Friday, November 25, 2016

News Update: November-2016

Gripen-E 39-8 Ground Testing  (Credits: Saab)

Artikel ini akan menjadi fitur baru per mingguan, atau per dua mingguan dalam blog ini, yang memuat beberapa "News Update" dari perkembangan industri / pasar pesawat tempur.

Karena ini adalah edisi pertama, artikel akan menampilkan empat cuplikan dari laporan sepengunjung November-2016 ini. 




10 - 14-Nov-2016: F-15SG, dan F-16C/D Block-52+ Singapore berlatih untuk beroperasi dari jalan raya

F-15SG mendarat di Lim Chu Kang Rd, Singapore
(Gambar: Alert5)
Sumber: The Aviationist

Bukan. Ini bukan berarti F-15SG, dan F-16 juga bisa belajar untuk mengadopsi kemampuan Gripen untuk beroperasi dari jalan raya. 

Perhatikan Google Map Image berikut:

Lim Chu Kang Rd, letaknya tepat di sebelah Barat dari Tengah AB, pangkalan udara RSAF, dan terlihat jelas sudah dirancang dari awal untuk dapat dioperasikan sebagai landasan pacu cadangan. Tujuan RSAF dalam latihan ini cukup jelas; mereka dengan mudah akan dapat menggandakan sortie rate, untuk mengudarakan sebanyak-banyaknya F-15, dan F-16 dalam saat Emergency. 

Ini tentu saja meningkatkan efek gentar RSAF secara nyata.

Sebagai pembanding dengan latihan RSAF, Gripen tentu saja lebih unggul, karena memang direncanakan dari awal untuk beroperasi jauh dari pangkalan udara manapun, dengan support minimal. In the middle of nowhere. Gripen hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk dapat dipersenjatai dan diisi bahan bakarnya kembali, cukup dengan dukungan 1 truk pembawa perlengkapan support, 1 tehnisi, dan 6 orang terlatih, yang bahkan bisa dialihkan dari personil Angkatan Darat.

Lebih lanjut, perhatikan video berikut. 

F-15SG, dan F-16 membutuhkan landasan pacu yang sangat panjang, bukan?

Terlebih lanjut, lebar sayap F-15SG yang 13 meter, sebenarnya hanya akan menjadi penghambat, kalau tidak dioperasikan dari jalan raya "landasan pacu" seperti Lim Chu Kang Rd. 


18-Nov-2016: Airbus Helicopter mengirimkan 3 AS565 Panther untuk di-custom-fit dengan ASW Suite di PT DI

Airbus sudah mengantar 3 AS-565 Panther untuk kebutuhan ASW TNI-AL
(Gambar: Airbus)
Source: IHS Jane's.

Tiga unit pertama, dari 11 AS-565 Panther, yang dipesan untuk memenuhi kebutuhan ASW TNI-AL sudah tiba di Bandung, untuk memulai pemasangan perlengkapan ASW dalam joint-venture antara PT DI, dan Rotorcraft Service Group.

Daripada terus bermimpi mencoba membuat pesawat tempur sendiri, bukankah joint-venture seperti ini sudah memberikan hasil keuntungan yang lebih nyata, baik secara industrial, atau technology?

Tentu saja, AS-565 Mbe Panther buatan Airbus Eropa, sebenarnya ex-Aerospatiale Perancis, tidak akan tersedia dalam versi export downgrade.



22-Nov-2016: Canada membeli 18 F-18F++ Superhornet sebagai interim fighter; akan memulai kompetisi terbuka tahun depan

Advanced Super Hornet Prototype, mengudara di atas pabrik Boeing di St. Louis, 2013
(Gambar: Christopher P. Cavas)
Source: DefenseNews

Berita gembira untuk RCAF Canada, yang baru saja dimerdekakan PM Justin Trudeau dari jebakan politik pembelian pesawat inferior F-35 Lemon II.

Dari jumlah awal 138 CF-18A/B Hornet, attritional rate, dan dipensiunkannya beberapa airframe seiring dengan pemotongan anggaran pertahanan Canada post-Perang Dingin, berarti jumlah Hornet yang masih operasional hanya tersisa 77 unit, dan rata-rata sudah lanjut usia 30 tahun. 

Seperti F-16, umur F-18 Hornet sebenarnya masih bisa diperpanjang, tetapi pemerintah Canada sudah menghitung kalau biaya untuk MLU tidak akan sepadan, mengingat dalam banyak hal F-18 Hornet sudah terlalu ketinggalan jaman; misalnya, tidak akan ada AESA radar.

Sama seperti Australia, 18 pesawat F-18 Super Hornet sebagai interim fighter, sebenarnya adalah keputusan yang logis, dan aman untuk pemerintah Canada. Akan sangat menarik untuk melihat kompetisi terbuka RCAF tahun depan.

Lockheed-Martin masih bersikeras, kalau F-35 Lemon II masih akan dapat memenangkan kompetisi ini. 

Kalau menganalisa dengan kepala dingin, tidak tertutup kemungkinan kalau RCAF akan memilih armada penuh Super Hornet fleet, atau mixed fleet antara Super Hornet, dan salah satu tipe Eurocanards.



