Sunday, December 25, 2016

News Update: Desember-2016


Kita sudah mendekati pengunjung tahun 2016, dan hari pertama di tahun 2017 sudah semakin mendekat.

Inilah News Update sepanjang Desember-2016, dan post terakhir tahun ini.



12 - 23 Desember-2016: Trump vs Lockheed F-35, dan... memulai kompetisi senjata Nuklir baru??

Seperti sudah dituliskan dalam artikel Trump sebelumnya, Donald Trump, walaupun masih belum dilantik resmi sebagai Presiden, akhirnya sudah mulai menyatakan perang ke  F-35 Lemon II, produk gagal yang terbuat dari emas 99 karat.

Beberapa penulis artikel pro-F-35 di United States, seperti biasa langsung cepat menuliskan kalau program ini antara "too big to fail", atau "well-protected politically", berkat kerjasama antara Lockheed-Martin, dan para lobbysts di Washington DC, yang sudah berhasil menyebar tenaga kerja pembuat F-35, tidak hanya ke banyak negara sekutu US yang lain; seperti UK, Italy, Australia, Canada, dan Netherland, tetapi juga membagi lapangan ini di ke-46 states di United States, untuk memastikan setiap senator akan terus membela pesawat ini.

"Too big too fail"?

Ini adalah peribahasa yang salah total. Seperti sudah dilihat dari kasus bangkrutnya Lehman Brothers di tahun 2008, tidak pernah ada sesuatu dalam dunia yang "too big to fail". 

Pernyataan yang benar adalah: "the bigger they are, the harder they fall."

Kenapa United States merasa membutuhkan F-35 saja sebenarnya sudah menjadi misteri tersendiri.

F-15, F-16, dan F-18 sebenarnya belum ketinggalan jaman, karena kemampuannya terus di-upgrade. Sampai 20 tahun lagi sekalipun, ketiga tipe ini tetap saja akan jauh lebih unggul dibandingkan "reference threat" Su-35S Ruski, yang masih terpaku dengan tehnologi 2007, dan tidak akan bisa di-upgrade. Persenjataannya pun hanya bisa memakai R-27 yang kuno, atau R-77, yang developmentnya tidak pernah selesai

Menggantikan ketiga tipe ini, dengan pesawat yang biaya operasionalnya akan jauh lebih mahal, dan kemampuan tempurnya akan jauh lebih lemot, walaupun bisa stealth, hanya akan menghilangkan keunggulan utama NATO atas Ruski, dan PRC: TRAINING.
Ini kabar gembira untuk Boeing, dan... terutama, pernyataan ini sebenarnya paling menguntungkan US Navy.

Advanced Super Hornet semakin mendekati kenyataan.

US Navy sebenarnya sudah terperangkap dalam banyak proyek mercusuarnya sendiri, yang terlalu mahal: Kapal induk Gerald R. Ford, super destroyer Zummwalt-class, program Arleigh-Burke (harga per unit lebih mahal dari 1 skuadron F-18E/F), dan program Littoral Combat Ship (LCS). Inilah kenapa mereka tidak pernah terlalu antusias untuk berhadapan dengan sticker price F-35C kosong.

Winslow Wheeler, baru menuliskan kalau pernyataan resmi 2016 harga per unit untuk F-35 sebenarnya "harga bogus". Estimasi harga kosong untuk F-35A sebenarnya mencapai $157 juta, $265 juta untuk F-35B, dan $355 juta untuk F-35C.

$355 juta untuk F-35C. Untuk harga yang sama, US Navy dapat membeli 5 Advanced Super Hornet, dengan biaya operasional kurang dari 30%-nya F-35C, yang juga menikmati angka Availability Rate yang cantik, terjamin diatas 75%.

Seberapapun hebatnya F-35C; walau mempunyai stealth, dan hanya 4 AMRAAM-D, apakah dapat mengungguli kemampuan 5 ASH, yang dapat membawa 20 AMRAAM-D, dan 10 AIM-9X, yang masing-masing pilotnya secara tehnis akan dapat mengantongi 3x lipat lebih banyak jam terbang?

Advanced Super Hornet:
Memang tidak akan mempunyai kemampuan stealth, so what?

Tidak seperti F-35C yang gembrot, dan tidak bisa membawa AIM-9X,
Kemampuan WVR Combat akan lebih terjamin,
AMRAAM-D akan selalu jauh lebih unggul vs SEMUA BVR missile Ruski / PRC,
dan semua pilot US Navy, Australia, dan Canada, akan terjamin selalu lebih terlatih.

Kalau Trump akan menjadi kabar gembira tidak hanya untuk Boeing, tetapi juga untuk logika pesawat tempur NATO, sayangnya beliau kemudian menembakan tweet terakhir yang mengerikan:
Tidak. Memulai kembali profilerasi persenjataan Nuklir, yang secara bertahap sudah dikurangi sejak jaman Presiden Ronald Reagan tidak akan pernah bisa menjadi ide yang baik.



20 Desember-2016: Penandatanganan Kerjasama Pertahanan antara Pemerintah Indonesia, dan Swedia

Credit: Kompas

Penandatanganan ini dilakukan di kantor Kemenhan, 20-Desember-2016, antara Menhan Indonesia, Ryamrizard Ryacudu, dan Menhan Swedia, Carl Anders Peter Hulqvist.

Harian Republika, menyebut dasar dari kontrak kerjasama ini berpusat kepada pengembangan industri pertahanan dalam Negeri, melalui Transfer-of-Technology, penelitian, serta produksi bersama Alutsista, untuk meningkatkan kemampuan.

Kontrak ini sendiri meliputi enam point utama, yang sudah diintepretasikan lebih lanjut dari apa yang sudah dimuat dalam artikel Republika, diatas:
  • Pertukaran informasi, dan pengalaman dari segi lingkup aspek politik, maupun militer.
  • Bagaimana memberlakukan "best practice" untuk memajukan kerjasama dalam bidang pengembangan, ilmu pengetahuan, dan tehnologi.
  • Pengembangan kerjasama dalam bidang dukungan logistik, dan maintenance
  • Seluk-beluk proses kerjasama industrial antara kedua negara, yang mencakup ToT, penelitian, produksi, pemasaran, atau menjamin kualitas hasil produksi bersama
  • Pengembangan, dan peningkatan aspek latihan personil militer, maupun sipil non-militer
  • Terakhir, pengembangan kerjasama kedokteran, dan pelayanan kesehatan militer
Kontrak Gripen sih belum. Ini harus patut dimengerti. 

