Saturday, December 10, 2016

Mencapai MEF tahap II: 32 Gripen-E, dan 2 Erieye AEW&C

Credits: Saab

Apakah keunggulan utama Gripen, dibandingkan kedua produk Lockheed: F-16V, dan IF-X, ataupun Sukhoi Su-35?

Pesawat tempur Made by Saab, Swedia, adalah satu-satunya penawaran yang bukan versi export downgrade.  Semua kemampuan radar, flight mode, ataupun software akan tersedia penuh. Tidak ada yang dikurang-kurangi. Tidak akan ada yang dirahasiakan. Upgrade juga akan terjamin. Seluruh kedaulatan bangsa, tidak lagi dipegang Washington DC, ataupun Moscow, seperti sekarang, tetapi 100% seluruhnya akan berada di tangan kita.

Sudah saatnya kita berhenti bermimpi: Mustahil pesawat tempur versi export downgrade, akan dapat mengungguli pesawat tempur buatan Swedia, yang tidak pernah menemui pengurangan yang sama, dan sudah dirancang untuk menghadapi lawan manapun, baik yang stealthy, ataupun sekilas terlihat lebih unggul.

Ini membawa kita ke dalam keunggulan Gripen yang pertama sebagai pesawat tempur masa depan Indonesia:



Keunggulan #1: 32 Gripen-E akan jauh lebih efektif dibandingkan 48 F-16V, atau 100 IF-X, ataupun lebih parah lagi180 Su-35K

Gripen-C MS-20 membawa MBDA Meteor, IRIS-T, 8 GBU-39 SDB, dan Litening pod:
(Gambar: Saab)


Semua yang bisa dibawa Gripen sudah memperlihatkan apa saja yang masih 
belum bisa dilakukan Su-35K

Pertama-tama, kemampuan tempur Gripen-E, mulai dari Sensor Suite, Electronic warfare, Networking, dan Kemampuan kinematis sudah dirancang untuk melewati semua persyaratan pesawat tempur Abad ke-21. Baik F-16V, IF-X, ataupun Su-35K versi export, yang sudah di-downgrade, mau diputar bagaimanapun juga, tidak akan pernah punya banyak harapan untuk dapat bersaing.

Kelebihan ini tidak hanya berhenti di kemampuan tempur semata. Akusisi Gripen juga akan memberikan kita keunggulan jumlah yang tidak akan bisa ditandingi semua pesawat tempur model lain.
Saab Gripen Brochure - Maintenance
Seperti dalam grafik Saab diatas, Gripen sudah dirancang untuk minimum maintenance, dan operasional tempo yang melebihi tolok ukur F-16. Setiap Gripen akan dapat mengudara 19 jam per 24 jam maksimum, sedangkan F-16, hanya akan dapat mengudara 12 jam untuk periode yang sama. 

Kalau F-16 sudah dikenal mempunyai kemampuan bisa mengudara 4 - 5x per hari, Gripen masih dapat mengudara jauh lebih sering lagi, mengingat pesawat ini sudah dirancang untuk 10-menit turnaround time, untuk mengisi bahan bakar, dan dipersenjatai kembali.

Keunggulan dari low maintenance, dan high operasional tempo ini cukup jelas:
Gripen "Smart Fighter" Youtube Capture, Saab
Bisa lebih sering terbang:
Lebih banyak jam
latihan, dan Keunggulan Jumlah di saat konflik
Gripen akan selalu lebih siap terbang, dibanding semua pesawat tempur lain. Kapanpun kita membutuhkan Gripen untuk mengudara, pesawat ini akan bisa dipastikan selalu siap. Bahkan dalam situasi cuaca yang seburuk apapun.

32 Gripen akan mempunyai operasional tempo yang melebihi 48 F-16V. Dan belum cukup disana, selalu ingat kalau fleksibilitas deployment dengan kebutuhan support minimal, berarti Gripen adalah pesawat tempur ideal, yang dapat ditempatkan dimanapun, tanpa perlu investasi mendalam.

Lebih mudah ditempatkan dimanapun!
(Gambar: Louise Levin/Försvarsmakten)
Kedua pilihan twin-engine yang lain, yang tidak pernah mempunyai kesederhanaan single-engine F-16, dan Gripen, tidak pernah mempunyai banyak harapan untuk dapat mereplikasi kemampuan yang sama.

IF-X akan mempergunakan mesin GE F414G, yang masih satu keluarga dengan mesin Gripen. Dengan memilih desain twin-engine, standard maintenance minimum treshold yang harus dilampaui adalah F-18E/F Superhornet, yang memang sudah dipaksa dari awal untuk operasional tempo tinggi di atas kapal induk.

Sayangnya, sortie rate, ataupun maintenance tidak pernah menjadi prioritas dalam benak Korea, yang memang masih kurang berpengalaman. Kemampuan yang dimimpikan adalah mengejar standard F-35, dan... tidak banyak yang lain. Seperti dalam perbandingan F-15 vs F16, ataupun seperti di-postkan sebelumnya; Super Hornet vs Gripen; twin-engine design, berarti walaupun memakai jenis yang sama, reliabilitas-nya sudah pasti akan berkurang, sedangkan biaya operasional akan melonjak, sekurangnya lebih dari 2x lipat.

Kita bisa memprediksi dari kompetensi si pembuat, dan pembatasan tehnologi yang akan diterapkan Washington DC untuk memastikan tidak akan bisa bersaing dengan F-16, dan F-18; IF-X hanya akan dapat mengudara maksimal 1,5 kali per hari, dengan biaya operasional melebihi $24,000 / jam, atau lebih mahal dibandingkan standard F-15C yang $19,000 / jam.

Inilah kenapa, 32 Gripen akan mempunyai operasional tempo, yang sebanding dengan 100 IF-X versi export. Dan tentu saja, tidak hanya kemampuan tempurnya akan jauh lebih unggul, tetapi biaya operasionalnya juga jauh lebih murah; mengingat target operasional cost Gripen dibawah $5,000 / jam.



Sedangkan Su-35 Kommercheskiy? 


Keuangan negara akan bangkrut terlebih dahulu sebelum mendapat hasil apa-apa. TIdak hanya pesawat ini adalah penggemar komisi agen perantara, tetapi juga tidak pernah dirancang untuk operasional tempo yang tinggi.

Seperti kita ketahui, Su-Kommercheskiy, yang sudah operasional di Indonesia saja, sangat menggemari "perbaikan mendalam", yang bisa memakan waktu lebih dari setahun. Seperti dalam kasus TS-2701, dan TS-2702, yang sudah "mudik" sejak 9-Desember-2015, dan sampai sekarang masih menginap disana.

Su-35K, yang jauh lebih rumit, dan spare part-nya produksinya jauh lebih sedikit dibandingkan Su-27/30 nasibnya akan jauh lebih buruk.

Seperti sudah dihitung dalam simulasi matematika sebelumnya, armada yang berjumlah 48 Su-35K, hampir separuhnya akan dilumpuhkan oleh kebutuhan maintenance dalam waktu kurang dari 2 hari. Dengan "mimpi" membeli 8 barang Kommercheskiy, walaupun pembuatnya tidak akan mau memenuhi persyaratan UU no.16/012; dapat dipastikan hanya dalam 3 hari, tidak akan ada satupun Su-35K yang masih bisa mengudara.

Untuk dapat mereplikasi operasional tempo untuk 32 Gripen-E, akan membutuhkan lebih dari 180 Su-35K.

Tidak hanya negara akan bangkrut membayar komisi perantara, tetapi juga akan kesulitan untuk dapat mempertahankan angka 32 pesawat yang siap terbang sewaktu-waktu, untuk pesawat yang efek gentarnya..... NIHIL.


Best Value for Money:
Pertanyaannya bukanlah apakah Su-35K masih dapat menghindar Meteor-armed Gripen, tetapi...
berapa banyak Su- yang tak berdaya, yang akan tertembak jatuh?



Keunggulan #2: Gripen & Erieye akan menjadi awalan untuk membangun Sistem Pertahanan Modern


Apakah kita membutuhkan pesawat AEW&C?

Kenyataan di lapangan, bukankah TNI-AU sudah beberapa kali memaksa Boeing 737-2x9, yang hanya mempunyai radar maritim bertehnologi tahun 1960-an, untuk mengerjakan tugas pesawat AEW&C?

Ini menunjuk ke satu persoalan yang paling mendasar: Kita tidak akan becus untuk bisa menjaga, kalau kita tidak bisa mengawasi apa yang harus dijaga secara lebih optimal.

Dalam sejarah konflik ribuan tahun, pihak yang menguasai Situational Awareness; kemampuan untuk bisa memahami posisi, dan arah gerak-gerik lawan, dan kemudian dapat mengatur strategi yang tepat berdasarkan pengetahuan yang ada, akan selalu menjadi pihak yang menjadi pemenang. Kalau kita memasuki konflik dalam keadaan buta, itu namanya hanya menanti kekalahan yang pasti akan terjadi. 

Disinilah letak keunggulan sistem AEW&C dalam sistem pertahanan modern. 

Saab adalah satu-satunya yang sudah menawarkan paket AEW&C ke Indonesia. Kebetulan, produk Erieye mereka tidak hanya termasuk yang terbaik di dunia, tetapi juga dengan biaya akusisi, ataupun operasionalnya bisa di-customisasi untuk mengimbangi kemampuan finansial negara pembeli.
Saab Indonesia dalam presentasinya di pameran IndoDefence 2016 yang lalu, sudah menampilkan salah satu keunggulan utama AEW&C, dibandingkan radar di darat, dalam grafik diatas. Faster Response time (20 menit), untuk mengudarakan penyergap untuk menghadapi penyusup yang terbang rendah. Gelombang radar di darat, akan selalu dibatasi oleh batas cakrawala - itulah kenapa pesawat, atau cruise missile aggressor akan selalu memanfaatkan kemampuan untuk terbang serendah mungkin.

Lebih lanjut, ingat kalau posisi radar di darat juga fixed, ini artinya radar ini juga menjadi sangat rentan terhadap beraneka ragam seni radar jamming. Beberapa pesawat Electronic Warfare boleh dibilang sudah cukup untuk melumpuhkan kebanyakan radar Kohudnas tanpa ada banyak perlawanan. 

Erieye AEW&C akan mulai menghilangkan kedua kelemahan di atas, sekaligus memberikan fleksibiltas pengawasan di tempat yang dibutuhkan. Erieye radar sebenarnya adalah tipe AESA planar array, yang sudah di-tes untuk kebal terhadap jamming lawan. Lebih lanjut, karena radar AESA beroperasi dalam ribuan frequency, dan dapat berpindah-pindah cepat setiap detik, akan sangat sulit untuk Radar Warning Receiver pesawat lawan untuk melakukan triangulasi dimana posisi Erieye.

Sebaliknya, pesawat Erieye dapat terus-menerus mengubah posisi, dan mengubah scan mode, atau lamanya aktivasi radar untuk mengecoh lawan. Lebih penting lagi, Erieye AEW&C yang sudut deteksi, dan jarak jangkau radarnya melebihi pesawat tempur, akan dapat berfungsi rangkap sebagai Command & Control untuk mengkoordinasi Networked Gripen agar menyerang lawan dari arah yang tidak pernah mereka duga.

Situational Awareness. Kalau lawan masih terpaku untuk mencoba mencari pesawat Erieye, ataupun Gripen, ini artinya mereka sudah kehilangan Situational Awareness. Sebaliknya, pilot masing-masing Networked Gripen, akan mempunyai gambaran yang jelas posisi, arah, dan kecepatan lawan.

Pilot pesawat lawan hanya bisa menanti kekalahan. Sedangkan untuk pilot Gripen, hanya menjadi masalah kapan menekan tombol merah.

Pesawat poor situational awareness, seperti contoh ini,
tidak akan pernah punya harapan dalam pertempuran udara modern
Inilah salah satu dasar pembangunan sistem pertahanan udara modern, yang selama ini, entah kenapa, masih belum direncanakan di Indonesia.

Akuisisi paket Gripen, dan Erieye, pada akhirnya akan memperkenalkan untuk pertama kalinya, pentingnya konsep Networking ke pertahanan udara kita. 

Saab menawarkan Erieye AEW&C, dalam paket GlobalEye di  pameran IndoDefence-2016, yang lalu. Globaleye akan memadukan radar Erieye-ER (versi-2), dengan radar maritim, dalam paket yang dibawa pesawat Bombardier G600. Tetapi mengingat nilai kontrak UAE untuk Globaleye, mencapai nilai $1,27 milyar, mungkin lebih baik kalau kita mengadopsi two-tiered approach, yang sebenarnya juga sudah diambil UAE, dalam akusisi Erieye.

Tahap pertama, mungkin lebih baik kita mengikuti langkah Thailand, ataupun Pakistan, untuk mengakusisi paket hanya Erieye-ER (tanpa radar maritim), yang berbasiskan Saab-340. 

Benar, kemampuannya lebih terbatas dibandingkan Globaleye,
tetapi nilai ekonomisnya lebih tinggi,
dan kita bisa belajar dahulu setahap demi setahap
(Gambar: Wikimedia)
Untuk tahap kedua sepuluh tahun mendatang, 2 pesawat Globaleye akan bisa menyusul, untuk semakin memaksimalkan kemampuan pertahanan Indonesia.