24-Nov-2016: First Flight untuk Saab Gripen-E akan ditunda sampai pertengahan 2017; delivery ke Swedia, dan Brazil tetap akan dimulai dari 2019

Ground Testing untuk Gripen 39-8 di pabrik Saab di Linköping
(Gambar: Saab)
Source: Aviation Week dan Flightglobal

Saab memutuskan untuk menunda first test flight dari 39-8, untuk menyelesaikan pengembangan software Gripen-E terlebih lanjut.

"Customers will be able to update cost-effectively, and quickly," menurut Lars Ydreskog, Head of Saab Operations, di London, 23-November yang lalu.

DIMA (Distributed Integrated Modular Avionics) software akan menjadi yang pertama, yang dapat memisahkan antara flight critical software, dan tactical capabilities Mission-Systems. Setiap jenis persenjataan, atau fitur perlengkapan baru akan dapat di-install lebih murah, dan lebih cepat dibandingkan dengan semua pesawat tempur Barat yang lain, tanpa mempengaruhi kemampuan flight software.

Tidak seperti software Block-3i di F-35, yang masih terbatuk-batuk, belum selesai, dan hanya bisa operasional 8 -10 jam sebelum perlu di-reboot ulang, Saab sejauh ini sudah berhasil mengetes kestabilan DIMA, yang sudah di-install dalam simulator, untuk dapat tahan operasional 500 jam.
Unit 39-8 pertama kali menyalakan mesin 27-Agustus
Mesin F414 GE-39-E sudah memulai Ground Test Run sejak akhir Oktober

Semuanya berjalan lancar tanpa masalah
(Gambar: Saab)
Menurut Saab, delivery untuk Gripen-E pertama Swedia, dan Brazil tetap akan dimulai sesuai jadwal mulai tahun 2019. Schedule slip sebenarnya adalah sesuatu yang normal dalam semua development project, dan karena bukan tidak mungkin, Saab akan menemukan hiccups lain. Dengan demikian, delivery schedule ini juga kemungkinan akan tertunda beberapa bulan.

Milestone berikut yang dinantikan dari flight test Gripen-E jelas: Testing untuk Sensor Fusion, dan kemampuan Supercruise.


34 comments:

  1. Dalam latihan yg dilakukan singapura, katanya juga lampu jalan dicopotin .

    Soal gripen E yg terbang perdana katanya diundur. Maksud bung GI 100% gripen E yg full gripen E
    Katanya sudah Ada beberapa pengujian by dijalani lbih Dari 100 jam, mohon penjelasanya min ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Rochmat,

      ## Sebenarnya semua pespur dapat dioperasikan dari jalan raya yang lurus & halus, selama ukurannya cukup lebar, dan cukup panjang; dan semua sarana infrastruktur pendukung juga siap.

      Kelebihan Gripen, kebutuhannya akan jauh lebih minimal vs F-15, dan F-16, dan hanya membutuhkan panjang jalan 600 meter.

      ## Saab Gripen ground testing
      ========================
      Sedikit background info terlebih dahulu: Saab sbnrnya berencana untuk memulai pola baru dalam development dimana semua "bugs", atau kesulitan2 akan dicoba untuk dipangkas habis sebelum memulai flight testing. Pola yg sama juga akan diterapkan dalam proyek Boeing T-X.

      Sekilas, ini kelihatan mirip dengan proyek pespur lain, tapi...

      Biasanya setelah mencapai milestone tertentu, pesawat dari pembuat lain lantas akan diterbangkan untuk di uji coba. Biasanya disinilah si pembuat akan menemukan "bugs", atau kesulitan2 baru, yang kemudian harus diperbaiki. Ini akan selalu menunda jadwal proyek, dan menambah biaya.

      Saab berencana untuk menghilangkan masalah di atas di Gripen-E, sehingga flight testing nanti diharapkan sudah hampir "bug free". Secara teori, ini akan mempercepat, dan mempermurah development.

      Pengujian yang sudah "beberatus jam" diatas, sebenarnya lebih menunjuk ke stabilnya DIMA software untuk Gripen Echo, yang sudah di-upload ke simulator untuk "stress test".

      Tentu saja, semua aspek lain juga sudah di-tes, walau tidak diberitakan secara mendetail.
      Salah satu contoh lain dalam artikel Flightglobal, yah, ground testing untuk mesin F414.

      Delete
  2. Indonesia kabarnya sangat sulit menolak tawaran saab gripen dan erieye, karena ToT nya sangat banyak dan paket gripen systemnya menggiurkan. bahkan sampe ada pejabat pertahanan RI mengatakan "gripen memang sangat cocok buat kebutuhan negara kita, insya allah gripen ini yg dibeli sama presiden".


    dan akhirnya fansboy sukhoi semakin berang dan patah hati. Wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung eki,

      Memang sejak pernyataan presiden Jokowi, 20-Juli yang lampau, kelihatannya kita memang sudah mulai mengarah untuk mengambil tawaran Saab: satu2nya pilihan yg menawarkan pemenuhan persyaratan UU no.16/2012, dan menjanjikan tawaran kerjasama jangka panjang yang paling menguntungkan.

