Tuesday, January 31, 2017

Analisa: Kemampuan S-400 Triumf

Bagian dari S-400 Triumf System di Latakia, Syria
(Gambar: Russian MoD)

Sebelum memulai, patut diingat dahulu, kalau kemampuan S-400, yang biasanya diiklankan adalah untuk versi lokal. India baru saja menyetujui rencana akuisisi sistem ini (belum kontrak), seperti bisa tebak, dalam bentuk Versi Export; dimana akan ada perbedaan radar, dan jenis missile yang diperbolehkan.

Berikut analisa berdasarkan sumber pengetahuan umum, kenapa seberapapun hebatnya, S-400 sebagai referensi SAM system yang paling modern di dunia, tidak akan bisa menggantikan pesawat tempur dalam pertahanan udara.



Kelemahan Pertama: Gelombang radar (91N6E, dan 96L6E) akan selalu mengkhianati posisi S-400 System

Prinsip kerja sederhana S-300 / S-400 system
(BBC)
Yang sering dilupakan orang, setiap SAM system, tidak terkecuali, akan selalu harus menyalakan radar untuk mendeteksi, men-lock, dan kemudian memandu missile ke arah target yang diinginkan. 

Ini menjadikannya kelemahan yang terbesar.

Radar-Warning-Receiverseperti AN/ALR-67v3akan selalu dapat mendeteksi gelombang radar lawan, dan membantu mengalokasikan ke komputer pesawat, dimana sebenarnya letak si pemancar radar.

Kalau masih belum cukup disana, di Abad ke-21 ini, AESA radar akan dapat beroperasi dalam passive mode, untuk "melihat" gelombang radar lawan, dan menambah akurasi letak posisi si pemancar. 

Perpaduan antara RWR, dan passive-mode AESA bahkan membuat gelombang radar dari AESA radar sekalipun, yang lebih sulit terdeteksi, menjadi lebih mudah untuk terlihat. 

Untuk menjaga suatu wilayah, S-400 akan harus selalu menyalakan radarnya terlebih dahulu. Long-surveillance radar utama untuk S-400 adalah versi 91N6E, yang berjarak jangkau 600 kilometer, untuk mendeteksi target RCS yang melebihi 4 m2. Untuk dapat mendeteksi pesawat tempur dengan RCS 0,4 m2 (kira-kira ukuran Super Hornet), jarak jangkaunya turun ke 230 kilometer. Gripen, yang RCS-nya sekitar 0,1 m2, tidak akan terlihat sampai jaraknya dibawah 200 kilometer.

Sebaliknya, hanya membutuhkan waktu sepersekian detik untuk pesawat tempur modern, dengan AESA radar, dan RWR untuk dapat "melihat" posisi S-400, jauh sebelum mereka bisa terdeteksi. Tentu saja, ini masih belum menghitung tambahan kemampuan satellite imagery, pesawat Signal Intelligence, atau reconaissance Drone untuk mengalokasikan dengan akurat dimana setiap komponen S-400 akan berada, sebelum pihak lawan membuka serangan.
Tidak peduli pesawat tempur, atau SAM system
Seluruh SAM System begitu menyalakan radar, dengan demikian hanya akan menjadi target untuk lawan, dan bukanlah sebaliknya.

Akan tetapi... bukankah S-400 seharusnya mudah untuk dipindah-pindahkan, untuk menghindari masalah tersebut?


Kelemahan Kedua: S-400 tidak akan semudah itu disembunyikan, atau dipindah-pindahkan

92N6E Grave Stone radar, and 5P85TE2 TEL launcher
(Almaz-Antey)
Website cerita khayalan untuk legenda semua senjata Ruski, Ausairpower Australia, memang pernah menyebut kalau prosedur SAM system modern seharusnya dapat dipindah-pindahkan dengan cepat, agar menyulitkan kemampuan lawan untuk menalokasikan posisi sistem.

Carlo Kopp, dan Peter Goon, kedua penulis favorit semua pengagum Su-35 Versi Export, menuliskan argumen lebih lanjut bagaimana Syria sebenarnya gagal menerapkan prosedur ini dalam "Operation Mole Cricket 19" di Beqaa Valley, 1982, melawan Angkatan Udara Israel. Demikian juga Iraq, di tahun 1991, dalam operasi Desert Storm. Sedangkan Serbia, berhasil menerapkan prosedur ini untuk dapat menembak jatuh 1 F-117A, dan 1 F-16C di Kosovo, 1999. 

Sayangnya, argumen ini bertabrakan dengan beberapa realita yang sederhana. 

Pertama-tama, Kolonel Dani Zoltan, dan crew dari 3rd Battery 250th Missile Battery Serbia, adalah penentu utama keberhasilan SA-3 legacy tahun 1960-an, dalam menembak jatuh kedua target tersebut. Seperti biasa, kebanyakan analisis awam, terlalu sering melupakan kemampuan individual, dan satu grup untuk dapat berinovasi; memanfaatkan semaksimal mungkin kemampuan persenjataan yang ada, walaupun sebagaimanapun sudah kadaluarsanya.

Kedua, SA-3 legacy system, yang peninggalan tahun 1960-an, hanya mempunyai beberapa komponen sederhana; search-and-control radar, TV unit, dan battery launcher untuk 4 missile. 

Tentu jauh ini membuatnya jauh lebih mudah untuk di-setup, dan lebih mudah untuk disembunyikan untuk melakukan penyergapan terhadap F-117A USAF, yang bodohnya juga, terus-menerus mengambil flight route yang sama, dengan kecepatan, dan ketinggian yang sama setiap hari.

S-400 Triumf adalah sistem SAM yang jauh lebih complex dibandingkan SA-3. Secara teori, pembuatnya menyebut kalau waktu setup time launcher, dan radar, yang hanya 5 menit, akan tetapiAusairpower sudah menuliskan daftar komponen sebagai berikut:


Daftar yang sangat panjang  bukan?

13 macam truk; atau 25 macam, kalau semua komponen optional juga ikut dibawa, dan masing-masing truknya, ukurannya juga tidaklah kecil. 
Semoga saya dapat bersembunyi dari pesawat tempur lawan di saat konflik.
Gambar: Wikimedia
Tergantung kondisi terrain, atau letak geografis di lokasi, dalam prakteknya, tidak akan semudah itu untuk dapat mencari tempat yang sesuai untuk memaksimalkan kemampuan mobilitas S-400 system. Setiap truk yang besar dalam semua komponen S-400 akan membutuhkan ruangan, yang juga cukup besar, dan ini akan membuat lawan mudah memprediksi kemungkinan lokasi dimana S-400 itu akan bisa dipindah-pindahkan dalam daerah tertentu.

Paling tidak F-35 Lemon II, yang hanya bisa BVR combat masih bisa terbang dengan kecepatan M 0,9 untuk menghindari lawan, atau untuk mencari perlindungan ke formasi Typhoon, atau F-18E/F. 

Sedangkan S-400 system yang posisinya sudah berhasil terdeteksi? 

Beberapa puluh truk raksasa yang mengangkut setiap komponen S-400 tidak akan dapat bergerak secepat itu. Paling cepat hanya akan dapat berpindah 10 - 40 km / jam, kalau tidak melalui jalan raya.

Pertanyaannya:
Bagaimana kalau pihak lawan di bagian pertama tadi, sudah terlebih dahulu menandai lokasi S-400 dengan RWR, kemudian menunggu sampai lawan berpindah, sebelum membuka serangan?

Bukankah S-400 system, yang sedang berpindah lokasi, akan jauh lebih mudah untuk dihancurkan?


Kelemahan Ketiga: Harga dari integrated SAM system, seperti S-400 terlalu mahal, dibandingkan lawannya

Walaupun menurut sumber Wikipedia, unit standard, dengan 8 launcher, dengan kapasitas 4 missile per launcher, mempunyai harga perkiraan sekitar $400 juta; India sendiri menganggarkan $4,5 milyar untuk membeli 5 unit, atau sekitar $1,1 milyar per unit; walaupun tidak dituliskan secara jelas berapa launcher, ataupun jenis, dan jumlah missile yang dibeli.

Ini memberikan suatu indikasi yang jelas; modern SAM system di kelas S-400 harganya akan mencapai $1 milyar, atau hampir sama dengan 1 skuadron pesawat tempur modern.

Sekarang saatnya berkenalan dengan musuh terbesar SAM system yang harganya jauh lebih ekonomis; Air-launched long-range stealth cruise missile.
Taurus KEPD 350
(Gambar: Saab)
Taurus KEPD 350, MBDA Stormshadow, dan AGM-158 JASSM adalah tiga produk yang menduduki niche MTCR-2 Long-ranged air-launched cruise missile. Kesemua missile ini adalah stealthy cruise missile, dengan RCS minim, yang mempunyai jangkau lebih dari 500 kilometer, dan dapat terbang dalam ketinggian sangat rendah (terrain-following) agar menyulitkan sudut deteksi radar di darat, yang akan selalu dibatasi cakrawala.

Jadi sementara radar S-400 tidak akan dapat melihat pesawat tempur low RCS NATO (Rafale, Typhoon, Gripen, dan Super Hornet) sampai jaraknya turun ke 230 kilometer, kesemua pesawat ini sudah dapat berada dalam posisi menembakkan ALCM dari jarak melebihi 500 kilometer.

Inilah "gajah yang didepan mata", yang tidak pernah disinggung dalam semua artikel di media Barat mengenai kehebatan S-300 / S-400. Ketiga jenis standoff missile senilai $1 juta dollar, ini sudah dirancang dari awal untuk menghantam sebagian, atau semua komponen dari S-300 / S-400 Ruski, yang nilainya lebih dari $1 milyar. 

Masakan F-22, atau F-35 stealth fighter, dengan bodohnya, akan terbang lurus pada ketinggian 6,000 meter untuk  memasuki jarak tembak S-400 system? 

