Monday, November 14, 2016

Analisis: Kita tidak lagi membutuhkan pengganti F-5E

Rumor. Miskonsepsi. Mimpi. Emosi. Rhetorisme.

Semuanya sesuatu yang normal, yang selalu mewarnai setiap diskusi online, baik militer, ataupun tidak dimanapun juga di seluruh dunia. Yang paling parah, adalah saat dimana kita begitu terombang-ambing, sampai tidak lagi bisa membedakan antara hal-hal diatas, dari Realita, atau Kenyataan

Sebelum melaju lebih jauh, sekali lagi tarik nafas dahulu dalam-dalam, dan menjernihkan pikiran, sebelum kita membahas lebih jauh:

Kenapa negara kita sudah tidak lagi membutuhkan 
"pengganti F-5E"




Kenyataan Pertama: F-16 Block-25+ Hibah, dan T-50 sebenarnya sudah menggantikan F-5E/F

TS-1625 - Unit 83130, produksi 23-Januari-1985:
Akan bisa operasional sampai 2035 - 2040
(Gambar: TNI-AU)
Memang TNI-AU mengajukan RFI (Request For Information) untuk pengganti F-5E sebelum F-16C/D pertama memulai delivery. Sayangnya, yang sering dilupakan orang, proyek "pengganti F-5E" ini sebenarnya berjalan secara pararel dengan rencana akuisisi 24 F-16 Block-25+ ditambah 6 pesawat spare part "hibah" dari pemerintah Obama, yang sudah dijalankan dalam program "Peace Bima Sena II" sejak November-2011.

Sampai 21-September-2016, TNI-AU bahkan masih menunggu kedatangan 10, atau 11 unit lagi. TS-1642 yang harus di-written-off karena kecelakaan di Halim tempo hari, kemungkinan akan diganti dengan salah satu pesawat spare, yang pada mulanya diakusisi hanya sebagai spare part resource.

Perhatikan perubahan struktur TNI-AU dalam empat Skuadron berikut, sejak tahun 2010 sampai ke tahun 2017:

Seperti bisa dilihat; 19 pesawat tempur baru sebenarnya sudah bertambah sampai dengan 2017. Ini sebenarnya sudah equivalent ke Satu Skuadron tambahan dibandingkan di tahun 2010.

Sementara 6 – 7 F-16C/D akan menambah jumlah F-16 di Sku-03; TNI-AU juga akan membutuhkan lebih banyak pilot, dan crew untuk mengawaki 16 F-16C/D di Sku-16 yang baru dibentuk di Pekan Baru. 

19 - 24 pesawat baru, tergantung berapa Hawk Mk53, atau F-5E/F yang masih bisa mengudara, dengan sendirinya membutuhkan sekurangnya 30 sampai 40 pilot tambahan, dan ratusan ground crew. Semuanya harus dilatih kembali. Infrastruktur juga harus dipersiapkan. Semuanya adalah proses yang bukan berjalan sehari-semalam, melainkan bisa makan waktu bertahun-tahun.

Nah, kebetulan, F-5E di Sku-15 yang memang sudah uzur, dipensiunkan di saat yang bersamaan

Daripada mencoba melatih pilot, dan crew sama sekali dari NOL, bukankah lebih mudah untuk memindahkan pilot dan crew Sku-14, yang sudah berpengalaman dengan F-5E, ke Skuadron baru (Sku-16), yang akan mengoperasikan F-16, yang perawatannya lebih mudah dibanding Sukhoi, dan kemampuannya jauh lebih unggul?

Kalau mau bilang pertahanan udara di Madiun jadi melemah, kenyataannya, ke-15 T-50 (satu sudah jatuh), yang jauh lebih modern, lebih fleksibel, dan sebenarnya di desain untuk menggantikan T-38, ”saudara misan” F-5E, juga sudah mengisi kebutuhan ini.
  • TNI-AU juga sudah mulai mengoperasikan T-50 sebagai lawan tanding aggressor, walaupun sifat skenarionya masih tergolong cukup sederhana. Misalnya, apakah Sukhoi Kommercheskiy akan dapat menghadang T-50 yang berperan sebagai penyusup dalam Latihan Perkasa D-14?
    Tentu saja, T-50 menang 3-1 atas Sukhoi Kommercheskiy downgrade
  • Menurut Bangka Pos, 31-Mei-2016 yang lalu, TNI-AU bahkan sudah mulai mempergunakan T-50 untuk menjaga Natuna, menggantikan ”Sukhoi dan F-16, yang biaya operasionalnya terlalu mahal,” menurut Marsekal Agus Supriatna. Memang kenyataannya, kita membutuhkan pesawat tempur yang berbiaya operasional lebih murah, tetapi bisa melakukan tugas interception dengan baik.
Yah, secara tehnis, sebenarnya Lockheed F-16 Block-25+, dan Lockheed T-50 produksi Korea, tanpa sengaja sudah mengisi kebutuhan F-5E.



Kenyataan Kedua: Perekonomian Negara masih belum memungkinkan pembelian "barang mewah"

Saatnya masuk ke era displin fiskal untuk APBN-2016:
Penghasilan Negara tidaklah setinggi Estimasi awal
Seperti sudah diumumkan MenKeu Sri Muliani pada 11-Agustus-2016, pemerintah akan melakukan pemangkasan anggaran Rp 133 Triliun, yang terutama diarahkan ke semua aktivitas yang dinilai tidak menunjang semua program prioritas pemerintah. Pemangkasan ini diperlukan untuk mengurangi besarnya defisit APBN 2016 di akhir tahun.

Pada 16-September-2016, menurut laporan per Agustus-2016, penerimaan negara ternyata hanya mencapai 46,1% dari estimasi target di awal tahun. Sampai akhir tahun, pendapatan negara akan lebih rendah Rp 216 Triliun dari APBN-P 2016.

"Tidak boleh lebih besar pasak daripada tiang," demikian slogan pemerintah.
TS-3006 baru balik mudik   Gambar: TNI-AU
"Perbaikan Mendalam":
Salah satu contoh pemborosan anggaran yang sia-sia.
Sudah saatnya berhenti berpikir kalau membeli pesawat tempur itu segampang seperti membeli mobil, atau motor.

Tidaklah murah. Tidaklah mudah. Dan tidak bisa terburu-buru.

Seperti bisa dilihat dari kontrak Rafale di India, harga pesawat tempur itu hanyalah 40% dari total nilai kontrak, atau India mengambil resiko membeli "macan ompong".

.... dan untuk yang masih bermimpi dengan Su-35, yang tidak akan mampu memenuhi persyaratan UU no.16/2012; walaupun "harga kosong" akan terlihat murah dibandingkan paket Rafale India, bersiaplah untuk gigit jari. Dalam beberapa tahun lagi, semua Sukhoi "Monkey model" ini, akan harus dikemas lagi dengan rapi, dan dikirim balik ke Russia untuk melakukan "perbaikan mendalam"

Ini adalah resiko yang jauh lebih parah dibandingkan resiko Embargo, yang sudah mustahil untuk bisa terjadi lagi.

Tentu saja, "perbaikan mendalam" di luar negeri,
adalah pelanggaran pasal 43 (2) UU no.16/2012
Bukan tanpa alasan, dalam pameran IndoDefense 2016 November yang lalu, sebenarnya baik Lockheed-Martin, maupun Saab mengambil posisi untuk bermain lebih ke jangka menengah-panjang, dibanding buru-buru mengejar tutup kontrak. Walaupun paket penawaran Saab untuk Gripen-C MS-20, masih kelihatan disesuaikan dengan keinginan TNI-AU untuk delivery cepat.