Lebih penting lagi, sistem pertahanan udara yang terintegrasi dalam satu jaringan network, seperti sudah diproyeksikan dalam presentasi Saab, akan dapat memaksimalkan kemampuan setiap Alutsista yang ada. Tidak seperti sekarang, kita tidak akan selalu merasa kekurangan jumlah.

Saab IndoDefence-2016 Presentation

Rencana untuk "mengejar target 180 pesawat" tidak akan lagi dibutuhkan. 

Untuk apa? 

32 Gripen, dan 2 Erieye saja, akan dapat melakukan lebih banyak hal dibanding 1,000 (Seribu) pesawat (gado-gado versi export), yang tidak akan pernah bisa dikoordinasi dengan baik.




Keunggulan #3: Tawaran kerjasama jangka panjang Saab


Yang tidak kalah penting untuk masa depan seluruh Indonesia, baik secara strategis, ataupun industrial, Saab sudah mengajukan komitmen mutlak untuk memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012, dan lebih lagi.

"Gripen hanyalah permulaan," menurut Peter Carlqvist, Head of Saab Indonesia, dalam interview-nya dengan majalah Angkasa. "Kami akan menelusuri kerjasama secara jangka panjang untuk mengembangkan inovasi dalam industri pertahanan di Indonesia."

Kenapa Saab rela memberikan Transfer-of-Technology? 

Apakah Saab tidak akan rugi? 

Apakah mereka akan memegang ekor?

What's the catch?

Well, there is NONE.


Pertama-tama, pengertian konsep Transfer-of-Technology itu bukan hanya memberi pelajaran satu-arah seperti dari guru ke murid, tetapi konteksnya secara industrial, adalah untuk menjalin partnership. 

Tidak seperti proyek mercusuar KF-X, dimana segala sesuatu ditentukan secara sepihak oleh "partner" Korea; partnership dengan Saab akan menciptakan hubungan timbal-balik, yang sifatnya dua arah. Keuntungan dari pihak yang satu, akan selalu bisa menular kembali ke pihak yang lain.

Semisal, kita dapat mengambil contoh pembuatan National Networking, untuk mengintegrasikan semua Alutsista, baik radar, maupun semua di udara, darat, dan laut, dalam satu Network. Untuk menjalankan proyek ini, Saab akan berpartner dengan beberapa industri Indonesia. Partner utamanya, kemungkinan adalah PT LEN, dan beberapa sub-contractor lain. 

Saab sebenarnya baru akan memetik keuntungan, kalau proyek pertama ini sukses:
  • Pertama adalah, bagian % profit dari hasil proyek, yang dibagi bersama antara Saab, dan perusahaan-perusahaan lokal. Ini sebenarnya sama seperti kalau TNI sekarang membeli CN-235; beberapa % profit akan masuk ke PT Dirgantara Indonesia, sedangkan sebagian tetap saja masuk ke partner EADS Casa.
  • Kedua, kesuksesan proyek ini akan menjadi kunci yang akan bisa direplikasi dalam lebih banyak proyek lain di masa depan. Lebih banyak pekerjaan untuk industri lokal lagi, bukan? Dan tentu saja, lebih banyak lagi pekerjaan untuk Saab dalam masing-masing proyek.
  • Terakhir, kesuksesan setiap proyek di Indonesia, akan menjadi marketing tool yang baik untuk Saab dapat menawarkan paket kerjasama yang serupa ke negara lain. 
Jangan terlalu meremehkan kemampuan kita berinovasi sendiri!

Kita adalah bangsa yang ulet. Tujuh puluh tahun merdeka sebagai negara kesatuan, dengan ribuan macam suku, dan ribuan bahasa, yang tersebar di ribuan pulau, adalah prestasi yang bahkan masih sukar untuk direplikasi banyak negara lain di dunia. 

Inilah kenapa, Saab sendiri, dalam proses kerjasama kedua belah pihak, juga akan memupuk pengalaman, dan sekaligus mendapat kesempatan belajar dari kita yang pertama menjadi murid, dan kemudian bertumbuh sebagai partner.

Keuntungan Indonesia?

Tentu saja tidak hanya terbatas di Transfer-of-Technology: 
  • Ribuan pekerjaan lokal untuk beberapa generasi ke depan
  • Semakin banyak langkah kemajuan untuk menuju kemandirian
  • Beberapa hasil kerjasama dengan Saab, juga akan dapat di-export di kemudian hari.
  • Penghematan dari pola akuisisi gado-gado, yang lambat laun akan mulai menghilang dengan sendirinya.
  • Kedaulatan penuh 100% atas setiap Alutsista yang kita miliki, tanpa pernah bisa lagi didikte dari Washington DC, ataupun dari Moscow.
Inilah kenapa, konsep menawarkan Transfer-of-Technology dari Saab Swedia, sebenarnya adalah salah satu bukti Forward Thinking yang modern, yang tidak seperti di Moscow, atau Washington DC, hanya dikuasai oleh paranoia ketakutan kalau negara pembeli tidak akan pernah bisa cukup dipercaya.



Keunggulan #4: Lebih baik menjadi customer besar Saab, dibanding customer kecil Lockheed-Martin, atau Rosoboronexport


Ini adalah faktor psikologis, dan pengertiannya cukup sederhana.

Perusahaan-perusahaan raksasa, seperti Lockheed-Martin, ataupun Rosoboronexport, sudah pernah menjual ratusan pesawat tempur ke negara lain yang juga jauh lebih makmur, dan mempunyai jauh lebih banyak uang. Untuk kedua perusahaan ini, kita hanyalah ikan teri, yang selamanya hanya akan mampu membeli sedikit.

Lockheed mengetahui, kalau sampai kapanpun, kita tidak akan diijinkan Washington DC, untuk mengakusisi mainan mahal, seperti F-35 Lemon II. Atau, kalaupun di kemudian hari mendapat ijin, kita tidak akan pernah mempunyai dana untuk bisa membeli 40 pesawat, seperti "teman baik kita", Korea, yang memang menyukai tehnologi versi export.

Rosoboronexport-pun mengetahui, sampai selamanya kita tidak akan mampu mengakusisi ratusan Sukhoi, dan S-300/S-400 sistem bernilai puluhan milyar $, seperti India, dan PRC.... eh, sudah gitu masih coba-coba ngotot lagi untuk menuntut ToT! Dasar tak tahu diri! Mana lagi sudah pernah berkhianat menghibahkan MiG-21 ke United States!

Belum lagi menghitung kalau berurusan dengan Rosoboron, berarti betabrakan dengan banyak masalah "Customer service", atau the lack-of-it:
Reputasi pelayanan customer service" Rosoboron memang sudah mendunia.

Tanyakan saja ke India, customer terbesar mereka!
Link: Indian Express, 8-Agustus-2016

Sebaliknya, akusisi dua skuadron Gripen-E, 2 Erieye, dan menerima tawaran kerjasama Saab, akan menjadikan Indonesia, sebagai salah satu customer terbesar Saab; kedua setelah Brazil saat ini.

Saab hanya akan menjadikan kita menjadi model customer, sebagai bukti keberhasilan mereka dalam menawarkan kerjasama industrial, ataupun strategis, yang mereka manfaatkan sebagai contoh untuk negara lain.

Komitmen Saab dengan demikian akan terjamin 100%, selama kedua belah pihak dapat terus menikmati keuntungan dari kerjasama ini.

Memang kita tidak bisa melangkah salah, kalau menerima tawaran Saab.

Mau terus diperlakukan sebagai ikan teri yang hanya untuk dipermainkan sebagai customer yang setia, atau mau mencoba meraih kemajuan, dan kemandirian dalam sistem pertahanan?

Mudah, bukan?

Gripen-Indonesia

bukan F-16V versi Export United States,
bukan IF-X versi Export Korea, eh.... United States juga,
bukan Su-35 Kommercheskiy Russia




Penutup


Gripen 39-8 Credits: Saab
Sejauh ini Saab memang masih menawarkan paket berdasarkan Gripen-C MS-20. Blog ini sendiri sudah merekomendasikan dari awal kalau kita menunggu lebih lama, dan memilih versi yang sudah melangkah beberapa generasi lebih maju, dan akan lebih futureproof dalam jangka panjang:




Betapa bodohnya kita, kalau tidak mengambil tawaran Saab.

Tidak memilih Gripen sebagai pesawat tempur masa depan kita, hanya akan menjadi kesalahan terbesar, yang akan mengkandaskan semua harapan untuk menuju kemandirian secara pertahanan, ataupun industrial.

Sebenarnya sangat memalukan kalau sampai saat ini, Saab lebih kelihatan antusias dalam penenuhan UU no.16/2012, dibandingkan banyak kalangan di negara kita, yang sudah tertipu dengan buaian mimpi dari para penjual pesawat versi Export.

Sudah saatnya bangun dari mimpi, melihat kenyataan, dan memikirkan dengan lebih serius masa depan pertahanan Indonesia, yang akan kita wariskan untuk generasi mendatang.

Apakah masih mau kembali terus dijajah Jepang, ataupun Belanda? 

Untuk selamanya terus mempergunakan senjata-senjata versi export, yang kemampuannya sudah didikte negara lain? 

Atau apakah kita mau memerdekakan diri, dan mengambil langkah serius untuk membangun sistem pertahanan modern, yang akan kebal bahkan menghadang musuh yang jauh lebih kuat?

86 comments:

  1. bung GI, dengan membeli 36 buah saab gripen E dan 6 erieye(3 buat dipakai dan 3 nya buat cadangan) ToT, ditambah dengan pensiun dini seluruh sukhoi sku 11,kerjasama permanen pembangunan National Networking System beserta paket pelatihan pilot, pendidikan, perawatan. dan mengupgrade F16 hibah dan MLU menjadi block 52 yg sebenarnya. TNI AU jadinya makin sangar, sebab karena pilot gripen dan f16nya terlatih, teknologi maju, ToT full dapat, dan masih banyak lagi keuntungan yg didapat dengan mengambil tawaran Saab tersebut.

    sudah setahun sukhoi kita mudik gak pulang pulang waktunya berkabung :D. dan write off 2 sukhoi tersebut.

    kalo Urusan MBT, seharusnya TNI AD cukup membeli MCV buatan jepang yg beroda ban

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Eki,

      Inilah "gajah di depan mata tak kelihatan" yang lain..

      Dengan membayar biaya op Sukhoi, dan komisi perantara begitu mahal, tentu saja tidak akan pernah ada banyak ruangan fiskal yang tersisa untuk diinvestasikan ke hal2 yg lebih berguna:

      ## Biaya operasional Sku-11 yang sekarang saja, masih lebih mahal dibandingkan mengoperasikan 32 - 36 Gripen-E, 33 F-16 Block-25+, dan 2 Erieye.

      ## Mengalokasikan dana untuk membeli missile saja juga tidak sanggup,
      karena para perantara lebih memilih kita mengoperasikan "Sukhoi kosong", agar komisi terus mengalir masuk utk biaya perbaikan, dan spare part.

      ## Boro2 membeli pesawat tempur baru, apalagi pemeras V2.0: Su-35 Kommercheskiy, yang efek gentarnya nihil, dan biaya op-nya lebih mahal lagi.

      ## Lagipula, karena begitu maintenance-heavy,
      belum tentu sekarang ini masih ada 4 pesawat yg siap terbang sewaktu-waktu.

      Inilah kenapa semakin lama kita mengoperasikan penyandera anggaran ini,
      Kita hanya akan semakin ketinggalan jaman.

      Ayo, pensiunkan Sukhoi secepat mungkin!
      :D

      Delete
  2. Gripen dan F16 adalah contoh armada Gado Gado yg Sepadan. dengan perlengkapan Standar NATO

    Gripen twin Seat juga ada versi yg sama dengan EA18G Growler, Ada juga yg versi kapal induk, ada lagi yg versi UAV. lagi in development.

    Sejauh ini Indonesia dan Rusia Masih Tawar menawar Harga Su 35, dan ToTnya.

    Tapi untunglah saya sudah berkomentar di instagram kepada presiden jokowi dan sebagian penggemar Aviasi tentang fakta kelemahan sukhoi, lalu membeberkan keunggulan gripen dan ToT plus kerjasamanya.

    Mereka juga Sangat setuju dengan komentarnya saya, sebab mereka mengatakan sudah sering mengunjungi Blog ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berita yang baik, bung eki..

      Memang tujuan dari blog ini adalah meningkatkan kesadaran nasional untuk mendukung pilihan yang sesuai dengan kebutuhan.

      Tidak ada mimpi, tidak ada karangan, hanya analisa berdasarkan fakta yang sudah ditampilkam dalam informasi publik.
      Kalau referensinya tidak jelas, yah, tidak akan layak dituliskan. :)

      Sebaliknya, di media massa, atau forum, terlalu banyak manipulasi opini publik, yang bercampur aduk dengan segunung miskonsepsi, yang jauh dari realita, dan dibumbui oleh rhetorisme "nasionalisme" yang salah tempat.