Bukankah ini ide yang sangat konyol?

Sebaliknya, apa yang tidak diberitahukan di media massa; semua pesawat tempur NATO, baik milik US, ataupun Angkatan Udara Eropa akan selalu membuka serangan dengan standoff missile dari jarak jauh, untuk melumpuhkan S-300, atau S-400 system. 
Satellite imagery Israel yang menunjuk keberadaan S-400 di Syria
(Gambar: ImageSat International)

Seperti bisa dilihat, bahkan dari satellite imagery,
keberadaan S-400 hanya akan menjadikannya TARGET dalam "hujan" cruise missile.

Hanya mangsa buruan BUKAN si Pemburu
Satu squadron (16 pesawat) Typhoon, Rafale, Gripen, F-15E, F-16C/D, atau F-18E/F akan dapat membawa 96 missile (6 unit per pesawat). Setelah mendapatkan posisi target, masing-masing pesawat dapat menembakkan ketiga jenis stand-off missile dari luar jarak deteksi semua radar S-400 system, dan dari luar jarak jangkau missile 40N6 (yang sejauh ini ternyata masih belum siap).

Taurus, Stormshadow, ataupun AGM-158 stealthty cruise missile dengan RCS yang minimalis, semuanya akan terbang pada ketinggian sangat rendah, dan tidak akan dapat terdeteksi radar di darat, sampai sudah terlambat.

Operator di kontrol unit 55K6E hanya akan mempunyai reaction time mungkin kurang dari 30 detik, untuk dapat meluncurkan counter-missile. Atau semoga saja, Close-in-weapon system yang melindungi sistem ini akan siap mengalahkan hujan 96 ALCM, yang bisa datang dari arah yang berbeda-beda, dan masing-masingnya sudah di-program untuk menghantam salah satu komponen S-400 system tersendiri.

Yang menggelikan, F-35 Lemon II, yang mengaku-ngaku "generasi kelima", masih belum bisa mengintegrasikan AGM-158 JASSM, padahal stand-off missile ini sudah berhasil diintegrasikan ke F-16C/D, F-15E, F-18E/F, B-52, B-1, dan B-2. Semua yang lain, kecuali stealth fighter.

Daftar kebodohan F-35 Lemon II:

AGM-158 JASSM hanya bisa dibawa di external store,
karena tidak muat dalam weapons bay-nya

Tidak ada bedanya, bukan, dengan F-18E/F, atau F-15E?

Lebih parah lagi,
Karena source-code-nya yang sudah 24 juta baris begitu rumit,
AGM-158 belum bisa diintegrasikan sampai Block-3F tahun 2021 (minimum).


Penutup 

Sekali lagi, ini hanyalah analisa awam, berdasarkan sumber infomasi publik yang ada, kenapa SAM sistem legendaris seperti S-400 sebenarnya akan kesulitan menangkal kemampuan udara modern, yang sudah terintegrasi, dan bersenjata lengkap seperti dalam sistem standard NATO.

Tentu saja dalam praktek realita yang sebenarnya, menangkal kemampuan S-300 / S-400 system, tidak akan semudah yang di-deskripsikan disini. Semua perencanaan untuk dapat mengalahkan sistem ini akan jauh lebih kompleks. Dilain pihak, artikel ini juga sengaja tidak menyinggung kemampuan operasional EA-18G Growler, yang sebentar lagi akan diperlengkapi dengan Next Generation Jammer untuk mengacaukan sistem komunikasi, dan kemampuan radar S-400.

Jaman keemasan SAM system sebenarnya hanya berlangsung sampai tahun 1970-an, dimana setiap pesawat tempur tidak ada yang membawa RWR, atau Electronic Warfare Suite jenis apapun. Masa ini sudah berakhir dalam "Operation Mole Cricket 19" tahun 1982, dimana Angkatan Udara Israel dapat merobek-robek sistem pertahanan udara Syria dengan mudah; menghancurkan 15, dari 19 sistem SAM; dan menembak jatuh 94 pesawat hampir tanpa kerusakan yang berarti.

Uni Soviet tidak pernah pulih dari kekalahan fatal ini.

Jerusalem Post menuliskan kalau kesuksesan Operation Mole Cricket 19, sebenarnya sudah menghancurkan "mitos" kejayaan SAM sistem ala Soviet atas pesawat tempur Barat, dan menjadi salah satu katalis, untuk dimulainya program glasnost Mikhail Gorbachev, yang tujuannya untuk meningkatkan transparansi pemerintahan komunis Soviet, dan akhirnya berbuntut runtuhnya Uni Soviet sendiri.

Operation Mole Cricket 19 sebenarnya sudah menjadi bukti nyata, kalau mengoperasikan pesawat tempur, menurut standard NATO, adalah kunci dari pertahanan udara yang baik, dan bukan hanya mengandalkan SAM system, yang secara teori sih, "tidak terkalahkan".



61 comments:

  1. menurut admin sebaiknya SAM apa yang digunakan Indonesia, entah itu SR-SAM atau MR-SAM, yang jelas standar NATO, mobile sama ada ToTnya gak musti misilnya sih bisa peluncur, radar atau komponen2nya sama network integrated dengan AU & AL

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## SAM Indonesia -- spt sy sudah sebut, sebenarnya belum siap, karena radar SAM harus dapat membedakan dimana lawan, dimana kawan;
      Sedangkan semua pespur versi export Indonesia -- tidak ada satupun yg mempunyai military-grade IFF, dan kalaupun bisa... Tidak akan compatible.

      Dalam jangka menengah sih, mengingat PT Pindad sudah memulai pembangunan Shorad dengan Saab, berbasiskan RBS-70, dan karena kita akhirnya akan mengoperasikan Gripen :) , lebih baik mengisi kebutuhan SAM, dngn Saab Bamse.

      Lebih baik semuanya akan teintegrasi, daripada terus2an beli gado2 dari berbagai sumber, dan memperbesar kemungkinan menembak kawan sendiri.

      Kita akan bahas kebutuhan Indonesia di lain topik. Yang pasti sih, dari topik ini, kita bisa mengambil kesimpulan dahulu: kita tidak perlu membeli S-300/S-400 SAM, ataupun Taurus KEPD cruise missile. Percuma.

      ## Sewaktu menulis ini, sbnrnya ada satu hal lagi yg membedakan sistem SAM NATO, vs SAM Ruski:

      Ruski kelihatan mengandalkan SAM sebagai barisan utama pertahanan udara mereka, bahkan untuk menembak jatuh pespur lawan -- seperti kurang mempercayai pespur mereka sendiri.

      NATO lebih mengandalkan SAM sebagai lapisan pertahanan kedua.
      Pespur adalah garis pertahanan utama untuk menembak jatuh semua pesawat lawan;
      apa yg berhasil lolos, atau sulit dikejar pespur, seperti cruise missile lawan, baru menjadi target SAM mereka.

      Delete
    2. iya sih, dari awal juga jauh lebih setuju Bamse/RBS-23 tapi yang penting sih Gripen dulu sama Erieye juga data link. Tinggal masang FFI ke F-16 kita, nah kalau udah gitu bingung juga itu Su-27/Su-30 mau diapain, jadi kejanggalan kecuali diganti daleman nya biar agak mirip Su-30 MKI tapi biayanya wah keluar berapa, belum flight hoursnya pendek, kayak buang2 uang gak jelas. itu Su-27/Su-30 bikin ribet aja. sekarang tinggal hati2 F-16 V itu bisa ngerusak acara, mau gak mau juga SAM pasti jatuh ke NASAMS, kalau sampai F-16 V yang kepilih.

      Delete
    3. Bung Thomas,

      ## Sukhoi Ruski tidak akan bisa di-upgrade seperti halnya F-16, yg secara tehnis bisa terbang selamanya, kalau perlu.

      Memang, mengingat Sukhoi usia airframe-nya juga sangat pendek, & biaya op-nya hanya akan semakin mahal, semakin cepat dipensiunkan semakin bagus.

      Lagipula efek strategisnya bisa dipastikan nihil, dngn hanya bisa dipersenjatai missile (kuno) versi export R-73E, dan RVV-AE.

      ## Pameran IndoDefence 2016 tempo hari memang (akhirnya) sudah mulai menunjuk ke kontes F-16V vs Gripen.

      IMHO, bukan lagi untuk mengganti F-5E, tetapi menggantikan BAe Hawk-209, dan tentu saja.... Sukhoi Kommercheskiy Sku-12 yang sudah bau tanah.

      Kita lihat saja.

      Kalau memilih Saab, akhirnya kita akan menekan tombol "reset" yg sangat dibutuhkan, untuk mulai membangun sistem pertahanan terintegrasi, yg didukung kerjasama industri-pemerintah-sistem edukasi, yg akan tahan banting, tanpa perlu menghamburkan uang seperti sekarang.

      Delete
  2. Min, lebih unggul Patriot atau S-300/S-400?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Kedua missile sistem ini sebenarnya berbeda philosophy.
      S-300/S-400 lebih diutamakan untuk First Line Defence satu wilayah yang luas, radiusnya bisa 600 kilometer, untuk mengalahkan pesawat tempur, ataupun missile.

      MIM-104 PAC-3 Patriot lebih diutamakan untuk Area Defence (jarak jangkau <100 kilometer) untuk menembak jatuh apa yang lolos dari lapisan pertahanan pertama -- pesawat tempur, ataupun ballistic / cruise missile yang mengincar target di darat.

      Ini menggariskan perbedaan antara sistem Soviet vs Sistem NATO:
      sejak tahun 1970-an, sebenarnya Soviet lebih mengandalkan SAM untuk menembak jatuh pespur lawan, sedangkan NATO lebih mengandalkan kemampuan pespur untuk mencapai Air Superiority, kemudian mendikte jalannya konflik dari sana.

