Monday, November 28, 2016

R-77: Memahami kemampuan BVR missile Russia

Su-30SM at Hmeymim AB, Syria -- Russian MoD photo

R-77, atau izdeliye-170.

Sering disebut sebagai AMRAAMski atau tandingannya AMRAAM.

Pertama-tama harus diklarifikasikan terlebih dahulu; R-77, atau izdeliye-170 sebenarnya versi lokal dari missile ini. Versi yang diperbolehkan untuk negara lain, mulai dari India, PRC, Vietnam, Venezuela, Malaysia, Algeria, Ethiopia, dan Indonesia, adalah RVV-AE (izdeliye-190), alias versi export dari R-77.

Mungkin ini sekilas bukan sesuatu yang serius. U.S. juga belum mengijinkan penjualan AMRAAM-D ke negara manapun, kecuali sekutu terdekatnya, Australia. Apakah RVV-AE mungkin equivalent-nya hanya seperti AMRAAM C?

Perhatikan kembali ke foto November-2015 diatas, yang menunjuk ke dua Su-30SM AU Russia, yang beroperasi dari Hmeymim Airbase, di Syria, dan perhatikan baik-baik persenjataan yang dibawa!

Keduanya tidak membawa satupun R-77, bukan?

Keduanya membawa 2 R-73 infra-red WVR missile di pylon sebelah luar, 2 R-27 (AA-10 Alamo) Semi-Active-Homing, atau Infra-Red-Seeker di pylon sebelah dalam, dan 2 R-27 lagi ditengah-tengah antara kedua mesin. Disinilah kita menabrak kenyataan pertama.

Kenyataan Pertama: R-77 ternyata bukanlah BVR andalan Russia.



Kenapa AU Russia sendiri tidak memakai R-77 (izdeliye-170)?

Missile Russia yang "paling ditakuti"?
Versi izdeliye-190 sudah dibeli  PRC, India, Algeria, Syria, Venezuela, Malaysia, dan Indonesia,
tetapi 

Kenapa Russia sendiri tidak banyak mengoperasikan versi izdeliye-170?
(Wikimedia Image)
Sejak peristiwa Crimea 2014, yang diikuti dengan mulai aktifnya permainan petak-umpet antara NATO - Russia, dan kemudian partisipasi Russia dalam perang saudara di Syria, sebenarnya sudah membuka beberapa lembaran kenyataan, yang membuyarkan semua mitos mengenai Sukhoi, dan kemampuan BVR-nya yang handal.

Tom Cooper sudah menuliskan kisah izdeliye-170 dalam artikel War-is-boring ini.

Catatan: Nomenclatur militer Russia sebenarnya bisa menyorot satu model yang sama, dalam dua nama yang berbeda; atau sebaliknya satu nama yang sama, untuk dua model yang berbeda. 

Vympel Design Bureau memulai proyek K-77 dari tahun 1982 dengan tujuan untuk membuat fire-and-forget BVR missile, dengan Active Radar seeker head. 

Baik Uni Soviet, maupun United States, sebenarnya baru belajar dari pengalaman kalau BVR missile dengan Semi-Active Radar-Homing seeker, seperti R-27, atau AIM-7 Sparrow kurang efektif dalam pertempuran udara. Masalah utamanya, SARH missile memerlukan pesawat induk untuk terus-menerus mengunci sasaran dengan radarnya, dan memberikan tiga kelemahan:

  • Pesawat induk tidak bisa menembak ke lebih dari satu target.
  • Arah, dan posisi pesawat induk menjadi predictable; membuatnya sangat rentan untuk diserang balik oleh lawan.
  • Mulai diperkenalkannya Radar-Warning-Receiver, berarti pesawat target juga dapat mengetahui kalau dia ditargetkan lawan, dan dengan demikian, akan berusaha untuk mem-break lock.
Solusi yang dicari semua pihak di periode ini jelas. Diperlukan BVR missile, dengan Active Seeker, atau seeker yang mempunyai radar tersendiri. Tujuannya adalah untuk menyelesaikan semua masalah SARH missile seperti diatas: Pesawat induk akan dapat melakukan hal-hal berikut: 
  • Menembak ke beberapa target sekaligus
  • Setelah mencapai radar lock, langsung bisa melancarkan prosedur fire-and-forget, agar pesawat induk lebih leluasa untuk menghindar kalau diserang lawan, dan terakhir,
  • Diharapkan karena radar locking juga tidak perlu lama, agar RWR lawan tidak pernah menyadari kalau dirinya sudah di-lock. 
Secara konsep, BVR Combat sebenarnya masih tetap terlalu banyak lubang dewasa ini; tetapi baik AMRAAM, ataupun MBDA Meteor yang sama sekali baru, sudah terus-menerus diuji-coba, dan mendapat gradual upgrades. Baik jarak jangkau, ataupun Probability Kill untuk AMRAAM C sebenarnya sudah meningkat jauh dibandingkan versi AMRAAM-A.

Sebaliknya, proyek development K-77 missile Uni Soviet, justru sudah menabrak tembok dari awalnya. Permasalahan dengan Agat 9B-1348 Active Seeker, membuat Kremlin membatalkan proyek ini di tahun 1987. 

Vympel kemudian memulai proyek baru untuk K-77M, atau lebih dikenal dengan nama izdeliye-170 (R-77), yang akan menggunakan generasi yang lebih baru dari seeker Agat; versi 9B-1348M. Namun sebelum proyek ini selesai, di tahun 1990 Uni Soviet bubar, dan seiring dengan itu, tidak ada lagi funding untuk menyelesaikan izdeliye-170.

Perhatikan kembali grafik berikut:
Grafik diatas kembali memperlihatkan kenyataan: Kalau ekonomi tidak memungkinkan, dengan sendirinya anggaran pertahanan akan terpuruk. 

Setelah pembubaran Uni Soviet, industri militer mereka tidak pernah bisa lagi mendapatkan cukup dana, atau mempunyai kemampuan untuk mengejar semua development target untuk dapat mengimbangi NATO. 

Russia masih beruntung, karena kemudian para pembeli senjata besar, terutama PRC, dan India, ternyata menyelamatkan proyek R-77.

Kontrak pembelian 200 Su-27SK oleh PLA-AF China di awal tahun 1990, diikuti dengan pembelian R-77 dalam jumlah besar.... yang sekarang sudah bersalin rupa dalam bentuk versi export RVV-AE, atau izdeliye-190. India kemudian mengikuti jejak PRC dengan memborong 2000 RVV-AE di tahun 1999.

Tidak seperti R-77, versi export downgrade izdeliye-190 hanya diperbolehkan untuk memakai seeker head Agat 9B-1348E. Yah, ini adalah versi yang berbeda dengan Agat 9B-1348M, yang development-nya saja sebenarnya tidak pernah selesai. Kemungkinan juga kapasitas bahan bakarnya juga sudah dikurangi, agar jarak jangkaunya tidak bisa bersaing dengan izdeliye-170.
War-is-boring:
"That's weird - Russia's Best Fighters in Syria are still flying with Crappy missiles"

Yang lebih menarik, walaupun sudah mendapat subsidi dari para pembeli, Kremlin tetap saja tidak pernah berupaya untuk menyelesaikan development proyek ini yang sudah tertunda lama, dan tidak pernah mencoba untuk membeli izdeliye-170 dalam jumlah besar. 
Agat 9B-1348M yang dipamerkan dalam MAKS Airshow 2009;
Sebenarnya masih bermasalah, tetapi...
Versi 9B-1348E sudah dijual dalam jumlah besar dalam bentuk RVV-AE

(Gambar: Wikimedia)

Kenapa AU Russia tidak pernah terlihat membawa izdeliye-170?

