Monday, October 3, 2016

Analisis: Dassault Rafale India; Apakah India akhirnya juga akan membeli Gripen-E?

Credits: Nicolas-Nelson Richard, AFP

Setelah melewati masa pemilihan pesawat tempur baru yang berlarut-larut sejak tahun 2001, dimulai dengan program MMRCA, India akhirnya berhasil menutup kontrak untuk pesawat yang seharusnya sudah tutup buku dari tahun 2012.

Sama seperti kontrak Eurofighter Typhoon untuk Kuwait yang sudah dibahas sebelumnya, pelajaran apa saja yang bisa kita ambil dari pengalaman India? 



Pelajaran Pertama: Sama seperti di Kuwait, kontrak Eurocanard ini ditutup dalam Government-to-Government Contract


Tanpa Agen perantara: 
Syarat mutlak transparansi pembelian Alutsista di Abad ke-21
(Gambar: Indian Ministry of Defense)
Boleh dibilang, setelah kapok berurusan dengan agen perantara Rosoboronexport, yang menyulitkan supply spare part, maintenance, dan dengan sendirinya membuat kesiapan tempur, dan biaya operasional kebanyakan Alutsista buatan Russia menjadi mahal; penandatangan kontrak Rafale, akhirnya dilakukan dalam skema Government-to-Government deal, yang juga mencakup kebutuhan maintenance untuk 10 tahun ke depan.

Sama seperti polemik "dongkrak harga" untuk kontrak Sukhoi di Indonesia di tahun 2012, kontrak MKI sendiri juga bukannya tanpa skandal di India.

Kita sudah mulai dapat menarik nafas lega, karena tidak hanya Presiden Jokowi sendiri sudah menggariskan kalau kontrak Alutsista Indonesia yang berikutnya diharuskan untuk memenuhi persyaratan UU no.16/2012 demi pembangunan industri pertahanan dalam negeri, kontrak tersebut juga harus ditandatangani melalui skema Government-to-Government, agar menghindari mark-up, komisi perantara, yang akan seperti benalu keuangan rakyat seumur hidup, dan meningkatkan transparansi.


Pelajaran Kedua: Paket lengkap hanya untuk pesawat tempur tidaklah murah. 


Artikel The Indian Express menggaris-bawahi, walaupun nilai transaksi Rafale India mencapai kurang-lebih US$8,85 milyar, atau 7,89 milyar Euro; harga "beli kosong" untuk ke-36 Rafale sendiri hanyalah sekitar 91 juta Euro untuk single-seater, dan 94 Euro untuk versi twin-seater.
Artikel Defense News menggariskan price breakdown dari kontrak ini, secara lebih mendetail:

Bagian Pertama: Initial Provision Cost

India harus membayar Initial Provision Cost (IPC), yang berupa pembelian asset tetap untuk support equipment, dan infrastructure cost. Apa yang termasuk disini bisa berupa peralatan untuk perawatan / mempersenjatai Rafale, sampai software untuk mengecek kelaikan terbang pesawat. Nilainya saja sudah mencapai US$2 milyar atau hampir 54% dari harga kosong ke-36 Rafale. 

Tanpa sengaja, kontrak Rafale ini juga kembali menggarisbawahi, bahwa kalau nilai IPC untuk Heavy twin-engine Fighter akan selalu lebih mahal beberapa kali lipat dibandingkan Lightweight Single-engine Fighter

Perhatikan grafik dari presentasi Saab, yang sebagai berikut:
Gambar: Saab

Yah, kalaupun Heavy Twin-Engine di kelas Typhoon, Rafale, atau F-15 "kelihatan" murah, atau sekitar $105 juta / unit, biaya Initial Provision Cost (Package) untuk kedua tipe ini kira-kira 250% lebih mahal dibanding Saab Gripen, atau hampir 170% dibandingkan F-16. 

Tentu saja, proporsi IPC yang sama, juga akan berlaku ke proyek mercusuar KF-X, yang sudah memilih desain twin-engine secara sepihak, dan kemudian kembali, memilih Lockheed-Martin, sebagai partner ToT secara sepihak, tanpa pernah merasa perlu untuk ada sopan-santun untuk menanyakan Indonesia, yang memegang peran 20%.

Harga per unit yang kelihatan murah tentu saja akan jauh lebih menipu lagi untuk Sukhoi Su-35. Nilai IPC-nya bisa diperkirakan tidak akan setinggi Rafale, karena kalau butuh "perbaikan mendalam", negara pembeli hanya akan dipaksa agar mengirim pulang Sukhoi untuk mudik ke negara asal. Dan dengan demikian, index biaya operasional akan melompat kira-kira 200 - 300% lebih mahal dibandingkan Dassault Rafale, atau Eurofighter Typhoon.

Bagian Kedua dari paket Rafale: Menginginkan customisasi tambahan dari spesifikasi yang sudah dibuat oleh produsen, sama seperti dengan kontrak Gripen-E di Brazil, dengan sendirinya akan mendongkrak nilai transaksi.

India harus membayar US$1,9 milyar, hanya untuk menambah kemampuan untuk mengoperasikan missile Brahmos, dan Astra, yang sedang dalam tahap akhir development, untuk dioperasikan di atas Rafale, yang dibuat Perancis, untuk Perancis. Walaupun tidak dituliskan, kemungkinan India juga akan mengganti Link-16 datalink standard, dan juga membayar biaya integrasi Helmet-Mounted-Display ke Dassault Rafale, yang entah kenapa sampai sekarang, Perancis belum memutuskan untuk memasangnya.

Bagian Terakhir: JANGAN MEMBELI MACAN OMPONG!

Indonesia! Take Note: Pesawat tempur efeknya akan nol besar tanpa persenjataan.

India menggariskan kalau mereka akan membeli MBDA Meteor, dan MBDA MICA-IR, dan MICA-EM untuk mempersenjatai Rafale. Tentu saja ini sudah lebih dari cukup untuk memberikan IAF qualitative Edge di atas AU Pakistan, dan PLA-AF China. Dan tanpa disengaja, kemampuan Rafale juga akan jauh melebihi..................



Pelajaran Terakhir: Dassault Rafale India akan jauuuh..... lebih unggul dari Sukhoi Su-30MKI Kommercheskiy, ataupun PAK-FA....

Program MMRCA di tahun 2001, walaupun menyertakan 6 pemain, sebenarnya sudah terlihat dari awal kalau IAF sebenarnya menginginkan Medium twin-engine buatan Eropa, antara Typhoon, atau Rafale. 

Lucunya, mereka seperti membedakan antara Su-30MKI, sebagai kelas Heavy, sedangkan Rafale, dan Typhoon di-kategorikan sebagai Medium-Weight, walaupun sebenarnya Rafale, dan Typhoon dapat melakukan semua hal yang sama yang bisa dilakukan MKI, dan lebih penting lagi.... keduanya akan jauh lebih efektif dalam pertempuran udara.

Maximum Takeoff Weight untuk Dassault Rafale 24,500 kg, dengan kapasitas untuk membawa payload 9,950 kg full-fuel; sedangkan Su-30MKI mempunyai maximum takeoff-weight 38,800 kg, dengan kapasitas payload 11,000 kg. Dari sini saja perbedaannya tidak banyak; dan Rafale, seperti bisa dilihat di atas, sebenarnya lebih fleksibel, karena mempunyai kemampuan untuk membawa drop tank.

Yang perlu dicatat lagi, seperti semua pembeli Sukhoi versi Kommercheskiy yang lain, Su-30MKI hanya dapat dipersenjatai dengan BVR missile kelas tiga; R-27, atau RVV-AE (izdeliye-170), yang kemampuannya meragukan. Sedangkan Rafale, yang non versi export, dapat dipersenjatai dengan apa yang terbaik, yang tersedia dari pasar Eropa; MICA-IR/EM, yang berjarak jangkau 50 kilometer, atau MBDA Meteor, yang berjarak jangkau melebihi 150 kilometer.

Catatan: Tidak seperti Typhoon, dan Gripen-C/E; Rafale hanya akan dapat memberikan 1-way datalink, Mid-course update ke Meteor, bukan 2-way datalink untuk mendapat telemetry feedback dari missile.
Yah, dan tentu saja, tidak seperti MKI, Rafale akan mempunyai kemampuan supercruise Mach 1,4 dengan membawa 4 missile, dan 1 drop tank. Nilai wing-loading dari Rafale juga termasuk yang paling rendah di dunia, dan dengan desain sayap close-coupled delta-canards, memastikan kemampuan manuever yang jauh lebih unggul. Ukurannya yang lebih kecil juga berarti drag-to-lift ratio-nya akan jauh lebih tinggi.

Belum lagi menghitung keunggulan RBE-2AA AESA radar, OSF IRST, yang dipadukan dalam satu SENSOR FUSION (Link: Dassault)yang secara keseluruhan akan memberikan kemampuan Situational Awareness, yang beberapa generasi lebih maju dibanding sensor suite tradisional di Su-MKI, atau PAK-FA. 

Armee De'l Air Perancis juga cukup bangga dengan kemampuan Thales SPECTRA Electronic Defense Suite. Kombinasi Sensor Fusion, Thales SPECTRA, dan  Thales Damocles targeting pod membuktikan kalau tipe ini berhasil menjadi pesawat NATO pertama yang membom target di Libya, 2011, dengan akurat, tanpa perlu pengawalan EA-18G Growler, atau tanpa perlu didahului dengan serangan salvo Tomahawk US Navy.

Kita tunggu saja beritanya dalam 4 - 5 tahun, setelah Rafale pertama mereka mulai operasional.

Oh, dan ..... sementara Sukhoi MKI kualitas lemon harus terus berjuang mati-matian, tapi terus menderita Availability Rate di bawah 55%; Perancis sendiri sudah meneken kontrak untuk menjanjikan availability rate di atas 75%; nilai biasa untuk standard pesawat tempur NATO, atau 50% lebih siap dibandingkan MKI.



Penutup 

Sekali lagi, kontrak pesawat tempur tidaklah murah, dan butuh perhitungan yang mendalam. 


Kontrak Rafale di India menggarisbawahi kalau pembelian pesawat tempur tidaklah murah, dan tidak bisa diperlakukan seperti membeli Toyota Fortuner, atau Mercedes Benz C200, yang sekali beli putus, hanya untuk sekadar "menandingi tetangga"

Sudah saatnya Indonesia menghentikan skema pembelian "kosong melompong", atau tehnik "cicilan" seperti dalam 10 tahun terakhir. Kalau belum mempunyai cukup dana, yah, ngapain toh buru-buru beli "macan ompong"?

Kontrak Rafale memperlihatkan kalau nilai "unit kosong" hanyalah 40% dari nilai kontrak total. Kalau India tidak membayar sisanya, mereka hanya akan membeli "Rafale ompong".



Apakah India akhirnya sudah mendapat apa yang mereka butuhkan?

India akhirnya mendapatkan Dassault Rafale
Keinginan, atau Kebutuhan?
Yah, tetapi tidak akan seperti yang mereka bayangkan; karena seperti di atas, Rafale hanya akan menghadapi masalah kanibalisme kemampuan dengan Sukhoi MKI, yang sudah mereka operasikan. 

Bagaimana tidak? 

Rafale, sama seperti Typhoon, dan Gripen, sebenarnya sudah di-desain dari awal untuk dapat mengalahkan keluarga Su-27/30/35, MiG-29/35, atau PAK-FA. Lebih penting lagi, tidak seperti trend global yang dimulai US, Perancis tidak merasa perlu untuk mengoperasikan stealth fighter. Karena itu, mereka akan memastikan kalau kemampuan Rafale tetap siap menghadapi pesawat dengan stealth RCS.

Kontrak Rafale India tanpa sengaja juga menggaris-bawahi, kalau armada gado-gado Barat - Timur itu tidak akan pernah bisa efektif. Pada akhirnya, keuangan akan menjadi penentu utama, dan di masa depan, IAF akan dipaksa sendiri untuk memilih:

Rafale, atau tetap terus setia ke Sukhoi (dan Rosoboronexport)?

Masalah lain, pembelian Rafale sebenarnya menyorot ke masalah lain dalam struktur IAF. India sebenarnya lebih membutuhkan
Lightweight single-engine fighter untuk menggantikan MiG-21, MiG-27, Sepecat Jaguar, dan di kemudian hari juga Mirage 2000, dan MiG-29; dibanding pesawat tempur berat, dengan biaya operasional mahal di kelas MKI, ataupun Rafale.

Jumlah Skuadron IAF sudah turun dari 42 skuadron yang dibutuhkan, menjadi hanya 32 squadron, dan Dassault Rafale tidak akan dapat menggantikan MiG-21 untuk menutup kekurangan ini.

Disini kebutuhan vs keinginan mereka juga menjadi semakin semu, karena pesawat "buatan sendiri" yang seharusnya memenuhi kebutuhan ini, HAL Tejas, hasilnya boleh dibilang kurang memuaskan.

Hal ini akan dibahas dalam topik lain; kenapa sama seperti Indonesia, mereka sebenarnya akan lebih membutuhkan Saab Gripen, dibandingkan Dassault Rafale (Su-35), atau HAL Tejas (KF-X, alias proyek mercusuar Korea, by Lockheed-Martin).


Masalah India yang lain

Patut dicatat disini, kalau India sebenarnya masih menabrak tembok untuk menghadapi masalah selanjutnya, yang sebelumnya juga sudah membuat negosiasi Rafale menjadi sangat alot:
Transfer-of-Technology

Times of India mencatat kalau ke-36 Rafale ini dibeli India dalam keadaan fly-away condition, tanpa ada satupun unit yang dirakit di India (Made-in-India programme), dan juga tanpa adanya Transfer-of-Technology yang dituntut dalam program MMRCA sebelumnya.

Nilai kontrak Rafale, yang sekarang, senilai US$8,9 milyar juga tercatat lebih mahal dibandingkan angka di bawah $8 milyar, yang disebut-sebut di pertengahan tahun 2015.

Mengapa demikian?

Sebenarnya kedua-dua pihak sama bersalahnya dalam hal ini. Bagaimana kontrak MMRCA, untuk license production 126 Rafale, akhirnya dapat berubah menjadi kontrak pembelian hanya 36 Rafale, tanpa Transfer-of-Technology, dan bagaimana kedua belah pihak sebenarnya tanpa sengaja sudah terperangkap sendiri, akan di bahas secara lebih mendalam di topik artikel yang berikutnya.




UPDATE: 5-Oktober-2016: Cukup 36 Rafale. Benarkah?

Defense News baru memberitakan kalau India tidak ada rencana untuk menambah lebih banyak dari 36 Rafale, yang sudah mereka tandatangani.

.... akan tetapi, akan ada satu internal factor yang dapat merubah pikiran ini di masa depan.

Bagaimana dengan nasib Sukhoi Su-30MKI di masa depan?
Lebih dari separuh armada Sukhoi India akan mendekati usia uzur di tahun 2020-an. Dengan usia yang semakin renta, untuk ukuran buatan Ruski, tentu saja problemnya hanya akan semakin merebak. 

Pertanyaannya: seberapa jauh, dan seberapa sabarnya India untuk terus memelihara armada Sukhoi mereka yang kebutuhan maintenance, dan kesulitan tehnisnya semakin merongrong

Pada akhirnya, India akan terpaksa mengambil keputusan di masa depan, yang sama-sama tidak enak: 
  • Membeli lebih banyak Rafale yang harganya mahal, atau... 
  • .... terus berurusan dengan Rosoboronexport, dan membayar biaya sustainment Sukhoi, yang hanya akan terus bertambah mahal, dan membuat pusing tujuh keliling, untuk pesawat yang memang tidak pernah dibuat untuk tahan lama.

Inilah buah simalakama India.

Indonesia harus belajar untuk menghindari kesulitan yang sama. Lebih cepat mempensiunkan Sukhoi Kommercheskiy lebih baik!




UPDATE: 19-Oktober-2016: India membuka Kompetisi baru untuk Single Engine Fighter: Saab menawarkan Transfer-of-Technology untuk Gallium Niitride AESA radar ke India

Pada 12-October-2016, India akhirnya secara resmi membuka tender baru untuk kebutuhan Single Engined Fighter sebagai pengganti MiG-21.

India memang sebenarnya menghadapi dilemma realita yang sama dengan Indonesia. Keterbatasan Anggaran untuk mengejar jumlah yang diperlukan. Dalam Abad ke-21 ini, hanya akan ada dua pilihan: F-16, atau Gripen?

Moscow mungkin sekarang sudah mulai menyesal, karena tidak pernah membuat single-engine fighter yang laik untuk menggantikan MiG-21. Sekarang sudah terlambat.

MenHan India, Manohar Parrikar, sepertinya sudah mengisyaratkan kalau F-16 akan dicoret dari kompetisi ini. Bagaimana tidak? Walaupun Lockheed-Martin menawarkan untuk membuka assembly line F-16 di India, mengoperasikan pesawat tempur dari tipe yang sama dengan Pakistan, tidak akan pernah bisa menjadi ide yang bisa dicerna IAF.

Half Generation ahead of  the dying F-16:
Apakah India akhirnya akan membeli Saab Gripen-E?
Saab sendiri sebenarnya sudah menawarkan Gripen-E ke pemerintah India sejak Desember-2015.  Sebagai pemanis tawaran "Made-in-India" mereka, Saab sekarang menawarkan rencana development untuk transmitter AESA radar berbasiskan Gallium-Niitride, untuk memperlengkapi Gripen-E India.

(Credits: Saab)
Patut diketahui kalau dalam pengembangan tehnologi Gallium-Niitride, Saab sebenarnya berada di posisi terdepan dalam dunia industri militer Barat. AESA radar Generasi Keempat, yang diperlengkapi dengan GaN transmitter, akan mempunyai kemampuan deteksi 70% lebih effisien dibandingkan AESA radar generasi sekarang.

Kemampuan mendeteksi Stealth Fighter dari jarak BVR semakin menjadi realita. Pesawat tempur lemon F-35 semakin mendekati masa kadaluarsa, bahkan sebelum mulai operasional.

19 comments:

  1. bung karena presiden JKW mensyaratkan pembelian alutsista harus G to G apakah berarti peluang shukoi sudah tertutup?
    karena banyak pernyataan pejabat dan media yg menulis kalau peluang shukoi masih cukup besar untuk di akusisi jadi mana benar?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, kita tinggal mempertanyakan kembali ke siapapun yg masih mendukung Sukhoi:

      ## Kenapa mau mendukung pembelian pesawat versi Kommercheskiy, alias model downgrade untuk export?

      ## Kenapa mau membeli pesawat inferior, yg sudah ketinggalan jaman?

      ## Kenapa rela membuka kas negara utk komisi perantara?

      ## Kenapa mau memberi contoh utk melanggar UU pertahanan sendiri?

      ## Mana yg lebih penting? Kebutuhan negara, atau kepentingan penjual / perantara?

      Tanyakan kepada para pendukung transaksi lewat agen:

      ## Kenapa pesawatnya tidak bisa diperbaiki sendiri di Indonesia?

      ## Apa yg menjamin Su-35, yg jauh lebih rumit dari Su-27/30 dinosaurus kuno, tidak perlu mudik lagi kelak?

      F-16 versi export saja terbukti bisa TETAP OPERASIONAL, walaupun di embargo, kok!

