk ASW role kalau dimaterialisasikan kan lebih masuk akal. Tank T-90 & Armata seolah-olah kayak MBT terbaik, sama pesawat AWACS buatan Russia saya gak yakin itu beneran, Russia mana ada konsep perang network centric warfare dia bisanya en masse kuantitas di atas segala-galanya kayak waktu PD-2, konsep & doktrin nya aja beda ya jangan lah itu prototipe AWACS dibeli, kalau gak macam S-300, S-400, sama sekarang S-500 bilangnya " strong " halah di Syria aja gagal semua terus bukannya Yunani anggota EU & NATO ngoperasiin S-400, ya udah kebongkarlah detail kelemahannya. banyak pola pikir yang gak jelas, jeleknya yang gak jelas itu kebanyakan dari Indonesia, kita harus dukung akuisisi G to G, bebas KKN, pro-ToT dan mendukung Industri lokal, contoh lain dari proyek Gripen Brazil, kalau lihat video promosi RBS-23/Bamse dia pakai truk Ashoka Weyland India ini artinya SAAB berkolaborasi dengan industri lokal India untuk platform RBS-23/Bamse. Susah lah kita pola pikirnya masih " strong " atau " anti-embargo " padahal kayak apa waktu orde lama

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Kenapa orang suka Alutsista buatan Ruski?
      ===============

      Topik ini sendiri cukup menarik.

      Sama seperti Peter Goon, penulis APA, menulis komentar tempo hari,
      "Super Hornet is just another name for Flanker fodder."

      (SH hanya makanan empuk untuk Sukhoi).

      Semua media Barat yg review hal2 militer selalu membutuhkan musuh untuk diperbandingkan dengan alutsista Barat yg dibeli / diproduksi negara mereka sendiri.

      Lihat prioritas disini: penulis artikel Barat selalu membutuhkan MUSUH.

      "... the lethal Su-35 is half a generation ahead if F-15 in aerodynamics..."

      Ini dari salah satu artikel baru,
      Bisa lihat kan? Formulanya persis sama dengan APA.

      Kalau membaca artikel Barat ttg alutsista Ruski manapun, dan lantas berpikir mereka hebat... Selamat!
      Sebenarnya kita yang tertipu.

      Inti dari artikel biasanya adalah untuk mengkritik pespur mereka sendiri, dan karena setelah perang dingin usai, dan kehilangan "kerajaan komunis Soviet" sebagai lawan.
      Yah, tak ada rotan, akarpun jadi.

      Apapun yg diproduksi Ruski, atau PRC menjadi kelihatan begitu menakutkan.
      Inilah tujuan narasi penulis2 artikel ini.

      Kita kurang kuat, karena mereka sudah bisa ini-itu.

      Padahal ini hanya satu lingkup yg sangat sempit untuk memperbandingkan alutsista.

      ## Pertama-tama, harus selalu ada sistem operational yg terpadu / terintegrasi.
      Dalam hal ini, sistem Barat, yg mengutamakan Networking, dan kemampuan masing2 unit untuk bisa beroperasi independent, dan improvisasi, sudah terbukti jauh lebih unggul dibanding sistem ex-Soviet yg semuanya harus di micro-manage dari pusat.

      ## Berakitan dengan diatas, sistem Training.
      Pihak yg dapat mengumpulkan lebih banyak jam latihan menurut sistem terpadu diatas, tentu tidak akan dapat ditandingi mereka yg masih hijau.

      Kebiasaan NATO adalah menabung sekurangnya 2x lipat lebih banyak training dibanding Soviet dahulu kala. Sekarang, Ruski kekurangan duit, dan tidak bisa melatih pilotnya lagi, seperti di jaman Soviet dahulu kala.

      ## Perbedaan tehnologi Barat v Ruski sebenarnya sudah terlampau jauh.
      Berkaitan dengan ini, Sistem Barat akan selalu lebih mengutamakan keunggulan Situational Awareness.

