Tuesday, December 20, 2016

Meningkatkan Safety Record TNI-AU


Turut berduka cita. 

Kembali satu lagi pesawat TNI-AU yang mengalami kecelakaan di tahun 2016, setelah sebelumnya, baru 10-Februari yang lalu, satu EMB-314 Super Tucano (TT-3108) juga mengalami kecelakaan.

Penyebab kedua kecelakaan ini tentu saja berbeda.

Sebelum memulai mencari kambing hitam, seperti menyalahkan kalau C-130HS (A-1334) adalah pesawat hibah, dan sudah terlalu tua, atau dikarenakan jumlah anggaran TNI-AU kurang, mari terlebih dahulu memperhatikan daftar kecelakaan yang sudah dialami sejak tahun 2006.



Daftar Kecelakaan TNI-AU sejak 2006


Apakah yang dapat kita perhatikan dari daftar kecelakaan TNI-AU ini?

Sebenarnya, sejak 10 tahun terakhir, kecuali di tahun 2013, TNI-AU setiap tahun selalu mengalami sekurangnya satu kecelakaan dengan hasil hull-write-off. Jumlah korban jiwa sudah mencapai total 304 orang.

Apakah pesawat yang jauh, hanya karena barang tua, atau karena barang hibah? 

Kenyataannya, BAe Hawk-209 (TT-0203, dan TT-0207) yang jatuh di tahun 2006/2007 boleh dibilang belum berumur lebih dari 10 tahun. Lebih parah lagi, KT-1B (2010), Super Tucano (Feb-2016), dan T-50i Golden Eagle (2015), yang bahkan belum berumur lebih dari beberapa tahun. 

Kesemua kecelakaan pesawat "baru" ini saja memakan korban jiwa 7 orang.

Apakah karena jumlah Anggaran TNI-AU kurang?

Loh, bagaimana bisa? 

Dengan anggaran yang kurang, dalam periode antara 2009 - 2012 saja, TNI-AU sudah berhasil membeli 6 Sukhoi Su-30MK2 dengan harga overpriced, 16 Lockheed-Martin T-50i,  16 Embraer Super Tucano, mengambil tawaran untuk 24 F-16 hibah, dan membeli 9 NC-295, untuk menggantikan F-27.

Dan seperti diatas, pesawat baru bukan berarti tidak rentan kecelakaan. Kecuali NC-295, semua tipe lain sudah mengalami sekurangnya satu kecelakaan.

Tetapi.... bukankah tidak ada satupun Sukhoi yang rontok. Mungkin kita harus mulai membeli barang buatan Russia, daripada buatan Barat?

Ini adalah miskonsepsi yang umum.

Silahkan memperhatikan keadaan lalu lintas di kota anda! Sekarang, bandingkan: Kalau anda keluar rumah setiap hari dengan mengendarai motor, atau mobil; atau kalau anda keluar rumah hanya seminggu sekali; dalam skenario manakah resiko terjadinya kecelakaan menjadi lebih besar? 

Resiko kecelakaan baru menjadi lebih besar, kalau anda keluar rumah setiap hari, bukan?

Sukhoi sampai sekarang masih kebal dari daftar kecelakaan TNI-AU, bukan karena pesawatnya lebih aman. Ini justru dikarenakan pesawatnya sebenarnya jarang bisa terbang, berkat kesulitan maintenance yang seabrek, diiringi dengan biaya operasional mahal, dan kebutuhan "perbaikan mendalam". Mustahil kalau Sukhoi akan dapat mengudara setiap hari, dan sesering Super Tucano, T-50, atau F-16, yang semuanya jauh lebih sederhana.
"Gue sih lebih seneng pulang mudik, 
daripada terbang..."

Seperti sudah dilaporkan dalam Moscow Times, 14-Juli-2015, yang memuat bagaimana 6 pesawat AU Russia sudah rontok dalam waktu kurang dari dua bulan; Safety standard pesawat buatan Ruski, sebenarnya masih jauh dibawah safety standard pesawat buatan Barat. Ini dikarenakan pesawat warisan industri Soviet, sebenarnya hanya bisa dipakai 10 tahun, sebelum harus diganti baru. Semakin lama , dan semakin sering dipakai, tentu saja resiko kecelakaannya akan semakin tinggi.


Lantas, apa yang salah?

Kembali ke analogi lalu lintas di atas, dengan kendaraan sendiri. 

