Monday, January 16, 2017

Kenapa efek gentar Su-35K 100% NIHIL

Masih mengidamkan Su-35 untuk Indonesia?
Sudah saatnya introspeksi diri.

Kenapa perlu?

Aktor Interviewer “gadungan”: Terima kasih atas kontribusi anda dalam acara ini. Sebelum sesi interview fiktif ini dimulai, bagaimana kalau anda terlebih dahulu menjelaskan karakter yang anda akan perankan?

Aktor Pejabat “gadungan”: Saya akan berperan menjadi tokoh karakter “pejabat” yang mendukung pembelian Su-35K sehidup semati. Saya akan mencoba menjelaskan semua alasan argumen yang gencar luar biasa, kenapa pilihan ini akan sesuai dengan “kebutuhan” Indonesia.

Aktor Interviewer ”gadungan”: Kembali, sebelum wawancara, atau interview fiktif ini dimulai; saya mohon maaf dahulu. Saya harap anda tidak akan emosional, karena dalam memerankan peran saya sebagai interviewer gadungan, saya akan mencoba mencecar anda  dengan berbagai pertanyaan kritis untuk menjelaskan posisi anda.

Aktor Pejabat “gadungan”: Tidak apa-apa. Adalah tanggung jawab kita bersama sebagai Warga Negara Indonesia, untuk menyinarkan terang dalam kegelapan. Semoga kiranya mereka yang membaca hasil interview fiktif kita, semakin membuka pikiran mereka agar dapat mendukung kepentingan Nasional kita.

Interviewer ”gadungan”: Baik. Kalau begitu, mari kita mulai!
.


Kenapa perlu Su-35? Untuk mengejar "efek gentar", katanya


Interviewer: Terima kasih atas kesempatan wawancara hari ini, pak! Bagaimana kalau anda menjelaskan bagaimana posisi anda dalam memilih Sukhoi Su-35 sebagai pesawat tempur Indonesia?

Pejabat: Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak boleh kelihatan lemah di kawasan Asia Tenggara ini. Kita harus mengoperasikan pesawat tempur terbaik di masa ini. 

Kami memilih Sukhoi Su-35, karena ini adalah pesawat tempur yang sangat ditakuti negara-negara Barat. Pesawat ini akan memberikan kita kemampuan untuk mengimbangi negara-negara tetangga kita, yang mengoperasikan F-15SG (Singapore), F-18E/F Super Hornet (Australia), dan dan dikemudian hari akan mulai mengoperasikan F-35A yang merupakan pesawat tempur Generasi Kelima.

Lagipula, negara kita sudah terbiasa mengoperasikan Sukhoi selama 14 tahun. 

Su-35 akan menjadi lompatan evolusi berikut, yang sudah sewajarnya harus menjadi bagian dari armada TNI-AU.



Interviewer: Dengan kata lain, Sukhoi Su-35 kemampuannya akan melebihi F-15, F-18E/F, atau F-35. Inilah kenapa pesawat ini dianggap sesuai dengan kebutuhan kita?

Pejabat: Tepat. Apakah anda pernah melihat Su-35 berputar-putar dalam Paris Airshow 2013?
Mitos #1: 
Thrust-Vector-Control berarti Su-35 tidak tertandingi
dalam pertempuran jarak dekat

Hebat, bukan? Bagaimana pesawat ini dapat berputar-putar di udara dengan sebegitu luwes. Tidak ada satupun juga pesawat tempur Barat yang akan dapat melakukan hal yang sama.

Dalam pertempuran jarak dekat, Su-35 akan dapat mengarahkan moncongnya menghadap lawan jauh lebih cepat, berkat Thrust-Vector Control. F-35, atau Super Hornet, tidak akan mempunyai banyak harapan.

Terus kalau dalam pertempuran BVR (Beyond Visual Range), anda melihat berapa banyak pylon yang dibawa Su-35?

Pesawat ini bisa membawa 10 – 14 missile, dengan bermacam-macam opsi seeker, untuk dapat mengalahkan kemampuan pertahanan Super Hornet, dan F-35.
Mitos #2: 
BVR Missile Ruski lebih unggul daripada buatan Barat
(Gambar: Ausairpower.net)


Interviewer: Kalau membaca komentar dalam video tersebut, memang kelihatanya Su-35 sangat hebat, yah?

Pejabat: (Tertawa) Yah, bisa lihat bukan? Seandainya kita mengoperasikan Su-35, tentu semua negara lain tentu akan mulai menjadi gundah dengan langkah modernisasi Indonesia ini.
Efek "gahar" seperti Indominus Rex!
Takutlah ke saya!
Roooaaaaarrrr!!

(Credits: Universal Pictures)


Interviewer: Maaf, saya mau bertanya lebih dahulu, apakah ada pilot Indonesia yang sudah menerbangkan Su-35?

Atau lebih lanjut: Atau paling tidak, apakah anda sudah melakukan studi kelaikan Su-35 untuk kebutuhan Indonesia? 

Apakah pesawat ini akan mudah diintegrasikan ke jajaran TNI-AU yang sekarang?

Pejabat: Belum. Nanti kami akan usahakan secepatnya begitu kontrak ditutup. Lagipula, seperti saya sudah sebut; kita kan sudah terbiasa dengan Sukhoi. Ini bukan seperti mengoperasikan pesawat yang sama sekali baru.


Interviewer: Kok, apa tidak aneh, ya?

Kalau kita mau membeli mobil, atau motor dari dealer saja, kita akan meminta test drive dahulu, dan banyak penjelasan, sebelum memutuskan untuk berpisah dengan jutaan, atau ratusan juta rupiah uang kita sendiri.

Maaf, kalau saya bertanya; masakan proses akusisi alutsista berharga $1,5 milyar bisa langsung beli, tanpa perlu mengetes dahulu sebelum mengambil keputusan?
  • Apakah kita tidak perlu benar-benar mempelajari tidak hanya semua kemampuan, tetapi bagaimana pemeliharaan, dan kelaikan support di lanud Indonesia? 
  • Sistem training, tidak hanya untuk pilot, tetapi juga untuk semua tehnisi, dan personil lain. Apakah sistem inventory-nya nanti bisa memastikan segala sesuatu ready stock?
  • Atau, yang tidak kalah penting, apakah akan ada simulator untuk Su-35? Setahu saya, sejauh ini, Sukhoi yang di Sku-11 saja, belum mempunyai simulator, bukan?
  • Bagaimana anda akan bisa memastikan kalau Su-35 akan dapat mengungguli F-18E/F SuperHornet, seperti yang dipakai Australia, F-15SG, seperti yang dipakai Singapore, atau F-35A kelak?
Pejabat: (Tertawa) Ah, anda terlalu membesar-besarkan masalah. (Terbahak-bahak). 

Jangan khawatir! Percayakan saja kepada kami para pejabat! Nanti semuanya akan diurus terima bersih begitu Su-35BM pertama mulai operasional di Indonesia.


Catatan:
"Jadi sejauh ini, belum ada studi kelaikan apakah Su-35 akan sesuai dengan kebutuhan Indonesia. 
Rencana akuisisi ini sepertinya hanya didasari asumsi kalau Su-35 lebih huebat daripada pesawat tempur Barat."

Interviewer: Tadi anda menyebut Su-35 dalam bentuk versi Su-35BM?

Apakah anda mengetahui, kalau sebenarnya sudah menjadi pengetahuan umum, kalau Russia hanya menjual semua senjata, termasuk Su-35 dalam bentuk Versi Export downgrade?

Pejabat: err..... masa sih?



Pengetahuan Umum: Versi Export Downgrade

Interviewer: Yah, ini sebenarnya pengetahuan umum, yang sudah seharusnya diketahui semua pejabat yang mau mengurus akuisisi Alutsista, apalagi yang bernilai milyaran dollar.

Saya akan menunjuk ke satu buku terlebih dahulu, dan penulisnya.

Victor Suvorov, lahir di Primorsky Krai, tahun 1947, adalah seorang ex-agen Intelijen Militer Soviet, yang kemudian membelok ke Inggris menuliskan satu buku di tahun 1982, berdasarkan observasi "inside information" pribadinya, yang berjudul “Inside the Soviet Army” (ISBN 0-241-10889-6  - Bisa dibeli di Amazon.com).

Survorov menjelaskan kalau Uni Soviet, dari dahulu selalu memproduksi senjata dalam dua variasi. 

Versi standard untuk penggunaan lokal, dan versi yang lebih sederhana, yang dinamakan “Monkey model”, untuk versi export. Salah satu tujuannya adalah untuk mengecoh negara-negara Barat; agar kalau sampai salah satu produksi export Soviet itu, seperti MiG-21 jatuh ke tangan Intelijen Barat, mereka tidak akan pernah bisa membuka kartu, untuk melihat bagaimana spesifikasi aslinya yang dipakai di Soviet.

Pejabat: Ah, tapi itu kan di jaman Soviet. Bukunya saja tahun 1982. Sekarang kan sudah berbeda.

Interviewer: Sama saja, pak. 

Export policy Russia melanjutkan standard warisan dari jaman Uni Soviet, yang tidak pernah berubah sejak tahun 1945. Mereka tidak pernah, sekali lagi saya tekankan disini, TIDAK PERNAH menjual senjata apapun dalam spesifikasi penuh untuk penjualan export.

Sukhoi yang kita operasikan di Sku-11 selalu memakai suffix ‘K’, bukan? 