      Sejak 1970-an evolusi industri senjata mulai beralih ke perkembangan elektronik, dan dari 1980an, kemudian beralih banyak ke programming.
      - Sementara MBDA, dan Raytheon sibuk mengembangkan programming Seeker untuk Meteor, dan AMRAAM-D; Ruski, dan PRC masih belum berhasil membuat active seeker sendiri utk BVR missile.
      - Evolusi AESA, dan ECM Barat sudah dimulai 40 tahun yg lalu, dan semua kunci kemampuan di-programming.... Eh, baik Ruski / PRC masih terlalu jauh untuk bisa mengejar.

      ## Terakhir, alutsista Barat selalu dibuat lebih awet / tahan lama dibanding Ruski / PRC
      Keuntungannya berkali2 lipat -- lebih banyak training, lebih siap tempur, dan lebih hemat dalam jangka panjang.

      Ruski masih berkutat dengan memproduksi mesin pespur yg hanya bisa tahan 1,000 jam terbang, sementara semua mesin Barat tahan lebih dari 8,000.

      Inilah kenapa,
      Pihak yg dapat mengoperasikan F-5E menurut sistem yg rapi saja, akan jauh lebih unggul dibanding pihak yg mengoperasikan Su-35K, yg sistemnya kacau, dan pilotnya kurang latihan.

      Delete
  31. memang agak telat membuat undang2 nya, yah setidak ny mungkin itu tahap merintis babat alas , memang masih belum maximal melaksanakan undang2 2012..akibat tidak transparan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekalian juga menjawab satu pernyataan bung @Thomas diatas,

      Alutsista yang baik, bukan hanya harus beroperasi menurut sistem modern, lebih banyak latihan awak pemakai, tehnologi lebih modern, dan lebih awet;

      Alutsista yang bisa didukung industri lokal akan selalu jauh lebih efektif dibanding barang import penuh.

      Apalagi kalau si barang import itu Versi export downgrade, dan negara pengguna seperti Indonesia, tidak pernah bisa dianggap sekutu dekat US, ataupun Ruski.

      Kemampuan industri lokal; inilah titik fokus utama UU no.16/2012 -- jadi paling tidak memang tujuannya sudah benar.

      Hanya pasal 43 yg mengatur pembelian import, ini juga sudah terus2an dilanggar, kemungkinan karena motivasi uang yg mengalahkan jiwa nasionalisme.

      Alutsista yg didukung penuh dengan kemampuan industri lokal, dan disertai alih tehnologi ini akan membuka lembaran baru yg tidak dapat dipahami lawan;
      Kita akan jauh lebih paham dengan Alutsista itu sendiri secara mendalam.

      Inilah salah satu langkah kemandirian.
      Perhatikan contoh berikut:

      Pihak pertama, yg mempunyai support penuh industri lokal, dan menguasai alih tehnologi, memahami 120% ttg alutsistanya sendiri, dan dapat meng-estimasi 70% kemampuan alutsista lawan.

      Pihak kedua hanya beli import, memahami hanya 60% kemampuan alutsistanya sendiri, dan biasanya pemahaman alutsista lawan juga jadi turun ke hanya 30 - 40%.

      Pihak pertama akan selalu menang tanding dibanding pihak kedua, bukan?
      Ini salah satu contoh praktek dari Art of War Sun Tzu.

      Sayangnya, saat ini, kita selalu ingin menjadi pihak yg kedua, daripada yg pertama.

      Inilah kenapa memang kita harus belajar mengubah pola pikir kita,
      Terlalu banyak orang sepertinya girang melihat kita membeli Sukhoi, A400M, atau AW101.

      Pemikiran yg keliru.
      Membeli alutsista dengan minimal support dari industri lokal, itu artinya mereka hanya seperti membeli tamu yg didatangkan hanya utk minum2, atau makan2 sebentar.

      Tentu saja , hal yg sama juga berlaku ke F-16, dan IF-X.

      Masakan untuk IF-X, mau merakit pespur, tapi tanpa alih tehnologi, atau support yg berarti dari pembuat aslinya (United States)?
      Sama saja kan, dengan F-16? Hanya saja jauh lebih mahal.

