Tuesday, February 21, 2017

Skandal AW101 (2): Mengarahkan Akuisisi Alutsista untuk Kebutuhan Nyata

Credits: Eurofighter

Membicarakan AW101, kenapa gambarnya Eurofighter Typhoon Austria?

Kasus Austria ini sebenarnya serupadengan skandal AW101 di Indonesia. 

Pada 16-Februari-2016 ini, pemerintah Austria mengajukan gugatan senilai 1,1 milyar Euro ke Airbus, dan Eurofighter Gmbh. 

"Austria tidak akan pernah membeli Typhoon di tahun 2003, kalau Eurofighter tidak pernah melakukan prosedur penjualan secara illegal," menurut MenHan Austria, Hans Peter Doskozil. Apa yang dimaksudkan disini adalah memberi pesangon "kickback" ke pejabat Austria. Yah, pesawatnya sih terbeli, dan kelihatan indah. Sayangnya, sama seperti AW101, hanya untuk menjadi monumen kasus korupsi yang menghamburkan uang negara.

Artikel sebelumnya, sudah membahas bahwa tindakan preventif pertama untuk menghindari kasus seperti AW101, adalah melalui transparansi Government-to-Government contract, dan bukan melalui transaksi "bawah tangan" langsung antara pejabat dengan salesman langsung dari pabrik, atau melalui agen perantara. 

Tidak kalah pentingnya, kita harus mulai lebih memperhatikan Kebutuhan Nasional.

Presiden Jokowi sudah menyatakan kalau akuisisi Alutsista harus menurut kebutuhan, dan bukan keinginan. Disinilah problemnya mulai merebak di Indonesia. Setiap pihak mempunyai idenya sendiri apa yang menurut mereka adalah suatu "kebutuhan", atau boleh dibilang, kita tidak bisa membedakan akuisisi menurut kebutuhan, atau keinginan.

Inilah salah satu faktor lain, kenapa kasus AW101 ini bisa terjadi, dan kenapa dikemudian hari, bukan tidak mungkin akan terus terulang. Bukan tidak mungkin bahkan, kekacauan akuisisi yang berikutnya akan lebih mahal dibandingkan polemik Eurofighter Typhoon di Austria.

Sekarang, bagaimana caranya membedakan Kebutuhan, dan Keinginan?


Latar Belakang: TNI sebenarnya masih dalam Tahap Proses Peralihan Babak II 


TS-1609 F-16A Block-15OCU
dalam latihan Udara Pitch Black Australia, 28-Juli-2016
(
RAAF photo by Cpl. Casey Gaul)

Pesawat tempur Utama Pelindung Indonesia: 
Memang hanya Versi Export Downgrade,
tetapi reliable, biaya operasionalnya murah, dan dapat sering terbang;
walau pernah di-embargo,
tetap saja tidak perlu "Perbaikan mendalam"
sejak tahun 1989

Masa Reformasi 1998 memulai Tahap perubahan Babak I 

... untuk pertama kalinya sejak tahun 1945, akhirnya merubah Negara Republik Indonesia menjadi negara yang Demokratis; dimana hak suara rakyat menjadi penentu utama kebijaksanaan pemerintah, dan bukanlah sebaliknya. 

Boleh dibilang reformasi ini adalah suatu prestasi Kemerdekaan Kedua untuk seluruh Rakyat Indonesia.

Seiring dengan dimulainya reformasi perubahan dalam pemerintah, Perwakilan Rakyat, dan semua struktur politik-ekonomi-sosial di seluruh Indonesia; ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) yang sebelumnya boleh dibilang, terlalu terikat dengan Orde Baru, kemudian harus menjalani perubahan bentuk menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia), yang berfungsi tunggal hanya untuk menjaga pertahanan keamanan Indonesia yang Demokratis. 

Seiring dengan perubahan konsep yang mendasar ini, dalam tubuh TNI, terjadi tiga perubahan struktur "ala Orde Baru", yang sudah tidak lagi bisa dianggap relevan: 
  • Konsep "dwifungsi" ABRI dihilangkan
  • Anggota TNI tidak lagi bisa menjadi anggota MPR, dan terakhir,
  • Pemisahan Kepolisian Republik Indonesia, sebagai lembaga yang independen dari TNI
Kalau masih belum cukup badai melanda, di tahun 1999, pergolakan di Timor Timur mencapai titik puncak, yang berujung jatuhnya embargo militer ke Indonesia dari United States (yang berlanjut sampai 2005), dan European Union (hanya 4 bulan Sep-1999 s/d Jan-2000). Setelah semuanya surut, kita kemudian mengakui kedaulatan hasil referendum di Timor Timur, sedangkan TNI akhirnya dapat beristirahat dari masa konflik berkepanjangan sejak Operasi Seroja di tahun 1975.

Babak Pertama Masa Peralihan TNI ini akhirnya benar-benar diakhiri dalam peristiwa Tsunami Aceh 2004, yang kemudian menjadi pemicu perjanjian damai dengan GAM. 

Berakhirnya konflik di Aceh, berarti untuk pertama kalinya sejak tahun 1949, TNI akhirnya tidak perlu lagi memfokuskan diri untuk terus-menerus berjuang melawan pergolakan-pergolakan di daerah, yang masih mencoba memisahkan diri dari NKRI. 

Jaman sudah berubah.  Negara Kesatuan Republik Indonesia, akhirnya dapat mulai belajar untuk menjadi suatu kesatuan yang utuh. Kita semua dapat terus melanjutkan perjuangan Kesatuan Indonesia, dengan membangun kesadaran, dan kedewasaan; tidak peduli darimanapun mereka berasal, kita semua adalah Warga Negara Indonesia yang sama rata. 

Tahun 2005, TNI memulai Tahap Peralihan Babak II 


Dengan berakhirnya Embargo United States yang terlampau lama, terjadi pergeseran fokus TNI untuk membangun kemampuan strategis pertahanan Indonesia, seiring dengan banyaknya tantangan-tantangan baru, seperti terrorisme, dan radikalisme; yang membutuhkan kerjasama dengan negara-negara tetangga, dalam hal ini, khususnya Australia. Tidak hanya itu, semua penjual senjata sekarang juga merubungi Indonesia, seperti semut menyerbu gula.

Masalahnya, semenjak berdiri sampai sekarang, TNI belum pernah mencoba membangun kemampuan tempur strategis, seperti halnya Australia, Singapore, Thailand, dan Vietnam.

Fokus utama ABRI (waktu itu) adalah untuk mengalahkan pemberontakan daerah, sedangkan kemampuan strategis, boleh dibilang menduduki kursi belakang. Anggaran pertahanan Indonesia secara tradisional selalu lebih memprioritaskan kebutuhan tempur, dan operasional Angkatan Darat. Tidak pernah ada perhatian serius untuk memfokuskan kemampuan kedua angkatan lain, sampai setelah era Reformasi.

Pemberontakan daerah hanya memperhadapkan personil TNI-AD yang bersenjata lengkap, dengan pasukan gerilya daerah, yang tidak seperti di Afganistan, atau di Timur Tengah, daftar persenjataannya tidak karuan. TNI, misalnya, tidak pernah perlu menghadapi pemberontak yang bersenjatakan MANPADS, seperti SA-7 Grail, yang sangat populer dalam pasar senjata gelap; senjata yang cukup efektif untuk dapat digunakan menembak jatuh BAe Hawk-209, OV-10 Bronco, atau helikopter tempur TNI yang lain.
Dalam kasus ini, Syrian Rebels mempergunakan BGM-71 TOW Anti-Tank missile,
untuk menembak jatuh helikopter tempur SA-342 Gazelle milik SyAAF (Syrian Air Force)

Kalau kita melihat kembali ke peta Indonesia:

Peta kita ini sebenarnya menjelaskan kenapa dalam masa pemberontakan daerah, yang dimulai dari masa pemberontakan DI/TII di tahun 1949, sampai dengan berakhirnya konflik dengan GAM di tahun 2004; ABRI (sekarang TNI) belum pernah menghadapi lawan yang mempunyai koleksi senjata lengkap, seperti di Syria, Libya, Afganistan, ataupun di Iraq.

Setiap pemberontakan daerah akan selalu terjadi di suatu pulau, yang dikelilingi laut, dan karena itu, tidak mudah untuk menyelundupkan senjata gelap masuk. 

Inilah sebenarnya kunci pertahanan Indonesia, yang adalah Negara Kepulauan. Semua Akuisisi Alutsista harus selalu berpegangan pada pedoman ini sebagai dasar, sebelum memenuhi beberapa persyaratan lain.




Tantangan untuk Visi Poros Maritim: Kemampuan Mengawasi, dan Menjaga Perairan Nusantara


Bukan tanpa alasan, dari sewaktu terpilih, Presiden Jokowi langsung mengumumkan pentingnya Visi Poros Maritim Indonesia. Keunggulan TNI semasa pemberontakan daerah, yang menguasai laut, dan udara, sekarang akan dapat mudah berbalik menjadi kelemahan terbesar pertahanan Indonesia.

Kelemahannya, kembali, TNI sejauh ini belum berpengalaman, dan bahkan sampai sekarang, sebenarnya masih belum membuat upaya yang serius untuk membangun sistem pertahanan Nusantara, yang akan siap menghadapi aggressor.

Seperti sudah dibahas singkat dalam artikel sebelumnya, setiap strategi pertahanan, akan selalu dimulai dari beberapa gambaran skenario sederhana.

Mari kita melihat satu skenario sederhana untuk menguji pertahanan Indonesia, berdasarkan Renstra yang ada, dengan negara Aggressor-X

Dalam skenario ini, Aggressor-X akan diasumsikan mempunyai fasilitas pendukung AEW&C, air-to-air refueling tanker untuk menambah jarak pesawat tempur mereka, sekurangnya dapat mengudarakan 100 pesawat tempur modern (Su-27, atau F-18 equivalent), sekitar 20 kapal perang, dan 15,000 ribu tentara.

Mari kita memulai:

Skenario 1: Aggressor-X berencana merebut pulau Natuna Besar
Sebagai langkah pertama, Aggressor-X akan selalu terlebih dahulu menyerang Ranai Airport, dan Lanud Supadio TNI-AU di Pontianak, dengan tujuan menghancurkan semua kekuatan TNI-AU yang bisa mengancam pasukan penyerang yang akan didaratkan kemudian. 
  • Kalaupun TNI-AU mempunyai 180 pesawat tempur, seperti dalam fokus utama Renstra versi terakhir, TNI-AU maksimal hanya akan dapat memangkalkan sekitar 50 - 60 pesawat, atau sekitar 30% dari kekuatan udara TNI-AU, di antara Ranai Airport, dan Lanud Supadio, karena sisanya akan tersebar di Lanud Iswayudhi, Roesmin Nurjadin, dan Sultan Hassanudin.
  • Dari jumlah yang 50 - 60 pesawat yang tersedia ini, kalau tipe yang dipergunakan adalah Sukhoi Su-35KI, yang perawatannya sulit, dan doyan "perbaikan mendalam", atau KF-X twin-engine, yang perawatannya akan lebih sulit dibandingkan F-16, kemungkinan hanya akan ada antara 10 - 20 yang akan siap mengudara di hari-H. 
  • Sama seperti telah dipelopori Jepang dalam peristiwa Pearl Harbour di tahun 1941, Aggressor-X akan selalu mencoba menghancurkan semua pesawat tempur TNI-AU di darat terlebih dahulu. Kalau pengawasan lemah, tentu saja lawan akan lolos! 
    Contoh Kebutuhan yang terbengkalaikan: 
    "Sejauh ini, saya (reliable advanced AEW&C) belum dianggap prioritas utama,
    ternyata "Pengganti F-5E" jauh lebih penting..."
  • Kalau ada beberapa pesawat berhasil mengudara, aggressor-X akan memanfaatkan keunggulan Situational Awareness, dari pesawat AEW&C mereka (TNI-AU belum punya) untuk mencoba menyerang setiap formasi pesawat TNI-AU dari berbagai arah. 
  • 10 - 20 pesawat, tidak akan bisa menjadi tandingan 50 - 60 pesawat yang akan dikerahkan lawan dalam hari pertama, bukan? Sisanya hanya akan di-bom di landasan.
    USAF Photo
    Tentu saja, sekarang ini, jumlah pesawat tempur yang dibeli,
    lebih penting daripada jumlah yang bisa operasional,
    ataupun jumlah BVR & WVR missile modern yang dibutuhkan
  • Langkah pertama ini ditutup dengan Aggressor-X berhasil menerapkan Air Supermacy di wilayah udara di sekitar Natuna. Dari sini, mereka akan bebas untuk menentukan semua langkah selanjutnya. 
  • Setiap kapal KCR ataupun KRI TNI-AL, yang dipangkalkan, atau masih berpatroli di sekitar kepulauan Natuna, tanpa perlindungan udara, sekarang hanya akan menjadi buruan Angkatan Udara, ataupun KCR Aggressor-X.
  • Setiap pesawat tempur TNI-AU, yang mencoba menyerang Natuna, harus terlebih dahulu mendarat di Lanud Supadio, dan ini hanya akan menjadikannya target. Lanud di Batam, ataupun di Pekanbaru akan dinilai Aggressor-X terlalu jauh, bukan berarti mereka tidak akan menerbangkan CAP untuk mengawasi kemungkinan serangan TNI-AU dari arah ini.

Langkah kedua: Mengamankan, dan merebut pulau Natuna Besar, atau semua target pulau-pulau lain di sekelilingnya. (Updated)
  • Setelah berhasil menyapu semua pesawat TNI-AU, pesawat-pesawat Aggressor-X akan memulai mencoba menyapu bersih semua kapal-kapal TNI-AL di sekitar Natuna. 
  • Mereka juga akan memulai misi pemboman untuk menghancurkan semua pertahanan udara di Natuna, dan melemahkan pertahanan TNI-AD yang sekarang akan berjaga sendirian, tanpa dukungan dari luar. Kalaupun TNI-AD sudah menempatkan beberapa Leopard 2A4 disini, mereka hanya akan menjadi target pemboman Aggressor-X.
  • Setelah melunakkan pertahanan darat Natuna Besar, pesawat-pesawat transport Aggressor-X akan mulai memendaratkan sekitar 700 - 800 pasukan terjun payung, dengan tujuan pertama untuk mengamankan Ranai Airport, yang adalah titik strategis terpenting disini
  • Seiring dengan itu, wing tempur dari AU Aggressor-X akan memulai misi pengintaian, dan pengawasan ke wilayah udara di sekitar Lanud Supadio; mereka akan mencoba menghancurkan setiap pesawat TNI-AU yang dipindahkan dari lanud lain, ke lanud Supadio.
  • Tidak kalah pentingnya; Aggressor-X juga akan segera memulai misi ASW (Anti Submarine Warfare), dengan helikopter, atau pesawat; untuk mencari, dan menenggelamkan Changbogo-Type-209, atau variant gado-gado lain yang dioperasikan TNI-AL.
  • Perang kapal selam di perairan Indonesia wilayah Barat sebenarnya cukup sulit, karena rata-rata kedalaman laut, mulai dari Selat Sunda, Laut Jawa, Selat Malaka, dan perairan di sekitar Natuna, hanya berada dalam kisaran 40 meter. Tantangan geografis disini adalah: Kawasan perairan laut dangkal. Sedangkan karena mengejar jumlah, TNI-AL masih belum mengoperasikan kapal selam dengan AIP (Air Independent Propulsion); membuat mereka akan lebih mudah terlihat.
  • Kapal-kapal pengangkut pasukan Aggressor-X, setelah didahului pasukan terjun payung, akhirnya mulai mendaratkan ribuan tentara darat. Tidak akan ada Leopard TNI-AD yang masih utuh dalam tahapan ini; dan tentara TNI-AD yang masih tersisa akan harus bertempur secara gerilya. 
  • Kemungkinan Aggessor-X juga akan mulai memasang sistem pertahanan udara modern di kelas S-400, dan berbagai perlengkapan Shorad lainnya. 
Langkah Ketiga: Setelah berhasil mengamankan Ranai Airport, Aggressor-X akan cepat merubah lapangan udara ini untuk menjadi FOB (Forward Operating Base). 
  • Dalam waktu beberapa hari, pesawat-pesawat tempur aggressor-X akan mulai mendarat di Ranai Airport, dan memanfaatkan pangkalan garis depan ini untuk mengurangi penggunakan pesawat Air tanker mereka, dan mengancam Lanud Supadio.
  • Seiring dengan itu, tentara TNI-AD terakhir yang masih bertempur di Natuna akhirnya mau tidak mau harus menyerah kalah, karena tidak akan ada bantuan yang bisa datang dari laut, maupun udara. 
  • Tentu saja, dengan hanya mengoperasikan pesawat tempur Versi Export downgrade, yang kemampuan tempurnya tidak akan terjamin, dan kurangnya investasi dalam BVR missile, ataupun cruise-mssile, kecil kemungkinannya TNI-AU kemudian akan dapat menembus pertahanan pesawat tempur aggressor-X, atau melumpuhkan S-400 system; dan ini mengacaukan strategi untuk kedua angkatan lainnya.
Dalam skenario ini, Aggressor-X tidak akan melangkah lebih jauh daripada merebut Natuna, karena ini adalah Objective utama mereka. Wilayah strategis yang diinginkan aggressor-X sudah berhasil diamankan, bukan? 

Dengan demikian, mereka tidak perlu mengambil resiko untuk menyerang lebih dalam ke wilayah Indonesia.

TNI-AD mungkin masih mempunyai dua ratus ribu personil, 100 Leopard 2A4, dan 50 Marder IFX di pulau Jawa, ataupun Sumatera. Tetapi, dalam skenario ini, dengan AU, dan AL negara Aggressor-X sudah mengamankan perairan, dan wilayah udara di sekitar Natuna, bukankah tidak akan ada lagi kemampuan untuk memindahkan pasukan TNI-AD itu kesana?

Lagipula, kalaupun bisa sampai, lantas bagaimana dapat beroperasi tanpa dukungan dari laut, ataupun udara?



Untuk bisa mempertahankan Indonesia, kita harus belajar dari Perang Pasifik (1941 - 1945)


Aggressor-X sebenarnya hanya mengambil pelajaran dari Perang Pasifik (1941 - 1945) antara United States, dan Jepang, yang jalannya konflik ditentukan oleh siapa yang dapat menguasai rentetan pulau-pulau yang tersebar diantara Hawaii, dan kepulauan Jepang. 

Perang Pasifik ini sebenarnya sudah ditentukan dalam keempat pertempuran besar di tahun 1942; Coral Sea, Midway, Battle of Eastern Solomon, dan Santa Cruz. 

Kenapa demikian?
USS Hornet (CV-8) yang sedang diserang Type-99 D3A1 Aichi "dive bomber" IJN Jepang,
dalam Pertempuran Santa Cruz, 26-September-1942
(Gambar: US Navy)

Kapal induk US Navy terakhir yang ditenggelamkan lawan dalam sejarah.
Perhatikan beberapa point berikut:
  • Keempat pertempuran laut di Pasifik ini sebenarnya mengadu antara kekuatan udara US Navy, melawan IJN Jepang. 
  • Yah, baik US Army, ataupun Imperial Japanese Army sebenarnya hanya mengambil peran minoritas dalam Perang Pasifik.
  • Inilah pertama kalinya di dunia, dimana kekuatan laut kedua negara tidak pernah bertemu muka satu sama lain; sebaliknya, apa yang terjadi disini adalah pesawat terbang vs kapal. 
  • Jumlah sebenarnya kurang relevan di masa awal perang. Sepanjang tahun 1942, sebenarnya Imperial Japanese Navy mempunyai lebih banyak kapal induk, kapal perang, dan pesawat terbang dibandingkan US Navy, dan bukan hanya disana...
  • Dalam keempat pertempuran ini, kecuali di Midway, dimana US Navy yang menang telak, dan berhasil menenggelamkan 4 kapal induk Jepang, Akagi, Kaga, Soryu, dan Hiryu; sebenarnya di Eastern Solomon, US Navy hanya menang tipis, sedangkan di Coral Sea, ataupun Santa Cruz; Jepang memperoleh kemenangan secara taktis; dengan mengelamkan satu kapal induk besar US Navy (USS Lexington di Coral Sea, dan USS Hornet di Santa Cruz). Kapal selam Jepang juga beberapa kali berhasil melumpuhkan USS Saratoga , dan menenggelamkan USS Wasp; sedangkan kerugian jumlah pesawat terbang sebenarnya hampir sebanding antara kedua belah pihak.
  • .... akan tetapi US Navy kemudian tampil sebagai pemenang; karena sejak pertempuran Santa Cruz, sebenarnya Imperial Japanese Navy, sudah kehilangan kemampuan untuk dapat menantang kemampuan US Navy.
  • Bukan! Bukan karena industri Jepang tidak dapat memproduksi cukup banyak pesawat, tetapi karena pilot-pilot IJN yang paling berpengalaman terus dipangkalkan di garis depan, dan hampir semuanya sudah tewas dalam keempat pertempuran 1942 ini; sedangkan US Navy merotasi pilot mereka secara reguler; untuk memastikan yang sudah berpengalaman membagi pengalaman mereka ke pilot-pilot yang masih hijau.
  • Tentu saja, pada akhirnya, kemampuan industri US dalam memproduksi jumlah kapal, dan pesawat terbang semakin jauh melewati kemampuan industri Jepang, tetapi dalam keempat pertempuran laut inilah jalannya perang Pasifik sudah ditentukan --- begitu Jepang kehilangan kemampuan udara, dan laut untuk menantang US Navy, seperti di awal tahun 1942, untuk selamanya mereka menjadi dalam posisi defensif.
    Wikimedia
  • Setiap pulau-pulau yang kemudian harus direbut oleh US Navy, mulai dari kepulauan Gilbert, Marshall, Mariana, sampai ke Iwo Jima, dan Okinawa, tidak lagi pernah mendapat dukungan dari kapal-kapal, atau pesawat-pesawat IJN. Semuanya hanya bisa bertempur sampai mati.
Perhatikan juga dalam peta Wikimedia di atas; kalau baik US Navy, yang menyerang dari arah tengah Pasifik, ataupun US, dan Royal Australian Army yang menyerang dari arah Papua New Guinea menuju ke arah Filipina, sebenarnya sengaja melompati Indonesia, dan pangkalan-pangkalan besar Jepang di Truk (Caroline Islands), dan di Rabaul (Salomon Island). Karena begitu garis komunikasi antara Jepang, dan Indonesia sudah terpotong, puluhan ribu tentara Jepang yang berada di Indonesia, Truk, dan Rabaul menjadi tidak relevan. Tidak perlu lagi untuk diserang.

Sama seperti tujuan utama Aggressor-X adalah kepulauan Natuna, mereka akan memilih untuk tidak akan pernah menyerang Sumatera, Kalimantan, ataupun pulau Jawa, dimana populasinya terlalu besar, dan jumlah personil TNI-AD, maupun Kapolri yang bersenjata juga akan membuat konfliknya menjadi terlalu mahal, dan berlarut-larut. 

Untuk Aggressor-X, melangkah lebih jauh dari Natuna, menjadi tidak relevan. Dan inilah masalah utama pertahanan strategis Indonesia: bagaimana dapat mempunyai kemampuan untuk menangkal skenario semacam ini, dan kenapa Akuisisi Alutsista harus disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan ini.



Penutup

Pertama-tama, kalau kita tidak dapat menguasai Air Supremacy untuk penjagaan udara di wilayah Nusantara, baik TNI-AL, ataupun TNI-AD tidak akan dapat bergerak, bukan?


Seperti satellite image yang memperlihatkan keberadaan AU Russia di Syria di atas; dengan demikian semua Lanud TNI-AU; yang saat ini jumlahnya terbatas, dan tersebar di empat titik yang berjauhan; Iswayudhi, Sultan Hassanudin, Supadio, dan Roesmin Nurjadin sebenarnya sudah menjadi salah satu kelemahan terbesar pertahanan strategis Indonesia.

Dalam skenario Aggressor-X seperti diatas, misalnya, mereka bahkan tidak perlu membom satu per satu setiap Lanud TNI-AU; mereka hanya perlu memastikan, misalnya membom setiap pesawat yang dipangkalkan di Lanud Supadio, atau menghancurkan pesawat yang sedang bersiap mendarat disana.

Sayangnya, renstra TNI-AU resmi TNI-AU terlalu memprioritaskan jumlah "mau mengoperasikan 180 pesawat", yang sepertinya mengambil pedoman yang salah dari Kekuatan Udara Indonesia di tahun 1960-an, yang kemampuannya semu, dan tidak pernah siap tempur. Sukhoi, yang terlalu dielu-elukan selama ini, sebenarnya tidak pernah relevan dengan kebutuhan pertahanan Indonesia. Demikian juga proyek "mangkrak" KF-X, yang akan terlalu mahal, tanpa memberikan kemampuan strategis yang relevan dengan realita pertahanan negara kepulauan Indonesia.
Jangan Heran!
Yang menandatangani kontrak KF-X,
juga sudah menandatangani "proyek" Hambalang Rp 2,5 triliun
(Gambar: Kompas)


Menjual Mimpi,
tapi menomorduakan kebutuhan nasional
Kasus Austria menunjuk kalau Eurofighter Typhoon sebenarnya tidak pernah sesuai dengan kebutuhan pertahanan mereka. Negara netral yang luasnya hanya 83,379 km2, dikelilingi negara-negara NATO yang bersahabat, dan anggaran pertahanan hanya $4 milyar per tahun, kenapa merasa perlu Twin-Engine Typhoon, yang biaya operasionalnya akan melebihi $20,000 / jam, dan hanya bisa membawa 1 sampai 2 IRIS-T? 

Sama dengan polemik akuisisi Alutsista di Indonesia.

Selama kita masih belum dapat membuat sistem yang dapat mempertahankan kepulauan Nusantara, dan justru dapat memanfaatkan keunggulan ribuan pulau yang tersebar, yang semuanya dapat berfungsi sebagai Kapal induk yang tidak dapat ditenggelamkan; untuk selamanya kita akan selalu merasa kebingungan dalam masalah akuisisi Alutsista, dan "merasa membutuhkan" AW101, Airbus A400M, C-27J, Beriev Be-200, Leopard MBT, AH-64E Apache, KF-X, dan Sukhoi (semua variant).

Kesemua keinginan seperti ini, tidak hanya akan mengundang kasus AW101 untuk terus terulang kembali, tetapi juga mengalihkan fokus akuisisi Alutsista TNI untuk mengejar berbagai macam alutsista yang tidak akan relevan dalam konflik yang sesungguhnya.

Agar tidak terlalu panjang, artikel ini akan diakhiri disini terlebih dahulu. Kita akan membahas terlebih dalam relevansi Perang Pasifik dalam membentuk Sistem Pertahanan Modern Indonesia, dalam beberapa artikel ke depan.

Gripen-D dengan recon pod, wingtip 2 IRIS-T, 2 MBDA Meteor, and 2 RBS-15F
(Gambar: Flygvapnet)

Memenuhi Kebutuhan Pertahanan Negara Kepulauan, 
...dan...
Persenjataan disini saja sudah lebih berat daripada SELURUH TNI-AU 

66 comments:

  1. admin, nah bagaimana cara kita ngecegah air supremacy atau nge harass invading force, ambilah kita udah punya 4 skuadron Gripen, 4 - 6 pesawat AEWC ( campuran erieye dan global eye ), network centric dan data link sudah tersedia termasuk koneksi dengan radar, arhanud dan pkr & kcr, RBS-15 jadi proyek program rudal nasional baik buat TNI-AU & AL, stok misil IRIS-T/MICA & MBDA Meteor, 4 - 6 pesawat tanker KC-295, sama di lanud ranai, natuna kita udah instal radar Master-T, baterai arhanud RBS-23, beberapa operator RBS-70, minimal 1 - 2 skuadron Gripen, 1 - 2 pesawat AEWC, pesawat MPA, detasemen heli ASW, sama konsep FOB sedang terbentuk, juga penempatan masing-masing 1 skuadron Gripen + AEWC di lanud Supadio Pontianak & Pekanbaru juga detasemen arhanud RBS-70 & RBS-23. apabisa ngecegah air supremacy dan mungkin menciptakan kerugian berat ke AU lawan & airborne troopers, andaikata harus jatuh bagaimana dengan kemungkinan air drop bala bantuan atau perebutan kembali C-130 & C-295 ngebawa batalyon linud ? juga kan di skenario kemungkinan Su-27 yang kita hadapin ambilah praduga negara itu punya kapal induk buat ngirim invading force bagaimana peran pesawat AEWC, pesawat MPA, sama kapal selam midget untuk operasi intelijen sama lini pemberitahuan serangan dini, ya semoga aja 2 skuadron Gripen langsung mengangkasa ngebawa masing2 4 misil WVR, 2 misil BVR, sama satu misil RBS-15 buat ngehajar kapal lawan, langsung pengaktifan arhanud RBS-23 & RBS-70 berikut skuadron cadangan Gripen langsung gerak ke lanud Batam

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama begitu kemenangan AU kita, kirim kapal2 LPD, LST, dll dibawah kawalan PKR, korvet, KCR, kapal selam, dll buat memperkuat posisi kita di Natuna, paling penting air supremacy duluan lah. sama udahlah anggap lah lawan menginvasi natuna pakai kapal induk & kapal lhd. cukup gak 2 skuadron Gripen ngehajar armada laut lawan & aviasi AL lawan sekalian tambah 2 skuadron Gripen cadangan buat nenggelamin sebanyak-banyaknya kapal lawan, dengan kondisi stok misil IRIS-T/MICA, MBDA Meteor, RBS-15 lebih dari cukup bahkan melimpah

      Delete
    2. Bung Thomas,

      Pertama2, meluruskan beberapa hal terlebih dahulu: Untuk dapat menguasai udara -- air supremacy -- prosesnya sangat sulit.

      ## Menang JUMLAH, bukan berarti otomatis bisa menang -- spt dalam skenario diatas, aggressor sbnrnya hanya membawa 100 pesawat, tapi armada udara mereka dapat dikonsentrasikan untuk menyerang hanya dua titik --- sedangkan untuk TNI-AU mustahil dapat mengumpulkan 180 pesawat di Ranai, dan di Pontianak untuk melebihi jumlah mereka.

      Ini dikarenakan faktor berikutnya,

      ## Secara tehnis, kalaupun TNI-AU dapat mengudarakan 60 - 80 pesawat dalam skenario diatas, bisa terbang semua, kemungkinannya tetap saja kita yg akan kalah --- krn TNI tidak pernah ada pengalaman untuk mengatur formasi 60 pesawat dalam pertempuran udara yg sesungguhnya.

      Faktor lain; sejauh ini kelihatan kalau investasi dalam Command & Control,dan Networking masih terlalu minimal, atau relatif.... Sama sekali tidak ada.

      ... dengan mengoperasikan armada gado2, Versi Export, yah, tidak akan compatible satu sama lain, dan akan sangat sulit untuk bisa belajar sendiri; penjual versi export sih tidak akan mau ambil pusing,

      ## Faktor terakhir --- selama kita tidak mengoperasikan Gripen;
      Mau Sukhoi, F-16, IF-X, Typhoon, terserah....

      Deployment armada udara kita menjadi mudah ditebak lawan, bukan?
      Semua pespur mewah itu memerlukan landasan pacu 2 kilometer, yg mulus, dan lebar; kemudian juga maintenance facility yg dibutuhkan akan sangat intensif.

      Bahkan tahun lalu, (ex) KSAU Supratna pernah menyebut kalau TNI-AU kesulitan untuk bisa memangkalkan single-engine F-16 di Natuna, apalagi semua tipe Twin-Engine yg lain...

      ## Bagaimana 32 Gripen (versi-C/E) akan dapat memenangkan konflik untuk mencapai Air Supremacy?

      Kita akan membahas lebih mendetail dalam artikel lain, krn ceritanya akan terlalu panjang :)

      Tetapi secara garis besar keunggulan Gripen dalam hal ini begini:

      ## Aturan main jadi berubah; pangkalan udara kita lokasinya menjadi lebih sulit ditebak --
      TNI bisa terlebih dahulu mempersiapkan beberapa pangkalan darurat, baik di pulau Ranai Besar, atau beberapa pulau lain dalam kepulauan Riau. Selama ada landasan sepanjang 600 meter, dan lebar 10 meter; yg juga akan mudah disamarkan; ini sudah cukup untuk menyembunyikan Gripen.

      ## Kedua, tidak seperti pespur lain; Gripen sudah dirancang dari awal untuk beroperasi dalam Satu System yg terkoneksi, yg sudah jauh lebih siap tempur.

      Koordinasi antar tiap formasi 4 Gripen - Erieye - Ground Control - dan juga, radar apapun yg dibawa KRI / KCR TNI-AL akan sangat mudah baik untuk operator, ataupun kontrol, dan dapat terlihat bahkan dalam satu layar, di Jakarta.

      Ini berarti kita akan menguasai Situational Awareness dibanding lawan;
      kita akan bebas menentukan kapan mau menyerang, dan menembak jatuh lawan (lebih baik di saat yg tak terduga), ataupun menghindari formasi lawan; kalau misalnya, kemungkinan Gripen bisa tertembak jatuh terlalu besar.

      Kuncinya, adalah bebas menentukan kapan mau bertempur, dan terus dapat mempertahankan jumlah untuk konflik yg berkepanjangan.

      Kalau Aggressor kemudian menghitung setelah satu-dua minggu kerugian mereka terlalu besar, mereka bisa menarik mundur upaya mereka, tanpa pernah berhasil mendaratkan satupun tentara di Ranai.

      Delete
    3. ya admin kita harus bikin airstrips berdasarkan konsep FOB & camouflage airbase; network centric operation & AEWC itu vital yang sangat itu interkoneksi antara pespur, ground based radar, arhanud, PKR & KCR; investasi ke misil WVR,BVR,cruise missile; kalau menurut saya 2 skuadron Gripen terlalu nge-pas, 4 angka ideal sama 4 - 6 AEWC. kita juga harus investasi pesawat tanker yang efektif & ekonomis. kalau menurut saya admin, kayak Battle of Britain versi mini, peluang kemenangan kita terutama di udara dan laut, elemen darat sudah tidak relevan karena kita negara kepulauan, konsep berpikir kita harus berubah, pola tempur udara & laut Indonesia harus berubah. pukul telak lawan di udara & laut jadi mereka ragu buat ngelanjutin operasi

      Delete
    4. Bung Thomas,

      ## 32 Gripen, IMHO, memang hanyalah Minimum Essential Force -- walaupun secara tehnis kemampuannya akan jauuh melebihi "mimpi" 180 pesawat, yang tanpa perencanaan jelas -- hanya untuk mengejar jumlah.

      Jangka Menengah, memang kita bisa mengocok pilihan antara ---
      + 32 Gripen-C/E, dan 32/34 F-16; atau...
      + 32 Gripen-E, 16/32 Gripen-C (sewaan), dan 32/34 F-16

      Idealnya sih memang jangka panjang;
      + 64 Gripen-E, atau kombinasi 32 Gripen-E, dan 32 Gripen-C

      2 Erieye sudah cukup untuk mencapai MEF, walau memang idealnya sih 4 - 6 unit; mungkin termasuk 2 paket GlobalEye.

      ## Memang Benar; investasi ke persenjataan saat ini masih terlalu minimal.
      Ini adalah masalah untuk ketiga angkatan; tidak hanya TNI-AU.

      Kebanyakan opini umum, yg sebenarnya diawali dari para pejabat, saat ini seperti berasumsi, kalau pesawat / tank / kapal-nya sudah datang, berarti "efek gentar'nya automatis ada.

      Kenyataannya kan tidak bisa begitu?
      Hanya bisa membeli, bukan berarti automatis bisa menguasai kemampuan apa yg sudah dibeli, apalagi kalau tanpa training regime yg memadai, ataupun stock persenjataan yg cukup.

      Inilah kelemahan berikutnya:
      "Sistem Akuisisi Mie Instant" (tinggal tuang air panas langsung jadi), atau...
      "Akusisi Macan Ompong"; tidak perlu senjata, yg penting barangnya ada.

      Kembali, karena sistem akuisisi yang tidak karuan ini,
      tidaklah mengherankan kenapa TNI-AU tempo hari "merasa butuh" AW101, walaupun PT DI sudah bisa memproduksi Eurocopter EC225, yang kemampuannya equivalent.

      =========
      kalau menurut saya admin, kayak Battle of Britain versi mini, peluang kemenangan kita terutama di udara dan laut, elemen darat sudah tidak relevan karena kita negara kepulauan, konsep berpikir kita harus berubah, pola tempur udara & laut Indonesia harus berubah. pukul telak lawan di udara & laut jadi mereka ragu buat ngelanjutin operasi
      =========

      Begitulah.
      Tapi memang mengubah konsep pikir ini akan susah.

      Biar bagaimana, masih ada kecondongan politik internal TNI, yang karena pengaruh mulai dari jaman Perang Kemerdekaan, sampai pemerintahan Orde Baru; cenderung lebih pro-Angkatan Darat; inilah kenapa TNI-AD "merasa perlu" membeli AH-64E, ataupun Leopard MBT.

      Secara tehnis, lebih baik TNI mulai mengarah ke integrasi yang lebih dekat antara ketiga angkatan; agar masing2 tidak merasa terlalu "kami-atau-mereka", tetapi "kita".

      Delete
  2. Kenapa Latihan militer sama Russia dianggap "pariah"oleh internasional?
    Itu yang satelit Airbus sudah mengintai Pangkalan Russia di Suriah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Setelah mencaplok Crimea, intervensi di Syria, dan menembak jatuh MH17 (secara resmi menyangkal), "pariah" sebenarnya definisi tak resmi yang diberikan ke Russia; seperti misalnya, sudah disebut dalam The Australians

      Tidak hanya seperti dalam survey tempo hari; secara politik; pemerintah semua negara2 yang bersahabat dengan Indonesia, mulai dari negara2 Timur Tengah, Australia, Jepang, negara2 Eropa, dan US; semuanya memandang Ruski suatu negara "yang tidak bisa dipercaya".

      Malaysia saja lebih pusing 7 keliling;
      setengah armada pespur mereka buatan Ruski, tetapi eh.... ternyata MH17 mereka bisa tertembak jatuh Buk-M1 missile di atas Ukrania Timur, dan kalau masih belum cukup parah; Russia menyangkal "terlibat" dalam penembakkan tersebut, dan malah menyalahkan Ukrainia.

      ## Dalam hal latihan udara.... Ruski sebenarnya mempunyai beberapa masalah;

      Pertama, kemampuan finansial mereka terbatas; mereka tidak bisa rajin mengirim pespur Sukhoi berbiaya op mahal mereka ke negara lain, untuk latihan bersama.

      US Marine, misalnya, tempo hari masih bisa mengirim 4 F-18C untuk berlatih bersama 4 F-16 Indonesia. Ruski tidak mempunyai pengalaman, ataupun kemampuan untuk melakukan hal yg sama.

      Kedua, Ruski sejak 2014 mulai mengorganisir latihan internasional Aviadart, yang "seperti Red Flag" --- tapi peminatnya hanya PRC, dan Belarusia (skrg juga sudah mulai dimusuhi).

      ========
      http://foxtrotalpha.jalopnik.com/incredible-aerial-footage-from-russias-aviadarts-exerci-1617018839
      ========

      ... tetapi mengingat keadaan sikon politik dewasa ini, meragukan kalau akan ada negara peminat lain. Tentu saja, salah satu faktor adalah... biaya operasional Sukhoi terlalu mahal untuk dikirim jauh2.

      Kedua, prosedur dalam Aviadart meragukan akan compatible dengan kebanyakan sistem latihan negara2 lain, yg biasanya lebih condong ke sistem NATO.

      ## Foto AU Ruski di Syria --- yah, seperti dalam caption; ini hasil foto dari satelit milik Airbus Defence and Space.

      Memang mulai banyak negara sekarang mulai mengoperasikan reconnaissance satelite semacam ini.

      Delete
  3. admin ini saya aja atau saya udah mulai ngerasa Korsel mulai jadi " Russia " versi Asia, perekonomiannya sama sama lagi nge-drop dan tergantung dari bisnis alutsista, untuk LPD; Changbogo; T-50; Wongbee udahlah yang berlalu sudah terjadi tapi terus tiba-tiba dia minta kita beli alutsista lagi kayak K-21, gak lama lagi pasti mulai aneh-aneh dengan FA-50 embel-embelnya buat KFX/IFX. Saya kok ngerasa kita mulai agak-agak masuk jerat Korsel, itikadnya mulai gak wajar pas minta kita beli alutsista lagi, bukannya kita itu udah beli termasuk banyak ya, belum lagi investasi KFX/IFX, curiga lama-lama Korsel kayak mau nguntungin kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi gak tau juga sih admin, baru praduga aja kalau LPD oke lah jadi Makassar class terus Tarantula FSV jadi Badak, tapi ada yang janggal tapi susah diomong

      Delete
    2. oh iya admin saya juga bingung pentingnya apa sih Chiron SHORAD buat kita, bukannya kita udah banyak ngoperasiin RBS-70 terus Chiron itu buat apaan

      Delete
    3. ## Yah, Korea ingin menjadi penjual senjata internasional, dan sptnya mrk sudah mulai membaca, kalau dalam masa kekacauan spt skrg, kita "mangsa empuk".

      ## Chiron SHORAD sbnrnya lingkupnya lebih pendek dibanding RBS-70.

      Berat hanya 24 kg; lebih masuk ke kategori hand-held Manpads, spt FIM-92 Stinger, atau SA-7, dengan jarak jangkau hanya 2 km.

      RBS-70 lebih complex, beratnya 87 kg, dan jarak jangkaunya bisa mencapai 8 km; dengan laser "beam riding" targeting.

      Paling tidak kita beruntung disini, krn tidak spt kebanyakan akuisisi lain yg overlapping, keduanya saling melengkapi.

      Delete
  4. Polemik AW101 berlanjut...
    =================
    Link Gatra News: Interview dengan KSAU

    Link Antara News: KSAU: Pengadaan AW101 sesuai prosedur
    =================

    ## GatraNews memberi beberapa pertanyaan yang semakin kritis:
    KSAU sbrnnya tidak menjawab kenapa TNI-AU merasa membutuhkan AW101, kalau PT DI sudah dapat memproduksi Eurocopter EC225.

    Alasannya yah, karena butuh jumlah.... --- ini kembali mengacu ke RENSTRA kacau TNI-AU yang menyesatkan, karena mengejar jumlah.

    FYI --- negara asal produsen Super Puma; Perancis --- merasa tidak perlu kok mencampuradukkan armada helikopter antara AW101, Super Puma, atau Mi-17 seperti di Indoesia.

    Sementara negara2 NATO lain mulai membeli NH90; Perancis tetap tidak ada rencana membeli model lain -- malah memperbesar order untuk EC225.

    Kenapa Indonesia tidak mencontoh Perancis, dan setia ke produk license production lokal, dibanding terus mencampuradukkan alutsista?

    ## Yah, seperti dugaaan dalam artikel lalu tempo hari, negara sudah membayar Rp 725 milyar untuk pembelian ini --- mnrt KSAU termasuk paket lengkap (Training, spare part dll) --- tetap saja, IMHO terlalu mahal.

    "Kickback"?

    ## "...sesuai prosedur..." mnrt artikel AntaraNews.

    Yah, pertanyaannya, kalau sesuai prosedur; kenapa Menhan, Panglima TNI, ataupun Komisi I DPR tidak tahu-menahu pembelian AW101 ini???

    .... dan begitulah polemik akuisisi alutsista gado-gado negara kita bertambah parah.....

    IMHO, inilah salah contoh pemborosan yang tidak perlu.
    Selama kita terus membeli alutsista gado2, yah, selamanya tidak akan bisa maju, karena terlalu sibuk bergado2 ria.

    Kita akan memperbandingkan Mi-17 vs AW101 vs EC225 vs NH90 vs UH60 Blackhawk --- lima helikopter, yang sebenarnya kemampuannya serupa dalam artikel mendatang.

    Dari kelima tipe ini --- saat ini kita sudah mengoperasikan tiga macam, dan ada pembicaraan mau membeli Blackhawk.

    Sangat mengecewakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. misteri admin, tambah ada yang ngomong tentang Blackhawk sama Chinook itu idenya darimana coba, potensi overlapping products. admin, request artikel kalau keadaannya kebalikan skenario di atas, bagaimana pertempuran udara atas Natuna dimenangkan Indonesia terus musuh mundur dan memilih penyelesaian diplomatik buat nyelametin muka

      Delete
    2. Singkat cerita, kasus AW101 ini adalah case study korupsi dalam akuisisi Alutsista, nanti kita akan cover lebih jauh.

      ## Untuk bisa memenangkan skenario Natuna diatas, perlu banyak perubahan,
      Yang pasti sih status quo seperti sekarang hanya akan membawa bencana di masa depan.

      Kita akan melihat "what if" skenario, seandainya ini tercapai.

      Gripen, dalam hal ini, hanyalah fasilitas yg ideal, tapi tanpa komitmen penuh; yah mau mengoperasikan apapun juga ya, hasilnya pasti memble.

      Entah apa yg dipikirkan dewasa ini;
      Kalaupun kita mengoperasikan 3x lipat lebih banyak pespur daripada RAAF Australia sekalipun, tetap saja status quo-nya tidak akan berubah;

      RAAF akan jauh lebih unggul dalam segala hal.

      Delete
  5. Apakah Insiden bawean karena Indonesia tidak punya AWACS?
    Apakah Black flight sering terjadi karena tidak punya AWACS?
    Rafale India untuk menggantikan SU-30MKI?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan, bung ikhsan,

      Semua inisiden black flight, ataupun insiden Pulau Bawean terjadi karena satu alasan yg sederhana: Kita tidak mempunyai SISTEM MODERN yg siap tempur.

      Pesawat tempur, AEW&C, fasilitas Networking, radar di darat, atau Alutsista manapun juga -- semuanya hanyalah benda mati.

      Tanpa adanya SISTEM, dan komitmen penuh dari pengguna untuk terus berkembang;
      yah, mau membeli apapun juga, secanggih apapun juga, seberapapun banyaknya; hasilnya akan selalu... percuma.

      ## Rafale India?
      Kita lihat saja lebih lanjut, karena mulai 2020-an, kebanyakan Sukhoi-MKI harus akan mulai dipensiunkan.

      Delete
  6. admin kok saya ngeliat kerjasama Embraer-SAAB beda banget dibandingin PT.DI-KAI, kok bisa Brazil minta fasilitas industri dibuat di Sao Paolo sama melibatkan berbagai perusahaan lokal malah 60% penyusunan sama 80% uji coba dilakukan di Brazil nah kalau proyek KFX/IFX bukannya apa admin kok kita kayak "buta", ngikut Korsel dan keterlibatan kita sangat terbatas, saya agak ragu dengan anggaran total bersama 8 milyar USD, agak curiga bakal over budget kayak F-35.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, begitulah,

      ===========
      admin
      kok saya ngeliat kerjasama Embraer-SAAB beda banget dibandingin PT.DI-KAI, kok bisa Brazil minta fasilitas industri dibuat di Sao Paolo sama melibatkan berbagai perusahaan lokal malah 60% penyusunan sama 80% uji coba dilakukan di Brazil?
      ===========

      Sekarang sudah tahun 2016.
      Pemerintah, yg juga menandatangani "proyek Hambalang" dan puluhan proyek mangkrak lain yg sudah merugikan negara triliunan rupiah, menandatangani kontrak KF-X di tahun 2010.

      Sejak itu memang kita pernah dapat apa?

      Sama seperti Hambalang, tidak ada hasilnya, bukan?
      Hanya membuang2 uang demi mengejar mimpi yang tak mungkin tercapai.

      =====
      nah, kalau proyek KFX/IFX bukannya apa admin kok kita kayak "buta", ngikut Korsel dan keterlibatan kita sangat terbatas.
      =====

      Inilah fakta yang tidak bisa dipungkiri:
      Kerjasama dengan Saab selama 30 hari, akan memberikan jauh lebih banyak keuntungan dengan KAI Korea sejak 2010.

      Sebagai referensi, yah, Embraer, dan Boeing, yang juga sudah memetik banyak keuntungan dari kerjasama Saab dalam proyek T-X.

      Tidak hanya Boeing T-X sekarang sudah terbang, dan mulai testing; harganya bisa dipastikan akan lebih murah daripada Lockheed / KAI T-50A, yang lebih rumit, dan dngn sendirinya akan lebih mahal dibanding versi T-50 yg mereka jual ke Korea, Indonesia, Filipina, dan Iraq.

      Proyek KF-X / IF-X ini sebenarnya hanya menjadi sisi lain dari koin kekacauan pola akuisisi negara kita; dengan "keinginan membeli alutsista melalui perantara, spt AW101, dan Sukhoi";

      Membuang uang terlalu banyak, untuk hasil yang bisa dipastikan akan sangat minimal...

      Delete
  7. KSAU bilang pengadaan heli AW sudah sesuai prosedur pertanyaannya prosedur mana yg dipakai sesuai prosedur tapi ko dari panglima sampe presiden tidak tahu menahu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah, bung irman

      Sbnrnya dalam interview dengan Gatra, dan Antara News diatas, sbnrnya hasil penyidikan KSAU malah menunjuk bukti kalau pembelian AW101 ini adalah kasus korupsi.

      Penggelapan dana Rp 725 milyar, tanpa persetujuan pemerintah.

      Yang tandatangan siapa?

      Kelihatannya TNI tidak meminta dana baru, tetapi mengalihkan dana dari anggaran lain untuk menutup pembelian ini di tahun 2015.

      Lebih lucu lagi, krn kontrak sudah dibatalkan, dan hanya 1 heli yg terbeli;
      biaya operasional, dan latihan untuk 1 unit ini saja akan melebihi 6 - 7 NAS-332, atau 5 EC225 Super Puma produksi PT DI.

      Lebih baik pemerintah melanjutkan pengusutan kasus sampai tuntas, dan bersiap mengajukan gugatan ke Augusta-Westland untuk prosedur "penjualan illegal".

      Delete
    2. yup menjadi pertanyaan sebetulnya apakah anggran TNI selama ini sudah di audit dgn benar atau tidak

      Delete
  8. Kenapa Russia menyerang Ukraina dan memerangi negara2 ex-soviet lainnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. dia mau bikin hegemoni di Eropa timur balik sebenarnya ke arah Czarist Russia di abad 18 & 19, dulu dia secara politik,dll ngedominasi negara-negara Baltik, Ukraina, Belarussia, Finlandia bahkan sampai Polandia tapi waktu revolusi komunis 1917 beberapa negara bisa ngelepasin diri tapi pasca perang dunia-2, Uni Soviet kembali ngedominasi sampai setengah Jerman, akhir tahun 80an Uni Soviet dilanda krisis moneter sekalian kepemimpinan yang mulai demokratisasi dibawah Michael Gorbachev, Soviet bubar dengan negara terbesar Russia, berhubung perekonomian Russia mulai merangkak sampai jadi anggota G-20 & BRICS, Putin kayaknya mau mengembalikan kejayaan Czarist Russia di masa lampau tapi negara2 Eropa timur sebaliknya udah bergabung NATO & EU

      Delete
  9. menarik mengikuti blog ini,ternyata tranparasi tni sangat kacau dan ini fenomena gunung es yg tampak. bagaimana prosedur audit di tubuh tni menurut admin. kpk bisa masuk ga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat datang dalam komentar pertama ;D

      ## KPK sudah menyatakan siap membantu menyelidiki.
      Skrg bolanya sudah berada di tangan pemerintah, bagaimana langkah selanjutnya, setelah KSAU melapor katanya akuisisi ini "sesuai prosedur".

      ## Realitanya, kasus AW101 ini bukan yg pertama!
      Terlalu banyak proses pembelian alutsista sejak 2005, berlangsung antara pejabat - penjual.
      Untuk tanda jasa pembelian, tentu pejabat mendapat "pesangon".

      Berikut daftar beberapa belanja import sejak 2005 yg melalui prosedur G-to-G, dan bebas pesangon penjual:

      + F-16 Block-25+ (FMS)
      + AH-64E (FMS)
      + T-50i
      + KT-1
      + C-295
      + C-130HS (hibah / second hand RAAF)
      + Leopard & Marder (second-hand ex-Bundeswehr)
      + PKR 9513 & 10514
      + LPD Makassar
      + Changbogo Type-209
      + Helikopter AS565
      (Ini tidak semua, hanya menurut memori)

      Tentu saja, semua produk PT DI, yg perusahaan pemerintah bebas pesangon:
      .... inilah kenapa pejabat lebih memilih AW101 daripada Eurocopter EC225, yg bisa diproduksi lokal

      ...inilah kenapa pejabat dulu juga lebih suka Alenia C-27J, daripada C-295, yg ditawarkan produksi lokal.

      Catatan:
      Semua pembelian alutsista dari Ruski sih, sudah pasti lewat perantara, dan akan selalu ada pesangon.

      Inilah juga kenapa pejabat lebih suka Sukhoi, daripada F-16, walaupun sering rusak, jarang bisa terbang, dan doyan "perbaikan mendalam".

      Delete
  10. sedikit Refleksi Bung GI...

    TNI AD Seharusnya Dari Awal membeli Super Puma,lumayan buat membantu PTDI Yg bermasalah pd thn 2000an, dan bukan membeli Heli Mi 17, Urusan Heli Serang Tidak perlu membeli Mi 24, harusnya membeli Eurocopter Tiger, Atau Gazelle... kalo sebelumnya ini sudah terjadi.

    meski Penerbad Punya 16 Heli Mi 17, ehh ujung ujungnyasering meminjam Super Puma TNI AU buat ngangkut Pasukan kopassus. Mungkin itu yg membuat TNI AU ingin Membeli AW101.

    Mudahan saja Mi17 nya di replace secepatnya dengan Blackhawk, atau EC725.



    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang disini kelihatan ada kekacauan dan kurang koordinasi, antara Pemerintah / DPR sebagai koordinator, industri lokal, TNI, dan kalau kita mau belajar mnrt sistem Saab... seharusnya di masa depan juga melibatkan perguruan tinggi akademis negeri.

      Armada helikopter TNI-AU, dan -AD paling kacau.

      ## Tidak ada satupun juga negara di dunia yg cukup gila untuk mengoperasikan Super Puma, Mi-17 (nggak bisa servis sendiri / gampang rusak), dan kemudian masih mau menambah AW101, dan UH60 Blackhawk.

      Kesemua helikopter ini dapat di-customisasi utk memenuhi tugas yg sama.

      Seharusnya keluarga Super Puma, NAS332, dan H225M (EC725), yg 30% nilai transaksinya balik ke kantong lokal, sudah cukup utk mengisi semua pernak-pernik yg dibutuhkan.

      VVIP, medium-lift, EMS (Emergency Medical Service)

      Kapasitas maksimum 28 penumpang, dan payload 5,000kg -- hampir sama dgn semua pilihan lain.

      Walaupun akan ada bbrp perbedaan kemampuan dalam bbrp situasi; memangnya kenapa?

      Ini tidak bisa dijadikan alasan.

      Perancis, pembuat Super Puma, tidak pernah merasa perlu membeli AW101, Mi-17, atau Blackhawk kok!

      ... dan mrk sudah puluhan tahun mengetes Super Puma dalam konflik.

      ## Untuk helikopter serang juga parah -- tidak ada negara yg segila itu mengoperasikan AH-64, dan Mi-35P, yg skrg sedang "perbaikan mendalam".

      Kita juga tidak terlalu membutuhkan helikopter anti-tank semacam ini di Indonesia.

      Seperti dalam artikel, tidak akan ada target tank.

      Lebih baik utk heli serang menyelaraskan dengan Eurocopter AS-565 yg sudah dibeli TNI-AL untuk kebutuhan ASW; yg juga akan dapat dikonfigurasi utk helikopter serang, atau bahkan membawa Mistral air-to-air missile.

      Yah, barangnya sih memang tidak kelihatan "prestigious" spt Tiger, atau Apache, tapi sudah cukup utk kebutuhan.

      Kebutuhan helikopter kita tidak terlalu rumit; spt misalnya, kan tidak dituntut harus beroperasi di kawasan pegunungan yg tinggi, atau untuk menghadapi tank lawan.

      Untuk urusan helikopter, kita memang seharusnya sudah cukup hanya tergantung ke license production buatan Perancis.

      Inilah kenapa... patut disayangkan krn akibat keputusan politik pmrnth Orde Baru di tahun 1986;
      kita dulu seharusnya membeli Dassault Mirage 2000.

      Delete
    2. @eki masardika

      Didunia penerbangan ada istilah"type rating" yang berlaku utk penerbang&teknisi yang telah berkualifikasi mengoperasikan&merawat pesawat/heli tipe tertentu.

      Jadi aneh rasanya kalo ada yg bilang ttg pinjam-meminjm heli (seperti angkot saja,heee)...yang ada adl BKO(heli,penerbang+awak,teknisi) oleh kesatuan lain.

      Matra yang biasa mengoperasikan heli mi-17 yang beravionik manual akan kesulitan (bagi pilot&teknisinya)mengoperasikan heli yg. beravionik digital begitu saja tanpa melalui sebuah proses pendidikan&latihan.

      Tapi bgmnpun juga heli mi-17 cukup bersahabat dg operator berkantung terbatas, krn selain harganya yg rendah, heli tipe inipun mudah dirawat(bukan maintenen berat lho) oleh personel yg tidak memiliki kecakapan tinggi...tapi dgn konsekuensi intensitas perawatan yg lebih tinggi dibanding heli buatan barat

      Delete
    3. Bung hari,

      Keunggulan apapun dari Mi-17 buatan Ruski, yg bisa dinikmati di negara lain, tetap saja merupakan liabilitas kalau dioperasikan di Indonesia.

      Mengikuti jejak Sukhoi, dan Mi-35P tempo hari, Mi-17 akan selalu membutuhkan "perbaikan mendalam" di luar negeri.
      ========
      http://jakartagreater.com/helikopter-mi-17-tni-angkatan-darat-selesai-melakukan-perbaikan-di-vietnam/
      ========

      Ruski tidak akan mengijinkan "maintenance berat" dilakukan sendiri di Indonesia,
      bukan hanya karena alasan alih tehnologi (mereka tidak akan mau memenuhi), tapi juga karena alasan politik (mereka tidak mempercayai Indonesia) , dan ekonomis (perbaikan mendalam lebih menguntungkan mereka).

      Tentu saja, jangan pernah lupa, kalau semua yg buatan Ruski,
      harus selalu dibeli lewat perantara Rosoboronexport, dan perantara2 lokal ya.

      Memakai Super Puma memang mungkin sekilas kesannya bosan,
      tapi uang harga beli 30%-nya kembali ke kantong pekerja lokal,
      dan lebih penting lagi,
      tidak seperti pembelian Mi-17, atau AW101 (yg tidak pernah disebut akan memenuhi persyaratan Uu no.16/2012);

      Kedaulatan atas alutsista 100% ada di tangan negeri kita sendiri, bukan di tangan negara lain, atau para perantara.

      Sama seperti rongsokan Sukhoi, semakin cepat semua Mi-17/35 buatan Ruski dipensiunkan, lebih menguntungkan negara.

      Delete
  11. Saya tinggal Di Banjarmasin, Kalimantan selatan, kebetulan jalanan Di kalimantan kebanyakan berada di sekitar hutan,tapi lebar dan mulus. Nah kalo TNI AU sudah Punya 36 Gripen E/F,32 Gripen C/D,4 erieye dan 4 globaleye ,plus stock ratusan Missile AMRAAM C7,AIM9X,IRIS-T,Dan MBDA Meteor,hanggar baru kamuflase Saab,dan National Networking. Nah itu baru namanya Struktur Armada TNI AU yg bagus,terlihat Apik,teratur,dan jauhh lebih modern.

    Gripen Sangat Cocok Di deploy dijalan pulau kalimantan yg kebanyakan disampingnya Hutan hutan. Jadinya seolah olah ada "pangkalan udara siluman" yg siap menyerang tiba tiba tetapi posisinya selalu Berpindah pindah yg membuat lawan kesulitan. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah, bung Eki,

      Kalau kita mengoperasikan Gripen, sebenarnya salah satu trick yang dapat kita gunakan adalah memadukannya dengan pembangunan infrastruktur jalan di daerah-daerah, ataupun di pulau-pulau terpencil.

      Pemerintah, atau Pemerintah Daerah dapat mempersiapkan beberapa jalan lurus 600 meter, dengan lebar +/- 10 meter sebagai "landasan darurat" untuk Gripen.

      Kunci keunggulan disini: Lawan manapun tidak akan bisa menebak dimana kita dapat menempatkan Gripen di saat konflik.

      Dengan demikian kemungkinan Gripen dapat dihancurkan di darat menjadi 0,0%.
      Itu baru contoh efek gentar yang nyata.

      Kembali, semuanya akan butuh perjuangan, komitmen, dan kemampuan berinovasi lokal.

      Miskonsepsi di Indonesia: Jenis apa yang kita beli (dan berapa jumlahnya) akan 100% menentukan efek gentar.

      Kesalahan Besar.

      Kalaupun kita bisa membeli F-22 sekalipun, hasilnya akan mubazir; karena kita tidak akan mempunyai kemampuan mengoperasikannya semahir Australia mengoperasikan Super Hornet.

      Sebenarnya "mengejar jumlah" ini membuat para pejabat menjadi seperti agen sales.

      Sedangkan "pembelian alutsista" hanya menjadi seperti kecanduan narkoba, yg merugikan negara.

      ======================
      Contoh Case Study
      ======================
      Kalau Gripen masih dijual lewat agen perantara Gripen-Internasional; kemungkinan besar, seperti pendukungnya tidak akan kalah banyak dengan pendukung Sukhoi Su-35 sekarang.

      ... ini dikarenakan perantara Gripen-Internasional, dibelakang layar akan memulai bidding war dengan agen2 dari Rosoboronexport untuk "berebut pengaruh" pejabat akuisisi.

      Akan tetapi..... dalam situasi semacam ini,
      Terlepas dari segala keunggulannya, sy tidak akan mendukung Gripen; karena harga yang akan dibayar negara bisa mencapai 10 - 30% lebih mahal daripada seharusnya; untuk membayar komisi perantara / pesangon pejabat.

      F-16V yang ditawarkan lewat program FMS akan lebih terjamin bebas korupsi -- tapi tentu saja pendukungnya akan sedikit.

      Kebutuhan Negara adalah menghindari prosedur transaksi alutsista di bawah tangan. Inilah kesadaran yang harus kita galakan dewasa ini.

      Jangan karena "kecanduan" merasa perlu terus menambah jumlah, kita jadi melupakan segala hal!

      Delete
  12. sebenarnya rencana awal akusisi heli AW ini berapa unit bung

    ReplyDelete
    Replies
    1. awalnya ada yang cerita 6 terus 3 tapi karena berbagai polemik jadinya 1, Mrs.X malah nyuruh kita beli sampai 13, aneh itu orang, berapa banyak sih dibayar AW buat ngedorong arus publik lewat statement-statement kontroversinya, bahaya dikasih ruang publik dia

      Delete
    2. Seperti diatas,

      Memang para pejabat ini sekarang jadi seperti "agen sales",
      yang menjual narkoba "jumlah alutsista" ke publik.

      Kalo melihat di formil2, kita juga jadi kelihatan kecanduan, bukan?
      Ini dikarenakan sudah tercipta persepsi alutsista kita selalu kekurangan jumlah.

      Sama seperti kalau kecanduan narkoba, mau beli berapapun, jumlahnya tidak akan pernah cukup, bukan?

      Inilah kenapa semua RENSTRA TNI, yg selalu dijadikan dalih pembelian lebih banyak lagi narkoba, sudah saatnya harus ditulis ulang.

      Kita hanya akan bangkrut, tanpa penah bisa mendapat pertahanan yg siap tempur.

      Delete
  13. admin bagaimana dengan perbandingan J-11/Su-27 & J-15/Su-33 vs Gripen C/D & Gripen E/F dengan misil2nya masing2 sama keuntungannya di pihak Indonesia kalau data link sudah terbentuk diikuti pesawat AEWC

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Thomas,

      Dari segi platform Su-27/J-11, Su-33/J-15, atau Su-30MK2/J-16 --- secara tehnis semuanya sudah terlalu ketinggalan jaman. Base modelnya tehnologi 1980an (Su-27/33), atau 1990an (Su-30).

      J-15, kalau diluncurkan dari kapal induk Liaoning, boleh dibilang bukan ancaman. Jarak jangkaunya kurang dari 200 km, dan tidak akan bisa membawa lebih dari 4 missile.

      PRC juga mendapat versi Export; tapi kabarnya mereka sudah mempermak avionic, radar, defense suite, ataupun missilenya ke buatan sendiri.

      Tetap saja, basis tehnologi PRC (yg sudah diembargo sejak 1989), dan juga kebanyakan dapat dari ilmu menjiplak, tidaklah jauh lebih tinggi dibanding tehnologi Ruski.

      ... Kalau tidak sih, mereka tidak akan merasa perlu membeli Su-35K.

      Lebih lanjut secara umum;
      RCS-nya sebesar lapangan sepak bola, ukuran yg lebih besar dari F-15 akan membuatnya kesulitan menghindar pandangan mata pilot dalam pertempuran jarak dekat, radar, ataupun IRST-nya (mnrt pilot NATO / Israel yg sudah mengetes) disebut kurang reliable, mesinnya gampang rusak / boros bensin; dan ketiganya tidak bisa membawa drop tank.

      ## Jadi dari segi tehnis, bahkan Gripen-C MS-20 sudah jauh lebih modern dalam segala hal.

      + Tidak seperti semua pespur lain, Gripen dirancang untuk beroperasi tightly networked dalam formasi 4 pswt, yg juga dapat dikoordinasi mudah dengan formasi Gripen yg lain. Ini membuka kemungkinan kalau 1 Gripen bisa memancing lawan, sementara 3 yg lain yg akan membunuh.

      + RCS Gripen kurang dari 0,1m; dan IR-signaturenya juga super rendah; hampir tidak mungkin terlihat di radar Sukhoi.

      + Dalam latihan NATO, Gripen hampir tak terlihat mata pilot lain, dlm jarak dekat.

      + IRIS-T dapat ditembakkan ke belakang pesawat, dapat berfungsi menembak jatuh BVR missile, dan planar array seekernya tidak semudah itu dikecoh flare (baca: dirancang untuk membunuh Sukhoi).

      + Meteor akan dapat ditembakkan dari luar jarak tembah semua BVR missile PRC, dan kemungkinan mengena jauh lebih besar.

      ## Masalahnya kembali ke kesiapan masing2 pengguna, dan bentuk latihan apa yg sudah menempa setiap crew.
      Kalau pilot Gripen kurang latihan (seperti di Afrika Selatan), yah akan lebih sulit utk menang.

      Nanti sy akan menuliskan skenario dalam bentuk cerita, bagaimana Gripen-Indonesia dapat menghadapi Su-35K PRC, ataupun J-20 -- dengan asumsi kalau crew Indonesia sudah jauh lebih terlatih dibanding standard sekarang.

      Mungkin ini artikel berikut dulu, utk mengambil break dari polemik AW101 ini.

      Delete
  14. admin, itu gimana Presiden Donald J.Trump bilang tidak akan ada lagi F-16 yang diproduksi di luar negeri, udahlah berarti kalau gitu hilang potensi pembeli dari India & Indonesia. harusnya fiks ini Gripen kandidat tunggal pengganti F-5E & Hawk-100/200

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## re produksi F-16 -- ini sbnrya mengacu ke polemik penawaran produksi ke India.

      Lockheed menawarkan membuka lini produksi F-16 (atau mungkin memindahkan sebagian lini produksi) di India;
      Krn penawarannya G-to-G, sudah mendapat persetujuan pemerintah Obama.

      # Trump berbeda.
      Pernyataannya dari dahulu selalu kontradiksi satu dengan yg lain;
      "Pekerjaan di United States tidak boleh dipindahkan keluar," katanya.

      Lockheed menawarkan pemindahan lini produksi F-16, karena mrk mau berkonsentrasi ke F-35; order book-nya juga sudah semakin sulit, krn faktor politik.
      Pemerintah US lebih cenderung mendorong semua negara sekutu membeli F-35; dan buat mrk yg tidak mendapat ijin; Boeing F-15, atau F-18SH.

      Tetap saja, berarti future order F-16, kemungkinan akan dialihkan ke produksi di India.
      Sekarang semua pihak ragu, apakah Trump akan mengijinkan?

      Tahun 2016; Trump sempat menyerang Ford, krn memindahkan lini produksi Fiesta (& membuka pabrik baru) ke Mexico.
      "Pekerjaan di US tidak boleh di-export keluar!" katanya.

      Padahal Ford bilang, pabrik mereka yg di US tidak akan ditutup, melainkan lini produksinya diganti untuk memproduksi SUV besar yg profit marginnya lebih tinggi. Tidak ada pekerjaan di US yg hilang, dengan membuka pabrik di Mexico.

      Ford Fiesta mobil kecil, harga murah, jadi profit marginnya lebih kecil. Masuk akal untuk menurunkan biaya produksi, dngn memindahkan pabrik ke Mexico, agar harganya tetap bersaing.

      Trump tetap berkicau, "Kita akan menerapkan tarif import 30% ke produk Ford yg diproduksi di Mexico!" --> ini sbnrnya melanggar perjanjian bebas tarif NAFTA antara US - Canada - Mexico.

      .... Setelah Trump jadi presiden, Ford memutuskan membatalkan rencana ini, sblm Trump "ngajak ribut" lagi via Twitter :)

      Yah, dari sudut pandang ini, bukan tidak mungkin Trump akan membatalkan tawaran Lockheed yg sudah disetujui Obama sebelumnya.

      ## Konsekuensinya ke Indonesia:
      Ngapain masih mau membeli F-16, yg sekarang statusnya semakin di-"anak tiri"-kan di US?

      Terlepas apa lini produksinya di India, atau di Texas; prospek upgrade-nya di masa depan hanya akan semakin terbatas; karena pengguna utamanya saja, USAF sudah semakin tidak antusias.
      Mana lagi hanya versi export downgrade.

      ## Dalam kompetisi pespur di Indonesia;
      Pemerintah Trump akan melihat persyaratan utk memenuhi UU no.16/2012, dan (tidak seperti Obama) kemungkinan juga akan sangat malas untuk kompromi,
      terutama di bagian alih tehnologi, dan prospeknya lebih banyak part F-16 diproduksi di Indonesia.

      ... disinilah peluang Saab, dan GE Engines menjadi lebih besar (F-16V hanya ditawarkan dngn mesin PW).

      Daripada mengambil resiko Indonesia beli Sukhoi Flemon; akuisisi Gripen paling tidak masih mendekatkan Indonesia ke US, daripada sebaliknya.

      Inilah kenapa sy juga menulis, kita harus membeli lebih banyak AIM-9X, dan AMRAAM terlebih dulu -- selain utk mempersenjatai F-16 Block-25+, juga agar kita terlihat akan terus menjadi customer setia senjata US. Mau beli Gripen, atau F-16 kan tidak masalah, krn 33 F-16 yg ada juga masih tergantung buatan US.

      Diversifikasi persenjataan dengan Gripen, dapat dilakukan bbrp tahun kemudian (saat itu mereka juga sudah lupa).

      Smart politics. :D

      Delete
  15. =======
    Update untuk kasus AW101: Pernyataan Augusta-Westland ke AIN
    =======

    Link AINonline 24-Februari-2017

    Ternyata memang benar; MSN-50248 yang diantar ke Halim, adalah sisa stock dari 7 unit yg sudah partially diproduksi untuk order "korup" di India

    Mari kita melihat yg lebih lucu lagi: menurut AW ternyata unit ini....
    ======
    It is worth clarifying that the AW101 recently delivered is a military utility aircraft and was never meant to be a VVIP helicopter. The delivered AW101 has always been under the company’s ownership, control and captaincy in Yeovil, UK. It was assembled with a clean sheet configuration in mind and then configured according to the customer’s needs. Although Leonardo cannot comment on national internal processes or statements by the [Indonesian] government or by the armed forces, the company always operates in strict accordance to both confidentiality agreements with customers and to local and international laws and regulations.”
    ======

    ....Betul.

    Ternyata MSN50248 bukan dalam konfigurasi SAR, ataupun VVIP, melainkan basic configuration.....
    ...... dengan harga "super murah" hanya $55 juta dollar.

    Sisanya kalimat pernyataan mereka hanya omong kosong, yg mengkonfirmasi kalau ini adalah kontrak penjualan illegal, yg seperti mereka coba lakukan ke India.

    Tidak seperti dalam pernyataan (lebih tepatnya pendapat pribadi) dalam artikel di Tempo... Kasus ini belum selesai.

    Bolanya sekarang ada di tangan pemerintah;
    Jangan terlalu sibuk hanya mengurus Freeport, dan proyek2 mangkrak!

    ... Ini kesempatan emas untuk memperbaiki pola akuisisi mafia alutsista.

    ReplyDelete
    Replies
    1. admin bisa gak sih kita cancel terus balikin itu heli sama ada refund nya nggak kayaknya juga sih gak 100 %, nah kalau udah kebablasan kayak gini kita harus gimana ke Augusta Westland

      Delete
    2. solusinya karena indikasi mark up dan korupsi semakin kuat sebaiknya biarkan KPK masuk

      Delete
    3. Yah, kita bisa melihat sendiri, bukan?

      Semuanya ini memang hanya berdasarkan berita2 awam, sederhana.
      Mulai dari laporan di Flightglobal, "hasil penyidikan" KSAU, dan akhirnya pernyataan resmi AW ke AIN;

      Semuanya menunjuk ke praktek "transaksi illegal" tanpa persetujuan pemerintah, harga overpriced, yg dibayarkan dari peralihan dana entah dari mana.

      Lucu juga kalau KSAU menyebut transaksinya G-to-B (Government-to-Business), dan demikian juga pernyataan Leonardo (AW), yg seolah2 mengimplikasikan atas persetujuan pemerintah.

      Wong, pemerintah nggak pernah tahu sudah terjadi transaksi?!?

      Transaksi semacam ini juga TIDAK PERNAH ADA dalam SEJARAH.

      Hanya ada G-to-G, atau transksinya lewat pejabat-To-Business.

      Dengan kata lain, pilihannya antara:
      # transaksi transparan, bebas korupsi, tapi memang biasanya prosesnya lebih lambat,
      ATAU
      # transaksi cepat yang detailnya dirahasiakan, dengan harga markup, dan selalu disertai tambahan transaksi bawah meja.

      Tidak pernah ada pilihan ketiga G-to-B.

      Kita lihat saja.
      Semoga diselidiki lebih lanjut, dan kalau melalui jalan yg benar,
      Pemerintah harus mempersiapkan kasus ke pengadilan Uni Eropa, untuk mengadukan AW.

      Ini akan menjadi peringatan kepada semua penjual lain untuk tidak mencoba main gila di Indonesia.
      Efek gentar lain untuk Indonesia: Anti-Korupsi.

      Delete
  16. min,katanya Turki ingin beli S400 dari Russia?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung ikhsan,

      Pernyataan Turki hanya "letter-of-intent", belum ada kontrak resmi.

      Ada berita lain yg tidak kalah menarik:

      UAE menandatangani perjanjian untuk membuat pespur Generasi Kelima bersama Ruski, yg lebih berbasiskan desain seukuran MiG-29, dan.....
      ..... Kabarnya mereka sudah menandatangani letter-of-intent untuk membeli Su-35K.

      Kedua-dua laporan ini: Turki S-400, dan UAE Su-35K boleh dibilang cukup lucu, karena berbagai alasan:

      + Pertama2, baik militer Turki, ataupun UAE seharusnya sudah tahu kalau S-400, ataupun Su-35K tidak akan bisa compatible dengan sistem pertahanan udara berbasiskan NATO yg sudah mereka buat.

      + Kedua, lebih lucu lagi, F-16 Block-60 UAEAF secara tehnis sudah jauh lebih modern dibandingkan PAK-FA, atau Su-35K, dan biaya operasionalnya jauh lebih murah.
      tentu saja persenjataan AIM-9X Block-2, dan AMRAAM C-7 juga jauh lebih unggul dalam segala hal dibanding missile versi export R-73E, atau R(ongsokan)VV-AE.

      Dengan mesin GE-132, boleh dibilang kinematis Block-60 masih akan setingkat lebih unggul dibanding versi-V, yg hanya bisa pasang mesin PW-229, atau GE-110.
      Dari segi software, APG-80 juga masih bisa di-upgrade agar kemampuannya sebanding dngn APG-83.

      AU Turki (bukan pemerintahnya) tentu sudah turut belajar bagaimana cara mengalahkan S-400 sistem. Kalau argumennya untuk meningkatkan pertahanan udara Turki, er.... dari serangan siapa?

      Mereka lebih mungkin berperang dengan Ruski, dibanding negara2 NATO, bukan?

      + Ketiga, Ruski tidak akan buta kalau Turki, dan UAE adalah sekutu akrab US. Apapun yg akan mereka jual ke kedua negara tsb, tentu saja hanya akan di-downgrade habis2an untuk memastikan tidak asa rahasia yg bocor ke Washington DC.

      Mana lagi Turki pernah menembak jatuh Su-24 Ruski.

      Kalau sampai kedua transaksi ini jalan, si pembeli akan menjadi si bodoh.
      Ruski sih akan senang2 saja.

      ========
      Jadi apa maksudnya berita dari Turki, dan UAE ini?
      ========

      Kemungkinan besar dilakukan sebagai bagian poliitik "gertak sambal", yang ditujukan ke..... United States.

      UAE, seperti Saudi Arabia, dan negara2 Gulf Cooperation yg lain, tidak pernah gembira dengan "perjanjian nuklir" Iran, yg sudah disetujui Dewan Keamanan Tetap PBB, khususnya US.

      Turki juga tidak pernah gembira dengan sikap negara2 NATO yg semakin kritis ke pemerintahan mereka, yg dianggap semakin mendekati pemerintah otoriter.

      Terlalu banyak kerugiannya untuk kedua negara ini kalau benar meneruskan transaksi ke Ruski, walau bukan tidak mungkin bisa benar terjadi, atas nama harga diri.

      Delete
  17. Apakah Erieye dan Globaleye akan menggantikan boeing 737-200 Surveiller?
    Jalan Raya manakah yang bisa didaratkan Gripen jika dimiliki Indonesia?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Kalau memang serius mau meningkatkan kemampuan pertahanan, Erieye / Globaleye (tergantung paket yg diminta), adalah kebutuhan yg jauh lebih mendesak pengganti B737 2x9 Surveiller (yg sudah terlalu kuno), dibandingkan mengejar "bayangan tak jelas" seperti AW101 hanya dalam nama jumlah.

      ## Jalan raya untuk landasan Gripen?
      Ini harus dipersiapkan terlebih dahulu.
      Di Swedia, pembangunan jalan sudah direncanakan dari awal untuk mempunyai beberapa bagian, yang baik panjang / lebarnya mencukupi untuk menjadi landasan rahasia.

      Landasan Gripen secara tehnis dapat dibangun dimana saja;
      tidak perlu jalan raya, tetapi bisa juga membuat landasan darurat dengan investasi minimal, di ribuan pulau yg terpencil, yg juga lebih mudah utk disembunyikan (daripada Lanud TNI-AU) dalam foto gambar satelit imaging di saat konflik.

      Tidak seperti sekarang, memangkalkan F-16 di Ranai saja tidak bisa.

      Kebutuhan Nasional, bukan "keinginan mengambil komisi penjual", seperti motivasi utama pembelian AW101, atau Sukhoi Kommercheskiy rongsokan.

      Delete
  18. https://hushkit.net/2016/03/17/su-35-versus-typhoon-analysis-from-rusis-justin-bronk/
    admin saya nemu artikel menarik sekalipun judulnya Eurofighter vs Su-35, tapi ada paragraf yang menarik disebut dalam latihan udara RAF dengan AU Swedia, Gripen memberikan " nasty shock " terhadap Eurofighter, keunggulan Electronic Warfare Gripen melebihi Eurofighter dan Dassault Rafale, dan sangat kecil kemungkinan radar Russia bisa menangkap sinyal Gripen yang RCS-nya kecil sekali, padahal saya yakin itu tu baru Gripen C, gak kebayang kalau Gripen E udah keluar kayak gimana top-nya. di artikel juga disebut Gripen cara kerjanya menyerupai F-22 sekalipun saya mikir sendiri apa iya, tapi masak iya sih dari pengakuan RAF,dll Electronic warfare Gripen itu superior, jadi penasaran kalau Gripen E udah keluar dari fasilitas produksi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Artikel yg menarik, bung Thomas.

      Mungkin salah satu publikasi Barat yg paling obyektif utk membandingkan Su-35 vs pespur Barat, hanya saja:

      ## Pertama ini jelas; penulisnya pro-Typhoon, yg sepertinya dijadikan tolok ukur dalam segala hal.

      ## Kembali, penulis artikel terlalu meng-overestimasi kemampuan TVC Sukhoi.
      Thrust-vectoring F-22 saja dapat menjadi korban tidak hanya Typhoon, tapi Rafale, F-16, dan.... T-38.

      Paling tidak, penulis akhirnya mengambil kesimpulan yg sama dngn sy: biaya operasional Su-35 terjamin mahal, dan availability rate-nya akan super rendah, inipun kalau dioperasikan AU Russia sendiri.

      Dan sangat meragukan kalau mesin AL41F1 3D thrust-vectoring yg lebih rumit, dikatakan bisa lebih reliable dibanding mesin AL-31F; sampai sekarang saja NPO Saturn masih belum bisa membereskan quality defect di mesin AL-31FP 2D Thrust vectoring untuk Su-30MKI/SM buatan Irkut.

      Thrust-vectoring fighter yg "bleed too much energy" juga hanya menjadi sasaran empuk untuk IRIS-T, dan AIM-9X yg engagement envelopenya 360 derajat, dan dapat ditembakkan ke belakang pesawat induk.

      ## Terakhir, tidak; draggy Su-35 yg super berat tidak akan bisa supercruise, mungkin hanya kalau tangkinya mau bingo.

      Untuk Gripen -- lanjut di berikut.

      Delete
    2. ## Pertama2 kembali, Gripen yg diperbandIngkan dalam artikel ini adalah versi C, sebelum MS-20 Upgrade.

      Komandan Squadron Gripen Czech dengan tenang menyatakan, "We're not afraid of Typhoons!"

      Dalam latihan Red Flag 2012, Swedia mengirim 8 Gripen-C untuk mengetes "credential"anya, dimana performa Gripen dinilai temasuk terbaik dalam semua grup yg lain.
      Ada beberapa berita gosip kalau kemungkinan Gripen-C sudah dites melawan F-22, walaupun baik Swedia, ataupun USAF sengaja tutup mulut re hal ini.

      Semua kelemahan Gripen-C, "low thrust to weight ratio" disini sepertinya lebih menunjuk ke kemampuan supercruise; akan diperbaiki dalam Gripen-E.

      ## Betul,
      memang Gripen mempunyai "... fundamentally different approach to survivability."

      Boleh dibilang, selama ini Gripen tidak pernah optimal dalam latihan DACT, karena mereka kehilangan komponen integrated network, seperti di Swedia.

      Sampai tahun 2012 saja, konektivitas ke Link-16 masih terbatas.

      ## Electronic Warfare
      Versi-E akan membawa integrated EWS-39 dengan Gallium Nitriide Transmitter --- melompat satu generasi dari EWS Gripen-C.
      Seperti anda sebut, Sukhoi sih tidak akan punya harapan bisa melihat, atau mengunci Gripen.

      Delete
    3. saya sebenernya mau ngomong kalau Gripen itu standar NATO tapi dari konsep berpikirnya berbeda Electronic warfare itu kayak trade marknya, futuristik menurut saya. dia beda dengan F-16, F-15, F-18, dll. Apalagi Gripen E, itu udah kelas yang berbeda lah, dari segi ekonomis, teknologi, keefisienan & efektifnya beda. Gripen itu bukan pespur aja tapi jadi dasar sebuah sistem.

      Delete
    4. ======
      Gripen itu bukan pespur aja tapi jadi dasar sebuah sistem.
      ======

      ...Satu2nya pespur yg memang dari semula dirancang untuk menjadi bagian dari satu sistem.

      Sementara Typhoon, dan Rafale baru menambah Link-16 bbrp tahun stlh operasional; Gripen sudah fully-networked dari lahir.

      Electronic Warfare -- yah, memang Saab adalah salah satu pelopor tehnologi radar & EW, khususnya dalam hal ini penggunaan materiak GaN.

      Prospek pengembangan lebih lanjut dari GaN-based radar, dan EW ini masih dalam tahap awal, dan di masa depan akan sgt menarik. Melihat lebih dahulu, dan tidak bisa dikunci radar?

      Bye-bye, F-22, barang sakral yg hampir 10x lebih mahal!

      Delete
  19. saya Juga Penasaran dengan kemampuan Gripen E yg baru diproduksi ini. dalam latihan Redflag yg sering diikuti. Gripen C Saja Kemampuannya melebihi F22, Tangkapan Terendah di Radar Musuh, Turn Ratenya tertinggi. apalagi Gripen E, Malah bikin sukhoi semakin minder.. :D. meski gripen paling sering dilecehkan oleh fansboy Sukhoi, tetapi kenyataannya Gripen Bukan Penempur Kacangan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Untuk versi-E, kita masih harus menunggu sampai 2022, sblm dites di Red Flag -- dan pasti Swedia akan mengirim kesana utk membuktikan "kebolehannya".

      ## Ah, para fanboys!
      Palingan dasar pengetahuannya selalu dari Ausairpower.

      FYI -- bbrp minggu lalu sy mendapat kesempatan "menyikat" Peter Goon, salah satu penulis Australia dari website favorit Sukhoi fanboys ini.

      "Super Hornet is another name for Flanker fodder," demikian katanya.

      Balasan sy:
      "You really should stop underestimating Super Hornets.

      It's still far better combat fighter than Su-35, and mire than capable of handling PAK-FA."

      Dengan sabar, sy jelaskan kalau:

      # Pertama2, kualitas training versi Ruski impossible bisa menandingi versi NATO, yg skenario latihannya lebih realistis, dan mendorong kemampuan mengambil keputusan independent.

      # Tentu saja, pilot US Navy, atau RAAF Australia setiap tahun selalu mengumpulkan lebih banyak jam latihan vs semua pengguna Sukhoi....

      ##....yang gampang rusak, dan krn itu tidak bisa sering terbang seperti Super Hornet.

      ## Kalau belum cukup parah, cockpit interface SH jauh lebih mudah dikuasai pilot vs Sukhoi; dgn kata lain lebih gampang memproduksi pilot yg berkualitas tinggi.

      ## Tehnologi Ruski, baik dalam radar, situational awareness cockpit, persenjataan, dan defense suite sudah tertinggal antara 20 - 30 tahun dibanding Barat.

      # Sy juga menantang Mr Goon utk memperlihatkan bukti kalau Sukhoi Ruski sudah sering memakai Amraamski R-77, yg developmentnya belum selesai.
      Tidak perlu susah payah, coba liat semua foto sejak 2014 sampai sekarang!

      Mrk hanya memakai missile kuno R-27.

      The Australian government made the right decision to purchase the Super Hornets, and retire (your favorite) F-111s, that require 170 hrs of maintenance per flight hour..

      ... dia tak bisa menjawab.

      Delete
  20. Hahaha, Kenyataan memang tidak bisa dibohongi :D... ,

    seperti operasi Safed Sagar Yg dilakukan india dikargil. Awalnya India Mau mengerahkan MIG29, Su 30MKI, Dan MIG27 untuk misi serang darat. Tetapi Malah mirage 2000 Versi awal yg dipake buat membom pasukan Pakistan dan berhasil, Malah MiG 27, 29 kurang mampu memperlihatkan kemampuannya dalam urusan serang darat.

    R77 hanya dipakai Ruski ketika Pas Acara Parade atau Airshow saja. meluncurkan satu Missile itupun belum pernah dilakukannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Spt diatas, berikut link artikel dimana sy "bertemu" dengan juru bicara agen iklan Sukhoi APA; lihat di bagian komentar (Bhs Inggris):
      ======
      http://nationalinterest.org/blog/the-buzz/the-super-plane-could-replace-the-f-35-stealth-fighter-18875
      ======

      Sama seperti kedua orang tua Australia penulis APA, banyak orang masih belum sadar... Russia bukan lagi seperti Uni Soviet dahulu kala.

      Sampai tahun 1990, anggaran pertahanan Soviet masih terhitung sekitar 60% dari anggaran militer US ($300 milyar+).

      Inilah jumlah minimum yg dibutuhkan untuk terus mengembangkan industri persenjataan Soviet, kalau memang masih mau terus menantang industri militer Barat.

      Bahkan sepanjang tahun 1980-an saja, sudah terlihat kalau industri Soviet semakin tertinggal jauh dari Barat, terutama krn evolusi industri persenjataan sbnrnya sudah beralih ke pengembangan tehnologi elektronik sejak 1970-an.

      Yah, tehnologi Soviet 1990 saja sudah ketinggalan jaman dngn equivalent tehnologi Barat waktu.

      Operasi Desert Storm 1991 di Iraq sbnrnya sudah menghancurkan "persepsi superioritas" senjata Blok Timur.

      Sejak itu, baik Ruski, atau PRC menjadi sadar: mereka sudah tertinggal terlalu jauh.

      Dengan bubarnya Soviet, anggaran Ruski kemudian sempat jebol ke bawah $30 milyar sepanjang 1990-an, lebih rendah drpd anggaran UK, Perancis, Jerman, dan Italy.

      Ukrania, negara ex-Soviet kedua terkuat -- anggarannya ludes sampai ke bawah $5M.

      Tidak ada uang, yah, kemampuan pengembangan tehnologi warisan ex-Soviet menjadi hampir nihil. Asset mereka adalah menjual senjata2 warisan ex-Soviet itu ke negara lain, dengan mungkin sedikit makeup, yg sayangnya tetap saja tidak bisa menyembunyikan kenyataan kalau sudah terlalu ketinggalan jaman.

      Bahkan sampai 2014, Ruski hanya bisa menaikkan anggaran mereka ke $66M (mnrt estimasi SIPRI), sebelum harga minyak yg jebol, dan sangsi ekonomi Barat mendorong Russia ke dalam masa resesi... dan menghancurkan prospek penambahan anggaran pertahanan.

      Semua cerita APA ttg betapa hebatnya Sukhoi, dan tehnologi Ruski --- dengan demikian hanya menjadi cerita dongeng.

      Ruski sendiri tidak pernah mempunyai kemampuan utk menjadikan semua mimpi iklan APA tsb berubah ke kenyataan.

      ... tentu saja, para fanboys juga harus belajar memahami kenyataan pahit yg lain:

      Soviet, dan kemudian Russia hanya pernah menjual senjata ke negara lain dalam bentuk Versi Export Downgrade.

      Versi lokalnya saja sudah jauh ketinggalan jaman -- eh, untuk export masih harus di-downgrade pula.

      Cilakanya berkali-kali lipat.

      Delete
  21. saab Juga Membuat Proposal untuk membuat Beberapa Varian dari keluarga Saab Gripen (terutama Tipe E) antara lain:
    1. Gripen EW ( Based From Gripen F)
    2. Gripen M (maritime) / Sea Gripen
    3. Gripen versi UAV.

    Ketika Konflik Suriah berlangsung , Menurut keterangan dari Penduduk sipil dan media Islam indonesia , Bahwa Rusia Paling banyak membunuh Warga Sipil suriah dengan melakukan pemboman , Namun Bom yg dibawa Pespur Su 34 dan Tu 22M3 itu masih Free Fall , Dan bukan Smart Bomb, dan bomb yg dijatuhkan malah banyak yg salah sasaran dan membunuh ribuan warga Sipil.

    Rusia pernah juga memelan pil pahit ketika sepak terjangnya di Georgia thn 2008, sebuah Tu22M3, beberapa Su 25, dan Su 24 Disikat oleh Buk M1 Georgia hanya gara gara tidak dikawal pespur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ======
      Ketika Konflik Suriah berlangsung , Menurut keterangan dari Penduduk sipil dan media Islam indonesia , Bahwa Rusia Paling banyak membunuh Warga Sipil suriah dengan melakukan pemboman.
      ======

      Memang benar.
      Tidak hanya Ruski, tapi juga pmrth Assad adalah Top 2 yg membunuh warga sipil di Syria. Bukan ISIS, bukan front pemberontak.

      ======
      Namun Bom yg dibawa Pespur Su 34 dan Tu 22M3 itu masih Free Fall , Dan bukan Smart Bomb, dan bomb yg dijatuhkan malah banyak yg salah sasaran dan membunuh ribuan warga Sipil.
      ======

      Begitulah.
      Seperti bisa dilihat dari video2 Ruski MoD di Youtube; semua bom mrk adalah "dumb bomb", yg kemungkinan melesetnya >90%.

      Walaupun APA pernah mengiklankan, dan memang AU Russia sudah m3ngetes smart bomb spt KAB-500; kelihatannya.... kembali, Ruski sbnrnya tidak punya uang utk membeli banyak stock, dan mengoperasikannya seperti NATO.

      Dumb bomb itu murah.
      Mk 82 US harganya hanya $2,000.
      Punya Ruski mungkin lebih murah.

      Menambah GPS (GBU-38 JDAM), atau laser-guidance (GBU-12 Paveway II) ke Mk82, berarti harganya melompat naik ke $20 -$25,000 per unit.
      Ini saja masih ada kemungkinan meleset.

      Ruski bokek; hampir semua bomb yg dipakai di Syria adalah warisan jaman Soviet dari tahun 1980-an, yg untungnya seringkali juga gagal meledak.

      Dan, k3lihatanya mrk tidak pernah ambil pusing berapa korban jiwa hasil "meleset" dari operasi mereka.

      Tentu saja, AU Ruski juga tidak punya targeting pod, spt Sniper/litening utk Su-34, Su-30SM, Su-35S, atau Tu-22M.

      =======
      Rusia pernah juga memelan pil pahit ketika sepak terjangnya di Georgia thn 2008, sebuah Tu22M3, beberapa Su 25, dan Su 24 Disikat oleh Buk M1 Georgia hanya gara gara tidak dikawal pespur.
      =======

      Sbnrnya ini kasus senjata makan tuan.

      Ruski tidak ada pengalaman, dan sampai skrg belum mempunyai kemampuan SEAD (Suppression of Enemy Air Defense), seperti sudah dipraktekan AU Israel dengan indahnya di Beqaa valley, tahun 1982.

      Yah, AU Ruski tidak punya kemampuan menangkal SAM system yg sudah mereka buat sendiri.

      Walaupun secara organisasi, sekarang AU Ruski kelihatan sudah lebih rapi vs tahun 2008, tetap saja...

      Su-34, Su-30SM, Su-35S, Su-24, dan Tu-22M Au Ruski sbnrnya terbang dari ketinggian di atas 2,000 meter, dan kemudian menjatuhkan dumb bomb dengan metode level bombing (terbang lurus, & lepas bom bebas).....

      .....karena mereka takut kemnungkinan dihantam dari bawah dgn Manpads, spt SA-7 Grail; yg sudah banyak direbut pemberontak, atau Isis dari stock AD Syria.

      Delete
    2. Kenapa Russia gemar memerangi Negara2 Ex-soviet lainnya?

      Delete
  22. setelah indonesia dan saab mengupdate RBS70, lalu TNI AD Membeli Girraffe radar , ATGM NLAW. kali ini Kemenhan membeli Saab Skeldar Sebagai basis pengembangan industri Drone Helikopter dalam Negeri. Saab Skeldar Siap dikirim ke indonesia tahun ini , Indonesia Menjadi Launch Customer Saab Skeldar Diluar Swedia.

    memang Sih Kita sebenarnya Ingin Pemerintah membeli Paket Gripen E dan Erieye, meski paket Gripen E dan Erieye belum terbeli , Namun Produk alutsista saab yg lain perlahan lahan Mulai diakuisisi oleh indonesia sampai akhirnya Paket Gripen E(plus ratusan missilles MBDA Meteor dan IRIS-T) dan erieye terbeli plus Tawaran kerja sama Saab diambil oleh Pemerintah indonesia.

    Perlahan lahan dulu Tetapi Pasti ... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Hambatan utama akuisisi Gripen/Erieye, dan lebih penting lagi, tawaran kerjasama industri yah, seperti dalam kasus AW101 ini...

      Saab Swedia tidak lagi menjual Gripen melalui perantara, dan ini menyulitkan dalam pola akuisisi pro-pejabat-perantara di Indonesia.

      ## Kedua, Renstra kacau masa sekarang yang terlalu terobsesi ke jumlah, dan sering dijadikan alasan untuk pola akuisisi ngalor-ngidul juga harus ditulis ulang.

      Terlalu banyak menjual mimpi yg tak bisa dicapai ke publik, dengan tujuan akhir hanya utk memperkaya diri sendiri, dan para penjual.

      ## Ketiga, peran industri lokal dalam akuisisi harus lebih diterlibatkan, jangan hanya tergantung Kemenhan, atau TNI, yg akan selalu lebih mementingkan diri sendiri.

      ## Terakhir, selama masih terus ada ruangan utk tikus2 menari diatas meja, yah... begitu.

      Pemerintah, dan DPR HARUS menerapkan pola akuisisi lewat G-to-G.

      Sy masih menulis skenario bayangan re Gripen sebagai bagian dari sistem terpadu menjaga Natuna.

      Tunggu artikel berikut!

      Delete
  23. bung Dark , menurut mu bagaimana peluang Gripen dan Gotland dengan adanya Teken MoU ANTARA menhan Swedia dan RI

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja.

      Kalau kita mau "play by the rules", tawaran Saab adalah satu2nya yg memenuhi, atau bahkan melebihi semua persyaratan UU no.16/2012; tidak pernah ada alternatif lain.

      Hanya akan menjadi suatu kebodohan total kalau kita meneruskan "keinginan semu" spt Sukhoi, atau IF-X, dan menghambur2kan uang, dan masa depan 30 - 50 tahun ke depan.

      Tapi, yah, hambatan utama internal TNI sih, seperti kasus ini, yg lebih menyukai transaksi langsung dngn perantara / penjual.

      Delete
  24. Menurut ane ifx/KFX kan lebih dahulu ada. 3 eurocanard gencar tawar produknya ke indonesia untuk pengganti f5 dengan embel - embel tot. Cuman gripen doang yg gk pernah nyerah. Lagian juga kalau saab lebih dahulu ajak RI buat joint produk gripen NG sebelum ifx/kfx bisa saja gripen ng yang di pilih Indonesia. Sayangnya di media yang ane baca saab selalu menawar kan gripen c/d.

    menurut aneh juga ifx/kfx bakal jadi toh kfx program tendensius korsel.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Antara ketiga Eurocanards; sebenarnya Eurofighter, dan Dassault yg lebih pesimis, karena mereka tahu kalau anggaran Indonesia tidak pernah bisa memadai untuk membeli produk mereka,

      Kalau membeli hanya 16 pesawat, harga jual kosong keduanya akan menembus €100 juta Euro; sedang biaya operasional keduanya akan menembus $30,000.

      Tentu saja, "gajah didepan mata" disini,
      baik Eurofighter Typhoon, dan Dassault Rafale masih jauh lebih murah, dan jauh lebih unggul dalam segala hal dibandingkan Sukhoi Su-35K.

      ## Saab menawarkan Gripen-C/D, karena melihat sikap TNI-AU yang ingin cepat2 beli, dan ingin cepat2 delivery.

      Padahal, kenyataan sudah berkata lain:

      + Ekonomi tidak memungkinkan utk pembelian secepat yg diinginkan pejabat--- dan untuk apa cepat2 beli?

      + 24 F-16 Block-25+ saja, sejauh ini persenjataan / perlengkapannya masih telanjang, dan sbnrnya tanpa sengaja sudah menggantikan F-5.
      Memang para pejabat kita hobinya membeli "macan ompong" entah apapun dalihnya.

      Kita tunggu saja.
      Kelihatannya bbrp pergolakan alutsista akhir2 ini, yg terutama dirangsang kasus AW101 ini, akan membawa perubahan ke pola akuisisi Indonesia.

      Kebutuhan pespur sebenarnya baru terbuka di tahun 2020-an, ketika Sukhoi di Sku-11, dan BAe Hawk-209 akhirnya akan mulai dipensiunkan.

      ... Dan setelah lewat tahun 2019, Saab akhirnya mau tak mau, akan menawarkan Gripen-E.
      Btw, produksi Gripen-C sbnrnya sudah berakhir, kecuali kalau ada order baru.

      ## Untuk KF-X, saya sudah pernah menuliskan tahun lalu, terlepas dari keterlibatan Indonesia, karena kesalahan mereka sendiri, kemungkinan sukses Korea hampir mustahil.

      4 Alasan Kenapa proyek KF-X akan gagal.

      Kenapa dulu kita bisa ikut proyek semacam ini?

      Yah, tidak heran, seperti diatas: penandatangan KF-X, kan sama dengan penandatangan Proyek Hambalang. Menjual mimpi, tetapi melupakan keterbatasan / kebutuhan sendiri.

      Perkembangan politik-sosial-ekonomi Korea akhir2 ini juga terus bertambah runyam.
      Kecil kemungkinannya proyek ini masih bisa jalan sampai tahun depan.
      Paling optimis hanya akan terus lari di tempat.

      Delete
  25. bang DR apa karena label multiperan itulah mengapa f22 & f35 sulit untuk bisa beraksi lebih lanjut dikarenakn harus mengakomodir kemampuan bbrapa pesawat dalam 1 tubuh dan apakah jauh lebih baik membuat pesawat yg dikhususkan untuk satu tugas saja?

    ReplyDelete
    Replies
    1. "When you start designing a multi-role fighter, you're sunk!!"
      Pierre Sprey -- salah satu analyst yg mendorong proyek A-10, dan F-16.

      Maksud pernyataan ini:
      desain pespur akan selalu lebih mudah dioptimalisasi untuk melakukan satu tugas khusus: close air combat, BVR, ground attack, atau anti-submarine warfare?

      A-7 Corsair II, kalau diperlengkapi dengan targeting pod, dan di-upgrade lebih lanjut, sampai kapanpun kemampuannya akan jauh lebih unggul dalam ground attack, dibandingkan F-15E, F-18E/F, F-16, atau Gripen.

      F-16A dirancang dari awal untuk close air combat, dan dalam hal ini seharusnya jauh lebih unggul dibanding F-15, atau F-22, yg desainnya terlalu besar, dan lebih dikompromikan untuk BVR Combat.
      Sayang, USAF menjejali terlalu banyak pernak-pernik yg membuatnya menjadi pedawat pembom. Berat menjadi naik, dan kemampuannya disengaja jadi berkurang.

      Ketiga Eurocanards dioptimalkan dari awal untuk kemampuan manuever dalam close combat, dan RCS lebih kecil dari F-16.

      Rafale dirancang dari awal sebagai multi-role, dan akibatnya... Biaya development-nya sama mahal dengan Eurofighter Typhoon -- Perancis harus menanggung biaya development lebih mahal daripada UK, atau Jerman.

      Typhoon target desainnya lebih untuk melebihi F-15, dan F-16; akibatnya sangat sulit, dan mahal untuk mengadaptasikan platform ini untuk mengerjakan misi pemboman.

      Jadi masing2 akan selalu ada kompromi.

      Masalah lain, pilot yg sudah berlatih khusus untuk air-to-ground, mau tidak mau akan mulai kehilangan kemampuan skill air-to-air-nya.
      Jadi walaupun pesawatnya multi-role, kebanyakan pilot F-16 USAF lebih berlatih untuk menjadi pilot pesawat pembom, dengan kemampuan air-to-air kurang optimal.

      Kebanyakan pilot terbaik AU Russia skrg dikirim ke Syria, dimana mereka menjadi lebih ahli dalam membom dengan "dumb bomb", tetap saja, tidak mendapat latihan untuk bagaimana caranya mengalahkan F-16 NATO.

      Delete