Thursday, January 19, 2017

Airbus A400M Indonesia?

Wikimedia

Jane's Article (writer: Ridzwan Rahmat), out of nowhere, had "confirmed" Indonesian approval for the purchase of 5 Airbus A400M in the tune $2 billion.

How did this happen?
This news has not been reported in any of local medias. 

Apa yang terjadi?

Bagaimana penulis untuk Jane's bisa tiba-tiba mengumumkan secara sepihak kalau pemerintah Indonesia menyetujui pembelian A400M?

Dalam setahun terakhir, juga tidak ada satupun media berita lokal yang pernah memberitakan apakah akuisisi A400M sedang dibahas, atau pernah diperdebatkan di Komisi I DPR.


Apakah akuisisi ini suatu kebutuhan? 

Indonesia masih dalam tahap menerima batch kedua dari 9 C-130H Hibah dari RAAF Australia

Memenuhi Kebutuhan, bukan Keinginan
(Gambar: TNI-AU)
Website resmi TNI-AU baru mengumumkan kedatangan A-1334, dan A-1335 yang baru tiba pada bulan April, dan November-2016 yang lalu. Ini baru dua pesawat, dari batch kedua sejumlah lima C-130HS, yang sudah dibeli dengan harga super discount A$15 juta di tahun 2013. Sebelumnya, di tahun 2012, Australia juga sudah pernah menghibahkan 4 C-130H ke Indonesia.

Sangat disayangkan, karena Hercules A-1334 tidak lama setelahnya, kemudian mengalami kecelakaan di Wamena, yang menewaskan 13 pilot, dan crew kita.

Tidak, sekali lagi tidak ada yang salah dengan proses hibah / pembelian second ini. Semua C-130 Australia sudah di-refurbish, dan tidak akan ada alasan kenapa pesawat ini tidak akan aman untuk terbang 30 tahun lagi. 

Kecelakaan A-1334 di Waimena, sebenarnya mengingatkan, kalau kita masih harus berjuang untuk mengejar "safety record" yang lebih baik. Saat ini, sekurangnya satu pesawat / helikopter, harus mengalami kecelakaan writeoff setiap tahun sejak tahun 2006.

Pemerintah Australia memutuskan untuk mempensiunkan C-130 classic mereka bukan karena sudah habis masa pakainya, tetapi karena mereka sedang proses mengakusisi 12 C-130J-30, yang mempunyai sistem avionic, mesin, perlengkapan yang lebih baru, dan juga akan terintegrasi ke Link-16Mengingat mereka juga mengoperasikan C-27J, yang mempunyai layout cockpit yang similar-to, dan menggunakan jenis mesin yang sama dengan C-130J, dalam rangka mengejar commonality, adalah keputusan yang lebih ekonomis untuk mempensiunkan C-130 classic mereka.

Pertanyaannya, mengingat kita sudah keteban rejeki untuk memperkuat Sku-32 secara ekonomis, darimana datangnya kebutuhan untuk membeli 5 A400M seharga $2 milyar?

Kapan pernah ada studi kelaikan kalau A400M akan sesuai dengan kebutuhan Indonesia?

Kita juga tidak ingat kalau Airbus A400M menampilkan diri dalam pameran IndoDefence 2016, yang silam?



Mengintegrasikan A400M tidak akan semudah, atau semurah yang dibayangkan.


Kembali, kecelakaan di Waimena, 18-Desember-2016, yang silam, mengingatkan kita, tanpa adanya usaha, prosedural training, safety, dan maintenance yang lebih baik, kita akan selalu terus-menerus mengalami kecelakaan yang tidak diinginkan.

Negara kita sudah mengoperasikan C-130 sejak tahun 1960-an. Walaupun boleh dibilang sudah terbiasa, sebelum kecelakaan Waimena, TNI-AU sudah mengalami 5 kecelakaan C-130, dengan jumlah korban jiwa mencapai 252 orang.

Kita boleh bermimpi, tetapi Airbus A400M; tipe yang sama sekali baru, dengan prosedur penerbangan yang berbeda dibandingkan C-130 Classic, tidak akan automatis mendadak bisa membuat safety record kita menjadi lebih baik. Malahan pembelian ini justru akan membawa armada tranport Indonesia, ke dalam pola akuisisi gado-gado yang akan sangat merugikan negara.

Training 

Learning curve untuk pilot, akan harus di-reset dari NOL. Akan membutuhkan waktu sekurangnya tiga, sampai empat tahun sebelum Airbus A400M (seandainya terbeli) bisa benar-benar operasional di Indonesia. Tentu saja ini akan memakan biaya.