      Delete
    2. dalam proyek KFX/IFX misal kita beli Gripen , apakah masih mungkin bisa Saab dilibatkan dalam KFX/IFX

      Delete
    3. Bisa.
      Saab sudah menawarkan hal ini.
      Dalam hal ini diharapkan dari pengetahuan yg diapat dari Gripen System, dapat menjadi dasar yg baik kalau masih mau melanjutkan IF-X.

      ## Tetapi pertanyaannya, untuk apa melanjutkan IF-X?

      Kita sudah bisa melihat sekarang: tawaran Korea hanya dalam bentuk "kerjasama" bertanda kutip. Kita tidak mendapat apa2. Segala sesuatu sudah didikte mereka kok. Kita hanya diperlakukan sebagai dana subsidi 20% untuk proyek mereka.

      Kalaupun kita mempunyai sedikit pengetahuan re pespur, Korea tetap akan mendikte proyek 100%. Inilah alasan utama kenapa Turki tidak mau terlibat dahulu kala.

      .... dan lebih bodoh lagi, proyek "pintar" ini akan tergantung tehnologi versi export dari Washington DC.
      Seperti F-16, Source code-nya akan dikunci, dan tidak akan boleh dimodifikasi lokal.

      Bahkan Saab Gripen-C MS-20 kemampuan tempurnya akan jauh lebih unggul dibanding versi KF-X Korea, apalagi IF-X versi Indonesia, yg akan di-downgrade lebih jauh.

      IMHO, lebih baik mengalihkan dana untuk IF-X, ke kemungkinan produksi lokal Gripen di Indonesia.

      Mungkin memang kedengarannya kurang "prestigious",
      tetapi Alih tehnologi, dan kemajuan industri lokal sudah pasti jauh lebih terjamin.

      Delete
    4. yg ku dengar korea bekerja sama memasok mesin KFX dngn GE F414

      Delete
  32. mungkin mereka yg suka senjata buatan Rusia mereka sedang euforia ke tahun 60 an dimana ABRI dijejali senjata soviet , hekekekek..

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah padahal hutang warisan Mig-21,Mig-15,Rudal Kernel,Kasel Whiskey class,Cruiser Sverdlov baru lunas tahun 1995 tapi kita make mereka cuma sampai 1971 paling yang masih bersisa tinggal tank ringan PT-76B tapi itu juga engine & komponen elektroniknya diupgrade sama Israel lewat Singapura terus turret 76mm kalau gak salah digganti sama 90mm dari CMI Belgia.

      Delete
  33. Kasau marsekal hadi Tjahyanto menyebutkan MARCH 7, 2017
    Pesawat Tanker dan Surveillance

    Program kedepan segera melengkapi pesawat MRTT (Multi Rolle Tanker Transport) Airbus 330, sehingga bisa mendukung penerbangan untuk air refueling, selain itu akan membangun Network Center Warfare, sehingga dapat memberikan data link kepada pesawat-pesawat tempur, dan yang tidak kalah pentingnya dapat memberikan data link kepada kapal-kapal perang, bahkan dalam suatu pertempuran Tank Leopard pun dapat diberikan data.

    Selain itu harus segera memperkuat pesawat-pesawat survellance, sehingga Skadron Udara 5 untuk segera memasang peralatan yang mampu untuk melihat wilayah ZEE, apakah kapal-kapal yang mencuri ikan atau kapal perang lainnya sudah masuk ke wilayah kita.

    TNI AU juga akan membangun kebutuhan-kebutuhan seperti testcell engine T-50 yang SDM-nya dapat menganbil dari yang menangani pesawat F-5, pengadaan radar pesawat T-50 dan persenjataannya seseuai dengan spek yang diminta. (Portal Komando)..menurut bung Dark bagaimana