Seperti sudah dimuat sebelumnya, dengan banyaknya "macan ompong" yang ada, dalam jangka pendek, negara kita sebenarnya lebih membutuhkan tambahan persenjataan (missile), dibanding terburu-buru mengejar tambahan pesawat tempur "pengganti F-5E", alias 16 pesawat "macan ompong" lagi. Lagipula, ekonomi juga masih belum memungkinkan. Mari kita melaju setahap, demi setahap, dibanding terlalu terburu-buru, dan nyungsep.

Kontrak ini sendiri, yang sudah diawali dalam penandatanganan secara G-to-G, sangat penting untuk menjadi dasar kerjasama pertahanan Indonesia-Swedia. Lebih penting lagi, akhirnya pintu sudah mulai terbuka untuk negara kita meraih kemerdekaan dari masa penjajahan persenjataan versi export Washington DC, atau Moscow.

Pertengahan 2020-an. Inilah baru titik kritis dimana Su-Kommercheskiy, di Sku-11 yang memboroskan uang rakyat, akan harus dipensiunkan karena tidak akan ada satu unitpun yang masih bisa lagi terbang. Pada saat bersamaan, BAe Hawk-209 hanya akan tersisa kurang dari 10 unit di masa itu.

Baru disinilah, peluangnya terbuka untuk akuisisi 32 Gripen-E, dan 2 Erieye, yang akan membuka banyak lembaran kemampuan, yang mustahil untuk bisa tercapai dengan tiga model versi export: IF-X, Su-35K, ataupun F-16V.



25 Desember-2016: Tu-154 AU Russia jatuh, highlight untuk Safety Record AU Russia


Seperti sudah dilaporkan, Tu-154B-2 (Registrasi RA-85572), yang membawa 92 orang, jatuh hanya 2 kilometer setelah lepas landas dari Sochi, menuju ke Syria. 

Kecelakaan ini sendiri masih harus diselidiki. Mengingat pesawatnya menuju Syria, dan cuaca yang dilaporkan cerah, tidak tertutup kemungkinan kalau rontoknya Tu-154 ini akibat ledakan bom dari dalam pesawat. Ini bukan pertama kalinya. Pada Oktober-2015 yang lalu, pesawat A321 maskapai sipil Metrojet Flight 9268, juga pernah mengalami tragedi bom, yang menewaskan 224 korban jiwa.

Seperti dalam artikel sebelumnya, seluruh negara kita, dan TNI-AU kita sendiri sebenarnya masih harus berjuang untuk mengejar safety record yang lebih baik.

Di pengunjung 2016 ini, seiring dengan kecelakaan Tu-154B ini, sudah saatnya melihat sisi gelap dari safety record AU Russia, dan bagaimana safety standard pesawat buatan Ruski, yang cenderung lebih jelek dibanding buatan Barat.

Aviation-Safety Network
Menghitung keluar Tu-154B, sebenarnya di tahun 2016 saja, AU Russia sudah mengalami 7 kecelakaan write-off, dan 2 kerusakan, dengan korban jiwa 5 orang. Termasuk diantaranya adalah jatuhnya Su-27 dari Russian Knights, pada 9-Juni lalu, yang membuat seluruh armada Sukhoi Ruski di-grounded.

Seperti sudah dilaporkan Moscow Times, sepanjang tahun 2015, terjadi 7 kecelakaan write-off, dengan 6 kecelakaan (termasuk 1 Su-34 rusak) terjadi dalam waktu kurang dari dua bulan, antara Juni, sampai 2-Agustus-2015. 

Pernyataan IHS Analyst, Mark Bobbi, dalam artikel diatas, mengenai safety record pesawat militer Ruski cukup menghancurkan:
Inilah kenapa, seperti diatas, Su-Kommercheskiy di Sku-11 akan segera memasuki masa pensiun di tahun 2020-an, dan kenapa Gripen-E, pesawat tempur non-Export version, yang sudah dirancang dari awal untuk dapat beroperasi 50 tahun, dengan biaya operasional lebih murah dibanding F-16, akan menjadi pilihan pengganti yang ideal.

Pada saat yang bersamaan, kita akan melihat bagaimana India akan mulai menjerit, ketika separuh dari armada Su-30MKI India, akan mulai memasuki jadwal kadaluarsa. 

Yah, membeli pesawat yang "sekali pakai, buang", tidak akan pernah bisa menjadi ide yang bagus.



18 Desember-2016: Gripen-E 39-8 memulai taxi-testing

Credits: Saab

Saab baru saja melaporkan, kalau Gripen 39-8 sekarang sudah memulai memasuki milestone baru untuk taxi testing di landasan.




20 Desember-2016: Boeing T-X memulai Flight Testing untuk kompetisi T-X USAF


Credits: Boeing

... dan hanya dua hari kemudian, Boeing / Saab T-X juga sudah memulai flight testing pertama, untuk mengejar kompetisi T-X USAF. Semuanya berjalan mulus sesuai rencana.

Program Manager Boeing T-X, Ted Togerson, menyambut cepatnya development pesawat ini sejak dimulainya kerjasama dengan Saab, hanya sejak 36 bulan yang lalu. Kemudian, Boeing T-X dapat melaju dari fase Critical Design Review, ke dalam masa flight testing, hanya dalam waktu kurang dari 12 bulan. 

Biasanya, Togerson mencatat lebih lanjut, program pesawat tempur baru bisa mencapai tahapan yang sama dalam waktu 6 - 8 tahun.


Saab's magic touch?

Keputusan Boeing untuk menggandeng Saab, tidak dapat disangkali adalah kontributor utama suksesnya development program T-X mereka. Tidak hanya, program mereka dapat diselesaikan dengan lebih cepat, tetapi dari segi development cost, maupun harga akhir, dapat dipastikan Boeing T-X akan menyalip Lockheed-Martin T-50i, ataupun Rayhteon/Alenia T-100.

Kita tahu, kalau Saab akan mengaplikasikan development schedule rapi, yang sama ke Gripen-E. 

Bukankah akan sangat miris, kalau kita melewatkan kesempatan untuk tawaran kerjasama dengan Saab dalam jangka panjang? 

Boeing sudah mulai memetik keuntungannya dari T-X, dan membuka peluang yang cukup besar untuk memenangkan kompetisi T-X USAF yang menggiurkan ini.

Kenapa tidak, Indonesia?



40 comments:

  1. Betul itu kalau pengganti F-5 E bukan sesuatu yang darurat melainkan optimalisasi F-16 kita dan misil-misil nya. Itu saya baca katanya kalau Su-27/Su-30 jangan terbang deket Skyshield kita soalnya radar otomatisnya bakal menganggap itu musuh makanya kalau ada Su-27/Su-30. Skyshieldnya tidak diaktifkan. Lucu lah cara kayak gitu, kalau mau disambungkan mau keluar biaya berapa ke Thales atau IAI, banyak yang hal-hal gak masuk akal sebenernya. Itu penandatanganan MOU Swedia-Indonesia harus dikembangkan lebih jauh lagi untuk pengadaan Gripen dan ToT. Saya juga setengah berharap Park Geun Hye cepet di-impeach dan program KFX/IFX gugur supaya kita fokuskan ke Gripen dan F-16, tapi masih ada rasa gimana gitu. Yang membuat resah juga rumor-rumor skema dagang dengan Su-35, kalau gitu caranya oke kita bisa memasarkan barang2 kita ke pasar Rusia tapi kan berarti kita gak dapat ilmunya. Terima Kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Thomas,

      ## Oerlikon Skyshield vs Sukhoi --- memang kelihatannya bisa terjadi; inilah akibat dari sistem akuisisi gado2 dari alutsista yg tidak compatible.

      Semua system Barat itu didesain untuk membunuh semua yg asalnya dari Moscow, dan demikian pula sebaliknya.

      Inilah kenapa, sy pernah menuliskan, kalaupun F-16, dan Sukhoi bisa membawa military-grade IFF-pun (kenyataannya tidak); Sukhoi akan terlihat sebagai musuh di radar F-16, dan demikian juga sebaliknya.

      Kalau masih bandel, dan coba mengintegrasikan, yah, panggil kontraktor dari Israel!
      Harganya sih tidak akan bisa murah.

      ## Presiden Park Geun-Hye....

      ... sebenarnya lengsernya tidak ada hubungannya langsung dengan KF-X.
      Artikel sebelumnya hanya menunjuk kekacauan politik mereka, hanya membuat komitmen Korea secara politik, maupun sosial untuk meneruskan proyek ini hanya semakin memudar.

      Bom waktu corporate, dan household debt Korea (mereka menumpuk terlalu banyak hutang!); inilah yg akan menjadi tembakan akhir untuk menghancurkan proyek yg sudah melesu ini.

      ## Skema dagang Su-35...

      Yah, untuk alasan "menghemat" anggaran, para perantara yang sudah mulai merasa gerah, tenyata mulai coba bandel untuk memancing pemerintah re pembelian Su-35.

      Kembali, pembelian pesawat sebenarnya harga temurah dari investasi secara keseluruhan.
      Untuk F-16 baru, harga beli hanyalah 25% dari total biaya yg harus dikeluarkan negara untuk 30 tahun ke depan.

      Untuk Sukhoi, harga beli hanya kurang dari 10%, meningat usia airframenya pendek, dan biaya maintenance + komisinya luar biasa.
      Jadi Rosoboron akan dapat memetik keuntungan yg luar biasa, kalau sampai terbeli.

      ## Lagipula, terakhir kali kita membeli Sukhoi dengan skema barter, nasibnya jelas.
      Tidak ada satupun dari empat Sukhoi tahun 2003, yang sekarang masih bisa terbang.

      Antara pilihan Su-35KI, F-16 Block72ID, atau Gripen, mungkin bahasanya harus sedikit diubah:
      Rongsokan pecinta perantara, pesawat versi export Washington DC, atau... Satu2nya pilihan independent, yg menjamin kedaulatan.

      Delete
  2. Oh ya bung GI, mengingat kita negar non blok. . kita bisa berteman baik dengan Washington maupun moskow. . hanya berteman

    Dan alutsista kita pun gado², tapi tetep banyakan produk barat ketimbang timurnya. Seperti APA yg dikatakan bung Thomas ( sukhoi tak berani terbang deket² Dari oerlikon skyshield ) ITU hanya pertahanan udara jarak dekat, lah kalo bamshe / nasmas ya lebih berabe dong bung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah kenapa...

      Mengakuisisi SAM system sebenarnya tidak disarankan sampai SEMUA pesawat / helikopter militer dapat diperlengkapi dengan IFF system yg compatible.

      Seperti sy sudah tuliskan, alusista gado2 itu sebenarnya melarang kita membangun sistem pertahanan yg modern.

      Wong, tidak compatible; kita hanya akan menghabiskan terlalu banyak uang / waktu untuk mencoba mengintegrasikan keduanya, sebelum mulai bisa membuat dasar yg baik.

      Inilah mencapai point berikutnya: Alutsista Ruski, terutama Sukhoi, have to go!

      Tidak hanya gemar "perbaikan mendalam", dan berumur pendek, tetapi nilai strategisnya juga MINUS besar.

      Jangankan bisa menembak jatuh lawan, lebih dari separuh Alutsista Barat kita saja peluangnya cukup besar untuk menghancurkan Sukhoi Komercheskiy duluan!

      Gripen adalah pengganti ideal untuk Sukhoi, yg sebentar lagi juga habis masa pakainya, dan dari sana baru kita bisa mulai membangun sistem modern from the ground up.

      Delete
    2. Medium range SAM-nya masih menimbang nimbang antara BAMSE/RBS-23 atau NASAM-2 tapi ya menurut saya harus yang kompatibel dengan network-nya pespur F-16 kita ataupun calon pengganti F-5 kita. India itu pengeluaran pertahanannya besar buat bisa mengkoneksikan Su-30 MKI, dassault rafale dan F-16 Viper mereka. Kalau anggaran kita yang relatif kecil penggunaan satu sistem yang kompatibel bisa menghemat anggaran juga biaya operasional dan maintainance Gripen tu ekonomis karena single engine, tinggal stakeholder nya aja ni gimana. Tapi ya isu mengenai skema dagang dll, cukup meresahkam juga sih, tambah orang2 ini pengennya pantsir-1 tambah gak jelas ini.

      Delete
    3. Begitulah, bung Thomas,

      Terlalu banyak "keinginan" pejabat untuk beli gado2 tanpa memperhitungkan banyak faktor lain.
      (Lihat komentar sy dibawah re AW-101)

      Permasalahan utama:
      Sepertinya belum ada kesadaran, atau memang disengaja terlalu menyepelekan, kalau membeli Alutsista itu tidak bisa diperlakukan seperti membeli mobil / motor dari dealer.

