Sunday, December 25, 2016

News Update: Desember-2016


Kita sudah mendekati pengunjung tahun 2016, dan hari pertama di tahun 2017 sudah semakin mendekat.

Inilah News Update sepanjang Desember-2016, dan post terakhir tahun ini.

Tuesday, December 20, 2016

Meningkatkan Safety Record TNI-AU


Turut berduka cita. 

Kembali satu lagi pesawat TNI-AU yang mengalami kecelakaan di tahun 2016, setelah sebelumnya, baru 10-Februari yang lalu, satu EMB-314 Super Tucano (TT-3108) juga mengalami kecelakaan.

Penyebab kedua kecelakaan ini tentu saja berbeda.

Sebelum memulai mencari kambing hitam, seperti menyalahkan kalau C-130HS (A-1334) adalah pesawat hibah, dan sudah terlalu tua, atau dikarenakan jumlah anggaran TNI-AU kurang, mari terlebih dahulu memperhatikan daftar kecelakaan yang sudah dialami sejak tahun 2006.

Saturday, December 10, 2016

Mencapai MEF tahap II: 32 Gripen-E, dan 2 Erieye AEW&C

Credits: Saab

Apakah keunggulan utama Gripen, dibandingkan kedua produk Lockheed: F-16V, dan IF-X, ataupun Sukhoi Su-35?

Pesawat tempur Made by Saab, Swedia, adalah satu-satunya penawaran yang bukan versi export downgrade.  Semua kemampuan radar, flight mode, ataupun software akan tersedia penuh. Tidak ada yang dikurang-kurangi. Tidak akan ada yang dirahasiakan. Upgrade juga akan terjamin. Seluruh kedaulatan bangsa, tidak lagi dipegang Washington DC, ataupun Moscow, seperti sekarang, tetapi 100% seluruhnya akan berada di tangan kita.

Sudah saatnya kita berhenti bermimpi: Mustahil pesawat tempur versi export downgrade, akan dapat mengungguli pesawat tempur buatan Swedia, yang tidak pernah menemui pengurangan yang sama, dan sudah dirancang untuk menghadapi lawan manapun, baik yang stealthy, ataupun sekilas terlihat lebih unggul.

Ini membawa kita ke dalam keunggulan Gripen yang pertama sebagai pesawat tempur masa depan Indonesia:

Monday, December 5, 2016

Mencapai MEF tahap I: Menambah AIM-9X, AMRAAM C-7, dan Sniper targeting pod

F-16 Block-52 92902 - USA photo

Sudah saatnya kita berhenti berasumsi kosong kalau membeli lebih banyak pesawat tempur berarti meningkatkan "efek gentar" kemampuan pertahanan udara kita. 

Sistem akuisisi semacam ini hanya membuat kita menjadi bahan tertawaan negara lain. Kita hanya akan menyediakan lebih banyak target untuk bisa ditembak jatuh lawan, dibanding meningkatkan kemampuan secara nyata.

Mendahulukan tambahan missile, dan perlengkapan modern, jauh lebih penting dibandingkan mengejar pembelian "pengganti F-5E", yang sebenarnya tidak lagi kita butuhkan. 

Seluruh dunia tahu, kalau pesawat tempur manapun, efek gentarnya akan nihil tanpa adanya investasi di jam TRAINING, dan tanpa adanya PERSENJATAAN.

Mengingat missile untuk Sukhoi adalah dari tipe "monkey model" yang kemampuannya tidak akan bisa terjamin, sudah saatnya kita lebih mencurahkan perhatian, justru untuk terlebih dahulu memperlengkapi F-16.

Lagipula tidak seperti Sukhoi, yang persenjataan, atau spare part-nya pun akan harus selalu dibeli lewat agen perantara Rosoboronexport, semua transaksi untuk F-16 akan melalui program FMS (Foreign Military Sales); kontrak langsung Government-to-Government; yang tidak akan dicantoli komisi perantara.