Kalau belum cukup parah, mengingat safety record TNI-AU yang sekarang, biasanya setiap tipe baru (F-16, BAe Hawk-209, T-50, Super Tucano) akan selalu mengalami kecelakaan dalam beberapa tahun pertama.


Biaya Operasional 

Tentu saja, dengan membeli hanya 5 unit (karena modal cekak), dengan sendirinya biaya operasional akan melonjak antara 60 - 100% lebih mahal dibandingkan A400M, yang sekarang dioperasikan di Eropa

Yah, membeli unit dalam jumlah sedikit bukan berarti menghemat, apalagi kalau yang dibeli adalah pesawat rumit yang biaya operasionalnya mahal, seperti contoh Sukhoi, yang setiap unitnya membutuhkan biaya lebih mahal dibanding mengoperasikan 7 F-16. 

Spare part akan selalu harus dibayar dalam harga retail, yang lebih mahal, dan bukan harga borongan. Training akan selalu lebih sporadic, karena kita hanya akan mempersiapkan beberapa tim pilot, dan maintenance crew yang kecil, yang hanya akan bisa optimal mengurus A400M, dan kemampuannya tidak akan bisa direplikasi semua yang lain.


Support dari PT Dirgantara Indonesia? 

Ini juga tidak akan mudah, kalaupun ada kemauan untuk memenuhi persyaratan UU no.16/2012.

Airbus A400M tidak dikenal sebagai pesawat yang perawatan, atau support system-nya mudah.

Fasilitas PT Dirgantara Indonesia saat ini lebih di-optimalkan untuk produksi pesawat angkut ringan dari keluarga NC-212, CN-235, dan NC-295. Kembali, dengan hanya membeli 5 unit, tentu saja learning curve yang harus dilampaui PT Dirgantara tidak akan lebih mudah dibandingkan pilot, dan crew.



Masakan baru saja memotong anggaran Rp 133 triliun, lantas mau menghamburkan Rp 26 Triliun ke sesuatu yang tidak dibutuhkan?


Kembali harus diingat, kalau MenKeu Sri Muliani pada 11-Agustus-2016, pemerintah akan melakukan pemangkasan anggaran Rp 133 Triliun (termasuk Rp 69 triliun untuk anggaran daerah), yang terutama diarahkan ke semua aktivitas yang dinilai tidak menunjang semua program prioritas pemerintah. Pemangkasan ini diperlukan untuk mengurangi besarnya defisit APBN 2016 di akhir tahun.

Pertanyaannya mudah:
Di masa dimana penghematan akan menjadi prioritas utama, kenapa tiba-tiba pemerintah bisa menyetujui pembelian Rp 26 triliun, untuk pesawat yang tidak benar-benar kita butuhkan?

Seperti diatas, Sku-32 juga masih dalam rangka penerimaan 5 lagi pesawat C-130HS yang sudah didapat dengan harga sangat murah. Terlepas dari seberapapun hebatnya spesifikasi A400M dibandingkan C-130, apakah akuisisi ini dapat menjadi pengeluaran yang harus menjadi prioritas utama pemerintah?

Kelihatannya tidak mungkin, bukan?

Sekarang, kita akan menunggu reaksi pemerintah dari pemberitaan sepihak yang sudah dilakukan penulis artikel di Jane's ini.


Update #1: Reaksi TNI
Kapan kita pernah menyetujui pembelian A400M ?!?

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo
(TEMPO/Subekti)
Harian Tempo baru saja memuat reaksi pertama dari TNI, dan pemerintah Indonesia, Kamis petang 19-Januari-2016; terkait laporan sepihak Ridzwan Rahmat, untuk Jane's 

Panglima TNI, Jendral Gatot Nurmantyo menjawab pertanyaan tentang artikel ini dengan sederhana:
"Saya belum dapat laporan. Jadi untuk A400M, saya waktu itu sudah sampaikan, dan Presiden tidak setuju."

Bukan tanpa alasan, kita harus mencurigai asal usul artikel ini. Sepertinya si penulis mendapat "info" dari beberapa sumber oknum nakal, atau ini hanya berita hoax. Ini cukup memalukan untuk reputasi Jane's, yang sudah pernah ditunjuk sebagai pelapor publikasi resmi dalam acara IndoDefence 2016.