    ReplyDelete
  34. dari pernyataan kasau diatas aku yakin Gripen makin dekat

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenernya kandidat terkuat tinggal antara Gripen atau F-16 V, Gripen sendiri bisa seri C/D MS20 atau seri E/F nah Gripen E/F sendiri kan baru bakal tersedia di tahun 2022, kayaknya kita mending ambil yang seri C/D MS20 dulu, kenapa? 1) harga lebih murah, 2) produksi cepat, 3) membiasakan pilot-pilot kita untuk berlatih dengan Gripen sebelum nantinya diatas tahun 2022 untuk pengganti 2 skuadron Hawk 100/200 kita ngoperasiin Gripen E/F. saya sendiri sih lebih suka kalau kita ngoperasiin 2 skuadron Gripen C/D MS20 ( sebagai sarana pembelajaran ) & 2 skuadron Gripen E/F ( sebagai pespur tercanggih yang pernah dimiliki Indonesia, dilengkapi radar AESA, IRST, RF Jamming, Targeting pod ) pelengkap sistemnya mungkin 4 - 6 pesawat AEWC mungkin campuran Erieye ( untuk sekarang ) & Globaleye ( jangka panjang ) + data link + mulai investasi cruise missile multiangkatan kayak RBS-15 & missile WVR + BVR. Tapi kayaknya ada mendadak bola liar yakni Eurofighter Typhoon lewat promosi A-400M oleh Airbus, skemanya sih sah, G to G, menyediakan ToT secara kerjasama kita udah erat dengan Airbus, sama dia juga mendukung network centric warfare tapi unit cost,maintenance cost & operational cost duh gede sebagai perbandingan operational cost Gripen berkisar 5000 USD, F-16 7000 USD, Eurofighter 18000 - 20000 USD nah ini yang gila Sukhoi > 40000 USD, gila enggak ?

      Delete
    2. masuk akal, setuju untuk pengenalan awal dgn Gripen , nampaknya menhan hampir mustahil beli su 35 yg trnyata Rusia dah mematok harga $165 jt per unit .

      Delete
    3. kalo dari pernyataan kasau diatas ,kayaknya sangat mungkin bukan su 35 k dah bung ..dan semoga saja kagak datang su 35 , mengingat blakangan Rusia mulai mengeluarkan berita sepihak guna menekan pemerintah agar segera teken

      Delete
    4. ## Ex-KSAU Marsekal Supriatna dari 25-April-2016 lalu juga sudah menyebut kalau TNI-AU masih kurang optimal mengawasi perairan Indonesia

      Ini sudah dibahas dalam artikel blog ini.

      Pernyataan beliau disini saja sudah cukup jelas kok:
      ============
      "Untuk mendukung poros maritim dunia dengan ALKI I, ALKI II, dan ALKI III, harus ada kekuatan udara yang bisa cepat hadir di mana saja," katanya.

      Dia memberi contoh, untuk menjaga perairan ALKI I yang melingkupi Laut China Selatan, Selat Karimata, Laut Jawa, dan Selat Sunda, paling tidak dibutuhkan empat pesawat tempur dalam status siap tempur untuk misi patroli udara dan pengawasan ruang udara.

      "Kalau kita berpikir ideal, kita bisa membayangkan berapa luas wilayah kita? ALKI I saja sudah luas," katanya.

      Dengan tiga ALKI itu, kata dia, paling tidak diperlukan 12 unit pesawat tempur dalam status siap tempur. Ini sama dengan kekuatan satu skuadron pesawat tempur. Untuk membiayai operasionalisasi dan perawatan semua kekuatan udara itu secara baik dan benar sesuai prosedur, tentu diperlukan biaya jauh dari murah .
      ============

      Kekurangan TNI-AU jelas, bukan?

      + "Kekuatan Udara yang siap hadir dimana saja."
      + Butuh 4 pesawat dalam status siap tempur untuk menjaga tiap ALKI, dan...
      + Biaya operasionalnya harus terjangkau

      Hanya Gripen yang bisa memenuhi semua kebutuhan yang di-deskripsikan diatas.

      ## Lebih lanjut Marsekal Tjahyono masih menyorot lebih lanjut.... ke akhirnya mulai membicarakan Networking, dan pesawat surveillance.

      Kita sudah tahu, kalau baik US, ataupun Ruski sejauh ini tidak mengijinkan penjualan networking ke Indonesia. (Versi Ruski tentu saja lebih sub-standard).