Untuk negara kita, kembali harus diingat, kalau dalam jangka pendek, pembelian lebih banyak missile, dan perlengkapan sebenarnya jauh lebih penting dibanding terus-menerus mencoba membeli "macan omong":



Penutup


Apakah kita menginginkan yang terbaik untuk kemajuan Pertahanan Indonesia di masa depan?

Tentu saja. Ini adalah titik fokus utama blog ini. Tetapi kita harus membedakan terlebih dahulu antara Kebutuhan Negara, dan Keinginan pribadi, atau antara Kenyataan, dan Mimpi. Bermimpi itu selalu terasa enak, tetapi setelah bertemu kenyataan, akan terasa seperti baru tertabrak bus.

Apakah masih bermimpi mau mencoba memproduksi pesawat tempur sendiri?

Kalau masih mau bermimpi sih boleh, kalau mimpinya lebih diarahkan ke posisi yang benar. Perhatikan kembali video Youtube Saab pada awal artikel, yang menunjuk beberapa titik dalam produksi Gripen-E 39-8:

Apa yang dapat kita pelajari dari video ini?

Perhatikan dengan seksama background dari fokus video ini: Fasilitas Produksi Saab. Walau hanya terlihat sepintas, fasilitas pabrik Link√∂ping sebenarnya "state-of-the-art"; begitu rapi, dan modern. Inilah contoh fasilitas yang dibutuhkan dalam merakit pesawat tempur modern. Terlepas dari mimpi IF-X, yang karena tergantung kepada ToT dari Washington DC, hanya akan menjadi pesawat versi export; tidak akan semudah itu, ataupun murah, untuk dapat mereplikasi fasilitas infrastruktur kelas satu yang serupa di Indonesia.

Bahkan HAL India-pun, ternyata tidak berhasil menyelesaikan negosiasi untuk mencoba memproduksi Dassault Rafale di India, salah satunya justru karena masalah infrastruktur. Kenyataannya, fasilitas PT Dirgantara Indonesia tidak akan pernah bisa siap tempur. Perbedaan antara apa yang akan dibutuhkan untuk mencapai mimpi, dan apa yang akan dapat dikerjakan secara realita, sebenarnya masih terpisah terlalu jauh.
Lihat bedanya?
Fasilitas PT Dirgantara Indonesia, 2013
(Gambar: Antara News)

Akan membutuhkan investasi infrastruktur ratusan triliun untuk memenuhi mimpi

 "membuat pesawat tempur sendiri"
Yang menyedihkan, sebenarnya saat ini masa depan pertahanan Udara Indonesia, baik di kalangan pejabat, masyarakat, maupun Netizen, sebenarnya ibarat terombang-ambing antara mimpi, rumor, miskonsepsi, emosi, dan rhetorisme nasionalisme, yang dicampur-adukan hingga salah tempat.

Kembali, ini saatnya introspeksi diri, dan menarik nafas dalam-dalam.

Dalam keadaan sekarang, ini bukanlah saatnya untuk pemerintah Jokowi cepat-cepat mengambil keputusan untuk membeli lebih banyak pesawat tempur:
  • Keadaan Ekonomi belum memungkinkan, mungkin sampai 2 tahun ke depan.
  • Pengganti F-5E sebenarnya sudah tidak terlalu mendesak, karena sudah diisi F-16 Block-25+, dan T-50i.
  • Missile, dan perlengkapan tambahan lebih penting, mengingat TNI-AU sekarang ini kebanyakan mengoperasikan "macan ompong". 
Presiden Jokowi sebenarnya sudah memberikan panutan yang baik dalam fokus masa depan pembelian Alutsista: Harus sesuai kebutuhan negara, dan bukan keinginan pribadi:
  • Supplier asing, harus siap untuk mengajukan aplikasi menjadi warga negara Indonesia, untuk memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012, terutama berkaitan dengan Transfer-of-Technology, dan 85% produksi lokal.
  • Ayo! Belajar untuk mendukung kemajuan semua industri pertahanan lokal, jangan hanya terlena produk mana yang lebih kereeen!
  • Hilangkan prosedur pembelian Alutsista melalui perantara! Setiap transaksi harus dinegosiasikan G-to-G.
  • Alutsista harus sifatnya seperti "investasi"; Upgradable, dan membawa keuntungan Nasional jangka panjang.
  • Masakan sampai sekarang, kita masih mau terus mendukung pembelian rongsokan pesawat tempur versi export? Yah, ini artinya menyerahkan kunci kedaulatan pesawat tempur Indonesia, ke tangan Washington DC, atau Moscow.

48 comments:

  1. @dark rider

    bung GI, menurut ane, dengan ada 30 buah f16 hibah, itu sudah cukup buat mengganti f5e tiger. buat apa beli sukhoi su 35 kalo biaya jam terbangnya selangit, su 27 sama 30 saja biayanya sudah mencekak. apalagi yg super flemon, yg menghabiskan lebih banyak lagi uang rakyat buat agen perantaranya.toh biaya yg dibayar oleh TNI AU jadinya tergandakan.

    namun buat mengganti hawk 100/200. tni au nanti punya 3 kandidat, 1. Gripen NG, 2.FA50, 3. F16V. tapi saya lebih menyarankan TNI AU membeli gripen NG plus ToT.

    jadinya kalo si cerdas ini dibeli, pastinya ada keuntungannya bagi indonesia buat kemandirian alutsista

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah, bung Eki..

      Kita memang tidak membutuhkan pesawat tempur baru sampai 2020an.

      Tidak hanya BAe Hawk-209 yang akan butuh pengganti di masa itu, demikian juga Su-27/30 Kommercheskiy.

      Umur sudah mendekati 20 tahun, berarti sudah siap untuk masuk liang kubur lebih cepat dibanding Hawk.

      ## Timeline ini akan bertepatan dengan saat dimana lini produksi Gripen-E sudah cukup matang, dan akan mampu delivery cepat kalau perlu.

      ## IMHO, bukan hanya masalah Gripen the Smart Fighter -- tetapi akusisi Gripen akan membuka lembaran baru, karena utk pertama kalinya, kita tidak mengoperasikan rongsokan versi export.
      Memilih antara F-16, dan Sukhoi, itu seperti memilih, mau balik dijajah Belanda, atau Jepang?
      Tidak bisa berdaulat. Tidak bisa mandiri.

      ## Terakhir, karena kebutuhan pengganti menjadi 2 Skuadron, kita mempunyai kesempatan untuk mengoperasikan Gripen dalam biaya operasional yang super ekonomis.
      32 pesawat biaya op-nya akan lebih murah, dibanding hanya beli 16 pesawat.

      32 Gripen-E, dan 2 Globaleye AEW&C sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi MEF, karena kemampuannya akan ratusan kali lipat lebih efektif vs sekarang.

      Ini akan dibahas lebih dalam dalam topik lain. :)

      Delete
    2. @DR

      Ya....tapi gak pake lama lho!!

      Artikel ttg datalinknya juga sdh lama delay...

      Delete
    3. Maaf, bung @hari :)

      Berkat presentasi Saab di IndoDefence kemarin, sbnrnya ada bahan utk membahas kebutuhan MEF: Globaleye sekalian dengan National Network.

      Untuk penjelasan re TIDLS Gripen Fighter-to-fighter Network, sudah ditampilkan dalam artikel Gripen vs Rafale tempo hari.

      Sbnrnya kemampuan ini termasuk bagian dari topik datalink.

      Nanti akan sy rangkum dalam satu artikel.

      Delete
    4. @DR

      Bukan yang itu oom....dulu saya pernah tanya tantangan pembangunan national datalink di brazil, thailand dan india yang notabene menggunakan alutsista dari kedua blok (barat&timur)?

      Delete
    5. Bung hari,

      ## Di India sistemnya sbnrnya kurang jelas, kemungkinannya custom-made / mahal, dengan Israel memegang peran kontraktor utama.
      Setahun lalu, Russia masih mencoba menjual sistem Network mereka ke India, dan.... seperti biasa, terlalu berpusat ke Ground Control.

      ## Thailand, dan Brazil tidak mencampur-aduk Barat vs Timur; keduanya rata2 memakai pesawat buatan Barat, kecuali beberapa helikopter (Mi-35 / Mi-17).

      .... dan sistem network keduanya buatan sendiri, "equivalent to" Link-16 NATO.

      Sistem Thailand disebut "Link-T", produksi kerjasama Saab / Savia Satcom Thailand.

      Sama spt model yg sy lihat bisa diaplikasikan di Indonesia, pembangunan Networking Thailand sbnrnya dimulai dari Gripen-Erieye dahulu.

      Sistem Brazil disebut SICVAM, dengan Raytheon US sebagai kontraktor utama.

      ## Kemungkinan National Networking di Indonesia akan dibuat dari kerjasama Saab dan PT Len.

      Delete
  2. Oh ya bung GI,
    Dulu terdengar kabar soal adanya tot Dari rudal anti kapal RBS 15, apakah sudah termasuk Dari paket yg ditawarkan / harus tambah budget lagi until INI, estimasinya gimana bung ?


    Terkait Rudal RBS 15 yg konon katanya akan di install disk klewang 2, Ada berita soal Saab yg menarik diri Dari program klewang 2. Apakah Karna Indonesia belum terlalu melirik gripen / bagaimana ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Rochmat

      KRI Klewang sudah dibatalkan dari TNI-AL sendiri.

      Alasannya tidak pernah diberitakan jelas; kabarnya krn ganti pimpinan, tetapi kemungkinannya lebih untuk menghemat biaya, agar dananya dapat dialihkan ke pembuatan lebih banyak KCR yg basic.

      Pernyataan Saab Indonesia terakhir, mereka masih siap utk kolaborasi lebih lanjut kalau ada kontrak baru.

      ## Penawaran License production untuk RBS-15 di Bandung adalah kontrak yg terpisah dari Gripen.

      Generasi terbaru RBS-15 mempunyai variant yg bisa ditembakkan dari KCR, truk launcher di darat, atau dari Gripen. Fleksibilitas tinggi.

      Tentu saja, kalau digabung dalam satu paket dngn Gripen + Erieye, yah, harga penawaran keseluruhan akan bisa lebih murah.

      Delete
    2. Kcr Indonesia yg menggunakan rudal Dari cina katanya delay Dan melenceng jauh .

      Kenapa Indonesia belum tertarik me license Rbs , sebagai perbandingan dengan c705 China yang katanya beli 100 c705 dapat tot . gripen aja yg 16 unit kasih tot perakitan, apalagi Rbs 15 pasti kurang lebih sama.

      Sebagai negara yg mempunyai wilayah laut lebih luas Dari darat. Harusnya Indonesia mempunyai bnyak rudal anti kapal .

      Delete
    3. IMHO, seperti di atas...
      Perekonomian yang masih agak seret, berarti pemerintah tidak akan tertarik untuk mendatangani kontrak manapun.

      "Tidak boleh lebih besar pasak daripada tiang," adalah slogannya dalam keadaan ekonomi sekarang.

      TNI-AL sbnrnya masih mendingan, karena sudah agak lama mengoperasikan Exocet SSM missile... sebelum akhirnya mulai terjebak dalam pembelian "gado-gado", seperti semua Angkatan yang lain.

      C705 sebenarnya ide yang jelek.
      Sama seperti US, dan Ruski; sebenarnya PRC-pun hanya menjual "versi export".

      ... dan mengingat KCR akan dipergunakan di LCS untuk menghadapi armada bajak laut dari "you-know-who"....

      Delete
    4. @DR&RN

      John lundin dlm sebuah wawancara di satu majalah mengungkapkan bhw ide perancangan fac-trimaran bersifat spontan dr ngobrol2 antara Kasal waktu itu dg JL yang menantang lundin utk membuat desain yang belum pernah ada.

      Gayung bersambut....tapi dlm aspek perencanaan dipihak user ternyata ketidaksinkronan.

      Desain FAC ini mengandalkan materi carbon-composit/CC dg segala keunggulannya yang sdh teruji pd korvet visby, fac-skyjold atau beberapa kapal penyapu ranjau.

      Dengan desain fac yang ringkas, kapal ini mensyaratkan "jeroan(sensor/senjata/cms) yang berdimensi ringkas dan sebisa mungkin ringan.

      Masalahnya mulai terasa pd tahap ini, yaitu ketika klewang 1 selesai dibuat, pihak user ternyata belum memutuskan sensor/senjata/cms apa yang akan digunakan krn pd saat yang bersamaan sedang berjalan negosiasi tot rudal cina utk dipasang pd semua kapal KCR/FAC...bahkan sampai klewang habis terbakarpun, keputusan tsb belum final juga.

      Disini terlihat lemahnya user dalam aspek perencanaan, karena bobot total&dimensi "jerohan" berpengaruh langsung thd perfoman klewang (enduran, jarak jelajah, kecepatan).

      Tampaknya saab menarik diri sampai ada kepastian ttg program tot rudal cina (apakah berjalan terus atau malah dihentikan)...sementara lundinpun punya cukup waktu utk menyempurnakan komposisi material CC pd klewang yang akan diproduksi selanjutnya.

      Bahkan seandainya proyek ini gagal sekalipun, lundin tidak rugi-rugi amat, karena dg penyempurnaan material CC ini, lundin berpeluang menyerap TOT kapal penyapu ranjau(seandainya kapal penyapu ranjau buatan saab memenangi tender AL)

      Delete
    5. This comment has been removed by the author.

      Delete
    6. Trmksh atas info-nya, bung hari..

      Memang membuat proyek militer baru itu tidaklah mudah.
      Kesulitan2 yg anda jabarkan re KRI Klewang, boleh dibilang normal -- masalah berat / dimensi / perlengkapan.

      Tanpa sengaja, ini juga adalah preview kalau proyek KF-X berjalannya akan bagaimana.

      Delete
  3. kalo bicara rudal anti kapal macam yakhont itu sebenarnya hanya versi downgrade dari p800 oniks yg diperuntukkan utk versi ekspor. jadi jarak aslinya 600KM down jadi 300KM saja.

    Pesawat su 35k, k artinya Kommercheskiy, yaitu versi downgrade yg dapat menggentarkan keuangan Rakyat.tapi fansboy sukhoi beranggapan indonesia mampu membeli su 35 1 skuardron full tambah ToT, dan bodohnya lagi, mengatakan bahwa apabila indonesia membeli rudal yg di inginkan saja rusia mau. lalu menganggap bahwa mesin gripen itu buatan amerika yg rentan embargo. mereka juga berargumen bahwa radar su 35 mampu mendeteksi sasaran sejauh 400 KM.

    bagi saya, apa yg dikatakan oleh fansboy yg pro sukhoi itu, banyak yg tidak benar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang sangat menggelikan, dan kadang jadi terasa sangat menyedihkan...

      Su-35 yang dibayangkan fanboys di Indonesia itu sebenarnya 100% fiktif: Tidak ada yang nyata.

      Contoh:
      ==========================
      Kemampuan deteksi radar Su-35 sekitar 400km (untuk mendeteksi RCS 3m2 --kira2 RCS ukuran MiG-21)
      ==========================

      Kenyataan 1: Itu adalah performance klaim dari Sukhoi OKB, untuk radar Irbis-E untuk yang versi Su-35S.

      ## Versi radar Irbis-E Su-35SK, karena sudah di-downgrade, kemampuannya mungkin hanya 70 - 80% dari apa yang diiklankan, atau berkurang banyak untuk versi yg dijual ke pengkhianat yg pernah menghibahkan MiG-21; jarak deteksi untuk RCS 3m2, jadi berkurang ke 300 kilometer.

      ## Semua radar mode yg sudah diiklankan tersedia di Su-35S, tidak akan tersedia di versi SK.
      "... can track 30 targets, and simulatenously engaged 8..." (Wikipedia)
      Versi K sudah beruntung bisa track 10 target, dan engaged 2.
      Versi KI (Kommercheskiy Indonesia) hanya bisa tracking 5 target, dan engaged 1.

      ==================
      Kenyataan 2: Jarak deteksi radar Sukhoi itu tidak relevan, karena tipe single-frequency PESA, dengan output 20kW, berarti gelombang radarnya akan mudah terlihat.

      Sy sudah pernah menyajikan gambar ilustrasi kenapa Su-35K tidak akan dapat mengalahkan F-18F RAAF dalam BVR Combat, dalam artikel miskonsepsi ttg Sukhoi..

      Radar Irbis-E versi K mungkin baru bisa melihat F-18F dari jarak 90 kilometer, tetapi sementara itu, RWR dan AN/APG-79 dalam passive mode, di F-18F, sudah melihat gelombang radar Irbis dari jarak >400km.

      Ini akan menentukan dalam BVR combat: See First, shoot first!

      Pilot F-18F yang lebih berpengalaman, lebih terlatih, dan pesawatnya lebih modern, akan selalu dapat mengalahkan pilot Su-35 yang kurang terlatih, dan pesawatnya kualitas lemon, tanpa ada perlawanan.

      ========================
      Oh, ya... ini harus dibahas lebih mendetail dalam artikel lain:
      Semua BVR missile Sukhoi itu versi export; dan kemampuan kill-nya akan nyaris NIHIL

      Sy sudah menuliskan berkali-kali dalam banyak artikel disini; dan sekarang...

      Tom Cooper baru menulis utk War-is-boring; artikel yang menarik ttg R-77; atau versi export-nya RVV-AE:
      Russia's Most Fear BVR missile is actually a dud

      Yah, begitulah... kenyataannya semua Sukhoi itu sebenarnya hanya buang2 uang.
      Tidak mungkin dapat mengalahkan F-16, atau F-18.

      Delete
    2. Bisa saja memang Yakhont itu versi downgrade dr Oniks. Tanpa memasuki perdebatan benar di-downgrade atau tidak, sebenarnya jangkauan Yakhont yg "diturunkan" jadi 300-an km, dari Oniks yang sekitar 500-an km (bukan 600 km, karena 600 km adl jangkauan rudal tsb tanpa warhead alias kosong tanpa hulu ledak, hanya BBM saja), adalah alasan "egois" negara2 produsen militer besar dunia yg tergabung dalam traktat MTCR (Missile Technology Control Regime). Anggota2nya bisa disebut spt AS dan para sohibnya, dan (jangan kaget) Rusia juga. Intinya, traktat MTCR membatasi jangkauan rudal ofensif yg boleh diekspor ke negara "non MTCR member" hanya sejauh 300 km saja, dengan warhead max seberat 250 kg (kalau ntidak salah, saya lupa berat persisnya, karena tergantung tipe rudal juga). Di sini kelihatan, tanpa di-downgrade teknologinya pun, rudal2 anti kapal Barat sudah pasti akan dikurangi jangkauannya jadi mentok di 300 km saja. Licik? Mungkin..... Curang? Bisa jadi....... TAPIIII...... itulah alasan kenapa saya dalam berbagai forum selalu menyuarakan, kalau mau ToT, cari celah untuk "mencontek" teknologi propelan rudal, karena teknologi ini yang paling pelit dibagi, kalau tak mau disebut tak mungkin.

      Delete
    3. Bung Anto,

      MTCR adalah agreement bersama di tahun 1987 untuk tidak membuat UAV, atau cruise missile dengan payload 500 kg, yg berjarak jangkau 300 km.

      Perjanjian ini diterapkan untuk mencegah kemungkinan pemakaian missile / UAV tsb untuk membawa payload Nuklir.

      ==========
      https://en.m.wikipedia.org/wiki/Missile_Technology_Control_Regime
      ==========

      Ini tidak ada hubungannya dengan export policy US, dan Russia yg selalu menjual senjata downgrade sejak 1945.

      Delete
    4. Tapi masih diberlakukan juga..... Contohnya rudal jelajah "Black Shaheen" yg dibeli UAE langsung dari Perancis, jangkauannya "dipangkas" dari aslinya, rudal jelajah SCALP-EG. Konon SCALP yg dibeli India (sepaket dgn Rafale) juga adalah versi "pangkas jangkauan". Makanya bbrp negara mengakali MTCR dgn tidak membuat rudal jelajah atau rudal anti kapal berjangkauan lebih dari 300 km supaya pasar ekspor bisa lebih luas, spt yg dilakukan Perancis, Norwegia dan Swedia. India yang berhasil "mencuri" teknologi rudal dan propelannya, akhirnya juga ikut2an "menjaga" teknologi tsb dgn (akhirnya) bergabung ke MTCR baru2 ini

      Delete
    5. Memang benar;

      SCALP-EG (Stormshadow), Taurus KEPD, AGM-158 JASSM, atau Brahmos boleh dibilang "pushing the limit" dalam hal pembatasan MTCR.

      Dalam penjualan export masing2 jenis, tidak mengherankan kalau kapasitas bahan bakar / payload dikurangi agar tidak melanggar perjanjian MTCR.

      Sebaliknya, relatif juga memang cukup mudah utk menambah jarak jangkau, atau payload missile2 tsb agar melanggar pembatasan MTCR.

      Kembali, semua ini sebenarnya kurang relevan untuk Indonesia.

      Kita tidak membutuhkan missile semacam ini. Untuk apa?

      Missile ini tujuannya lebih diperuntukkan dalam misi "offensive, sedang kita harus lebih berkonsentrasi ke pertahanan dahulu.

      Lagipula, kalau kita mulai mengoperasikan cruise missile di kelas ini, hanya akan memulai perlombaan profilerasi jenis missile ini di kawasan Asia Tenggara.

      FYI -- keberadaan kesemua jenis cruise missile diatas sebenarnya menyorot ke satu hal: SAM launcher system di kelas S-300/S-400 mulai menjadi kurang relevan.

      Ini bisa dibahas di lain waktu.

      Delete
  4. beberapa negara yg mengusung gripen, mereka justru bangga karena biaya jam terbangnya murah. selain itu mampu menggotong senjata yg berstandar NATO. seperti RTAF Yg hoki dogfight melawan PLAAF dengan mengandalkan gripen C/D saja. saya pun juga bangga apabila indonesia memiliki pesawat tempur ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemenangan Gripen-C RTAF sebenarnya bukan "hoki", tetapi ditentukan 2 faktor:

      1. Kemampuan, dan pengalaman pilot
      Ini adalah penentu utama kemampuan tempur.
      ## Pilot RTAF, yang sudah berlatih menurut standard NATO (sekurangnya 100 jam / tahun), jauh lebih unggul dalam segala hal vs pilot PLA-AF, yang masih berlatih menurut "sistem Soviet/PRC" yang sudah ketinggalan jaman.

      2. Gripen-C saja sebenarnya jauh lebih unggul dalam segala hal vs semua Sukhoi variant, termasuk Su-35 "dud"

      ## Lebih kecil, less drag, dan kemampuan manuever-nya jauh lebih unggul vs Sukhoi, yg terlalu besar, terlalu berat, dan hanya pintar bermanuever dalam kecepatan lambat; lebih gampang untuk tertembak.

      ## Perpaduan TIDLS Network, dan PS/05 radar, berarti Gripen akan selalu memiliki keunggulan Situational Awareness.

      ## Pilihan HMD (Helmet Mounted Display), persenjataan, dan defense suite-nya saja juga beberapa generasi lebih modern.

      Hampir mustahil kalau ada pilot Sukhoi (Su-35 sekalipun), yang dapat mengalahkan Gripen, daripada sebaliknya.
      Kenyataannya hampir tidak ada pilot Sukhoi di dunia, yang bahkan berpengalaman daat mengalahkan F-16.

      Memang kalau kita memilih Gripen tidak pernah bisa salah.
      :)

      Delete
  5. @DR

    Setelah melihat video lini produksi gripen ternyata sgt efisien dg sdm yang terbatas dan alat bantu kerja yang ringkas namum tepat guna.

    Sangat berbeda dg video dilokasi produksi F-16 di forth worth atau di turki yang terlihat bulky dg segala alat bantu kerjanya.

    Persis seperti iklan ranpur CV-90 yang disebut 1 unit ranpur hanya dikeroyok oleh sdm dg jumlah minimal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul.

      Ini dikarenakan Saab sudah merencanakan kalau segala sesuatu re Gripen, harus dapat dibuat seefesien mungkin.

      Saab pernah menyebut, dewasa ini mereka dapat memproduksi Gripen-C/D dalam waktu kurang dari 12 bulan.

      Inilah kenapa, kalau mau belajar merakit pesawat tempur sendiri;
      Saab akan menjadi guru yang lebih baik dibanding pembuat manapun.

      Delete
  6. Tni Al sudah menggunakan Exocet lumayan lama, Dari block 1,2 mungkin 3.
    Exocet juga bisa ditembakan Dari pesawat sama seperti Rbs 15. Apakah Exocet sudah bisa ditembakan Dari gripen , kayaknya belum ya bung.

    Jika bisa Dan andai kita beli gripen, bajak lautpun akan berpikir 2X untuk main² ke LCS. Rbs 15 Dan Exocet yg mempunyai jangkuan 100-200km yg do oprasikan Dari pesawat tempur akan mempunyai daya gebrak yg luar biasa Dari pada Kcr kita yg pake c705 bahkan yakhont. Man nglantur Dari topik :)

    Ago beli gripen + Rbs 15 .

    ReplyDelete
    Replies
    1. :)

      Begitulah,
      memang ini sbnrnya suatu kebutuhan yg mendasar, tapi sejauh ini masih belum cukup serius untuk dipenuhi.

      Negara kepulauan akan selalu membutuhkan pespur, yg dapat membawa anti-ship missile modern untuk Self-Defence --- krn setiap aggressor, akan selalu datang dengan kapal.

      Gripen + RBS-15 datang dengan fasilitas ToT, dan ijin produksi (missile).
      Memenuhi semua kebutuhan, tanpa perlu menggoreng isi dompet.

      ---> untuk Exocet, sayangnya sejauh ini hanya compatible ke pespur buatan Perancis: Super Etendard, Mirage 2000, atau Rafale.

      Delete
    2. Exocet bodinya mantap juga ya bung, hihihihi
      Nah kalau Indonesia beli gripen, tolong lab di modifikasi supaya bisa bawa Exocet. Bukan apa², soalnya tni al kita juga mengoprasikan exocet di beberapa kapal perang Indonesia .

      Tni au juga menggunakan rudal anti kapal Dari AS, Dan jumlahnya juga ga banyak. Exocet Dan rbs 15 kayaknya layak untuk rudal anti kapal buat tni au Dan al. Bisa ditaruh di kapal, pesawat Dan truck.

      Gripen + rbs 15 made in indonesia
      Cukup layak untuk dipertimbangkan

      Delete
    3. Pilihan persenjataan di Gripen terserah pembeli.

      Inilah yg menjadikannya pilihan yg sebenarnya paling anti-embargo dibanding semua pespur manapun.

      Tidak perlu tergantung ke kebijaksanaan satu negara manapun untuk membeli senjata.

      Bukan tidak mungkin, negosiator kita dapat request agar Gripen juga dapat membawa Exocet.
      Kemampuan seeker berbeda, flight profile berbeda, cara menangkalnya juga akan berbeda.

      Gripen yg menembakkan kedua jenis sea-skimming missile (terbang hanya 1-2 meter di atas permukaan laut) RBS-15, dan Exocet secara bersamaan, akan sangat membuat pertahanan kapal lawan jadi kalut.

      Satu jenis missile lain yg menarik adalah MICA-IR buatan MBDA cabang Perancis - BVR missile, dngn infra-red seeker, jarak jangkau lebih dari 50 kilometer --- persenjataan utama Rafale.

      PKR 10514 juga sudah dipersenjatai dengan subvariant MICA-VL (Vertical Launch) untuk Surface-to-Air missile.

      Kalau Gripen Indonesia juga dapat mengoperasikan MICA, kemampuannya akan sebanding dengan Rafale --- dan tentu saja, kita akan mendapat keuntungan harga discount membeli MICA-VL, dan MICA-IR buatan Perancis secara bersamaan.

      Kedua contoh sederhana ini menunjukkan bagaimana fleksibilitas Gripen, yg dipadukan dngn perncanaan matang, akan dapat meningkatkan efek gentar berkali-kali lipat tanpa perlu membakar dompet.

      ========
      Contoh skenario fiktif di LCS
      ========


      ## Globaleye AEW&C yg berpatroli di atas LCS, dngn maritime surveillance radar dapat melihat formasi kapal nelayan PRC, yg sepertinya akan mengulangi ulah mereka menjarah perikanan Indonesia.
      Satu kapal Coast Guard PRC juga terlihat mengawal armada nelayan ini beberapa kilometer di belakangnya.

      ## Melalui coordinate transfer dari Globaleye, via National Networking, dua KCR TNI-AL cepat dikerahkan untuk menghadang... tapi mereka tidak akan sampai ke titik tsb cukup cepat, dan karena itu...

      ## 1 Gripen-E mengudara dari Natuna dengan membawa 2 Exocet, 2 RBS-15, dan 2 IRIS-T untuk mendahului patroli TNI-AL.

      Setelah tiba di atas koordinat armada bajak laut, pilot Gripen-E dapat memberikan peringatan via radio:
      "This is your first warning! Turn away from Indonesian border NOW!"

      ... pilot kemudian dapat melakukan acara unjuk gigi, dengan memutari para bajak laut, dan kapal coast guard PRC, sekaligus "memperlihatkan" missile yg sudah dibawa.

      ## Globaleye AEW&C terus memberikan real-time update ke Jakarta, ataupun ke semua unit TNI di sekitar Natuna, bagaimana pergerakan para "bajak laut", sekaligus mengawasi aktivitas PLA-AF --- apakah Su-35 mereka akan berani "ikut campur"?

      Kedua KCR hanya beberapa menit dari titik "interception", dan sebentar lagi akan bergabung untuk menghalau para "bajak laut".

      ## Sementara itu, di Natuna: 2 Gripen-E lain, yg dipersenjatai 3 Meteor, 2 MICA-IR, dan 2 AIM-9X; sudah bersiap untuk mengudara untuk memberikan "top cover" kalau sampai radar Globaleye mendeteksi kehadiran Su-35 PLA-AF.

      Komputer Gripen dapat tetap online tanpa perlu mengudara; kedua pilotnya dapat menikmati pandangan situasi real time dari sensor Globaleye, dan TIDLS-link Gripen yg pertama (jarak jangkau maksimum 500 km). Kalau adem ayem, tidak ada Su-35, atau J-11, berarti Mission Accomplished!

      Kalau sampai muncul.... Keduanya sudah siap mengudara dalam bbrp menit. Pilotnya juga sudah siap, dan jauh lebih terlatih; mereka tahu Su-35, yang bongsor, dan ketinggalan jaman; bukanlah tandingan tunggangan mereka.

      (Edit: Sedikit ralatan dari sebelumnya)

      Delete
  7. ketika saya membaca buku majalah angkasa tentang gripen. head of saab indonesia, Peter Carlqvist mengatakan "Negara Adidaya Macam AS Dan Rusia mampu mengoperasikan pesawat pesawat berbiaya mahal. Tapi bagi Indonesia, menurut kami akan lebih cocok mengoperasikan pesawat yg dari sisi kemampuan tempurnya tinggi tetapi biaya maintenance dan jam terbangnya rendah''. menurut beliau, "combat effectiveness mencakup combat performance. tapi bicara combat performance, belum tentu kita meraih combat effectiveness. itu yg membuat perbedaan filosofi saab dengan pabrikan lain didunia dlm membuat pespur.negara kami kecil seperti sumatra dan SDA nya terbatas Kalau kami tidak membuat penempur handal , maju dan tepat, kami akan kesulitan sendiri." tambah beliau

    Perusahaan Saab menyatakan dengan sepenuh hati bahwa mereka sudah berkomitmen memenuhi UU no 16 thn 2012.
    Peter Carlqvist menambahkan lagi "kami menawarkan gripen C/D kepada indonesia, karena lebih cepat deliverynya, karena yg NG masih dibangun, tapi kalo mau yg tipe NG tidak masalah. indonesia tinggal berhitung saja. apa yg diinginkan indonesia maka kami yg akan menyesuaikan.Teknologi Kunci pespur akan kami berikan semua untuk mendukung pengembangan pespur buatan indonesia."

    dimanapun skuardron gripen dibangun,no problem karena gripen tinggal di deploy saja, jadi kalo mempersiapkan 16 gripen, kita cukup mengerahkan 1 atau 2 hercules saja, penyiapannya amat singkat dan tidak ribet. tutup beliau

    jadi setelah membaca tentang gripen tadi, yg semula saya mendukung sukhoi, akhirnya saya langsung beralih mendukung gripen karena sangat tergiur dengan paket lengkap yg di tawarkan saab pada pemerintah indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Peter Carlqvist sudah mendeskripsikan dengan jelas "the Gripen Advantage"; flexibilitas yg tidak dapat ditandingi pihak manapun.

      Deployment cepat untuk formasi 4 Gripen, seharusnya sudah cukup dengan support dari 1 CN-235, atau C-295.

      "Tehnologi kunci pesawat tempur..." Ini kembali menggarisbawahi, tidak seperti semua tipe lain, Gripen bukanlah versi export yg sudah di-downgrade seenak perut.

      Kedaulatan 100% ditangan kita, bukan ditangan negara lain!

      Topik berikut: "MEF Tahap Pertama: 32 Gripen, dan 34 F-16C/D"

      Delete
  8. ayo dukung indonesia membeli gripen buat kemajuan kemandirian alutsista nasional.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tujuan blog ini adalah untuk terus berjuang memenuhi cita2 ini!

      :)

      Delete
  9. Bung GI, kalo indonesia membeli gripen E, sambil menunggu pesawat itu datang. negara kita bisa menyewa gripen sewaan dari swedia buat menambah jam terbang dan menambah skill pilot dulu, jadi kalo gripen yg indonesia beli itu sudah datang, jadinya tinggal nerbangin gripen E yg lebih unggul.

    ReplyDelete
    Replies
    1. IMHO, kita baru akan menyewa Gripen-C/D kalau sudah teken kontrak untuk Gripen-E.

      ... seperti kita lihat, Sukhoi Kommercheskiy di Sku-11 itu kan di-"anak-emas"-kan, walaupun bukan main merugikannya ke negara!

      Mereka belum sadar kalau mulai tahun 2020an nanti, usia airframe Sukhoi sudah habis masa pakainya... krn itu belum pusing mencari penggantinya dari sekarang.

      ....padahal F-16 yg produksi tahun 1985-1986 masih bisa dipakai sampai 2040 (seperti di artikel).

      Di periode inilah, baru kita melihat, tiba2 TNI-AU akan merasa kekurangan pesawat tempur; tidak cukup untuk mengawasi wilayah Indonesia Timur.

      ....Gripen-C sewaan akan bisa masuk di Sku-11, untuk secepatnya menggantikan Sukhoi yg sudah uzur.

      Perbedaan Kemampuan Gripen-C dengan versi export gado2 yg skrg ada saja sudah jauh bumi-dan-langit.

      Delete
  10. sebenarnya jenderal TNI yg paling ngotot membeli su 35 adalah Moeldoko, menurut saya. karena ibarat Nafsu besar tenaga kurang dan sangat menyukai armada gado gado yg merugikan. kalo f16 dicampur gripen baru armada gado gado yg sesuai.

    meskipun berita internet tentang pembelian su 35 masih belum tahu beli ato tidak karena lama gak muncul. tetapi iklan saab malah justru semakin banyak pada buku majalah angkasa yg setiap saya beli. pikir saya, ini tanda tanda kalo pespur gripen ini akan dibeli oleh indonesia buat pengganti f5e tiger.

    mudahan saja Pembelian Su 35 secepatnya dibatalkan dan dialihkan buat membeli paket saab yg ditawarkan.





    ReplyDelete
    Replies
    1. Pemberitaan Su-35 sebenarnya hanyalah proyeksi manipulasi opini publik, dari bbrp pihak.

      Mereka berhadap dapat "menekan" pemerintah spy teken kontrak.

      "katanya" Presiden Jokowi sudah menyetujui, dan akan ke Moscow bulan Mei-2016 yg lalu, utk teken kontrak.

      Kita melihat apa yg sudah terjadi, bukan?

      Menurut Deplu, kepresidenan Indonesia tidak pernah membicarakan soal Sukhoi dengan pihak Russia.

      (Di lain pihak, internal Russia sendiri, sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk menjual Su-35 ke Indonesia --- jadi mereka juga tidak mencoba mengungkit2.)

      Logika saja:

      Presiden Jokowi kan orangnya cukup sederhana.
      Memilih naik pesawat sipil kelas ekonomi untuk menghadiri wisuda anaknya di Singapore, dan menolak untuk memakai pesawat kepresidenan untuk keperluan pribadi.

      ...dan kemudian beliau membuat pernyataan 20-Juli: Beli Alutsista harus sesuai kebutuhan, bukan keinginan.

      Dengan memilih Sri Muliani sebagai MenKeu, pemerintah juga akan mulai mendisplinkan pengeluaran Negara; melibas hal2 yg tidak perlu, atau praktek korupsi dari proyek2 yg tidak kunjung jalan.

      Su-35 Kommercheskiy downgrade tidak pernah sesuai dengan realita kebutuhan Indonesia, dan keterbatasan anggaran pertahanan yg tersedia.
      ... Tentu saja, sekarang hanya tinggal mimpi.

      Delete
  11. Selamat malam bung GI ? :))

    Saab merupakan perusahaan pertahanan dari swedia yg saya rasa cukup komplit dari berbagai varian jenis senjata yang ditawarkan.

    Bila indonesia bisa bermitra dengan saab dari swedia, bukan hanya sekedar gripen. Tapi keseluruhan.

    Saya tidaklah tau apa saja prodak dari saab, tapi saya rasa cukkup banyakk. :D

    Nah kalau semua bisa TOT, luar biasa bukan apa yg didaptkan indonesi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah, bung Matt;

      ========
      "Dengan Gripen, Saab ingin membangun kepercayaan, keberlanjutan, dan kemampuan jangka panjang di Indonesia sebagai aset National."

      Peter Carlqvist, dalam interview Angkasa, edisi Oktober-2016.
      ========

      Gripen hanya langkah awal, mnrt Saab sendiri, apa yg mereka kejar adalah kerjasama jangka panjang.

      IMHO, tidak hanya Gripen, tapi kalau mau mencapai MEF, kita akan membutuhkan Erieye, dan National Network.

      Yang paling penting disini adalah kesempatan untuk belajar lebih dahulu. Selama ini, semua pihak hanya bersemangat untuk "menjual", dan tidak ada yg lain.

      Tidak hanya itu;

      Saab adalah perusahaan yg sudah terbukti paling innovatif dalam dunia industri militer.

      Semakin banyak kita bisa menyerap talenta untuk kemampuan berinovasi dari Saab, tentu saja kemampuan kita akan semakin matang baik dalam hal tehnologi, industri, dan persenjataan.

      Delete
    2. Saab getol meluncurkan skema tot kepada dunia, apakah dalam jangka panjang saab tidak rugi memberi ilmu mereka.
      Pihak lain memberikan harga yg sangat mahal untuk tot mereka, kenapa saab justru sebaliknya ?

      Delete
    3. Bung @Matt

      Membagi ToT bukan berarti Saab rugi.

      Sebenarnya ini ada perhitungannya sendiri. Dalam jangka panjang, bukan hanya negara pembeli yg untung, tetapi Saab juga memetik banyak keuntungan.

      Ok, berikut cuma seandaikata:
      ## Saab melakukan kerjasama dengan PT Len, & mungkin beberapa kontraktor lain untuk membangun National Network Indonesia.

      Pemerintah kan harus membayar biaya proyek, dan tentu saja Joint venture tsb harus menarik keuntungan atas jasanya.

      Ini sama spt skrg, andaikata TNI-AU membeli CN-235, PT DI tentu akan mengambil keuntungan atas penjualan.

      ## Keuntungan Saab pertama: mendapat berapa % bagian dari profit yang didapat joint venture di atas.

      .... dan tentu saja, kalau proyek terbukti sukses, berarti membuka peluang untuk lebih banyak proyek lagi di kemudian hari, bukan?

      Saab mendapat keuntungan Loyal Customer.

      Terakhir, kesuksesan di Indonesia, berarti juga menjadi promotional material untuk Saab menawarkan penjualan ke negara lain.

      ## Industri lokal tentu saja untungnya lebih besar.

      Pt Len mendapat % profit, dan semua pengeluarannya kan juga untuk membayar lapangan pekerjaan untuk karyawan lokal, dan material (kalau bisa) juga dari sumber lokal.

      Setiap pihak yg terlibat, tentu juga mendapat banyak ilmu, dan pengetahuan.

      ## Terakhir, kalau hasil kerjadama Saab-industri lokal bisa dipaketkan untuk export, lebih baik lagi bukan?

      Kembali, sebenarnya kedua belah pihak sama2 untung, sama2 senang.

      Kesadaran Nasional inilah yg harus digalakkan di Indonesia.

      There is no catch.
      Saab juga baru mendapat keuntungan kalo proyeknya sukses; krn itu mereka akan membantu semaksimal mungkin.

      Sekarang tinggal terserah kita: Mau mendapat kesempatan emas, atau tidak?

      Semoga penjelasannya membantu.

      Delete
    4. Trimaksaih atas penjelasanya bung. Hihihi :)

      Minta izin untuk melenceng bung :)
      Katanya saab juga menawarkan bamse / rbs 23 kepada indoneaia. Maaf bila salah nama rudalnya

      Rbs 23 adalah rudal anti udara yg jaraknya -+20km, apakah ini khusus di darat/ bisa di instal di kapal, dan bahkan bisa di modif di pesawat . kan lumayan sama seperti aim 9

      Kebanyakan kapal perang kita hanya bermodalkan ciws atau apalah yg hanya berfungsi jarak dekat saja. Pkr kita mending udah pakai mbda mica vl yg jaraknya juga kurang lebih sama ?

      Delete
    5. Bung Matt,
      Sebenarnya banyak pertanyaan "melenceng" disini bagus, sering bisa menjadi bahan dasar untuk artikel lain.
      :)

      RBS-23 / Bamse -- sistem ini kelihatannya masih cukup baru.
      Nanti sy akan mencari lebih banyak bahan terlebih dahulu re penjelasan lebih lanjut.

      Tetapi kelihatannya untuk medium-ranged SAM tingkat mobilitasnya sangat tinggi,
      Tidak seperti Patriot, atau S-300 -- lebih mudah dipindah2kan.
      Dan seperti semua produk Saab lain, kelihatan didesain fully-networked.

      Bukan tidak mungkin, RBS-23 punya potensial untuk dapat didatalink dengan Gripen, atau Globaleye AEW&C untuk mempersiapkan "jebakan tersembunyi".

      Misalnya: missile dari RBS-23 dapat memanfaatkan passive sensor feed dari Gripen untuk menghantam target dari arah belakang; Lawan tidak akan pernah tau apa yg terjadi!

      IMHO, penawaran ini lebih baik menjadi tahap kedua kerjasama Indonesia-Saab.

      Lebih penting untuk me-link-up National Network dahulu, sblm mulai berpikir memasang SAM sistem; krn Active SAM harus bisa membedakan antara kawan, dan lawan.

      .... kalau tidak, disaat konflik, bisa terjadi tragedi seperti MH17.

      Yah, lebih baik... Step-by-step.

      Delete
  12. sebenarnya pespur syaratnya yg cocok buat TNI menurut pernyataan dari marsekal Agus Supriatna, yg resah akan sukhoi yg jam terbangnya mahal. memang berbeda dengan moeldoko :

    pilot pespur harus yakin bahwa masa depan tidak akan mengejutkan, terlebih lagi ada ancaman dari negara lain. mereka harus yakin bahwa apapun misinya, dimanapun mereka dibutuhkan, mereka siap. pilot pespur membutuhkan teknologi di ujung jari dan selalu dalam pengawasan. mereka membutuhkan pespur canggih yg menyukai terbang setiap saat, multi peran yg kompeten, namun simpel maintenance dan biaya jam terbangnya sangat ekonomis, jadi kalo berlatih bisa mengumpulkan ribuan jam terbang dan meningkatkan skill pilot. itu standar agar TNI AU itu menjadi spektek yg terbaik, bukan hanya sebatas memiliki pespur hebat, tetapi skill pilot dan efisiennya pespur sangat menentukan dalam pertempuran.

    Bung GI, jadinya Di Takdirkan sudah bahwa pespur gripen yg sangat layak buat mereplacing F5 dan Sukhoi flemon buat mengisi Skuardron TNI AU sekaligus buat kemajuan alutsista nasional. karena mengingat anggaran militer terus dipotong. dan juga pernyataan dari presiden jokowi bahwa membeli alutsista sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan, pembelian alutsista diharamkan melalui perantara, harus sesuai dengan UU no 16 thn 2012. dan juga visi jokowi yg menjadikan indonesia sebagai poros maritim dunia.

    oh, ya. PTDI sebaiknya perlu membuat hanggar baru yg lebih efisien dengan teknologi tepat guna agar kelancaran produksi pesawat dan helinya tidak semrawut.


    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @eki,

      Sedikit refleksi pribadi:

      Pada awalnya, sy menulis ttg Gripen, ketika mendengar mereka akan menawarkan 100% ToT ke Indonesia;

      "Wah! Pesawat ini kemampuannya sangat cocok untuk Indonesia! Kenapa tidak mendukung pilihan ini?"

      Sangat mengejutkan ketika sy melihat, bahwa kesadaran Nasional, baik di kalangan pejabat, masyarakat umum, ataupun Netizen dalam pemilihan pesawat tempur menurut kebutuhan, ternyata sangat minimal.

      Lebih mengerikan lagi, kurang antusiasnya menyambut tawaran yg paling memajukan kemampuan industri dalam negeri sendiri.

      Masih belum cukup parah; Saab kelihatan lebih antusias memenuhi UU no.16/2012, daripada kita sendiri!

      Setelah menilik balik, sbnrnya semua pengalaman menulis argumen panjang lebar dngn banyak pihak menjadi agak menggelikan.

      Kalau masih mau mendukung IF-X, Sukhoi, atau F-16 sebenarnya setali tiga uang; mendukung pembelian pespur yg sudah di downgrade!

      Tidak akan ada keuntungan Nasional sama sekali, baik dari sisi strategis, industrial, atau terus membeli rongsokan downgrade!

      ... tentu saja barang downgrade manapun akan hampir mustahil dapat mengalahkan Gripen, yg tidak pernah menghadapi pembatasan yg sama.

      Ibaratnya, versi export itu seperti mencoba berkelahi dengan satu tangan terikat ke belakang, atau dengan patah2 tulang kiri-kanan; sedangkan Gripen sehat walafiat, dan sudah berlatih utk bisa berkelahi dari sebelum lahir!

      Tidak hanya kemampuannya cocok utk Indonesia, Gripen seperti dilahirkan secara spesifik utk menjawab semua tantangan kebutuhan Nasional.

      kalau masih belum cukup;
      Dari segi platform, Gripen-E sudah memenuhi semua persyaratan pesawat tempur Abad ke-21; futureproof, dan mempunyai kemampuan utk menantang lawan manapun, dan paling sukar untuk di dapat dikalahkan.

      2 Skuadron Gripen-E, 2 Globaleye, dan pembangunan National Network akan menjadi titik terang awal untuk mencapai MEF.

      Memenuhi semua kebutuhan, bukan keinginan.

      :)

      Delete
  13. 180 sukhoi yg diperlukan agar gahar Kata Petinggi TNI, itu terlalu mencekak keuangan rakyat.

    36 gripen sama 34 F16 pun sudah cukup memenuhi kebutuhan pespur kita.

    kalo IFX sebaiknya kerjasamanya dengan swedia, bukan sama korea.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk Sukhoi, masalahnya bukan hanya di spesifikasi Kommercheskiy (downgrade), atau biaya operasional mahal;

      ...tetapi Servicability, atau Available Rate. SU- adalah pesawat yg gila maintenance.

      Sy sudah menuliskan sejak 2014; Su-30MKI India saja, hanya kurang dari 50% yg bisa terbang setiap saat, dari total 200 pesawat; atau kurang dari 100 unit.

      F-16, atau Gripen tidak pernah bisa menghadapi masalah yg sama. Kalau membeli 100 pesawat, yah, sekurangnya 80 - 95 pesawat siap terbang setiap saat.

      Lebih lanjut,
      F-16 dapat mengudara sekurangnya 2x sehari, atau hampir 10 jam di udara per hari.

      Gripen dapat mengudara sekurangnya 4x sehari, atau dapat menghabiskan waktu 19 jam di udara per hari.

      Sukhoi hanya dapat mengudara 1x sehari selama bbrp jam, dan sesudah itu... yah, maintenance puluhan jam.

      Inilah kenapa Rentra 180 pesawat itu kurang masuk akal, bahkan kalau separuhnya mau mengoperasikan Sukhoi (90 pesawat).

      16 Gripen akan dapat mengerjakan hal yg sama dengan 100 Sukhoi --- dengan biaya operasional jauh lebih murah.

      Sukhoi di Sku-11, sekarang ini saja kita bisa perkirakan; mungkin hanya 5 - 6 pesawat yg siap mengudara setiap waktu.

      Delete
    2. Untuk... IF-X; sebenarnya jauh lebih parah lagi.

      Hanya merakit dalam bentuk CKD saja, biayanya sudah akan jauh lebih mahal dibanding Embraer Brazil yg akan mulai memproduksi Gripen-E dari nol.

      ... dan akan jauh lebih sulit!

      Masalahnya, production tooling untuk KF-X belum siap; dan...
      target ambisi Korea sbnrnya sudah jauh melebihi kemampuan produksinya sendiri.

      Lebih lanjut,
      development budget optimis mereka yg "hanya" $8 milyar akan mustahil bisa tercapai.

      Perhitungan kasar:
      Indonesia akan harus keluar $12 milyar minimal, untuk mendapat 50 pesawat versi export, yg kemampuan tempurnya akan lebih inferior dari F-16V.

      Biaya operasional juga terjamin mahal -- sekitar $30,000 per jam; dan servicabilitynya akan rendah, karena pesawatnya sama sekali baru, dan diproduksi "anak ingusan".

      $12 milyar.
      Biayanya sudah cukup untuk memproduksi 100 Gripen-E seperti di Brazil, dan membangun fasilitas lokal sampai setaraf Embraer.

      Delete
  14. bung GI, kenapa berita tentang pembelian Su 35 oleh TNI AU tdk muncul lagi ?

    kalau dilihat dari aktivitas TNI AU tiap hari, su 27 dan 30 sangat jarang terbang, malahan banyak F16 yg sering latihan terbang keliling indonesia meskipun pesawatnya hibah. sementara para fansboy sukhoi menekan pemerintah buat beli su 35, bahkan tiap media yg menyajikan pesawat selain pesawat rusia, di caci maki habis habisan oleh mereka. bagi saya, manis dikata, tapi aneh kenyataannya dilihat di mata.


    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah, bung eki.

      ## Sukhoi jarang terbang ini tidak mengherankan--- krn untuk ukuran barang Ruski, Sukhoi sku-11 sekarang memang sudah lanjut usia.

      Inilah kenapa, kita sebenarnya membutuhkan pengganti Sukhoi, bukan F-5E.

      ## Berita ttg Su-35 sudah tidak pernah muncul bukan, sejak pernyataan presiden 20-Juli?

      Jawabannya jelas; karena: Sukhoi tidak memenuhi semua persyaratan.

      @@ Tidak akan ada kontrak lewat G-to-G... Beli harus lewat agen perantara Rosoboron, dan "penterjemah" mereka di Indonesia.

      @@ Sama seperti US, Ruski tidak akan pernah mau menawarkan ToT ke Indonesia; boro2 memenuhi UU no.16/2012.
      Ini prosedur standard, kita memang tidak akan mendapat perlakukan "spesial", apalagi pernah berkhianat hibah MiG-21. Kalau membeli dari US, atau Russia, ya harus tunduk ke persyaratan mereka, dan bukan sebaliknya.

      @@ Jangankan ToT, pihak Rosoboron tidak akan mau memberi garansi kalau Su-35 tidak akan memerlukan "perbaikan mendalam" mahal yg harus dikerjakan sendiri di Russia, bukan dilakukan tehnisi lokal.

      @@ Seperti diatas, service record Sukhoi generasi tahun 1980-an saja sudah gelabakan.
      Biaya operasional terlalu mahal, dan tidak akan mungkin bisa sering terbang.
      TS-2701, dan TS-2702 masih belum mau pulang, atau belum diperbolehkan.

      @@ Tentu saja, sekarang sepertinya sudah mulai ada kesadaran: Barang buatan Ruski itu, ya versi yang sudah di-downgrade. Kommercheskiy, dengan efek gentar nihil.

      @@ Presiden Jokowi juga sudah menyebut kalau Alutsista harus seperti investasi jangka panjang.
      Yah, Sukhoi manapun mustahil untuk bisa mendapat upgrade, Sekarang saja, Su-35 masih berbasis tehnologi 2007 --- terlalu kuno.

      Su-35 hanya memenuhi keinginan, tidak pernah sesuai dengan realita kebutuhan Indonesia.

      Nanti sy akan menilik kembali re model Kommerchskiy Ruski, dan kenapa semua BVR missile buatan Ruski.... kemampuan kill-nya akan hampir NIHIL.

      Lebih banyak Sukhoi, hanya memberi lebih banyak target untuk ditembak jatuh lawan.

      Delete