Karena mereka sendiri tahu kalau produk ini sebenarnya belum siap pakai. Tidak pernah siap tempur.

 Percobaan bunuh diri?
Kalau Sukhoi Su-27S yang membawa R-27 berani menantang Eurofighter Typhoon.
(Gambar: RAF, 17-Juni-2014 - via wikimedia)



Perekonomian Russia juga sudah semakin terpuruk

Lupakan saja semua "rencana" development BVR missile Russia yang lain, seperti R-77-PD dengan ramjet propulsion, atau K-77M (izdeliye-180) yang dikabarkan akan mempersenjatai PAK-FA.

Kecil kemungkinannya semuanya ini bisa terjadi.

Di tahun 2015 saja, nilai total dari anggaran pertahanan Inggris ($55,5 milyar), Perancis ($50,9 milyar), dan Jerman ($39,4 milyar) saja sudah jauh melebihi anggaran Russia ($66,4 milyar).
Wikipedia

Dari grafik sederhana ini saja, bisa dilihat kalau sudah mustahil kalau industri militer Russia masih mempunyai kemampuan untuk menantang tehnologi industri Barat.

Sejak itu situasinya sudah cepat bertambah suram.

Embargo militer, dan ekonomi yang sudah diberlakukan Ukrania, dan negara-negara Barat, sejak peristiwa Crimea, 2014 tentu saja hanya semakin memperburuk keadaan. Belum lagi menghitung, kalau kebanyakan komponen dari izdeliye-170, infra-red seeker head untuk R-73, dan seluruh R-27 missile, sebenarnya diproduksi di pabrik Artem, yang letaknya di Kiev, Ukrania.

Kalau masih belum cukup parah, perekonomian Russia, yang sangat tergantung kepada export minyak, sudah terpuruk dalam resesi ekonomi sejak dua tahun terakhir. Tahun 2015 yang lalu, ekonomi Russia sudah menciut -3,7%. 

Karena ekonomi terpuruk, mau tidak mau....

Draft awal untuk anggaran pertahanan Russia di tahun 2017, akan dipangkas 27% dibandingkan tahun 2016. Ini akan membawa anggaran pertahanan Russia ke level di bawah $50 milyar, atau lebih rendah dibandingkan UK, India, dan Perancis.

Artikel Tom Cooper juga menggarisbawahi, kalau AU Russia sendiri sebenarnya menginginkan R-77-1, atau izdeliye-170-1; yang jarak jangkaunya lebih jauh, dan memakai jenis seeker baru yang berbeda lagi: Agat 9B-1248. Test missile pertama kabarnya baru mulai di ujicoba dengan Su-27SM3 (bukan versi export seperti SKM!) pada September-2010. Akan tetapi..... yang lebih menarik lagi, Kremlin sendiri baru di tahun 2015 mengajukan tender development ke industri militer Russia, untuk memulai proyek R-77-1 dengan nilai kontrak $200 juta.

Tender untuk memulai development, bukan order untuk membeli R-77-1.


Su-35 di Syria juga masih dipersenjatai R-27,
dan BUKAN izdeliye-170

(Gambar: RT)
Saatnya belajar menerima Kenyataan terakhir:
R-77 ternyata adalah missile yang TIDAK SIAP TEMPUR!

(Makanya tidak dipakai AU Russia)

...tetapi sudah dijual bebas dalam bentuk RVV-AE sejak tahun 1990.


.... nah, lantas.... bagaimana kita bisa memastikan kemampuan RVV-AE (izdeliye-190)?

Tidak ada yang tahu.

Bahkan AU Russia sendiri masih terlihat lebih memilih R-27, dibanding R-77. Mulai Januari-2016, dikabarkan beberapa Su-30SM, dan Su-35S di Syria baru mulai membawa 2 R-77, tetapi kemungkinannya hanyalah RVV-AE yang dipinjam dari stock AU Syria.


Salah satu contoh AMRAAM testing vs QF-4 drone:
BVR missile harus terus-menerus di-tes, 
dan mendapat upgrade agar kemampuannya bersaing.

Active Seeker di AMRAAM, dan Meteor sebenarnya dapat mem-lock pesawat lawan secara independent dari jarak puluhan kilometer (angka sebenarnya dirahasiakan); dan keduanya juga mempunyai high-ECM resistance untuk menangkal kemampuan jammer lawan. 

Sebaliknya, meragukan kalau Active Seeker Agat 9B-1348M, ataupun 9B-1348E versi export bahkan mempunyai kemampuan untuk dapat mem-lock target, atau apakah akan mudah terkecoh oleh sistem Jammer NATO. Laporan informal dari India menunjuk kalau jarak jangkau efektif untuk RVV-AE hanya terbatas ke kurang dari 30 kilometer.

Yah, kemungkinan besar, the "fearsome" RVV-AE won't work, alias berkemampuan NIHIL.

Masih belum cukup disana, India kembali melaporkan banyak masalah dengan RVV-AE yang sudah mereka beli. Seperti dilaporkan publikasi Indian Express, dan ZeeNews, sebenarnya hampir separuh dari 1,000 RVV-AE yang dibeli India sampai tahun 2009, kondisinya sudah "faulty", atau tidak lagi laik pakai. Ini menunjuk kepada permasalahan lain ke semua persenjataan buatan Russia: Kualitas shelf life tidak akan terjamin, dan umurnya cenderung lebih pendek dibanding apa yang dijanjikan.
"Nearly half of Russian Missiles have homing, aging problems: CAG Report"
Indian Express, 16-Juli-2009

Dalam hal ini, kita sebenarnya malah beruntung, karena menerapkan konsep pembelian "Macan Ompong": Senang membeli pesawat, tetapi selalu kelupaan membeli persenjataan.

Kita hanya pernah membeli 25 RVV-AE di tahun 2011. Dan sebaiknya.... jangan lagi membeli lebih banyak missile yang tak berguna ini.

Update mendatang: Kenapa selain Active Radar Guidance, semua jenis seeker lain sebenarnya tidak akan efektif dalam BVR Combat.


Penutup

Sudah saatnya kita mulai mempensiunkan Sukhoi Kommercheskiy di Sku-11 secara bertahap, dimulai dari TS-2701, dan TS-2702; kedua Su-27SK dari batch di tahun 2003, yang belum kunjung mau pulang dari Russia.
Apa yang terjadi?
Dikau pergi, tapi tak pernah kembali
(Gambar: TNI-AU, 9-Desember-2015)

Apanya yang "kebal embargo"?

Sebentar lagi kita akan merayakan HUT setahun mudik
tak kunjung pulang!
Tidak ada lagi alasan kenapa kita harus terus mengoperasikan pesawat yang biaya operasionalnya terlalu mahal. Pengalaman India menunjukkan kemungkinannya terbuka cukup lebar kalau akan banyak transaksi yang tidak transparan dengan si agen perantara Rosoboronexport. Prosedur "perbaikan mendalam" TS-2701, dan TS-2702 saja sudah cukup untuk mengundang banyak pertanyaan: Apa yang terjadi? Kenapa begitu lama tidak kunjung selesai?

Sukhoi terlalu banyak kelemahannya, dibanding menampilkan efek gentar yang "gahar", seperti yang diharapkan, seperti dalam mimpi Ausairpower.

Dalam keadaan sekarang, baik dengan memakai R-27, ataupun RVV-AE; Sukhoi Su-35KI (Kommercheskiy Indonesia), tidak akan mempunyai kemampuan untuk bahkan bisa menembak jatuh F-16 Block-25+ di Sku-03, dan Sku-16, yang jauh lebih modern, dan kemampuan persenjataannya lebih terjamin.


