Monday, January 23, 2017

News Update: Januari-2017

Credits: Saab

News Update Januari-2017. 

Tidak seperti News Update sebelumnya, beberapa berita dalam artikel akan dimuat dalam timeline yang tidak berurutan untuk kesesuaian konteks.



23 Januari-2017: Rostec melaporkan penjualan export senjata Russia naik tiga kali lipat di tahun 2016

Su-35S - Tidak tersedia untuk Export! 
Seperti biasa hanya bisa dipersenjatai dengan R-27, dan R-73
(Credits: Vitaly V. Kuzmin) 
Meskipun dihantam embargo militer, dan sangsi ekonomi akibat sepak terjang Federasi Russia di Crimea, Rostec melaporkan penjualan export persenjataan Ruski mencapai $14,5 milyar, dengan proporsi terbesar penjualan dari benua Afrika. 

Kebanyakan transaksi yang dilaporkan, sebenarnya sudah ditandatangani sebelum 2016:

Algeria:
  • Delivery 2 Su-30MKA versi export, dari total 14 pesawat dalam kontrak di akhir 2015.
  • Delivery 6 Mi-28NE versi export, dari total 42 helikopter dari akhir 2013.
  • Partial delivery untuk 38 Pantsir S1 system versi export.
  • Algeria masih memesan 8 Mi-26T2 versi export untuk delivery 2017-2018
  • Sebagian dari perkiraan 200 T-72SA versi export yang dipesan 2014.
Mesir:
  • Delivery pertama dari 50 MiG-29 versi export, dari kontrak $5 milyar di akhir 2015
  • Batch pertama dari 28 ODS Defense System untuk helikopter.
Nigeria: Delivery 2 unit dari 12 Mi-35M versi export
Uganda: Delivery 2 unit dari 60 tank T-72 versi export

Yah, patut selalu diingat, kalau Russia hanya akan selalu menjual persenjataan Versi Export Downgrade ke negara manapun juga, seakrab apapun juga. Apa yang terbaik, tentu saja tidak akan diperbolehkan untuk dijual / dipakai oleh negara lain.

Apakah ini kelihatannya berita baik untuk Ruski, yang kelihatan gigih dapat menjual ke seluruh dunia, bahkan walaupun menghadapi embargo?


20 Januari-2017: S-400 System di Syria.... ternyata tidak sehebat apa yang diiklankan!

S-400 Launcher di Syria
(Russian MoD)
"Kejutan!" 

Demikian tulisan Guy Plopsky untuk War-is-boring.

Missile 40N6 untuk S-400 system, yang selama ini sudah digembar-gemborkan di banyak media Barat, mempunyai jarak jangkau 400 kilometer, dan begitu mematikan; ternyata.....

.... masih belum siap.  

Plopsky menuliskan kalau setelah S-400 setahun di Syria, tidak pernah terbukti kalau missile 40N6 bahkan sudah operasional. Artikel ini menunjuk kalau missile yang dipakai di S-400 (dalam bahasa Russia), ternyata masih tipe 9M82MD, buatan Novator Design Bureau. Ini adalah versi modernisasi dari missile 9M82 yang sudah operasional di S-300V sejak tahun 1984.

Ini tidaklah mengherankan.

Sama seperti K-172 Novator, R-37, ataupun R-77 AMRAAMski, ternyata missile 40N6 untuk S-400 juga masuk ke dalam daftar mitos senjata Ruski.

Kenapa bisa demikian? 

Kembali, penjelasannya sangat sederhana. 

Sejak ambruknya Uni Soviet 25 tahun yang lalu, Industri militer Ruski sebenarnya sudah menderita masa under-investment. Bahkan dalam periode di tahun 1990-an, anggaran pertahanan mereka sempat jatuh dibawah keempat besar Eropa (UK, Perancis, Jerman, dan Italy). 
Anggaran Pertahanan 1988 - 2012:
Garis Kuning
 membandingkan Anggaran Pertahanan Perancis vs Russia,
(Gambar: Washington Post)


Untuk Alutsista udara,
Perancis hanya perlu berkonsentrasi ke Rafale, MICA missile, dan kontribusi ke Meteor

Russia, yang anggarannya lebih kecil,
membuat PAK-FASu-35S, Su-30SM, 

MiG-35, MiG-29K, pengganti untuk Tu-160M,
helikopter Mi-28, dan Ka-52;

Belum lagi menyelesaikan
proyek R-77-1, K-7M ramjet, R-37, K-172 Novator

Modal kecil, tetapi yang mau dikerjakan terlalu banyak.
Tentu saja grafik ini hanya akan semakin memburuk, karena sekali lagi, keadaan ekonomi Russia sudah kacau balau sejak ambruknya harga minyak, dan sangsi ekonomi negara-negara Barat. Dalam 10 tahun ke depan, anggaran pertahanan Russia hanya akan semakin ambruk ke bawah.

Kalaupun ada kemauan, tidak ada uang untuk menyelesaikan sedemikian banyak proyek militer, yang sebenarnya membutuhkan lebih dari sepuluh kali lipat dari jumlah dana yang tersedia.

Intervensi Russia di Syria sering disebut seperti tempat untuk testing persenjataan buatan mereka, sekaligus biro iklan untuk menjual senjata. Ini sesuatu yang lazim. Negara-negara NATO sebenarnya juga sudah melakukan perbuatan yang sama di Iraq, Kosovo, Afganistan, dan Libya.

Hanya saja, tanpa sengaja, intervensi Russia ini juga membuka banyak kartu "mitos" tentang kehebatan senjata buatan mereka. Apa yang selama ini "kelihatan" hebat, ternyata sebenarnya sangat rapuh, dan tidak akan tahan banting kalau benar-benar diuji melawan standard NATO.

Kenapa kemampuan BVR semua Sukhoi hampir Nihil.
6 AMRAAM C-7 masih lebih baik vs 100 RVV-AE



12 Januari-2017: Pentagon melakukan "drone swarm" testing dengan Super Hornet 

Pentagon Video

Pentagon sudah melakukan testing dengan 103 Perdix drone swarm yang diluncurkan dari 3 Super Hornet.

Armada drone ini mempunyai collective mindset yang dapat beradaptasi sesuai apa yang dibutuhkan; tidak dipimpin oleh satu unit induk, sudah diprogram untuk inisiatif membentuk, atau merubah formasinya sendiri, seperti swarm belalang dalam dunia nyata.

Tujuan testing ini jelas. Untuk mengacaukan deteksi radar lawan, dan menyulitkan kemampuan tangkal dari advanced SAM system, seperti S-300, atau S-400. Bahkan dalam jangka panjang, drone swarm ini dapat dimanfaatkan untuk melumpuhkan semua sistem pertahanan udara di darat.

Apakah ini artinya masanya SAM akhirnya akan berakhir?

Kita akan membahas serba-serbi tentang SAM dalam topik mendatang, kenapa sebenarnya dalam sebelum masa "drone swarm" ini saja, sudah semakin sulit untuk bisa menembak jatuh pesawat tempur.



14 Januari-2017: Kecelakaan RTAF Gripen-C 

Youtube Capture
Gripen-C RTAF mengalami kecelakaan dalam peragaan airshow, pada pukul 09.27AM di Hat Yai Airport, dalam rangka hari anak-anak di Thailand. 

Pesawat sempat terlihat memulai manuever aileron roll. Setelah terbang terbalik, pesawatnya tidak pernah lurus kembali, dan kemudian mulai kehilangan ketinggian. Pilotnya tidak sempat bail out.

Penyebab kecelakaan masih belum diketahui.



19 Januari-2017: Melalui kerjasama dengan Indonesia, Pemerintah Swedia akan mendorong Perkembangan Industri Pertahanan di Asia Tenggara 

Credit: Kompas
Penandatanganan Kontrak Kerjasama bilateral Indonesia - Swedia,
20-Desember-2016
(Gambar: Kompas)
Pemerintah Swedia, baru saja mengumumkan (DefenceNews), bahwa kerjasama ini akan menjadi model untuk industrial cooperation di seluruh Asia. Penandatanganan MoU antara kedua negara pada 20-Desember, yang silam, memang berpotensi keuntungan jangka panjang yang akan sangat saling menguntungkan kedua belah pihak.

Seperti sudah sering dibahas disini, Saab Gripen, adalah satu-satunya prospek pesawat tempur, yang lebih memperhatikan realita kebutuhan pertahanan Indonesia, baik dari sisi strategis, alih tehnologi, kerja-sama industrial, dan keterbatasan finansial, dibanding pilihan manapun. Kalau masih belum cukup, tidak seperti produk Washington DC, atau Moscow, produk Saab adalah satu-satunya yang BUKAN Versi Export downgrade, dengan kemampuan lemon.

Memenuhi persyaratan UU no.16/2012
adalah persyaratan mutlak tawaran Saab
Potensi investasi yang bisa kita dapatkan sangat menarik dalam jangka panjang.

Thailand, walaupun sudah mendahului kita dalam mengoperasikan Gripen - Erieye di Asia, sejauh ini belum terlihat terlalu antusias untuk memanfaatkan kerjasama dengan Saab untuk meningkatkan kemampuan industri, ataupun strategis mereka secara lebih optimal.

India, walaupun sudah mendapat tawaran kerjasama yang comprehensif untuk Gripen-E, sudah dikenal terlalu lama menunda-nunda dalam mengambil keputusan, atau untuk mengambil suatu tindakan. Sekarang, walaupun sudah membuka tender untuk single-engine fighter, konsentrasi mereka masih buyar ,karena disibukkan dengan persiapan menyambut Rafale, kekacauan support untuk Su-30MKI, dan mencoba memperbaiki LCA Tejas, yang sudah dalam development selama 30 tahun, tapi kelihatannya tidak kunjung bisa selesai.

Kenapa Indonesia tidak mendahului keduanya, dan kemudian benar-benar berkomitmen penuh untuk membangun kemampuan kita secara strategis, industrial, dan tehnologi?

Kalau saja kita dapat bergerak lebih gesit dibandingkan Thailand, atau India; bukankah negara kita juga berpotensi dapat menjadi pusat untuk Saab regional support centre, atau bahkan..... bukan tidak mungkin, melayani produksi Gripen-E , dan RBS-15, untuk sekurangnya, Asia Tenggara?

Bagaimana kalau tehnisi Indonesia yang dapat turut mewakili Saab, atau GKN Aerospace, untuk dapat melayani perawatan Gripen di Thailand, atau di negara potensial pengguna yang lain, seperti Malaysia, atau Filipina di kemudian hari? 

Semuanya akan tergantung komitmen kita, dan sejauh mana kita mau menggembangkan hasil kerjasama yang sudah ditawarkan.

Credits: Saab
Memenuhi semua Kebutuhan, bukan Keinginan semu.

57 comments:

  1. kalo menurut ane kenapa spesifikasi F-16 kita dibawah RSAF?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Singapore menikmati lebih banyak "leverage" ke Washington DC:

      Kedekatan secara politik (lebih pro-US, tidak main mata ke Soviet), strategis, sosial, dan tentu saja lebih banyak uang.

      Tidak masalah kalau pemerintah disana sebenarnya non-demokratis.

      IF-X pun terjamin; spesifikasinya akan dibawah F-16 Block-52+ Singapore.

      Delete
    2. politik, singapura kalau menurut saya sih singapura itu sekutu terbesar US di asia tenggara juga philippina jadi spesifikasi F-16 kita berikut misil2nya bakal dibatasin kayak AIM-120 punya TNI-AU seri 7C tapi punya RAAF seri D sekalian juga ada uang ada barang.

      Delete
    3. Australia, UK, Israel, dan Jepang sebenarnya menduduki peringkat terataa dari segi "apa yang diperbolehkan" dalam pembelian senjata Versi Export US.

      Australia sudah diijinkan membeli AMRAAM-D. Semua negara lain belum mendapat ijin, termasuk Singapore.

      UK tidak membutuhkan AMRAAM-D, atau F-22 Versi Export, seperti yg diminta Australia di tahun 2006.

      Eurofighter Typhoon RAF, yg dapat dipersenjatai MBDA Meteor dengan dual-datalink, dan ramjet propulsion akan jauh lebih unggul, dibandingkan....

      F-22 super mahal, yg sampai sekarangpun masih belum berhasil mengintegrasikan JHMCS Helmet / AIM-9X, ataupun AMRAAM-D.

      Yah, senjata paling top utk F-22 hanya AIM-9M, dan AMRAAM C-7.

      ....dan jauh lebih unggul secara kinematis vs F-18E/F Australia, yang akan dipersenjatai AMRAAM-D, yang jarak jangkaunya lebih pendek (vs Meteor), dan pK-nya lebih kecil.

      Mau mengimbangi RAAF Australia?

      Bagaimana dengan Supercruising Gripen-E, dengan Sensor Fusion, dan MBDA Meteor, yang dipadukan dengan.... biaya operasional yg hanya 25% dibanding Typhoon, atau 35% dibanding F-18E/F Australia.

      Tentu saja, biaya operasional Gripen akan kurang dari 5% biaya operasional pesawat inferior Su-35.

      Delete
  2. betul admin, saya ngelihatnya kerja sama jangka panjang, jujurlah sebenernya terlalu ambisius untuk sekarang menciptakan pespur kita sendiri, lebih bijak kita beli yang ada tapi jangan seperti US atau Russia yang bner2 cuma penjual pembeli tapi kerjasama seperti Embraer-SAAB, tidak memungkiri kalau kelak kita bisa memaintainace pespur kita sendiri, tidak memungkiri kelak bisa joint production, tidak memungkiri kelak bisa jadi service & support centre, Embraer berhak mempromosikan ke negara2 amerika latin, saya rasa PT.DI juga bisa merambah pasar minimal asia tenggara dan berbicara SAAB tidak buntu soal pespur tapi banyak hal terutama pertahanan udara,darat dan laut. nah kalau robosonexport atau LM ya cuma penjual pembeli doang statusnya bukan rekanan seperti SAAB, untuk bekerjasama level atas dengan LM atau Robosonexport kita harus terjebak dengan aliansi, Indonesia itu Indonesia bukan Jepang, bukan Korsel, bukan Australia dan bukan India atau Vietnam, Indonesia adalah Indonesia, kerjasama dengan Swedia apalagi udah diteken MoU antara kedua menhan itu boleh dibilang one life time opportunity, kesempatan emas yang udah jelas di depan mata.Lagipula, kita lihat Swedia bisa mempertahankan statusnya di dunia, bukan anggota NATO tapi juga bukan pro Russia tapi sistem pertahanan standar NATO.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Thomas,

      Dalam kompetisi pespur di Switzerland, Brazil, dan India; salah satu faktor paling penting yg diperhatikan pemerintah, maupun rakyatnya, adalah pertanyaan berikut:

      "Seberapa jauh alih tehnologi, dan kerjasama industrial yg ditawarkan pembuat?

      Seberapa besar peranan industri lokal kita untuk pespur terpilih tersebut"

      Sayangnya, kedua pertanyaan ini masih absen dalam kekacauan sistem akuisisi "Pop Mie" di Indonesia.

      Saat ini anehnya, yang dikejar hanyalah "efek gentar" (palsu dari pespur kuno), dan "membuat sendiri" (tanpa pusing biaya, atau keuntungan nasional) dari para penjual versi export yang tidak pernah memberikan alih tehnologi yg berarti ke siapapun juga.

      Di artikel ini sebenarnya kita baru membahas sedikit dari potensi keuntungan yg dapat kita peroleh dari kerjasama Saab --- sayangnya, karena keterbatasan dana, juga tidak akan ada pilihan lain.

      Memang benar.
      Ini adalah kesempatan emas yg harus kita ambil.

      Akuisisi Gripen / Erieye akan menjadi investasi industrial yg menguntungkan jangka panjang, dan bukan semata transaksi sekali beli putus; yang sangat disukai para penjual versi export.

      Delete
  3. Min, kenapa Finlandia jg menggunakan alusista Rusia dan Eropa/AS?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini karena sesuai kesepakatan perjanjian damai Finlandia - Soviet di tahun 1944.

      Finland tetap merdeka dan demokratis; tidak menjadi bagian dari USSR.
      Walaupun berada di pihak yg sama dngn Nazi Jerman, Finland juga tidak dianggap sebagai bagian dari Axis Power.

      Tentu saja, dengan bubarnya Soviet, perjanjian ini skrg sudah batal.

      Finland kemudian membeli F-18C/D di tahun 1990-an. Kemungkinan besar, mereka juga akan memilih Gripen-E sebagai penggantinya di 2020-an.

      Delete
    2. Tp kan alusista Rusia nggak bisa integrated dgn Barat

      Delete
    3. Itulah kenapa sy tuliskan di atas.

      Finland sebenarnya terpaksa, karena ini adalah bagian dari perjanjian damai mereka dengan Soviet dalam PD II.

      Uni Soviet sebenarnya menyerang Finland di tahun 1939, dan ingin menjadikannya bagian dari USSR.

      Walaupun dengan susah payah, dan dalam jangka panjang pasti akan kalah, Finland sbnrnya cukup berhasil menghadang invasi Soviet.

      Helsinski tidak pernah terjamah Red Army selama masa perang.

      Setelah Soviet bubar, tidak ada lagi kewajiban untuk Finland membeli dari Ruski.

      Mereka kemudian memilih F-18C/D, dan tidak lagi melirik buatan Ruski untuk penggantinya di masa depan.

      Delete
    4. bisa tapi terbatas banget dan mahalnya gak masuk akal, setahu saya juga baik India atau Brazil belum bisa sempurna bener integrasinya

      Delete
    5. nampaknya india dan brasil bener2 kapok make jet Rusia

      Delete
  4. F-16C/D AU Polandia bisa bawa AGM-158 JASSM yang katanya senjata sakral itu enggak boleh di ekspor ke negara lain?
    kenapa pesawat stealth susah di upgrade ?
    kalo F-117A saja pensiun sejak 2006 yang lalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. situasi politik global lagi pelik sekarang,ambisi Russia di donetsk dan sevastopol atau eropa timur & asia tengah, China dengan SCS dan diaoyu. saya aja gak kepikir kita boleh beli AIM-9X dan AIM-120C7, geopolitik dunia lagi rumit, Polandia sama negara-negara Baltik boleh diomong pertahanan terdepan NATO di Eropa, mungkin itu alasan US ngasih izin pembelian AGM-158 buat ngelengkapin 96 F-16 C/D bekas. saya juga baru ngerti kalau US salah satu dari berbagai cara untuk mengendalikan negara lain lewat transaksi alutsista, semakin tergantung ke US, semakin erat cengkraman Washington ke negara itu

      Delete
    2. ## Polandia adalah anggota NATO, dan berada di garis depan; berbatasan dengan Kaliningrad (bagian dari Ruski), dan Ukrania.

      Tidak mengherankan kalau mereka mendapat persetujuan untuk akuisisi AGM-158 JASSM, atau missile pembunuh S-300 / S-400.

      ... akan tetapi, ingat kalau di tahun 2005; Polandia sebenarnya hanya mendapat ijin untuk akuisisi AMRAAM C-5; karena waktu itu C-7 sifatnya masih sakral.

      Sekarang AMRAAM C-7 sudah disetujui ke Indonesia, dan Pakistan, karena versi -D lebih sakral.

      United States akan selalu melakukan pembatasan versi export yg diperbolehkan, pembeli tidak bisa mendikte apa yg diinginkan.

      ## Semua pesawat stealth akan selalu lebih sulit di-upgrade.

      Seperti sudah dibahas dalam artikel F-35 yg lalu--- semua komponen sudah built-in menjadi satu bagian yg terintegrasi, dan sulit untuk dipisahkan.

      Kalau satu komponen sudah kadaluarsa, dan butuh di-upgrade, Lockheed, atau semua kontraktor lain tidak hanya harus mengganti satu komponen tersebut, tetapi juga harus mengganti 10 - 100 komponen lain yg juga turut terintegrasi.

      ... setelahnya, segala sesuatu harus diprogram ulang lagi, menghabiskan ratusan ribu baris source code programming baru.

      Inilah kenapa, pernyataan kalau pespur Stealth itu generasi kelima itu hanya "marketing ploy".
      Tidak ada artinya.

      IMHO, Stealth is a deeply flawed concept.

      Kalau mau di-upgrade lebih serius,
      F-15, F-16, dan F-18 kesemuanya masih jauh lebih unggul, dan jauh lebih murah dibandingkan F-22, dan F-35.

      Dan dalam air-to-air combat, sebenarnya F-16 adalah model yg paling baik dibandingkan yg lain.

      Delete
  5. kenapa Romania ingin juga membeli F-16 Block 52?

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena F-16 itu boleh dibilang kisah sukses produk pespur US dibandingkan F-15 atau F-18, karena dia single engine biaya operasional gak terlalu mahal, terus spare parts mudah dicari karena penggunaannya luas dan boleh dibilang performanya cukup bagus tapi F-16 berikut misil2nya menurut saya dipake untuk kep. US mengendalikan negara2 melalui ketergantungan ke produk ini, menurut saya untuk Indonesia sementara ini ok lah kita masih harus bermain politik dengan US, buat upgrade yang OCU ke MLU, buat pasang sniper pod, JMHC, link device sama misil2nya tapi langkah pertama untuk menciptakan kemandirian berdasarkan pengalaman Indonesia, kita harus melihat ke arah Eropa, secara spesifik Gripen, pernah saya baca selain dari blogspot ini ada review dari website india perbandingan F-16 V dengan Gripen-E, dari hasil review Gripen jauh lebih unggul karena banyak unsur2 stealth tapi ekonomis

      Delete
    2. ## F-16 adalah pespur terbaik US, atau sebenarnya juga.. terbaik di dunia.

      Murah, lebih mudah dikuasai, kemampuan manuevernya juga piawai. Ditangan pilot yg baik, salah satu lawan yg paling sukar dikalahkan. Dalam latihan, F-16 Aggessor squadron sudah cukup sering mengumpulkan "kill" atas pilot2 pesawat bongsor / mahal F-15, dan F-22.

      Sayangnya, F-16 tidak pernah dicintai oleh para Jendral USAF.
      Mereka sebenarnya menerima pespur ini dengan berat hati, karena dipaksakan Konggres US, yg menolak memberi ijin USAF membeli terlalu banyak F-15 yang jauh lebih mahal.

      Akibatnya, walaupun F-16 adalah pespur air-to-air combat yg lebih unggul (daripada F-14, atau F-15), para Jendral lantas mulai menggunting sayap F-16.

      Mulai lebih dialihkan untuk membom sasaran di darat (padahal A-7 Corsair lebih murah, dan dapat membawa lebih banyak bom); beratnya juga jadi semakin bertambah (Block-30 & -40 dengan mesin GE dianggap kombinasi terbaik), dan... Jam latihan pilotpun lebih dioptimalkan untuk serangan udara ke darat, dibandingkan untuk bisa mengalahkan pespur lain.

      Kalau belum cukup parah, bodohnya Konggres US juga mengijinkan Lockheed-Martin untuk mengakuisisi General Dynamics Aviation, pembuat F-16; dan dengan demikian menghilangkan kompetitor utama yang jauh lebih murah, dan lebih efektif dibanding F-35 Lemon II.

      ## Gripen tidak pernah menghadapi semua masalah yg sama dengan F-16.
      Saab sengaja merancang untuk melebihi semua standard parameter F-16, dan lebih murah dari segi harga akuisisi, ataupun operasional.

      ## Romania sebenarnya mengakuisisi 12 F-16AM MLU (Block-15) ex-AU Portugal.
      Kenapa? Untuk menggantikan single-engine MiG-21, & menambah kemampuan BVR; semuanya dengan harga, dan biaya operasional terjangkau.

      Kita lihat saja.
      Seperti contoh Romania, Polandia, Brazil, Swiss, dan India; bukankah seharusnya sudah membuka mata untuk para pembuat twin-engine, dan F-35?

      Realitanya jelas:
      kebanyakan AU dunia tidak bisa membayar, atau menolak menerima biaya operasional mahal twin-engine, atau F-35 guendut, yg lebih mahal dari F-15.

      Inilah kenapa dengan anggaran tipis seperti sekarang, Sukhoi ide "pejabat" / fanboys itu tidak pernah bisa masuk di akal.

      Demikian juga twin-engined IF-X versi export, yg akan terlalu mahal, baik harga, ataupun operasionalnya.

      Delete
  6. Kenapa AIM-54 Phoenix lebih unggul dari AIM-120 AMRAAM?

    ReplyDelete
    Replies
    1. AIM-54 mempunyai jarak jangkau lebih unggul dibandingkan AMRAAM, sampai versi C-7.

      Kenapa? Ukurannya lebih besar; bahan bakar lebih banyak, dan roketnya juga lebih kuat.

      Akan tetapi Phoenix missile adalah BVR dengan active-guidance generasi pertama -- kemampuan jarak jangkau utk men-lock target secara independent sudah kurang bersaing dibandingkan AMRAAM-A yg baru selesai development 20 tahun kemudian.

      Elektronik AMRAAM jauh lebih modern, dan lebih kebal jamming.

      AMRAAM juga menambah kemampuan utk bisa mengunci target, dalam situasi dimana target mencoba men-jamming seeker-nya. (homing-on-jamming)

      AMRAAM-D jarak jangkau maksimumnya dirahasiakan; kabarnya lebih unggul vs AIM-54. Tentu saja, dengan dual-datalink untuk mid-course update, kemampuan kill-nya akan meningkat (perkiraan) 30-40% lebih baik vs AMRAAM C.

      Kombinasi F-18E/F - AMRAAM-D, dengan demikian, sudah berhasil melebihi kombinasi F-14 / AIM-54.

      Delete
  7. bung KSAU yg baru menurut anda apakah lebih condong ke NATO atau Ruski

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja.

      Semua pejabat; apapun pangkatnya, seharusnya tidak perlu pro-NATO, atau pro-Ruski;
      Tetapi seharusnya mereka lebih pro-Indonesia(!)

      ## Memahami realita semua kebutuhan mendasar, dan semua keterbatasan negara ini

      ## Mendahulukan pengembangan industri pertahanan lokal jangka panjang (melebihi masa jabatan mereka), dan juga prospek alih tehnologi yang paling menguntungkan

      ## Melakukan perhitungan secara seksama apakah setiap Alutsista yg akan di-import akan sesuai, atau tidak secara operasional di negara ini

      ## Sudah membuat perhitungan, sesuai yg diminta Presiden, biaya daur hidup 20 tahun ke depan

      ## Tidak akan melakukan transaksi lewat perantara, atau ke pabriknya langsung, dan mengutamakan transaksi G-to-G yg akan bebas korupsi.

      Kita lihat saja perkembangannya bagaimana.

      Delete
    2. itu yg agak aneh bung GI , sudah tau beli su 35 kita lewat perantara padahal itu bertentangan dengan aturan kita beli senjata kudu G to G anehnya masih saja tetap ngotot beli sukhoi

      Delete
    3. Bung @tupa,

      Yah, Su-35 sebenarnya sudah kartu merah semuanya dari awal.

      - Harus beli lewat perantara -- ini jalur resmi penjualan Ruski.

      - Komisi perantara kemudian akan harus terus dibayar dalam setiap transaksi spare part, atau maintenance

      - Hanya tersedia dalam versi export downgrade, dan hanya dipersenjatai missile versi export, yg kemampuannya tidak akan terjamin

      - Biaya operasional 1 skuadron, akan lebih mahal drpd 7 Skuadron F-16, atau 10 Skuadron Gripen; masa kadaluarsanya juga akan jauh lebih cepat.

      - Tidak akan ada alih tehnologi, malah sebaliknya,

      - ... sama seperti Su- di Sku-11, dan Mi-35, "perbaikan mendalam" sih sudah pasti akan terjadi.

      Melihat pengalaman memakai Sukhoi di Sku-11, bukankah seharusnya TNI-AU sudah kapok?

      Setelah kasus AW101, kita akhirnya sudah mulai bisa menebak kenapa masih banyak "keinginan" untuk terus membeli Sukhoi.

      Kalau membeli lewat perantara, tentu saja harus ada dana "kickback" untuk pejabat.

      Delete
  8. admin saya gak ngerti kok bisa bisanya kita beli pesawat latih T-50 gak ada radar, itu main2 atau apa ya? terus saya heran sebenerya T-50, TA-50, sama FA-50 punya Korsel atau US, bisa bisanya US ngatur apa aja yg boleh buat Indonesia? sama apa iya FA-50 gak bisa isi bahan bakar pakai pesawat tanker dan gak bisa pakai landasan terbang pendek, itu produk seriusan buat dijual atau apaan ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beberapa fakta sederhana T-50:

      ## Ya, pesawat ini 100% produk Lockheed-Martin, USA, walaupun pabriknya saja di Korea.

      Walaupun LM hanya berkontribusi 13% dari biaya development; sisanya ditanggung pemerintah Korea, dan KAI; ini tidak masalah -- krn LM menguasai 100% dari Source code. Inilah yg menentukan kepemilikan pespur.

      Akibatnya, lihat beberapa point berikut:

      ## Korea tidak berhak mengganti satu komponenpun (yg semuanya buatan US), tanpa ijin, atau persetujuan dari Lockheed, dan secara tak langsung juga, dari pemerintah US, yang bisa mem-veto keputusan Lockheed, kalau perlu.

      T-50 (versi export -- lihat dibawah!) juga belum diperbolehkan untuk membawa refueling probe untuk isi bahan bakar di udara.

      ## T-50 hanya boleh di-export berdasarkan ijin dari Washington DC.
      "Tidak boleh sembarangan asal dijual ke Uzbekistan (!)"

      ## T-50 hanya tersedia dalam versi export downgrade, tergantung kebijaksanaan pemerintah US.

      Bahkan versi yg dipakai Korea pun sebenarnya versi export, yg kemampuannya akan lebih lemot dibanding versi T-50A yang akan dipertandingkan LM dalam kompetisi T-X.

      ## Kita tahu kalau sebenarnya Washington DC mendikte habis2an spesifikasi T-50 yg akan dijual ke Indonesia waktu itu.

      Versi standard T-50 seharusnya sih masih membawa AN/APG-67, yg sebanding dengan radar BAe Hawk-209. Kalau ada, kemampuannya sih sudah pasti di-downgrade untuk Indonesia.

      ## Sayangnya, sewaktu itu belum ada Boeing T-X (!!), yang dibuat bersama Saab.
      Versi yang dijual Saab (walaupun juga memakai komponen US), akan jauh lebih fleksibel dari segi operasional, dan penggunaan dibanding T-50.

      Komponen vital non-US akan dapat di-customisasi sesuai kebutuhan pembeli.
      Mungkin bisa membawa versi latih dari TIDLS network?

      Delete
    2. @thomas gredio

      Pespur latih memang tidak perlu radar (hal yang lazim dimanapun), karena berfungsi mengenalkan pengendalian pespur, mempelajari formasi terbang& taktik pertempuran menggunakan pesawat bermesin jet, melatih teknik bernavigasi maupun prosedur dalam kondisi darurat dll...tapi belum sampai tahap penggunaan senjata dan radar. Pengenalan radar dan pengendalian senjata dilakukan setelah penerbang lulus tahap ini yang dikenal dg istilah "latih advanced"..bisa menggunakan tipe pesawat yang sama tapi telah dilengkapi radar dan dipersenjatai atau menggunakan pesawat tempur operasional

      Untuk T-50i, AU menginginkan pesawat yang bisa berfungsi ganda sbg latih lanjut dan sekaligus tempur taktis/ringan...mungkin dr ke-15 t-50i, setengahnya (yang camo loreng hijau) saja yang dilengkapi radar serta dipersenjatai, sedangkan yang. digunakan murni. Sbg pesawat latih dan akrobatik udara tetap tanpa radar dan tidak dipersenjatai krn akan mubazir

      Delete
    3. Bung @smilinghari,

      Selamat datang dgn post pertama :)

      ## T-50 sebenarnya masuk kategori Advanced Trainer.

      Lockheed sudah mempersiapkan T-50 dari awal agar menjadi prasarana pelatihan pilot tahap akhir, sebelum pindah ke F-35.

      Inilah kenapa T-50 memasang radar, dan mesin F404-401, dngn Afterburner.

      Produk saingannya, M-346 buatan Leonardo, Italia; bahkan sudah diperlengkapi Link-16 Networking Terminal.

      ## Indonesia awalnya dahulu menginginkan 16 unit versi TA-50, yg mempunyai 4 pylon; dapat membawa bomb, dan AIM-9 Sidewinder, agar juga dapat dwi-fungsi utk latihan, dan pespur ringan.

      Sayangnya, kemudian order ini diubah menjadi 12 T-50 (basic version), dan 4 TA-50. Kemungkinan besar adalah bagian dari pengurangan versi export US.

      Anda bisa melihat foto2 T-50i; keempat unit terakhir (TT-5013 - TT5016) terlihat membawa gun port untuk A-50 3-barrel cannon.

      Delete
    4. itu baru untuk pespur latih g kebayang kalau nanti IFX bener2 jadi entah downgrade macam apa yg bakal kita dapat kecuali kalau Korea bisa dapet teknologi inti dari luar US mending kita cabut aja secepatnya dari proyek IFX

      Delete
    5. Begitulah.
      Sama seperti T-50 sebenarnya pesawat US, tetapi Korea tidak sadar, dan kelihatannya menolak untuk belajar dari pengalaman;

      Sewaktu pemerintah Korea memutuskan memilih Lockheed-Martin sebagai partner ToT (dan membeli 40 F-35A versi Export), secara tehnis habislah sudah partisipasi Indonesia.

      Kalau masih belum cukup disana, Korea ternyata terlalu ambisius dengan target desain yg mau dicapai, apalagi mengingat pengalamannya membuat pespur hampir nihil.

      Masih memimpikan pengalaman "membuat sendiri"?
      Bisa mendapat alih tehnologi?
      Harganya juga akan terjangkau?
      Atau, lebih bodoh lagi.... bermimpi mendapat pespur yg lebih hebat dari F-16?

      Semuanya, tidak akan bisa terjadi.

      Seharusnya yang menandatangan kontrak sudah bisa melihat semua ini sejak 10 tahun yg lalu:

      Korea bukanlah partner yg dapat diandalkan untuk memenuhi keempat persyaratan di atas -- mereka terlalu tergantung kepada tehnologi US.

      Sedangkan seluruh dunia tahu, tidak hanya US tidak pernah memberi alih tehnologi ke siapapun juga, dan masih belum pernah menganggap Indonesia sebagai sekutu yg dapat dipercaya, paling tidak sampai ke level setaraf Singapore, atau UAE.

      Ini juga sebenarnya tidak terlalu mengherankan: bertindak, sebelum berpikir.

      Mengingat mereka juga mau membangun Jembatan Selat Sunda;
      daerah yg kurang stabil, karena keberadaan gunung berapi aktif Krakatau, dan membengkalaikan proyek2 infrastruktur tertunda yg lebih penting, seperti jalan Trans Sumatera, atau membenahi jalan2 di kota2 besar.

      Kemudian mereka juga masih menghabiskan 25% anggaran APBN hanya untuk subsidi BBM setiap tahun, tapi anehnya, tidak ada investasi dalam infrastruktur Pertamina, yang warisan dari tahun 1970-an, dan perlu modernisasi vital. Ataupun permah ada usaha untuk membangun kilang minyak baru, agar mengurangi ketergantungan Indonesia akan import minyak.

      ....lalu masih membeli Sukhoi Kommercheskiy kuno dalam jumlah cicilan (melalui perantara, dan dengan harga muahal), membeli Leopard MBT untuk negara kepulauan; daftarnya sih tidak kunjung habis.

      Menjual mimpi, tetapi menolak melihat kenyataan, dan berpikir dingin.
      Sama seperti Korea.

      Delete
    6. @smilinghari212 ok, cuma heran aja dulu kan awalnya kita mau beli TA-50 tapi kok bisa US ngatur mana yang boleh dijual Korsel ke Indonesia jadinya 12 T-50 sama 4 TA-50. karena fungsinya cuma untuk training sebenernya sih ok ok aja cuma ya kok bisa US masih punya kendali atas transaksi ini, padahal contoh U-209/1400 atau Changbogo yang awalnya dari Howerdske Jerman aja Korsel boleh jual secara independen, sama kayak LPD Makassar class dan CN-235 kita boleh jual bebas tapi entah kayaknya sih gak ada kontrol dari negara origin.

      Delete
    7. @thomas gredio

      Enggak tau malah tipe apa yang akan dibeli...

      Logisnya kalo buat pesawat latih ya varian T-5...tapi sebenarnya varian T50i adalah pelabelan khusus utk RI, seperti istilah "F-16 setara blok-52", karena kalo ditelusuri ke situsnya KAI, susah dicari padanannya. Mungkin ada sesuatu dg transparansinya

      Delete
    8. @smilinghari212 T-50i kalau buat training sama aerobatic squadron, ya oke lah tapi dulu pernah ada yang cerita awalnya kita mau beli FA-50 terus jadi TA-50 terus jadinya kombinasi gak tau bener atau enggaknya, terus ada yang cerita pengganti 2 skuadron Hawk 100/200 itu FA-50, masih kabar2 gak jelas sih. kayak berita2 hoax yang ngomong Su-35 udah deal pake skema dagang

      Delete
    9. Mudahnya begini:

      Kalau membeli apapun dalam bentuk Versi Export Downgrade, biasanya dari US, Ruski, atau dari PRC:

      Kita boleh meminta spesifikasi apapun, tetapi keputusan akhir akan selalu ada di tangan penjual.
      Mereka yang akan selalu menentukan apa yang diperbolehkan untuk dibeli.

      Negosiasi jadi percuma.

      Setiap negara, tergantung faktor resiko, atau keakraban secara politik / strategis, akan menentukan sejauh mana yang akan di-downgrade. Inilah kenapa, untuk beberapa negara, versi export bukanlah masalah pelik.

      Australia akan selalu mendapat keringanan downgrade dari US, tetapi tetap saja F-35A, atau F-18SH hanya versi export, dngn berbagai pengurangan agar di bawah spesifikasi lokal US.

      Tetapi keduanya adalah sekutu akrab:
      US juga sebenarnya akan turut menjamin keamanan Australia.

      Delete
    10. @thomas gredio

      Mungkin abang keseringan baca komennya @AJ diblog sebelah siy...

      Ramalannya sering mleset kan?

      Delete
    11. @smilinghari212 ha ha, tau aja. ya sih kalau dilihat di situs2 lain kadang suka lihat yang aneh2 tapi apa iya gitu, makanya sering cross check kesini.

      Delete
    12. di indomiliter kadang ada sih info2 dari komen2 yang wah apa ini emang kerja disitu atau bagaimana, kok bisa tahu macem2. kalau situs JG males liatnya, orang ngomong sembarangan sama aneh

      Delete
  9. Sebetulnya Russia juga punya AA-9 Amos yang dipasang MIG-31BM Foxhound?
    Memang sih Russia menjual Versi Export MIG-31FE ke Suriah?
    kalau China kan punya J-20 Mighty Dragon dan tidak dijual ke negara lain?
    kalau Iran dan Pakistan membeli F-60 Stealth Fighter(Export Version of J-31)kemungkinan kemampuannya akan dibawah milik PLAAF?
    kalau Pakistan kenapa lebih condong ke China?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pakistan kayaknya condong ke China mungkin karena rivalri dengan India sama mega proyek port Gwadar. entahlah ya tapi setiap export version/downgraded version/kommercheskiy baik dari US, Russia atau China pasti beda dengan domestic use, paling parah sih China udah copy paste terus di downgrade lagi.

      Delete
    2. ## MiG-31FE tidak pernah dibuat; karena itu tidak tersedia utk export, walau memang sempat ada rumor kalau Syria (atau Iran) akan membeli.

      ## R-33 masih memakai seeker tipe semi-active homing; walaupun jarak jangkaunya jauh, hampir mustahil bisa menembak pespur NATO; tapi cukup kalau dipakai ala Soviet utk menembak jatuh long-range cruise missile, atau SR-71 USAF.

      ## R-37 seharusnya mempunyai active-seeker, tp development-nya sudah berhenti. Seperti kita lihat re artikel ini; sejauh ini ternyata Ruski masih belum bisa membuat active-seeker... bahkan utk generasi pertama (Generasi pertama US: AIM-54 tahun 1970-an).

      ## J-20 tidak diperuntukan export, dan melihat dari bentuk / ukurannya (lebih besar dari F-22, tp memakai meain AL-31F) sepertinya akan lebih menjadi Strike Aircraft seperti Su-34, bukan untuk Air Combat.

      ## FC-31 akan menjadi versi export downgrade dari J-31 versi lokal.

      ## Pakistan - PRC lebih mengikuti "the enemy of my enemy is my friend", untuk menghadapi India.

      Pakistan sbnrnya juga terhitung sekutu US; dan masih tergantung program FMF (Foreign Military Financing) dari Washington DC.

      Kebanyakan F-16 Block-52+ Pakistan (produk baru), sbnrnya dari dana "donasi" pemerintah US.

      Delete
  10. kalo menurut ane A-10A enggak cocok diganti dengan F-35A Soalnya A-10A terbang lambat agar bisa mengenai sasaran dengan mudah dan cannon GAU-8 Avenger merupakan kanon yang kuat dan bisa menghancurkan Tank baja dalam sekejap serta badan yg ramping

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, sebelumnya USAF juga pernah mengetes ide gila utk mencoba F-16 utk melakukan tugas A-10.

      Tentu saja tak berhasil.

      Pesawat Close-air-support harus bisa terbang lambat agar bisa melihat dimana lawan. Juga harus hemat bahan bakar, agar bisa menjaga tentara di darat selama berjam2.

      Pespur yg bisa terbang supersonic (model manapun juga) akan selalu terbang terlalu cepat, dan terlalu boros bensin.

      Baru2 ini ada artikel yg menyebut kalau A-10, sbnrnya bukan pesawat CAS yang ideal.

      Pilihan yg lebih baik?

      A-29 Super Tucano.
      pesawat mesin baling2 akan dapat terbang lambat, dan dgn jauh efesien dibanding mesin jet. Lebih hemat bahan bakar.

      ...tentu saja juga sama tahan bantingnya kalau dihantam tembakan AAG (anti-aircraft gub) tentara lawan.

      Penulisnya menyebut lebih lanjut contoh dari keberhasilan pesawat baling2 A-1 Skyraider dalam Perang Vietnam.

      Delete
  11. maksud "enemy of my enemy is my friend"itu apa?
    kalo P-8A Poseidon harganya berapa ya?
    kalo BE-200 Cocok enggak buat Indonesia?

    ReplyDelete
    Replies
    1. musuh dari musuhku adalah kawan kayal gini India itu musuh Pakistan tapi India juga musuh China jadi China bisa jadi kawan Pakistan. Kalau gak salah harga P-8A Poseidon sekitar 250-275 Juta USD, lagian kan fungsinya Poseidon MPA,MSA dan ASW kalau kita cek laman resmi PT.DI/Indonesian Aerospace di bagian produk CN-235 220 MPA dijelasin ada versi buat MPA, MSA, dan ASW kalau bisa pakai produk domestik kenapa harus import

      Delete
    2. entahlah kalau BE-200, itu kan fungsinya buat pemadam kebakaran hutan apalagi di Jambi parah tuh taun 2015, saya lebih suka Bombardier 415/CL 415, Malaysia pesen 2 dari Kanada, tapi admin lebih tahu lah +/- nya

      Delete
    3. @MIM

      Herky atau nc-295 bisa dipasangi kit (buatan kanada atau usa) untuk pemadaman kebakaran yang bisa dibongkar pasang dg mudah&cepat shg platform pembawanya bisa berfungsi kembali sbg pesawat transpor ketika tugas pemadaman sudah selesai.

      Kalo sbg pesawat sar...seberapa efektifkah/data statistik penyelamatan korban dilaut oleh pesawat yang didedikasikan sbg pesawat sar, dibanding menggunakan helikopter?

      Delete
    4. This comment has been removed by the author.

      Delete
    5. Pesawat amphibi, baik Be-200 Ruski, ataupun US-2 Jepang, sebenarnya tidak akan sesuai untuk kebutuhan kita.

      Beberapa variable yg harus diperhitungkan:
      Investasi infrastruktur, biaya operasional / daur hidup 20 tahun ke depan (bukan tanpa alasan pesawat ampihibi itu langka), pelatihan, dan kelaikan penggunaan.

      Kalau alasannya untuk kebutuhan pesawat pemadam kebakaran, tidak perlu amphibi.
      Semua pesawat sipil manapun, yang lebih tersedia, dan lebih murah, juga bisa di-konversi.

      Pesawat pemadam kebakaran terbesar di dunia saat ini adalah Evergreen B747 Supertanker, dengan kapasitas 74,200 liter.
      Ruski saja sbnrnya mengandalkan IL-76 dengan kapasitas 56,800 liter.

      Pertanyaannya untuk setiap alutsista yg mau dibeli:

      Apakah akan menjadi kebutuhan, atau hanya keinginan?

      Melakukan konversi air tanker, misalnya, juga harus diperhitungkan.
      Apakah pesawat ini hanya akan ngendok di hanggar sampai harinya menunggu tugas?
      Atau, apakah akan mudah dikonversi balik untuk juga dapat melakukan tugas lain?
      Bagaimana dengan pelatihan? Apakah kita siap?

      IMHO, kelihatannya sih lebih baik kita sewaktu2 menyewa air tanker dari operator lain kalau dibutuhkan, dibanding mencoba mengoperasikan sendiri.

      Delete
  12. Kenapa pesawat VTOL Uni Soviet YAK-141 Freestyle programnya dibatalkan?
    Kenapa Locheed membeli design VTOL YAK-141?
    Mungkin F-35B Design VTOLnya mirip YAK-141?

    ReplyDelete
  13. Kalo FA.2 Sea Harrier dan AV-8B Harrier lebih baik dari F-35B ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berikut prinsip sederhana pespur V/STOL:
      =================================

      Vertical Take Off dengan pesawat terbang, sama seperti TVC = mencoba menentang hukum fisika.

      Untuk bisa terbang, seperti contoh pesawat kertas yg bisa kita lipat sendiri;
      Selalu membutuhkan forward thrust, agar dapat memproduksi gaya Lift di sayapnya.

      Inilah prinsip yang sederhana, dan tidak bisa dilanggar.

      Untuk bisa VTOL, Yak-131, Harrier, F-35B tidak ada bedanya.
      Daya dorong mesin harus diarahkan ke bawah, untuk mendorong berat pesawat agar bisa mengudara, tanpa bantuan Lift dari pesawat.

      Bisa lihat konsekuensinya?
      Daya dorong mesin harus selalu lebih besar dari berat pesawat.

      Alhasil, pesawat VTOL harus selalu dibuat ringan (kurang perlindungan utk pilot, dan akan mudah tertembak jatuh), dengan sayap setipis mungkin, dan tidak akan bisa membawa banyak bahan bakar, atau payload.

      Walaupun idenya sekilas menarik, sama seperti TVC, pada prakteknya tidak memberikan keunggulan taktis yg berarti vs pespur konvensional, safety marginnya biasanya berbahaya, dan tentu saja harganya lebih mahal.

      Yak-141, atau Harrier tidak mempunyai afterburner -- yah, hanya pesawat subsonic, yg belum tentu dapat mengalahkan MiG-15 jaman Perang Korea.

      F-35B adalah pesawat V/STOL pertama yg memakai afterburner, akan tetapi....

      Mesin F135 kalau diarahkan ke bawah, akan melelehkan aspal.
      Yah, walaupun pesawat VTOL seharusnya bisa mengudara dari manapun, membutuhkan lapisan khusus agar bisa mengudara vertical.

      Tentu saja, walaupun jauh lebih aman dibanding Harrier (sejauh ini belum diuji intensif di lapangan), biaya operasionalnya akan melompat 30-40% lebih mahal dibanding versi-A, yang sendirinya sudah lebih mahal dibanding twin-engine bongsor F-15C.
      Kemampuan manuever juga lebih lemot, jarak jangkau lebih terbatas, dan payloadnya lebih kecil.

      Jadi untuk apa kegunaannya?

      Salah satu alasannya untuk UK;
      kapal induk Terbaru mereka, Queen Elizabeth-class, sama seperti Kuznetzov Ruski, memakai deck ramp, bukanlah catapult seperti kapal induk US, dan Perancis.

      Untuk bisa memakai deck ramp, pesawat V/STOL seperti F-35B, atau Harrier akan jauh lebih optimal dibanding Su-33, atau MiG-29K, yg jarak jangkaunya hanya beberapa ratus km, krn tidak bisa bawa banyak bensin.

      Tetap saja, bukan tandingan F-18E/F, atau Rafale-M yg bisa meluncur dengan bantuan catapult, membawa lebih banyak payload (6 - 8 missile, atau lebih banyak bomb), bahan bakar untuk mencapai jarak jangkau superior, dan akan jauh lebih siap kalau dihadang pespur lawan.

      Delete
  14. Russia sekarang jarang membuat pesawat Lightweight Fighter yang murah,kenapa ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena mereka mau "mengimbangi" F-14, dan F-15,
      yg sebenarnya masih dapat dikalahkan Lightweight F-5E, ataupun F-16.

      Delete
  15. MIG 35 baru2 ini sudah diluncurkan pendapat bung GI bagaimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemungkinan besar sama seperti Sukhoi, atau semua alutsista buatan Ruski yg lain:
      Kualitas produksi akan jelek, barangnya gampang rusak, dan semua part akan lebih cepat habis masa pakainya dibanding apa yg diiklankan.

      Contoh nyata:
      45 MiG-29K India (saudara misan modern MiG-35) yg baru dibeli 2004 & 2010:
      ===========
      Link Defence News
      ===========

      "... memenuhi syarat," kata mereka, tetapi hanya 21% - 47% yang servicable (siap terbang).

      40 mesin (62%) harus ditarik dari operasional, karena kualitasnya defective.

      Tentu saja, seperti biasa, versi export downgrade.

      MiG-35 untuk pertama kalinya, akan memakai Zhuk-AESA radar, Mil-std1533 standard bus, dan mesin TVC.
      Kemampuan tempurnya tidak akan terjamin, dan seperti MiG-29K, akan lebih banyak ngendok di hanggar untuk diperbaiki; apalagi karena semua komponennya sama sekali baru, dan belum pernah diuji waktu, dan secara operasional.

      Tentu saja, mengingat persenjataannya harus memakai R-73E, atau RVV-AE missile versi export, tetap saja akan kesulitan menghadapi F-16 Block-25 ke atas.

      Delete
  16. admin, ada artikel bilang kita mau beli APC Pandur 2 okelah kalau 8x8 lha ini kok 6x6, apa enggak sebaiknya tambah anoa aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inilah salah satu contoh kenapa kita harus curiga dahulu, sebelum percaya.

      Ternyata sumbernya lagi2 dari Jane's.

      Link Artikel.

      ## Pembeliannya "katanya" dilakukan lewat Czechoslovak Group, bukan dari G-to-G kontrak. Nilai transaksi $39 juta.

      ## Tidak akan ada transparansi transaksi, kemungkinannya cukup besar ada faktor KKN, dan tidak akan ada alih tehnologi, atau sistem pelatihan yang jelas.

      ## Sama seperti kasus A400M, atau AW101 tempo hari, pembelian ini tidak pernah dibahas di media massa lokal, tapi dapat beritanya dari luar negeri.

      ## Kemungkinan pemerintah, atau TNI saja tidak tahu-menahu kalau ada transaksi ini.

      Apa yg anda sebut benar.
      APC Pandur-2 sebenarnya produk saingan Anoa PT Pindad.

      Sama seperti kenapa pusing beli AW-101, kalau PT DI bisa memproduksi EC-725, dengan 30% kandungan lokal,

      Kenapa bisa sampai ada transaksi?

      Sangat menyedihkan kalau melihat kesadaran nasional kita masih sangat kurang.

      Entah kenapa, Netizen biasanya lebih bersorak-sorai kalau kita membeli sesuatu, tanpa pernah ada background info yg jelas, dan tanpa memusingkan kepentingan / kebutuhan nasional; termasuk industri lokal.

      Kelihatannya sistem akuisisi kita agak "membandel" akhir2 ini.

      Kita semua pemgamat awam juga harus belajar jadi lebih dewasa.

      Delete