Tuesday, February 14, 2017

Skandal AW101: Sudah saatnya mendisiplinkan akuisisi Alutsista Indonesia

Credits: Widodo S. Jusuf - DetikNews

Bagaimana bisa helikopter AW-101 MSN 50248 dalam konfigurasi VIP, bisa tiba-tiba diantar ke Halim Perdanakusuma, kalau kontraknya sudah dibatalkan sejak Desember-2016 yang lalu?

Flights Fleet Analyzer dari Flightglobal menunjuk kalau transaksi AW101 berjumlah 3 unit sudah ditandatangani sebelum 24 November-2015. Yah, ini walaupun waktu itu, baik Presiden Jokowi, maupun Komisi I DPR sudah menolak mentah-mentah proposal TNI-AU untuk mengakuisisi AW101.

Kelihatannya, ada yang sudah menandatangani kontrak atas nama Republik Indonesia, tanpa pernah mendapat persejutuan pemerintah / Komisi I DPR.

Nilai transaksi ini juga terlihat overinflated (terlalu mahal), seharga $55 juta, atau Rp 725 milyar, dari estimasi harga kosong (tanpa paket training / customisasi) $27 juta.

Tentu saja, kasus penggelembungan harga yang sama sudah pernah terjadi di tahun 2010, dimana harga 6 Su-30MK2 versi export downgrade, dari list price $48 juta menjadi melambung naik ke $54 juta. Transaksi ini menurut estimasi ICW merugikan negara Rp1,5 triliun. Kalau belum cukup, TS-3006 yang dari transaksi ini, tidak sampai 3 tahun kemudian, sudah harus pulang mudik untuk menjalani "perbaikan mendalam"; dan menambah kerugian negara. Kasus ini tentu saja masih belum terselesaikan.

Sudah saatnya kita mulai memperbaiki pola akuisisi miring, yang akan sangat merugikan negara seperti kedua contoh diatas.  


Kenyataan: Pasar transaksi senjata internasional sangat kotor, dan Indonesia termasuk yang paling beresiko tinggi

Dalam artikel 28-Januari-2013; harian The Guardians melampirkan laporan dari Transparancy International kalau 70% negara-negara di dunia masih belum berhasil mengatasi korupsi dalam transaksi persenjataan internasional. Yah, dan peringkat Indonesia di tahun 2013 ada pada kategori 'E' - atau sangat beresiko tinggi korupsi.
Gambar: TNI-AU
Sudah saatnya kandidat ini juga di-Audit

Harga Mark-Up,
transaksi lewat perantara,
Doyan "perbaikan mendalam"
Semakin sedikit yang masih bisa mengudara,
Tehnologi tahun 1980-an, Tidak bisa di-Upgrade,
dan hanya Versi Export Downgrade,


Kenapa kita masih mengoperasikan pesawat lemon ini?

Biaya operasionalnya saja lebih mahal dari F-22,
yang kemahalan untuk USAF sendiri
Transparancy International mencatat lebih lanjut dalam studinya pada 22-Januari-2016 yang lalu, walaupun semenjak 2013, ada sedikit kemajuan dalam peringkat "korupsi" ke kategori D, atau beresiko tinggi, tetap saja, transaksi alutsista sebenarnya dapat menimbulkan kerugian antara 30 - 40% ke keuangan negara. Walaupun setiap transaksi alutsista seharusnya mendapat persetujuan dari DPR, masih terlalu banyak "lubang" dalam perundang-undangan Indonesia, yang masih memberikan kesempatan untuk para "broker" bertransaksi langsung dengan beberapa oknum pejabat.

Patut diketahui, kalau bahkan banyak negara lainpun juga sudah menderita masalah korupsi transaksi kotor yang sama

Sepanjang sejarah, para penjual dari pabrik langsung, atau para agen perantara, akan selalu memberikan "kickback", atau pesangon kepada pejabat negara potensi pembeli, untuk "memperlancar" transaksi, dan memastikan produknya terbeli.

Lockheed di tahun 1960-an, sampai awal 1970-an sudah termasyur dalam program memberi "pesangon" untuk pejabat negara-negara NATO, mulai dari Jerman Barat, Italia, Spanyol, sampai ke Jepang, untuk memperlancar transaksi penjualan F-104. Setelah skandal ini terbongkar, nlai transaksi payoff, kickback yang dibayarkan Lockheed ke pejabat negara-negara pembeli terhitung mencapai $700 juta di masa itu, atau sekitar $2,5 milyar, kalau dihitung menurut angka inflasi masa sekarang.
"Tidak ada hukum United States yang dilanggar," menurut Kotchian, ex-Boss Lockheed.
"Kalau kita kembali lagi ke masa itu, saya tetap akan melakukan hal yang sama!"
Link: LA Times, 2008

Menurut direktur Lockheed di masa itu, semua praktek sogok-menyogok itu "normal".

Di tahun 2000-an awal, dalam rangka mendobrak masuk pasar penjualan pesawat tempur di dunia internasional, Saab juga sempat melakukan kesalahan yang sama. Kurang pengalaman dalam menjual senjata di pasar internasional, Saab memilih berpartner dengan BAe Systems, untuk membentuk agen perantara Gripen-International untuk mendorong penjualan Gripen.

Memang 26 Gripen jadi terjual, akan tetapi.....

.... transaksi ini berbuntut skandal. 

Gripen-International tertangkap basah menyogok pejabat Afrika Selatan sampai 8% dari nilai transaksi. Kalau belum cukup parah, ternyata 26 Gripen saja terlalu banyak untuk kebutuhan Afrika Selatan, yang anggaran pertahanannya sudah dipangkas habis sejak tahun 1990-an. Dewasa ini hanya SAAF hanya dapat mengudarakan 13 Gripen, sedangkan 13 unit sisanya, harus harus dirotasi secara bergantian dari long-term storage. Jam terbang pilotnya juga sudah dipangkas habis ke hanya 110 jam per tahun.

Austria. Negara kecil yang netral, yang letaknya di Eropa Tengah. Kenapa mereka memutuskan untuk membeli Eurofighter Typhoon Tranche-1? Secara tehnis, dengan Anggaran hanya $4 milyar, mereka lebih membutuhkan F-16 bekas, atau Gripen-C/D sewaan, dibandingkan pesawat tempur $125 juta+, yang biaya operasionalnya diluar kemampuan finansial mereka, sama seperti Sukhoi di Indonesia.

Jawabannya, ternyata Eurofighter Gmbh kedapatan memberikan pesangon "kickback" untuk memperlancar transaksi ke pejabat-pejabat di Austria. 

Yah, bahkan Austria, yang adalah negara Eropa, yang  pendapatan per kapitanya jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia, masih belum bisa menghindari masalah yang sama.

Tentu saja semua kickback yang dibayarkan Lockheed, Eurofighter Gmbh, dan Gripen-International sebenarnya keluar dari kantong para pembeli, yang membayar inflated price untuk membayar komisi pejabatnya sendiri.

Cukup menyakitkan?

Augusta-Westland, pembuat AW101, yang adalah divisi dari Leonardo-Finmeccanica, kebetulan masih menjadi salah satu relic masa lalu, yang kelihatan masih mempraktekkan pola akusisi "pesangon" untuk pejabat. 

Di tahun 2013, mereka sebenarnya baru saja tertangkap basah dalam skandal yang serupa di India. Seperti kasus Indonesia, harga transaksi untuk 12 AW101 juga digembungkan ke harga $770 juta; melibatkan beberapa perusahaan perantara, dan beberapa oknum pejabat. Kasus ini sudah berbuntut prosedur penangkapan Finmeccanica's chief Giuseppe Orsi, dan ex-komandan IAF sendiri. Kasusnya masih berjalan sampai sekarang.

Polemik pembelian AW101, yang sekarang dibahas dalam rapat tertutup di DPR, terlihat jelas mengikuti pola yang sama.

Inilah realita dunia transaksi alutsista Internasional. 

Salesman, atau agen penjual, akan selalu hanya memusingkan mengejar target penjualan, dan tidak akan ambil bagaimana caranya menutup kontrak. 

Sebaliknya, pejabat, yang seharusnya mewakili negara pembeli, akan selalu hanya memikirkan berapa % angka kickback yang mereka dapat dari si salesman.

Dalam transaksi semacam ini, baik negara penjual, ataupun negara pembeli sebenarnya sama-sama rugi.



Semua Akuisisi Alutsista di masa depan harus ditandatangani dalam bentuk kontrak Government-to-Government

Skandal kasus sogok-menyogok Lockheed yang menimpa negara-negara NATO, Eurofighter Typhoon di Austria, dan Gripen-International di Afrika Selatan, semuanya sudah membuka mata pemerintah negara-negara penjual Barat.
  • Semua transaksi dengan industri militer United States, harus dinegosiasikan dalam program Foreign Military Sales, dalam kontrak Government-to-Government Agreement. 
  • Pemerintah Swedia sudah melenyapkan keberadaan perantara Gripen-Internasional, dan seperti dalam kontrak 36 Gripen-E di Brazil, memberikan contoh kalau setiap transaksi dengan Saab, harus melalui FMV dalam transaksi Government-to-Government. 
  • Kontrak 24 Eurofighter Typhoon di Kuwait, dinegosiasikan melalui Government-to-Government contract, antara pemerintah Italy, dan Kuwait.
  • Kontrak 32 Rafale di India, juga ditutup melalui Government-to-Government contract, antara pemerintah Perancis, dan India.
Gambar: TNI-AU
F-16 Block-25+
Salah satu contoh program yang dibeli lewat FMS;
Efek sampingnya, yah, pejabat biasanya lebih menyukai Sukhoi "pecinta perantara",
dibandingkan F-16, yang kemampuannya jauh lebih unggul.
Government-to-Government contract. Inilah kunci pertama meningkatkan transparansi dalam transaksi, dan membebaskan praktek korupsi, atau sogok-menyogok dalam transaksi persenjataan di dunia.