      ## Perbedaan jenis, dan jumlah radar
      S-400 sebenarnya mempunyai macam-macam jenis radar.
      Yang paling besar, adalah radar deteksi jarak jauh tipe PESA; 91N6E --- yang jarak jangkaunya dikabarkan melebihi 500 kilometer; targeting radar untuk memandu missile, ataupun jenis UHF "long wave" radar, agar dapat mendeteksi stealth Fighter (jarak maksimum 240 km).

      MIM-104 hanya menggunakan satu jenis radar untuk semua jenis engagement. Saat ini PAC-3 masih menggunakan jenis radar PESA, walaupun dalam jangka pendek akan di-upgrade ke versi AESA.

      ## Sehubungan dengan diatas, perbedaan Ukuran
      S-400, seperti bisa dilihat dalam artikel, harus diperlengkapi dengan banyak sekali truk-truk ukuran raksasa -- seperti bisa dilihat, jauh lebih sulit untuk disembunyikan.

      Satu unit biasanya diperlengkapi 8 launcher, masing-masingnya 4 missile / launcher, dengan kapasitas maksimum 112 missile per unit.
      Reload time untuk missile tidak pernah disebut.

      Jenis missilenya beraneka ragam, tergantung jarak tembak, dan akurasi. Missile yg jarak pendek, biasanya akurasinya akan selalu meningkat dibanding yg jarak jauh.

      MIM-104 -- karena sbnrnya short-tomedium-ranged, dan tidak pernah dirancang untuk menembak pespur lawan dari jarak 400 kilometer, jauh lebih praktis.

      Dalam versi PAC-3, setiap launcher dapat membawa 16 missile -- atau memberi kapasitas tembak yg sama dengan 4 launcher S-400, yang masing2nya hanya bisa membawa 4 missile (lihat gambar di atas).

      Mana yang lebih unggul?

      # Dari segi elektronik, tehnologi, dan kemampuan deteksi sih, boleh dibilang kemampuan radar MIM-104 Patriot PAC-3 akan lebih unggul dibanding S-400 system, yang sistemnya "menjelimet".

      # Harga PAC-3 juga dikuotasi kelihatan jauh lebih murah, karena sistemnya lebih sederhana vs S-400

      # S-400 hanya memberikan false sense of security, karena basis desainnya seperti untuk menggantikan pespur; sedangkan kembali, MIM-104 didesain untuk menangkap apa yang lolos dari pertahanan pespur, atau terlalu sulit ditembak jatuh, seperti ballistic missile.

      Delete
  3. ketimbang mengakusisi SAM lebih baik memikirkan mengakusisi anti ship missile yg wajib dimiliki negara kepulauan seperti indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul.

      Memang kita belum membutuhkan SAM.

      Seperti dalam artikel, kalau belum siap, SAM sebenarnya seperti membeli target prioritas pertama untuk dihancurkan lawan dalam konflik.

      Kita memang lebih membutuhkan ratusan anti-ship cruise missile... yang bisa dibawa pesawat tempur untuk menjaga Nusantara.

      Karena US tidak pernah mengijinkan penjualan AGM-84 untuk F-16, sedangkan Ruski hanya menjual missile versi export;

      Kembali, satu-satunya pilihan yang logis adalah mengakusisi Gripen-E, yang masing-masingnya dapat membawa 6 RBS-15F ER (berat @ 800 kg), dan masih bisa membawa 2 IRIS-T untuk self-defence di wingtip-nya.

      Delete
  4. Saya membayangkan apa yang terjadi TNI AU ikut Red Flag kalau pakai Gripen E ngalahin F/A-22 di Latihan tersebut bakal menjadi kebanggaan tersendiri tuh
    cuman sayang,orang Indonesia suka sentimen negatif kalau latihan militer bareng AS.emang ada Russia ngadain latihan militer dengan Indonesia?kan enggak ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung ikhsan,

      Inilah miskonsepsi selanjutnya yg belum dibahas disini:

      Latihan bersama negara lain

      ## Sebenarnya sifatnya membangun; kesempatan untuk menguji kemampauan sendiri, sekaligus belajar dari pengalaman / skill set negara lain.

      ## Untuk memupuk persahabatan, bukan untuk belajar saling memusuhi. Semakin akrab kita, akan semakin banyak diundang latihan bersama, dan juga semakin kecil kemungkinan terjadinya konflik (baik politik, ekonomis, maupun militer) di kemudian hari.

      ## Memang benar.
      Sejak puluhan tahun, kita sudah sering mengikuti latihan bersama, terutama dngn Australia, US, dan sesama negara2 ASEAN.

      Latihan dngn Ruski? Itu sih tidak akan terjadi. Tidak hanya mrk skrg dianggap "pariah" dlm komunitas internasional, ttp militer mereka secara umum (kecuali bbrp elemen elite tertentu), sebenarnya sudah kurang latihan.

      Meragukan bahkan AU Ruski sendiri bahkan bisa mengoperasikan Su-30SM, atau Su-35S versi lokal utk bisa mengalahkan pespur negara lain dalam konflik terbuka yg sesungguhnya.

      ## Gripen-E Indonesia vs F-22 dalam Red Flag?

      Inilah seharusnya yg menjadi salah satu tujuan Renstra TNI:

      Menguji kemampuan sendiri vs pespur terbaik USAF, dalam latihan udara paling prestigious di dunia, yg diikuti banyak negara.

      Disinilah tempatnya, kalau memang mau mengejar "efek gentar" yg diakui secara terbuka oleh negara2 lain.

      Btw, Gripen-C Swedia sudah pernah dikirim ke Red Flag bbrp kali, dan feedback re: kemampuannya sangat positif.

      Ada berita rumor kabarnya sudah pernah menghadapi F-22, dan ternyata cukup berhasil... walaupun hasilnya sengaja tidak pernah diumumkan besar2an.

      Delete
  5. Arab Saudi berencana membeli AN-178?
    Arab Saudi mendukung perakitan AN-132?
    Bahkan Pesawat sipil MC-200-300 Menggunakan mesin buatan AS juga?
    Indonesia pernah membantu pasukan mujahidin untuk menghadapi Uni Soviet?
    Kenapa negara lain tidak berhak punya pesawat stealth?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## An-178 -- kelihatannya Saudi belum kontrak resmi 30 unit, tetapi...

      ## Mengingat Saudi / Ukrania sudah memulai proyek bersama utk memprodukski AN-132, kelihatannya sih sudah kepastian

      ## AN-132 sangat menarik, krn akan memakai avionic & mesin buatan Barat.

      Sepertinya ini juga merangkap sbg signal jangka panjang, kalau Ukrania perlahan2 akan memulai memangkas produksi senjata2 ex-Soviet (krn masalah ketergantungan ke industri Ruski) dan mulai mengalihkannya ke produk2 baru yg memakai tehnologi / komponen Barat.

      Yah, krn dimusuhi Ruski, Ukrania memang tidak banyak pilihan kecuali lebih mendekati NATO.

      ## Secara resmi sih, pmrth Orde Baru tidak pernah terlibat dalam konflik Afganistan.

      ## Maksud anda utk F-35 US?

      Versi export Downgrade (misalnya, RCS-nya akan jauh lebih besar) yg source code-nya sudah dikunci sih akan tersedia, utk bbrp negara sekutu dekat, spt semua anggota NATO, Israel, Australia, Jepang, KorSel, dan Singapore.

      Negara lain? Tunggu dulu! Krn berbagai alasan, belum ada ijin.

      Ini hanya prosedur penjualan standard Washington DC, yg negara adidaya.

      Dahulu kala, Soviet juga tidak pernah mengijinkan penjualan Su-27 untuk export, tetapi hanya mengijinkan penjualan MiG-29A monkey model ke negara2 client Soviet.

      Setelah Soviet runtuh, Ruski yg mewarisi Sukhoi, kemudian menjual 100 pswt versi export Su-27SK/UBK ke PRC di tahun 1992.

      Delete
  6. admin entah ini bisa atau sama sekali tidak bisa, tapi boleh lah sekali-kali mengkhayal, kalau RBS-70 sama radar Giraffe bisa dipasang ke rantis 4X4 komodo sama kan ada proyek SHORAD berbasis RBS-70, mungkin kita bisa bikin mirip pantsyr-1 tapi pakai meriam bofor, misil RBS-23 sama radar giraffe, cuma khayalan sih tapi top banget tuh kalau bisa dikembangin kayak gitu, tinggal platform kendaraannya aja, tapi ya mungkin gak mungkin sih soalnya biaya risetnya pasti gede buat bikin " Pantsyr " versi SAAB-Pindad

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Thomas,

      ## RBS-70 sbnrnya senjata praktis; independent plarform MANPADS Shorad, yg dapat operasional tanpa support dari manapun juga.

      Targetingnya juga manual oleh operator, perlu konfirmasi visual, karena itu tidak perlu tergantung radar Giraffe.

      Equivalentnya -- SA-18, atau FIM-92 Stinger.

      ## Radar Giraffe sebagai bagian dari Networked Defence System --- tentu bisa mengintegrasikan RBS-23, dan Bofor CIWS.

      Berbeda dngn berlapis2 perlengkapan radar S-400 yg terlalu rumit, radar Giraffe mobilitasnya jauh lebih unggul.

      Pemancarnya yang tipe AESA, juga membuatnya lebih kebal jamming, dan lebih sulit terlihat di sistem RWR lawan.

      Disini tergantung pintar2nya AESA programming, dan operasional prosedur -- kemungkinannya bisa cukup besar Giraffe bahkan dapat mengelak dari serangan EA-18G Growler, dan tetap memancar (!!).

      Kalau dngn National Networking, kita dapat mengintegrasikan beberapa radar Giraffe, dan Sea Giraffe utk beberapa kapal korvet, ke jaringan radar kohudnas, radar airport sipil, radar semua KRI, dan.... Erieye AEW&C ---- kita akan mendapat sistem dngn muliple redundancy; kalau sampai bbrp radar dihancurkan lawan sekalipun, seluruh TNI tidak akan pernah bisa kehilangan Situational Awareness.