Panglima TNI, yang didampingi KSAD Jenderal TNI Mulyono, KSAL Laksamana TNI Ade Supandi, dan KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto sudah mengungkapkan lebih jauh ketidaksetujuan mereka dari transaksi ini. 

"Skandal A400M" ini dengan demikian, sudah semakin menyerupai permasalahan skandal helikopter AW101 Desember 2016 yang lalu. 

Bukankah sudah saatnya kita mulai menerapkan disiplin dalam sistem akuisisi Alutsista negara kita di masa depan?

Kita akan menunggu pernyataan presiden untuk update selanjutnya.
Augusta-Westland AW-101
Engkau tidak dibutuhkan; 
tapi mendadak sudah bisa mengudara dengan Indonesian Markings
(Gambar: Tony Obsbourne; Yeovil, UK)

35 comments:

  1. kenapa kita tidak membeli C-295 Versi AWACS?
    kenapa kita tidak beli CN-235 versi Gunships?
    kenapa AS merancang pengganti B-2A Spirit yaitu B-21 Raider?
    sebetulnya Ratusan Sukhoi di India diupgrade jadi Super Sukhoi yang lebih canggih dan avionik dari AS,EU,dan Israel.India dan Russia merancang pesawat FGFA(Pesawat Stealth versi India)untuk menghadapi China dan Pakistan

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayaknya buat pesawat AEWC, kesempatan terkuatnya CN-295 dipasang Erieye soalnya C-295 yang mau dijadiin AWACS masih lagi pengembangan sama IAI Israel, kalau gak salah pakai radar dari Elbit sedangkan buat gunship kan fungsinya untuk Counter insurgency, perannya udah digunakan Super Tucano, yang lain kayaknya admin jauh lebih tahu

      Delete
    2. ## C-295 AEW&C membawa radar buatan Elta, Israel. Pemerintah Eropa belum menawarkan versi ini ke Indonesia.

      Walau sempat ada diskusi dini, Saab memutuskan untuk tidak mengintegrasikan Erieye ke C-295.

      ## CN-235 Gunship dibuat khusus untuk kebutuhan Yordania.
      Apakah Indonesia akan mencoba mengakuisisi? Tergantung kebutuhan.

      ## B-21 hanya proyek mercusuar standard USAF, yg senang menghabiskan uang. Kita bahas lain waktu.

      ## Su-30MKI sistem avionic-nya buatan Thales, Perancis.
      Mengintegrasikan avionic Barat ke pespur Ruski, yg kurang compatible, tentu saja hasilnya kurang optimal.

      Avionic Dassault Rafale tentu saja kualitasnya jauh lebih baik. Kemampuannya diakui memberikan Situational Awareness yg sebanding dgn Typhoon, Gripen, atau F-18E/F.

      ## FGFA -- semakin hari semakin meragukan kalau proyek yg berdasarkan PAk-FA ini bisa selesai.

      Secara tehnis, keuangan Ruski sudah ludes, akibat resesi sejak 2014. Masih banyak development yg tertunda, dan belum ada penyelesaiannya.

      Pengurangan RCS belum optimal, karena kualitas konstruksinya kurang memenuhi syarat.
      PAK-FA sejauh ini juga masih memakai Irbis-E PESA, dan mesin 117 variant dari AL-41F1. Tentu saja, tidak akan bisa supercruise.

      Dari segi persenjataan? Missile izdeliye-170-1, ataupun yg lebih canggih, K-77M kelihatannya tidak akan pernah siap.

      Kalaupun masih ada kemauan, Ruski sudah tidak punya uang.

      Ketiga Eurocanards akan tetap jauh lebih unggul dalam segala hal.

      Delete
  2. boleh enggak kita upgrade F-16 bisa bawa RBS-15 sama MBDA Meteor?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kurang tahu, apa LM ngebolehin source code nya dibuka.

      Delete
    2. Tidak.

      Pemerintah US tidak akan mengijinkan modifikasi source code F-16 Indonesia.

      Kebiasaan US juga biasanya alergi mengintegrasikan senjata buatan Eropa ke pespur mereka sendiri.

      Lagipula, kalaupun boleh, mengintegrasikan BVR missile ke pespur baru, biayanya sangat mahal. Bisa melebihi $500 juta.

      Delete
  3. kenapa Indonesia belum bisa ikut latihan Red Flag di AS?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalaupun ada kemauan, belum akan kesampaian.

      ## Pertama, harus ada usaha mendekatkan diri lebih lanjut dari segi kerjasama militer dengan pemerintah US sendiri, apalagi mengingat kita akan menghadapi "musuh bersama" di LCS.

