Sunday, March 19, 2017

Mendefinisikan ulang pengertian "Efek Gentar"

Credits: Saab

Erich Hartmann, pilot Jerman yang berhasil menembak jatuh 352 pesawat sepanjang Perang Dunia II, sudah memberitahukan rahasia dari semua kemenangannya:

"Delapan puluh persen (80%) dari pesawat lawan yang saya tembak jatuh, 
TIDAK PERNAH melihat pesawat saya."

Delapan puluh persen.

Formula yang dipakai Hartmann adalah: See-Observe-Attack-Reverse. Melihat lawan terlebih dahulu, mempelajari lawan, menyerang; dan terakhir, disengage dari konflik, dan mengamati kembali apa yang sudah terjadi. Seperti bisa dilihat, Hartmann selalu menguasai medan tempur, sedang lawan tidak. Hartmann tidak pernah tertembak jatuh lawan, dan setiap lawan yang tertembak jatuh, tidak pernah mempunyai kesempatan besar untuk bisa menang.

Superior Situational Awareness.

Tidak seperti di tahun 1940-an dipraktekkan Erich Hartmann seorang diri, dewasa ini "Efek gentar" akan ditentukan oleh Empat faktor utama, yang akan saling mendukung satu sama lain. 


Sistem Operasional:  40% dari Efek gentar Alutsista

Credits: Saab

"Pesawat tempur A efek gentarnya tinggi!"

Kesalahan awam, yang seringkali dibuat terlalu banyak analisa dari pengamat "ahli". 

Bisa memproduksi, atau membeli satu jenis pesawat tempur, atau alutsista yang kemampuannya sehebat apapun, dan bisa belajar memakainya, BUKAN BERARTI akan bisa mengoperasikannya secara efektif di dalam konflik.

Pesawat tempur (atau alutsista manapun), yang tidak dioperasikan menurut prosedur operasional modern yang sudah teruji, dan terpadu dengan semua asset pendukung lain, hanya akan selalu menjadi seperti bebek yang hanya akan mengantri untuk disembelih satu per satu.

Apakah Erich Hartmann, yang sudah menembak jatuh lebih banyak pesawat daripada pilot manapun, begitu berhasil karena pesawatnya luar biasa hebat? Atau apakah sebagai pilot, memang luar biasa berbakat?

Seperti bisa dilihat di daftar Top Flying Aces selama Perang Dunia II, sebenarnya lebih dari 107 pilot Luftwaffe Jerman yang berhasil menembak jatuh lebih dari 100 pesawat lawan. Hartmann sendiri mengakui kalau tidak mahir menembak lawan dari jarak jauh, melainkan harus menembak dari jarak yang sedekat mungkin, sampai membahayakan diri sendiri. Ternyata kebanyakan korban mereka adalah pesawat militer.... dari Uni Soviet. Dari 352 pesawat yang ditembak jatuh Hartmann, 345 adalah pesawat Soviet.

Pesawatnya sendiri? Kebanyakan pilot Jerman memakai Messerchmitt Bf-109, pesawat tempur generic Luftwaffe, yang mulai beroperasi sejak tahun 1937.  Secara tehnis, Bf-109 dinilai hampir seimbang dengan Supermarine Spitfire, atau North American P-51 Mustang.

Dalam pertempuran 6 hari di tahun 1967, Angkatan Udara Israel, yang waktu itu lebih kecil dibanding kekuatan udara gabungan dari Mesir, Yordania, dan Syria, berhasil menghabisi 452 pesawat, dengan hanya kehilangan korban 28 pesawat. Di masa itu, Mirage IIICJ buatan Perancis, yang dipakai Israel, tidaklah jauh lebih unggul dibanding MiG-21 buatan Soviet. Sejak tahun 1967 ini, tentu saja tidak pernah lagi terjadi perubahan yang berarti.

Kenapa demikian?

Secara fundamental, baik Luftwaffe di tahun 1940-an, ataupun Israel sejak tahun 1967, mempunyai dasar Sistem Operasionalyang jauh lebih unggul, dalam hal ini dibandingkan sistem operasional ala Soviet, yang terlalu mengandalkan jumlah, dan strategi yang kurang fleksibel.

Dewasa ini sudah berbeda dengan tahun 1940-an, atau masa Operation Mole Cricket-19, dimana Israel berhasil menghancurkan sistem pertahanan udara ala Sistem Soviet. Erich Hartmann, sering beroperasi seorang diri dan mempraktekan sistem-nya. Angkatan Udara Israel, di masa lalu, masih lebih beroperasi secara independen. Dewasa ini, kunci dari Sistem Operasional Modern, adalah Integrasi antar alutsista setiap Angkatan yang terlibat dalam medan tempur.


