Thursday, January 5, 2017

Memahami Versi Export Downgrade

Credits: Sukhoi
Su-35S, yang kelihatan menarik. Sayangnya, versi yang selama ini dibayangkan, tidak akan tersedia untuk export.

Sepanjang tahun 2016 yang silam, kita sudah melihat masih terlalu banyak mimpi, atau lebih tepatnya perjuangan ketat untuk membohongi diri sendiri, seolah-olah kita akan bisa mendapat "efek gentar" dari Alutsista, khususnya pesawat tempur Versi Export Downgrade. 

Sudah saatnya bangun, dan melihat kenyataan.

Artikel ini akan membahas secara lebih mendetail, kenapa United States, Russia, dan PRC (yah, mereka juga memegang membership) untuk selamanya hanya akan menjual Alutsista versi export downgrade, dan konsekuensi apa saja yang harus diterima kalau kita mau meneruskan prosedur membeli barang downgrade ini.


Kenapa Washington DC, dan Moscow selamanya hanya menjual Alutsista Versi Export Downgrade

Kenapa?

Untuk lebih memahami, kita harus terlebih dahulu mengerti beberapa alasan yang sangat sederhana dalam benak pikiran para politikus, terutama di United States, dan Russia:
  • Superiority Complex Negara adidaya. "Kami adalah pemimpin, dan kalian semua hanyalah pengikut." Dengan latar belakang sebagai produsen senjata terbesar pasca-1945, baik Washington DC, ataupun Moscow memang berada di posisi yang jauh lebih unggul dari semua yang lain. Perang dingin kemudian membuat keduanya merasa harus memegang tampuk superioritas, untuk "melindungi" para pengikut. Kenapa kedua "pemimpin" lantas harus berbagi apa yang terbaik dari yang mereka buat, untuk bisa dipakai "para pengikut"? 
  • Menjaga Rahasia Negara. Kalaupun sampai beberapa "rahasia negara" sampai bisa bocor ke pihak ketiga, paling tidak keduanya masih bisa menarik nafas lega, karena apa yang bisa dipelajari dari barang Versi Export downgrade, tidak akan membuka semua rahasia dari apa yang versi yang exclusive mereka pakai sendiri. Beberapa kartu dipastikan tetap tertutup, dan si pembeli / pencuri tidak akan bisa mengintip isinya.
  • Political Tool untuk "mengatur" negara pembeli. Yah, menjual barang versi export, sebenarnya juga adalah persenjataan politik yang kerap kali dipakai negara penjual. Inilah tool penjajahan baru pasca-1945. Kalau memang negara pembeli akrab luar biasa dengan si penjual, seperti dalam contoh Australia, dan Korea Selatan, ke Amerika Serikat; Syria ke Russia; dan Myanmar ke PRC, ini bukanlah masalah yang pelik. 
Faktor terakhir ini sangat penting, dan kerap kali terlalu diremehkan.

Posisi Indonesia menjadi serba salah.

Kalau mau terus memilih sumber Alutsista dari Moscow, atau Washington DC, kita harus siap mendukung pernyataan, manuever, atau sepak terjang politik si penjual di ajang internasional. Bila tidak, akan selalu mempengaruhi seberapa jauh level senjata downgrade yang dapat dibeli. 

Tidak seperti UK, Australia, dan Canada, yang bahkan turut serta, kita menentang invasi United States ke Iraq di tahun 2003. Dan tidak seperti Syria, dan Venezuela, yang mendukung, ataupun India, dan Vietnam, yang menyatakan diri abstain, kita juga menentang posisi Russia yang mencaplok semenanjung Crima dari Ukrania.

United Nation Assembly Vote 27-March-2014:

Tidak seperti banyak pelanggan senjata Russia; 

PRC, Vietnam, India, dan 53 negara lain yang menyatakan abstain,

Indonesia bergabung dengan US, Australia, dan 97 negara lain untuk menyatakan
TIDAK MENGAKUI referendum Russia di Crimea


(Gambar: Wikimedia)
Sayangnya, para penjual versi export akan selalu memperhatikan posisi politik luar negeri Indonesia. Kalau kita tidak rajin menjilat, untuk selamanya spesifikasi versi export kita akan lebih rendah dibanding yang lain, dan lebih parah lagi, mereka biasanya akan selalu mencoba mempersulit pemakaian. 

Tidaklah mengherankan kalau mulai dari 9-Desember-2015, Sukhoi Kommercheskiy, yang memang gampang rusak, dan kemudian disusul oleh Mi-35P harus menjalani "perbaikan mendalam" di negara asalnya. Semua kasus ini saja sebenarnya sudah menjadi pelanggaran dari pasal 43 (2) dari UU no.16/2012.




Daftar downgrade Moscow, dan Washington DC yang bisa terlihat

Mission Impossible: 
"Block-52ID" tidak akan bisa diperlengkapi sebaik F-16 Block-52P
South Carolina ANG ini;
Radar AN/APG-68v9 full-spec, dan semua flight mode akan tersedia 

Beberapa hal yang akan di-downgrade sebenarnya terlihat jelas dari pembedaan subtype (versi lokal vs export), atau daftar perlengkapan. 

Russia sudah memberi contoh seperti Su-32, yang adalah satu-satunya versi yang tersedia untuk export, sedangkan Su-34 adalah exclusive untuk AU Russia. 

Situs resmi JSC Tactical Missile Corporation, sudah memperlihatkan kalau daftar missile yang tersedia untuk Export hanyalah R-73E, RVV-AE (yang development-nya tidak pernah selesai), RVV-SD, RVV-MD, dan R-33, semuanya versi export. Dua versi missile export yang biasanya dipilih negara pembeli hanyalah R-73E, dan RVV-AE.

National Interest, 28-Desember-2016:
Su-35KI (Kommercheskiy Indonesia), juga akan di-downgrade habis-habisan.

Sayangnya, pembedaan versi seperti contoh Russia ini boleh dibilang kurang transparan. Kita tidak bisa melihat persis apa saja detail yang sudah dikurangi untuk versi Kommercheskiy. Yang kita tahu sederhana: Jangan bermimpi! Barang downgrade ini tidak akan sehebat versi Ruski!

Dalam rangka "transparansi", United States membuat posting resmi dokumen DSCA untuk setiap pembeli, seperti misalnya, F-16 Block-25+ Indonesia yang sudah memuat daftar apa saja yang sudah dikurangi:
  • Radar AN/APG-68, bukan versi v9 yang lebih modern, dan jarak jangkaunya lebih jauh.
  • Tidak ada Advanced Integrated Defence Suite, seperti ALQ-211v9
  • Tidak ada IFF system.
  • Tidak ada MIDS-LVT terminal untuk Link-16
  • Tidak ada JHMCS Helmet-Mounted-Display, agar memberikan kemampuan untuk mengoperasikan AIM-9X.
  • Mesin yang dipilih adalah versi PW F100 PW200, bukanlah versi 220E yang diperlengkapi dengan Digital Electronic Engine Control, dan menambah beberapa fitur untuk memperpanjang umur / mempermudah maintenance.
Sudah cukup untuk memberikan kemampuan basic, tetapi tidak pernah bisa menjadi pilihan yang berdaulat.

Paling tidak membeli Alutsista versi Export dari United States, sebenarnya memberikan beberapa keunggulan penting yang tidak bisa ditawarkan Russia:
  • Pembelian senjata dari United States, harus melalui program Foreign Military Sales (FMS), yang harus dinegosiasikan dalam kontrak langsung Government-to-Government; tidak ada perantara, komisi, ataupun pesangon kickback untuk pejabat. Sedangkan Russia masih rajin memakai agen perantara resmi Rosoboronexport, yang menuntut komisi, dan biasanya di setiap negara, akan selalu menunjuk satu lapisan lagi perantara lokal.
  • Kedua, United States tidak mempunyai kebiasaan menjual missile versi export, seperti halnya Russia, yang senang menjual RVV-AE, tapi tidak pernah memakai sendiri. Sebaliknya, Washington akan mengatur peringkat sejauh mana negara pembeli akan diperbolehkan untuk membeli versi missile yang mereka buat. Untungnya, sejauh ini daftar peringkat yang diijinkan ke Indonesia sudah cukup tinggi: AIM-9X Block-2, dan AIM-120C-7. Ini bukan masalah untuk Washington: toh, F-16 Block-25+ Indonesia tidak akan dapat memakai kedua senjata ini sebaik F-16 Block-52+ Singapore, atau F-18F Super Hornet Australia.
Oh, dan tentu saja, IF-X buatan Lockheed-Martin, eh, KAI, akan mendapat daftar pengurangan yang sama persis dengan F-16; karena sekali lagi, akan 100% tergantung kebijaksanaan Washington DC, dan bukan Seoul.

Tentu saja, kebanyakan dari apa yang sudah di-downgrade, sebenarnya dirahasiakan Rosoboronexport, atau tidak akan tertuliskan secara terbuka dalam daftar DSCA.



Daftar spesifikasi downgrade yang sengaja dirahasiakan!

Ini lebih parah lagi, karena faktor rahasia akan mulai bermain. Semua downgrade ini tidak akan terlihat di mata publik.

Nama komponen yang dipakai memang akan terlihat sama, tetapi kemampuannya akan berbeda jauh dengan versi lokal.

Untuk pesawat tempur, apa yang pertama kali akan dikutak-katik, adalah Source Code. Bukanlah tanpa alasan, kalau para penjual versi Export akan selalu mengunci source code, dan tidak memperbolehkan modifikasi, ataupun upgrade tanpa seijin mereka.

  • Radar adalah mangsa yang paling empuk untuk di-downgrade. 
  • Mengingat semua pesawat tempur modern, kecuali F-15, sudah diperlengkapi dengan fly-by-wire system, hal kedua yang di-downgrade bisa berupa beberapa programmed flight mode, atau pembatasan kemampuan manuever.
  • Terakhir, kemampuan Electronic Warfare Suite, untuk mempertahankan pesawat dari ancaman luar. 

Sudah menjadi pengetahuan umum, kalau radar AN/APG-70 untuk F-15I Israel, yah Israel, negara sekutu terdekat US, mempunyai resolusi yang 30% lebih inferior dibanding AN/APG-70 F-15E versi USAF. Demikian juga dengan versi F-15S yang dibeli Saudi Arabia. Walaupun tidak tertuliskan, bukan rahasia lagi, kalau tidak semua detection / scanning mode yang tersedia untuk radar AN/APG-70 versi lokal, tidak akan tersedia untuk export.

Dengan AESA radar, seperti AN/APG-63v3 (F-15E), AN/APG-79 (F-18E/F), dan AN/APG-83 (F-16V), tentu saja nasibnya akan lebih parah, karena 99% kemampuannya akan tergantung kepada Source Coding yang sudah dikunci, dan memang sudah dirahasiakan dari awal. 

Negara pembeli awam tidak akan tahu apa saja yang sudah dikurangi.

Radar AN/APG-83 untuk versi dari F-16V yang ditawarkan ke Indonesia, dapat dipastikan tidak akan mempunyai kemungkinan untuk dapat melihat F-35A versi export, atau bahkan akan kesulitan untuk dapat melihat F-18E/F SuperHornet, tetapi sudah cukup untuk dapat melihat Su-35K, dan J-11 PLA-AF. Programming untuk Jammer F-16V, mungkin tidak dituliskan untuk dapat menangkal AMRAAM-D, tetapi sudah lebih dari cukup untuk melayani semua jenis missile buatan PRC, atau missile versi export Ruski, yang memang kualitasnya abal-abal.

Kalau downgrade rahasia United States sudah kelihatan mengenaskan, jangan berharap kalau Ruski akan lebih baik.

Pertama-tama, harus selalu diingat, kalau basis tehnologi Russia, sebenarnya sudah jauh lebih rendah dibandingkan industri pertahanan Barat.
Anggaran, yang kurang dari 20%-nya United States,
tidak akan bisa memberikan kemampuan untuk Russia mengejar ketinggalan

Irbis-E untuk Su-35KI (Kommercheskiy Indonesia), walaupun sekilas namanya sama, sudah beruntung kalau masih mempunyai kemampuan deteksi, atau resolusi yang mencapai 50% dari apa yang sudah diiklankan untuk versi-S. 