      ## Biayanya akan terlalu mahal, akibat kekacauan pola akuisisi gado2 sekarang, yg disandera Sukhoi. Kita sudah menghabiskan terlalu banyak uang utk bayar maintenance.

      ## Terakhir, perlengkapan juga kurang memadai.
      F-16 Block-25+ kita spesifikasinya terlalu rendah untuk bisa membuat pilot kita dapat memetik banyak pengalaman dari Red Flag.

      Sedangkan Sukhoi? Terlalu mahal, dan terlalu kuno.

      Delete
  4. sebenernya ada berapa sih C-130 kita terus ada rencana buat upgrade C-130 B kita? iya sih sebenernya kita gak perlu amat A400M ni, kan udah ada C-130, CN-295 sama CN-235, agak janggal jadinya panglima TNI bilang belum terima laporan tentang ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penulis artikel Jane's merasa mendapat "informasi dalam" -- artinya ada oknum yg nakal?

      Editorial mereka seharusnya tidak boleh sembarang mengijinkan post; sebelum ada konfirmasi resmi dari pemerintah.
      Ini sih sudah seperti menyebar berita hoax - seperti mengurangi kredibilitas mereka sendiri.

      Jumlah Hercules?

      Website TNI-AU sih menunjuk Sku-32 mempunyai 16 pesawat (termasuk A-1334, dan A-1335 yang baru tiba).

      Jumlah di Sku-31?

      Angka yg didapat dari media sih rata-rata tidak konsisten; seperti jumlahnya banyak, tetapi entah berapa unit yg sudah dipensiunkan, atau di-write off karena kecelakaan.

      ==========
      http://www.kompasiana.com/intan.rahmadewi/inilah-hercules-hercules-milik-indonesia-dan-yang-mendapat-musibah_5593b8a3ce7e61c408a94d89

      http://m.covesia.com/berita/18668/berapa-jumlah-pesawat-hercules-milik-tni.html
      ==========

      Kelihatannya sih versi C-130B hanya tinggal tersisa 1 - 2 unit ?!?
      Nanti kita akan cari konfirmasi lebih lanjut.

      Delete
  5. Udah beli S400 aja kabur tuh semua .......

    ReplyDelete
    Replies
    1. @phadyl

      Emmm...bener juga tuh, gara2 dijagain S-400 pada kabur smua pesawat israel.

      Tapi kaburnya ke damascus, sambil bawa oleh-oleh...

      Delete
    2. sebenernya kalau kita aware sama perkembangan di timteng gak ada impressive nya tuh arhanud dari Russia, kemana pertahanan berlapis Suriah yang ada S-300, Pantsyr-1, Buk kok gagal semua nge detect airstrike Israel, IAF tu pespurnya F-16, F-15 sama F-35 mereka pun sebenernya baru tiba berarti sebenernya selama ini mereka pake backbone mereka F-16 dan F-15. bisa apa coba itu arhanud dari Russia tu, cuma hiasan atau apa ? entah intelijen Israel sudah well developed, atau pespur Israel bisa low flying atau sekarang mau menggunakan teori ketidakberuntungan Geografis yang kita liat ya itu semua gagal ngelindungin objek vital Suriah termasuk S-300, perhatikan juga deh babak belurnya alutsista made in Russia dari tank T-72 sampai pespur Mig series di timteng, sekedar informasi cari operation rimon 20, pilot veteran Soviet dengan pespur tercanggihnya ( bukan export version ) dipermalukan IAF

      Delete
    3. lagian salah mau angkat alutsista Russia buat appraisal disini yang ada disini ngebongkar kebobrokan alutsista kommercheskiy Russia sama politik kotor export versionnya US, kebanyakan kita ngomongin alutsista Eropa terutama produk SAAB

      Delete
    4. Kita akan membahas seberapa efektifnya SAM dalam konflik di artikel lain.

      Sekadar preview dahulu dari segi sejarah:

      ## Sepanjang perang Vietnam, SAM hanya berhasil menembak jatuh kurang dari 2% pesawat US.

      ## Perang Yom Kippur 1973 -- sama.
      SAM Mesir, dan Syria hanya berhasil menembak jatuh kurang dari 2% pesawat Israel.
      Lebih banyak pesawat (biasanya Skyhawk) tertembak jatuh ZSU-34 AAA guns.

      ## Perang Lebanon 1982, dengan SA-6 yg lebih modern, dgn sistem SAM Soviet yg terintegrasi, Syria hanya berhasil menembak jatuh..... 0 pesawat.
      Sendirinya, kehilangan 16 launcher system, dan lebih dari 80 pesawat tertembak jatuh.