Credits: Saab

Sistem Operational Modern memang bukan sesuatu yang terlihat di kasat mata, sebagaimana pembelian alutsista baru, tetapi ini adalah DASAR, yang harus memenuhi persyaratan berikut:

  • Penguasaan Superior Situational Awareness yang HARUS lebih baik daripada lawan. Kemampuan untuk mengawasi keadaan tidak hanya dalam radius beberapa kilometer di sekitar masing-masing asset, tetapi juga seluruh medan tempur yang luasnya bisa ribuan kilometer per segi.
  • Komunikasi. Setiap asset yang operasional harus sudah terkoneksi satu sama lain, dapat men-transmit komunikasi secara real-time, dan aman dari ancaman jamming lawan.
  • Standard Operating Procedure dan strategi dasar untuk kerjasama antar alutsista, dalam menghadapi ribuan macam skenario tempur, yang sifatnya sendiri harus fleksibel, dan siap beradaptasi dengan mudah seiring untuk menghadapi faktor yang tak terduga.
  • Kemampuan untuk Optimalisasi Kemampuan setiap Alutsista. Kalau menurut brosur diiklankan kemampuannya hanya segini, seberapa jauh Militer suatu negara akan dapat mendorong kemampuan asset mereka melebihi apa yang diiklankan? Israel, misalnya, sudah terbukti dapat memakai F-16 mereka jauh lebih baik dibanding semua negara lain, termasuk USAF.
  • Tidak kalah penting, Training adalah bagian yang terintegrasi dari sistem. Sistem yang baik, adalah sistem yang dapat memproduksi kualitas pilot, tentara, atau awak kapal yang kemampuannya melebihi negara lain.
  • Persyaratan terakhir, adalah kemauan untuk terus belajar. Seluruh sistem harus dibuat cukup fleksibel, agar dapat terus berevolusi mengikuti perkembangan jaman. Jenis persenjataan, atau strategi baru akan terus diperkenalkan dari tahun ke tahun. Dan strategi yang dulu masih bekerja di tahun 2005, kemungkinannya di tahun 2020 sudah tidak lagi relevan.
Sistem yang baik adalah dasar dari efek gentar militer negara manapun. Dewasa ini, kebanyakan negara yang militernya sudah lebih mapan, termasuk Australia, dan Singapore, memilih untuk terus mengembangkan Sistem, yang akan meningkatkan terus kemampuan semua asset mereka yang sudah ada. 

"Efek Gentar" mustahil untuk bisa didapat dari prosedur "asal beli" alutsista hanya demi mengejar jumlah, dan mengacuhkan partisipasi industri pertahanan lokal, seperti dibawah.



Kedaulatan Alutsista, dan dukungan industri pertahanan lokal: 20% Efek Gentar 

Credits: Saab Indonesia
Alih Tehnologi BUKAN hubungan satu arah guru-ke-murid,
melainkan dasar dari kerjasama PARTNERSHIP yang dua arah.
Sayangnya, peranan industri pertahanan lokal di negara kita terlalu dipandang remeh, terutama oleh para "pejabat", yang kelihatannya lebih senang beli import, dibanding mengoperasikan produk license production sendiri, yang 30% dari nilai belinya dapat diinvestasikan kembali ke ekonomi lokal.

Dalam setiap konflik udara sejak tahun 1914, tidak pernah ada pihak yang bisa memenangkan konflik, kalau industri lokalnya tidak mempunyai kemampuan untuk mendukung. Semakin maksimal sokongan industri lokal, semakin optimal kemampuan tempur militernya.

Negara kita tentu saja tidak bisa begitu saja mereplikasi apa yang sudah dicapai dengan sempurna di United States, Russia, ataupun di negara-negara Eropa. Perbedaan kemampuan, pengalaman, atau tehnologi kita terlalu jauh kalau mencoba mengejar target "membuat pesawat tempur sendiri".... dengan partner yang kemampuannya tidak jelas. Ini hanya akan seperti katak yang merindukan bulan.

Program Hambalang II - masa depan program IF-X
(Gambar: Kompas)
Perlu rasionalisasi disini. Apa yang kita perlu kejar adalah: 
  • Alih tehnologi yang seoptimal mungkin, dan peningkatan kemampuan industri lokal, dengan persyaratan yang melebihi apa yang digariskan dalam UU no.16/2012.
  • Kemandirian untuk mengoperasikan alutsista secara independent, bebas dari pengaruh luar. Kalau memerlukan upgrade yang pelik, maintenance, atau perbaikan yang berat, apakah kita akan harus tergantung ke belas kasihan supplier utama? 
  • Kemampuan untuk mengadaptasikan semaksimal mungkin pesawat tempur tersebut untuk menghadapi realita tantangan pertahanan negara kepulauan.
  • Berkaitan dengan System, seperti diatas, apakah kelak kita akan dapat mendorong optimalisasi kemampuan Alusista kita melebihi apa yang diiklankan?
Untuk melihat contoh kerjasama antara militer, dan industri pertahanan yang berhasil, perhatikan gambar berikut:
F-5BR Angkatan Udara Brazil. 

Apakah bisa memperhatikan apa yang berbeda disini? 