      Setiap formasi Networked Gripen akan selalu dapat diarahkan untuk serangan mendadak: menembakkan Meteor dari arah belakang formasi lawan --- tanpa pernah bisa terdeteksi, atau terlihat.

      True Stealth, tanpa perlu membayar biaya / kesulitan operasional F-35.

      Itu baru namanya mendapat "efek gentar".

      Tentu saja, biayanya masih lebih murah dibanding armada gado2 16 Su-35KI, dan 50 IFX yg semuanya hanya produk versi export.

      Delete
    2. wah baru tau, kalau RBS-70 pake radar AESA Giraffe bisa anti-jamming dari pespur electronic warfare kayak Growler, saya bisa omong kayaknya RBS-70 itu okelah SHORAD tapi itu pertahanan udara backbone kita boleh dibilang terbaik sama ToT dan partnetship paling jelas, baca2 profil SHORAD kita Mistral kurang jelas ToTnya, Starstreak ok paling cepet tapi sama kurang jelas ToTnya, Grom udah berkali-kali tes gagal terus katanya gara gara sinar matahari kayaknya ini salah satu proyek sembarang beli, Skyshield kurang tahu detil tapi biarlah. RBS-23/BAMSE kalau diliat profile nya kecepatan missilenya 4 mach, mobile dan praktis, range firenya 20 km, ukuran relatif kecil jadi bisa hidden sama kalau bener radar Giraffe nggak ngaruh jamming electronic warfare kayak Growler, wah ini diatas RBS-70 dan siapa tahu pengembangan selanjutnya Indonesia bisa jadi partner dan kecipratan ToT menarik kayak RBS-70. sama tentang radar Sea Giraffe ada analisa2 yang bilang dia lebih superior dari radar Thales, harusnya kerucutkan aja kedepannya sistem radar kapal perang TNI-AL ke dua ini aja, karena dua duanya Standar NATO bisa lah network linknya dibuat, tinggal pensiunkan Van Speijk sama entah itu Parchim, semoga digganti semua sama PKR, terus itu KCR-40 & KCR-60 banyak gado2 unsur persenjataan China jadi bikin keanehan sama apa bisa nyambung apa, itu menurut saya harus dievaluasi isiannya KCR2 tu

      Delete
    3. sama gak kebayang 50 pespur double engine, itu mau keluar uang berapa banyak sama Su-27/Su-30 semoga aja udah pensiun tuh sebelum 2025, Su-35 kayak cuma memperkeruh situasi yang gak jelas. IFX dulu sih banyak harapan, tapi gara2 4 core stealth techs gak dksih US, terus export version sama source code ada dibawah kendali penuh US, ini jebakan biar Indonesia jadi market alutsista Korsel, okelah Changbogo tapi IFX gak perlu lah yang kayak gitu. SAAB aja ngebuka source code nya ke Afsel biar bisa pakai rudal denel sama dia video promosinya Gripen, Embraer Brazil dibilang bakal jadi fasilitas produksi ke 2 Gripen, PT.DI bisa dapet peluang besar dari akuisisi Gripen, Brazil aja beli cuma 2 skuadron bisa lah Indonesia beli minimal 2 skuadron terus dapet ToT mirip Embraer tapi disesuaikan juga sih dengan kesiapan PT.DI

      Delete
    4. Bung Thomas,

      ## Karena jarak tembaknya dekat, RBS-70 tidak memerlukan radar -- hanya konfirmasi visual dari penembak.
      Senjata ini fully independent -- tetap saja membutuhkan sistem yg baik dari segi operasional, ataupun penempatan; inilah yg sepertinya sedang dikejar dalam kerjasama Saab / PT Pindad.

      Radar baru dipakai untuk men-targetkan missile / munition dari luar jarak visual si penembak (BVR).

      BAMSE SAM yang memang jarak jangkau missile-nya mencapai 20 kilometer, sampai ketinggian di atas 15 kilometer --- membutuhkan radar Giraffe untuk memandu missile-nya.

      ## Perihal radar Giraffe akan kebal EA-18G Growler.
      Ini baru prediksi kemungkinan saja, berdasarkan beberapa kenyataan yg ada:

      ## Gripen-C Hunggaria di tahun 2007, walaupun tidak membawa EW suite manapun, ternyata terbukti kebal jamming dari Falcon 20 yg membawa NATO MEWSG (multi-service electronic warfare support group).

      ==============
      “In Hungary we just don’t have large numbers of aircraft to train with, but in Spring Flag we faced COMAO (combined air operations) packages of 20, 25 or 30 aircraft. The training value for us was to work with that many aircraft on our radar – and even with our limited experience we could see that the Gripen radar is fantastic. We would see the others at long ranges, we could discriminate all the individual aircraft even in tight formations and using extended modes.

      The jamming had almost no effect on us – and that surprised a lot of people.”

      Other aircraft couldn’t see us – not on radar, not visually – and we had no jammers of our own with us.

      We got one Fox 2 kill on an F-16 who turned in between our two jets but never saw the second guy and it was a perfect shot.”
      =========
      Link: Gripen Hungary - the story so far

      Itu baru namanya "efek gentar" yang nyata :)

      Bukan sekadar asumsi palsu "agar bisa mengimbangi tetangga", seperti yg dipercayai para fanboys, tanpa pernah ada bukti yg nyata.

      Tentu saja, Gripen-C tahun 2007, belum mendapat MS-20 update.

      Gripen-E akan membawa integrated Electronic Warfare Suite EWS-39; sebagian besar kemampuannya masih dirahasiakan -- kemungkinan bisa "menipu" radar lawan utk memberikan false readings, atau membuat Gripen tidak terlihat sampai sudah terlambat.

      ## Saab sebenarnya salah satu pelopor pertama dalam pengembangan tehnologi GaN: the next generation technology dalam AESA radar.

      Radar Giraffe 4A adalah salah satu produk AESA pertama mereka yg memakai tehnologi ini. Tentu saja, tehnologi GaN ini akhirnya akan menular kembali ke AESA radar di Gripen.

      Potensi pengembangan lebih lanjut dalam tehnologi AESA sebenarnya masih baru dimulai --- ini kesempatan negara kita untuk ikut naik kereta, melalui kerjasama dengan Saab, agar meraih posisi yg lebih unggul dibanding negara2 tetangga yg masih terpaku hanya dengan.... tehnologi US (F-35 doesn't, and won't work!).

      Delete
    5. ============
      sama gak kebayang 50 pespur double engine, itu mau keluar uang berapa banyak sama Su-27/Su-30 semoga aja udah pensiun tuh sebelum 2025, Su-35 kayak cuma memperkeruh situasi yang gak jelas.
      ============

      Itulah.
      Biaya yang dikeluarkan tidak akan sepadan dengan efek gentar yang dapat dipastikan nihil.

      Inilah yang bisa didapat kalau terus-menerus kesengsem dengan barang Versi Export Downgrade.

      ==================
      IFX dulu sih banyak harapan, tapi gara2 4 core stealth techs gak dksih US, terus export version sama source code ada dibawah kendali penuh US, ini jebakan biar Indonesia jadi market alutsista Korsel
      ==================

      IMHO, Korea sebenarnya terlalu naif.
      Masakan menandatangan kontrak ToT tanpa menggariskan persyaratan yg jelas?

      Defense News baru saja mem-post artikel ttg TF-X Turki.

      Apa yang menjadi prioritas utama pemerintah Turki?

      =============
      During the negotiations Turkey vehemently insisted on maximum technology transfer, full access to all source codes -- which would enable Ankara to make future modifications and upgrades on the aircraft -- as well as full assignment of Turkish engineers and scientists in aerodynamic design, body and engine production, all software, electronic, weapons, communications systems and all flight tests.
      =============

      Source Code adalah komponen yg paling penting, karena memberi kebebasan pembuat untuk menentukan apa yg boleh diganti / dipasang dalam pesawat tempur.

      Kapan terakhir kali Korea berbicara soal "source code" dalam KF-X?
      Tidak pernah, bukan?

      Mereka hanya menginginkan "lebih hebat dari F-16, tetapi lebih inferior dari F-35".

      Seoul, si anak usia belum lima tahun, tiba-tiba berkata,
      "Ayah! Saya mau mencoba membuat pesawat sendiri!"

      Pak Washington DC tertawa di dalam hati, tetapi menjawab dengan lemah lembut:
      "Baik, nak! Nanti bapak akan 'bantu'."

      Delete
    6. @tomas

      Tidaklah fair membandingkan 2 jenis radar tanpa melihat spesifikasinya lebih dulu.

      Kalo yang dimaksudkan adl perbandingan SG-AMB vs thales smart-S...dilihat dulu speknya, baru ketahuan mana yang lebih sesuai untuk kita.

      SG-AMB bekerja pd gelombang C yangmemiliki karakter ringan, murah, rpm tinggi (60 rpm, shg cocok dijadikan sbg pendeteksi C-RAM). Tapi rdar yang bekerja pd gelombang C tidak cocok dioperasikan pd daerah beriklim tropis yang memiliki kelembaban dan curah hujan tinggi krn akan mengurangi jangkauan deteksinya pd cuaca buruk.

      Sementara radar yang bekerja ppd gelombang-S memiliki karakter sebaliknya dan cocok dioperasikan pd segala kondisi wilayah dg konsekuensi harga dan bobot radar yang lebih tinggi.

      Nanti kalo membandingkan radar. SG-4A vs thales NS-100/200...barulah terjadi perbandingan yang sepadan.

      Delete
    7. This comment has been removed by the author.

      Delete
    8. ok @smilinghari212 trims buat infonya, maklum saya cuma pengamat awam, cuma sekedar hobby aja

      Delete
    9. Bung hari,
      Nanti kita akan membahas berbagai macam tipe radar di darat lebih mendetail di lain topik.

