Wednesday, November 9, 2016

News Update: Efek positif dari Presiden Trump

CNN Capture
Terlepas dari banyaknya kemungkinan negatif yang bisa terjadi, seperti sudah dilaporkan dalam banyak media massa setahun terakhir; sebenarnya ada beberapa hal positif dari terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden terpilih baru Amerika Serikat.



Conceptually Flawed F-35 Lemon II - kemungkinan besar akan dibatalkan!

The worst airplane ever made: "You're fired!"
(USAF Photo)
Salah satu alasan kenapa Trump memenangkan White House adalah karena menampilkan diri sebagai "outsider"; orang luar, yang anti-establishment. Trump memanfaatkan sentimen negatif masyarakat  U.S., yang selama ini merasa legislatif di Washington DC sudah terputus dari realita kesulitan mereka sehari-hari.

F-35 "grand project", sebenarnya adalah proyek yang sudah sengaja dilindungi secara politik agar "tidak bisa gagal", tetapi dalam prosesnya sebenarnya sudah menghancurkan sendiri kemampuan militer U.S. dari dalam

It's too expensive, and it doesn't work.

Tidak seperti Obama, ataupun Clinton; the Outsider Trump tidak akan peduli dengan lobi-lobi dari hubungan military-industrial complex, antara Pentagon, dan major defence contractors U.S. 

Pada 22-Oktober-2015 yang lalu, Trump sudah mengungkapkan pernyataan berikut:
Air Force Times,
22-Oktober-2015

Dalam hal ini, pernyataan Trump benar.

Referensi disini adalah Pernyataan Test Pilot, yang dengan gamblang sudah menilai F-35 sebenarnya kemampuannya retrograde dibanding F-15E, ataupun F-16C/D yang sekarang sudah operasional.

United States, ataupun semua negara NATO; sebenarnya tidak membutuhkan F-35, sehebat apapun iklannya. 

Untuk apa?

Kenyataannya, kemampuan F-15, F-16, dan F-18E/F yang sekarang ada, kalau terus di-upgrade secara lebih konsisten, sudah jauh melebihi kemampuan Su-35 Flemon Ruski, ataupun J-20 China, yang tidak akan bisa di-upgrade, dan umur airframenya akan selalu jauh lebih pendek.

Faktor lain yang tidak kalah penting: hampir mustahil kalau kedua negara tersebut dapat membuat Sensor system, ataupun Networking yang bisa bersaing dengan kualitas Industri U.S. Belum lagi menghitung kalau sampai sekarangpun, Russia sebenarnya belum berhasil membuat mesin pesawat tempur, yang bisa tahan operasional lebih dari beberapa ratus jam.

AL-41F1 untuk Su-35, memang diiklankan dalam brosur Sukhoi akan bisa tahan 4,000 jam operasional. Tetapi, mengingat mesin ini saja hanya derivatif dari AL-31F, yang sudah termasyur bisa mati sendiri di udara, dan hanya operasional kurang dari 1,000 jam (walaupun dituliskan seharusnya tahan 1,500 jam); sebaiknya jangan berharap banyak kalau NPO Saturn tiba-tiba bisa menemukan "eureka factor" dengan AL-41F1, yang jauh lebih complex, jauh lebih rumit, karena memasang fitur 3-D Thrust-Vector Control.


KISS Principle: Keep it Simple, Stupid!

Hukum ini tentu saja tidak hanya berlaku ke mesin Thrust-Vectoring AL-41F1, tetapi juga konsep Twin-Engine design, atau yang lebih parah lagi, pesawat tempur stealth, yang dengan sendirinya harus selalu menjadi lebih rumit, dan lebih mahal dibanding bentuk aerodinamis konvensional yang dipilih orang-orang Eropa.

F-35 sebenarnya hanya Keinginan, dan bukan kebutuhan.
Impossible to make F-35 a "fighter":
Too many opposing requirements are half-baked into an incompatible airframe.