      Lebih lanjut, tanpa perlu menyebut modelnya, Networking (atau tidak kalah pentingnya, IFF) dari US, dan Ruski, kalaupun boleh, tidak akan compatible. Tentu saja, sebagai penjual model downgrade, tidak ada modifikasi akan diijinkan.

      Pespur satu2nya yang sudah lahir dari Networking... kembali menyorot ke arah Gripen.

      ## Pesawat surveillance, sejauh ini hanya Saab yang membuat penawaran resmi dngn Erieye.

      - US masih sangat enggan menawarkan AEW&C ke Indonesia (lagipula terlalu mahal)
      - AEW&C Israel dengan Phalcon radar, spt yang dipakai Singapore, tidak memungkinkan secara politik; kembali tak ditawarkan resmi.
      - AEW&C buatan Ruski, PRC, atau India (boleh pilih) kualitasnya tidak karuan, tidak akan ada garansi, dan untungnya juga tidak pernah ditawarkan resmi.

      Kebutuhan sebenarnya sudah jelas, bukan?

      Pernyatan Marsekal Tjahyono boleh dibilang mirip dengan Marsekal Supriatna, walaupun keduanya berhenti menyebut tipe apa yang dibutuhkan: Gripen, Erieye, dan National Networking, seperti judul blog ini.

      Sayangnya masih banyak terlalu banyak keinginan yang berkaok2 "Su-35! Su-35!"

      ## Lebih lanjut, yang kurang dari pernyataan kedua KSAU sudah mulai menyorot ke satu hal, walaupun sejauh ini belum pernah dibahas secara terbuka:
      Kita membutuhkan Sistem Pertahanan yang baik untuk mengawasi territorial Indonesia.

      Gripen-Erieye-Network memberi kesempatan untuk membangun sistem ini dari bottom-up, sekalian belajar dahulu agar lebih mengerti; dan seiring dengan itu, akan ada dilanjutkan dengna prosedur top-to-bottom dalam usaha mengintegrasikan semua alutsista Indonesia.

      Sekarang tinggal perjuangan lebih lanjut, apakah kebutuhan Nasional akan menang melawan keinginan pribadi individual membeli alutsista asal2an?

      Delete
  35. Su 35 jadinya Sdh terdiskualifikasi Dari Kandidat penempur baru TNI AU, karena KASAU Sendiri Ingin Pesawat tempur baru yg dimaksud kemampuannya tidak kalah atau bahkan Melebihi sukhoi, tetapi bisa Berbagi data dengan Aset-Aset udara, darat, bahkan Matra laut.

    ReplyDelete
  36. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  37. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  38. AL AS Berambisi Ingin Bikin 10 Kapal Induk kelas Ford, meski satu sdh jadi, Eh mereka Masih memakai 10 Kapal induk kelas Nimitz. sebenarnya daripada bikin kapal induk nuklir baru yg mahal, mendingan kapal induk lawas yg masih beroperasi bisa dimodernisasi(meski usianya Tua renta).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setiap 25 tahun, Kelas Nimitz secara bergantian akan membutuhkan nuclear reactor Refueling & Complex Overhaul (RCOH). Proses ini membutuhkan waktu 46 bulan, dan bbrp milyar $$.

      Sepertinya penggantian dengan kelas Ford akan di-timing dengan Nimitz berikutnya yg butuh refueling. Untuk menghemat biaya, Nimitz tersebut akan dipensiunkan.

      Yang menjadi masalah, lagi2 beberapa target yg harus dicapai untuk kelas Ford terlalu tinggi.
      Seharusnya menghemat, karena misalnya, reaktor nuklirnya jauh lebih modern, harga Ford mencapai hampir tiga kali lipat harga USS Ronald Reagan (CVN-76) yg hampir $5 milyar.

      Logika dibuang ke laut, karena harga Ford cukup utk membeli dua Nimitz + Super Hornet Carrier Wing.

      Ini memang kebiasaan buruk sistem akuisisi US,
      dan kasihan juga melihat nasib negara2 sekutunya yg "terpaksa" secara politik utk membeli F-35.