      Kemampuan utk dapat beroperasi dalam band radar tertentu, tidak berarti dapat memberikan keunggulan strategis utk pemakai.
      Demikian juga seberapa jauh jarak jangkau radar tersebut.

      Salah satu yg juga harus diperhatikan adalah: seberapa cepat lawan dapat menangkap gelombang pemancar dalam perlengkapan RWR, atau SIGINT mereka, dan kemudian justru dapat mengalokasikan dimana letaknya si pemancar,

      Contoh radar re artikel ini:
      S-300 / S-400 system sebenarnya mempunyai beraneka ragam macam radar, yg masing2nya beroperasi dalam berbagai macam radar band.

      ## 91N6E adalah S-band radar deteksi utama system yg ukurannya paling besar, sekaligus juga menjadi kelemahannya yg terbesar.

      Kemampuan deteksi 400 km, untuk RCS 4 m2.
      Untuk RCS Super Hornet (kira2 0,4 m2), jaraknya turun ke hanya 230 km. Untuk Gripen, yg RCS-nya 0,1m, akan turun lebih rendah lagi dari 200 km,

      ** Seperti dalam artikel, RWR pespur NATO akan dapat melihat gelombang radar 92N6E jauh dari luar jarak deteksinya.

      IMHO, kemampuan menangkal jamming, pemancar yg gelombang radarnya lebih sulit dideteksi (low probability to-intercept), programming-nya bagus utk mengecoh lawan, mempunyai fleksibilitas & mobilitasnya lebih tinggi adalah standard baru yg harus dikejar di Abad ke-21 ini.

      Delete
    10. @DR

      Saya paham maksud anda...pemilihan tipe gelombang adalah rumus dasar dalam pemilihan radar surveilan,langkah berikutnya adl menentukan basis teknologi radar yang dibutuhkan, tentu saja menyesuaikan dg tingkat ancaman dan mengukur dalamnya isi kantong

      Delete
  7. Bahkan Turki menginginkan M60T MBT Dari Israel yang sudah di upgrade?
    Kalau dulu SAM Menghabisi banyak pespur AS di Vietnam dan sekarang malah kebalikannya pespur NATO menghabisi SAM di medan perang
    Industri Pesawat mana saja yang mau bekerja sama dengan PTDI selain SAAB dan Airbus?



    ReplyDelete
    Replies
    1. Saat ini boleh dibilang daftar relasi PT DI dalam tehnologi pespur masih cukup pendek, karena alasan yg sederhana.

      Belum mempunyai dasar yg cukup matang.

      Relasi yg skrg ada, boleh dibilang juga prospek pengembangannya terbatas:

      ## EADS Casa, subsidiary Airbus, karena relasi dari masa CN-235.
      Paling tidak nantinya kita akan memperoleh ijin menjual / memproduksi NC-295 untuk pasar di Asia.

      Untuk hubungan ke Airbus Military sendiri kelihatannya prospeknya lebih kecil.

      ## Eurocopter (ex-Aerospatiale Perancis), dan Bell Helicopter untuk ijin license production berbagai model.

      ## General Electric, supplier utk mesin keluarga CN-235, NC-212, dan NC-295.

      ## Lockheed-Martin, sebatas produksi beberapa part, dan maintenance utk F-16.
      Tidak akan ada alih tehnologi!.

      ## BAe System -- untuk support armada Hawk, yg pada puncaknya sempat berjumlah lebih dari 50 unit. Tapi relasi ini pelan2 juga kelihatan mulai melempem, seiring dgn semakin berkurangnya jumlah Hawk.

      ## Sukhoi via Rosoboronexport? Tidak akan pernah bisa ada, hanya perbaikan mendalam.

      ## KAI Korea? Tidak bisa dibilang partnership, krn kita tidak akan dapat apa2.

      Delete
    2. ya admin, pernah baca dimana kalau gak salah dulu pernah Turki mau ajak KAI buat proyek TFX tapi dari pihak Turki bilang Korsel tidak menganggap Korsel partner setara jadi Turki mundur

      Delete
    3. * tidak menganggap Turki partner setara jadi Turki mundur

      Delete
    4. Memang benar.

      Turki tidak suka ketika melihat kalau Korea mau mendikte segala sesuatu dalam proyek.

      Itu sih namanya bukan partnership!

      Cuma nyumbang uang utk proyek Korea, sama spt nasib kita sekarang.

      Turki sepertinya juga sudah melihat dari awal, kalau Korea akan selalu mencari partner ToT dari Boeing, atau Lockheed; dan dengan demikian mengkandaskan semua harapan "membuat sendiri" tanpa campur tangan luar.

      Mereka sih langsung membuka tender ke perusahaan2 Eropa, dan tidak pernah men-shortlist perusahaan2 US.

      Angka budget mereka juga jauh lebih realistis dari angka super optimis Korea, walaupun IMHO, masih terlalu kecil.

      TF-X dianggarkan dengan biaya development $25M, dan harga per unit $100 - $125 juta.

      Walau bagaimana juga, siapapun partnernya, proyek pespur baru itu bukan hanya sulit, tp sbnrnya diluar kemampuan Korea, ataupun Turki.

      Lihat saja kembali ke biayanya!

      Kenapa mau menghamburkan uang sedemikian banyak utk membuat pespur twin-engine, yg bisa dipastikan tidak akan lebih unggul drpd Typhoon, atau Rafale?

      Sama seperti Korea, Turki juga menginginkan "sedikit" fitur stealth.

      Kalau mau stealth shaping sih, artinya performa kinematis akan selalu harus dikorbankan, dan harganya akan selalu jatuhnya lebih mahal.

      Delete
  8. admin,gak sengaja browsing ketemu flygsystem 2020 itu SAAB bikin proyek apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Prospek pespur Stealth utk menggantikan Gripen di kemudian hari.

      Tetapi ini sepertinya masih dalam tahap konsep studi, dan sudah di-postponed.

      Sewaktu studi ini dimulai, boleh dibilang seluruh dunia masih termakan propaganda superioritas F-22..... yg skrg saja perlahan2 sudah mulai ketinggalan jaman.

      Saat ini Saab masih lebih berkutat dalam pengembangan Gripen-E lebih lanjut.

      Prospeknya masih sangat luas utk memastikan pespur ini bersaing utk 30 tahun ke depan.

      Apa yg akan terjadi setelah Gripen?

      Tergantung. Kenyataannya pasar pespur dunia sudah semakin menciut, dan hanya akan terus menciut semakin tahun.

      Prospek pembuatan pespur baru sbnrnya semakin sulit.

      Saab sudah melihat hal ini.
      Demikian juga Boeing, yg tidak akan kebagian proyek F-35.

      Bukan tidak mungkin, di masa depan keduanya akan kembali bekerjasama utk membuat pespur generasi ke-6, yg sudah belajar dari segala masalah yg menimpa F-22, dan F-35:

      # Terlalu mahal harga / operasionalnya
      # Terlalu rumit
      # Sulit utk di-upgrade & mengintegrasikan senjata baru
      # Performa kinematis juga tidak bisa lebih hebat dari F-16
      # Bagaimana caranya mengalahkan passive sensors, bukan terbatas di X-band radar spt stealth desain skrg.
      # Mungkin dapat menggunakan senjata laser?
      # Dan mungkin pilot akan menjadi optional?

      Semuanya sih masih jauh.

      Tehnologinya belum ada, dan Gripen-E boleh dibilang sudah menyelesaikan partially bbrp point pertama.

      Delete
  9. Kenapa F-16 Turki bisa menjatuhkan SU-24 Fencer milik AU Russia?
    Kalo Sukhoi Indonesia dipensiunkan dan digantikan Gripen,SU-27/30 mending di Museumkan saja ke Satria Mandala dan Dirgantara Mandala atau jadi besi bekas aja tuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. di museum kan aja kalau enggak jual ke negara2 yang sekiranya anggarannya terbatas terus Russia gak bakalan keberatan, negara2 Afrika kayaknya harganya pasti drop tapi ya mendinglah refund biar dikit, tapi sih mending jadiin objek di museum.

      Delete
    2. Sepertinya Sukhoi Kommercheskiy dijual lagi ke negara lain sih sudah susah.

      Umurnya sudah terlalu tua, dan secara tehnologi yah.... kecuali beberapa layar LCD di SKM/MK2, sebenarnya masih berbasiskan tahun 1980-an akhir.
      Terlalu kuno.

      Reputasi reliabilitas senjata Ruski, dan pelayanan aftersales service Rosoboronexport skrg sudah menjadi rahasia umum; pasar penjualan Sukhoi hanya akan semakin menciut.

      Saat ini hanya negara2 Afrika yg masih rajin membeli;

      Biasanya pemerintahnya otoriter, dan tidak diijinkan membeli senjata Barat,
      Beli Sukhoi hanya demi gengsi,
      ... Karena itu tidak diperuntukan kemampuan strategis,
      dan dalam beberapa tahun tidak ada lagi yg masih bisa terbang, juga tidak perlu pusing.

      ## Kenapa Su-24 Ruski tertembak F-16 Turki jatuh tempo hari?
      Kesimpulannya hanya satu: poor situational awareness.

      Secara tehnis, Turki sbnrya tidak berperang dngn Ruski di atas Syria, dan mereka sudah memperingatkan pespur Ruski sebelumnya --- melanggar wilayah kami lagi, akan ditembak jatuh!

      Dua F-16 Turki sudah berpatroli di wilayah ini, dan kelihatan kalau pilot kedua Su-24 sama sekali tidak tahu -- krn mungkin tidak ada pesawat AEW&C?

      Kalau belum cukup, Ground Control Turki juga sudah memberi peringatan agar Su-24 tidak mencoba menembus perbatasan Turki.
      Counter-claim Ruski; mereka tidak pernah menerima peringatan!