Kommercheskiy, alias versi Komersial untuk export. Angkatan Udara Russia sendiri tidak pernah mengoperasikan Su-27SK, Su-27SKM, Su-30MK, atau Su-30MK2.

Versi yang dipakai AU Russia sendiri adalah Su-27S, Su-27SM2/3, dan Su-30M2/3. Kesemuanya adalah versi yang berbeda dibanding apa yang mereka jual ke PRC, Vietnam, Indonesia, Venezuela, atau Ethiopia, dengan radar, mesin, dan perlengkapan yang berbeda pula.

Perbedaan kemampuan ini kebanyakan sekilas memang tidak terlihat. Tetapi kita tahu kalau radar, mesin, targeting system, dan sistem jammer di versi lokal akan jauh lebih unggul dibanding dalam versi export. Rahasia negara tidak akan diperbolehkan untuk di-export.

Sama dengan Su-30SM. 
Ini adalah versi lokal buatan pabrik Irkut untuk versi yang memakai TVC. Sedangkan India, Algeria, dan Malaysia hanya boleh memakai Su-30MKI, MKA, dan MKA. Kommercheskiy.

Pejabat: Oh, ya? (menelan ludah)


Interviewer: Saya membawa copy majalah Combat Aircraft Magazine edisi November-2016 ini, yang mempunyai satu halaman advertorial untuk Sukhoi Su-32/34. Seluruh artikel advertorial didedikasikan untuk mengiklankan kemampuan Su-34, tetapi paragraf pertama ini sebenarnya memuat kalimat yang paling penting untuk kita perhatikan. Bisa anda baca sendiri, kalimat yang di dalam kurung ini?


Pejabat: ”The export version is the Su-32”?

Interviewer: Betul, pak. Versi export dari Su-34, yang boleh dibeli negara lain, adalah Su-32. Ini walaupun isi iklan mereka, sekali lagi, hanya mengiklankan kemampuan Su-34, yang hanya boleh dipakai AU Russia.

Pejabat: Itu kan hanya contoh untuk Su-34. Pabriknya saja berbeda. Su-35 untuk Indonesia tentu akan menjadi pengecualian.

Interviewer: (Menyerengitkan alis) Sama saja, pak. 

Untuk Su-35, akan ada versi lokal, dan Versi Downgrade untuk Export. Saya ulangi sekali lagi, ini adalah kebiasaan penjualan senjata Russia. Semua negara, tidak ada pengecualian, selalu hanya diperbolehkan untuk membeli versi export.

Baru-baru ini, Editor National Interest, Dave Majumdar baru mencatat pernyataan Lt. Gen Evgeny Buzhinsky (purn), komisaris dari PIC Center Russia mengenai versi Su-35 yang dibeli PRC.
National Interest, 28-Desember-2016.
Saya bacakan terjemahannya: 

"Russia tidak akan begitu saja menyerahkan "crown jewel"; harta karun tehnologi mereka yang paling beharga ke tangan PRC, tanpa mengambil precaution: penjagaan atas hak cipta mereka. Versi Su-35 untuk China, tidak akan sama dengan versi AU Russia."

Kami memproduksi versi export, dan mempunyai versi yang kami pakai sendiri”, menurut Buzhinsky. 

Versi Downgrade, yang lebih sederhana untuk export.

Su-35 yang anda ingin beli untuk Indonesia, tentu saja akan menjadi Versi Export. Malahan, karena beberapa alasan yang nanti akan kita bahas, boleh dibilang versi Indonesia, dari segi spesifikasi, dan kemampuan akan mendapat pengurangan yang lebih jauh lebih parah dibanding versi PRC.

Pejabat: (tertawa gelisah) Anda tidak perlu khawatir. Kami akan mencoba menegosiasikan sebisa mungkin untuk memastikan spesifikasi Su-35 Indonesia akan hampir sama dengan versi lokal. Kita tidak akan melihat perbedaannya.
Interviewer: Bukankah ini justru yang harus kita takutkan? Kita tidak akan tahu apa saja yang akan dikurangi, bukan?

Kita tidak akan bisa melihat perbedaannya sampai barangnya sudah diuji-coba, karena mayoritas pengurangan spesifikasi versi Export Russia akan dirahasiakan, dan tidak akan dideskripisikan secara spesifik, sekurangnya seperti dalam dokumen DSCA pemerintah Amerika Serikat.

Pejabat: Anda berkata tadi, kalau pengurangan spesifikasi Su-35K untuk Indonesia akan lebih parah daripada versi PRC. Mengapa demikian?

Interviewer: Jawabannya jelas, pak.

Karena tidak seperti pemerintah PRC, India, Vietnam, atau Venezuela, kita adalah negara yang 100% anti-komunis. Ini adalah paham yang sangat bertentangan dengan Pancasila, dasar negara kita. Tetapi dalam sejarah, kita adalah satu-satunya negara di dunia, yang berhasil menumpas habis-habisan partai Komunis lokal. 

Memang komunisme sudah tidak ada, tetapi sebenarnya 60% orang Russia sekarang ini masih menganggap komunisme adalah suatu faktor yang positif. Tidak seperti di Indonesia, komunisme di Uni Soviet runtuh bukan karena mendadak dibenci rakyatnya, tetapi karena sistem ekonomi terpimpin yang diatur komunisme, membuat Uni Soviet jatuh bangkrut di tahun 1991.

Lebih lanjut, Presiden Russia, seperti dicatat oleh Newsweek, baru saja membuat pernyataan kalau beliau masih menjunjung tinggi nilai-nilai komunisme, dan sosialisme. Beliau masih menyimpan keanggotaan partai Komunisnya, dan memperlakukan buku "kode moral" Komunis, seperti kitab suci agama.

Pernyataan, dan slogan-slogan anti-komunisme di Indonesia masih sering merebak akhir-akhir ini. Untuk orang Russia, bukankah ini seperti menghina "agama" mereka? Saya rasa pemerintah Russia, FSB, ataupun presiden Russia sendiri, yang ex-anggota KGB, akan memperhatikan hal ini dengan seksama.

Pejabat: 
(berharap-harap cemasAh... saya rasa mereka akan maklum... ?


Interviewer: Lebih lanjut, ya pak?

Hutang kita terhadap Moscow, juga tidak hanya berhenti di masalah komunisme. Setelah pembubaran PKI; kita pernah menghibahkan 13 MiG-21 F-13, berbagai macam missile, dan perangkat militer lain buatan Soviet ke Amerika Serikat di tahun 1969.

Sebagai gantinya, kita mendapat hibah CAC Sabre dari Australia, T-33, dan OV-10 Bronco dari Amerika.

Ini sudah memberikan justifikasi untuk Russia meneruskan proyek penjualan versi export downgrade habis-habisan, khususnya ke Indonesia. 

Faktor pemberat lain; sebenarnya 99% dari semua pesawat TNI-AU kita dewasa ini masih menggunakan spare part buatan US. Kita juga masih terus mengoperasikan F-16 (Berbisik: yang jauh lebih bandel, biaya operasionalnya lebih murah, dan kemampuan tempurnya masih jauh lebih unggul), yang berarti membuat Lockheed-Martin, pembuatnya, harus tetap membuka kantor perwakilan untuk urusan spare part, logistic, training, dan support.



Pejabat: Kenapa anda sempat berbisik sendiri barusan?

Interviewer: Tidak apa-apa. Kalau boleh, saya melanjutkan:

Kalau saya menjadi Russia sebagai penjual; semua ini adalah faktor resiko yang sangat tinggi untuk ”crown jewel” seperti Su-35. Karena itu, saya akan memastikan:

Pertama, Indonesia akan mendapatkan spesifikasi yang serendah-rendahnya, kalau sampai terjadi kebocoran, hasil yang didapat para intelijen Barat akan sia-sia.

Kedua, Indonesia tidak akan diijinkan untuk melakukan perbaikan-perbaikan level mendalam, untuk memastikan tehnisi kita tidak bisa mempelajari tehnologi Su-35 terlalu mendalam. Semakin sedikit pengetahuan kita, tentu semakin kecil apa yang bisa dibocorkan.

Pejabat: Anda terlalu membesarkan masalah downgrade ini! Kita tahu, kalau kemampuan Su-35 kan sudah melebihi F-18, dan F-35. Efek gentarnya akan sangat terasa di kawasan ini.

Interviewer: Anda benar saja deh. 
(Geleng-geleng kepala: Justru sebaliknya, anda terlalu menyepelekan!)
Mari kita mengesampingkan dahulu masalah versi export downgrade ini, dan melihat masalah yang berikutnya!



UU no.16/2012: Kenapa tidak pernah disebut?

Interviewer: Bapak sudah sibuk menggembar-gemborkan di media massa, kalau kita mau membeli Sukhoi Su-35 sejak tahun 2014. 

Yang aneh, entah kenapa belum pernah ada satu pejabatpun, termasuk bapak, yang pernah menyinggung tentang pemenuhan UU no.16/2012, yang sebenarnya dituliskan untuk melindungi, dan mengembangkan industri pertahanan dalam negeri. 

Walaupun tadi anda mengklaim kita sudah "terbiasa" dengan Sukhoi, kenyataannya saja Sukhoi di Sku-11 masih tidak bisa dirawat 100% di Indonesia. 