      Maaf, komentar berikut mungkin agak kasar:

      Opini, atau komentar para fanboys, sebenarnya tidak pernah berubah sejak 2014.

      Pengetahuan mereka tentang Sukhoi, versi export, Rosoboronexport, dan polemik hubungan politik Ruski - Indonesia sejak tahun 1967 masih tetap saja hampir nihil.

      Tidak pernah ada upaya dari para pendukung Sukhoi untuk mencoba belajar sendiri.

      Inilah kenapa justru sangat menggelikan mendukung pilihan yang tidak kita mengerti.

      Kebetulan,
      Tujuan export policy untuk barang "Kommercheskiy" downgrade, justru memang untuk sengaja menutup-nutupi apa saja yang sudah dikurangi.

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bung link yg dipakai gripen apa bisa konek ke link 16 falcon kita? soalnya denger2 di picth black 2014 (CMIIW) lalu link gripen thailand g bisa konek ke pespur singapore dan aus yg make link 16

      Delete
    2. Gripen sudah dibuat untuk 100% compatible ke Link-16 NATO,
      seharusnya Thailand tidak bermasalah dalam Pitch Black 2014, kecuali...

      ... mereka belum memilih untuk menaplikasikan update MS-19, sekitar tahun 2012.

      Sebelum 2012, konektivitas Gripen-C/D ke Link-16 NATO sebenarnya masih terbatas,
      karena national network Swedia berbeda dengan Link-16.

      ## Untuk meng-upgrade F-16 kita ke Networking agar bisa connected ke Gripen, mau tidak mau akan membutuhkan persetujuan dari Washington DC.

      Ini akan membuka beberapa kemungkinan:

      # Link-16 dengan MIDS-LVT straightforward option, asal kita diijinkan.
      ============
      Kelemahannya, National Network yang akan kita bangun bersama Saab, kemungkinan akan berbeda format dengan Link-16. Sangat baik kalau bisa compatible, tetapi kemungkinan sih tidak.
      Jadi F-16 hanya akan menikmati limited connectivity ke semua asset lain.

      # Apakah Washington mengijinkan F-16 kita memakai semacam "bolt-on" terminal, yang bukan MIDS-LVT, agar bisa connect ke Link-16, atau National Network?
      ============
      Disini kita memasuki "gray area", karena US biasanya tidak mengijinkan modifikasi ke F-16 mereka. Tergantung tarik-ulur negosiasi, dan kalau disetujui, boleh dibilang ini adalah pilihan yang lebih baik.

      Yang pasti sih, networking dengan F-16, tidak akan mungkin bisa menandingi TIDLS fighter-to-fighter yang sudah built-in ke Gripen, atau connectivity antara Gripen-Erieye.

      Tetapi bukan berarti ini suatu kelemahan.
      sy sudah memikirkan beberapa skenario bagaimana cara memakai Gripen, dan F-16 bersama2. Kita bahas lain kali :)

      Delete
  4. Sedikit menyimpang, menurut mimin apakah Zumwalt-class lebih unggul dari Arleigh Burke-class?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Haykal,
      Maaf, agak telat membalas.

      Sebenarnya baik Arleigh-Burke, atau Zummwalt sudah mendeskripisikan semua yg salah dengan pola pikir US Navy dewasa ini: harganya terlalu mahal.

      Arleigh-Burke harganya $1,8M per kapal, sedangkan Zummwalt lebih parah lagi; akan melebihi $5M kalau semua fitting sudah selesai.

      Secara tehnis, sebenarnya USN seperti sudah kembali ke tahun 1940-an,
      membuat Battleship, yang terlalu besar, dan terlalu mahal.

      Kalau melihat ke teluk Persia, apa yg dilakukan AL Iran, yg bermodal kecil?

      Mereka bisa mengirimkan banyak KCR, atau speedboat kecil, yg dipersenjatai rocket sederhana, atau anti-ship missile;
      Baik Arleigh-Burke, ataupun Zummwalt akan kesulitan menghadapi ancaman semacam ini.

      Ok, untuk perbandingan singkat antara kedua "battleship" ini:

      ## Dari segi pertahanan udara, Arleigh-Burke sebenarnya lebih unggul;
      diperlengkapi AEGIS air defence system, dengan radar AN/SPY-1, untuk memberikan perlindungan "total" terhadap seluruh armada, untuk bisa menghadapi bahkan ancaman Ballistic missile.

      Zummwalt hanya membawa AN/SPY-3 multi-mode radar; cukup untuk self-defence terhadap cruise missile, tetapi lingkupnya lebih kecil vs AN/SPY-1.

      ## Arleigh-Burke juga mempunyai stock 96 missile vs 80 missile di Zummwalt.

      ## Dari segi RCS, yah, memang Zummwalt dikabarkan hanya mempunyai RCS sebesar speed boat, sulit di-lock, secara teori..... Tetapi ukurannya yg 15,000 ton, dgn panjang 180 meter membuatnya jauh lebih mudah terlihat visually vs Arleigh-Burke.

      ## Lebih lanjut, 155mm cannon di Zummwalt dapat menembak ke jarak lebih dari 150 kilometer, walaupun seberapa akuratnya menembak sejauh ini, dengan peluru "bodoh", masih harus dipertanyakan.

      ## Electricity generation di Zummwalt yg 78mW juga seperti dipersiapkan untuk mengoperasikan "rail gun" di masa depan, memberikannya kemampuan surface-to-surface yg superior.

      ## Efek gentar kedua jenis kapal ini, sebenarnya sebaliknya dari yg diharapkan US Navy:
      Baik PLA-N China, atau AL Russia menjadi mulai "terobsesi" mencoba mngimbangi dengan membuat kapal2 besar, dan mahal; dibandingkan membuat lebih banyak KCR dengan cruise missile.

      Delete
    2. Secara teori masih unggul Aegis, PAAMS,atau APAR?

      Delete
  5. Swedia menyerahkan gripen ke Saab untuk di daur ulang, gripen ms 20 dijual aja ke indonesia . harga murahhh

    Kenapa pemerintah swedia lebih memilih gripen untuk didaur ulang, padahal kalau disewakan / dijual jelaas lebih memiliki nilai yg ekonomis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya saat ini, pemerintah Swedia masih bingung dengan nasib 100 Gripen-C/D mereka,
      dengan sudah memilih untuk memproduksi, dan akan mengoperasikan 60 Gripen-E.

      Mendaur-ulang Gripen-C adalah salah satu opsi yang sedang mereka pertimbangkan.

      Semua Gripen-C/D masih cukup baru. Unit terakhir baru selesai delivery 2015.
      Airframe-nya rata2 baru menumpuk 1,000 jam terbang.

      Masalahnya di upgradability radar.

      Mnrt artikel Bill Sweetman di Aviationweek,
      Versi C tidak akan dapat membawa AESA radar, karena cooling system yg dibutuhkan akan membutuhkan terlalu banyak perubahan ke desain airframe.

      Lebih lanjut, penambahan pylon, kapasitas bahan bakar, dan penggantian mesin untuk versi-E juga membuat produksi airframe yang sama sekali baru dibandingkan -C.

      Secara tehnis Gripen-E, dan -C sudah menjadi dua pesawat yg berbeda.
      Saab juga dikabarkan menekan biaya produksi Gripen-E, agar harganya tidak berbeda jauh dengan Gripen-C, walaupun jauh lebih modern.

      Ini juga menimbulkan masalah baru dari sisi penjualan.
      Gripen-C/D akan masih terus ditawarkan sampai pertengahan 2020-an, sebelum Saab mulai beralih ke hanya menawarkan Gripen-E.

      ## Kalau membeli Gripen-C, pembeli harus tahu kalau dari segi upgradability jangka panjang kemampuannya akan terbatas -- tidak akan bisa mendekati ke spesifikasi Echo.

      ## Di tahun 2020-an, secara tehnis, Charlie menjadi mulai ketinggalan jaman, karena profilerasi AESA semakin merebak.

      Di Asia Tenggara ini saja, profilerasi AESA radar sudah tergolong sangat cepat. Di tahun 2020-an, rencananya baik Singapore, ataupun Australia semuanya sudah beralih ke AESA.

      Inilah kenapa, IMHO, lebih baik Indonesia memilih versi E, daripada versi C MS-20 yg sekarang ditawarkan Saab.

      Tetapi kalau, Saab mau mempaketkan penjualan 32 Gripen-E, dan 32 Gripen-C/D ex-AU Swedia dengan harga miring......hm, kenapa tidak?

      Secara tehnis, 4-Skuadron Gripen sudah lebih dari cukup untuk menjaga seluruh nusantara.
      Kelemahan versi-C di bidang sensor, akan dapat dikompensasi oleh Sensor Fusion versi-E.

      Lagipula, dalam sistem datalink TIDLS, "what one sees, everyone can see".
      Secara tehnis, Gripen-C akan dapat menembakkan Meteor dari jarak 200 kilometer, tanpa memakai radarnya sendiri.

      AESA radar dari Gripen-E akan dapat memberikan 2-way datalink feedback ke Meteor yg sudah ditembakkan secara independent, dan pilot C masih dapat melihat semua update dari yg terjadi.

      Ide yang cukup bagus,
      kalau kita mengakusisi Gripen-C ex-Swedia, dan Gripen-E brand new.

      Delete
    2. Lupa menambahkan,
      Faktor yg harus dipertimbangkan disini adalah etika penjualan.

      Saab juga akan sulit menjual Gripen-C/D ex-AU Swedia dengan harga discount, karena Washington DC akan protes, dan menuduh mereka melakukan "product dumping".

      Ini walaupun sudah bertahun2, US juga sebenarnya melakukan hal yg sama dengan menawarkan F-16 bekas harga discount, untuk menyabotase market Gripen-C/D.

      Swedia tidak bisa bermain dengan aturan yg sama.

      Kemungkinan solusi yang bisa dicapai:
      Bagaimana kalau mempaketkan Gripen-C ex-Swedia dalam paket leasing, yang digabung dengan penawaran penjualan Gripen-E ?

      Delete
    3. Yap andai terjadi deal 32 gripen E, erieye Dan packet leasing 32 gripen c/d ex-swedia . tentu saja akan sangat menyenangkan

      Mungkin Dan benar bila gripen c/d akan tertinggal dalam hal radar dengan Au singapura ataupun Au Australia di akhir2 dekade, tapi jelas radar gripe c/d lebih baik Dari pesawat manapun yg dimiliki indonesia .

      Dgn umur yg muda, kurasa gripen c/d masih bisa terbang sampai 2030 . mungkin bukan sebagai armada utama, tapi ya boleh buat pendukung

      Delete
    4. Benar, bung endo,

      ## Versi terakhir dari radar PS/05 Mk4 Gripen mempunyai kemampuan untuk melihat RCS 0,1m2 dari jarak 120km+, ini hanya berkat alogrithm programming radar yg lebih baik.

      Secara tehnis radar ini akan mengungguli bahkan AN/APG-68v9 dari F-16 Block-50+/52+ murni --- jauh lebih baik dibanding semua radar pespur TNI-AU yg sekarang.

      Umurnya juga masih bisa beroperasi 30 - 40 tahun lagi.

      ## Secara tehnis, karena baik Australia, dan Singapore tidak akan mengoperasikan Eurocanards,
      bahkan Gripen-C-pun sebenarnya akan terus mempunyai keunggulan dalam BVR Combat:

      Kemampuan untuk mengoperasikan MBDA Meteor.

      F-35 tidak akan dapat mengintegrasikan Meteor sampai 2030 minimum (ini juga belum tentu berhasil), dan krn ukurannya harus dipotong utk bisa masuk ke weapons bay, jarak jangkaunya akan lebih rendah vs Meteor-armed Eurocanards.

      ## Memang bukan pilihan yang salah..... asalkan kita juga bisa mengoperasikan Gripen-E.

      Delete
  6. 96 gripen C/D diganti denagan gripen E. ketika gripen E sudah memasuki layanan Au swedia, pasti yg terbesit di pikiran orang² adalah kemampuanya 60 gripen E sama dengan / melebihi 96 gripen C/D ?

    Ketika Au swedia tidak memakai gripen c/d, APA kabar dengan kelanjutan gripen C/D ? Apakah Saab juga akan melanjutkan produksi/ stop ?


    Dengan Anggaran yg Ada, lebih baik kita menyewa 16 gripen c/d PS/mk5. Dengan opsi tambahan 16 lagi (Ketika au swedia sudah mendapatkan squadron gripen E). Yah disini hanya leasing, tapi untuk seumur masa pakai . 🐢🐢🐢🐢

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung endo,

      Perbedaan kemampuan antara Gripen-E, dan C memang akan cukup jauh:
      Sensor Fusion dgn AESA radar, supercruise dngn combat load 6 missile, jarak jangkau lebih jauh, tambahan 2 pylon extra, dan Electronic Warfare suite baru, dngn GaN jammer.

      Secara tehnis, kemampuan 60 Gripen-E memang akan melebihi 100 Gripen-C,
      ...akan tetapi...

      Faktor lain yg harus diperhatikan Swedia, adalah kemungkinan ancaman dari Ruski, yg sudah bikin onar di Ukrania Timur.
      Anggaran pertahanan Swedia dengan demikian, sudah direncanakan akan naik.