"Gayung bersambut, kata menjawab".

Sebagai langkah awal, seyogjanya pemerintah menambahkan klausal Undang-Undang, yang menentukan secara mutlak, kalau setiap transaksi Alutsista di masa depan HARUS dinegosiasikan dalam Government-to-Government contract.

Tidak boleh lagi ada satu pejabatpun yang mencoba bernegosiasi dengan perusahaan penjual, atau badan perantara. Semua prosedur semacam ini hanya akan merugikan negara, dan memperkaya beberapa individual.

Selama belum ada tindakan lebih lanjut, dan terus mengandalkan Undang-Undang, seperti dalam keadaan sekarang, kemungkinannya cukup besar kalau kasus AW101 ini akan terus terulang kembali. 



Penutup: Meningkatkan Kesadaran Nasional - Alutsista itu bukan mainan

Sebenarnya sangat memprihatinkan melihat reaksi beberapa "oknum" netizen, dalam kasus AW101, atau dalam kasus berita hoax A400M di bulan lalu.

"Wah, akhirnya terbeli juga! Huebat!"
"Ah! Barangnya sudah sampai ini! Kenapa kita tidak pakai saja?"

Astaga! Kok kelihatan gembira?

Alutsista itu bukan mainan

Memang bermimpi itu selalu kelihatan indah; misalnya; 
"Oh, suatu hari, kita akan dapat mengoperasikan, misalnya, 50 Eurofighter Typhoon, 50 IF-X, dan 50 Su-35KI."

Kenyataan akan selalu tidak setuju dengan mimpi.



Realita:
Panggil dahulu para perantara!
Biaya operasionalnya akan lebih mahal dari F-22,
Versi Export Downgrade,
MUSTAHIL bisa lebih unggul dari F-16 Block-25+

Inilah salah satu faktor utama, yang mendorong transaksi miring, seperti dalam kasus AW101 ini, ataupun dalam kasus berita hoax A400M tempo hari. Semua penjual senjata saat ini senang "menjual" macam-macam ke Indonesia, dan lebih menyedihkan lagi, banyak yang mendukung pola beli asal-asalan secara anonym di Internet.

Terlebih dahulu, kita harus mau mulai belajar mawas diri kalau setiap Kebutuhan Pertahanan kita, akan selalu bertemu dengan keterbatasan yang sudah ada. Apa yang bisa dikerjakan di negara lain, belum tentu akan sesuai untuk negara kita.


Anggaran Pertahanan kita akan selalu terbatas. Indonesia adalah negara berkembang; untuk selamanya, fokus APBN akan selalu untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dengan sendirinya, kemampuan daya beli kita akan selalu terbatas. Untuk uang yang lebih sedikit, kita harus mampu bersaing dengan negara-negara tetangga yang memang koceknya lebih tebal. 

Tidak. Kita tidak akan bisa bersaing dengan tetangga dalam hal jumlah. Renstra TNI yang sekarang, sayangnya masih terlalu terpaku kepada jumlah, dan tidak banyak yang lain. 180 pesawat tempur, dan 12 kapal selam itu, seperti membayangkan seolah-olah anggaran pertahanan kita itu suatu hari akan mencapai 10 - 20x lipat dibanding sekarang. Ini tidak akan bisa terjadi.

Sebagai pembanding, Pada Februari-2016, Australia, misalnya, baru saja mengumumkan Defense White Paper mereka, yang menggariskan rencana untuk meningkatkan anggaran pertahanan mereka dari $32,4 milyar di tahun 2016 yang lalu, ke angka $58,7 milyar di tahun 2025 - 2026. 

Tetapi, jangan khawatir....

Sebenarnya Indonesia tidak mengalami ancaman militer dari negara manapun. Australia mencadangkan anggaran pertahanan yang begitu besar, bukan untuk suatu hari menghantam Indonesia, tetapi untuk mempersiapkan diri jangka panjang untuk menghadapi PRC tanpa dukungan United States. 

Yang sering kita lupakan, Australia sebenarnya adalah salah satu negara pertama yang mendukung Kemerdekaan Indonesia. Semasa perang kemerdekaan, Australia turut membantu mem-boycott 559 kapal Belanda, yang mengangkut senjata ke Indonesia, sampai di pengunjung tahun 1948. Ribuan orang Australia juga sudah turun untuk memprotes sepak terjang NICA di Indonesia.

Ancaman terbesar terhadap kedaulatan Indonesia, sebenarnya justru datang dari klaim PRC atas laut di sekitar Natuna, dan dengan demikian justru menempatkan kita pada pihak yang sama dengan Australia, dan United States.

"Mengejar jumlah"Inilah kelemahan terbesar kita. Seperti pernah dibahas sebelumnya, kita sebenarnya tidak lagi membutuhkan "pengganti F-5E", mengingat keadaan ekonomi sekarang, dan kenyataan berikut: 
Efek samping lain dari Renstra, yang "mengejar target",
dan melupakan semua yang lain.
Lalu bagaimana selanjutnya?

Presiden Jokowi sudah menunjuk pada 20-Juli-2016 yang silam, seyogjanya semua akuisisi Alutsista Indonesia harus diarahkan agar sesuai kebutuhan Nasional. Pembelian menurut keinginan, atau mimpi, hanya akan menghamburkan uang, dan pada akhirnya, akan selalu bertabrakan dengan realita.

Berkaitan dengan hal ini, pemenuhan persyaratan Alih Tehnologi, dan pengembangan industri pertahanan lokal dalam akuisisi Alusista, seharusnya selalu menjadi prioritas utama. 

Kemandirian secara strategis militer, dan industrial, dengan jumlah yang lebih sedikit, akan selalu lebih tahan banting, dibandingkan jumlah yang besar, tetapi 90%-nya hanyalah barang Versi Export Downgrade.

Kita membutuhkan Rationalisasi, dan Kesadaran Nasional untuk membangun kembali sistem pertahanan Nasional, sesuai kebutuhan, dan memperhatikan keterbatasan sendiri. Dengan sendirinya, kita akan dapat belajar menghindari pola akuisisi yang "hura-hura", dan sebenarnya tidak diperlukan.

Eurocopter H225M: Saudara misan-nya Super Puma
Dapat mengerjakan misi SAR,
payload 5,670 kg; kecepatan 285 kph, dan jarak ferry range 1,325 km,
Spesifikasinya sebanding dengan AW101

Konsumsi bahan bakarnya 50% lebih hemat,
dengan dua mesin, biaya operasionalnya juga lebih murah,
dan lebih penting lagi:

PT Dirgantara Indonesia sudah memulai produksi License Production 5 unit
untuk TNI-AU sendiri;
30% dari nilai transaksi akan masuk kembali ke kantong lokal.

Loh?!?
Lantas, kenapa TNI-AU sempat berargumen "mau beli" AW101???

Topik yang akan mendatang: 
Memangnya bagaimana caranya membedakan Kebutuhan, dan Keinginan?

Inilah PR untuk semua pembaca artikel:
"Silahkan membayangkan kalau Indonesia diserang negara lain!
Skenario militernya akan bagaimana?"






75 comments:

  1. admin masak ada yang cerita harga Su-35 yang ditawarkan ke kita 160 juta USD, padahal China beli cuma 85 juta USD, entah bener atau enggak tapi itu cari penyakit atau apaan? iya bener admin semua harus G to G, kalau enggak gak masuk akal nanti, Rosoboronexport itu berpotensi terjadi penyelewengan dana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh iya admin, itu kapasitasnya sebagai apa sih Ibu X, kok heli AW-101 penuh kontroversi malah dibela2in tambah gila malah ngomong kita harus beli sampai 13, itu orang kenapa ?

      Delete
    2. ## AW101; seperti dalam artikel;
      Seperti di India, Augusta-Westland akan menawarkan pesangon komisi "kickback", untuk siapapun yg akan memperlancar transaksi ke Indonesia.

      Sepertinya, pemerintah kita harus menghubungi pemerintah Italy, atau UK untuk mengurus kasus ini lrbih lanjut.

      ## Su-35KI.
      Memang dibelakang layar, sebenarnya Ruski sih tidak pernah antusias menjual "crown jewel" mereka ke tukang hibah anti-komunis Indonesia.

      Kita saja yang terlalu ge-er.

      Yah, tak heran mereka sengaja mempersulit transaksi; menaikkan harga setinggi mungkin, dan menurunkan spesifikasi serendah mungkin.

      Setelah dikhianati, Ruski akan melihat seberapa jauh kita bisa dibodohi demi membeli "mimpi yg tak bisa tercapai".

      Delete
  2. Kenapa Indonesia hanya bisa mengikuti latihan Cope West dan Pitch Black?
    Itu karena Australia dulu dipimpin partai buruh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya dewasa ini mulai ada kesadaran di Australia;
      Mereka membutuhkan Indonesia menjadi lebih kuat dari sekarang... justru untuk menjamin / membangun keamanan bersama.