Presiden Trump hanya akan menjadi berita baik untuk lini produksi Boeing F-15, dan F-18 di St. Louis, tetapi hanya akan menjadi berita buruk untuk Lockheed-Martin, kontraktor utama untuk F-35. Tetapi paling tidak LM masih bisa mengambil keuntungan dari produksi F-16, yang sekarang sudah sekarat, karena tidak ada produksi untuk USAF.

Tentu saja, ini juga akan menjadi berita baik bagai para pilot, dan ground crew USAF, US Navy, dan US Marine, yang sebenarnya sudah dikambing-hitamkan, karena Pentagon memilih untuk menghabiskan uang di F-35, di atas segalanya.

USMC bahkan melaporkan mirisnya bagaimana mereka hanya dapat mengoperasikan 60% dari jumlah Hornet mereka. Ini dikarenakan, para pimpinan USMC sudah menolak untuk membeli Super Hornet, sengaja mengurangi maintenance budget untuk armada F-18C/D, dan memilih untuk menaruh semua telur mereka, ke F-35B; versi yang paling berat, paling mahal, dan paling under-performed dibanding dua versi yang lain.
The most Lemon of F-35 Lemon IIs
(Gambar: USMC)


Versi yang paling beratjarak jangkau paling pendek,
dan paling complex
Pembatalan F-35 akan mengangkat semua masalah ini.

Salah satu keunggulan setiap Angkatan Udara NATO yang sering dilupakan dalam setiap analisis, atau blog militer adalah TRAINING PILOT yang jauh lebih unggul dibandingkan AU Russia, ataupun PLA-AF China.

F-15, F-16, dan F-18, yang sudah di-upgrade lebih jauh, akan menikmati harga akuisisi, dan biaya operasional lebih murah dibanding F-35 Lemon II. Dan dengan sendirinya tentu saja akan terus menikmati keunggulan kemampuan Training yang beberapa kali lipat dibandingkan pilot Su-35, ataupun J-20 manapun.


Penutup

Kepresidenan Trump tetap saja tidak akan dapat merubah export policy militer US, yang sudah dikunci sejak tahun 1980-an, dan karena itu, beberapa hal berikut tidak akan berubah:
  • Korea tetap saja tidak akan mendapat kemudahan dalam memperoleh tehnologi yang mereka inginkan untuk KF-X. Tehnologi yang mereka dapat, tentu saja, seperti halnya prosedur penjualan pesawat tempur export U.S.; yah, hanya akan menjadi "tehnologi versi export". Versi downgrade untuk IF-X Indonesia, yah, tentu saja akan lebih parah.
  • F-16V yang ditawarkan ke Indonesia, yah, tetap saja akan menjadi pesawat tempur versi export, yang lebih inferior dalam segala hal dibanding Supercruising Sensor Fusioned Saab Gripen-E.
  • Sama seperti Washington DC export policy akan mendikte perlakuan mereka ke Korea, sekali lagi tidak! Mereka tidak akan menawarkan pemenuhan UU no.16/2012, baik untuk IF-X, ataupun F-16V.

Sebaliknya, peta keamanan di Asia-Pasifik tentu akan mulai berubah secara bertahap, karena Trump akan mulai menerapkan politik "cuci tangan" dari operasional militer U.S di Asia Pasifik. 
Point terakhir ini, sebenarnya akan sangat menguntungkan Indonesia. 

Daripada menghamburkan uang di Laut Cina Selatan, atau pusing tujuh keliling untuk mencoba memenuhi persyaratan UU no.16/2012 dengan F-16V, Trump Presidency akan lebih mendukung kebutuhan Indonesia untuk menjadi lebih mandiri melalui rute penawaran Gripen, Globaleye, dan National Networking dari Saab

Ijin export komponen buatan U.S. akan lebih cepat keluar. Kalau dahulu, karena sewot barang versi export-nya tak terbeli, U.S. pernah sengaja memperlambat delivery initial part untuk Gripen Brazil, ataupun Gripen Thailand; delivery part untuk Gripen-Indonesia kemungkinannya akan berlangsung dengan lebih lancar.