Embraer Brazil sudah melakukan customisasi habis-habisan untuk meng-upgrade kemampuan F-5BR melebihi spesifkasi dasarnya. Seperti bisa dilihat, apa yang mencolok pertama kali, adalah keberadaan refueling probe di moncong pesawat, yang memberikan short-ranged F-5BR kemampuan untuk melakukan air-to-air refueling. Kebanyakan perubahan lain tidak terlihat. HUD (Heads-Up-Display), Sistem Avionic baru, INS/GPS Navigation, dua komputer baru, Multifunctional coloured-LCD, Night Vission Goggles, dan kemampuan untuk beroperasi dalam National Network SIVAM

Kalau masih belum cukup garang, F-5BR juga mempunyai Helmet-Mounted Display, dan dapat dipersenjatai dengan offboresight WVR missile; MAA-1 Piranha (buatan Brazil), Phyton-3, Phyton-4, dan bahkan mempunyai kemampuan BVR, dengan membawa Derby missile. 
Kemampuan manuever F-5 yang ukurannya kecil, dan less draggy,
akan lebih dari cukup untuk mengimbangi F-22. 

Berkat kerjasama antara FAB, dan Embraer, F-5BR Brazil secara tehnis jauh lebih unggul dalam segala hal dibanding semua pesawat tempur TNI-AU dewasa ini. Tidak mengherankan mereka cepat mencoret Su-35K dalam babak penyisihan kompetisi F-X tempo hari - F-5BR adalah pesawat tempur yang jauh lebih mematikan dalam pertempuran udara, jauh lebih reliable, biaya operasionalnya murah, dan dapat beroperasi dalam SATU SYSTEM.

Bentuk kerjasama semacam inilah yang perlu direplikasi TNI-AU, dengan seluruh industri pertahanan Nusantara: Kemampuan untuk mengoptimalkan apa yang ada, dan mendorong kemampuannya melebihi spesifikasi dasarnya.
Credits: Saab Indonesia
Sovereign Air Power:
Kebebasan untuk menentukan Kemampuan Tempur, Upgrade,
maintenance, persenjataan, atau mengembangkan inovasi sendiri

Tidak bisa didikte oleh supplier luar!

Kembali inilah salah satu alasan lain kenapa kita harus mencoret semua daftar pesawat tempur Versi Export Downgrade; Sukhoi (versi manapun), F-16, dan IF-X. Ketergantungan ke Washington DC, atau Moscow, berarti untuk selamanya, semua kunci operasional ketiga model ini sepenuhnya akan ditangan mereka.


Training: 20% dari Efek Gentar

Credits: Saab

Training, seperti sudah disebut diatas, sebenarnya adalah bagian dari sistem operasional yang terpadu.

Untuk lebih mudahnya, perhatikan perumpamaan berikut.

Semisal, kalau anda boleh mengemudikan Porsche Carrera GT, atau Lamborghini Gallardo, apakah anda bisa mengalahkan Lewis Hamilton, yang hanya mengendarai Toyota Corolla, di Nürburgring circuit?

Anda tidak akan mungkin menang. Hamilton sudah menguasai semua detail sirkuit Nürburgring, dan sudah menempa pengalaman puluhan tahun dalam F1. Hamilton kemampuannya lebih tinggi, tidak hanya karena dia sering latihan, tapi dia juga sudah menguasai Sistem Advanced Driving, yang tidak akan bisa dikuasai kebanyakan orang.

Di tahun 2007, Michael Schumacher, karena agak terlambat, pernah meminta ijin ke sopir taxi-nya, untuk mengemudikan taxi-nya sendiri ke Airport dalam perjalanan berjarak tempuh 19 kilometer. Taxi ini hanyalah mobil van Opel Vivaro, yang kecepatan maksimumnya hanya 163 kph. Ini bukan masalah. Schumacher, dapat membuat mobil van yang "inferior" ini untuk mengambil tikungan jauh lebih cepat, dapat menyusul kendaraan lain dalam manuever yang tidak bisa dibayangkan orang, dan akhirnya sampai tepat waktu.

Demikian juga dalam konflik pertempuran di udara.
Setiap pilot pesawat tempur harus mengikuti hukum Bruce Lee:
Harus lebih banyak latihan, dan mengumpulkan pengalaman
Kalau tidak, ya sudah pasti kalah
Sepanjang sejarah sejak tahun 1914, belum pernah ada pilot yang masih hijau, yang dapat mengalahkan pilot yang jauh lebih terlatih, dan lebih berpengalaman, apalagi kalau sudah ditempa dalam sistem standard NATO. Ini sama seperti pengemudi yang baru mendapat SIM, lantas mau mencoba berlomba melawan pembalap F1.

Pilot F-22 berbiaya operasional mahal, yang baru mengumpulkan 50 jam, dapat dipercundangi dalam latihan oleh pilot F-16 Aggressor, yang sudah mengumpulkan jam latihan ratusan jam per tahun.
Cuplikan dari Air Force Magazine, 2007
(Link: Wired)

Pelajaran disini:
Jenis pesawat tempur bukanlah penentu utama "efek gentar"
Untuk mencapai nilai efek gentar penuh, akan tergantung seberapa baik Angkatan Udara modern dapat menghasilkan pilot pesawat tempur, yang memiliki kualitas performa, bagaikan Michael Schumacher, atau Lewis Hamilton. Sama seperti dalam F1, ini akan membutuhkan System terlebih dahulu, dan tentu saja banyak jam latihan terbang. 