      Delete
  3. Kabarnya TNI AU Juga tertarik sama DRDO-EMB India.tapi menurut saya lebih bagus Globaleye.sebenarnya pesawat AEW&C Lebih penting ketimbang menambah pespur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, bung @eki,

      Kita sbnrnya lebih membutuhkan AEW&C, dan lebih baik mengambil pilihan Saab, yg baik kemampuan, atau ToT-nya akan selalu lebih terjamin,
      dibanding produk anak kemaren sore yg lain.

      (Tertarik, mungkin karena potensi sales kickback?!?)

      Untuk pespur, kita memang lebih baik bersabar menunggu sampai Sukhoi (terutama), dan BAe Hawk mulai dipensiunkan.
      Biaya operasional Sku-11 Sukhoi saja sudah lebih mahal dibanding semua Sku TNI-AU yang lain.

      Delete
  4. TNI AU Juga sudah mulai pusing dengan sukhoinya, karena mahalnya biaya opnya, ditambah ekonomi yg terus memburuk, kemungkinan Dana 1,14miliar TNI AU mungkin dialihkan buat beli gripen. apalagi india,masalah sukhoinya lebih runyam lagi. kemungkinan besar kenyataan selanjutnya Pemerintah akan mengambil paket gripen system dan erieye.

    ReplyDelete
  5. Finlandia Mengganti BUK M1 dengan NASAMS. Georgia mulai mencari pengganti MI24. India Memerlukan Seahawk, meski ditawari rusia heli ka 32, Tapi india tetap ingin Seahawk. seperti juga dengan AU India yg ingin Rafale, ruski menawarkan Su 35 dan MIG35, india juga tetap tidak bergeming. berarti Alutsista produk ruski mulai berhenti dibeli oleh india. india sekarang lebih memilih produk AS dan EU

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang India kelihatannya sudah mulai beralih ke US, dan EU.
      Mereka kelihatan capek dngn kualitas produksi jelek, biaya operasional mahal, spare part supply susah, komisi perantara, dan aftersales service Rosoboron, yg "cemerlang".
      Sudah complain belasan tahun juga, perubahannya sangat sedikit.

      Hanya saja, masalah India sbnrnya lebih kacau dari yg terlihat.
      Seperti kanker stadium 4, akan sangat sulit mengurangi secara bertahap pengaruh para perantara alutsista Ruski, yg sudah bercokol sejak tahun 1960an.

      Semuanya akan tergantung komitmen pemerintah mereka.

      Delete
  6. ralat : *kemungkinan besar kenyataan selanjutnya pemerintah indonesia akan mengambil paket Gripen&erieye system. soalnya pemerintah indonesia dan swedia sudah menandatangani kerjasama jangka panjang dibidang pertahanan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja.

      Sebenarnya kasus transaksi tak jelas spt AW101 ini menggarisbawahi Kelemahan utama pertahanan kita: terlalu banyak mimpi, dan usaha memperkaya diri,
      Serta kurang banyak upaya untuk membangun Sistem pertahanan modern yang justru kita butuhkan.

      Selama tidak ada sistem untuk menjadi pegangan, yah, akuisisi alutsista akan terus ugal2an seperti sekarang.
      Merugikan keuangan negara, tanpa akan ada hasil yg berarti.

      Karena sejauh ini, kelihatannya kita masih terus seperti "anak kecil",
      Pemerintah yg akan harus menentukan sikap:

      ## Mengambil tawaran kerjasama dengan Saab, untuk memberi kesempatan kita belajar,
      ... dan seiring dengan itu, juga disertai akuisisi 2 Skuadron Gripen, dan Erieye AEW&C...

      A T A U....

      ## Yah, terus membeli rongsokan versi export, dan dengan demikian selamanya akuisisi / operasional / industri lokal akan terus dirudung kekacauan, atau skandal2 baru.

      Dan dengan demikian, kita akan menderita kerugian berat lagi 30 tahun ke depan,
      sama ketika dahulu karena alasan politik, pemerintah Orde Baru melewatkan tawaran Dassault Mirage 2000 di tahun 1986.

      Saat ini, kendala utama pemerintah lebih menyorot ke keuangan,
      dan hambatan dari beberapa "mafia" alutsista, yang masih menginginkan transaksi lewat broker.

      Delete
  7. kalau emang panglima TNI g punya kuasa mementukan alutista mana yg dibeli berarti akar permasalahannya y di kemenhan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kasusnya sejauh ini masih dalam tahap penyidikan;
      semoga saja buntutnya menggulung semua mafia alutsista penghambur keuangan negara, yang memang disenangi para penjual alutsista.

      Kasus ini akan menjadi bahan pegangan baru di masa depan;
      Sepertinya ada praktek penggelapan dana Rp725 milyar di tahun 2015, yg entah darimana asalnya...

      Gilanya,
      kalau yg datang ini Sukhoi, kemungkinan para fanboys sudah bersorak-sorai...

      Masakan kita mau mendukung praktek korupsi terbuka?

      Kesadaran inilah yg harus kita galakkan terlebih dahulu.
      Selama kesadaran masyarakat masih rendah, yah, skandal semacam ini akan selalu terjadi lagi.

      Delete
  8. itu India apa-apaan sih nge blow up media secara one sided tentang Tejas Mk.1A sama Netra AEWC? baca di salah satu website pertahanan I...m.......com, wakil presiden SAAB sampai ngeklarifikasi kalau netra tidak ada kaitan sama SAAB. ini bener kita tertarik atau berita yang di blow up satu pihak aja kayak A400

    ReplyDelete
    Replies
    1. LCA Tejas sebenarnya begitu bermasalah;
      India saja meragukan kalau akan sesuai harapan, apalagi untuk dijual ke negara lain.
      Kita akan membahas di lain waktu, sebagai contoh proyek "pesawat buatan sendiri" yg tidak kesampaian.

      Err.... Untuk AEW&C...
      Kembali lagi, Erieye AEW&C adalah radar tipe AESA, yg pertama di dunia.

      Keunggulan utamanya bukan hanya terbatas di konstruksi secara tehnis, melainkan software source coding-nya, untuk memproses data sensor feedback yg diterima, dan sekaligus meminimalisasi exposure ke RWR lawan.

      Sejauh ini, seperti kita bisa lihat, bahkan Ruski sendiri, supplier senjata utama India,
      masih belum berhasil memasang AESA radar yg kemampuannya bersaing.... dan mereka sudah mencobanya 10 tahun lebih, tanpa ada hasil yg berarti.

      Permasalahannya tidak hanya berhenti di industri elektronik, tetapi kembali, seperti diatas.
      Programming codes, yg bisa mendapai ratusan ribu baris.

      Dalam hal ini, AESA radar buatan Barat, yg sudah berganti tiga-empat generasi, sudah terlampau jauh di depan dalam "learning curve", dibanding "newbie" Ruski, PRC, atau India.

      Delete
  9. Sy mengundang bagi anda yang mau menuliskan skenario imajinatif.

    Seandainya Indonesia diserang aggressor, skenario apa yg akan terjadi?.

    Dalam andai2 ini, serangan bisa terjadi dari arah mana saja.
    Siapa, hanyalah aggressor-X, bukan negara tertentu.

    Beberapa hal yg harus diperhitungkan:

    ## Aggressor-X sudah pasti harus lebih kuat dibandingkan seluruh TNI.
    Sederhananya, banyak kapal, pesawat, tentara, dan mereka juga mempunyai satelit pengintai.

    ## Apakah si aggressor akan menyerang salah satu dari lima pulau besar Indonesia?
    Ataukah, hanya akan menyerang beberapa titik strategis (pulau) tertentu?

    ## Dengan Alutsista yg sekarang, bayangkan bagaimana TNI dapat "menangkis" serangan tersebut?

    ## Berapa lama konflik ini akan berlangsung? Bagaimana penyelesaiannya?

    Perlahan-lahan saja, skenario tidak perlu terlalu mendetail.
    IMHO, salah satu kesulitan dalam diskusi formil Indonesia, sepertinya kebanyakan orang kesulitan membayangkan skenario "serangan lawan", yg mungkin terjadi.

    Bahkan TNI sendiri, boleh dibilang sepertinya masih bingung untuk mendapat gambaran yg jelas.

    Bukan! Australia sih tidak akan menyerang kita :)
    Tp... dalam skenario ini, mau membayangkan mereka yg menyerang juga boleh.

    Hasilnya akan dimuat dalam artikel mendatang,

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa habis kita admin, ngelawan armada udara lawan. listrik,sistem komunikasi,layanan udara kita bisa lumpuh gara2 air supremacy lawan. pertempuran laut armada laut kita belum cukup mumpuni. sedangkan agresi darat mereka gak perlu serbu jawa & sumatra.mereka bakal mendarat di pulau2 kaya SDA tapi populasi rendah. kita perlu reorganisasi massive yang diawalin dari Gripen + AEWC Erieye + National data link. kita bikin gerilya di udara lewat Gripen serta kekuatan udara yang tangguh lewat misil2 dari Eropa mau gak mau APBN pertahanan harus naik ini, sistem peringatan dini melalui AEWC Erieye, sama jaringan komando lewat national link supaya jaringan komunikasi radar, armada laut serta arhanud berbasis RBS-23, RBS-70, dan meriam Bofor terhubung dalam satu sistem network dan terkoordinasi

      Delete
    2. berawal sejak battle of britain, setiap perang pasti lawan pasti berusaha untuk menciptakan air supremacy, kita harus bikin AU & pertahanan udara yg kuat, sistem pertahanan yang terkoordinasi lewat data link, armada laut yang kuat. udah bukan konteks buat ngomongin pasukan khusus ini itu atau infantry & gerilya. ini abad 21.kita harus adaptasi

      Delete
    3. https://www.alternatehistory.com/forum/threads/whiskey-on-the-rocks-the-soviet-swedish-war-of-1981.259692/
      cuma alternate history sih tapi lumayan menarik tentang skenario perang Swedia - Uni soviet. semua pasti tentang kekuatan udara & laut. itu fokus utamanya

      Delete
    4. =======
      ...mereka bakal mendarat di pulau2 kaya SDA tapi populasi rendah
      =======

      Betul bung Thomas,
      Inilah permasalahan pertama yg akan dihadapi pertahanan Indonesia.