Lagipula tidak seperti sekarang, dalam jangka menengah, pabrik-pabrik Boeing, dan Lockheed, akan mulai sibuk untuk memproduksi F-15 Silent Eagle, F-18 Advanced Super Hornet, dan F-16V+ (untuk versi lokal). Lockheed-Martin tidak akan perlu lagi mengemis ke Indonesia untuk tetap mempertahankan lini produksi F-16.

Much more advanced than anything else:
Low Procurement Cost,
Lowest Operational Cost,
Very Easy Maintenance,
Highest sortie & availability rate,
The most easily upgraded,
Superior Situational Awareness,
Easy-to-pilot,
Fully-Networked,
and very lethal in combat.


Trump Presidency akan lebih mendukung keputusan Indonesia
untuk meningkatkan kemandirian Nasional

(Gambar: Saab Presentation for Indonesia)

24 comments:

  1. menurut saya justru lebih riskan kalau proyek f-35 dicabut mengingat sudah kluar ratusan bilion $ bisa2 malah milter US tidak mendukung kebijakan Trump yg ahirnya malah merugikan dia sendiri tapi yah namanya juga politik kedepannya mohon artikel yg berbau politik seperti ini tidak usah dimuat bung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf, kalau anda merasa artikel ini mungkin berbau politik.

      Tetapi kita tidak akan membahas sama sekali, kebijaksanaan politik apapun yang sudah pernah disebut Trump.
      Itu tidak relevan, dan tidak perlu dibahas.

      Sy hanya menuliskan disini sebatas "Kemungkinan F-35 akan dibatalkan", justru karena alasan yang tepat.

      NATO sebenarnya tidak pernah memerlukan F-35, kok!

      ... dan karena itu US akan mulai memproduksi kembali F-15, F-16, dan F-18E/F.

      Efek positif lain:
      Yah, Pemerintahan Trump akan lebih mungkin mengijinkan, misalnya, penjualan mesin F414-GE-39-E untuk Gripen-E Indonesia, jika dibandingkan Clinton.

      Itu saja.

      Delete
  2. @DR

    Oom didalam penawaran saab utk RI ada klausul: Technology support to IFX programe....ini maksudnya program yang mana, bisa dijelaskan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @hari,

      Pertama-tama kita harus kembali kenyataan berikut:
      Kita sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tehnologi pespur dalam jenis apapun juga.

      Mau dapat darimana?

      # Mendapat Transfer-of-Technology dari satu juga pemain lama yg sudah berpengalaman tidak pernah.
      # License production, atau yang lebih mudah lagi, merakit pesawat tempur (CKD) sendiri saja tidak pernah.

      Nah, beberapa pertanyaan berikutnya logis:
      ## Kalau tidak ada kemampuan, ataupun pengalaman, kenapa berani mencoba ikut kerjasama "membuat pesawat tempur sendiri"?

      ## Kontribusi macam apa yg dapat diberikan dalam proyek "membuat sendiri"?

      ## Terakhir, kalau segala sesuatu serba NOL besar; kenapa berani memilih partner bau kencur, yang juga tidak pernah berhasil membuat pesawat tempur sendirian dari nol?

      Menulis source code untuk pesawat tempur saja, Korea tidak akan bisa.

      Yah, secara tehnis, sebenarnya kita belum siap untuk ikut proyek seperti IF-X.

      =============
      Tawaran Saab re IF-X
      =============
      Tujuannya adalah untuk memberi pengetahuan dasar re tehnologi pespur, melalui apa yg dapat kita pelajari dari Transfer-of-Technology Gripen-System.

      Ini juga bukan pekerjaan sehari-semalam: akan membutuhkan waktu bertahun-tahun, sampai tehnisi kita akhirnya benar2 dapat menguasai ToT dari Saab.

      Pengetahuan ini kemudian "diharapkan" dapat dimanfaatkan dalam kontribusi kita ke IF-X.

      Tidak seperti sekarang, paling tidak kita dapat menyuarakan pendapat ttg proyek ini, dan tidak membiarkan segala sesuatu didikte Korea seenak perut.