      ## Semenjak masuk ke Abad ke-21: Seperti dituliskan bung @hari di atas:
      SAM tidak pernah berhasil menembak jatuh pesawat Israel. Mereka sudah lama bebas membom target hampir dimanapun di Syria -- tanpa ada perlawanan.

      S-400 Versi Export (yah, aturan penjualan yg sama juga berlaku) tidak akan dapat merubah status quo: tidak akan bisa efektif melawan AU modern, yg teintegrasi, terlatih, dan mempunyai high situational awareness.

      Kebanyakan media Barat kerap kali melakukan over-estimasi kemampuan S-300/S-400, dan juga lupa kalau negara lain hanya diperbolehkan membeli Versi Export Downgrade

      Delete
    5. Keberhasilan israel menerobos pertahanan udara suriah tidak lepas dari ketekunan dan sinergi dari unsur2 pernika (pesawat sigint/elint/commint) dlm mengumpulkan informasi intelejen ttg frekuensi radar&rudal hanud suriah, memantau pergeseran/dislokasi sistim rudal&radar hanud bergerak...shg bisa mengetahui celah yang tidak terpantau ketika sistim rudal&radar hanud tsb melakukan dislokasi.

      Hal ini juga menunjukkan kesigapan unsur2 penindak (pespur dan sistim jamming) dalam bereaksi begitu mendapat informasi adanya "jendela waktu" yang bisa ditembus.

      Kedekatan spesial dg turki, yunani dan brazil tampaknya memudahkan israel mengakses informasi penting berkaitan dg sistim rudal s-300/thor/pantsyr

      Delete
    6. Betul, bung hari.

      ## Seperti kita lihat dari contoh Israel, mereka sbnrnya sudah berhasil mendorong kemampuan tempur setiap asset udara mereka melebihi tingkat efektif yang 150%.

      Kalaupun negara lain bisa mengoperasikan semua perlengkapan, pesawat, dan tehnologi yg sama persis dengan Israel sekalipun, mereka tidak akan dapat mereplikasi kemampuan yg sama.

      IMHO, bahkan belum tentu USAF sekalipun, dapat beroperasi seefektif itu.

      Prestasi semacam inilah yg seharusnya bisa kita kejar, bukan asal beli, lalu automatis mengharap mendapat "efek gentar".

      (Sistem akusisi kita seperti sistem Pop Mie; tinggal seduh air panas, selesai!)

      Kalaupun kita bisa membeli 100 F-22 sekalipun, tetap saja tidak ada bedanya dengan sekarang;
      RAAF Australia akan tetap saja jauh lebih unggul dalam segala hal -- krn kita tidak akan pernah bisa mengoperasikan F-22, sebaik Australia mengoperasikan semua asset mereka.

      ## Yah, negara2 Barat juga sudah mempelajari S-300MPU yg dioperasikan Yunani, dan Czech, walau keduanya hanya versi export.

      Ketika Ruski memindahkan S-400 versi lokal ke Syria, pimpinan AU Israel ditanya, apakah ini akan mempengaruhi operasi mereka?

      Jawabannya tidak.
      Mereka akan siap menghadapi S-400, kalau terpaksa;
      walau semoga saja tidak akan perlu terjadi.

      Delete
  6. admin, baru tahu ada ya pesawat CN-235 yang dijadiin varian Electronic warfare ? awal tahunya pas lihat profil AU Turki rupanya installasinya dari Israel, terus baru tahu kalau F-16 cuma bisa isi bahan bakar di udara via pesawat tanker yang mode transfernya kaku bukan kabel fleksibel dan selama ini kita pakai KC-135 nya US, lah itu KC-130 kita jadi kayak kurang maksimal penggunaannya ? itu F-16 ada untungnya tapi ada ribetnya juga kalau dipikir-pikir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, bung Thomas,

      ## Pesawat AEW&C, Signal Intelligence, Electronic Warfare -- semuanya adalah bagian penting dari AU modern, yg saat ini sayangnya masih kurang dianggap dalam perencanaan RENSTRA di Indonesia.

      Seperti bisa dilihat dari contoh skandal A400M ini, atau bagaimana terobsesinya dengan Sukhoi Flemon versi Export; kelemahan terbesar kita terlalu banyak bermimpi.

      ## F-16 versus Gripen: Aerial Refueling.

      Memang, sy sudah pernah mempostkan dalam kontes Saab Gripen-E vs F-16V versi Export Indonesia.