"... is capable of detecting a 3-square-metre (32 sq ft) aerial target at a distance of 400 km (250 mi), and can track 30 airborne targets and engage eight of them at the same time..."

Radar untuk versi KI, sudah beruntung kalau bisa mendeteksi target dari jarak 250 kilometer, dan mempertahankan tracking untuk 10 pesawat, dan menyerang 2 target.

Faktor yang memperparah, sebenarnya Su-35S-pun, tidak mempunyai kemampuan BVR yang berarti, dengan missile ketinggalan jaman R-27 (AA-10 Alamo), ataupun R-77-1 (izdeliye-170-1 tidak tersedia untuk export), yang development-nya belum selesai, dan testing-nya masih sporadic.

Dengan kata lain, Su-35K hanya dapat menyalahkan radar untuk mengundang BVR missile lawan, tetapi tidak akan mempunyai kemampuan untuk bisa menembak balik, memberikan kemampuan yang double-inferior di seluruh Asia Tenggara.


Tidak akan pernah ada Transfer-of-Technology dari para penjual versi Export!

Maaf, para pendukung KF-X Korea:
Kita tidak akan mendapatkan ToT apapun dari....
Lockheed-Martin, eh, KAI IF-X versi export

Memenuhi keinginan Korea, 
BUKAN Kebutuhan Indonesia
Untungnya, kegagalan proyek ini sudah di ambang pintu
Alih tehnologi.

Ini tidak akan terjadi, dan tidak akan bisa ditawar. Titik.

Sekali lagi kembali ke awal: Salah satu tujuan menjual versi export downgrade adalah untuk melindungi exclusive proprietary rights pembuat. Karena itu, ketiga member belum pernah menawarkan Transfer-of-Technology ke satupun juga negara pembeli manapun, tidak peduli seberapa akrabnya mereka. Dan kalaupun ada, seperti dalam contoh Su-30MKI India, yang didasari dengan pembelian 270 unit, hal ini akan dilakukan dengan setengah hati.
Link: 
Business Interest, 22-April-2014:
Contoh "alih tehnologi" dari Moscow, penjual versi Export

India sebenarnya bermimpi bisa mendapat Transfer-of-Technology dari Russia. Pembelian dalam jumlah ratusan unit-pun tidak merubah ekuasi yang sudah solid. Russia tidak memberikan Transfer-of-Technology. Serigala, sampai kapanpun akan selalu beranak serigala.

Demikian juga dengan Korea, yang terlalu terbuai mimpi sendiri. 

Artikel Korea Times, 06-Juni-2016 yang lalu memberikan contoh kenapa KF-X, akhirnya tidak akan berbeda banyak dari F-16V:

Yah, ini tidaklah mengherankan: GE yang menang. Memang seperti bayi, Korea masih belum bisa berhenti menyusui dari persenjataan versi export buatan US. Ini bukan masalah pelik, karena keduanya mempunyai perjanjian kerjasama pertahanan yang sangat mendalam
... dan abracadabra! 

Dengan demikian, Korea sudah memastikan kalau kemampuan (Lockheed-Martin) IF-X versi export, yang diproduksi di fasilitas KAI, akan berada dibawah Lockheed-Martin F-16V versi export, yang diproduksi di pabrik Forts Worth, Texas, USA.

Sudah saatnya berhenti berpikir naif. Sekali lagi, kecuali untuk mengejar mimpi yang tidak bisa tercapai, IF-X tidak akan memberikan Alih tehnologi yang berarti. Pilihannya hanyalah kita mau membodohi diri sendiri, atau memilih pilihan yang tidak akan pernah menutup satu kartupun.

Sayangnya, pasal 43 (5) (b) yang mengatur "Kewajiban alih tehnologi", tidaklah mengatur seberapa jauh penjual harus memberikan "alih tehnologi" ke industri lokal, dan dengan demikian menyediakan loophole untuk memberikan kesempatan bagi para penjual versi export. Lockheed-Martin sudah memplesetkan pengertian "alih tehnologi", seperti dalam pameran IndoDefence November-2016 yang lalu.

Apakah dengan menawarkan produksi, dan memberi tehnologi untuk beberapa flap, atau beberapa jenis sekrup tambahan untuk F-16V, tetapi masih merahasiakan 95% content lainnya, sudah cukup untuk memenuhi "kewajiban alih tehnologi"?

Yah, patut disayangkan, karena UU no.16/2012, yang seharusnya ditujukan untuk melindungi industri pertahanan lokal, masih terbuka untuk dapat diserang dari segala arah. Kalau masih belum cukup parah, kurangnya kesadaran Nasional, untuk lebih memprioritaskan kepentingan, dan kebutuhan negara kita sendiri, dibandingkan favoritisme keuntungan profit para penjual versi export hanya memperkeruh keadaan.



Penutup

Tiger Meet 2013: 
Koleksi Pesawat tempur non versi-Export
(Kiri-ke-kanan) 

Gripen-C, Rafale-B, Typhoon, Rafale-C, dan Tornado
Dalam hal ini, tidak ada versi export downgrade yang lebih parah daripada dalam kemampuan pesawat tempur.

Kenapa pesawat tempur yang paling penting?

Karena negara kita adalah negara kepulauan. Tanpa adanya penguasaan Air Superiority, atau sekurangnya Area Denial, dalam situasi konflik:

  • TNI-AL akan kesulitan untuk menggerakan setiap kapal perang, tanpa perlindungan dari deteksi, atau ancaman serangan lawan.
  • ... dan tidak akan ada kapal, atau pesawat yang tersedia untuk memindah-mindahkan personil TNI-AD, atau Korps Marinir ke pulau yang dibutuhkan.
  • Setiap asset di darat, apalagi MBT 60-ton Leopard, yang akan sangat sulit disembunyikan, ataupun asset di laut yang lebih panjang dari 60 meter, hanya akan menjadi sasaran serangan udara lawan.

Barang versi export downgrade hanya akan menyulitkan kemampuan kita mempertahankan diri dari ancaman aggressor luar. Tidak hanya ini akan membahayakan nyawa pilot, tetapi setiap personil TNI, yang akan dipaksa  untuk harus pintar bersembunyi.

Yang lebih menarik, para penjual versi export, yang mengetahui kalau mereka menjual barang Downgrade, akhir-akhir ini senang menamai produk downgrade mereka untuk diasosiasikan dengan nama negara pembeli.

Su-30MKM - Modernizirovannyi Kommercheskiy Malaysia.

Su-30MKI - Modernizirovannyi Kommercheskiy India.

F-16 Block-52IQ - untuk Iraq.

F-16 IN - versi V untuk India.

F-15SG - versi Strike Eagle, untuk Singapore.

F-16 Block-72ID - seolah-olah versi V Indonesia lebih modern daripada Block-60 UAE, yang sebenarnya jauh lebih unggul dalam segala hal.

IF-X - Indonesian Fighter??

Sudah saatnya berhenti termakan iklan. Setiap nama yang diberikan para penjual barang downgrade, yah, sebenarnya untuk menandai apa yang sudah didowngrade untuk sang negara pembeli, bukan untuk memperlihatkan betapa modernnya pesawat tersebut.

Kesemua model diatas, hampir mustahil untuk bahkan bisa mengimbangi ketiga Eurocanards:
  • Para produsen Eropa tidak pernah melakukan pengurangan spesifikasi downgrade untuk export, dan dalam beberapa tahun ke depan, semuanya akan dapat dipersenjatai dengan MBDA Meteor, yang tidak ada bandingannya dari para penjual barang versi export.
  • Para produsen Eropa cenderung lebih fleksibel dalam menawarkan Transfer-of-Technology secara utuh, tanpa perlu ditutup-tutupi. 
  • Penguasaan kontrol atas Source Code sudah pasti akan terjamin, untuk memastikan pembeli dapat memprogram sendiri kemampuan pesawat tempur mereka, dan menjalankan upgrade secara independent.
  • Kalau masih belum cukup, ketiga model Eurocanards secara desain juga sudah setengah generasi lebih modern dibandingkan teen fighters US, ataupun keluarga Su-27 Ruski.

Kembali, mengingat semua proporsi dari UU no.16/2012 sebenarnya dibuat untuk melindungi, dan mengembangkan industri pertahanan dalam negeri, sudah seharusnya kompetisi pesawat tempur berikutnya diarahkan untuk memperbandingkan ketiga produsen yang non-versi export.

Sayangnya, baik Eurofighter, dan Dassault sebenarnya men-diskualifikasi diri sendiri, dengan desain twin-engine, yang akan memastikan biaya operasional yang melebihi kemampuan finansial anggaran pertahanan Indonesia, walaupun sebenarnya masih jauh lebih murah dibandingkan pencinta "perbaikan mendalam" Su-35K, ataupun proyek "mimpi" IF-X, yang dapat dipastikan akan kelewat mahal.

Mau fanboys, atau bukan: Terserah.
Sayangnya, tidak ada tawaran lain yang lebih sesuai 
untuk kebutuhan, dan keterbatasan Indonesia


.

87 comments:

  1. bung apakah SU-35 cina juga versi export?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua pembeli senjata Ruski, atau United States harus selalu membeli versi export downgrade. Tidak peduli seberapapun SKSD-nya mereka dengan si pembuat.

      Ini sudah menjadi hukum alam, yang tidak bisa berubah.

      Contoh lain:
      F-35 yang dibeli Australia, Korea, Jepang, Israel, dan negara2 NATO juga versi export.
      Stealth coating-nya berdasarkan tehnologi versi export, yang memberikan RCS kira2 beberapa kali lipat dibandingkan versi lokal United States.

      Delete
    2. bagaimana dgn su-30 india yg denger2 lebih canggih dari yg dipakai AU rusia harusnya tidak termasuk barang export tapi ko ada embel2 K(MKI)

      Delete
    3. Su-30MKI equivalentnya yah, lebih mirip ke F-16I Block-52+ Sufa Israel.

      Sama saja. Barang downgrade, bedanya India bisa "menawar" utk customisasi bbrp hal.

      Misalnya, avionik cockpit buatan Perancis, dan Electronic Warfare Suite buatan Israel.

      Paling tidak, defense suite buatan Israel sih memang lebih unggul vs Knirti suite buatan Ruski.

      Sisanya sih sama saja.

      ## Radar Bars-M versi MKI kemampuannya akan di-downgrade vs Su-30SM Ruski.

      ## Mungkin juga akan ada perbedaan di komputer / targeting system yg tidak diketahui umum.

      ## Hanya boleh membeli R-73E, R-27, dan RVV-AE versi export.

      Delete
  2. lihat harga perunit dan operational cost nya Eurofighter wah gak pas lah kalau kita ngoperasiin eurofighter, kalau dassault rafale, emang sih julukan omnirole bukan tanpa sebab cuma karakter " De Gaulle " terlalu melekat, Dassault rafale itu terlalu Perancis. Betul itu Gripen,operational & maintenance ekonomis + pilihan senjata bisa diadaptasi sesuai customer. saya baca juga hasil uji latihan Gripen C/D Thailand unggul vs J-11 ( Su-27 SK ) China. nah berarti kan dual engine tidak selalu superior dari single engine.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Thomas,

      Pernyatan kalau "twin-engine lebih unggul daripada single engine", sebenarnya hanyalah propaganda hoax dari para Jendral Pentagon, yang memang mencintai F-4E, F-14, F-15, dan F-22.

      Padahal, semua pilot selalu menyatakan kalau F-16 sebenarnya adalah pespur yang lebih baik dibandingkan F-15; lebih mudah dikuasai, dan jauh lebih berbahaya.

      Kenyataannya,
      Lightweight Single Engine Fighter sudah terbukti akan selalu jauh lebih unggul dalam pertempuran udara dibanding Heavy Twin-Engine Fighter.