"Perbaikan Mendalam":
Nasib yang sama dapat dipastikan menimpa Su-35KI,
dan biayanya akan jauh lebih mahal
Ini saja sebenarnya pelanggaran pasal 43 (2). Belum lagi menghitung kalau TS-2701, dan TS-2702 masih belum diperbolehkan pulang dari mudik di negara asalnya, dalam rangka "perbaikan mendalam".

Sukhoi memang senang melanggar hukum!
  • Kalau memang pembelian Sukhoi ditujukan untuk menjaga integritas NKRI, dan kebutuhan nasional, kenapa bapak tidak pernah membahas tentang bagaimana pesawat ini akan dapat memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012?
  • Apa saja yang dapat bapak pastikan, kalau Rosoboronexport akan dapat memenuhi persyaratan Alih Tehnologi, dan keterlibatan partisipasi industri lokal untuk mulai mendukung Alutsista import?
  • Apakah Rosoboronexport akan menjamin kalau Su-35KI akan bebas dari persyaratan "perbaikan mendalam", yang sekarang sudah mendera semua Sukhoi di Sku-11? 

(TS-2701, dan TS-2702; versi Su-27SK yang serba-generic saja masih belum pulang, sudah setahun lebih!)

Pejabat: (menghela nafas) Ini juga masih kita negosiasikan dengan pihak Rosoboronexport! Kami akan berusaha untuk mencoba memastikan Su-35 memenuhi persyaratan ini.

Saya jadi heran kok anda yang meng-interview saya, malah lebih banyak anda yang berbicara sendiri? Siapa sih nama Redaksi anda?

Interviewer: Lebih lanjut, pak.  Saya dengar, pihak Russia tidak akan memberikan alih tehnologi, kecuali jumlah volume pembeliannya ratusan unit? Sedang bapak kabarnya sedang dalam proses menegosiasikan pembelian berapa? 8 unit?

Bagaimana proses negosiasi-nya akan bisa selesai, pak?

Pejabat: (menghela nafas) Saya ulang, kami sedang MENGUSAHAKAN dengan Rosoboronexport, agar Su-35 memenuhi persyaratan ini.

Interviewer: Sekadar informasi, ya, pak. 

Sudah menjadi pengetahuan umum akhir-akhir ini, kalau pengalaman India dengan "alih tehnologi" dari Russia, tidaklah baik. Ini walaupun mereka sudah membeli 277 Su-30MKI, atau memenuhi persyaratan membeli ratusan unit. Alih tehnologi Russia kelihatan seperti setengah hati, untuk memastikan negara pembeli diperas habis-habisan.
Business Interest, 22-April-2014:
India harus membayar harga beli untuk 486 kg Titanium untuk forging hanya 15,9 kg komponen untuk di ekor pesawat. Atau titanum forging yang beratnya 27 kg, hanya untuk membuat bracket seberat 3,1 kg. Kelihatannya sih apa yang di-transfer hanya sebagian dari "remanufacturing" process. Ini bukanlah alih tehnologi dalam arti yang sesungguhnya, yang membangun untuk industri lokal. Dari berita yang lain juga menunjuk kalau Rosoboronexport sudah selalu memegang ekor dalam hal pemakaian, dan supply spare part di India selama puluhan tahun.
  • Apakah prosedur ”alih tehnologi”, dan produksi lokal semacam ini yang kita harapkan dari supplier? (Prosedur seperti ini mah, kita akan bangkrut duluan sebelum mendapatkan "sedikit" tehnologi.)
  • Apakah mungkin sudah ada studi kelaikan kalau fasilitas PT Dirgantara Indonesia sudah siap untuk bisa mendukung semua Sukhoi yang sekarang ada? 
  • Atau lebih baik lagi, apakah ada agen dari Rosoboronexport yang pernah mengunjungi fasilitas PT Dirgantara, untuk melihat kelaikan apa kita siap menerima alih tehnologi tersebut, atau tidak?
Pejabat: Jangan terlalu khawatir! Percayakan saja kepada kami, para pejabat, untuk memastikan kalau kepentingan Indonesia akan selalu didahulukan!

Interviewer: Rosoboronexport. Apakah bapak juga sudah mengetahui kalau Rosoboronexport sebenarnya adalah agen perantara resmi yang ditunjuak pemerintah Russia, yang menuntut komisi, dan mempunyai reputasi berkata A, tetapi mengerjakan B. 

Contohnya, kembali di India, yang memang mempunyai pers bebas memberitakan seadanya berita dari militer mereka. Pada tanggal 8-Agustus-2016 yang silam, Indian Express memberitakan kalau kerap kali si "perantara" Rosoboronexport sudah dibayar, tapi tidak mau mengantar apa yang sudah dibeli.
Link: Indian Express, 8-Agustus-2016
Pertanyaan saya:
Apakah anda, sebagai pejabat, dapat memastikan kalau hal yang sama tidak akan terjadi dalam hubungan supplier-customer antara Russia-dan-Indonesia?

Kembali, patut dicatat disini, India adalah customer Russia paling setia, yang sudah menghabiskan hampir $40 milyar selama puluhan tahun. Sedangkan kita, seperti saya sudah sebut sebelumnya, hanya akan menjadi customer kecil, yang anti-komunis, dan sudah menumpuk banyak hutang, baik secara politik, ataupun militer.

Pejabat: Sudahlah! Mari kita kesampingkan dahulu urusan UU no.16/2012 ini, dan spare part ini! Dan membahas efek gentar Su-35K ini. Saya yakin akan sepadan dengan "pengorbanan" yang harus kita lakukan.

Interviewer: Kemampuan efek gentar dari barang versi export downgrade? Apakah bapak seratus persen yakin?

Pejabat: Anda terlalu membesarkan masalah downgrade ini. Kita tahu, kalau kemampuan Su-35 kan sudah melebihi F-18, dan F-35. Efek gentarnya akan sangat terasa di kawasan ini, kalaupun akan ada sedikit pengurangan. 

Interviewer (Mencatat dalam nota sendiri): 
"Pemenuhan persyaratan UU no.16/2012, tidak pernah dianggap persyaratan mutlak dalam hal akuisisi Sukhoi.

Mengherankan. 
Kenapa terlalu banyak orang menginginkan kita menjadi pelanggan, dan bukan mengejar kemajuan industri lokal kita sendiri?"


"Efek Gentar" Sukhoi: Efek Gentar yang mana?

Credits: SkyRAIL

Interviewer: Mari kita membahas soal ”efek gentar” ini!
Anda tahu, bukan, kalau biaya operasional Sukhoi akan sangat mahal?

Pejabat: Memang benar. Tapi biaya operasional ini akan sepadan dengan hasilnya.

Interviewer: Apakah anda sudah mendapat angka yang jelas, biaya operasional ini kira-kira berapa?

Pejabat: Belum, tetapi mungkin kira-kira seperti Sukhoi di Sku-11.

Interviewer: Presiden Jokowi sebenarnya sudah memperingatkan kita pada 20-Juli-2016 yang silam. Berikut pernyataan beliau,


Tetapi anda berkata disini biaya operasional Sukhoi akan mahal, tetapi kita belum tahu berapa pastinya, bukan?

Kalau memang terlalu mahal dalam 20 tahun ke depan, bukankah ini akan melanggar persyaratan yang digariskan Presiden?

Pejabat: Seperti saya  sudah bilang, biayanya mungkin akan sama dengan Sukhoi Sku-11. Saya yakin Presiden tidak akan berkeberatan mengingat hasil ”efek gentar” yang akan kita dapat.



Interviewer: Baik, mari kembali ke “efek gentar” ini.

Taruh kata, mari berasumsi kita akan membeli sejauh ini berapa? 8 Su-35KI.

Pejabat: Kok bisa ada KI? Jangan asal menambahkan nama! Kita berbicara Su-35BM, atau Su-35S!

Interviewer: Su-35 Kommercheskiy Indonesia. Versi Kommersial, alias Versi Export Downgrade untuk Indonesia. Sekali lagi, pengurangan kemampuan senjata buatan Amerika, dan Russia adalah suatu pengetahuan umum.

Pejabat: 

Interviewer: Kembali, taruh kata kita membeli 8 Su-35KI

Saya mau bertanya, bagaimana caranya mendapatkan ”efek gentar” yang anda sudah sebut…. Saya hitung sudah lima kali anda sebut dalam interview ini?

Apakah pilot kita automatis akan dapat menguasai semua kemampuan Su-35KI sesuai dengan apa yang tadi kita bayangkan?

Misalnya, untuk BVR combat, dengan 12 missile, dan Thrust-Vectoring, seperti bapak sebut sebelumnya untuk dapat mengungguli kemampuan pesawat tempur negara tetangga?

Pejabat: Oh, ya, tentu saja tidak bisa sehari semalam. Pilot kita harus berlatih lebih banyak dahulu untuk dapat menguasai kemampuan Su-35BM.

Interviewer: Su-35KI

Pejabat: Iya deh, terserah. Su-35KI.

Interviewer: Disinilah biaya operasional mahal tadi akan mulai mengigit. Apakah anda berasumsi biaya operasional Su-35KI sama mahalnya dengan Su-27/30 Kommercheskiy di Sku-11?

Pejabat: Tentu saja. Bukankah lebih banyak Sukhoi, berarti nilai ekonomisnya lebih tinggi? Bahkan seharusnya, biaya operasionalnya lebih murah dong, dibandingkan angka.. Rp 400 juta yang disebut di tahun 2014.