Apa yang akan anda lakukan, kalau setiap minggu motor anda pasti akan kena terserempet; dan anda sendiri hampir setiap kali akan terjatuh?

Anda akan melakukan introspeksi diri, bukan? 

Anda akan mencoba menerapkan prosedur berlalu-lintas yang baru, agar jangan sampai kejadian yang sama tidak terus terulang-ulang kembali.

Kendaraan yang menyerempet motor anda, bisa jadi kendaraan yang berbeda setiap minggu. Apa yang dapat anda lakukan, adalah mengubah cara mengendarai motor anda, agar jangan sampai terperangkap dalam jebakan serempetan yang sama lagi. Misalnya, dengan mengambil jalan yang lebih langgeng, atau dengan menyesuaikan jarak aman motor anda, baik dengan bahu jalan, ataupun dengan kendaraan lain.

Inilah hal yang sama yang juga harus dikejar TNI-AU.

Ini tidak ada hubungannya dengan Anggaran, jenis pesawat yang jatuh, atau apakah karena pesawat itu bekas.

Sudah saatnya menilik kembali, dan kalau perlu merevisi ulang safety procedural, training, dan maintenance untuk setiap asset udara yang sudah ada. 

Sudah terlalu banyak korban jiwa dalam 10 tahun terakhir ini. Kalau kita tidak berusaha untuk meningkatkan safety record dari semua pesawat yang sudah ada, pesawat manapun juga tidak akan dapat merubah safety record ini menjadi lebih cemerlang.


Penutup


Kita tidak perlu melihat jauh-jauh untuk mencari panutan yang baik dalam hal safety record. Tidak ada salahnya, kalau kita meminta mereka untuk turut membantu kita.

Royal Australian Air Force, yang juga salah satu Angkatan Udara pertama di dunia, baru saja melaporkan kecelakaan mereka yang terakhir..... di tahun 2008, dengan DHC-4A Caribou, yang memang sekarang sudah dipensiunkan karena spare part-nya sudah semakin sulit. Tidak ada korban jiwa dari kecelakaan ini.

RAAF sudah mengoperasikan F/A-18A Hornet Classic sejak tahun 1981; dan kecelakaan Hornet mereka yang terakhir terjadi....  dengan F/A-18B unit A21-106, pada tanggal 19-Mei-1992, dua korban jiwa. Semenjak itu, walaupun Hornet Classic Australia semakin uzur, semua 71 unit Hornet masih tetap operasional tanpa pernah mengalami satu kecelakaanpun.
Tiga Hornet Classic Australia dalam latihan Red Flag 2012:
(Gambar: Wikimedia)
Tidak ada kecelakaan dalam 20 tahun

Tidak ada salahnya kita mencoba belajar dari prosedural apa yang sudah diterapkan RAAF
Kecelakaan Hercules A-1334, seyogjyanya mulai membuka mata kita. 

Setiap pesawat yang sekarang sudah dioperasikan, adalah suatu tanggung jawab bersama, antara Negara, Angkatan Udara, dan setiap awak yang mengoperasikan. Pilot, dan crew safety jauh lebih penting dibanding mencoba mengejar-ngejar jumlah tambahan pesawat secepat mungkin.

Saatnya melupakan dahulu ide-ide mentereng seperti mencoba mengejar "pengganti F-5E", yang sebenarnya tidak lagi dibutuhkan, mengingat minimnya jumlah persenjataan yang ada.

Inilah saatnya untuk kita berintrospeksi diri: 

Apakah kita dapat menjalankan tanggung jawab dengan pesawat yang sudah ada dengan lebih baik? 

Apakah kita dapat melihat tahun 2017 nanti, menjadi tahun yang bebas kecelakaan untuk TNI-AU?

Ini adalah target yang harus menjadi prioritas utama, daripada mulai termakan dengan ide-ide modernisasi, atau "mengejar jumlah". Marilah kita menutup 2016 ini dengan tekad bersama untuk mendorong peningkatan safety record TNI-AU.

34 comments:

  1. Saya kadang tertawa terbahak-bahak soal pejabat kita yg bilang 'tidak akan lagi beli bekas / hibah'. Kita tau negara kita kaya raya, tapi uangnya banyak yg dikorupsi . kalau anggaran pertahanan kita besar tentu saja kita akan beli baru Dan yg terbaik . ntar njrumus ke politik.. Kabur bung

    Ibaratkan aja bung : tank kalau mogok bisa diderek, kapal mogok bisa diderek , lah kalau pesawat mogok ya nyungsep. Malah Ada beberapa kasus yg tidak bisa gunakan kursi lontar ( pespur ).
    Untuk trek record Dari F16 kita gimana bung ? Udah Ada berapa yg jatuh ?

