Sunday, November 20, 2016

Analisis: Kenapa proyek KF-X semakin mendekati ajal

Image: Korea Joongang Daily
Sejarah mengajarkan kalau setiap Military Development Project tidak hanya harus belajar untuk dapat melangkaui tantangan tehnisnya tersendiri. Lebih dari itu, setiap proyek, yang semakin besar, resikonya juga dengan sendirinya bertambah berkali-kali lipat, sebenarnya juga sangat tergantung kepada kestabilan politik, sosial, dan ekonomi dari semua pihak yang terlibat.

Tanpa adanya komitmen lebih lanjut dari pemerintah, proyek nasional tidak akan bisa berjalan. Kalau masyarakatnya sendiri semakin tidak antusias, dengan sendirinya tuntutan untuk membatalkan proyek ke pemerintah menjadi semakin besar. Kalau perekonomian semakin sulit, atau melemah, tidak akan ada uang yang bisa dianggarkan ke proyek. 

Artikel ini akan membahas bagaimana perkembangan pergolakan politik, sosial, dan ekonomi di Korea Selatan sepanjang tahun 2016 ini, tanpa sengaja sudah membuat proyek ini semakin hari terlihat semakin mustahil untuk bisa berjalan lebih jauh. 


Keadaan pemerintah Park Geun-Hye sudah "unsustainable"

Ratusan ribu demonstran di Seoul menuntut Presiden Park Geun-Hye untuk mengundurkan diri
(Gambar: Jun Yeon Je, Reuters)
Seperti sudah dilaporkan di banyak media massa, Seoul sudah dilanda banjir ratusan ribu demonstran dalam beberapa minggu terakhir, yang menuntut Presiden Park Geun-Hye untuk segera mengundurkan diri. Artikel ini tidak akan membahas seluk-beluk permasalahan "krisis politik" yang melanda Presiden Park, tetapi akan lebih menyorot ke konsekuensi apa saja yang menjadi akibat dari krisis ini.

Pemerintahan Park masa jabatannya sebenarnya hanya tinggal 15 bulan lagi. Terlepas dari apakah Presiden Park akan mundur, atau tidak, ini artinya sekurangnya 15 bulan ke depan, pemerintah hanya akan lebih berkonsentrasi ke "damage control". 

Pemerintah baru yang akan menggantikan pemerintah Park, akan menghabiskan waktu satu, sampai dua tahun lagi setelahnya untuk mengkonsolidasi kekuatan, dan membersihkan nama baik pemerintah di mata masyarakat Korea.

Di lain pihak, mengingat approval rating untuk Presiden Park sudah anjlok sampai ke hanya 5%; masyarakat Korea sendiri akan membutuhkan waktu untuk bahkan bisa mempercayai kembali pemerintahan mereka. Tidak, mereka juga tidak akan terlalu antusias untuk membahas KF-X, sampai semuanya sudah selesai.

Dengan demikian, dalam keadaan sekarang, proyek mercusuar seperti KF-X, dapat dipastikan sudah berada di urutan paling bawah dalam prioritas pemerintah Korea. 

Proyek ini sekarang terbilang sudah MACET, atau istilah halusnya, kemajuannya akan TERTUNDA untuk minimal 24 bulan ke depan.

Walaupun baru Januari-2016 yang lalu, Korea masih optimis kalau prototype pertama, masih bisa mengudara di tahun 2020, masalah mereka tidak hanya berhenti disini.



Perekonomian Korea juga semakin tidak memungkinkan

Kemungkinan ini akan memulai "Domino Effect":
Hanjin Shipping jatuh bangkrut 31-Agustus-2016
(Gambar: LA Times)
Kebangkrutan Hanjin Shipping, 31-Agustus yang lalu, sebenarnya hanyalah: "tip of the iceberg"; yang memperlihatkan betapa rentannya perekonomian Korea, yang sekilas kelihatan begitu megah di Asia.

Sebenarnya dari Februari-2016 yang lalu, jauh sebelum kebangkrutan Hanjin, artikel di Korea Times sudah memperingatkan kalau corporate debt ratio Korea sudah melompat ke angka 150%, nilai tertinggi di Asia, dibanding semua negara lain. Perusahaan-perusahaan Korea ternyata terlalu mabuk dengan hutang yang semakin menimbun. 

Artikel BBC, 8-September-2016, memberi penjelasan lebih lanjut permasalahan struktur ekonomi Korea. Perekonomian mereka hampir 95% sebenarnya masih didominasi oleh beberapa chaebol, atau konglomerasi yang didominasi keluarga elite tertentu. Pertanggungjawaban fiskal chaebol tergolong minimal, dan mereka mempunyai kebiasaan untuk terus menumpuk hutang, untuk membiayai pertumbuhan perusahaan supaya kelihatan lebih pesat, dan lebih besar dibandingkan saingannya.