Interviewer: Er.... anda tahu, bukan, kalau Su-35KI sebenarnya hanya kulit luarnya saja yang mirip dengan Su-27SK?

Dalamnya semua berubah total; komputernya berbeda. Radarnya akan memakai versi Irbis-E PESA, bukan radar pulse-doppler N001 seperti di Su-27SKM/Su-30MK2. Kita lihat dalam gambar ini; Su-35 juga tidak lagi mempunyai dorsal brake, seperti halnya Su-27/30.

Kemudian mesin. Mesin AL41F1 dengan 3-D thrust-vectoring, menurut Sukhoi, dengan daya dorong lebih kuat dibanding mesin AL-31F (Berbisik: Walaupun mungkin rating daya dorong untuk versi Kommercheskiy lebih rendah dari angka resmi 142kN, atau 31,900 lbf).

AL-41F1 lebih reliable? 
Brosur Sukhoi menyatakan tahan 4,000 jam.

Masa sih? Lebih rumit tapi bisa lebih reliable dari AL-31F?

Pejabat: Anda berbisik apa?

Interviewer: Tidak. Tidak ada apa-apa. Saya hanya mau menambahkan kalau mesin AL41F1 ini jauh lebih rumit dibandingkan mesin AL-31F di Sukhoi yang sekarang.

Seperti kita lihat, thrusternya bisa berubah arah. Aktuator untuk merubah arah daya dorong mesin AL-41F1 saja, sudah membuat mesin ini beberapa kali lipat lebih rumit dari mesin AL-31F, yang saat ini saja kita sudah tahu kalau jarang bisa tahan operasional lebih dari 1,000 jam. Ini saja sudah menambahkan ratusan part baru, yang akan harus diganti setelah operasional sekian jam. 

Pendapat awam saya, kelihatannya perawatan mesin AL-41F1 akan jauh lebih merepotkan dibandingkan mesin AL-31F. Kita tidak bisa yakin kalau pernyataan Sukhoi OKB mesin ini bisa tahan 4,000 jam akan benar, apalagi mengingat sejauh ini semua mesin Sukhoi, yang sudah diproduksi sejak tahun 1980-an, hanya tahan kurang dari 1,000 jam.

Pejabat: Jadi, apa yang mau anda sampaikan?

Interviewer: Biaya operasional Su-35KI akan jauh lebih mahal dibandingkan Su-27SK/SKM, dan Su-30MK/MK2.

Segala sesuatunya baru, dan produksinya sendiri baru dari ... tahun 2007. Dan sejauh ini, pabrik Knaapo Russia baru memproduksi 48 pesawat versi lokal untuk AU Russia sendiri, dalam proses memproduksi 24 versi export untuk China, dan mungkin sekitar 48 lagi versi lokal untuk AU Russia sendiri.

Sedangkan komponen untuk Su-27/30 mayoritasnya sudah diproduksi sejak tahun 1980-an. Jumlah produksi pesawat keluarga Su-27/30 versi tahun 1980-an ini juga sudah mencapai lebih dari seribu unit.

Kalau biaya operasional Sukhoi di Sku-11 saja bisa mencapai Rp 400 juta / jam; ini juga angka sebelum menghitung ”perbaikan mendalam” dari beberapa unit sejak tahun lalu....

Menurut bapak sekarang berapa guestimasi biaya operasional Su-35K, yang sama sekali baru, dan jumlah produksinya jauh lebih sedikit dibanding Su-27/30 warisan peninggalan industri jaman Soviet?

Pejabat: Er..... harga kira-kira, yah? Mungkin sekitar Rp 600 juta/jam.

Interviewer: Yang bener, pak?

Perkiraan saya sendiri, angkanya bisa melebihi Rp 1 milyar / jam. Termasuk komisi perantara yang bisa mencapai 20%, menurut Centre of Budget Analisis.

Pejabat: Apa angka estimasi anda ini nggak kemahalan?

Interviewer: Yah, pak? Masalahnya kan negara kita berencana hanya membeli 8 unit, karena itu biaya operasional Su-35KI, yang jauh lebih langka dibanding Su-27/30, akan jauh dari nilai ekonomis yang bisa dicapai negara lain.

Mari kita bertemu di tengah saja! Taruh kata biaya operasional Sukhoi Rp 800 juta/jam.

Sekarang saya mau bertanya, bukankah anda sebut tadi pilot kita akhirnya harus berlatih lebih dahulu untuk dapat mewujudkan ”efek gentar” yang diinginkan?

Pejabat: Benar. Lalu?


Interviewer: Standard NATO, seperti yang diikuti Singapore, dan Australia mengharuskan setiap pilot untuk dapat berlatih minimal 170 jam / tahun, masih ditambah ratusan jam latihan lagi di simulator.

Anda sudah menghitung berapa biaya yang akan dibutuhkan untuk mengejar jumlah latihan yang sama?

Mari kita turunkan sedikit angkanya untuk Su-35 menjadi, taruh kata 100 jam / tahun! (mengingat efek gentarnya kan gahar!)

Angka yang saya dapat menjadi Rp 80 milyar, atau Rp 640 milyar untuk 8 pesawat. 

Sedangkan F-18 Australia, dan F-15 Singapore, dengan biaya operasional, mari diasumsikan sekitar $20,000/jam, akan mendapat angka Rp 54 milyar untuk 170 jam latihan, atau total Rp 870 milyar untuk latihan 16 pesawat (1 skuadron).

Anda tidak melihat kalau ini saja sudah timpang sebelah?

Australia, dan Singapore anggaran militernya jauh lebih besar dibandingkan Indonesia, tetapi kita malah membayar biaya operasional lebih mahal dibandingkan mereka?

Semua pilot dari kedua negara tetangga kita akan dapat mengumpulkan 70% lebih banyak jam terbang. Tentu saja, kita hanya mempunyai 8 pesawat, sedang mereka hanya perlu menambah sedikit untuk melatih satu skuadron penuh (16 pesawat).

Logika saja, pak. Biasanya sepanjang sejarah, pilot yang jauh lebih terlatih, dan jauh lebih berpengalaman, akan selalu memenangkan pertempuran udara.


Pejabat: Yah...... Tapi kan Su-35 kemampuannya jauh lebih unggul dibanding F-15, dan F-18 mereka?

Interviewer: Su-35KI kemampuannya dapat dipastikan akan lebih rendah daripada versi S milik AU Russia, pak!

Selama ini, semua serba-serbi kemampuan Su-35 yang dibahas di semua media Barat, adalah berdasarkan Su-35S, bukan Su-35K, ataupun versi yang lebih inferior, Su-35KI.
  • Bapak sendiri belum tahu, bukan, seberapa jauh versi export Indonesia akan di-downgrade?
  • Bagaimana bapak bisa yakin kalau kemampuan Su-35KI pasti akan lebih hebat daripada F-15, atau F-18?
Pejabat: ...


Interviewer: Belum apa-apa saja, kita sebenarnya sudah menembak kaki sendiri dengan memastikan kalau pilot kita akan kurang latihan dibanding pilot Australia, dan Singapore.

Kalau masih belum cukup disana, Singapore, dan Australia sebenarnya melatih pilot pesawat tempur mereka untuk beroperasi sebagai bagian dari satu sistem yang terpadu. Networked, dan didukung pesawat AEW&C (Airborne Early Warning & Control), pesawat tanker, pesawat Signal intelligence, dan tambahan untuk Australia, EA-18G Growler Jammer yang dapat membungkam semua sistem komunikasi, dan radar kita.

Tidak seperti negara kita, pilot, dan staff kedua negara tetangga ini, sebagai tolok ukur yang perlu dilampaui, sebenarnya jauh lebih rajin untuk berpartisipasi dalam latihan mancanegara, terutama Red Flag di United States, yang boleh dibilang paling bergengsi dewasa ini. Disana pilot-pilot mereka dapat mengasah kemampuan, dengan mengadu hebat dengan pilot-pilot negara-negara NATO yang lain, dan mendapatkan training regime, yang mustahil bisa kita dapat dari Russia.

Pejabat: Ah, saya yakin, kita akan mendapat regime training yang cukup baik dari Russia agar dapat menggunakan Su-35 dengan baik!

Interviewer: Nah, ini dia, pak! Kita memasuki subyek yang berikutnya, yang lebih penting lagi.

Su-35S milik AU Russia saja, sebenarnya BELUM PERNAH di tes dalam latihan untuk bisa mengalahkan.... taruh kata F-16 NATO. Boleh dibilang, dewasa ini, tidak ada satupun pilot Russia yang pernah punya pengalaman untuk dapat mengalahkan F-16 (yang terlalu sering dipandang remeh!).

Tahun lalu, artikel di Defense News, dan Moscow Times, yang mengutip beberapa sumber di Moscow sudah mengungkapkan kalau jam latihan pilot di AU Russia sebenarnya tidak karuan.

 Defense News, 15-Juli-2015:
Operational Tempo, Sustainment Flaws Hit Russian Air Force
Moscow Times, 14-Juli-2015:
"6th Russian Air Force crash raised concerns over Aircraft safety"


Laporan Air Safety Network membenarkan faktor kurang latihan pilot Russia; mereka sebenarnya sudah mengalami jauh lebih banyak kecelakaan dalam dua tahun terakhir dibandingkan TNI-AU sejak 2007.

