Monday, October 10, 2016

Kekuatan Udara Indonesia di tahun 1960-an

MIG-21 AURI di tahun 1960-an
Gambar: TNI-AU
Surat kabar Kompas baru menuliskan bagaimana kekuatan TNI di tahun 1960-an sangat disegani. Banyak blog, ataupun komentar berita Indonesia tidak berhenti menjunjung tinggi, bagaimana kuatnya kekuatan udara Indonesia di masa itu.

Penulis sendiri pernah mendengar berita ini semasa kecil. Tentu saja, pernyataan ini menimbulkan rasa bangga, mengingat kelihatannya kekuatan kita terasa sangat lemah.

Akan tetapi... TUNGGU DULU!

Sekarang sudah Abad ke-21. Tahun 1960-an sudah berlalu hampir 50 tahun yang lalu. Sudah saatnya melakukan analisa secara lebih mendetail. Pernahkan kita bertanya: Apakah benar kekuatan kita dahulu kala itu begitu kuat?



Kenyataan: Kekuatan Udara TNI-AU yang sekarang, SUDAH JAUH LEBIH KUAT dibanding di tahun 1960-an


Ketika menilik seberapa jumlah pesawat tempur yang dioperasikan Indonesia di tahun 1960-an ini, yang paling mencolok pertama kali adalah jumlah pesawat tempur Flagship yang diperlengkapi Afterburner, alias berkemampuan supersonic. Di tahun 1960-an, ternyata kita hanya mempunyai 30 pesawat, termasuk 20 MiG-21 F-13, yang tergolong cukup modern di standard waktu itu.
MiG-21F-13 AURI di Museum TNI-AU Dirgantara Mandala,
dengan 2 R-3S missile
(Via Wikimedia)
Missile R-3S (AA-2 Atoll), sama seperti semua missile generasi pertama yang lain, sebenarnya hampir tidak berguna dalam pertempuran udara. Dalam perang Arab - Israel (1967 - 1973), R-3S ternyata terbukti tidak dapat dioperasikan dibawah ketinggian 500 meter, dengan jarak tembak minimum 800 meter, dan kemungkinan meleset terlalu besar, kecuali kalau MiG dapat memposisikan diri tepat di belakang lawan, dan lebih baik lagi, kalau lawan itu menyalakan afterburner.

Seperti dapat dilihat dalam War-of-Attrition antara Israel - Mesir di tahun 1967 - 1973; semua pesawat tempur dengan afterburner, semasa tahun 1960-an, sebenarnya masih bertempur dengan strategi ala Perang Dunia II; pertempuran jarak dekat, dengan senjata utamanya.... PELURU.

Pesawat tempur Utama Pelindung Indonesia: 
TS-1609 F-16A Block-15OCU
dalam latihan Udara Pitch Black Australia, 28-Juli-2016
(
RAAF photo by Cpl. Casey Gaul)

Produksi tahun 1985, tapi tetap SEHAT,
tidak perlu "perbaikan mendalam" di negara asing, 

Availability Rate terjamin tinggi,
untuk menjaga wilayah udara Nusantara!
Di jaman sekarang, Angkatan Udara kita sebenarnya sudah jauh lebih kuat, karena sejak tahun 1989, sudah dapat mengandalkan F-16, sebagai pengganti MiG-21, untuk menyandang gelar pesawat tempur utama pelindung wilayah udara Indonesia. 
  • F-16, yang walaupun menderita embargo spare part, tetap dapat diudarakan dengan bersenjata lengkap, untuk menghadang lawan yang jumlahnya lebih banyak; 5 F-18 (Hornet classic, atau Super Hornet) US Navy.
  • F-16, yang kemampuan kinematis, jauh lebih unggul dibandingkan MiG-21; dan secara tehnologi, dan walaupun sendirinya adalah pesawat versi export, kemampuan keseluruhan juga masih beberapa generasi lebih unggul dalam segala hal dibanding second liner Su-27/30 Kommercheskiy.
  • Tidak seperti MiG-21 yang membawa missile generasi pertama yang tak bisa diandalkan, F-16 juga dapat dipersenjatai dengan dua jenis missile generasi modern, yang sekarang menjadi tolok ukur semua missile lain di dunia.
  • F-16, yang lebih bandel, availability rate-nya lebih terjamin; lebih siap terbang / operasional, dan tidak pernah perlu "perbaikan mendalam", seperti secondary fighter kita yang lain.
  • Dewasa ini, berkat tawaran hibah 24 F-16 Block-25+ dari pemerintah Obama, tentu saja kita akan mengoperasikan 3:2 lebih banyak pesawat tempur modern, dibandingkan di Era tahun 1960-an dimana pesawat andalan kita adalah MiG-21.


Analisis: Kekuatan AURI tahun 1960-an dalam era "Konfrontasi Malaysia"

MiG-21 AURI hanya lebih unggul dari inventory RAAF selama beberapa tahun:
Mulai tahun 1964, RAAF mulai mengoperasikan supersonic Mirage IIIO,
dan menghilangkan persepsi superioritas MiG-21 AURI
(RAAF Photo)
Website resmi TNI-AU mendeskripsikan secara garis besar bagaimana AURI, di waktu itu mengoperasikan MiG-21 selama masa operasi Trikora, dan "Konfrontasi Malaysia", seperti yang diceritakan Marsda (Pur) Jahman, dan Marsda (Pur) Rusman:
  • SEPULUH MiG-19 AURI, sebenarnya "dipaksakan" Soviet untuk dibeli Indonesia, padahal keinginan waktu itu adalah membeli lebih banyak MiG-21. Ini tidak mengherankan, karena prosedur penjualan Soviet adalah menjual versi export (Link Wikipedia), dan harus "mendikte" persyaratan apa yang diperbolehkan untuk negara pembeli. Bahkan di tahun 1960-an, sebelum Indonesia berbuat dosa ke Soviet, tidak pernah ada pengecualian, atau belas kasihan.
  • Latihan Udara yang diberikan Uni Soviet diberikan kepada empat pilot, dan hanya terbatas kepada "how to know how to fly". Beruntung karena Marsda (Pur) Rusman, sebelumnya sudah menguasai bagaimana menerbangkan MiG-15/17, dan dengan demikian dapat menguasai MiG-21 dengan mudah "tidak terlalu berbeda". Untuk selanjutnya, sepertinya proses training dilakukan  sendiri dalam AURI antara tahun 1962 - 1966.
  • MiG-21 sendiri bukanlah pesawat yang mudah dikuasai pilot. Rusman menuturkan bagaimana ada dua kejadian write-off, dan satu kejadian yang memakan korban jiwa. Beliau sendiri menuturkan satu-dua kali near miss yang membuatnya hampir mengalami kecelakaan.
  • Jarak jangkau MiG-21 pendek, dan afterburner sangat memboroskan bahan bakar. Memang sudah menjadi pengetahuan umum, kalau MiG-21 dikenal sebagai pesawat buatan Soviet, yang seperti tangkinya bocor.
  • MiG-21 dipangkalkan di Palembang, atau di Medan, untuk melakukan operasi intimidasi ke Malaysia. Begitu ada pesawat tempur Commonwealth yang mengudara dari RAAF Butterworth AB, di Malaysia, radar di darat cepat memberikan peringatan, dan MiG-21 AURI berputar kembali ke Indonesia.

Kita sebenarnya beruntung, karena AURI tidak pernah mencoba benar-benar "menjajal" kemampuan Angkatan Udara Commonwealth di waktu itu. Prosedur yang diterapkan AURI untuk segera menghindar ketika radar melihat ada pesawat tempur lawan yang mengudara, adalah prosedur yang tepat.

Kebanyakan perbandingan sekali lagi hanya menyebut kalau RAF, RAAF, dan RNZAF di waktu itu hanya mengoperasikan De Haviland Vampire, CAC Sabre, atau Hawker Hunter. 

Perbandingan ini kembali menabrak beberapa kenyataan.

Pertama-tama, ketiga tipe buatan Inggris ini sebenarnya lebih dari cukup untuk mengalahkan, atau menandingi MiG-15/17 AURI, yang mewakili 75% dari jumlah pesawat tempur AURI di waktu itu. Dengan atau tanpa MiG-21, AURI tetap bertabrakan dengan dua variable lain, yang tidak pernah diperhitungkan.

TRAINING 

Patut diingat kembali kalau di tahun 1962, rata-rata pilot-pilot Barat relatih jauh lebih berpengalaman dibandingkan sekarang. Baru 17 tahun berlalu sejak berakhirnya perang Dunia II, dan kurang dari 10 tahun sejak berakhirnya perang Korea, dimana pilot-pilot AU Commonwealth juga turut terlibat. Dengan demikian, pengalaman pilot-pilot veteran yang masih hangat tentu saja lebih rajin diturunkan ke pilot-pilot generasi berikutnya. Dan seperti dalam konflik Arab-Israel, pertempuran udara di tahun 1960-an sebenarnya masih serupa dengan pertempuran udara jarak dekat di jaman Perang Dunia II, ataupun dalam Perang Korea.
Yang menjadi perbedaan utama; RAF, dan RAAF sudah mengoperasikan Sistem yang sudah teruji di masa itu dalam banyak konflik. Kedua angkatan Udara itu sudah jauh lebih terorganisir rapi, jauh lebih modern, dan pilot-pilot merekapun sudah mewarisi puluhan tahun pengalaman, dan latihan dari generasi sebelumnya. 

Sebaliknya, AURI masih baru saja berdiri, dan di tahun 1960-an, masih belum ada pegangan yang jelas, baik dari segi sistem, ataupun training. Yah, kenyataannya, walaupun jumlahnya sekilas terlihat banyak (Lihat di bawah), AURI versi tahun 1960 sebenarnya ibarat memasak telur, mulai hangat saja belum. 

Belum siap tempur.

Angkatan Udara yang kurang pengalaman / latihan, dengan prosedur latihan yang masih minus, kalau mencoba menantang AU Commonwealth yang menjaga Semenanjung Malaya hanya akan melakukan operasi bunuh diri. "Persepsi Superioritias" yang didapat dari MiG-21 sebenarnya tidak akan berdaya menghadapi Hawker Hunter F6, ataupun CAC Sabre. Dewasa ini,  Sukhoi Kommercheskiy memberikan persepsi semu yang sama; dan seperti di tahun 1960-an, hanya akan dipermalukan F-16 Block-52+ RSAF, atau F-18A HUG RAAF.

Mirage IIICJ "Shahak" #59, with 13-kill markings,
The top scoring jet fighter in history
@ Israeli Air Force Museum
(Wikimedia)

Mirage IIICJ Israel, secara tehnologi, tidak jauh lebih unggul dibanding MiG-21 Mesir,
"...radar & missile-nya hampir tidak berguna..."

Akan tetapi...

Keunggulan SISTEM TRAINING Israel dibanding training abal-abal Soviet Advisors,
berarti Mesir, atau Syria tidak pernah punya harapan.


72 Mirage IIICJ yang dibeli Israel di tahun 1962, menghancurkan ratusan MiG-15/17/19/21
hampir tanpa perlawanan


Equipment 

Di tahun 1960-an, sebenarnya adalah jaman keemasan dari kemajuan tehnologi produksi pesawat tempur, yang melompat jauh melebihi perkembangan tehnologi radar (yang bisa dibawa pesawat), missile, ataupun counter-measure. MiG-15, model yang mendefinisikan pesawat tempur generasi pertama, pertama kali mengudara di tahun 1947; dan dalam waktu kurang dari 10 tahun, MiG-21, yang membawa afterburner, dan dapat melaju dua kali lipat kecepatan suara, sudah membuatnya kadaluarsa.

Perbedaan tehnologi pesawat tempur antara US, UK, Perancis, dan Soviet di masa ini sebenarnya hampir berdekatan. Di jaman sekarang, tentu saja sudah berbeda. Ketika evolusi perkembangan tehnologi pesawat tempur di tahun 1980-an, mulai beralih dari bidang aerodinamis / tehnis, dan masuk ke dalam precision engineering, computerization, dan embedded technology, military-industrial complex Russia, yang warisan Soviet sudah tertinggal jauh.


GAF (Government Aircraft Factory) Australia merakit 100 Mirage IIIO single-seater,
dan 16 versi twin-seater

(RAAF photo)

Jauh lebih banyak bukan, daripada armada MiG AURI?
Seperti diatas, RAAF sebenarnya sedang dalam tahap penggantian model pesawat tempur dari CAC Sabre, yang umurnya kurang dari 10 tahun, untuk melompat ke Mirage IIIO, yang kemudian akan terbukti menjadi pesawat tempur nomor satu yang dapat mudah membantai MiG-21 dalam konflik Arab-Israel. RAAF No.75 Squadron yang diperlengkapi dengan Mirage IIIO, sebenarnya sudah mulai operasional di RAAF Butterworth mulai tahun 1967.

RAF Avro Vulcan Strategic Bomber di Butterworth, Malaysia, 1965:
(Wikimedia Photo)


Kalau perlu, mempunyai kemampuan untuk membom Jakarta, 
atau seluruh penjuru Indonesia dengan mudah
AURI belum tentu bisa menangkal Avro Vulcan!
RAF UK sendiri tidak tinggal diam. Ketika era konfrontasi memanas, RAF mulai memangkalkan pembom strategis Avro Vulcan di Butterworth, Malaysia, mulai dari tahun 1965. Belum cukup disana, mereka juga memindahkan No.74 Squadron yang diperlengkapi English Electric Lightning Interceptor ke Tengah AB, di Singapore di tahun 1967. Tidak seperti Hawker Hunter; Lightning adalah pesawat interceptor Mach-2, yang kemampuannya sebanding dengan MiG-21. Kalau ketegangan dalam peristiwa Konfrontasi memuncak sebelum tahun 1965, bukan tidak mungkin RAF akan memindahkan lebih banyak Lightning ke Malaysia dengan cepat.
RAF English Electric Lightning in 1964
(Via Wikimedia)


Climb performance, dan Akselerasinya bahkan mengungguli F-14, dan F-15 dalam latihan NATO.

UK mengoperasikan 200 pesawat di tahun 1960-an.

Nyaris mendapat kill marking dari AURI.
Belum lagi menghitung, kalau di tahun 1960-an, Royal Navy masih mempunyai banyak kapal induk ringan. Kalau mau, mereka juga dapat mengerahkan pesawat-pesawat tempur dari kapal induk mereka untuk menyerang Indonesia dari arah Barat.
HMS Hermes (R12) in 1967
(Wikimedia)

Royal Navy masih mempunyai 8 kapal induk di tahun 1960-an.




Jadi sekali lagi TIDAK

Mitos Keuatan Udara Indonesia di tahun 1960-an, sebenarnya hanyalah keunggulan semu, yang tidak pernah mempunyai kemampuan menantang kekuatan negara tetangga. Waktu itu Singapore, dan Malaysia baru saja merdeka, dan berada dibawah perlindungan Angkatan udara Commonwealth: UK, dan Australia; dua Angkatan Udara terkuat di dunia, yang sudah berlatih untuk kemungkinan menghadapi Uni Soviet.

Kedua Angkatan Udara tersebut sudah menimba terlalu banyak pengalaman; merasakan bagaimana pahitnya kekalahan dalam pertempuran udara melawan Jerman, dan Jepang di tahun 1940-an. Setiap pesawat mereka yang tertembak jatuh lawan di masa lalu, sudah membuat mereka menjadi semakin matang. Mulai dari segi learning curve, training, dan sistem, keduanya sudah jauh melebihi AURI.

Mungkin kita bisa bangga mengoperasikan lebih dari 100 pesawat, tapi.... eh, jumlah MiG-21, tipe yang benar-benar paling modern juga hanya 20 unit. Sedangkan di tahun 2016 ini, TNI-AU sudah mengoperasikan 43 unit pesawat tempur Generasi keempat, yang jauh lebih modern, dan kemampuannya jauh lebih unggul.


Penutup: Kita sebenarnya mengambil pelajaran yang salah dari tahun 1960-an

Apa yang seringkali kita lupakan adalah "persepsi" kekuatan udara tangguh di tahun 1960-an ini sebenarnya umurnya paling pendek dalam sejarah TNI-AU. Setelah kejadian G-30S 1965, yang disusul oleh pembubaran PKI di tahun 1966, embargo militer Uni Soviet kemudian menghancurkan AURI.

Bagaikan istana pasir, memang sekilas kelihatan megah, padahal pondasinya tidak pernah kokoh; armada udara ex-Soviet yang lebih dari 100 unit, yang baru saja dibentuk di akhir 1950-an, begitu disapu ombak, ternyata sudah hilang hampir tak berbekas di tahun 1970. 

Sebagai balasannya, pemerintah Orde Baru tanpa sungkan-sungkan menghibahkan hampir semua MiG-21 F-13 ke United States. Sebagai gantinya, TNI-AU kemudian memperoleh hibah CAC Sabre dari RAAF Australia, OV-10 Bronco, T-33, dan F-5E/F Tiger II dari United States. Dengan demikian, kita sudah memupuk hutang ke Ruski, yang memastikan semua model Kommercheskiy yang kita beli di masa sekarang akan di-downgrade habis-habisan, dan akan sering membutuhkan "perbaikan mendalam" untuk memeras keuangan negara semaksimal mungkin.
4477th Test and Evaluation Squadron:


Terima kasih Indonesia, atas sumbangan MiG-21-nya!

(Gambar: Wikimedia)
Kita selalu mudah terbuai. Kita menginginkan buah-buah yang ranum untuk disediakan di atas meja, tetapi tidak pernah meluangkan waktu, bahkan untuk berpikir bagaimana caranya menanam pohon yang berakar kuat di halaman. Padahal buah-buahan yang kelihatan ranum dari luar itu, sebenarnya sudah membusuk dari dalam sejak awal.
  • Pesawat-pesawat tempur di Era 1960-an itu, sama saja dengan sekarang - pesawat tempur versi export, yang spesifikasi, atau persyaratannya sudah di-dikte ke kita oleh penjual negara adidaya. US, ataupun Ruski (Soviet) sekali lagi sama-sama setali tiga uang.
  • Sama seperti sekarang, AURI di tahun 1960-an, sebenarnya tidak bisa bermimpi mempunyai kemampuan untuk menantang RAAF Australia, yang jauh lebih terorganisir rapi, jauh lebih modern, jauh lebih terlatih, dan jauh lebih berpengalaman. Perbedaan kekuatan antara Indonesia, dan Australia sudah terlampau jauh, dan hanya akan terus semakin melebar. Pesawat tempur manapun, tidak akan dapat mengubah keadaan ini tanpa adanya investasi di sistem yang modern, dan bersaing.
  • Jangan terlalu terobsesi ke jumlah! Bahkan di tahun 1960-an sekalipun, negara yang lebih kaya, dan lebih makmur, akan selalu mengoperasikan jauh lebih banyak pesawat, dan tidak seperti negara kita, mereka juga jauh lebih lihai dalam mempersiapkan kualitas TRAINING yang bersaing.
  • Jangan terobsesi untuk mengoperasikan pesawat, yang di-persepsikan lebih unggul dibandingkan model yang dipakai negara lain! Mimpi-mimpi seperti Su-35 Flemon semakin hari kelihatan semakin konyol, mengingat model aslinya saja sudah ketinggalan jaman 20 tahun, hanya tersedia dalam versi Kommercheskiy, dan hanya dapat dipersenjatai dengan "crappy missile", yang kemampuan Kill-nya nyaris nihil. Belum lagi menghitung biaya operasionalnya yang akan melebihi F-22, sebagiannya juga cuma masuk ke kantong perantara asing, dan lokal, untuk memastikan pilot kita kurang latihan.
Su-35 armed with a pair of R-73s, and as usual, the standard R-27s
(Russian MoD photo)

"Perceived Superiority" means nothing:

Hopelessly outdated technology, antiquated BVR missiles, 
inadequate Networking capabilities,
high operational cost, questionable reliability, problematic supply of parts,
and, especially for Export..... 

Kommercheskiy downgraded version
Sudah saatnya menilik ulang RENSTRA yang ada, dan kembali ke meja belajar, untuk merumuskan ulang apa yang sebenarnya dibutuhkan Indonesia.

Seperti sudah dititik-beratkan berkali-kali dalam blog ini, Indonesia membutuhkan Sistem Pertahanan, yang jelas dan cohesive:
  • Sudah saatnya mulai merancang bangun Sistem Pertahanan Modern, yang terintegrasi, dan terkoneksi secara Networking dari Darat-Laut-Udara, dari Sabang - Merauke. Darimanapun lawan menyerang, kita harus selalu siap!
  • Kemandirian. Titik beratkan akuisisi Alutsista untuk pemenuhan UU no.16/2012, seperti instruksi Presiden Jokowi, 20 Juli yang silam. Industri pertahanan Dalam Negeri harus menjadi lebih mandiri, dan mempunyai kemampuan penuh untuk men-support Alutsista yang ada, agar dengan sendirinya menjadi lebih kebal embargo, atau lebih parah lagi, kesulitan spare part.
  • Kebutuhan, dan bukan Keinginan: Setiap Alutsista harus bisa terintegrasi ke dalam satu sistem yang jelas. Seyogjanya pembelian alutsista gado-gado, yang tidak compatible satu dengan yang lain, atau tidak sesuai dengan realita pertahanan Nusantara dihentikan. Prosedur ini hanya akan merugikan negara, tanpa adanya efek gentar yang berarti.
  • Training, Persenjataan, Perlengkapan, dan Upgradability di masa depan, harus menjadi prioritas utama dalam pemilihan setiap Alutsista.
  • Sudah saatnya mulai memilikirkan exit strategy, daripada terus-menerus mengoperasikan pesawat tempur versi export seperti sekarang.
... apalagi yang sudah kadaularsa, biaya operasional terlalu mahal, dan cepat uzur:

Langkah yang salah untuk menjunjung kedaulatan Indonesia
(Gambar: China-defense.blog)

8 comments:

  1. bung GI kalau dilihat dari dampak kepada TNI AU sebernarnya lebih parah mana antara embargo US dgn embargo Uni soviet

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti bisa dilihat dari sejarah, embargo Soviet efeknya jauh lebih berat dibanding embargo US. Hanya dalam waktu kurang dari 3 tahun sejak tahun 1966, tidak ada lagi pesawat Soviet yang masih bisa mengudara.

      Tidak hanya barang buatan Soviet memang tidak bisa tahan lama tanpa spare part, atau support;

      Pemerintah Orde Baru juga waktu itu secara politik sepertinya ingin membersihkan TNI-AU, dari semua unsur yg berbau "komunisme", karena pimpinannya di masa itu terhitung terlalu akrab dengan PKI.

      Lebih penting lagi, tidak pernah ada negara yg pernah menghibahkan 1 skuadron penuh MiG-21, eh, kemudian masih lancang untuk mencoba membeli Su-30SM, atau Su-35SK.

      Itu sih namanya mengambil pelajaran yg salah dari pengalaman ini.

      Delete
  2. apakah hal itu juga jadi alasan kenapa TNI AU tidak pernah bertarung langsung dengan AU Belanda di Papua waktu itu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belanda, sebenarnya menghadapi beberapa masalah di waktu itu:
      ## Secara geografis, sulit untuk mempertahankan Papua, yang letaknya dikelilingi Indonesia.
      ## Secara strategis, baik US, UK, atau Australia, yang sudah alergi dengan era penjajahan, sudah tidak ada yg mau mendukung militer Belanda untuk mempertahankan Papua.
      ## Pemerintah Kennedy di tahun 1960-an, juga sebenarnya faktor pendorong utama yang menekan Belanda agar melakukan referendum di Papua Barat.

      Jadi tekanan politik untuk Belanda melepas Papua yang terlalu berat, sebenarnya justru datang dari US, dan negara2 NATO, bukan karena "efek gentar" militer Indonesia, atau karena persenjataan dari Soviet, yang kita beli.

      Beberapa operasi militer yg sudah diberlangsungkan dalam Operasi Dwikora waktu itu, sebenarnya berhasil dipatahkan Belanda dengan mudah.

      MiG-21, atau MiG-19 tidak akan mempunyai kemampuan untuk merubah status quo ini, kalau sampai terjadi konflik terbuka; apalagi kalau pemerintah US / UK juga mendukung Belanda.

      Delete
  3. Mig 21 termasuk 2nd fighter generation / 3rd fighter generation ?


    Andalan utama dari pesawat tempur menurutku ada diradar ,juga rudal yg dibawanya . tmbh lagi jamming atau apalah.


    Contoh : Super tucano aja bawa radar yg dipake jet tempur. Bisa bawa aim9 dan rudal darat, walaupun pesawat baling² tapi kemampuanya cukup bagus .

    Bhkan dulu ada pesawt tempur bermesin piston yg bisa membunuh jet tempur (mig 21 kalau tak salah).

    ReplyDelete
    Replies
    1. MiG-21 F-13 seperti yg dibeli Indonesia, adalah dari produksi awal, dan termasuk 2nd Generation.
      Di masa ini, seperti dalam artikel di atas, kemampuan radar, atau missile generasi awal masih hampir nihil. Semua pilot di masa ini masih bertempur seperti dalam masa Perang Dunia II.

      Beberapa versi MiG-21 selanjutnya, yg keluar mulai pertengahan tahun 1960-an - 1970-an, dan menjadi lebih modern, boleh dibilang naik pangkat ke Generasi Ketiga.

      Versi MiG-21bison India, atau MiG-21 Lancer Romania, yang sudah di-upgrade habis2an oleh Israel, kemampuannya sangat bersaing dengan F-16, yang masuk Generasi Keempat.

      Perkembangan desain pesawat tempur sebenarnya melaju terlalu cepat di masa itu.
      MiG-21 AURI, boleh dibilang sudah akan ketinggalan jaman di tahun 1970-an.

      F-5E/F saja sebenarnya jauh lebih unggul dibanding MiG-21 kuno ini.
      Sayang, kelihatannya kita juga kurang menghargai apa yg ada.

      Kalau saja lebih banyak komitmen, dan dedikasi untuk mengembangkan / meng-upgrade F-5E, seperti Brazil, dan Singapore, sbnrnya kemampuannya akan tetap bersaing vs F-16, dan.....
      ....peluangnya cukup besar untuk dapat mempercundangi Sukhoi Kommercheskiy.

      Bagaimana tidak?

      T-38, dan F-5E yang berperan sebagai aggressor di United States saja, sebenarnya sudah lama berhasil mengalahkan F-14, dan F-15 secara reguler dalam pertempuran jarak dekat.

      Pesawat yang lebih kecil, dan lebih lincah, yang dipadukan dengan Kemampuan, dan pengalaman Pilot, sebenarnya selalu unggul diatas Heavy Twin-Engine Fighter, yg lebih draggy, dan dengan sendirinya kurang lincah.

      Delete
  4. Kalo TU-16 Badger sama IL-28 Beagle efektif enggak untuk melawan AU Commenwealth?

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete