Monday, February 6, 2017

News Update: Awal Februari-2017


Sejak News Update 23-Januari, sampai minggu pertama Februari-2017 ini, tanpa disangka cukup ramai dengan beberapa berita menarik dalam perkembangan industri military aviation.



26-Januari, dan 1 Februari-2017: USAF T-X Competition: Now there are two....

Credits: Raytheon / Leonardo
Leonardo / Raytheon T-100, berbasiskan M-346
mengugurkan diri dari T-X; 26-Januari-2017
(Gambar: Leonardo / Raytheon)
Pada 26-Januari-2017, Raytheon memutuskan menarik mundur bid mereka dalam partnership dengan perusahaan Italy, Leonardo untuk mengikuti kompetisi T-X. Dengan demikian, Leonardo, berada di posisi sulit. Mereka harus mencari partner US yang baru, kalau masih mau terus mengikuti kompetisi T-X.

Tanpa disangka, tidak sampai seminggu setelahnya, pada 1-Februari-2017, Northrop-Grumman juga memutuskan untuk mengundurkan diri.

Kenapa Northrop-Grumman, dan Raytheon memutuskan mundur?

Semuanya kembali ke harga akhir untuk penawaran T-X; dan untuk Raytheon-Leonardo, memberi contoh betapa sulitnya untuk perusahaan luar menembus market dalam negeri United States.

Partnership Raytheon-Leonardo dilaporkan sudah bermasalah sejak Oktober-2016 yang lampau. Walaupun Leonardo, pembuat M-356, sudah berhasil mengalahkan T-50 Versi Export Korea, dalam kompetisi di Singapore, Israel, dan Polandia; dalam kompetisi T-X, mau tak mau, Raytheon yang harus mengambil alih sebagai kontraktor utama, dan produksi unit harus dilakukan di mainland U-S-of-A. Tentu saja, negosiasi untuk proprietary rights, lokasi produksi T-100, dan harga akhir per unit hanya menjadi berbagai masalah baru yang menumpuk dengan sendirinya.

Northrop-Grumman, walaupun juga berpartner dengan BAe System, yang adalah perusahaan UK, menghadapi masalah yang berbeda.

Sedikit yang kita ketahui tentang prototype Northrop-Grumman,
kecuali beberapa foto unit dalam testing di Mojave, 2016 yang silam
(Gambar: Northrop Grumman)
Northrop-Grumman memilih untuk membuat clean sheet design, dibanding menawarkan off-the-shelf BAe-Hawk. Dengan sendirinya, faktor resiko tentu saja akan melompat.  

Perhatikan pernyataan Northrop berikut, dalam artikel Defense News:

Kalimat terakhir paling penting. Keikutsertaan dalam program T-X akhirnya akan menjadi terlalu mahal untuk partnership Northrop-Grumman / BAe Systems. Membuat pesawat baru itu tidaklah murah, dan tidaklah mudah, bahkan bagi dua perusahaan yang jauh lebih berpengalaman dibanding anak kemaren sore, seperti KAI Korea. Keduanya sudah cukup dewasa untuk mengambil kesimpulan, lebih baik mundur dibanding mencoba meneruskan.

Lagipula, lamanya prosedur development pesawat tempur standard, mulai dari prototyping, test aircraft, sampai ke production model, berarti hampir mustahil kalau Northrop-Grumman / BAe akan dapat memenuhi jadwal program T-X.

Dengan demikian, kompetisi pesawat latih T-X untuk menggantikan T-38C, yang hanya dua minggu masih diramai dengan 4 bidders; sekarang hanya tertinggal dua: Boeing T-X dan Lockheed-Martin T-50A versi lokal.; versi yang jauh lebih modern dibanding T-50i versi export downgrade khusus untuk Indonesia.

Sesuai jadwal, Boeing T-X sudah memulai first flight sejak 20-Desember-2016
(Gambar: Boeing)
Boeing berhasil menghindari semua masalah di atas.

Perbedaannya hanya satu: Boeing memilih partnership dengan Saab, yang mempunyai competitive advantage berpengalaman 70 tahun membuat pesawat tempur ekonomis, dengan biaya development yang terjangkau, dalam jadwal yang tepat waktu, dan dengan kemampuan sebanding, atau lebih unggul dibanding pesawat-pesawat buatan saingannya, yang biasanya akan jauh lebih mahal.

Dengan memilih rute clean sheet design, Boeing memperoleh satu keunggulan utama atas penawaran off-the-shelf Lockheed-Martin, yang versi export-nya sudah mengudara beberapa tahun: Boeing akan berhasil mempelajari semua parameter T-50, sebelum mulai development untuk versi T-X mereka. Seperti bisa dilihat dari desain dasarnya saja, twin-tail design dari Boeing T-X akan lebih optimal untuk me-replikasi kemampuan terbang F-35 Lemon II, dibandingkan T-50A, yang lebih mirip dengan F-16.

Tentu saja, Lockheed-Martin sudah mulai merasa keringat dingin
Lockheed-Martin T-50A Versi lokal:
Diperlengkapi Networking terminal, dan hatch untuk air-to-air refueling
Kebanyakan komponen lain akan dirahasiakan(Gambar: Lockheed-Martin)

Maaf, tidak akan tersedia untuk versi Export Korea
Pesawat clean-sheet design, tidak akan siap sampai 2026, sedangkan versi T-50A sudah siap produksi (di pabrik Lockheed-Martin di Forts Worth) untuk USAF mulai dari 2022, menurut Rob Weiss, VP Skunk Work LM. Terlebih lagi, pesawat baru akan menambah biaya operasional sampai $1 milyar, dan penundaan IOC (Initial Operating Capability) sampai 6 tahun.

Sayangnya, Boeing T-X sudah didesain dari awal untuk memeluk prinsip Breaking the curve, yang diwariskan Saab: Dibuat untuk mengalahkan semua persepsi / asumsi development, dan operasional pesawat secara tradisional, seperti dalam benak semua produsen lain. Untuk mempercepat development, dan menghemat anggaran, kedua unit pertama yang diresmikan 13-September-2016 yang lalu, sudah menjadi production model, dan bukan prototype. Mengingat keterlibatan Saab, dan harga Boeing T-X juga sengaja masih dirahasiakan, kemungkinannya juga cukup besar kalau produk mereka akan lebih murah dibandingkan T-50A.

Faktor terakhir yang harus diperhatikan dalam program T-X ini adalah opini publik, dan faktor politik sistem akuisisi United States, yang akan selalu lebih memilih produksi dalam negeri. Nasib kegagalan produk import, sudah dialami Airbus A330MRTT dalam kompetisi KC-X, yang menawarkan produk off-the-shelf import. Walaupun secara tehnis, sebenarnya A330 MRTT adalah produk yang lebih siap pakai, pada akhirnya, tetap saja produk lokal yang masih belum selesai development, Boeing 767 (KC-46) yang terpilih.

Lockheed mungkin merasa pintar, karena berhasil menghindari nasib yang dialami Northrop-Grumman. Mereka sudah melihat dari jauh-jauh hari, dan berhasil menghemat anggaran development untuk T-50 (karena Korea yang bayar). Sayangnya, keunggulan ini hanya akan menjadi pedang bermata dua. Walaupun memakai part buatan US, dan Lockheed menguasai 100% source code kontrol; tetap saja tidak mengubah kenyataan kalau T-50A hanyalah produk import dari Korea. 

Dalam dunia akuisisi United States, ide untuk membayar royalty fee ke perusahaan luar dalam program akuisisi besar, akan selalu sukar untuk dicerna. Inilah kenapa pada awalnya, Northrop-Grumman/BAe, dan Boeing-Saab, yang menawarkan produk clean-sheet-design sudah dianggap sebagai favorit dalam kompetisi ini.

Sekarang hanya tinggal dua pilihan: Produk off-the-shelf import dari Korea, atau produk clean-sheet-design lokal dari pabrik Boeing di St. Louis.


27-Januari-2017: RSK MiG akhirnya meresmikan MiG-35, seperti biasa....

Gambar: Mikoyan-Guverich Design Bureau
Seperti biasa, beberapa perlengkapan yang dahulu sudah diiklankan, atau dielu-elukan oleh website biro iklan Sukhoi sejak tahun 2008, ternyata tidak bisa hadir dalam production model yang sebenarnya:
Link: AINonline, 31-Januari-2017
Zhuk-M, mechanically-steered antenna. 

Dave Majumdar, dalam tulisannya untuk artikel National Interest, menyebut kalau dengan kata lain, MiG-35 hanyalah versi dari MiG-29K, tanpa kemampuan taktis yang perlu dikhawatirkan negara-negara NATO. 

Zhuk AESA masih dalam development, katanya. Sekali lagi ini tidak mengherankan. Semua AESA radar buatan Barat, sebenarnya sudah memulai development sejak tahun 1980-an, atau hampir 40 tahun yang lalu. Tehnologi Russia sudah tertinggal terlalu jauh untuk bahkan mencoba mengejar ketinggalan.

Semuanya kembali ke grafik ini:

Kenyataan:
Russia tidak pernah bisa pulih dari masa kegelapan di tahun 1990-an,
dimana anggaran mereka jatuh dibawah rata-rata empat besar Eropa
(Credits: The Washington Post)
Sama seperti Su-35 buatan saingannya, MiG-35 disebut lebih panjang umur; akan mempunyai usia airframe 6,000 jam, atau 40 tahun. Tetap saja, angka ini kurang bersaing dibanding rata-rata pesawat tempur Barat yang usia airframe-nya mencapai 8,000 jam terbang. 

Lebih panjang umur, dan lebih reliable? Untuk pesawat tempur buatan Ruski?

Seperti biasa, maintenance, dan reliabilitas MiG-35 akan terjamin buruk, seperti pengalaman pahit India dengan saudara misannya, MiG-29K, yang baru saja dibeli dalam jumlah 45 unit di tahun 2004, dan 2010. Servicability untuk pesawat "baru" India, ternyata jatuh ke kisaran antara 21.3% dan 47.4%, atau hanya 12 sampai 20 pesawat yang siap mengudara setiap saat. Kalau belum cukup parah, 40 mesin RD-33MK (62%) sudah harus dipensiunkan sejak 2010, karena berbagai masalah.
"Report: India's Russian-made MiG-29K Fighters Face Problems"
Link: Defense News
Seperti biasa, Ruski juga tidak akan menjanjikan keberadaan program MLU untuk memperpanjang umur pesawat, seperti layaknya pesawat tempur Barat.


MiG-35 juga mempunyai 8 pylon, dan salah satu perlengkapan menarik, yang dipasangkan adalah OLS-K targeting pod: (Lingkaran merah di bawah) pertama kali terlihat dalam pesawat tempur Ruski. Kembali, sama seperti AESA radar, baru mulai bergabung dalam club targeting pod, bukan berarti akan berhasil bersaing dengan kemampuan produk Sniper, atau Litening pod, yang operasional puluhan tahun, dan sudah berganti beberapa generasi.
Gambar: Mikoyan-Guverich Design Bureau
Terakhir, seperti biasa, dalam acara peresmian formal, MiG-35 akan selalu memamerkan keberadaan R-77 Amraamski (izdeliye-170), missile yang ternyata tidak pernah selesai development, ataupun pernah dibeli AU Ruski dalam jumlah besar.



01-Februari-2017: Program TF-X Turki mulai melaju, akan tetapi tetap dibayangi kegagalan


Turki adalah salah satu negara, yang seperti Korea, sudah pernah mendapat license production untuk produksi F-16 lokal, dan seperti Korea, juga masih terobsesi dengan "prestige" program untuk mencoba membuat pesawat tempur sendiri, agar dapat beroperasi "bersama" F-35.

Defence News mencatat bahwa BAe Systems, UK, baru saja menandatangani kontrak dengan pemerintah Turki untuk meneruskan proyek ini. Perhatikan cuplikan berita berikut:

Program TF-X Turki paling tidak memberi contoh langkah awal yang benar untuk memulai program "membuat pesawat sendiri". Source Code Control, kitab suci pesawat tempur modern, harus menjadi prioritas utama, sebelum memulai development lebih lanjut.

Kapan terakhir kali "partner" Korea yang sok pintar, dalam program KF-X mereka pernah menyebut tentang prioritas Source Code?

Tidak pernah, bukan? 

Inilah yang membuat proyek ini sangat menggelikan dari awal. Keinginan membuat pesawat sendiri, kok ndak mau mikirin source code yang akan menentukan nasib pesawat tersebut? Yang selalu dipermasahkan adalah bagaimana men-transfer 24 core technology, dari Lockheed-Martin. 
Gambar: Pattrick Allen, IHS
Proyek "keinginan anak kecil" ini sih memang sudah gagal dari awal
Sayangnya, kalau tidak menginginkan kontrol atas source code pesawat buatan sendiri, itu artinya kedaulatan pesawat tersebut akan 100% ditangan pihak yang menulis, dalam hal ini.... Lockheed-Martin. Si penulis source code akan mempunyai wewenang penuh untuk mendikte apa yang diperbolehkan untuk dipasang dalam "pesawat buatan sendiri" ini. Inilah kenapa dalam nama profit penjualan, KF-X akhirnya tidak akan pernah diijinkan untuk mempunyai kemampuan yang bersaing dengan produk Lockheed sendiri, F-16V.

Dalam program IF-X, negara kita hanya akan buang-buang uang untuk produk yang jauh lebih mahal, baik harga maupun biaya operasionalnya daripada F-16V, tetapi mendapat Versi Export downgrade, yang kemampuannya akan setingkat dibawah F-16V.

Lantas, walaupun dasarnya lebih baik dibandingkan KF-X, apakah kemungkinan hasilnya TF-X akan lebih baik?

Tidak juga

Artikel Defense News ini saja berjudul ".... walaupun sudah menandatangani kontrak kerjasama, the unknown factor (faktor tak terduga yang berujung kegagalan), masih akan tetap menghantui proyek ini."

Sama seperti Korea, basis industri Turki tetap saja belum cukup matang untuk dapat memulai proyek pesawat tempur sendiri. Pengalaman license production F-16, juga bukanlah dasar yang cukup kuat. Pada akhirnya, sama seperti Korea, dalam best case scenario, Turki hanya akan memproduksi twin-engine fighter, yang harganya sebanding, atau lebih mahal daripada Eurofighter Typhoon, dan Dassault Rafale, tetapi kemampuannya belum tentu akan lebih unggul dibanding F-16V, yang adalah versi terakhir dari desain 40 tahun yang lampau.

Seperti diatas, Northrop-Grumman, dan BAe System sudah memberi contoh perhitungan yang lebih matang, dengan menarik mundur penawaran mereka dalam program T-X. Berdasarkan Cost, and risk calculation, mereka sudah mengambil kesimpulan kalau ini adalah langkah yang terbaik, dibanding terus memaksa untuk mencoba.


05-Februari-2017: Lockheed-Martin berhasil mengalahkan Donald Trump 1 - 0 untuk merebut order 90 F-35 Lemon II


Credit: Foxtrot Alpha
You're hired now!
(Gambar: Foxtrot Alpha)
Berita baik untuk Lockheed-Martin, kontraktor utama untuk F-35 Lemon II. 

Pentagon baru saja menutup kontrak untuk 90 pesawat dalam nilai kontrak $8,5 milyar; dengan penghematan $600 juta, atau pengurangan harga per unit dari $102 juta, menjadi $95 juta.

Presiden Trump mengklaim kalau discount ini "berkat usahanya", dan kalau F-35 sekarang adalah pesawat "yang bagus":
F-35A 'Great Plane' now, thanks to President Trump
Link: Foxtrot Alpha
Er......

Mandy Smithberger, salah satu direktur POGO (Project On Government Oversight) United States, meralat pernyataan ini: Sebenarnya Lockheed-Martin malah memenangkan program bulk-buying; harga discount ini didapat, karena jumlah yang dibeli dalam lot yang lebih banyak -- 90 pesawat. Rakyat United States sebenarnya malah akan merogoh lebih banyak uang, untuk membeli pesawat yang tetap saja..... belum selesai development. 

Artikel F-35 Lemon II yang lalu sudah menjanjikan kalau laporan DOT&E untuk F-35 yang berikutnya hasilnya akan jelek.... dan ternyata memang benar.

Laporan DOT&E edisi 20-September-2016 melaporkan kalau F-35 sebenarnya ".... tidak akan pernah bisa siap tempur...". Sejak laporan ini, tidak pernah ada kemajuan yang berarti dari proyek, yang sama seperti KF-X, sebenarnya sudah gagal dari awal.

Tentu saja, para spin doctor, lobbyst, dan para jendral US, yang memang mencintai F-35, seberapapun jeleknya, terus melakukan public-relation campaign. Salah satunya dengan mengetes pesawat yang belum siap ini dalam latihan Red Flag 05-Februari-2017 ini, dimana hasilnya "sangat gemilang", katanya. 

Kita sudah pernah mendengar berita yang serupa 10 tahun yang silam dengan superfighter F-22; bagaimana dahulu USAF mengumbar kalau pesawat ini "tidak terkalahkan", dan berhasil membabat habis ".... ratusan F-15, dan F-16" dalam latihan.....

... sebelum tertembak jatuh EA-18G Growler
(Gambar: Flightglobal)
... atau Typhoon Tranche-2B Luftwaffe Jerman di tahun 2012,
yang masih belum diperlengkapi HMD, Captor-E radar, dan MBDA Meteor
(Gambar: The Aviationist)



Mari belajar menembak jatuh F-22:
Perhatikan gambar pesawat yang "tak berdaya" dari OSF (IRST) Rafale,
dalam latihan udara di UAE di tahun 2009.
(Gambar: French MoD)

Dalam latihan yang sama, Mirage 2000 UAE juga berhasil menembak jatuh 1 F-22.
Silahkan memperhatikan video DACT (Dissimilar Air Combat Training) berikut, yang memperlihatkan bagaimana T-38, yah, pesawat latih saudara misan F-5E, berhasil mempermalukan pesawat tempur termahal di dunia... di tahun 2009.
"Another F-22 kill!"
Pesawat lightweight fighter akan selalu lebih unggul atas pesawat twin-engine bongsor,
lebih ramping, lebih lincah, dan pilotnya akan selalu lebih terlatih

Menembak jatuh F-22 dalam latihan udara, yah, tipe favorit Ausairpower, yang seharusnya jauh lebih unggul dari F-35 atau Su-35, dalam Air-to-Air combat, sudah begitu sering terjadi secara konsisten. 

Terlepas dari propaganda USAF, F-16 dalam 64th Aggressor Squadron, juga sudah berhasil menembak jatuh F-22, sejak tahun 2007.
Cuplikan dari Air Force Magazine, 2007
(Link: Wired)

Pelajaran disini:
Jenis pesawat tempur bukanlah penentu utama "efek gentar"

Pilot F-16 dalam contoh diatas,
sudah mengumpulkan jauh lebih banyak jam terbang, dan pengalaman,
dibanding pilot F-22.
Itulah yang menentukan kememangan
Sekarang bisa ada pernyataan kalau: pesawat lemon gemuk F-35, yang "tidak pernah siap tempur", performanya bisa "sangat baik" dalam latihan Red Flag, dan menembak jatuh pesawat lawan 15:1?

Mengingat motivasi para pendukungnya jelas, sama seperti dengan kasus F-22 diatas, kemungkinannya terlalu besar kalau "performa gemilang" F-35 ini memang ... sengaja dipelesetkan, atau sengaja dibesar-besarkan. 

Jadi walaupun dalam pernyataan Twitter-nya dahulu, Trump sempat menjanjikan:

Kenyataannya, Lockheed-Martin berhasil mengalahkan Trump 1 - 0 untuk meneruskan program Lemon II.

Ini tidaklah mengherankan, mengingat minggu pertama, dan minggu kedua pemerintahan Presiden Trump sejauh ini sudah cukup.... menegangkan?



UPDATE: 06 / 07-Februari-2017: Pemerintah akan mulai merapikan Kewenangan atas pengelolaan Anggaran TNI

Skandal AW-101 tidak boleh terulang lagi!
(Gambar: Tony Obsbourne; Yeovil, UK)
Sebagaimana  dilaporkan Tempo, dalam rapat kerja di Kompleks Parlemen, 6-Februari ini, Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo mengatakan kesulitan untuk mengendalikan pengelolaan anggaran ketiga angkatan dalam TNI, karena setiap angkatan ternyata melompati posisi panglima, dan lantas mempertanggung jawabkan secara langsung anggaran mereka ke Kemenhan.

Pasal 4 dari UU no.34 tahun 2004, menggariskan bahwa seharusnya ketiga Angkatan dalam TNI melaksanakan semua tugas (kewajiban)-nya di bawah pimpinan panglima, sedangkan pasal 3 mengatur peran Departemen Pertahanan lebih sebagai koordinator, dan pendukung dalam pengaturan strategi, dan administrasi, bukan penanggung jawab langsung.

Menurut Panglima TNI, keberadaan Peraturan Menteri Pertahanan no 28/2015, sudah mengubah hierarkhi yang diatur UU no.34/2004, karena masing-masing angkatan jadi mem-bypass kewenangan panglima dalam hal tanggung jawab pengendalian, dan sasaran anggaran.

Jendral Gatot menyebut kalau faktor inilah yang menjelaskan kenapa penyelewengan anggaran, dalam kasus pengadaan AW-101 itu bisa tiba-tiba muncul, tanpa sepengetahuannya sendiri. Kok bisa ada kontrak?

Pada hari Selasa, 07-Februari ini, Pemerintahan Jokowi memutuskan untuk langsung memulai merapikan permasalahan kewewenangan antara Panglima TNI, dan Menteri Pertahanan, walaupun sejauh ini belum ada pernyataan resmi lebih lanjut dalam rangka penyelesaiannya secara konkrit.

Semoga perkembangan lebih lanjut dari berita ini akan membawa Indonesia ke lembaran baru dari segi akuisisi, yang lebih transparan, dan terbuka untuk rakyat.

Bukan rahasia kalau sistem akuisisi Indonesia dalam dua tahun terakhir ini memang mulai membandel, mulai dari kasus polemik pengadaan AW-101, entah kenapa, menginginkan Su-35KI model downgrade yang gampang rusak, sampai munculnya berita hoax dari sumber luar negeri, kalau kita akan mengakusisi A400M senilai $2 milyar.

Seperti sudah diinstruksikan Presiden Jokowi, pada 20-Juli-2016 yang silam, seyogjanya semua akuisisi Alutsista Indonesia harus diarahkan agar sesuai kebutuhan Nasional, dan bukan berdasarkan keinginan pribadi pihak tertentu. 

  • Akuisisi import harus memenuhi semua persyaratan pasal 43 UU no.16/2012
  • Kepentingan industri pertahanan dalam negeri harus menjadi prioritas utama
  • Demikian juga, alih tehnologi yang harus ditawarkan penjual, untuk memenuhi persyaratan pasal 43 (3).
  • Setiap transaksi militer harus dilaksanakan secara transparan, dan melalui kontrak langsung G-to-G, Tidak boleh ada perantara.
  • Alutsista import harus dapat memberikan nilai keuntungan investasi jangka panjang, baik secara strategis, maupun industrial.

Seperti contoh "perbaikan mendalam", yang bukan untuk kebutuhan Nasional,
melainkan pelanggaran pasal 43 (2) UU no.16/2012


Tentu saja, kalau biaya operasional terlalu mahal, dan jumlah spare part-nya banyak,
transparansi transaksi operasional dengan sendirinya akan menjadi jauh lebih sulit.

60 comments:

  1. admin, katanya KFX/IFX lagi nunggu izin lisensi US buat produksi soalnya banyak unsur2 teknologinya dari US, okelah tiap pespur pasti ada unsur2 dari berbagai negara tapi berarti kendali kunci KFX/IFX ada di tangan US donk bukan Korsel apalagi Indonesia, okelah Indonesia secara teknologi belum siap jadi ikut aja tapi kan berarti hubungan proyek ini sifatnya atas-bawah dari US-Korsel-Indonesia, bukan kesetaraan kayak proyek TFX, itu Turki aja sebelum kepikiran bikin TFX, ngelisensi F-16 kenapa sih bukannya mending diawali kalau kita mencoba dari Gripen, kita dapet ToTnya, mungkin kalau bisa kita beli 3 - 4 skuadron, kita arahkan joint production kayak skema Embraer terus kalau kepikir untuk buat pespur sendiri mungkin 20 tahun pasca MEF-3 kita ajak partner yang jelas kayak SAAB, menurut saya KFX itu melebihi kemampuan KAI, emang sih tiap negara boleh punya ambisi dan cita2 sama buat pespur itu lama dan tidak mudah, tapi kan dari perspektif itu Indonesia bisa menilai kalau KAI itu belum cukup mumpuni sedangkan perusahaan lain macam SAAB udah puluhan tahun pengalaman bikin pespur dan alutsista lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. terus kan KAI katanya mau mengembangkan radar AESA sendiri bukannya saya meragukan kemampuan Korsel tapi Russia aja yang pengalaman bikin pespur dan alutsista aja belum kelar bikin radar AESA dan masih riset (gak tahu juga ya katanya Mig-35 pake radar AESA tapi apa iya, setahu saya Russia belum lah), sedangkan US gak mau kasih berarti kunci teknologi radar AESA menurut saya kita harus ke Eropa, cuma kesanalah kita bisa dapet itu

      Delete
    2. ==========
      katanya KFX/IFX lagi nunggu izin lisensi US buat produksi soalnya banyak unsur2 teknologinya dari US,
      ==========

      Semua lisensi yang akan didapat hanya akan menjadi versi downgrade, dan bahkan utk core tehnologi yang sudah disetujui, belum tentu akan diberikan begitu saja.

      United States tidak pernah memberikan alih tehnologi ke siapapun juga

      ========
      hubungan proyek ini sifatnya atas-bawah dari US-Korsel-Indonesia, bukan kesetaraan kayak proyek TFX
      ========

      Memang ini adalah masalah utama proyek KF-X.

      ... dan yang paling bodoh disini sebenarnya Korea sendiri, kalau masih mengira bisa ketimban ToT dari US, apalagi dengan keterlibatan Indonesia.

      Penandatangan proyek IF-X dari pihak Indonesia juga.... grrh.....
      .... sudah membuat puluhan proyek mangkrak, dan merugikan negara triliunan rupiah, mendorong Low Cost Green Car, eh, lantas mengharuskan pemiliknya isi bensin non-subsidi, dan memang hobinya membuat proyek2 mercusuar, seperti jembatan selat Sunda.

      ============
      bukannya mending diawali kalau kita mencoba dari Gripen, kita dapet ToTnya, mungkin kalau bisa kita beli 3 - 4 skuadron, kita arahkan joint production kayak skema Embraer.
      ============

      Inilah yang dahulu sy mencoba menjelaskan ke beberapa pendukung KF-X berulang kali.

      Sebelum akhirnya kita belajar berlari, bukankah terlebih dahulu kita harus belajar merangkak, berdiri, dan kemudian berjalan terlebih dahulu?

      Transfer-of-Technology dari partner yang sudah berpengalaman, dan pengembangan kemampuan industri lokal sebenarnya adalah langkah awal logis, yang seharusnya diambil terlebih dahulu, sebelum mulai berpikir macam-macam.

      Sebaliknya, membuat pesawat tempur itu, dalam keadaan sekarang, seperti menyuruh anak bayi, yang belom bisa ngomong, untuk melakukan ujian akhir perguruan tinggi, dan 1001 macam skripsi.

      Mission: Impossible.

      Tentu saja, keuntungan lain: kemampuan tehnologi, inovasi, dan pengalaman Saab jauh melebihi KAI Korea.

      Kita akan mendapat jauh lebih banyak keuntungan dalam 30 hari bekerjasama dengan Saab, dibanding beberapa tahun ini "partnership abal-abal" dengan KAI Korea.

      Delete
  2. Sebetulnya,benarkah 15 pangkalan AS di Asia Pasifik akan menyerang Indonesia?
    Apakah Typhoon bisa diproduksi PTDI?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## 15 pangkalan US??

      Lagi-lagi berita hoax!

      Seperti sebelumnya, secara ekonomis / diplomatis / politik kita sebenarnya jauh lebih akrab dengan US, dan Australia; demikian pula dengan semua negara ASEAN, Jepang, Korea, dan negara2 Timur Tengah, yang semuanya lebih pro-US.

      ## Perakitan Typhoon?
      Terus terang, meragukan. Sama seperti IF-X, pesawat twin-engine ini jauh lebih complex daripada kemampuan PT DI.

      Perakitan Gripen yang lebih sederhana, dilain pihak, lebih masuk di akal.

      Delete
  3. bung apakah masa pakai f-22 terutama umur airframe setara dgn f-15 dan f-16 dan apakah bisa diperpajang misal lewat program mlu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inilah yg lebih menggelikan.

      Realita akan memperlihatkan kalau F-15, dan F-16 akan bisa operasional terus, lama setelah USAF akhirnya akan mempensiunkan F-22.

      F-15, dan F-16 modern, secara tehnis sudah seperti dapat "hidup kekal".

      Airframe F-15E sekarang mempunyai lifetime sampai 32,000 jam. F-15C, yg lebih tua, sudah dipersiapkan untuk terus operasional sampai 2040.

      F-16 sbnrnya mempunyai rating 8,000 jam, tetapi menurut hasil testing terakhir, dapat tahan banting sampai 26,400 jam.

      Kunci keunggulan F-15, dan F-16 disini jelas: Kedua model ini lebih praktis, dan cukup seserhana.

      F-22 tentu usia airframenya akam bisa diperpanjang....

      ...tetapi karena pesawat ini terlalu rumit, dan sudah mempunyai reputasi "hanggar queen"; USAF akan mendapati kalau proses MLU utk F-22 akan jauh lebih mahal dalam perhitungan Cost-to-benefit ratio.

      Delete
    2. apakah hal yg sama juga akan menimpa saudaranya f-35?

      Delete
    3. Kemungkinan besar, yah, sama saja.

      F-35 sudah dibuat terlalu rumit; dan sejauh ini, masih terlalu bermasalah.

      Konsep single-engine fighter F-16 yg sederhana dan tahan banting, tidak akan bisa bisa compatible dengan stealth, dan segala macam pernak-pernik yg sudah dijejalkan ke F-35.

      Yah, secara tehnis, US sebenarnya sudah gagal total untuk membuat pengganti F-15, F-16, dan F-18.

      Pierre Sprey (salah satu civil engineer yg mendorong proyek F-16) memprediksi kalau produksi F-35 akan diteruskan sampai 500 unit,
      sebelum akhirnya mau tak mau, Konggres US akan membatalkan proyek ini.

      Delete
  4. admin, kabarnya Brazil ngebatalin kontrak pengadaan Pantsyr-1 terus ada yang cerita Bamse/RBS-23 itu kandidat tunggal Arhanud AD karena emang nyarinya yang fire rangenya 15 - 25 km, semoga ajalah sekalian Gripen + AEWC + Data link buat TNI-AU, juga ada yang cerita selain kita ngelirik Koster class minesweeper dari SAAB gara2 ToT, SAAB juga nawarin pembangunan jaringan sensor bawah laut, itu apaan sih admin ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## ToT Saab, dan prospek pembelian Gripen
      ===========

      Psst... kelihatannya sih, baik TNI-AD, dan TNI-AL tidak akan suka dengan semua "rencana" beli Sukhoi.