      Tidak tertutup kemungkinan, kemudian Swedia bisa menahan 2 Skuadron Gripen-C (32 pesawat), untuk beroperasi bersama ke-60 Gripen-E, dan melepas 60 pesawat ke stock pool untuk sewaan.
      Efek positif keputusan jni bagi pengguna C/D, yg tidak berencana upgrade ke E -- paket upgrade-nya akan lebih terjamin.

      ========
      Menyewa Gripen-C/D, mungkinkah?
      ========

      Ini skenario yg sy bayangkan:

      ## Kalau pemerintah teken kontrak untuk 32 Gripen-E, pesawatnya belum akan mulai siap sampai 2025; selesai delivery mungkin 2030.
      Ada baiknya 12 pesawat bisa dirakit CKD di Pt DI.

      ## Untuk menghemat anggaran, semua Sukhoi Sku-11 akan dipensiunkan, dan karena itu Sku-11 akan membutuhkan pespur baru.

      Disinilah klausal untuk menyewa 16 Gripen-C/D ex-Swedia selama 10 tahun bisa masuk, menjadikan Sku-11 yg pertama mengoperasikan Gripen.

      ## Mempensiunkan Sukhoi juga akan membuat Washington senang. kita mungkin bisa meminta F-16 di-upgrade, paling tidak agar bisa diperlengkapi JHMCS (Helmet-Mountd-Display), dan Link-16.

      ## Karena ruangan fiskal sekarang menjadi lebih luas, kita jadi mempunyai opsi baru, untuk mengumpulkan semua BAe Hawk 209 yg masih operasional (hanya tersisa 20 unit skrg) ke hanya ke satu skuadron -- lebih baik di Sku-12.

      Kemudian di tahun 2020, kita bisa menyewa 16 Gripen-C/D tambahan lagi untuk mengisi Sku-01 di Pontianak, agar mempunyai kemampuan untuk mengawasi Natuna.

      ## Gripen-E kemudian akan dapat mulai mengganti Hawk di Sku-12 di tahun 2025, sedang Skuadron kedua baru akhirnya mengaktifkan kembali Sku-14 belakangan.

      Psst... Mungkin kita bisa meminta clausal lease-to-buy untuk Gripen-C/D.

      :D
      Ini cuma mimpi dahulu.

      Delete
    2. Lease-to-buy, tapi di upgrade dulu ya bung. Hihihi
      Melihat komentar² di forum sebelah soal jarak jangkau Dan playload Adalah mereka tau soal harga terbang per NM bahwa gripen yg termurah .

      Yg paling enak Dari F16 Dan gripen adalah soal USIA yg bisa diperbaharui / ditambah . Bahkan Ada yg mengatakn air frame F16 bisa sampe 100 th.

      Andai sekenario yg diatas benar terjadi adalah : kita mempunyai 32 gripen C/D + 32 gripen E ( 64 pesawat ) Dan kita kehilangan hawk, sukhoi. Tersisa 33 F16 Dan 64 gripen c/d/e = 97 pesawat tempur - version Latih. Kira2 bisa sampai th 2030-2050an mereka bisa terbang.




      Delete
  7. Dengan pembelian Gripen E,berarti F-16Block25ID harus pensiun gitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua F-16 setelah masuk program MLU, masih akan bisa operasional 25 tahun lagi, sampai minimum tahun 2040.
      Dari semua tipe TNI-AU,
      Block-25+ yang "bekas", sebenarnya pesawat yang paling baru, dan paling tahan lama.

      Yang akan membutuhkan pengganti di tahun 2020-an adalah:

      ## BAe Hawk-209 di Sku-01, dan Sku-12 -- attritional loss, dan kabarnya beberapa unit dijual balik ke BAe, berarti jumlahnya sekarang hanya tersisa 15 unit.

      ## Sukhoi-Kommercheskiy di Sku-11.
      Secara tehnis, semua Sukhoi sudah harus pensiun sebelum berumur 20 tahun, dan tidak seperti F-16, umurnya tidak akan bisa diperpanjang.
      Sekarang saja, sebagian besar Sukhoi Sku-11 seperti sudah masuk golongan "lansia".

      Jumlah yg operasional sudah semakin menciut,
      yang siap terbang bisa diprediksi hanya tinggal 4 - 6 unit.

      Kita tahu 2 unit masih mudik di Ruski, sudah genap setahun penuh: TS-2701 & TS-2702
      2 unit berikutnya, TS-3001 & TS-3002 sudah tidak pernah terlihat terbang sejak 2008.

      TS-2703, TS-2704, dan TS-2705 (Su-27SKM) sepertinya juga sudah setahun lebih tidak muncul.

      Hanya 4 - 6 unit Su-30MK2 yg kemaren masih hadir di latihan Angkasa Yudha 2016:
      TS-3006 (baru pulang mudik 10 bulan), TS-3008, TS-3009, dan TS-3011 yg fotonya terlihat.



      Delete

  8. seharusnya masalah sukhoi ini yg patut dibahas pemerintah, bukan F5E tiger.

    Tapi Qatar memborong 72 buah F15E sebagai alternatif agar tidak kemakan iklan F35

    ReplyDelete
    Replies
    1. # Re Qatar:
      ===========
      Negara2 Timur Tengah sebenarnya masih belum diperbolehkan untuk membeli F-35. Export policy US.

      Rencana 72 F-15E ini sendiri sebenarnya cukup mengherankan, krn dengan populasi hanya 2,2 juta orang, meragukan kalau Qatar bahkan bisa mendapat cukup banyak pilot.

      ## Untuk Sukhoi Kommercheskiy di Sku-11;
      =================
      Kelihatannya pemerintah sudah tahu; biaya operasional yg begitu mahal, atau lebih tepatnya, lebih mahal vs F-15SG Singapore, ataupun F-18F Australia, tentu saja sudah menarik perhatian.

      Tinggal masalah waktu sebelum operasional Sukhoi akan di-audit.

      Pertanyaan paling mudah untuk ditanyakan ke para pendukung Sukhoi:
      Sebenarnya berapa jumlah Sukhoi yang sekarang masih operasional?

      Delete
  9. India juga sebenarnya sudah lama ingin mencari pengganti Mig 21, awalnya mereka ingin mirage 2000, tapi rusia menawarkan Su 35 dan Mig 35, tapi india bersikeras ingin pesawat mirage 2000, tapi prancis menarik tawaran mirage 2000 dan menggantinya dengan rafale. jadi baru 2016 ini india sudah kapok memakai sukhoi karena banyak sekali masalah, dan Akhirnya pembelian 36 buah rafale berhasil disetujui.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja.
      Kontes pengganti MiG-21 hanya akan menjadi ajang pertempuran Gripen-E vs F-16V (lagi).

      ## Versi F-16V yang ditawarkan ke India; F-16IN, tentu saja spesifikasinya akan lebih tinggi daripada yg ditawarkan ke Indonesia; walaupun tentu saja... akan menjadi versi export downgrade.

      Lebih lanjut, Lockheed-Martin menawarkan lini produksi F-16 yg baru akan dibuka di India, dan pemerintah US kemungkinan akan menawarkan paket offset yg sangat besar, akan tetapi....

      Source Code sudah pasti akan tetap dikunci (US tidak pernah share source code), dan Transfer-of-Technology yang dijanjikan tentu saja tidak mungkin bisa 100%.

      Masalah lain untuk F-16V: Pakistan sudah lama memakai F-16.
      Memakai tipe pespur yg sama, dengan "lawan" mereka, tidak akan menjadi ide yg bagus untuk India:

      Kalau terjadi konflik, emungkinan menembak jatuh kawan sendiri akan menjadi besar, walaupun F-16IN akan membawa IFF system.

      ## Gripen-E tentu saja tidak akan mempunyai semua masalah yg sama seperti diatas, terutama berkaitan ToT, dan Source Code.
      Mereka juga sudah menawarkan ke India pembuatan GaN transmitter untuk AESA radar pesawat tempur.

      Yang menjadi masalah, Swedia tidak akan dapat memberikan paket offset semurah hati Washington DC.

      Kita lihat saja bagaimana kelanjutan kompetisi pengganti MiG-21 India ini.

      Secara strategis, seharusnya Saab yang menang; lagipula Gripen-E jauh lebih unggul dalam segala hal vs F-16V, bahkan yg non versi-export.

      Tetapi kalau menghitung paket offset murah hati, pemerintah US akan dapat mensubsidi Lockheed lebih besar dibanding kemampuan finansial Swedia.

      Tentu saja, mengambil keputusan di India akan selalu molor, dan prosesnya akan berlarut-larut.

      Delete
  10. untuk TNI AD, mereka sedang merencanakan pembelian Saab BAMSE atau Rudal NASAMS. meski di tawari s300/400, buk M3. mereka beranggapan bahwa rudal SAM rusia itu Masih tradisional, Sistemnya SARH, sedangkan bamse dan NASAMS lebih simpel dan sistemnya Fire and forget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. .... sebenarnya ide membeli SAM seharusnya menunggu sampai semua pesawat militer Indonesia dapat membawa military-grade IFF system yg seragam.

      Dengan armada gado2 sekarang sih, hampir mustahil.

      Saab Gripen, RBS-15, Erieye, BAMSE satu paket?
      Akan lebih murah.

      Delete
  11. Maaf bung GI, kalo gambar profil saya itu gambar Anime :D

    Oh ya bung GI, tiap saya kunjungi blog ini, saya screenshot artikel anda lalu saya sebarkan di instagram agar presiden , TNI AU, bahkan kepada semua yg penggemar aviasi tahu tentang kenyataan yg sebenarnya. awalnya fansboy sukhoi sempat marah kepada saya hanya gara gara saya singgung tentang kelemahan Sukhoi downgrade dan Agen perantara Rosoboronexport. tujuan saya dengan menyebarkan Artikel GI ini lewat Instagram untuk meluruskan miskonsepsi, manipulasi publik, dan memperbaiki rheteorisme yg saat ini menyimpang.

    Bagi yg mau memfollow saya, follow akun ini : @ekimasardika

    ReplyDelete
    Replies
    1. :D

      Terima kasih atas bantuannya, bung Eki

      Semua artikel disini bebas untuk disebarluaskan,
      karena tujuannya untuk membuka kesadaran nasional, bukan alasan komersial, ataupun sekadar "mengikuti arus".

      Lagipula semua sumber referensinya juga gratis kok,
      "Barangsiapa mau mencari, dia juga bisa mendapat!"

      :D

      Delete
  12. Hmmm sepertinya masih ada yg kurang.

    Nah. mengingat waktu yg diperlukan untuk upgrade pespur.
    Saat ini 2 buah sukhoi kita yg sedang diupgrade sudah 1 tahun lebih masih gak mau pulang. Kalo F16 hibah, walau barang veteran, lama waktu mengupgradenya hanya 2 atau 3 bulan saja.

    bagaimana dengan waktu yg diperlukan untuk mengupgrade Gripen?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sukhoi sebenarnya tidak bisa di-upgrade.
      Biaya upgrade pespur Ruski sebenarnya hampir sama seperti membeli baru, inilah kenapa kebanyakan negara2 pengguna MiG-21, lebih memilih untuk mengupgrade pesawat mereka dengan bantuan Israel.

      Su-Kommercheskiy Indonesia, sebenarnya menjalani "perbaikan mendalam",
      alias overhaul total, yang siklusnya jauh lebih cepat vs F-16, atau Gripen.

      Mungkin 1,000 jam terbang sudah cukup untuk membuat Sukhoi membutuhkan overhaul; sedangkan F-16, dan Gripen sih akan tenang2 saja sampai jam terbangnya mencapai sekurangnya 3,000 - 4,000 jam.

      Yang lebih menyakitkan, overhaul demikian seharusnya bisa dilakukan di Indonesia, tetapi memang Ruski sengaja, tidak mau mengajarkan the-know-how, agar bisa memaksa Sukhoi dikirim pulang untuk "mudik".

      Biaya maintenance jadi lebih meledak, komisi perantara juga jadi lebih banyak. Ruski untung, kita melarat.

      ============

      Overhaul untuk Gripen, karena kebutuhan maintenance-nya sudah dirancang minimal dari awal, hanya akan membutuhkan beberapa hari maksimum.

      ....dan karena menjunjung kedaulatan, overhaul tidak akan pernah perlu untuk dilakukan di negara asalnya.

      Kita akan membutuhkan bantuan support Saab untuk proses overhaul pertama, walau diharapkan melalui ToT, akhirnya tehnisi kita dapat mengerjakan sendiri.

      Delete
  13. bung GI
    salah satu yg selalu di permasalahkan dari gripen di formil terutama oleh twin engine fanboys adalah jarak jangkau dan payload kalau seandainya kita jadi mengakusisi bagaimana mengakali 2 permasalahan diatas agar gripen bisa optimal mengawal langit indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inilah salah satu alasan, kenapa sy justru lebih merekomendasikan kalau Gripen yang dipertimbangkan untuk dibeli Indonesia, adalah Gripen-E, bukan Gripen-C, yang selama ini ditawarkan Saab.