      F-16, sama seperti F-15, F-22, dan F-35A harus menggunakan sistem air-to-air refueling Flying boom exclusive ala USAF, yg hanya bisa dipasang ke pesawat tanker berat yg mahal; KC-135, KC-46 (767) atau KC-30(A330).

      F-18, Eurocanards, dan semua pespur lain di dunia, kecuali versi untuk egoistic USAF, memilih sistem Probe-and-drogue, yg bisa dipasang ke KC-130, atau KC-295 kelak.

      Akibatnya jelas - pilot F-16 Indonesia tidak pernah bisa berlatih air-to-air refueling, tetapi... masih bisa membawa 3 drop tank besar.

      ... sedangkan Sukhoi Kommercheskiy di Sku-11 bisa air-to-air refueling, tapi kedua mesinnya luar biasa boros bensin, dan secara desain, tidak bisa membawa drop tank.

      Logistik.
      Inilah salah satu alasan lain kenapa kita membutuhkan Saab Gripen sebagai pesawat tempur utama di masa depan.

      Memenuhi kebutuhan, dan menutup kekurangan dari kedua model versi export yg sekarang.

      Delete
    2. Oiya, kalau belum cukup parah;

      Dari model mock-up-nya, KF-X juga kelihatan akan memakai sistem flying boom.

      Ini tidak mengherankan, mengingat AU Korea mengoperasikan semua tipe pespur USAF: F-15, F-16, dan akhirnya, F-35A Lemon II.

      Philosophy desain KF-X kan memang sudah jelas dari awal:

      Memenuhi keinginan Korea, sebodo amat kebutuhan Indonesia.

      Inilah contoh proyek mercusuar, yg mengikuti suara hati ("ayo, membuat sendiri!"), tapi tidak pernah melek untuk mempelajari dulu secara mendalam semua parameter desain, partnership, ToT, atau mengkaji kelaikan fasilitas lokal secara mendetail.

      Kembali, menjual mimpi ke jutaan orang Indonesia, tetapi sebenarnya hanya bagai kodok merindukan bulan.

      Delete
  7. admin, saya searching apa iya NASAMS bisa menggunakan misil IRIS-T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Versi terbaru NASAMS-2 Norwegia sepertinya masih menggunakan AMRAAM.

      AD Swedia berencana menggunakan IRIS-T untuk menggantikan RBS-70NG di kemudian hari. Yah, air-to-air missile bisa berubah menjadi SHORAD, dan mengingat IRIS-T memakai planar seeker, pespur biasa (seperti Sukhoi Ruski) tidak akan bisa mendeteksi.

      Ini bukanlah sesuatu yg unik.
      Industri2 Barat memang sudah sering mengembangkan multiple purpose dari setiap jenis missile yg ada.

      AIM-9X juga sedang di-tes untuk dapat menghantam target di darat; dan juga untuk Surface-to-Air launcher.

      Patut diingat juga, dengan bantuan datalink, MICA-IR, IRIS-T, dan AIM-9X mempunyai engagement envelope 360 derajat; dapat berputar balik utk menghantam target di belakang arah tembak awal.

      AIM-7 Sparrow, dan MICA juga sudah lama menjadi standard surface-to-air jarak dekat untuk banyak kapal perang, atau dapat dibawa kendaraan darat.

      Kembali, semuanya menunjukkan fleksibilitas, dan keunggulan tehnologi, yg sampai kapanpun juga tidak akan bisa direplikasi dengan tehnologi Russia, yg kurang modal, dan sudah tertinggal jauh.

      Ini menunjukkan potensi keuntungan dari kerjasama jangka panjang industri kita dengan Saab.
      Kalau kita akhirnya dapat mulai membuat launcher semacam ini, akan jauh lebih menuntungkan, dibanding mencoba membuat missile sendiri... :D

      Sebagai pembanding akhir; tehnologi Ruski:
      R-74 yang tidak tersedia untuk export, dan kelihatannya juga belum dibeli AU Ruski dalam jumlah besar; masih memakai IR-seeker standard, bukan planar array yg dapat "melihat" bentuk oesawat agar susah dikecoh flare; dan hanya dapat diarahkan ke sudut maksimum 70 derajat dari arah ditembakkan.

      ... dan tidak; kelihatannya mereka juga belum berhasil menguasai tehnologi missile datalink.

      BVR missile andalan mereka saja (R-27) masih memakai Semi-Active Homing-Radar, yg tidak bisa mengakuisisi target secara independent.