      Alasannya sederhana:
      Sukhoi Flemon peminum uang, hanya akan memberi alasan untuk TNI-AU meminta proporsi anggaran yg lebih besar.

      Seperti kita lihat dari berita Tempo diatas; kelihatannya pemerintah akan mulai menerapkan displin pembelian Alutsista.

      Dengan demikian, prospek akuisisi Gripen-Erieye, dan mengembangkan kerjasama mendalam dengan Saab -- memenuhi kebutuhan -- akan menjadi jauh lebih baik.

      ## Penawaran pembangunan jaringan Sensor bawah laut
      ============
      Kemungkinan untuk menjadi dasar National Networking. Kalau sudah terkoneksi di bawah laut, dan tersambung ke beberapa terminal yg mengapung di atas permukaan.... presto!

      Sistem Integrated Network yg 100% kebal jamming.

      Delete
  5. admin, itu AW 101 kok makin gak jelas aja sih, itu sebenernya apa sih kejadiannya ? kenapa kita gak pakai Super cougar, super puma,dll dari PT.DI daripada kasus gak keruan AW 101

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kasus seserhananya, permintan pembelian AW101 untuk alasan apapun, sudah ditolak mentah2 oleh pemerintah sejak tahun 2015.

      Ini link lama artikel disini:
      Alasan penolakan pembelian AW101.

      Sedari waktu itu, instruksi pemerintah sudah jelas kok.

      Salah satu alasan: selama ada produk alternatif yg bisa license production dari PT DI (30% nilai penjualan balik masuk ke ekonomi Indonesia), kenapa harus beli barang import?.

      Eh, entah kenapa, bbrp sumber dari Kemenhan, dan TNI-AU sepertinya masih mencoba ngotot beli. Kalau dulu alasannya utk helikopter VVIP, terus jadi utk SAR.

      Dua2 alasan bukan kebutuhan yg tidak bisa dipenuhi NAS-332, atau EC-725 produksi lokal. Kalaupun AW-101 kemampuannya lebih unggul sekalipun, tetap saja tidak relevan, krn kita jauh lebih untung / terbiasa memproduksi & mengoperasikan EC-725 / NAS-332.

      Lebih gila lagi, akhir 2016 yg lalu, (seperti gambar diatas) tiba2 bisa ada foto AW101 mengudara di Yeovil, UK, yg sudah memakai insignia TNI-AU.

      Memangnya beli alutsista seperti membeli mainan?
      Tidak perlu dipertimbangkan dahulu secara mendalam?

      Skrg sepertinya, konflik di belakang layar semakin memanas dengan pernyataan Panglima TNI.

      Kita lihat saja bagaimana penyelesaiannya.

      Perhatikan beberapa persamaan antara kasus AW-101 (paling parah), Su-35KI, dan A400M (hoax):

      ## Produk tidak pernah ditawarkan secara G-to-G contract antar pemerintah.

      Kelihatannya bbrp "pejabat" sudah negosiasi langsung dengan agen sales / perantara.

      ## Pemenuhan persyaratan UU no.16/2012 "sengaja" dicuekin.

      "Yang penting barangnya kebeli, peduli amat alih tehnologi, atau peranan industri lokal!"

      ## Kalaupun ada alternatif lain; baik produksi lokal, atau seperti penawaran Saab, yg menawarkan pemenuhan semua syarat UU no.16/2012, dianggap sama sekali..... tidak relevan.

      ## Terakhir, tes kebutuhan, atau keinginan?

      Kalau memang kebutuhan, yah, produk yg mau diimport sudah dipelajari secara mendalam terlebih dahulu.

      Studi kelaikan penggunaan di Indonesia harus jelas.

      Pilot (pemakai), tehnisi (perawat), dan PT DI (industri lokal) tentu saja harus diperlibatkan.

      Delete
  6. kalau menurut saya munculnya tawaran Gripen + AEWC + Data link dan mungkin beragam peluang kerja sama yang akan datang kayak kesempatan kedua buat Indonesia buat memperbaiki kesalahan dari gagalnya pembelian Dassault Mirage di tahun 80an, kalau kita ambil Gripen itu kayak re-sett peluang yang dulu kita gagal ambil sama ngubah segalanya bukan cuma AU tapi TNI keseluruhan, tawaran SAAB itu bukan cuma pengganti F-5 aja tapi merombak dan menata kembali angkatan bersenjata kita, Gripen itu bukan cuma pespur tapi sistem yang terkait dengan pendukung kayak minimal AEWC + data link. Gripen itu kalau menurut saya adalah masa depan Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, bung Thomas.
      Inilah "reset button" yang sangat kita butuhkan.

      Membeli Gripen, tidak seperti diperlakukan seperti asal membeli pesawat tempur.

      # Bukan hanya karena biaya operasional, dan fleksibilitasnya akan sangat cocok dengan keterbatasan Indonesia.

      # Bukan hanya karena dapat dipersenjatai semua missile terbaik yg tersedia dalam industri Barat, bebas dari kontrol supplier manapun.

      # Bukan hanya karena ini adalah satu2nya yang non versi export downgrade.

      Pembelian Gripen-Erieye, yg akan diikuti pemasangan National Network, dan pembangunan kemampuan / kerjasama mendalam dengan Saab akhirnya akan memperkenalkan untuk pertama kalinya Sistem Pertahanan modern, yang dapat kita bangun sendiri.

      Inilah kelebihan utama penawaran Saab, yg tidak akan mungkin bisa direplikasi pembuat manapun juga.

      Tentu saja, selain Swedia juga, tidak akan ada negara yg mau mengajarkan kita cara membuat sistm yg baik.

      Kemampuan tempur kita akan meningkat ratusan kali lipat dibanding sekarang.

      Salah satu topik mendatang: "(Hanya) pesawat tempur tidak akan menentukan efek gentar"

      Delete
  7. Update Terakhir: Heli AW101 yg kontraknya sudah dibatalkan --- ternyata sudah diantar 15-Januari-2017 ini.

    ==============
    https://www.flightglobal.com/news/articles/murky-aw101-delivery-perplexes-indonesian-defence-o-433985/

    https://news.detik.com/berita/d-3418315/dililit-garis-polisi-begini-penampakan-heli-aw-101-di-lanud-halim
    ==========

    Kemungkinan besar, artinya helikopter ini sudah dibayarkan sebelum Desember-2016 (!!)
    Dengan demikian, skandal AW101 yg seharusnya sudah terselesaikan, malah semakin runyam.

    Merapikan sistem akuisisi "koboi" Indonesia
    Inilah topik selanjutnya yang harus dibahas di blog ini.

    Kejadian ini cukup memalukan reputasi kita dalam dunia internasional.
    Kesannya, kita "gampang" asal beli tanpa perlu persetujuan pemerintah.

    Dan tidak, permasalahannya tidak sesederhana dengan mengatur wewenang anggaran antara Panglima TNI, dan Menhan.

    Kita boleh mulai membahas, sebelum artikel ini ditulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya itu gak masuk akal, saya curiga kontraknya itu udah lama sebenernya entah pakai APBN 2015 atau 2014, sama itu heli sebenernya apa iya bekas pesanan batal AU India, kalau gitu ToT-nya apa jadi cuma maintainance, etc. terus berapa sih jumlah yang kita beli ? urgensinya apa kita tentang heli ini, sebenernya banyak pertanyaan seputar heli di Indonesia mulai dari heli Mi dari Russia yang baru beli masak udah rusak lagi,itu gimana ? terus heli apache ini 50 : 50 lah buat saya, kurang tahu percis sih tapi ada yg cerita kita mau beli sampai 2 skuadron, terus rencana heli Chinook, apa iya ada rencana buat itu. Ribet rupanya AU tu, lebih simple permasalahan di AD & AL, tapi vital zaman sekarang AU itu

      Delete
    2. Kalo kepengen tau heli ini batalan dari india atau brand new, cukup dilihat foto2nya dikompas hari ini.

      Lazimnya heli VVIP tidak menggunakan "cargo door/sliding", sementara heli SAR+angkut berat memiliki "cargo door", karena diatas cargo door tsb ditempatkan hoist untuk menderek/mengatrol evakuan yang berbaring didalam stretcher.

      Terlihat dari foto2 yang beredar...sisi. kanan-tengah heli ini mulus...lus-lus-lus!!!

      Tau kan maksudnya?

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete
    4. oh ok. trims infonya.ngerti saya, penasaran akhirnya cek liat di Fb

      Delete
    5. @TG

      Heli SAR tanpa fasilitas HOIST dan cargo door...tapi malah datang lengkap dg defense suitenya justru menunjukkan aspek perencanaannya yang "ampun deh".

      Sbg info saja, heli VVIP/kepresidenan belum dilengkapi defense suites lho...(sampai saat ini baru keluarga F-16, sukhoi dan BBJ-VVIP saja yang memilki defense suite)

      Bukankan lebih layak bagi pesawat/heli yang bertugas digaris depanlah (yang tingkat aancamannya lebih tinggi) yang lebih dulu dilengkapi dg defense suites, spt: cn-235 mpa, casa-212 mpa, boeing-737 surveiller, panther-asw, T-50i, hawk 109/209, super tucano...yang secara rutin beroperasi, berhadap2an langsung dg kekuatan militer asing

      Delete
    6. jujur aja saya kepikiran ini aslinya mesti heli VVIP yang dadakan disulap jadi SAR version tapi saya nunggu admin nya takut salah ucap, pusing lah sebenernya pun lama lama males liat berita tentang AW 101 ni,

      Delete
    7. @smilinghari212 saya kurang paham lah ya mengenai proses procurement itu bagaimana entah gimana saya curiga akarnya ini udah lama mungkin dari tahun 2015 atau 2014 atau bahkan ini itu zaman administrasi sebelum yang sekarang tapi gak tahu lah ya, takut salah ngomong

      Delete
    8. Seperti disebut bung @smilinghari,
      AW-101 ini kelihatannya versi VVIP, bukan SAR.

      Flightglobal mencatat order AW-101 VVIP ini sudah dimasukkan dari akhir 2015 untuk 3 unit.
      Dan memang, kelihatannya dialihkan dari pesanan 12 unit untuk AU India, yg KSAU-nya sudah terjerat praktek korupsi dari akuisisi ini, yg juga menjerat bbrp direksi Leonardo.

      Nilai transaksi dikabarkan dikisaran $55 juta.

      Kelihatannya masalah kita akan sama dengan masalah di India
      Inilah akibat kalau ada pejabat yg teken kontrak, tanpa melalui proses G-to-G, yg memang cenderung lebih berlarut2, tetapi jauh lebih transparan.

      Kalau mengikuti berita AW101, sekarang kelihatannya semua pihak seperti mau "cuci tangan",
      tidak ada yg mau ngaku salah.

      Kita lihat saja perkembangannya bagaimana.

      IMHO, kasus ini akan sepertinya akan menimbulkan "shakeup", untuk mentertibkan pola akuisisi Alutsista di kemudian hari.

      Tentu saja, para netizen, atau "pengamat awam" juga sudah saatnya belajar mawas diri.

      Herannya, kalau mendengar Negara kita mau mengakusisi ini-itu,
      reaksi pertamanya seperti gegap gempita "wah, akhirnya terbeli juga!"

      Sekali lagi, membeli Alutsista itu bukan seperti membeli mainan.

      Negara kita juga tidak sekaya Australia, yg bisa keluar $10 milyar, hanya untuk membeli C-17, dan KC-30 (A330MRTT).

      Mnrt transparancy.org --- sistem akuisisi Indonesia juga dinilai termasuk salah satu yg paling korup di dunia; sedangkan Australia, Singapore, Korea, yg anggarannya jauh lebih gemuk; semuanya termasuk yg paling bersih.

      Kalau tidak pernah dibicarakan secara transparan, tiba2 ada berita "akan membeli sesuatu", kita justru harus curiga dahulu.

      Delete
    9. @DR

      Pernah baca dimajalaah angkasa, memang ada kelompok didalam matra ini yang pro produk leonardo (mungkin terjadi regenerasi).

      Sebenarnya sudah ada presedennya waktu terjadi tender pesawat angkut medium...konon sempat terjadi "perang bintang" antara pendukung c-27 spartan vs c-295.

      Cuma kontroversi kali ini (aw-101)lebih vulgar karena melibatkan akademisi dan beberapa penggiat LSM dikubu mereka

      Delete
    10. This comment has been removed by the author.

      Delete
    11. ada itu pakar pertahanan ibu-ibu tahu sendiri lah siapa, orang aneh itu

      Delete
    12. lucu juga liat komen2 di jkgr tentang berita heli aw yg ud terparkir di halim rata2 komennya "sudahlah ambil aja toh barang bagus" LOL

      Delete
    13. :)

      Itulah,
      .... kebiasaan umum memperlakukan beli alutsista seperti beli mainan.

      Ini sama spt ada "analyst" yg pernah menyebut:
      "...dengan Sukhoi, efek gentarnya sudah terasa..."

      Terasa gimana?

      Bisa (asal) beli, bukan berarti automatis sudah langsung bisa memakai.

      Apalagi kalau tidak pernah ada studi kelaikan, usaha menjajaki semua sisi operasional utk TNI, dan selalu kelupaan menterlibatkan industri lokal.

      Semuanya PR yg harus dikerjakan lebih dahulu, sebelum memutuskan membeli; bukan sebaliknya, beli dulu terus coba sendiri(!!)

      Mau diputar balik gimanapun juga, yah, hasilnya sudah pasti melempem.

      Delete
    14. admin saya penasaran tentang prospek C-295 yang bisa jadi air refuelling aircraft, lihat di janes.com dia fungsi utamanya buat isi bahan bakar Helikopter apa bisa buat pespur terutama Gripen, terus menurut admin C-295 itu harganya bakal terjangkau atau enggak dibandingin pesawat tanker yang lain

      Delete
    15. ## Kita belum tahu pasti berapa kapasitas bahan bakar yg bisa dibawa KC-295 nantinya.
      Payload untuk versi standard 9 ton, dengan berat kosong 14 ton.
      Kemungkinan kapasitas tangki KC-295 antara 7,5 - 8,8 ton?

      Sebagai pembanding,
      KC-30 (pesawat tanker terbesar di dunia) mempunyai kapasitas tangki 111 ton, dan berat kosong 125 ton -- dari berat maksimum total 233 ton.

      ## Kemampuan strategis:
      1 KC-295 kelihatannya cukup untuk men-top-up formasi 4 Gripen-E, yg kapasitas tangki maksimumnya 3,3 ton --- kira2 bisa membagi 2 ton bahan bakar ke masing2 Gripen.

      1 Su-35K Flemon sih hanya akan minum habis seluruh kapasitas bensin KC-295;
      mengingat kapasitas tangkinya 12 ton, tapi kedua mesinnya yg boros bensin, dan airframenya jauh lebih draggy; di lapangan jarak jangkaunya akan lebih jelek dibanding Gripen-E.

      ## Harga??
      Mengingat kita dalam proses mengambil license production untuk C-295, kelihatannya harganya akan sangat terjangkau -- mengingat lebih dari 30% nilai transaksi akan dikembalikan ke industri lokal.

      Delete
    16. @DR

      Tampaknya tidak sampe sebanyak itu oom...

      Sebagai perbandingan, varian water bombing c-295 hanya sanggup mengangkut 5 ton air saja.

      Kalo soal efektivitasnya, memang agak rumit utk ditentukan krn harus melibatkan bbrp simulasi pengisian BBM...tapi scr hitungan kasar platform yang lebih besar memiliki efektivitas biaya yang lebih besar

      Delete
    17. @smilinghari

      Memang angka KC-295 hanya estimasi kasar; kita belum tahu angka pastinya.

      ..dan memang benar,
      Platform tanker yg kapasitasnya lebih besar lebih ekonomis, krn dapat mengisi lebih banyak pswt lain; hanya saja angka ini juga akan di-offset dengan biaya operasional yg lebih mahal.

      Dalam kompetisi KC-X di US, argumennya jadi begini:
      A330 mempunyai kapasitas 111 ton vs hanya 94 ton untuk 767;
      tetapi baik harga, ataupun biaya op 767 lebih murah.

      Perbedaan kapasitas 17 ton itu sudah cukup utk bisa men-top up 4 F-15E.

      Untuk konteks Indonesia;

      ## kalau kita mengoperasikan Gripen; baik A330, atau B767 akan terlalu mahal, dan terlalu berlebihan.

      Dari sisi ekonomis, KC-295 akan ideal utk top-up; atau paling top KC-130 sudah cukup.

      Atau kalau sudah cukup sukses ToT... buddy refueling dari Gripen lain; dgn refueling tank yg dibuat dngn kerjasama Saab.

      ## Kalau mau terus terlalu tergantung ke F-16; mau tidak mau memang harus memilih salah satu antara 2 tanker seharga $200 juta+ ini, karena F-16 hanya bisa mengisi bahan bakar dgn flying boom.

      ## Demikian juga Sukhoi, yg kapasitas bensinnya besar; dan akan jauh lebih boros bensin.
      Biaya bbm Sukhoi saja akan lebih mahal vs biaya operasional Gripen.

      Delete
    18. @DR

      Sebenarnya "ada" F-16 yang bisa melakukan pengisian bbm dg 2 cara: H&D atau flying boom.

      Saya punya foto2 uji coba air refueling (F-16 block 60 uae) oleh pesawat "omega-tanker" dg metode H&D pada conformal tanknya....ada 2 perusahaan yang biasa melakukan konversi spt ini, yang satu adl Bedek sdg satunya lagi adl satu perusahaan di amerika.

      Walopun tidak lazim dan menambah biaya tapi keberhasilan uji coba ini membuktikan bhw F-16 dg conformal tank bisa dimodifikasi utk melakukan. Refueling dg metode H&D

      Delete
    19. This comment has been removed by the author.

      Delete
    20. Siip... Mskh info-nya.

      Sy baru lihat fotonya skrg.

      Sbnrnya ada beberapa masalah dengan metode ini:

      ## Pertama, F-16 harus membawa CFT.
      Dalam tes, efeknya akan menurunkan kemampuan manuever beberapa %.
      "... Walau perbedaannya tidak terlalu terasa," menurut salah satu test pilot F-16.

      Tetap saja, CFT akan selalu mengurangi kemampuan manuever optimal dalam air-to-air configuration, walau tidak masalah kalau hanya misi pemboman.

      ## Kedua, permasalahannya lebih serius:
      Washington DC belum tentu mengijinkan pemasangan CFT dengan refueling probe ke F-16 Indonesia.

      Kita boleh mengajukan permohonan, tapi belum tentu disetujui.

      FYI, mereka sbnrnya sudah mengurangi banyak dari daftar fitur versi export Block-52, yg sudah dipasang Singapore, Pakistan, Korea, dan rata2 negara NATO.

      Delete
  8. admin, kemarin baca katanya Korsel minta Indonesia beli lagi alutsistanya, udah ketebak sih arahnya ke situ dari dulu, saya cuma kepikiran kita harus tambah Kasel Changbogo class 2nd batch order, mungkin K-9 SPH, sama kalau jangka lama dari sekarang bisa jadi KM-SAM, terus ada tender pengadaan 50 APC buat marinir sebenernya semua udah tahu marinir biasanya suka alutsista block timur, kandidatnya ada BTR-80 Russia, ada dari Turki sama dari Korsel. menurut admin bagaimana? terutama tentang penambahan Changbogo

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh iya barusan ada info dubes RI buat Swedia menyampaikan undangan Menhan Swedia untuk Menhan RI, semoga berbuah banyak.

      Delete
    2. ## Kenapa lagi, Korea ini kok pengen kita belanja alusista ke mereka terus?

      Terus terang, sejauh ini kebanyakan Alutsista yg kita beli dari mereka juga kemampuannya... kurang optimal. Yang paling menguntungkan sejauh ini sih KRI Banjarmasin, yg skrg sudah dapat kita export sendiri,

      Sisanya....
      T-50i versi export downgrade.
      Changbogo -- yah, ini kyknya partially salah kita juga sih masih minta Type-209.

      Bagaimana kalau mereka mau kita beli,
      mrk harus offset 80% dengan membeli CN-235, NC-295, H225M, atau Panser Anoa?

      Oh, dan tambah refund uang yg sudah dhabiskan utk "proyek mangkrak" KF-X ( masih tambah bunga penalty)!

      ## Untuk APC, sepertinya Marinir sih memilih keluarga BMP & BTR buatan Ruski karena pengalaman mengoperasikan puluhan tahun, lebih praktis drpd kemdaraan amphibi US, dan krn mobilitasnya tinggi.

      Hanya saja, yah, kekurangannya versi export, yah, armor-nya akan lebih tipis, dan persenjataan defaultnya juga di downgrade (tidak bisa dipercaya 100%).

      Kita lihat saja. Lebih baik sih kalau memang butuh, ya, buka tender secara terbuka, jangan main favorit!

      ## Untuk Swedia...
      Kita lihat saja perkembangannya lebih lanjut bagaimana.
      Semoga kita terus melaju selangkah, demi selangkah.

      Lebih baik sih sampai keadaan ekonomi membaik,
      jangan terlalu terburu2 juga membeli Gripen!

      Lagipula dari sisi kebutuhan pespur sih aneh kalau mau cepat2 beli, krn masih ada 10 F-16 yg belum diantar.... Dan jumlah persenjataannya masih nihil.

      Masalah kedua, selama kita terus mengoperasikan Sukhoi, sebenarnya tidak ada ruangan utk beli pespur baru....... menghabiskan dana lebih banyak dari F-16, T-50, dan Hawk, tetapi ROI (Return on investment)-nya luar biasa jelek.

      ..... kecuali kalau mau ambil ancang2 utk tutup kontrak Gripen-E untuk delivery 2022-4.
      :D

      Delete
    3. iya sih admin, kebersit pikiran kayaknya ini tanda - tanda kita mau dikerjain Korsel padahal kita udah beli banyak, untuk Kasel harusnya dari awal kita pilih U-214 tapi saya baca U-214 itu export version nya U-212, mungkin harusnya Scorpene-1000 yang kecil-kecil tapi cocok buat littoral warfare, Changbogo 50 : 50 sih admin udah terlanjur kayaknya trend kita bakal nambah yang ini, lain2 evaluasi dulu soalnya kita udah banyak beli dari mereka mulai dari T-50, Chiron, Wong bee, Tarantula, sama LPD. Untuk Swedia gak ngarep beli buru-buru sih tapi minimal dapet konsep pengembangan TNI-AU, minimal paham jelas arah gerak kita kemana

      Delete
    4. @Tomas

      Pemilihan Imp.CBG sudah tepat...dg keterbatasan dana&karakter geografis RI yang dilitasi banyak selat/ALKI yang harus dijaga, maka dg sendirinya "kuantitas adalah kualitas yang sebenarnya" utk konteks ini.

      Fakta menunjukkan, penawaran kasel U-209 lebih murah dibanding penawaran serupa dari Turki (yang memegang lisensi U-209), 3 vs 2.

      U-214 menjadi sangat mahal/tidak terjangkau krn AIP sudah menjadi kelengkapan standarnya. Tapi seperti ujaran "rejekinya anak sholeh", kita tidak rugi2 amat tidak melengkapi AIP pd kasel terbaru, krn beberap negara (terutama jepang, korea, cina&perancis) sdg mengembangkan teknologi baterai berbasis Ni-Litium yang memiliki karakter performa mendekati AIP, namun dg harga yang lebih murah. Sementara itu batreai Ni-Litium tidak membutuhkan tambahan sarana lainnya/sama persis dg baterai Ni-Cadmium...(Fuel cell membutuhkan suplai nitrogen cair&fasilitas isi uangnya, sdg Stirling&mesma membutuhkan lubrikan khusus&seal2 karet yang diproduksi scr khusus utk alat2 tsb).

      Saat ini baterai Ni-Litium telah memasuki masa uji coba dg hasil yang menggembirakan, shg jika sdh diproduksi masal maka akan lebih banyakgsemua kasel kita akan memiliki kemampuan mendekati kasel ber-AIP dg harga terjangkau.

      Benar yang omm tomas bilang, utk mengkompensasikan kuantitas kasel, kita masih membutuhkan tambahan bbrp unit kasel ekonomis diluar CBG. Ada beberpa pilihan sebenarnya: U-210 mod, Scorpene-1000 atau midget buatan korsel(lisensi jerman)...semuanya adl produk baru yang belum pernah diproduksi, kecuali U-210mod yang tidak benar2 baru, krn mengambil basis dari U-210 yang dioperasikan norwegia.

      Pd kelas kasel ekonomis ini, henat saya U-210mod atau midget korea (kalo tdk salah KSS-400) lebi memiliki keunggulan dibanding Scorpene-1000 krn memiliki basis teknologi yang seragam dg kasel kelas U-209/varianya, seperti yang dimiliki AL saat ini.

      Delete
    5. sebenernya saya udah suka sama Imp. Changbogo malah menurut saya udah paling cocok dari segi ekonomis, dll. Kalau menurut saya sih kita harus pesan 2nd batch minimal 3 lagi biar ToTnya tambah maksimal, kan rencana kita mau 12 SSK, menurut saya 8 harus Changbogo 4 lagi pilih berbagai kandidat yang lebih baik, pernah juga baca AL Norwegia seminggu yang lalu tentang kasel buatan bersama Norwegia-Jerman U-210mod menurut saya lumayan juga sebagai kandidat pelengkap Imp. Changbogo sekaligus kalau kita sampai punya minimal 8 Changbogo ( derivat U-209 ), untuk produksi,dll U-210mod atau U-214 bakal lebih terbiasa karena masih derivat U-209, yang saya sama sekali gak suka kapal2 selam Russia, entah Kilo 877 Paltus, Kilo 636 Varshavyanka, atau Amur, menurut saya semuanya itu kecil kita dapat ToT, belum Russia masih uji coba AIP mereka yang belum sempurna, apalagi 2 Kilo 877 ex Perang dingin yang udah rusak parah di Murmansk masih aja ditawarin ke kita.
      Imp.Changbogo (U-209/1400) pilihan yang jauh lebih baik dan sebaiknya ditambah, untuk variasi yang lebih superior, ok kita coret Scorpene-1000 berarti antara U-210Mod, U-214 atau mungkin ya ini baru mungkin aja lho berdasarkan tawaran ke Menhan kita, Gotland class

      Delete
    6. tentang kasel midget 22m semoga aja terus jalan tapi bukan bagian dari 12 rencana itu, dari U-210Mod, U-214, sama mungkin Gotland. Kita beli yang ToTnya tepat, Harga ekonomis sama cocok dengan keluarga U-209 punya kita

      Delete
    7. Begini masalahnya, bung @smilinghari, bung @Thomas,

      Merencanakan 12 kapal selam itu, uboleh dibilang sama dengan renstra 180 pesawat (10 skuadron).

      Target "mengejar jumlah" semacam ini dari awalnya saja sudah kurang realistis dengan:

      ## Keterbatasan finansial negara kita.
      Renstra2 versi skrg ini seperti membayangkan kalau proporsi anggaran kita (suatu hari) bisa mencapai lebih dari 10x lipat dibanding skrg. Ini tidak akan bisa terjadi.

      Realitanya, pembangunan ekonomi utk tingkat kemakmuran yg lebih tinggi akan selalu menjadi priortas utama pemerintah Indonesia, sampai kapanpun juga.

      mengingat kita juga tidak menghadapi ancaman militer langsung... Yah, kita harus belajar berpikir lebih pragmatis, sesuai kebutuhan.

      ## Kedua, renstra ini lebih mementingkan KUANTITAS daripada KUALITAS.
      Harus cepat2 beli untuk mengejar jumlah target, tanpa adanya sistem seperti sekarang, hanya akan seperti membuang uang ke laut,

      Mau membeli 500 pesawat tempur, dan 100 kapal selampun, hasilnya akan mubazir.
      Kita tidak akan pernah bisa memakainya dengan baik.

      Lihat saja utk TNI-AU yg skrg, masih "ngejar pengganti F-5E", tapi sangat malas beli persenjataan (missile), atau targeting pod!
      Buat apa beli pesawt tempur yg hanya bisa membawa 1 - 2 missile per pesawat, tanpa ada stock di gudang? Kan hanya membeli target utk ditembak jatuh?

      Balance of power di Asia Tenggara tetap tidak akan berbeda jauh dibanding skrg,
      ....bedanya, kita hanya akan menghamburkan uang jauh lebih banyak.

      ## Ketiga, terlalu mengejar jumlah itu sebenarnya tidak meningkatkan efek gentar.... Karena hanya mendorong perlombaan beli senjata dngn negara lain.

      Jangankan 180 pesawat; kalau kita mengoperasikan 70 F-16 saja (atau dua kali lipat dari sekarang), dapat dipastikan semua negara lain (yg anggarannya lebih gemuk) juga akan menambah jumlah pesawat mereka, dan meningkatkan intensitas latihan mereka.

      Dan seperti diatas... Karena PRC, Australia, atau Singapore sudah belajar mengoperasikan Alutsista mereka dalam satu sistem selama puluhan tahun, yah, setiap 1 pesawat mereka akan lebih efektif dibanding 3 - 4 pesawat kita.

      semakin banyak jumlah, semakin kita jadi yg terjebak dalam lingkaran setan.

      ## Terakhir, telalu terobsesi mengejar jumlah, berarti kita akan membuka ruangan untuk kasus penyelewengan seperti AW-101 diatas;

      Dan kita akan mengorbankan kemampuan industri pertahanan lokal, untuk memproduksi, atau men-support apa yg ada.

      Semua renstra ini boleh dibilang sangat merugikan, dan justru akan sangat memperlemah kemampuan pertahanan Indonesia dalam jangka panjang.

      Lebih baik kita mulai belajar mengubah pola pikir;
      bagaimana dengan anggaran yg akan selalu lebih sedikit, dan jumlah yg lebih tebatas, kita dapat memaksimalkan kemampuan tempur, agar tidak kalah bersaing dengan negara2 lain.

      Dengan resource yg sangat terbatas ini, sekarang saja sbnrnya kemampuan kita sudah ketinggalan.... hampir 30 tahun dibanding Australia, Singapore, dan masih 20 tahun dibelakang Thailand, PRC, atau Vietnam.
      Ini yang harus dikejar dahulu sebelum mulai melirik jumlah, dan bukan sebaliknya.

      Kembali ke kapal selam; bagaimana selanjutnya?

      KRI Cakra, dan Nenggala (type-209 yang lama) saja, walaupun baru dimodernisasi, sebenarnya sudah mendekati waktu pensiun. Jadi ketiga Changbogo bukannya menambah jumlah, tetapi justru akan menggantikan keduanya.

      Secara realistis, kita akan jauh lebih membutuhkan lebih banyak KCR, kapal patroli, dan korvet utk mencegah perikanan illegal, penyelundupan, atau petak-umpet dngn armada bajak laut PRC di LCS.

      Yah, fungsi kapal selam itu sbnrnya cukup kecil -- hanya utk bisa menghancurkan kapal lain.
      Biaya operasional kapal selam juga luar biasa mahal dibanding kapal konvensional.

      Terus terang, kemungkinannya kita hanya akan terus mengoperasikan 3 Changbogo sampai 20 tahun ke depan, dan paling banyak hanya akan ditambah ke 5 kapal selam, sebelum Changbogo pertama akhirnya mulai mendekati masa pensiun lagi.

      Ini sudah cukup.
      Pertanyaannya, seberapa efektif kita akan dapat memakai Changbogo?