    Jadi jgn sedikit-dikit salahkan hibah / tua. Tapi lengkapi dulu SOP safety terbang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah, bung endo.

      Terlalu banyak pejabat yg melempar komentar gampang "tidak boleh hibah".

      Dengan demikian, sbnrnya mereka jadi seperti mengutuki pilot, dan crew kita sendiri: siapa suruh menaikin pesawat hibah?
      Tuh kan, jadi kecelakaan..

      Kenyataannya, memang dari dahulu safety record TNI-AU sudah cukup buruk; mau baru, mau hibah.

      Kita memang harus memperbaiki SOP safety dahulu.

      Untuk F-16, sebenarnya mengikuti trend yg sama dgn BAe Hawk, SuperTucano, dan T-50: setiap kali baru mulai dioperasikan, tak berapa lama akan ada kecelakaan.

      ## TS-1604 jatuh 15-Jun-1992 (umur baru 3 tahun).

      ## TS-1607 menabrak lampu landasan saat mendarat di cuaca buruk di Halim AB, 10-Maret-1997. Pilotnya tewas.

      ## Yang terakhir, seperti table diatas; F-16 Block-25+ TS-1643 pada 16-Apr-2015 yang silam: terbakar setelah gagal lepas landas dari Halim AB.

      Delete
    2. Dari F16 yg pernah jatuh / kecelakaan fatal yg sudah anda sebutkan . di tahun 1992 F16 jatuh ( mungkin Ada kerusakan ) 1997 menabrak lampu ( ya cuaca buruk ) 2015 F16 gagal take of ( mungki Ada kerusakan ) .

      Kita mekakai F16 pertama Kali then 1989 Dan sampai saat INI F16 kita juga masih terbang , jelas crew kita luar biasa paham untuk maintenance pesawat tersebut . Dan tak seperti sukhoi yg mudik pake antonov


      TS-1643
      TS = tempur sergap
      16 = F16
      43 = apakah yg no ke 43
      Kadang disini saya gagal paham bung, atau mungkinkah kita punya by ghoib². Hehehe

      Delete
    3. Bung endo,
      Ketiga kecelakaan F-16 tadi (1992, 1997, dan 2015) sebenarnya kecelakaan write off. Pesawatnya tidak lagi bisa diperbaiki.

      Ini semacam trend lama dalam TNI-AU; kalau baru memperkenalkan model baru, biasanya langsung terjadi kecelakaan write-off dalam beberapa tahun.
      Semua tipe sudah mengalami siklus yg sama.

      Tapi biar bagaimana, boleh dibilang memang TNI-AU sudah jauh lebih menguasai maintenance F-16 dibanding Sukhoi.

      Yang paling menonjol adalah bagaimana F-16 itu sebenarnya tetap operasional semasa embargo spare part (1999 - 2005), walaupun kebanyakan unit harus dikanibalisme habis2an.
      Lebih hebat lagi, tidak pernah tuh satu juga F-16 harus dikirim pulang untuk "mudik".

      Dalam keadaan yg sama, semua Sukhoi sudah pasti hanya akan masuk ke tong sampah.
      Tanpa embargopun, harus mudik, kok.

      Alasannya mudah:
      # Single-engine fighter akan selalu perawatannya jauh lebih sederhana, dan lebih mudah dikuasai.
      # Kalau diberi kesempatan, tehnisi kita juga sebenarnya sudah sangat pandai berinovasi (Rosoboron tidak akan mau memberi kesempatan!)

      Seperti bisa kita lihat dari contoh kasus embargo, dan F-16, sebenarnya yang harus kita kejar adalah kemandirian perawatan, tanpa campur tangan luar, bukan kebodohan mencoba diversifikasi supplier, seperti sekarang,

      ## Kalau kita mengoperasikan Gripen, yg perawatannya lebih sederhana vs F-16, sedang Saab sudah menawarkan ToT, dapat dipastikan kita akan 100% kebal embargo.