      Untuk pulau2 yg populasi & ukurannya besar, sbnrnya aggressor hanya akan membom lanud, atau pangkalan2 militer, dan..... yah, begitu saja.

      Setelah melihat semua konflik, mulai dari jaman perang kemerdekaan kita dahulu, kemudian semua konflik di Vietnam, Afganistan, Iraq --- seberapapun kuatnya, sudah tidak ada lagi negara aggressor yg masih mau mengambil resiko utk mencoba mendaratkan tentara di daerah / negara yg populasinya terlalu besar.

      Efek gentar pulau2 besar Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan sekurangnya juga kepulauan Maluku -- adalah populasi masyarakat sendiri. Terlalu mudah untuk memulai perang gerilya yg berlarut2, yg hanya akan sangat merugikan aggressor.

      Sebaliknya, pulau2 kaya SDA, yg populasinya rendah, tidak akan mempunyai pertahanan yg sama.

      Dan memang, sepertinya kunci pertahanan Indonesia pertama terletak di Alutsista udara / laut.

      Ayo, lanjut semua masukan lain!
      Dari sini, kita bisa melihat Kebutuhan pertahanan Indonesia yg nyata, secara strategis.

      Delete
  10. kalau dari kebanyakan skenario yg saya baca sih ahirnya indonesia menang atau seri tapi bukan karena alutistanya tapi ngandelin pasukan elitnya(kopasus,kopaska,dll)taktiknya juga kebanyakan ngandelin sabotase

    ReplyDelete
    Replies
    1. =====
      ... pasukan elit (Kopasus, Kopaska, dll), yg akan mengandalkan serangan sabotase, dll..
      =====
      Betul,
      Ini sebenarnya akan berkaitan dengan masalah yg ditunjuk bung Thomas di atas...

      ======
      .... mereka bakal mendarat di pulau2 kaya SDA tapi populasi rendah
      ======

      Pasukan elit yg mobilitas, maupun kemampuannya sangat tinggi, utk men-counter attack serangan lawan di pulau2 populasi rendah.
      Ini sudah menunjuk kebutuhan utk mobilitas tinggi, dan kita mesti lebih pandai koordinasi daripada lawan.

      Masalah yg kelihatan berikutnya jelas:
      Pasukan Elit tidak akan bisa berhasil tanpa support dari luar.

      Kembali, harus ada upaya melindungi jalur laut / udara utk dapat mem-support tim2 elit ini, bukan?
      Sendirian, dan tanpa support sih, hanya masalah waktu sebelum pasukan yg seberapapun hebatnya akan digulung lawan.

      Lanjut...

      Delete
    2. jika seandainya kita diserang musuh yg lebih kuat maka taktik terbaik yg bisa kita pakai y pakai taktik gerilya yg sudah kita kuasai dgn baik dari jaman perang kemerdekaan masalahnya bagaimana supaya musuh juga terbawa dgn taktik gerilya kita mengingat mush pasti akan berusaha mengahiri perang secepat mungkin

      Delete
    3. kita perlu mobilitilas, satuan armada eskorta & kcr yang terkoordinasi, kita tidak bisa kasih lawan kita air supremacy, dan penting network centric warfare & kekuatan udara laut yang efektif. kalau harus ada perang, pukul mereka dengan pukulan telak di udara dan laut kita tidak bisa nerusin perang jangka panjang, sementara itu kita hubungi PBB dan intervensi negara yang punya kep. dengan kita, gak perlu dukungan militer tapi politik

      Delete
    4. bakal sukar buat ngandalin infantry & elite forces buat ngelawan " amphibious style blitzkrieg ". APBN kita harus naik dan pola pertahanan kita harus diadaptasi ke abad 21

      Delete
    5. soal APBN sih saya g terlalu khawatir mengingat kalau lagi perang berapapun APBN kita 100% semuanya pasti bakal dipakai buat kepentingan perang g kek sekarang cuma 1,5%

      Delete
    6. kita bersiap jangan pas udah perang tapi ancang ancang sebelum perang, AU musuh pasti ngincer target vital di Jawa & Sumatra buat mutus rantai komunikasi dan komando, ini gak boleh kejadian. kita perlu pesawat AEWC buat ngedetect serangan udara dini, kita perlu pespur kecil efektif & ekonomis bahkan siap tempur di lewat landasan jalan raya seandainya pangkalan udara kita habis dibom.

      Delete
    7. MBT kita emang keren tapi bakal jadi target serangan udara yang mudah kayak battle of sedan 1940, kita perlu AU yang kuat, itu fiks berikut arhanud mobile dan effektif sama spaag ( self propelled anti aircraft gun ) juga mobilitas APC, IFV, medium tank, sama misil anti tank

      Delete
    8. AU & arhanud kuat, sistem radar & AEWC, mobilitas, network centric warfare, armada laut yang efektif sama serangan amfibi yang didukung unsur laut dan udara.

      Delete
    9. hmm mungkin wajib militer juga harus diberlakukan kalau pas masa perang tapi keknya g perlu kali y g wajib militer juga rakyat kita ud pada militan hehe

      Delete
    10. Lihat saja, sejauh ini strategi yg dibutuhkan mulai kelihatan jelas, bukan, kalau sampai kita diserang lawan?

      Mobilitas tinggi untuk kemampuan hit-and-run
      --- krn aggressor sih sudah pasti akan selalu lebih kuat....
      dan kalau memang lagi menyerang --- pukulannya harus berhasil menimbulkan kerusakan yg berat.

      Sekarang ini argumennya:
      "...makanya, NKRI harus lebih kuat dari sekarang! Kita butuh banyak JUMLAH!"

      Sayangnya, JUMLAH hanya memberikan false sense of security.

      Sepanjang sejarah, pihak yg merasa menang jumlah, selalu dapat dipercundangi oleh lawan yg lebih gesit, lebih terlatih, dan dapat menyusun strategi lebih baik -- justru karena jumlah mereka lebih sedikit, dan dapat memanfaatkan mobilitas yg lebih tinggi.

      Delete
    11. betul admin, kita bukan butuh jumlah tapi efisiensi dan optimalisasi. program 180 pespur itu terlalu gila buat direalisasikan. kita cuma perlu maksimal 6 skuadron pespur single engine ( Tucano & pesawat latih T-50 gak dihitung ), stok misil2 WVR & BVR, FFI, data link, joint mounted helmet display, sniper pod, pesawat AEWC, heli & pesawat ASW & MPA,radar darat & arhanud yang tersambung sama pespur AU, pesawat tanker yang cost effective. 6 skuadron pespur single engine tapi efektif seperti yang saya barusan sebut jauh lebih masuk akal daripada ide gila 180 pespur.

      Delete
    12. 6 skuadron itu udah maksimal lho admin, gak perlu tambah lagi, pokoknya maksimalkan dulu apa yang ada. harapan sih dari 6 itu diisi 4 skuadron Gripen dan 2 F-16. Udah lengkapin dulu itu.

      Delete
    13. kenapa kita terlalu obsesi dgn jumlah? lol mungkin karena pejabat kita terlalu terobsesi sama rangking GFP.com

      Delete
    14. iya padahal GFP.com itu referensi nya kurang valid atau enggak pejabat kita seneng dapat komisi dari perantara penjualan

      Delete
    15. oh iya misil air to surface kayak RBS-15 F penting itu, lebih top lagi kalau TNI-AL misilnya sama tapi beda varian RBS-15 Mk.3 bisa itu buat program misil nasional kita, sementara ini Exocet dulu.

      Delete
    16. yah, dan inilah point berikut yg tidak kalah penting:

      KALAU mau mempertahankan Indonesia secara strategis, sudah seharusnya setiap Angkatan mulai berinvestasi di Anti-ship missile.

      Sejauh ini hanya TNI-AL yg mengoperasikan Exocet, tapi...
      ....RBS-15 sudah ditawarkan untuk diproduksi sendiri.

      Sub-variant-nya bisa ditembakkan dari udara, darat, ataupun laut.

      Kita akan membahas beberapa skenario menarik re Pertahanan Indonesia, dalam post mendatang.

      Ini akan turut menjelaskan bagaimana membedakan Kebutuhan Nasional,
      ... dari pola akuisisi serabutan seperti sekarang, yg hanya membuat kita jadi bahan tertawaan negara2 lain.

      Kalau masih ada yg punya info lebih lanjut, re berbagai skenario seperti diatas, silahkan tulis tambah!

      Semua perencanaan strategis itu tidak dimulai diatas kertas, "...jumlah yg kita butuh itu berapa.."

      Tetapi kita telebih dahulu membayangkan, apa skenario terburuk yg mungkin terjadi kalau benar menghadapi aggressor!

      Inilah dasar dari pola perencanaan NATO, atau Pakta Warsawa selama Perang Dingin.
      Kedua belah pihak membayangkan skenario terburuk (dengan, atau tanpa senjata nuklir), dan bagaimana cara men-counter-nya.