      Delete
    8. Contoh untuk memaksimalkan kemampuan dari jumlah yg terbatas:
      ============
      Sbnrnya Type-209 masih bisa di-retrofit dengan AIP di kemudian hari.
      Hasilnya tidak akan seoptimal Type-214, dan biayanya akan cukup mahal, tetapi AIP akan meningkatkan kemampuan bbrp kali lipat dibanding skrg.

      Ini saja sudah melipatgandakan kemampuan KS Indonesia, dengan biaya jauh lebih murah,
      dibandingkan bbrp rencana simpang-siur, seperti menambah Improved Kilo-class (lagi2 Versi Export Downgrade) dari Ruski.

      Sekarang tinggal masalah mengejar training crew, sekaligus meningkatkan kemampuan ASW.

      OTH, armada gado2 itu justru akan selalu menyulitkan secara operasional bukan membuat kita lebih kebal embargo, seperti miskonsepsi umum dewasa ini.

      PT PAL saja sbnrnya sampai tahun 2014 saja masih babak belur secara operasional, ataupun dalam penyerapan ToT; dan harus menelan banyak subsidi pmrth.

      Fasilitas untuk konstruksi unit ketiga Type-209 Changbogo itu saja, membutuhkan dana investasi $300 juta -- belum termasuk biaya produksi kapal.

      Sejauh ini saja, mengingat kita juga belum berpengalaman membuat kapal selam,
      bahkan kalaupun fasilitasnya sudah siap, belum tentu konstruksinya bisa berjalan lancar tanpa masalah.

      Semuanya butuh waktu, uang, dan tenaga hanya untuk menguasai ilmu ToT. Lebih banyak lagi utk coba membuat sendiri,.
      Konstruksi KS tidak semudah memasukannya ke mesin foto kopi.
      Inilah miskonsepsi berikutnya yg kurang dimengerti.

      Berkaitan dengan ini, kenapa sy sering menyebut proyek KF-X itu proyek menjual mimpi yg mustahil. Kita tidak akan bisa dapat apa2.

      Kembali ke kapal selam, kalau support utk Type-209 saja masih belum beres,
      Bayangkan kalau kita menambah Kilo?

      Sama seperti PT DI yg tidak dilibatkan untuk Sukhoi,
      Pt PAL sudah pasti akan lepas tangan, bukan?

      Yah, ini artinya membeli Kilo, hanya akan menyumbang uang ke Moscow, dan menyerahkan kunci kedaulatan kita ke mereka.

      Mereka akan mempunyai wewenang penuh untuk menentukan laik atau tidaknya Kilo secara operasional, dan kita tidak akan bisa melakukan apa2.

      Sebaliknya dari langkah diversifikasi supplier (tanpa ambil pusing) seperti sekarang,
      langkah yg benar seharusnya justru memilih satu supplier yg dapat dipercaya, yg dapat memenuhi persyaratan UU no.16/2012, terutama utk peran industri lokal, dan ToT.

      Kemudian lebih baik mengurangi jumlah tipe yg operasional, dan merampingkan supply chain, agar inventory management-nya juga lebih optimal.
      Yah, lebih baik single-supplier utk masing2 alutsista, dan menguasai kemampuan / support sepenuh hati; dibanding diversivikasi supplier utk jenis alutsista yg sama, tapi hanya menguasai 10 - 30% kemampuan / supportnya.

      Nanti kita bahas hal ini lebih mendalam di topik lain.
      Kadang sy meracau terlalu banyak. :)

      Delete
    9. oh ok, itu apa iya kata ibu C, masak kita punya kontrak pengadaan 8 heli AW, sama kalau mau ToT perakitan kita harus beli minimal 13, kita beli cuma 1 atau 8 ? atau itu berita hoax ?

      Delete
    10. oh iya admin sekalian. menurut admin bagaimana tentang fregat ringan Sigma 10514, kalau menurut saya sih kita ngelanjutin produksi ini dulu, gak perlu sampai 20, 10 - 12 kayaknya itupun udah cukup bagus, sama KCR kan katanya CMS mau diganti sama buatan Eropa, ada gak sih peluang buat kita install misil & radar Eropa, okelah Trimaran belum saatnya buat kita,jadi kita fokus ke PKR dan KCR, tapi KCR nya harus bagus punya lah, ngelihat Orkan class FAC punya Polandia padahal miriplah kayak KCR tonnase kecil tapi isiannya admin top bener, misilnya pake RBS-15, radar Giraffe 3D, CIWS okelah AK-630, sama senjatanya udah remote controlled, mungkin gak admin KCR disempurnakan mengusung 2 misil RBS-15, pasang radar Girrafe, ganti CMS pakai punya Eropa, kalau CIWS cukup lah AK-630 sama meriamnya pake Bofor mm53, pasang juga 2 senapan mesin dan semuanya remote controlled, itu baru top KCR nya

      Delete
    11. ## Helikopter ASW -- model yg sudah dipilih AS565 Panther, yg masih saudara kandung dari Super Puma (NAS-332), atau Super-nya Super Puma (EC725 / H225M) dari pembuat yg sama; Eurocopter cabang Perancis (ex-Aerospatiale).
      Nilai kontrak 11 unit, dengan partial ToT; unit di rakit di Perancis, pemasangan fitting, dan ASW akan dilakukan di PT DI.

      Ini baru contoh langkah yg benar.
      Tahap selanjutnya, bukan tidak mungkin mencoba aplikasi license production AS-565.

      Ironisnya, AW-101 itu pada awalnya fungsinya utk tugas ASW Royal Navy; seperti bisa dilihat, sbnrnya kebutuhannnya tidak ada, bukan, di Indonesia?
      TNI-AL sudah memilih AS-565 yg lebih kecil, dan paket ToT-nya lebih jelas.

      Sedangkan untuk misi SAR --- ini lebih aneh lagi, karena TNI-AU baru saja memesan 5 H225M, produksi PT DI, yg memang salah satu mission parameternya utk SAR, dan troop transport.
      Konsumsi bbm-nya juga kurang dari 50% AW-101, sedang cruise speed, atau jarak jangkaunya masih lebih unggul tipis.

      Inilah kenapa, sama seperti di militer Perancis, AW-101 itu kebutuhannya tidak ada di Indonesia.

      Eh, masih ada yg bandel mencoba tutup kontrak untuk produk saingan (import) PT DI....

      (Nanti sy lanjut)

      Delete
    12. maaf admin kalau komentar saya aneh-aneh maklum kayak sebagian besar orang Indonesia, saya juga masih pengenan orangnya, kurang mikir mateng-mateng. kalau ngelihat yang waow, kadang masih pengenan, padahal alutsista harus hati-hati sesuai kebutuhan

      Delete
    13. Tidak apa2 bung Thomas,

      Sy juga hanya pengamat awam, dan pada awalnya tersesat sendiri.

      Dahulu juga sy suka merasa iri melihat jenis apa saja yang dioperasikan negara lain, dan jumlahnya... wow... beberapa kali lipat jumlah yg dioperasikan di negara kita.

      (Seandainya kita bisa begitu....)

      Hanya saja.... ternyata apa yang kita lihat dioperasikan negara lain itu sebenarnya hanya kulit luarnya saja.

      Kalau kita menengok ke RAAF Australia (yg sering dijadikan tolok ukur disini), apa kita hanya melihat:
      "ah, mereka hanya mengoperasikan Hornet, dan Super Hornet, yg menurut laporan laporan media Barat "bukan tandingan" Sukhoi..."

      Kalau kita mengoperasikan Sukhoi, yah, kita akan melebihi mereka.

      Mereka hanya mengoperasikan 100 pesawat tempur, makannya kita perlu 180, apalagi semuanya jenis Sukhoi, wah, sudah pasti jauh lebih unggul!

      Kesalahan besar.

      Ini hanya pemahaman yang terlalu sederhana.

      Anggaran pertahanan Australia jauh lebih gemuk, RAAF mereka termasuk yang paling terlatih dan berpengalaman di dunia, dan terakhir, baik struktur, ataupun kemampuannya State-of-the-art --- boleh dibilang jauh melebihi AU Russia sendiri, yg skrg hanyalah relic peninggalan jaman Soviet.

      Dilain pihak, biaya operasional Flanker jauh melebihi anggaran kita yang tipis (tapi para pejabat / fanboys juga tidak mau ambil pusing), hanya tersedia dalam versi export downgrade, dan seperti bisa dilihat... sangat gemar "perbaikan mendalam".

      Mau mimpi seberapapun juga, kalaupun kita membeli Seribu Sukhoi, tetap saja bukan tandingannya RAAF Australia... inipun kalau mereka tidak menambah jumlah pesawat mereka.

      Inilah contoh pemikiran yg salah, tetapi sepertinya juga masih digalakan, bahkan oleh para pejabat sendiri dalam bermacam2 Renstra.

      Ini bukan maksud mereka,
      tetapi karena secara sejarah, sejak merdeka sampai sekarang, kita tidak pernah punya pegangan yg jelas, atau negara yg mau menjadi guru.

      Wah, masa harus berguru ke negara lain? Malu dong!

      Yah, tentu saja.
      Semua negara yang baru merdeka sejak berakhirnya Perang Dunia II, harus selalu berguru ke negara lain yang kemampuannya sudah matang.

      Perang dingin membuat masing2 negara memilih satu pihak, untuk menjadi guru mereka..... dan untuk kebanyakan negara, latihan / berguru ini tidak pernah berhenti.

      India, karena tantangan geografis, dan konflik dengan Pakistan, cepat berguru ke Perancis, dan kemudian ke Soviet; untuk meningkatkan kemampuan militer mereka.

      Syria, Mesir, Iraq; karena bersengketa dengan Israel, yang memilih blok Barat, mulai mendesain sistem pertahanan mereka ala sistem Soviet sejak tahun 1960-an.

      Israel, di lain pihak, pertama2 cepat berganti2 berguru sendiri, lalu ke Perancis, sebelum akhirnya dengan US.

      Saudi Arabia, UAE, Qatar, Oman, dan Yordania --- walaupun sempat bimbang diawalnya, mulai tahun 1970-an juga membulatkan tekat --- kami mau menjadi sekutu Barat, dan dengan demikian, instructor dari US, UK, dan Perancis yang membantu membentuk militer mereka --- bahkan sampai sekarang.

      Indonesia tidak pernah mempunyai pengalaman yg sama -- karena sampai tahun 1970-an, kita sudah menumpuk banyak hutang, baik ke Washington DC, ataupun ke Moscow --- dan kedua2nya akan selalu ingat terus.

