Sunday, November 6, 2016

Indo Defence 2016: Tawaran Kerjasama Saab

Saab stand @ Indo Defense 2016 (Gambar: Saab)

Dalam pameran Indo Defence 2016 (2 - 5 November-2016), hanya Saab, dan Lockheed-Martin yang penampilan stand-nya terlihat paling menonjol, dan juga paling gencar dalam penawaran pesawat tempur "pengganti F-5E".

Ini tidaklah mengherankan. Biar bagaimanapun, karena alasan ekonomis, Dassault, ataupun Eurofighter sebenarnya mengetahui kalau penawaran twin-engine Rafale, dan Typhoon mereka sebenarnya "long shot". Kecil kemungkinannya akan benar-benar diperhitungkan.

Demikian juga dengan Sukhoi.


Terlepas dari hiruk-pikuknya "mimpi Su-35" di Indonesia, Moscow sebenarnya tidak pernah terlalu tertarik untuk menjual Su-35, walaupun dalam bentuk Kommercheskiy (versi export downgrade). Apalagi mengingat calon pembelinya adalah negara pengkhianat yang pernah menghibahkan MiG-21 F-13 ke United States. Dalam pandangan Moscow, sejak tahun 1967, Indonesia adalah sekutu dekat U.S, dan Australia, yang tidak pernah bisa dipercaya.

United Nation Assembly Vote 27-March-2014:

Tidak seperti banyak pelanggan senjata Russia; 

PRC, Vietnam, India, dan 53 negara lain yang menyatakan abstain,

Indonesia bergabung dengan US, Australia, dan 97 negara lain untuk menyatakan
TIDAK MENGAKUI referendum Russia di Crimea

(Gambar: Wikimedia)
Faktor Resiko untuk Russia terlalu besar. Apalagi mengingat ketegangan yang memuncak antara NATO - Russia, yang dimulai sejak Februari-2014, dan tidak kunjung mereda. Sama seperti alasan kenapa pemerintah U.S. tidak mengijinkan penjualan Lockheed-Martin T-50 ke Uzbekistan, penjualan Su-35 ke Indonesia, hanya akan menempatkan model "terbaik" Russia ke titik terdekat dengan Washington DC, dan Canberra.

... dan dengan demikian, karena alasan ekonomis, dan politik; hanya Gripen, dan F-16 yang terlihat masih akan sibuk untuk mempertandingkan order.

Lockheed menawarkan F-16 dengan alasan commonality, dan mereka akan menawarkan "Transfer-of-Technology" untuk dapat "memenuhi" persyaratan ToT Indonesia. Catatan: Mereka tidak berani menyebut UU no.16/2012, karena memang tidak akan pernah ada niat untuk memenuhi... dan tentu saja, apa yang mereka tawarkan hanyalah F-16 downgrade versi export.



Presentasi Paket Lengkap Saab


Saab Indonesia, menampilkan suatu presentasi yang komprehensif, dan lebih mendetail dalam bentuk penawaran Air Defense Solution mereka ke Indonesia:
  • Pemenuhan semua persyaratan UU no.16/2012 dalam setiap bentuk penawaran Saab.
  • Gripen Fighter System - versi yang ditawarkan adalah Versi C/D, dengan MS-20 upgrade. Satu-satunya pilihan penjamin kedaulatan bangsa, karena semua kemampuan, ataupun upgradability sepenuhnya di tangan kita; bukan di tangan Washington DC, atau Moscow, seperti sekarang.
  • Paket lengkap yang menyertakan akusisi, dan produksi RBS-15F, yang tidak hanya dapat dioperasikan Gripen, tetapi juga dapat dioperasikan dari darat, ataupun dari kapal. (KCR dengan RBS-15F prospeknya akan cukup menarik!)
  • GlobalEye AEW&C, dengan Bombardier G6000, dan Erieye ER, atau Erieye radar v2. Ini juga menunjukkan Saab sudah mulai bergerak dari penawaran tradisional, biasanya dengan Saab 340, atau Saab 2000. Kemampuan Erieye II akan dibahas lebih mendalam di topik lain.
  • Pembangunan National Networking untuk menjamin Situational Awareness, yang dimulai dari mengintegrasikan Gripen System + Erieye, dengan seluruh fasilitas radar di darat, dan semua Alutsista darat, dan laut.
  • Undangan sebagai partner untuk kerjasama jangka panjang, yang tidak seperti penawaran lain mananpun, sifatnya tidak akan berkesudahan.