      Sy rasa pernyataan presiden disni cukup jelas dalam artikel AntaraNews, 20-Juli, yang lampau:
      "Tidak boleh lagi membeli pesawat tempur tanpa berhitung kalkulasi biaya daur hidup Alusista tsb selama 20 tahun ke depan."

      ========
      Link Antara News .
      ========

      Delete
  2. India tidak tanggung² mengglontorkan Yang sample $9milyar until beli pespur , nah kalau Indonesia gimana ya .

    Menunggu berita hari jadi hut tni 71

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Matt,
      Sbnrnya hampir semua negara tidak ada yg bayar cash untuk beli Alutsista, apalagi paket mahal pesawat tempur.

      Biasanya pemerintah negara penjual akan menyediakan paket financing dari bank mereka, dengan bunga yg rendah untuk menjamin transaksi.

      Sy akan membuat estimasi kasar untuk pembelian 2-Skuadron Gripen-E, berdasarkan angka breakdown Rafale India.

      ...dan untuk sekadar studi, kita akan memperbandingkannya dengan skenario membeli Su-35, F-16V, dan KF-X.

      Walaupun, sekali lagi, kecuali Saab, tidak akan ada satupun dari daftar pemain di atas yg akan bersedia memenuhi persyaratan UU no.16/2012, apalagi untuk pasal 43 untuk Alih Tehnologi.

      Pengalaman Perancis utk Rafale di India juga tanpa sengaja memperlihatkan, kalaupun ada kemauan, sebenarnya menawarkan ToT itu sangat sulit!

      ...apalagi untuk pesawat yg sudah dibuat terlampau rumit.

      Delete
    2. India hanya membeli paket lengkap dan modifikasi tanpa adanya lisensi atau TOT.

      Sedangkan saab menawarkan gripen c/d ke indonesia juga ada perakitan di indonesia .

      Apakah paket rafale ke india -+ sama paket gripen ke brazil , diluar rafale bisa gotong bramos ?

      Delete
    3. Kalau dibandingkan antara Brazil - Saab; dengan India - Dassault --- tentu saja Brazil yang lebih untung.

      Kontrak Saab di Brazil sebenarnya bernilai hanya $4,7 milyar, bukan $5,4 milyar; karena kontraknya ditandatangani dalam mata uang Swedia (SEK), bukan dalam US$.

      Untuk nilai itu, Brazil mendapat 100% ToT, izin produksi, modifikasi cockpit Gripen-E, yg hanya memakai dengan 1 layar LCD, dan tentu saja.... kebebasan untuk memilih senjata yg mereka mau.

      Brahmos India, misalnya, belum diintegrasikan ke Gripen; tetapi kalau mereka mau, biayanya mungkin hanya 1/3-nya dibandingkan integrasi ke Rafale.

      ================
      Kenapa demikian?
      ================

      ## Saab boleh dibilang sekarang adalah perusahaan yang paling menguasai the art of breaking the cost curve. Dalam hal ini, Dassault tidak dapat bersaing.

      ## Faktor kedua: Dassault Perancis juga sepertinya mulai menyadari hal ini; Rafale, yang twin-engine dengan sendirinya juga akan beberapa kali lipat lebih rumit dibanding Mirage.

      Yah, dengan memilih desain "twin-engine" untuk Rafale, Dassault sebenarnya sudah menembak kaki sendiri, karena paket ToT mereka tidak bisa bersaing seperti dahulu kala.

      Sedangkan Saab, berhasil keep to the basic, dan mengoptimalkan keuntungan yang semaksimal mungkin dari Single-Engine Gripen.

      Seperti dalam program Boeing T-X; bukan tanpa alasan kenapa Boeing-pun mengajak Saab untuk ber-partner dalam pembuatan pesawat latih.
      Keterlibatan Saab = penghematan biaya development + menghasilkan pesawat yg kemampuannya unggul + harga, dan biaya operasional yang terjangkau.

      =========
      Akan tetapi....
      =========
      Menhan India sendiri menyebut salah satu "kebutuhan dasar" kenapa India memilih Rafale adalah karena kemampuannya untuk bisa membawa senjata nuklir.

      Karena itu, Menhan Parrikar menyebutkan dalam artikel di Business Standard kalau pembelian Rafale tempo hari seharusnya langsung di-negosiasikan G-to-G, tidak perlu melalui program MMRCA, yang diselenggarakan pemerintah India, yang sebelumnya.

      Jadi yah, apa boleh buat?

      Delete
    4. Bung Matt,
      Seperti anda sebut:

      Tawaran Saab untuk 16 Gripen C/D ke Indonesia, tidak mungkin ada bandingannya dari segi harga, sekaligus keuntungan ekonomis, industrial, dan strategis.

      100% ToT, kerjasama industrial jangka panjang, dan 85% offset.
      Semua transaksi di kemudian hari, 85%-nya juga dapat diinvestasikan kembali ke industri dalam negeri! Bukan dihamburkan ke perantara seperti you-know-who!

      Pssst... mengakuisisi 50 Gripen-E juga akan jauh lebih murah dibanding 50 IF-X versi export.

      Dari segi kemampuan; Eurocanard juga akan jauh lebih unggul.

      Delete
    5. Nanti ketika brazil bisa membuat gripen E sendiri , apakah disini pihak brazil juga akan menyuplai/mensuport jikalau gripen E laku keras.

      PT DI dikenal sebagai mitra dari airbus. Semua pesawat yg dirakit atas lisensi airbus ( helikopter / pesawat angkut ).

      Dalam hal ini, brazil mendapatkan banyak keuntungan . belinya ga terlalu mahal ($130juta/unit) dapat tot 100% full paket dan modifikasi.

      Seperti yg anda sering katakan 5skuadron gripen E sudah cukup untuk indonesia. Mengapa demikian ?

      Delete
    6. Bung @Matt,

      =======
      Brazil
      =======
      Sebenarnya membeli hak license production, dan marketing di Amerika Selatan.
      Rencana jangka panjang mereka adalah memproduksi 108 unit, untuk menggantikan semua pespur jet mereka yg sekarang.

      Ya, kalau kapasitas produksi pabrik di Linkopping tidak mencukupi, post-2020-an, pabrik Embraer juga sudah mulai memproduksi Gripen-E. Jadi lead time 12-bulan untuk produksi Gripen-E bukan tidak mungkin tercapai.

      Mungkin peluangnya masih terbuka untuk investasi produksi di Indonesia juga?

      Apalagi mengingat India masih kebingungan sendiri (Lihat artikel diatas), sedangkan Afrika Selatan, atau Thailand sejauh ini belum menunjukkan komitmen lebih mendalam ke program Gripen. Keduanya juga masih mengoperasikan versi C/D, dan belum ada rencana membeli E yg jauh lebih unggul..... hampir dalam segala hal.

      Kalau negara kita turut mengembangkan, memproduksi, dan turut memasarkan Gripen-E (mungkin di pasar Asia Tenggara), IMHO jauh lebih menguntungkan dibanding terus bergelut di proyek KF-X.... yg dibelakang layar, sebenarnya nasibnya semakin tidak menentu.

      ==============================
      Gripen di Indonesia. Berapa pesawat?
      ==============================

      ... bahkan kalau anggaran cekak, bahkan boleh dibilang 4-Skuadron (64 pesawat), didukung 4 Erieye juga sudah lebih dari cukup, dengan biaya operasional jauh lebih murah dibanding mengoperasikan armada gado2 yg sekarang, yang efek gentarnya hampir nihil.

      Ini sebenarnya masih hutang artikel utk di masa depan secara lebih detail.

      ## Kenyataannya, pertama2, ekonomi kita tidak akan pernah bisa memprioritaskan jumlah operasional jauh lebih banyak dari sekarang.... Apalagi kalau mengoperasikan pespur berbiaya op mahal, spt Sukhoi, atau kelak, iF-X.

      ## Gripen-E akan lebih dari 1000% lebih efektif dibanding armada "versi export" sekarang, yg mahal / tidak akan bisa di-network, dan mau tidak mau akan mengaplikasikan sistem pengawasan / operasional yg jauh lebih modern.

      Tidak akan ada satu titikpun di seluruh wilayah udara Nusantara, yg tidak dapat diawasi 1 detachment 2-4 Gripen.

      Lihat saja contoh Latihan Angkasa Yudha 2016.
      Dengan armada yg sekarang, TNI-AU akan kesulitan untuk mencoba terus menjaga Natuna, setelah masa latihan berakhir. Ini tidak masalah kalau kita mengoperasikan Gripen.

      Su-35 PLA-AF akan bisa cepat dibuat kapok, kalau mencoba menjajal pengawasan Natuna.

      ## Terakhir, Gripen-E akan menyederhanakan jumlah tipe yg operasional. Selain itu, karena diperkenalkan dalam satu sistem, lebih reliable, dan lebih mudah dikuasai pilot; dengan sendirinya juga akan memperkuat safety record TNI-AU.

      Ok, segitu dulu.

      Delete
    7. Boleh dibilang untuk membeli license gripen terbilang cukup murah.

      #KFX /IFX#
      Nah dari dana ini aja kayaknya pihak saab juga bersedia kasih 1skuadron gripen E lengkap + license .

      Ya mungkin perlu waktu , tapi tidak usah menunggu gambar IFX terlalu lama. PT DI pasti mampu

      Tapi !!!! Indonesia juga sudah termakan dan terobsesi sama IFX yang 2 mesin yang heavy fighter

      Delete
    8. KF-X -- memang sulit karena penandatanganan proyek ini menjual mimpi ke negara kita untuk "membuat pesawat tempur sendiri".

      Kenyataannya tidak semudah, atau semanis itu.

      Tidak hanya Korea tidak ada kemampuan, dan "kebijaksanaan" mereka berarti KF-X hanya akan sangat tergantung tehnologi United States, dan akhirnya menjebloskan kita ke perangkap yg sama dengan F-16:
      ..... mendapat "versi export" yang diperbolehkan.

      Kita lihat saja perkembangannya bbrp tahun ke depan.

      Sebenarnya ada gejolak dalam perekonomian Korea, yg akan membuat pemerintahnya mulai berpikir dua kali utk meneruskan proyek mercusuar ini.

      Masih ingat dengan keadaan Indonesia di jaman orde baru, sewaktu para grup Konglomerasi menguasai perekonomian?

      Kekacauan masa krisis ekonomi 1998, dan tumbangnya pemerintahan Orde Baru, akhirnya sudah mengubah peta ini sekarang.

      Di Korea, walaupun juga mengalami krisis 1998, keadaan ini belum berubah.
      Ekonomi disana masih dikuasai bbrp grup "chaebol" raksasa, seperti Hyundai, Samsung, Lotte, Daewoo group, dll -- yg kepemilikannya didominasi beberapa keluarga saja.

      .... dan sekarang mereka mulai mengulangi kesalahan yg sama dengan di 1998;
      Massive expansion, secepat2nya agar bertumbuh hebat, dengan dibiayai hutang.

      Perbedaannya, kali ini kebanyakan yg meminjamkan hutang ke para Chaebol, adalah bank pemerintah Korea (Korean Development Bank).

      September lalu, kartu domino pertama sudah tumbang.
      Hanjin Shipping jatuh bangkrut, dalam tekanan operasi yg merugi, dan hutang $5,5 milyar; sebagian ditanggung KDB.

      Perusahaan shipping Korea yg lain, Hyundai Mechant.... keadaannya juga kurang baik. Hutang banyak, dan merugi. Bukan tidak mungkin, mengikut jejak Hanjin.

      DSME (pembuat kapal selam TNI-AL), dan grup Lotte juga sudah digerebek auditor pemerintah, karena mrk ternyata me-manipulasi laporan keuangan.

      Korea Times melaporkan kalau jumlah hutang Corporate debt ratio disono, sudah mencapai 150% dibanding nilai asset, lebih tinggi jauh dari rata2 di Asia.
      Indonesia, yg sudah kapok gara2 1998, ratio-nya hanya 30%, tergolong sehat.

      IMHO, hanya masalah waktu sblm kartu domino lain berjatuhan, dan pmrnth Korea akhirnya akan dipaksa untuk menanggung banyak kerugian.

      Jangan heran kalau development KF-X hanya akan tertunda terus, dan.... waktu pembatalan semakin mendekat.

      Ini bisa menjadi artikel sendiri kelak. :)

      Inilah kenapa juga, lebih baik kita mulai menelusuri potensi kerjasama dengan Saab, dibanding terus melihat ke US, eh, Korea.

      Delete
  3. Bung Admin ditunggu ulasannya tentang angkasa yudha 2016, apakah sudah anyak perkembangan tentang doktrin perang udara....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hm, seperti biasa, dari berita yg ada, Sukhoi Kommercheskiy adalah "bintang utama" latihan ini.

      Kita perhatikan saja lebih lanjut.

      Delete
  4. Bung admin apakah SU 35 yang rencananya akan dibeli Indonesia spesifikasinya di bawah yang dibeli china?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemungkinan besar iya, tetapi ini tidak hanya semata berhenti disana.

      PLA-AF China sebenarnya juga mendapat pembatasan spesifikasi versi "Kommercheskiy" yg serupa, tapi ada bbrp alasan laim kenapa kalau "Ide membeli Su-35", hanya akan menjadi ide yg sangat jelek:

      ## Dengan anggaran pertahanan terbesar kedua di dunia, PLA-AF akan mengantongi lebih banyak jam terbang latihan, dibandingkan AU Russia, yg sebenarnya melarat gara2 ekonominya terpukul cukup berat dari embargo US/Eropa, dan rendahnya harga minyak mentah.

      Dapat dipastikan kalau pilot PLA-AF akan dapat berlatih jauh lebih banyak, dibanding para pengguna Sukhoi awam di ASEAN, termasuk Vietnam, dan Malaysia. Mereka juga sudah lebih berpengalaman -- sudah menjadi pemakai dari tahun 1992 kok.

      Belum cukup disana...

      ## PLA-AF akan mulai mempergunakan Su-35 untuk intimidasi di LCS.
      Versi -35 adalah yg pertama yg bisa membawa drop tank; menambah jarak jangkau, cocok untuk menguatkan klaim mereka atas LCS.

      ## Walaupun ada pembatasan "Kommercheskiy", dan Ruski sendiri sebenarnya gelisah dengan kemungkinan "pencurian tehnologi" oleh PRC;
      sebaliknya, mengingat transparansi transaksi hampir nihil, bukan tidak mungkin akan ada bbrp transaksi pelancar di bawah meja utk memastikan PRC mendapatkan "tehnologi yg mereka butuhkan" untuk, paling tidak melebihi pembeli Kommercheskiy yg lain.