      ## Ukuran, dan dengan sendirinya, RCS-nya akan selalu lebih kecil -- membuatnya lebih sulit dideteksi radar, ataupun secara visual.

      Target yang lebih kecil, lebih sulit untuk dikunci / ditembak, bukan?

      ## Karena ukurannya lebih kecil, lebih langsing, Drag Rate Single-Engine fighter akan selalu jauh lebih kecil dibandingkan Twin-Engine.

      Low drag rate = akselerasi lebih baik, flight profile akan selalu menjadi lebih ekonomis, dan jauh lebih hemat bahan bakar.

      F-16C dengan mesin GE (Block-30, -40, dan -50), dan F/A-18A/C Hornet Classic (twin-engine, tetapi termasuk lightweight) -- sebenarnya mempunyai kemampuan terbang supercruise dalam keadaan clean configuration.

      F-15C/E yang lebih draggy, tidak pernah bisa menandingi.

      ## Kembali, karena ukuran Single-Engine lebih kecil, dan less draggy, kemampuan untuk bermanuever ketat akan selalu lebih baik vs Twin-Engine.

      ## Single-Engine, yang secara desain lebih sederhana, dengan sendirinya harganya akan selalu lebih murah;
      maintenance requirement-nya akan selalu lebih rendah; dan akan selalu dapat terbang jauh lebih sering dibanding twin-engine, yang akan lebih cepat rusak, dan lebih gila maintenance.

      ## Karena hanya membawa satu mesin; single-Engine fighter akan selalu lebih mudah untuk menghindari IR-guided missile, dibandingkan twin-engine; yang akan membawa 2 mesin yg panas.

      Tentu saja, semua ini tidak berlaku untuk rongsokan F-35 Single-engine yang terlalu gemuk, dan draggy.

      IMHO, seharusnya Eurofighter, Dassault, Sukhoi, dan MiG memilih memproduksi single-engine desain, dibanding seperti sekarang berkutat dengan twin-engine berbiaya operasional mahal.

      Inilah akibat termakan propaganda para Jendral United States.

      Delete
  3. Replies
    1. Saat ini, mereka lagi menimbang2.

      Tetapi mengingat perekonomian Malaysia semakin sulit,
      kemungkinannya menunjuk kalau mereka akan mengambil opsi menyewa Gripen-C/D.

      Delete
  4. Replies
    1. Produksi 1995, dan sekarang sudah tahun 2016.
      Memang sudah waktunya MiG-29N Malaysia masuk ke liang kubur.

      Umur pespur Ruski memang tidak bisa tahan lama.
      Lebih parah lagi, kalau mencoba memperpanjang umur seperti proses MLU F-16, harganya akan lebih mahal dibanding membeli baru.

      Delete
    2. padahal terhitung masih belum terlalu tua kalau produksinya aja tahun 1995, saya curiga jangan-jangan tahun 2020 Su-27/Su-30 mulai harus diganti. saya baca2 masak iya biaya masang modulator dari Elbit buat nyambungin alutsista standar NATO dengan Russia bisa lebih mahal daripada alatnya, contoh : Pantsyr-1 Brazil harga 15 juta USD, modulatornya 25 juta USD. Gila lah cara kayak gitu

      Delete
    3. Memang Su-27/30 di Sku-11 TNI-AU, mau tak mau, semuanya akan harus pensiun di tahun 2020-an.

      Seperti bisa kita lihat, jumlah yg masih bisa mengudara, sekarang saja sudah berkurang banyak.

      Para tehnisi / pilot di lapangan, yg bekerja dgn Sukhoi, sepertinya juga sudah melihat kenyataan ini.

      Hanya para pejabat saja yang masih membayangkan seolah2 Sukhoi masih "baru", dan akan bisa beroperasi lama seperti F-16A/B Block-15OCU.

      Sebentar lagi juga, kenyataan akan menggigit.

      Delete
  5. Bagi Netizen yg membahas disini, ini saatnya sudah menyatakan Pesan keluhan tentang Alutsista versi ekspor kepada Presiden Jokowi, kemenhan, dan angkasa lewat Twitter, atau Instagram, lalu kita juga harus menyebarkan semua artikel ini ke twitter dan instagram , jangan gentar kalo di marahi fansboy Russia. 👌✌👍.

    Sukhoi, Sekilas glamour dan penggemarnya saja yg tinggi, tapi Efek gentarnya NIHIL. dan battle provennya is Poor.

    Gripen, tidak glamour, meski banyak dilecehkan sukhoi fansboy, namun selalu siap tempur setiap saat, dan diam diam memberikan efek gentar yg cukup tinggi berkat persenjataan dan teknologinya yg sangat canggih dan sudah teruji Secara Nyata.

    ReplyDelete
  6. Replies
    1. Sip, bung Eki.

      Yang menggelikan, "efek gentar" Sukhoi itu sebenarnya hanya mimpi belaka.

      Seperti bisa dilihat dari grafik perbandingan anggaran pertahanan US vs Russia vs PRC antara 1991 - 2013 dalam artikel;

      ## Pertama2, US, sebenarnya bekerjasama dengan Eropa, dan Israel dalam pembangunan berbagai macam jenis senjata yg berdasarkan satu standard sistem yg compatible.

      AIM-9, atau IRIS-T, misalnya, dapat memperlengkapi hampir semua jenis pespur standard NATO.

      Ruski tidak pernah bisa menikmati hal yg sama.

      Mrk harus sendirian men-support sistem persenjataan peninggalan Soviet, dengan anggaran yg kurang dari 10%-nya.

      ## Akibatnya, dalam 26 tahun terakhir sejak rontoknya Uni Soviet,
      Sistem persenjataan Barat sudah menikmati puluhan kali lipat lebih banyak investasi dalam hal research, testing, dan training vs Ruski.

      ## Kalau masih belum cukup, basis tehnologi Barat sejak mulainya evolusi komputer juga sudah berkembang jauh lebih cepat bahkan sewaktu jaman Soviet dahulu.

      Untuk analogi yg sederhana,
      Komputer2 di Ruski saja, sampai sekarang masih akan tergantung dengan software dari Microsoft, atau Google, bukan?

      ## Akibat akhirnya jelas;
      Hampir semua alutsista buatan Ruski, sebenarnya masih harus berjuang mengejar ketinggalan, dan kelihatannya.... tidak akan pernah bisa terkejar.

      Inilah kenapa, seperti sudah sering dibahas, Sukhoi adalah pespur kuno.

      Umur pendek, maintenance terjamkn parah & mahal, tidak akan bisa di-upgrade, persenjataan lemot, radar kuno, kemampuan networking masih belum matang, tidak punya targeting pod, dan......

      ....hanya tersedia utk dibeli dalam Versi Export.

      Delete
    2. bang Dark ..kabarnya menhan RI dan Menhan Swedia udah tanda tangan kerja sama produksi dan ToT . mereka menawarkan kapal selam class Gotland buatan Saab sbgai bagian dari paket Gripen

      Delete
    3. Bung tupa,

      Betul,
      kontrak kerjasama Swedia-Indonesia ini memang akan menjadi dasar yg baik, sebelum melompat ke paket Gripen, Erieye, atau Gotland.

      Dalam hal kapal selam,
      TNI-AL boleh dibilang salah pilih tempo hari:

      Mereka membeli 3 kapal Improved Changbogo-class (dari DSME), yg sebenarnya adalah versi modernisasi Korea, untuk license production dari model akhir tipe Type- 209 buatan HDW Jerman.

      Masalahnya:
      ## Dua kapal selam berumur yg sudah ada; Cakra, dan Nenggala sebenarnya juga dari Type-209.

      ## Kedua, type-209 belum diperlengkapi AIP (Air Independent Propulsion), yg akan membuat kapal selam diesel benar2 tidak terlihat.

      IMHO, seharusnya dahulu TNI-AL memilih versi U-214, yg diperlengkapi AIP.
      Harganya memang akan lebih mahal -- tapi 2 U-214 akan jauh lebih efektif, lebih berbahaya dibanding 3 Improved U-209 tanpa AIP.

      Kembali ke Gotland-class;
      US Navy pernah menyewa Gotland, untuk mengetes fitur AIP.
      Hasilnya, dalam latihan, Gotland berhasil menenggelamkan kapal induk US, dan sebagian armada escort meteka, tanpa pernah terlihat.

      Gotland sendiri adalah model kapal selam buatan Kockums, Swedia dari generasi yg sebelumnya,
      Versi terbaru adalah A26, tp development-nya belum selesai.

      Jadi..?
      Kapau perlu kapal selam dengan AIP, apa lebih baik Gotland, A-26, atau type-214?

      # Gotland adalah proven design yg sudah di-tes, tetapi secara tehnis sudah dianggap memerlukan pengganti (A26) sekitar tahun 2018.

      # A26 baru memulai kembali development, dua kapal pertama baru siap 2022, harga sekitar $460 juta / unit. Seharusnya dibandingkan Gotland / Type-214, ini adalah versi yg paling menjanjikan: lebih modern, dan lebih tidak terlihat.

      # Type-214, karena alasan commonality dengan armada Type-209 yg sudah ada, sebenarnya pilihan yg paling ekonomis secara operasional. Harga juga lebih murah $330 juta.

      Sayangnya... Type-214 sebenarnya adalah Export model dari Type-212 Jerman.
      Type-212 memasang classified technology, yg paling penting adalah non-magnetic steel hull, yg membuatnya lebih sulit dideteksi (Sumber: Wikipedia).

      Delete
    4. betul analisa admin, U-209/1400 improved sebenernya alutsista era perang dingin yang disesuaikan ke abad 21, cuma ya itu gak punya teknologi AIP Stirling. Kalau menurut saya sih kan target kemenhan mau mengoperasikan 12 kapal selam, karena fasilitasnya sedang dibuat di Surabaya, biarlah sembari menunggu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan budget, jumlah U-209/1400 ditingkatkan sampai 6 - 8, mengingat anggaran kita. tapi sisa jumlahnya agar sampai minimal 12, bisa dicari variasi lain yang lebih canggih entah U-214 atau Gotland. Kalau kerjasama Swedia - Indonesia kedepannya well established, harapannya sih Gotland " Carrier Killer ".

      Delete
    5. asal jangan Kilo 877 Paltus gak bener itu 2 yang mau ditawarin ke kita, rusaknya amit-amit, bisa hambur dana gegara overhaulnya doang, ataupun Kilo 676 Varshavyanka, gak bakal dapet ToT kita. Biarin aja Vietnam punya kayak gituan, gak yakin saya Vietnam dapet ToT dari Russia

      Delete
  7. saya sering aktif di FB, kadang ada juga yang lain2 ikut, bikin kontroversi jadinya cuma karena pembawaan bahasa saya halus jadinya gak bagaimana gitu. opini positif mulai tumbuh dan masyarakat mulai concern. cuma kadang penggemar sukhoi kelakuannya koppig dan aneh gitu, gak masuk akal. opini pribadi saya sih selain Gripen kita juga harus punya pespur lain buat variasi atau senjata politik,saya setujunya kalau ada restrukturisasi AU, biar 4 - 5 skuadron Gripen juga 3 - 4 skuadron F-16. Biasanya sih selain cerita Gripen saya juga jelasin tentang kelemahan Sukhoi, kommercheskiy itu kayak apa, perbandingan2 dri referensi blok ini, sama dibumbuin tentang MBDA, denel dynamics, perkembangan Brazil sama pembahasan tentang Dassault Rafale ( favorit double engine ), biasanya ramai tuh. tapi banyak yang ngomong ngekombinasikan Sukhoi dengan Gripen, ya bukan gak mungkin sih tapi siapin APBN pertahanan yang gede. pokoknya saya bantu share2 yang dari blogspot ini. Terima Kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh iya saya juga sering agu argumen bahwa namanya pertempuran mana bisa milih harus single / double engine, perang bukan hanya soal flight range dan dogfight, tapi dalam pertempuran udara modern : 1) bagaimana sistem radarnya ( AESA atau PESA atau doppler ), 2) bagaimana misil air to airnya, 3) bagaimana integrasi dengan sistem radar mobile dini pesawat AEWC, 4) bagaimana RCS-nya, dll. Yang mana Sukhoi boleh saya omong gagal semua. disitulah Russian fansboy mulai temper tantrum atau penggemar F-15 keluar ngotot ABCD-nya

      Delete
    2. juga ada yang bilang karena radius range Gripen yang lebih kecil kita butuh minimal 5 skuadron, saya jawab ya memang betul niat saya juga kita harus punya 5 skuadron + 6 AEWC baik Erieye atau Globaleye + National network + Misil2 MBDA kayak Meteor,IRIS-T,MICA kalau bisa stok nasional sampai ratusan. kalau perlu integrasikan dengan pertahanan udara ground based BAMSE + radar Giraffe dan RBS-70. Itulah masa depan Indonesia sebagai global major power

      Delete
    3. lebih gila gak masuk akal lagi, ngomongnya malah ke payload itu kan buat serang air to surface, edan ah. keterlaluan pikirannya

      Delete
    4. Bung Thomas,
      Beberapa point mudah:

      ## Jarak jangkau Gripen-E akan selalu lebih unggul vs Su-35K dalam situasi konflik.
      Lebih hemat bahan bakar, krn tidak perlu sering menyalakan afterburner.