      ===========
      Catatan Akhir
      ===========
      Kalau masih harus mengemis ToT ke negara-pelit-tehnologi USA,
      ...tidak seperti mimpi, Korea sendiri sbnrnya tidak mempunyai kemampuan utk membuat pespur yg dapat menandingi F-16.

      Yah, kenyataan pahitnya, Gripen, atau F-16V masih akan jauh lebih unggul dibanding KF-X, yang hanya akan mewarisi "tehnologi versi export".

      Delete
  3. Oh ya bung Gi
    Saab juga bawa aesa radar buatan sendiri , apakah kemampuanya sama / lebih baik dari radar yg dipakai sama gripen E ? Bahkan bisa jadi pengganti radar dari salex sendiri ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Matt,

      Masalah Saab:
      ... mereka membutuhkan AESA radar untuk Gripen-E lebih cepat daripada timeframe in-house development mereka sendiri.

      Masalah berikutnya: Tidak seperti mechanical radar, AESA radar sifatnya jauh lebih tahan lama; tidak perlu banyak maintenance, dan tidak perlu diganti sepanjang umur pesawat (30 tahun, atau 8000 jam terbang).

      Mengingat Selex Raven ES-05 berbagi tehnologi yg sama dengan CAPTOR-E, dan developmentnya sudah dimulai dari akhir 1990-an, untuk saat ini Raven ES-05 tetap akan menjadi pilihan yang lebih baik untuk Gripen-E:

      ## Secara tehnologi lebih mature, dan source-codingnya sudah selesai, untuk dapat teintegrasi ke komputer Gripen, dan tekoneksi ke TIDLS Network, ataupun Link-16.

      ## Base radar ES-05 sendiri memakai sistem swashplate, yg dapat diputar untuk menambah sudut deteksi radar, dan mempermudah BVR combat.
      Saat ini radar buatan Saab kelihatannya masih dirancang fixed-mounted.

      ## Raven ES-05, sebenarnya satu module terintegrasi dengan Skyward-G IRST, dan IFF system.
      Radar in-house Saab kelihatannya belum: jadi belum benar2 mencapai tahap "Sensor Fusion".

      Ini membuka tiga kemungkinan untuk radar buatan Saab:

      ## Radar Saab mungkin akan ditawarkan dalam bentuk retrofit ke Gripen-C/D yg sudah diproduksi 200 unit, tetapi kebanyakan sejauh ini baru mengumpulkan rata2 1,000 jam terbang.

      Pertanyaannya, kembali, bagaimana caranya Saab menyelesaikan masalah "sensor fusion" utk retrofit ini?

      ## Terbuka kemungkinan juga, kalau Batch-2 dari produksi Gripen-E, setelah memenuhi order awal 60-unit untuk Swedia, dan 36 untuk Brazil, akan mulai ditawarkan radar Saab sebagai optional. Pada waktu itu, secara tehnologi akan lebih matang, dan lebih siap.

      ## Saab baru membuka penawaran ke India, untuk co-development GaN transmitter untuk AESA radar.
      GaN akan menambah kemampuan transmitter GaA standard yg sekarang, sampai 30 - 50%.

      Ini membuka kemungkinan terakhir kalau radar AESA Saab, akan menjadi testbed untuk GaN transmitter, dan kemudian Saab bisa menjual GaN transmitter itu sebagai rertrofit untuk AESA radar jenis lain, termasuk Raven ES-05, atau CAPTOR-E.

      Delete
  4. GaN 30%-50% lebih unggul dari GaA, itu dalam hal kemampuan apa ? Pelacakan, jarak atau yang lainkah.


    ReplyDelete
    Replies
    1. Dalam hal kemampuan secara keseluruhan.

      Angka % hanya perkiraan kasar, krn sbnrnya tidak ada pembuat AESA yg mengumumkan kemampuan masing2 untuk informasi publik.

      Dari website Saab:
      ===============
      GaN is a semi-conductive material currently under intensive development. Areas of use include LED-lights and Blu-ray components, and now it is also being incorporated into microwave applications in the military industry. GaN technology is already included in the new members of Saab’s extended surface radar family, which were launched in 2014. GaN gives higher power efficiently, higher output power and is a more robust material for chip design. This allows an extended range through higher output and higher reliability.
      ==============

      GaN transmitter dalam Electronic Warfare Suite (akan operasional di Gripen-E), dan AESA radar akan membawa tehnologi Gripen ke generasi selanjutnya.

      F-22, dan F-35 kebanggaan US, yang sudah terbukti sulit di-upgrade (gara2 fitur stealth mengkromikan desain) akan kesulitan untuk mengadopsi GaN.

      Sementara itu......
      Russia lebih parah lagi. Mrk bahkan masih belum bisa memasang proper AESA radar ke pespur mereka manapun.
      Versi awal yg dipasang ke MiG-35, mrnt bbrp sumber, produksinya saja terlalu kasar dibanding standar Barat.
      Kecil kemungkinannya, kalau mereka sudah menguasai source coding utk AESA.

      Mereka sudah tertinggal terlalu jauh dalam learning curve utk AESA; yang sendirinya hanya salah satu dari banyak komponen modern pespur.


      Delete
    2. Pihak indonesia kayaknya sudah mulai tertarik dengan rudal R27 ukraina, kita tau rusia maupun ukraina mempunyai badan 'perantara' tersendiri .

      R27 manakah yg paling ampuh antara rusia dan ukraina ? Kan kemana² omonganya :) :)


      Gripen sendiri baru sekitar 200 unit dan harga jam terbang sudah terbilang murah dari pada F16 yg lebih dari 700an . pertanyaanya adalah jika gripen memproduksi gripen lebih dari 500 unit diliuar harga terbang lebih murah ,bagaimana kelanjutan sparepart yg notabenya bukan produksi saab sendiri ?

      Delete
    3. R-27 adalah senjata pilihan AU Russia, buatan Ukrania...

      Sayangnya, seperti semua BVR missile warisan jaman Soviet --- sudah ketinggalan jaman, dan tidak pernah di-tes secara intensif.

      Lagipula versi R-27 yah, sama saja, hanya akan menjadi versi export downgrade seperti izdeliye-170.

      Inilah kenapa:untuk apa beli R-27?. Hanya buang2 uang.

      AMRAAM C7 jauh lebih modern dalam segala hal, dan kemampuan Kill-nya lebih terjamin.

      Dalam BVR combat,
      F-16 Block-25+ dengan AMRAAM C7 tetap saja akan masih lebih unggul drpd Su-35 dgn RVV-AE, atau R-27.

      Delete
    4. Bung @Matt,

      Gripen sudah dirancang untuk lebih murah secara operasional vs F-16,
      walaupun Saab, dan Flygvapnet tahu, kalau jumlah produksinya lebih sedikit vs F-16.

      Ini sebenarnya prestasinya sendiri, yg tidak bisa direplikasi pembuat pespur manapun.

      Mirage 2000 saja, sebenarnya dulu sempat di-complain Taiwan, kalau biaya operasionalnya terlalu mahal vs F-16.
      Apalagi Rafale, atau Typhoon.

      Soal spare part, sekali lagi patut diingat kembali,

      ...segala sesuatu dalam Gripen sudah dirancang agar dapat diproduksi semurah mungkin, dan mempunyai faktor relliabilitas lebih tinggi vs tolok ukur F-16.

      Tergantung bagaimana Kita dapat menyerap ToT, dan industrial offset dari Saab,
      Kelihatannya semua essential part yg dibutuhkan untuk Gripen-Indonesia, kebanyakan akan dapat diproduksi sendiri oleh industri lokal.

      Inilah kenapa "keinginan membeli Su-35" menjadi seperti "keinginan anak kecil".
      Masa mau menyerahkan kedaulatan negara ke perbaikan mendalam wajib Moscow?