      Kapasitas bahan bakar 3,400 kg, 40% lebih besar dibanding Gripen-C.

      Jarak jangkau Gripen-E akan selalu mengungguli Su-35K, apalagi dalam situasi konflik.

      Di atas kertas, jarak jangkau Gripen-E, dan Su-35K tidak jauh, bukan?
      4,000 km vs 4,500 km.

      Akan tetapi.....

      ## Tangki bahan bakar Sukhoi juga 4x lipat lebih besar 11,900 kg vs 3,400 kg untuk Gripen-E ---> Biaya operasional Gripen akan lebih murah dibanding konsumsi bahan bakar Sukhoi untuk mencapai jarak yang sama.

      ## Dalam situasi konflik, Su- akan dipaksa untuk lebih banyak memakai afterburner, karena ukurannya lebih besar, dan lebih draggy.

      Jarak jangkaunya akan menciut banyak vs Gripen-E, yang sebaliknya tidak pernah menghadapi kendala yg sama, dan dapat terbang Supercruise.

      Sukhoi memang contoh pembanding yang sangat jelek, tetapi hal dibawah ini tidak akan bisa berubah:

      Gripen lebih kecil, lebih langsing, less draggy; k
      arena itu kemampuan terbangnya akan akan selalu jauh lebih efesien, dan lebih ekonomis dibanding twin-engine manapun.

      =========
      Payload
      =========
      Ini lebih menggelikan lagi.
      Payload, sebenarnya lebih diperuntukkan serangan udara-ke-darat, bukan air-to-air.

      Sukhoi tidak bisa diperlengkapi dengan targeting pod modern seperti Sniper, atau LITENING.

      .... dan walaupun, Ruski sudah mengetes smart bomb, kelihatannya opsi untuk mempergunakan Smart Munitions ini masih belum tersedia untuk Sukhoi.

      Silahkan saja Sukhoi membawa 72 bomb!

      Gripen-C, seperti dalam gambar diatas, yg dapat membawa targeting pod, dan 8 GBU-39 Small Diameter Bomb, akan selalu dapat menghantam target dengan jauh lebih akurat.

      ..... sedangkan dalam payload air-to-air....

      Andaikata Sukhoi membawa 10 RVV-AE, juga akan mubazir.
      Seperti sudah dibahas sebelumnya, R-77, dan RVV-AE itu adalah missile yg development-nya tidak pernah selesai

      Inilah kenapa hampir mustahil Su-35K + RVV-AE bahkan bisa menembak jatuh F-16 Block-25+ yang sekarang sudah operasional.
      Sebaliknya, dipersenjatai AMRAAM C7, yang jauh lebih modern, F-16 sebenarnya jauh lebih unggul.

      Gripen-E vs Su-35K hanya akan menjadi masalah, berapa banyak Su-35 yang tertembak jatuh..

      Delete
  14. Untuk MEF-2: Teken pembelian 2 skuadron Gripen E/F, 2 pesawat AEWC Erieye, BAMSE + ToT RBS-23, national network link dan ToT RBS-15 Mk.3 juga kalau bisa sewa 2 skuadron Gripen C/D untuk 10 tahun. Pas Gripen E/F tersedia dan pas MEF-3, entah kita akuisisi Gripen C/D yang kita sewa sebelumnya atau kita beli lagi 2 skuadron E/F + 2 pesawat AEWC, juga sangat penting upgrade F-16 kita serta beli misil lagi yang banyak. Skenario-nya bakal bagus banget ni, bneran kita minimal jadi macan asia tenggara. Ini agak melenceng dari artikel, tapi saya baca di JKTGRTR, kalau Indonesia harus iri sama Vietnam lantaran Vietnam pake Kilo-636, ngapain kita harus iri, aneh orang tu. Vietnam bagaimana juga ga dapet ToT dri Russia lha jelas tu kapal selam di bikin di Russia diangkut pake kapal Belanda ke Vietnam sedangkan Indonesia kan dapet ToT Changbogo / U-209/1400 dan kedepannya bakal dibuat di Surabaya. Orang-orang tu pikirannya kayak apa sih, negaranya Indonesia atau Russia. Sama apa mungkin daripada kita beli " real " atau heavy frigate. Kita buat sendiri frigate kita brdasarkan Sigma 10514 tapi kita perbesar ukuran dan pakai radar Naval Giraffe biar jadi command & control frigate, RBS-15 Mk.3 SSM, terus RBS-23 di modifikasi jadi SAM nya kapal, kalau enggak bisa ya mungkin MBDA MICA, Umkhonto atau Aster series, sama untuk ASW nya mungkin msih Eurotorp dan pakai heli ASW. Tapi kan kalau kita coba-coba sendiri sama SAAB untuk penggunaan RBS-23 buat AL, rasanya lebih gimana gitu. Terima Kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, begitulah bung Thomas,

      Masih sangat sulit mengubah mentalitas para fanboy yg masih gandrung ke barang2 Kommercheskiy dari Ruski.

      Tempo hari, baru komentar ke defense-studies, bbrp masih tidak percaya kalau Ruski hanya menjual barang downgrade, padahal ini adalah FAKTA.

      Google Search: "Russian Monkey Model".

      =============
      ## Untuk MEF
      =============
      Seperti sudah dibahas:

      Tahap 2A --- mengganti Sukhoi penghisap anggaran, dan BAe Hawk-209 dengan 32 Gripen-E, dan 2 Erieye --- biayanya akan jauh lebih murah, dan kemampuannya ribuan kali lipat lebih unggul.

      ---> Sekurangnya 16 Gripen-C/D sewaan bisa menyusup masuk untuk cepat mempensiunkan Sukhoi, dan menghemat anggaran.

      Tahap 2B --- adalah memulai kerjasama lebih mendalam dengan Saab.
      Yang lebih penting disini adalah National Network.
      Mulai menelusuri akusisi macam2 mainan, seperti Bamse, atau Sea Giraffe radar.

      Tahap 3 --- ini akan dibahas lebih mendalam lain waktu;
      ## Kita harus mulai mengirim Gripen-E untuk bergabung tidak hanya dalam latihan2 sesama pengguna Gripen, tetapi juga dalam latihan prestigious di Red Flag.

      Pilot kita akan mendapatkan pengalaman ferry flight terbang jauh dari Indonesia ke Alaska, atau Nevada; dan kemudian kesempatan untuk mengetes kemampuan tempur, prosedural, sistem training, dan kemampuan bekerjasama dengan negara-negara lain.

      Inilah yang namanya menciptakan efek gentar, bukan seperti sekarang, main asal beli Alutsista gado2.

      Kalau pilot, staff & crew kontinen kita dapat membuktikan level profesionalisme mereka dalam latihan mancanegara, mau tidak mau akan mengundang rasa hormat dari negara2 lain.

      Mereka jadi tahu kalau kita serius membangun kemampuan strategis yang bersaing.

      Tentu saja, ini akan mustahil untuk bisa dicapai tanpa Gripen; mengingat F-16 kita juga versi export kelas-3.

      ## Tahap 3B --- mulai mengakuisisi MBDA Meteor, dan berbagai jenis missile buatan negara lain, selain US; untuk meningkatkan diversifikasi supplier dalam bidang persenjataan.

      MEF #1: seperti dibahas sebelumnya, biar bagaimana harus berkonsentrasi membeli dari Washington DC.

      Dengan Gripen sudah ditangan, saatnya melirik supplier2 lain, sekaligus memberi signal kalau kita tidak bisa lagi didikte negara lain, dalam hal kemampuan.

      Delete
  15. TNI AD memerlukan Helikopter angkut Berat untuk misi kemanusiaan. Ada 2 pilihan, Ada Mi 26 halo dan CH 47 Chinook, menurut Bung GI, diantara 2 heli tsb, kira kira heli mana yg lebih sesuai kebutuhan negara kita???

    ReplyDelete
    Replies
    1. .... lebih baik kembali ke pilihan2 dari Eurocopter, yang sudah menjalin hubungan kerjasama dengan PT DI.

      Baik Mi-26, dan CH-47; masalahnya, lagi-lagi versi export Ruski, dan US, dan kedua pembuat tidak akan menawarkan pemenuhan UU no.16/2012.

      Kenyataannya memang mematuhi UU no.16/2012 itu cukup sulit, walaupun beberapa persyaratan pasal 43 sebenarnya masih kurang solid.
      Dan, yang sangat menyebalkan, ada kebiasaan akuisisi untuk melanggar persyaratan UU ini.

      Kembali ke Eurocopter (link Website resmi)

      Untuk helikopter berat, pilihan paling besar sekarang adalah H225M, atau EC725 --- upgraded variant dari Super Puma, dengan glass cockpit baru, dan menambah kapasitas cargo ke 5,6 ton.

      Memang diatas kertas, kembali Chinook lebih unggul,
      dengan kapasitas cargo 11 ton.
      Tetapi jarak jangkau EC725 lebih unggul sekitar 100 km.

      Tetapi IMHO, harus ada kompromi disini.
      EC725 / H225M tinggal masalah waktu bisa diproduksi lokal; 30 - 40% dari harga pembelian, akan dikembalikan ke industri pertahanan lokal.

      Ini lebih penting dibanding terus "menginginkan" barang2 versi export.

      Mi-26.... mengingat seperti Sukhoi, dan Mi-35P hanya akan tercantol "komisi perantara Rosoboron", yg biasanya disertai santunan untuk pejabat, dan kebutuhan "perbaikan mendalam" seharusnya tidak pernah dipertimbangkan.

      Delete
  16. Saya barusan baca tentang teknologi pertahanan ceko, itu SAAB serius bener tentang ToT dan kerja sama dengan industri lokal ceko, buktinya ceko bisa produksi sendiri radar ReVISOR yang pasangannya itu sistem SHORAD RBS-70. Ini berarti tinggal Swedia atau China yang serius bisa memberikan ToT, tapi China tuh gak bisa dipercaya lah teknologinya. Ini tinggal komitmen pemerintah aja. Sama udahlah lupakan segala macam itu dari Sukhoi, Kilo, Gepard atau S-300. Kita ni gak boleh konyol dan coba lah sekali sekali diliat itu Singapura atau Australia, pespur nya itu merekanya gak gado-gado kayak kita, lebih simple, tertata dan optimal. Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. * pespurnya itu mereka. Maaf salah ketik

      Delete
    2. Bung Thomas,

      PRC juga hanya menjual "versi export", dan lebih parah lagi, karena kualitasnya terjamin lebih jelek dari buatan Russia, yang sendirinya sudah jauh lebih inferior daripada hasil industri Pertahanan Barat.

      Ini dikarenakan sistem PRC menerapkan "pencurian tehnologi"; mereka tentu tidak mau berbagi hasil curian keluar. Rahasia negara.

      ============
      Pengertian "Efek Gentar"
      ============

      Arti kata ini sendiri sering mendapat pengertian yg sangat awam:

      "alutsista mana yg kelihatan gahar?"

      Atau

      "Kenapa kita harus takut dengan Alutsista tsb?"

      Tidak hanya di Indonesia, bahkan terlalu banyak berita militer Barat menempelkan asosiasi yg serupa dengan pengertian kata ini.

      Website Ausairpower Australia adalah salah satu pelanggan utama, tetapi bukan satu2nya yg menafsirkan "efek gentar", dalam definisi simplistik tersebut,

      Inilah yg menjelaskan kenapa banyak yg ngidam Kilo, S-300, dan Sukhoi.

      Sayangnya, pengertian ini salah total.

      Pengertian efek gentar yg sebenarnya adalah Sistem Pertahanan yg baik.

      ## Seluruh organisasi militer, mulai dari negara, pimpinan, tentara, awak kapal, pilot, dan support crew, harus mempunyai pemahaman matang, kalau mereka dapat beroperasi dalam satu sistem modern, yg coherrent. Dan karena itu....

      ## Setiap Alutsista yang dioperasikan HARUS DAPAT compatible untuk beroperasi dalam satu sistem yang sama.

      Tidak bisa mencampur adukkan Alutsista Barat - Timur, seperti India, Malaysia, dan Indonesia, hasilnya tidak akan pernah bisa optimal, karena masing2nya sudah dibuat menurut dua sistem yg berbeda.

      ## Terakhir, Training, infrastruktur pendukung, dan perlengkapan juga harus dioptimalkan untuk menopang sistem tersebut.

      Setiap personil harus dapat melatih kemampuannya semaksimal mungkin dalam menjadi bagian dari sistem bersama diatas. Infrastruktur, mulai dari pangkalan, radar, AEW&C, pesawat tanker, supply truck, semuanya juga harus dioptimalkan untuk menjadi bagian dalam satu sistem.

      ==========
      Inilah yang menjelaskan kenapa AU Brazil masih adem ayem memakai F-5E, walaupun Venezuela sudah membeli Su-30MK2, sedang Chile membeli F-16 Block-52+.

      Brazil mengoperasikan sistem pertahanan berbasiskan SICVAM: fully networked.

      F-5E diperlengkapi dengan Helmet Mounted Display / deadly Python / Piranha WVR missiles, dan lebih penting lagi, kemampuan bertempur bekerjasama, dan gambaran situational awareness yg jauh lebih unggul dibanding semua negara tetangganya.