      Sudah begitu, tetap saja pilot Sukhoi masih cukup gegabah terbang terlalu dekat perbatasan dgn Turki.
      Counter-claim Ruski; mereka tidak pernah melanggar wilayah Tukri.
      Kemungkinan juga sistem navigasi glonass yg mrk pakai, memberi error margin lokasi yg cukup besar, atau mungkin ada yg salah dngn positioning system Su-24.

      Pelanggaran hanya terjadi 16 detik, Turki merasa sudah memberikan cukup justifikasi utk salah satu F-16 melepas missile, kemungkinan AIM-9, entah versi M atau X.

      Kembali, pilot Su-24 tidak pernah tahu sudah ditembak pesawat lawan, walaupun versi yg dipakai adalah versi BM, yg paling tidak mempunyai RWR?
      Counter claim Ruski: menuduh F-16 Turki menyerang tiba2, dan membokong Su- mereka di atas wilayah udara Syria.

      Cerita versi Ruski mirip bukan, dengan penyangkalan resmi kalau mereka tidak terlibat dalam tertembak jatuhnya MH17?
      (Ukrania yg menembak jatuh, katanya)

      Walaupun hasil investigasi internasional sudah conclusive: Boeing 777 MH17 sudah tertembak jatuh Buk-M missile yg diluncurkan dari wilayah Ukrania Timur, yg didukuki pemberontak pro-Ruski.

      Dalam bbrp minggu sebelumnya, beberapa pesawat militer Ukrania sudah tertembak jatuh SAM dalam daerah yg sama. Lagipula tidak ada alasan kenapa militer Ukrania menempatkan SAM di Ukrania Timur, karena para "pemberontak" tidak mempunyai pesawat.

      Semua sepak-terjang Ruski seharusnya sudah menjadi lampu kuning:
      Kenapa kita masih mau menjalin hubungan supplier-customer dngn mereka?

      Delete
  10. admin, lihat ada artikel tentang technical support Gripen buat di Thailand, F-18 Malaysia aja bakal nerima kayak begituan. Thailand padahal beli cuma 12,sedang Malaysia cuma 8, Lah Indonesia kan punya 16 Su-27/Su-30 apa kita punya program kayak begitu ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti kita sudah tahu, tidak ada.
      Hanya akan ada problem maintenance yg tidak berkesudahan.

      Keempat unit pertama dibeli 2003, sudah tidak mengudara sejak 2008.
      TS-2701 & 2702 sudah terbengkalai sampai Desember-2015, sebelum dikirim "perbaikan mendalam" yg sangat merugikan, dan sampai skrg belum pulang.

      Beberapa unit dari batch 2006 - 2008 juga, seperti bisa dilihat, mulai lebih jarang terbang.
      TS-3006 yg dari batch 2012 sudah ikut program "perbaikan mendalam" -- kita bisa menghitung untuk 3006, biasanya utk Sukhoi dalam 5 tahun jugs sudah tidak akan bisa terbang lagi.... jadi akan masih operasional "sehat" sampai 2020.

      Sbnrnya bbrp sumber di TNI-AU sudah membocorkan dalam artikel di AINonline tahun 2012, bahwa maintenance Sukhoi itu terlalu merepotkan.

      Kenapa demikian?
      Salah satu penjelasan, tidak hanya Sukhoi emang barang lemon,
      Tapi Ruski juga mau menagih hutang karena kita menghibahkan MiG-21 dahulu kala.

      Sekarang entah kenapa "pejabat" / fanboys masih menginginkan Su-35KI Yg tidak hanya berkemampuan nihil, tapi juga hanya akan memeras keuangan rakyat.

      Delete
    2. itu beneran admin, TS-3006 itu setahu saya masih baru bukan ? kok bisa udah rusak ? admin sebenernya Sukhoi yang kita beli itu fresh baru produksi, bekas sisa perang dingin atau bagaimana ? main2 ini Russia jangan-jangan

      Delete
    3. TS-3006 baru delivery tahun 2013.
      2015 sudah harus "perbaikan mendalam" di negara asalnya.

      ## Bekas atau baru?
      Seharusnya sih tidak, krn AU Ruski tidak pernah memakai versi Kommercheskiy barang export.

      Tetapi bukan tidak mungkin beberapa partnya, spt mesin AL-31F, sengaja sudah di-swap dngn sisa stock dari jaman Soviet.

      ## Di lain pihak, setelah kita mempelajari lebih lanjut dalam bbrp tahun terakhir re serba-serbi reliabilitas Sukhoi Ruski; cepat rusak itu sebenarnya sesuatu yg normal.

      @ Sukhoi akan selalu perlu major servicing tiap berapa ratus jam.
      Mahal.

      @ Spare partnya warisan produksi sistem Soviet, tidak dirancang utk tahan lama, atau utk bisa dirawat dngn mudah.

      ## Yang menjadi pertanyaan: Kenapa "perbaikan mendalam" tidak bisa dilakukan dalam negeri?

      Pelanggaran UU no.16/2012 pasal 43 (2).

      Hanya akan menguntungkan mereka yg menerima komisi dari prosedur ini, sekaligus men-export kedaulatan negara utk penjajahan baru v2.0.

      ## Kalau mau belajar mandiri, ya, harus mengoperasikan pespur yg memang perawatannya mudah di rawat, dan reliabilitasnya bandel.

      Jangan coba2 memakai twin-engine yg akan selalu lebih rewel, dan lebih merepotkan!

      Wong, F-16A/B Block-15OCU tetap bisa operasional kok semasa embargo, walaupun belum tentu US sudah men-transfer semua cara mengerjakan major maintenance.

      Inovasi, dan keuletan tim tehnis di Sku-03. Pahlawan tanpa tanda jasa.

      ## Gripen, perawatannya lebih mudah, dan operasionalnya lebih murah vs F-16.

      Paket penjualannya disertai ToT, dan tawaran kerjasama industrial sepenuh hati, dalam scope jangka waktu tak berbatas.

      Memenuhi Kebutuhan Nasional, bukan keinginan bbrp fanboys.

      Delete
  11. Yang bodohnya lagi fanboys Sukhoi juga tidak tahu kita juga pernah mengoperasikan pesawat tempur AS di jaman Soekarno seperti:DH-115 Vampire,P-51D Mustang,DC-3 Dakota,C-130 Hercules,B-25 Mitchell,B-26 Invader,dan PBY Catalina.sebetulnya,B-26 Invader dan P-51D Mustang AURI juga digunakan untuk operasi Trikora

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih lucu lagi, P-51D, yang warisan jaman PD II, sudah operasional dari sebelum MiG pertama dibeli, dan masih tetap operasional sampai pertengahan 1970an, lama setelah semua MiG masuk museum, atau dikirim hibah ke US.

      Kuncinya disini jelas:
      Kalau mau mengejar kemandirian, salah satu kunci utamanya adalah mengoperasikan pespur yg perawatannya mudah / murah.

      Delete
  12. admin ada yang cerita kalau KCR-60 & KCR-40 mau dirombak biar kayak Orkan fast attack craft Polandia, misil C-705 diganti RBS-15 Mk.3, Radarnya pakai Sea Giraffe, CIWS tetep AK-630, CMS pake Mandala buatan PT.LEN, Meriam Bofor diupgrade ke Mark.3, senapan mesin tetep denel vector tapi senjata2nya bakal dibikin remote controlled bukan lagi manual, menurut admin prospek isu tentang perombakan KCR biar mirip Orkan bagaimana? katanya isunya berkembang sejak pameran di Gdansk, Polandia

    ReplyDelete
    Replies
    1. baru isu aja sih belum tentu kejadian

      Delete
    2. Kelihatannya seperti Visby-class Swedia, 72 meter, 640 ton?

      ## C-905 missile rongsokan versi export PRC sih memang harus diganti -- krn kemungkinannya bisa ditembakkan ke arah kapal2 si pembuat di LCS.

      ## Radar Sea Giraffe memang cukup kecil, bisa dibawa KCR 60 m.
      Sekarang tergantung paket instalasi -- untuk menekan biaya sih, tidak perlu semua KCR membawa sea Giraffe.

      Satu KCR yg membawa Sea Giraffe akan dapat memandu RBS-15 (atau bahkan RBS-23) yg ditembakkan dari KCR lain, atau bahkan.... dari launcher di darat.

      Delete
    3. baru isu isu aja sih, sama radarnya maaf Giraffe 3D, malah jadinya kalau dipikir-pikir kayak korvet kecil.

      Delete
  13. Secanggih2nya pesawat tempur bahkan SU-35 Sekalipin,pesawat AWACS lebih penting untuk menjaga kedaulatan NKRI kita.percuma punya SU-27/30 tetap aja banyak kasus black flight?
    Pilih mana?Produk barat yang murah atau produk blok timur tapi memeras uang rakyat?
    Kenapa banyak rakyat Indonesia menginginkan SU-35 padahal SU-24 Fencer milik AU Russia saja sudah ditembak jatuh F-16C Block 52 milik AU Turki?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inilah miskonsepsi yg pelan2 akan kita uraikan disini.

      Pemikiran disini "efek gentar" itu seolah2 100% ditentukan oleh pespur apa yg kita operasikan.
      Kesalahan besar.

      Efek gentar itu sebenarnya ditentukan oleh beberapa faktor:

      ## Pesawat tempur sebenarnya hanya 20% dari efek gentar.
      Semakin memenuhi persyaratan "Abad ke-21" semakin baik: Sensor Fusion (AESA, IRST, IFF, dan Electronic Warfare), Supercruise, Networking, kemampuan utk mengoperasikan senjata / perlengkapan terbaik, dan tentu saja... Biaya operasional harus terjangkau, dan perawatan harus bisa dikuasai dengan mudah.

      Su-35 tidak memenuhi satupun juga persyaratan di atas.

      ## Kedua, infrastruktur pendukung, perlengkapan, dan persenjataan 20% yg berikutnya.
      Kalaupun kita mengoperasikan 16 Gripen-E, tetapi hanya membeli 24 Meteor, yah, hasilnya tetap akan jauh dari optimal.