      RNLAF Belanda, misalnya, dari sekarang mengoperasikan 60+ F-16 (di masa perang dingin lebih dari 100 pesawat), hanya bisa membeli 37 rongsokan F-35.
      Jumlah ini tidak akan mencukupi utk memenuhi obligasi misalnya mengirim 4 pesawat untuk ikut operasi NATO, seperti di Syria skrg.

      Sejak titik terang sesaat di F-16, (sayang F-16XL, dan F-20 kemudian batal)
      logika untuk proyek2 mahal US memang tidak pernah masuk akal.

      Yah, tidak heran pola renstra TNI-AU menjadi "tersesat".

      Masalahnya, keempat angkatan US terus-menerus memberi contoh yg sangat jelek (F-35, Ford, V-22, B-21) dan terlalu banyak AU terutama, lantas mencoba meniru, termasuk India, Korea, dan Turki.

      IMHO, ini seperti "domino effect".

      Delete
  39. USS Enterprise pensiun November 2012 yang lalu
    Turki Mengupgrade F-4E Phantom menjadi F-4E 2020 Terminator

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enterprise (CVN-65) diresmikan tahun 1960, dan beroperasi 52 tahun.

      Kapal2 Fregat kelas Ahmad Yani (ex-Van Speijk AL Belanda) diproduksi antara tahun 1963 - 1965, sebelum dibeli TNI-AL di tahun 1980-an.

      Sehubung diatas, KRI Oswald Siahaan, satu2nya yg diperlengkapi Yakhont (4 missile), yg lain diperlengkapi (lagi2) C-802 buatan PRC.

      Yah, sebentar lagi kapal2 ini akan menembus usia 60 tahun. Walaupun sudah diganti mesinnya, dan sempat dimodernisasi, tetap saja lambung, dan frame-nya sudah terlalu tua. Akan terlalu mahal untuk mencoba meremajakan, dan akhirnya terlalu sulit.

      PKR10514 sebenarnya diakuisisi untuk menggantikan kelas Ahmad Yani.

      Delete
  40. Food for thought: perhitungan matematika sederhana

    Kenapa pemikiran akuisisi ala US tidak efektif.

    Bbrp waktu yg lalu mrk membicarakan memproduksi batch kedua untuk 75 F-22.
    Biayanya menurut estimasi RAND $17 milyar, atau harga kosong $230 juta / unit; belum termasuk biaya utk mengupgrade software, dan menambah kemampuan mengoperasikan AIM-9X, dan AIM-120D.
    Tentu saja, tetap tidak akan ada internal IRST, seperti Eurocanards.

    Untuk harga yang sama, US bisa membeli (estimasi) 6 F-16V.
    Dengan biaya $2,8 milyar, US bisa membeli 12 F-22, atau 68 F-16V.

    ## Kalau kita asumsikan 4 F-16 tertembak jatuh untuk setiap 1 F-22 juga tertembak jatuh;
    Ini artinya untuk kerugian total yg sebanding dgn 12 F-22 hilang lenyap,
    Untuk armada F-16; 20 pesawat akan masih tersisa.

    ## Perbedaan kemampuan udara juga telihat:
    12 F-22 masing2 dapat membawa 6 AMRAAM C-7, dan 2 AIM-9M;
    total 72 AMRAAM C-7, dan 24 AIM-9M

    68 F-16V dengan JHMCS, dan dual-datalink dapat membawa 4 AMRAAM-D, dan 2 AIM-9X
    Total 272 AMRAAM-D, dan 136 AIM-9X

    12 F-22 hanya akan dapat menembak jatuh antara 30 - 40 Sukhoi yg pilotnya kurang latihan,
    sedangkan 68 F-16V yg persenjataannya jauh lebih efektif, dapat menghabisi sekurangnya 120 Sukhoi.

    Sekurangnya 3x lipat lebih efektif, karena F-16V dapat membawa senjata yg lebih modern, dan dapat membawa jauh lebih banyak missile. AIM-9X probability Kill-nya terhadap Sukhoi akan berada di kisaran 60 - 70%.