Point terakhir ini sangat penting, karena sebenarnya juga menjawab semua pertanyaan skeptikal, apakah benar Saab akan terus menjamin paket Transfer-of-technology yang comprehensive, atau apakah mereka akan memegang ekor kalau kita mengambil setengah-setengah?

Jawabannya cukup jelas. Tawaran Saab, tidak seperti paket tawaran lain manapun yang kita dapat dari negara lain. Kalaupun kita sekarang belum siap, pintunya tetap terbuka untuk mencobanya di kemudian hari.
Ini membuka prospek kerjasama jangka panjang yang akan sangat menguntungkan kedua belah pihak. Sifatnya akan jauh lebih mendalam dibanding kerjasama dengan EADS Casa, ataupun EADS Airbus sejauh ini, yang saat ini lebih terbatas hanya ke PT Dirgantara Indonesia. 



Fokus Presentasi 1: The very easily upgradable Gripen


Pertama-tama, presentasi ini menggaris-bawahi kelebihan upgradability Saab Gripen, yang tidak akan dapat ditandingi semua pesawat tempur lain, termasuk... IF-X, yang juga adalah pesawat versi export.

Seperti sudah ditampilkan dalam blog ini, salah satu kelebihan Gripen yang tidak terlihat adalah the most easily upgradable fighter. Presentasi Saab menunjuk kalau MS upgrade per tiga tahun, akan memastikan kalau Gripen-Indonesia tetap 100% up-to-date dengan Desired Capability Level, yang sebenarnya terus berevolusi tanpa henti, dan biasanya jauh lebih cepat daripada paket upgrade pesawat tempur lain.


Complexity of Embedded System will grow by a multiple of tens in the span of seven years.

... dan karena melihat kenyataan ini, Saab sudah merancang source code di Gripen, seperti halnya iOS, atau Android app dalam SmartPhone sehari-hari; setiap app dapat di-upgrade secara independent, tanpa mempengaruhi semua kemampuan yang lain. Bahkan, Saab sebenarnya melangkah lebih jauh dibanding tehnologi smartphone: 40 komputer yang sekarang memproses kinerja tempur Gripen, hardware-nya pun dapat di-swap dengan mudah, untuk mengikuti perkembangan tehnologi.
Youtube Capture from Saab's presentation @ Farnsborough 2016
Seperti dalam grafik diatas, karena kemudahan sistem upgrade Saab, kemampuan processing calculation untuk semua komputer di Gripen-E akan dapat meningkat 1000 milyar kali lipat, di tahun 2050. Dalam tahun 2030, tergantung bagaimana ampuhnya kemajuan embedded technology, bukan tidak mungkin Gripen-E dapat menyandang gelar the most advanced fighter in the world.

Pesawat tempur lain tidak akan bisa mendekati. Lockheed-Martin bahkan belum bisa membuat F-35 dapat menembakkan GAU-25 cannon. Sedangkan dalam contoh F-16, yang sudah terbukti lebih upgradable, sebenarnya menghadapi beberapa masalah:

Paket MLU untuk F-16 tidak akan mampu bersaing dengan MS-upgrade untuk Gripen. Kapan paket MLU upgrade berikutnya untuk F-16, akan 100% tergantung kepada kebijaksanaan manufacturer Lockheed-Martin, dan juga export policy Washington DC.

Kelemahan Kedua: mengingat F-16V Block-72, hanyalah pesawat Versi export; baik Pentagon, ataupun Lockheed-Martin, TIDAK AKAN MAU MENJAMIN kalau F-16V Indonesia akan mendapat comprehensive upgrade yang sebanding dengan F-16V Singapore, atau F-18F Australia.

Kelemahan terakhir: Lockheed-Martin, ataupun Pentagon sebenarnya sudah menganggap F-16 sebagai pesawat yang sudah kadaluarsa, karena mereka begitu terobsesi untuk membeli F-35 Lemon II. Faktor terakhir ini, hanya akan memastikan kalau paket upgrade untuk F-16V di masa depan akan semakin terbatas.

IF-X tentu saja akan mengalami nasib yang sama dengan F-16V, dan mengingat pembuatnya belum berpengalaman, dan seperti Lockheed, tidak akan dapat menjamin upgrade, kemungkinan akan cepat berubah menjadi pesawat yang ketinggalan jaman dalam beberapa tahun. 