      Efek gentar tidak akan ada artinya, mengingat Australia, Singapore, dan PRC semuanya sudah men-stock ratusan BVR missile.
      Mereka juga dapat mengandalkan bantuan banyak peswt AEW&C, dan tanker.

      ## Ketiga, yang lebih penting: Sistem pertahanan yg siap tempur, adalah 30% dari efek gentar

      Mempunyai jumlah berapapun juga, apakah sudah disertai dengan pembangunan sistem yg baik?
      Setiap unit harus tahu pasti dimana bagian mereka dalam satu sistem yg terpadu, tidak hanya mengudara, terus berharap bisa menembak jatuh lawan... Itu sih namanya sudah kalah sebelum mulai tempur.

      Ini sih masih absen dari semua Renstra, yg masih kelihatan terlalu muluk mengejar target 180 pesawat, tapi tidak tahu cara memakainya secara operasional bagaimana.

      ## Terakhir, 30% efek gentar itu sebenarnya ditentukan pilot, dan semua crew pendukung, yg sudah berlatih menurut sistem yg sudah siap seperti dalam point ketiga.

      Disinilah setiap pespur buatan Ruski / PRC akan selalu ketinggalan vs pespur Barat.
      Sistem training mereka masih kacau; berpusat ke ground control, bukan ke kemandirian taktis spt yg diajarkan sistem Barat.

      Su-35S, dan Su-30SM versi lokal AU Ruskipun, sebenarnya tidak akan berdaya menghadapi armada F-16 Block-50+ AU Turki.

      Kita bisa mengaplikasikan keempat point diatas:

      ## F-16 masih jauh lebih modern vs Sukhoi, dan mempunyai keunggulan Situational awareness.

      ## F-16 Turki dapat dipersenjatai AIM-9X Block-II, dan AMRAAM C-7, yang keduanya hampir sbeberapa generasi lebih unggul dibanding R-73, dan R-27.

      ## Sistem Pertahanan Turki sudah diatur menurut Sistem NATO, yg jauh lebih unggul, dan terakhir....

      ## Pilot Turki juga sudah berlatih minimal 150 jam / tahun. Mereka jauh lebih terlatih, dan jauh lebih berpengalaman dibanding pilot Ruski manapun, yg spt kita sudah ketahui, sebenarnya sangat menderita defisit jam training yg dibutuhkan.

      Kemampuan seperti Turki, Israel, Australia, dan Singapore -- itulah yg seharusnya kita kejar, bukan sibuk membeli barang2 kualitas downgrade tanpa perencanaan jelas seperti sekarang.

      Delete
  14. admin foto wind tunnel test KFX/IFX beredar, itu maksudnya apa admin ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah dari Juni tahun 2016 yg lalu,
      hanya saja pengumumannya memang tidak terlalu marak.

      Sebelum Hanjin bangkrut, dan sebelum Skandal mulai melanda Presiden Park.
      Fyi -- berita terakhir, Samsung, konglomerat terbesar Korea, tertangkap "menyumbang" jutaan $$ ke terdakwa dalam kasus ini.

      Boleh dibilang hasil wind testing ini akan minimal; tidak ada artinya.

      Desain yg dipakai dalam testing ini saja hanyalah mock model, sama spt model yg mereka tampilkan bbrp waktu yg lalu.

      Finalisasi akhir utk desain pespur saja belum selesai kok, karena mrk tidak bisa mendesain pswt secara utuh, sampai mereka bisa menyelesaikan semua masalah ToT.

      Delete
    2. oh, berita lama. okelah dikirain apaan, beredar di Fb kemarin

      Delete
  15. Akhir Akhir Ini yg Saya liat Memang Banyak Sekali Medsos Indonesia, Cyber army, Media Aswaja yg mengumandangkan tentang "anti Komunisme" karena PKI mulai bangkit. Nah Sejak Saat Itu Berita Su 35 Sudah tidak lagi muncul. Sejak Saat itu ,Rusia Tidak Tertarik utk menjual Su 35 ke indonesia, dan TNI mulai tidak lagi membeli Produk Rusia.

    Tapi Yah Ujung Ujungnya juga keMenhan Akan membeli Paket Saab Gripen E, Erieye , plus tawaran Kerjasama Jangka panjang dengan SAAB, Dan juga pembangunan National Networking.



    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah.

      Disini memang masih selalu ramai dengan banyak pernyataan "anti komunisme"; memangnya Moscow tidak mengawasi?

      Tidak ada satu negara lain manapun yg pernah menumpas habis2an partai komunis lokalnya, dan sudah pernah menghibahkan koleksi senjata buatan Soviet ke US......

      ..... eh, terus masih juga mengidamkan "crown jewel" tehnologi Ruski yg terkini.

      Bayangkan saja!
      Seandainya kita yg menjadi orang Ruski, apakah kita akan berminat menjual Su-35KI ke Indonesia?

      Belum lagi menghitung kalau dalam dewan PBB, kita turut menentang referendum Crimea agar "menjadi bagian" dari Ruski.

      Logika saja.
      Harganya akan dipastikan semahal mungkin, dan spesifikasinya akan di-downgrade serendah mungkin.

      Biar tahu rada tuh pengkhianat.

      Delete
  16. Seandainya Indonesia pada Orde Baru memilih Mirage 2000, PTDI Udah mampu Membuat sebagian Suku Cadang Sendiri tuh pesawat , lebih menguasai teknologi pesawat tempur modern, dan Indonesia akan lebih menghargai pentingnya 100% ToT. jadi Indonesia pada masa pak harto Bisa Membeli 2 Skuadron Mirage 2000baru pada thn 1989 dan 1995, 1 Sku Mirage 2000 bekas prancis pada thn 2003, Lalu 1 Sku Mirage 2000-5 Ex Qatar pada thn 2009. Nah Jadinya Indonesia Tidak akan Membeli Sukhoi tipe Apapun, dan mungkin akan menambah Sedikit BAe Hawk 209. Dan yg lebih unik nih : Missile!!
    1. Indonesia Jadinya hanya Memiliki Missile AIM9p4 yg terpasang pada F5 dan BAe Hawk.
    2. Indonesia Memiliki bermacam tipe Missile yg Juga buatan Eropa yaitu Matra R550 Magic, Matra Super 530, MICA , Exocet, dan MBDA Storm Shadow .

    Untuk Pengganti F5E tiger dan Hawk 209 mungkin Tetap Mengambil paket 32 Gripen E plus 4 Erieye dan juga tawaran kerjasama Jangka panjang, pembangunan National networking System dengan Saab. Selain itu Indonesia Juga menstock Ratusan Missile MBDA Meteor, IRIS-T, dan Mengambil ToT ToT RBS15S. Tapi kalo Mau Menstock Ratusan Missile AMRAAM C7 dan AIM9X itu tidak masalah.

    48 Mirage 2000, 32 Gripen E ditambah 4 Erieye yg sudah Lebih Terarah Dengan National Networking akan jadi Keunikan Tersendiri.... Efek Gentar TNI AU Akan Lebih Meningkat Secara Nyata ketimbang dengan situasi TNI AU yg sekarang...

    ini Cuma Opini Pribadi bung. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. alternate history, seandainya tahun 1989,kita pilih Dassault Mirage. situasinya pasti beda jauh sama sekarang

      Delete
    2. Sy sudah pernah menuliskan artikel skenario ini sebelumnya:

      Seandainya dahulu kita memilih Mirage 2000, dan bukan F-16.

      Memang benar.

      ## Yang paling penting, tidak seperti sekarang, kita tidak akan lagi begitu kuper dalam masalah Transfer-of-technologi.

      Dassault sebenarnya menawarkan paket offset 105%, dgn 25% komponennya diproduksi PT DI.

      Memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012.... di tahun 1986.

      Bukan tidak mungkin, seperti anda sebut, skrng mungkin kita sudah mengoperasikan 2 - 4 Skuadron Mirage 2000.

      ## Embargo militer EU di tahun 1999 sebenarnya hanya berlangsung 5 bulan, dan Perancis dikenal jauh lebih murah hati dalam client support, dibandingkan paman Sam.

      Tidak seperti F-16 dan Hawk-209, dan mengingat support industri lokal jauh lebih besar, hampir bisa dipastikan sekurangnya 80% Mirage 2000 Indonesia akan tetap operasional walaupun di embargo. Dan karena itu..

      ## Akan banyak skenario petak umpet yg menarik antara Mirage 2000 vs Hornet Australia di sekitar Timor.

      Insiden pulau Bawean juga akan menjadi sangat menarik. Mirage vs Hornet US Navy.

      Banyak efek positif lain yg juga kita bisa dapat:

      ## Kita tidak akan pernah merasa perlu membeli Sukhoi Kommercheskiy downgrade yg gampang rusak.

      ## Jumlah BAe Hawk 209 yg dibeli bisa dipastikan sedikit, atau mungkin malah kita bisa memilih AMX-1 buatan Italy / Brazil.

      ## .. tentu saja, kita juga tidak akan merasa pernah perlu ikut proyek mercusuar KF-X.

      ## Lockheed-Martin T-50 akan lebih sukar masuk menggantikan Hawk 53. Kemungkinan kita akan memilih M-346 Masters, mengikuti jejak Singapore, Israel, dan Polandia.

      ## Pada akhirnya, kita baru akan mencari pengganti Mirage 2000 di sekitar tahun 2020an minimum.

      Jauh lebih hemat anggaran dibanding beli gado2 gila2an spt skrg.

      Delete
  17. Kenapa pilot2 Uni Soviet banyak membelot ke AS?
    Emang Inggris akan mengembargo kita?
    Masalahnya orang Indonesia takut membeli Gripen karena komponennya rawan embargo AS?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Kenapa banyak orang Soviet membelot?
      Krn bermacam2 faktor dari alasan pribadi, tetapi motivasi dasarnya selalu lama: mereka tidak merasa cukup bahagia dibawah Soviet.