      Memang seperti yang dikatakan Marsekal Agus Supriatna tempo hari juga tepat: "Kita membutuhkan pesawat yg biaya op-nya lebih murah dari F-16, atau Sukhoi."

      Hanya saja, kalo untuk tutup kontrak, IMHO, kita sepertinya harus menunggu 1 - 2 tahun lagi, dan ini bukan sesuatu yg negatif:

      ## Perekonomian negara, biar bagaimanapun lebih penting, daripada keinginan kita untuk TNI-AU cepat2 menambah pesawat tempur.

      ## Sukhoi sebentar lagi usia airframe-nya akan kadaluarsa, dan akan segera membutuhkan pengganti.
      Bagi yg masih mau mendukung Sukhoi akan merasa serba salah.

      ## Seperti dalam topik sebelumnya, realita ketidakpastian / mandeknya proyek KF-X / IF-X juga akhirnya akan mulai mengigit.

      ## Terbuka kemungkinan lebih besar, kalau Saab akan mengajukan penawaran resmi untuk Gripen-E daripada Gripen-C.

      :)

      Delete
  3. Saya sebenarnya lebih suka kalau Indonesia cuma menggunakan 2 tipe jet tempur, F 16 sama SAAB Gripen, terus tinggal meningkatkan kualitasnya aja seperti missile, network system, dan helm mounted.Soalnya kebanyakan jenis pesawat tempur malah ribet sendiri urusan logistiknya lagian Su 27/Su 30 itu hambur biaya operasional, mesin cepet rusak, boros anggaran. Pengen nya sih Dirgantara bisa mengajak SAAB untuk jadi partner Indonesia sampai seterusnya. Kemarin baca berita juga menhan ryamizard ryacudu ingin import alutsista tapi yang mendorong kemandirian Indonesia. Indonesia harus main bijak ini.Terima Kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Thomas,

      Begitulah.

      Memang sudah seharusnya kita mulai belajar lebih bijaksana dalam manajemen struktur pertahanan udara:

      ## Saatnya berhenti berpikir kita akan membutuhkan 180 pesawat tempur, atau 10 Skuadron.

      Selain secara struktur, dan logistik saja akan terlalu merepotkan, keuangannya juga tidak akan pernah bisa cukup memadai.

      Belum lagi menghitung berapa paket remunerasi pilot & ground crew --- dengan sedemikian banyak, mana bisa bersaing dengan AirAsia, atau LionAir?

      ## Jumlah tipe yg dioperasikan memang harus dikurangi bertahap untuk menghemat biaya.

      Lebih ekonomis untuk mengoperasikan hanya satu, atau dua tipe, tapi masing2nya dalam jumlah lebih dari 30 unit.

      Langkah yg paling logis jangka menengah memang memilih armada F-16 & Gripen.

      ## Sukhoi di Sku-11 lebih cepat dipensiunkan lebih baik. Tidak hanya mahal, dan hanya utk membayar perantara, tp krn maintenancenya repot / gampang rusak, pilotnya juga tidak akan mendapat cukup banyak jam terbang vs F-16, atau BAe Hawk.
      Efek gentar nihil.

      Mempensiunkan Sukhoi akan membebaskan keuangan negara untuk.....

      ## Investasi di infrastruktur pendukung yg lebih penting vs jumlah pesawat tempur.

      Kita lebih membutuhkan National Networking, pesawat Erieye AEW&C, lebih banyak persenjataan / perlengkapan, dan pesawat tanker baru utk menggantikan KC-130B yg tinggal satu unit.

      Delete
  4. kalo urusan pesawat tanker, TNI AU tertarik dengan A400M. tapi masih ditinjau ulang. dan pesawat AEW tertarik dengan Erieye dan Global eye.

    Urusan Rudal hanud jarak menengah dan jauh, TNI AD menolak membeli Pantsir S1, S300, dan buk M2. Malahan tertarik untuk membeli Rudal SAAB BAMSE buat di connect sama oerlikon Skyshield dan juga demi ToT.

    Bung GI, kalo BAMSE diconnect sama oerlikon skyshield, jadinya membentuk National Air defence system. biar lebih afdal.

    Hari Gripen indonesia dan Indonesian-Sweden akan semakin mendekat. kalo mau memfollow Saab di instagram . follow id. saab.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Untuk pesawat tanker; C-295 akan menjadi pilihan yg lebih baik, dan lebih ekonomis.

      Saat ini C-295 Tanker masih dalam tahap development oleh Airbus.

      ## Bagus kalau TNI-AD tidak tertarik dengan SAM sistem tradisional.

      SAM sistem yg "mengerikan" di kelas S-300/S-400 sebenarnya tidak hanya terlalu mahal, tapi juga semakin rentan dewasa ini terhadap ancaman ----- long-ranged, atau medium-ranged cruise missile.

      S-300 system (versi export) harganya lebih dari $1 milyar, dan biasanya diperlengkapi 16 missile. Reload time tidak disebut, kemungkinan lumayan molor. Servive life dari missile buatan Ruski juga sebenarnya cepat kadaluarsa.