      Radar di darat juga sudah terintegrasi dengan IAI Hermes UAV, R-99A/B AEW&C dngan Erieye radar, untuk mendukung situational awareness yg dibutuhkan.

      Su-30MK2 Venezuela, atau F-16 Chile tidak akan pernah punya banyak harapan, kalau mencoba mengetes AU Brazil --- karena F-5E mereka beroperasi dalam satu sistem.

      Tentu saja, dengan mereka sudah memilih Gripen-E/F sekarang, perbedaan kemampuan antara Brazil, dan negara2 tetangganya hanya akan terpisah terlalu jauh.

      Inilah yang juga harus dikejar Indonesia,
      ... bukan berfantasi mencampur adukkan Su-35, dan IF-X, tetapi tidak pernah meluangkan waktu berpikir sistemnya bagaimana....

      Kalaupun kita mengoperasikan 100 Su-35K, dan 100 IF-X sekalipun, tetap saja tidak akan berdaya menghadapi RSAF Singapore, atau RAAF Australia.

      Mereka mempunyai sistem modern, dan mereka sudah berlatih bertahun2.
      Kita belum.
      Mau mengoperasikan F-22-pun hasilnya hanya akan mubazir.

      ## Kembali ke artikel -- imilah kenapa kita membutukan Gripen-Erieye-kerjasama dngn Saab.

      Kita akan mendapat dasar yg baik untuk membangun sistem modern,

      Bukan asal beli alutsista --- ini mah, hanya menghamburkan uang negara untuk membangun istana di atas pasir.


      Delete
  17. bung sekali kali bahas typoon dong mengingat selain gripen,pabrikan typoon juga bersedia memnuhi uu no.16/2012

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siip,
      mungkin tahun depan :)

      Sebenarnya seperti sy sudah pernah sebut:

      Eurofighter Typhoon, tidak hanya akan menawarkan ToT, dan produksi lokal,
      Tetapi juga akan lebih murah dibanding IF-X, atau Su-35,
      walaupun lucunya Typhoon sering dibilang terlalu mahal.

      Dari segi kemampuan, sbnrnya Typhoon sedikit lebih unggul vs Gripen,
      tetapi biaya op-nya akan 4x lipat, kebutuhan maintnance nya lebih berat, dan kesiapan terbangnya tidak akan bisa sesering Gripen.

      Delete
    2. makanya saya sering bingung mereka2 yg ngotot pengganti f-5 musti twin engine su-35,kalaupun harus twin engine mnding milih typhoon daripada shukoi

      Delete
    3. Perbedaan utama Typhoon vs Sukhoi:

      Harga dari Eurofighter lebih transparan. Mereka tidak pernah menyatakan kalau Typhoon barang murah.

      Sedangkan membeli Sukhoi, sebenarnya seperti memasang uang dalam meja taruhan.

      Mau masang berapapun, bandar yang akan selalu menang:

      ## Customer service sudah pasti jelek; seperti di India, Rosoboron dikenal sering nilep duit, ingkar janji, atau dua2nya.
      Lihat saja contoh TS-2701 & 2702!

      ## Build quality akan "mengesankan"... Sukhoi bisa rusak sewaktu2, dan akan selalu harus di-service lebih awal dari jadwal.

      ## Perbaikan mendalam (program Mudik), dan Komisi perantara sih sudah pasti.

      ## Kita hanya akan mendapat versi Kommercheskiy -- mereka tidak akan bilang apa saja yg sudah dikurangi.

      ## .... dan dengan juga dipersenjatai missile versi export (yang tidak teruji), F-16 Block-50/52 akan selalu dapat menghabisi Sukhoi dengan mudah.

      Berapapun harga yg disebut Rosoboron, atau pejabat manapun, sudah pasti angka sebenarnya akan jauh lebih mahal.

      Sedangkan IF-X, prediksi angkanya telalu mendekati mimpi dibanding kenyataan.

      $65 juta?

      ## Tidak ada pespur twin-engine modern yg harganya semurah itu. Apalagi mengingat pesawatnya sendiri masih pesawat kertas. Production tooling-nya saja tidak ada.

      ## Dan mengingat jumlah produksi sementara hanya 250 unit,
      dan pesawat ini tidak akan bisa di-export,
      Kita akan melihat angka $250 juta untuk batch pertama, sebelum turun ke $170 juta dalam batch akhir.

      Kenapa Gripen, atau F-16?
      Karena harganya pas untuk di kantong.

      Kenapa Gripen?
      ... Yah, kalau tidak mau terus2an menderita pespur versi export, dan mulai melaju ke arah kemandirian.
      MS-21 Gripen-E kemampuannya akan jauh lebih unggul.

      Delete
    4. kalau menurut saya produksi lokal pesspur masih jauh untuk setidaknya 5-10 thn kedepan masalahnya fasilitas PT.DI sangat-sangat tidak memungkinkan.
      Kalaupun Pt.DI ngotot penegn produksi lokal pespur baik itu gripen typhoon maupun ifx tentu harus investasi belasan triliyunan maslahnya sapa yg mau membiayai investasi tsb ?
      kalau pemerintah yg suruh nanggung rasanya sangsi deh melihat kondisi APBN sekarang

      Delete
    5. Begitulah.

      Kalau mau belajar memproduksi pespur, lebih baik mengambil opsi Saab, atau Eurofighter. Toolingnya sudah siap, krn produknya sudah mature.

      Itu juga akan lebih ekonomis kalau hanya merakit dari CKD, dibanding belajar utk bisa memproduksi dari nol, seperti kontrak Brazil, dan Saab.

      Sedangkan,
      IF-X --- never makes any sense.

      Walaupun sekilas idenya terdengar membuai indah "memproduksi pespur sendiri", akan tetapi...

      Jaman skrg memproduksi senjata itu tidaklah seperti dahulu kala menempa kujang, atau keris.

      Kita belum pernah mempunyai:

      ## Tehnologi sendiri, atau bisa mendapat sumber tehnologi yg bisa dipercaya.

      ## Expertise: Pengalaman & Kemampuan utk paling tidak pernah license production pespur lain.

      ## Global supply chain management, untuk reliable supplier yg dapat memproduksi komponen apa yg kita tidak akan bisa buat sendiri.

      ## Uang, dan fasilitas produksi yg memadai.

      Membuat pespur dari nol tidaklah murah; butuh komitmen kuat, dan modal puluhan milyar $$. Itu juga kalau semua persyaratan sebelumnya terpenuhi.
      Fasilitas produksi, mulai dari R&D,tooling dsb juga sudah harus disiapkan lebih dahulu, SEBELUM proyek mulai.

      Mimpi indah.
      Kenyataan jauh lebih pahit.

      Delete
    6. @DR

      Kompas kemarin memberitakan, sriwijaya air membeli 12 ATR-72 shg jika digabung dg armada ATR milik Lion air dan Garuda menjadikan Indonesia adalah operator terbesar pesawat kelas komuter ini.

      Sementara PT. DI tidak bisa berbuat banyak karena tidak punya dagangan dikelas ini yang kompetitif dg ATR (cn-235&NC-295 memiliki ramp door yang membuatnya mjd kalah efisien dibanding ATR jika dipakai untuk penerbangan komersial). Alih-alih mengembangkan CN-245 tanpa ramp door...dengan keterbatasan SDM, finansial dan fasilitas kerja, saat ini konsentrasinya terpecah untuk mengembangkan IFX.

      Yang ditakutkan...ketika kita berkonsentrasi penuh dg IFX, tiba-tiba ada perusahaan korea yang lain mengembangkan pesawat komersial, lalu PT. DI mau jadi apa?

      Delete
    7. Dahulu kala, pak BJ Habibie sbnrnya berhasil mendapat tambang emas ToT, yg disertai kerjasama industrial dengan CASA, ketika berhasil mendesain / memproduksi CN-235 bersama2.

      Inilah contoh mengejar target secara realistis, mengingat keterbatasan industrial Indonesia di kala itu.

      CN-235 boleh dibilang adalah model proyek yg jauh lebih sukses dibanding T-50 Korea.... yg sebenarnya tetap saja hanya 100% proprietary-nya tetap dikuasai & didikte oleh Lockheed-Martin.

      ...hanya saja, nilai prestige T-50 lebih tinggi. IMHO, hanya kesombongan semu.

      Untuk CN-235; baik Casa, maupun IPTN kemudian mempunyai kebebasan utk membuat model lain berbasiskan CN-235.

      Korea "merasa" bangga dgn T-50, tapi krn proyeknya memang bukan proyek kerjasama sama rata spt Casa-IPTN, mereka sbnrnya tidak bisa menikmati keleluasaan yg sama.

      Casa kemudian mengembangkan C-295, sedangkan IPTN akan beralih ke sektor penumpang dengan N-250.

      Sayang, krismon 1998 membubarkan kebanyakan rencana pak Habibie untuk pengembangan ini lebih lanjut.

      Bung hari, anda benar dalam hal ini.

      Sekarang PT DI sudah mulai berkonsentrasi kembali untuk mengembangkan N-219, dan N-245, bukan saatnya untuk mengalihkan perhatian ke IF-X.

      Seperti diatas, not worth it.
      Lebih baik PT DI berkonsentrasi ke Core competency-nya dahulu, dibanding meluangkan waktu melayani proyek mercusuar Korea.

      Delete
  18. SAAB juga akan mengembangkan Gripen versi kapal induk buat India sama brazil

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, Sea Gripen.

      Keunggulan Gripen adalah dapat mendarat dengan kecepatan rendah (STOL), suatu keperluan utama untuk dioperasikan dari kapal induk.

      Tetapi kita lihat saja... Sebenarnya kapal induk Brazil, Sao Paolo, adalah ex-Perancis, Foch, yg sudah dipensiunkan. Kapal ini sendiri sangat bermasalah.

      Kapal induk India, tidak kalah parahnya.
      INS Viraat adalah ex- HMS Hermes, yg pernah bertempur di Falkland (1982); sudah uzur, dan harus dipensiunkan, sedangkan...
      INS Vikramadiya adalah ex-Admiral Gorskov Ruski, yg juga dikenal unreliable; sangat gampang rusak.
      Lebih parah lagi, kapal induk India (dan PRC juga) juga tidak membawa catapult, melainkan ramp deck;
      artinya semua pespur tidak akan dapat mengudara dengan full load, dan jarak jangkaunya akan sangat terbatas.

      IMHO, sebenarnya masa mengoperasikan kapal induk boleh dibilang sudah usai.
      Terlalu mahal, dan terlalu merepotkan; economic value-nya sudah tidak ada lagi.

      Delete
  19. Pemerintah Swedia Perintahkan Kota dan Desa Antisipasi Invasi Rusia http://kom.ps/AFvqsL

    Menurut mimin akankah Rusia benar-benar akan menginvasi Swedia?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Secara realistis, Ruski sebenarnya tidak lagi mempunyai kemampuan baik finansial, ataupun militer utk membuka front baru.

      Tetapi mengingat bagaimana asertifnya sepak terjang Ruski akhir2 ini, mulai dari mencaplok Crimea, dan bikin onar di Ukrania Timur; semua negara Eropa tidak bisa mengambil resiko kalau kemungkinan invasi ini tidak akan terjadi.

      Masalahnya, Swedia, seperti banyak negara Eropa lain sudah memotong terlalu banyak proporsi anggaran pertahanan mereka sejak berakhirnya masa perang dingin.

      Di awal 1990-an saja, Swedia masih mengoperasikan 440 pesawat tempur (Draken & Viggen), dewasa ini hanya 96 Gripen-C/D, dan mau dipangkas lagi ke hanya 60 Gripen-E.

      Dahulu, mereka juga mempunyai sistem pertahanan kuat di pulau Gotland, untuk menghalau kemungkinan invasi Ruski lewat laut Baltic, tetapi dalam 10 tahun terakhir, juga pertahanan di Gotland juga sudah dipreteli.

      Inilah kenapa di tahun 2013, Swedia sebenarnya sempat kecolongan ketika Tu-22M3 AU Ruski melakukan simulasi serangan ke Stockholm. Lebih memalukan lagi, mereka gagal mengudarakan Gripen untuk mencegat, malah harus mengandalkan F-16 Denmark, yang lebih siap.

      Pemerintah Swedia skrg sedang dalam tahap membangkitkan kembali "sistem pertahanan rakyat semesta" seperti dahulu kala.

      Memulihkan kembali "efek gentar" pertahanan Swedia tidaklah mudah, krn akan perlu balancing act di tengah ruangan fiskal yg sekarang lebih terbatas.

      Anggaran pertahanan Swedia akan kembali bertambah, tapi akan sulit mencapai level dahulu kala.

      Sistem pertahanan mereka kenyataannya sudah menjadi mengendur, akan membutuhkan investasi, dan upaya keras untuk dapat memulihkan kembali kesiapan tempur, dan kewaspadaan seperti dahulu kala.

      Delete
  20. Pendapat mimin tentang Hercules yg jatuh di Wamena?

    ReplyDelete
    Replies
    1. A-1334 C-130HS ternyata dari 4 pesawat pertama hibah RAAF Australia.

      Penyebab kecelakaan belum diketahui sejauh ini.