.... kita sudah dapat melihat akibatnya dalam kasus kebangkrutan Hanjin. Disinilah semuanya itu akhirnya mulai mengigit keuangan pemerintah Korea.

Korean Development bank (KDB), bank milik pemerintah Korea, sebenarnya harus menanggung kebanyakan write-off dari $5,5 milyar hutang yang tidak bisa dibayar Hanjin. Belum cukup disana, sebenarnya Hanjin, juga hanya salah satu dari banyak perusahaan chaebol Korea lain, yang sudah melaporkan kesulitan finansial. Salah satunya, adalah DSME (Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering), yang juga sudah menumpuk $3,77 milyar hutang yang belum bisa terbayarkan. Seperti dalam kasus Hanjin, sebagian besar dari hutang ini bisa menjadi kerugian harus ditanggung KDB pemerintah Korea.

Sebagai pembanding, corporate debt ratio perusahaan-perusahaan di Indonesia hanyalah 30%. Perekonomian kita sudah belajar dari krisis ekonomi 1998-1999; menerapkan displin fiskal untuk tidak menyerap terlalu banyak hutang. Masa dominasi para konglomerasi di Indonesia juga sudah berakhir, seiring dengan lengsernya pemerintah Orde Baru. 

Sebaliknya, Korea kelihatan belum belajar dari pengalaman yang sama. Sama seperti di tahun 1998, para chaebol tetap menguasai perekonomian. Apa yang berubah adalah alih-alih meminjam hutang dari bank luar negeri, chaebol meminjam uang justru dari bank-bank pemerintah Korea. 

Keharusan untuk menanggung kerugian hutang Chaebol, akhirnya akan mengigit kemampuan finansial pemerintah Korea untuk membiayai KF-X.

Seperti pernah dituliskan sebelumnya, sudah hampir mustahil kalau development cost untuk twin-engined KF-X, yang lebih rumit dari F-16, akan dapat on budget di $8,6 milyar.

Sebagai pembanding, Eurofighter, dan Rafale -- dua proyek twin-engine fighter Eropa, yang tidak seperti Korea tidak perlu mengemis ToT dari negara lain, sudah mempunyai segudang pengalaman, dan basis industri yang jauh lebih matang, menghabiskan lebih dari US$40 milyar di tahun.



Penutup


Apa yang bisa dilakukan Indonesia untuk menghadapi tantangan politik-sosial-ekonomi seperti di atas, yang sebenarnya dari internal Korea sendiri?

Tidak ada, bukan?

Di luar artikel ini sendiri, semua permasalahan dalam proyek KF-X / IF-X sebenarnya sudah terlalu menumpuk banyak - dan seperti di atas - sama saja. Kita tidak akan dapat melakukan apa-apa untuk merubah semua yang sudah ditentukan Korea sebelumnya:
  • Korea sendiri tidak pernah berpikir panjang, kalau US yang pelit ToT sebenarnya tidak dikenal sebagai partner yang dapat diandalkan dalam "membuat pesawat tempur sendiri".
    Korea Times, 24-Nov-15
    Kekacauan politik di Korea, dan pergantian Kepresidenan di US,
    dapat dipastikan akan membuat semua "alih tehnologi" akan "tertunda lebih lanjut"
  • Korea juga tidak pernah mau ambil pusing bertanya dahulu ke Jakarta dalam memilih partner. Kenyataannya, Washington DC tidak pernah berminat untuk memberikan Transfer-of-Technology ke Indonesia. Ini bertentangan dengan export policy mereka.
Korea Times25-Nov-2015

Lagi-lagi, pesawat versi Export.
MUSTAHIL IF-X dapat membawa tehnologi lebih modern dibanding F-16V,
yang sendirinya lebih inferior dibanding Saab Gripen-E

Kelemahan terbesar Indonesia: 
Pengetahuan, ataupun kemampuan berinovasi dalam tehnologi pesawat tempur kita masih NOL besar. Proyek KF-X, yang tergantung kepada tehnologi U.S; terserah mau bermimpi bagaimanapun juga, tidak akan pernah membuat kita menjadi lebih pandai. Wong, tidak seperti para pemain Eropa, Korea masih harus mengemis tehnologi ke negara lain.

Yah, kita memang sudah memilih guru yang salah, kalau memang tujuannya untuk memajukan kemampuan lokal dalam tehnologi pesawat tempur.