      Delete
    4. Nomor registrasi F-16 kita memang agak aneh:

      F-16 Block-15OCU (1989-1990):
      TS-1601 - 1612

      F-16 Block-25+
      TS-1620 - 1643

      Nomor antara 1613 - 1619 memang dilompat -- kemungkinan ini dahulu sudah di-reserve untuk 7 unit F-16 ex-Pakistan yang tadinya akan diakuisisi pemerintah Orde Baru di tahun 1990-an, sebelum rencana ini dibatalkan.

      Delete
    5. Iya bung ketiganya memang kecelakaan written off, tapi semuanya tidak semata² Karna F16 kita hanya Karna kita kurang dalam hal maintenance. Until yg 1992 mungkin kita masih baru jadi tidak paham betul soal F16, yg kedua 1997 nabrak. Yg ketiga 2015 Karna gagal take off Dan tergelincir Dan terbakar. ( eh ya ga tau juga si ) jadi tidak semua F16 kita terbang Dan jatuh Karna kegagalan mesin / APA.



      Dari kecelakan 1992-1997-2015 menurutku maintenance lebih bagus untuk F16, terbukti making kesini jarang F16 yg jatuh. Dalam masa embargo aja ga Ada yg jatuh, dikanibal habis²an Dan bisa terbang 2.

      Delete
  2. Sebenarnya saya kurang tahu internalnya TNI AU tapi semoga aja keselamatan kerja jadi prioritas penting dan kedepan musibah-musibah seperti ini tidak kejadian lagi. Mungkin maintainance system nya harus dievaluasi ulang atau harus studi ke negara-negara yang keselamatan kerjanya terbukti baik. Contoh:RAAF mengoperasikan F-18 tapi jarang ada berita mengenai musibah juga RCAF pernah baca sekali tentang musibah F-18 mereka tapi habis itu gak bener denger lagi. Lagian sebenarnya C-130 H bekas RAAF itu udah melalui proses overhaul dan retrofit dan tergolong varian C-130 yang terbaik dimiliki Indonesia sekarang. Tapi ya bencana itu multifaktor ada alamnya, dsb. Menurut admin apakah C-130 B kita harus dipensiunkan atau upgrade, terus kalau pensiun kandidat terbaiknya apakah C-130 J atau A-400 atau juga mungkin ada kandidat lain? Terima Kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. * Itu udah baik. Maaf ketinggalan ketiknya

      Delete
    2. Bung Thomas,

      Sebenarnya semua tergantung kelaikan kondisi airframe.

      Tidak hanya perlu melihat umur, tetapi juga harus melihat record pemakaian, dan inspeksi langsung.

      Kalau biaya peremajaan tidaklah terlalu mahal, tidak ada salahnya upgrade, sekalian mengganti beberapa avionik di cockpit (biasanya).

      Pengganti C-130 TNI-AU di masa depan?

      Kalau uang bukan masalah, C-130J ($67 juta base price).

      Kalau tidak, lebih baik mengambil hibah C-130 dari negara2 (kaya) yg memutuskan mengganti ke versi J.
      A1334 adalah salah satu contoh ex-hibah RAAF Australia. Biasanya usia airframenya masih bagus, masih bisa untuk puluhan ribu jam terbang lagi. Kerugian negara relatif akan minimal, ketimbang beli baru.

      Airbus A400M... tidak disarankan.
      Tidak hanya harganya terlalu mahal ($124 juta), tetapi mngintegrasikan tipe baru ke jajaran yg ada itu tidak akan murah, ataupun mudah.

      Melihat safety record yg berantakan seperti sekarang, tidak akan mengherankan kalau dalam 2-3 tahun setelah A400M pertama mendarat, sudah akan ada kecelakaan writeoff lain, yg akan menimbulkan korban jiwa.

      Delete
  3. OOT
    TNI -AU ternyata masih ngotot ingin membeli helikopter aw101 walau telah tegas ditolak Jokowi dan lebih parahnya lagi walaupun katanya ada TOT ternyata cuma TOT pemeliharaan bukan TOT yg bisa memberi nilai tambah industri pertahanan seperti yg diamanatkan UU

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, begitulah...

      Sepertinya para agen sales dari Augusta-Westland, sekarang divisi dari Leonardo Finmencannia, masih cukup bandel untuk mencoba menawarkan AW-101 ke Indonesia; karena mereka tahu kita senang beli gado2.

      Ternyata mereka belum kapok, setelah tempo hari tertangkap basah menyogok pejabat di India, untuk pembelian.... AW-101.