      Delete
  9. admin, itu apaan di media India mendadak muncul Tejas Mk.1 A buat TNI-AU, cuma lihat-lihat aja atau apa ? ini serius dikit lah Tejas ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. IMHO, tidak akan ada negara yg mau menyentuh LCA Tejas.
      Apalagu Mk 1A, yg secara tehnis.... rongsokan.

      Delete
    2. admin, itu di laman-laman Fb India, mereka juga ngomongin pesawat AEWC ke Indonesia, ini kok mendadak muncul nyerobot, kalau cuma lihat - lihat, okelah tapi ini beneran atau apaan ? katanya delegasi kita bakal ngomongin soal ini pas event Aero India

      Delete
    3. ## India boleh dibilang agak ketinggalan utk masuk ke pasar senjata internasional, bahkan dibanding PRC, yg sampai bbrp tahun sblmnya masih sibuk menjual Shenyang F-7, yg adalah Chinese-copy modernisasi dari MiG-21.

      AEW&C India kabarnya akan menggunakan AESA radar, dan masih dalam development; tapi tehnologinya akan.... Unproven; beresiko tinggi.

      ## Delegasi kita kalau mengunjungi Aero India sih sudah lazim. Disana akan menjadi kesempatan bertemu bermacam2 supplier.

      ## Sbnrya implikasi negatif dari rumor penawaran India re Tejas, atau AEW&C, atau sebelumnya, Korea "meminta" kita beli lebih banyak cukup jelas.

      Asal melalui rute "yang benar" (dalam tanda kutip), kesannya itu mudah utk menyebar umpan, agar kita mengimport senjata tanpa banyak pertanyaan.

      Tidak mengherankan, skrg ini semua penjual senjata itu seperti merubungi Negara kita, seperti lebah merubung madu, atau semut yg menyerbu toples gula.

      Mereka tahu kalau kita itu "gampangan", dan suka beli gado2, tanpa mikir panjang.

      Perhatikan saja Korea, Singapore, atau Australia!
      Tidak sembarang penjual berani menawarkan perangkat ke mereka, karena mereka tahu, peluang suksesnya akan sangat kecil.

      Tentu saja, potensi KKN dari transaksi persenjataan tanpa persetujuan pemerintah akan sangat besar, spt dalam contoh kasus AW-101; masakan membayar harga $55 juta untuk satu unit kosong?

      List price-nya saja sekitar $20 juta.
      Kelihatannya sih ada bbrp oknum yg mendapat "kickback" dari penjual.

      Inilah yg harus kita hilangkan dari sistem akusisi di Indonesia.
      Kalau tidak, ya, kasus ini akan terus terulang kembali.

      Kalau mau blak2an, IMHO;
      UU no.16/2012, dan UU no.3/2004 harus di-revisi ulang.

      Delete
  10. SU-35 tidak cocok dengan visi poros maritim dunia yg diusung Joko Widodo?
    Kita juga punya Fairey Gannet AS.4 punya Inggris?
    PT.Trimarga Rekatama pernah mendatangkan Sukhoi Superjet 100 untuk Indonesia kan?
    Apakah Insiden Bawean apakah karena tidak ada pesawat AWACS?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Su-35?
      Hanya model downgrade dari unproven model, yg sudah diketahui umum gampang rusak, dan tidak bisa diperbaiki sendiri di Indonesia, dengan biaya operasional lebih mahal dari F-22?

      Pesawat itu hanya benda mati, kemampuan ada di tangan pilot, dan lebih penting lagi sistem yg dapat mendukung dalam situasi pilot.

      Anak kecil-pun tahu kalau dalam semua hal, Su- bukan pilihan yg ideal utk Indonesia.

      ## PT Rekatama?
      Yah, mereka terlibat dalam semua penjualan Sukhoi di Indonesia.
      Mengakunya sih bukan makelar Sukhoi, tapi kita bisa menebak sendiri peranan mereka apa.

      Ini sbnrnya hanya prosedur standard penjualan Rosoboronexport.

      ## Insiden Bawean.
      Masalah utamanya hanya "red tape";
      US Navy dapat ijin lewat, tapi TNI-AU belum diberitahu.

      Sbnrnya berani juga (atau boleh dibilang cukup nekad) mengirim 2 F-16 bersenjata lengkap, mengingat radar sudah melihat ada 5 pesawat tempur, dan TNI-AU belum tahu apakah targetnya "hostile", atau tidak.

      Sukhoi sih tidak ada harapan dapat mereplikasi prestasi yg sama -- krn untuk tinggal landas saja, persiapannya lama.
      Di Syria, Su-30SM, dan Su-35S versi lokal saja butuh waktu setengah jam hanya utk boot up komputernya, belum menghitung semua pesiapan lain.

      Tidak heran kalau Su-Kommercheskiy utk mencoba mencegat baling2 bambu saja bisa lolos sampai dekat Manado.
      Kalau waktu itu "hostile target", Sultan Hassanudin AB mungkin sudah rata dngn tanah.

      ## Kalau mau menghindari masalah yg sama dngn insiden ini, yah... Harus mempunyai Sistem Modern, dengan Integrated National Network.
      (Semuanya belum masuk dalam Renstra)
      Agar komunikasi lebih jelas; telihat dari radar manapun, kita langsung tahu pesawat itu "hostile", atau tidak; dan bisa mengatur dahulu tindakan selanjutnya, sblm main tabrak seperti di tahun 2003.




      Delete
  11. admin, kayaknya Indonesia untuk pengganti F-5 sekarang ini lebih condongnya ke seri Gripen C/D MS-20, pernah baca katanya seri C/D udah ngejalanin upgrade radar ke PS-05/A Mk.4 yang katanya radar AESA, prospeknya bagaimana sih admin tentang Gripen C/D upgrade ? katanya juga kemungkinan 2 skuadron Hawk 100/200 pensiun di atas 2020 sekalian nunggu seri Gripen E/F keluar, prospeknya bagaimana sih ngoperasikan 2 tipe Gripen ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kelihatannya sih memang pemerintah akhirnya akan memutuskan memilih Gripen.
      Kita lihat saja apakah memilih versi C, atau versi E.

      Gripen-C/D MS-20 saja kemampuannya sudah jauh lebih unggul dibanding semua pilihan lain yg ada dalam daftar TNI-AU; Versi Export downgrade Su-35, F-16V, dan IF-X.

      PS-05/A Mk.4 radar cukup menarik.
      Kekuatan pemancarnya sbnrya tidak berubah dibanding versi PS-05 standard..
      Apa yg berubah hanyalah algoritme data processing-nya; memberikan kemampuan utk melihat target dibawah 0,1m2 dari jarak 100 km+.

      Ini diperuntukkan agar Gripen MS-20 dapat memanfaatkan jarak jangkau MBDA Meteor, yg melebihi 200 kilometer+.

      AMRAAM-D dikabarkan mempunyai jarak jangkau sebanding, tp karena jenis propulsionnya yg solid rocket, semakin jauh jarak tembak, semakin kecil kemungkinan kill.
      Mesin rocket AMRAAM hanya akan menyala selama beberapa detik, sblm akhirnya hanya "glide" menuju target. Ini membuatnya tidak dapat mempertahankan momentum dalam jarak jauh.

      Meteor tidak menghadapi masalah yg sama.
      Dengan mesin ramjet, kemampuan kill Meteor tidak akan berubah baik kalau ditembakkan dari 70 kilometer, ataupun dari jarak 250 kilometer; krn Meteor dapat merubah kecepatan kalau perlu. Dapat terbang ekonomis untuk mengejar lawan dari jarak jauh, atau untuk mengatur manuever akhir, sebelum mendapah kecepatan di detik akhir agar lawan tidak bisa menghindar.

      Seperti kita lihat, kombinasi Gripen-Meteor saja jauh lebih mematikan dalam BVR, dibanding semua "tandingannya" di seluruh Asia.
      Dan dalam jarak dekat, Gripen sudah terbukti dapat mudah mematahkan F-16 Block-50/52+, yg beratnya masih lebih ringan dibanding F-16V.


      Di satu pihak keuntungan Gripen-C/D adalah produknya juga sudah jauh lebih mature.
      + Harganya lebih murah.
      + 250 ribu jam terbang, tanpa pernah sekalipun juga ada kerusakan mesin RM12 (!!).
      + Kemampuan manuevernya juga mungkin akan sedikit lebih unggul dibanding versi-E yg lebih berat. Kita lihat sampai versi E selesai testing.

      Dilain pihak,
      - sebenarnya skrg ini pabrik Saab sudah berhenti memproduksi Gripen-C/D, kecuali ada pesanan baru.
      - Belum ada Sensor Fusion, Integrated Defense Suite, dan kemampuan supercruise @ combat load, yg sudah menjadi bagian dari parameter Gripen-E.
      - Semua update untuk MS-21 ke atas, akan lebih diprioritaskan ke versi-E dibanding versi-C.

      ## Mengoperasikan Gripen-C, dan E berbarengan
      =================
      Secara operasional, akan ada perbedaan tehnis & jenis mesin yg dipakai, dan karena itu akan mengurangi nilai ekonomis dibanding memilih hanya mengoperasikan 1 variant saja.

      Tetap saja, masih jauh lebih murah dibanding sekarang mencoba mengoperasikan armada gado2 Sukhoi, F-16, dan Hawk.

      Dalam situasi tempur, ini juga bukan masalah pelik.
      Gripen-C tidak akan pernah perlu menyalakan radar, dan berkat TIDLS networking, akan dapat memanfaatkan sensor feed dari AESA, atau IRST dari Gripen-E.

      Delete
    2. o iya admin, katanya TNI-AU mau pesawat AEWC berbasis pesawat jet, lihat profil AU Brazil dia pakai radar Erieye ke Embraer R-99, prospeknya bagaimana itu ?

      Delete
    3. Yah, untuk masing2 platform ada kelebihan/kekurangan.
      Sekali lagi pilihan akan tergantung kebutuhan / keterbatasan.

      Emb-145 / Bombardier Globaljet:
      + Dapat terbang lebih tinggi & lebih cepat;
      + Jarak jangkau radar bisa lebih jauh, dan lebih mudah menghindari lawan.

      Saab-340/2000:
      + Harga platform akan jauh lebih murah
      + Biaya operasional juga lebih murah, dan perawatan lebih mudah (mesin Saab-340 jenisnya GE CT-700, sama dengan mesin CN-235).
      + Pesawat baling2 selalu dapat terbang berpatroli lebih lama.

      Kebanyakan negara (Swedia, Pakistan, Thailand) masih memilih baling2.

      Hanya Brazil, dan Yunani yg memilih Emb-145.

      UAE memilih mixed fleet: 2 Saab-340, dan 2 Globaljet.

      Delete