Perhatikan kembali punggung dari model KF-X ini:

KF-X kelihatan akan memakai "Flying boom" seperti F-15, dan F-16,
bukan refueling probe seperti semua pesawat tempur lain


Memenuhi keinginan Korea, 
BUKAN Kebutuhan Indonesia


Kenyataannya semakin cepat proyek ini dibatalkan, atau semakin cepat Indonesia keluar, sebenarnya semakin baik. Hal ini akan membebaskan perencanaan pertahanan Indonesia, yang saat ini masih terpaku kepada asumsi kalau IF-X akan menjadi proyek yang sukses, dan menghasilkan pesawat yang kemampuannya lebih baik daripada F-16.

Semua ini terlalu naif.

Bukan hanya kemungkinan sukses program ini, seperti diatas, sudah semakin minimal, tetapi juga MUSTAHIL Washington DC akan mengijinkan IF-X versi export bisa membawa perlengkapan yang lebih modern dibanding F-16V versi export.

23 comments:

  1. Sebaiknya indonesia menarik diri dari proyek abal abal ini. ujung ujungnya korea ) perlu AS buat ngerjain proyek pespur KFXnya, buat apa indonesia join proyek tsb, malah mencekik uang rakyat saja.

    tapi perusahaan rolls royce berminat membangun pabrik mesin di indonesia untuk investasi jangka panjang. dan saab menawarkan pespur gripen NG , erieye, pembangunan national networking system, rudal SAM BAMSE, ToT RBS15, dan kapal penyapu ranjau buat indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah, bung Eki.

      Memang kalau proyek ini tidak dibatalkan, lebih baik Indonesia keluar.

      Yang menggelikan, banyaknya orang cenderung yang mendukung Sukhoi, atau IF-X, tetapi menolak mendukung F-16V, atau Saab Gripen karena alasan "takut embargo".

      Padahal baik Sukhoi, IF-X, ataupun F-16 sebenarnya setali tiga uang: Versi Export downgrade.

      Sehebat apapun kemampuan ketiga tipe tsb di negara asalnya tidak relevan, karena kita memakai versi yang sudah dilumpuhkan setengah. Downgrade.

      ... ketika Korea memilih Lockheed-Martin sebagai partner ToT, secara tehnis IF-X sudah berubah menjadi F-16... yang faktor resikonya jauh lebih tinggi, dan kemampuannya tidak akan terjamin.

      Dewasa ini, bukan resiko embargo yang seharusnya kita takutkan,
      tetapi bagaimana caranya untuk dapat meningkatkan kemandirian pertahanan Nasional, baik secara strategis, tehnologi, maupun industrial, di luar campur tangan negara lain.

      Sudah seharusnya kita berhenti main mata dengan Washington DC, atau ke Moscow, dan berpaling ke Eropa, yang secara politik selalu lebih netral, dan akan lebih berlapang dada membantu pembangunan pertahanan kita.

      ... dan diantara pilihan2 Eropa, tentu saja tawaran paket kerjasama Saab adalah pilihan terbaik kita.

      Delete
  2. indonesia katanya berkontribusi 20% dalam proyek KFX kira2 dari 20% tsb berapa yg sudah dibayarkan bung dan kalau proyek ini gagal bisa kemabali g tuh duid

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti sy carikan lagi referensinya, tetapi pengeluaran kita untuk KF-X belum terlalu banyak.

      Ini dikarenakan Korea sendiri sebenarnya belum mengambil langkah serius utk membiayai proyek ini, agar melangkah lebih jauh.

      Mnrt Aviationweek, Senate Korea saja hanya membiayai sekitar $150 juta untuk development cost tahun 2016 --- jumlah yg jauh dari mencukupi utk mendapat kemajuan yg berarti.

      Ini menunjukkan, walaupun pernyataan mereka terdengar sangat optimis, mereka sebenarnya masih ragu2 apa mau jalan, atau tidak.

      Jumlah uang yg sudah dikeluarkan, tentu saja hangus; itulah bagian dari resiko proyek.

      Kembali, karena untuk proyek ini sendiri Korea saja belum serius, kalau cut loss sih, kerugiannya masih sedikit.

      Delete
  3. Maaf sebenarnya saya ga tau banyak mengenai alutsista dan biasanya cuma jadi silent reader tapi penasaran juga andaikata Su 35 batal apa pengganti paling cocok apakah F 16 E/F Block 60 Viper atau SAAB Gripen E/F terus saya baca baca SAAB memberikan ToT yang paling menarik dari Link 16, pesawat AEWC radar eyrie yang diintegrasikan ke pesawat CN 295, dan mungkin kalau kita pesen BAMSE SAM 20km berikut misil RBS nya, wah kalau iya keren banget sekalian juga penasaran kan kita mau mempensiunkan Hawk 100/200 apa Gripen SAAB atau F 16 lagi idealnya. Terima Kasih, maaf banyak nanyak soalnya ini tawaran Gripen SAAB sayang banget kalau ditolak mana ekonomis lagi katanya,sekalian juga kan misil - misil Air to Air kita kan sedikit sama kemarin yang dibeli dan mungkin nyampe taun depan dari US juga ga banyak, apa SAAB bisa " bantu " Indonesia mengenai itu ? maaf banyak nanyak, Terima Kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat bergabung bung @thomas
      :)

      ## Pertama-tama, anda bisa membaca lebih lanjut dalam artikel ini:Kenapa Gripen-E adalah pesawat tempur yang lebih unggul vs F-16.