Inilah kenapa F-16V sebenarnya tetap adalah pilihan yang lebih baik dibanding IF-X.

Kalau IF-X upgrade kelihatan sudah cukup parah, Su-Kommercheskiy Ruski, sebenarnya nasibnya jauh lebih mengenaskan.
Inilah kelemahan utama semua pesawat tempur Russia, bahkan dari jaman Soviet.

Barang gagal Sukhoi Su-35 Kommercheskiy, tidak hanya tersedia dalam versi export downgrade, sebenarnya masih terpaku ke tehnologi tahun 2007 (lihat point ke-7). Dalam 20 tahun lagi, kalau masih ada satupun maintenance-heavy Su- yang masih bisa terbang, tehnologi Sukhoi, yah, tetap tidak ada perubahan.

Russia tidak pernah mendesain pesawat tempur untuk bisa di-upgrade secara reguler, seperti halnya semua pesawat tempur Barat sejak tahun 1960-an. Dan mereka memilih untuk tidak mau belajar. Walaupun teen Fighters U.S. sekarang, seperti F-16V, ataupun F-18F, desain awalnya dari tahun 1970-an; keduanya sudah mendapat upgrade secara bertahap untuk mengikuti perkembangan jaman. Inilah kenapa semakin tahun, teen fighters US sebenarnya tetap saja kemampuannya jauh lebih unggul dibanding Sukhoi manapun.

Mengingat persenjataannyapun versi export, meragukan kalau Su-35 bahkan bisa mengalahkan F-16 Block-25+ versi hibah dari pemerintah Obama.

Kebanyakan dari upgrade disini tidaklah terlihat dalam kasat mata, karena dalam bentuk refinement di software system, tetapi konsekuensinya cukup serius dalam kemampuan. Misalnya:
  • Radar Irbis-E Su-35 yang sekarang saja sudah kuno, dalam 10 tahun belum tentu masih mempunyai kemampuan untuk dapat melihat Gripen-C, ataupun -E, yang sudah mendapat upgrade ke jammer mereka -- apa yang bisa mereka lihat hanyalah ratusan radar clutter yang tidak karuan.
  • Dua MBDA Meteor yang sedang melaju untuk menghantam Sukhoi, terlihat seperti 12 missile, dan pilot Sukhoi Kommercheskiy kemudian akan mengarahkan gelombang Jammer, dan chaff ke arah yang salah!
    Inferior Su-35 Kommercheskiy:
    Too expensive
    Downgraded Export model
    Hopelessly obsolete
    Maintenance queen
    Low Availability Rate
    ... and they will not create good pilots
Tentu saja, tidak seperti mitos, jarak jangkau Gripen akan memenuhi kebutuhan pertahanan. Dengan kapasitas internal fuel hanya 3,400 kg untuk Gripen-E, dibandingkan 11,900 kg untuk Sukhoi Flemon, tetapi jarak jangkau yang sebanding, biaya operasional Gripen akan lebih murah dibandingkan konsumsi bensin Sukhoi Flemon.


Penutup



Bukan. Ini bukan "tawaran yang menggiurkan"

Paket tawaran Saab sebenarnya seperti sudah mengajukan aplikasi untuk menjadi Warga Negara Indonesia.

Mengambil opsi Saab adalah langkah yang paling tepat untuk menjamin kemajuan pertahanan negara kita, dalam waktu yang tidak terbatas. Pilihan yang sebenarnya juga paling menguntungkan kemajuan industri pertahanan lokal, secara manajemen inovasi, ataupun kerjasama secara academis.
President Jokowi Stress Test:
Memenuhi kebutuhan, bukan keinginan

"Keinginan" membeli pesawat inferior Su-35 versi "Russian Monkey Model",  semakin terlihat seperti keinginan anak kecil yang meminta balon gas yang kelihatan menari-nari indah. Padahal, balon tersebut mengudara tidak bisa lama, karena gas heliumnya hanya tahan semalam. Keindahan semu, untuk kenikmatan sesaat.
Sukhoi: Sekali pakai buang!
Masih belum terlambat untuk kembali ke jalan yang benar, dan memerdekakan diri dari penjajahan pesawat-pesawat versi export downgrade, yang sudah membelenggu pertahanan kita selama hampir enam puluh tahun.
Wikimedia Common
"Versi Export downgrade " Edisi tahun 1962