      Delete
  5. Honeywell Cari Rekanan Lokal untuk "Upgrade" C-130 Hercules TNI AU http://kom.ps/AFvl00

    ReplyDelete
  6. ada tawaran dari peter carlqvist" kami menawarkan gripen c/d kepada TNI AU, pesawat ini lebih cepat deliverynya daripada yg NG, tapi kalo pilih yg NG tidak masalah."

    yg jadi problem pada su 35 TNI AU ini, malahan batch pertamanya dikirim thn 2020, lebih lama ketimbang gripen NG. bahkan Menhan ryamizard komplen mahalnya jam operasional su 27/30nya buat mem force down pesawat asing. "biaya jam sukhoi 400 juta, dipake 2 biji buat intercept pesawat asing, biayanya tergandakan 800 juta, masa dendanya yg dibayar pesawat asing 60 juta, ya rugilah kita."

    namun menhan sama tni aunya malahan Ngotot Sok mampu beli su 35 10 biji cicilan. walaupun bisa dengan G to G. namun ujung ujungnya bayarnya sama perantara. setelah itu, ngotot tot. itu menurut berita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @eki;

      Berita terakhir, katanya "masih nego harga Su-35",
      sayangnya, bermimpi sih boleh, tetapi kenyataannya pembelian Su-35 sudah mustahil

      Presiden Jokowi, sebenarnya sudah memberi signal bahkan sejak Desember-2015 yang lalu, dalam polemik pengadaan AW101 helikopte VVIP Kalau tidak akan ada transaksi Alutsista baru, yang tidak akan memenuhi UU no.16/2012.

      Yang paling penting, adalah pernyataan beliau pada 20-Juli, yang lampau, yang sebenarnya adalah teguran supaya pembelian Alutsista harus menurut kebutuhan, dan bukan keinginan (pihak tertentu).

      Dalam artikel di atas sy sudah menuliskan kenapa prospek Su-35 sudahmustahil untuk bisa memenuhi persyaratan Presiden Jokowi:

      ## Tidak akan ada G-to-G contract!
      Rosoboronexport adalah jalur resmi transaksi militer Russia, dan mereka adalah perantara yg meminta komisi, dengan reputasi kebiasaan sering ingkar janji; tidak menjalankan apa yg sudah disetujui.

      ## Su-35 sebenarnya telalu kuno, ketinggalan jaman, dan Russia, tidak ada kebiasaan membuat paket upgrade seperti para pembuat Barat.
      Langkah yg sangat jelek kalau mau memperlakukan Alutsista sebagai investasi.

      ## Rosoboronexport, sama seperti Lockheed-Martin, tidak akan mau memenuhi persyaratan UU no.16/2012.
      Mau bayar seberapa mahalpun, mau berdoa sekhusuk apapun, ini tidak akan terjadi, karena hal yg berikut...

      ## Sejak tahun 1945, Ruski, dan US hanya menjual pesawat tempur versi export downgrade, dan Indonesia tidak akanmendapat perlakukan spesial.
      Artikel re topik ini banyak kok, dalam blog ini.

      ## Berkaitan dengan pemenuhan UU no.16/2012, dan prosedur penjualan rongsokan Kommercheskiy, Rosoboron tidak akan memberi offset produksi komponen dari industri pertahanan lokal.

      ## Terakhir, kritik beliau dalam hal ini cukup jelas:
      "Tidak boleh lagi asal beli pesawat tempur, tanpa ada perhitungan kalkulasi daur hidup (pesawat) tersebut dalam 20 tahun ke depan".

      Lagipula, terlepas dari semua hal di atas, adalah ide gila kalau mau membeli cicilan dalam jumlah 8 unit untuk "hanggar queen" seperti Sukhoi.

      ## Biaya operasional akan meledak melewati Rp 1 milyar per jam per hari, untuk pesawat yg jumlah komponennya langka, karena produksinya sedikit.

      Dan tidak, biaya operasional mahal, bukan berarti efek gentar hebat, karena....