      Keberhasilan Israel dalam perang 7 hari di bulan Juni-1967, bukan karena mereka menang jumlah,
      tetapi karena mereka jauh lebih unggul dalam perencanaan, latihan yg lebih intensif, dan keunggulan mobilitas yg jauh lebih tinggi.

      Finlandia sebenarnya cukup berhasil mematahkan serangan Soviet semasa Perang Dunia II. Mobilitas lebih tinggi, dan kemampuan membuat kerusakan yg terlalu besar ke Red Army.
      Helsinski, adalah salah satu ibukota yg tidak pernah tersentuh lawan dalam Perang Dunia II; menyamai prestasi London, Washington DC, dan Moscow (sbnrnya nyaris!!).

      Delete
    17. bung Dark..sekedar mau tanya aja..kabar terbaru mengatakan satu unit SU 35 seharga $165 juta lengkap..benarkah hal itu?

      Delete
    18. Angka ini sepertinya asumsi yg diambil dari anggaran $1,2M untuk "pengganti F-5E", ternyata hanya bisa membeli 8 Su-35.

      Tidak.
      Su-35 sih belinya tidak akan bisa lengkap;
      Versi Export Downgrade, tidak akan ada alih tehnologi, dan maintenance-nya akan harus dilakukan di Ruski.

      Delete
  11. SAAB bakal incar peluang di Indonesia Air Show 2018 mendatang?
    Mungkin masyarakat Indonesia cuma melihat pesawat tempur seperti SU-35 dari badannya yg gede padahal harus dinilai dari kemampuannya padahal belum tentu battle proven
    Mungkin komentar diatas bener tuh pesawat yang dibutuhkan harus sering terbang dan perawatan yg mudah dan murah.bukan pesawat versi ekspor yg butuh perbaikan mendalam di negara asalnya
    Fansboy Sukhoi tidak tahu apa itu Rosoboronexport dan terlalu memuji kekuatan indonesia di thn 1960an padahal gara2 fokus beli alutsista Soviet dan RRC,kita jadi negara termiskin didunia padahal Soekarno tidak memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.
    Kan JF-17 Thunder hasil kerja sama India dan Pakistan.
    Saya tau India kenapa ingin beli P-8A Poseidon

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kita doain aja semoga pertumbuhan ekonomi menguat sama tax amnesty sukses, sekalian kan kata Ibu Sri Mulyani anggaran pertahanan naik 100 % tahun depan kalau itu semua sukses, nah kita beli Gripen tapi bukan Gripen C/D MS-20 tapi langsung ke Gripen E/F + Erieye atau Globaleye + Data link mungkin kita baru terima tahun 2022, sekalian kita kirim insinyur-insinyur kita ke Linnkoping. Toh juga kita gak buru-buru amat

      Delete
    2. Yah, inilah beberapa miskonsepsi berikutnya:

      ## Kekuatan Udara Indonesia di tahun 1960-an, sebenarnya "tidak pernah siap tempur". Kita justru beruntung tidak pernah teruji, karena hanya akan dibantai mudah dalam era Konfrontasi Malaysia.

      ... akibatnya mitos ini masih merebak sampai sekarang; melupakan embargo Soviet yg kemudian menghancurkan armada kertas ini.

      ## Sepanjang sejarah, sbnrnya tidak pernah terbukti kalau twin-engine fighter lebih unggul daripada single-engine.

      Single-Engine (kecuali F-35 Lemon II) sebaliknya akan selalu lebih unggul karena:
      + Jumlah jam terbang latihan pilot akan selalu lebih banyak
      + Sortie rate & kesiapan tempur akan selalu lebih tinggi
      + Ukuran lebih kecil, drag rate lebih kecil, dan selalu lebih lincah
      + Tentu saja, operasional cost selalu lebih rendah, dan barangnya lebih bandel.

      Kemampuan pilot sebenarnya adalah penentu utama kemenangan dalam pertempuran udara; dan tentu saja, karena semua keunggulan diatas, pespur single-engine, akan selalu menjadi platform yg lebih baik untuk membentuk pilot yg lebih handal.

      Kalau belum cukup parah, Sukhoi twin-engine bongsor itu bukan hanya akan menjadi target yg lebih gampang ditembak jatuh, gampang rusak, dan biaya op-nya mahal, tapi kemampuan BVR-nya terjamin N-I-H-I-L.

      Delete
    3. sengaja itu admin RBTH ngeluarin berita tentang AURI tahun 60an, biar kita beli produk mereka. licik itu propaganda nya atau cara marketing produk mereka

      Delete
    4. berita sepihak dari Rostec mereka mngatakan kontrak SU 35 untuk AURI akan ditandatangani beberapa bulan ... padahal menhan belum beri pernyataan apapun tentang SU 35

      Delete
    5. Kebanyakan berita dari Ruski 90% propaganda, dan hanya 10% fakta.
      Jadi... lebih baik cuekin saja mrk mau ngoceh apa.

      Sebenarnya, skrg ini, kalau kita memperhatikan perkembangan terakhir;
      kita sudah bisa mengambil kesimpulan aman:
      Su-35 Kommercheskiy Indonesia tidak akan pernah bisa dibeli.

      Delete
  12. admin, katanya kita beli UAV Skeldar V-200 dari SAAB. kayaknya arah-arah kerjasama kita kedepannya udah kerasa condong ke arah SAAB, SAAB kata saya bukan cuma cocok buat TNI-AU tapi juga matra darat sama laut. admin ada yang cerita sejauh ini cuma ada 3 tawaran kerjasama proyek misil nasional, 1) misil ESSM proyek Norwegia & US malah dulu Westinghouse mau bikin pabrik di Indonesia, tapi kita malah gak bersedia, 2) misil C-705 China, tahu sendiri lah ceritanya bagaimana, 3) misil RBS-15 dari SAAB Swedia ditawarkan untuk produksi bersama dan dibawah lisensi SAAB tapi belum ditindak lanjuti serius. Duh padahal ini strategis sekali, kebayang kalau Indonesia bisa buat misil sendiri berdasarkan lisensi SAAB, bakal timbul efek gentar sesungguhnya. sebagian dari kapal TNI-AL tentu masih pakai Exocet, tapi kedepannya kita bisa sebagian adaptasi pakai RBS-15, tentu modifikasi PKR 10514 kita pakai radar SeaGiraffe sama CMS dari SAAB. duh, ini harusnya masuk prioritas, tawaran luar biasa dari SAAB. Di Asia tenggara, cuma Vietnam yang bisa bikin misil berbasis Kh-35 kalau tambah Indonesia mengusung RBS-15 Mk.3 widih ini baru pamor kita naik, apalagi itu bisa buat jadi misil pespur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. UAV Skeldar V-200 --- menarik.

      Secara tehnis UAV VTOL, spt helikopter, dengan endurance (waktu terbang) pendek -- hanya 5 jam.
      Perlengkapannya dapat di-customisasi menurut kebutuhan; mau surveillance, 3D Mapping, SAR, ISR, atau bahkan... SIGINT (Signal Intelligence).

      Sebenarnya produk ini buatan perusahaan Swiss UAV, yg berpartner dengan Saab. Logikanya mudah; produk ini memperkaya portfolio Saab.

      Indonesia ternyata customer pertama.

      =======
      http://navaltoday.com/2017/02/15/indonesian-defence-ministry-becomes-first-skeldar-v-200-customer/
      =======

      Mari kita melakukan beberapa checklist untuk akuisisi ini:

      ## Apakah memenuhi kebutuhan?
      Yah, kelihatannya memang ini bukan semacam akuisisi "prestige buying" seperti Leopard, atau AW101 (yg hanya produk saingan dari PT DI).

      Kebutuhannya nyata, karena negara kepulauan seperti kita sbnrnya masih membutuhkan jauh lebih banyak UAV dari sekarang, untuk mengawasi territorial.

      Kendala utama Indonesia.... hanya faktor politis; karena sebenarnya Israel yang menguasai pasar high-endurance surveillance UAV;

      IAI Heron, misalnya, dapat mengudara selama 52 jam terus-menerus --- inilah fungsi utama UAV.

      UAV Skeldar boleh dibilang akan mengisi kebutuhan utk UAV jarak terbatas. Kita lihat bagaimana prosedur penggunaannya kelak.

      ## Apakah akuisisi dengan pesangon "kickback"?
      Kelihatannya penandatangannya dari DepHan, dan diumumkan secara resmi (tidak seperti AW101 yang main sembunyi2).

      Yah, kalaupun berguna, kita harus selalu mengecek apakah akuisisi ini akan sah, atau tidak terlebih dahulu. Semoga ada informasi lebih banyak dalam hal ini.

      Delete
    2. RBS-15;
      memang benar.

      Entah kenapa, walaupun Saab sudah menambah penawaran Gripen, dengan produksi RBS-15 sejak tahun 2014, kelihatannya TNI masih kurang antusias.

      Eh, tetapi malah lebih tertarik mencoba membeli C-27J, pesawat amphibi, rongsokan Su-35KI, AW101 (seperti diatas) --- segala sesuatu yang tidak relevan dengan kebutuhan Nasional.

      Setelah kasus AW101 ini, kita bisa menebak alasannya, bukan?

      Kurang banyak "kickback".