      Delete
  8. katanya Iran beli F-16 juga tapi spek pasti dibawah negara lain?
    mengingat iran pernah berhianat ketika F-14 nya didekati teknisi Uni Soviet dan AIM-54 sangat membantu Uni Soviet mengembangkan AA-9 Amos untuk MIG-31

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung ikhsan,

      United States, ataupun EU tidak akan menjual senjata apapun ke Iran.

      ## Mengenai berita apakah F-14A pernah di-transfer ke Uni Soviet tidak pernah bisa diklarifikasi, apakah terjadi, atau tidak.
      Masalahnya, walaupun skrg kelihatan sedikit SKSD, sebenarnya kedua negara ini tidaklah saling menyukai.

      ## Sebelum tahun 1980, sebenarnya Iran adalah "lawan" Soviet, dan sahabat US.
      MiG-25 Soviet sering melakukan pengintaian ke Iran; inilah alasan mereka mengakusisi F-14A, dengan Phoenix missile.
      Soviet juga pernah menembak jatuh helikopter Iran, yg kabarnya tak sengaja menerobos perbatasan.

      ## Semasa perang Iraq - Iran (1980 - 1988), Uni Soviet sebenarnya juga mendukung Saddam Hussein, dan meng-export ratusan MiG, helikopter, dan tank ke Iraq.

      ## Setelah Soviet bubar, hubungan memang sempat menghangat.
      Iran membeli beberapa Su-24, Su-25, dan MiG-29, tetapi ada sesuatu yg menarik disini...

      ## Walaupun sempat merebak banyak rumor, Iran tidak pernah memutuskan untuk membeli Su-27/30.
      Mereka merasa kalau armada F-14A mereka yg sudah berumur 40 tahun, dan berhasil di-maintain dengan susah payah, masih lebih unggul dibanding Su-Kommercheskiy baru yg dijual Ruski.

      Delete
  9. kabar terbaru kontrak pembelian heli AW ahirnya dibatalkan semoga kedepannya pembelian Alutsista benar2 mengutamakan produksi lokal g kacau balau seperti ini
    menurut saya sih kontrak a400m juga karena sudah pernah ditolak presiden kemungkinan besar batal

    ReplyDelete
    Replies
    1. A400M sih memang kontraknya tidak pernah ada.
      Boleh dibilang beritanya hanya hoax.

      Yah, kita memang harus mulai belajar menertibkan akuisisi alutsista.
      Kelihatannya UU no.16/2012 juga masih belum mempan; pelanggar / calon pelanggarnya terlalu banyak.

      Delete
  10. Tambahan:Kenapa UAE bisa menggontong F-16E/F bisa membawa MBDA Storm Shadow?
    kalo Indonesia bisa enggak ya membeli MBDA Storm Shadow sama KEPD Taurus?
    Kenapa Selandia Baru tidak punya pesawat tempur kecuali Gripen sangat cocok dengan Selandia Baru(RNZAF) yang wilayahnya kecil dan punya tiga pangkalan

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## F-16 E/F UAE (atau semua F-16) tidak bisa mengoperasikan MBDA Stormshadow.
      Seperti diatas, kebiasaan US tidak mengijinkan integrasi senjata non buatan US.

      UAE sebenarnya meminta pembelian AGM-158 JASM (air-launched cruise missile jarak jangkau 400 km+, yg equivalent Stormshadow), tetapi permohonan ini ditolak program FMS US.

      Karena itu UAE membeli MBDA Stormshadow, atau juga disebut Black Shaheen, untuk dipasangkan ke armada Mirage 2000-5/9 mereka.

      ## IMHO, Indonesia lebih membutuhkan MBDA Meteor BVRAAM, dan RBS-15 anti-shipping mssl untuk meningkatkan kemampuan pertahanan, dibandingkan Taurus KEPD (yg bisa dioperasikan Gripen), yg merupakan senjata offensive kelas satu.

      Kita tidak membutuhkan senjata semacam ini.
      Memang mau menyerang target dimana?

      Ini juga bukan signal yg baik ke kawasan.
      Pembelian Taurus KEPD hanya akan memulai perlombaan akusisi senjata equivalent di Asia Tenggara.

      ## Pemerintah Labour di NZ sudah memutuskan untuk mempensiunkan Skyhawk RNZAF di tahun 2000-an awal, karena kebutuhannya sudah tidak ada, katanya.
      Memang argumen dasarnya benar; secara geografis, NZ tidak mungkin diserang negara manapun juga; jadi untuk apa pespur?