      Memangnya tinggal bungkus, terus bawa pulang?

      Harus ada perhitungan keuntungan nasional, baik secara tehnologi, atauppun industrial terlebih dahulu, dan kemudian memperhitungkan faktor cost Alutsista selama puluhan tahun operasional; semakin ekonomis, dan semakin tahan lama semakin baik.

      Kelihatannya sih, memang kita belum lulus dalam pengkajian mendalam untuk memilih alutsista terbaik yang memenuhi kebutuhan nasional.

      Delete
  3. https://news.detik.com/berita/d-3381185/pembelian-heli-aw-101-dinilai-langgar-uu-tni-au-perbandingan-apple-to-jambu

    dimana nasionalisme para perwira tni ini produksi buatan sendiri ko di bilang g mungkin bersaing

    ReplyDelete
    Replies
    1. ... dan seperti biasa (praktek beli gado2 rasa tak karuan);

      Apa yang diperbandingkan hanyalah kemampuan.... di atas kertas, itu juga sepertinya tanpa banyak research lebih lanjut.

      ## Tidak pernah menyebut kalau mereka sudah membuat perhitungan matang untuk biaya daur hidup Alutsista 20 tahun ke depan.

      Kalau kemampuannya lebih "unggul", memangnya perhitungan biayanya akan sepadan dengan hasilnya?

      ## Tidak pernah ada perhitungan provisi, berapa % dari perkerjaan upgrade / maintenance / customisasi, yang dapat dilakukan sendiri oleh industri pertahanan lokal. Atau apakah akan ada Transfer-of-technology?

      Duit kelihatan 100% amblas untuk beli import.

      ## Tidak pernah ada kompetisi terbuka dengan berbagai pilihan alternatif.
      Keputusan tiba2 sudah jatuh dari langit untuk "menginginkan " model yg itu.

      Kelihatannya, membaca ribuan lembar spesifikasi tehnis, atau pernak-perniknya juga tidak pernah dilakukan.

      Tidak seperti kompetisi terbuka di India, Switzerland, atau di Brazil; bahkan Test Drive-pun (sama seperti Su-35) tidak pernah dilakukan secara intensif untuk menentukan keputusan akhir: apakah model ini sesuai dengan kebutuhan Indonesia, atau tidak?

      Eh, yang penting sudah ngebet duluan...

      ## Terakhir, yang "gajah didepan mata",
      AW-101 tidak pernah ditawarkan melalui G-to-G contract.

      Para sales AW-101 entah kenapa memang sedang aktif praktek cuci gudang akhir2 ini, melihat ikan mana yg mau menyambar umpan mereka.

      IMHO, Eurocopter EC-725 masih menjadi pilihan yang lebih baik, ekonomis, dan lebih menguntungkan kebutuhan nasional.

      ## Untungnya, kalau Su-35K, sebenarnya Ruski tidak pernah terlalu tertarik untuk menjualnya ke Indonesia. Untuk tukang hibah MiG-21, yang masih rajin berlatih militer dengan US, dan Australia; faktor resiko politiknya terlalu besar.

      Kelihatannya untuk nego harga yang disebut alot itu, Ruski menginginkan $150 juta+/unit untuk barang Kommercheskiy downgrade, bertehnologi 2007.

      Delete
    2. https://news.detik.com/berita/d-3382619/soal-heli-aw-101-jokowi-prioritaskan-produksi-dalam-negeri

      sampe presiden dan panglima TNI pun harus turun tangan dan bahkan sampai mengancam jajaran TNI AU

      Delete
    3. ... bahkan Kemenhan-pun jadi kelihatan panik.

      Berita buruk untuk praktek asal beli gado2 lewat perantara..

      ... tetapi berita yang sangat baik untuk masa depan pertahanan, dan industri lokal Indonesia.

      Memang pemerintah Jokowi dari awal akan selalu memprioritaskan kemajuan industri lokal terlebih dahulu, dibanding pernak-pernik yg tidak diperlukan.

      Para penjual Alutsista, terutama yg hanya bisa memberi versi export downgrade, saatnya juga bertemu realita baru:

      Kalau tidak siap memenuhi persyaratan UU no.16/2012; lebih memprioritaskan ToT, dan keterlibatan industri lokal untuk produksi dalam negeri, sudah saatnya pulang kampung!

      Delete
  4. ane baca majalah Angkasa edisi Desember 2016 SU-22BM Fitter AU Polandia diupgrade Avionik Russia jadi Avionik barat seperti HUD,ILS,INS,TACAN,HOTAS,GPS,juga dipasagi radar Phazatron dan Phantom lansiran thomson CFS untuk menggantikan perangkat laser rangefinder Klen-54.SU-22M5 Fitter AU Polandia menjadi yang tecanggih didunia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Su-22 biar bagaimana masih mempunyai satu keunggulan atas Su-27:

      Pesawatnya single-engine dgn base desain dari tahun 1960-an; lebih sederhana, lebih mudah di-upgrade, perawatannya lebih mudah, dan biaya op-nya pun lebih murah.

      Polandia bahkan masih kesulitan utk mencari pengganti Su-22, dan berencana memakainya sampai 10 tahun lagi.

      Sbnrnya di tahun 1970an, dngn memilih berkonsentrasi ke model2 mahal yg lebih complex; MiG-31, MiG-29, dan Su-26; Uni Soviet, kemudian Russia sebenarnya sudah menembak kaki sendiri.

      Ketiga model ini sebenarnya berlawanan dengan filosofi pertahanan Soviet kuno, yg sudah memenangkan Perang Dunia II:

      Setiap senjata harus cukup mematikan, tetapi lebih sederhana, lebih murah, dan dapat diproduksi dalam jumlah lebih besar daripada lawan.

      MiG-29, dan Su-27 sebenarnya adalah kesalahan internal terbesar yang turut mematikan kemampuan industri militer Soviet.

      Delete
  5. Admin ada yang bilang di FB kalau helikopter AW 101 itu bekas pesanan India yang dibakalkan dan pernah dipakai oleh PM David Cameron, tapi KSAU bilang itu baru. Juga di DPR, T.B Hasanudin mengecam keras pembelian itu heli. Ini entah siapa yang bohong tapi kayaknya ini bakal jadi skandal besar TNI AU

    ReplyDelete
    Replies
    1. Paling tidak, saat ini barangnya belum terbeli.

      Seperti kita ketahui, kasus pembelian AW-101 India sudah menjadi skandal korupsi yg sudah menjerat AW, dan ex-KSAU India.

      ...siapapun mendukung AW-101 jadi seperti memperlihatkan siapa saja yg prospektif bisa mendapat sales kickback.

      Delete
  6. NATO Tiger Meet itu sejenis latihan apa sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya daripada utk proporsi latihan bersama secara formal,
      lebih untuk public relation exercise, dan sekalian memamerkan lukisan2 livery "tiger" tahun ini, dari pesawat2 Skuadron AU yang terdaftar.

      :D

      Delete
  7. Kita punya Pindad, DI, Pal, LEn, sebagai mitra strategis TNI. Alangkah baiknya bila kita import alutsista harus Ada TOT Dan harus bekerja sama dgn industri pertahanan kita. President aja bilang bila dalam Negri bisa ngapain harus import. Kalau belum bisa lah baru kita import, Dan minta TOT. . Dan yg paling penting adalah alutsista kita bisa terkonek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya re pengadaan Alutsista dari luar negeri;

      Pasal 43 UU no.16/2012 masih memerlukan beberapa revisi untuk mencegah terjadinya skandal AW-101, dan sebenarnya juga, polemik alutsista export buatan Ruski.

      Transaksi outsourcing "perbaikan mendalam" Sukhoi, dan Mi-35 saja sebenarnya sudah melanggar pasal 43, ayat 2:
      (2) Pengguna wajib melakukan pemeliharaan dan perbaikan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan di dalam negeri.

      Berikut beberapa revisi pasal 43 yang seharusnya dilakukan:

      ## Ayat (6), dan (9) harus dihapuskan, karena membuka ruangan untuk pembelian skema barter, tetapi seperti memberi provisi untuk memotong kewajiban keterlibatan industri lokal, yang dimaksud dalam ayat (5) (b).

      ## Revisi ke ayat (3): Coret provisi dimana proses langsung transaksi bisa "ke pabrikan".
      Semua transaksi harus dilakukan antar pemerintah. Titik.

      ## Revisi ke ayat (5):

      (c) Kewajiban alih tehnologi yang seoptimal mungkin, dengan nilai pemenuhan minimum 50%

      (e) dan (f) Harus dirombak habis!

      Kebiasaan buruk setiap UU, atau peraturan daerah di Indonesia asalah memberikan ruangan untuk negosiasi dengan memasukan kata "dan/atau".

      Ini adalah dua kata yang artinya sangat berbeda.
      "dan" berarti dua-dua kondisi yang dimaksud harus bisa dipenuhi pihak berkait.
      "atau" berarti hanya perlu satu kondisi saja yang dipenuhi.
      Jadi mana yang benar?

      Karenya itu sub ayat (e) dan (f) ini harus direvisi menjadi:

      e. adanya kandungan lokal, sebagai pemenuhan peryaratan di huruf b, dan skema offset paling rendah 85% (delapan puluh lima persen);

      f. Proporsi kandungan lokal, sebagaimana dimaksud pada huruf e, paling rendah 35% (tiga puluh lima persen) dengan peningkatan 10% (sepuluh persen) setiap 5 tahun.


      ## Tambahan sub ayat (h), (i) dan (j):
      h. Pengguna harus melakukan perhitungan dengan seksama biaya daur hidup alat pertahanan / keamanan tersebut selama sekurangnya 20 tahun ke depan

      i. Transaksi pengadaan ini tidak boleh dilakukan melalui perantara

      j. Pengguna harus sudah melakukan kompetisi terbuka selain untuk memperhitungkan kemampuan, tetapi juga pemenuhan semua persyaratan yang dimaksud dalam a, b, c, d, e, f, g, h, dan i.

      =========

      Di masa depan, kalau kita sudah mempunyai sistem pertahanan yang modern, dapat ditambahkan pasal dimana setiap Alutsista yang mau dibeli, harus dapat beroperasi compatible dengan / dapat menambah nilai sistem yang ada.

      Delete
    2. Memang harusnya begitu bung, setiap APA yg kita import harus disertai TOT Dan kemandirian kemajuan industri kita. Dan harus Ada Undang-undang yg jelas / mutlak untuk INI

      Kita adalah negara non blok yg memiliki alutsista gado², seperti APA yg anda katakan bahwa gado² hanya akan menambah kelemahan kita. Dan kebanyakan gado² kita tidak compatible, kalau gado² betawi lah enak... Wkwwwkwkwk

      Dan standard acuan kota kebanyakan standard NATO. Setidaknya kalaupun kita beli yg gado² tapi yg bisa saling berkoneksi dngn gado² yg lain.

      Oh ya bung, katanya Ada berita yg mengatakan AU kroasia akan memilih antara Saab gripen 39 c/d vs FA-50. Mengapa harus membandingkan gripen 39 c/d dgn FA-50 . apa karna dari kelas lightfighter semata, toh Dari kemampuan beda jauh ?

      Delete
    3. Gripen-C vs FA-50

      Kelihatannya pemerintah Croatia sedang menimbang antara menyewa Gripen-C atau membeli baru FA-50.

      Dari segi kemampuan tentu saja berbeda jauh.

      Dalam latihan NATO, Gripen-C sebenarnya secara konsisten dapat mengalahkan F-16 MLU.
      RCS jauh lebih kecil, kemampuan radar / Networkingnya jauh lebih unggul, dan versi MS-20 sudah dapat dipersenjatai MBDA Meteor.

      Sedangkan FA-50... yah, secara tehnis sudah diprogram Lockheed-Martin agar kemampuannya tidak bisa menandingi F-16; belum ada Link-16, ataupun kemampuan BVR.

      (Mereka akan memastikan pengurangan halus yg serupa utk KF-X)

      Kalau dari pertimbangan segi biaya operasional, perbedaannya keduanya akan tipis.

      Yah, jadi pilihannya antara beli baru tapi kemampuannya terbatas, atau menyewa pespur yg dengan mudah akan dapat membantai MiG-29 Serbia.

      Delete
  8. Saya gak ngerti ya biasanya Russian fans kalau diajak ngomong dan dipaparkan data, gak bisa jawab terus malah temper tantrum gak jelas kayak ngeracau, ini gini lah ok orang maunya double engine, daripada saya ngelihat Su-35 jauh lebih baik kita ambil aja sekalian Eurofighter terus pengganti 2 skuadron Hawk 100/200 nya pespur single engine Gripen E/F. orang beralasan karena kita beli dikit maka Russia ga mau kasih ToT, saya omong taun 1988, kita beli F-16 A/B Block 15 OCU cuma 12, tapi kita dapat tuh jatah bikin komponen mesin 5 biji, ToT bom p1000, off set discount 25 %, nah Russia apa ?, kita lihat kesuksean kerjasama dengan Eropa kayak CN 212, CN 235, CN 295, APC Anoa, dll. Rusia apa ?, kita beli Su-35 di counter offer ToT dengan skema dagang, berarti mereka gak mau ngasih ilmunya. orang lupa apa ToT fregat Sigma itu darimana, bahkan sekalipun Changbogo itu dari Korea,sebenernya kan itu teknologi Jerman. Orang harus masuk akal dikit, kalau menurut saya daripada harus ngelihat Su 35 lebih baik lihat Eurofighter sekalipun mahal tapi mereka bersedia ToT dengan PTDI dan untuk pengganti Hawk, Gripen E/F aja. dengan akuisisi 2 tipe pespur tu jaringan link dan FFI bisa terbentuk bener dan biar lebih simple saat tiba waktunya F-16 dan Su-27/Su-30 harus pensiun ganti dengan Eurofighter dan Gripen E/F, 2 Skuadron Eurofighter dan 4 Skuadron Gripen E/F baru itu efek gentar dan battle ready, yakin saya Indonesia bakal diundang exercise red flag dengan postur seperti itu. Terima Kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau IFX, sebenernya separuh hati ngelihatnya iya iya enggak gitu, gara-gara US gak mau ngasih 4 teknologi inti kayak radar AESA, radar fusion, IRST, dan radar jamming yang sebenarnya semua dari 4 itu ada di Gripen dan Eurofighter, kalau sampai proyek itu kandas gara2 krisis ekonomi Korsel juga karena akuisisi F-35B oleh Korsel, investasikan ke optimalisasi F-16 sebelum pensiun dan investasikan aja ke Eurofighter dan Gripen. Imajinasinya gini lah kalau mau bagus bener, ya jangan takut biaya mahal diawal toh kelak pengeluarannya gak banyak kemudian, jangan ngarepin hasil maksimal dari upaya yang nol, ibarat gini kalau pelajar mau lulus SNMPTN kr jurusan favorit di PTN ya keluarkan dana untuk bimbel dan kursus supaya kelak masuk ke jurusan di PTN yang diinginkan dengan SPP yang murah hasil maksimal, jangan takut biaya bimbel terus tiba tiba harus kuliah swasta yang biayanya mahal. Nah seperti itu juga dengan menginvestasikan ke Gripen dan Eurofighter kita dalam proses menciptakan world class air force yang ok lah biaya awal gede tapi kan hasilnya luar biasa dan cost efficient

      Delete
    2. Untuk Sukhoi fanboys, sy sudah pernah sebut: sejak dulu memang argumen mrk sih memang hanya berputar2 disana saja.

      Sampai mereka mau bangun dari mimpi, yah akan selalu lari di tempat!

      Sebodo amat dgn kebutuhan Nasional, pemenuhan peryaratan UU no 16/2012, keterbatasan finansial, komisi perantata, dan kenyataan kalau Su-35K mustahil untuk dapat mengalahkan pespur Barat manapun!

      Yang penting kita "beli" Sukhoi!
      :D

      Delete
    3. Para pendukung KF-X juga sebenarnya harus menelan pil yg sama pahitnya.

      Lupakan saja mimpi "membuat pesawat sendiri"!

      Keuntungan nasional dari proyek ini akan hampir nihil.

      Tidak hanya Korea belum becus bisa menjadi partner pemberi ToT, tetapi dengan membeli F-35, dan memilih Lockheed-Martin sebagai ToT partner, mereka sudah menggali kuburan, dan membuatkan peti mati untuk partisipasi Indonesia.

      Terlepas dari penolakan 4 core tehnologi tempo hari, kenyataannya Washington DC tidak pernah memberikan ToT, bahkan ke negara sekutu terdekat manapun.

      Seperti anda sebut, pembelian Gripen mungkin akan terlihat lebih mahal di muka. Tetapi mengingat Saab berkomitmen menginvestasikan kembali 85% nilai pembelian, terutama dalam partisipasi kerjasama industri lokal, angka ini menjadi kurang relevan.

      Semua keuntungan nasional yg dimimpikan bisa didapat dari IF-X, memang jauh lebih mudah untuk tercapai melalui Gripen.

      Delete
  9. eh jangan deh itu Eurofighternya baca2 lagi kemampuannya sebenernya baik IRST, kecepatannya, trust to weightnya, dll hampir mirip tapi harga perunit nya mahal bener terus operational costnya bisa sampai 3 - 4x Gripen, enggak deh Eurofighter bagus tapi kurang ekonomis menurut saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang benar, bung Thomas.

      Seperti Kuwait;

      ... sebenarnya kecuali untuk membeli faktor "gengsi", pembeli hanya akan membayar rata2 4x lipat dalam biaya operasional dibandingkan Gripen.

      Dari segi kemampuan kinematis, manuever, radar, dan Electronic Warfare perbedaan keduanya tidak jauh, walaupun angka Typhoon memang lebih unggul.

      Seperti dalam contoh MBDA Meteor; mengintegrasikan setiap senjata / perlengkapan baru, biayanya juga 3x lipat lebih mahal, dan tempo waktu yg dibutuhkan jauh lebih telat. Typhoon tidak akan bisa membawa Meteor sampai akhir 2017, paling cepat.

      Kemudian kalau kita masuk ke Sortie rate, Typhoon tidak akan dapat mengungguli kemampuan Gripen bisa mengudara 38 jam / 48 jam.

      Pertanyaannya berubah menjadi apakah 2 Typhoon, akan dapat mengungguli 4 - 6 Gripen.

      Terakhir, Typhoon masih harus mengandalkan Link-16; sama seperti F-16, F-15, F-18, atau Rafale. Networking ini sifatnya masih terbatas, hampir seperti broadcasting umum membagi posisi kawan / lawan.

      ... bukan tandingannya TIDLS Gripen fighter-to-fighter Network, yg bahkan bisa memberitahukan posisi wingman, walau tepat di belakang (blindspot) flight leader.

      Beberapa fitur TIDLS, sepertinya juga masih sengaja dirahasiakan; belum tentu kalah tanding vs Networking exclusive F-22/F-35, mengingat Swedia sbnrnya sudah lebih berpengalaman.

      Versi-E yg menambah Sensor Fusion, akan membuka beberapa lembaran kemampuan baru yg tidak bisa tercapai dengan versi-C.

      Delete
  10. "Militer Australia Mungkin Iri dengan Kemampuan TNI..." http://kom.ps/AFvtWC

    Apakah mimin mempunyai komentar tentang ini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seharusnya malah kita bertanya balik: Kenapa Australia harus iri?

      Anggaran pertahanan mereka hampir 4x lipat lebih tinggi; perlengkapan mereka state-of-the-art, personil mereka jauh lebih terlatih, dan mereka sudah lama dapat beroperasi dalam satu sistem yang terpadu.

      Sedangkan kita?
      Hobi para pejabat membeli alutsista gado-gado tanpa alasan strategis yang jelas, tanpa menghitung biaya operasional, dan tanpa pusing memperhatikan kemampuan industri pertahanan lokal.

      Hidup kemajuan!

      Perihal "menghentikan" kerjasama militer dengan Australia ini saja:

      Yah, kelihatannya memang ada personil Australia yg membuat lelucon yang tidak lucu ttg Pancasila, tetapi lantas merajuk malah membuat kita kelihatan seperti anak kecil.

      Langkah yang seharusnya diambil:
      Tegur mereka: Kita dua negara tetangga harus saling menghormati!
      Dan... beri contoh kalau Indonesia tidak akan melakukan hal yang sama!

      Delete
    2. Katanya itu Australia iri sama kita karena Indonesia selalu menang dalam kejuaraan tembak melawan Australia

      Delete
    3. Yah, kembali,
      sebenarnya Indonesia - Australia sebenarnya masing2 masih bisa, dan seharusnya belajar banyak dari satu sama lain.

      Kalau memang sepertinya ada perwira Kopasus menemukan sesuatu pelajaran / gambar yg menghina disana, seharusnya ini adalah kesempatan yang menunjukkan kalau kita bisa lebih dewasa.

      Tunjukkan kalau penghinaan itu adalah permainan anak kecil!

      "Daripada anda belajar menghina orang, lebih baik anda belajar menghormati negara lain, seperti kami menghargai anda!"

      "Jangan mengulangi lagi perbuatan anda, yah?"

      Lebih baik lagi, umumkan pernyataan ini ke semua surat kabar Australia!

      Bukankah ini sebenarnya "balasan" yang lebih baik, dibandingkan memutuskan hubungan kerjasama?

      Baru nanti Australia benar2 iri dengan kedewasaan, dan kemandirian kita, karena pers mereka sendiri akan menghabisi ADF.

      Delete
  11. china udah buat VLRAAM (Very long rang Air-to-Air Missile)?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, ada kabar kalau mereka sudah membuat missile berkecepatan maksimum Mach-6, dengan jarak jangkau 400 km.

      Ini tidak penting.

      Dari dulu juga semua orang bisa membuat roket untuk keluar angkasa kok!

      ## Untuk mencapai jarak jangkau 400 km, pertama-tama, pesawat induk harus dapat men-lock target.

      .... menyalakan radar abal-abal PESA Su-35K, atau radar AESA di J-11D bukanlah ide yang bagus dalam pertempuran udara.

      RWR dan EW Suite pespur Barat justru akan dapat "melihat" posisi J-11D dan Su-35K; dapat menembakkan MBDA Meteor, atau AMRAAM-D tanpa terlihat, dan kemudian baru menyalakan radar mereka belakangan untuk memandu kedua jenis missile itu untuk manuever akhir.

      Boom!

      ## Kedua, missile yang dapat berkecepatan Mach-6, akan perlu menarik ribuan G, atau ratusan G untuk bisa mengalahkan pespur yang bermanuever 5,5G dengan kecepatan M 0,9.

      Belum lagi menghitung kalau PRC belum bisa membuat missile seeker yang dapat mengalahkan sistem jammer / decoy buatan Barat modern.

      Delete
  12. Aku tau kalo Embargo Russia lebih parah dibandingkan AS,ini misalnya lho,kalo Indonesia beli SU-35S kalo kita gunakan untuk melawan Nelayan RRC di Natuna,kita akan diembargo Russia karena untuk nyerang nelayan RRC di natuna kalo karena RRC pembeli SU-35 Pertama di luar Russia

    ReplyDelete
  13. menurut saya permasalahan kita akhir2 ini dengan Australia harus disikapi dengan bijak dan dewasa, kenapa mereka kurang menghargai kita, ya sudah jelas karena kemampuan angkatan bersenjata mereka di atas kita, apalagi di era modern ini, kekuatan angkatan udara dan laut sangat menentukan prestise suatu negara,terutama angkatan udara, itu paling ditekankan. maka dari itu saya rasa sangat penting dalam waktu 10 tahun dari sekarang kita bisa mengoperasikan kurang lebih 5 skuadron Gripen E/F, 6 pesawat AEWC, national network, ratusan misil air to air entah produksi US atau Eropa serta sistem pertahanan udara baik SR-SAM maupun SAM yang terkoneksi dengan baik, menurut saya sih kerucut kan saja ke BAMSE dan NASAMS, juga tambah pesawat tanker derivat C-130, kenapa Gripen : 1) dia ekonomis dengan biaya operasional +/- 5000 USD, 2) karena biaya operasional dan maintenance relatif murah, availability rate nya pun tinggi, 3) banyak fitur2 stealth seperti Radar AESA, radar fusion, radio jamming,IRST juga kecepatannya Supersonic disertai RCS sangat kecil dan sulit dideteksi. Kenapa harus 4 atau 5 skuadron, kita jangan hanya kejar efek deteren tapi harus battle ready,dengan wil. geografis yang luas 5 skuadron bisa buat negara tetangga berpikir 2x buat ganggu kita. saya juga baca hasil review AU Hungaria mereka bilang Gripen C/D jauh lebih unggul dari F-16 MLU, artinya ya Gripen C/D aja lebih unggul daripada F-16 setara blok 52, apalagi yang seri E/F. mengenai Australia paling itu kerjaan NCO-NCO atau perwira junior bogan ( rednecknya australia ), yakin saya kalau jenderal - jenderal australia pun gak suka dengan insiden seperti ini, bahkan ACM Mark Binskin pun lagi menginvestigasi kejadian ini, saya pun berpikir kalau kelakuan kekanak-kanakan Australia jangan pula kita ikut2an, kita harus lebih dewasa. lagipula mengantagoniskan Indonesia bukan primary concern mereka, melainkan rising China. Terima Kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. secara bersamaan Angkatan laut kita pun harus mumpuni, menurut saya standarkan NATO semua, dan dalam 10 - 15 tahun dari sekarang 224 kapal harus bisa terpenuhi, termasuk minimal 16 SIGMA 10514 multirole light frigate, 10 korvet baru menurut saya tambah saja SIGMA 9113, 32 - 40 KCR-40 & KCR-60 ( kata saya sih daripada pakai radar dan misil China, pakai aja dari SAAB kayak sea Giraffe radar dan RBS 15 Mk.3 juga meriam bofor dan komputerisasi KCR kita biar gak manual ), 12 kapal selam U-209/1400 serta LPD2 dan rencana proyek helicopter carrier, juga 90an kapal logistik dari 224 itu. Juga penting saat 2025 nanti lanjutkan proyek trimaran kita dan kembangkan ke ukuran minimal korvet biar kayak Visby class, yakin saya tetangga2 kita bakal pikir 2x buat usik. Arah kebijakan luar negeri kita pun seragamkan dengan Swedia, Swedia bukan anggota NATO tapi ya bukan pro Russia juga sama kita tidak ikut aliansi barat tapi juga bukan pro China

      Delete
    2. Sy sedang menulis artikel lebih mendetail kenapa kita tidak bisa terus2an membeli Alutsista versi Export.

      Delete
  14. Resume menarik, terutama bagian F-35 yang sudah sangat tidak masuk akal untuk dikembangkan lagi, dan kembali ke Advanced Super-hornet. Lockheed Martin sepertinya adalah mafia yang menggerogoti anggaran pemerintahannya sendiri. Sedangkan disatu sisi, Boeing sedang merencanakan untuk mengurangi karyawan karena order yang menurun. Mungkin, bisa dibahas juga Gripen NG vs Advanced Super-hornet, apakah ada kesempatan untuk bisa bersaing ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah,
      Lockheed-Pentagon-para jendral sbnrnya sudah membentuk mafia "military-industrial complex" utk menghamburkan uang.

      Banyak jendral US, akan mendapat tawaran pekerjaan konsultansi berbagai paket tebal di LM, Raytheon, Northrop-Grummann, dan Boeing post-pensiun, karena itu, obyektifitas mrk sudah sangat meragukan.

      Padahal, terlepas dari propaganda gencar akhir2 ini, sudah menjadi pengetahuan umum kalo proyek F-35 tidak akan bisa menghasilkan pespur yg efektif, berapa milyar pun akan dihabiskan.

      Contoh propaganda:
      ## Kemampuan manuever F-35 "sangat baik" mnrt bbrp pilot.

      Ok, kalau tidak membawa banyak bensin, dan weapons bay-nya kosong, mungkin memang kemampuan manuevernya sedikit bersaing dgn F-16 fully loaded.

      (Sebenarnya pernah dinilai obyektif, tetap saja kalah tanding dngn F-16D Block-40 twin-seater yg membawa 2 drop tank)

      Tapi.... F-35 tidak bisa membawa AIM-9X dalam weapons bay-nya. Jadi seberapapun hebatnya kemampuan manuevernya, hanya akan menjadi makanan pespur lain dgn HMD, dan offboreshot WVR missile.

      Dalam pertempuran jarak dekat, stealthy F-35 akan selalu menjadi bebek tak berdaya, bahkan menghadapi MiG-21, atau Mirage III tahun 60-an.

      ## F-35 "tidak terlihat" radar dalam latihan udara vs pespur teen fighters.

      Tentu saja!
      Semua teen fighters US sbnrnya menderita under-investment dalam IRST passive sensor, dan kecuali F-18E/F, baru segilintir pespur USAF yg membawa AESA radar.

      F-15SG Singapore yg memakai AESA radar di US, juga radarnya sudah di-downgrade; tidak akan biaa melihat F-35.

      Coba saja tes melawan bbrp Sensor-Fusioned Rafale, Typhoon, dan Gripen-E, yg dipersenjatai MBDA Meteor, dan ceritanya akan berubah banyak.

      Delete
    2. Gripen-E vs Advanced Super Hornet.

      Sbnrnya masih kira2 sama dengan artikel sebelumnya:
      Gripen vs Super Hornet.

      Tergantung konteks siapa yg memakai masing2 tipe pesawat.

      ASH akan menutup bbrp kekurangan SH, seperti dalam IRST, Sensor Fusion, dan pengurangan RCS dalam BVR combat.

      ....tetapi sbnrya menciptakan kelemahan baru:
      Memakai conformal weapons bay, sbnrnya akan mengurangi response time utk menembakkan missile vs SuperHornet std.

      Weapons bay, pintunya harus selalu dibuka dahulu, sblm missile di-drop, baru kemudian mesin rocketnya menyala.

      Time Lag Penalty.

      Dalam video F-35 di Youtube, proses ini saja memakan waktu hampir 2 detik.

      Gripen yg membawa missile di pylon, tidak perlu menderita penalty yg sama. Dalam video, terlihat seperti begitu menekan tombol, missile langsung meluncur.

      Dalam BVR combat, delay time 2 detik sbnrnya tidak menjadi time penalty yg besar kalau jarak tembaknya lebih dari 70 km.

      Tetapi dalam pertempuran jarak dekat, atau kurang dari 30 km?

      2 detik itu memberikan penalty waktu tambahan 10% - 20% untuk waktu yg dibutuhkan dari saat menekan tombol, sampai missile menghantam target.

      Ini artinya, missile yg ditembakkan pespur conventional akan tiba 2 - 3 detik lebih cepat vs Stealth fighter, dngn weapons bay.

      Inilah kelemahan fatal yg "tidak terlihat" para penggemar Stealth fighter.

      F-15SE, dan F-18ASH akan menderita kelemahan yg sama akibat penggunaan conformal weapons bay, utk mengurangi RCS.

      Inilah kenapa, IMHO, missile sudah seharusnya dicantolkan di pylon, bukan dalam weapons bay, seperti pesawat pembom kuno.

      Delete