Exhibit 1: ZERO deterrent effect
Sudah saatnya berhenti bermimpi Su-35!

Semua, sekali lagi SEMUA pesawat tempur buatan Barat di seluruh Asia Tenggara akan selalu dapat mengalahkan Su-35:
  • Biaya operasional mahal, dan gila maintenance; berarti pilot tidak akan pernah bisa mendapat cukup Training untuk "mengimbangi" kemampuan pilot negara tetangga.
Apalagi mereka yang sudah rajin berlatih di beraneka ragam skenario Red Flag,
dan dapat mengumpulkan 150 jam latihan terbang per tahun.
  • Kesiapan tempur Rendah, karena faktor gila maintenance di atas, berarti 48 Su-35 seperti dibuat dari kertas. Dalam konflik sesungguhnya, 48 Saab Gripen, yang low maintenance, dan dapat mengudara sesering mungkin, dengan mudah akan dapat menghabisi 48 Su Kommercheskiy hanya dalam waktu tiga hari. Sebagiannya menjadi korban hanya karena butuh perbaikan yang terlalu lama.
Dalam simulasi ini membutuhkan waktu 3 hari:
Kunci keunggulan Low Maintenance & High Availability Rate terbaik di dunia
  • Versi Kommercheskiy Downgrade, berarti flight / radar / defense suite parameter juga sudah dikurangi. Radar Irbis-E Kommercheskiy, misalnya, tidak akan mempunyai kemampuan melihat target RCS 5 m2 dari jarak 400 kilometer seperti yang di-iklankan; paling banyak, kalau untuk pengkhianat yang pernah menghibahkan MiG-21 F-13 ke United States, mungkin tidak akan lebih dari 250 kilometer.
Belajarlah untuk mendahulukan kepentingan Nasional,
daripada kepentingan para penjual versi export.
  • Secara desain, model kuno yang sangat menyedihkan ini masih terpaku kepada tehnologi 2007, dan tidak pernah / tidak akan bisa di-upgrade.
  • Kebutuhan "perbaikan mendalam" ala Sukhoi bertehnologi tahun 1980-an yang sekarang, dan komisi perantara sih sudah pasti; sedangkan supply spare part tidak akan terjamin. Wong, banyak komponennya juga buatan Ukrania.

AviationWeek, 4-Apr-2011:
India upset with Russian Military spare part supply

Link: Indian Express, 8-Agustus-2016
  • BVR missile rongsokan, seperti dalam artikel ini, hanya akan membuatnya menjadi bulan-bulanan vs pesawat tempur Barat; dan tentu saja tidak seperti AMRAAM, atau Meteor, shelf-life untuk BVR missile Ruski tidak akan tahan lama.
Poor Su-35 Kommercheskiy has ZERO chance of winning:
Australian Super Hornets will easily trash any Sukhois.
their pilots have better training, superior techniques, 
more advanced sensor suites, and WORKING weapons
  • Tidak akan ada Aerial Networking.
  • Tidak mempunyai Targeting Pod, equivalent seperti Sniper, atau Litening, dan....
  • Oh, dan jangan lupa, kalau Thrust-Vectoring tidak akan relevan dalam close combat; malah akan membuat Su- yang malang menjadi mangsa yang empuk dalam pertempuran udara.
Tentu saja, seperti United States, negara yang mempunyai kebiasaan menjual versi export downgrade, tidak akan sudi untuk mau didikte dengan persyaratan UU no.16/2012.

Sudah saatnya untuk kita belajar lebih dewasa: menghilangkan kebiasaan membeli rongsokan versi export, dan memilih satu-satunya pilihan yang paling menjamin kebutuhan pertahanan Indonesia untuk sekurangnya 50 tahun ke depan.

Tawaran Kerjasama jangka panjang:
Potensi tak terbatas, dan faktor yang lebih penting,

daripada sekadar "asal beli" pesawat tempur.


43 comments:

  1. Admin, saya mau nanya mungkin agak melenceng dari judul artikel apa bisa Indonesia gini aja, kita pesan nya SAAB Gripen E/F 2 skuadron tapi kita boleh gak pakai sistem sewa seperti Cekoslovakia, jadi selama periode sampai Gripen E/F jadi, kita sewa aja Gripen C/D. Yang kedua, sebenarnya berapa sih jumlah misil Rusia di Indonesia, cukup atau jangan jangan masih kurang dari 4 misil per pesawat. Yang ketiga saya baca di reuter, President Park Geun He mungkin akan mengundurkan diri dan terkait dengan artikel admin sebelumnya apakah ini akhir dari KFX/IFX ? Itu kan Indonesia diwajibkan investasi 20 % menurut saya mending di divert kan saja ke proyek proyek dengan SAAB yang lebih jelas. Terima Kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung thomas,

      Pertanyaan anda cukup panjang, sy akan coba uraikan satu per satu:

      ==================
      #1# Menyewa Gripen?
      ==================
      Jawabannya tergantung kemauan kita.
      Kebiasaan kita adalah membeli langsung, agar merasa itu "milik kita"; padahal tergantung hasil paket yg dinegosiasikan, menyewa bisa jadi lebih menguntungkan dibanding membeli langsung.

      ==========
      #2# Jumlah missile Ruski di Indonesia
      ==========
      Semuanya versi Export; mendurut data SIPRI:
      25 R-73E
      25 RVV-AE

      Untuk Air-to-Ground:
      10 Kh-29
      10 Kh-31
      10 Kh-59

      IMHO, kita beruntung tidak memborong terlalu banyak seperti India; karena kemungkinan 20 - 30%-nya juga sudah "faulty".

      ===========
      #3# Presiden Park Geun Hye
      ===========
      Yah, kita lihat saja lebih lanjut bagaimana nasib KF-X.

      Sebenarnya Presiden Park adalah salah satu yang aktif mempromosikan proyek ini ke masyarakat Korea. Dengan lengsernya Park, kita tidak akan bisa memastikan prospek pemerintah yang selanjutnya.

      Anggaran development 2016 saja sebenarnya terlalu kecil... sedangkan di tahun 2017, antara kembali, Senate Korea hanya akan memberikan beberapa puluh juta untuk "studi",

      ATAU

      ....proyeknya akan tertunda indefinately.

      Yang pasti sih, kemungkinannya sudah semakin mustahil proyek ini masih bisa jalan. Kapan dibatalkan, hanya masalah waktu.

      Delete
  2. kalau SU-35 milik rusia yg bukan versi export apa punya peluang lebih vs super hornet atau sama saja bung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak akan ada bedanya.

      ## Masalah pertama: TRAINING
      Sistem training NATO lebih realistis dari segi kualitas, ketimbang sistem Soviet, dan masing2 pilotnya sudah rata2 mengumpulkan antara 100 - 200 jam terbang per tahun.

      Baik US Navy, ataupun RAAF Australia -- sesama pengguna SH, pilotnya sudah jauh lebih paham ttg kelebihan / kelemahan tunggangan mereka dibandingkan pilot Russia.

      Pilot AU Russia kekurangan jam training; dan dengan mengoperasikan pesawat biaya op mahal, seiring dengan dipotongnya anggaran pertahanan Ruski; tidak akan ada banyak harapan di masa depan.

      ... pilot yg lebih terlatih, akan selalu lebih unggul dibanding pilot yg kurang latihan..

      ## Masalah Kedua: Super Hornet adalah platform yg jauh lebih modern
      Mulai dari Sensor Suite, Networking, Defense Suite, dan user-friendly flight control; SH adalah pesawat yang sebenarnya beberapa generasi lebih modern dibanding Su-35 tehnologi 2007.

      Perbedan utama; secara desain, pespur Barat selalu mengutamakan Situational Awareness, sedangkan desain pespur Ruski baru mulai belajar.

      Tentu saja, Super Hornet juga lebih rajin mendapat upgrade dibandingkan Sukhoi, yang tidak pernah mendapat incremental upgrade sejak 2007.

      ## Terakhir, yah, seperti dalam artikel ini: Persenjataan

      Untuk BVR -- AU Russia masih mengandalkan Semi-Active Radar-Homing R-27, atau missile setengah jadi lain, yang kemampuan kill-nya tidak meyakinkan;

      Sebaliknya Super Hornet bisa memakai AMRAAM-D untuk menembak dari jarak yang lebih jauh, tanpa pernah bisa terlihat.

      Dalam WVR:
      Karena dari segi kemampuan maneuver, sebenarnya kedua pesawat ini cukup mirip, pemenangnya akan lebih ditentukan oleh faktor pertama diatas.

      Tentu saja, AIM-9X yang engagement-envelope-nya lebih luas, dan lebih sukar untuk dikecoh flares, akan menjadi lawan yang jauh lebih berbahaya dibandingkan R-73, atau R-74.

      Delete
  3. Bung GI, apakah kita punya banyak rudal yg bisa atau terus melock pesawat musuh setelah rudal ditembakan Dari pesawat. Jadi tembak Dan lupakan, jadi pesawat tak perlu membimbing terus Rydal yg ditembakan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Rochmat,

      Fire-and-forget BVR missile, sebenarnya secara konsep menarik, tetapi untuk aplikasinya dalam dunia nyata sebenarnya sangat sulit.

      Ini akan dibahas lebih mendalam di topik selanjutnya re BVR Combat.

      ## Karena kebiasaan beli "macan ompong"; kita sebenarnya belum punya banyak.

      Kecuali 25 missile lemon buatan Ruski diatas;

      DSCA pemerintah US sudah menyetujui pembelian 36 AMRAAM C7.

      36 AMRAAM, padahal kita akan mempunyai 33 - 34 F-16; berarti hanya akan cukup untuk mempersenjatai 1 missile per pesawat.

      Padahal kebutuhan minimum seharusnya 4 BVR missile & 2 WVR missile per pesawat + tambahan stock di gudang.

      Yah, ini artinya setiap Skuadron (16 pesawat) akan membutuhkan 100 BVR missile, dan 40 WVR missile.

      Karena kebiasaan buruk ini, kita sekarang sudah mempunyai lebih banyak pespur dibanding missile.

      ... tapi, eh, para pejabat masih menginginkan lebih banyak pesawat lagi untuk "pengganti F-5E".

      Yah, itulah contoh prosedur akuisisi yang salah arah dalam 10 tahun terakhir:
      Lebih penting aksi, daripada Nasi

      Delete
  4. Lantas APA pilihan terbaik untuk bvr Dan wvr. Tentu dalam 2 jenis pertempuran INI memerlukan hal by berbeda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang kondisi armada kita sebenarnya sangat menyedihkan; Armada gado2 F-16 vs Sukhoi

      Terlepas dari mitos yang sekarang diberitakan, sebenarnya F-16 Block-25+, walaupun versi hibah, adalah platform yang jauh lebih unggul dalam segala hal dibanding Sukhoi abal2 bertehnologi tahun 1980-an, yang gampang rusak, dan (seperti dalam artikel ini) hanya bisa dipersenjatai dengan missile yang kualitasnya meragukan, atau lebih mungkin, abal-abal.

      Karena itu dalam persenjataan F-16, pilihan kita tidak banyak; kita harus membeli dari Washington DC untuk menambah stock.

      33 - 34 F-16C/D atau MLU akan membutuhkan:
      ==========================
      100 AIM-9X Block-2 untuk WVR missile ; harga sekitar $595,000/unit
      160 AIM-120C7 AMRAAM untuk BVR missile ; harga sekitar $1,500,000/unit

      Jadi total kira2 $60 juta untuk membeli AIM-9X, dan $240 juta untuk membeli AMRAAM C7.

      Total investasi yang lebih dibutuhkan dibanding "pengganti F-5E" = $300 juta
      Masih harus ditambah pembelian Sniper targeting pod, dan kalau diijinkan; JDAM smart bomb.

      Karena F-16 Block-25+ sebenarnya juga pesawat versi export,
      kemampuannya untuk menggunakan kedua missile ini tidak akan optimal, tetapi tetap saja sudah jauh lebih unggul dibanding Su-35 Kommercheskiy, yang persenjataannya abal2.

      Keuntungannya di masa depan: Kalau kita memilih Gripen-C, atau Gripen-E; keduanya akan dapat mempergunakan senjata buatan US tadi dengan jauh lebih optimal. Dapat menembak dari jarak yang lebih jauh, dan lebih akurat.

      Delete
  5. beli gripen E 2 squardron buat replace Sukhoi plus menstock ratusan missile MBDA meteor, IRIS T, AMRAAM C7, dan AIM9X agar pespur kita tidak lagi menjadi macan ompong.F16 dan Gripen RTAF Kabarnya sudah dilengkapi dengan optik sniper yg lebih canggih, mudahan saja gripen kita juga dipasang optik sniper yg sama canggihnya agar bisa compactible sama F16 .

    Saya mempunyai pengalaman di indomiliter.

    Ketika Comment di indomiliter,usai membaca tentang Su 27 PLAAF Kalah telak dari Gripen RTAF saya membeberkan tentang semua kelemahan sukhoi downgrade yg kualitasnya sangat mengecewakan dan gila maintenance.ada fansboy gripen yg support sama comment saya karena mereka juga telah membaca kelemahan sukhoi dari situs lain yg real dan indenpenden .tapi, Eh....., saya sama fansboy gripen Malah di caci sama fansboy sukhoi yg mengatakan bahwa comment kami ini Bohong dan kelewatan, dan bagi mereka Sukhoi adalah pesawat tempur superior Hebat yg belum ditandingi siapapun, Anti Embargo, Rudalnya superior dan dapat tot.

    Jadinya kami agak malas Comment di indomiliter maupun di jakartagreater yg menyajikan tentang sukhoi, karena comment mereka banyak yg pro sukhoi yg kenyataannya melenceng dari kenyataan. Maklum mereka sudah kena wabah Ausairpower.

    Saya Dari awal sebenarnya bukan Fansboy Sukhoi, Tapi Fansboy Mirage 2000. lalu setelah mirage 2000 out production saya beralih jadi fansboy sukhoi karena TNI AU udah deliver sukhoi yg diklaim lebih superior, tapi saya gak tahu situs ausairpower, namun setelah membaca situs gripen indonesia dan situs lain yg real dan indenpenden tentang kelemahan sukhoi, akhirnya saya membelot ke fansgripen dan memfollow instagram Saab.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Eki,

      :)
      Dahulu sy juga banyak posting di JakartaGreater, Kaskus Militer, dan Analisismiliter, seperti sy sudah tulis disini.

      Seperti pengalaman anda juga; harus banyak menghadapi komentator yang memang sudah menjadi fanboys; baik itu fanboys Sukhoi, atau KF-X.

      Sebenarnya menjadi fanboys yang memfavoritkan produk tertentu, jadi mempunyai beberapa kelemahan besar:

      ## Mereka lebih cenderung mendukung kepentingan negara pembuat (Korea, atau Russia) dibanding kebutuhan / keterbatasan / kepentingan Indonesia

      IMHO, kebutuhan negara sendiri lebih penting vs kepentingan / keuntungan penjual.

      Seperti kita lihat, fanboys tidak peduli, bukan, apakah penjual harus memenuhi UU no.16/2012, atau tidak?

      Undang-undang ternyata memang dituliskan, untuk dilanggar.

      ## ...dukungan pilihan fanboys yang "favoritisme" sebenarnya sudah berubah menjadi lebih emosional, dan karena itu mereka juga menolak untuk mendengarkan fakta yang ada.

      Misalnya, mau bermimpi sampai kapanpun juga sih terserah, tetapi Fakta dibawah ini tidak akan pernah bisa berubah:

      @@ Washington DC, dan Moscow hanya pernah menjual pesawat tempur versi export, yang sudah di-downgrade dibanding versi di negara asalnya.

      @@ Secara tak langsung, karena Korea sudah secara sepihak memilih Lockheed sebagai partner, KF-X sebenarnya juga sudah bersalin rupa menjadi versi dari F-16 yang jauh lebih mahal, dan pesawat versi export.

      @@ Untuk selamanya, kedaulatan akan selalu ada ditangan penjual: Source Code akan dikunci, dan...

      Walaupun pesawat itu ngendok di hanggar dengan indahnya, sebenarnya Sukhoi, F-16, atau IF-X itu bukan milik kita, karena kita tidak diijinkan untuk mengganti satu pakupun, tanpa ijin dari Washington DC, atau Moscow.

      Inilah kenapa sy menulis berulang-ulang di blog ini:
      Blog ini bukan blog untuk Gripen "fanboys"

      Hanya saja, seperti sudah kita bahas disini, tawaran dari Saab, kenyataannya adalah tawaran yang paling sesuai, dan paling menguntungkan negara kita, tidak hanya secara pesawat tempur, tetapi juga secara tehnologi, dan industrial.

      Lebih penting lagi, tidak akan ada pesawat versi export downgrade; akhirnya Kedaulatan negara ada di tangan kita!

      Keuntungan, dan Kebutuhan Indonesia lebih penting dibanding pilihan favorit!

      Kalaupun ada pespur yang lebih baik dibanding Gripen, tidak akan relevan, karena penjualnya belum tentu mau memenuhi persyaratan UU no.16/2012, dan mengajukan tawaran kerjasama jangka panjang yang akan begitu menguntungkan kedua belah pihak.

      Ayo, memerdekakan diri dari penjajahan "rongsokan versi export"!

      :)

      Delete
  6. Tentang Mirage 2000.

    RCS sekitar 3m persegi. bahan yg digunakan pada mirage 2000 terbuat dari metal alloy,material composit, dan permukaan luar terbuat dari boron epoxy carbon yg sangat ringan namun kuat. tekanan gravitasinya 13,5G .

    bung GI kalo RCS dan Tekanan gravitasinya Gripen apakah sama dengan mirage 2000?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Airframe G-limit semua pesawat tempur modern rata-rata mempunyai rating +9G/-3G.

      F-18, by design, hanya mempunyai limit 7,5G -- sebenarnya bisa pull lebih dari 9G, tetapi hanya akan memperpendek umur airframe.

      F-35A adalah model yg paling parah... hanya bisa mencapai 5,5G.
      F-35B dan C limitnya akan lebih rendah lagi.

      Gripen, F-16, Rafale, dan Typhoon semuanya bisa menarik 13,5G maksimum, tetapi ini sebenarnya tidak dianjurkan.

      Masalahnya sebenarnya pada limitasi tubuh pilot.
      Pilot pespur yang terlatih hanya akan mampu menahan akselerasi 9G manuever; lebih dari angka ini, akan ada resiko "blackout", atau G-LOC;
      --- pingsan karena terhantam excessive G-force ----

      =========
      Airframe Material
      =========
      Gripen-C & E, sama seperti Eurocanards yang lain, airframe-nya juga dibuat sekurangnya 30% composite material -- lebih ringan, lebih kuat.

      Karena konstruksinya berbeda, jenis material composite yang dipakai juga berbeda antara versi C & E.

      F-16, dan Sukhoi -- karena mewarisi desain tahun 1970-an, rata2 masih lebih memakai metal alloy material -- Titanium untuk Sukhoi, aluminium untuk F-16.

      Delete
  7. Min, apakah yg terjadi jika ada perang terbuka antara NATO dengan Russia?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya dalam keadaan sekarang, sudah memasuki era Perang dingin II: tidak akan ada yg berani memulai perang terbuka.

      Dalam jangka panjang, sebenarnya Russia yang kesulitan sendiri, karena beberapa faktor seperti dalam artikel ini:

      ## Ekonomi Russia sudah resesi, dan defisit APBN mereka semakin melebar dari tahun ke tahun, akibat ketergantungan dngn harga minyak mentah, dan embargo ekonomi EU / US.

      Pencaplokan Crimea juga sebenarnya menciptakan semacam "krisis ekonomi" lokal (di Crimea) yg menghisap dana dari APBN Russia.

      ## ...dan dengan sendirinya, Anggaran Pertahanan Russia akan harus ikut menurun.

      Belum lagi menghitung kalau partisipasi Russia di Syria, dan campur tangan mereka di Ukrania Timur sbnrnya juga lebih banyak lagi menyedot dana dari anggaran militer Russia.

      ## Terakhir: Faktor Ukrania.

      Masalah utama: Mesin roket, dan bbrp komponen untuk (nuklir) ballistic missile Ruski, sebenarnya diproduksi pabrik2 Ukrania.

      Tentu saja, juga produksi missile, atau beberapa komponen untuk pesawat, helikopter, & kapal perang sebenarnya tergantung pada produksi Ukrania, dan semuanya itu tidak akan bisa disubsitusi dengan produksi lokal.

      Kita lihat saja perkembangannya bagaimana beberapa bulan / tahun ke depan.

      Delete
  8. Yah gripen bisa membawa berbagai jenis rudal. Andai kita deal membeli gripen Dan trus produksi buat Tni sendiri, apakah nanti juga akan membayar royality terhadap para produsen rudal tersebut / semua royality masuk ke Saab semua. . pertanyaanya ngawur man ??? Hahaaha , eh merakit .. hikshiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Rochmat,

      Untuk n3gosiasi pembelian missile untuk Gripen:

      Itu akan terserah pembeli mau memilih dari supplier mana.
      Kedaulatan di tangan pembeli, bukan penjual.

      Inilah kenapa Gripen sebenarnya pilihan yg paling anti-embargo.

      Website Saab hanya menawarkan Diehl IRIS-T, dan MBDA Meteor; dua jenis missile dimana Swedia turut menjadi pengembang.

      Kalau mau bernegosiasi dengan pemerintah UK untuk membeli ASRAAM, boleh.

      Mau mengisi kantong belanja dengan A-Darter dari Denel Systems, Afrika Selatan, atau Phyton-5 dari Israel juga boleh.

      Mau membeli tambahan AIM-9X, dan AMRAAM, agar compatible ke F-16, yah, silahkan!

      Dengan F-16, kita akan selalu dikutuki untuk hanya bisa membeli dari Washington DC.

      Sukhoi lebih parah lagi, karena tidak seperti US, missile-nya pun hanya "versi export" kualitas abal2.

      RVV-AE -- terutama, hpir mustahil bisa menembak jatuh pespur Barat manapun.

      ...dan Su-35K sudah dikutuki sari awal hanya bisa memakai missile ini. Tidak ada pilihan lain kecuali membeli senjata dari agen perantara resmi Ruski.