      ## Berbeda dengan F-16, atau Gripen; maintenance heavy Sukhoi akan membutuhkan lebih dari 40 jam maintenance per jam terbang.
      Tidak akan bisa mengudara setiap hari, berarti kalaupun ada uang pilot akan selalu kekurangan jumlah jam training.

      Inilah kenapa, menurut perhitungan matematika sederhana:
      48 Gripen dengan mudah akan dapat menghancurkan 48 Sukhoi dalam waktu 3 hari maksimal.

      Gripen easy maintenance, dapat terbang berkali-kali dalam sehari. Sukhoi tidak.
      Dalam perhitungan diatas, kebutuhan maintenance saja sudah melumpuhkan separuh armada Sukhoi dalam waktu 2 hari.

      Tidak akan ada perlawanan.

      ## Terakhir, jangan lupa juga persenjataan Sukhoi, tidak seperti F-16, hanyalah missile versi export, dengan kemampuan kill yang tidak pernah di-tes.
      Menembak jatuh pesawat penumpang yang tidak bisa lari, seperti Boeing 777 sih bisa,
      tetapi F-16? Belum tentu kesampaian.

      Inilah kenapa dari perspektif manapun, Efek gentar Su-35 itu NIHIL,
      kecuali untuk menggentarkan keuangan rakyat, dan membagi komisi ke perantara... Yg sebenarnya juga akan selalu memberi pesangon ke bbrp oknum "orang dalam" tertentu.


      Delete
  7. Bung gi...
    Apa benar pemenang tender f5 sdh ditetapkan.. Klo benar pespur apa yg dipilih..???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dengan Presiden Jokowi, dan MenKeu Sri Muliani sudah "in charge" untuk menstabilkan pengeluaran APBN agar jangan sampai terjadi deficit yg terlalu besar,
      ... Untuk sementara waktu tidak akan ada pembelian Alutsista baru, kalau tidak mendesak.

      Dan tidak, "kebutuhan" pengganti F-5" sudah tidak lagi mendesak, dengan pembentukan Sku-16 di Pekanbaru.

      24 F-16 hibah saja belum selesai delivery, sedang jumlah persenjataan masih kurang dari kebutuhan 4 BVR missile + 2 WVR per pesawat...

      Mau beli pesawat tempur lagi, yah, hanya akan membeli macan ompong.

      Delete
  8. Salam sehat bung GI,
    Dengan terpilihnya president baru AS, bagaimana dengan hubungan antara RI - AS ?
    Apakah akan menjadi lebih dekat / lebih lebih jauh . soal pertahanan aja yg dijawab ya bung ... Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Rochmat,

      Karena Indonesia secara tehnis bukanlah sekutu dekat US, seperti halnya Australia, Korea, Jepang, Taiwan, dan Singapore, boleh dibilang kita tidak akan merasakan banyak perubahan secara langsung.

      Kita harus memahami dulu kalau rhetoris Trump yg mengkhawatirkan, sebenarnya adalah bagaimana dia menyebut kalau US harus menarik mundur dari kebanyakan komitmen selama ini terhadap negara2 sekutunya.

      Kalau mereka tidak mau komitmen bayar lebih, kenapa US harus membuang uang untuk "melindungi" keamanan mereka?

      Untuk ASEAN, efeknya akan terasa di Laut Cina Selatan.
      Kalau Trump mengurangi komitmen US Navy untuk berpatroli di LCS untuk menantang klaim PRC selama ini, dapat dipastikan PRC akan lebih berani untuk menguatkan klaim mereka disana!

      Akan lebih banyak kapal nelayan PRC, alias armada bajak laut modern, yg menyusup masuk untuk menjarah perikanan ASEAN, dan dalam 2 tahun, Su-35 PLA-AF akan mulai berpatroli di LCS, dan menantang pertahanan udara masing2 negara.

      Dilain pihak, kalau kita melihat biasanya pemerintah Demokrat mengambil "cautious approach" dalam transaksi militer ke Indonesia,
      Trump akan lebih memperlakukannya seperti bisnis.

      Seperti sy sudah sebutkan diatas,
      Ini bukan berarti program FMS US mendadak akan mau memenuhi UU no.16/2012, akan tetapi...
      ....
      Export tier kita akan naik pangkat, agar dapat menjaga keamanan sendiri, agar dapat, misalnya, menjaga sendiri laut di sekitar Natuna terhadap ancaman PRC.

      ## Export approval untuk komponen US di Gripen akan lebih mudah untuk disetujui, dibanding sekarang.
      Sebenarnya dibawah Obama / Clinton-pun, approval nya sih pasti tetap bisa keluar, mengingat daftar komponen US di Gripen tidak ada yg sifatnya "strategis militer", seperti radar, atau Networking.

      Trump kemungkinan akan lebih mempermudah proses, dan akan lebih mendukung kalau Indonesia mau mandiri.

      ## F-16 kita juga mungkin akan lebih diperbolehkan untuk menambah daftar perlengkapannya jadi lebih modern, misalnya...
      AN/APG-68v9, JHMCS, Link-16, dan APX-111 untuk IFF.

      Kalau di-upgrade lebih jauh, F-16 sbnrnya cukup bersaing kok untuk bisa mengalahkan Su-35.

      Delete
    2. Melihat fakta soal export tier Indonesia yang nomernya cukup buncit , tentu janganlah berharap terlalu banyak kepada F16.

      Kalau memang benar APA adanya soal daftar export tier yg pernah anda jabarkan pada artikel yg lalu, posisi Indonesia tidaklah penting buat AS sendiri.

      Kalau di-upgrade lebih jauh, F-16 sbnrnya cukup bersaing kok untuk bisa mengalahkan Su-35.. Hanya cukup bersaing ? :)

      Apakah pihak Indonesia tidak menyadari soal export tier inj ?

      Delete
    3. =============
      Apakah pihak Indonesia tidak menyadari soal export tier ini ?
      =============

      Mungkin didalam hati sadar, tetapi tidak pernah dibicarakan secara transparan.

      Padahal dari melihat spesifikasi setiap export F-16 yang dijual Washington DC saja, kita sudah bisa melihat kenyataan ini dengan mudah.

      Inilah kenapa sy terus menulis berulang2, kalau pembelian dari Washington DC, ataupun Moscow, hasilnya akan selalu sama saja:
      Versi Export yang sudah di-downgrade.

      Coba saja Google: "Russian Monkey Model", hasilnya juga cukup menarik.

      Inilah kenapa; jangan harap bisa menjunjung kedaulatan, kalau tidak menuruti perkataan kedua sesepuh itu!

      ===============
      F-16 dan Su-35
      ===============
      Yang menjadi masalah untuk F-16, adalah Upgradability di masa depan, karena Pentagon, dan USAF seperti menganggap tipe ini sudah kadaularsa.

      Sebenarnya dalam keadaan sekarang, F-16 akan lebih unggul dari segi radar, networking, defense Suite, Electronic Warfare, kemampuan kinematis, dan persenjataan dibanding Su-35, apalagi yang versi Kommercheskiy.

      Ingat --- Sukhoi tidak akan bisa terbang setiap hari, karena maintenance-nya berat.
      Kalaupun ada uang, dan kemauan Pilot Sukhoi akan selalu kurang latihan vs pilot F-16, atau Gripen.

      Belum cukup disana, persenjataan pun, Su-35 hanya bisa membawa RVV-AE, R-27, atau R-73 versi export!

      Hampir mustahil bisa menembak jatuh satupun F-16, sedangkan sebaliknya pilot F-16 yang lebih terlatih, akan dapat menghabisi Sukhoi manapun dengan mudah.

      Delete
  9. Mimin sudah membaca edisi koleksi majalah Angkasa tentang Saab Gripen?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum.

      Terima kasih infonya... Nanti sy akan membeli untuk menambah ilmu.
      :)

      Delete
    2. Btw, bung Haykal..

      Sy sudah mendapat Angkasa yg edisi Oktober-2016; Banyak artikel yg menarik.

      Kita akan bisa mengulas disini dalam bbrp minggu ke depan.
      :)

      Delete