Dalam industri, dan tehnologi persawat tempur, semenjak dahulu sudah selalu terbukti kalau biaya operasional Single-engined fighter akan selalu jauh lebih murah dibanding Twin-Engine. Malahan kalau anggaran pertahanan negara pengguna terbatas, maka semakin mahal biaya operasional, semakin kecil efek gentarnya.
Dan karena secara desain lebih sederhana, F-16, atau Gripen, akan selalu dapat mengudara berkali-kali dalam sehari, dibandingkan F-15, Typhoon, F-18SH, atau Rafale. Hanya karena bisa lebih sering terbang, 48 Gripen akan dapat menghabisi 48 Sukhoi dalam waktu tiga hari.
Credits: Saab

Lebih banyak mengudara, berarti lebih banyak jam latihan untuk pilot, yang akan jauh lebih optimal, kalau dapat beroperasi menurut system yang baik, seperti diatas.

Satu Rahasia Keunggulan Gripen vs semua pesawat tempur lain:
F-22-pun tidak akan dapat menandingi!
Sederhana, bukan?



Pesawat Tempur: Hanya 20% dari Efek Gentar

Credits: Saab

Dengan demikian, pesawat tempur yang efek gentarnya tinggi, adalah pesawat tempur yang sudah terlebih dahulu memenuhi semua persyaratan diatas.

Miskonsepsi umum adalah kita harus mengoperasikan pesawat tempur yang terhebat.
Seperti dalam novel / film Firefox, 
pesawat Soviet yang jauh lebih unggul dari manapun!

Keliru. 

Masalah pertama saja, pesawat tempur "huebat", bukan berarti akan mempunyai kemampuan untuk memproduksi pilot, yang mempunyai kualitas kemampuan seperti Michael Schumacher, dan inilah salah satu faktor yang akan menentukan dalam pertempuran udara.

Miskonsepsi "pesawat huebat" memang dipelopori di Media Barat, terutama dipopulerkan oleh kedua penulis blog fiksi ilmiah Australian Air Power. Hanya bisa mempunyai pesawat yang lebih unggul, bukan berarti mempunyai kemampuan untuk mengoperasikannya lebih baik dari negara lain, yang sudah memenuhi kesemua persyaratan diatas. Tidak ada system, tidak ada industri pendukung, dan tanpa cukup training menurut system, ini hanya akan seperti membuang garam ke laut. Efek gentar Nihil.

Ini bukan berarti lalu kita harus mulai memborong F-5E, untuk mereplikasi kemampuan F-5BR Brazil. Untuk mendapat nilai efek gentar yang penuh, pesawat tempur yang baik dewasa ini harus memenuhi semua persyaratan standard di Abad ke-21:
  • Apakah Kemampuan Kinematis, dan Manuever-nya akan dapat mengimbangi, atau melebihi tolok ukur F-16?
  • Apakah mempunyai Sensor Fusion, dan fully-networked?
  • Apakah dapat membawa persenjataan, atau perlengkapan paling modern, yang tersedia? Tentu saja, lebih baik, kalau tidak perlu tergantung ke hanya satu supplier senjata, seperti halnya produk versi export.
Kalau mau "anti-embargo", beli beraneka ragam missile,
bukan jenis pesawat tempur.
  • Apakah akan dapat membawa semua Integrated Defense Suite Modern untuk memastikan sulit ditembak lawan?
  • Apakah biaya operasionalnya akan terjangkau, agar dapat lebih banyak latihan, dan dapat memproduksi pilot yang kualitasnya lebih unggul?
  • Apakah akan dapat mudah di-upgrade, untuk mengikuti perkembangan jaman?
    Upgrade-nya juga tidak semahal F-16.
TIdak kalah penting, tidak hanya pesawat tempur Abad ke-21 harus memenuhi semua persyaratan diatas, tetapi harus sesuai dengan studi kelaikan untuk kebutuhan negara pemakai, terutama untuk beroperasi dalam satu System yang terpadu.
Credits: Saab
Memenuhi Kebutuhan sekarang, dan masa depan
bukan Keinginan jangka pendek


Penutup

Credits: Saab
Penentu utama, dan dasar dari segala "Efek Gentar" adalah System Operasional modern yang terpadu; bukan jenis pesawat tempur, fitur Stealth, twin-engine design, jenis BVR missile, Thrust-Vector-Control, atau segala macam pernak-pernik yang lain. Kalau dari segi Sistem memang kemampuannya lebih unggul, segala sesuatu akan bekerja dengan baik, bahkan bisa melebihi apa yang dibayangkan pembuatnya sendiri.

Artikel sebelumnya sudah menyajikan contoh Sistem Pertahanan Indonesia yang Terintegrasi. Sama seperti Hartmann dahulu kala mengalahkan lawannya, dalam skenario ini, aggressor-X tidak pernah bisa melihat satupun asset alutsista Indonesia. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan beruntung; seluruh TNI sudah memenuhi keempat faktor persyaratan diatas, dan dengan demikian mencapai Superior Situational Awareness: Kemampuan menguasai medan tempur. Lawan manapun, sekuat apapun tidak akan pernah punya banyak harapan.

Credits: Saab
Kenapa kita harus mulai berencana mengakuisisi 32 Gripen, dan sekurangnya 2 Erieye untuk mencapai MEF tahap II?

Karena ini akan mengawali pembentukan sistem pertahanan modern dari pola bottoms-up. Gripen, Erieye, dan National Network akan menjadi dasar utama pembangunan sistem, yang tidak akan bisa direplikasi oleh pilihan alutsista manapun, apalagi dari sumber Washington DC, dan Moscow, yang hanya menjual barang rongsokan versi export downgrade.

Keduanya hanya ambil pusing ingin menjadi penjual, dan menginginkan kita menjadi konsumen yang setia. Tidak akan ada kemauan untuk membantu merancang bangun sistem pertahanan negara kita, seperti yang sudah ditawarkan Saab. Untuk selamanya, kita hanya akan memilih siapa yang menjajah kita secara alutsista.
Baca: Efek gentar 100% Nihil.


23 comments:

  1. kalo misal Tni Au datangkan pesawat AWACS buatan Airbus dan Gripen kita juga dibeli, apa akan terkonek dgn Gripen , F 16 kita , dalam membentuk national network

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung hideki,

      ## AEW&C buatan Airbus, adalah C-295 AEW&C.
      Walaupun C-295 sudah bisa license production dari PT DI, sbnrnya membentur beberapa masalah:

      - Radarnya buatan Elta, Israel. Kemungkinan masalah politik akan rewel.

      - Kedua lebih penting lagi, koneksi radar Elta ke pesawat tempur, akan mempergunakan Link-11, yang membutuhkan... lagi2 persetujuan dari Washington DC.

      - Terakhir, F-16 juga belum memiliki terminal untuk terkoneksi ke Link-11.
      Gripen akan bisa, tetapi hasilnya kemungkinan tidak bisa se-optimal Gripen-Erieye.

      ## IMHO, lebih ekonomis, dan kemampuannya lebih optimal, kalau kita mengakuisisi Saab 2000 dengan Erieye ER terlebih dahulu, sebelum memperhitungkan kemungkinan paket Globaleye di kemudian hari.

      Gripen - Erieye mempunyai datalink-nya sendiri, yg bebas pengaruh Washington DC.

      ## National Network berbeda dengan Link-11, atau koneksi datalink Gripen - Erieye.
      Ini memerlukan kerjasama jangka panjang untuk membangun infrastrukturnya terlebih dahulu, dengan tujuan akhir integrasi total antar alutsista.

      Delete
    2. @DR

      Apa sih om perbedaan link-11/22 dan link-16...bukankah link-16 dominan digunakan dikalangan AU?

      Delete
    3. ## Link-22 menggantikan Link-11, adalah "digital radio link" sebagai komplemen untuk Link-16.

      ## Link-16 sendiri adalah tactical data exchange untuk menghubungkan alutsista, dalam bentuk transmisi gambar, messaging, dan digital voice.

      ## Kedua-dua link dapat dipergunakan setiap alutsista, bukan hanya pesawat.
      Semuanya bagian dari standard komunikasi protocol NATO -- untuk di-export biasanya akan memerlukan ijin pemerintah US.

      Sejauh ini, kelihatannya US belum mengijinkan transfer ke Indonesia.
      Dan kalaupun kelak diperbolehkan, tidak akan ada jaminan kalau sebagian protocolnya akan sengaja dirahasiakan agar konektivitas alutsista kita terbatas.

      ## Tentu saja, ini juga artinya KF-X (kalau jadi) akan mempergunakan semua Link standard NATO, sedang IF-X versi downgrade belum tentu boleh.
      (Memang hanya nama lain dari proyek Hambalang II)

      ## Swedia, sebagai salah satu pelopor pembuat datalink, memakai standard protocol datalink yg berbeda dengan semua Link NATO: konektivitas Gripen ke Link-16 saja masih terbatas sampai tahun 2012.

      TIDLS fighter-to-fighter antar Gripen tidak ada bandingannya di Typhoon, Rafale, F-15, F-16, atau F-18SH; sedang versi US baru mulai diperkenalkan ke F-35.

      Delete
  2. https://tni-au.mil.id/berita/tni-au-dan-rtaf-bangun-national-network-centric-system

    Bung Gi, apa ada info mengenai kerjasama militer indonesia dengan saab..?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung tutus,

      ## Kabar terakhir masih ke penandatanganan MoU kerjasama antara Indonesia - Swedia 20-Desember yg lalu.

      Pemerintah sendiri sudah mengumumkan tempo hari, kalau keuangan memang sedang agak sulit jadi perlu belajar berhemat untuk sekarang.

      ## Menarik kalau KSAU membahas networking dengan RTAF, yg dasar pembuatannya juga dgn kerjasama Saab.

      Networking versi Indonesia, karena alasan strategis tidak berlu modelnya sama persis dengan versi Thailand, tetapi akan bisa dibuat supaya "compatible to-".

      Kita lihat saja arahannya kemana.

      Delete
  3. dan syangnya para pejabat kita masih beranggapan "jumlah banyak = efek gentar tinggi"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah.