      Delete
  13. admin, itu kok di defence.pk indonesia, lihat berita dari interfax.ru kok dibilang kita bakal ttd kontrak 12 Su-35 tahun ini, aduh ni padahal terhitung baru awal tahun udah bnyak berita gila dari AW101, A400M, Tejas Mk.1A, Netra AEWC. aduh ini bener dikit lah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, itulah...

      Karena semua orang (baca: penjual) tahu kalau sistem akuisisi kita itu berantakan.
      ....sangat mudah tergoda (asal bayar "kickback" ke pejabat yg tepat); sampah sebagaimanapun jeleknya juga akan dibeli tanpa banyak pertimbangan.

      Ini akan menjadi sambungan dalam topik selanjutnya: Kenapa Pemerintah harus mulai mendisiplinkan akuisisi II.

      Oh..... Tapi jangan terlalu khawatir kalau beritanya dari website .ru;

      RBTH, RT, Sputnink News, atau hampir semua media berita Ruski ini sbnrnya dikuasai para biro propaganda pemrintah, walaupun menyajikan berita dalam bahasa lokal, atau Inggris.

      Kira2 hampir sama seperti TVRI, dan RRI di masa Orde Baru;
      hanya memberitakan apa yg diperbolehkan.

      Kredibilitas kebenarannya hanya antara 0,00001% - 1%.

      Contoh:
      ## Pembelian 24 Su-35K PRC, karena PRC sendiri belum benar menkonfirmasi; kelihatannya belum tutup kontrak, tp berita .ru bilang kalau pesawatnya sudah siap delivery (!!)

      ## Pembelian 50 MiG-29 Mesir... seperti dituliskan dalam News Update Januari-2017;
      Rosted klaim sudah siap delivery, tapi kelihatannya juga.... belum ada kontrak (!!)

      ## MiG-35, dari 10 tahun yg lalu dibilang akan menggunakan Zhuk-M AESA radar, eh, ternyata masih membawa Zhuk doppler radar... Propaganda...

      ## PAK-FA akan siap operasional sebentar lagi (!!!)
      .....eh, padahal radar & mesinnya masih sama persis dengan Su-35S, kualitas konstruksinya belum mencapai RCS Stealth, dan semua jenis missile BVR-nya juga... masih belum siap.

      kenyataannya sih, mrk tidak akan pernah punya cukup uang utk menyelesaikan proyek ini.

      ## Iran, juga sudah dirumorkan akan membeli Su-30MK2, atau S-300/S-400 system, bahkan sewaktu dahulu masih dibawah embargo militer dari PBB.

      US, dan Israel sih sudah siap tempur sejak lama, akan tetapi kembali... Kelihatannya tidak pernah ada kontrak.

      Istilahnya: "Alternative Facts"

      Buktinya tidak perlu ada, yg penting "pengumuman resmi", yah, dalam tanda kutip.

      Delete
    2. oh baguslah. udah gak jelas itu pemberitaan media Russia klaim sana sini sembari penggiringan upaya publik doang.

      Delete
  14. Iya ini PR besar buat reformasi di tubuh TNI. Pembelian alutsista memang menjadi sumber korupsi. Dan bagi Jokowi untuk segera membereskan ini, perlu waktu yang lebih panjang. Karena biar bagaimanapun, TNI itu seperti punya authority yang sulit disentuh.
    Salah satu strategi yang sedang dilakukan adalah meminta TNI untuk mengawal penerimaan pajak, dan dijanjikan anggaran naik 2x. (https://news.detik.com/berita/d-3400766/tni-dijanjikan-tambahan-anggaran-100-jika-target-pajak-tercapai)

    Btw, pengganti F-5 tidak segera diputuskan sebenarnya adalah strategi pemerintah juga untuk menunggu saat yang tepat supaya mark-up bisa ditekan, dan dihilangkan. Salah satu kebijakan yang baru, tidak lagi menerima barang hibah. Termasuk barang 2nd yang rawan kecelakaan. Disini semoga membuka kesempatan SAAB untuk bisa masuk menjadi backbone TNI AU masa depan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya semoga aja tax amnesty sukses dan pertumbuhan ekonomi sekalipun ramalan berbagai lembaga keuangan internasional berkisar 5.1 - 5.4 %, semoga dengan proses pembuatan infrastruktur,energi,dll. kita bisa tumbuh sampai 5.6%, jadi anggaran pertahanan 2018 naik 100% alias 216 Trilyun rupiah sesuai janji Bu Sri Mulyani, juga semoga janji Presiden Jokowi tercapai untuk anggaran pertahanan mencapai 250 Trilyun.

      Delete
    2. Bung @afan,
      Selamat datang :)

      =======
      Karena biar bagaimanapun, TNI itu seperti punya authority yang sulit disentuh.
      =======

      Kalau anda perhatikan, TNI sedang dalam Tahap Peralihan Babak II.

      Babak Peralihan I dimulai dari tahun 1998 dngn lengsernya masa Orde Baru, yg kemudian disusul oleh.... harus mengakui hasil referendum Timor Timur, dan dngn demikian mengakhiri konflik sejak tahun 1970-an ini.

      Untuk pertama kalinya, anggota TNI kemudian tidak boleh lagi menjadi anggota di MPR/DPR, dan seiring dengan itu, mulai ada peralihan.... ke pemerintah demokrasi sipil, yg tidak lagi bisa didominasi TNI, spt jaman Orba.

      Masa ini juga masih mendapat satu perubahan penting yg lain.

      Di tahun 2000; Polri, akhirnya juga dipisahkan dari ketiga angkatan TNI, dan menjadi lembaga yg independen.

      Tahap I ini kemudian selesai di pengunjung tahun 2004, ketika Tsunami Aceh menjadi pemicu perjanjian damai, yg menghentikan masa pemberontakan GAM.

      Untuk pertama kalinya sejak tahun 1949, TNI tidak lagi perlu sibuk bertempur dalam beraneka ragam konflik daerah, yg mencoba memisahkan diri dari NKRI... bahkan sampai sekarang.

      Tahap Peralihan II kemudian langsung dimulai, seiring dngn berakhirnya embargo US di tahum 2005.

      Sekarang fokus TNI mulai dialihkan untuk benar2 membangun kemampuan strategis utk mempertahankan Negara, seiring dengan banyaknya tantangan2 baru; seperti terrorisme, dan radikalisme.

      Dalam pembangunan kemampuan pertahanan strategis, TNI sebenarnya belum banyak pengalaman; karena selama puluhan tahun, yah, terus menghadapi berbagai gejolak perang gerilya di daerah2.

      Membangun kemampuan strategis secara serius, seperti yg sudah dilakukan Australia, & Singapore selama puluhan tahun, adalah sesuatu yg baru, dan boleh dibilang masih asing.... krn selama ini, pmrnth Orde Baru memang sengaja menomordua-kan kemampuan ini.

      Ini prinsip lama jaman OrBa:
      "Dahulu kan kita sahabat baik (tak resmi) US, dan Australia. Tidak akan ada negara yg menyerang kita!"

      Seiring dengan itu, TNI harus terus turut beradaptasi utk mengikuti perkembangan Indonesia, yg dalam semua sektor hanya semakin demokratis, anti-otoriter, dan anti-KKN.

      "Bersama rakyat kita kuat!"

      Seperti anda sebut, mungkin memang masih ada bbrp elemen dalam tubuh TNI, yg masih sulit beradaptasi -- walaupun, spt kita bisa lihat, mayoritasnya sih tidak masalah, dan walau ada bbrp kesulitan (spt bentrok antara personil Polri & TNI), semakin tahun semakin membaik.

      Demikian dulu ulasan pendek dari perubahan TNI 17 tahun setelah berakhirnya Orde Baru.

      Inilah sedikit latar belakang, yg akhirnya mulai mejurus kekacauan akuisisi, spt kasus AW101 ini, dan bangkitnya kalangan "fanboys", yg berbagai aliran.

      Nanti sy sambung lagi.

      Delete
    3. berita tempo hari kabarnya di rapat dengar pendapat dgn komisi 1 DPR , kewenangan panglima Tentara dah di sembelih terutama hal anggaran oleh permenhan no 25/2015..jadi semua yg bertanggung jawab masalah anggaran alutsista langsung oleh Menhan

      Delete
    4. Kita lihat saja penyelesaian kasus ini bagaimana.
      Sebaiknya sih tidak perlu terlalu cepat mengambil kesimpulan dini siapa yg salah.

      Yang penting, kasus ini harus bisa diselesaikan dengan baik,
      dan pemerintah harus mengambil tindakan preventif, untuk mencegah kemungkinan para makelar alutsista terus bisa beraksi utk memeras keuangan rakyat.

      IMHO, spt dalam artikel, seharusnya semua kontrak alutsista diselesaikan secara Government-to-Government;
      baik pejabat sipil, militer, atau perwakilan dari industri lokal kemudian akan mendapat representasi masukan yg sama seimbangnya.

      Tidak boleh lagi ada satu pejabatpun yg bisa mengatasnamakan Republik Indonesia, untuk teken kontrak.

      Delete
  15. admin, saya mulai keseluruhan paranoid Bangsa Indonesia mengenai invasi US & Australia itu salah besar, saya gak percaya mereka mau invasi kita karena banyak interest mereka disini, contoh Menlu US Rex Tillerson kita tahu sendiri kalau dia itu CEO Exxonmobile jadi sepanjang Exxonmobile masih ada di Natuna, Indonesia aman justru wil. yang bakal paling dilindungi US dari China jadi kita gak perlu khawatir tentang penempatan USMC di Darwin atau F-22 di Queensland & Northern territory

    ReplyDelete
    Replies
    1. * saya mulai berpikir keseluruhan

      Delete
    2. =======
      ..keseluruhan paranoid Bangsa Indonesia mengenai invasi US & Australia itu salah besar...
      =======

      Baru2 ini Detik News mempunyai salah satu slogan: Ayo! Melawan berita hoax!