      Kita akan melihat kalau para pejabat (dan para fanboys) akan menyalahkan faktor umur, atau karena beli bekas.... atau karena tidak beli buatan Ruski.

      Patut diingat kembali kalau sbnrnya safety record TNI-AU sejak 2010 tidak bisa dibilang cemerlang.

      Banyak pesawat baru; Super Tucano, KT-1, T-50 juga sudah berjatuhan, krn berbagai sebab.

      BAe Hawk-209, sedari dibeli dari tahun 1990-an, 5 pesawat sudah rontok sebelum tahun 2003.

      Dilain pihak, kita bisa melihat safety record yg hampir cemerlang untuk 10 tahun terakhir dari RSAF Singapore, atau RAAF Australia; walaupun misalnya ke-74 Hornet Classic Australia sudah beroperasi 30 tahun+.

      IMHO, kelihatannya TNI-AU masih harus banyak mengejar banyak ketinggalan dalam prosedural, training, safety, dan maintenance.

      Dan, tidak.

      Membeli pesawat pecinta "perbaikan mendalam" bukanlah solusinya.

      Delete
    2. Wah sangat disayangkan, jika kita mengoperasikan pesawat bagus tetapi tdk bisa merawat ya untuk apa

      Delete
    3. @Haykal&DR

      Numpang ya oom...

      Memang benar kita harus menunggu hasil penyelidikan...saat ini hanya bisa berasumsi.

      Meskipun hibah, herky ex aussy ini avionik&sistim navigasinya lebih maju dari semua herky milik AU atau bisa disetarakan dg avionik CN-235/NC-295..lengkap dg sucad dan simulatornya. Jadi bisa dikatakan, walo bekas tapi pembelian ini yang paling lengkap dibanding pembelian alutsista baru yang dilengkapi secara bertahap...depohar di aussy juga telah melakukan perbaikan dan penggantian pada box wing yang ditemukan mengalami keretakan.

      Kalo membayangkan kondisi di papua, cuacanya dikenal sangat dinamis...bisa berubah sangat cepat atau terjadi perbedaan cuaca yang mencolok pd ketinggian yang berbeda (disebut pesawat dan bandara telah tjd visual contact, tapi apakah pada ketinggian yang lebih rendah yaitu pd final approach ke tahap sekuel pendaratan cuacanya juga cerah?)

      Dipegunungan papua juga masih sering terjadi penembakan oleh OTK thd pesawat2 yang beroperasi disana, terutama pesawat militer/polri. Proses take-off landing adalah situasi yang paling kritis dlm penerbangan, shg jika terjadi gangguan eksternal spt cross wind atau tembakan pd pesawat bisa berakibat fatal.

      Tapi ada satu hal yang mengingatkan saya dg kedatangan herky hibah ini. Ketika sdh diterimakan di ska.32 ditemukan bahwa sistim EFIS pd avioniknya tidak cocok dg iklim tropis (aussy beriklim sub tropis dg kelembaban rendah), shg disini EFISnya sering mengalami pengkabutan/pengembunan yang berlebihan (atau mungkin juga bisa terjadi korsleting). Hal ini akhirnya bisa diatasi oleh depohar dg memodifikasi EFIS tsb dg mempertebal casing display utk menghambat udara lembab yang masuk ke display dan menambahkan extra fan. Tapi patut dipertanyakan apakah usaha ini memenuhi standar pabrik dan berapa lama durabilitinya?

      Plus-minus alutsista hibah adalah kita bisa memiliki dalam jumlah banyak dan cepat dg biaya terjangkau...tapi kita sering harus pasrah menerima spesifikasi yang tidak sesuai dg kebutuhan/kondisi lingkungan kita

      Delete
    4. Satu hal lagi berkaitan dg kondisi ekstrim diwilayah Indonesia timur...diera menhub Pak Jonan telah mewajibkan utk melengkapi bandara2 di WIT dg peralatan bantu navigasi yang memadai demi keselamatan penerbangan. Beberap bandara dipapua saat ini telah dilengkapi dg stasiun ADS-B, tapi apakah bandara tujuan juga sudah memiliki peralatan tsb?

      Delete
    5. Pufhhh...setelah melihat foto2 reruntuhan pesawat, tampaknya herky yang naas ini terhempas ketanah akibat mengalami tail wind. Terlihat dari sebagian besar reruntuhan badan pesawat yang telah hancur tersebar pd permukaan yang datar, sementara potongan bagian ekor meorosot ke lereng bukit.

      Persis dg musibah jatuhnya cn-235 merpati didaerah pinggiran bandung, cassa-212 yang terhempas di pegunungan bohorok dan DHC-5 NG milik pemda papua yang juga terhempas bulan yang lalu.

      Delete
    6. Bung hari,

      Anda memberi banyak masukan yg bagus:

      ==========
      Kalo membayangkan kondisi di papua, cuacanya dikenal sangat dinamis...bisa berubah sangat cepat atau terjadi perbedaan cuaca yang mencolok pd ketinggian yang berbeda (disebut pesawat dan bandara telah tjd visual contact, tapi apakah pada ketinggian yang lebih rendah yaitu pd final approach ke tahap sekuel pendaratan cuacanya juga cerah?)

      Dipegunungan papua juga masih sering terjadi penembakan oleh OTK thd pesawat2 yang beroperasi disana, terutama pesawat militer/polri. Proses take-off landing adalah situasi yang paling kritis dlm penerbangan, shg jika terjadi gangguan eksternal spt cross wind atau tembakan pd pesawat bisa berakibat fatal.
      ==========

      KALAU memang kecelakaan ini disebabkan oleh faktor cuaca wilayah Papua, ini harus menjadi bahan pelajaran penting untuk di masa depan.

      Tidak hanya pengalaman huebat, tetapi setiap pengalaman buruk kehilangan pesawat / crew karena kecelakaan, ataupun dari tertembak jatuh lawan, harus selalu menjadi bahan pembentuk Angkatan Udara yang kuat.

      Setiap AU bisa memilih untuk bisa bertumbuh dari semua pengalaman ini, atau tidak.

      Inilah yang akan membedakan AU yang sudah matang, atau yang masih mau jadi "anak bawang".

      IMHO, sudah saatnya TNI-AU kita melakukan introspeksi diri, tidak hanya dari kecelakaan ini saja, tetapi semua kecelakaan terakhir 10 tahun terakhir, dan kemudian duduk belajar untuk meningkatkan Safety Record ke tingkat yang lebih tinggi.

      Masakan setiap tahun ada lebih dari 2 kecelakaan?

      Inilah salah satu alasan lain, kenapa kita tidak boleh terus terobsesi buru-buru menambah jumlah pesawat.... Ini sama saja dengan membuang garam ke laut.

      ==========
      Plus-minus alutsista hibah adalah kita bisa memiliki dalam jumlah banyak dan cepat dg biaya terjangkau...tapi kita sering harus pasrah menerima spesifikasi yang tidak sesuai dg kebutuhan/kondisi lingkungan kita
      ==========

      Ini sebenarnya tidak hanya berlaku ke Alutsista hibah, tetapi juga pesawat beli baru, kalau kita tidak bisa meminta spesifikasinya disesuaikan ke apa yang dibutuhkan di Indonesia.

      Pelanggar utama dalam masalah ini, yah, terutama di barang2 versi export, yang spesifikasinya sudah dikunci oleh pembuat, dan tidak bisa dikutak-katik.

      ## Sukhoi sudah dikenal tidak compatible dengan sistem komunikasi di Indonesia. Mengingat pesawat ini juga kerepotan mengejar baling2 bambu sampai Manado, kelihatannya sistem navigasi-nya juga tidak compatible.

      ## F-16 (semua versi), dan kelak, IF-X, hanya bisa mengisi bahan bakar di udara lewat sistem flying boom; menjadikan kedua jenis ini akan sangat rentan kehabisan bahan bakar dalam konflik, krn hanya bisa membawa drop tank.

      Delete
    7. Di Indonesia safety record penerbangan komersial lebih bagus daripada safety record penerbangan militer. Adakah faktor-faktor yang menyebabkan hal itu?

      Delete
    8. rata2 yg komen sama solusinya harus beli yg baru hentikan pemebelian hibah padahal untuk pesawat angkut macam hercules barang baru atau bekas g masalah yg penting perawatanya betul dan suku cadang tersedia.
      rata2 pespur dan pesawat angkut militer dipensiunkan bukan karena tua tapi karena sudah tidak tersedianya suku cadang

      Delete
    9. Begitulah, bung irman,

      Seperti biasa, komentar semacam itu hanya komen gampang untuk melempar tanggung jawab keluar.

      Kenyataannya safety record AU kita memang sudah sangat jelek, bahkan sejak pertama kali berdiri.

      Pesawat manapun tidak akan bisa menyelamatkan kita, sampai ada kesadaran untuk mawas diri, dan memperbaiki apa yang salah di prosedur, training, dan maintenance kita.

      Delete
  21. Bung GI, Pesawat bekas Atau Baru itu Sama Saja, Yg menentukan laik terbangnya pesawat itu adalah.
    1. Pemeliharaan Yang baik.
    2. maintenance yg teliti dan tidak boleh Asal asalan.

    kecelakaan Pesawat Hercules ini disebabkan karena Pemeliharaan dan Maintenancenya yg dilakukan TNI AU Sendiri yg sering Asal Asalan dan terkadang sering terjadi kerusakan mesin dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang benar, bung Eki.

      Semuanya tergantung prosedur pemeliharan & maintenance, dan tentu saja Financing.

      Sy baru menemukan Preview link untuk Google Book berikut:
      Link

      Buku ini (ditulis 2004) melaporkan kalau Serviceability Rate (Kesiapan terbang) TNI-AU sepanjang sejarah memang sangat rendah... hanya 40%, dibandingkan 80% rata-rata AU NATO.... ini bahkan di masa sebelum mengoperasikan Sukhoi, yang kondisi servicability-nya.... akan jauh lebih parah lagi.

      Penulis buku, John Andreas Olsen, mencatat lebih lanjut, kalau dalam keadaan demikian, yah, tak mengherankan jumlah kecelakaan fatal TNI-AU akan selalu tinggi.

      Lebih lanjut, buku ini juga mencatat banyak kekurangan lain yang masih belum tertutup sampai dewasa ini, seperti sudah dicatat dalam blog ini:
      ## Command & Control Station
      ## ISR
      ## Advanced Communications (Networking!!!)
      ## Precision Weapons

      Dengan RENSTRA sekarang, yang terlalu terobsesi ke pesawat tempur, dan tidak ambil pusing hal lain, sampai 20 tahun lagi sekalipun, yah, TNI-AU akan begitu2 saja.

      Anak bawang.

      Delete
    2. Sebetulnya saya sangat bingung,kenapa India beli C-17A Globemaster III sama C-130J Super Hercules buatan AS?

      Delete
    3. Sebenarnya ada beberapa alasan:

      ## India sudah mulai "capek" dengan pelayanan customer service Rosoboronexport, dan reliabilitas SEMUA Alutsista buatan Ruski mereka --- semuanya gampang rusak, dan spare part-nya selalu tidak ada.

      "Sudah cukup!" Inilah isyarat baru ke Ruski, agar mulai memberi pelayanan yg lebih bagus, tetapi sejauh ini kelihatan tidak ada efeknya. Serigala, ya, tetap saja serigala.

      ## Tentu saja, faktor pendukung lain; supplier utama mereka, Ruski, boleh dibilang tidak mempunyai product equivalent dari C-130J, atau C-17A.

      ## Hubungan diplomatis India - US juga sudah semakin membaik sejak titik terendah di tahun 1971.
      Ini dikarenakan keduanya juga harus menghadapi bangkitnya "lawan regional" yang sama, yakni..

      ## "PRC effect", yang sekarang sedang sibuk main klaim territorial di LCS --- faktor terakhir ini tidak hanya sudah mendekatkan India, tetapi juga Vietnam, dan Indonesia; ke Washington DC.

      Delete
  22. harga EuroFighter Typhoon + MBDA Storm Shadow berapa ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eurofighter Typhoon sekitar $100 juta+ ditambah biaya Initial Provision Package kira2 $50 juta / unit.

      MBDA Stormshadow / KEPD Taurus / AGM-158 JASSM harganya semua hampir sama. Kira2 $850,000 / unit.

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
    3. IMHO, dengan anggaran pertahanan hanya $7 milyar,
      kita tidak mempunyai kemampuan finansial cukup untuk mengoperasikan pespur twin-engine.

      Bukan hanya Typhoon, tapi juga IF-X, atau Sukhoi, yg lebih mahal lagi.

      Pilihannnya sederhana:
      Apakah lebih berguna mengoperasikan 16 pesawat twin-engine,

      ATAU

      Lebih baik punya kemampuan mengoperasikan 48 single-engine F-16, atau 60 Gripen?