      =========
      Link Defence News
      =========
      Indian Express
      =========
      BBC News
      =========

      Delete
  4. Ini rumor aja atau apa, saya baca baca dari medsos sekalipun bisa dibilang kurang valid. Masak iya Indonesia udah deal mengenai Su-35? Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya, menambahkan kayaknya blogspot ni udah bikin keramaian di Fb, kayaknya banyak silent reader yang mengunjungi blogspot ni.

      Delete
    2. Iya, bung Thomas,

      Sy melihat banyak traffic dari Facebook. :)

      Re: Su-35
      =========
      Sepertinya para lobbysts sedang sibuk beraksi lagi!
      Mereka sengaja terus menyebar berita2 kalau kita "masih nego", atau sedang mengatur skema "barter" untuk pembelian rongsokan Kommercheskiy, yang mencintai "Komisi Perantara", dan "perbaikan mendalam".

      Sayangnya,
      Tidak akan ada Su-35 di Indonesia.

      Sebagaimana sudah diinstruksikan Presiden, 20-Juli, yang lampau,
      semua transaksi Alutsista di masa depan harus memenuhi semua persyaratan berikut:

      ## Harus memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012

      ## Pembangunan / keterlibatan industri pertahanan lokal adalah salah satu persyaratan utama, yang tidak bisa ditawar.

      ## Kontrak harus ditutup melalui skema G-to-G; tidak boleh ada perantara.

      ## Alutsista harus dibeli menurut pola investasi; menguntungkan negara dalam jangka panjang, dan upgrade-nya harus terjamin.

      Terlepas dari hiruk-pikuk Sukhoi di Indonesia, belum ada satupun lobbysts, atau agen sales yg pernah menyebutkan, bukan, kalau Su-35 akan dapat memenuhi semua persyaratan di atas?

      Mission: Impossible. Rongsokan.

      Belum lagi para lobi2 / perantara pembelian semua Alutsista harus berhadapan dengan realita lain; keuangan negara sedang diperketat untuk beberapa tahun ke depan.

      Delete
  5. Sebenernya itu penggemar pespur Russia tahu gak ya tentang operation rimon 20. Pespur terbaik soviet dan pilot pilot terbaik mau unjuk gigi di hadapan mesir buat ngelawan israel, tahunya cuma malu yang didapat ngelawan mirage dan f-4 israel, itu penggambaran bahwa pespur pespur terbaik soviet dengan pilot veteran nya sukar menghadapi teknologi barat. Semoga pengunjung yang baca di blog ini searching tentang operation rimon 20, supaya gak terlalu tergila-gila gak wajar dengan teknologi russia. Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti setelah tahun baru, sudah saatnya menuliskan artikel baru ttg serba-serbi barang Kommerchekiy, sistem latihan, dan status industri pertahanan Ruski, yg ex-Soviet.... yg sebenarnya dalam kondisi yg sangat parah, dan sudah tertinggal semakin jauh semenjak runtuhnya Uni Soviet.

      Logika yg sangat sederhana:

      Dengan anggaran pertahanan Russia yg hanya $66 milyar (2015), lebih rendah dari Saudi Arabia, dan hanya sedikit lebih tingi drpd UK, dan sekarang sudah di-embargo habis2an --- secara tehnis, industri Ruski sudah kehilangan kemampuan untuk masih bisa bersaing.

      Belum lagi menghitung faktor waste, dan korupsi yg menyandera baik militer, ataupun industri Ruski. Seperti sudah dilaporkan orang India, KKN, atau "main gila" dalam setiap transaksi sih sudah menjadi rutinitas.

      Sayangnya, untuk yg namanya fanboys yg sudah cinta buta ke Moscow, mereka tidak akan mau mencoba membuka mata.

      :D

      Delete
  6. Bung GI, Saya langsung Gembira ketika Indonesia Dan Swedia melakukan kerja sama jangka panjang Di bidang pertahanan, Menhan di undang ke swedia buat membahas pengadaan kapal Selam A26 Buatan Saab kockums.

    kalo Kerja sama jangka panjang ini sudah tanda tangan, Jadinya Gripen E bakal kebeli dong. disusul Saab BAMSE, Erieye , Dan produk alutsista buatan Saab Lainnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada yang bilang kapal selamnya Gotland class, entah mana yang bener

      Delete
    2. Kita lihat saja.

      Memang biar bagaimana penandatanganan kontrak kerjasama Kemenhan Swedia - Indonesia ini sudah menjadi langkah dasaran / awalan yg sangat baik.

      Opportunity jadi terbuka lebih lebar, tidak hanya untuk akuisisi Gripen - Erieye, tetapi lebih penting lagi faktor kerjasama industrial Swedia - lokal.

      Inilah kesempatan emas negara kita untuk melaju dalam industri pertahanan internasional. Semakin besar komitmen kita, semakin cepat kita akan meninggalkan posisi "anak bawang" seperti sekarang.

      Delete
  7. Situsnya Ada Di JKGTR. yg comment Sedikit. Tapi Saya taunya dapat beritanya Di instagram. alutsista indonesia

    ReplyDelete
  8. Hahaaa, Sepertinya Pemerintah Sudah bosan tentang Negosiasi Su 35 yg Sangaaat lama, Tapi ToT gak dikasih. lalu akhirnya mulai buyar juga karena tergiur dengan Tawaran Kerja Sama Saab di indo defence 2016 pada bulan November yg lalu dan mengambil jalan emas dengan menandatangani MoU kerja sama Jangka Panjang di bidang pertahanan dengan Swedia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya pemerintah Jokowi sih tidak pernah terlalu tertarik dengan Su-35.

      Sukhoi yg ada saja
      memboroskan terlalu banyak proporsi anggaran, hanya memberi makan perantara, gampang rusak, dan kesiapan terbangnya sangat rendah.

      Belum menghitung faktor ToT saja (yang sudah pasti mustahil), daftar kartu merahnya sudah menumpuk.

      Hanya beberapa pihak saja yang "menginginkan" Sukhoi, tetapi kemudian menyajikannya sedemikian rula, seolah2 pemerintah mendukung 100%.

      Prioritas pemerintah sih sedari awal sudah kelihatan jelas kok:

      Kita harus mulai merancang bangun industri pertahanan dalam negeri, dan meningkatkan local content dalam Alutsista, bukan semata senang terus beli import, tanpa ToT, dan dengan perantara.

      Delete
  9. maaf aku ngeluarin pertanyaan yang melenceng dari artikel ini

    aku udah muak dengan komentar "nanti kita di embargo lagi oleh AS dan Uni Eropa"padahal kalian harus sadar pesawat CN-235 dan Casa 212 hasil rancangan B.J Habibie itu merupakan kerja sama IPTN dengan Casa(kini Airbus Defense and Space)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang para Sukhoi fanboys senang menggunakan argumen "Embargoo!"

      Pernyataan yang sangat bodoh, kalau tidak mau belajar seluk beluk latar belakang kenapa bargo itu dulu terjadi.

      Lebih bodoh lagi, orang juga lupa kalau embargo EU itu hanya berlaku selama 5 bulan.

      Hanya ada satu alasan kenapa kita dahulu di-embargo di tahun 1999:

      Seluruh dunia sebenarnya tidak ada yg mengakui Timor Timur bagian dari Indonesia.... ironisnya, termasuk Uni Soviet, yg masih dendam membara akibat pembubaran PKI, dan hibah MiG-21.

      Sejak operasi Seroja, dengan demikian TimTim itu seperti bom waktu untuk Indonesia.

      Namun terlepas dari semua kontroversi ini, sekarang semuanya sudah berakhir.

      Tidak ada lagi alasan untuk negara manapun untuk bahkan bisa belajar membenci NKRI, yang sudah dikenal pecinta damai, dan salah satu yg paling demokratis di seluruh Asia-Afrika.

      Memang para Sukhoi troller lebih mencintai kenyataan kalau alutsista Ruski menggemari kebutuhan MUDIK untuk "perbaikan mendalam", dimana Alutsista made in Ruski disandera selama berbulan2.

      "Kalau nggak bayar uang tebusan, nggak balik tuh barang!"

      :D

      Delete
    2. betul para shukoi fansboy selalu menggunakan senjata embargo untuk membentuk opini publik bahwa barang ruski bebas embargo,seolah-olah lupa(atau tutup mata) bahwa embargo yg dampaknya paling parah dalam sejarah militer indonesia adalah embargo dari soviet

      Delete
    3. ... dan para fanboys juga lucunya senang berfantasi kalau suatu hari kita akan berperang dengan Australia.

      Padahal, bukan hanya hubungan perdagangan / ekonomi / sosial kita sudah semakin akrab setiap tahun, dewasa ini kita banyak menghadapi musuh bersama:

      Ancaman terorisme, ISIS, self-made extrimis internal/external, dan lebih penting lagi....

      ....sepak terjang PRC di LCS.

      Tentu saja tidak seperti pemain Sukhoi amatir Indonesia, yg masih menikmati "perbaikan mendalam",
      PRC adalah "Sukhoi experts"; profesional, yg kemampuannya mungkin bisa melebihi Russia sendiri.

      Delete
  10. Kayaknya sentimen publik mulai tumbuh ke produk-produk SAAB, liat di forum Fb ada 2 atau 3 postingan share dari blogspot ini yang like bisa sampai 400an padahal baru 2 jam dan timbul perdebatan sampai sama moderator forum nya di hapus postingannya. Terus polling alutsista arhanud yang terkuat 1. S-300 sekalipun saya rasa sangat diragukan kita mau beli ini dan no 2. BAMSE / RBS-23 yang paling mungkin kita akuisisi. Banyak juga postingan2 kritisi terhadap Sukhoi terutama evaluasi dari India. Orang juga mulai kenal dengan RBS-15 Mk.3, radar Giraffe, dan RBS-70 juga kunjungan Menhan Swedia ramai dibicarakan terutama tawaran Gotland class dengan AIP stirling technology sampai Washington sebut " Carrier killer ". Semoga pemerintah memperhatikan opini-opini rakyat, kita ini cuma warga negara yang peduli terhadap kemajuan negara. Orang suka Sukhoi gegara bentuknya besar dan katanya efek deteren tapi Indonesia butuhnya alutsista yang combat ready dan Gripen tu bentuk keefektifan dari segi ekonomi dan kesigapan tempur. Indonesia harus pinter dan hati2 lah sekarang jangan jadi angsa telur emasnya Washington atau Moskow, Gripen itu membuka pintu ke hal-hal lain diluar pespur. Kalau Su-35 atau F-16 ya udah itu tok. Terima Kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. O iya saya kok ngeliat ada tabrakan 2 Su-35 di khotilovo, tver dengan posisi aneh. Uji coba 929 tanggal 15 Desember 2016, itu tu kenapa ?

      Delete
    2. Kita lihat saja perkembangan berikutnya, bung Thomas.

      Kita tahu kalau pembangunan industri pertahanan dalam negeri akan menjadi salah satu prioritas pemerintahan Jokowi.

      ... dan dalam bentuk tawaran ToT / potensi kerjasama, tidak ada pilihan yg lebih baik dibanding Saab.

      Untuk Su-35, sejauh ini belum ada konfirmasi kecelakaan. Kalau ada, ini akan menjadi berita utama.

      Kelihatannya AU Ruski masih sangat berhati2 memakai Su-35 sejauh ini, tetap lebih memilih Su-27S tahun 80-an untuk menantang NATO di Baltic.

      Di Syria, kelihatannya Su-30SM Irkut, dan Su-34 lebih aktif dibanding Su-35.

      Delete
    3. Maaf bukan kecelakaan dan bukan Su-35 saya baca lagi Su-27 SM landing dan mengalami tabrakan kecil dengan Su-27 SM yang lainnya sampe yang satu menindih yang satunya.

      Delete
  11. @DR


    Oom, dari formil lain : Berita ttg Danflight ska. Hawk 100/200 pekanbaru yang berpangkat mayor telah membukukan 2000 JT, sementara Danflight ska. 27/30 makasar yang juga berpangkat mayor baru membukukan 1000 JT....apakah bisa langsung disimpulkan bhw rerata jam terbang ska. 27/30 jauh lebih rendah dari. skadron tempur lainnya? Berapa JT/tahunnya menurut estimasi oom DR?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terus terang meragukan kalau ada pilot Sukhoi Indonesia, yang dapat mencapai 1000 Jam.

      Apa mungkin beberatus jamnya dikumpulkan dari pesawat lain?

      ========
      Berapa jam terbang Sukhoi per tahun?
      ========

      Kita tahu beberapa kenyataam berikut:

      ## "Perbaikan mendalam" artinya tehnisi kita sebenarnya belum diijinkan Rosoboron untuk melakukan major servicing / overhaul Sukhoi.

      ## Sukhoi Su-27/30 tahun 1980-an sebenarnya tidak dirancang untuk bisa mencapai 100 jam terbang / tahun.

      ## Spare partnya cepat habis, dan kebutuhannya merongrong, akan selalu membutuhkan banyak servicing per puluhan jam, dan major overhaul kurang dari beberapa ratus jam.

      F-16 baru membutuhkan major servicing work per 1000 jam / 1500 jam, dengan frequency minor servicing per 500 jam. Dan pengalaman semasa embargo menunjuk kalau tehnisi kita bisa melakukannya sendiri.

      ## Mesin AL-31F akan habis masa pakainya <1000 jam terbang (sekitar 700 -900 jam), walaupun diiklankan tahan 1500 jam.

      Butuh waktu minimal 4 hari untuk mengganti mesin, dan kita tidak tahu apakah Ruski mengijinkan atau tidak, atau ini termasuk dalam jadwal "perbaikan mendalam".

      Biaya total = $6 juta untuk mesin + biaya tehnisi + Komisi.

      ## Sejak peragaan kemerdekaan di tahun 2008, sebenarnya keempat Sukhoi pertama yg dibeli 2003, sudah tidak pernah terlihat lagi di muka publik.

      ## Beberapa peragaan udara HUT TNI, Kemerdekaan, dan Angkasa Yudha 2016 juga memperlihatkan jumlah Sukhoi yg semakin menciut. Hanya 2 - 6 pesawat yang terlihat.

      Dari beberapa hal yg kita tahu seperti diatas saja, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan awam sbb:

      ## Mungkin tidak sampai 8 pesawat yg masih operasional dewasa ini. Dari jumlah ini, hanya 4 pesawat yg bisa mengudara setiap saat.

      ## Jumlah jam terbang? Kemungkinan akan berhemat. Setiap unit mustahil kalau bisa mencapai 100 jam per tahun.

      Mengingat gampang rusak, dan biaya op mahal / keterbatasan anggaran, kemungkinan setiap Sukhoi hanya bisa terbang 65 jam maksimum per tahun.

      Tentu saja, 6 pesawat × 65 jam x Rp 500 juta (+ biaya "perbaikan mendalam") saja sudah mencapai angka Rp 200 milyar per tahun. Seperti diatas, belum termasuk biaya perbaikan mendalam.

      Dengan asumsi biaya op F-16 Rp100 juta/jam, angka diatas sudah cukup untuk membiayai 2000 jam terbang per tahun, atau sekitar 100 jam terbang untuk 20 F-16.

      ## Keempat Sukhoi 2003 kemungkinan digeber lebih keras dibanding pesawat dari kedua batch berikutnya, dan ini memperpendek umur. Walaupun juga ada laporan kalau keempatnya sempat di non-aktifkan, krn sistem komunikasinya tidak compatible di Indonesia.

      ===========
      Inilah kenapa kembali, seperti diatas, akan sangat sulit satu individual pilot dapat mencapai 1000 jam terbang di Sukhoi.

      Kalaupun ada, berarti pilot ini harus selalu berganti pesawat, mengudarakan unit manapun yg siap terbang hari itu.

      Ini berarti semua pilot Sku-11 yang lain, akan sangat kuramg pengalaman.

      Delete
  12. Min, itu ada berita bahwa pesawat Tu-154 milik militer Rusia jatuh. Sepertinya hal ini menunjukkan bahwa safety record pesawat Russia yg buruk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk kasus Tu-154, beritanya masih cukup baru. Masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut.

      Tetapi perpaduan antara safety record AU Ruski, dan rendahnya safety standard buatan Ruski memang sudah cukup ternama.

      Berikut daftar kecelakaan AU Ruski (writeoff), sejak Januari-2016:

      31-Jan -- MiG-31 - Krasnoyark Region

      8-Feb -- Mi-8 heli - Psykov region, 4 korban jiwa

      25-Feb -- Su-25 - Budennevosk Airfield

      30-Mar -- Su-25 - Chernigovka Airfield

      11-Mei -- MiG-31 - Perm Airport

      09-Jun -- Su-27 - Moscow region, 1 korban jiwa

      16-Jun -- Tu-22M3 - Pskovsky region

      03-Sep -- Mi-8 heli -- Sokol airfield (rusak)

      12-Oct -- Tu-95MS -- Irkutsk (rusak)

      Jadi total ada 7 kecelakaan writeoff, dengan 2 korban jiwa, hanya di tahun 2016.

      Mengalahkan safety record AU negara manapun.

      Sumber: Aviation Safety Network

      Delete