      Taurus KEPD, MBDA Stormshadow, atau AGM-158 JASSM terrain-folowing cruise missile; jarak jangkaunya melebihi S-300, lebih sulit terdeteksi karena terbang rendah, RCS juga rendah, dan harganya kurang dari $1 juta.

      Yang saat ini memang sengaja tidak banyak dipublikasikan
      ...

      ... belasan cruise missile ini akan lebih dari cukup untuk melumpuhkan SAM sistem tradisional.

      ## Saab BAMSE, setelah melihat beberapa publikasi termasuk generasi yg lebih modern.

      @@ Fully Networked, membuat sistemnya dapat disebar ke berbagai tempat
      @@ Pusatnya adalah radar Giraffe; AESA radar dengan Gallium Nitride transmitter -- pertama kali di dunia, dan gelombang radarnya akan lebih sulit terlihat.
      @@ Lebih dioptimalkan untuk menembak jatuh cruise missile
      @@ Reload time cepat, kurang dari 5 menit

      Delete
  5. Mengenai sistem pertahanan udara jarak menengah, Indonesia katanya punya 3 kandidat : NASAM 2, Skydragon, dan BAMSE SAAB. Sebenarnya kalau menurut saya lebih prefer nya BAMSE soalnya ga ada muatan politik apa apa Swedia, profesional murni. Perbaikin peluncur dan radar kayaknya gak mungkin lah ada embargo terus misil RBS 23 nya kan ready stock,proses nya pembeliannya kayaknya gak banyak ribet kayak ke US, kalau NASAM, misil nya kan dari US, apa congress dan senate bisa langsung menyetujui pembelian misil misil nya, 50 - 50, sedangkan kalau Skydragon bukannya apa produk China emang murah,tapi kualitasnya meragukan, kayak kemarin peluncuran C 705 yang gagal. Tapi mungkin admin lebih bisa menerangkan.Terima Kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Versi Export, atau bukan?
      ======================
      PRC sebenarnya sama seperti US, dan Russia: hanya menjual versi export downgrade.
      Apa yang dituliskan di brosur, tidak akan sama dengan apa yg kita dapat.

      Lebih parah lagi, seperti contoh C-705, produk buatan PRC kualitasnya "jaminan mutu" -- sudah hasil tehnologi jiplakan, quality control minim, dan masih di-downgrade.

      Inilah kenapa di Indonesia perbandingan antara produk mana yg lebih unggul sebenarnya kurang relevan.

      Produk yang bukan versi export, atau seperti anda sebut, muatan politik dari penjual tidak ada --- akan selalu menjadi produk yg lebih unggul.

      ## Kemampuan model
      ==================
      Saab BAMSE tentu saja juga produk yg memang kemampuannya lebih baik vs versi lokal kedua jenis tadi:
      --- Giraffe A4 AESA radar dngn Gallium Nitride Transmitter -- pertama kali di dunia; kemampuan targeting lebih baik, dan lebih sulit dikunci anti-radiation missile.
      --- High mobilty, mudah dipindah2kan
      --- Easy reload -- hanya perlu 5 menit untuk mengisi missile baru
      --- Dirancang untuk menghantam target RCS rendah, spt stealth fighter, atau yg lebih berbahaya, cruise missiles..
      --- Seperti semua produk Saab, dirancang untuk low maintenance, dan missile-nya sendiri akan mempunyai long shelf life.

      ## Alasan kerjasama dan ToT
      =======================
      PT Pindad sudah menandatangani kontrak dengan Saab untuk merancang bangun defense system berbasiskan RBS-70, dan karena itu sepertinya peluang akuisisi RBS-23 BAMSE system tentu akan lebih memungkinkan, dibanding dua produk versi export lain.

      ## Alasan Ekonomis
      ================
      Dari sudut pandang ini, peluang untuk negosiasi paket Gripen - Erieye - RBS-15 - BAMSE juga menjadi lebih baik.
      Kalau kita akan membeli borongan, harganya bisa lebih murah.
      Better value for money.

      Delete
  6. mengingat sukhoi su 27/30 yg bodinya besar dan mampu memuat 72 bomb,itu bisa dijadikan bomber. kalo fighter, sukhoi tidak cocok buat dogfight.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang large twin-engine fighter sebenarnya lebih cocok menjadi pembom dibanding Air Superiority.

      F-15E dan F-18E/F boleh dibilang lebih pembom dibanding pespur.

      Sayangnya, untuk tugas inipun, Sukhoi (versi manapun juga) sebenarnya tetap saja kurang cocok.

      Kelemahannya:
      Sukhoi tidak akan bisa mengoperasikan Smart bomb, baik laser-guided, atau GPS-guided.

      Kenyataannya, sama seperti dalam tehnologi AESA, dan BVR missile;
      Ruski juga sudah cukup tertinggal dalam Smart bomb development.

      Jumlah smart bomb yg mereka produksi masih sedikit, dan belum berhasil di-tes secara intensif.
      Lebih parah lagi, kelihatannya belum tentu tersedia untuk export. Kalaupun ada, guidance-nya hanya akan di-downgrade.