Nah, sekarang sebenarnya lebih repot lagi. Pendapatan Domestik Bruto Russia sudah ambruk 40% sejak 2013, akibat ketergantungan pada export minyak mentah. Anggaran pertahanan Russia diperkirakan akan menukik tajam dalam beberapa tahun ke depan. Secara tak langsung, efeknya akan terus mengurangi jam terbang pilot, dan faktor latihan Russia.

Menurut pendapat awam saya sih, kelihatannya mereka sendiri masih harus banyak belajar sendiri dulu untuk mengejar ketinggalan (dari negara-negara NATO, Australia, dan Singapore), sebelum bisa menjadi guru yang baik ke Indonesia.

Kelihatannya sih, bahkan pilot AU Russia yang paling terlatih sekalipun, belum tentu mempunyai kemampuan untuk mengalahkan F-15, F-16, atau F-18 NATO, yang sudah berlatih secara reguler sebanyak ratusan jam per tahun, dengan sistem training yang lebih rapi, dan pesawatnya dapat dipersenjatai dengan jauh lebih baik.

Bagaimana anda bisa memastikan kemampuan Su-35KI Versi Export Downgrade, akan dapat mengimbangi pesawat tempur negara tetangga?




Pejabat: (Keringat dingin) Iya, tapi kan…. Su-35 bisa thurst-vectoring...!

Interviewer: Saya punya satu percobaan sederhana untuk thrust-vectoring.

Ini, saya akan melipatkan pesawat terbang kertas. Sekarang kalau saya lempar ke depan; apa yang terjadi?

Pesawat tersebut terbang dengan indahnya, bukan?

Ketika kita melempar, kita menciptakan Forward Thrust dalam dunia penerbangan. Thrust menciptakan Lift, atau daya angkat ke sayap si kertas, dan karena itu dia dapat terbang dengan indahnya.

Hukum Fisika pesawat terbang: Tidak bisa dilawan!
Sekarang saya akan memberikan pesawat kertas ini ke bapak, dan cobalah lempar dengan arah mengeyamping, atau ke atas!

Pejabat: (melempar si pesawat kertas ke arah samping; si kertas jatuh) Yah, pesawat kertasnya jatuh ke bawah dong!

Interviewer: Bapak sebenarnya sudah melakukan simulasi dari apa yang disebut Thrust-Vectoring.

Mengubah arah dorong mesin, untuk cepat merubah arah moncong pesawat, sebenarnya menghilangkan Forward Thrust, dan gaya LIFT di sayap!

Sukhoi yang melakukan TVC, akan kehilangan energy kinematis. Hilang kecepatan, dan kehilangan lift. Dalam beberapa detik ini, Sukhoi sebenarnya akan menjadi bebek tak berdaya, yang siap dibantai pesawat non-TVC!

Pejabat: Tapi... tapi... tapi?

Interviewer: Yah, memang bukan berarti pesawat TVC akan selalu kalah. Tetapi seperti kita bahas sebelumnya, pilot kita akan membutuhkan banyak jam terbang latihan untuk dapat menguasai pesawatnya, bukan?

Pilot Typhoon RAF Inggris pernah menyebut untuk artikel Business Insider ini, bagaimana pengalamannya berhadapan dengan Thrust-Vectoring F-22:

"F-22 bisa Thrust-Vectoring; Typhoon tidak. Apa yang dapat dilakukan F-22, itu sangat menakjubkan! Typhoon tidak dapat melakukan hal yang sama!"

"Akan tetapi, Thrust-Vectoring dalam beberapa detik akan mengubah pesawat tempur menjadi seperti kaleng yang jatuh dari langit; sama sekali tidak berdaya. Hal ini membuatnya menjadi mangsa empuk bagi pesawat (non-TVC), yang masih menyimpan banyak momentum energy!"

Dengan biaya operasionalnya terlalu mahal, pilot kita akan kesulitan menguasai Sukhoi. Hanya dalam beberapa tahun, Sukhoi hanya akan berubah menjadi penyedot uang rakyat, sebelum pilot kita dapat menghasilkan ”efek gentar” yang selama ini dicari (Berbisik: dan sebenarnya tidak pernah bisa terkejar dengan Versi Export downgrade).


Pejabat: Anda terlalu banyak bergumam! Dalam BVR, Sukhoi masih bisa membawa 10 – 12 missile untuk BVR, dengan bermacam-macam seeker!

Interviewer: Apakah bapak sudah melihat website resmi Tactical Missiles Corporation JSC, yang menampilkan beberapa jenis missile yang dijual Russia ke negara lain. Bapak bisa melihat sendiri daftar persenjataan yang mereka jual disini?
Tactical Missiles Corporation JSC
Link:
http://eng.ktrv.ru/production_eng/323/503/

Pejabat: Cilaka! Semua missile yang dijual Russia, ternyata juga hanyalah versi export downgrade, yah? RVV-AE (izdeliye-190), hanyalah versi export dari R-77 (izdeliye-170). 

Untuk jarak dekat hanya ada R-73E? 

Wah, bukannya seharusnya AU Russia sudah memakai R-74? Kok tidak ada dalam daftar?
Interviewer: Itulah dia, pak! Russia selalu hanya menjual persenjataan versi export downgrade. Apa yang terbaik, mereka simpan untuk dipakai sendiri.

Link:
War-is-boring:
That's weird - Russia's best fighters are still flying with crappy missile
Semua Sukhoi AU Russia sendiri tidak pernah terlihat memakai R-77, melainkan selalu membawa R-27. Rosoboronexport-nya sih rajin menjual RVV-AE, yang adalah versi export downgrade dari R-77, yang kemampuannya lebih rendah. Russia sendiri saja tidak memakai RVV-AE.

Kalau belum cukup parah, development active seeker Agat-1348M untuk versi izdeliye-170 (R-77), seperti dalam artikel Tom Cooper, yang sudah diterjemahkan disini; sebenarnya tidak pernah selesai. Sedangkan RVV-AE sudah dijual dengan Agat-1348E seeker versi export. 

(Versi export, dari produk yang belum selesai? Lemon!)

Untungnya, Indonesia sendiri, sejauh ini baru membeli 25 missile versi export ompong ini. 

Credits: Sputnink News
Su-30SM di Hmyemim AB, Syria:
Dalam situasi konflik yang sangat panas, Russian AF hanya mempercayai dikau,
"the crappy" R-27 missiles (Link: War-is-boring)

Buatan pabrik Artem, Kiev, Ukrania;
yang sekarang sudah meng-embargo Russia.


F-16AM MLU Belgia mencegat Su-27S di atas Baltic, Mei-2016:
Seperti biasa, hanya membawa R-27, dan R-73
(Gambar: Belgian AF)

Percobaan Bunuh diri?
Kalau masih memakai Semi-Active Homing Seeker untuk BVR combat Abad ke-21
melawan F-16 NATO
Inilah kenapa gambar BVRAAM terkenal dari Ausairpower, sebenarnya hanya mitos. Hampir semua BVR missile buatan Ruski, developmentnya tidak pernah selesai.

Ralat ke gambar BVR missile Ausairpower:
  • Untuk versi Export, hanya RVV-AE (izdeliye-190), dan R-27 yang tersedia.
  • AU Russia sendiri tidak pernah membeli R-77 (izdeliye-170) dalam jumlah besar, karena development-nya belum selesai.
  • Development untuk R-172 Novator, R-37 tidak pernah selesai, dan seperti biasa, tidak akan tersedia untuk export.
  • R-77 Ramjet? Tidak akan ada kelanjutannya; Active-seeker untuk R-77 saja belum selesai.
Apakah anda sendiri ada rencana untuk membeli ratusan missile untuk memenuhi persyaratan ”efek gentar” yang anda sebut tadi dengan 10 – 12 missile per pesawat?

Pejabat: (mencelos) Belum ada. Memang kami rajin merencanakan membeli pesawat tempur, tapi kurang ada upaya untuk membeli lebih banyak missile. 

Untung juga, yah, karena anda memberitahukan RVV-AE ini sebenarnya missile versi export yang kemampuannya…. super inferior.

Anda benar. 
Kebanyakan kemampuan BVR Ruski ternyata hanya cerita dongeng, yang digembar-gemborkan oleh kedua penulis tercinta: Peter Goon, dan Carlo Kopp.

Mungkin memang lebih baik kita membeli AIM-9X Block-2, dan AIM-120-C-7 saja yah, untuk mempersenjatai F-16 Block-25+. Gitu-gitu, Amerika ndak menjual senjata versi export, dan export license kita sudah lumayan tinggi tuh!

Interviewer: (memperingatkan) Pssst... anda sudah mulai break karakter! 

Pertanyaan terakhir: anda sering menyebut Su-35 bisa ini-itu, tetapi apakah anda memperhatikan, sebenarnya sejak tahun 2007, pesawat ini tidak pernah mendapat upgrade?

Pejabat: Lalu masalahnya apa? Kan sudah canggih?

Interviewer: Semua pesawat tempur buatan Barat tidak pernah berhenti berevolusi, pak. Tidak seperti buatan Russia, setiap beberapa tahun selalu mendapat upgrade secara reguler.

Kita mengambil contoh dari ketiga Eurocanards saja. 

Di tahun 2007, belum ada yang diperlengkapi AESA radar, standard baru di Abad ke-21. Dewasa ini, Dassault Rafale menjadi yang pertama yang memasang AESA, dan mengembangkan tehnologi Sensor Fusion. 