      ## Payload -- untuk Air-to-Air, jumlah missile yg perlu dibawa secara optimal hanyalah 6 missile per pswt.

      Untuk Air-to-surface, keunggulan payload Sukhoi tidak akan relevan -- krn sejauh ini, tidak ada targeting pod, dan tidak ada smart bomb. Yah, Su-34, Su-30SM, dan Su-35S di Syria saja 80 - 90% hanya bisa membawa dumb bomb.

      F-16, atau Gripen yg dapat membawa 8 GBU-39 Small Diameter Bomb, yg dipadukan dgn Sniper / Litening pod, akan dapat menghantam lebih banyak target jauh lebih akurat.

      ## Tidak, armada gado2 dari supplier Barat vs Timur sebenarnya hanya akan merugikan negara, tanpa efek gentar yg berarti.

      Tidak akan compatible,
      SOP-nya berbeda,
      Tidak akan bisa dioperasikan dalam satu sistem yg terintegrasi,
      Training akan selalu lebih sulit,
      Kesiapan tempur pespur Ruski akan selalu lebih rendah / gila maintenance,
      ...
      dan kalau kita membeli terlalu banyak tipe (spt sekarang), kita akan selalu dipaksa membayar harga retail per unit.

      Rugi.

      Misalnya, akan jauh lebih murah membeli dan mengoperasikan 48 Gripen-E, dibandingkan armada versi export gabungan 24 F-16V, dan 16 Su-35K.

      96 Gripen-E juga akan jauh lebih murah dibanding kombinasi versi export 50 IF-X, dan 16 Su-35K.

      IMHO, di tahun 2030, lebih baik kita hanya mengoperasikan 32 Gripen-E, (mungkin) 16 Gripen-C (lease-to-buy), dan 32 - 34 F-16 (yang sudah di-upgrade lebih jauh),
      dengan dukungan 4 pesawat Erieye.

      Akan lebih murah dibanding armada sekarang, yg biaya operasionalnya di sandera Sukhoi Kommercheskiy.

      Delete
  8. Bung GI, terimakasih atas artikel2nya,membuka pikiran.sarannya biar tambah bermanfaat tulisan2 yang pake b. Inggris harap diterjemahkan. Kalau boleh request artikel tentang radar aesa, irst, perbandingan antar tidls vs datalink f-22 vs yg lainnya. Maaf kalau ada yang kurang berkenan di hati

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siip... trmksh atas feedbacknya, bung Arkan!

      Yah, kadang kutipan dari artikel bhs Inggris seperti utk KF-X diatas memang jadi kelihatan ribut.

      Nanti akan dibahas lebih dalam di artikel lain.

      Kita akan mengurai bbrp topik lain secara bertahap. Semuanya akan berdasarkan pengetahuan umum.

      Misalnya,
      Apakah F-22 pespur terbaik di dunia?

      Kenapa BVR Combat sangat sulit!
      Tidak semudah yg dibayangkan Pentagon, dan kenapa juga hampir mustahil Ruski, atau PRC akan dapst mengejar ketinggalan.

      Delete
  9. Kalo kebutuhan Minimal TNI AU Sebenarnya cukup 32 Gripen, 34 F16 lengkap dengan persenjataannya, dan 2 buah Erieye sebagai pesawat AEW&C, tapi berkat TNI AU memensiunkan Sukhoi Secara dini, Tiba tiba anggaran naik tajam dan isi dompet langsung tebal dibandingkan yg sebelumnya. jadi Renstra yg targetnya 180 Sukhoi, bisa berubah menjadi 180 gripen dan 10 erieye dan 6 globaleye. maaf kalo kalimat terakhirnya agak melenceng... hihihi.

    itu hanya opini pribadi bung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kan Presiden Jokowi janji anggaran pertahanan akan dinaikan sampai 1.5% APBN, berarti 250 triliun Rp dibandingkan 108 triliun Rp sekarang, tinggal menunggu pertumbuhan ekonomi semoga aja kedepannya bisa sampai 7% ke atas. menurut saya sih 180 terlalu banyak. 64 - 80 Gripen sudah cukup sama 34 F-16 kita tinggal optimalisasi aja, kalau pesawat AEWC sih 4 - 6 sudah cukup. kalau mau nambah pespur sebagai senjata politik, tambah aja F-16 2 skuadron, supaya dapat akses ke upgrade2 dan tambah misil dari Raytheon

      Delete
    2. Renstra yg mengejar target 10 Skuadron (180 pesawat), atau ada yg menyebut 180 Sukhoi itu sebenarnya tidak pernah masuk akal.

      ## Sewaktu itu saja, Sukhoi di Sku-11 saja tetap sedang dalam proses beli cicilan, bukan sekali beli 1 Skuadron, agar bisa lebih murah seperti Malaysia.

      Pembelian missile? Sampai 2010 belum membeli apa2.

      Apa yang diinginkan saja, sudah bertentangan dengan apa yg sudah dieksekusi di lapangan.
      "...apa daya tangan tak sampai.."

      ## Ada banyak hal yg lebih penting, dibanding hanya memprioritaskan jumlah:

      1. Sistem pertahanan modern untuk membuat semua pespur dapat terintegrasi

      2. Training modern yang sesuai sistem, minimal 150 jam / tahun / pilot + ratusan jam simulator

      3. Persenjataan, dan perlengkapan harus memadai utk setiap pespur

      4. Infrastuktur pendukung harus siap: Networking, pesawat AEW&C, ISW, dan tanker.

      Seperti kita lihat, semua ini tidak pernah disebut, bukan?
      Hanya membeli 180 pesawat, tapi kalau memakainya tidak becus sih sudah pasti kalah dengan pihak yang hanya mengoperasikan 64 pesawat, tetapi memenuhi semua persyaratan di atas.

      ## Kemudian kita masuk ke kemampuan finansial, atau keterbatasan anggaran.

      Kalau bercita-cita mengoperasikan banyak pespur, kok tidak ada perhitungan biaya operasional?

      Padahal, kemampuan anggaran kita akan selalu tebatas. Setinggi2nya di kemudian hari, paling mentok kita hanya akan mencapai 50%-nya Australia, atau sekitar dua kali lipat lebih besar dari sekarang.

      ... Tentu saja, biaya op twin-engine minimal akan selalu sekurangnya 2x lipat F-16, atau 3x lipat Gripen. Untuk Sukhoi, 7x lipat F-16, atau 10x lipat Gripen.

      50 IF-X akan mempunyai biaya op yg sama dengan 125 F-16, atau 180 Gripen.

      180 Sukhoi akan mempunyai biaya op yg sama dengan 1,260 F-16, atau 1,800 Gripen, dan keduanya akan dapat terbang jauh lebih sering; dan mengumpulkan banyak jam terbang.

      Delete
  10. Sukhoi lebih baik pensiunkan semua , Lalu Menstock ratusan Missile AMRAAM C7 dan AIM9X( kalo mau ribuan pun juga boleh) , Sekaligus mengupgrade Seluruh F16 agar Setara dengan Block 52 yg sebenarnya, menambah Targeting Pod dan juga penambahan Sistem IFF. lalu setelah Semua F16 sudah bertaring banyak. nah pemerintah tinggal Beli 32 Gripen E 6 Erieye ( 3 buat operasional 3 buat Cadangan),Pembangunan National Networking System dan juga jangan lupa membeli Ratusan Rudal MBDA Meteor Dan IRIS T agar TNI AU Semakin Gahar dan memiliki Efek Gentar Tinggi Secara nyata.

    Ketika Artikel Ini Di Sebarkan, Para Fansboy Sukhoi Sering komplen, Marah besar, dan Menghina Saya gara gara saya mengatakan bahwa Alutsista rusia seperti Sukhoi itu sebenarnya di jual dalam bentuk Downgrade, Tapi Kata kata mereka Dengan Mudah saya patahkan, mereka menganggap bahwa Rusia itu baik Sama Indonesia, Namun Saya tangkis dengan mengatakan : Sebenarnya Rusia itu Masih menyimpan Dendam Luar Bisa kepada Indonesia karena Membubarkan PKI, dan Hibah 13 biji MIG 21 ke AS.

    Sebenarnya Uni Eropa Lah yg berjasa menyelamatkan PTDI yg saat itu sedang mengalami kebangkrutan, Dan juga memberikan banyak ToT alutsista ke Negara Kita yg dimulai dari ToT senjata FN FNC yg saat ini menjadi SS1 sampai kapal Frigat PKR. mudahan saja indonesia mengambil tawaran saab yg kenyataanya Sangat jujur dan menguntungkan ini.

    Waktunya Melepaskan Diri Dari Penjajahan Alutsista Versi Export downgrade.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Btw, sbnrnya ada beberapa alasan positif kenapa kita harus memilih Swedia sebagai supplier utama Alutsista di masa depan.

      ## Secara politik luar negeri, sbnrnya Swedia - Indonesia kira2 sama Netralnya: kita tidak bisa dikte negara lain, dan tidak pusing mendikte negara lain.

      Tidak seperti US, dan Ruski yg kerjanya sibuk mecampuri urusan dalam negeri negara lain.

      ## Mnrt transparancy.org; Swedia skrg menduduki peringkat ketiga dalam CPI (Corruption Perception Index), hanya kalah 2 point dgn peringkat 1: Denmark, negara Scandinavia yg lain.

      Peringkat CPI Indonesia masih jauh dibawah, 88.

      United States? 16. Anak angkatnya, Korea, peringkat 37.

      Ruski? 119, atau dinilai lebih korup drpd Indonesia.

      Lebih baik memilih kerjasama dngn negara yg terjamin l3bih transparan, dan lebih bebas korupsi, dibanding sebaliknya, bukan?

      Inilah juga kenapa Sukhoi Kommercheskiy, memang semakin cepat dipensiunkan lebih baik.

      ## Sehubungan dngn diatas,
      Saab sudah mempunyai reputasi selalu bisa dipercaya dalam menepati janji, dan memberikan hasil nyata dalam kerjasama internasional.

      Rosoboronesport sudah dikenal dengan reputasi ingkar janji, melangkahi kontrak, tidak mengantar part kalaupun sudah dibayar, dan menjual barang dngn harga premium.

      United States? Tidak memakai perantara seperti Rosoboron, tetapi mereka sudah dikenal pintar menerapkan klausal jebakan kalau tawaran mereka sekilas terlihat terlalu manis.

      Misalnya, penjualan F-16 ke Polandia dikenai paket offset yg sangat menguntungkan, eh... ternyata Polandia dipaksa mengirim balik setiap part yg harus diperbaiki ke US; lebih mahal, lebih lama, dan mengurangi kesiapan tempur.

