Monday, October 17, 2016

Simulation: How Gripen-E will win the next Air War

Credits: Stefen Kaln, Saab
All Gripen images are Saab copyright 
Blog ini sudah menyajikan kenapa Gripen-E adalah satu-satunya pesawat tempur modern, yang memenuhi semua persyaratan 21st Century Air Superiority Fighter: jauh lebih unggul baik dari segi kinematis, maupun semua aspek lain, dibandingkan semua pesawat tempur lain; baik yang dioperasikan di seluruh Asia Tenggara / Australia, ataupun dibandingkan dua pesawat versi export yang ditawarkan ke Indonesia.

Kalau kedua artikel sebelumnya, sudah menampilkan kenapa Gripen-E akan selalu berpotensi memenangkan setiap pertempuran udara, artikel ini berbeda:

Simulasi:

Bagaimana Gripen-E akan memenangkan perang udara, melawan lawan manapun.


Pendahuluan


Battle, and war. Pertempuran, dan peperangan.

Pertama-tama, kita harus membedakan pengertian kedua kata ini. Pertempuran adalah konflik, yang sifatnya biasanya jangka pendek, hanya terjadi di satu daerah tertentu, dan hanyalah merupakan bagian dari suatu peperangan antara kedua pihak, yang sifatnya lebih jangka panjang.

Ada pepatah di Barat:
"(You might) won the battle, but lose the war."

Hanya semata bisa memenangkan suatu pertempuran, bukan berarti pihak kita akan dapat memenangkan perang, apalagi kalau kerugian pihak kita terlampau berat dalam pertempuran tersebut, dan kita tidak dapat menggantikan kerugian tersebut kalau peperangan berlangsung terlalu lama. 

Bagaimana memperoleh kemenangan dalam perang adalah tujuan akhir yang selalu harus dicapai. Sedangkan pihak yang semata pintar memenangkan pertempuran, tapi tanpa perhitungan jangka panjang untuk memenangkan perang, akhirnya akan menjadi pihak yang kalah.

Kita bisa mengambil contoh dalam perang Pasifik (1941 - 1945). Di antara akhir tahun 1941, sampai pertengahan tahun 1942; sewaktu itu sepertinya tidak ada yang dapat menghentikan expansi Jepang. Baik Amerika Serikat, Inggris, dan Australia mengalami bermacam rentetan kekalahan dalam semua pertempuran. 

Apa yang tidak diketahui orang, pihak Sekutu, khususnya Amerika Serikat, sebenarnya sudah mempersiapkan diri untuk memenangkan perang dalam jangka panjang:
  • Setiap kekalahan Allied Force antara tahun 1941 - 1942, sebenarnya dimanfaatkan untuk memupuk pengalaman, menyusun strategi tempur yang lebih rapi untuk mengalahkan Jepang dalam pertempuran yang selanjutnya, dan sebagai basis untuk memproduksi pesawat, persenjataan, atau kapal yang lebih unggul dari yang dipakai Jepang.
  • Sejak tahun 1939, sebenarnya semua galangan kapal US sudah bersiap memproduksi belasan kapal induk baru, yang akan menjadi faktor penentu utama dalam perang pasifik.
  • Sama seperti diatas, pabrik-pabrik di US sudah mempersiapkan diri untuk dapat memproduksi puluhan ribu pesawat terbang setiap tahun.
USS Tennesee, dan USS West Virginia terbakar di Pearl Harbour,
7-Desember-1941
(Gambar: Reuters)

Walaupun US menderita kekalahan di Pearl Harbour,
Jepang tidak pernah punya harapan menang!
Perang Pasifik sebenarnya ditentukan oleh rangkaian pertempuran udara, dan pertempuran antara pesawat terbang vs kapal, dan bukan pertempuran di darat. Inilah faktor utama yang menentukan kekalahan Jepang:
  • Sistem training pilot Jepang yang jauh lebih rumit, dan kurang fleksibel, tidak dapat menghasilkan cukup banyak pilot untuk menggantikan kerugian mereka di tahun 1942. 
  • Industri militer Jepang, seperti juga sudah diprediksi secara realistis oleh Laksamana Isoroku Yamamoto di tahun 1940, tidak pernah mempunyai kapasitas produksi yang sebanding dengan industri US. Jumlah kapal, dan pesawat US hampir 10:1 dibandingkan Jepang di tahun 1945.
Kemenangan untuk perang, jauh lebih penting dibanding semata bisa memenangkan pertempuran. Sayangnya, prioritas ini sudah bergeser dalam setiap desain pesawat tempur modern.

Di Abad ke-21 ini, semua negara lain sudah berlomba-lomba memproduksi Twin-Engine Fighters, atau Stealth fighters; dua jenis pesawat tempur yang semakin rumit, semakin mahal, semakin sulit diproduksi, dan perawatannya juga semakin sulit. Masalah disini adalah Sustainability. Dalam keadaan perang, setiap pesawat akan terus dituntut untuk siap terbang setiap saat, bukan mengendok di hanggar, untuk menjalani perbaikan; dan dengan sendirinya mengurangi jumlah yang siap mengudara setiap hari.

Sebaliknya, Saab adalah satu-satunya  yang berhasil memetik pelajaran dari masa lalu, dan memproduksi single-engined Gripen yang lebih tahan banting. Tidak hanya dibuat untuk memenangkan pertempuran, tetapi pesawat ini juga untuk memenangkan perang.

Artikel ini akan menggarisbawahi dua keunggulan Gripen, yang sekarang semakin kurang diperhitungkan di dunia:

Availability Rate, dan Sortie Rate.


Mau KF-X, F-22, J-20, ataupun PAK-FA; kesemuanya tidak akan dapat mengungguli Gripen-E dalam hal ini, dan ini akan menentukan dalam perang.



Simulasi Konflik: 48 Gripen-E vs 48 Su-35 

Seperti sudah dibahas sebelumnya, pilot Su-35 Kommercheskiy, alias pesawat versi downgrade pecinta perantara, tidak hanya akan kurang training, tetapi pesawatnya sendiri jauh lebih inferior dalam segala hal, sebenarnya bukanlah tandingan pilot Gripen-E. Akan tetapi, untuk kepentingan simulasi keunggulan Availability Rate, dan Sortie Rate ini, kita akan mengambil asumsi kalau kemampuan tempur mereka sebanding.

Sebelum perhitungan simulasi secara matematika ini dimulai, artikel ini akan menerapkan beberapa aturan sederhana:
  1. Pihak Negara A mengoperasikan 48 Gripen-E, sedangkan pihak B mengoperasikan 48 Su-35. Seperti diatas, kemampuan kill mereka akan sebanding dalam simulasi ini.
  2. Kedua pihak akan mengudarakan 48 pesawat mereka dalam 4 wave, atau gelombang. Setiap wave operasional selama 6 jam, untuk memastikan harus selalu ada pesawat yang menjaga wilayah udara masing-masing setiap jam dalam sehari.
  3. Kedua pihak juga diasumsikan sudah mempunyai pengalaman, dan kemampuan untuk mengoperasikan logistik pengoperasikan 24 jam untuk 48 pesawat, dan masing-masingnya mempunyai 3 pilot per pesawat, untuk memastikan hanya setiap pilot akan mengudarakan paling banyak 2 sortie per hari.
  4. Setiap 10 pesawat tempur yang mengudara, mempunyai kemampuan kill 10% dari jumlah tersebut secara konstan.
  5. Kalau jumlah pesawat tempur yang mengudara melebihi 10 unit, semisal 12 unit, maka angka desimal 0,2 itu, berubah menjadi 1 pesawat lawan yang berhasil dirusakkan, dan dengan demikian keluar dari simulasi.
  6. Kalau jumlah yang mengudara kurang dari 10 unit, semisal hanya 7 unit; angka desimal itu dapat ditambahkan dalam satu gelombang yang berikutnya untuk melebihi angka 1 kill. Kelebihannya (dalam kasus ini 14 pesawat), akan kembali diubah menjadi 1 kerusakan pada pesawat tempur lawan.
  7. Kalau jumlah satu pihak yang mengudara lebih unggul 3 : 1 dibanding lawan; maka angka kill rate tersebut akan dikalikan dua kali lipat
Contoh perhitungan simulasi:
Dalam contoh ini,  Wave-3 untuk 14 Gripen-E menghasilkan 10% kill rate, pembulatan kebawah untuk 1 unit Su-35 tertembak jatuh, dan 1 unit Su-35 yang rusak.

Sekarang mari memulai simulasi ini.


Day 1: Wave 1 dan Wave-2 

Babak pertama dalam simulasi ini langsung memperlihatkan hasilnya. Karena Gripen sudah dirancang untuk dapat mengudara berkali-kali dalam sehari, pihak A, yang mengoperasikan Gripen-E, dapat langsung mengudarakan 24 pesawat dalam setiap wave, atau 50% dari jumlah Gripen yang mereka operasikan, sekaligus menahan 24 pesawat lain sebagai cadangan.
Perbandingan Availability Rate:
Gripen vs F-16
Sebaliknya, Su-35SK hanya dapat mengudara satu kali sehari, karena kebutuhan maintenancenya yang luar biasa berat. Karena penalty ini, pihak B, terpaksa mengoperasikan Su-35, dalam 4 wave, masing-masingnya 12 pesawat per wave.

Dengan demikian, pihak A menikmati keunggulan jumlah 2:1 dibandingkan pihak B, dalam setiap wave. Ini bisa diartikan keunggulan pihak A untuk menghujankan 96 MBDA Meteor, dan 48 IRIS-T untuk setiap wave, dibandingkan 48 RVV-AE, dan 24 R-73. Dalam dunia nyata, pertempuran ini sebenarnya sudah sangat berat sebelah dari hari pertama, tetapi dalam simulasi ini, kemampuan kill kedua belah pihak sebanding. 

Dalam dua wave pertama ini, berkat keunggulan jumlah, pihak A berhasil merontokkan 4 Su-35, dan merusakkan 2 Su-35 lainnya. Sebaliknya, pihak B hanya berhasil merontokkan 2 Gripen, dan merusakkan 2 Gripen lainnya.


Day 1: Wave 3 dan Wave-4 



Dalam wave-3, dan wave-4 di pengunjung hari pertama, jumlah Gripen yang mengudara menjadi berkurang ke 22 pesawat, akibat kerugian di kedua wave sebelumnya. Tetap saja, pihak A dapat mengudarakan 2:1 Gripen dibanding Su-35 dari pihak-B, dan menghasilkan loss rate yang sebanding dengan sebelumnya.


Day 1 Conclusion: Hasil Akhir hari pertama

Hasil akhir dari pertempuran hari pertama ini, walaupun dengan asumsi kill rate yang sebanding, tidaklah mengherankan, bukan?

Hanya 16,67% dari armada Gripen pihak A yang tidak akan dapat berpartisipasi di hari kedua. Dari keempat Gripen yang rusak, para tehnisi pihak A bekerja keras siang-dan-malam; 2 pesawat akan dapat mengudara kembali di hari ketiga; sedangkan 2 yang lain sepertinya membutuhkan perbaikan beberapa minggu.
... para tehnisi Gripen dapat mengganti mesin dari 2 Gripen yang rusak dalam 1 jam, dan bekerja siang-dan-malam untuk mencoba mengudarakan kembali kedua model tersebut.

Tehnisi Sukhoi, sebaliknya, tidak akan pernah punya banyak harapan!
Sebaliknya, armada Sukhoi pihak B harus bekerja keras menjilati luka-luka mereka dari konflik hari pertama. 25% dari armada Sukhoi sudah lenyap; 8 tertembak jatuh, sedangkan 4 mengalami kerusakan berat, dan membutuhkan "perbaikan mendalam" berbulan-bulan. Dari jumlah yang rusak, 2 mungkin harus di-write off karena biaya perbaikannya terlalu mahal.




Persiapan Hari Kedua: Availability Rate

Kesulitan maintenance dalam konflik akan mulai mengigit kedua belah pihak, karena setiap jam terbang pesawat akan selalu membutuhkan beberapa jam maintenance.

Pihak A, yang mengoperasikan Gripen, yang sudah dirancang untuk kebutuhan maintenance minimal (kurang dari 5 jam maintenance per jam terbang) dengan maximum MTTR (Mean Time To Repair) hanya 2,5 jam, akan selalu dapat menikmati keunggulan availability rate yang lebih tinggi. Disini akan mengambil asumsi kalau 95% Gripen akan siap mengudara untuk hari kedua.

Sebaliknya, angka Availability Rate Sukhoi yang rendah (dibawah 55% untuk Sukhoi Su-30MKI India) akhirnya mulai menggigit jauh lebih berat. Kalau keluarga Su-30SM / MKI / MKM buatan Irkut sudah diproduksi sejak tahun 2000, dalam jumlah mendekati 500 unit saja masih menghadapi masalah yang sama; Su-35 produksi KnAAPO, yang jumlah produksinya bahkan masih kurang dari 100 unit, tetapi diperlengkapi dengan subvariant radar, komputer, perlengkapan, dan mesin yang lebih baru, dan lebih rumit, dapat dipastikan hanya akan menjadi hanggar queen yang jauh lebih parah dibanding MKI India. 

Setiap jam terbang Sukhoi, akan membutuhkan lebih dari 40 jam maintenance, dan setiap pesawat membutuhkan pelayanan mewah dari belasan tehnisi. Kalau saja ada satu mesin AL41F1 3D Thrust-Vector-Control, yang jauh lebih rumit ternyata mulai bertingkah; mengganti mesin akan membutuhkan waktu 4 - 5 hari. Ini juga dengan asumsi kalau para tehnisi Sukhoi pihak B, mempunyai kemampuan sebanding dengan tehnisi India, yang sudah jauh lebih berpengalaman dalam merawat ratusan Sukhoi MKI.

Dalam dunia nyata, kemungkinan kesiapan tempur (Operational Availability Rate) Su-35 di hari kedua sudah akan turun drastis ke level 30 - 40%; tetapi dalam simulasi ini, akan diambil asumsi kalau 60% dari jumlah Sukhoi yang tersedia di hari kedua, masih siap mengudara kembali.

Berdasarkan semua di atas, berikut adalah perhitungan jumlah yang tersedia untuk mengudara untuk kedua belah pihak: 

Pihak A, yang mengoperasikan Gripen, masih siap mengudarakan 38 pesawat, atau hampir 2x lipat lebih banyak dibanding pihak yang masih mengoperasikan Sukhoi. Hanya 22 pesawat pihak B yang available, dari armada 36 pesawat yang masih tersisa.
(Gambar: TNI-AU)
Sudah mulai bisa melihat betapa seriusnya masalah ini dalam masa perang?

... sementara pihak A dapat memperbaiki Gripen secara mandiri di masa perang,
para tehnisi Sukhoi harus menelepon Rosoboronexport, untuk menu "take back Su-35"
agar dikirim balik ke KnAAPO, dan menjalani "perbaikan mendalam"


Day 2: Wave-5, Wave-6, Wave-7 dan Wave-8 



Dalam hari kedua, pihak A, dapat menikmati keunggulan 3:1; dan seperti dalam aturan permainan, menikmati Kill Rate bonus 2x lipat atas armada lawan. Setiap wave Gripen, akan menembak jatuh 2 Su-35SK, dan merusakkan 1 pesawat lain; sebaliknya, kedua wave tersebut hanya menderita kerugian 1 pesawat rontok, dan 1 pesawat rusak.

Dalam gelombang ke-7, dan ke-8; hanya 18 Gripen-E yang siap mengudara, dan kembali menikmati keunggulan 3:1, terhadap lawan, dan menikmati keuntungan kill rate yang sebanding seperti dalam gelombang ke-5, dan ke-6.



Day 2: It's over! 

Untuk pihak-B yang mengoperasikan Su-35, kecuali didorong rasa gengsi, sebenarnya sudah saatnya mengibarkan bendera putih, dan mengontak Kedutaan besar Negara-A untuk proposisi perjanjian damai. Peperangan udara antara kedua belah pihak sebenarnya sudah berakhir di pengunjung hari kedua.

Mari melihat hasilnya:
Pihak A masih mempunyai 38 Gripen, sedangkan setelah menderita kerugian 12 pesawat selama dua hari berturut-turut, berarti hanya tinggal 12 Su-35 yang masih tersisa, dan belum tentu semuanya siap mengudara.

Saatnya kembali mengaplikasikan Operational Availability Rate, atau mengaplikasikan kebutuhan maintenance untuk pesawat tempur masing-masing pihak.

Di masa konflik, semakin hari, Availability Rate hanya akan semakin bertambah parah. Hanya akan ada 40% dari 10 Sukhoi yang tersisa, akan siap mengudara di hari ketiga..... 4 pesawat..... Sedangkan pihak A masih dapat mengudarakan 35 Gripen-E.

Hasilnya sudah terlihat jelas, bukan?

Kalau konflik ini diberlanjutkan ke hari ketiga; 36 Gripen dari pihak-A, dapat mulai mengganti persenjataan Air-to-Air payload mereka, ke RBS-15F cruise missile, MBDA Storm Shadow cruise missile, JDAM, Paveway-IV Smart Munitions, atau GBU-39 Small Diameter Bombs, untuk mulai membomi Sukhoi yang semuanya butuh "perbaikan mendalam", dan berserakan di lapangan udara pihak B.

Sementara para tehnisi pihak-A, masih dapat berjuang mati-matian untuk memperbaiki setiap Gripen yang rusak, agar semuanya dapat kembali operasional sebelum akhir minggu, sementara para tehnisi Sukhoi pihak-B tidak akan dapat berbuat banyak; bahkan mencoba mengembalikan jumlah 12 - 14 pesawat yang masih menjalani maintenance dari hari pertama-pun akan sulit.

Hanya 6 Gripen yang tertembak jatuh; 4 rusak, tetapi beberapa unit mungkin masih bisa diperbaiki kembali. 3 pesawat yang lain sedang melakukan reparasi yang lebih berat dari yang diprediksi, dan akan dapat kembali operasional di hari keempat.

Pihak yang mengoperasikan Sukhoi sudah menderita kerugian berat 16 pesawat tertembak jatuh, 8 pesawat rusak berat / terlalu sulit untuk diperbaiki, dan yang paling parah; 20 pesawat harus menjalani "perbaikan mendalam". 

Kesemua Sukhoi yang masih tersisa tentu saja hanya menjadi sasaran empuk di landasan, apalagi kalau konflik masih berlanjut ke hari ketiga. Total kerugian total untuk hari ketiga, yah, 48 pesawat; karena 4 - 5 pesawat yang tersisa, tidak akan berdaya menghadapi 35 Gripen, yang jumlahnya hanya akan bertambah dalam beberapa hari kedepan.
Maintenance, and Operational Readiness Matters:
Simulasi ini menunjukkan kalau 41.66% dari armada Sukhoi (20 unit) 
tidak akan bisa beroperasi di hari ketiga, hanya karena masalah maintenance.

Pesawat tempur yang terlalu rumit, 
dengan sendirinya Kesiapan Tempur-nya akan selalu menjadi lebih rendah,
tidak mempunyai tempat untuk memenangkan perang yang berikutnya.

F-22, dan F-35; 
kedua model maintenance queen US juga termasuk dalam kategori ini.


Penutup


Gripen, sekali lagi, tidak hanya dirancang untuk memenangkan setiap pertempuran udara, tetapi juga untuk memenangkan setiap perang yang sifatnya berkepanjangan.

Bagi yang masih merasa kalau pesawat tempur lemon, Sukhoi Su-35 "cocok untuk Indonesia", artikel ini sudah cukup untuk mengakhiri semua argumen manapun.

Hanya membutuhkan waktu dua hari bagi pihak yang mengoperasikan 48 Gripen-E, untuk bisa menghabisi 48 Su-35, hanya karena beberapa alasan sederhana:
  • Pihak yang mengoperasikan Gripen, akan selalu dapat mengudarakan lebih banyak pesawat dalam setiap wave. Di hari pertama saja, mereka dapat menerbangkan 96 sortie; sedangkan pihak Sukhoi, hanya dapat menerbangkan 48 sortie maksimal. Dalam dunia nyata, sortie rate Gripen mungkin masih bisa antara 30 - 60% lebih tinggi lagi daripada dalam simulasi ini.
  • .... dan karena lebih banyak Gripen di udara, dengan sendirinya kemampuan kill juga akan meningkat. Dengan kelebihan TIDLS Network, dan Sensor Fusion, Gripen sebenarnya sudah dirancang dari awal untuk memenangkan pertempuran, dengan tehnik keroyokan, atau kerjasama dekat dalam setiap formasi 4 Gripen.
  • Masalah maintenance sudah melumpuhkan hampir separuh armada Sukhoi, dan pihak B, walaupun mendapat kerjasama penuh dari Rosoboronexport, tetap saja tidak akan dapat berbuat banyak.  
Biaya Operasional (tidak termasuk persenjataan) yang harus dibayarkan kedua belah pihak dalam simulasi ini juga memberikan tampilan yang cukup menarik:
  • Pihak A yang mengoperasikan Gripen, dengan estimasi biaya operasional $4,700 per jam, dengan masing-masing sortie selama 6 jam; hanya perlu merogoh $7 juta untuk membayar pengoperasian hampir 1500 jam terbang semasa peperangan singkat ini.
  • Pihak B, yang mengoperasikan Sukhoi, dengan estimasi biaya operasional $60,000 per jam, sebaliknya harus merogoh $27 juta, hanya untuk 444 jam operasional, dan kalau ini masih belum cukup pahit, semua Sukhoi mereka sudah HANCUR di darat pada hari ketiga.


Pihak B, yang mengoperasikan pesawat berbiaya operasional mahal, harus merogoh $20 juta lebih mahal dibanding pihak A, yang mengoperasikan Gripen; dan karena semua Sukhoi mereka hilang tak berbekastotal kerugian pihak B mencapai beberapa milyar US$, tanpa ada hasil yang berarti. Pihak A mencapai Air Supremacy, bukan?


Kalau semua ini belum cukup, simulasi ini juga memperhitungkan asumsi kalau kemampuan kill kedua belah pihak sebanding. 

Kenyataannya tidak begitu.
What qualify it to be a lemon?
No viable training System, 
hopelessly outdated,
mediocre kinematic performance, 
inferior 3rd-rate missiles,
lacking any modern Networking capabilities, 
very high maintenance,
devastatingly low availability rate,
only available in downgraded Kommercheskiy version.

.... and.....
Buyers will be at mercy of you-know-who Agencies 
Kemampuan tempur Gripen-E sebenarnya jauh lebih unggul dibandingkan Su-35 Kommercheskiy. Dalam dunia nyata, perbandingan kill rate antara Gripen-E, dan Su-35, yang pilotnya sampai kapanpun juga akan kurang latihan, akan jauh lebih berat sebelah daripada dalam simulasi ini. Belum lagi menghitung keuntungan Nasional bagi pihak yang mengoperasikan Gripen dari kerjasama jangka-panjang dengan Saab,  yang tidak bisa dihitung secara finansial, ataupun secara gengsi.

Pengetahuan, Kemampuan, dan Kemandirian.
Link: Jane's
Bagi yang mengikuti tanya-jawab dalam blog ini, artikel ini juga sudah menjelaskan sedikit, kenapa negara kita tidak akan membutuhkan lebih banyak dari 64 (4 Skuadron), atau maksimum 80 Gripen (5 Skuadron), dan bukan 180 pesawat seperti renstra versi 2010.


Mengoperasikan setiap Gripen, sebenarnya seperti mengoperasikan 3 - 4 pesawat tempur lain dengan jauh lebih efektif, dan potensinya yang jauh lebih mematikan. Dan semuanya itu, tanpa perlu memboroskan biaya operasional yang berlebihan, atau biaya "perbaikan mendalam".

Kunci Keunggulan Gripen: Sustainability Concept 
(Gambar: Saab)

Pernyataan Presiden Jokowi:
"Tidak boleh lagi membeli pesawat tempur tanpa berhitung berkalkulasi biaya daur hidup alutsista tersebut dalam 20 tahun ke depan."

Tidak hanya berhenti disana;
Pesawat Tempur HARUS tahan banting dalam peperangan jangka panjang,
bukan hanya sekadar sok bisa memenangkan satu pertempuran

23 comments:

  1. kalau seandainya TNI kita mengopersikan gripen dan menggunakan taktik gerilya menghadapi lawan yg lebih kuat skenarionya bagaimana bung?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Secara tehnis, sama seperti Jendral Sudirman dalam perang kemerdekaan, melawan pasukan NICA Belanda, yang jauh lebih terlatih, bersenjata lengkap, dan mendapat dukungan air support.

      Prinsip perang gerilya cukup sederhana:
      ===============================
      ## Jangan pernah menantang lawan yang lebih kuat secara terbuka, dimana posisi mereka sudah pasti akan lebih unggul.
      ## Sebaliknya, seranglah mereka di titik dimana mereka lebih lemah, dalam tempo yang cepat (sebelum mereka memanggil bala bantuan).
      ## Mobilitas harus lebih tinggi. Berpindah-pindahlah dengan cepat, agar tidak terperangkap JUMLAH lawan yang lebih kuat!
      ## Pantang menyerah, walaupun perang sifatnya menjadi berlarut-larut! Pihak yang lebih kuat akhirnya akan kehilangan kesabaran, atau menderita kerugian yang begitu hebat, sehingga mereka tepaksa mundur.

      ===============
      Kenapa Indonesia membutuhkan pespur gerilya Gripen?
      ===============
      ## Pertama-tama kita negara kepulauan. Kalau tidak bisa menguasai supremacy di udara, maka semua kapal TNI-AL yg menentukan mobilitas TNI tidak akan dapat bergerak; dan karena itu.....
      ## Aggressor yang serius, pertama-tama akan terlebih dahulu menghancurkan semua Lanud tipe-A/B TNI-AU, dan mencoba menghancurkan sebanyak2nya F-16, atau Sukhoi di darat.

      ## Sekarang adalah masanya satellite imaging, dan GPS targeting --- kesemua pespur di Iswayudhi, Sultan Syahir, Supadio, atau Hassanudin itu mudah terlihat, dan dengan demikian, mudah dihancurkan.


      Kalau kita mengoperasikan Gripen; ratusan lanud perintis yang tersebar di seluruh Indonesia, dapat berubah menjadi pangkalan dadakan Gripen hanya dalam beberapa jam.

      Silahkan saja membom Supadio, atau Iswayudhi: kemungkinan tidak akan ada satu Gripen-pun disana!

      Kemudian, misalnya, bisa saja Gripen-Indonesia baru mulai menyergap pespur lawan dari belakang, justru pada titik terlemah mereka: tangki bahan bakar sudah kritis (akan sulit manuever krn takut kehabisan bensin), dan pilotnya sudah lelah karena berjam2 tebang, adrenalinnya sudah naik krn mengharap menghadap lawan... eh, malah kecele..... Sebelum dikejutkan di saat yang tak terduga!

      ....atau lebih baik lagi, sekalian menghantam pesawat tanker lemot mereka yang tak akan mampu menangkal Meteor, atau AMRAAM.

      Delete
  2. bung apakah ada jaminan kalau hanya dgn 6 orang sudah cukup untuk suport gripen terutama ketika konfik berkepanjangan bagaimana jika ketika konflik dan gripen rusak berat bukankah harus balik ke pangkalan utama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Leon,

      Ini sbnrnya sedikit salah pengertian.

      Hanya membutuhkan 1 tehinisi, dan 5 orang terlatih untuk "easy turnaround", dan meningkatkan jumlah sortie Gripen dalam per hari.

      Semua pesawat tentu saja akan membutuhkan maintenance beberapa jam, setiap 1 jam terbang.

      ==================
      Lihat table Saab diatas:
      ==================
      Saab menyatakan kalau MTBF (Mean Time Between Failures) untuk Gripen mencapai 7,6 jam.
      Dalam kurun waktu 7,6 jam inilah, Gripen hanya membutuhkan 6 orang untuk kembali mengisi bahan bakar, mempersenjatai kembali, sekaligus technical check cepat, dan dapat mengudara kembali.

      Secara tehnis, sebenarnya simulasi artikel ini meng-underestimasi jumlah Sortie Gripen per hari;
      tipe ini dapat mengudara lebih dari 4x sehari, melebihi pesawat tempur manapun, termasuk F-16, yang sudah terkenal bandel.

      ============
      Gripen Maintenance
      ============

      ... seperti pesawat tempur lain, akan membutuhkan tim tehnisi terlatih.

      ## Maksimum jam maintenance yg dibutuhkan kurang dari 8 jam maintenance, per jam terbang; tetapi jumlah ini sendiri dibagi dengan jumlah jam kerja beberapa tehnisi yg mengerjakan Gripen.

      ## Jumlah tehnisi yang dibutuhkan untuk maintenance ini, bisa dipastikan lebih sedikit dibanding F-16, dan juga lebih mudah untuk dikerjakan!

      Untuk perbandingan, butuh belasan tehnisi untuk men-support Sukhoi, dan kalau melihat di Youtube, karena pesawatnya terlalu rumit, setiap tehnisi Sukhoi jadi kelihatan kurang produktif; terlalu banyak menghabiskan waktu mengerjakan banyak pekerjaan printilan, tidak praktis.

      Tidak akan ada masalah yang sama dengan Gripen.

      Karena itu seperti table Saab;
      =======================
      Maximum Lead Time untuk maintainance Gripen hanya membutuhkan waktu 2,5 jam; setiap MTBF masa terbang / operasional 7,6 jam.

      Dalam waktu 2,5 jam ini, kalau perlu tehnisi Gripen bahkan dapat mengganti mesin (hanya butuh sejam).

      Yah, secara tehnis, sebenarnya 48 Su-35 sudah bisa disapu dari langit di hari pertama; karena jumlah Gripen yang mengudara setiap saat akan jauh lebih banyak.

      ...dan kesemua Gripen akan jauh lebih unggul dari segi Situational Awareness, Networking, persenjataan, dan perlengkapan dibanding Sukhoi.

      Delete
  3. Maaf bung GI, bicara soal perawatan habis terbang.
    Bisa dikatakn F16 hibah yng datang dari amerika ke indonesia, melalui 2X penerbangan/ perawatan. Dan boleh dikatakan selesai perawatan langsung terbang .


    Maaf melenceng dari judul yang anda buat .

    Melihat kemampuan tempur baik pesawat / rudal Tni cukup riskan.
    Kilas balik ke acara angkasa yuda 2016, itu sudah hampir ½ dari alutsista yang ada, bahkan kalau untuk perperangan nyata. Jumlah itu juga masih kurang untuk 1X terbang.

    Kalau untuk doktrin pre emprit strike, saya rasa masih kurang banyak.
    Menurut bung GI sendiri, apa si doktrin yg dianut TNI AU

    ( Tetap bangga jadi warga negara INDONESIA )

    ReplyDelete
    Replies
    1. Melenceng sedikit dari topik sih sudah biasa...

      =====
      F-16
      =====
      ...sebenarnya saingan terdekat Gripen dalam hal kemudahan maintenance, dan Kesiapan Terbang kembali (Availability Rate / Operational Readiness).

      Alasannya: Karena keduanya memilih desain Single-Engine; Lebih sederhana / praktis.
      Maintenance-nya selalu lebih mudah, & lebih murah, karena dengan sendirinya lebih sedikit yang bisa rusak, atau perlu perawatan khusus.

      Penerbangan ferry flight seperti F-16 dari US ke Indonesia, secara tehnis juga lebih relax, dibandingkan dalam latihan / pertempuran sungguhan, karena pilot tidak akan perlu bermain afterburner, atau mencoba bermanuever ketat.

      Kebutuhan maintenance, dengan sendirinya relatif akan lebih minimal. MTBF juga akan bisa lebih molor vs jadwal biasa.

      ===========
      Kekuatan Indonesia di Angkasa Yudha
      ===========

      Tidak heran kalau saat ini kita terus-menerus merasa jumlahnya kurang.

      F-16 tidak dirancang untuk beroperasi di lanud Ranai, di Natuna secara terus-menerus. Krn membutuhkan fasilitas Lanud yg sebanding dgn Iswayudhi; karena itu, dendirinya sortie rate akan berkurang.

      Sukhoi lebih parah lagi.

      Kalau hanya utk peragaan udara setengah jam sih masih tidak apa2, tapi kalau sudah dipaksa misi tempur 4 - 6 jam..... tidak akan dapat mengudara lebih banyak dari sekali dalam 36 - 48 jam, karena kebutuhan maintenance-nya akan merongrong.

      Bukan. Jawabannya bukan menambah lebih banyak pespur.

      Butuh investasi modal, reorganisasi, dan sistem logistik baru, yg akhirnya terlalu mahal, dan terlalu merepotkan.

      Untuk Sukhoi misalnya, akan membutuhkan 40 pesawat (hampir 3-skuadron) untuk dapat memenuhi pekerjaan yg sama dengan 16 F-16 (1 Skuadron), dan F-16 saja sebenarnya kurang ideal.

      Kenyataannya kedua model versi export ini memang dari awal kurang sesuai untuk kebutuhan Indonesia.
      ========

      IMHO, inilah kenapa langkah yg lebih baik adalah mengganti Sukhoi dengan 16 Gripen dahulu.

      Deployment ke Ranai, Biak, atau Kupang akan lebih mudah / murah, dapat berbagi senjata yg sama dengan F-16, dan... karena sudah didesain utk dapat terbang berkali-kali / beroperasi dgn minimal support, kita akan merasa seperti sudah membeli 35 pesawat.

      ======
      Doktrin / Sistem
      ======
      Seperti sy sudah post sebelumnya. Kita belum mempunyai sistem modern yg siap tempur, krn kita mengoperasikan dua tipe yg filosofi desain / penggunaannya saja sudah berbeda jauh.

      Belum cukup parah; kedua2nya juga versi export model tanggung dari segi kemampuan.

      Ini bukan salah siapa2, tapi memang kita masih terombang-ambing, tanpa ada pegangan yg jelas.

      IMHO, inilah kenapa kita membutuhkan Gripen System, bukan hanya semata Gripen doang.

      Delete
  4. Hehe, sudah biasa untuk keluar dari topik bung :) :) :)

    Benar sekali apa yang anda katakan, pembelian saab gripen bukan untuk Semata soal pesawat saja. Tapi juga network dan lain².

    Sekarang baik TNI AU, TNI AD, TNI AL tidak mempunyai tautan / networking yang memadai.


    Buat rudal belum bisa, dikasih tekhnologi rbs 15 kok nolak. Apakah bung admin bisa menjelaskan ini ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Matt,

      Inilah kenapa pernyataan Presiden Jokowi 20-Juli yang lampau sbnrnya menjadi teguran thd kesalahan sistem akuisisi kita selama ini:

      "Beli Alutsista sesuai kebutuhan, bukan menurut keinginan!"

      "Transaksi harus lewat G-to-G, dan bukan perantara!"

      "Membeli alutsista harus sifatnya seperti investasi, dan supplier dituntut dapat memenuhi UU no.16/2012."

      Keinginan bisa dipengaruhi iklan -- mnrt analisa delusional Ausairpower, dan para fanboys, Sukhoi itu hebat!

      Atau terlalu terbawa mimpi -- Mari membuat pespur sendiri! Eeh, padahal tidak pernah punya tehnologi, infrastuktur, atau pengalaman. Trifecta penting sebelum memulai suatu proyek manapun.

      Keinginan = Logika jadi hilang;

      ....tanpa sengaja jadi mengacuhkan kebutuhan negara, atau bahkan mencoba melanggar UU no.16/2012.

      Jadi jangan terlalu khawatir dulu!

      Kalau masalah tutup kontrak sih, sepertinya akan didorong oleh faktor keuangan negara, sudah mencukupi atau belum. Tidak ada banyak alasan utk buru2 membeli "pengganti F-5E"...

      Ke-24 F-16 Block-25+ saja belum selesai deliverynya, sedang jumlah missile juga masih dibawah standar minimum, kok sudah mau buru2 beli pespur lagi?

      Saab sendiri cukup lihai sudah terlebih dahulu meneken kontrak ToT, dan kerjasama development dngn BPPT, dan PT Pindad.

      Seperti diatas, Gripen tidak hanya akan memenuhi semua kebutuhan Indonesia, tapi juga adalah satu2nya penawaran yg akan memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012.

      ....lagipula, kita akan sangat membutuhkan Erieye AEW&C utk menambah kontrol & pengawasan wilayah udara nasional.

      Yah, semoga saja harinya kita akhirnya mengoperasikan Gripen System (termsk Erieye), dan industri pertahanan yg jauh lebih mandiri dari sekarang, semakin mendekat.

      Delete
  5. Yah kalau tak ada uang buat beli pespur, Kan bisa sewa gripen c/d swedia. Murah dan cuma isi bengsin doang. Selebihnya uangnya ditabung ( 6 thn aja pasti udh dpet bnyak uang lebihan )

    Emang udah mentok di uang kyaknya bung
    Hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, bung Matt.

      Semuanya akhirnya akan selalu berhenti di keuangan.

      Kita harus realistis dalam hal ini. Kalaupun ada kenaikkan dalam jangka panjang, anggaran pertahanan Indonesia paling tinggi hanya akan mencapai 50%-nya Australia.

      Yah, ekonomi kita kan masih jauh dari tingkat kemakmuran Australia, Sing, atau Korsel.

      ...dan secara tehnis juga, kita tidak pernah berada dibawah ancaman militer yg serius dsri negara lain, seperti India, Pakistan, Korsel, Jepang, negara2 Timur Tengah.

      Delete
  6. Lantas kenapa dari tawaran saab kepada indonesia yg sangat menarik, tapi kenapa kurang mendapat sesuatu yg lebih dari indonesia ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dari sudut pandang pemerintah, masalahnya seperti di atas, terbentur di sisi keuangan, walaupun paket Gripen-E + Erieye + National Network masih akan lebih murah, dan kemampuannya jauh lebih unggul dibanding pesawat versi export IF-X.

      Masalah terbesar berikutnya sebenarnya lebih seserhana: PERSEPSI.

      Kalau di tahun 1980-an, pasar pespur dunia masih dimanjakan dengan koleksi pespur Lightweight single-engine F-16, Mirage-2000, dan twin-engine mungil F-5E, jaman sekarang pasarnya sudah berubah.

      US menganggap F-16 adalah model yg sudah kadaluarsa, walaupun kenyataannya, kalau mau serius F-16 masih jauh lebih unggul dibandingkan F-35 Lemon II.

      Lebih parah lagi, krn US Authorities mengijinkan Lockheed-Martin mengakuisisi General Dynamics Aviation, upgrade utk F-16 di masa depan akan semakin terbatas, karena alasan politik, dan finansial.

      Dilain pihak, Dassault Perancis mengganti Mirage 2000, dengan twin-engine Rafale.

      Russia juga berhenti memproduksi single-engine MiG-21, pespur terbaik mereka; dan menggantikannya dengan MiG-29, dan Su-27; dua model twin-engine lain.

      Saab satu2nya yg aktif menawarkan modern lightweight single-engine Gripen dewasa ini.

      Bisa melihat akibatnya?
      Persepsinya Twin Engine = Superior,
      Single Engine = anak bawang.

      Perhatikan saja semua forum2, atau blog2 militer baik di Indonesia, maupun di luar negeri!

      Ini persepsi yang salah!

      Dunia sudah lupa, kalau sepanjang sejarah, tidak pernah terbukti Twin-Engine design itu sebenarnya jauh lebih inggul dibanding Lightweight Single-engine.

      Kenyataannya:

      ## Twin-engine akan selalu lebih draggy, krn penampangnya lebih besar.

      T/W ratio yg lebih besar utk Twin-Engine, belum tentu memberikannya kemampuan akselerasi yg bersaing dgn Single-Engine design yg T/W Ratio-nya lebih kecil.

      ## Twin-Engine = Heavier & more expensive maintenance.

      Yah, twin-engine sbnrnya menjadikan desain pesawat menjadi lebih dari 2x lipat lebih complex, dan membuatnya terlalu manja, dan.....

      ## Seperti dalam artikel ini, Twin-Engine jumlah sortie per hari, dan Availability Rate-nya dengan sendirinya berkurang.

      Sukhoi Flemon yg dibandingkan disini adalah contoh extreme, tapi twin-Engine NATO; F-15, F-18, Typhoon, atau Rafale juga semuanya hanya dapat mengudara sekitar 1,5x per hari.

      Yah, kalau Su-35 dalam artikel ini disubsitusi dengan F-15, atau Typhoon, hasilnya tetap tidak berubah:

      Gripen-E akan memenangkan perang!

      ## Terakhir: Peluru, atau missile itu sebenarnya sangat bodoh!

      Target yg ukurannya lebih besar di udara, dengan 2 mesin yg panas, akan selalu lebih mudah tertembak jatuh!

      Delete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. http://www.defenseworld.net/news/17479/Saab___s_Local_Production_Offer_Checkmated_Russian_Su_35_in_Indonesian_Fighter_Jet_Race_#.WBHczTilbHw

    Peluang saab gripen untuk dipilih besar nih.. Semoga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @tutus,

      Kalau anda perhatikan,
      bukankah semenjak Presiden Jokowi membuat pernyataan pada 20-Juli yang lampau "Beli sesuai kebutuhan, dan bukan keinginan", sudah tidak pernah lagi terdengar berita di media massa kalau Indonesia "akan membeli Su-35"?

      Pernyataan beliau seperti sudah dituliskan kembali dalam artikel ini juga cukup kritis kok:
      "Tidak boleh lagi (sembarang) membeli pesawat tempur, tanpa perhitungan daur hidupnya dalam 20 tahun ke depan!".

      Dalam artikel defenseworld diatas, biaya OP Su-35 disebut 10x Gripen, yang hanya $4,700/jam.

      Sebenarnya ini keliru.

      Kalau membeli hanya 8 unit + biaya komisi perantara, biaya operasional Su-35 akan melebihi $100,000 / jam, atau lebih dari 20x lipat Gripen.... dan tentu saja, dalam 4 - 5 tahun, juga tidak akan ada satupun yang masih bisa terbang.

      Yah, hari Gripen-Indonesia semoga akhirnya akan semakin mendekat.

      .... walau kita tidak bisa optimis ini akan terjadi dalam waktu dekat, karena keuangan negara harus terlebih dahulu memperhatikan perekonomian.

      Delete
  9. bung GI meurut anda pespur twin engine mudah ditembak karena 2 mesin panasnya namun bukankah setiap pespur memiliki flare untuk menhindari misile pencari panas?

    ReplyDelete
  10. Target yang ukurannya lebih besar, dan bokongnya lebih panas akan selalu menjadi target yang lebih mudah tertembak ketimbang target yang lebih kecil, dan bermesin tunggal.

    Ini hanya logika sederhana.

    Betul, semua pesawat tempur modern dewasa ini membawa flares.

    ...dan karena itu, semua WVR missile modern buatan industri Barat, seperti AIM-9X Block II misalnya, mempunyai kemampuan "Infra Red Counter Countermeasure", dan seeker-nya memakai "imaging infrared focal plane array" untuk mencuekin flares, dan langsung melihat ke arah "gambar" target.

    Bukan berarti setiap WVR missile akan menjamin 100% kill, akan tetapi...

    ..kembali, logikanya seperti diatas.

    Twin-Engine, apalagi yg tanpa pengurangan IR Signature, seperti F-15, F-18, Su-27/30/35, dan MiG-29 akan menjadi target yg lebih mudah terhantam WVR missile.

    F-16 boleh dibilang toss up; IR signature lebih rendah karena single engine, tapi kurang ada upaya untuk pengurangan IR lebih lanjut. Paling tidak F-16 masih lebih lincah vs F-15, atau Sukhoi.

    Twin-engine F-22, Typhoon, dan Rafale peluang selamatnya lebih besar, karena IR signature-nya sudah dibuat lebih kecil.

    Akan tetapi....Gripen satu2nya yg memegang semua kartu Survivability:

    IR signaturenya paling rendah, ukurannya paling kecil, dan dirancang untuk paling manueverable.

    ============
    Bicara soal WVR missile,

    K-74M, WVR missile generasi terbaru Ruski, yang tidak tersedia untuk export saja, masih belum dilaporkan mempunyai fitur yang sama dengan WVR missile Barat.

    Engagement envelopnya dilaporkan hanya 85 derajat dari arah moncong pesawat, sementara WVR missile Barat dapat ditembakkan ke belakang (180 derajat), dengan bantuan datalink dari pesawat lain.

    ReplyDelete
  11. Bung GI,
    Apakah rudal yg dibawa pespur tidak bisa untuk pertahanan udara mereka sendiri ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. IRIS-T buatan Diehl System diklaim dapat menembak jatuh cruise missile, atau BVR missile lawan.

      ... tetapi tidak ada missile yg dapat mencegat IR-guided missile dalam WVR Combat.

      Masalahnya, jarak tembaknya saja kemungkinan akan kurang dari 10 kilometer. Akibatnya, travel time missile antara penembak, dan target akan terlalu pendek: Kurang dari beberapa detik.

      Kalaupun ada missile yg mengklaim bisa, dia sudah berhadapan dgn hukum fisika yg tak seimbang; mulai dari pilot response time, dan time delay sedari menekan tombol, counter-missile harus dapat mencegat missile lawan hanya mempunyai margin-of-error sepersekian detik.

      Hampir mustahil.

      Dewasa ini, dalam pertempuran jarak dekat, boleh dibilang sudah tidak ada countermeasure yg benar2 efektif utk menangkal IR-missile.

      Inilah kenapa, lebih baik menjadi pilot pesawat yg paling sukar terlihat, dan IR signaturenya juga terjamin paling rendah: Gripen.

      Gripen akan lebih mungkin menjadi penembak, daripada menjadi target.

      Sebaliknya, pesawat2 terkenal; F-22, -15, dan Sukhoi ukurannya saja hampir sebesar lapangan sepak bola. Mudah dilihat pilot lawan!

      Lebih baik lagi, kalau pilot yg kurang latihan masih berani memakai TVC kemudian kehilangan kecepatan! Habis dah!

      Sebaliknya, tidak seperti kepercayaan takabur U.S. yang sebenarnya mengulangi kesalahan yg sama dari tahun 1960-an;

      BVR Combat probability Kill-nya masih terlalu kecil.

      Secara tehnis, MBDA Meteor dengan ramjet propulsion, dan 2-way datalink akan lebih menjanjikan kill dibanding BVR manapun, akan tetapi tetap saja....

      Probability Kill dari WVR missile modern masih beberapa belas kali lipat lebih tinggi vs Meteor.

      Delete
    2. Dengan kata lain adalah, jika terlibat pertempuran jarak dekat dan sudah terkunci oleh missil musuh dengan kata lain udah tamat.

      Tentu dalam hal ini, semakin cepat sebuah rudal. Tentu semakin sulit untuk di cegat / di rontokan

      Itu pun kalau radar dan perangkat sudah memadai

      Delete
    3. Yah, biar bagaimanapun, di dunia tidak ada yang bisa menjadi 100% kill rate.

      Ada beberapa faktor yang masih harus diperhitungkan:

      ## Akan selalu ada kemungkinan mechanical / electronic error dari sisi missile / penembak

      ## Terkadang bisa jadi walaupun seeker IR-missile sudah ultra-modern, masih bisa terkecoh dengan flare biasa.

      ##.... Akan tetapi penentu utama Survivability, seperti diatas; selain tergantung tipe pesawat (Heavy Twin-Engine akan lebih sulit menghindar!), dan lebih penting lagi.... Kemampuan TRAINING pilot.

      Pilot yang 100% menguasai pesawatnya, karena sudah terbiasa, dan sering latihan, akan mampu mendorong kemampuan pesawat itu semaksimal mungkin, atau bahkan melebihi batas "keajaiban".


      Contoh:
      ## F-15 Heavy Twin-Engine, survival rate-nya akan lebih tinggi vs IR-missile modern, bahkan jika melawan F-16, apalagi kalau pilotnya lebih terlatih.

      Inilah kenapa, mengoperasikan pesawat tempur yang berbiaya operasional mahal, dan kesiapan tempurnya rendah karena gila maintenance (Su-27/30/35, F-22, dan F-35), tidak akan pernah bisa masuk di akal.

      Untuk selamanya jumlah jam terbang pilotnya akan kurang training, dibanding pilot F-16 sebagai tolok ukur masa kini.

      Kalaupun ada uang, dan kemauan, pesawat yg terlalu gila maintenance tidak akan bisa terbang sesering yang diharapkan.

      Seperti dalam artikel ini; Kedua faktor ini akan menentukan dalam konflik.

      Delete
  12. bung dari sejarah konflik2 yg sudah terjadi,pespur yg sudah menghabiskan BVR misilenya namun belum menghabisi lawannya apakah dia akan memilih ke WVR atau bahkan ke dogfoght atau memilih mundur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jawabannya tergantung.
      Kalau kedua-dua belah pihak merasa sama-sama kuat, mereka akan memilih pertempuran jarak dekat.

      Kalau satu pihak merasa pihak yang lain lebih kuat / lebih banyak, bisa juga mereka akan memilih mundur daripada mengadu nasib.

      ## Dalam perang Vietnam, MiG-17/19/21 Vietnam seringkali menantang F-4 Phantom yang sudah menghamburkan AIM-7 mereka, dan biasanya semuanya meleset!
      Ini dikarenakan pilot Vietnam mengetahui, dalam pertempuran jarak dekat MiG single-engine mereka yg mungil sbnrnya lebih unggul dibanding heavy twin-engine F-4 Phantom II.

      Sebaliknya, pilot F-4 USAF, yang percaya diri akan superioritas USAF atas negara seperti Vietnam, tentu saja akan melayani.

      Akibatnya: Kill ratio US:Vietnam mendekati angka 1:1 pada masa awal perang.

      Belakangan, seiring dengan upgrade ke F-4E Phantom II: Internal cannon, dan "leading edge slat" di sayap pesawat, dan perubahan di sistem training pilot; kill ratio menjadi lebih baik ke 2:1.

      US sebenarnya sudah membayar mahal karena mempertaruhkan semua telur mereka ke dalam Heavy Twin-Engine F-4 Phantom II, dan BVR concept.

      ... F-22 stealthy Heavy Twin-Engine, dan F-35 stealthy BVR-only Overwight aircraft -- menunjukkan kalau mereka tidak belajar dari pengalaman Vietnam, dan mengulangi kesalahan yg sama.

      ## Dalam perang Iran - Iraq (1980 - 1988); F-14A Tomcat IRIAF mendapat banyak kesuksesan melawan Iraq, yang kemampuan BVR, atau training-nya sendiri belepotan.
      Pada awalnya, F-14A Iran mendapatkan cukup banyak kill dengan AIM-54 Phoenix missile, yang jarak jangkaunya melebihi 150 kilometer.

      Tetapi pilot2 Iraq juga belajar dari kesalahan. Belakangan mereka juga sudah pandai melihat RWR mereka; begitu mereka mendeteksi gelombang radar AN/AWG-9 (radar Tomcat), mereka biasanya memilih untuk mundur.

      Di tahun 1999, ini kemudian kembali terbukti ketika pilot dari 2 MiG-25 Iraq menantang "No Fly Zone" di Selatan Iraq.
      Keduanya berhasil menghindari 3 AIM-120B AMRAAM, 1 AIM-7E Sparrow, dan 2 AIM-54 Phoenix yang ditembakkan 2 F-15C USAF, dan 2 F-14D US Navy.

      Yah, 2 MIG-25 Iraq, berhasil menghindari 6 BVR missile US, dan kabur balik sebelum dapat terkejar.

      Rahasianya: Radar AN/APG-63 F-15, dan AN/AWG-9 F-14A sebenarnya sudah memberitahukan pilot Iraq kalau pesawat mereka sudah dikunci, dan karena itu mereka dapat menghindar.

      Inilah kenapa kalau tidak berhati-hati, jarak jangkau radar sebenarnya kurang relevan, apalagi kalau radarnya hanya tipe single-frequency PESA, seperti Irbis-E Sukhoi Flemon, yang gelombang radarnya saja sudah mengkhianati diri sendiri jauh sebelum pilot Sukhoi dapat melihat target!

      Kita akan bahas ini lebih mendalam dalam topik BVR.... hutang banyak artikel...

      Delete