Eurofighter sudah mengetes, dan secara bertahap akan memulai upgrade radar ke CAPTOR-E AESA.

Saab sudah membuat Gripen generasi terbaru, dengan AESA, IRST, dan IFF Sensor Fusion, dengan kemampuan supercruise. Mereka juga baru saja mengaplikasikan MS-20 upgrade ke Gripen-C/D, untuk menambah kemampuan menembakkan MBDA Meteor, dan peningkatan kemampuan deteksi / tracking untuk radar PS/05.

Lebih penting lagi, ketiga Eurocanards akhirnya akan dipersenjatai dengan MBDA Meteor, missile yang tidak ada tandingannya baik buatan US, atau buatan Russia. Saat ini Saab Gripen-C MS-20 berada di posisi terdepan untuk mengoperasikan missile “pembunuh Sukhoi” ini.

Sedangkan Su-35? Sejauh ini, untuk versi S-nya saja, saya sih belum mendengar sudah menerima upgrade apapun. Ruski memang tidak mempunyai kebiasaan untuk melakukan upgrade secara bertahap ke pesawat tempur mereka.
Nyet! (Bahasa Russia: Tidak ada!)

Bukankah resikonya jadi luar biasa besar, kalau kita hanya akan membeli pesawat tempur yang sudah ketinggalan jaman? Apakah anda yakin dapat "mengimbangi" tetangga?

"Pejabat": Benar juga, yah? Kelihatannya sejauh ini, industri Russia belum berhasil membuat AESA radar. Su-35KI masih akan memakai radar single-frequency PESA, dan seperti anda sebut, kemungkinan juga akan di-downgrade.

Kalaupun Russia akhirnya berhasil membuat missile K-77-M, atau K-77-PD seperti selama ini digembar-gemborkan, kelihatannya juga tidak akan tersedia untuk export.

Aktor "Interviewer": (tertawa) Wah, anda sudah break character. Sudah saatnya menghentikan interview ini!

Aktor "pejabat": Ah! Kapok guwe. 

Lain kali, mestinya guwe yang jadi interviewer, loe yang jadi pejabat! Guwe kasih nama loe pak "Aji Mumpung"! Biar interview-nya lebih gampang!

(Tertawa Bersama)

Catatan Akhir:
Efek gentar Su-35 Kommercheskiy itu TIDAK MUNGKIN tercapai, 
alias 100% NIHIL.

  • Tidak pernah ada studi kelaikan untuk operasional di Indonesia. Testing secara formal juga tidak pernah dilakukan
  • Versi yang dijual adalah Versi Export Downgrade, demikian juga persenjataannya.
  • Persyaratan partisipasi industri lokal, dan alih tehnologi sesuai dengan UU no.16/2012 dapat dipastikan tidak akan ada.
  • Biaya operasionalnya akan sangat mahal, memastikan kalau pilot kita akan kurang Training.
  • Tidak; dengan persenjataan yang tidak teruji, Su-35KI tidak akan dapat mengalahkan bahkan F-16 Block-25+ hibah, apalagi pesawat negara tetangga, yang pilotnya jauh lebih terlatih.
  • Sukhoi tidak pernah mendapat incremental upgrade sejak 2007. Kalaupun ada, belum tersedia untuk Versi Export.

Pertanyaannya:
Kenapa masih ada yang menginginkan Su-35KI?

27 comments:

  1. admin, ada berita beredar tentang serangan udara Israel ke pangkalan udara Suriah di Damaskus, bukannya Suriah itu arhanudnya lumayan canggih ya, kan dia ada S-300, Pantsyr-1,Buk kok bisa lolos sih ? ada yang analisa karena permasalahan geografi ketutup gunung, ada yang bilang teknologi Russia itu sebenernya terlalu overrated. itu sebenernya kenapa sih ? rumor2 katanya BAMSE/RBS-23 sudah diminati arhanud juga salah satu calon ksau baru lebih condong orientasi AU ke arah Standar NATO, berarti tinggal antara F-16 Viper atau Gripen, peluangnya kuat mana sih ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. o iya admin, rumor2 katanya AEWC Erieye kandidat terkuat dibandingin AEWC lain kayak Wedgetail, terus kok ada yang ngomong tentang 4 skuadron pespur workhorse yang 2 nya udah direserve buat F-16 viper masak iya sih, itu rumor fake news atau betulan ?

      Delete
    2. ## Bagaimana caranya merobek sistem pertahanan SAM buatan Ruski?

      Tanyakan saja ke Israel.
      Mereka memang sudah dikenal mempunyai 1001 macam cara utk mempercundangi sistem missile Ruski jenis apapun juga, dan mereka akan memastikan beberapa langkah di depan kemajuan sistem Ruski, baik versi lokal, ataupun export.

      Mereka memang sudah sering membom target di sekitar Damascus dalam beberapa tahun terakhir, dan kabarnya salah satu fasilitas nuklir rahasia Syria beberapa tahun yg lalu.
      Semuanya tanpa perlawanan, atau tanpa bisa tersentuh.

      S-300 atau S-400 tidak akan bisa merubah hal ini.

      Inilah salah satu faktor X, kenapa kita justru harus menjauhi Alutsista buatan Ruski, yg sudah pernah "dihabisi" Israel.

      ## F-16V vs Gripen?

      Mudah.
      Versi Export Downgrade, yg segala sesuatunya sudah dikunci (tapi sudah terbiasa), atau pespur Full-spec, fully-networked, yg dapat mengoperasikan MBDA Meteor (tidak ada tandingannya), RCS-nya 10x lebih kecil, biaya op-nya akan 30% lebih murah, dan dapat dioperasikan dari lanud perintis dengan investasi minimal?

      Sensor Fusion Gripen-E kemampuannya akan jauh lebih terjamin vs AN/APG-83 downgrade utk F-16V Block-72ID.

      Kalau mau memenuhi persyaratan UU no.16/2012, memang kita harus memilih Gripen.

      30 tahun mengoperasikan F-16, kita hampir tidak mendapat apa2 dari segi alih tehnologi kok, sedang partisipasi industi lokal utk membuat spare part F-16 masih cukup kecil.

      Lebih bagus lagi, pengembangan industri pertahanan lokal, seperti digariskan dalam UU no.16/2012, adalah salah satu prioritas utama Pemerintahan Jokowi.

      Delete
    3. Untuk pesawat AEW&C, sebenarnya tidak ada pilihan.

      United States tidak pernah menawarkan AEW&C ke Indonesia, dan kalaupun ada tawaran.....
      Kembali, versi export downgrade, yg kemampuannya akan beberapa tingkat dibawah Australia.

      Delete
  2. Seorang mantan test pilot senior PT.DI menuliskan dalam blognya (akhir 2015) yang menyayangkan matra udara tidak mau berinvestasi mengirim pilotnya ke sekolah test pilot ternama, padahal negara2 tetangga kita tiap tahun mengirimkan pilot2nya menempuh pendidikan test pilot...jadi tidak mengherankan kalo mau beli pesawat/heli hanya berdasar iklan atau joy flight oleh pilot yang tidak memiliki kompetensi sbg test pilot (seperti foto-foto yg dimuat disalah aplikasi dumay)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah, bung hari.

      Kebanyakan investasi re alutsista, khususnya disini alutsista udara, seringkali prioritasnya salah tempat.

      # Lebih mementingkan faktor "wah!" beli pesawat tanpa banyak research, daripada memikirkan investasi kemampuan pilot, staff pendukung, dan sustainability pemeliharaan / industri pendukung dalam jangka panjang.

      # Lebih penting banyak pesawat tempur agar "menggentarkan", katanya, tetapi jumlah persenjataan / perlengkapan serba minimalis, dan seperti diatas, investasi training juga tebengkalai.

      Pikir ya kalau sudah beli, sudah pasti hebat. Tinggal cuci tangan, karena yg penting sudah kebeli, sedang masa jabatan saya toh cuman beberapa tahun ini.

      # Lebih baik beli gado2 dari berbagai sumber, agar "kebal embargo", katanya; daripada berinvestasi untuk membangun sistem pertahanan yang rapi, dan terintegrasi, yg didukung industri pertahanan yg lebih berdikari, Transfer-of-technology secara utuh, dan kemampuan berinovasi lepas dari campur tangan supplier.

      Lebih penting aksi, daripada nasi;
      Kesenangan sesaat dengan bermabuk2an malam ini, daripada berinvestasi jangka panjang membangun sistem yg sustainable selama beberapa generasi ke depan

      Delete
  3. admin, tahun 2016 Pindad kan teken MOU buat life extension upgrade ke RBS-70 Mk.2 juga baca baca katanya ada kerjasama joint production RBS-70 NG, apa betul 2 tahun dari sekarang kita udah bisa buat misil arhanud SHORAD kita sendiri? emang sih sekalanya masih SHORAD tapi bermakna sekali kalau akhirnya kita bisa bikin misil kita sendiri apalagi kalau berlanjut ke skala SR-SAM kayak RBS-23/BAMSE

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang, bung Thomas.

      PT Pindad sudah menandatangani kerjasama dengan Saab, untuk membangun sistem SHORAD berbasiskan RBS-70.

      Kalau mau membuat missile sendiri, kelihatannya masih terlalu jauh.

      Bagaimana agar persenjataan yg sudah dibeli, dapat dimanfaatkan dalam satu sistem yg lebih rapi, dan lebih terpadu sebenarnya adalah prioritas yg lebih penting, dibandingkan "mencoba membuat sendiri".

      Contoh:
      Banyak negara, termasuk Indonesia, kan mengoperasikan F-16.
      Tetapi kenapa tidak akan ada satupun juga negara yg mampu bersaing (termasuk United States) dengan kemampuan F-16 Israel?

      Karena walaupun F-16 Israel juga versi export, mereka dapat memakainya lebih baik dibanding semua negara lain. Better system, better training, more experience.

      Pelajaran disini:
      Hanya sekadar bisa membeli jenis alutsista tertentu, bukan berarti bisa mendapat kemampuan untuk memakainya lebih baik dari negara lain.

      Asal punya uang sih, semua negara bisa membeli apapun juga seenaknya.
      Tetapi, apakah bisa memakainya dengan baik?

      Disinilah juga menjadi contoh, kenapa argumen membeli / mengoperasikan Sukhoi itu menjadi sangat tidak relevan.

      Delete
  4. Bung gi.. Menurut bung gi dengan dilantiknya ksau yg baru oleh presiden jokowi, apa nantinya setiap pengadaan alutsista akan transparan seperti apa yg dikatan ksau pada pelantikannya.. Dan seperti apa sosok marsekal hadi tcahjanto ini menurut bung gi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung tutus,

      Sy tidak akan membuat komentar ttg pejabat manapun. Siapapun juga.

      IMHO, pada akhirnya rakyat yang akan bisa mengambil kesimpulan sendiri,
      berdasarkan tindak-tanduk, dan keputusan2 yg diambil setiap pejabat selama masa mengemban tanggung jawab yg sudah diberikan.

      Delete
  5. Min, saya melihat di Instagram bahwa kokpit Gripen C dan Eurofighter hampir sama, namun saya mendapat info bahwa kokpit Gripen E punya Brazil akan berbeda. Apakah mimin bisa menjelaskan perbedaannya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. FAB Brazil memang meminta customisasi khusus untuk Gripen-E mereka.

      Satu layar LCD besar memanjang seisi cockpit, sama seperti yg sudah diaplikasikan ke F-35.

      Tentu saja ini sudah menambah harga beli / produksi / alih-tehnologi 36 Gripen mereka.

      Gripen-E standard akan membawa 3 layar LCD, kelihatannya akan meneruskan legacy dari Gripen-C/D.

      Gambar publikasi resmi untuk cockpit Gripen-E belum terlihat, dan kemungkinan belum akan di-finalisasi sampai unit ketiga (39-10) selesai diproduksi.

      Delete
  6. Admin, saya baca menurut wakil asisten perencanaan KSAU Marsma Arif Mustofa, pengganti Hawk 100/200 kemungkinan mengerucut tinggal 2 antara Gripen atau F-16 Viper juga pengganti F-5 katanya mau pespur standar NATO jadi kandidat terkuatnya tinggal Gripen atau F-16 Viper, menurut admin apa mungkin Lockheed Martin bakal ngeluarin lobi-lobi politik kotor yang bakal ngaruhin rencana MEF kita ? kalau gak salah pernah ada yang cerita Lockheed Martin itu kayak mafia, banyak main kotor manalagi ada yang bilang kalau kita beli F-16 Viper katanya US mau memperlancar urusan KFX/IFX itu janji bohongan atau bagaimana sih menurut admin ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Thomas,

      Tentu saja, si penjual versi Export United States akan berusaha bermain kotor.

      Resepnya: Very generous offset
      Bisa melampaui 100% dari nilai transaksi agar F-16 model downgrade mereka terbeli.

      Mereka sudah sering mengaplikasikan permainan yg sama untuk menyabotase penjualan Gripen.

      Sayangnya sampai kapanpun, aturan ini tidak akan pernah bisa berubah:
      United States does not share military technology to Indonesia.

      Berapapun yang di-share, akan selalu dihitung terlebih dahulu, agar tidak melebihi Australia, Singapore, dan sekurangnya Malaysia / Thailand.

      Tidak akan pernah ada paket "Transfer-of-Technology" yang lebih mendalam, dan secara jangka panjang, yang sudah ditawarkan Saab, untuk bekerja sama, tidak hanya dengan PT Dirgantara Indonesia, tetapi semua sektor industri pertahanan lokal.

      Pertanyaannya selalu menjadi mudah:
      Mau menerima sogokan Washington DC, atau mau membangun kemampuan industri pertahanan lokal sesuai UU no.16/2012?

      ## Untungnya, pernyataan tsb menunjuk kalau kita juga semakin merapat ke Saab!
      :D

      Delete
  7. ane dengar kabarnya F16 mau datang tahun ini. menurut kasau yg baru dilantik ketika berbicara tentang sku14. f5e tigernya nanti akan diremajakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Eki,
      Memang proses regenerasi dari 24 F-16 Block-25+ belum selesai.

      Lockheed masih behutang delivery untuk 10 (atau 11) unit lagi sampai tahun 2017.

      Seperti sudah dibahas sebelumnya, sebenarnya secara tehnis ke-10 F-16 yang masih akan datang ini sudah menggantikan F-5E/F, yang tempo hari memang hanya tertinggal 10 unit yg masih operasional.

      Inilah kenapa kita tidak akan membutuhkan pespur baru, sampai sekurangnya 2020-an.

      "Baru menerima delivery, bukan automatis langsung bisa!"
      Pilot kita harus meluangkan waktu berlatih dahulu beberapa tahun dengan ke-24 F-16 Block-25+, dan juga belajar memakai Sniper, AIM-9X, dan AMRAAM.
      Semuanya kemampuan baru yg tidak pernah bisa didapat sebelumnya.

      Kalau masih mau meremajakan F-5E sih, sepertinya sudah agak telat untuk mencoba diaplikasikan di tahun 2017.

      Proses MLU, seperti F-16, tidak hanya untuk memperpanjang umur, tetapi juga untuk modernisasi / meng-upgrade semua perlengkapan yg ada.

      Dalam hal ini, karena faktor umur, upgrade option untuk F-5E/F boleh dibilang sudah semakin terbatas.

      Faktor lain yg harus siperhitungkan:
      Brazil, dan Switzerland adalah dua pengguna terbesar F-5E/F yang masih aktif, dankeduanya juga sudah mulai memasuki tahap memikirkan pengganti.

      Dengan sendirinya, market untuk upgrade F-5 juga akan menyusut, dan karena itu harganya akan menjadi lebih mahal.

      Delete
  8. Bung gi.. Ada kabar bahwa menhan deal akan membeli A400 5 biji.. Benarkah berita itu..? Seandainya benar tot apa yg akan diberikan airbus bung gi..?

    ReplyDelete
  9. Admin barusan di Janes.com, Indonesia beli A-400M 2 milyar USD dari Airbus, kayaknya sebenernya dari PT.DI lebih suka kita kerjasama dengan Eropa ngelihat rekam jejak produk pesawat sama helikopter kita sama Eropa, pro-contra nya apa sih dibandingkan C-130

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @tutus, bung @thomas,

      Sy baru melihat artikel Jane's ini.
      Penulisnya Ridzwan Rahmat, Singapore.

      Sebenarnya artikel ini sendiri agak "mengherankan", karena sudah mendahului bahkan semua media massa resmi lokal, dan meng-klaim kalau Komisi I DPR sudah menyetujui.

      Apa yang terjadi?

      Sebenarnya beberapa sumber berita militer (tidak hanya Jane's) dalam 2 - 3 tahun terakhir ini, boleh dibilang mulai berubah.

      Terlalu banyak yg senang menyebar "berita gosip" -- kontrak belum ada; pembicaraan saja mungkin masih baru tahap awal, tetapi sudah menyatakan:
      "Pemerintah A, atau B, akan membeli senjata model ini-itu!"

      Kita tunggu saja konfirmasi lebih lanjut.

      IMHO, kita tidak membutuhkan Airbus A400M.

      Pembicaraan mau membeli A400M saja sudah lama bungkam sejak Agustus-2016.
      "menginginkan" membeli, tetapi tidak ada pembahasan lebih lanjut.

      Kita bisa mengembalikannya sama seperti dalam argumen di artikel ini:

      ## Apakah selama ini sudah ada studi kelaikan A400M cocok untuk Indonesia? Dimanakah A400M akan memenuhi kebutuhan?

      ## Apakah sudah ada tim Indonesia yg mempelajari pesawat ini berbulan-bulan, sebelum memberi masukan balik ke pemerintah, kalau pesawat ini ternyata sesuai kebutuhan?

      ## Kali ini paling tidak, PT Dirgantara Indonesia disinggung masuk; tetapi kembali, sepertinya tidak pernah ada studi kelaikan apakah fasilitas PT DI akan siap mendukung produksi, atau alih tehnologi A400M.

      ## Tidak hanya harga beli, dan support equipment; berapa biaya operasional-nya dalam siklus hidup 20 tahun ke depan?
      Masalahnya,
      A400M ($200 juta) akan jauh lebih mahal dibanding C-130J ($65 juta)

      Kita tunggu saja konfirmasi berita lebih lanjut.

      IMHO, seperti sudah di-post-kan sebelumnya,
      dalam artikel: Kita tidak lagi membutuhkan pengganti F-5E.

      ## Dalam keadaan ekonomi sekarang, perbelanjaan alutsista "mewah", yang kurang diperlukan seperti ini tidak akan disetujui Pemerintah.

      ## Bicara soal alternatif; kita baru saja mendapatkan 9 unit hibah C-130H dari RAAF Australia.

      Kenapa tiba2 sudah membutuhkan pesawat transport, yang ukurannya lebih besar lagi, dan biaya operasionalnya jauh lebih mahal?

      ## Terakhir.... A400M sebenarnya development-nya masih belum 100% selesai. Proyeknya sudah agak terlambat, Airbus sudah menanggung banyak kerugian, dan pesawatnya masih belum 100% tokcer.

      Sbnrnya sy akan menulis artikel pelajaran dari A400M mengenai kenapa "membuat pesawat sendiri" tidaklah mudah; bahkan walaupun kemampuan industri Airbus sudah memenuhi syarat.

      Delete
    2. admin, ada yang saya jadi bingung itu kan harga per unit 200 juta USD tapi di Janes.com totalnya padahal cuma 5 kok jadi 2 billion USD / 2 milyar USD. ini mahal dibagian mananya ToTnya, persiapan infrastruktur PT.DI atau bagaimana ? terus kan di MEF-2 diproyeksikan pengganti F-5 E, pesawat angkut berat, pesawat AEWC, arhanud jarak menengah, pesawat tanker dan ancang-ancang pengganti Hawk 100/200.Menurut admin pesawat tanker apa yang cocok buat TNI-AU KC-130 J atau A-330 200 MRTT

      Delete
    3. admin, di neutralnews.com disebut KSAU Hadi Cahyanto bilang pengganti F-5 harus " transparan dan jelas ", diantara kandidat mulai dari Su-35, Dassault Rafale, F-16 Viper, Jas-39 Gripen. dibilangnya cuma Gripen yang " jelas mekanisme ToT dari awal sampai akhir " apa ni pertanda ya admin, sekaligus pengganti Hawk 100/200. 3 skuadron Gripen + AEWC Erieye + National data link. itu rumor aneh tentang Su-35 udah fix jadi penggantinya pake skema dagang terus pake ngomong tinggal menunggu tanggalnya apaab tuh

      Delete
    4. Harga di Jane's lebih mahal dari sekadar menghitung harga per unit, karena angka yg harus dimasukan adalah pengeluaran tetap Initial Provision Package.

      Termasuk dalam IPP adalah biaya investasi infrastruktur, kontrak perawatan (minimum 2 tahun), initial spare part, dan initial training utk pilot / semua support staff.

      Kembali, IMHO, kita sebenarnya tidak membutuhkan A400M, karena:

      ## Memangnya 9 C-130 hibah Australia yg baru tiba masih belum cukup?

      # Kedua, hanya membuat armada transport kita menjadi semakin gado2. Ini akan menyulitkan training, dan operasional; walaupun A400M masih sama2 buatan Barat.

      # Terakhir, Biaya operasional hanya untuk 5 unit, tentu saja juga akan melompat 50 - 80% lebih mahal dibandingkan di Eropa.

      Kelihatannya sih, kembali akan ada skandal baru seperti kasus AW-101 bulan lalu.

      =========
      Untuk pesawat tanker; baik KC-130J, atau.. apalagi Airbus A330 (KC-30) kelihatannya akan terlalu mahal, dan tidak akan ekonomis dari segi pemakaian.

      IMHO, lebih baik antara 2 pilihan:

      # KC-130F beli bekas yg sudah dimodernisasi, dan melalui proses perpanjangan umur.
      Prioritas disini untuk commonality dengan armada C-130 yg sudah ada, agar training / perawatan / spare part lebih mudah.

      Atau...

      ## KC-295, yang sekarang sedang diuji coba Airbus --- bisa diproduksi sendiri di PT DI.

      Kalau kita akan mengoperasikan Gripen sih, KC-295 kapasitasnya sudah mencukupi.

      =======
      Renstra versi skrg sih kelihatannya masih terlalu banyak "keinginan", terutama dalam mengejar target angka yg operasional, tapi tidak ambil pusing:

      ## Biaya siklus hidup masing2 tipe 20 - 30 tahun ke depan. Semakin gado2, tentu biaya operasional akan melunjak terus.

      ## Sejauh mana semua industri lokal akan dilibatkan untuk mendukung? Masa senangnya cuma beli import?

      ## Kesiapan terbang / tempur.
      Membeli 10 pesawat, bukan berarti automatis 10 pesawat selalu siap terbang.
      Kalau 8 Sukhoi rongsokan sih = hanya akan ada 2 - 4 yg siap terbang dalam 5 tahun pertama.

      ## Training pilot, dan staff yg akan membutuhkan dedikasi tinggi, dan waktu bertahun2.

      ## Terakhir, yang paling penting: tidak pernah ada prioritas untuk membangun Sistem Pertahanan yg modern, dan tahan banting.

      Tanpa adanya sistem, dan training, membeli sebanyak apapun senjata / pesawat hanya seperti membuang uang ke laut.

      Delete
    5. Bung Thomas,
      Untuk masalah pespur; peluang Su-35 sih sebenarnya sudah di-write off.

      RBTH, website berita propaganda milik Kremlin, pada 28-Oktober-2016 baru menulis kalau Indonesia akan batal membeli Su-35.

      Tidak mengherankan.
      Memang dalam sikon politik sekarang, Pemerintah Ruski, tidak seperti yg dipercayai para fanboys, tidak akam antusias menjual "crown jewel" mereka ke negara anti-komunis, yg dianggap sekutu dekat US.

      Akhirnya, kompetisi kita akan menjadi lebih jelas:
      F-16V, atau Gripen?

      Versi Export Downgrade,
      atau
      full transfer-of-technology, kerjasama industri lokal, dan kemampuan tempur yg jauh lebih unggul, dan lebih berdaulat?

      Delete
  10. Replies
    1. Maaf bung,
      Belum membalas post anda ini sebelumnya.

      ATD-X Jepang, walaupun sudah mengudara, sebenarnya saat ini masih dalam bentuk "Study Concept" saja, untuk kemungkinan membuat Stealth Fighter yang lebih diprioritaskan untuk Air Superiority, dibandingkan F-35.

      Alasannya: United States tidak mengijinkan penjualan F-22 versi Export. Jepang, Israel, dan Australia dulu mengajukan permohonan, tetapi ditolak.

      Kenapa mereka bisa membuat ATD-X?
      Karena sebenarnya industri pesawat terbang mereka sudah lama cukup matang. Sudah puluhan tahun mereka memproduksi bermacam-macam pesawat sendirian, dan mereka juga inovatif dalam hal2 yg menarik;
      Misalnya: Membuat BVR missile, dengan seeker AESA radar; yg akan lebih sulit di-jamming, atau dikecoh ECM lawan.

      Secara kemampuan, mereka sudah jauh lebih maju dibanding Korea; tetapi mungkin masih belum cukup bersaing dibanding industri Eropa, yang tetap saja lebih berpengalaman, dan sudah mulai berhasil mengungguli United States dalam beberapa sektor.

      Apakah ATD-X akan bisa menjadi pesawat tempur?

      Belum tentu.
      Mencoba bergerak bergerak dari "konsep studi" untuk ke tahap "prototype" akan memerlukan "required specification" yang lebih jelas, usaha yang lebih keras, dan milyaran $$$.

      Kemudian mulai membuat "prototype" sampai menjadi "production model" akan menjadi learning curve-nya sendiri, dan akan memakan lebih banyak $$$ lagi.

      Sama seperti KF-X Korea, Jepang mungkin akan mendapati F-15SE, atau F-35A jauh lebih murah dibanding memproduksi pesawat tempur dari ATD-X.

      Delete
  11. https://www.instagram.com/p/BPeNU2MBBlr/

    Lah, kok Indo betulan beli A400M

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Haykal,

      Gambar ini dari Airliners.net (Link)

      Foto 26-Juni-2008, di Seville, Spanyol.
      Pengambil gambar: A Muniz Zaragueta.

      Komentar pada gambar ini hanya menuliskan ulang apa yang sudah dituliskan di Jane's, yang seperti sy sudah sebut: bahkan mendahului sumber berita media lokal.

      Kompas, Antara, Tempo, Merdeka, dll saja belum tahu kalau ada transaksi pembelian A400M, kok Jane's bisa tahu duluan?

      Ini belum pernah terjadi sebelumnya.

      Sejauh ini belum ada konfirmasi dari pemerintah, atau dalam media lokal. Tanggapan resmi pemerintah mengenai berita ini akan datang dalam beberapa hari ke depan.
      Sepertinya sih, akan heboh seperti AW-101.

      Link: AntaraNews

      Pada 11-Agustus-2016 lalu, pemerintah baru saja memangkas Rp 133 triliun (termasuk Rp 69 triliun anggaran daerah) dari pengeluaran APBN 2016, karena pemasukan pemerintah ternyata meleset dari perkiraan awal di RAPBN awal tahun.

      Disaat semua departmen dituntut untuk mengencangkan tali pinggang,
      Masakan uangnya kemudian dialihkan untuk pembelian A400M senilai Rp 26 Triliun?

      Apalagi mengingat kalau armada C-130 kita baru di-"subisidi" 9 pesawat hibah RAAF Australia. Untuk apa A400M?

      Delete