      Korea juga sudah beberapa kali "dikerjain" agar membayar lebih mahal produk buatan US, dibanding apa yg ditawarkan Eropa, atau Israel.

      IMHO, semua produsen pesawat militer negara lain, kecuali US, hanya selalu akan buang2 uang kalau mencoba ikut kompetisi di Korea. Akhirnya, mereka akan selalu memilih produk US.

      Nanti kita bahas lebih dalam di topik lain.

      Delete
  11. ========
    Para Fansboy Sukhoi Sering komplen, Marah besar, dan Menghina Saya gara gara saya mengatakan bahwa Alutsista rusia seperti Sukhoi itu sebenarnya di jual dalam bentuk Downgrade
    ========

    Inilah akibat kurang banyak mau belajar, dan terlalu banyak mimpi.

    Seberapapun akrabnya pembeli dengan penjual, seberapapun banyaknya uang yg mereka keluarkan, atau kontrak perjanjian jenis apapun juga tetap saja tidak akan ada perubahan.

    US, dan Ruski akan selalu menjual versi export downgrade ke semua negara lain.

    Ini dikarenakan 3 alasan diatas; mental superiority complex, rahasia negara, dan untuk mendikte pembeli secara politik.

    Bukan hanya fanboys Sukhoi, banyak pendukung KF-X juga masih berpikir seolah2 kita akan mendapat pengecualian, karena itu adalah pesawat "buatan sendiri".

    Jangankan "berargumen" dengan netizen,

    Bahkan Korea, dan India, seperti dalam contoh diatas, sudah termakan tipuan yg sama.... atau.... apa mereka sudah membohongi diri sendiri?

    Korea merasa mereka sudah begitu akrab dengan US, jadi merasa yakin betul kalau US akan "membantu" ToT utk proyek mereka sepenuh hati.

    India berpikir sudah menjadi customer setia 60 tahun, "mendapat" ToT, lantas merasa Su-30MKI, akan dapat dioperasikan / diproduksi secara independent.

    Mission: Impossible.

    Mau berdoa sekhusuk apapun, akan sia2.
    Apa yg akan mereka dapat adalah model downgrade, dan ToT versi export.

    Faktor hutang dosa masa lalu Indonesia, seperti pernah membubarkan PKI, dan hibah MiG-21 -- hanya akan memastikan seberapapun versi downgrade untuk PRC, versi downgrade untuk Indonesia akan jauh lebih inferior lagi.

    ReplyDelete
  12. Apakah pembelian rocket MLRS dari NORINCO China itu kebiasaan membeli alutsista gado-gado?

    ReplyDelete
    Replies
    1. cuma 4 sih, entah mau ditambah lagi atau mau dibelah buat bikin launcher platform nya R-Han 122, marinir kita entah kenapa suka sama produk blok timur kayak BMP-3F,dll. MLRS marinir pun beda sama AD, marinir pakai 9 RM-70 Grad + 8 RM-70 Vampire + 4 MLRS Norinco, kalau TNI AD pakai MLRS Astros 2 56 biji katanya mau tambah 34 lagi, sebenernya kalau marinir saya gak terlalu risau kan soal kompatibilitas yang penting pertahanan udara mereka kompatibel sama AL dan AU, yang patut dirisaukan itu kompatibiltas sistem antara AU, AL, dan AD yang kalau menurut saya sih harusnya disesuaikan tradisi, kalau marinir sih biarlah tradisi nya mungkin seperti itu.

      Delete
    2. Betul,
      Kalau Alutsista darat, spt kendaraan, MLRS atau anti-tank missile (ATM) masalah gado2 tidak terlalu pelik spt Udara / Laut, dimana investasinya jauh lebih besar, maintenance/operasional lebih sulit, dan biaya operasional jauh lebih mahal.

      Misalnya, negara2 Baltic (Lithuania, Estonia, dan Latvia) tempo hari memborong Javelin ATM, dan Carl Gustav untuk menghadapi ancaman armada tank Ruski.

      Carl Gustav lebih sederhana, lebih murah, dan menembak arah lurus ke depan secara horizontal, sedang Javelin, sifatnya fire-and-forget, dengan flight profile menghantam dari atas, dimana armor tank akan cenderung lebih tipis.

      Faktor lain, customisasi alutisista darat cenderung lebih mudah.

      Tetapi tetap saja, bbrp hal harus diperhatikan:

      ## Memilih Supplier - versi export, atau bukan?
      ===========
      Buatan PRC juga adalah versi export, dan krn basis tehnologinya lebih rendah lagi, spt contoh C-705, jangan harap bisa bekerja sesuai iklan.

      Untuk kendaraan buatan US, atau Ruski, spt BMP-3, armor-nya cenderung lebih tipis vs versi lokal, dan biasanya persenjataannya juga mendapat versi kelas dua.

      T-72 Iraq dalam Perang Teluk, bahkan tidak bisa menembus armor M1A2, krn memakai amunisi versi export.
      M1A2 export, spt dipakai Saudi Arabia, tidak memakai tehnologi depleted Uranium composite armour spt versi lokal. Alhasil, di Yaman, cenderung lebih rentan dihantam RPG.

      Pembeli harus selalu siap untuk mengkompensasi kalau ada kelemahan yg timbul dari downgrade versi export.

      ## Training
      ===========
      Alutista Barat v Timur, dalam segala hal akan selalu mempunyai SOP yg berbeda.

      Tidak akan seperti kekacauan kalau mencoba memakai F-16 v Sukhoi, tetapi tetap saja, kalau tidak bisa memahami, dan terlatih, ini akan sangat membahayakan.

      Delete
    3. Min, T-72 Iraq itu memakai training rounds yg harganya lebih murah

      Delete
    4. Bukan.

      Soviet tidak menjual APFDS round versi lokal, ke negara lain.

      Versi Export.

      Inilah kenapa, sbnrnya membeli alutsista Ruski resikonya jauh lebih tinggi drpd membeli dari US.

      Lihat saja sekarang:
      Washington sudah menjual AIM-9X Block-2, dan AMRAAM C-7 ke Indonesia. Ini bukan versi export.

      F-22 saja masih membawa AIM-9M, dan kebanyakan pespur US, dan NATO masih memakai AMRAAM C-5.

      Sedang Ruski....?
      Mereka hanya menjual rongsokan versi export RVV-AE, yg mereka sendiri tidak pakai.... dan R-73E bertehnologi 1980-an.

      Delete
  13. Iraq ketika Rezim Saddam Runtuh, juga termakan Iklan "Kesaktian Abrams" . Lalu Irak tertarik membeli sekitar 200 Tank Abrams Versi A1 yg baru, Tetapi AS malah Menjual Abrams Baru Plain Vanila Alias Polosan tanpa Pelindung untuk melindungi diri dari hantaman ATGM Musuh. Makanya 3-4 tank Abrams Iraq hancur terkena hantaman ATGM TOW ISIS, jelas AS punya Andil dalam kejadian Tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya masalah utama Iraq adalah kurang pengalaman, dan kurang training dalam memakai M1A1.

      Faktor kedua, yah, spt pernah dibahas -- MBT sebenarnya sangat rentan dalam menghadapi infantry yh dipersenjatai ATGM.

      TOW missile, yg berhasil didapat ISIS, sbnrnya sangat mematikan thd MBT manapun, hanya saja harus dioperasikan stationary -- tidak bisa ditembakkan sembari bergerak.

      Salah formasi, dan ketidakmampuan untuk mengoperasikan MBT dalam strategy combined arms -- bekerja-sama dgn infantry, helikopter, fire-support, dan drone / surveillance vehicle, membuat M1A1 Iraq mudah dihabisi.

      Sepertinya, kalaupun mereka memakai M1A2 versi lokal, dngn Depleted Uranium Composite armour, hasilnya akan sama saja.

      Masalah utama disini,
      Training yg diberikan US ke AD Iraq memang tidak sepadan dgn kualitas barang yg mereka jual.

      Inilah faktor resiko berikutnya dari membeli versi export:

      Training yg didapat juga cenderung adalah "versi export".

      Utk Russia sama saja.
      Spt contoh MiG-21 F-13 Indonesia di tahun 1962, mereka hanya mengajarkan "how to fly", bukan sistem training untuk menghadapi pespur buatan Barat dalam konflik yg sesungguhnya.

      Kita sebenarnya beruntung.

      Di tahun 1960-an, AURI hanya akan dihabisi RAF Inggris, dan RAAF Australia kalau MiG waktu itu berani coba mengadu nyawa.

      Sayangnya, terciptalah mitos kalau "Kekuatan Udara Indonesia di tahum 1960-an sangat disegani."

      Delete
  14. kenapa AS memberikan F-16C Block 52 ke Iraq?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena US sangat senang kalau ada pelanggan pembeli baru.

      Lagipula, F-16 Block-52IQ Iraq juga versi export kok.

      Levelnya sudah diatur agar cukup utk menghadapi Iran, tetapi dibawah standard Turki, Saudi Arabia, dan UAE.

      Seperti bisa dilihat disini:
      ========
      http://www.dsca.mil/major-arms-sales/iraq-f-16-aircraft
      ========

      Block-52IQ membawa:
      # radar APG-68v9,
      # APX-113 IFF
      # JHMCS, dan
      # mesin PW-229 yg daya dorongnya lebih kuat

      Sekilas kelihatan lebih baik vs Block-25+ Indonesia?

      Tetapi versi IQ hanya dipersenjatai dngn AIM-9M (bukan versi-X), dan AIM-7M Sparrow Semi-Active Homing (bukan AMRAAM), yg secara tehnis sudah kadaluarsa.

      Tentu saja, juga tidak ada MIDS-LVT untuk Link-16.

      Kemampuan software APG-68v9 juga sudah pasti di-downgrade. Bukan tidak mungkin FBW-nya juga sudah dikutak-katik.

      Delete
  15. kenapa F-16C Block 25+hibah enggak ditukar dengan F-16V?

    ReplyDelete
  16. bung ikhsan, lebih baik apabila Semua F16 kita di upgrade saja agar setara dengan F16V block 60 atau 72, menambah target pod, memasang sistem IFF , tapi itu dilakukan usai Semua Sukhoi kita pensiun Dini , nah lalu Missile AMRAAM C7 Dan AIM9X diborong ratusan biji. F16A taiwan aja diupgrade menjadi F16V. usai F16 kita sudah bertaring, 32 buah Gripen E dan 6 Buah Erieye di akuisisi lengkap dengan persenjataannya macm MBDA Meteor,IRIS T, dan RBS15 beserta Kerjasama pembangunan National Networking System dengan saab.

    ReplyDelete
    Replies
    1. IMHO,
      membeli AN/APG-83 AESA radar utk F-16 hanya akan membuang-buang uang.

      (Sama spt KF-X membuang uang ke laut)

      Toh, kemampuan deteksi, resolusi, dan tracking-nya akan di-downgrade, dan source code-nya sudah dikunci.
      Biayanya juga terlalu mahal.

      Lebih baik, kalau kita sudah mengoperasikan Gripen, kita meminta upgrade F-16, sbb:

      # JHMCS, atau ijin untuk memasang DASH helmet buatan Elbit Israel, agar dapat memakai AIM-9X dengan optimal.

      # MIDS-LVT utk Link-16, atau ijin utk memasang Networking module custom yg compatible ke Gripen.

      Itu saja. Mengingat mesinnya juga hanya F100 PW-200, ini akan mwmbuat beratnya tetap ringan, tanpa perlu dicantoli macam2.

      Ini akan mencukupi F-16 utk menjadi dedicated platform untuk memenuhi misi tertentu, misalnya, lihat skenario berikut:

      ## F-16 akan dapat mengalihkan perhatian radar lawan, mengingat RCS-nya 10x lipat lebih besar dari Gripen.

      ## Begitu F-16 dikunci radar lock lawan, biasanya EWS-39, dan radar Raven ES-05 Gripen sudah dapat melihat / mengunci posisi lawan secara pasif.