      Tetapi dngn demikian juga, RNZAF sudah kehilangan kemampuan mengoperasikan pespur. Begitu kemampuan sudah sempat menghilang, sudah mustahil untuk bisa dibangun kembali.

      Kalau sampai terjadi konflik terbuka di Asia di kemudian hari, atau taruh kata ada pesawat yg dibajak di atas NZ; yah, kemampuan tempur mereka akan sama sekali nihil --- harus mengandalkan belas kasihan RAAF Australia.

      Delete
  11. Selandia Baru enggak pernah ikut konflik negara lain dan enggak ikut campur Urusan internal dalam negeri Indonesia?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## NZ ikut berkontribusi dalam operasi NATO di Kosovo, dan di Afganistan.

      ## Tidak.
      NZ sih tidak ambil pusing urusan internal negara2 Asia; mereka lebih pusing mengurus negara2 kepulauan di Pasifik.

      Delete
  12. kapan Gripen E sama GlobalEye sama Erieye datang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita harus realistis, dan hanya perlu menunjuk "gajah yg didepan mata".

      Selama anggaran terus disandera biaya operasional Sukhoi Kommercheskiy Sku-11 (dan komisi perantara-nya), tidak akan ada ruangan untuk mencoba mengakuisis pespur baru dalam situasi ekonomi yg skrg.

      Kita tahu kalau paling banyak hanya ada sekitar 10 Sukhoi yg masih bisa terbang; itu juga masing2 unit tidak akan bisa mengudara setiap hari, dan kesiapan tempurnya hanya akan semakin memburuk.

      Tetap saja, biaya yg dikeluarkan masih melebihi biaya operasional / training standard NATO (150 jam minimum) untuk 32 - 48 Gripen, dan 4 Erieye.

      Selama Sukhoi belum dipensiunkan, sampai kapanpun ruangan fiskal akan selalu terbatas.

      Potensi pengembangan industri lokal juga menjadi lebih sulit; karena semuanya harus memperebutkan jumlah dana yg terbatas.

      Kalau tidak dipensiunkan dini, yah harus menunggu Sukhoi habis masa pakainya di tahun 2020-an, sebelum ada ruangan untuk akuisisi pespur baru.

      Delete
  13. katanya Apache Indonesia datang tahun 2017 ini?
    Apakah MIG-35 akan bisa masuk jajaran AU Russia saat ini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. katanya sih iya bulan maret, tapi sekalian nambahin pertanyaan lah ada yang dirasa ganjil, kan Apache itu heli serbu ok lah kalau mau bikin skuadron kavaleri udara tapi gak salah kalau kata rumor mau ditempatkan di natuna, kalau menurut saya sih natuna boleh aja ditempatin heli tapi yang spesifikasinya ASW kayak superpuma sekalian pesawat intai maritim kayak CN-235 MPA tapi gak tau juga sih, kalau menurut admin bagaimana ?

      Delete
    2. ## Apakah fungsi utama AH-64 Apache?
      Memenuhi kebutuhan US Army untuk menghancurkan tank / kendaraan lawan, dan sebagai covering force untuk infantry / MBT dalam pertempuran darat, bukan untuk mengawasi perairan, atau mencoba menghancurkan kapal.

      ## Nah, lantas bagaimana caranya memakai Apache di Indonesia?
      Atau kenapa Apache dibeli?

      Ini teka-teki yg sama membingungkannya dengan kenapa kita membeli Leopard MBT 60 ton, dngn 120 mm cannon, dan mesin yg boros bensin.... untuk pertahanan negara kepulauan, yang ribuan pulau.

      Yah, dengan hellfire missile, Apache mungkin dapat dimanfaatkan untuk menghantam misalnya, KCR lawan. Tetapi, ini bukanlah mission paramete utama desain Apache,
      TNI-AD akan sendirian untuk mencoba belajar bagaimana memakai Apache di laut.

      Bung Thomas benar.
      Sebenarnya memang kita lebih membutuhkan pesawat MPA, atau helikopter ASW untuk menjaga Natuna.

      Apache, sama seperti Leopard, adalah dua alutsista yang tanpa misi.
      Sama seperti singa, yang terjebak di atas rakit, di tengah2 laut terbuka.

      Inilah efek samping dari sistem akuisisi "Pop Mie".
      Hanya bisa membeli, bukan berarti bisa automatis mendapat efek gentar, atau meningkatkan kualitas modernisasi.

      Delete