    ## Sortie Rate -- 12 F-22 hanya dapat mengudara sekali sehari;
    68 F-16 dapat mengudara 4x sehari, atau generate 272 sortie.

    Biaya operasional F-22 juga 4x lipat lebih mahal dari F-16,
    dan pilotnya bisa dipastikan akan kurang latihan vs F-16.

    Inilah kenapa dari perhitungan sederhana ini, kita bisa mencapai kesimpulan berikut:

    Pespur super mahal, sehebat apapun juga tidak akan bisa mengalahkan semua keuntungan praktis pespur single engine.

    Lebih murah, bisa terbang lebih sering, dapat mengantar lebih banyak senjata ke lawan, dan akan mendapat keuntungan jumlah.

    Tentu saja, Gripen dibuat untuk bisa mengalahkan F-16, dengan harga lebih murah.
    RCS lebih rendah, kebal jamming, kemampuan networking lebih unggul, dan dapat dipersenjatai Meteor.

    F-22 is not the best fighter in the world.

    ReplyDelete
    Replies
    1. F-22 & F-35 itu kayak lahir dari konsep berpikir perfeksionis yang gak mungkin bisa tercapai atau tidak realistis, ini tu kayaknya lahir dari pemikir-pemikir jadul di Pentagon, Jenderal-jenderal lama US & NATO yang hidup di era perang dingin semuanya harus serba besar, mahal dan waow. Kremlin pun konsep berpikirnya lebih parah, tampilan luar harus kayak garang padahal jeroannya astaga. Sebenernya saya sempet mikir kalau F-16 V, F-15 SE, sama Super Hornet F-18 udah jadi pespur-pespur terbaik US di abad 21. Lagian LM membuat variasi F-16 V bersamaan dengan program F-22 & F-35 kayak ambigu dan berlebihan lah. India menurut saya paling buruk & parah dari segalanya, salah besar kalau kita ngikut dia, Korsel kayak macam copy-paste US termasuk konsep berpikirnya, gak ada kreatifnya dia, Perancis karena egonya yang besar makanya dia independen cuma mahal dia punya barang, cuma Swedia sih yang saya liat konsep berpikirnya beda sendiri,unik sama kreatif, mengutamakan teknologi electronic warfare, keefektifan, dan ekonomis. Swedia itu konsepnya kayak kecil,murah tapi efesien & efektif beda pola pikirnya dengan Washington atau Moscow

      Delete
    2. ## Sekarang development alutsista US lebih dimotivasi dengan "harus lebih hebat dari yang lain", tetapi pengertiannya dipelesetkan para top brass di Pentagon.

      "Hebat" menjadi dalam tanda kutip, sedangkan lebih mahal, dan lebih berlarut-larut itu sudah pasti.

      Sejak F-16, kemudian mempelopori pembuatan AMRAAM, dan AESA radar, sbnrnya US tidak pernah berhasil memproduksi apapun juga yg inovatif.

      ## Dan, betul. Inilah masalah berikutnya.
      F-15, F-16, dan F-18 sebenarnya tidak pernah memerlukan pengganti.

      Tentu saja diantara ketiga model, F-16 satu2nya yg dibuat untuk memenangkan pertempuran udara, walaupun para jendral tidak setuju, dan sengaja mendorong tipe ini menjadi pesawat pembom.

      Bodohnya, A-7 Corsair yg sudah dipensiunkan, sbnrnya dapat mengerjakan tugas2 pemboman yg skrg dilakukan F-16 (dan F-35) dengan jauh lebih baik.

      Membom ISIS, atau Taliban, kenapa perlu pespur supersonic?

      Delete
  41. Proyek US Navy yg berhasil Itu kayak F18E/F-SH, utk menggantikan Tomcat yg berperan sbg Interceptor, proyek Super hornet ini murah , Efisien, tapi multi Fungsi. banyak pesawat seperti Phantom, Intruder, Tomcat, dan Prowler Digantikan oleh Super hornet. meski pada awalnya US Navy ingin Membuat F22A Raptor Versi Carrier based, namun biayanya terlalu Mahal. mengingat pada masa itu anggaran Militer menipis ketika perang dingin telah game over

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, bung eki.

      FYI - Sebenarnya sejak 11-September-2001, anggaran pertahanan US sudah melompat dari masa akhir Perang Dingin di tahun 1988 yg $577 milyar (terhitung angka inflasi 2014); memuncak ke $746 Milyar di tahun 2010, sebelum sekarang kembali turun ke angka sekarang $596 Milyar.

      Tetap saja, walaupun militer US mendapat sekurangnya nilai anggaran yg sama dengan di masa perang dingin, uangnya tidak pernah cukup.

      Memang konflik di Afganistan, Iraq, Libya menghisap uang, tetapi proyek mercusuar seperti selama Perang Dingin, sbnrnya bertambah banyak.... dan nilai efektifnya sangat meragukan.
      Dengan kata lain... sangat rawan dihancurkan alutsista konvensional yang "kurang modern".

      Lain waktu kita akan melihat daftar proyek mercusuar US, yg sayangnya juga menjadi panutan banyak negara, walau untungnya juga mendorong Ruski, dan PRC utk "mengejar ketinggalan".

      Skrg Trump masih berencana mendongkrak anggaran $50M (atau melebihi seluruh anggaran Ruski), walaupun kemungkinan proposalnya akan gagal di konggres.

      Delete
  42. Mengenai Missile Rusia :
    saat ini Rusia Mengembangkan Missile R37 Arrow yg "katanya" Jarak jangkaunya Sampe 400km. dan Dipasang pada MiG 31 Foxhound buat Mereplace R33 Amos. Dan Rusia "katanya" Juga Membuat Missile K77 dan K74M sbg Saingan AMRAAM dan Sidewinder . utk mengenai Missile Rusia , bung admin sebaiknya mempelajari Lebih dalam lagi tentang Missile pada Pespur Ruski tsb. biar kita bisa membandingkan Missile itu dgn missile barat.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Eki,

      ## Seperti sudah dibahas sebelumnya, semua proyek missile Ruski sekarang ini "mangkrak". Mereka tidak ada uang untuk menyelesaikan.

      Untuk R-77, sebenarnya AU Ruski menginginkan versi R-77-1, tetapi yah, proyeknya juga belum selesai.

      Permasalahan lain: Kebanyakan komponen missile, dan heat-seeker buatan pabrik Artem, di Kiev, Ukrania. Inilah akibat mewarisi industri warisan kerajaan Soviet, yang memang sengaja menyebar pabrik2 di masing2 SSR, agar tidak ada satupun negara bagian Soviet yg dapat mendominasi sendiri.

      Ruski belum menunjukkan kemampuan bisa memproduksi alternatifnya secara lokal. Kembali, tidak ada uang.

      K-77M dengan mesin ramjet, saat ini masih mimpi.
      K-74 upgrade untuk R-73? Ketergantungan ke pabrik Artem?

      ## Untuk R-37
      Sama seperti semua missile yang lain, proyeknya dimulai di masa Soviet, lalu sempat mangkrak. Sekarang kabarnya mulai operasional....

      Walaupun jarak jangkaunya 400 kilometer, missile ini bukan untuk menghancurkan pesawat tempur, tetapi sepertinya untuk menghantam E-3 Sentry, atau KC-135 USAF.

      Beratnya saja 600 kg; missile gembrot ini tidak akan bisa bermanuever dengan baik.

      Lagipula, terakhir, untuk menghantam target, pesawat induk harus berhasil mendapatkan radar lock terlebih dahulu.

      Dan tidak hanya berhenti disana, R-37 seperti R-27 masih mengandalkan Semi-Active Homing. Ini artinya radar pesawat induk (MiG-31) akan dipaksa untuk terus-menerus mengunci target, dari mulai ditembakkan, sampai mengena.

      Akibatnya -- MiG-31 hanya akan dapat menembak 1 target, dan selama radarnya mengunci target, MiG hanya akan menjadi bulan2an AMRAAM, atau Meteor.

      Delete