      F-16 dapat langsung menembakkan AMRAAM, dan langsung berputar 180 derajat utk mencoba break lock.

      Fire-and-forget.

      ## Missile Datalink dari Gripen akan mengambil alih mid-course update utk AMRAAM C-7 yg ditembakkan F-16, untuk mengarahkannya ke pesawat lawan yg skrg sibuk mengejar F-16, tapi tidak pernah melihat Gripen.

      ## Bbrp detik sebelumnya, Gripen juga sudah menembakkan MBDA Meteor utk menambah killer BVR combo terhadap lawan.

      Inilah salah satu contoh skenario utk dapat memanfaatkan keterbatasan pespur versi export:

      F-16 dapat dipakai untuk memancing lawan, agar menghabiskan BVR missile mrk, tanpa pernah benar2 terancam, krn BVRAAM sbnrnya mudah dihindari.

      ....sementara Gripen yg akan melakukan kill.

      Dalam pertempuran jarak dekat, keduanya akan hampir sama berbahayanya -- dapat menumbuhkan potensi latihan kompetitif yg membangun antar squadron.

      Masing2 pilot F-16, dan Gripen akan dapat mengasah kemampuan jauh lebih cepat, dibanding sekarang.

      Delete
  17. lebih menggentarkan lagi misalnya, Saab Gripen E dan F16 TNI AU Bisa dipersenjatai dengan Bom Nuklir, kaya F16 AU Pakistan.

    tapi Sudah Setahun lebih 2 Sukhoi kita masih "dipenjara" di tempat Empunya. dan sepertinya sebagian pilot dan ground kru Sku 11 mengeluh tentang mahalnya biaya operasional Sukhoi. apalagi pilot yg baru transisi Dari F5E ke Sukhoi.

    ReplyDelete
  18. kalo mau memasang DASH helmet soalnya buatan Israel takutnya masyarakat Indo protes kalo buatan israel karena suka disangkutpautkan dengan warga palestina

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenernya sih banyak hal2 tentang pertahanan Indonesia yang terkait dengan Israel dari A-4 skyhawk - UAV Heron, tinggal dicoverkan saja, pokoknya tahu sama tahu lah.

      Delete
    2. Psst... sebenarnya bbrp negara mayoritas Islam (yg tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel) juga sudah lama membeli senjata /perlengkapan dari Israel.

      Kontrak semacam ini biasanya dirahasiakan, atau disebut asalnya dari negara lain.

      Contoh:
      UAV Aerostar di Lanud Supadio, asalnya dari "Filipina".

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete
    4. Min, negara Islam apa saja yang membeli senjata dari Israel?

      Delete
    5. Pakistan, Aljazair, Mesir, UEA, Maroko kalau saya baca sih tentang spare part pespur, komponen radar, komponen electronic warfare, head up cockpit display, helmet pespur. juga saya baru tahu kalau tank ringan amfibi punya marinir kita PT-76M mesin dan komponen optiknya dari Israel waktu diupgrade kalau turret 90mm dari cockerill group

      Delete
    6. Sumber infonya kurang resmi, dan negara pembeli cenderung tutup mulut krn alasan politik. Lebih baik tidak dibahas terlalu mendetail.

      Hanya Turki (anggota NATO), yg paling terang2an membeli banyak mainan dari Israel.

      Hubungan Turki - Israel, boleh dibilang agak mirip dngn Indonesia - Australia dewasa ini, bisa memanas bisa mendingin; tapi sbnrnya saling membutuhkan.

      Pada pokoknya sih, kalau memang menyukai pembelian Alutsista versi export, baik buatan US, atau buatan Ruski, negara pembeli akan selalu menemukan kalau perlengkapan buatan Israel akan sangat meningkatkan kemampuan.

      Delete
  19. Alutsista made in Israel yg dimiliki TNI brkt ini :
    1. Galil Galatz
    2. Uzi
    3. UAV IAI heron

    Teknologi Produk Israel Memang Canggih, contohnya jammer pod pada MKI india. buat apa kita Protes Kalo beli DASH mounted helmet canggih itu kalau tujuannya memodernisasi F16 TNI AU, agar tidak ketinggalan Zaman.

    ReplyDelete
  20. Maaf, bung GI. Kira2 kapan artikel memahami modwl downgrade dilanjutkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diskusi disini cukup menarik.

      Ada beberapa point yg masih dapat kita pelajari bersama re model downgrade.

      Sy akan membuat sambungannya dalam waktu dekat :)

      Delete
  21. Saya Sih memang dari Awal Sudah punya Firasat buruk kok tentang proyek KFX, karena ada berita bahwa AS menolak Berikan ToT for Korea, hmm pikir saya, mendingan Undur diri aja, soalnya mubazir dan lebih menguntungkan AS dan Korsel ketimbang Kita.

    Kalo Su 35, awalnya Sih saya memang mendukung penuh tentang itu, namun Abis ngeliat diWikipedia tentang varian Sukhoi, Ada tertulis varian Export Su 35K, wah malahan sudah tersedia dalam bentuk versi ekspor, jadi Firasat saya, Pasti Speknya Berbeda ketimbang yg Orinya. ditambah lagi dengan mimpi buruk saya tentang Su 35 yg mahal sekali biaya Operasionalnya buat NKRI, itupun belum Termasuk biaya buat pejabat komisi paket pesangon = Rugi Negara.

    Namun yg menggembirakan Adalah Proposal Saab Untuk indonesia yg sesuai dengan UU No 16 Thn 2012 dan juga visi jokowi untuk mewujudkan indonesia sebagai poros maritim dunia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayaknya kalau sekarang KAI masih berkeras hati buat ngelanjutin ini program, kemarin2 baca mereka lagi bikin misil BVR Taurus, terus lagi ngembangin radar AESA mereka sendiri, sukses atau gagalnya, waktu yang bakal menentukan. Keadaan politik & ekonomi Korsel pun lagi raport merah, Presiden Park Geun Hye sudah di impeach parlemen lagi nunggu proses persidangan, keadaan ekonomi pun lagi ngalamin kelesuan yang tergolong parah, masih jauh lebih baik situasi kita sekarang daripada di Korsel, lagi gelisah massal, kalau kepemimpinan baru menterminasi program KFX/IFX ya udah siapin ancang2 ke pespur lain lagian Korsel juga udah pesan F-35 2 skuadron bakal ambigu lah mengoperasikan KFX sekaligus F-35. tentang Sukhoi ada yang cerita katanya kenapa proses negosiasi lama soalnya Indonesia maunya Su-35 tapi pakai avionik standar NATO dari Belarusia, sama ada nyebut juga tentang Thales ceritanya jadi mirip Su-30 MKM Malaysia entah bener atau enggak.

      Delete
    2. kalau baca profile RAAF kita bisa lihat negara dengan land mass raksasa seperti itu mengoperasikan 95 pespur, artinya apa mereka yang anggaran lebih besar dari kita aja cuma mengoperasikan 6 skuadron, kenapa kita punya fantasi gila buat bikin AU dengan 10 - 11 skuadron, aneh gak masuk akal kan. mereka punya 95 pespur ( 6 skuadron ) yang varian nya hampir sama dari keluarga F-18 didukung AEWC Wedgetails, Growler, stok misil2 dan National link. lihat betapa realistis, simple dan efektifnya mereka dibandingkan kita. Kalau Indonesia mau efektif seperti mereka minimal kita punya 3 - 4 skuadron Gripen + 2 skuadron F-16 + AEWC Erieye + stok misil bisa dari MBDA atau Raytheon + National link. Nah hampir mirip kan sama mereka begitu tahun 2030 saat waktunya tiba F-16 harus pensiun ganti cukup 1 saja atau 2 bolehlah skuadron Gripen. jadi kedepannya post 2030 Indonesia mengoperasikan 4 - 6 skuadron Gripen + AEWC Erieye + stok misil + national link, jangan lupa pesawat tanker KC-130B kita cuma 1 dan sudah terlalu tua mending beli lagi tapi dari derivat C-130 lagi biar adaptasinya lebih gampang 2 - 3 sudah cukup

      Delete
    3. batu besar penghalang kita untuk terwujudnya itu Su-27/Su-30 dan negosiasi berkepanjangan Su-35. Kalau KFX tinggal tunggu sesuatu yang dramtis kejadian di Korsel, udah tutup kamus

      Delete
    4. Masalah pokoknya sederhana.

      Su-35, dan KF-X seperti mencoba mengambil jalan yang panjang, dan berliku-liku, menghabiskan terlalu banyak uang rakyat, dan akhirnya tidak akan pernah bisa sampai di tempat tujuan.

      Dalam "keinginan" mengejar kedua target ini, sbnrnya kita sudah melupakan tujuan awal yg sederhana.

      ## Pertama, bukankah kita harus mengejar pengembangan industri pertahanan dalam Negeri untuk secara bertahap mengejar kemandirian?

      ## Kedua, seiring dengan itu, kita justru seharusnya mulai mengurangi ketergantungan ke supplier2, dari para penjual senjata versi export (US, dan Ruski).

      ## Ketiga, kita juga terlalu sering melupakan, kalau anggaran pertahanan kita sudah selalu super rendah vs semua negara lain.

      Kita seharusnya belajar untuk jauh lebih efesien drpd negara lain yg anggarannya jauh lebih tebal, bukan menghamburkan uang.

      Saat ini, ironisnya, Australia, dan Singapore tidak hanya koceknya lebih tebal, tetapi sistem akuisisi / perawatan / investasi mereka juga jauh lebih efesien. Mrk tidak menghamburkan ke hal2 yg tidak perlu, kecuali F-35.

      ## Terakhir, untuk mencapai "efek gentar", kita harus mulai membangun kemampuan tempur yg dibuat dalam satu sistem yg bersaing.

      Kembali, ini mustahil tercapai dengan mengandalkan terlalu banyak senjata versi export downgrade.

      Jadi apakah yg kita butuhkan untuk mencapai semua tujuan tsb?

      Hanya membutuhkan dua langkah awalan yg jauh lebih mudah:

      ## Pertama-tama, mendapat Transfer-of-technology, dan meraih kesempatan untuk berguru ke salah satu produsen yg memang sudah profesional untuk mengembangkan industri dalam negeri.

      Bukan diversifikasi supplier ke dua negara penjual versi export, yg hobinya hanya menjual, tanpa memberi ToT!

      ## Kedua, untuk kekuatan udara, kita seharusnya tidak boleh mengoperasikan twin-engine fighters, yg proporsi biaya op-nya tidak akan sesuai dengan realita keterbatasan kita.

      Butuh target untuk mengoperasikan lebih banyak pesawat?

      7 F-16, atau 10 Gripen akan dapat mengudara untuk setiap jam terbang Sukhoi Kommercheskiy di Sku-11.

      Inilah kenapa, dilihat dari sudut pandang manapun, tawaran kerjasama Saab, dan akuisisi pake Gripen-Erieye adalah satu2nya pilihan yg paling ideal.

      Delete
  22. Bung GI, mana yang lebih jelek antara su-35 dengan mig-35 ? Sama bung GI juga sering menyebut kata"lemon" tuh maksudnya apa? Satu lagi kapan artikel tentang model downgrade F-16 dilanjutkan mungkin dengan membahas su-35?

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Lemon" artinya tidak bisa bekerja sesuai apa yg seharusnya; tak peduli seberapa banyakpun uang yg dihamburkan, dan seberapa banyakpun usaha yg dilakukan.

      F-35, keluarga Sukhoi Su-27, dan MiG-29 semuanya masuk kategori ini.

      ========
      Su-35 vs MiG-35
      ========

      Dari segi performa kinematis / manuever; keluarga MiG-29 yg ukurannya lebih kecil, kemampuannya akan lebih baik dibanding keluarga Su-27/30 yg jauh lebih bongsor / draggy.

      Pilot2 NATO menilai MiG-29 kemampuannya sebanding dgn F-16, tetapi masih lebih unggul drpd F-15.

      Kemudian secara tehnis, sbnrnya MiG-35 sedikit lebih modern krn sudah berlaih ke radar AESA; walaupun kembali, kemampuan industri Ruski dalam hal ini amsudah tertinggal terlalu jauh.

      Yah, MiG-35 secara teori sih seharusnya lebih unggul dibanding Su-35.

      Masalahnya, kedua pabrik Sukhoi (Knaapo, dan Irkutsk) lebih rajin merebut order baru, sedangkan hampir tidak ada order untuk MiG.

      Jumlah lebih langka, harga / biaya op akan menjadi lebih mahal.

      Kelemahannya: kedua2 produk buatan Ruski, reliabilitasnya terjamin jelek, haus spare part, dan usia airframenya akan pendek.

      Biaya operasional terjamin mahal, tapi jarang bisa terbang, dan cepat masuk liang kubur.

      Sebelumnya artikel2 re Sukhoi Su-35 sudah banyak dituliskan di blog ini:
      Link semua artikel Su-35.

      Lain kali, kita akan membahas lagi re Su-35 dalal artikel baru.

      Delete
  23. admin, saya baca PAK-FA akan keluar 5 prototype nya akhir 2017, nah terus Su-35 itu proyek apaan, bakal ada upgrade kedepannya atau buntu dan harus ujung-ujungnya kepaksa dipasang teknologi standar NATO, soalnya kalau kata saya sih kedepannya fokus researchnya pasti PAK-FA bukan Su-35. terus kan US punya 1 pespur Su-27 dibeli dari Ukraina, apa jangan2 US tahu percis kelemahan2 dari Flankers family dan selama ini buat teknologi buat mengalahkan pespur derivat Flankers family, kebetulan lagi lawan tanding buat prakteknya F-16 lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena Ruski sekarang sedang menikmati embargo US/EU/Israel, yg kelihatannya tidak akan pernah bisa berakhir dalam sekurangnya 20 tahun ke depan;

      ## Tidak akan ada yg berani memasang perlengkapan standard NATO di PAK-FA.

      Lagipula, ekonomi Ruski juga masih sekarat; APBN mereka memerlukan harga minyak mentah di atas $100/barrel.
      Saat ini sih, Ruski sedang sibuk menghabiskan cash dari cadangan devisa mereka.

      ## Kecil kemungkinannya Ruski akan bisa membiayai proyek PAK-FA sampai selesai.

      ## Satu2nya harapan adalah India. Tetapi semakin hari, India juga kelihatan semakin kurang antusias dengan PGFA, atau versi PAK-FA utk India.

      Mereka sedang disibukkan sendiri dngn LCA Tejas, yg bikin mumet, dan kebutuhan utk membangun sendiri kemampuan industri lokal mereka.

      ## Kalau masih belum cukup parah, patut diingat pula kalau proyek utk membuat radar, mesin, dan missile K-77M juga masih saja... belum dimulai.

      Tidak ada uang.

      Yah, saat ini,
      PAK-FA hanya akan memakai sub-variant radar, dan mesin dari Su-35S, dan hanya bisa dipersenjatai R-27, atau RVV-AE.
      ..... tetapi harganya akan jauh lebih mahal.

      Kelihatannya F-18E/F Superhornet, pesawat andalan AU kedua terbesar di dunia (US Navy), masih tetap akan lebih unggul daripada PAK-FA.

      Delete
    2. Bung Thomas,
      Sy sbnrnya sudah sering menuliskan hal ini dalam bbrp forum / artikel sejak 2 tahun yg lalu, dan dalam bbrp artikel disini:

      US, dan negara2 Barat sudah mempelajari Su-Flanker, dan MiG-29 selama puluhan tahun, dan mungkin lebih paham ttg kedua tipe ini, dibandingkan Russia sendiri.

      Inilah kenapa bukan tanpa alasan kalau "efek gentar" Sukhoi itu 100% nihil, apalagi yang versi downgrade Kommercheskiy.

      Artikel testing F-16 vs unmarked Sukhoi:
      The Aviationist: F-16 vs Sukhoi Flanker testing in Area 51

      "Area 51" sbnrnya adalah pangkalan udara USAF untuk mengetes proyek2 gelap.

      Artikel ini juga mengkonfirmasi, bahkan sejak jaman MiG-21, dan Uni Soviet, USAF sudah mengetes selama puluhan tahun semua serba-serbi Sukhoi / MiG, dan specifically membuat strategi / persenjataan utk mengalahkan mereka.

      (Tidak disebut, ttp juga termasuk mengetes intensif 13 MiG-21 F-13 hibah dari Indonesia)

      Dalam latihan Red Flag, pilot F-15 & F-16 aggressor juga sudah puluhan tahun men-simulasikan persis kemampuan semua parameter performa MiG-21/23/29, dan Sukhoi Su-27/30 untuk mengetes pespur NATO dalam latihan ini.

      Efek gentar Su-35K?
      Lemon.

      Pilot semua negara Barat sudah siap untuk mempercundangi para pemakai awam yg mencoba2 beli.

      Delete
  24. Pesawatnya SAAB kan canggih dari dulu kaya AJ-37 Viggen dan J35J Draken?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Swedia itu unik soalnya gini ( lebih luas dari konteks SAAB ), dia nggak urusan sekelilingnya kayak apa yang cocok dan tepat buat dia, udah tutup kamus, pespur2 diatas aslinya umur layak terbangnya masih lama lho cuma pertengahan tahun 90an munculah program Gripen A/B buat pengefektifan dan kesiapan ke abad 21, pespur2 itu boleh dibilang the guardian dari teritori nordik terutama kompleks pertahanan pulau Gotland saat perang dingin. nah industri alutsista Swedia tidak seperti negara2 pengguna alutsista Russia yang boleh omong liat aja sepanjang pertempuran di timur tengah kayak apa sih tank T-72 sama pespur Mig series dihajar habis-habisan, atau enggak kayak Arab saudi, negara petrodollar atau anglosphere yang lama-lama terlalu terdominasi US sampai2 industri pertahanannya meredup seperti Inggris, Swedia bukan anggota NATO tapi Russia gak berani macem2 bahkan saat perang dingin, pespur2 Soviet hati2 terhadap kompleks pertahanan Gotland Island, kasel Swedia pun tidak bisa diragukan buktinya Singapura aja awet kasel ex-Royal Swedish Navy. Juga lihat Tank Stridgsvagn 103, mau dunia ngomong bentuknya aneh, bodo amat justru dengan low silhoutte seperti Tank2 Russia bakal runyam buat ngadepin kayak gituan sebelum sekarang Swedia pakai MBT Leopard 2A5 yang udah di costumised. kalau enggak salah self propelled artillery Archer dari Swedia pun terbaik. kerjasama dan akuisisi Gripen dari SAAB serta kooperasi pertahanan dengan Swedia membuka lembaran baru ke kemandirian industri pertahanan Indonesia, tidak menutup kemungkinan seperti berita tanggal 20 Des 2016, terlepas dari pespur,dll sektor laut pun seperti kasel terjamah. selain itu politik luar negeri Swedia saya kira " True Independent Foreign Policy ", dia bukan anggota NATO tapi juga bukan pro Russia sistem yang sama kita harap aplikasikan ke konflik SCS, China kalau enggak salah sudah mengklarifikasi Natuna, saya baca di koran Washingtonpost online, ya kita biarkan saja SCS itu jadi masalah tetangga kita dengan China, sepanjang Natuna gak disentuh bodo amat kita, cuci tangan aja sembari kompleks pertahanan dan lap. udara kita di Natuna di upgrade biar seperti Gotland island nya Swedia, saya rasa dengan lap.udara seperti Natuna sukar buat operasional F-16 apalagi Su-27/Su-30 amit2, lap.udara Natuna lebih cocok dijaga pespur single engine, light weight tapi sophisticated kayak Gripen, dan juga ekonomis. biar patroli harian itu tugas kapal patrol, pesawat kayak CN-235 atau helikopter tapi radar deteksi sesuatu yang aneh biar kapal coast guard China liat Gripen E/F RI dengan amunisi Misil Meteor, IRIS-T dan RBS-15 F. situasi kayak gitu secara politis China bakal ciut duluan buat mikir tentang Natuna

      Delete
    2. Sebenarnya dari J-35 Draken, AJ-37 Viggen, sampai JAS-39 Gripen yang sekarang,
      Saab selalu membuat pesawat yg mengikuti 5 konsep sederhana yg konsisten, yg sesuai dengan prinsip pertahanan Swedia:

      ## Biaya development, dan harga produksi per unit, harus terjangkau untuk keterbatasan anggaran Swedia, yg selalu lebih kecil dibanding "4 besar Eropa" (UK, Perancis, Jerman, dan Italy)

      ## Single-engined, agar kemampuan kinematisnya lebih baik, dan dirancang secara optimal agar biaya perawatannya lebih murah / mudah dari yg lain,

      ## Kemampuan kinematisnya harus bersaing dengan standard di masa itu,
      Draken adalah pespur Eropa pertama yg melebihi kecepatan supersonic on level flight,
      Gripen dirancang untuk menandingi / melebihi kemampuan kinematis F-16, dengan reference threat untuk selalu dapat menghancurkan Sukhoi Su-27, dan MiG-29.

      ## Harus selalu bisa beroperasi Networked; J-35 Draken adalah pespur pertama di dunia yg fully networked (1962) dengan National Network Swedia , kemudian AJ-37 Viggen mulai memperkenalkan TIDLS fighter-to-fighter network.

      ## Harus dapat beroperasi / dipersenjatai dengan minimal support jauh dari markas, dan berkemampuan STOL (Short Take Off, and Landing).

      Dalam skenario pertahanan Swedia, semua pangkalan udara mrk akan di-bom oleh AU Soviet yg jauh lebih besar, dan lebih kuat dari hari pertama, dan karena itu semua pespur mereka tidak boleh mengandalkan asumsi bisa terus beroperasi bebas dari lanud mereka.

      Demikianlah 5 prinsip sederhana mendesain pespur ala Saab Swedia, yg tidak pernah berubah sejak tahun 1950-an, tapi tidak pernah berhasil dicontoh satupun pembuat lain, yg lebih terobsesi membuat pespur "huebat", dan kemudian mengorbankan harga, dan biaya perawatan.

      Tentu saja, tanpa sengaja prinsip ekonomis Swedia, membuat pespur mereka akan selalu dapat beroperasi lebih lama, dan lebih mudah untuk bisa di-upgrade.

      Delete
  25. apabila Indonesia Sudah Mengoperasikan 32 Gripen E 33 F16 33 Gripen C Ex Swedia dalam paket leasing to buy lengkap dengan persenjataan yg TOP , Di dukung dengan 4 Pesawat AEW Erieye dan 2 Globaleye yg terhubung dalam Satu National Networking sistem yg terpadu. Itu Bisa menjadi Efek Gentar tinggi Indonesia Secara Nyata.

    menurut Seorang Pilot dari Eropa ketika membahas mengenai Su 35, beliau berkomentar "pesawat tempur itu tidak dilihat dari besar atau kecilnya ukuran, bukan dari seberapa besar kapasitas senjata yg dpt ia bawa, tetapi dari seberapa efektif pesawat itu dapat digunakan dalam pertempuran".
    Pesawat Tempur berbiaya operasionalnya mahal, walau jumlahnya banyak dan Sekilas Menarik, tapi Kecenderungan ke depan hanya akan dioperasikan dalam jumlah sedikit.

    Di buku angkasa yg saya baca tentang Sku TNI AU 11, rupanya ada teks yg tidak sesuai alias Manipulasi Publik, contohnya : " Walaupun demikian, Di Sisi Lain, kehadiran Sukhoi TNI AU juga faktanya memang punya efek Gentar Tinggi dan amat diperhitungkan oleh negara lain."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar bung Eki,

      Kita memang sedang mengidap penyakit "efek gentar", seolah2 kata ini suatu mantera ajaib dari Harry Potter. Hasilnya akan instan, tanpa perlu sedikit usaha apapun.