      Delete
    2. ...kalau berpikir mau membuat missile sendiri, ini sama seperti berpikir mau membuat pespur sendiri.

      Terlalu jauh dari kemampuan yg sekarang.

      Seperti bisa dilihat disini, membuat BVR missile itu sulit, dan Ruski sebenarnya boleh dibilang gagal.

      Tetapi kalau di kemudian hari, industri kita bisa membuat suatu perlengkapan, missile, atau smart bomb sendiri yg bisa di-export..

      Yah, kembali mengintegrasikan senjata baru ke Gripen itu paling mudah, dan paling murah.

      F-16, atau Sukhoi tidak akan diperbolehkan untuk memasang senjata lain.

      Delete
  9. Saya baca di DSCA.MIL wah itu proporsi missile dengan jet fighter kita kok timpang sekali, itu Indonesia yang belinya dikitnya bukan main atau ada pembatasan dari US,ini waduh kita entah konsep berpikirnya yang salah atau udah jadi ajang permainan US, juga saya baca di denel dynamics iri liat industri persenjataan afrika selatan, mereka udah bisa bikin short air to air missile R-darter dan BVR A-darter dan dua duanya kompatibel dengan Gripen C/D nya mereka. Gak tahan saya liat Indonesia terjebak dengan kekonyolannya kita ini kayak jadi bahan permainan US dan Russia. Semoga aja begitu Sukhoi kita dipensiunkan dan masa terbang F-16 kita usai, Indonesia bisa menggunakan satu tipe fighter jet aja Gripen C/D atau Gripen E/F dengan MBDA sebagai partner pengadaan missile atau gak bisa seperti Afrika Selatan mandiri dan saya baca juga Denel Dynamics bisa bikin Umkhonto missile yang bisa jadi pertahanan surface to air frigate mereka iri saya liatnya. Semoga pemerintah menggolkan kerja sama SAAB, dan mungkin di masa yang akan datang Indonesia bisa bikin missile kita sendiri minimal untuk AL dan arhanud seperti RBS Mk 3, RBS 23 dan RBS 70

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, bung Thomas.

      Paling tidak, sebenarnya membeli dari US, transaksinya masih lebih transparan, karena semua detailnya tercantum dalam dokumen DSCA.

      Apa yg tidak terlihat dalam dokumen DSCA, adalah downgrade secara source code.

      Kalau kita membeli F-16V dengan AN/APG-83 AESA radar misalnya, dapat dipastikan tidak akan mempunyai kemampuan untuk bisa melihat F-35 di radar.

      Ini bukan karena F-35 stealth, tetapi... programming untuk beam APG-83 akan diatur sedemikian rupa, untuk memastikan hal ini.

      IF-X, kalau kesampaian, akan mendapat pengurangan yg sama, tidak peduli Korea mau memilih radar buatan mana; karena Wahington DC akan mempunyai wewenang penuh atas spesifikasi, dan Lockheed akan mengontrol Source Code.

      Sukhoi tentu saja jauh lebih parah: Kita hanya akan semakin dibodohin.

      Karena transaksinya lewat agen perantara, Russia tidak pernah mendetailkan apa yg sudah dijual.

      Komisi lebih penting.

      Spesifikasi apa yg diberikan, bahkan dua belah pihak yg tandatangan kontrakpun tidak akan pernah bisa tahu (!)

      Dan tidak seperti US, missile Ruski-pun versi export!

      Membeli RVV-AE seperti membeli AIM-4 Falcon dari US: generasi BVR missile pertama yg mulai dibuat dari tahun 1946, dan sekarang sudah dipensiunkan karena terlalu kuno, dan tidak lagi laik pakai.

      Seperti sy sudah tuliskan kalau masih mau beli versi export berarti:
      Pilih sendiri penjajah anda: Mau dijajah balik Belanda, atau Jepang?

      Sampai kapanpun memang kita hanya akan dibodohin terus-menerus.
      Karena namanya mau terus menjajah, mana mau si penjajah melihat kita tambah pintar / mandiri?

      Sayangnya, Kesadaran Nasional masih minim.

      Sangat menyedihkan melihat para "versi export fanboys", baik pejabat maupun komentator forum banyak yang lebih memilih untuk terus dijajah dibanding memerdekakan diri.

      Kita berharap pemerintah Jokowi tidak akan mengulangi kesalahan2 pemerintah2 sebelumnya re Alutsista, karena yang akan membayar dampak kerugiannya 50 tahun ke depan, bukan kita; melainkan beberapa generasi anak cucu kita yang selanjutnya.

      Delete
    2. Sebenarnya kalau bahas SAAB itu unik sekali, soalnya kalau ngomong F-16 atau Sukhoi ya udah cuma itu itu tok, nah sedangkan SAAB itu segalanya bisa dibahas tadi aja saya baca di laman resmi SAAB, mereka punya perlengkapan ASW untuk frigate and corvette kayak LWT torpedo dan HWT torpedo, sangat disayangkan untuk dilewatkan tawaran dari SAAB karena itu bakal buka pintu untuk berbagai macam kemungkinan-kemungkinan kerjasama yang bisa dilakukan Indonesia. Terima Kasih

      Delete
    3. Asyik kan, membahas Saab?

      :)

      ## Mereka bisa menawarkan banyak macam produk, baik udara-darat-laut; satu2nya produsen ug menawarkan AEW&C, dan National Networking....

      ## Saab juga sudah mengumumkan resmi kalau dalam setiap penawaran mereka;berkomitmen untuk memenuhi persyaratan UU no.16/2012, dan lebih lagi... karena mereka menjanjikan kerjasama jangka panjang yg tak berkesudahan.

      ## Saab menawarkan untuk menjadi partner Negara kita untuk membangun industri pertahanan / kemampuan kita agar lebih maju, dan lebih mandiri.

      ## Lebih penting lagi, segala bentuk penawaran Saab tidak hanya akan memenuhi semua kebutuhan, tetapi juga biayanya tidak akan pernah diluar kemampuan finansial kita.

      Anggaran pertahanan Swedia saja hanya $6 milyar di tahun 2015.

      Mereka tidak akan mau membuang2 uang untuk platform kemahalan, seperti AEGIS destroyer, F-22, F-35, atau Sukhoi yang biaya op-nya lebih mahal dari F-22, tetapi jauh lebih inferior.

      ...tetapi kemampuan militer / industri / tehnologi Swedia tetap saja jauh lebih unggul dibandingkan banyak negara yg budgetnya jauh lebih tebal, seperti Korea, atau Australia.

      Ini membawa kita ke point terakhir,

      ## Saab Swedia akan dapat menjadi guru / teladan yg baik untuk mengubah pola pikir kita, dari kekacauan yg sekarang yang "lebih penting aksi daripada nasi", menjadi....

      "Bagaimana setiap rupiah yang kita keluarkan hasilnya bisa ratusan kali lebih efektif vs negara2 berkocek tebal!"

      Delete
  10. Akhirnya Su 35 batal dibeli oleh pemerintah, Disebabkan karena :
    1. Adanya korupsi Alutsista
    2.Harga pespur yg tidak jelas
    3.ToT yg persennya tipis
    4. Presiden Jokowi mencium Adanya Agen Perantara selama transaksi pembelian Alutsista Made In Rusia, yah si agen resmi Rosoboronexport.

    Sudah jelas bahwa Su 35 tidak cocok buat kebutuhan RI dewasa ini.walaupun Su 35 sengaja tidak dimunculkan beritanya Kata TNI dengan Alasan Rahasia negara , Toh akhirnya peluang Su 35 buat RI Gugur juga.

    Pemerintah jokowi akhirnya mulai mengevaluasi Saab Gripen untuk Kebutuhan TNI AU sekaligus besarnya ToT yg bisa diberikan, Harga pesawatnya, biaya cost per hour, dan kerja sama jangka panjang.

    Soal Gripen versi latih yg tanpa kanon internal dan drag chute, itu bukan masalah pelik, Setelah dapat tot ketika abis beli, kita bisa memodifikasinya dengan memasang kanon mauser bk 27 pada bagian bawah kanan pesawat agar semampan serta tambahan drag chute agar lebih baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita tunggu saja pengumuman resmi pemerintah.

      Memang sedari awal fokus pemerintah Jokowi sudah memprioritaskan pembangunan industri pertahanan lokal, dan membangun kemandirian.

      Saab akan menjadi pilihan terbaik untuk Indonesia.

      Mereka tidak hanya menyediakan Gripen, yang biaya opnya murah; sesuai dengan keterbatasan anggaran, tapi mereka juga sudah mempunyai reputasi yg sangat baik utk menjadi local partner di negara pelanggan.

      Dilain pihak, memang sudah saatnya mengugurkan Sukhoi, yg hanya memberi makan perantara, memboroskan keuangan negara, dan membuat para fanboys gegap gempita, padahal efek gentar bisa dipastikan nihil.

      ## Untuk Gripen twin-seater, kita tidak perlu terlalu pusing dulu.

      Versi-D memang sebenarnya lebih dioptimalkan untuk conversion training drpd Air Superiority Fighter; makanya tidak membbawa internal gun BK-27 --- salah satu alasan, karena tidak muat(!)

      Lebih lanjut, twin-seater akan lebih draggy & lebih berat, krn canopy-nya juga lebih besar. Kapasitas bahan bakar juga berkurang, krn harus menyediakan space untuk crew kedua.

      Yah, single-seater sebenarnya selalu lebih optimal untuk pespur Air Superiority murni.

      ## Drag chute -- Gripen tidak memerlukan chute, karena mempunyai kemampuan STOL (Short Take Off & Landing)
      Front canard-nya dapat berfungsi sebagai pengerem laju yg sangat efektif; ini bisa dilihat di Youtube.

      Delete
    2. Maaf itu beneran kita batal soalnya kok dibaca di Diplomat.com katanya lagi ada pembicaraan intensif antara Indonesia Russia menurut Vladimir Kozhin ( penasihat pertahanan Presiden Russia), saya setujunya sih batal cuma kok baca di diplomat.com tanggal 2 Desember dibilangnya masih pembicaraan intensif, tapi ya semoga aja batal lah. Terima Kasih

      Delete
    3. Secara tehnis, sebenarnya Su-35 sudah dibatalkan dengan pernyataan Presiden Jokowi 20-Juli yang lampau.

      Presiden Jokowi kemudian juga melemparkan kritik yg cukup pedas:

      "Tidak boleh lagi membeli pesawat tempur tanpa berhitung berkalkulasi biaya daur hidup alutsista tersebut dalam 20 tahun ke depan."

      Kalau masih ada pembicaraan "masih nego", ya, silahkan saja mencoba menaruh harapan!

      Tidak akan ada lagi pembelian Sukhoi.

      Apalagi setelah menghitung pengalaman pahit di Sku-11, yg memakan proporsi anggaran operasional lebih mahal dibanding total anggaran untuk 5 Skuadron tempur jet lain, tapi jam terbangnya masih jauh lebih sedikit.

      Efek gentar NIHIL.

      Dengan Presiden juga sudah menunjuk Sri Muliani sebagai MenKeu, yg akan menerapkan displin fiskal untuk APBN, boleh dibilang sudah menutup peti mati untuk pesawat pecinta komisi perantara ini.

      Delete
  11. Sudah lama tak berkunjung ke blog INI. Salam sehat bung dark rider


    Bung eki@ kabar ITU bikin fans boy sukhoi di jkgr menjadi galoon pastinya, wkwkwkwk


    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat bergabung kembali, bung endo;

      :D
      Memang sudah saatnya mengakhiri era diskusi "fanboys", dan belajar lebih dewasa untuk memperhatikan dulu kepentingan negara.

      :D

      Delete
    2. Berbicara soal kemampuan otak rudal , kita ketahui Saab juga mempunyai rudal darat keudara Rbs 23 yg mempunyai jangkauan 20 km . Dan mempunyai beberapa rudal yg Saab juga ikut mengembangkan.

      Sementara Indonesia belum bisa membuat rudal, kalau rocket kita tau Ada r Han . itupun hnya rudal yg tak berpemandu


      Delete
    3. Inilah kenapa kita harus menerima tawaran kerjasama Saab.

      Setiap paket mereka sekarang, ataupun di masa mendatang; termasuk RBS-23, akan 100% compliance ke UU no.16/2012.

      Kita tidak hanya akan "dipelihara" supaya menjadi pembeli / pemakai yg baik, seperti perlakuan Washington DC (atau Seoul -- sama saja), ataupun Moscow sekarang.

      ... dalam kerjasama dngn Saab, akhirnya kita mendapat kesempatan untuk belajar memahami, dan akhirnya berpotensi untuk bisa lebih berinovasi di masa depan.

      Delete
    4. Yah betul sekali bung,
      Memgingat Saab adalah produsen alutsista yg cukup komplit, alangkah baiknya Kita menggandeng Saab untuk memajukan kekuatan sekaligus Industrial pertahankan kita .


      Delete
  12. Berita di JKGR
    2 Desember 2016,
    indonesia-Rusia Masih tawar menawar harga Su 35. Apakah kenyataan atau manipulasi publik?

    tapi jawaban saya : Mudahan Su 35 nya dibatalkan pesanannya segera, aminnn.

    Sukhoi Gugur, Gripen Menyusul, Kemandirian Nasional Datang dengan ToT

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hm, sekali2 mengunjungi JKGR lucu juga.

      Sy sedang berpikir hal ini:
      ===========
      ....padahal gajah ada di depan mata, tetapi kuman di seberang lautan yang kelihatan
      ===========

      Eurofighter Typhoon, dan Dassault Rafale keduanya dianggap terlalu mahal, walau masih menawarkan ToT.

      Padahal baik Su-35, dan IF-X sebenarnya akan jauh lebih mahal vs kedua Eurocanards twin-engine (sekurangnya 2 -3x lipat), dan selain itu...

      .... kemampuan tempur keduanya juga versi export yg jauh lebih inferior.

      Yang tidak banyak disadari orang, sebenarnya harga pespur itu hanya 25% dari total cost yg harus dibayar negara dalam 30 tahun ke depan.

      Twin-engine prpororsi % harga belinya dengan sendirinya akan lebih kecil vs F-16 & Gripen, karena biaya opnya lebih tinggi.

      Sukhoi harga belinya hanya 5% dari total cost... untuk 20 tahun saja. 20% bagian dari total cost hanya akan dimakan komisi perantara.

      IF-X, kalau mengambil asumsi proyek ya masih akan jalan tahun depan (kelihatannya tidak!), sebenarnya malah jauh lebih parah.

      pesawatnya saja belum ada. Production toolingnya saja tidak akan dibuat sampai 20 tahun lagi.
      Harga per unit nya, karena jumlah produksinya sedikit, tidak mengherankan kalau menembus $200 juta.

      Delete
  13. Sukhoi pada Skuadron 11 yg total jumlahnya 16, yg terbang cuma 4, Sisanya ada yg rusak karena kekurangan Sucad, 4 nya lagi membutuhkan perbaikan mendalam gak pulang pulang.