      ## Tidak. Sudah tidak ada alasan lagi kenapa ada satu negarapun akan meng-embargo Indonesia.

      Ini adalah argumen kuno yg sudah tidak masuk akal.

      Embargo itu terjadi karena reaksi dari tindak tanduk suatu negara, bukanlah aksi spontan tanpa alasan yg jelas.

      Yang sangat menyebalkan, mereka yg berseru2 "takut embargo", seperti menolak memahami suatu pengertian yg sangat sederhana:

      Dahulu kala, embargo dijatuhkan karena sepak-terjang kita di Timor Timur,
      dan karena, seluruh dunia tidak pernah mengakui kedaulatan Indonesia atas Timor Timur.

      Lebih bodoh lagi, kita lupa kalau waktu itu, dengan latar belakang perang dingin, Uni Soviet sebenarnya termasuk yg paling menentang keberadaan Indonesia di TimTim, sedangkan sebaliknya United States, dan Australia sebenarnya "melindungi".

      Tentu saja, setelah perang dingin berakhir, semua status quo jadi hilang,
      Hanya masalah waktu sebelum kemerdekaan Timor Timur akan menjadi fokus dunia.

      Inilah kenapa embargo 1999 itu sebenarnya tidak pernah bisa dihindari.
      Kalaupun tidak terjadi waktu itu, tetap saja suatu saat bisa meledak di muka kita. Bom waktu.

      Tetapi sekarang?
      Seluruh dunia mengakui kedaulatan seluruh territorial NKRI 100%, sedangkan masa pemberontakan daerah juga sudah berakhir.

      Untuk negara yg begitu beraneka ragam suku, budaya, dan bahasanya, sekarang kita juga sudah menjadi model bangsa yg luar biasa rukun.

      Lebih hebat lagi, sekarang bangsa kita adalah salah satu negara yg paling demokratis di Asia-Afrika, jauh lebih demokratis bahkan dibandingkan semua tetangga ASEAN kita, kecuali Australia.

      Seperti terus dicontohkan budaya inclusive Presiden Jokowi, saatnya terus memupuk kerukunan ini, dan terus membuat setiap warga merasa turut terlibat membangun Negara.
      Kita semua satu bangsa, bangsa Indonesia.

      Secara politik luar negeri, kita juga tidak main klaim territorial negara lain, seperti Ruski mengklaim Crimea, atau PRC mengklaim LCS seenak perut.

      Nah, lantas, kenapa masih ada yg mau main kartu embargo?

      Bahwa Swedia sudah menawarkan Gripen ke Indonesia saja sudah memberikan signal yg jelas mengenai status kita yg netral, demokratis, dan pecinta damai.

      ## Gripen memakai komponen buatan US masih takut?
      Ini juga menggelikan.

      Semua part US di Gripen sebenarnya bukan komponen vital yg mempengaruhi kemampuan tempurnya. Mesin GE F414-39-E, misalnya, dipilih karena alasan reliabilitas, dan ekonomis. Semua kemampuan tempur, dan tehnologi Gripen, yah, tergantung pada Saab Technologies.

      Semua alternatif lain sebenarnya jauh lebih parah.
      Versi Export Downgrade, dengan segudang masalah internal:

      @@ Sukhoi gampang rusak, dan semua partnya cepat kadaluarsa. Mesin AL-31F hanya tahan kurang dari 1,000 jam sebelum harus diganti, sedang mesin GE, PW, Snecma, dan Eurojet semuanya tahan operasional 8,000 jam, atau sesuai umur airframe pesawat., yg juga dua-tiga kali lipat lebih awet dibanding tipikal Ruski.

      Kalau memang mencintai membiayai hidup para perantara, dan "perbaikan mendalam" >12 bulan (lebih parah dari embargo) untuk memoroti keuangan rakyat....

      @@ Sedangkan KF-X yang katanya "buatan sendiri" akan sangat tergantung dengan tehnologi US, sama seperti membeli F-16. Kesalahan besar.
      Kebodohan Korea terlalu tergantung dgn US sih, berarti pesawat ini bisa dipastikan akan jauh lebih inferior dibandingkan F-16, tetapi baik harga maupun biaya operasionalnya jauh lebih mahal.

      Delete
  18. Apa keunggulan tank Strvg 103 dan Carl Gustav M4?
    Kenapa Ukraina dan Romania lebih dekat sama AS?
    Dan yang bodohnya lagi,rakyat Indonesia ingin putus hubungan diplomatik dengan AS apakah akan mengalami krisis lebih besar dari tahun 1997?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Carl Gustav dll akan dibahas lebih mendetail lain waktu.
      Boleh dibilang sbnrnya Kita lebih membutuhkan anti-tank missile spt Carl Gustav, dibanding Leopard 70 ton.

      ## Polandia, Czech, Slovak, Romania & semua negara2 ex-Parta Warsawa (kecuali Yugoslavia) sebenarnya secara tehnis berada dalam masa "penjajahan" di jaman Soviet.
      Pemerintah komunis disana hanya pemerintah boneka yg dtunjuk Moscow.

      Ukrania? Setelah pencaplokan Crimea, dan pemberontakan di Ukrania Timur?

      Setelah perlakuan Ruski,
      Kesemua negara ini boleh dibilang tidak ada pilihan kecuali lebih mendekat ke NATO, dan EU secara umum.

      ## Er... Sebaiknya kita tidak terlalu banyak membaca berita hoax.

      Setelah masa embargo berakhir, dan kita sudah bersalin rupa menjadi negara demokratis; hubungan diplomatis kita sudah semakin harmonis dngn negara2 tetangga, ataupun US, Jepang, Australia, dan Eropa.

      Survey dari BBC World service 2014 memberi contoh index persepsi rakyat Indonesia yg lebih jelas:
      (halaman 10 - 11)
      ========
      http://downloads.bbc.co.uk/mediacentre/country-rating-poll.pdf
      ========

      Halaman 10:
      36% masih menanggap US mempunyai pengaruh yg positif, sedang 46% menanggap negatif.
      Angka persepsi ini hampir sebanding kira2 dgn persepsi rakyat Spanyol (39% v 44%), atau Turki (36 v 36%).

      Bahkan mayoritas tipis rakyat Australia saja (46%) menganggap pengaruh US itu negatif, dibanding yg memandang mereka sbg pengaruh positif (44%)

      Halaman 11 lebih menarik lagi.
      Ternyata hanya 29% orang Indonesia yg menganggap Ruski memberi pengaruh positif, sedangkan 49% (mayoritas mutlak) memandang pengaruh mereka negatif.

      Diluar negara2 sekutu dekat US, nilai persepsi negatif kita thd Ruski tergolong paling tinggi, bahkan melebihi Korea Selatan (46%).

      Pernyataan2 atau berita2 yg mengatas namakan "rakyat Indonesia", atau "presiden sudah menyetujui", tanpa pernah ada pernyataan resmi, atau disertai beberapa sumber berita resmi, yg bisa di-cross check, biasanya adalah ciri khas dimulainya suatu berita hoax.

      Dalam dunia formil yg memang penuh hoax, biasanya pernyataan2 yg paling memukau adalah:

      "Pengganti F-5 sudah ditentukan! Tunggu saja beritanya dalam beberapa bulan!"

      "Su-35 sudah FINAL. Tunggu saja kehadirannya!"

      Delete
    2. iya admin, baca tentang AT missile, Indonesia pesen 600 MBT-LAW dari SAAB, 180 Javeline sama gak tau jumlahnya MILAN, menurut admin dari tiga ini mana sih yang kita harus punya massal? sama MBT-LAW apa spesialnya sampai kita beli gak tanggung tanggung 600 biji?

      Delete
    3. Pertanyaan yg bagus.

      Jawabannya:
      Utk semua alutsista; jumlah yg dibeli harus selalu sesuai kebutuhan.

      Untuk perlengkapan infrantri, sebenarnya paling repot utk menghitung jumlah kebutuhan.

      Kita tidak tahu pasti alasan kenapa membeli 600 MBT-LAW, karena menimbulkan banyak pertanyaan.

      Misalnya, bagaimana struktur unit dalam divisi?

      Apakah setiap platoon hanya 100% infantry, atau punya kemampuan anti-armour?

      Kalau iya, berapa jumlah minimum AT launcher per platoon, atau per resimen?

      Bagaimana prosedur deployment-nya?

      Apakah jumlah, dan prosedur pemakaian juga sudah di-ujicoba?

      Sepadan tidak dengan kemampuan yg dibutuhkan?

      Salah satu prasarana untuk mendapat jawabannya adalah dari latihan militer; lebih baik lagi kalau dilakukan dengan negara lain, agar bisa saling belajar.

      Kalau memang kualitasnya sudah diuji coba, dan proven; tetapi jumlah memang kurang memadai, ajukan proposal utk menambah.

      Tetapi kalau jumlah pembelian terlalu berlebih, wah, kelihatannya ada yg salah?

      Delete
  19. gripen akan demo flight di aero india apakah menurut bung kedepannya gripen juga akan melakukan demo flight disini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya Gripen demo flight akan tergantung permintaan pemerintah.

      Masalah lain, sudah 20 tahun kita tidak pernah menggelar Indonesian Air Show.
      Kabar terakhir, akan diadakan tahun 2018.
      Kita belum tahu siapa saja yg akan berpartisipasi.

      Tetapi kalau tim pilot / tehnisi mau mengajukan tes Gripen, sepertinya bisa dilakukan langsung di Linköping.

      Sebaliknya, baik US, atau Ruski akan kesulitan mengabulkan permintaan test drive.
      ## F-16V, dan Su-35K versi export belum tersedia untuk diujicoba.
      Versi lokal akan terlalu rahasia untuk dites.

      Delete