      Presiden Jokowi, MenKominfo, dan bbrp tokoh masyarakat lain juga sudah memperingatkan kita agar tidak percaya hoax, dan semakin berhati2.

      Hoax: Inilah pekerjaan utama para troller.

      Tentu saja Media Sosial, apalagi formil penuh dengan troller, yg menyebar hoax.

      Menyebar kepalsuan, menghasut, dan memiringkan fakta, menabur kebencian.... atas sesuatu yg sebenarnya tidak ada.

      "... seluruh Indonesia merasa begini-begitu..."

      Yah, kita memang sengaja dibuat merasa seolah2 seluruh Indonesia sepaham dengn para hoaxer / troller... krn ini memang tujuan mereka, padahal, yah, sbnrnya ini tidak benar.

      Untuk melawan hoax, kita hanya bisa mempersenjatai diri sendiri dgn keteguhan, pemahaman,pengertian, pengetahuan umum, dan keyakinan pada integritas bangsa Indonesia.

      Masih ingat bbrp slogan kuno para fanboys / troller ini:

      ## "Hati2 Embargo Amerika!"

      ++ Counter:
      "Oh, jadi perbaikan mendalam berbulan2 di Ruski jauh lebih baik? Kenapa kita tidak diperbolehkan memperbaiki sendiri?

      FYI - F-16, walaupun harus kanibalisme part, sbnrnya para pahlawan TNI kita dapat membuat bbrp unit tetap operasional kok semasa Embargo.

      Sedang Sukhoi? Tanpa perlu embargo saja, dalam 5 tahun, yah, lima tahun saja sudah tak bisa terbang."

      ## "NKRI harga mati! Harus Sukhoi!"

      ++ Pernyataan ini harus diralat:
      "Komisi perantara, pesangon "kickback" pejabat, dan "perbaikan mendalam" berbulan2 harga MATI kalau masih ngidam Sukhoi!"

      Ini tembakan troller yg paling lucu:
      ## "Hati2 agen Sales Gripen! Agen sales NATO!"

      ++ Counter:
      "Maaf, tidak ada komisi sales!

      Saab Gripen ditawarkan secara transparan melalui Government-to-Government contract.

      Bukan melalui agen perantara yg menuntut komisi penjualan, spt Rosoboronexport, yg kemudian masih menunjuk lagi satu lapisan perantara lokal.

      Lagipula, penawaran Saab tidak hanya sekadar menjual pespur, tetapi juga kerjasama jangka panjang secara industrial, dan aloh tehnologi.

      Lebih penting lagi, Saab satu2nya yg menyatakan secara resmi: akan memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012 secara mutlak, dalam segala bentuk penawaran ke Indonesia.

      Ini kan hanya membahas fakta kalau tawaran Saab adalah yg terbaik untuk kepentingan bangsa?

      Sekarang siapa yg agen sales; anda, atau saya?"

      Delete
  16. admin di Aero India 2017, SAAB memperkenalkan hanggar kamuflase sama deployable aircraft maintainance facility, itu apaan admin ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Deployable Aircraft Maintenance Facility -- ini sbnrnya produk lama, dan sbnrnya sedang dipamerkan di Aero India.

      =========
      Saab Forward Operating Base (FOB).
      ========

      Kelihatannya di-market-kan untuk pengguna F-16, F-18, atau Eurocanards untuk merubah landasan garis depan yg kurang memadai menjadi FOB.

      Gripen, yg maintenance overhead-nya lebih mudah/murah, juga dapat memanfaatkan prasarana ini.

      Secara tehnis, semua landasan perintis di Indonesia dapat disulap menjadi FOB, tanpa perlu investasi yg terlalu besar.
      Yang penting landasan pacunya cukup halus.

      Delete
  17. UPDATE: Baru saja disebut diatas dalam artikel ini;

    Austria akan menuntut Airbus untuk Skandal Eurofighter 2003

    Link:
    Janes: Austria to sue Airbus over Eurofighter deal

    Nilai tuntutan $1,17 milyar.

    Apakah mungkin kalau kasus AW101 ini bisa berbuntut yg sama?
    Yah, paling tidak krn transaksinya dngn perusahaan Barat, masih bisa dibawa ke pengadilan.
    Kalau membeli dari Ruski sih, uangnya sudah pasti amblas,

    Inilah kenapa di masa depan, semua kontrak alutsista Indonesia harus melalui Government-to-Government contract untuk mencegah potensi korupsi transaksi alutsista.

    Artikel ini akan di-update dngn berita ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. untung kita dulu gak jadi beli Eurofighter Typhoon dulu waktu belum tahu Gripen dipikir ini lebih cocok daripada Sukhoi, harga boleh mahal tapi ada ToT, tapi tahu bakalan kayak gini udahlah, lagian Eurofighter typhoon gak cocok buat Indonesia secara ekonomis, biaya maintainance & operational 3 - 4x Gripen sama unit costnya aduh bikin anggaran habis

      Delete
    2. ## Untuk klarifikasi:
      Berita diatas sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemampuan tempur Typhoon.

      Masalah disini:
      Eurofighter sudah kedapatan menyogok pejabat Austria, agar mereka membeli Typhoon.

      Untuk polemik AW101,
      sepertinya sih Augusta-Westland, seperti di India, juga sudah mempraktekkan hukum sogok yg sama dengan Eurofighter di Austria; agar uang negara keluar utk membayar MSN 50248.

      Sekarang Austria mengajukan gugatan via pengadilan Uni Eropa.

      Seperti bisa dilihat, pembelian tanpa G-to-G contract, atau transaksi langsung via pejabat / salesman itu sangat merugikan penjual, ataupun pembeli.

      ## Eurofighter Typhoon di Indonesia, tidak seperti Sukhoi flemon, sebenarnya ditawarkan dalam G-to-G contract via Pemerintah Spanyol; dalam kontrak kerjasama dengan perusahaan partner lama PT DI --- EADS Casa, yg sudah puluhan tahun bersama memproduksi CN-235, dan C-212.

      Hanya saja, yah, sayangnya baik harga, maupun biaya op Typhoon memang akan terlalu mahal utk Indonesia.

      Estimasi Jane's untuk Typhoon RAF $18,500 / jam, yg jumlahnya lebih dari 100 unit, dan pabriknya lokal, atau within Europe;

      Biaya operasional untuk katakanlah 16 Typhoon TNI-AU, tentu saja (estimasi) akan melompat jauh ke $30,000/jam dalam beberapa tahun pertama (sedikit lebih murah drpd Sukhoi Sku-11), sebelum bisa turun ke $26,000 dalam 5 tahun.

      Kalau mengoperasikan 32 pesawat, biaya operasionalnya akan antara 10 - 20% lebih murah.

      Yah, paling tidak masih dapat ToT, Captor-E AESA radar dalam Sensor Fusion, dan bukan versi export downgrade.

      ## Su-35KI harus beli lewat makelar, dan harga per unitnya bisa lebih murah 20% dibanding Eurofighter Typhoon,
      akan tetapi....

      ....biaya operasionalnya akan meloncat 2 - 3x lipat lebih mahal untuk 16 unit ($60,000 - $90,000 / jam -- termasuk komisi perantara.

      Seperti sudah dibahas sebelumnya, karena rencana "hemat pintar" mau mengoperasikan hanya 8 unit, tentu saja biaya op Su-35KI akan melompat lebih jauh lagi ke $100,000 - $120,000 / jam -- termasuk komisi perantara.

      Tentu saja, seperti Sukhoi Kommercheskiy tahun 1980-an di Sku-11, "perbaikan mendalam" sudah pasti akan menjadi kewajiban tiap beberapa tahun sekali.

      Rongsokan TS-2701 & 2702 saja masih disono..

      "Anti-embargo", katanya. "Tapi lupa sebut perbaikan mendalamnya."

      Delete
  18. Ya meski ada berita ttd kontrak pembelian su 35 "Akan" Dilakukan THN Ini.tetapi berita ini masih diragukan,karena ini masih belum pasti,aslinyattd su 35 ini mau dilakukan pd 2016, bahkan berita ini belum ada konfirmasi dari menhan indonesia.

    tapi yah kenyataannya tidak ada pilihan lain yg lebih menguntungkan selain paket Gripen E & Erieye plus Tawaran kerjasama saab. meski gripen ini yg paling banyak dilecehkan dan dihina oleh fansboy sukhoi indonesia.. namun keunggulan gripen sudah terbukti dalam banyak latihan Redflag yg sering Diikuti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau dicari-cari udah ada dua berita berbahasa inggris yang kontradiksi, ada yang ngomong 12 tapi ada yang ngomong 10, dari pemberi statement nya pun semua orang Russia gak ada official Indonesia, dan dari terjemahannya pun ngomong " diharapkan " disetujui kemenhan RI beberapa bulan kedepan. Ini siapa yang bermisteri sebenarnya ? intinya kita deal aja belum tapi dari pihak Russia udah main klaim sendiri

      Delete
    2. Yah, Sukhoi itu hakekatnya seperti kecanduan narkotik.

      Namanya kecanduan yah, terasa sangat enak, walaupun pelan2 merusak.
      Si pemakai seperti pengen beli terus, nggak peduli seberapa merusaknya narkotik ini ke keluarganya.