      Bahkan di Syria-pun, hampir 95% bomb yg dijatuhkan Sukhoi PVO Ruski, atau SyAF adalah "unguided dumb bomb", dengan hasil yang kurang memuaskan.

      Kenyataannya,
      Gripen, atau F-16 yg bisa mengoperasikan JDAM, Paveway-serries, atau GBU-39 small diameter bomb generasi terbaru, akan dapat menjadi pembom yg lebih baik vs pembom Sukhoi Su-34 sekalipun.

      Delete
    2. Apakah karena tidak adanya Smart Bomb yg dipakai Rusia dan Suriah sehingga menimbulkan banyak korban sipil di perang saudara Suriah?

      Delete
    3. Kalau kita kembali ke prinsip awal;
      Tujuan memakai strategi "smart bombing" adalah mengisolasi / menghantam hanya targetnya saja, dan meminimalkan / menghindari kerusakan / korban sipil.

      Untuk mencapai tujuan ini, bukan hanya diperlukan Smart bombs, tetapi juga:

      ## Data intellijen, bisa dari drone, pesawat recon, atau scout team di darat

      ## Yang tidak kalah penting, pespur yg mau membom, juga harus mempunyai IR-Targeting pod modern, seperti Sniper, Litening, atau Damocles.

      Inilah salah satu komponen lagi yang masih belum bisa diproduksi industri Russia, yang sudah ketinggalan jaman.

      Sekarang, pesawat2 NATO, dan negara2 Timur Tengah, walaupun sudah dipersenjatai dengan data intelijen, targeting pod, dan smart bomb, sebenarnya tetap saja tidak bisa menghindari kesalahan. Sesekali, bomb yang sepintar2nya tetap saja ada kemungkinan nyasar.

      Prosedur Ruski berbeda.

      Data intelijen tidak pernah lengkap, targeting pod tidak ada, dan prosedur standar mereka hanya melepas unguided bomb dari ketinggian 6,000 - 7,000 kaki di koordinat yg sudah ditentukan.

      Grossly inaccurate, dan entah apa yg sebenarnya mau dibom?

      Lihat artikel dibawah:
      What Russian AF still cant do

      Banyak yang menuliskan, keterlibatan Ruski di Syria adalah iklan untuk menjual senjata mereka.

      Kenyataannya justru sebaliknya: kita justru dapat melihat terlalu banyak daftar kelemahan persenjataan dari Moscow, khususnya Sukhoi, yang selama ini digembar-gemborkan.

      Delete
  7. Min, dalam air-to-air msh unggul Super Hornet atau Su-35?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti sudah dituliskan di artikel Su-35K vs F-18F.

      ## Pilot Super Hornet akan selalu lebih terlatih, dan berpengalaman

      ## Sensor Suite SH juga beberapa generasi lebih modern

      ## Situational Awareness cockpit SH jauh lebih unggul

      ## SH sudah dapat mengoperasikan AMRAAM-D berjarak jangkau 100 km + dengan 2-way datalink;

      ## Su-35K hanya mempunyai dua jenis missile ketinggalan jaman, yang tidak pernah dites: RVV-AE, atau R-27.
      Meragukan kalau Su-35 bahkan dapat menembak jatuh BAe Hawk-209 dari jarak BVR.

      Perbedaan kelas mulai dari latihan, tehnologi, sensor, dan persenjataan, antara SH dan Su-35 sebenarnya terpisah terlalu jauh.

      Delete
    2. Kelemahan utama: persenjataan buatan Ruski terlalu kuno, dan mereka tidak pernah cukup funding untuk menyelesaikan development, atau mengetesnya lebih jauh. Lebih parah lagi, hanya tersedia dalam versi export:

      R-77 (izdeliye-170) seeker modelnya 9B-1348, dan dikenal cukup problematic.

      AU Ruski sendiri kelihatan masih alergi memakai model ini, dan memilih R-27, yg lebih kuno lagi, sebagai standard fit BVR missile.

      RVV-AE (izdeliye-190) versi export dari R-77, memakai seeker model downgrade, 9B-1348E.

      Dengan kata lain, seeker utk RVV-AE hanyalah model downgrade dari seeker yg versi aslinya saja "doesnt work".

      Yah,
      Tidak hanya F-18SH, semua pespur Barat yg dapat memakai AIM-9X, dan AMRAAM C7 secara tehnis akan selalu bisa mengungguli Su-35, yang senjatanya tidak beres.

      Ini juga termasuk F-16 Block-25+ hibah.

      Dalam hal ini kita sbnrnya beruntung, krn hanya beli cicilan hanya membeli 25 "crappy missile" ini di tahun 2012.

      India membeli ribuan RVV-AE, dan mereka mendapati jarak jangkau efektifnya kurang dari 30 km, dan sebagian besar missile yg mereka beli ternyata sudah rusak sendiri - low shelf life, atau kualitas "tokcer".

      AMRAAM C7 adalah produk yg jauh lebih unggul.

      ...dan AMRAAM saja, secara fisika, probability Kill-nya sbnrnya masih cukup sulit.

      RVV-AE, atau R-27, tentu saja jauh lebih parah..... hampir mustahil bisa menembak jatuh pespur Barat manapun.