      ## Keunggulan lain yang tidak bisa direplikasi semua pilihan lain, yah Saab juga satu2nya yang menawarkan pesawat AEW&C, untuk meningkatkan pengawasan territorial kita -- "tidak ada satupun lalat yang akan bisa lolos!"

      Penawaran terakhir: Saab menawarkan Globaleye (Erieye radar V2), yang dipadukan Maritime Surveillance Radar, yang dibawa pesawat Bombardier G6000.

      ## Yang tidak kalah penting, Saab memberi tawaran kerjasama development secara industrial, tehnologi, dan edukasi secara jangka panjang --- tak berkesudahan.

      Gripen & Erieye --- hanyalah permulaan, menurut Saab. Potensi dari tawaran ini untuk membuka banyak lembaran kemajuan baru, baik secara industrial, tehnologi, ataupun industrial.

      Nanti sy akan mencoba menjelaskan lebih lanjut dalam artikel2 lain mengenai kelebihan Erieye, dan Kerjasama Saab.

      ## Untuk pembelian Missile; sayangnya, itu tergantung kebiasaan akuisisi pemerintah.

      IMHO, untuk saat ini kita membutuhkan lebih banyak missile dibanding pesawat tempur. Masakan saat ini, kita mempunyai 66 pesawat tempur, dan hanya sekitar 150 missile?

      Bagaimana Gripen akan membantu dalam hal ini kelak?
      Pembelian missile di masa depan, akan terserah kita mau membeli darimana.

      Dengan Gripen, tidak ada yang bisa menentukan apa yg diperbolehkan untuk kita beli.
      "Kalo loe nggak mau jual missile loe ke gue, gue bisa beli dari yang lain!"

      Dengan Sukhoi, ataupun F-16, pilihan seperti ini tidak tersedia.

      Untuk saat ini, sebenarnya pilihannya terkunci.
      Mau membeli dari Ruski (kemampuan akan NIHIL), atau membeli dari USA?

      Delete
  4. O ya lupa nanyak, maaf kalau andaikata proyek IFX bisa jalan terus apa bisa diintegrasikan dengan teknologi dan ilmu dari ToT SAAB Gripen buat bikin IFX Block 2. Terima Kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. IF-X.... seperti dalam artikel ini, kelihatannya kemungkinannya akan semakin menipis untuk bisa terjadi.

      Kalaupun sampai akhirnya diproduksi, kita sepertinya tidak akan diperbolehkan untuk memodifikasi IF-X sesuai yang kita mau.

      Ini dikarenakan IF-X akan tergantung kepada tehnologi US, dan yang paling penting Source Code untuk IF-X akan dikunci.

      Untuk penjelasan lebih lanjut.... lihat jawaban sy di bawah untuk bung @Rochmat, re pemahaman lebih lanjut export policy US

      Delete
  5. KFX/IFX seperti APA yg anda katakan adalah proyek mercusuar Dari Korea Dan Indonesia.
    Korea menginginkan pesawat dengan kebutuhan Dan kesesuain mereka begitu juga Indonesia. Berarti disini Ada 2varian pesawat yg berbeda. Dan version mana yg buat Indonesia ?


    Sepeerti Saab sendiri yg menginvestasikan sekian milyard dollars untuk membuat gripen. Dengan kurang lebih $2milyard Indonesia ingin membuat pespur sendiri. Uang segitu hanya dapat prototype / sudah dapat beberapa pespur ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Rochmat, Bung @thomas,

      Untuk memahami KF-X / IF-X, karena Korea secara sepihak sudah memilih untuk mendapat ToT dari Lockheed-Martin, kita harus terlebih dahulu memahami Export Policy USA.

      (Korea sendiri kelihatan kurang paham re hal ini)

      ## Pertama-tama, Washington senang menjual senjata, tetapi tidak pernah, dan boleh dibilang Anti, dengan ide "Transfer-of-Technology".

      Semua tehnologi militer yang dibawa setiap persenjataan mereka, mau Apache, F-16, atau F-15 --- semuanya sama saja, pembeli dituntut untuk memperlakukannya sebagai barang suci --- jangan coba2 menyentuh, atau kami akan cut off support!

      Yah, mereka sebenarnya dengan sangat teramat sangat enggan, menyetujui proposal ToT untuk KF-X Korea, tetapi ini lebih dimotivasi oleh penjualan F-35 ke sono.

      Setelah kontrak F-35, tentu saja, US kembali menunjukkan wujud asli policy mereka --- Transfer-of-Technology itu HARAM.

      ## Kedua, semua senjata yang mereka jual, termasuk ke sekutunya yang terdekat sekalipun, adalah Versi Export downgrade.

      Seberapa level ini akan di-downgrade, biasanya tergantung ke seberapa akrab negara tersebut ke Washington DC, baik secara politik, ataupun kerjasama militer.

      Sy sudah menjelaskan dalam artikel Export Tier penjualan senjata US ini.

      Semakin akrab negara tsb ke US, seperti Australia, atau UK; semakin banyak hal ekslusif yang bisa didapat, yang tidak akan mungkin bisa diperoleh pembeli yang lain.

      Korea sebenarnya hanya Tier-3; sedikit dibawah negara-negara NATO; sedangkan posisi Indonesia jauh dibawah (Tier-6), karena masih senang main mata dengan Russia; dianggap belum dapat cukup dipercaya untuk memegang senjata2 yang kualitasnya sebanding vs semua negara lain.

      ## Ketiga, memahami kedua hal diatas, kita bisa melihat kalau bentuk ToT "haram" apapun yang akan ditawarkan ke Korea, adalah dalam bentuk tehnologi-versi-export, yang sudah di-downgrade dibanding spesifikasi yang mereka pasang ke... misalnya, bahkan ke F-16IN, alias F-16V versi export untuk India.

      Kenapa demikian?
      Sebenarnya sangat bodoh kalau Korea sendiri bahkan belum memahami hal ini; kompetisi penjualan senjata.

      US tidak akan menginginkan produk saingannya buatan Korea, yang juga memakai tehnologi US, untuk dapat menawarkan paket yang lebih baik dari apa yang mereka bisa tawarkan sendiri.

      ... dan karena itu......

      ## Karena mengandalkan "high content of US technology"; IF-X versi Indonesia, tentu saja akan berbeda dengan KF-X versi Korea.

      Kalau KF-X sudah memakai tehnologi-versi-export,
      IF-X akan memakai versi-export dari KF-X-versi-export.

      Yah, IF-X hanya akan menjadi versi downgrade, dari KF-X, yang sendirinya hanyalah menjadi versi downgrade dari F-16V.

      Begitulah,
      Semoga penjelasannya membantu.

      Delete
    2. Untuk pemahaman lebih lanjut, mari kita melihat skenario dibawah:
      ===================
      Lockheed-Martin, dalam pameran IndoDefence 2 - 5 November lalu, masih menawarkan F-16V ke TNI-AU, bukan?

      Sekarang bayangkan apa yang terjadi, kalau representatif kita berkata kepada LM:
      "Kita memutuskan untuk tidak membeli F-16V, melainkan menunggu sampai IF-X selesai, karena pesawat itu akan lebih unggul daripada F-16V!"

      Washington DC akan berang, bukan?
      Masa produk buatan anak kemaren sore diperbolehkan untuk merebut market F-16 kami?

      Tindakan logis yang berikutnya, yah, mudah.
      Mereka akan memastikan tehnology IF-X lebih rendah daripada F-16V, agar kita menjadi tahu rasa!

      .... inilah kenapa, mau bermimpi seberapapun juga,
      IF-X hanya akan menjadi pesawat yang lebih inferior daripada F-16V Versi Export Indonesia.

      Tentu saja, Saab Gripen-E akan lebih unggul dalam segala hal, dan tidak perlu memakai "tehnologi sensitif" buatan US.

      Delete
    3. Iya sih saya udah searching tentang IFX wah mengecewakan dan tidak sesuai harapan. Skeptis kalau proyek ini bisa lanjut dan kalau lanjut cuma buang buang uang, soalnya US bakal susah banget dan hampir gak mungkin ngasih kita ToT, dan biasanya pun teknologi ekspor mereka downgrade, kalau kita terus impor senjata ke US atau Russia, kita gak bakalan mandiri. Selain itu saya juga ga tau apa dirgantara siap gak infrastruktur nya buat produksi jet tempur. Mungkin lebih baik Indonesia mundur sama lebih bijak dalam urusan alutsista, soalnya alutsista itu bukan soal apa yang kita pengen, tapi apa yang harus. Sebenarnya lebih baik Indonesia lebih baik kerja sama alutsista nya sama negara Eropa kayak proyek fregat sigma 10514 dengan belanda, CN 235 sama spanyol, yang bener bener menyokong kemandirian kita, Korsel bolehlah tentang proyek kapal selam U 209/1400.Dan tentang fighter jet lebih baik kita kerja sama Swedia,tapi ya udah penggiringan opini publik sih ini tentang Su 35

      Delete
    4. Bung @Thomas,

      Untuk Su-35, kita sbnrnya tidak perlu terlalu khawatir.
      Pesawat ini tidak akan pernah bisa memenuhi persyaratan Presiden kok.

      Yang paling penting, sama seperti F-16, tidak hanya Su- akan menjadi rongsokan versi downgrade; Rosoboronexport tidak akan sudi memenuhi persyaratan UU no.16/2012.

      Lebih parah lagi,Ruski tidak akan mau menjamin kalau Su-35 tidak akan membutuhkan "perbaikan mendalam" yang harus dilakukan tehnisi Russia sendiri.... di Russia.

      Sebagai bagian dari "perang gerilya vs tawaran pesawat versi export",
      sy masih akan menuliskan beberapa artikel lain untuk menghancurkan persepsi kalau Su-35 Kommercheskiy itu produk unggulan, sebaliknya.... rongsokan kuno ini, ironisnya bahkan tidak akan mampu menaklukkan F-5S Singapore.

      Delete
  6. TNI AU sering komplain ke PTDI, gara gara delay segala macam. tetapi kenapa gak pernah komplain soal cost per hour Sukhoi dan perbaikan mendalam berbulan bulan?
    belum buka kontes sudah langsung ingin Su 35,tidak mau yg lain, hanya karena ingin punya penempur hebat, tapi anggaran pertahanan terus dipotong.

    kalo india paling komplen sama Sukhoi flemon mereka, Sudah diberi ToT, tetapi Suku cadangnya tidak diperbolehkan Rusia untuk dibuat sendiri oleh india, melainkan suku cadangnya harus didapat dari rosoboronexport. pikir saya, mendingan gak usah pake ToT sekalian. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung eki,

      Pengalaman India, customer terbesar Ruski, sudah mengajarkan suatu hal yang pasti:

      =============
      Rosoboronexport akan selalu ingkar janji. Apa yang mereka janjikan, dan apa yang mereka akan kerjakan akan selalu berbeda.
      =============

      Inilah janji ToT untuk Su-MKI:
      =============
      This means that, of the 43,000 items that go into the Sukhoi-30MKI, some 5,800 consist of large metal plates, castings and forgings that must contractually be provided by Russia. HAL then transforms the raw material into aircraft components, using the manufacturing technology transferred by Sukhoi.

      That results in massive wastage of metal. For example, a 486 kg titanium bar supplied by Russia is whittled down to a 15.9 kg tail component. The titanium shaved off is wasted. Similarly a wing bracket that weighs just 3.1 kg has to be fashioned from a titanium forging that weighs 27 kg.
      =============
      Link Business Standard India

      Inilah kenapa kalau Rosoboron bilang mereka akan memberi ToT ke Indonesia.... er..... tidak akan pernah terjadi.

      Mereka akan selalu lebih mementingkan komisi.

      ## Lantas, kenapa TNI-AU doyan complain ke PT DI, yang perusahaan negara, tetapi tidak ada complain dengan Rosoboronexport, si agen perantara asing yg "baik hati"?

      ...padahal biaya op mahal, TS-2701 & 2702 juga masih mendekam di Ruski, dan belum pulang sejak 9-Desember-2015;

      ...udah beberapa unit masih ditahan disono, kok masih ngebet mau membeli Su-35 rongsokan Kommercheskiy?

      Dalam 5 tahun lagi, semua Su-35 Kommercheskiy akan balik ke Ruski, dan tidak pulang lagi ke Indonesia, bukan?
      ==============

      Jawabannya jelas.

      Agen perantara dalam transaksi militer, seperti yg sudah dilakukan Eurofighter di Austria, Gripen International di Afrika Selatan, dan Lockheed di tahun 1970-an; memmpunyai suatu kebiasaan sama:

      ....akan selalu rajin membagi-bagi pesangon / komisi.

      Delete
  7. Itu saya searching lagi masak US gak mau kasih 4 teknologi inti : AESA radar, radar infra red search and track (IRST), Electronic optic targeting pod, dan radio frequency jammer, itu kalau fitur fitur tu gak ada ya gak bisa disebut pesawat generasi 4.5 dengan stealthy tech lah. Ini kok KFX/IFX banyak gak jelas nya. Sama kan saya searching searching lagi rupanya SAAB gripen E/F dilengkapi teknologi AESA ES-05,bisa dipasang Skyward G IRST, SAAB modular reconnaisance pod system, sama link 16. Duh ini cocok banget buat Indonesia, 2 atau 3 squadron + mungkin 4 AEWC aircrafts + ToT + kerjasama misil RBS 15 + kalau bisa bantu Indonesia nyiapin industri dan pendidikan insinyur aviasi nya + kalau bisa Indonesia beli lagi misil air to air dan air to surface. Ini tinggal komitmen pemerintah aja sama kalau dana apa bisa nyicil ya, tapi ya semoga Indonesia bisa pilih yang tepat dan terutama ekonomis. Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. ========
      Untuk KF-X
      ========
      Singkat cerita, sebenarnya Korea bermimpi kalau US mau memberikan ToT untuk AESA, IRST, Targeting pod, atau Digital Jammer.
      Tidak akan bisa terjadi.

      Perhatikan bahasa Lockheed rep dalam hal ini:
      ==========
      There is no F-35 customer nation receiving the AESA radar technology,” a Lockheed official said. “We made it clear that the tech transfer is only possible with the approval of the US government. We tried but failed.”
      ==========

      Tidak diperbolehkan, dan LM sebenarnya sudah memberitahukannya ke pihak Korea, kalaupun mereka mau mengajukan, sudah pasti ditolak.

      "we tried but we failed" -- sebenarnya bahasanya lebih "We told you so!" --- udah diperingatkan, masih belum percaya!

      Inilah kenapa proyek ini sebenarnya seperti perlombaan untuk siapa yang lebih pintar untuk membohongi diri sendiri.

      ## Korea membohongi diri sendiri budget development bisa di bawah $10 milyar. Sesederhana apapun juga; tidak ada satupun proyek pespur modern yg biaya developmentnya bisa semurah itu.

      ## Lagi, mereka juga bermimpi kalau KAI akan dapat memproduksi desain twin-engine C201 yang lebih rumit;
      walaupun rekomendasi organisasi think-thank KIDA, KAI sendiri, dan Lockheed (sebagai konsultan) lebih mendorong desain single-engine KF-E, yang lebih sesuai dengan keterbatasan tehnologi / industri Korea.

      ## Korea membohongi diri sendiri, kalau US rela mentransfer tidak hanya 4 tehnologi tadi, tetapi juga semua 21 core technology lain yg mereka minta. Kalaupun mau, seperti sy sudah tulis di atas, mereka hanya akan mendapat barang kelas dua, atau kelas tiga (versi export).

      ## Kita juga sudah membohongi diri sendiri, atau ikut dikibulin Korea, kalau berpikir bisa mendapat pesawat yang lebih baik dari F-16, atau mencapai kemandirian dari proyek KF-X.

      Tidak akan bisa terjadi, karena Korea terlalu tergantung dengan tehnologi US, dan dengan demikian memberikan Washington DC kemampuan untuk mendikte proyek ini.

      Lebih lanjut...

      Delete
    2. Bung @thomas,

      Benar sekali.

      Kita sebenarnya akan bisa mencapai MEF cukup dengan 2 Skuadron Gripen (lebih baik mengambil versi E); 32 - 36 pesawat, dan 4 pesawat Erieye AEW&C.

      Tahap selanjutnya: National Networking -- kemudian kita mungkin bisa minta ijin ke US untuk menambah Networking terminal di F-16C/D agar dapat berbagi datalink dengan Gripen, Erieye, dan radar di darat; selain sebaiknya juga menambah IFF, dan Helmet-Mounted-Display.

      Yah, krn versi export, yang source-code-nya juga dikunci, kita harus minta ijin ke Washington DC sebelum diperbolehkan memodifikasi F-16.

      Sebenarnya dari semua tawaran Saab, yang paling penting bukanlah terbatas di Gripen, atau Erieye, tetapi tawaran kerjasama jangka panjang, termasuk Transfer-of-Technology.

      Inilah kesempatan terbesar kita untuk mematangkan industri lokal, sekaligus mulai belajar untuk bisa menjadi pemain internasional yang diakui dunia.

      Delete
  8. Sedikit menyimpang, menurut mimin T-14 Armata akankah bisa mengalahkan MBT NATO atau tidak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Haykal,

      Secara tehnis T-14 Armata boleh dibilang mungkin lebih modern dibanding Leopard 2 A6, atau M1A2 SEP.

      Tetapi T-14 mempunyai dua kelemahan besar:
      ## Hampir semua elektronik Armata sebenarnya harus di-import dari Barat, dan seperti kita ketahui, Russia sekarang sudah di-embargo dari segala arah dari US, EU, dan Israel.

      =========
      Nick de Larrinaga, Europe Editor for IHS Jane's Defence Weekly, predicted that Russia would find it hard to replace Western military know-how.

      'They have been relying on Western sub-systems, electro-optical systems is a good example, but also computer chips and things like that, which Russia doesn't make,' he said. 'How Russia goes about trying to replace these systems is going to be a really big challenge.'
      ===========
      Link DailyMail

      ## Development-nya belum selesai, dan harganya terlalu mahal.

      Sejauh ini, Russian MoD masih belum menandatangani kontrak mass-production dengan UralVagonZavod (UVZ).

      Lagipula, kembali, pertempuran antar-tank di Abad ke-21, sudah tidak bisa lagi seperti dalam pertempuran di Kursk (1943).

      Seberapapun hebatnya MBT tidak akan relevan tanpa support dari infantry, helikopter, dan pesawat tempur.

      Delete
  9. tentang pitch black 2016 di australia,

    Penerbang F16 Sku 16 mendapat apresiasi yg cukup baik dari negara negara peserta. terutama pada dogfight dimana F16 memiliki keunggulan dalam kecepatan dan energi terhadap pesawat lain seperti F18. didukung dengan bentuknya yg kecil dan manuvernya yg lincah, banyak penerbang lawan yg mengakui kesulitan untuk mendapatkan posisi yg menguntungkan.

    Para pespur F16 TNI AU sku 16 dalam pitch black 2016 mendapat banyak pelajaran berharga daripada pilot pespur Sukhoi Sku 11 pada pitch black 2012 yg lalu khususnya dalam hal taktik pertempuran BVR dan operasi Offensive Counter Air level taktis.

    berarti menandakan pilot F16 sku 16 jauh lebih terlatih ketimbang pilot sukhoi sku 11 dalam armada TNI AU.

    Tambahan :

    seandainya apabila TNI AU membeli Gripen, maka indonesia makin rajin mengirimkan pespur gripen bersama F16 dalam latihan multinasional ketimbang Su 35.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang benar, bung @eki,

      Pilot Indonesia akan selalu mendapatkan lebih banyak keuntungan pengalaman dengan memakai F-16 dibanding Sukhoi (versi manapun).

      ## Yang tidak disadari orang: F-16 sebenarnya lebih unggul dalam pertempuran udara jarak dekat dibanding pesawat "anak emas USAF" F-15, yang jauh lebih besar, draggy, dan "bleed too much energy."

      ## F-18 Hornet Classic, yang sesama pespur ringan, sebenarnya lawan yang cukup sulit.

      F-16 memang selalu dinilai lebih cepat / lincah dibanding F-18,
      tetapi F-18 mempunyai keunggulan dalam manuever kecepatan lambat, dapat mengubah arah hidung pesawat lebih cepat vs F-16, karena AoA (Angle of Attack) limitnya lebih tinggi.

      ## Catatan: Kemampuan manuever Sukhoi sebenarnya lebih mirip F-18 dibanding F-16 -- high angle-of-attack, manuever dalam kecepatan lambat.

      ## ... dan karena biaya operasional F-16, dan F-18 jauh lebih murah, tidak seperti mitos yg merebak di Indonesia, pilot F-16, dan F-18 akan selalu lebih terlatih dibanding pilot Sukhoi manapun.

      ## Inilah kenapa armada gado2 sekarang juga agak menyedihkan. Sukhoi di-"anak-emas"-kan, padahal F-16 memang selalu adalah pesawat tempur yang lebih unggul.

      ## Diberitakan Sku-16 yang dikirim ke Pitch Black, tetapi yg menarik, dari foto2 Pitch Black 2016, semua unit yang dikirim adalah dari versi A Block-15 OCU, bukan versi C Block-25+.

      TS-1605
      TS-1608
      TS-1609
      TS-1610
      TS-1611

      Kemungkinan unit2 ini memang sudah di-transfer dari Sku-03 ke Sku-16, agar pembagian versi C/D menjadi seimbang, masing2 Sku mendapat 12 unit.

      ## F-16A Block-15OCU, walaupun masih menggunakan mesin F100-PW200, yg berdaya dorongnya termasuk rendah (106kN), sebenarnya mempunyai keuntungan atas F-16C, karena airframe-nya juga lebih ringan (7,390 kg); sedangkan Block-25 beratnya mulai menembus 8,000 kg, walaupun menambah kemampuan BVR yang masih absen di semua versi A/B.

      ## BVR.... ini membawa kita ke topik berikutnya...

      Kemampuan BVR Sukhoi itu hampir NIHIL, karena RVV-AE, ataupun R-27, kualitasnya..... inferior.

      Terlalu kecil kemungkinannya Su-35S versi lokal sekalipun, akan dapat berhasil menembak jatuh F-16 Indonesia dalam BVR combat, baik dengan mempergunakan RVV-AE, ataupun R-27.

      Versi Kommercheskiy, tentu saja hanya akan dibantai dalam BVR combat.

      Delete