      Mulai dari pertama kali membeli, yah, tentu saja sudah memulai proses bunuh diri perlahan2.
      Gampang rusak, umur pendek, dan terlalu banyak bayar komisi.

      Logika saja,
      Bagaimana bisa Angkatan Udara yg masih begitu jatuh cinta dngn pesawat yg biaya operasionalnya melebihi 7 F-16, hanya bisa operasional beberapa tahun, sblm kemudian sudah rusak berat, dan tidak diperbolehkan untuk diperbaiki sendiri?

      Seyogjyanya kita belajar berpikir logis....

      Kenapa Sukhoi masih juga di-favoritkan?

      Apa latar belakangnya?

      Kenapa juga masih mau beli tambah versi Su-35 Lemon lagi, padahal TS-2701 & 2702 saja masih disandera, dan tidak bisa lepas?

      Inilah kenapa, semoga kasus AW101 ini akan membereskan semua makelar alutsista di belakang layar.... Mereka yg mendukung pembelian illegal ini, kemungkinan besar akan turut terlibat dengan "kecanduan" Sukhoi.

      Itu bahasa sopannya.

      Delete
    3. admin, ini cuma saya aja atau bagaimana ya, tapi kok konsep FOB SAAB kayak menarik banget, kayak gerilya di udara kalau airstrip kita bisa dipakai kayak ginian terus pola penyebaran satuan tempur udara kita bakal bisa lebih luas, cocok banget buat pespur yang kecil sama bisa short take off kayak Gripen

      Delete
    4. konsep FOB dengan hanggar kamuflase waduh kalau kita ngehadapin invasi dengan AU yang secara angka lebih superior bisa jadi gerilya level atas, gerilya di udara, musuh bakal gak habis pikir masih ada juga rupanya kekuatan udara kita setelah pangkalan2 udara dibom, efek psikologis ke lawan ini, bisa down moral mereka sedangkan untuk kita kedongkrak bner bisa juga kita ngelanjutin perlawanan di udara

      Delete
    5. Kesulitannya yah, seperti komentar sy di atas.

      TNI & seluruh Indonesia skrg ini berada di masa Peralihan Tahap II.

      Kita masih belum punya pegangan ke depannya mau seperti apa.

      Dan sekarang, kita berada di persimpangan jalan.

      - Terus beli gado2 tanpa pusing operasional / training / sistem / dukungan industri lokal?

      - Terus asal beli hura2, & tidak ambil pusing pakai perantara / kickback?

      - Apakah masih terlalu fokus utk "prestige buying", atau mencoba proyek2 terlalu ambisius, spt KF-X (versi export)?

      - Apakah akan ada upaya serius utk membangun sistem terpadu, yg terintegrasi antara akuisisi, dan industri lokal?

      Inilah bbrp pertanyaan utk masa depan kita.

      Kalau mau terus begitu2 saja, yah, tahap berikutnya sih kita hanya akan menjadi anak bawang se-Asia, yg suka buang2 uang, tapi kemampuannya akan selalu memblee... apalagi kalau terus kecanduan Sukhoi-kokain, atau KF-X shabu2, yg semuanya diluar kemampuan finansial / tehnis industrial kita...

      Tetapi kalau kita mau belajar menjadi lebih dewasa, yah, kita harus serius mau berubah dari keadaan skrg.

      + Apakah bisa mencapai disiplin akuisisi: memenuhi kebutuhan, transparan, dan melalui G-to-G contract?

      + Apakah kita akan dapat mencapai safety record yg lebih baik? Terlalu banyak kecelakaan berarti masih belum cukup mapan secara operasional -- belum siap tempur.

      + Apakah kita akhirnya akan mendahulukan partisipasi / produksi industri lokal?

      + Apakah akhirnya kita akan mulai merancang bangun sistem modern yg tahan banting, dan sesuai kebutuhan / keterbatasan?

      Kalau semua pertanyaan ini sudah terjawab, barulah kita siap mempunyai TNI yg modern, dan siap tempur.

      Kerjasama Saab adalah permulaan yg harus kita ambil karena..... tidak ada tawaran sebaik ini (!)

      Konsep2 menarik spt Networking, AEW&C, SAM, dan FOB --- semuanya tersedia dari paket Saab.

      Langkah pertama kita harus meninggalkan apa yg lama, dan serius melihat ke depan.

      :D

      Delete
  19. Berapa Negara yang membenci Russia?
    Rafale India sebenarnya untuk Angkatan Laut atau Udara?
    Kenapa India ingin membeli Rafale?kan udah ada MIG-29K?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Berapa negara yg membenci Russia?

      "kebencian" itu lebih sukar diukur, lebih tepatnya apa yg biasanya diukur adalah persepsi negatif suatu negara terhadap negara lain, dalam hal ini Ruski.

      Pew Research Center baru saja mempublsikasikan referensi berikut:
      ======
      Global Attitude on Russia.
      ======

      Dari research survey global 40 negara, dan 45,000 responden;
      Hanya PRC, Ghana, dan Vietnam (>50%) menganggap Ruski itu pengaruh yg positif.

      Yah, memang kebanyakan warga dunia tidak menyukai Ruski, yg dianggap sebagai pariah internasional.

      Yordania (80%), Lebanon (56%), dan Turki (64%) mewakili Timur Tengah, sangat tidak menyukai Ruski, yg menyibukan diri memihak Assad dalam perang saudara di Syria.
      Seluruh Eropa, Jepang, dan Australia persepsi negatif-nya juga di atas 60%.

      Tidak seperti menurut "hoax" para Sukhoi fanboys,
      Indonesia sendiri 43% menganggap Ruski negatif, sedangkan hanya 28% yg menganggap mereka sesuatu yg positif.

      ## India membeli Rafale, pada permulaannya untuk mengisi kekurangan jumlah, tetapi pada akhirnya tujuan ini dialihkan --- Rafale adalah satu2nya pespur yg bisa membawa bom nuklir.

      Tentu saja, sepertinya mereka belum sadar,
      Rafale, yg sudah membawa RBE-AA AESA radar, dalam sensor Fusion, dipersenjatai MICA, dan Meteor; kemampuan tempurnya akan jauh lebih unggul dibanding Su-30MKI, yg hanya memakai PESA radar, dan hanya dipersenjatai missile versi export R-73E, dan RVV-AE.

      Yah, sbnrnya dalam keadaan skrg, F-16 Block-52+ Pakistan, akan dapat mudah membantai Su-30MKI India, dan India sudah keluar uang jauh lebih banyak.

      FYI -- kebagian F-16 Block 52+ Pakistan didapat dari program FMF (Foreign Military Financing), dengan kata lain, hampir seperti membeli gratis dari program financing US.

      ## Seperti dibahas dalam artikel sebelumnya, AL India cukup kecewa dengan MiG-29K,
      sedangkan HAL Tejas, hasilnya kurang memuaskan untuk beroperasi dari kapal induk.

      Rafale-M tidak akan bisa beroperasi dari kapal induk India, yg memakai ramp deck, dan bukan catapult, seperti kapal induk US / Perancis,

      Kemungkinannya, mereka akan memilih, dan turut membiayai development untuk Sea Gripen, bersama Brazil.

      Delete
    2. itu admin di Voanews, lagi panas antara F-16V atau Gripen yang bakal calon megaproyek AU India, kita malah masih aja sama " Kommercheskiy " Sukhoi.

      Delete
    3. Bung Thomas,

      Sebenarnya masalah India jauh lebih parah dari kita.

      Bayangkan saja terjebak dengan 60-70% alutsista versi export buatan Ruski -- dan, seperti Kanker stadium-4, tidak bisa semudah itu bisa lepas.

      Untuk Su-30MKI saja, mereka sudah menghabiskan puluhan milyar $$; hasilnya?
      Dari 250 pesawat+, hanya 110 - 150 yg siap tempur, karena sisanya sibuk direparasi.
      Spt diatas -- hanya bisa dipersenjatai R-73E, dan RVV-AE versi export --- sebagian dari stock missile mereka juga kondisinya sudah faulty.

      Walaupun Sukhoi MKI sudah dibawa ke Red Flag, karena Rules-of-Engagement dalam latihan ini lebih memihak BVR combat; mereka juga kelihatannya belum sadar kalau RVV-AE., yg kemampuannya sudah dikurangi dari R-77, yg development-nya sendiri tidak pernah selesai... hampir mustahil bisa mengenai target, apalagi pespur dngn RCS rendah.

      Baik F-16, ataupun Gripen jauuuuh lebih unggul dalam segala hal dibanding Su-30MKI;
      Lebih lincah, lebih hemat bbm; biaya operasional jauh lebih rendah, jarak jangkaunya lebih jauh (MKI tidak bisa membawa drop tank), kesiapan tebang jauh lebih tinggi, dan dapat terbang minimal 4x sehari.

      Tentu saja keduanya jauh lebih mudah di-upgrade dibanding MKI, dan jauh lebih modern dalam segala hal.

      Kita lihat saja.
      Seperti biasa proses akuisisi di India akan sangat berlarut-larut, dan akan dipersulit karena makelar senjata disana sangat banyak.

      Lebih parah dari di Indonesia, disana juga terlalu banyak Sukhoi fanboys, yg merasa MKI mereka terbaik di dunia; menolak utk sadar, kalau Sukhoi mereka barang downgrade, dngn persenjataan downgrade, dan tidak pernah dianggap lawan yg serius di antara pilot NATO.

      Delete