      Nanti kita akan cover subyek ini lebih mendalam topik berikutnya...

      Sekaligus merayakan HUT setahun penuh "perbaikan mendalam" TS-2701 & 2702 yg tak kunjung selesai.

      Lebih baik kedua model ini di-write-off dibanding harus membayar biaya perbaikan.

      Delete
  8. Memang sangat menyenankan bila membahas tentang Saab, bukan hanya soal gripen tapi keseluruhan.

    Mari kita melenceng lagi bung . hihi
    Rbs 70 rudal permukaan keudara -+7km
    Rbs 23 rudal permukaan keudara -+20km
    Rbs 15 rudal permukaan² -+200km

    Andai kita dapat TOT tentang semua rudal tersebut, dan kita serious untuk menjadikan rudal² tersebut menjadi senjata disetiap armada kita.

    Contoh : PT PAL sudah bisa membuat kapal perang, tapi ya hanya sebatas badan/fisik semata . Karna senjatanya yg masih ambil Dari luar Negri.

    Dengan kita bisa membuat rudal rbs 15 anti kapal, mungkinkah juga rbs 23 bisa ditembakan Dari kapal sepeerti mica vls. Dan dilengkapi dengan technology yg main untuk melengkapi. Dan bila Kita sudah bisa soal national networking, Kira akan selangkah lebih maju sebagai poros maritim

    ReplyDelete
  9. Saya baca baca katanya kedepannya fregat kelas sigma 10514, mungkin untuk persenjataan surface to surface nya gak musti pakai Exocet 40 mm Block 3 tapi ada yang bilang mungkin pakai RBS 15 Mark 3, juga saya baca jarak jangkauannya lebih jauh dari exocet yang kalau blok 3 kira kira 180 km, kalau RBS 15 Mark 3 bisa lebih dari 200 km. Tapi mungkin admin lebih tahu. Terima Kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Rochmat, dan bung Thomas,

      Sepertinya sih untuk sementara spesifikasi KRI Martadinata (331) sudah selesai.

      2x4 Exocet launcher di tengah kapal, torpedo di sebelah belakang, dan di depan VL-MICA vertical launcher tepat di belakang OTO Melara 76mm gun.
      ..kemudian Oerlikon Sky shield CIWs letaknya tepat di depan anjungan.

      Boleh dibilang persenjataan PKR10514 dalam segala hal sebenarnya masih cukup basic.
      Persenjataan utamanya, kalau TNI-AL memang berencana demikian, bisa jadi adalah AS565 ASW helikopter yang baru dibeli.

      ## RBS-15 sebagai alternatif dari Exocet?
      Sebenarnya paling memungkinkan.
      Akan tetapi karena perbedaan profile / diameter missile akan membutuhkan jenis launcher yg berbeda.
      Skenario terbaik, kalau masih ada cukup ruangan, PKR dapat membawa Exocet, dan RBS-15.

      ## Saab RBS-70, dan RBS-23 untuk pertahanan udara, memang akan menjadi "huge improvement" diatas VL-MICA.

      Radar Giraffe yg tipe AESA, pusat dari BAMSE system, akan memberikan kemampuan deteksi target di udara yg jauh lebih unggul.

      Mungkin belum menyamai kemampuan AEGIS - SM-missile standard US Navy, tetapi akan sangat mengigit, terutama untuk berlapis2 pertahanan cruise missile.

      Masalah utamanya: biaya integrasinya akan cukup mahal.
      Dilain pihak, mengingat sejauh ini belum ada rencana memasang BAMSE system ke kapal, yah, kesempatan masih terbuka..

      ## Networking --- kalau semua kapal sudah terintegrasi bersama, kesempatan yg terbuka sebenarnya lebih menarik lagi.

      PKR10514 yang membawa radar Giraffe, dapat menjadi induk utk mengontrol semua launcher BAMSE missile yg dibawa platform lain.

      Bisa jadi beberapa KCR memang sudah didesain khusus utk bisa membawa RBS-70, dan BAMSE launcher (tanpa radar), dan stock 4 - 6 missile. Kemudian bersasarkan sensor feed dari radar Giraffe di PKR10514, dapat dipergunakan untuk "membokong" pesawat lawan dari arah yg tak terduga.

      Gripen, atau Erieye juga dapat berfungsi sebagai "mata di udara", untuk men-transmit koordinat ke RBS-15, atau Exocet yang ditembakkan kapal2 TNI-AL.

      Delete
    2. Radar giraffe sudah bisa untuk mengontrol tembakan rbs 70 dan rbs 23, ibarat radar sebagai pistol dan rudal sebagai amunisinya. Sebagai orang yg pintar kita pasti akan beli pistol Dan sebanyak mungkin amunisi yg bisa dipakai walau beda kaliber.

      Saya berharap PKR 10514 INI hanya awalan saja, Dan nanti²nya akan Ada real friggat ataupun destroyer. Perlu diketahui PKR 10514 Adalah kapal perang yg tercanggih yg dipunyai TNI Al. Baik ITU REM 331 / INR 332 mempunyai senjata by sama.

      Dan kalau TNI sudah punya radar giraffe, alangkah baiknya bila TNI juga mengakusisi Bamshe Rbs 23.

      Delete
    3. Dan ketika KCR kita terpasang rudal² Rbs type , akan tetapi kalau tidak terpasang radar koh jadi aneh ya. Masa harus lewat kapal komando untuk menembakan rudal.

      Hihihi, KcR yg full dengan RBS rudal kayaknya lebih asik ni. Rbs 15 sebagai senjata utama anti kapal, rbs 70&23 sebagai rudal pertahanan udara. Hehe, anti terpedonya mana ya bung ? Hihuhihi

      Delete
    4. :)

      Dalam skenario bayangan diatas, KCR sebenarnya hanya berfungsi sebagai "pembawa missile", yang bisa main petak-umpet, karena lebih kecil, dan lebih gesit.

      Setelah missilenya habis, juga, yah bisa lari.

      Keuntungan lain mempunyai mobile Sea Giraffe radar; PKR 10514 juga akan dapat berfungsi menjadi Command & Control untuk BAMSE launcher di darat.

      Btw, Saab sebenarnya sudah mulai menawarkan Sea Giraffe concept:
      Link website Saab

      Radar Giraffe sepertinya juga dapat dimanfaatkan untuk men-guide RBS-15.

      Untuk Anti-torpedo?
      Ini sebenarnya ada tehniknya sendiri, dan tidaklah mudah. Kita bahas lain waktu.
      :)

      Delete
    5. @DR

      PKR sebenarnya adl sebuah "korvet dg pengklasifikasian lokal" jd persenjataan yang terpasang saat ini sudah optimal.

      Ide untuk menambahkan RBS-23 sebenarnya tidak memberikan keunggulan taktis dalam skenario multiple-ashm/ssm-threat-attack...tidak seperti VL-mica yang bertipe fire&forget, bamse harus diiluminasi dari mulai diluncurkan sampai mengenai sasaran.

      Tapi kalo mau bermain-main dg angka, ruang yang masih memungkinkan untuk meningkatkan pertahanan dr serangan rudal adalah menambah 1 unit ciws plus FCR-nya diatas hanggar heli (bisa millenium atau ram).

      Kalo dicermati satu-persatu, peralatan tepat guna yang bisa ditambahkan utk memperkuat lethalitas PKR justru dengan meningkatkan kualitas&kuantitas sensor deteksi dini serta alat bantunya.

      1. PKR tidak memiliki VDS dan torpedo decoy
      2. Tidak membawa sensor El-op yang sangat menunjang utk pertahanan dari serangan asimetris serta melakukan pengamatan scr pasif.
      3.R-ESM yang dimiliki saat ini (vigilance LW), adalah tipe low-end yang menurut brosur lebih cocok digunakan pd kapal patroli bertonase kecil. Malaysia dan singapur mengadopsi varian Vigilance 100/200 lengkap beserta antene C-ESM (pd PKR, antene C-ESM ini tidak terlihat).
      4. PKR belum dilengkapi dg helikopter aid&handling system yang memungkinkan heli organik tetap bisa beroperasi pd segala cuaca&kondisi ombak yang besar (RSN&RMN sdh menjadikan alat ini sbg standar pd korvet/frigat terbaru mereka), berupa radar navigasi utk memandu heli, lampu navigasi pd helideck, harpoon/lassoing system dan heli handling system)

      Delete
    6. This comment has been removed by the author.

      Delete
    7. Bung hari,

      Kita memang lagi berangan2 apakah mungkin PKR 10514 bisa diperlengkapi BAMSE system.

      Kapal perang sebenarnya salah satu platform yg paling fleksibel untuk di-customisasi, atau di-upgrade lebih lanjut di kemudian hari.

      Keunggulan utama Damen Sigma 10514, adalah krn diproduksi dalam beberapa module2 terpisah, yg memungkinkan kemudahan upgrade di kemudian hari.

      Contoh yg lebih jelek bisa diambil dari Type-45 Destroyer Royal Navy, yang masih baru.

      Kapal ini sudah dikenal dengan motto "prepared for, but not equipped with.."

      Alasannya, karena desain akhirnya terlalu mahal, banyak persenjataan / perlengkapan yg seharusnya bisa dibawa, jadi sengaja tidak dipasang dahulu dalam nama penghematan.

      Alhasil, beberapa frigate Jerman, atau Perancis yang jauh lebih murah, malah jadi lebih unggul dalam beberapa hal vs Type-45 UK.

      Delete
    8. @DR

      Membandingkan PKR dengan destroyer tipe manapun sangat tidak proporsional oom...

      Perbandingan yang sepadan adalah membandingkan kelengkapan yang dipasang pd corvete gowind-1500 yang dipesan malaysia atau corvete ADA class milik turki....karena rancangan dimensi/tonase kapal dengan sendirinya memandatkan jumlah dan ragam sensor serta senjata yang bisa dibawa secara optimal

      Delete
    9. Bung hari,

      Sy tidak membandingkan kemampuan PKR 10514, dengan Type-45 Destroyer.

      Tulisan di atas hanya untuk mempertunjukkan kalau Royal-Navy-approach ala Type-45 adalah cara yang salah.