      Mari melihat contoh tim2 di Formula 1.

      Kenapa dari awal tahun saja, kita sudah bisa memperkirakan tim mana yg berpeluang memperebutkan tahta gelar juara tahun ini?

      Sama seperti Angkatan Udara; Formula One Team yg bisa menjadi calon pemenang, sebenarnya harus mengandalkan satu sistem yang rapi terlebih dahulu.

      Pertama2, sistem yg baik memerlukan modal yg cukup.

      Sistem yg baik kemudian akan dapat memproduksi kombinasi yg tidak terkalahkan, dalam bentuk mesin-chassis design yg optimal, teamwork, strategi, dan akan mengoptimalkan kemampuan pengemudi.

      Pengalaman, dan performa tahun sebelumnya juga tidak kalah penting. Seberapa jauh masing2 mengambil pelajaran akan menentukan di tahun ini.

      Inilah pengertian "efek gentar" yg sebenarnya.

      Ditempa dari sistem yg terintegrasi, training, dan pengalaman.

      Kemampuan tempur itu harus taham banting kalau di-tes, bukan hanya "terasa".

      Kalau tim amatiran, dengan 2 driver tak berpengalaman, dan modal cekak, bisa mendapat 2 mobil yg sama persis dengan Tim Mercedes pemenang tahun lalu, apakah akan bisa menjamin bisa menang?

      Mustahil, bukan?

      Tim Mercedes menang karena mereka sudah beroperasi dalam satu sistem yg rapi.

      Kendaraan hanyalah satu komponen dari sistem, bukan penentu utama. Dan kendaraan itu, harus sesuai dengan SOP tim, bukan asal beli gado2.

      Demikian juga dengan suatu Angkatan Udara.

      Delete
  26. salam sehat bung GI.
    bicara soal pespur versi ekport USA vs Rusia akan lebih unggul milik USA, begitupun juga soal misil.

    kita sudah punya 16 Su 27/30 dan katanya juga mau ditambah 8 SU 35. estimasi terbang dijadiin sama 24 × 500 juta = 12 milyar/ jam terbang . untuk sukhoi 1jam terbang per hari , nah kalau untuk 1thn . hampir 4 Triliun sendiri untuk sukhoi. belum ketambahan armada yg lain, apa iya semua anggaran hanya untuk sukhoi... anda ingat soal slogan 180 sukhoi bung, hehehe jadi banyak banget digitnya.

    gripen belum di akusisi
    jadi disini kita pakai 36 F16. 36 ×100 juta = 3,6 milyar jadi sehari bisa 3kali terbang . itupun masih lebih buat makan² bung . wkwkwkwk

    dan anggaran untuk pengganti F5 dikatakan hampir $ 1,2 milyar USD. kita ambil opsi untuk sewa gripen senilai $ 1 milyar USD dan selebihnya untuk beli misil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Matt, Biaya Operasional F16 Itu hanya Sebesar 77 juta. jadi harus dibayar untuk 34 buah F16 kita = 34 buah × 77 juta = 2,6 miliar. itu dikatakan sudah cukup standarlah bagi TNI AU. 12 F5E tiger Sku 14 itu sebenarnya Sudah tergantikan oleh 10 F16 hibah yg datang pada tahun ini, daripada pilotnya dipindah ke Sukhoi, Mendingan Pilot F5E transisi aja Ke F16, kan lebih mudah bukan??.

      lalu Seluruh Sukhoi Sku 11 harus Dipensiunkan Secepat mungkin, Membeli Ratusan Missile AMRAAM C7, AIM9X, dan menambah sniper target pod dulu buat mengasah taring pada F16 kita. Setelah anggaran terkumpul banyak berkat memensiunkan Sukhoi, kita beli langsung 32 Gripen E lengkap dengan Persenjataanya , 4 pesawat AEW&C Erieye. kemudian mengambil tawaran kerjasama jangka panjang dengan saab plus Kerjasama National Networking System . Biaya operasional Yg dibayar TNI AU untuk Gripen E : 32 buah × 36 juta = 1,15 miliar. jadi biaya yg dibayar lebih ekonomis ketimbang mengoperasikan 180 Sukhoi.

      Proyek Efisiensi Gripen Indonesia

      Delete
    2. Bung Matt,

      Begitulah.

      Biaya operasional, hanya bisa dapat versi downgrade Kommercheskiy, dan senjata export rongsokan hanyalah tiga dari banyak alasan kenapa Sukhoi tidak sesuai untuk Indonesia.

      Katanya ingin mengoperasikan 180 pesawat tempur?

      Kalau begitu kenapa memilih mengoperasikan penyedot angaran yg satu jam terbangnya bisa membiayai 5 F-16, atau 7 Gripen?

      Keinginan sudah tidak bertemu dengan realita.

      Biaya operasional mahal bukan berarti "efek gentar" lebih tinggi.

      Ini sebenarnya hanya mewakili banyak kesulitan lain yg tidak terlihat:

      ## Masa pakai spare part akan cepat habis, dan harganya sendiri cukup mahal.

      ## Akan membutuhkan lebih dari 40 jam maintenance setiap 1 jam terbang. Jadi kalaupun ada uang, dan kemauan....

      ## Jumlah jam terbang latihan pilot akan selalu berkurang.

      Sama seperti pengemudi Formula 1, kalau kurang latihan yah, kemampuan beroperasi dengan baik, dan memenangkan setiap pertempuran akan selalu minus.

      Pilot hijau = efek gentar nihil.

      Btw, Su-35K yg jauh lebih rumit, dan jumlah produksinya sedikit; biaya op-nya terjamin akan jauh lebih mahal dibanding Su-27/30.

      Dengan 8 unit, kita akan melihat harga Rp 1 milyar / jam.

      Belum lagi menghitung faktor X terakhir: Su-Flemon akan jauh lebih cepat masuk liang kubur.

      F-16 Block-15OCU produksi 1989, sekarang sudah umurnya sudah mau 30 tahun, masih bisa diperpanjang 25 - 30 tahun lagi.

      Block-25+ hibah sbnrnya sedikit lebih tua, produksi 1985-1986, atau sudah genap 30 tahun.
      Tetap saja, masih bisa operasional jauh lebih lama dibanding semua Sukhoi.
      :D

      Delete
  27. Tambahan:kenapa Jet-jet tempur buatan Mikoyan Gurevich tidak ada yg laku seperti:MIG 1.44,MIG AT,MIG SCAT UCAV,Sama MIG-35?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena secara tehnis, MiG skrg sudah bangkrut. Hampir 25 tahun terakhir ini, hampir tidak ada order utk MiG-29, bahkan dari pemerintah Ruski sendiri yg ikut terobsesi dngn Sukhoi.

      Keruntuhan Uni Soviet menghilangkan "safety net" komunisme dahulu kala.

      Sekarang, kedua pabrik besar Sukhoi; Knaapo, dan Irkut sudah mendominasi pasar pespur Ruski, dan lebih aktif berebut order... yg semakin lama juga semakin sedikit, krn pasar pespur dunia juga sudah semakin menciut.

      Delete
  28. Hmm sekarang, usai Artikel ini saya sebarkan semua ke Medsos, Banyak Netizen indo Pro Russia menganggap Bahwa Komen Saya ini Hoax dan dianggap memprovokasi tapi komen mereka Saya Patahkan Semua disitu, maklum mereka masih mabuk Vodka hihihi. namun kabar baiknya mulai ada sebagian Netizen awam yg mulai penasaran dengan Blog ini... , Menurut alasan Netizen yg bertanya tanya kepada Saya tentang Sukhoi itu banyak minusnya ketimbang plusnya, mereka ingin tahu darimana situsnya kalo sukhoi itu versi downgrade dan banyak kelemahannya. lalu ya saya reply itu dapat dari situs situs yg real, dan lebih objektif.

    adu komen Dengan Fansboy Indo Russia, memang akan menjadi keunikan tersendiri, Komen mereka sangat mudah dipatahkan.... , bagi yg mulai Sadar, Mereka lalu saya sarankan perlu melihat kenyataan dan jangan terpaku oleh satu sumber saja. Tapi bagi Fansboy Russia yg masih keras kepala dan masih ingin Melawan, ya saya tinggal ucapkan kata kata ini "Selamat Anda bermimpi, tentang kemampuan pespur Su 35S yg Super Rugi, menggentarkan uang rakyat. HIDUP Rongsokan Versi Downgrade Export!" , Nah Mereka langsung tidak lagi berkutik alias Tidak bisa komen lagi.

    Maaf kalo komen terakhirnya Agak kasar. Itu Sudah menjadi keseharian saya sehari hari dalam diskusi militer, padahal umur saya 15 tahun, masih SMP, namun dari SD sudah Hobi Militer dan dirgantara...

    ReplyDelete
    Replies
    1. :D
      Ruski selalu menjual barang downgrade sebenarnya adalah pengetahuan umum,
      bukan karangan.

      Sangat menggelikan kalau banyak yang merasa sudah "ahli" analisa militer,
      tapi masih juga belum sadar.

      Google search saja:
      "Russian Monkey Model"

      Lebih lucu lagi,
      Baik netizen, ataupun pejabat yg mendukung Sukhoi, tidak pernah sekalipun juga menyebut pemenuhan UU no.16/2012, bukan?

      Padahal UU ini dibuat untuk melindungi, dan mengembangkan industri pertahanan lokal,
      bukan sekadar untuk membeli import (versi Export downgrade) tanpa perencanaan strategis yang jelas, dan memakai perantara.

      Delete
  29. waktunya membahas lagi kalo ada Artikel yg terbaru, kami tunggu 🙋👌..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siip.
      Akhir2 sedang agak sibuk, dan harus memilih dari beberapa pilihan topik yg mau ditulis.

      Delete
  30. admin, barusan berita Gripen-C jatuh di Thailand, pilot meninggal, penyebabnya belum tahu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Link Youtube
      =====
      https://youtu.be/Q7u4cJLN-Xg
      =====

      Kita harus menunggu berita konfimasi lebih lanjut.

      Patut dicatat terlebih dahulu, kalau kecuali untuk 2 prototype Gripen (1989 & 1993), karena masalah programming flight control; sejauh ini belum pernah terjadi kecelakaan write-offf karena kerusakan tehnis.

      Delete
  31. Sebetulnya Rusia sematkan perangkat canggih untuk IL-22MP yang bisa melumpuhkan AWACS Aircraft dan Drone?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salah satu sektor dimana kemampuan industri militer Ruski memang sangat bersaing, adalah dalam jamming komunikasi --- seperti mereka sudah diuji coba di Ukrania Timur.

      Tentara Ukrania mendapati komunikasi mereka lumpuh total, dan sulit untuk mengkoordinasi untuk mengarahkan artillery mereka supaya mengenai target.

      Tapi ini di darat, dan melawan Ukrania, yg juga masih memakai sistem komunikasi warisan Soviet.

      Di udara, dan untuk menghadapi sistem NATO, kemampuan ini belum teruji;

      Akan tetapi negara2 NATO, khususnya United States, mengakui kalau sistem komunikasi, dan ketergantungan pespur NATO ke koordinasi erat dengan AWACS, masih cukup rentan untuk bisa menghadapi operasi dedicated jamming.

      Yang patut dicatat disini, begini:
      Kalaupun Russia mempunyai kemampuan jamming untuk dapat mematahkan kemampuan komunikasi NATO, kemampuan ini tidak akan tersedia dalam Jammer versi export.

      Kedua,
      Kalaupun Ruski benar mempunyai kemampuan tsb, saat ini industri militer Barat, yg modalnya jauh lebih besar, dan secara tehnologi masih 20 tahun lebih maju; sudah bersiap membuat counter untuk sistem jamming Ruski.

      Banyak pengamat lapangan NATO sudah sibuk mengkoleksi data, dan mempelajari prosedur jamming Ruski di Ukrania sejak 2014.

      Delete
  32. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete