Sunday, October 30, 2016

Dassault Rafale F3R vs Saab Gripen-E

Rafale-M (Credits: Anne-Christine Poujoulat/AFP)
Gripen E 39-8 (Credits: Saab)

Battle of Eurocanards

Menuliskan perbandingan ini lebih sulit, karena untuk pertama kalinya, kedua pesawat tempur disini bukanlah versi export, alias versi yang sudah di-downgrade seenak perut, baik oleh Washington DC, ataupun Moscow

India baru saja merogoh kantong US$6,2 milyar untuk pembelian 36 Dassault Rafale diluar proporsi biaya customisasi khusus India $1,9 milyar, dan persenjataan $800 juta; tanpa Transfer-of-technology. Sedangkan Saab baru saja membuat penawaran ke Indonesia, senilai $1,14 milyar untuk 16 Gripen-C. Supercruising Gripen-Echo yang jauh lebih modern, untuk estimasi kasar prediksi harga tertinggi akan jatuh sekitar 30% lebih mahal, atau sekitar $1,5 milyar, atau bisa lebih murah kalau membeli lebih banyak dari hanya 16 unit.

Terlepas dari kebutuhan Rafale India untuk dapat membawa senjata nuklir, pertanyaannya: 
Apakah $6,2 milyar untuk 36 Rafale, jauh lebih unggul dibandingkan 
(estimasi kasar) $3 milyar untuk 36 Gripen-E?




TRAINING


Seperti semua perbandingan antar dua pesawat tempur lain dalam blog ini, faktor TRAINING ini sebenarnya faktor penentu utama, antara dua model mana yang lebih unggul: 

It's not about which one is the better fighter type.
The question is how well can that fighter type shape better fighter pilots.

F-22, misalnya, diakui sebagai pesawat tempur terbaik di dunia. Keunggulan ini hanya di atas kertas, dan sebenarnya kurang relevan. Variable yang lebih penting, yang sering dilupakan setiap pengamat militer adalah, seberapa jauh pesawat tempur tersebut akan dapat bekerja dalam satu sistem untuk membentuk pilot yang baik. Kemampuan pilot akan selalu menjadi penentu utama kemampuan setiap pesawat tempur.

Saatnya menilik kembali ke perbandingan biaya operasional Rafale vs Gripen:

Sekali lagi, angka perbandingan dari IHS Jane's ini bukanlah referensi mati. Sumber datanya saja diambil dari negara-negara produsen masing-masing model, yang sudah mengoperasikan sekurangnya 100 unit pesawat tempur tersebut, dan dengan demikian mendapat nilai efesiensi, dan ekonomis yang maksimal dari biaya operasional tersebut.

Negara-negara exportir cenderung akan membayar biaya operasional 50 - 100% lebih mahal, terutama dalam tahun-tahun pertama, sebelum dapat mencapai IOC (Initial Operational Capability). Australia membayar biaya operasional $24,000 untuk 24 Super Hornet, atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan biaya US Navy, sebelum mencapai IOC.

Untuk ke-36 Rafale India, kemungkinannya India akan membayar biaya operasional mendekati $30,000 / jam sebelum IOC, sebelum akhirnya turun ke angka sekitar $20,000 - $24,000 / jam.

Kalau Indonesia mengambil 32 Gripen-E, kemungkinan biaya operasionalnya dapat mencapai $7,000 - $8,000 CPFH di tahun pertama. Setelah mencapai IOC, tidak tertutup kemungkinan masih bisa turun ke bawah $5,000 / jam, atau bukan tidak mungkin bisa lebih murah lagi, apalagi kalau PT Dirgantara Indonesia, dan para tehnisi TNI-AU sudah lebih terbiasa, dan menyerap lebih banyak tehnology Gripen-System.

Ini akan menentukan.


Untuk setiap satu jam latihan yang didapat pilot Rafale India, pilot Gripen Indonesia dapat berlatih LIMA sampai ENAM JAM.

Masih ingat sewaktu kita baru mendapat SIM, dan kemudian belajar mengemudikan mobil, atau mengendarai sepeda motor?

Di tahun pertama, kita adalah pengemudi / pengendara yang sangat bodoh, bukan? Banyak sekali melakukan kesalahan, dan mungkin ada setengah keajaiban yang membuat kita dapat menghindari kecelakaan yang fatal.

Demikian juga dengan kemampuan pilot.
Pilot yang kemampuannya handal, adalah pilot yang sudah mengumpulkan sekurangnya ratusan jam terbang. Gripen, yang memang sudah dirancang dari awal untuk biaya operasional yang murah meriah, dipadukan dengan kesiapan tempur yang tak tertandingi, akan selalu menjadi Force Enabler yang lebih unggul dibanding pesawat tempur manapun.

Feedback dari Czech, Hunggaria, atau Thailand selalu menunjuk kalau Gripen adalah pesawat yang begitu mudah untuk dikuasai: Dibuat untuk melatih, dan memaksimalkan kemampuan pilot.



Pemenang: Gripen-E


Biaya operasional Gripen yang murah hanyalah pemanis untuk faktor yang lebih menentukan.

Hanya semata bisa menghabiskan berjam-jam mengudara di pesawat tempur sebenarnya tidaklah semata menentukan keunggulan pilot. Keunggulan Gripen atas Rafale disini, adalah keunggulan dalam bentuk Gripen System.

Tidak seperti Rafale, atau pesawat tempur lain manapun, Gripen sudah dirancang dari awal untuk beroperasi sebagai bagian dalam Satu defence Network. Pengguna Gripen akan diajarkan bagaimana mengoperasikan Gripen-System, yang menekankan operasional secara co-operative, dalam partnership formasi 4 pesawat, yang dapat bekerja-sama dengan erat.
Satu Rahasia Keunggulan Gripen vs semua pesawat tempur lain:
F-22-pun tidak akan dapat menandingi!
Sederhana, bukan?
Seperti grafik diatas, dalam hal ini, boleh dibilang tidak ada satupun pesawat tempur dewasa ini, yang akan dapat menandingi kelebihan Gripen.

Gripen can shape better fighter pilots than everything else.




Availability Rate

Availability Rate, dan Maintenance adalah efek gentarnya sendiri yang dapat memenangkan perang, dan disini tidak ada persaingan.

Dassault mengklaim kalau maintenance untuk Rafale akan sangat mudah; tetapi desain Twin-Engine berarti akan membutuhkan 16 jam maintenance setiap jam terbang. Sortie Rate untuk Rafale juga cukup tinggi, dikabarkan melebihi F-18E/F Super Hornet dalam Operasi di Libya, sekitar 2,7 sortie per hari.

Sayangnya, biar bagaimanapun juga, sulit untuk Twin-Engine design bersaing dengan Gripen, yang tolok ukurnya sedari awal adalah untuk dapat jauh lebih fleksibel dibandingkan single-engined F-16. Gripen hanya membutuhkan kurang dari 5 jam maintenance per jam terbang, dengan interval Mean Time Between Failure (MTBF) 7,6 jam, dan Mean Time to Repair (Maximum Repair Lead Time) 2,5 jam.
Tidak ada yang bisa bersaing:
Semua pesawat lain terlihat seperti "Hanggar Queen" dibanding kemudahan maintenance Gripen
Dalam kompetisi di Brazil, proporsi penawaran untuk maintenance Gripen biayanya hanya 25% dibandingkan Rafale, dan ini adalah salah satu faktor yang menentukan kemenangan Gripen-E disana.
Lebih lanjut, Gripen mempunyai kemampuan Short-Take-Off-and-Landing, dan untuk dapat beroperasi dengan support minimal dari landasan dadakan, yang dapat disembunyikan di semua tempat. Semua kemampuan ini tidak dapat direplikasi Rafale, ataupun Typhoon.
You can hide your Gripens
(Gambar: Flygvapnet)


Pemenang: Gripen-E

Kembali, kecuali negara pengguna menginginkan pesawat yang dapat membawa senjata Nuklir, atau membawa banyak payload untuk membom sasaran, disini tidak ada persaingan.

Dassault mengklaim kalau dalam operasi di Libya, 2 Rafale akan dapat melakukan tugas yang lebih baik dibanding 2 Mirage-2000-5, dan 6 Mirage-D. Ini benar, kalau misinya adalah pemboman.

Tetapi untuk melakukan misi interception berkali-kali dalam sehari?

Gripen-E, yang kebutuhan maintenance-nya lebih rendah, dan sedari awal sudah lebih dioptimalkan untuk high sortie rate, akan selalu dapat mengudara lebih banyak. 4 Gripen akan dapat mengerjakan tugas yang sama dengan 6 sampai 8 Rafale (tergantung MTBF, dan breakdown rate), atau 16, sampai 24 Sukhoi Flemon yang gampang rusak, dan haus maintenance.

Seperti sudah disinggung diatas, Kesiapan terbang berarti juga lebih banyak jam training untuk pilot.


Situational Awareness

Tidak seperti F-16V, F-18E/F, ataupun model inferior Su-35, Sensor Fusion adalah pusat dari semua Eurocanards.
RBE-2 AESA radar Dassault Rafale F3R.
Dua tonjolan diatas moncong pesawat adalah OSF IRST (kiri), dan Light TV untuk tugas IFF
(Gambar: Dassault)
Rafale adalah Eurocanard pertama yang memasang AESA radar. Secara tehnis, ukuran RBE2-AA sebanding dengan AN/APG-83, atau Raven ES-05; sekitar 1000 transmitter. Salah satu alasan kenapa Eurofighter Typhoon belum memasang AESA radar, karena proses mengintegrasikan AESA radar ke existing platform tidaklah murah, ataupun mudah. Rafale membutuhkan banyak programming; lima ratus ribu baris code harus ditambahkan ke Source Code Rafale yang sudah dua juta baris.

Raven ES-05 Gripen, walaupun ukurannya sebanding, masih mempunyai keunggulan tipis dari sistem swashplate, yang akan menambah sudut deteksi sekeliling pesawat yang lebih besar, dibandingkan fixed-mounted setup Rafale, dan F-16V. 
... dan memungkinkan BVR engagement yang lebih mudah vs fixed mounted AESA radar
Patut dicatat disini, kalau tidak seperti pembatasan spesifikasi model versi export US / Russia yang sudah di downgrade, semua radar mode, dan kemampuan maksimal dari Sensor Fusion kedua Eurocanards akan tersedia penuh untuk negara pembeli. Inilah salah satu kunci kemandirian yang sering dilupakan para penggemar pesawat versi export, yang sejauh ini masih terus menjajah sistem pertahanan Indonesia.

Kalau dari segi Sensor Fusion kedua belah pihak boleh dibilang sebenarnya masih hampir seimbang, Gripen masih mempunyai satu kartu As lagi yang belum dimiliki Rafale, atau semua pesawat tempur lain:

TIDLS (Tactical Information DataLink System)

Seperti sudah dibahas sebelumnya, TIDLS networking berbeda dengan Link-16, yang equivalentnya adalah National Network.

Link-16 adalah proprietary MIDS International Program Office, yang diorganisir US, dan negara-negara NATO. Keterlibatan contractor US, seperti Rockwell-Collins dalam program Link-16, berarti data networking ini tidak dapat di-export tanpa persetujuan program FMS pemerintah US.

Link-16, yang memperlengkapi Rafale, sistemnya seperti membagi koordinat kawan, ataupun lawan dalam satu frequency broadcasting umum yang dapat dibagi tidak hanya antar pesawat tempur, tetapi juga dengan semua asset udara lain (UAV, AEW&C, Sigint), asset di darat, ataupun di laut.

TIDLS adalah exclusively Gripen-to-Gripen networking yang mengkoneksi formasi antar 4 Gripen dalam 2-way datalink secara lebih erat in real time, dengan jarak jangkau maksimum 500 kilometer, dan hampir kebal untuk di-jamming. Swedia sendiri adalah pemilik propiertary tunggal dari TIDLS. Gripen sendiri adalah pesawat tempur pertama yang mempunyai kemampuan ini, sebelum US mulai mengaplikasikan sistem yang "similar to" ke F-22, dan F-35.

Bill Sweetman, penulis ex-editor IHS Jane's, dan sekarang editor untuk Aviation Week, mendeskripsikan kemampuan TIDLS secara lebih mendetail:
  • Sensor Feed dari masing-masing Gripen, dan juga dari Link-16 dapat digambarkan dalam satu layar dalam cockpit keempat Gripen. 
  • Radar Raven ES-05, atau PS/05 doppler (Gripen-C) dari formasi keempat Gripen akan dapat beroperasi dalam "passive mode" sebagai receiver dari gelombang radar lawan, untuk mentriangulasi posisi lawan secara akurat, tanpa pernah perlu menyalakan radar secara active. Dengan demikian, lawan tidak akan pernah bisa melihat dimana posisi Gripen.
    True passive Sensors triangulated from TIDLS Network
    Be very afraid....
  • Gripen kedua dapat menembakkan BVR missile (AMRAAM, atau Meteor), tanpa pernah perlu menyalakan radarnya, dengan mengandalkan sensor feedback hanya dari Gripen pertama.
  • Active Guidance Seeker di Meteor, ataupun di AMRAAM bahkan tidak perlu menjadi aktif, sampai detik terakhir, dan dengan demikian meningkatkan probability Kill melebihi semua pesawat tempur lain.
  • Kelebihan di atas penting dikarenakan Active Guidance Seeker BVR missile, yang beroperasi secara independent dari radar pesawat induk, sebenarnya sangat rentan terhadap signal jamming dari DRFM Jammer.
    TIDLS Advantage:
    Gripern pertama tidak perlu mempertahankan Lock,
    Gripen kedua dapat mengambil alih 2-way datalink,
    MBDA Meteor Active Guidance tidak perlu dinyalakan sampai detik terakhir
    .... target akan sangat sulit untuk selamat!
  • Satu, atau dua Gripen juga dapat melakukan target tracking, sementara Gripen yang lain dapat melakukan jamming ke target, secara bersamaan.
  • Keempat Gripen dapat melakukan jamming secara bersama-sama, dan dengan Gallium-Niitride Jammer di EWS-39, yang dipadukan dengan Sensor Fusion Raven ES-05, akan dapat melakukannya dalam ribuan frequency yang berbeda.
  • Kelebihan Sensor Fusion Gripen-E, yang dipadukan dengan TIDLS, memperkenalkan concept "Wide Spectrum Combat" (Wiscom), yang akan memungkinkan keempat Gripen-E untuk bergantian menyalakan AESA radar masing-masing, dalam ratusan, atau ribuan frequency yang berbeda, sehingga menyulitkan deteksi RWR pihak lawan.
Kemampuan Situational Awareness dari TIDLS Gripen tidak akan dapat ditandingi dengan standard Link-16 standard yang memperlengkapi Rafale, ataupun F-16V.

Dassault Rafale, seperti semua pesawat tempur NATO lain, baru menambahkan kemampuan Link-16 di tahun 2008, atau beberapa tahun setelah pesawatnya sendiri mulai operasional.

Sebaliknya, Gripen sudah terlebih dahulu dilahirkan untuk beroperasi dalam satu integrated Network. Kelebihan ini tidak dapat direplikasi pesawat tempur manapun.


Pemenang: Sensor Fusion seimbang, tetapi kemampuan TIDLS Gripen lebih unggul

Dari segi Sensor Fusion, keduanya hampir seimbang; jauh melebihi pesawat teen fighters versi export U.S., atau rongsokan versi export Kommercheskiy

Kelebihan utama Gripen atas Rafale, adalah dari seamless Situational Awareness Sharing yang didapat dari TIDLS Network. Mengingat kemampuan Sensor Fusion Gripen-E akan jauh lebih unggul dibandingkan Gripen-C, yang masih membawa doppler radar, dan tidak mempunyai IRST, kemungkinan masih akan ada lebih banyak opsi yang akan di-tes lebih lanjut di Swedia untuk meningkatkan kemampuan "melihat lawan tanpa bisa terlihat".



BVR Combat


MBDA Meteor, BVR missile terbaik di dunia adalah persenjataan BVR utama semua Eurocanards.

Disini kelemahan Rafale mulai mengigit. Walaupun sama-sama dipersenjatai dengan MBDA Meteor Long-Ranged ramjet-powered missile; Rafale hanya dapat melakukan 1-way datalink, Mid-course update ke Meteor. Sebaliknya, Gripen, dan Typhoon akan dapat memanfaatkan 2-way datalink untuk mendapatkan telemetery feedback dari missile, dan melakukan timbal-balik course update untuk meningkatkan probabilitas Kill dari Meteor.
Terlalu Perancis:
Rafale paling terlambat dalam mengintegrasikan missile Eropa, MBDA Meteor,
paling cepat 2019,
dan hanya bisa melakukan mid-course update ke Meteor
(Gambar: Armee De'l Air)
Keunggulan Rafale untuk dapat mengoperasikan BVR-capable, IR-guided MICA-IR sebaliknya kurang relevan; mengingat Gripen akan dapat mengintegrasikan senjata dengan jauh lebih mudah. Baik MICA-IR, ataupun ASRAAM buatan UK, akan dapat diintegrasikan ke Gripen untuk mendapat "zero sensor emission" BVR missile berjarak jangkau 50 kilometer.

International Fighter:
Gripen-C dengan MS-20 update sudah dapat mengoperasikan MBDA Meteor dari tahun 2017 ini.
(Gambar: Flygvapnet)

Kelemahan lain, Rafale, walaupun sudah mendapat optimalisasi pengurangan RCS, tetap saja karena ukurannya yang lebih besar (Medium Twin-Engine) mendapat angka sekitar <0,5 m2.

Gripen, yang ukurannya lebih kecil, menikmati angka di bawah 0,1 m2. 

Dalam hal Defense Suite, kemampuan kedua belah pihak tergolong dalam posisi atas. Thales Spectra sudah membuktikan diri dalam operasi militer di Libya, yang membuat Rafale dapat langsung membom target, tanpa perlu pengawalan EA-18G Growler US Navy, atau didahului ratusan Tomahawk missile. Radar generasi lama (non-AESA) akan kesulitan untuk dapat mencoba men-lock Rafale.

Sedangkan EWS-39 adalah integrated Defense Suite Gripen-E generasi terbaru, yang akan mengandalkan Gallium-Niitride Jammer untuk meningkatkan kemampuan jamming 25 - 30% lebih effisien dibanding Jammer generasi sebelumnya. Tentu saja, kembali, dalam hal tehnologi pengembangan GaN, Saab jauh lebih terdepan dalam learning curve dibanding semua pemain lain. Kemungkinan pemakaian GaN-based transmitter di AESA radar Gripen-E juga terbuka cukup lebar dalam 10 tahun ke depan.

 

Pemenang: Gripen-E akan lebih mudah menembak jatuh lawan

Walaupun perbedaan keduanya tidak terlalu banyak, Gripen-E akan mengungguli Rafale dalam beberapa hal penting:
  • 2-Way Datalink untuk BVR Missile, dalam hal ini MBDA Meteor.
  • RCS, dan infra red signature Gripen akan lebih rendah, hanya karena ukurannya yang lebih kecil. Jauh lebih mudah untuk membuat pesawat yang lebih kecil menjadi tidak terlihat, dibanding yang ukurannya lebih besar.
Ini memberikan kesempatan yang lebih besar untuk Gripen-E menembak jatuh pesawat non Eurocanard, dengan menggunakan MBDA Meteor, dibandingkan Rafale.

Dari segi defense suite, kedua belah pihak boleh terbilang sebanding. Baik Thales SPECTRA Rafale, ataupun EWS-39 terbaru dari Gripen-E, yang menggunakan Gallium-Niitride Jammer, keduanya beberapa tingkat lebih unggul dibanding sistem countermeasure pesawat versi Export Washington, atau Moscow (yang sudah di-downgrade). 

Keduanya boleh terbilang hampir kebal untuk tertembak jatuh dalam BVR Combat, dengan jenis missile apapun.



WVR and Close Combat


Beberapa perbandingan Kinematis terlebih dahulu:

Kedua-duanya model sudah dirancang dari awal dengan kemampuan kinematis yang melebihi tolok ukur F-16. Keduanya berbagi desain Close-coupled Canard, dan unstable design, yang dipadukan dengan quadruple Fly-by-wire untuk kemampuan manuever yang optimal. Keduanya tidak akan kesulitan bersaing dengan close combat monster F-16, atau menandingi Slow Speed High Angle-of-Attack kontes vs F-18, ataupun Flanker. 

Belum berhenti disana, keduanya juga akan berbagi kemampuan Supercruise, atau melaju lebih cepat dari kecepatan suara, tanpa perlu menyalakan afterburner.

Eh, bukankah di atas kertas, bisa terlihat kalau kemampuan kinematis Rafale lebih unggul dibanding Gripen-E? 

T/W Ratio 1,185 dengan 50% fuel, dan 6 missile untuk Rafale dibanding 1,040 untuk Gripen-E. Wing-Loadingnya juga lebih rendah (285 kg/m2) dibandingkan angka 310 kg/m2 Gripen.

Secara kinematis, Rafale memang akan lebih unggul, tetapi dalam mengadu manuever antara kedua belah pihak, perbedaannya tidak akan jauh.
Seperti bisa dilihat dalam gambar di atas, ukuran Rafale sebenarnya sudah cukup besar untuk bisa "menelan" Gripen yang masih lebih kecil dibandingkan Mirage 2000. Sewaktu melaju kedepan, atau berbelok, dengan sendirinya fuselage twin-engine Rafale akan selalu menimbulkan drag yang lebih besar, dan efeknya akan membuat kinematis keduanya hampir seimbang.

.... ada satu hal lagi di Rafale yang juga menambah drag.

Perhatikan gambar berikut:
Perhatikan Rafale's refueling probe di moncong pesawat
(Gambar: Armee De'l Air)
Yah, untuk Rafale, refueling probe-nya fixed-mounted, atau tidak bisa ditarik masuk. Selain menambah drag, refueling probe ini juga akan mengurangi visibility pilot dalam pertempuran jarak dekat. Alasannya, kalau refueling probe Rafale dapat ditarik masuk, ukurannya tidak akan muat ke dalam hidung pesawat, yang sudah dimuati radar, dan IRST.

Sebaliknya, Gripen menyelesaikan masalah ruangan yang terbatas ini, dengan memindahkan posisi refueling probe-nya ke sisi engine intake. Refueling probe-nya tentu saja dapat ditarik masuk, untuk mengurangi drag.
Refueling probe dapat ditarik masuk ke sisi engine intake
Perhatikan juga ukuran profile pesawat yang lebih kecil vs Rafale yang lebih gemuk 

Less draggy, better acceleration, very low visual signature
(Gambar: Flygvapnet)
Dalam pertempuran udara, Surprise Factor akan selalu berada di pihak yang mempunyai visual, dan IR signature yang lebih kecil. Dalam hal ini, biar bagaimanapun juga, single-Engine Gripen akan selalu mempunyai peluang untuk mengungguli twin-engine Rafale, yang ukurannya lebih besar.

Masalah berikutnya, Rafale F3R sejauh ini bahkan belum diperlengkapi dengan Helmet Mounted Display, sedangkan Gripen-E akan diperlengkapi generasi terbaru dari HMD, dengan kemampuan Night Vision. Dan ini akan menentukan dalam pertempuran jarak dekat.

Pilot Gripen akan dapat memanfaatkan perpaduan antara HOBS, dan LOAL missile modern seperti AIM-9X, IRIS-T, dan A-Darter, untuk menancapkan missile ke Rafale; sebaliknya akan lebih sulit untuk pilot Rafale untuk mendapatkan keunggulan yang serupa. Faktor ini boleh dibilang sudah menghilangkan kelebihan Rafale dalam segi kinematis.

Lebih lanjut, Rafale hanya dapat bertaruh dengan kemampuan MICA-IR sebagai WVR missile andalannya. Walaupun jarak jangkaunya lebih unggul (50 kilometer maksimum), diperlengkapi dengan Thrust-Vectoring, dan sebenarnya juga mempunyai kemampuan menembak offbore sight, ukurannya yang lebih besar (112 kg) membatasi kemampuan manuever-nya ke 50G.

Gripen tidak perlu tergantung ke hanya satu jenis missile. Untuk menandingi jarak jangkau MICA yang 50 kilometer, Gripen dapat memasang ASRAAM buatan MBDA UK, atau dapat mengintegrasikan MBDA (Perancis) MICA ke daftar persenjataannya; sedangkan dalam pertempuran jarak dekat yang lebih berbahaya (kurang dari 20 kilometer), Gripen akan dapat memilih antara A-Darter (Denel Systems Afrika Selatan), Phyton-5 (Israel), AIM-9X Block-2 (United States), atau IRIS-T (Diehl Systems, Jerman / Swedia), yang bahkan mempunyai kemampuan untuk menembak jatuh BVR missile, atau cruise missile.

Semuanya terserah pembeli.



Pemenang: Gripen-E 

Rafale mungkin lebih unggul dari sisi kinematis, dengan wing loading yang lebih rendah, dan T/W Ratio, yang lebih tinggi; walaupun belum tentu kedua kelebihan ini cukup untuk mengimbangi ukuran, dan drag rate yang lebih besar dibandingkan Gripen.

Gripen kemudian menghantam Rafale dalam beberapa keunggulan lain: Helmet Mounted Display, dan kemampuan mengoperasikan missile yang dianggap akan lebih manueverable dalam pertempuran jarak dekat dibandingkan MICA-IR.

Penentu utama kemenangan pertempuran udara dalam keduanya, karena itu akan lebih ditentukan oleh keunggulan TRAINING masing-masing pihak. Gripen sudah menggunguli Rafale dalam hal ini, tetapi semuanya tergantung kesiapan pemakai, apakah dapat berinvestasi untuk memanfaatkan keunggulan ini, atau tidak?



Penutup: Gripen-E tetap adalah pesawat tempur yang lebih baik

Baik Saab Gripen-E, ataupun Dassault Rafale sebenarnya jauh lebih unggul baik dari segi kemampuan, persenjataan, ataupun kemandirian / kedaulatan negara pembeli, dibandingkan pesawat versi export F-16V, F-18E/F, ataupun versi Kommercheskiy dari Su-35 Flemon, yang daftar kemampuan inferior-nya tidak kunjung habis.

Kenapa Gripen dinilai lebih unggul dibandingkan Rafale?

Patut diingat kalau kedua Eurocanards ini sudah bertempur satu sama lain dalam tiga kompetisi pesawat tempur yang bersaing: Switzerland, India, dan Brazil. Dalam ketiga persaingan kompetisi ini, Gripen-E memenangkan Switzerland, dan Brazil, walaupun keduanya adalah pengguna lama Mirage buatan Perancis.

Walaupun kemudian Gripen kalah dalam kompetisi 126 pesawat MMRCA di India; pada akhirnya pemerintah baru India membatalkan negosiasi MMRCA, meneken kontrak untuk 36 Rafale dalam kondisi "ready-to-fly", dan kembali membuka tender untuk single-engine fighter untuk menggantikan ratusan MiG-21 yang tua renta. Jumlah yang dibutuhkan kali ini: Ratusan.

Dalam hal ini, Gripen-E, yang jauh lebih unggul dalam segala hal dibanding F-16IN "export version", akan kembali menduduki kursi terdepan. Dengan demikian, Saab mungkin "kalah dalam pertempuran, tetapi akan memenangkan perang" dalam kompetisi pesawat tempur di India.

Akan tetapi... bukankah dalam operasional Test Swiss AF dahulu kala, Dassault Rafale dinilai sebagai Eurocanards yang terbaik?

Mari mengamati lagi hasil tes ini secara lebih seksama:


Swiss AF Operational Test


Perhatikan gambar di atas. Ada beberapa faktor kenapa hasil tes Swiss AF di tahun 2008 ini sudah tidak relevan:
  • Versi Gripen yang di-tes dalam Swiss AF Evaluation di tahun 2008 adalah dari versi awal Gripen-C, yang bahkan sebelum mendapat MS-19 update tahun 2012. Sewaktu itu, Gripen-C masih dalam tahap adaptasi untuk menyesuaikan diri dengan sistem NATO, agar dapat di-export.  Compatibility ke Link-16 saja masih belum di-finalisasi sampai Latihan Red Flag 2012/2013.
  • Versi MS-21 yang diperbandingkan akan operasional di tahun 2015, sebenarnya juga masih tetap saja versi Gripen-C. Sewaktu itu, AU Swedia, dan Saab, masih belum dapat membayangkan kalau MS-21 ternyata akan menjadi Gripen-E. Wong, Gripen-NG Demo saja, baru mulai mengudara di awal tahun 2008. 
    Terlambat untuk diperhitungkan dalam Swiss AF Tests:
    Gripen-NG 39-7 demonstration Model,
    baru diresmikan 23-April-2008

    (Gambar: Saab)
  • Tolok Ukur Swiss AF sendiri adalah prosedural operasional "standard" mereka dengan F-18 C/D Hornet, yang sudah dibuat untuk beroperasi non-networked, sebelum kemudian di-integrasikan ke dalam Link-16 Network. Gripen berbeda. Gripen dilahirkan justru untuk beroperasi dalam Integrated Network ala Swedia, dan bertempur secara cooperative erat dengan TIDLS fighter-to-fighter. Dengan kata lain, kemungkinan Swiss AF seperti mengetes apakah Serigala akan dapat mengalahkan lawan dengan cara bertarung yang seperti Singa. Atau, apakah Singa akan dapat berlari cepat untuk memburu mangsa seperti Cheetah.

Faktor lain yang kurang diperhitungkan:

Gripen sudah beradaptasi terus-menerus sejak tahun 2008.

Feedback dari kompetisi di Swiss, dari Red Flag 2012 / 2013, dan dari latihan udara NATO Hunggaria, Czech, dan Swedia sendiri; membuat AU Swedia, dan Saab menilik kembali apa yang kurang dari Gripen. Secara bertahap, keduanya kemudian menambahkan kemampuannya secara konsisten, dalam frequency yang jauh lebih cepat dibanding semua pesawat tempur lain.

Ini menggarisbawahi kembali salah satu keunggulan Saab Swedia.

Swedia mengetahui kalau jumlah resource, atau kemampuan industri mereka tidaklah sebanyak, atau sehebat U.S, UK, atau Perancis. Karena itu dengan Gripen, mereka harus selalu melangkah lebih maju dalam hal inovasi. 

Seperti bisa dilihat dalam perbandingan di artikel ini, dari segi kemampuan, kecuali menginginkan pesawat yang dapat membawa senjata nuklir, perbedaan antara Gripen-E, dan Rafale F3R sebenarnya tidaklah terlalu jauh. Keunggulan tipis kinematis Rafale, dan performa Thales SPECTRA Defense Suite tidak cukup untuk memberikan justifikasi harganya yang jauh lebih mahal, baik dari segi akusisi, ataupun biaya operasional. 

Sebaliknya, Gripen masih mempunyai beberapa keunggulan yang belum dapat diimbangi Rafale, seperti bisa dilihat dalam daftar di bawah.

"Comparing Rafale to Gripen, is like comparing a Ferrari to a Fiat Punto," kata salah satu Dassault Engineer, yang mengeluhkan kekalahan Rafale di Switzerland, dan di Brazil.

Pernyataan yang salah.

Gripen-E sebenarnya memenangkan kompetisi di Brazil, ataupun di Swiss bukan hanya karena menang harga, biaya operasional, atau karena paket Transfer-of-Technology mereka lebih menarik.

Kelemahan terbesar Rafale adalah "terlalu Perancis". Dalam hal ini, memberikan Rafale kelemahan yang sama dengan F-16, atau Sukhoi; hampir mustahil untuk mengganti senjata / perlengkapan yang asalnya bukan dari negara pembuat. 

Sebaliknya, Gripen, walaupun sekilas terlihat terlalu gado-gado, justru mempunyai keunggulan jauh lebih adaptable: Setiap Gripen akan customizable bebas menurut kebutuhan pembeli, bukan menurut keterbatasan tehnologi Paris, atau yang lebih parah lagi, pembatasan spesifikasi menurut "versi export" yang didikte Washington DC, atau Moscow.


The only true 21st Century Fighter:
Winning by the virtue of its simplicity, and innovation
Saatnya menunggu harinya Gripen 39-8 mengudara untuk memulai Flight Testing...
(Gambar: Saab)


18 comments:

  1. Menurut mimin, apa pelajaran yg dpt diambil dari latihan Cope West antara TNI AU dan USMC tahun ini?

    ReplyDelete
  2. Beberapa pelajaran dari latihan ini:

    ## Patut disadari kalau United States, dan Indonesia (demikian juga Australia) sekarang sudah berada di pihak yang sama.

    Latihan udara ini sebenarnya merangkap sekaligus menjadi satu isyarat kuat untuk pihak antagonis bersama di seluruh kawasan Asia: PRC

    ===============
    "Indonesia is a strong regional partner and we use these exercises to not only improve technical skills, but also to strengthen friendship, mutual understanding and mutual respect between the two Armed Forces," said Lt Col Stephen McClune.
    ===============

    ## Walaupun latihannya di Manado, dan beberapa publikasi mengambil asumsi kalau Su-27/30 Kommercheskiy yang dipangkalkan di Sultan Hassanudin akan mengambil bagian, eh... ternyata yang dikirimkan kesana adalah 6 F-16 -- kemungkinan Block-25+, walaupun belum ada konfirmasi visual, ataupun di berita.

    Dan ini sebenarnya penting, dikarenakan....

    ## Lt Col Stephen McClune, menambahkan pentingnya Indonesia, dan US memakai dua jenis pesawat tempur yang compatible satu sama lain, karena memudahkan kerja-sama operasional kedua belah pihak.

    Pernyataan ini sendiri masih membuka dua pelajaran terakhir:

    ## Untuk apa masih merasa gandrung bermimpi dengan Sukhoi Kommercheskiy?

    Ruski adalah supplier exportir senjata utama PRC, yg sudah menjabat posisi sebagai negara antagonis seluruh Asia; dan seperti pernah dibahas disini, PRC akan menjadi negara pertama yg mengoperasikan Su-35.

    Be very afraid! Karena Su-35 PLA-AF akan menjadi jauh lebih berbahaya dibandingkan semua Sukhoi Kommercheskiy di seluruh Asia; latihan pilot lebih banyak, dan kesiapan tempur akan lebih tinggi berkat mesin fotokopi PRC; dan tentu saja, mereka akan menggunakannya untuk menguatkan klaim mereka di LCS.

    Yah, membeli senjata dari supplier yang juga mempersenjatai "pihak lawan", tidak akan pernah bisa menjadi ide yang bagus.

    ## Di lain pihak, walaupun memang lebih baik kita mengoperasikan pesawat yg compatible ke sistem NATO; kita juga jangan terlalu merasa SKSD dengan U.S.

    Walaupun latihan ini sendiri adalah sesuatu yang positif untuk kita, dan mereka mendorong kita supaya memilih lebih banyak F-16;
    Jangan pernah melupakan kalau F-16 yang mereka jual, yah, sama dengan keterbatasan policy Russia, hanyalah versi export downgrade.

    Demikian juga KF-X Korea, hanya akan membawa tehnologi "versi export"; IF-X akan lebih parah lagi.

    US DoD akan terus memberlakukan pembatasan tehnologi ke senjata apapun yang dijual untuk export, apalagi ke Indonesia.

    Yah, kenyataannya memang sejak tahun 1960-an, kita selalu terjepit di tengah. Mau terlalu condong ke Moscow, ataupun ke Washington DC, kita hanya akan selalu menjadi pihak yang kalah.

    Inilah kenapa, sekali lagi, untuk urusan tehnologi pesawat tempur yang sensitif, kita harus mulai melirik ke Eropa, yang lebih netral secara politik, dan tidak mengenal apa yang disebut "versi export".

    "Compatible to NATO standard, but not dependant on Washington DC policies"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut Metro TV, pesawat yg dikirim adalah F-16 TNI AU dan F-18 USMC. Tidak ada kabar bahwa TNI AU juga mengirimkan Sukhoi

      Delete
    2. Betul, seperti komentar di atas.

      F-16 adalah pilihan yg lebih baik untuk latihan bersama F-18 USMC;
      Lebih compatible.

      Selain TNI-AU juga jauh lebih berpengalaman memakai F-16 yg bandel, dan tidak pernah perlu "perbaikan mendalam";

      Seperti sudah di-post sebelumnya, F-16 adalah pespur yg kemampuannya jauh lebih efektif dibanding Sukhoi.

      Terakhir, kalaupun ada kemauan (secara pilih kasih) belum tentu masih ada 6 Sukhoi yg bisa siap terbang ke Manado, untuk latihan intensif bersama dengan F-18.

      Delete
  3. bung adanya standar NATO memungkinkan pespur barat antar negara yg bisa beroperasi bersama walaupun beda tipe sekalipun apakah standar yg sama juga dimiliki pespur ruski sehingga misalnya shukoi dgn mig beda negara bisa beroperasi bersama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini sebenarnya kembali menyorot perbedaan sistem antara NATO dengan Ruski.

      Dalam sistem NATO -- yang sebenarnya juga sudah dibiasakan di Indonesia sejak 1970-an, tidak hanya pilot diajarkan bagaimana menembak jatuh lawan, atau bagaimana caranya membom; tetapi bagaimana caranya dapat mengambil keputusan sendiri secara independent, tergantung situasi - kondisi.

      Inilah kenapa prioritasnya Situational Awareness, dan secara tak langsung, Networking.

      Dalam sistem Ruski -- pilot hanyalah "extension" dari para Pimpinan di ground control.

      Tidak diperbolehkan untuk mengambil inisiatif sendiri, biasanya juga tidak pernah berlatih untuk mempunyai kemampuan taktis, dan "harus bertanya dahulu ke Ground Control apa yang harus dilakukan berikutnya".

      MiG-29, Su-27, Su-24, dan MiG-31 -- semuanya compatible, karena sudah di built-in untuk "mematuhi" Ground Control.

      Kalau tugasnya membom, yah, membom.

      "No questions asked."

      Prosedur mereka di Syria, kelihatannya belum melangkah jauh dari sistem ini. (Link: War-is-boring:Here is the key to understanding Russian Air Force in Syria)

      Pilot Su-34, Su-35, dan Su-24 tinggal menekan tombol auto-pilot untuk mengarahkan pesawat ke arah koordinat yang sudah ditentukan Ground Control, dan menjatuhkan bom dari medium attitude (untuk menghindari SA-7 Anti-Air missile yang bisa ditembakkan dari bahu), dan melepaskan.... dumb bomb.

      Yah, sebenarnya industri militer Ruski yang serba berkekurangan, belum dapat memproduksi smart munitions, seperti halnya industri militer Barat.

      Tentu saja hasilnya tidaklah mengesankan.

      Menurut Syrian Network for Human Rights (SNHR), badan kemanusiaan di Syria yang ditunjuk langsung dari PBB, sebenarnya semenjak November-2015;

      Russian AF sudah membunuh jauh lebih banyak korban warga sipil Syria, dibandingkan ISIS: 2704 orang per 23-Agustus-2016

      Link untuk Laporan SNHR.

      Delete
    2. kalau begitu karena beda sistem training pilot shukoi kita tidak bisa menerbangkan f-16 dan sebaliknya dong

      Delete
    3. Masalahnya jauh lebih mendalam dari itu.

      Seperti sudah dibahas sebelumnya;
      Memang ide "diversifikasi supplier" Barat, dan Timur itu bukan berarti mengurangi resiko embargo, TETAPI hanya akan merugikan negara, dengan efek gentar nihil.

      # Kita hanya dipaksa membuat beberapa tim spesialis, tidak hanya pilot, tapi juga tehnisi, & ground crew yg hanya bisa menangani satu tipe saja.

      Logika saja; setiap talenta itu akan sulit untuk proses regenerasi angkatan yg selanjutnya, krn jumlah masing2 sedikit.

      Sebaliknya dari lebih mandiri, kita malah akan semakin tergantung ke supplier asing.

      Lihat saja contoh "perbaikan mendalam" alias praktek pemerasan maintenance Sukhoi yg berbulan-bulan!

      ## Kedua, jangan pernah bermimpi bisa membangun sistem pertahanan yg baik dengan armada gado2!

      Berapapun jumlah pesawat yg dibeli, kemampuannya tetap saja akan belepotan, karena masing2 tipenya saja tidak compatible.... dan hanya akan menjadi "versi export kelas tiga".

      Moscow, atau Washington DC sbnrnya tidak mau ambil puaing dengan kebutuhan pertahanan Indonesia; mereka hanya senang kalau kita terus menjalankan praktek gado2, dan memberikan 1001 alasan utk melanggar UU no.16/2012.

      Delete
  4. Salam sehat bung GI,
    Seperti apa yg anda tuliskan disini $ 3 milyard untuk 36 Gripen E, jelas sudah termasuk full senjata donk . Hihihi

    Untuk batch selanjutna pasti akan lebih murah karna tidak perlu keluar untuk biaya lain².

    Indonesia darurat pespur kelas ringan untuk menggantikan armada hawk , dan katanya yg akan di incar adalah pesawat didikan LM T50 / super T50 . maaf berita lama.

    Super T50 seperti apa yang anda pernah tuliskan soal bila terjadi kegagalan progam KFX-IFX

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Matt,
      Angka $3 milyar sebenarnya angka estimasi "asal tembak" hanya utk artikel ini. :)

      Btw, tidak termasuk persenjataan tapi termasuk Initial Provision Package.

      Nanti sy akan coba menulis estimasi yg lebih spesifik.

      IMHO, Gripen akan dapat menggantikan tidak hanya F-5E/F (sbnrnya kebutuhannya sudah tidak lagi pelik), tetapi juga Su-27/30 Kommercheskiy downgrade di Sku-11, dan BAe Hawk-209 di Sku-01, dan -12.

      Bahkan mungkinn di masa depan, sekalian menggantikan F-16.

      :)

      Logika saja; untuk apa buang2 duit utk beli "versi export"?

      Setiap Gripen yg terbeli toh 85% dari harganya akan di offset balik ke industri dalam negeri.
      Kenapa tidak?

      ==============
      IF-X, kelihatannya sih melihat pergolakan politik / ekonomi Korsel dewasa ini kemungkinannya semakin hari semakin menipis kalau proyeknya akan berjalan lebih jauh dari sekarang.

      Presiden Park Gyun-Hye sudah dirudung skandal, dan sedang menghadapi demonstrasi rakyat yg menuntutnya digulingkan. (Bukan tidak mungkin bisa terjadi)

      Ekonomi Korea, di lain pihak, mulai mengalami domino effect, yg dimulai dari gulung tikarnya Hanjin Shipping; dan penggerebekan Lotte Group, dan DSME.

      Komitmen ke proyek semacam ini tentu saja mulai luntur (Keinginan, bukan kebutuhan),
      selain itu....

      Tidak ada kemampuan,
      Infrastruktur saja belum siap,
      Tehnologi pespur hampir nihil,
      Tidak pernah ada pengalaman,
      Semuanya kartu mati.

      Dan batalnya proyek ini sbnrnya akan menguntungkan kita.

      Karena IF-X, sama seperti T-50, akan hampir 99% tergantung kepada tehnologi "versi export" dari United States.

      Perbedaannya, IF-X akan jauh lebih mahal vs F-16, baik dari segi harga / biaya OP, walaupun kemampuannya tidak akan berbeda jauh.

      Tentu saja ToT akan nyaris nihil.

      Delete
  5. Penasaran.com
    TNI AU komplain ke PT DI masalah spare part dan pemaksaan penggunaan C 295 dibanding C 27 Spartan???
    Tapi nggak pernah komplain masalah SU 27/30 dari Rusia....
    aneh tapi nyata...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya jawabannya sederhana.

      Kalau transaksi penjualan / maintenance tidak ditandatangani melalui G-to-G, biasanya para perantara / perusahaan penjual akan rajin menawarkan komisi ke semua pejabat yg berwenang.

      Inilah skema "tip untuk pejabat" yg diberlakukan Lockheed di tahun 1970-an, untuk menjual F-104 ke Jerman Barat, Italy, Jepang, dan banyak negara lain.

      Gripen-International, badan perantara 2000-an awal, juga menyogok banyak pejabat di Afrika Selatan, sampai 8% nilai transaksi Gripen disana.

      Eurofighter Gmbh juga menyogok puluhan juta $$ ke pejabat Austria, agar membeli Typhoon, pesawat yg biaya operasionalnya jauh melebihi realita anggaran pertahanan negara netral Austria.

      Inilah yang menjelaskan, kenapa Gripen, Typhoon, Rafale, F-15, F-16, dan F-18 dewasa ini hanya boleh dibeli lewat skema G-to-G.
      Tidak ada lagi pesangon untuk pejabat negara pembeli.

      Terkadang masih ada transaksi langsung nakal, seperti Fimecannia, perusahaan Italy pembuat C-27J, baru dijerat tuduhan menyogok pejabat dalam transaksi di India.
      Sekarang perusahaannya baru di revamp, dan pemerintah Italy juga sudah memberlakukan praktek penjualan G-to-G, seperti dalam transaksi Typhoon dengan Kuwait.

      Mengingat transparansi transaksi militer dengan Rosoboronexport akan hampir nihil,
      dan negaranya sendiri tingkat korupsinya termasuk yg sangat tinggi,

      Sisanya kita dapat mengambil kesimpulan sendiri, kenapa banyak pernyataan "ngebet" beli Sukhoi Su-35, yg barangnya saja hanya Kommercheskiy downgrade.

      Padahal....Service record Su-Kommercheskiy yg sekarang saja berantakan, mungkin hanya ada 4 pesawat yg masih siap terbang, dari 16 unit.

      Tapi ini tidak pernah diangkat sebagai masalah, bukan?

      Ini karena transaksi "perbaikan mendalam", atau pembelian sparepart via Rosoboron itu juga biayanya akan selalu termasuk "komisi" tambahan.
      Makanya, tidak ada complain.

      Menguntungkan pejabat, tidak menguntungkan negara.

      PT DI adalah perusahaan pemerintah, tidak akan memberi komisi.
      Tentu saja jadi banyak complain, pelayanannya "tidak bagus".

      Inilah kenapa, semakin cepat Sukhoi rongsokan downgrade Sku-11 di-pensiunkan, lebih baik untuk negara.

      Lebih baik Biaya operasional Sukhoi dialihkan ke kesejahteraan pilot, dan ke investasi di PT DI.

      Delete
    2. @DR&Reader

      Kontroversi mengenai spartan sudah berlangsung lama yang kemudian disusul dg kontroversi heli aw-101.

      Saya mengutip dr salah satu test pilot PT.DI(mungkin satu-satunya test pilot Indonesia yang pernah melakukan assessment thd heli ini, diera 90an) ttg heli aw-101.

      Heli ini memiliki avionik yang canggih, namun mengingat saat itu agusta-westland sdg fokus dg program heli asw yang akan dioperasikan dr kapal perang, maka dipasanglah mekanika yang rumit dan berbasis sistim elektrikal, shg baling2 dan ekor heli bisa dilipat. Tentu saja sistim ini cukup rumit, dan membutuhkan perawatan yang intensif.

      Ada masalah teknis lain yang dianggap sang test pilot tidak ekonomis dan praktis scr operasional. Heli aw-101 dilengkapi dg 3 mesin, yang digunakan saat melakukan lepas landas dan mendarat...pertimbangannya addl krn dg 2 mesin saja, heli ini tidak akan mampu untuk lepas landas dan mendarat. Pada saat cruise, salah satu mesin tertentu(hanya mesin ke-3 ini saja) ini dapat dimatikan.Demikian pula saat akan mendarat, mesin tambahan (mesin ke-3) ini harus dihidupkan kembali utk memperkuat bekerjanya 2 mesin yang sdg bekerja...hal ini membuktikan bhw bhw secara aerodinamis, heli ini kurang efisien. Belum lagi masa persiapan pra-take off mjd cukup panjang utk menghidupkan 3 mesin sekaligus dan melakukan sinkronisasi atas ketiganya. Dari segi biaya operasi, konsumsi bahan bakar 3 vs 2 mesin dapat diperbandingkaan scr vulgar.

      AU sebenarnya sdh berpengalaman mengoperasikan heli dg tipe 3 mesin, yaitu heli super frelon (hibah dr PT.PAS) yang akhirnya diphase out krn alasan ekonomis.

      Kontroversi seputar pesawat spartan-pun kala itu sempat memunculkan "perang bintang" antara kubu yang pro C-27 vs kubu yang pro industi dalam negri (mengutip wawancara di majalah angkasa dg Marsekal Eris Hariyanto yang merup salah satu pejabat di kemhan kala itu).

      Spartan memang memiliki spesifikasi yang lebih unggul dibanding C-295 dg volume ruang kargo yang lebih besar, service ceiling&kecepataan yang lebih tinggi, serta komonalitas avionik dan mesin dg hercules C-130 J.

      Tapi sesungguhnya tidak semua keunggulan tsb bisa dirasakan AU jika mengoperasika spartan...AU hingga saat ini belum mempunyai hercules seri J, shg komonalitas yang diunggulkan tsb sebenarnya adl manfaat "semu" sesuai konteks saat itu.

      Dalam konteks yang lebih aktual untuk kedua tipe pesawat tsb hingga saat ini...dikawasan asia pasifik, heli aw-101 hanya dioperasikan oleh AL Jepang, dan spartan hanya dimiliki oleh AU Aussy, yang kedua negara tsb memiliki kemampuan finansial yang kuat dan mumpuni.

      Yang menjadi perhatian dari kedua kontroversi ini adl pentingnya memiliki seorang test pilot yang berkualifikasi...shg bisa menjadikan assessment thd pesawat yang diminati scr komprehensif, obyektif dan dan dapat dipertanggungjawabkan.

      Sayangnya AU tidak pernah berinvestasi,mengirimkan pilotnya mengikuti pendidikan test pilot diberbagai sekolah test pilot ternama...sementara singapur dan malaysia tiap tahun rutin mengirimkan pilotnya kesana.

      Delete
    3. Bung @hari,

      Kedua kasus tsb adalah contoh dari Keinginan pribadi mendahului Kebutuhan negara.

      Tentu saja, mengingat AW-101, dan C-27 tidak pernah ditawarkan secara resmi melalui skema G-to-G, yah, seperti di atas --- bukan tidak mungkin beberapa pihak akan dapat "pesangon" dari penjual, kalau sampai kedua tipe tadi terbeli.

      Logika jadi dibuang ke laut, dan terciptalah 1001 alasan untuk menjelek2an produksi PT DI.

      Transaksi Alutsista itu sebenarnya salah satu yg paling korup / kotor di dunia.

      Inilah kenapa, sejalan dengan pemberantasan korupsi, dan seperti instruksi Presiden Jokowi, mulai sekarang setiap transaksi harus menurut kebutuhan, dan dalam skema G-to-G.

      Pernyataan tersebut sebenarnya panggilan untuk mendisplinkan akuisisi "Keinginan".

      Sy pernah menuliskan artikel tentang polemik AW-101 VVIP sebelumnya; dan bagaimana kasus ini sebenarnya sudah menjadi tolok ukur akusisi masa depan.

      Kita tidak pernah membutuhkan AW-101, mengingat PT DI sudah mempunyai "license production" untuk Super Puma, atau EC-725 yg lebih modern.

      Terlepas dari kelebihan, atau kekurangan masing2;

      Untuk apa membeli produk yg hanya bersaing dengan produksi license production lokal?
      ... dan dalam kasus 101, memangnya Super Puma yg operasional tidak dapat di-refurbish, dan di-upgrade kembali?

      Masakan rela menghamburkan uang negara untuk penjual asing?

      Mana rasa Nasionalisme-nya?

      Sama dengan bagaimana beberapa pihak sekarang ini masih terus berusaha mengakusisi rongsokan Su-35 Kommercheskiy downgrade, yg sudah diketahui biaya operasionalnya terlalu mahal, dari penjual yg tidak akan pernah mau memenuhi UU no.16/2012.

      Delete
  6. Mimin ke Indo-Defence thn ini tidak?

    ReplyDelete
  7. bung GI, kenpa rafale cman make 1-way datalink? kesannya nanggung padahal yakin dah tau mau make mbda meteor yang2-way datalin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena Rafale pada awalnya hanya didesain untuk mengoperasikan MICA missile, buatan MBDA divisi Perancis.

      MICA missile hanya memerlukan 1-way datalink.

      Ide untuk membuat MBDA Meteor, dengan 2-way datalink, baru dimulai setelah finalisasi desain Rafale selesai.

      Inilah spt yg dituliskan diatas: Masalah utama Rafale --- terlalu Perancis, kurang internasional.
      Akibatnya, kurang fleksibel untuk dapat beradaptasi dengan segala sesuatu yang tidak dibuat di Perancis.

      Delete