RAAF photo by Cpl. Casey Gaul
Versi Export downgrade tahun 1989
Gambar: TNI-AU
Versi Kommercheskiy downgrade yang paling PARAH,
tehnologi tahun 1980-an, persenjataan versi export,
Hobi: mudik nggak pulang-pulang...
Atau yang lebih parah lagi....
Gambar: IHS Jane's
Pesawat versi export  downgrade "buatan" anak bau kencur,
dengan biaya development, harga, dan biaya operasional
100X lebih mahal vs F-16,tapi tidak akan lebih hebat dibanding F-16V
Tidak ada kedaulatan negara. Hanya ada kedaulatan penjual.

Pilihan kita sebenarnya sederhana kok. Masih mau terus bermimpi, dan membayangkan  di awang-awang, kalau pesawat-pesawat versi export yang sekarang dapat menjamin kedaulatan bangsa, atau memilih satu-satunya pesawat yang akan MEMERDEKAKAN kita dari belenggu penjajahan downgrade.


Pilihan yang lebih baik dibandingkan Gripen-C:
Supercruising Gripen-E dengan Sensor Fusion, dan TIDLS Network
Kontrol atas Source-Code berarti kedaulatan ada di tangan,
Daftar persenjataan terserah kita,
Kalau bisa menambah innovasi sendiri silahkan!

Futureproof: Easily Upgradable,
High Operational Rate, and very Easy maintenance,
Economical Operational Cost,
Easily deployable throughout the archipelago
Too good to be true?
Because it just is.

17 comments:

  1. selama transfer teknologi soal mesin belum bisa diakses, jangan mimpi soal kemandirian. kasusnya sudah ada. China boleh bikin rupa2 fighter baru, tapi soal mesin mereka masih sangat tergantung Rusia. Dan jangan lupa, transfer teknologi Gripen tetap rawan tekanan dan intervensi AS karena Gripen masuk dalam ITAR (UU di AS perihal Pengaturan Perdagangan Senjata Buatan AS)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ====================
      ...selama transfer teknologi soal mesin belum bisa diakses, jangan mimpi soal kemandirian.
      ====================

      Aneh? Untuk apa mengakses (ToT) tehnologi mesin?

      Mesin "supercruising" GE F414-GE-39E untuk Gripen-E sebenarnya dibeli Saab dalam bentuk COTS (Commercial-Off-the-Shelf), yg versinya sudah dibuat atas hasil kerjasama GE, dan Saab.

      Ini prosedur standard industri militer, karena mencoba membuat mesin sendiri, spt yg anda tunjuk dengan mesin buatan PRC, yang kualitasnya kacau-balau, sebenarnya hampir mustahil.

      Korea membeli COTS mesin F404/F414 untuk T-50, dan proyek mercusuar KF-X.

      India juga membeli COTS mesin F404/F414 untuk HAL Tejas.

      Seperti sudah pernah ditulis dalam topik Miskonsepsi tentang Sukhoi:

      ... anda lupa, kalau sebenarnya 99% semua pesawat, dan helikopter militer Indonesia masih memakai mesin buatan U.S.

      Dan ini bukan sesuatu yang jelek, karena tidak hanya U.S adalah supplier mesin aviation terbesar di dunia, paling tidak mereka juga mempunyai reputasi membuat mesin yang sangat reliable.

      Fokus disini, seharusnya adalah:
      Apakah kita akan mempunyai kemampuan mandiri untuk maintain, atau bahkan overhaul mesin tersebut?

      Kalau melihat pengalaman memakai F-16 Block-15OCU, bahkan semasa embargo dahulu kala 1999 - 2005, sepertinya tidak akan pernah ada masalah dengan mesin U.S.

      Apa yang anda lupakan adalah, bahkan dalam masa embargo, F-16 sebenarnya tetap operasional, walaupun harus kanibalisme spare part, dan maintenance tambal sulam.

      Perbedaan disini:
      Pembelian Saab Gripen akan mengurangi pengaruh tehnologi militer U.S., seperti halnya sekarang dalam F-16.

      Semua parameter F-16 itu sudah dikunci oleh pembuat -- kedaulatan 100% di tangan Washington DC.
      Ini bisa mulai dari flight parameter, radar mode, atau combat programming tertentu, karena semuanya mengacu ke Source Code.

      Inilah yang menentukan.

      Terakhir, tentu saja, baik U.S. ataupun Russia (setali tiga uang), akan mendikte apa yang diperbolehkan, baik itu persenjataan, ataupun perlengkapan, ke dalam pesawat tempur yang mereka buat.

      Dan tidak, kita tidak berhak untuk mencoba mengubah satu pakupun!

      Sukhoi, atau F-16 sebenarnya masih tetap 100% milik Washington DC, atau Moscow, walaupun negara sudah menghamburkan milyaran juta $$.

      Delete
    2. =================
      .... tetap rawan tekanan dan intervensi AS karena Gripen masuk dalam ITAR (UU di AS perihal Pengaturan Perdagangan Senjata Buatan AS)
      =================

      Argumen re embargo, sebenarnya sudah tidak relevan untuk di diskusikan dewasa ini.

      Ini salah satu topik pertama yg sudah ditulis dalam blog ini:
      Kenapa harus takut embargo?

      Dan sangat aneh, kalau kita masih phobia ketakutan akan embargo yang sudah tidak akan pernah datang,

      ... tetapi tidak takut dengan masalah perbaikan mendalam, yang sudah menggerogoti Sukhoi buatan Ruski satu per satu.

      Mesin AL-31F Sukhoi sering mati sendiri di udara, tidak dibuat untuk tahan lebih lama dari ratusan jam operasional, dan harganya $3 juta per unit; dan membutuhkan waktu 4 - 5 hari untuk mengganti mesin.

      TS-2701, dan TS-2702 masih menjalani "perbaikan mendalam", dan sebentar lagi genap 1 tahun.

      TS-3001, dan TS-3002 sudah tidak pernah terlihat di publik sejak 2008.

      IMHO, justru sudah saatnya mempensiunkan Sukhoi versi Kommercheskiy downgrade, efek gentar nihil, dan hobinya hanya mengabiskan uang negara, dan memberi makanan ke perantara.

      Delete
  2. Oh ya, Typhoon pun masuk dalam ITAR

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oiya, U.S. tidak akan keberatan kalau kita mengakusisi Gripen kok, karena merekapun akan mendapat banyak keuntungan dari transaksi ini.

      Ini akan dibahas dalam topik lain.

      Delete
  3. Kalau Saab serius mau ToT, kita bisa minta mereka berbagi teknologi sistem propulsi rudal. Teknologi ini sensitif dan negara2 produsen rudal umumnya enggan berbagi teknologi ini. Dengan penguasaan propulsi rudal (mesin roket), kita bisa mengejar "air superiority gap" dengan tidak melulu mengejar kuantitas fighter. Inventori fighter tetap perlu, tapi coba bayangkan efek deterrent nya kalau di tiap titik strategis dan kota besar terpasang baterai2 rudal hanud berjangkauan jauh..... Mau "dipadamkan" dengan penyerang elektronik pun tidak mudah karena butuh armada besar dan joint operation skala besar.
    Selain propulsi rudal, minta juga Saab berbagi teknologi radarnya sekalian. Kalau hanya memasang network saja, ya tetap saja untuk urusan penginderaan jarak jauh kita tergantung pada pihak luar.
    Penguasaan propulsi dan elektronik mutlak diperlukan utk mengejar kemandirian pertahanan.
    Sekali lagi, bukan fighter tak penting, tapi jangan "terbuai" dgn target kuantitas armada fighter, karena sebenarnya fighter hanyalah salah satu komponen dari lingkup pertahanan udara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saab sebenarnya sudah menawarkan produksi RBS-15F di fasilitas PT Dirgantara Indonesia di Bandung.

      Ini adalah cruise missile modern, yang dapat melakukan evasive manuever saat mendekati target, dan dapat dipakai untuk menghancurkan kapal.

      Deterrent Effect?
      Sejak tahun 1960-an sampai sekarang, TNI-AU sebenarnya tidak pernah mengoperasikan banyak anti-ship missile.

      Aneh, bukan, kalau tugas utamanya untuk menjaga negara kepulauan?

      =====================
      Sekali lagi, bukan fighter tak penting, tapi jangan "terbuai" dgn target kuantitas armada fighter, karena sebenarnya fighter hanyalah salah satu komponen dari lingkup pertahanan udara.
      =====================

      Betul.
      Ini sebenarnya adalah salah satu topik utama dalam blog ini.

      Sebenarnya tidak seperti Renstra tahun 2010, kita tidak membutuhkan 180 pesawat, atau 10 skuadron tempur. Tidak akan pernah bisa efektif, tanpa investasi training, persenjataan, infrastruktur pendukung (AEW&C & Networking), dan sistem yang modern.
      ... apalagi kalau armada yang dibayangkan masih gado-gado dengan efek gentar NIHIL.

      Sebaliknya,
      64 - 80 Gripen-E (4 - 5 Skuadron) jumlahnya sudah lebih dari cukup untuk menjaga pertahanan Indonesia, selama memenuhi beberapa persyaratan berikut:

      ## TNI-AU sudah menguasai sistem latihan yg dapat memanfaatkan kelebihan Gripen: dapat mengudara berkali-kali dalam sehari, sehingga jumlah yg mengudara akan selalu lebih banyak dibanding pespur negara lain, dan juga menguasai kemampuan Gripen untuk dapat dipindah-pindahkan ke banyak lanud perintis.
      ## Setiap pilot Gripen sudah berlatih menurut standard NATO selama 150 - 200 jam setahun, masih ditambah ratusan jam lagi di simulator, dan juga lebih rajin menekuni banyak latihan mancanegara untuk mengasah kemampuan.
      ## Setiap Gripen harus dapat dipersenjatai 4 MBDA Meteor, dan 2 WVR missile modern + jumlah stock di gudang.
      ## Armada Gripen mendapat dukungan dari 4 GlobalEye AEW&C
      ## National Network, yang mengintegrasikan setiap Alutista AU-AD-AL, dan terkoneksi dari Sabang - Merauke,
      ## ... dan sudah dioperasikan dalam satu sistem modern yang terpadu, yang akan siap menghadapi lawan yang jumlahnya lebih besar / kuat.

      Inilah kembali mengacu ke topik utama blog ini:
      Kenapa kita membutuhkan Gripen Fighter System, Erieye, dan Networking untuk menjawab kebutuhan pertahanan Indonesia untuk 50 tahun ke depan.

      Delete
  4. perbaikan TS-2701, dan TS-2702 sudah berlangsung selama hampir satu tahun? yg bener bung kalau dibandingkan dgn pespur barat untuk kerusakan terparah biasanya makan waktu berapa lama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tepatnya, website TNI-AU melaporkan TS-2701, dan TS-2702 dikirim mudik pada tanggal 9-Desember-2015 seperti sudah di-post disini.

      FYI - kedua Su-27SK yg dibeli di 2003 ini adalah dua Su-27 yang versi kuno, dan tidak tertutup kemungkinan kalau keduanya adalah unit ex-PVO Soviet bekas, yang kemudian dioper ke Indonesia dengan harga mahal.

      Semua instrumen cockpit-nya saja masih analog; tidak ada satupun layar LCD. Tidak ada refueling probe untuk air-to-air refueling seperti semua TS-27, dan TS-30 yang lain.

      Tentu saja, seperti semua pespur buatan Ruski, mustahil untuk bisa di-upgrade.

      IMHO, lebih baik kedua unit ini di write-off daripada harus membayar kwitansi Rosoboronexport.

      Kita lihat saja; Dalam 3 - 4 tahun ke depan, ke-6 Su-27/30 dari batch kedua yang dibeli di tahun 2006/7 sudah akan overdue untuk "perbaikan mendalam".

      TS-3004 (atau -3005), dan TS-3006 sudah mendahului dengan perbaikan mendalam delapan bulan.

      Yah, kembali,
      Kenapa masih ada pernyataan menginginkan rongsokan Su-35 Kommercheskiy downgrade?

      Nasibnya akan sama saja, atau lebih parah.

      Delete
    2. Belum menjawab pertanyaan anda yg lain: dibandingkan pespur Barat bagaimana?

      =========
      F-16 saja, sejak 1989 sampai sekarang, tidak pernah perlu dikirim pulang.

      Walaupun pernah menderita embargo spare part, dan bbrp unit sampai dikanibalisme habis2an.

      Semuanya bisa dikerjakan sendiri oleh para tehnisi TNI-AU.
      =========

      12 bulan sih..... Saab sekarang saja sudah dapat memproduksi Gripen-C dari NOL, sampai siap terbang.

      Kemungkinan besar sih, mengingat kedua Su-27SK sudah begitu kuno, perbaikannya memang sengaja dibikin molor, atau ditunda2.

      Kenapa? Sederhana, $$$.

      Ini sih hanya rutinitas biasa kalau berurusan dgn agen perantara resmi, Rosoboronexport.

      India sudah melaporkan sering mengalami hal yg sama di tahun 2011.

      Lucu kan?
      Bisa complain soal Super Puma, atau C-295 produksi PT DI, tetapi tidak pernah ada complain soal Sukhoi?

      Delete
  5. @DR

    Tumben di artikel ini jadi "melumer dan kelihatan terburu-buru", saab fokus menawarkan gripen c/d (bukan seri NG)...padahal secara kuantitas (jika F-16 hibah dan MLU-OCU sdh siap, T-50i sdh dibelikan radar dan hawk 109/209 diupgrade, su-27/30) secara total sudah memadai, sementara negara2 tetangga sdh menyampaikan time frame pengadaan pespur baru (rata2 pasca 2025)?



    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @hari,

      Saab menawarkan Gripen-C/D karena alasan kalau TNI-AU mau delivery-nya cepat.
      Gripen-C sekarang lini produksinya sudah jauh lebih matang, dan dapat diproduksi dalam waktu kurang dari 12 bulan.

      Mereka sendiri menyatakan kalau kita mau menunggu setelah lewat 2020-an,
      memilih Gripen-E juga boleh.

      Semuanya tergantung kembali ke kita:
      Apakah mau menunggu lebih lama, bayar lebih mahal untuk versi-E yg lebih unggul dalam segala hal, atau mau cepat mengambil Gripen-C?

      Anda benar dalam hal ini:
      Kita sebenarnya tidak butuh delivery cepat, karena kebutuhan "pengganti F-5E" sudah tidak mendesak.

      Sku-15 sudah diisi supersonic T-50, sedang Sku-16 baru dibentuk dengan F-16 hibah
      .

      Inilah kenapa memang sebenarnya lebih logis mengambil time frame pasca-2025.
      Pada waktu itu, semua Sukhoi Kommercheskiy di Sku-11 sudah habis masa pakainya.

      Delete
  6. menurut saya, agar mewujudkan indonesia sebagai poros maritim dunia. sebaiknya TNI harus melakukan :
    1. Sukhoi Su 27/30 kommercheskiy harus pensiun dini dan diganti dengan gripen NG agar tidak terjerat lagi biaya operasional dan markup
    2. buat ganti f5 e tiger jangan Su 35, namun tetap gripen NG plus ToT, paket perawatan, pelatihan, lisensi suku cadang.
    3. Program IFX sebaiknya jangan sama korea, tetapi dengan swedia(di alihkan).
    4. buat pesawat AEW&C diperlukan 8 biji saab erieye atau 6 globaleye.
    5. pengganti rudal c802 yg dibeli ibu ratu, adalah RBS15 plus ToT.

    mudahan saja presiden jokowi tahu tentang solusi yg saya tuliskan, dan cepat terealisasikan.

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. menurut saya, agar mewujudkan indonesia sebagai poros maritim dunia. sebaiknya TNI harus melakukan :
    1. Sukhoi Su 27/30 kommercheskiy harus pensiun dini dan diganti dengan gripen NG agar tidak terjerat lagi biaya operasional dan markup
    2. buat ganti f5 e tiger jangan Su 35, namun tetap gripen NG plus ToT, paket perawatan, pelatihan, lisensi suku cadang.
    3. Program IFX sebaiknya jangan sama korea, tetapi dengan swedia(di alihkan).
    4. buat pesawat AEW&C diperlukan 8 biji saab erieye atau 6 globaleye.
    5. pengganti rudal c802 yg dibeli ibu ratu, adalah RBS15 plus ToT.

    mudahan saja presiden jokowi tahu tentang solusi yg saya tuliskan, dan cepat terealisasikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf bung eki,
      Sepertinya kelewatan me-reply yg ini.

      ....tapi sudah terjawab di artikel lain.

      Yah, mudah2an Presiden Jokowi akhirnya akan mulai mengarahkan kemajuan pertahanan Indonesia ke arah yg lebih baik; yang lebih memilih menguntungkan kebutuhan nasional.

      Delete
  9. maaf bung GI sampe terpost 2 kali gara gara internet not respond

    ReplyDelete