      Sigma 10514, seperti sy sudah tuliskan diatas, boleh dibilang persenjataan / perlengkapannya sekarang ini mungkin memang masih minimal,

      tetapi upgradability jangka panjangnya potensinya masih sangat bagus.

      Delete
  10. Saya mikir juga apa mungkin kedepan nya selain Sigma 10514 berfungsi sebagai multirole missile guided light frigate bisa dispesifikasikan untuk AAW role mungkin Sigma 10514 tapi surface to air missile nya RBS 23 dan RBS 70 terus mungkin surface to surface nya bisa jadi RBS 15 Mark 3, tapi ya masih spekulatif sih. Terus katanya Russia menawarkan light corvette Project 23420 yang bisa difungsikan sebagai AAW corvette pengganti Parchim class, apa sebaiknya Indonesia menerima tawaran tersebut atau mulai mencoba menciptakan AAW corvette versi kita sendiri dengan kerjasama dengan Damen Schelde, tapi ya mungkin sebaiknya sih untuk AU Indonesia fokus dengan upgrade F 16 yang ada sama menambah jumlah misil dan yang terpenting meneriwa tawaran SAAB Gripen untuk 2 squadron Gripen E/F + 4 Erieye AEWC + ToT RBS 15, untuk BAMSE kalau enggak salah kan pengadaan arhanud jarang menengah juga termasuk MEF II, mungkin semoga aja menjadi pilihan TNI dan diintegrasikan melalui link 16 dengan Oerlikon 35 mm, Starstreak SHORAD dan RBS 70 kita, banyak harapan semoga Indonesia bekerja sama dengan SAAB bahkan mungkin sampai dengan penyempurnaan MEF hingga 2030. Itu tidak menutup kemungkinan mengenai yah semoga aja, menciptakan Sigma 10514 yang kemampuan AAW lebih baik.Terima Kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Thomas,

      ## Bayangan sy juga PKR 10514 harus bisa difungsikan ke semacam command & control station: untuk dapat mengatur pertahanan udara lokal, anti-kapal selam, atau membantu mengkoordinasi misi reconaissance.

      Lebih penting lagi juga menekankan konsep "multiple redundancy"; kalau sampai salah satu PKR, atau stasiun radar di darat di-knocked-out oleh lawan; kita juga sudah harus bersiap penggantinya; bisa pindah ke pesawat Erieye, kapal lain, atau ke stasiun tersembunyi di darat.

      ## Untuk tawaran Saab -- sejauh ini mereka masih menawarkan Gripen-C, antara 14 - 16 unit, karena alasan delivery cepat, dan sepertinya juga untuk menangani kemungkinan ketidakpastian sistem akuisisi di Indonesia.

      Kita pribadi memang setuju kalau MEF akan dapat tercapai dengan 2 Skuadron Gripen-E, 4 Erieye / Globaleye, RBS-15, dan National Network, sebelum akhirnya merambat ke BAMSE, dan berbagai macam kemungkinan lain di masa depan.

      Keunggulan industrial, strategis, dan tehnologi!

      Delete
    2. National Network, atau Link-16?

      Bung Thomas,
      Anda menyinggung soal datalink memakai Link-16.

      Sebenarnya, kemungkinan besar, National Networking Indonesia, akan menjadi program khusus joint venture antara Saab, dan industri lokal, dibanding memakai Link-16, yang masih proprietory US.

      .... ini sebenarnya tanpa sengaja menggaribawahi lagi salah satu lagi kelemahan proyek KF-X, yang tidak pernah diperhitungkan di Indonesia;
      ======================

      ## Sejauh ini Washington DC belum terlihat antusias untuk menawarkan Link-16 ke F-16 Indonesia.
      Bahkan dalam penawaran F-16V, atau istilah marketing-nya Block-70/72; mereka sibuk menyebut kemampuan AN/APG-83 AESA radar, tetapi sama sekali tidak menyinggung penawaran Link-16.

      Tidak mengherankan; Paket F-16 Block-25+ tempo hari saja tidak membawa MIDS-LVT terminal.

      ## Masalahnya, Korea akan berkeras memasang MIDS-LVT Link-16 terminal ke KF-X.

      ... dan karena mereka tergantung kepada ToT dari Lockheed-Martin, dan kemungkinan juga untuk penulisan Source code; berarti pemerintah US akan mempunyai wewenang penuh untuk menentukan apa yang boleh dipasang di KF-X.

      ## Dengan demikian, kemungkinannya terbuka lebar, kalau IF-X tidak akan membawa MIDS-LVT terminal, dan seperti F-16, tidak akan boleh dimodifikasi tanpa ijin dari Washington DC.

      Delete
    3. Maaf maksud saya national network link. Maaf

      Delete
    4. Tidak apa2, bung Thomas.
      :)
      Kita sudah pernah diskusi singkat re Networking kok.
      Nanti kita angkat ke topik artikel lain saja.

      ...cuman maaf, memang kebiasaan jelek sy meracau kiri-kanan dalam komentar.

      Delete
  11. Maaf project 23420 itu ASW corvette, salah ketik. Maaf

    ReplyDelete