      Prinsip "Jumlah banyak = efek gentar tinggi" sbnrnya hanya pernah berlaku dalam masa Perang Dunia II dalam konflik antara Nazi Jerman vs Soviet di front Timur.... dan semenjak itu sudah tidak relevan.

      Betul, di kala itu Soviet yang menang, karena lebih unggul jumlah.
      Akan tetapi.... untuk mencapai kemenangan itu, jumlah kerugian Soviet lebih dari 10x lipat dibandingkan Nazi Jerman.

      Jumlah korban baik militer, maupun sipil yg terbesar selama PD II, yah, di Soviet.
      Menurut perkiraan, lebih dari 16 juta orang tewas.

      Inilah pelajaran yg harus diambil kalau mau mengadu jumlah, tapi tidak mau berinvestasi di Sistem:
      harus siap menderita kerugian yg sangat besar.

      Setelah Sistem Pertahanan Soviet II kemudian dihancurkan Israel dalam "Operasi Mole Cricket-19", sebenarnya sudah memperkenalkan era baru dalam konflik:

      Sistem yang mengutamakan Situational Awareness, akan selalu menghancurkan yang terlalu mengandalkan JUMLAH.

      Delete
  4. Admin, saya baca AU Pakistan mengintegrasikan pesawat AEWC Erieye dengan F-16 C/D Block 52 lewat network system apa AU Pakistan lebih superior dibanding India yang gila-gilaan ngebeli 250 Su-30 MKI sama Mig-29 KI ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Thomas,

      Kalau dari segi sistem, baik AU Pakistan, ataupun India cukup berantakan -- karena mengoperasikan armada gado2, dan cukup kacau balau.
      Keduanya bukanlah model yg patut dicontoh.

      ## Sistem operasional keduanya, mau sebanyak apapun menghamburkan uang, dan sekeras apapun usahanya, untuk selamanya tidak akan pernah bisa se-optimal misalnya, Belgia, atau Norwegia (yg anggota NATO).

      ## Kombinasi F-16 Block-52+ / F-16AM MLU, dan Saab Erieye 2000 Pakistan, untuk sementara akan lebih unggul dibanding Su-30MKI India.

      Alasannya sederhana:

      + Dari jumlah 200+ Sukhoi MKI, karena kesulitan maintenance, jumlah yang siap terbang saja belum tentu bisa mencapai 100 unit, sedangkan dari 80 F-16 Pakistan, sekurangnya 60 - 70 akan selalu siap terbang.
      Seperti kita lihat, keunggulan operasional single-engined fighter akan selalu lebih unggul dibanding keunggulan jumlah twin-engined, apalagi buatan ruski.

      + Sama seperti F-16 A/B Indonesia, sewaktu dahulu Pakistan sempat di-embargo US, ke-36 F-16 A/B original mereka tetap operasional.
      Pengalaman ini akan menjadi keunggulan dalam konflik sebenarnya, yg tidak akan bisa direplikasi India.

      + Kombinasi situational awareness dari Erieye, dan cockpit / komputer F-16, akan jauh lebih optimal dibandingkan Phalcon radar (AEW&C India) dan Su-MKI yg hanya bertehnologi 1990an akhir, sedang upgrade ke Super-30-nya terbukti sulit, dan terlalu mahal.

      + Terakhir, F-16 Pakistan sudah dipersenjatai AIM-9X, dan AMRAAM C7, yg beberapa generasi lebih modern daripada..
      Sukhoi India hanya bisa membawa RVV-AE, dan R-73E versi export.

      Ironisnya, dalam konflik, India akan harus mengandalkan MiG-21 Bison, yg diperlengkapi ECM, dan Phyton missile buatan Israel, bukan Sukhoi yg menghamburkan uang.

      ## Tentu saja, kelemahan ini akan ditutup kalau Mirage 2000 India sudah selesai upgrade, dan dipersenjatai MICA, dan.... menunggu kedatangan 36 Rafale baru mereka, yg akan diperlengkapi Meteor.

      ## Masalah lain untuk Pakistan: F-16 sebenarnya hanya 15% dari armada pespur mereka (76 pesawat), sedang 420 pesawat lain adalah kombinasi dari Mirage III/5, yg upgradenya tidak karuan, Chengdu F-7 (MiG-21), dan JF-17 (versi terbaru dari MiG-21 dgn mesin MiG-29).

      ## Pakistan juga mengoperasikan AWACS buatan PRC, dan networking yg berbeda untuk JF-17 -- tidak akan compatible, dan kemungkinannya lebih inferior vs operationally proven Link-16 standard NATO, dan Erieye radar.

      ## Paling tidak, biaya operasional Pakistan terjamin jauh lebih murah dibanding India, yg mengoperasikan 11 macam pespur, termasuk Sukhoi yg penghisap uang.

      ## Sedangkan versi MiG-21 Pakistan (produksi PRC) umurnya masih lebih baru, dan relatif lebih aman dibanding MiG-21 Bison India, yg terlalu sering berjatuhan, karena sudah terlalu tua, dan maintenance-nya agak berantakan.

      Delete
  5. akhir neh berita di formil tetap saja mengatakan kontrak su 35 dan anehnya pernyataan hanya dari pihak rusia saja. Dari RI justru tdk ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih ingat cuplikan dari News Update Januari-17, ketika Rostec mngklaim export senjata Ruski sedang "meningkat jauh"?

      ## Sejak order tambahan Su-30 Algeria di tahun 2015,
      R0soboron kelihatannya belum berhasil menutup kontrak baru untuk penjualan Sukhoi.

      Kecil kemungkinannya para langganan lama India, atau PRC masih mau order baru.
      Kelihatannya Ruski sedang memulai marketing ploy utk mencoba menjual Sukhoi.

      Sewaktu isu "pembelian Su-35 akan segera ditutup" sedang memuncak di tahun 2016 lalu, malah jarang ada berita Ruski (dalam bahasa Inggris) yg kedengaran antusias dengan kontrak Indonesia.

      ## Saat ini lebih baik terus meningkatkan kesadaran Nasional, daripada terlalu pusing mau beli alutsista apa.

      "Bersama rakyat TNI kuat!"

      Memang benar, tetapi....

      "Tanpa basis industri pertahanan lokal yang kuat, kita akan hancur."

      Baik Ruski, atau US sekali lagi hanya tertarik sebagai penjual.
      Mereka ingin supaya kita semakin bodoh menjadi pembeli barang import, tanpa ToT, atau kerjasama industri lokal yg menyeluruh, dan jangka panjang.

      "Kalau tidak ada sistem yg baik (seperti sekarang), mau beli seberapa banyaknya alutsista sekalipun, hanya seperti membuang garam ke laut."

      Delete
    2. Iya admin malah katanya selain Su-35 juga ngomongin 2 kapal selam Kilo 636 Varshavyanka sekalian ngomongin heli, tapi sumbernya dari sputnik sih

      Delete
    3. benar bung dark, tau tau Rusia mengklaim bhwa RI menegosiasi kapal selam kilo .khekekek

      Delete
  6. anehnya dari bulan desember. Januari februari, sumber beritanya cuma rostec, sputnik kwhakwakwakwk..sementara sikap TNI AU justru sedang kerja sama belajar Tentang national network punya RTAF kwkhakak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berkat review dari sepak terjang Ruski di Crimea, & di Syria, juga berkat daftar complain India yg tak berkesudahan, mulai ada perubahan pendapat dalam forum2, atau komentar2 artikel berbahasa Inggris ttg alutsista Ruski.

      Persepsi umum komentator awam skrg: Ruski hanya bisa membuat alusista kelas dua, yg kualitasnya buruk.

      Delete
  7. Bung dark rider klo gripen jadi dibeli, apakah tdk ada tekanan dari USA agar F 16 nya laku...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, memang ada kemungkinan US akan mencoba manuver taktik dagang,
      tapi IMHO peluang manuver mereka terbatas di Indonesia, karena ada bbrp alasan:

      ## Paket Transfer-of-Technology dan kerjasama industrial untuk F-16 (dan IF-X), biar bagaimana mustahil bisa bersaing dengan paket yg ditawarkan Saab.

      Kalau negosiator kita berkeras UU no.16/2012, dan industri dalam negeri persyaratan utama, pilihan mrk akan terbatas.
      Sama seperti Ruski mereka hanya menjual Versi Export Downgrade, dimana kedaulatan alutsista harus berada di tangan mereka.

      ## Kedua, US juga tidak akan menawarkan paket AEW&C, yg tidak seperti klaim para pejabat yg lebih memprioritaskan "pengganti F-5E", sebenarnya adalah kebutuhan yg jauh lebih mendesak.

      Ini membuat penawaran F-16 semakin sulit, karena konektivitas ke Link-16 / Link-22 saja masih... belum tentu diijinkan.

      ## Ketiga, karena nilai tukar US$ yang juga tinggi, kita bisa estimasi harga F-16V downgrade, juga akan lebih tinggi 10 - 20% dibanding Gripen-E.

      Seperti di Brazil, Saab akan menutup kontrak dalam mata uang SEK (Swedish Krona).
      Nilai tukarnya ke Rupiah lebih menguntungkan.

      ## Keempat, kita sebenarnya masih mengoperasikan 33 (atau 34) F-16, yg masih tetap akan memerlukan spare part, senjata, dan perlengkapan dari US.
      Dan semua F-16 ini masih bisa operasional sampai sekurangnya 2040.

      Kalau kalah tender dengan Saab, sama seperti di Thailand, mereka masih bisa menghibur diri, krn bukan berarti pasar Indonesia sudah sama sekali tertutup untuk keuntungan industri US.

      Malahan akuisisi Gripen, akan membuka peluang utk US menawarkan paket upgrade yg lebih bersaing. Ini tidak perlu sampai ke spesikasi V.

      ## Kelima, kita juga bisa membuat US lebih senang, dengan terlebih dahulu memperbesar order utk targeting pod, AIM-9X, dan AMRAAM.

      SEMUA perlengakapn F-16 akan compatible ke Gripen.

      Delete
  8. Pespur Itu andaikan Seorang Siswa pelajar dlm kehidupan sehari hari

    Kita misalnya Seorang Siswa sekolah, Ingin berprestasi, Tetapi tidak berusaha belajar dengan Teliti dan rajin, tentu saja Hasilnya zonk . kalau ingin berprestasi, Kita tentunya belajar dengan Teliti dan Rajin.

    secanggih dan Semahalnya Pespur(kayak F22 misalnya), tetapi kalo biaya opnya mahal dan pilotnya jarang terbang, deterentnya pasti beda dengan Pespur yg Sederhana(F16, Gripen,Mirage 2000) biaya efisien, tetapi Pilotnya Rajin Terbang dan latihan, tentu lebih baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, bung Eki.

      Sebenarnya seluruh dunia ini sudah sama-sama tersesat / terjebak dengan persepsi kalau pesawatnya semakin hebat, "efek gentar"-nya semakin tinggi, dan harga / biaya op mahalpun tidak apa2.

      Sebelum tahun 1941, dunia juga pernah terjebak dalam masalah yg sama.
      Sewaktu itu, setiap negara berlomba-lomba memproduksi battleship.

      Semakin besar tonnage yg diperbolehkan, semakin banyak armor yg bisa dipasang, dan semakin besar kaliber main gun yg bisa dibawa.
      "Kapal yang tidak terkalahkan".

      Sekarang battleship mentality ini sudah kembali mendera pemikiran umum.

      Kita bisa lihat, sebenarnya sejak tahun 1970-an, hampir semua AU yg membeli pespur twin-engine itu lebih untuk membeli "prestige buying" dibanding untuk kebutuhan.

      Padahal sejak tahun 1941, ekuasinya tidak pernah berubah.

      Pespur single engine, yg selalu bisa lebih sering terbang, lebih bandel, dan lebih pandai membentuk kemampuan pilot, akan selalu bisa mangalahkan "battleship", mau twin-engine stealth, dll, sama saja.

      Kemampuan pilot akan selalu mengalahkan kemampuan pespur yg hanya alutsista benda mati.

      Delete
  9. bang kalo gitu misal indonesia udah bisa buat apakah nantinya indonesia bisa buat desain sendiri trus desainnya lebih baik gimana..trims maaf banyak soalnya ane masih newbie

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Oki,
      Pertama2, kita harus berhati2 dengan ide "membuat sendiri".

      Apa yg mau kita buat sendiri?

      Membuat pesawat tempur sendiri, seperti KF-X/IF-X selalu akan terdengar merdu di telinga, tetapi ini sebenarnya ide yg sangat menyesatkan.

      Perkembangan industri, dan tehnologi pespur generasi modern sudah berkembang terlalu jauh, dan tidak mungkin bisa terkejar, apalagi kalau tidak mempunyai pengalaman puluhan tahun, seperti para pemain lama.

      Lupakan saja semua mimpi semacam ini!

      Membuat pespur desain baru, tetap akan membutuhkan subystem mesin, radar, networking, defense suite, persenjataan / perlengkapan -- semua pengembangannya sama sulitnya, ata bisa lebih sulit dibanding memproduksi pesawat dari nol.

      Lebih lanjut, bagaimana d3ngan faktor upgradibility? Seberapa mudah pswt itu akan dapat terus mendapat upgrade? Dan, seberapa mahal?

      Program spt KFX Korea, atau TFX Turki terus terang, sbnrnya hanya menipu diri sendiri.

      Kedua negara ini berkata, mereka mau membuat pespur yg lebih modern dari Rafale, Typhoon, atau Gripen, dari basis tehnologi yg jauh lebih rendah, dengan pengalaman minim dan modal yg jauh lebih kecil.

      Modal -- ini faktor terakhir yg terlalu dipandang remeh.
      Dengan memilih desain twin-engine, dan program requirement gamang untuk prioritas "hebat", program semacam KFX akan perlu menghabiskan lebih dari $40 milyar, untuk pesawat yg hasilnya belum tentu bisa lebih baik daripada F-16.

      IMHO, kalau untuk urusan pespur, pilihan yg jauh lebih sederhana untuk semua negara, adalah lebih baik memilih dari antara model yg sudah ada skerg, lalu berpikir seberapa jauh inobasi lokal dapat diinjeksi ke dalam model pswt tersebut.

      ## Disinilah baru kita mengarahkan ide "membuat sendiri" itu ke arah yg benar.

      Baik dari segi faktor resiko, ataupun hambatan tehnologi, jauj lebih mudah untuk memproduksi Nasional Networking, misalnya, dengan kerjasama Saab.

      Tentu saja, National Networking untuk komunikasi antar-alutsista,yg diharapkan begitu inovatif; kebal jamming, dan sulit terdeteksi akan lebih meningkatkan kemampuan alutsista itu sendiri.

      Kenapa kembali, tawaran Saab akan menjadi pilihan terbaik Indonesia?

      Tentu saja, patut dicatat, kalau inovasi lokal tidak akan diperbolehkan untuk semua prspur yg masuk kategori Versi Export, termasuk IFX.

      Gripen-Indonesia akan dapat mudah membantai KFX Korea, yg akan tergantung tehnologi export dari US, bahkan kalau program ini entah bagaimana bisa selamat.

      Delete
  10. terimakasih bang...atas pencerahannya

    ReplyDelete