      ## Su-35 PLA-AF juga akan mendapat modifikasi lokal, dalam rangka mengurangi ketergantungan ke Rosoboronexport, sekaligus masuk ke dalam mesin fotokopi tehnologi PRC, untuk memproduksi, paling tidak supply spare part; memastikan availability rate Sukhoi mereka lebih tinggi dari milik India, Vietnam, dan Malaysia; atau bahkan mungkin.... milik Russia sendiri.

      ## Su-35 PLA-AF tidak akan dipersenjatai dengan missile pecundang RVV-AE, yg tidak pernah teruji, dan dapat dipastikan inferior vs AMRAAM.

      PRC sudah lama memproduksi missile buatan sendiri, perpaduan antara hasil curian tehnologi, license production dari Israel di "masa akrab dngn Barat" sebelum peristiwa Tiananmen, dan innovasi sendiri -- dari anggaran development yg jauh lebih besar dibanding Russia.

      yah, walaupun "kommercheskiy", Su-35 PLA-AF akan menjadi jauh lebih berbahaya dibanding milik Ruski.

      Inilah satu alasan lain kenapa "rencana" pembelian Su-35 Flemon hanya akan menjadi kesalahan TERBESAR dalam sejarah Indonesia.

      Delete
  5. Bung admin dengan armada udara yang sangat gado-gado yang dimiliki indonesia, seperti apa sebenarnya sistem IFF yang dianut indonesia?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti sy sudah tuliskan dalam artikel IFF:
      ## Su- dan F-16 tidak mempunyai military-grade IFF system.

      ....hanya transponder sipil, untuk memberitahukan posisi ke radar di darat, atau ke pesawat lain.

      Akibatnya, yah, kedua tipe ini akan mudah dikelabuhi lawan dalam konflik, bahkan kemungkinan saling sikat sendiri cukup besar dalam BVR combat.

      ## Kalaupun US, atau Ruski mau rela berkorban, dan mengijinkan versi export Indonesia di-upgrade utk membawa IFF beneran, spt APX-111, atau -111 di F-16, yang dapat dilihat dengan keberadaan empat tonjolan kecil "bird slicers" di moncong pesawat, hasilnya akan sama saja....

      Pertama, tetap saja tidak ada Networking.
      Kedua, baik IFF, atau bahasa networking antara Sukhoi, dan F-16 tidak akan pernah bisa compatible.

      Berbeda sistem, beda bahasa programming; dan tidak diijinkan untuk dimodifikasi secara lokal, baik dari Washington, atau Moscow.

      Dengan, atau tanpa IFF, hasil akhirnya akan sama saja:

      F-16, dan Sukhoi hanya akan saling sikat dalam konflik sebenarnya.

      .. dan F-16, yang baik persenjataan, maupun perlengkapannnya lebih unggul, dan ukurannya lebih kecil /lebih lincah, akan menjadi pemenangnya.

      Inilah kenapa armada gado2 sekarang kualitasnya nihil.....

      ....dan jauh lebih menguntungkan kalau Sukhoi si peminum anggaran dipensiunkan secepat mungkin.


      Delete
  6. Bung admin ada info India akan membuka tender Pesawat tempur Single Engine kemungkinan akan terjadi pertarungan antara Gripen dan F 16, seberapa besar kans Gripen untuk memenagkannya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang ini, India (seperti diatas) masih kebingungan sendiri, karena mereka seperti terjebak benang ruwet armada pespur gado-gado mereka sendiri.

      .... tetapi seandainga mereka sudah membulatkan tekad, dan harus memilih antara F-16 vs Gripen, jawabannya cukup jelas.

      ## United States tidak akan pernah mengijinkan modifikasi Source Code ke F-16, dan dengan demikian, akan mendikte senjata apa yang diperbolehkan dibawa F-16IN.

      ## Transfer-of-Technology? T-50 Korea sudah menjadi case study yang bagus. ToT hampir minimal, dan tergantung kepada kebijaksanaan yang empunya kuasa, Lockheed-Martin.

      ## Pakistan sudah mengoperasikan F-16 sejak tahun 1980-an; dan versi mereka baru di-upgrade ke Block-52+.
      Sama seperti kalau Indonesia mau mengoperasikan Su-35, padahal PLA-AF China juga akan lebih mahir dalam menggunakannya; kenapa India mau mengoperasikan jenis pesawat yg sama?

      ## Terakhir, Gripen-E adalah pesawat tempur yang jauh lebih unggul dalam segala hal dibanding F-16V.

      Tolok ukur desain Gripen adalah pesawat tempur single-engine, yang memang dapat melampaui F-16 kok, dalam semua parameter, termasuk biaya operasional, kesiapan tempur, manuever, persenjataan, dan RCS yang kurang dari 1/10-nya F-16.

      ... dan tidak seperti F-16V, Gripen sudah dirancang dari awal untuk beroperasi Networked.

      Delete