    Padahal Sku Sukhoi yg harus dipermasalahkan, bukan Sku F5E tiger.

    Untuk IFX, Must be cancelled, karena hanya menjadi F16 kelas 10

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti sy akan membuka daftar operational readiness di Sku-11; kalau bisa, setiap pembaca bisa memberi update status setiap Sukhoi itu skrg bagaimana.

      Misalnya:
      TS-2701 & 2702 -- Masih mudik

      TS-3001 & 3002 -- tidak aktif sejak 2008

      TS-3006 --- aktif karena baru perbaikan mendalam.

      TS-2703 - 2705, dan TS-3003 - 3005 sepertinya sudah 1 - 2 tahun nggak nongol.

      Kita akan membuat daftar untuk melihat status setiap unit, dan akan terus di-update.

      Sudah saatnya era manipulasi opini publik dihentikan, dan belajar melihat kenyataan.

      Delete
  14. Min, mengapa pilot soviet pada awal perang dingin lbh terlatih daripada pilot barat?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya pilot Soviet tidak pernah bisa mengungguli pilot Barat.

      Training sudah selalu menjadi masalah terbesar mereka.

      ## Dalam jaman PD II, pilot2 Luftwaffe Jerman banyak yang menjadi "Ace"; menembak jatuh lebih dari 40 pesawat lawan, mayoritasnya Soviet.

      Erich Hartmann, top Ace Jerman, menembak jatuh 352 pesawat; 345 Soviet, sisanya 7 US.

      ## Semasa tahun 1950 - 1970an, sebenarnya perbedaan kemampuan antara pilot Barat vs Soviet sempat menipis (ini yg sepertinya anda maksud).

      Ini dikarenakan beberapa faktor:

      ## Pilot Soviet dahulu masih dapat mengandalkan MiG-15 / 17 / 21 -- tiga tipe yg biaya operasionalnya super murah, dan lebih bandel.

      Dengan sendirinya lebih mudah untuk menambah jam training, dibanding sekarang sudah terjerat keluarga Su-27 & MiG-29, yang lebih rumit, dan lebih gila maintenance.

      Inilah salah satu faktor kenapa kedua model ini sebenarnya dua kesalahan besar Soviet, yg terlalu terobsesi utk "mengimbangi" F-15 & F-14.

      ## Sistem training Barat, khususnya hanya USAF, sempat mengendur di tahun 1960-an, karena menaruh terlalu banyak kepercayaan ke BVR combat --- akibatnya pilot2 USAF di masa ini minim training pertrmpuran jarak dekat.

      MiG-15/17/19 dengan mudah dapat mengimbangi/membantai F-4 Phantom, atau F-105 di atas Vietnam.

      ## Sebaliknya, Israel, yg sampai sekarang sebenarnya juga belum menaruh kepercayaan penuh ke BVR Combat, tidak pernah menghadapi masalah yg sama.

      Mereka pernah sengaja memancing MiG-21 yg dipiloti Soviet untuk Mesir, dalam pertempuran udara di atas Kairo.

      Hasilnya Soviet kalah telak 5:0 + 1 MiG rusak.

      Delete
    2. Iya min, pilot soviet lebih handal waktu msh pake MiG-15/17/19/21

      Delete
  15. bung 25 RVV-AE yg kita beli 2011 sekarang sudah tersisa berapa?
    kalaupun hanya dipakai latihan pun seharusnya sekarang sudah berkurang banyak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung irman,

      Kalau untuk "live round testing" BVR missile;
      kebanyakan AU di dunia, termasuk TNI-AU, sebenarnya tidak mempunyai kemampuan untuk bisa mencoba sendiri.
      Jadi yah, setelah dibeli, hanya akan dicantoli saja ke pespur sewaktu-waktu.

      Hanya beberapa negara yang mempunyai kemampuan untuk mengetes live-round BVR missile:
      US, UK, Australia, Swedia, Jerman, Israel, Afrika Selatan, PRC, Russia, dan Jepang.

      ## Pembuat missile (kecuali Russia), biasanya akan sering melakukan testing; baik untuk quality control, atau untuk menerapkan periodic upgrade.

      ## Secara tehnis, walaupun Swedia tidak membuat BVR missile sendiri, sebenarnya hampir 90% testing untuk MBDA Meteor dilakukan dalam Gripen testing range di Swedia.
      Upgrade untuk Meteor di masa depan, kemungkinan kembali, akan di-tes diatas Gripen terlebih dahulu, dibanding Typhoon / Rafale; yang bahkan masih belum siap memasang Meteor sampai 1 - 2 tahun ke depan.

      ## Lebih lanjut:
      --> India terhitung masih baru belajar.
      --> Kualitas testing missile dari PRC kemungkinan hasilnya "unreliable"
      --> Ruski mempunyai kemampuan, tapi jarang testing; kemungkinan skill-nya juga sudah mulai hilang.

      Yang menjadi masalah untuk RVV-AE: sudah kemampuan kill-nya akan nihil, dan shelf-life-nya pendek.

      Dari 25 unit yang dibeli, mungkin belum tentu masih ada 15 yang masih bisa bekerja.

      Tapi begitulah, the top brass sepertinya senang menerbangkan pespur telanjang (tanpa senjata), dan masih ingin menambah lebih banyak lagi jumlah lagi.

      Inilah kenapa kembali ke topik sebelumnya:
      Kita tidak membutuhkan "pengganti F-5E, atau lebih banyak pespur untuk mencapai MEF.

      Lebih baik F-16C/D bisa terlebih dahulu dipersenjatai 4 BVR, dan 2 WVR missile; atau 2 BVR / 4 WVR missile.

      Delete
    2. kalau begitu bagaimana cara pilot2 kita berlatih BVR bung mengingat pilot2 kita terhitung hijau kalau umtuk urusan BVR combat

      Delete
    3. Untuk Sukhoi memang tidak akan pernah ada harapan.

      F-16 Block-25+, kalau akuisisi AMRAAM C-7 pertama yang sudah diberlakukan sejak Mei-2016 lalu mulai pada berdatangan,
      baru pilot kita mulai ada harapan.

      Step-by-step process.

      Delete
  16. Saya ngeliat di youtube video scenario kayaknya ceritanya lattar belakang lokasi Afrika. Gripen C/D NG ngelawan musuh dengan Su-35. Terus misil yang digunakan Meteor MBDA, top bener meledak di langit tuh Su-35 sama jembatan untuk penyerangan darat lawan diruntuhkan pakai RBS 15 yang ditembak dari Gripen C/D NG. Sebenarnya sih menurut saya Indonesia harus meningkatkan pembelian Missile AIM-9x dan AIM-120c, itu yang paling penting. Masalah pengganti F-5 kalau Gripen C/D NG dilengkapin misil-misil buatan MBDA udah cukup terbaik. Masalah penambahan skuadron untuk pengganti Hawk 109/209 mungkin bisa dipikirkan pas MEF-3 aja mumpung Gripen E/F udah tersedia 2020an keatas

    ReplyDelete
    Replies
    1. :D

      Video tsb hanya iklan Saab, tapi memang menggaribawahi satu hal:

      Gripen sudah dirancang dari awal untuk dapat melibas Sukhoi dengan mudah; versi manapun juga.

      Untuk akuisisi masa depan (Sukhoi, dan BAe Hawk-209 akan butuh pengganti), lebih baik daripada membagi antara dua variant Gripen, lebih baik kita langsung melompat ke Gripen-E.

      Biaya operasionalnya akan lebih murah.

      Ini akan dibahas selanjutnya.

      Delete