      Biaya operasionalnya akan sama,

      Delete
  23. Ini diluar artikel, tapi saya baca Indonesia sepertinya tertarik dengan SAAB kooster class, kapal penyapu ranjau dikarenakan ToT yang menarik waktu Singapura beli 4, 1 dibuat di Kockum, 3 di Singapura. Wah bagus lah. Sebenernya SAAB banyak program-program yang menarik dan sangat disayangkan kalau Indonesia masih mikir tentang alutsista Russia yang gak bakal mungkin dapat ToT, kecuali kayak India beli Su-30 MKM nyampe 200 unit itupun masih dipasangin teknologi barat di Sukhoinya, sedangkan Indonesia belinya paling 1 skuadron ya gak dikasih lah sama Russia ToT-nya. Terima Kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. ... dan ToT untuk Su-30MKI sebenarnya diberikan setengah hati, krn bukan kebiasaan Ruski membagi ToT.

      India tetap dipaksa mengimport hampir semua komponen sampai ke baut2 dari Rosoboron.

      Mrk juga dipaksa membayar 254kg Titanium bar, hanya untuk forging komponen seberat 27kg.

      Daftar complain India utk MKI sebenarnya sudah segudang... dan mereka akan menyesal kalau mencoba mengetes rongsokan RVV-AE di lapangan kelak.

      F-16 Block-52+ Pakistan akan dapat menghabisi Sukhoi mereka dengan mudah.

      Serigala bahkan tidak bisa mencoba berbulu domba; bulu dombanya saja sudah dimakan duluan.

      Sama seperti Korea, India terpaksa harus belajar menikmati buah yg sangat pahit; dimakan tidak bisa, dibuang sayang.

      ToT dari Washington DC, atau Moscow itu MUSTAHIL.

      Begitulah,
      Seperti dalam artikel, kalau kita menolak tawaran Saab hanya akan menjadi keputusan terbodoh.

      Sayangnya, masih banyak yg main "aji mumpung".

      ...ini tidak hanya di Indonesia; bahkan para pimpinan militer US di Pentagon juga lebih memikirkan pekerjaan masa depan post-pensiun mereka di perusahaan2 kontraktor militer US.

      Logika, dan keuntungan nasional dibuang keluar. Negara hanya harus bayar mahal utk beli rongsokan.

      Disini mengejar Sukhoi Flemon, disana F-35 Lemon II.

      Delete
  24. Oh ya bung GI, di era president sekarang ( JOKOWI ) . Indonesia sudah membeli alutsista APA aja ?

    Dan kita tau pak MENHAN sangat ngotot untuk beli 8 unit Sukhoi 35, Dan anehnya minta produksi bersama ? Harus buat sarana Dan prasarana baru untuk program INI kan.

    Dulu pernah Terdengar kalau EF Typhoon deal dibeli indonesia, mereka mau / menyutujui assembly dilakukan di PT. DI . ITU juga harganya melonjak jadi $ 150 jt USD lebih. EF Typhoon versi CFT

    Baik ITU Saab gripen / EF Typhoon menyatakan mampu di assembly di Indonesia. Sama seperti kalau IFX jadi nyata, kita juga hanya akan assembly saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejak pemerintahan Jokowi, kita sebenarnya sudah bisa melihat:
      Semua akuisisi alutisista asal2an seperti sebelumnya tiba2 berhenti mendadak, bukan?

      Dan ini bukanlah sesuatu yg jelek, krn akuisi gado2 kacau balau hanya menghabiskan uang negara, tanpa menimbulkan efek strategis yg berarti --- kita tidak akan bisa memakai ya dengan baik, jadi untuk apa?

      Satu2nya kontrak pembelian baru yg menonjol adalah akuisisi 11 AS-565 ASW helikopter untuk TNI-AL, kemudian juga mulai bergeraknya akuisisi AIM-9X, dan AMRAAM C-7 untuk F-16.

      Ini sih memang kebutuhan yg tidak bisa dihindari.

      Pespur?
      Sepertinya Presiden Jokowi sendiri juga sudah tahu kok.
      Kita terlalu terobsesi membeli macan ompong, jadi dalam tempo pendek tidak akan ada akuisisi baru.

      Su-35 sih, memang hanya sudah jadi mimpi indah sedari awal disebut.
      Tidak akan terjadi.

      Untuk produksi lokal pespur akan jauh lebih ekonomis, dan lebih mudah untuk belajar merakit 50 Gripen-E, dibandingkan 50 IF-X.

      Bahkan untuk assembly saja, IF-X hanya akan menjadi technical impossibility, karena toolingnya saja belum siap sampai.... sekurangnya 10 tahun setelah protoytype pertama terbang.

      Mengingat jadwal KF-X sudah semakin molor, kalaupun Korea masih mau meneruskan proyek ini (kemungkinannya semakin kecil), kita baru akan melihat prototype pertama mengudara 2030 minimum, dan proyeknya akan selesai sampai 2040; sekali lagi hanya akan menjadi versi dari F-16, yg kemampuannya lebih meragukan.

      Terlalu banyak perencanaan kita memang didasari mimpi, yg tidak bisa bertemu logika.

      Best case scenario sih tetap seperti diatas:
      Sukhoi Kommercheskiy di Sku-11, yg sudah mendekati ajal, akan segera dipensiunkan, dengan BAe Hawk menyusul beberapa tahun kemudian.

      2 Skuadron Gripen-E kemudian bisa masuk, bersama 2 Erieye.

      Kita akan turun ke mengoperasikan hanya 5 Skuadron (2 F-16, 2 Gripen, dan 1 T-50), tapi ini akan jauh lebih efektif vs armada mimpi Su-35K, dan IF-X versi export.

      Delete
  25. Bila pemerintah kita tidak membeli pespur baru 2017-2022 ( TNI AU ) . dengan Dana yg Ada apakah kita bisa membeli 2 skuadron gripen E + 2 erieye / globaleye . diluar pembelian misil buat F16 kita .

    Dan kalau mungkin kita mengajukan kontrak terlebih dahulu untuk 2 skuadron gripen , Dari pada kita telat Dan dapat pespurnya ntah kapan.

    Semoga saja ditahun 2017-2018 F16 kita full power Dan lengkap lengkip . supaya bisa menutup Gap sampe thn 2020, Dan ketika gripen E sudah memperkuat angakatan udara swedia di thn 2019/2020an. Kita ambil opsi untuk sewa gripen C/D ex's swedia buat latihan terbang pilot kita, setidaknya 1 skuadron dulu buat pemanasan kita.

    Dan pertanyaanya, apakah sampai thn 2019/2020 dgn 33 F16 apakah cukup untuk pengawasan indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau dari sisi kemampuan, IMHO, kita tidak perlu terlalu khawatir.

      Seperti dalam topik sebelumnya,
      Kalau 33 (atau 34) F-16 semuanya sudah bisa dipersenjatai lebih lengkap, dan juga bisa diperlengkapi Sniper pod (ini juga berguna untuk misi recon),

      ... maka kemampuannya sudah jauh melebihi apa yg ada sekarang, yg sebenarnya kemampuannya kosong melompong.

      Ingat, jumlah Sukhoi yg operasional juga sudah semakin menciut.
      Kelihatannya TNI-AU sudah kesulitan untuk bahkan bisa mengudarakan 6 pesawat sekaligus.

      Pesawat yg tidak bisa terbang, yah, makanya layak dinobatkan berkemampuan tempur nihil.

      Lebih baik justru kalau tidak ada lagi Sukhoi yg bisa terbang.
      Menghemat anggaran, dan untuk pilot Sukhoi.... yah, kita sbnrnya masih menunggu 10 F-16 Block-25+ lagi sampai akhir tahun depan.

      Kebutuhan ini sendiri butuh waktu untuk training pilot, crew, dan regenerasi kemampuan agar mencapai status siap tempur. Semuanya butuh waktu, tidak bisa sehari-semalam, seperti di bayangan terlalu banyak orang.

      Inilah kembali, kenapa logika mengejar tambahan pesawat "pengganti F-5E" itu sudah semakin tidak masuk akal.
      Seperti buah karbitan, yah, hasilnya akan melempem,

      Delete
  26. Replies
    1. Menurut pembuatnya, usia airframe hanya bisa mendapai 20 tahun, atau 4,000 jam terbang.
      Tentu saja tidak bisa diperpanjang.

      Dalam praktek, kira2 16 - 18 tahun, dan 3,000 jam terbang.

      Mesin AL-31F, diatas kertas umurnya hanya tahan 1,500 jam.
      Dalam prakteknya, sering kaput bahkan sebelum mendapai 1,000 jam, dan harus diganti baru.
      Harga mesin $2,5 juta / unit, atau bisa lebih mahal kalau beli eceran, ditambah biaya komisi.

      Satu Sukhoi jadi harus ganti kedua mesinnya tiga (3) kali sepanjang usia airframenya yg sangat pendek (total biaya $15 juta).

      Inilah kenapa,
      TNI-AU akan menemukan kalau Sukhoi mereka akan lebih cepat expired dibandingkan BAe Hawk-209.

      Sekarang saja, sudah banyak yg sudah berguguran; pertengahan 2020-an, semuanya akan sekarat.

      Delete
  27. Min, kenapa orang Indonesia suka beli" alusista dari Rusia padahal kita pernah mengkhianati Rusia dengan menyerahkan MiG-21 ke AS?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terlalu terbawa mimpi, dan sudah lupa menginjak tanah.

      Ruski sudah mulai menagih hutang dengan mengharuskan setiap unit menjalani "perbaikan mendalam", bukan?

      Delete
  28. Barusan baca di JKRTGRTR ada artikel tentang penandatanganan kerjasama MOU Menhan kita sama Menhan Swedia. Semoga aja ini tanda-tanda Gripen E/F bakal dibeli + AEWC erieye + National network, itu dulu aja sebelum kedepannya kerjasama ToT RBS-15 Mk.3, BAMSE, dll. Saya jujur masih heran sama pikiran orang Indonesia, polling bisa-bisanya masih pengen Su-35 kalau gak dapet Su-30 aja aneh tu orang, Gorshkov class lah, S-300. Macem-macem itu orang, udah transaksi dengan Russia itu sarat suap menyuap, mesin-mesin nya cepet rusak terus pelit ToT lagi. Gimana tu orang. Terima Kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. O ya skalian, apa mungkin ya di kemudian hari kalau kerjasama dengan SAAB berkembang, Dirgantara bukan hanya bisa merakit tapi juga menjadi partner dalam pembuatan beberapa komponen pesawat Gripen. Terima kasih

      Delete
    2. Bung Thomas,

      Seberapa jauh kita mau turut mengembangkan Gripen, atau memproduksi komponen tertentu, itu akan 100% tergantung kepada komitmen kita.

      Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Gripen akan menjadi satu2nya pesawat yang 100% milik kita sendiri.

      Saab tentu saja akan mau memfasilitasi.

      Sy juga melihat potensial kalau PT DI dapat menjadi regional spare part manufacturer untuk Gripen market di Asia Tenggara.

      Thailand sudah menjadi pengguna, sebentar lagi, kelihatannya Malaysia juga akan menyusul....

      Kita akan bahas lebih dalam di topik lain:
      "Manufacturing Gripen-Indonesia, sebagai pengganti IF-X Korea".

      Delete
  29. bung GI, senjata apa saja yang harus make targeting pod? apa gak mubazir kalau beli atrgetting pod doang tanpa senjatanya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Sekilas tentang Targeting Pod
      ================================
      Sebenarnya fungsi utamanya adalah reconaissance - mengawasi / memata-matai target terlebih dahulu.

      Litening, atau Sniper -- seperti yg baru dibeli Indonesia -- memadukan kemampuan Infra-Red tracking, laser marking/targeting, High Definition TV (dapat melihat kegelapan), dan video datalink.

      Sniper, ataupun Litening mempunyai kemampuan terbatas untuk berperan sebagai IRST pesawat tempur untuk mencari pesawat tempur lawan; tentu saja karena tidak didesain untuk mencari target di udara, kemampuannya tidak akan bisa seoptimal IRST tulen seperti Skyward-G di Gripen-E, OSF di Rafale, atau Pirate di Typhoon.

      ## Pasangan senjata?
      ====================
      Idealnya lebih dipasangkan ke senjata air-to-ground, dengan smart guidance (GPS, atau Infra-Red), seperti JDAM, Paveway, atau GBU-39 SDM (small diameter bombs); tetapi juga bisa dipakai untuk membantu men-guide bomb konvensional.

      Tentu saja, seperti kita tahu, sejauh ini TNI masih mempunyai masalah kronis membeli platform, tetapi selalu molor, atau malas untuk membeli senjatanya.

      Patut dicatat disini menambah smart guidance ke misalnya, Mk.84 standard dumb bomb, tidaklah murah.

      Harga Mk.84 hanya $3,100
      Smart guidance harganya $25,000

      Inilah salah satu alasan kenapa AU Russia, walaupun juga sudah mempunyai keluarga KAB-500 smart bomb, memilih untuk memakai dan menghujankan dumb bomb di Syria, dari ketinggian 3,000 meter ---> kelihatannya stock smart bomb mereka tidak banyak, dan harganya mahal.
      Akibatnya, yah, banyak kerusakan sipil yang tidak perlu.

      Tetapi kalau mau membangun Angkatan Udara modern, yang memang mempunyai kemampuan untuk menghantam target di darat secara akurat, mau tidak mau, harus memulai akuisisi semacam ini.

      Delete